PKPM-08

PARA KSATRIA PENJAGA MAJAPAHIT

Karya : Ki Arief “Sandilaka” Sujana

Jilid 8

Sentong kiri

 

SEMENTARA ITU pandangan mata Gajahmada telah beralih menyapu seluruh pertempuran dimana dilihatnya para prajurit Kadipaten Lamajang telah berada diatas angin tidak terpengaruh oleh cara perang para bajak laut yang sangat kasar itu, mereka nampaknya sudah sangat terlatih menghadapi perang brubuh itu.

“Jurus tempur teratai putih”, berkata Gajahmada dalam hati mengenal sebuah jenis cara bertempur yang diciptakan oleh Empu Nambi yang juga sudah menjadi dasar andalan para prajurit Majapahit pada umumnya.

Namun jurus tempur teratai putih ciptaan Empu Nambi itu tidak dapat menahan seorang lelaki tua yang dengan sangat garangnya memecahkan kepungan para prajurit Kadipaten Lamajang itu.

“Ki Banyak Ara”, berkata Gajahmada dalam hati yang langsung bergerak mendekati lelaki tua itu.

“Akhirnya kamu datang juga, wahai anak muda”, berkata saudara kembar Ki Randu Alam itu manakala melihat kehadiran Gajahmada di tengah pertempuran itu.

“Sepuluh orang prajurit nampaknya bukan tandingan Ki banyak Ara”, berkata Gajahmada kepada lelaki tua yang dipanggilnya dengan nama Ki Banyak Ara itu.

Terlihat lelaki tua itu mengerutkan keningnya, merasa penasaran bahwa anak muda di hadapannya itu telah mengenal namanya.

“Sudah lama sekali aku tidak menggunakan nama kecilku itu, dari mana kamu mengenalnya?”, bertanya lelaki tua itu kepada Gajahmada.

“Saudara kembarmu, Ki Banyak Wedi telah banyak bercerita tentang dirimu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum penuh percaya diri yang amat tinggi.

“Nampaknya kamu sudah tahu banyak tentang diriku”, berkata Ki Banyak Ara sambil memandang tajam kearah Gajahmada seperti tengah mengukur kemampuan anak muda dihadapannya itu.

“Hari ini kami datang untuk menghentikan cita-citamu yang sangat tinggi itu, menjadi penguasa di bumi Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada sambil balas tatapan mata Ki banyak Ara yang sangat tajam itu.

“jangan merasa tinggi hati telah dapat menahan jurusku tempo hari, hari ini kamu akan tahu kemampuanku yang sebenarnya”, berkata Ki banyak Ara sambil menunjuk wajah Gajahmada dengan trisulanya.

“Aku tidak merasa tinggi hati, hanya merasa yakin dapat melumpuhkanmu, wahai orang tua”, berkata Gajahmada dengan suara datar kepada Ki Banyak Wedi dihadapannya itu.

“Lepaskan cambuk di pinggangmu itu, agar aku orang tua tidak dianggap telah berlaku tidak adil membunuh seorang yang tidak bersenjata”, berkata Ki Banyak Wedi sambil menunjuk cambuk pendek yang melingkar di pinggang Gajahmada.

Perlahan Gajahmada melepas cambuk pendek yang melingkar di pinggangnya itu.

Ki Banyak Ara seperti tidak menghiraukan Gajahmada yang telah bersiap menghadapinya, matanya sekilas menyapu suasana pertempuran di halaman yang sangat luas itu. Terlihat kegusaran hatinya melihat orang-orangnya telah mulai berkurang satu persatu dan para prajurit Kadipaten Lamajang itu dengan penuh keteraturan melakukan penekanan kepada lawan-lawannya itu.

“Orang-orangmu akan habis satu persatu”, berkata Gajahmada yang melihat kegusaran di wajah Ki banyak Ara.

“Nyawamu yang akan membayar kematian mereka”, berkata Ki banyak Ara dengan suara gusar langsung menerjang Gajahmada.

Namun Gajahmada bukan anak muda yang punya ilmu dangkal, seumurnya telah memiliki hawa tenaga sakti inti sejati tingkat tinggi setingkat orang yang berlatih puluhan tahun. Maka dengan mudahnya Gajahmada bergerak dengan sangat cepatnya berkelit dari serangan Ki Banyak Ara yang ganas itu bahkan telah melakukan tekanan balik, membalas serangan Ki Banyak Ara itu dengan sebuah lecutan cambuk pendeknya kearah bawah kaki Ki Banyak Ara.

“Punya taring juga kamu rupanya”, berkata Ki banyak Ara sambil meloncat menghindari lecutan cambuk pendek Gajahmada sambil berbalik badan dan langsung mengejar Gajahmada dengan trisulanya.

Bukan main terkejutnya Ki banyak Ara, tidak menyangka anak muda yang menjadi lawan tempurnya itu dapat mengimbangi kecepatannya bergerak, selalu dapat bergerak lebih cepat melepaskan diri dari setiap tekanan serangannya, bahkan langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat dan berbahayanya.

Dengan rasa penuh penasaran, Ki Banyak Ara telah meningkatkan tataran ilmunya, lebih cepat dan penuh tenaga sakti angin panas yang amat tajam, setajam trisulanya yang berkilat-kilat.

Namun Gajahmada selalu dapat mengimbangi tataran ilmu Ki Banyak Ara, diam-diam telah melambari dirinya dengan daya sakti inti sejatinya setingkat ajian lembu sekilan yang sangat terkenal itu dimana angin serangan Ki Banyak Ara yang sangat panas tajamnya tidak berpengaruh apapun merusak dan melukai kulit tubuhnya.

Tanpa terasa semua orang telah menyingkir menjauhi pertempuran antara Gajahmada dan Ki Banyak Ara yang telah menerapkan puncak kedahsyatan ilmunya masing-masing.

Terlihat cambuk dan trisula seperti dua ekor naga raksasa yang saling memburu.

Sementara itu para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah sangat mahir terlatih dalam gelar jurus tempur perguruan teratai putih itu terlihat sudah semakin menguasai arena pertempuran, jumlah lawan mereka semakin berkurang tajam.

Bersamaan dengan itu pula terlihat Adipati Menak Koncar telah merambah tataran ilmunya semakin tinggi telah membuat Ki Ajar Pelandongan seperti tak berdaya mendapatkan tekanan serangan dari putra sulung Ki Nambi yang perkasa itu.

Hingga akhirnya terlihat Ki Ajar Pelandongan dengan sangat terpaksa membenturkan tongkatnya menahan terjangan senjata cakra yang keras dan sangat kuat.

Krakk !!!!

Luar biasa daya kekuatan tenaga Adipati Menak Koncar itu.

Terlihat tongkat kayu Ki Ajar Pelandongan patah dua !!!

Nampaknya tongkat kayu milik Ki Ajar Pelandongan yang terbuat dari bahan kayu pilihan itu tidak mampu menahan daya bentur cakra di tangan Adipati Menak Koncar itu.

Bahkan terlihat senjata cakra itu terus melaju membentur dada Ki Ajar Pelandongan yang masih terkejut mendapatkan tongkat kayunya terpatah dua.
Achhh..!!!

Terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat dari mulut Ki Ajar Pelandongan yang merasakan tulang dadanya remuk seperti diterjang oleh dua ekor kerbau jantan secara bersamaan.

Terlihat Ki Ajar Pelandongan rebah di tanah tidak jauh dari dua buah patahan tongkatnya, dihadapannya berdiri Adipati Menak Koncar masih dengan menggenggam sebuah senjata cakra di tangan kanannya.

“Mudah-mudahan lukanya dapat disembuhkan”, berkata Adipati Menak Koncar dalam hati merasa kasihan menatap tubuh orang tua itu yang terbaring pingsan tak bergerak.

Manakala Adipati Menak Koncar menyapu pertempuran di halaman itu, dilihatnya para prajurit Kadipaten sudah dapat meredam perlawanan para bajak laut, mengepung satu dua orang yang masih tetap bertahan tidak mau menyerah.

Dan pandangan mata Adipati Menak Koncar beralih ketiga tempat terpisah, melihat Gajahmada, Mahesa Semu dan Putu Risang masih bertempur menghadapi lawannya masing-masing.

“Nampaknya lawan mereka adalah orang-orang yang sangat tangguh”, berkata Adipati Menak Koncar dalam hati penuh kecemasan berharap kawan-kawannya dapat memenangkan pertempurannya.

“Sungguh sebuah jurus permainan pedang yang sangat sempurna”, berkata Adipati Menak Koncar dalam hati manakala pandangannya tertuju kearah Mahesa Semu yang tengah menghadapi Ki Gagakpati.

Sebagaimana yang dilihat oleh Adipati Menak Koncar, ternyata memang jurus permainan pedang Mahesa Semu sangat begitu sempurna membuat Ki Gagakpati susah sekali untuk dapat mendekati Mahesa Semu untuk bertempur secara jarak pendek sehubungan senjata yang digunakannya adalah sebatang keris yang kalah panjang dengan pedang di tangan Mahesa Semu.

Akibatnya Ki Gagakpati lebih banyak mendapatkan tekanan-tekanan yang sangat berbahaya mengancam jiwanya.

“Setan mana telah merasuki orang ini”, berkata Ki Gagakpati dalam hati yang merasa kewalahan mendapatkan serangan Mahesa Semu yang datang seperti guruh ombak yang bergulung-gulung tak pernah berhenti.

Terlihat Mahesa Semu sedikit tersenyum melihat wajah orang tua dihadapannya itu yang seperti telah kehilangan akal, kemanapun berkelit selalu saja pedangnya seperti terus mengikuti dan mengejarnya.

Tranggg !!!!

Dalam sebuah serangan, Mahesa Semu sengaja membenturkan keris di tangan Ki Gagakpati dengan pedangnya, mencoba mengukur kekuatan tenaga inti sejati lawannya itu.

“Gila !!”, berkata Ki Gagakpati tidak sadar merasakan tangannya seperti panas sebagai pertanda tenaga lawannya jauh lebih kuat darinya.

“Aku belum gila, wahai orang tua”, berkata Mahesa Semu berdiri tegap memberikan kesempatan kepada lawannya menyempurnakan keseimbangannya.

“Tenagamu sangat kuat, jurus pedangmu juga sangat hebat, aku orang tua ingin tahu siapa gerangan gurumu”, berkata Ki Gagakpati yang sudah dapat berdiri dengan sempurna.

“Aku hanya cantrik biasa dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Semu dengan suara datar.

“Ternyata aku telah berhadapan dengan saudara seperguruan dari Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Aku orang tua merasa tersanjung mengenal jurus-jurus kalian”, berkata Ki Gagakpati yang berubah penuh hormat berbicara kepada Mahesa Semu.

“Kita belum menyelesaikan pertempuran ini”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati.

“Tidak perlu dilanjutkan, aku orang tua sudah mengakui keunggulanmu. Aku yakin bahwa kamu sengaja tidak mengungkapkan seluruh kemampuan dirimu. Dan aku masih ingin tetap hidup di sisa umurku ini”, berkata Ki Gagakpati sambil melemparkan kerisnya ke tanah jauh dari jangkauannya.

“Aku akan meminta Adipati Menak Koncar untuk meringankan hukumanmu”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati yang telah menyerahkan dirinya tidak melawan manakala diikat oleh seorang prajurit Kadipaten Lamajang.

Berdiri seorang diri, tatapan Mahesa Semu telah beralih kearah dua pertempuran yang terpisah masih tengah berlangsung dengan sangat serunya antara Gajahmada menghadapi Ki Banyak Arad an Putu Risang yang tengah menghadapi seorang Brahmana bernama Ki Jatiwangi.

“Pantas Baginda Raja Sanggrama Wijaya begitu mempercayai anak muda itu”, berkata Mahesa Semu dalam hati tertegun memperhatikan sepak terjang Gajahmada yang dilihatnya sangat kuat dan tangguh dapat mengimbangi gempuran lawannya.

Sebagaimana yang disaksikan oleh Mahesa Semu, ternyata Gajahmada memang masih dapat menghadapi gempuran dan terjangan trisula Ki banyak Ara yang tajam berkilat-kilat itu.

Sementara itu ditempat terpisah di halaman yang cukup luas itu, terlihat dua naga kanuragan lainnya yaitu Putu Risang dan Ki Jatiwangi yang masih tengah bertempur dimana keduanya seperti bersepakat untuk tidak menggunakan senjata apapun, meski begitu pertempuran keduanya terlihat sangat mengerikan dengan saling melepaskan ajian kesaktian masing-masing.

Dari tubuh Ki Jatiwangi terlihat asap menguap sebagai pertanda begitu kuatnya hawa panas membakar sekeliling dirinya kemanapun dirinya bergerak.

Namun Brahmana tua itu merasa sangat penasaran sekali melihat lawannya yang masih muda itu seperti tidak merasakan apapun, biasanya orang yang pernah menghadapinya akan berusaha menghindarinya karena hawa panas yang dipancarkannya dapat merusak kulit dan daging, sementara Putu Risang tetap menghadapinya dengan perlawanan jarak pendek tanpa merasakan panas sedikitpun.

Ki Jatiwangi nampaknya belum mengenal dengan siapa dirinya bertempur, tidak mengenal bahwa orang muda itu adalah seorang ketua Padepokan Pamecutan dari Balidwipa, sebuah padepokan tempat para pangeran dan para raja Balidwipa menimba ilmu keluhuran budi dan kanuragan di padepokan itu.

Tingkat tataran ilmu Putu Risang saat itu memang telah begitu tinggi, apalagi dirinya telah mendapatkan sebuah rahasia olah pernafasan dari seorang pertapa dari gunung Wilis yang telah membuatnya mempunyai tenaga inti hawa murni berlipat-lipat layaknya seorang yang telah bertapa ratusan tahun lamanya. Oleh karena itu, ketika menghadapi pancaran panas yang keluar dari tubuh Brahmana tua itu, Putu Risang tidak terpengaruh sedikitpun, karena tenaga inti hawa murninya telah melindunginya dengan sendirinya, meredam pancaran panas yang mengepungnya.

Angin pukulan Ki Jatiwangi yang sangat luar biasa itu tidak berpengaruh apapun pada diri Putu Risang, sebaliknya angin pukulan dari Putu Risang yang diam-diam telah meningkatkan tataran ilmunya telah mulai terlihat menyusahkan diri Ki Jatiwangi.

Ternyata Putu Risang telah melambari dirinya dengan tenaga pancaran hawa dingin yang amat kuat, begitu dinginnya hingga membuat Ki Jatiwangi harus bergerak mundur beberapa langkah.

Hingga akhirnya dalam sebuah gebrakan, dengan menerapkan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, terlihat Putu Risang telah bergerak dengan amat cepat sekali tak tertandingi oleh mata dan gerakan Brahmana tua itu.

Dess…!!!

Sebuah pukulan tangan Putu Risang telah langsung menghantam dada Brahmana tua itu.

Brahmana tua itu seperti merasakan tertumbuk sebuah batu cadas yang amat kuat, seketika nafasnya seperti putus. Brahmana tua itu terlihat terlempar sekitar sepuluh langkah dari tempatnya semula, bergulingan di tanah yang berumput basah itu.

Sorak sorai terdengar dari para prajurit Kadipaten Lamajang yang menyaksikan pertempuran itu.

Mendengar suara sorak dan sorai para prajurit Kadipaten Lamajang telah membuat Ki Banyak Ara yang tengah menghadapi Gajahmada menjadi semakin murka, telah melampiaskan semua kemurkaannya itu dengan menghentakkan sebuah serangan yang sangat dahsyat kearah Gajahmada.

Trisula Ki Banyak Ara yang tajam berkilat itu telah bergerak dengan amat cepatnya seperti lidah seekor naga yang menyemburkan lidah apinya kearah Gajahmada.

Gajahmada yang menyadari bahwa angin serangan trisula itu sangat berbahaya terlihat telah berkelit tidak kalah cepatnya.

Meski telah melambari dirinya dengan ajian sakti kekebalan setara Ajian Lembu Sekilan, Gajahmada tetap berhati-hati untuk tidak tersentuh angin serangan trisula yang sangat panas itu. Dan sambil berkelit Gajahmada langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya lewat hentakan dan lecutan cambuk pendeknya yang menimbulkan kilatan cahaya lidah halilintar yang menggelegar menghimpit dada dan perasaan lawannya.

“Permainan cambuk anak nakal itu ternyata sudah meningkat begitu pesatnya”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang didekatnya yang tidak berkedip menyaksikan pertarungan antara Gajahmada dan Ki Banyak Ara.

Mendengar perkataan Adipati Menak Koncar, terlihat Putu Risang tidak menjawab apapun, hanya sedikit tersenyum. Sebagai seorang guru penuntun, nampaknya Putu Risang sudah sangat mengenal tataran kemampuan Gajahmada dimana suara menggelegar yang keluar dari hentakan cambuk muridnya itu sebagai pertanda bahwa muridnya belum mengungkapkan puncak ilmunya yang sebenarnya.

Sebagaimana yang dipikirkan oleh Putu Risang, dalam pertempuran itu Gajahmada memang belum melepaskan puncak tataran ilmunya, hanya sekedar mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawannya. Namun tetap saja menimbulkan kekaguman siapapun yang melihatnya, dimana tubuh Gajahmada terlihat berkelebat dan berkelit dengan cepatnya menghindari setiap serangan trisula Ki Banyak Ara yang terus memburunya dengan sesekali memberikan serangan balasan untuk sekedar mengurangi tekanan.

Ki Banyak Ara yang gusar melihat kekalahan orang-orangnya telah bertambah-tambah kegusaran hatinya mendapatkan kenyataan bahwa dirinya tidak dapat melumpuhkan lawannya yang masih sangat muda itu.

Bersamaan dengan kegusaran hatinya itu, dengan rasa penasaran yang sangat Ki banyak Ara telah merambati puncak kesaktiannya.

Semua mata tertegun melihat Ki Banyak Ara yang dengan tiba-tiba sekali berdiri dan berputar begitu cepat seperti sebuah gasing bambu diatas sumbunya. Begitu cepatnya hingga tubuhnya telah menghilang, hanya kilatan cahaya trisulanya yang bergerak melingkar menyelimuti seluruh tubuhnya dan terus berputar semakin cepat lagi membentuk sebuah angin pusaran yang semakin luas melebar dan bergerak hingga akhirnya lingkaran kabut itu telah menutupi tubuh Gajahmada.

Berdebar perasaan Putu Risang penuh kecemasan melihat Gajahmada telah hilang masuk dalam lingkaran kabut kilatan trisula Ki Banyak Ara.

Apa yang terjadi atas diri Gajahmada?

Ilmu puncak Ki Banyak Ara itu yang dapat membuat kabut kilatan itu memang sebuah ilmu yang sangat langka. Kedahsyatan ilmu sakti itu bukan hanya dapat menutup pandangan musuh, bahkan dapat mencabik-cabik daging tubuh siapapun yang telah masuk kedalam lingkaran kabut itu.

Beruntung bahwa Gajahmada telah berjaga-jaga melambari dirinya dengan tameng kekebalan yang berasal dari hawa murni tenaga inti sejatinya yang sudah berlipat-lipat kekuatannya sebagaimana Putu Risang yang sama-sama memiliki rahasia ilmu kitab sakti sang pertapa dari Gunung Wilis yang ternyata adalah ayah kandungnya itu.

Dan daging tubuh Gajahmada masih utuh tak tergores sedikitpun meski telah masuk didalam lingkaran kabut kilatan trisula yang diciptakan oleh ilmu sakti Ki Banyak Ara itu.

Tak seorang pun yang tahu apa yang terjadi atas diri Gajahmada karena terhalang kabut kilatan itu, namun tidak bagi penglihatan Ki banyak Ara pencipta ilmu langka itu.

Ki Banyak Ara seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, telah melihat Gajahmada tidak bergeming tercabik-cabik ajian ilmu saktinya itu. Dan baru kali ini ada orang yang mampu bertahan dari serangan ilmu kabut kilatan trisulanya yang sangat dahsyat itu, yang membuat tidak habis pikirnya adalah bahwa orang itu masih sangat muda, memang sukar dipercaya oleh siapapun bahwa semuda Gajahmada sudah memiliki tenaga hawa murni inti sejati yang sangat tinggi yang hanya dimiliki oleh para pertapa tua, kilatan kabut yang amat tajam itu tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

Gajahmada masih tegak berdiri dengan tangan masih menggenggam cambuk yang ujungnya terjulur menyentuh tanah.

“Anak muda ini dapat bertahan dari ajian ilmu andalanku, tapi akan kucoba untuk membunuh semua orang di halaman ini”, berkata Ki Banyak Ara sambil mengerahkan ilmu kesaktiannya memperlebar dan memperluas jarak jangkauan kabut kilatnya.

Berdebar perasaan Gajahmada yang telah mulai dapat membaca pikiran jahat Ki Banyak Ara untuk membunuh semua orang yang berada di halaman rumah itu. Gajahmada telah membayangkan tubuh para prajurit yang tidak akan sempat menjauh akan terkena ajian ilmu sakti Ki Banyak Ara yang tengah dicekam keputus asaan itu.

Perlahan kabut kilatan itu terlihat sudah semakin meluas, sudah hampir menjelajah sebagian halaman rumah itu.

“Menyingkir dari kabut itu !!”, berteriak Putu Risang kepada para prajurit agar berlari secepatnya menghindari dari sergapan kabut ciptaan Ki Banyak Ara itu.

Berserabutan para prajurit berlari menjauhi kabut kilatan yang sangat berbahaya itu.

Malang sungguh nasib tujuh orang tawanan yang tidak sempat lari menghindar karena masih dalam keadaan terluka parah.

Tercekam perasaan Gajahmada yang melihat ketujuh orang itu langsung hancur tercabik-cabik terperangkap dalam kabut kilatan yang diciptakan oleh ilmu sakti Ki Banyak Ara.

Darah Gajahmada seperti berdesir menahan amarah yang telah meluap-luap tidak menyangka begitu kejamnya diri Ki Banyak Ara yang telah melepaskan ilmunya. Hilanglah kesabaran dan kesadaran Gajahmada yang telah bermaksud menawan orang tua itu hidup-hidup.

Terlihat tubuh Gajahmada berdiri tegak menegang, tiba-tiba saja tangannya telah bergerak mengangkat cambuknya tinggi-tinggi.

Degg…..

Sebuah lecutan sendal pancing telah dilepaskan oleh Gajahmada.
Suara lecutan cambuk yang tidak menggelegar itu ternyata mempunyai kekuatan yang sungguh sangat hebat dan sangat luar biasa. Meski ujung cambuknya tidak mengenai tubuh Ki Banyak Ara, namun getaran tenaganya telah menghimpit detak jantungnya yang langsung pecah tak bergerak lagi.

Terlihat tubuh Ki Banyak Ara runtuh jatuh di bumi.
Bersamaan dengan robohnya Ki Banyak Ara, seketika itu pula lingkaran kabut kilatan ilmu sakti Ki Banyak Ara telah lenyap seperti tertelan bumi.

“Orang tua itu telah mencari kematiannya sendiri, sementara ujung cambukmu adalah tali takdir yang tiada seorang pun mampu menghentikannya”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada yang masih berdiri mematung memandang tubuh Ki Banyak Ara yang rebah di tanah sudah tidak bernyawa lagi.

Sementara itu sang mentari pagi di atas rumah kediaman Ki Randu Alam sudah terlihat semakin naik, beberapa orang prajurit terlihat tengah menyiapkan sebuah pemakaman bagi para korban pertempuran.

Tidak lama berselang, Ki Banyak Wedi terlihat muncul bersama para warga Kademangan.

“Terima kasih, akhirnya aku dapat kembali ke rumahku sendiri”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Adipati Menak Koncar diatas panggung pendapa rumahnya.

“Aku berharap semoga Ki Banyak Wedi mendapatkan kedamaian di rumah ini, dikelilingi kesetiaan dan cinta para warga Kademangan Randu Agung yang memerlukan pengayoman seorang seperti Ki Banyak Wedi”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Banyak Wedi yang ditemani oleh cucunya, Kuda Anjampiani.

“Kesetian dan cinta itulah yang membuat hidupku merasa punya arti”, berkata Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh kebahagiaan sambil memandang jauh ke ujung dinding pagar rumahnya, terus menerawang jauh menjelajahi pematang sawah yang sangat luas hingga menyentuh kaki biru perbukitan Semeru, Bromo dan Tengger yang seperti raksasa bisu menjaga bumi Lamajang sepanjang masa.

Dan pagi itu suasana di Kademangan Randu Agung terlihat begitu cerah, para petani telah bekerja turun di sawah ladangnya, para gembala asyik bersenandung di bawah pohon rindang sambil mengawasi kerbau mereka yang tengah berkubang.

Disaat seperti itulah terlihat pasukan Adipati Menak Koncar telah bergerak meninggalkan Kademangan Randu Agung untuk kembali ke Kadipaten Lamajang.

Gerak pasukan itu terlihat berjalan lambat, karena mereka harus membawa para tawanan dan orang-orang yang terluka.

Tak ada hambatan apapun dalam perjalanan mereka, hingga manakala matahari mulai tergelincir di ujung tepi barat bumi, mereka telah memasuki batas Kadipaten Lamajang dari sebelah selatan.

Warga Kadipaten Lamajang menyambut mereka dengan perasaan suka cita dalam sebuah upacara selamatan yang cukup meriah hingga jauh malam.

Keesokan harinya, Mahesa Semu yang telah ditugaskan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu telah memanggil Ki Gagakpati yang sudah menjadi tawanan mereka.

“Aku sudah menjadi tawanan tuan, kemerdekaan jiwaku sepenuhnya berada di tangan tuan”, berkata Ki Gagakpati kepada Mahesa Semu yang memanggilnya di pendapa agung istana Kadipaten Lamajang.

“Aku hanya ingin mendengar sedikit penuturan Ki Gagakpati mengenai sebuah gerakan yang saat ini berpusat di hutan gunung Raung, bukankah Ki Gagakpati sendiri berasal dari Padepokan Gunung Raung?”, bertanya Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati dengan bahasa yang sangat santun, tidak berusaha melakukan tekanan.

Adipati Menak Koncar, Putu Risang dan Gajahmada yang ada bersama di pendapa sebagai pendengar terlihat menahan nafasnya, ikut menunggu penuturan Ki Gagakpati tentang sebuah gerakan yang telah dipusatkan di sekitar hutan Gunung Raung itu.

Setelah berdiam sejenak, terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang merasa tidak ada alasan baginya untuk menutup rapat tentang sebuah pergerakan yang berpusat di sekitar hutan Gunung Raung itu.

“Aku mengenal Ki Banyak Ara ketika kami sama-sama menuntut ilmu dengan seorang Brahmana yang bernama Ki Secang di Padepokannya yang berada di kaki Gunung Raung”, berkata Ki Gagakpati memulai penuturannya.”Sudah begitu lama Ki Banyak Ara menghilang dari Padepokan kami, hingga akhirnya dua tahun lalu telah muncul kembali membawa banyak mimpi untuk membangun sebuah kerajaan di timur Jawadwipa ini, dan guruku Ki Secang telah mendukungnya dengan membantu membangun sebuah pusat kekuatan di sekitar hutan Gunung Raung itu”, berkata kembali Ki Gagakpati.

“Ada berapa orang yang bergabung di sana?”, berkata Putu Risang ikut bertanya.

“Saat ini yang sudah bergabung bersama kami ada sekitar enam ratus orang”, berkata Ki Gagakpati menjawab pertanyaan Putu Risang.

“Berita tentang kematian Ki Banyak Ara pasti akan sampai juga di telinga Ki Secang. Menurut Ki Gagakpati, apakah Ki Secang akan tetap melanjutkan impian Ki Banyak Ara itu?, bertanya kembali Putu Risang kepada Ki Gagakpati.

Mendapatkan sebuah pertanyaan dari Putu Risang, terlihat Ki Gagakpati mengangkat wajahnya memandang kearah Putu Risang, namun tidak lama, orang tua itu sudah kembali menundukkan wajahnya.

Semua orang di atas pendapa itu sepertinya dengan penuh kesabaran menantikan jawaban dari Ki Gagakpati yang masih menunduk menatap lantai kayu panggung pendapa di hadapannya itu.

Perlahan terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang, menegakkan kepalanya kembali.

“Ki Banyak Ara telah berjanji untuk berbagi kekuasaan kepada guruku. Kematian Ki Banyak Ara tidak akan menghentikan gerak kekuatan yang sudah tergalang cukup lama. Kematian Ki Banyak Ara hanya sebuah peralihan kendali. Tanpa kehadiran Ki Banyak Ara, pekan depan enam ratus orang yang telah ditempa oleh guruku sendiri akan bergerak menggempur Kadipaten Blambangan. Kabar kematian Ki Banyak Ara akan menjadi kabar gembira untuk guruku, karena tidak perlu berbagi kekuasaan kepada siapapun, selain dirinya sendiri”, berkata Ki Gagakpati mengakhirinya dengan sebuah tarikan nafas panjang.

“Maaf, bukan maksudku untuk menyangsikan semua perkataan Ki Gagakpati”, berkata Putu Risang dengan suara perlahan namun cukup didengar oleh semua orang yang ada di pendapa itu, terutama Ki Gagakpati sendiri. “Yang ingin kutanyakan mengapa Ki Gagakpati mengatakan semua ini kepada kami?”, berkata kembali Putu Risang melanjutkan ucapannya kepada Ki Gagakpati.

Terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang memandang dengan cara memicingkan matanya kearah Putu Risang.

“Hati kecilku selama ini memang tidak sejalan dengan pikiran guruku, namun aku tidak kuasa untuk menentangnya, karena rasa hormatku kepadanya. Selama ini aku berharap ada sebuah kekuatan yang dapat menghentikannya, membuka akal budinya untuk kembali menemukan jalan kebenaran sebagaimana awal membangun padepokannya di kaki gunung Raung itu, memberikan cahaya penerang hati kepada semua orang yang datang untuk berguru dan menuntut ilmu, bukan mengejar dahaga tahta kekuasaan duniawi yang tak akan terpuaskan itu”, berkata Ki Gagakpati.

Sejenak semua orang diatas pendapa itu terdiam, perkataan Ki Gagakpati nampaknya sebuah kejujuran hatinya.

“Terima kasih telah menjawab semua pertanyaan kami”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati mencoba memecahkan suasana.

Demikianlah, setelah tidak ada lagi yang dapat dipertanyakan kepada Ki Gagakpati, orang tua itupun dipersilahkan untuk kembali ke tempatnya semula.

Setelah Ki Gagakpati telah meninggalkan pendapa Agung istana Kadipaten Lamajang, pembicaraan tertuju kepada rencana penyerangan pasukan Ki Secang ke Kadipaten Blambangan.

“Pekan depan mereka akan menyerang Kadipaten Blambangan”, berkata Adipati Menak Koncar dengan sikap penuh kekhawatiran.

“Berapa jumlah prajurit pengawal Kadipaten Blambangan yang dapat menahan serangan pasukan Ki Secang?”, bertanya Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar.

“Perkiraanku saat ini ada sekitar tiga ratus orang prajurit”, berkata Adipati Menak Koncar.

“Berapa jumlah prajurit Majapahit yang saat ini berada di Bandar pelabuhan Banyuwangi?”, bertanya Putu Risang kepada Mahesa Semu.

“Ada sekitar seratus orang dibawah kendali Adityawarman”, berkata Mahesa Semu kepada Putu Risang.

“Artinya ada empat ratus orang prajurit yang dapat menjaga Kadipaten Blambangan dari dalam, sementara dua ratus orang prajurit Majapahit akan tiba menjepit mereka dari arah belakang”, berkata Putu Risang mencoba mengusulkan sebuah siasat perang menghadapi pasukan Ki Secang.

“Aku punya dua ratus orang prajurit yang siap membantu”, berkata Adipati Menak Koncar menawarkan prajuritnya dari Lamajang.

“Itu akan menjadi lebih baik lagi”, berkata Mahesa Semu merasa gembira dengan penawaran Adipati Menak Koncar itu. “Hari ini juga aku akan mengutus dua orang prajurit ke Kadipaten Blambangan agar mereka mempersiapkan diri menghadapi serangan pasukan Ki Secang”, berkata Mahesa Semu.

Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Semu telah memanggil dua orang prajurit Majapahit yang ada di Kadipaten Lamajang untuk segera berangkat ke Blambangan dan Banyuwangi mengabarkan tentang pasukan Ki Secang yang akan melakukan penyerangan.

“Mbokayu Endang Trinil pasti akan khawatir menunggu Kakang dan Rangga Seta begitu lama”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang.

“Mbokayumu sudah terbiasa kutinggal berpekan-pekan, aku dan Rangga Seta sering pergi mengembara ke berbagai tempat di Balidwipa”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada sambil tersenyum.

“Sedari pagi aku belum melihat anak itu?”, bertanya Gajahmada kepada Putu Risang mengenai putranya, Rangga Seta.

“Sejak pagi tadi sudah diajak Supo Mandagri ke pasar Kadipaten”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

“Atas nama pimpinan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa ini, kami mengucapkan rasa terima kasih atas kesediaanmu membantu perjuangan kami”, berkata Mahesa Semu kepada Putu Risang.

“Berjuang bersama para prajurit Majapahit adalah sebuah kebanggaan”, berkata Putu Risang.

Dan malam itu bumi Lamajang begitu lengang, gerimis turun sejak senja.

Terlihat empat orang berkuda berjalan diatas jalan Kadipaten Lamajang dibawah hujan gerimis yang belum juga surut.
Hingga di sebuah persimpangan jalan mereka terlihat berpisah, dua orang penunggang kuda telah mengambil jalan berbelok kearah utara, sementara dua orang berkuda lainnya mengambil jalan lurus kearah timur.

Ternyata keempat orang berkuda itu adalah Gajahmada, Supo Mandagri, Mahesa Semu dan Putu Risang.

Di persimpangan jalan itu, Gajahmada dan Supo Mandagri yang mengambil arah utara untuk menghimpun seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu masih berada di beberapa hutan Lamajang. Rencananya Gajahmada akan membawa seratus orang prajurit Majapahit itu lewat jalur laut yang akan muncul dari arah utara Kadipaten Blambangan.

Sementara itu dua orang berkuda lainnya adalah Mahesa Semu dan Putu Risang yang telah mengambil arah lurus ke utara. Mereka berdua rencananya akan menjemput seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu berada disekitar pantai Panarukan. Mahesa Semu akan membawa pasukannya itu menuju hutan Waringin, sebuah hutan yang berada di sebelah barat kaki gunung Raung. Mahesa Semu telah sepakat dengan Adipati Menak Koncar yang akan membawa pasukannya sendiri keesokan harinya untuk berkumpul di hutan Waringin itu.

Dan keesokan harinya, Adipati Menak Koncar telah menepati janjinya telah menghimpun dua ratus orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang untuk bergabung membantu pasukan Majapahit yang akan menghadapi pasukan Ki Secang.

Sebagaimana diketahui bahwa penguasa Kadipaten Blambangan saat itu adalah Adipati Menak Jingga, putra kedua Mahapatih Majapahit, saudara kandung Adipati Menak Koncar sendiri. Itulah sebabnya Adipati Menak Koncar memimpin sendiri dua ratus pasukannya bergabung dengan pasukan Majapahit menghadapi pasukan Ki Secang yang akan menyerang wilayah saudara kandungnya itu.

Demikianlah, empat ratus prajurit telah bergerak dari tempat yang berbeda menuju arah Blambangan. Seratus prajurit di pimpin oleh Gajahmada melewati jalur laut, seratus prajurit Majapahit bergerak dari arah pantai Panarukan di pimpin oleh Mahesa Semu menuju hutan Waringin menunggu dua ratus prajurit Adipati Menak Koncar yang akan bergabung bersama di hutan Waringin yang berada di sebelah barat kaki gunung Raung itu.

Sementara itu di sebuah tempat lapang yang terkurung rimba pepohonan kayu yang sangat lebat, di bawah kaki Gunung Raung terlihat sebuah bangunan rumah dengan halaman muka yang sangat luas dikelilingi dinding pagar kayu yang cukup tinggi, pendapa bangunan rumah itu terlihat menghadap arah terbitnya matahari. Itulah Padepokan Ki Secang, seorang Brahmana yang berilmu sangat tinggi yang dipercayakan oleh Ki Banyak Ara untuk menempa enam ratus orang sebagai cikal bakal kekuatan baru di bumi timur Jawadwipa itu.

Hari itu, matahari sudah tergelincir jauh di barat bumi sembunyi di balik asap kepulan kawah gunung Raung. Angin di awal senja itu berdesir cukup keras memutar-mutar daun ranting pepohonan bergerak kekiri dan kekanan.

“Mereka telah menguasai jurus gelar perang ciptaanku sendiri”, berkata seorang lelaki tua dalam hati diatas panggung pendapa sambil memandang enam ratus orang tengah berlatih di halaman muka pendapa itu yang cukup luas.

Rambut putih yang terurai panjang di kepala lelaki tua itu hanya diikat oleh sebuah kain kepala. Pakaian lelaki tua itu adalah sebuah jubah panjang, sebagai pertanda bahwa lelaki itu adalah seorang Brahmana.

Lelaki tua itu adalah Ki Secang, pemilik padepokan di lereng Gunung Raung, guru Ki Gagakpati dan Ki Banyak Ara.
Letak Padepokan yang terasing dari lingkungan sekitarnya telah membuat Padepokan itu benar-benar sebuah Padepokan yang tertutup.

Ibarat sebuah busur, Ki Secang adalah sebuah anak panah yang sudah terlanjur dilepaskan oleh Ki Banyak Ara. Ki Secang hanya tahu bahwa manakala bulan di langit sudah segaris tipis adalah sebuah pertanda bahwa saatnya dirinya turun gunung menguasai Kadipaten Blambangan.

Seandainya Ki Secang mengetahui bahwa Ki Banyak Ara sudah tiada lagi di dunia ini, seandainya Ki Secang telah mengetahui bahwa jalur perdagangan di timur Jawadwipa sudah tidak lagi dalam kendali dan kekuasaan Ki banyak Ara, mungkin Ki Secang akan berpikir ulang membangun sebuah kerajaan di timur Jawadwipa itu.

Namun keterasingan Padepokan itu benar-benar tertutup dari berita apapun, enam ratus orang di padepokan Ki Secang yang sudah sangat terlatih itu adalah enam ratus anak panah yang telah ditarik tali busurnya siap meluncur dan menerjang Kadipaten Blambangan.

Gerak langkah enam ratus orang lelaki yang dipisahkan dalam beberapa kelompok itu terlihat begitu serasi dan begitu sangat terlatih telah membuat hati dan perasaan Ki Secang di atas panggung pendapanya terlihat berbinar-binar penuh kebanggaan hati.

Hati dan perasaan lelaki tua itu seperti melambung terbang.

“Mereka adalah para prajuritku yang akan membawaku di puncak jabatan sebuah kerajaan besar di Jawadwipa ini”, berkata dalam hati Ki Secang dengan sebuah senyum terlukis dibibirnya. “Jabatan apakah yang tepat untukku ini?”, berkata kembali Ki Secang dalam hati masih dalam alam khayalnya sendiri.”Menjadi seorang pendeta suci di istana?, tidak, tidak, tidak, membosankan hanya sibuk mencari hari upacara”, berkata kembali Ki Secang dalam hatinya sendiri.”Seorang Mahapatih, jabatan itulah yang paling tepat untukku, hari-hariku dalam sanjungan dan kehormatan semua orang”, berkata kembali Ki Secang dalam hati yang masih dalam dunia khayalnya sendiri.

Dan di ujung senja, halaman muka Padepokan Ki Secang sudah tidak terlihat lagi seorang pun disana, nampaknya semua orang sudah masuk ke barak masing-masing untuk beristirahat.

Di ujung senja itu pula, ribuan kelelawar terlihat telah keluar dari sarangnya terbang melintas diatas langit padepokan Ki Secang dan terus menyusuri kaki gunung Raung menuju arah timur perbatasan kota Kadipaten Blambangan yang sudah terlihat mulai sepi dan terus terbang menuju arah laut pantai timur Jawadwipa.

Jalan di Kota Kadipaten Blambangan di ujung senja itu memang sudah terlihat sepi dan lengang, mungkin semua orang sudah berada di rumahnya masing-masing. Di jalan yang telah menjadi sepi dan lengang itu, tiba-tiba saja terlihat seorang penunggang kuda yang melarikan kudanya dari arah timur. Penunggang kuda itu terlihat berhenti tepat di depan pintu gerbang istana Kadipaten Blambangan dan langsung meloncat dari punggung kudanya.

Melihat dari wajahnya, nampaknya penunggang kuda itu seorang yang masih sangat muda belia

“Selamat datang tuan muda”, berkata seorang prajurit penjaga istana Kadipaten Blambangan menyapa orang itu yang sepertinya sudah sangat mengenalnya.

“Terima kasih”, berkata orang muda itu dengan penuh kesopanan menyerahkan tali pengekang kudanya kepada prajurit penjaga itu yang memintanya.

“Kuantar tuan muda menghadap Adipati Menak Jingga”, berkata prajurit penjaga lainnya yang datang menghampirinya.

Maka terlihat orang muda itu sudah berjalan menuju arah pendapa agung istana Kadipaten Blambangan bersama seorang prajurit penjaga yang mengantarnya.

“Aku akan memberitahukan kedatangan tuan muda”, berkata prajurit penjaga itu ketika mereka sudah berada di depan anak tangga pendapa agung istana Kadipaten Blambangan.

“Aku akan menunggu”, berkata orang muda itu kepada prajurit penjaga yang terlihat terus berjalan kearah pintu butulan.

Tidak begitu lama orang muda itu menunggu, karena tidak lama kemudian dilihatnya pintu pringgitan terbuka lebar dan muncul seorang lelaki yang berwajah bersih dengan sebuah kumis tebal dan berjambang halus menyambung dengan janggutnya yang hitam pendek terawat rapi. Seorang lelaki yang tampan, begitulah pujian setia orang yang pertama kali bertemu dengannya yang ternyata adalah Adipati Menak Jingga, putra kedua Empu Nambi, Mahapatih Majapahit.

“Selamat datang, wahai putra Patih Mahesa Amping”, berkata Adipati Menak Jingga menyapa anak muda itu yang ternyata adalah Adityawarman, putra Patih Mahesa Amping dari Kerajaan Kediri.

Terlihat Adityawarman telah menaiki anak tangga pendapa dan diterima oleh Adipati Menak Jingga di ruang pringgitan.

Bukan main terkejutnya Adipati Menak Jingga manakala Adityawarman membawa berita tentang rencana penyerangan Ki Secang dari Gunung Raung. Nampaknya utusan Mahesa Semu sudah tiba di Banyuwangi menyampaikan beritanya kepada Adityawarman yang menjadi pimpinan seratus prajurit Majapahit yang mengamankan jalur perdagangan di Bandar pelabuhan Banyuwangi.

“Sangat licik sekali, mereka melakukan penyerangan bertepatan di hari raya Nyepi”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman.

“Kakang Mahesa Semu meminta kita menjebak mereka, membiarkan pihak lawan masuk ke Kadipaten Blambangan ini”, berkata Adityawarman sambil menyampaikan beberapa pesan lainnya dari Mahesa Semu yaitu akan datang empat ratus pasukan gabungan prajurit Majapahit dan prajurit dari Lamajang yang akan menjepit pasukan musuh, juga beberapa pertanda dan kata sandi yang akan digunakan oleh para prajurit gabungan itu untuk keseragaman menghadapi pihak musuh di hari raya Nyepi itu.

“Aku setuju dengan siasat Kakang Mahesa Semu itu, lebih sempurna lagi kita akan melakukan upacara sebelum hari raya Nyepi dengan sebuah upacara yang sangat meriah di kota Kadipaten Blambangan ini agar pihak musuh mengira seakan-akan kita belum mengetahui rencana penyerangan mereka”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman sambil menjabarkan apa saja yang harus mereka persiapkan menghadapi pihak lawan di hari raya Nyepi itu.

“Secara bertahap aku akan menyusupkan seratus orang prajurit Majapahit bergabung bersama di Kota Kadipaten Blambangan ini”, berkata Adityawarman kepada Adipati Menak Jingga.

“Warga kota Kadipaten Blambangan ini memang tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi di hari raya Nyepi itu, biarlah mereka tetap tenang berlaku Nyepi semedi di rumah masing-masing. Sementara para prajurit telah bersiap siaga ditempat-tempat tertentu membuat sebuah kejutan menyambut kedatangan pihak musuh”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman.

Demikianlah, setelah tidak ada hal lagi yang perlu di bicarakan, Adityawarman terlihat berpamit diri kembali ke Bandar pelabuhan Banyuwangi.

“Besok kita akan bertemu kembali di pantai Banyuwangi, aku dan semua warga kota Kadipaten Blambangan ini akan melakukan upacara Melasti, menyucikan segala sarana persembahyangan pura di laut pantai Banyuwangi”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adtyawarman yang mengantarnya sampai di pendapa Agung istana Kadipaten Blambangan.

“Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menyiapkan benih-benih muda, para ksatria penjaga Majapahit di masa yang akan datang”, berkata Adipati Menak Jingga dalam hati sambil memandang Adityawarman yang telah menuruni anak tangga pendapa dan terus melangkah di keremangan malam menuju arah pintu gerbang pintu istana Kadipaten Blambangan.

Dan pagi itu, tiga hari menjelang hari raya Nyepi.

Terlihat semua warga Kadipaten Blambangan yang berada di kota maupun dukuh-dukuh terpencil telah berduyun-duyun keluar dari rumahnya dan bergabung di jalan utama Kadipaten Blambangan menuju arah pantai Banyuwangi.

Ternyata mereka warga Kadipaten Blambangan itu tengah melakukan sebuah upacara Melasti, sebuah upacara penyucian alat dan sarana persembahyangan yang ada di pura masing-masing. Sebagaimana biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka menyucikan alat dan sarana persembahyangannya di pantai Banyuwangi.

Gelombang iring-iringan warga Kadipaten Blambangan itu terlihat panjang menuju pantai Banyuwangi dengan mengenakan pakaian serba putih sebagai perlambang kesucian hati mereka.

“Para warga Kadipaten Blambangan nampaknya tidak ada yang menyadari bahwa itulah upacara Melasti terakhir dalam hidupnya”, berkata Ki Secang penuh kegembiraan hati kepada seorang kepercayaannya yang telah melakukan pengamatan sepanjang hari keadaan di sekitar Kadipaten Blambangan itu.

Keesokan harinya, orang kepercayaan Ki Secang itu kembali melakukan pengamatan di sekitar Kadipaten Blambangan dan mendapatkan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun warga Kadipaten Blambangan yang mengungsi sebagai pertanda bahwa para warga memang belum mengetahui akan terjadi sebuah penyerangan di kota Kadipaten mereka. Orang kepercayaan Ki Secang hanya melihat setiap keluarga tengah melakukan upacara Buta Yadnya dengan pencaruan di rumah masing-masing, sebuah upacara selamatan berharap dilindungi seluruh anggota keluarganya dari sang Buta Kala.

bersambung ke senthong tengah

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 12 Maret 2015 at 00:01  Comments (148)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

148 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ke tiga di bulan ke sepuluh penanggalan tahun saka, sehari setelah perayaan hari Ngembak Geni di kota Kadipaten Blambangan.
    Terlihat Adipati Menak Koncar telah membawa kembali pasukannya ke Tanah Lamajang lewat jalan darat.

    “Bila ada waktu, aku akan menyambangi Balidwipa”, berkata Gajahmada melepas Putu Risang yang ikut bersama pasukan Lamajang karena akan menjemput putranya, Rangga Seta.

    Bersamaan dengan keluarnya pasukan Adipati Menak Koncar itu,, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu telah berangkat meninggalkan bumi Blambangan menuju Kotaraja Majapahit. Mereka akan menempuh perjalanan lewat jalur laut.

    Gajahmada dan Adityawarman ikut bersama mereka, juga para tawanan perang.

    Pada jaman itu biasanya para tawanan perang akan menjadi salah satu rampasan perang, mereka berharga sebagai budak belian yang diperdagangkan.

    Sementara itu untuk Ki Secang ada perlakuan khusus atas permintaan Gajahmada kepada Mahesa Semu sebagai pimpinan prajurit Majapahit yang bertugas di timur Jawadwipa itu.

    “Aku ingin Ki Secang diserahkan kepada Ra Kuti. Aku berharap dirinya dapat menemukan kembali jalan kebenaran”, berkata Gajahmada dalam sebuah pelayaran kepada Mahesa Semu.

    “Ki Secang adalah milikmu, apapun yang kamu inginkan aku akan menyetujuinya”, berkata Mahesa Semu menyetujui permintaan Gajahmada atas diri Ki Secang itu.

    Ra Kuti adalah seorang pejabat kerajaan, salah seorang dari Dharmaputra yang diangkat langsung oleh baginda Raja Sanggrama Wijaya yang bertugas mengurus dan mengayomi salah satu aliran agama yang memuja dewa Whisnu. Dan Gajahmada berharap Ki Secang dapat diluruskan kembali lewat pengawasan seorang pejabat kerajaan bernama Ra Kuti.

    Demikianlah, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu akhirnya telah tiba di Bandar Pelabuhan Ujung Galuh.
    Ketika mereka tiba di kotaraja Majapahit, para warga menyambut mereka dengan penuh suka dan cita.

    Dengan sebuah upacara kebesaran, mereka telah disambut langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Inilah awal babad baru bagi perselihan yang panjang dan hancurnya sebuah persaudaraanar yang ada di bumi Majapahit yang besar itu, karena diantara para tawanan yang mereka bawa, ada seorang yang benar-benar luput dari perhatian. Orang itu adalah Ki Secang.

    “Aku akan menjadi duri dalam daging mereka, aku akan menjadi mimpi buruk bagi mereka”, berkata Ki Secang dalam hati dengan senyum kecutnya manakala tengah memasuki istana Majapahit.

    • waooo…ternyata pak satpam sangat mumpuni, semua rontal sudah langsung dijebret, qiqiqiqiq

  2. Suwun Ki Dalang, lanjut.

  3. Suwun ki Secang, eh, ki Sandikala…

  4. Ki Secang diserahkan sepenuhnya dalam pengawasan Ra Kuti.

    Dalam perkenalan pertama Ra Kuti sudah menyukai sikap orang tua itu, mengijinkannya untuk tinggal serumah dengannya.
    Ki Secang ternyata begitu mudahnya mengambil hati Ra Kuti, dan pejabat istana itu telah mempercayakan Ki Secang sebagai seorang pengurus Pura istana Majapahit.

    Ra Kuti melihat Ki Secang seorang pekerja yang sangat rajin, menyiapkan Pura istana dalam hari-hari upacara dengan sangat baik. Semakin bertambahlah rasa suka pejabat Dharmaputra itu kepada Ki Secang. Dan dalam waktu singkat mereka terlihat begitu akrab layaknya dua orang sahabat.

    Ra Kuti mulai mengenal Ki Secang lebih jauh lagi, bukan hanya mempunyai pemahaman yang tinggi atas berbagai kitab keagamaan, namun Ra Kuti juga telah mengetahui bahwa Ki Secang seorang yang berilmu tinggi dalam olah kanuragam, mempunyai banyak simpanan ajian ilmu yang langka.

    Akhirnya secara diam-diam Ra Kuti telah mengangkat Ki Secang sebagai seorang guru.

    “Tenaga hawa murniku yang kupupuk puluhan tahun lamanya telah terserap hilang oleh Gajahmada. Namun aku masih dapat menjadi seorang guru untukmu. Mewariskan semua ilmu yang kumiliki”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

    Sejak saat itu, di malam-malam yang sepi, Ra Kuti giat berlatih di tempat terbuka di dalam Pura istana. Dan Ra Kuti yang sudah punya dasar kanuragan yang cukup kuat dengan sangat cepatnya menyerap ilmu yang diajarkan Ki Secang kepadanya.

    Apakah Ki Secang seorang guru yang tulus ?

    Sebenarnya tidak, Ki Secang telah melihat bahwa sebagaimana Ki Banyak Ara, ternyata Ra Kuti punya sebuah persamaan, yaitu seorang yang haus akan sebuah kekuasaan, seorang yang sangat haus akan sebuah pujian.

    Perlahan tapi pasti, Ra Kuti sudah berada di dalam genggaman Ki Secang lewat bisikan-bisikannya yang membahana, menerbangkan hayal dan angan Ra Kuti menuju puncak tahta istana.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya dikelilingi oleh orang-orang yang kuat, para sahabatnya yang sangat setia patuh melindungi dan menjaganya”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.”Sebagaimana tanaman merambat, kita harus merusak pagarnya agar tidak ada tempat menggantung, dan tanaman itu akan mati dengan sendirinya”, berkata kembali Ki Secang kepada Ra Kuti.

    “Patih Mahesa Amping dan Ki Mangkubumi adalah para pelindung Baginda Raja, dengan cara apa kita harus menghadapi mereka ?”, bertanya Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Mereka memang sakti Mandraguna, tapi mereka sesungguhnya tidak kebal terhadap racun”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

    “Racun ?”, bertanya Ra Kuti dengan mengerutkan keningnya masih dalam penuh keraguan.

  5. Sementara itu di sebuah tempat di Tanah Ujung Galuh.

    Terlihat sebuah puri pasanggrahan yang berdiri diatas sebuah tanah yang tinggi menghadap arah pantai Tanah Ujung Galuh, bulan bulat bersinar cemerlang diatas langitnya.

    Puri Pasanggrahan dan rembulan diatasnya, sungguh sebuah lukisan alam yang amat elok membuat iri langkah kaki untuk singgah mendatanginya.

    Sudah sepekan Gajahmada tinggal di puri pasanggrahan milik Jayakatwang itu. Atas amanat Jayakatwang, puri pasanggrahan yang indah itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Gajahmada.

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jatakatwang dan istrinya telah mendampingi Kertawardhana yang telah menjadi Raja Muda di Tumapel. Sementara ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, Dyah Wiyat dan biksuni Andini yang juga menjadi penghuni puri pasanggrahan itu telah mengikuti RatuTribuana Tunggadewi yang telah menjadi raja muda di Kahuripan.

    Hari-hari Gajahmada di puri pasanggrahan itu ditemani seorang sahabatnya Supo Mandagri dan ibu kandungnya Nyi Nari Ratih yang sudah tidak tinggal lagi bersama pasukan khusunya di barak prajurit Srikandi di Kotaraja Majapahit.

    Deru ombak pantai Tanah Ujung Galuh masih terdengar dari pendapa puri pasanggrahan dimana Gajahmada tengah duduk sendiri memandang sang rembulan.

    Anak muda perkasa itu tengah menepati janjinya, menatap wajah sang rembulan. Karena jauh di tanah Kahuripan diyakininya seorang gadis jelita telah melakukan yang sama, bersama memandang wajah sang rembulan. Siapa lagi gadis jelita yang selalu ada di hati anak muda perkasa itu yang tidak lain adalah Biksuni Andini, murid Nyimas Kanjeng Ratu Gayatri.

    Tiba-tiba saja mata Gajahmada yang terlatih dapat menembus kegelapan itu telah melihat sesesok bayangan hitam tengah memasuki pintu gapura puri pasanggrahan.

    Terlihat bibir Gajahmada menebarkan sedikit senyum manakala sosok bayangan hitam itu ternyata adalah sahabatnya, Supo Mandagri.

    “Puri pasanggrahan yang megah di bawah sinar rembulan, sungguh pasangan yang serasi”, berkata Supo Mandagri manakala telah berada di tangga terakhir panggung pendapa menyapa sahabatnya Gajahmada.

    Terlihat Supo Mandagri langsung duduk bersama Gajahmada dan bercerita bahwa dirinya telah diperkenalkan oleh Empu Nambi seorang teman baiknya di kotaraja Majajahit yang dapat mencarikannya sebuah batu bintang. Itulah yang menyebabkan kepulangannya menjelang malam tiba.

    “Batu bintang ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Batu bintang yang dapat menjadikan pamor sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri.

    “Batu Bintang yang jatuh dari langit ?”, bertanya kembali Gajahmada penuh rasa keingintahuannya.

    • Kamsiiiiaaaa Pak Dhalang………

  6. Sementara itu di waktu yang sama, Ki Secang dan Ra Kuti masih berada di Pura istana. Mereka berdua tengah membicarakan rencana busuknya untuk menghancurkan orang-orang terdekat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Aku banyak mengenal berbagai jenis racun yang sangat mematikan. Ada sebuah jenis racun yang sangat kuat dimana seorang yang sakti seperti dewa tidak akan mampu hidup lebih lama lagi. Sebuah racun yang tidak berwarna, tidak tercium aromanya namun racun paling manjur dan paling kuat yang kukenal di dunia ini”, berkata Ki Secang berusaha meyakinkan Ra Kuti memperkenalkan kepadanya berbagai jenis racun yang sangat mematikan.

    “Bagaimana kita mendapatkan racun yang bertuah itu ?”, bertanya Ra Kuti.

    “Dari hati seekor induk celeng betina yang masih mengandung”, berkata Ki Seceng kepada Ra Kuti.

    Diam-diam Ra Kuti menjadi semakin kagum kepada Ki Secang, ternyata sangat ahli dan mumpuni mengenal berbagai jenis racun yang mematikan.

    “Aku punya seorang kenalan baik, seorang pengurus rumah tangga kerajaan Kediri, namanya Demung Gunari. Kita dapat membujuknya untuk melaksanakan rencana kita, meracuni Patih Mahesa Amping”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Apakah Demung Gunari masih golongan kita sendiri ?”, bertanya Ki Secang

    “Demung Gunari seorang pemuja Dewa Whisnu yang sangat taat, aku yakin dirinya sangat bangga melihat aliran golongan kita besar di Jawadwipa ini, akan menjadi sukarelawan yang patuh membantu perjuangan kita”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Bagus, kita bicarakan di rumah, tidak baik terlalu malam di pura istana ini akan menjadi pertanyaan para prajurit pengawal istana”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti untuk keluar dari pura istana.

    Ketika mereka tengah melewati gerbang istana Majapahit, beberapa prajurit pengawal istana tidak bertanya apapun, nampaknya mereka sudah menjadi biasa melihat Ki Secang dan Ra Kuti keluar dari istana dimalam hari itu sebagimana hari-hari kemarin, dan kemarinnya lagi.

    Ketika mereka tiba di rumah Ra Kuti yang tidak begitu jauh dari istana Majapahit, keduanya telah melanjutkan pembicaraannya lagi.

    “Membuat racun dari hati celeng betina itu sangat mudah, hanya perlu beberapa hari. Yang paling susah adalah mendekati Demung Gunari itu”, berkata Ki Secang memulai kembali pembicaraannya di rumah Ra Kuti.

    “Dalam beberapa hari ini aku akan minta ijin dengan berbagai alasan untuk datang ke Kediri guna menjumpai kenalanku itu”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang

    “Bagus, aku berharap orang itu dapat kamu dekati untuk membantu perjuangan kita ini. Sementara kamu pergi ke Kediri, aku akan menyiapkan racun hati celeng betina itu”, berkata Ki Secang penuh semangat pengharapan.

  7. Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Gajahmada dan Supo Mandagri masih asyik membicarakan batu bintang yang konon akan membuat pamor sebuah keris bertuah akan menjadi bertuah.

    “Kenalan Empu Nambi itu bercerita bahwa batu bintang itu dapat dipesan lewat para pedagang bangsa Arab yang singgah di Tanah Ujung Galuh. Konon para pedagang bangsa Arab itu mendapatkan batu bintang itu dari sebuah bukit bernama gunung uhud di tempat asal mereka”, berkata Supo Mandagri menjelaskan kepada Gajahmada mengenai batu bintang.

    “Ternyata Empu Nambi telah menepati janjinya, membimbingmu dalam membuat sebuah keris pusaka”, berkata Gajahmada penuh kegembiraan hati mendengar cerita sahabatnya itu.

    “Empu Nambi memang banyak membimbingku dalah hal pembuata keris pusaka, mulai dari sebuah laku khusus sebelum memulai pembuatan keris pusaka, sampai memperkenalkan kepadaku sembilan jenis logam yang terbaik yang dapat menghasilkan sebuah keris pusaka yang sangat kuat dan berderajat”, berkata Supo Mandagri.

    “Sesuai dengan amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya, keris Naga Sasra harus kuserahkan kepada pewarisnya. Aku berharap pada saatnya tetap mempunyai keris Naga Sasra seperti itu, hasil buah tangan darimu sendiri”, berkata Gajahmada merasa yakin bahwa Supo Mandagri adalah seorang yang sangat berbakat dalam pembuatan sebuah keris pusaka.

    “Terima kasih atas kepercayaanmu itu, aku tidak sabar untuk memulai semuanya, menciptakan sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri penuh harapan.

    “Kamu dapat membuat pondokan di tanah belakang puri pasasnggrahan ini. Dan aku akan siap membantumu apapun kebutuhanmu, bukankah aku ini saudaramu ?”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Terima kasih untuk semua dukunganmu, memang perlu tempat khusus untuk membuat sebuah keris pusaka, sebuah tempat yang tenang. Aku merasa yakin bahwa puri pasanggrahan ini adalah sebuah tempat yang baik untuk berkarya sebagaimana pujangga Jayakatwang telah banyak menciptakan karya tembangnya di tempat ini”, berkata Supo Mandagri penuh rasa kegembiraan hati mendapatkan dukungan dari sahabatnya itu.

    Namun pembicaraan mereka menjadi terhenti manakala Nyi Nari Ratih muncul dari pintu pringgitan. Melihat dari caranya berjalan dan melangkah menandakan seorang wanita yang sangat terlatih olah kanuragan.

    “Masih hangat wedangnya”, berkata Nyi Nari Ratih sambil meletakkan tiga buah cangkir tembikar dan ikut duduk bersama mereka.

    Kepada ibundanya itu, Gajahmada bercerita tentang keinginnan Supo Mandagri membuat sebuah pondokan di tanah belakang Puri Pasanggrahan.

    “Setiap manusia punya pembaktiannya sendiri-sendiri. Hanya jiwa yang merdeka saja yang dapat mampu membuat sebuah karya yang besar. Dan setiap jiwa dicitrakan sesuai dengan apa yang telah diciptakannya”, berkata ibunda Nyi Nari Ratih dengan senyum yang begitu lembut.

    • Ampun……
      capek…………..
      sejak kemarin sudah melihat gunungan rontal yang berceceran di halaman padepoka, tetapi tidak bisa menyapu rontal-rontal tersebut.
      Menjelang tangah malam, satpam ronda padepokan. We lha dala, sudah semakin menggunung rontal-rontal yang meloncat dari Situ Cipondoh.

      Hadu…..
      malam-malam harus nyapu rontal dan menatanya di gandoknya.
      tapi, meski capek, senang juga ya menata sambil membaca rontal Ki Sandikala.

      Selama ini, pelajaran sejarah yang sama benci adalah sejarah runtuhnya Majapahit oleh intrik dalam kerajaan sendiri. Kawan jadi lawan, sahabat jadi musuh yang harus diperangi.

      Pemberontakan Ranggalawe sudah demikian mulus diceritakan oleh Ki Sandikala, dan sedikit mengurangi kekecewaan satpam.

      Tinggal menunggu kisah “pemberontakan” Lembusora (Mahisa Amping?) dan Empu Nambi (Sandikala), bagaimana Ki Sandikala bisa membesutnya, sehingga ada “image” baru dalam pikiran satpam, dan tentunya yang lebih baik.

      monggo Pak Dhalang

      rontal-rontal sudah tersusun dengan rapi di gandoknya, dan…. senthong tengah sudah ditutup, selanjutnya tinggal mengisi senthong kanan.

    • Kamsia Pak Dhalang……….
      Hore…….Pak Satpam nganti ngelu digrojogi rontal……
      Tancap terus Pak Dhalang………

  8. luar biasa ki Sandikala, mampu membuat “tafsir” sejarah yang sampai pada kita, malah rontal ki Sandikala masuk akal, jangan2 dapet bocoran dari gaib ya? hahahaha salam

    • Ronggolawe saja bisa datang apalagi Patih Nambi dan Lembu Sora.

      • Kalau Layang Seta dan Layang Kumitir yang kemudian bisa membunuh Adipati Menak Jingga itu anak siapa ya Ki Dhalang……????

        • Layang Seta dan Layang Kumitir itu cuma memancing amarah saja lalu yang melawan Menak Jingga itu Damarwulan, betulkah….???

          • layang seta dan layang kumitir putra arku bambu petung, hahaha (becanda.com)

          • Berarti Layangan Seta ama Layangan Kumitir…..???

  9. Dan pencitraan hitam putih sejarah kerajaan Majapahit nampaknya telah dimulai.

    Diawali dengan benih sumber kebusukan yang mulai ditebarkan oleh Ki Secang dan Ra Kuti di pura istana Majapahit yang suci. Dua orang rohaniawan para penghapal berbagai kitab suci itu telah mulai menebarkan benih sejarah kesuraman kerajaan Majapahit.

    Disisi lain, diawali dari sebuah puri pasanggrahan milik mantan seorang raja yang tersingkirkan, Raja Jayakatwang. Benih kecemerlangan sejarah Majapahit tengah ditempa, diasah dan disuh dalam kasih seorang wanita yang lembut kepada dua orang anak muda untuk mengharumkan warisan budaya milik lelehur bangsa, dalam sebuah seni keris yang indah, dalam sebuah lekuk dan liku pemikiran leluhur yang indah dalam berkehidupan bersama, bermartabat dalam cinta kasih yang tulus penuh perdamaian dalam rangkaian satu kesatuan nusa-nusa untaian mutiara khatulistiwa.

    Dan sejarah hitam dan putih, sejarah kesuraman dan kecemerlangan Kerajaan Majapahit telah dimulai. Diawali saat sang Surya pagi tengah memanjat dan mendaki di pucuk tiang-tiang layar perahu dagang yang tengah bersandar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    Terlihat sebuah perahu jukung dengan tiga orang lelaki tengah menyusuri sungai Perigian.

    “Hari yang baik untuk menebang bambu dan kayu”, berkata seorang pemuda manakala perahu jukung mereka menepi di hutan Perigian.

    “Kamu benar, purnama telah lewat. Kita akan mendapatkan bambu dan kayu yang kering dan terbebas dari kutu kayu”, berkata salah satu lelaki kepada pemuda itu yang tidak lain adalah Supo Mandagri.
    Ternyata Supo Mandagri tengah mencari bambu dan kayu untuk membuat sebuah pondokan yang akan dibangun di belakang puri pasnggrahan atas ijin Gajahmada.

    Terlihat Supo Mandagri dan dua orang lelaki warga asli padukuhan Tanah Ujung Galuh yang dibayar untuk membantunya itu telah memasuki hutan Perigian lebih kedalam lagi.

    Tiba-tiba ketiganya melihat seorang pemburu di hutan Perigian itu.

    “Aku mengenal lelaki itu, seorang pengurus pura istana”, berkata Supo Mandagri kepada kedua orang pembantunya itu.

    Terlihat Supo Mandagri telah meminta kedua pembantunya itu untuk diam ditempat, sementara Supo Mandagri terus mengikuti lelaki yang dikenalnya, yang tidak lain adalah Ki Secang.

    “Tetaplah kalian disini, aku akan mengikuti orang itu”, berkata Supo Mandagri kepada kedua pembantuny a itu.

    Maka dengan cara mengendap-endap dari kejauhan, Supo Mandagri dapat terus mengikuti Ki Secang yang terus berjalan masuk ke hutan Perigian lebih dalam lagi.

    Terlihat Ki Secang berhenti dan diam disebuah semak gerumbul, sikapnya seperti seorang pemburu yang handal telah bersiap siaga menunggu buruannya dengan sebuah tombak ditangan.

  10. Ternyata Ki Secang memang tengah berburu babi hutan, karena tidak jauh darinya terlihat sebuah liang besar tempat sarang sepasang babi hutan.

    Nampaknya Ki Secang tidak harus menunggu cukup lama, karena tidak lama berselang terlihat sepasang babi hutan tengah berjalan menuju arah sarang mereka itu.

    Terlihat seekor babi hutan jantan telah mendahului masuk ke dalam sarang, sementara dibelakangnya seekor babi hutan betina siap mengikuti pasangan jantannya itu.

    Namun naas nasib babi hutan betina yang tengah bunting besar itu, sebuah tombak tajam terlihat meluncur dengan sangat cepat membelah udara.
    Clep..!!!

    Ujung batang tombak telah berhasil menembus tepat babi hutan naas itu yang belum sempat masuk ke sarangnya.

    Jeritan mencicit dari babi hutan betina itu terdengar di hutan yang sunyi itu, namun hanya sekali. Itulah jeritan terakhir dari babi hutan betina itu yang terlihat telah rebah dengan ujung tombak tembus di batang lehernya.

    “Sangat biadab, membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar”, berkata Supo Mandagri dalam hati mengutuk perbuatan Ki Secang dimana pada saat itu adalah tabu membunuh hewan apapun yang tengah bunting besar.

    Dan Supo Mandagri masih terus mengamati Ki Secang yang dengan pisau pendeknya terlihat tengah membedah perut dan dada binatang naas itu.
    Terlihat Supo Mandagri mengerutkan keningnya manakala dilihatnya dari kejauhan bahwa Ki Secang hanya mengambil hati binatang buruannya itu.

    “Membunuh hewan hanya untuk diambil hatinya ?”, berkata Supo Mandagri dalam hati penuh tanda tanya manakala dilihatnya Ki Secang telah berjalan menjauhi hewan buruannya itu yang masih menganga isi perutnya dengan hanya membawa sebuah hati dari babi hutan betina tengah bunting besar itu.

    Ketika Ki Secang sudah tidak terlihat lagi, menghilang di antara semak dan pepehonan yang rapat di hutan Perigian itu, terlihat Supo Mandagri telah keluar dari persembunyianya dan langsung berjalan menuju arah dimana kedua pembantunya berada.

    Kepada kedua orang pembantunya itu, Supo Mandagri tidak bercerita banyak, hanya menyampaikan bahwa orang yang dibuntuti itu ternya hanya tengah berburu babi hutan di hutan Perigian itu.

    “Mari kita lanjutkan kerja kita, mencari bambu dan kayu”, berkata Supo Mandagri kepada kedua pembantunya itu.

    Tidak perlu banyak waktu, ketika hari masih diawal senja mereka telah mendapatkan apa yang dicarinya.

    • Lha…. telat aku, untung sik rung diacak-acak Ki mBleh.
      😛

  11. Dan disaat malam tiba, manakala Gajahmada dan Nyi Nari Ratih telah kembali dari Kotaraja Majaphit berkumpul bersama di Puri Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh, Supo Mandagri telah bercerita tentang apa yang dilihatnya di hutan Perigian.

    “Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa Ki Secang telah membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada dan Nyi Nari Ratih.

    “Sungguh sebuah perbuatan kurang terpuji, membunuh binatang yang tengah mengandung anaknya”, berkata Gajahmada menanggapi cerita Supo Mandagri.

    “Naluri seekor harimau dapat memilih mangsanya, hanya memburu binatang jantan. Bila itu dilakukan oleh seorang manusia, maka derajatnya menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun”, berkata Nyi Nariratih ikut menanggapi cerita Supo Mandagri.

    :Yang sangat kuherankan, Ki Secang hanya mengambil hati binatang itu, meninggalkan begitu saja bagian yang lainnya”, berkata kembali Supo Mandagri tentang apa yang dilakukan oleh Ki Secang.

    Terlihat Gajahmada mengerutkan keningnya merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh Ki Secang dengan hati seekor babi hutan itu. Masih dengan rasa ketidak tahuannya itu telah menoleh kearah ibundanya berharap wanita yang amat dicintainya itu dapat lebih tahu darinya perihal apa yang diperbuat oleh Ki Secang itu.

    Nampaknya Nyi Nari Ratih dapat membaca apa yang diinginkan oleh putranya itu.

    “Sayang sekali aku tidak tahu untuk apa Ki Secang berbuat seperti itu”, berkata Nyi Nari Ratih sambil menggelengkan kepalanya perlahan dihadapan Gajahmada.

    Akhirnya pembicaraan bergeser perihal pembangunan pondokan di belakang Puru Pasanggrahan itu, Maka Supo mandagri
    menyampaikan bahwa sampai saat ini mendapatkan bahan kayu dan bambu, belum perlengkapan pengapian dan pernak pernik lainnya sebagimana layaknya para pandai besi.

    Setelah pondokan selesai, aku akan mencarikan barang keperluanmu itu”, berkata Gajahmada.

    Senang sekali Supo Mandagri mendengar janji Gajahmada kepadanya.

    “Aku seperti sudah tidak sabar, ingin secepatnya membangun sebuah keris pertamaku”, berkata Supo Mandagri dengan wajah berbinar-binar.

    Sementara itu masalah ki Secang seperti menguap begitu saja, tidak ada seorangpun diantara mereka bertiga yang membicarakannya lagi.

    “Nampaknya makan malam kita sudah disiapkan”, berkata Nyi Nari Ratih yang melihat seorang pelayan wanita keluar dari pintu pringgitan.

    Benar saja, pelayan wanita itu memang bermaksud memberitahukan kepada mereka bertiga bahwa makan malam telah disiapkan di ruang dalam.

    • Jam segini mau makan malam, hadu…,
      He he he … suwun P. Dhalang

  12. Sementara itu deru dan debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh semakin keras di malam yang semakin larut itu. Terlihat beberapa perahu dagang yang tengah bersandar terus bergoyang bersinggungan dengan tepi kayu dermaga.

    Suasana Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh di malam itu masih saja ramai, hiruk pikuk para buruh angkut, suara canda tawa menggoda para wanita penghibur dan cahaya oncor yang dipasang berjajar menjadi gerak kehidupan Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh yang sangat ramai itu di malam hari.

    Terlihat perahu dagang dari beberapa penjuru nagari barsandar di dermaga Bandar pelabuhan yang tidak pernah sepi itu. Bandar pelabuhan yang tidak pernah mati, begitulah orang menyebutnya, karena Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh tidak pernah sepi, pagi, siang dan malam.

    Pada saat itu, Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh adalah satu dari beberapat Bandar pelabuhan yang sangat ramai yang dikuasai sepenuhnya dalam rangkaian wilayah perdagangan Kerajaan Majapahit, mulai dari tanah melayu di swarnadwipa, hingga berantai disepanjang pesisr utara Jawadwipa. Di setiap Bandar pelabuhan itu ada sebuah perwakilan dagang sebagai kepanjangan tangan dari Kerajaan Majapahit menjalin kerjasama perdagangan dengan para pedagang asing. Begitulah cara Baginda Raja Sanggrama Wijaya menguasai wilayah kelautannya.

    Nampaknya Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah melaksanakan amanat suci para leluhurnya, para raja-raja Singasari untuk membangun sebuah singgasana diatas samudera raya.

    Geliat Bandar pelabuhan di wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit adalah geliat kemakmuran Kerajaan Majapahit lewat pundi-pundi yang terus mengalir ke gudang perbendahara istana, kepingan emas bangsa arab, kepingan pecahan perak milik bangsa cina yang telah diijinkan menjadi alat tukar perdagangan pada saat itu terus melimpah memenuhi gudang penyimpanan kekayaan kerajaan.

    Hasil kekayaan yang melimpah dari hasil perdagangan itu dijadikan sepenuhnya untuk kemakmuran anak negeri lewat keringanan pajak hasil bumi, pembangunan candi pura di hampir seluruh pelosok nagari. Bumi makmur, para seniman melahirkan banyak karya besarnya, para rohaniawan merdeka dan terlindungi memajukan umatnya. Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan sang putra Lenbu Tal ini pada saat itu ibarat sebuah naga samudera muda yang tengah menggeliat mengarungi samudera raya yang lebih luas lagi, dan lebih jauh lagi.

    Namun Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih tetap seperti dulu tidak berubah sedikitpun, seorang raja yang bersahaja yang masih mau bertutur sapa kepada para jelata, menyambangi rumah para sahabat, kerabat dan saudara.

    Demikianlah, pada suatu hari Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah bermaksud untuk menyambangi kakeknya yang jauh di Tanah Pasundan, Sang Prabuguru Darmasiksa.

    Dan Gajahmada sebagai pemimpin pasukan pengawal Raja telah ikut bersamanya, mengunjungi tanah Pasundan, tanah leluhur Baginda Raja Sanggrama Wijaya dari pihak ibunya itu.

    Tiga ratus prajurit mengiringi Baginda Raja Sanggrama Wijaya lewat jalur laut ke tanah Pasundan.

    • Kamsia Pak Dhalang………

  13. Hampir seluruh pejabat istana ikut mengantar keberangkatan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    Nyi Nari Ratih dan Supo Mandagri ikut hadir di sana.

    Dipenghujung senja, manakala warna bumi semakin redup karena sang mentari telah bersembunyi di sebelah barat perbukitan. Manakala pelita malam telah dinyalakan di beberapa rumah di padukuhan Tanah Ujung Galuh, perahu besar jung Majapahit terlihat telah bergerak bergeser dari dermaga.

    Buram warna malam menutupi keharuan di wajah Nyi Nari Ratih menatap perahu besar Jung Majapahit yang terus semakin menjauhi dermaga.

    Wajah wanita itu telah mulai berkaca-kaca, menatap perahu besar jung Majaphit yang mulai menjauh membawa Gajahmada, putra tercinta pergi bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya ke Tanah Pasundan.

    “Semoga Gusti yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan perjalanan mereka”, berkata Supo Mandagri yang melihat perahu besar Jung Majapahit telah hilang tertelan kegelapan malam.
    Suara lirih Supo Mandagri seperti menyadarkan Nyi Narih Ratih dari keterpakuannya.

    “Mari kita kembali”, berkata Nyi Nari Ratih kepada anak muda itu untuk kembali ke puri pasanggrahannya.

    Sementara itu diwaktu yang sama, disebuah tempat yang jauh beberapa hari perjalanan berkuda dari kotaraja Majaphit, terlihat seorang penunggang tengah memasuki gapura batas kota Kediri.
    Desir angin dingin menyapu wajah lelaki penunggang kuda itu yang terus berjalan memasuki wilayah kotaraja Kediri yang sudah menjadi sepi itu.

    Disebuah persimpangan jalan,terlihat lelaki penunggang kuda itu telah keluar dari jalan utama memasuki sebuah jalan padukuhan.

    Didepan sebuah rumah panggung terlihat penunggang kuda itu berhenti dan langsung turun dari kudanya.

    Malam saat itu masih wayah sepi bocah, sepasang suami istri terlihat duduk di panggung pendapa rumah mereka dan telah melihat lelaki berkuda itu telah mendekati rumah mereka.

    Pelita malam yang temaram tergantung di atas tangga pendapa telah menerangi wajah lelaki berkuda itu.

    “Ra Kuti !!”, hampir berteriak lelaki diatas panggung pendapa itu menyebut sebuah nama dari lelaki penunggang kuda itu.

    “Lama kita tidak berjumpa, ternyata kamu masih mengenal wajahku”, berkata lelaki berkuda itu yang ternyata adalah Ra Kuti, seorang pejabat istana, salah seorang Dharmaputra di kerajaan Majapahit.

  14. aseeek… suwun ki

  15. Setelah mengikat kudanya di sebuah tiang panggung, terlihat Ra Kuti Langsung naik keatas panggung pendapa.
    Ra Kuti, perkenalkan ini istriku”, berkata lelaki itu kepada Ra Kuti memperkenalkan wanita disebelahnya sebagai istrinya.

    “Ternyata Demung Gunari sangat pandai memilih seorang istri”, berkata Ra Kuti kepada lelaki itu yang dipanggilnya sebagai Demung Gunari.

    Setelah menyampaikan kata keselamatan masing-masing, terlihat Nyi Demung Gunari bermaksud pamit kepawon untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka.

    “Aku kepawon sebentar untuk menyiapkan minuman hangat”, berkata Nyi Demung berpamit diri.

    Manakala Nyi Demung Gunari telah masuk ke dalam, Ra Kuti belum juga menyampaikan maksud kedatangannya ke Kotaraja Kediri itu, hanya mengatakan ada tugas biasa di istana Kediri dan mampir karena merasa rindu sudah lama tidak bertemu dengan Demung Gunari.

    Pembicaraanpun masih berupa hal-hal yang ringan, cerita berkisar tentang masa lalu mereka yang ternyata berasal dari kampong halaman yang sama, dari Tanah Lamajang.

    Ra Kuti masih belum mengatakan apapun hingga Nyi Demung Gunari datang membawa minuman hangat dan beberapa potong makanan untuk mereka dan langsung masuk kembali ke dalam tidak menemani pembicaraan mereka di pendapa rumahnya itu.

    “Terlanjur malam dirumahku, menginaplah disini”, berkata Demung Gunari kepada Ra Kuti.

    “Terima kasih”, berkata Ra Kuti menerima permintaan kawannya itu untuk menginap dirumahnya.

    Hingga ketika hari mulai larut malam, mulailah Ra Kuti mencoba mengukur tingkat kepedulian Demung Gunari sejauh mana rasa pembelaannya terhadap agama yang dianutnya itu.

    Dari pancingan-pancingan lewat bahasa yang tersamar, Ra Kuti sudah dapat menilai tingkat kepedulian Demung Gunari terhadap agama yang dianutnya.

    Mulailah Ra Kuti menawarkan gagasan-gagasannya, membesarkan agama yang dianutnya itu.

    “Kita tidak ingin agama yang kita anut akan terus tersingkir oleh ajaran-ajaran baru, ajaran baru yang di anut oleh keluarga kerajaan Majapahit saat ini. Apakah dirimu rela disuatu saat nanti, anak dan cucu keturunanmu tidak lagi melihat pura persembahyangan yang memuja dewa kita ?”, berkata Ra Kuti yang mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan.

    “Tidak, aku tidak rela”, berkata Demung Gunari dengan perkataan yang amat tegas.

    “Bagus”, berkata Ra Kuti dengan senyum kemenangan telah dapat memancing perasaan Demung Gunari menuju perangkapnya.

    • bagusss…!!!, jadi inget pak Tino Sidin mengomentari hampir semua gambar para anak TK, hahahaha

  16. Mulailah Ra Kuti dengan bahasa yang sangat menarik yang dikemas dengan bahasa agama yang dianutnya menyampaikan gagasan-gagasannya membesarkan golongan agama yang dianutnya.

    “Jalan satu-satunya agar golongan agama kita menjadi besar adalah dengan jalan mengambil alih kekuasaan Kerajaan Majapahit”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari.

    “Dari mana kita memulainya ?”, bertanya Demung Gunari yang sudah termakan pancingan Ra kuti yang sangat pandai bicara itu.

    “Dimulai dengan melumpuhkan sahabat-sahabat setia di sekitar penguasa Majapahit itu”, berkata Ra Kuti menuturkan rencana-rencananya.

    “Dimana tempatku berada dalam perjuangan besar ini ?”, bertanya Demung Gunari penuh semangat.

    “Tempatmu adalah mencari seorang pengantin, seorang yang akan kita tugaskan membunuh Patih Mahesa Amping dengan cara meracuninya”, berkata Ra Kuti mengistilahkan seorang calon pembunuh dengan istilah “pengantin”

    “Aku adalah seorang Demung yang mengurus rumah tangga istana, aku dapat mencarikan seorang pengantin itu, seorang yang dengan suka rela melaksanakan rencana kita itu”, berkata Demung Gunari menyanggupi tugas yang di berikan kepadanya, mencari seorang “pengantin”.

    “jangan khawatirkan mengenai masalah biaya”, berkata Ra Kuti sambil mengeluarkan serenceng uang keeping emas yang langsung diberikan kepada Demung Gunari.

    “Sanagat banyak sekali”, berkata Demung Gunari dengan wajah berbinar-binar.

    “Nilai keping emas ini tidak berarti dibandingkan dengan hasil perjuangan kita, membesarkan agama anutan kita”, berkata Ra Kuti sambil tersenyum telah dapat dengan mudahnya menjaring sukarelawan di kotaraja Kediri itu.

    “kapan kamu akan kembali ke kotaraja Kediri ini”, bertanya Demung Gunari kepada Ra Kuti yang berkata besok setelah menyelesaikan beberapa tugas di Istana Kediri akan kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Bulan depan aku akan kembali menemuimu, mendengar hasil upayamu mencari calon pengantin yang kita butuhkan”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari.

    “Aku merasa sangat yakin, dalam waktu sebulan telah mendapatkan calon pengantin itu”, berkata Demung Gunari dengan penuh keyakinan sambil berhayal bahwa bulan depan sahabatnya itu akan membawa serenceng keeping emas untuknya.

    Sementara itu malam sudah semakin larut, desir angin terasa dingin menusuk kulit tubuh. Terdengar suara burung hantu yang hinggap di cabang pohon nangka di samping rumah Demung Gunari. Tidak lama berselang burung hantu itu telah terbang kembali ditandai dengan suaranya yang cukup mengejutkan di kesunyian malam yang senyap dan masih terus terdengar hingga sayup di kejauhan.

    Dan kotaraja Kediri malam itu telah terperangkap dalam selimut mimpinya.

  17. waduuuh…

  18. Waduh,…. Ki Dalang juga mengadopsi istilah JI.

  19. Kamsia atas potret situasi yang akurat Pak Dhalang……

  20. Keesokan harinya, sebanarnya bisa saja Ra Kuti langsung kembali ke Kotaraja Majapahit, namun untuk menutupi rencana besarnya dengan terpaksa harus menemui seseorang di istana Kediri agar terkesan dirinya memang punya urusan tugas kerajaan yang harus diselesaikannya.

    Dan pagi itu terlihat Ra Kuti dan Demung Gunarisudah berada di jalan utama Kotaraja Kediri.
    Setelah mereka tiba di istana Kediri, merekapun terlihat berpisah karena tugas yang berbeda.

    “Bila urusanku selesai di istana ini, aku akan langsung kembali ke Kotaraja Majapahit”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari manakala mereka akan berpisah jalan di lorong istana Kediri.
    Demikianlah, disaat hari telah mulai siang, terlihat Ra Kuti mencari Demung Gunari untuk pamit diri kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Bulan depan aku akan kembali lagi”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari ketika akan berangkat meninggalkan Kotaraja Kediri.

    Dan di hari kedua setelah pertemuannya dengan Ra Kuti, mulailah Demung Gunari mencoba mencari siapa gerangan orang yang paling tepat untuk melaksanakan tugas menjadi pengantin itu.

    Diam-diam Demung Gunari mengamati suasana kehidupan keluarga Patih Mahesa Amping yang tinggal di dalam istana Kediri, kesehariannya dan segala kebiasaannya. Sebagai seorang Demung istana yang bertugas mengurus rumah tangga istana Kediri, tidak seorangpun yang mencurigainya ketika Demung Gunari melihat-lihat sekitar taman di puri pasanggrahan tempat tinggal Patih Mahesa Amping, bertanya beberapa hal kepada dua tiga orang pelayan dalem yang bertugas melayani keluarga Patih Mahesa Amping.

    Ibarat seekor berang berang membangun sarang perangkap, Demung Gunarai telah bekerja dengan sangat teliti, merasa tidak ada satupun yang tertinggal dalam pengamatannya.

    Akhirnya setelah merasa cukup mengenal keseharian dan kebiasaan Patih Mahesa Amping, Demung Gunari telah mengetahui siapa gerangan orang yang paling dekat di dalam keluarga Patih Mahesa Amping.

    Ni Narsih, adalah seorang pelayan dalem di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping yang bertugas sehari-hari menyiapkan makanan bagi keluarga itu, seorang pelayan dalem yang sangat dipercaya oleh keluarga Patih Mahesa Amping.

    Meskipun masih nampak muda, namun untuk ukuran anak gadis di jaman itu sudah dapat dikatakan terlambat untuk berumah tangga. Bersama dengan beberapa pelayan dalem istana, Ni Narsih bertempat tinggal di pondokan belakang istana Kediri.

    Suranta, adalah seorang pekatik muda yang belum lama bekerja sebagai pekatik di istana Kediri. Usianya masih sangat muda, punya kegemaran menyabung ayam dan berjudi. Namun Suranta adalah seorang pekerja yang rajin, menyiapkan makanan kuda, membersihkan kandang kuda dan merawat kuda dengan sangat baik.

  21. Dan di akhir-akhir pekan ini hampir disetiap waktu senggangnya, Suranta selalu datang di tempat penyabungan ayam. Hampir semua hutang-hutangnya telah dapat dilunasinya. Namun tidak seorangpun yang bertanya-tanya dari mana Suranta yang hanya seorang pekatik istana dapat punya uang yang cukup banyak, menghabiskan banyak waktunya di tempat penyabungan ayam dan berjudi.

    Akhirnya hampir semua orang menduga-duga bahwa gaya hidup Suranta belakangan ini karena kedekatannya dengan seorang perempuan pelayan dalem istana, seorang perawan tua yang tergila-gila dengannya sehingga apapun yang diminta oleh Suranta pasti akan dipenuhinya.

    Suranta hanya sedikit tersenyum manakala seorang kawan dekatnya mengatakan dugaan dari orang banyak itu tentang hubungannya dengan Ni Narsih.

    “Terserah apapun yang orang katakan tentang hubunganku dengan Ni Narsih”, berkata Suranta kepada kawannya sambil tersenyum.

    Suranta memang telah dapat menutup mulutnya rapat-rapat, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa hubungannya dengan Ni Narsih adalah hubungan yang semu, sebuah hubungan sandiwara sesuai perintah Demung Gunari yang telah membayarnya.

    “Buatlah agar Ni Narsih tergila-gila kepadamu”, berkata Demung Gunari kepada Suranta di suatu waktu.

    Ternyata dengan sangat mudahnya Suranta dapat mendekati Ni Narsih, mendapatkan cintanya yang sangat tulus tanpa kesangsian apapun bahwa dirinya sesungguhnya hanya diperalat untuk sebuah keinginan tertentu.

    Berita tentang kedekatan Ni Narsih dengan Suranta ternyata didengar juga oleh Nyi Patih Mahesa Amping, seorang putri Raja Melayu yang kita kenal dengan nama Dara Jingga itu.

    “Apakah kamu sudah memikirkannya dengan masak-masak, usia calon suamimu itu lebih muda darimu”, berkata Nyi Patih Mahesa Amping kepada Ni Darsih.

    “Mungkin sudah suratan takdir hamba, mendapatkan calon suami yang lebih muda dari usia hamba”, berkata Ni Narsih kepada Nyi Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, akhirnya semua orang tidak mempertanyakan apapun tentang hubungan cinta antara Ni Narsih dan Suranta, terutama kawan-kawan dekat Suranta sendiri yang sering dijamu berbagi kesenangan bersamanya.

    Hingga akhirnya, manakala melihat hubungan Bi narsih dan Suranta sudah menjadi begitu dekat, maka disuatu malam Demung Gunarai datang menemui Suranta di rumahnya.

    “Tugasmu sekarang adalah membujuk Ni Narsih agar mencampurkan cairan ini kedalam minuman Patih Mahesa Amping”, berkata Demung Gunari sambil menyerahkan sebuah bubu kecil dari bamboo kepada Suranta.

    “Aku akan membujuknya”, berkata Suranta kepada Demung Gunari.

  22. Demung Gunara sengaja tidak menjelaskan yang sebenarnya, hanya menyampaikan bahwa cairan itu telah dimantrai agar Patih Mahesa Amping menjadi semakin kasih kepadanya sehingga akan memilihnya menduduki sebuah jabatan yang amat penting di istana kediri.

    “Bila kamu dapat membujuk Ni Narsih, aku akan memberimu lebih banyak lagi”, berkata Demung Gunari sambil menteerahkan empat keping emas di tangan Suranta.

    Gembira hati Suranta melihat empat keeping emas ditangannya, terbayang si burik, ayam jago unggulan milik seorang kenalannya yang selalu menang dalam setiap penyabungan yang akan dibelinya, terbayang pula wajah empat orang kawan dekatnya yang akhir-akhir ini selalu ikut bersamanya mencari kesenangan yang mereka inginkan.

    Hingga di suatu malam Suranta telah menemui Ni Narsih di pondokannya di belakang istana Kediri.

    “Bantulah aku untuk mencampurkan cairan ini di minuman Patih Mahesa Amping, hanya cairan pengasih yang sudah dimantrai agar Patih Mahesa Amping selalu kasih melihat Demung Gunari”, berkata Suranta kepada Ni Narsih.

    “Berapa kamu di bayar oleh Demung Gunari ?”, bertanya Ni Narsih penuh selidik.

    “Hanya sebuah balas budi, Demung G Gunarai yang membawaku masuk di istana ini sebagai seorang pekatik. Dan Demung Gunari telah menjanjikan kepadaku bila telah menjadi pejabat penting di istana akan mengambilku sebagai pembantu utamanya”, berkata Suranta berusaha membujuk kekasihnya itu.

    Mendengar bujuk rayu Suranta telah membuat Ni Narsih serba salah untuk menolaknya, merasa kasihan memandang wajah kekasihnya yang penuh rasa harap itu.

    “Hanya sebuah air pengasih”, berkata Ni Narsih dalam hati sambil tersenyum menganggukkan kepalanya sebagai pertanda menerima tugas yang diminta oleh kekasih pujaan hatinya itu.

    Terlihat wajah Suranta berubah penuh rasa gembira, Ni Ratih menyanggupi tugas itu.

    Demikianlah hingga di sebuah sore yang cerah terlihat Patih Mahesa Amping duduk berbincang bersama Dara Jingga di serambi puri pasanggrahannya.

    Seperti biasa Ni Narsih menyiapkan secangkir wedang sereh untuk majikannya itu.

    Melihat tidak ada seorangpun yang berada di pawon, terlihat Ni Narsih telah menuangkan sebuah cairan dari dalam bubu kecil kedalam minuman yang akan diberikan kepada majikannya itu.

    Tanpa beban apapun, Ni Narsih telah membawa minuman hangat itu ke serambi dimana majikannya tengah beristirahat berbinvcang bersama istrinya, Dara Jingga.

    “Terima kasih”, berkata Dara Jingga penuh senyum ramah kepada Ni Narsih yang telah meletakkan secangkir wedang hangat untuk Patih Mahesa Amping.

    Tergesa-gesa terlihat Ni Narsih berjalan kembali masuk ke pawon, dadanya terasa berdebar-debar.

    • Wah… yok opo iki Pak Dhalang
      Ranta itu sepupuku, lha Narsih itu tetanggaku.
      He he he he …

      Suwun Pak Lik.

  23. Keesokan harinya, Ni Narsih terlihat menarik nafasnya lega sekali karena melihat Patih Mahesa Amping seperti biasa duduk di ruang dalam menanti hidangan sarapan pagi bersama istrinya Dara Jingga.
    Ketika sore datang menjelang, Ni Narsih masih melihat Patih Mahesa Amping di serambi ketika dirinya menyuguhkan secangkir wedang hangat.

    Keesokan harinya lagi, Ni Narsih masih melihat Patih mahesa Amping keluar dari puri pasanggrahannya untuk menyelesaikan beberapa tugasnya di istana Kediri.

    Demikianlah, dalam dua hari itu Ni Narsih masih melihat Patih Mahesa Amping tetap segar bugar.

    “Hanya air pengasih”, berkata Ni Narsih dalam hati menghilangkan rasa bersalahnya.

    Namun di hari ketiganya, disaat wajah bumi pagi masih bening suram terjadilah sebuah kehebohan besar di istana Kediri yang berawal di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping.

    Pagi itu Dara Jingga terkejut ketika membuka matanya melihat suaminya, sang Patih Mahesa Amping tengah duduk bersila dengan mata terpejam.

    Sebagai seorang istri yang sudah lama mengenal kebiasaan suaminya, pahamlah Dara Jingga bahwa suaminya tengah menghadapi sesuatu yang menggangu kesehatannya. Dan dengan rasa khawatir yang sangat terlihat Dara Jingga masih tetap menunggu disisi suami tercintanya itu.

    Rasa cemas mengisi perasaan dara Jingga manakala melihat peluh bercucuran membasahi seluruh tubuh Patih Mahesa Amping.
    Masih dengan perasaan penuh cemas, Dara Jingga melihat suaminya perlahan membuka matanya dan langsung memandangnya.

    “Dindaku, apakah engkau mencintaiku ?”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Dara Jingga.

    “lautan yang luas telah kuseberangi, meninggalkan segala kemanjaan sebagai seorang putri di tanah Melayu, hanya untuk menemui kakanda”, berkata Dara Jingga sambil mengusap peluh di wajah suaminya.

    “Ambilah pisau pendek yang tergantung di dinding kamar kita itu, arahkan dengan tepat di jantungku”, berkata Patih Mahesa Amping kepada istrinya.

    “kakanda pasti tengah mengigau”, berkata Dara Jingga sambil mengerutkan keningnya merasa bahwa suaminya telah bicara tanpa sadar.

    “Cepatlah dinda bila kamu benar-benar mencintaiku”, berkata Patih Mahesa Amping dengan suara lebih keras lagi pertanda keluar dari kesungguhan hatinya.

    “Tidak, aku tidak akan melakukannya”, berkata Dara Jingga sambil menggelengkan kepalanya penuh rasa cemas menghantui perasaan dan pikirannya menatap wajah suaminya yang basah oleh peluh yang terus mengucur dengan derasnya.

  24. Ternyata sebagai seorang yang berilmu sangat tingi, memahami ilmu pengobatan, memehami berbagai jenis aneka racun. Ketika terbangun di pagi hari Patih Mahesa Amping sudah dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres di dalam dirinya, maka langsung saja Patih Mahesa Amping bersila di peraduannya mengerahkan segenap kekuatan sejati hawa murninya mencoba menghentikan sesuatu yang dirasakannya telah memenuhi seluruh jalur pembuluh darahnya. Setelah lama mencoba dengan kekuatan tenaga sakti sejati hawa murninya yang sangat tinggi itu, ternyata Patih Mahesa Amping telah terlambat untuk menghentikannya, dirasakan racun yang amat kuat itu sudah naik keatas kepala.

    Sebagai seorang yang sangat memahami berbagai jenis racun, Patih Mahesa Amping sadar betul bahwa racun yang telah masuk merambati seluruh isi kepalanya itu akan berdampak merusak segala akal pikirannya, akan merubah dirinya menjadi seorang yang lupa ingatan.

    Itulah sebabnya Patih Mahesa Amping telah meminta istrinya agar membunuhnya.

    Namun semua memang sudah terlambat, racun yang amat kuat telah merusak seluruh isi kepala Patih Mahesa Amping, merusak segala ingatannya. Merubahnya menjadi sesosok tubuh yang hanya dipenuhi amarah, memandang seluruh isi dunia dengan cara terbalik, musuh dianggapnya kawan, dan sahabat setia dilihatnya sebagai musuh paling jahat yang harus dibunuh.

    Berlinang air mata Dara Jingga tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada suami tercintanya itu yang tiba-tiba saja menatap dirinya dengan mata yang memerah menakutkan.

    “Kandaku…”, berkata lirih Dara Jingga menatap wajah suaminya yang sudah kehilangan sosok sejatinya yang dikenalnya selama ini.
    Dan tiba-tiba saja Dara Jingga menjerit tertahan manakala tangan Patih Mahesa Amping yang amat kuat itu telah mencengkeramnya dan melemparkannya hingga membentur dinding kayu kamar peraduannya.

    Brakk !!!!

    Dengan mata terbelalak Dara Jingga melihat suaminya telah manabrak pintu kamar yang langsung terbuka lebar.
    Dan dengan masih menahan rasa sakit sebagian tubuhnya yang terbentur kayu, terlihat Dara Jingga berusaha bangkit berdiri dan mengejar Patih Mahesa Amping yang telah pergi berlari kearah pintu pringgitan.

    Brak !!!

    Kembali Dara Jingga melihat Patih Mahesa Amping telah menabrak pintu pringgitan yang langsung hancur terbuka lebar.
    “Kanda Mahesa Amping”, berteriak Dara Jingga memanggil suaminya.
    Namun Patih Mahesa Amping seperti tidak mendengar apapun, telah berlari kearah samping bagunan puri pasanggrahannya kearah kandang kuda.

  25. Seorang pekatik tua terbelangak melihat majikannya datang dengan cara berlari dan langsung menghentakkan tali kekang kuda yang terikat di sebuah tiang penyangga kandang kuda.

    Akkibatnya tiang penyangga itu telah pecah dua, merobohkan sebagian atap bangunan kandang kuda itu.

    Pekatik tua itu masih terbelangak tidak tahu apa yang harus dilakukannya, namun tiba-tiba dilihatnya sang majikan telah melompat dan langsung menghentakkan perut kuda agar berlari kencang.

    Pekatik tua masih dengan mata terbelangak melihat majikannya telah melarikan kudanya kearah halaman depan.

    Bersamaan dengan itu, terlihat dua orang pejabat istana tengah memasuki gerbang gapura puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping.

    Terkejut keduanya karena tiba-tiba saja didepan keduanya terlihat Patih Mahesa Amping melarikan kudanya begitu cepat sekali.

    Namun dengan sangat sigap keduanya telah langsung melompat kekiri dan kekanan menghindari tabrakan kuda yang berlari begitu cepatnya langsung keluar dari gerbang gapura.

    Sementara itu keduanya telah melihat seorang wanita berlari kearah mereka.

    “Nyi Patih, katakana apa yang telah terjadi”, berkata salah seorang dari pejabat Istana itu bertanya kepada wanita itu yang tidak lain adalah Dara Jingga masih dengan isak tangisnya.

    “Tolonglah suamiku, dirinya telah hilang kendali”, berkata Dara Jingga kepada kedua pejabat istana Kediri itu yang sudah dikenalnya bernama Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru.

    Tanpa bertanya apapun, terlihat Ki Rangga Kebo Biru dn Ki Demung Juru telah langsung berlari kearah Patih Mahesa Amping melarikan kudanya.

    “Aku butuh kuda ini kembali”, berkata Ki Rangga Kebo Biru kepada seorang pekatik yang tengah membawa dua ekor kuda untuk dirawatnya.

    Sebagaimana Ki Rangga Kebo Biru, terlihat Ki Demung Juru telah melakukan yang sama mengambil tali kekang kuda dari tangan pekatik.

    Maka tidak lama berselang Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru telah berada dipunggung kudanya masing-masing.

    Tinggal para prajurit penjaga di gerbang istana Kediri yang terpaku di tempatnya karena baru saja dilihatnya Patih Mahesa Amping telah melarikan kudanya dengan sangat cepat sekali, tiba-tiba saja dibelakangnya sudh muncul Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru berkuda sangat cepat sebagaimana Patih Mahesa Amping.

    “Apa yang terjadi atas mereka bertiga ?“, berkata seorang prajurit penjaga kepada kawannya.

  26. aduuuh…

  27. Beruntung bahwa Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru masih dapat melihat arah kuda Patih Mahesa Amping yang ternyata menuju arah utara gerbang gapura kotaraja Kediri. Namun mereka berdua belum dapat mengejar kecepatan lari kuda Patih Mahesa Amping yang berlari seperti terbang membelah udara pagi yang mulai terang tanah.

    Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru masih jauh dibelakang Patih Mahesa Amping yang telah melewati gerbang gapura sebelah utara Kotaraja Kediri. Terlihat debu mengepul dibelakang kaki kuda Patih Mahesa Amping yang terus berlari dengan cepatnya meninggalkan Kotaraja Kediri dan terus berlari kearah utara.

    Sementara itu sambil terus mengejar kuda Patih Mahesa Amping, didalam pikiran Ki Rangga Gajah Semu masih menyangsikan perkataan Dara Jingga bahwa sahabatnya itu telah hilang ingatan.

    “Mungkinkah Patih Mahesa Amping telah kehilangan akalnya sebagaomana yang dikatakan oleh istrinya sendiri ?”, bertanya dalam hati Ki Rangga Gajah Biru sambil terus berusaha mengejar laju kuda Patih Mahesa Amping.

    Kejar kejaranpun terus berlangsung di jalan tanah yang telah menjadi semakin terang di sinari matahari yang telah mulai naik disebelah kanan arah mereka berpacu.

    Kejar kejaranpun masih terus berlangsung hingga matahari telah mencapai puncaknya diatas kepala mereka, namun tetap saja laju kuda Patih Mahesa Amping tetap berada jauh didepan Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

    Hingga manakala matahari mulai turun di sebelah kiri mereka, mulailah dapat dinilai kuda siapa yang merupakan kuda unggulan.

    Ternyata kuda yang dikendarai oleh Patih Mahesa Amping adalah seekor kuda pilihan keturunan kedua dari kuda milik Raja Mahesa Cempaka yang sangat terkenal itu. Seekor kuda yang sangat kuat dan dapat berlari dengan sangat cepatnya. Dan sudah mulai dapat terlihat laju kuda Ki rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru semakin jauh tertinggal.

    “Nampaknya kuda kita sudah mulai kepayahan”, berteriak Ki Rangga Gajah Biru sambil sambil memperlambat laju kudanya dan mengangkat tangannya kearah Ki Demung Juru.

    Mendengar teriakan Ki Rangga Gajah Biru, terlihat Ki Demung Juru langsung memperlambat laju kudanya sebagaimana yang dilakukan oleh kawannya itu.

    “Kuda kita akan mati kelelahan bila kita paksakan terus berlari”, berkata Ki Rangga Gajah Biru kepada Ki Demung Juru.

    Demikianlah, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah tertinggal jauh oleh Patih Mahesa Amping, kuda-kuda mereka berdua tidak setegar dan sekuat kuda Patih Mahesa Amping yang seperti punya sepuluh nafas cadangan berlari terus tanpa berhenti.

    “Kita lanjutkan pengejaran setelah kuda-kuda kita beristirahat dengan cukup”, berkata Ki Rangga Gajah Biru kepada Ki Demung Juru ketika melihat sebuah sungai kecil berbatu membelah jalan mereka.

  28. Beruntung di tepi sungai kecil itu tumbuh sebatang pohon pisang hutan yang telah berbuah matang. Terlihat Ki Demung Juru memenggal setangkai pisang matang itu, berbagi dengan Ki Rangga Gajah Biru beberapa buah, sisanya disimpan sebagai bekal. Nampaknya Ki Demung Juru menyadari bahwa mungkin mereka tidak singgah bermalam di sebuah padukuhan yang mereka lewati, mereka akan terus memacu kudanya berusaha untuk mengejar Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, setelah melihat kuda-kuda mereka telah beristirahan dengan cukup, terlihat mereka sudah duduk diatas punggung kuda mereka masing-masing untuk melanjutkan perjalanan mereka mengejar Patih Mahesa Amping.

    Ternyata setelah beristiraha dengan cukup, kuda-kuda mereka dapat diperintahkan untuk berlari kembali, dipacu kembali meninggalkan debu yang betrbangan mengepul di belakang langkah kaki kuda-kuda mereka.

    Hingga akhirnya dipenghujung senja, di sebuah persimpangan jalan mereka harus menghentikan lari kuda mereka.

    Terlihat Ki Rangga Gajah Biru telah melompat turun dari pungung kudanya tepat di persimpangan jalan itu. Ternyata Ki Rangga gajah Biru adalah seorang pencari jejang ulung telah menemukan jejak langkah kaki kuda Patih Mahesa Amping.

    “Patih Mahesa Amping telah mengambil arah Kotaraja Majapahit”, berkata Ki Rangga Gajah Biru yang telah bongkahan-bongkahan rumput halus yang tumbuh di jalan tanah itu yang terbongkar oleh langkah kaki kuda yang diyakininya milik kuda Patih Mahesa Amping.

    Nampaknya Ki Demung Juru tidak menyangsikan keahlian sahabatnya itu dalah hal menemukan jejak, hanya dengan melihat kedalaman jejak kaki seekor harimau sudah dapat mengukur dengan tepat berat badan harimau itu serta tidak kehilangan arah kemana binatang besar itu berjalan.

    “Kita telah tertinggal seperempat hari perjalanan”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil meraba jejak langkah kaki kuda patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah mengambil arah perjalanan menuju Kotaraja Majapahit, arah yang mereka yakini adalah arah perjalanan Patih Mahesa Amping.

    Dikeremangan malam, dibawah langit dan cahaya bulan terpotong langkah kaki kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru terus berlari membelah udara dingin malam.

    “Berhenti !!”, berkata Ki Rangga Gajah Biru manakala melihat seonggok bayangan hitan tergeletak di tengah jalan di hadapan mereka.

    Terlihat mereka berdua langsung menghentikan laju kuda mereka dan langsung melompat dari punggung kuda mereka masing-masing.

    “Kuda Patih Mahesa Amping”, berkata Ki Demung Juru didekat seekor kuda yang tergeletak sudah tidak bernafas lagi, yang dikenali sebagai kuda milik Patih Mahesa Amping.

  29. “Patih Mahesa Amping sangat menyayangi kudanya, namun dengan tangannya sendiri telah membunuhnya”, berkata Ki Rangga Gajah Biru yang melihat tulang dada kuda itu telah remuk terpukul oleh sebuah tangan yang amat kuat.

    “nampaknya kuda ini sudah tidak dapat lagi menuruti perintah majikannya untuk terus berlariian”, berkata Ki Demung Juru menduga-duga kematian kuda kesayangan Patih Mahesa Amping itu.

    “Kita telah tertinggal setengah hari perjalanan”, berkata Ki rangga Gajah Biru setelah meraba bagian tubuh bangkai kuda itu.

    Terlihat mereka berdua sudah melompat diatas kuda masing-masing dan langsung menghentakkan perut kudanya agar langsung berlari.
    Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru adalah para prajurit pilihan, orang-orang yang terlatih dan telah ditempa raganya menghadapi berbagai rintangan yang sangat berat, menempuh perjalanan yang sulit dan jauh, menghadapi pertempuran dipeperangan seharian penuh tanpa beristirahat sedikitpun.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Rangga Gajah Biru, mereka berdua memang telah tertinggal setengah hari perjalanan dengan Patih Mahesa Amping yang telah meninggalkan kudanya. Keduanya sama-sama membayangkan bahwa sang patih Daha yang amat sakti itu pasti telah mengunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna itu, yang konon dapat berlari kencang mengendarai angin.

    Itulah sebabnya dengan perasaan tak menentu, menduga-duga kebenaran perkataan dara Jingga yang mengatakan suaminya itu telah kehilangan akal sehatnya, terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung tetap memacu kuda-kuda mereka berlari di bawah langit malam yang dingin, melewati beberapa kademangan, melewati jalan hutan yang gelap, membelah padang ilalang dan tanah berawa.
    “Kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak, kuda kita nampaknya sudah mulai jemu berlari”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil memperlambat laju kudanya.

    Mendengar ucapan Ki rangga Gajah Biru, terlihat Ki Demung Juru ikut memperlambat laju kudanya.

    Hingga disebuah jalan di puncak sebuah perbukitan mereka telah berhenti untuk beristirahat.

    Sementara itu langit diatas kepala mereka sudah terlihat bias memerah sebagai pertanda sang malam sebentar lagi akan tergantikan oleh sang putra pagi, sang putra fajar pemilik cahaya di bumi.

    “Kasihan kuda-kuda kita”, berkata Ki Demung Juru sambil melihat kuda-kuda mereka yang langsung rebah dihamparan rumput liar dengan nafas yang masih tersengal-sengal kelelahan.

    Akhirnya manakala sang fajar terlihat mengintip diujung timur bumi, keduanya telah menuntun kuda-kuda mereka tidak langsung menungganginya untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka menghangatkan otot-otot tubuhnya dengan udara pagi yang segar.

    “Kotaraja Majaphit sudah setengah hari perjalanan lagi”, berkata Ki Rangga Gajah Biru.

    • arrgghhhh…..tragis.

  30. Ora tega mocone, sepuntene Ki Dalang

  31. nunggu pak satpam berhitung, sudah layakkah membuka gandhok ANYER ??

  32. aduuuh…ra tego patine

  33. Alhamdulillah…

    gandok PKPM-08 sudah bisa ditutup, tikar digulung
    sudah buka gandok PKPM-09, tikar sudah digelar

    monggo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: