PKPM-08

Senthong tengah

Hingga keesokan harinya lagi, kembali orang kepercayaan Ki Secang tidak melihat gelombang pengungsian, yang dilihat adalah sebuah suasana hiruk pikuk warga yang tengah melakukan upacara pengerupukan, sebuah upacara pengusiran sang Buta Kala dengan cara menyebarkan nasi tawur di berbagai tempat di rumah dan di pekarangan mereka serta dibarengi dengan memukul tetabuhan dan kentongan.

Dan ketika sore harinya, orang kepercayaan Ki Secang masih berada di Kadipaten Blambangan melihat setiap orang di Kademangan masing-masing telah menyiapkan ogoh-ogoh untuk diarak berkeliling Kadipaten Blambangan. Atas perintah Adipati Menak Jingga, arak-arakan pawai ogoh-ogoh itu berakhir di ujung barat perbatasan Kadipaten Blambangan untuk membakar bersama semua ogoh-ogoh yang telah mereka arak berkeliling kota Kabupaten Blambangan itu.

Asap tebal terlihat mengepul tinggi di udara dari beberapa ogoh-ogoh yang terbakar, para warga yang hadir begitu gembira menikmati suasana pembakaran ogoh-ogoh itu sebagai ungkapan mereka terlepas dan terbebas dari sang Buta Kala.

Ternyata perintah pelaksanaan pembakaran yang dilakukan di batas barat Kadipaten Blambangan adalah kecerdikan Adipati Menak Jingga yang telah mengetahui bahwa pasukan Ki Secang pastinya sudah berada disekitarnya, melihat saat-saat pembakaran itu.

“Hari ini mereka merasa terbebas dari prahara sang Buta Kala, namun besok mereka pastinya tidak akan dapat membendung prahara Ki Secang”, berkata Ki Secang sambil terbahak-bahak sangat senang sekali melihat para warga Kadipaten Blambangan sepertinya tidak mengetahui aka nada sebuah bencana besar tengah mengintai mereka.

Justru sebenarnya pasukan Ki Secang sendiri yang sudah masuk dalam perangkap jebakan permainan Adipati Menak Jingga yang sangat cerdik itu.

“Mereka pasti tidak akan berani melawan matahari terbit, mereka pasti datang setelah matahari tergelincir diatas kepala”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman yang menemaninya hingga jauh malam di serambi rumahnya, istana Kadipaten Blambangan.

Diam-diam Adityawarman mengakui kecerdasan Adipati Blambangan yang sangat tampan itu yang memperhitungkan pasukan musuh yang datang dari arah barat itu.

Sementara itu, meski telah dipastikan bahwa pasukan Ki Secang akan melakukan penyerangan keesokan harinya, tetap saja Adipati Menak Jingga telah menempatkan beberapa orang prajuritnya di tempat tersembunyi mengamati pihak lawan yang sudah berada di sekitar hutan belukar batas kota Kadipaten Blambangan sebelah barat itu.

“Beristirahatlah kamu, biarlah aku yang berjaga-jaga”, berkata seorang prajurit Blambangan kepada kawannya di sebuah tempat persembunyian mereka menawarkan giliran waktu berjaga.

“Aku tidak bisa tidur, selalu membayangkan hari raya Nyepi besok dimana aku tidak berkumpul bersama anak dan istriku di rumah”, berkata kawannya.

“Bila besok kita tidak ikut laku Nyepi, tahun depan masih ada hari raya Nyepi lagi”, berkata prajurit itu mencoba menentramkan hati dan perasaan kawannya itu.

“Kamu benar, tapi aku memang benar-benar tidak bisa memejamkan mataku”, berkata kawannya.

“Bila demikian akulah yang tidur lebih dulu, dan bangunkan aku bila saatnya tiba”, berkata prajurit itu sambil mencari tempat sandaran di sebuah batu besar.

Tidak lama kemudian, prajurit itu sudah tertidur pulas seperti tidak punya beban apapun. Sementara kawannya dengan penuh rasa tanggung jawab terus berjaga-jaga mengamati keadaan di sekitar batas kota Kadipaten Blambangan sebelah barat

Perlahan, warna langit malam mulai memudar kemerahan. Bumi terlihat begitu bening, lengang dan sepi, dan sayup terdengar suara ayam jantan dari sebuah tempat yang amat jauh.

Perlahan, sang surya bangkit mengintip diujung timur pantai Banyuwangi menebarkan cahaya kuning keemasan diatas tanah persawahan, di atas jalan tanah dingin berembun yang masih lengang dan sepi.

Hari itu bertepatan dengan hari raya Nyepi, terlihat hampir semua tempat telah menjadi sepi dan lengang. Kota Kadipaten Blambangan seperti kota mati, semua warganya telah mengurung dirinya di dalam rumah tanpa geni, tanpa melakukan pekerjaan apapun selain laku Nyepi dengan tapa, brata, yoga dan semedhi.

Adipati Menak Jingga hari itu memang telah merahasiakan kepada warganya, bahwa hari itu aka nada sebuah penyerangan yang di lakukan oleh sebuah kekuatan yang berasal dari padepokan Ki Secang yang bermukim di hutan lereng timur Gunung Raung.

Adipati Menak Jingga memang tidak ingin warganya mengetahui, telah memberikan kesempatan warganya penuh kedamaian hati memasuki hari raya Nyepi, hari tahun baru dalam lembaran semangat baru memperbaharui jiwa dan kesucian hati.

Kelengangan suasana di kota Kadipaten Blambangan terus berlanjut hingga matahari telah menerangi tanah persawahan, menerangi jalan tanah dan pekarangan rumah.

Hingga akhirnya manakala matahari telah tepat diatas kepala, kelengangan itu sudah mulai berubah, ditandai dengan telah bergeraknya sebuah pasukan besar yang dipimpin langsung oleh Ki Secang terlihat tengah menuruni hutan di dekat perbatasan kota Kadipaten Blambangan sebelah barat.

“Aku datang sebagai sang Buta Kala”, berkata Ki Secang sambil menatap pintu gerbang gapura yang berdiri menjulang tinggi seperti raksasa bisu menatap semesta.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Secang, mereka memang telah datang mengganyang kota Kadipaten Blambangan sebagai sang Buta Kala, terlihat hampir semua pasukannya bertelanjang dada dengan wajah dan seluruh tubuhnya bercoreng moreng lumpur kawah Gunung Raung, sungguh sangat menyeramkan siapapun yang kebetulan melihatnya, sebuah pasukan sang Buta Kala tengah mendekati pintu gerbang gapura batas kota Blambangan sebelah barat itu.

Demikianlah, tepat di saat matahari diatas kepala, pasukan menyeramkan itu telah memasuki gerbang gapura kota, memasuki jalan yang lengang menuju arah istana Kadipaten Blambangan.

“Sang dewa Wisnu telah memberikan karunianya, sebentar lagi wilayah ini akan berada di dalam genggamanku”, berkata Ki Secang dalam hati yang berjalan di muka melihat suasana jalan yang begitu lengang, tidak seorang pun dijumpainya, merasa begitu mudah mendapatkan apa yang dicita-citakannya itu, menguasai kota Kadipaten Blambangan.

Namun angan-angan Ki Secang seperti buyar pecah, karena pendengarannya yang amat tajam itu telah mendengar suara berdesing yang berasal dari kanan kiri jalan yang sangat sepi itu.

Berdebar dan berguncang perasaan Ki Secang penuh rasa terkejut yang sangat manakala menyadari bahwa suara berdesing itu berasal dari suara anak panah, suara ratusan anak panah yang dilepaskan secara serempak bersamaan.

Ki Secang tidak punya kesempatan sama sekali untuk mengingatkan seluruh pasukannya selain melindungi dirinya sendiri.

Pasukan Ki Secang seketika itu telah dihujani ratusan anak panah, puluhan orang tidak bisa melindungi dirinya sendiri, telah terluka tertancap anak panah. Pasukan itu seperti telah bercerai-berai menyelamatkan diri dari hujan panah yang deras meluncur dari kanan kiri jalan.

Belum habis masa terkejutnya, tiba-tiba saja muncul dari kanan kiri mereka sebuah pasukan besar langsung menerjang pasukan sang Buta kala itu.

“Hancurkan pasukan sang Buta Kala”, berteriak Adipati Menak Koncar memberi semangat di barisan paling depan memimpin pasukannya dari sebelah kanan.

“Mereka hanya manusia biasa”, berteriak Adityawarman yang memimpin pasukannya dari sebelah kiri jalan memberikan semangat dan keberanian pasukannya bahwa yang mereka hadapi adalah manusia biasa yang telah dicoreng-morengkan lumpur kawah.
Lompatan para prajurit gabungan itu telah langsung menerjang pasukan Ki Secang dari arah kiri dan kanan jalan.

Seperti limpahan air banjir, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu telah tumpah menjepit pasukan Ki Secang.
Perang brubuh pun tak terelakkan lagi, denting suara senjata terdengar begitu bising bersama suara sumpah serapah yang sudah tak terkendalikan lagi telah menjadi suara peperangan di hari Nyepi itu.

“Kendalikan diri kalian, hadapi mereka dengan jurus tempur cakar elang”, berteriak Ki Secang mencoba membangun pasukannya yang telah terhimpit itu dengan sebuah jurus tempur ciptaannya sendiri yang dinamakannya sebagai jurus tempur cakar elang.

Hebat luar biasa teriakan Ki Secang itu, tiba-tiba saja pasukannya seperti berubah pecah memisahkan diri membentuk beberapa kelompok kecil terdiri dari sekitar lima belas orang.

Hebat luar biasa tandang pasukan Ki Secang yang telah membangun berbagai kelompok tempur itu, begitu kuat menerjang lawannya dan begitu kuat untuk ditembus karena satu sama lain telah saling melindungi. Benar-benar seperti sekumpulan elang yang turun bersama-sama dengan cakar siap menerkam mangsanya.

Nampaknya Ki Secang telah begitu sempurna menciptakan jurus tempur itu, melengkapi pasukannya dengan dua senjata cakra di kedua tangan mereka. Benar-benar seperti seekor elang dengan dua cakar kakinya yang sangat kuat, tajam dan kokoh.

Seketika itu juga pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu terdesak mundur beberapa langkah, bahkan ada yang terlempar terkena amukan sepasang cakra di tangan para pasukan Ki Secang yang sangat terlatih itu.

“Sang Naga terbang mendamaikan bumi”, berteriak Adipati Menak Jingga mengumandangkan sebuah kata yang sudah sangat dikenal oleh pasukan gabungan itu.

Ternyata Adipati Menak Jingga telah mengumandangkan sebuah jurus tempur ciptaan ayahnya, Empu Nambi. Sebuah jurus tempur kebanggaan para prajurit Majapahit dan prajurit Blambangan saat itu.

Teriakan Adipati Menak Jingga mengumandang begitu kerasnya, nampaknya telah dilontarkan oleh sebuah tenaga sejati yang sangat kuat.

Seketika itu juga, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu telah menyusun sebuah barisan tempur dalam beberapa kelompok kecil sekitar sepuluh orang setiap kelompoknya.

Begitu serasi setiap kelompok itu bergerak meliuk-liuk membingungkan lawannya karena seperti tiada celah terbuka kelemahan sedikitpun.

Perang yang sangat indah, sebuah tontonan pertempuran yang sangat terpadu antara dua barisan tempur yang sama-sama tangguhnya. Saling merobek, saling mencengkeram, mematuk dan menjepit.

Ternyata jurus tempur cakar elang itu memang sengaja diciptakan oleh Ki Secang untuk menghadapi jurus tempur ciptaan Empu Nambi yang sangat terkenal itu.

Sukar sekali untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara mereka dalam pertempuran itu, kedua pasukan yang bertempur itu telah menunjukkan kemahirannya dengan jurus tempur masing-masing.

Hingga tiba-tiba sekali pendengaran Ki Secang yang amat terlatih itu telah mendengar suara panah sanderan berdesing dengan amat kuatnya membelah udara siang yang amat panas itu.

“Apa yang ingin mereka perbuat dengan panah sanderan itu?”, bertanya-tanya Ki Secang dalam hati.

Belum sempat Ki Secang mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja pasukannya dikejutkan dengan suara ramai penuh bergelora dari arah utara.

Ternyata suara bergelora itu berasal dari seratus orang prajurit Majapahit dari arah utara yang memang telah menunggu pertanda panah sanderan diatas langit tempat persembunyian mereka.

Bukan main terkejutnya Ki Secang dan pasukannya mendapatkan sebuah gempuran lain dari pasukan Majapahit yang baru datang itu.

Sebagaimana pasukan gabungan bertempur, pasukan Majapahit yang baru datang juga telah langsung menerjang musuhnya dengan jurus tempur yang sama, jurus tempur Naga terbang turun ke bumi.

Dan pertempuran terlihat menjadi lebih seru lagi, lebih dahsyat dan menegangkan dari sebelumnya.

Beruntung bahwa pasukan Ki Secang masih menang dalam jumlah, sehingga tidak mempengaruhi jalannya pertempuran meski pihak lawan telah mendapatkan bantuan tenaga baru yang datang dari arah utara itu.

Namun tiba-tiba saja pendengaran Ki Secang yang amat tajam itu kembali mendengar suara desingan panah sandera membelah udara. Kali ini dua panah sanderan meluncur bersamaan melesat begitu cepatnya.

“Gila, apakah ada bantuan pasukan lainnya?” berkata Ki Secang dalam hati menduga-duga.

Ternyata dugaan Ki Secang tidak meleset sedikitpun, panah sanderan itu memang untuk memanggil sebuah pasukan besar yang akan muncul dari sebelah barat Kadipaten Blambangan,
Benar saja, tidak lama berselang telah muncul sekitar tiga ratus pasukan gabungan, para prajurit Majapahit dan para prajurit dari Lamajang.

Sorak sorai para prajurit yang tengah bertempur melemahkan pihak pasukan Ki Secang menyambut kedatangan pasukan yang baru datang itu.

Semangat baru dan nafas baru, itulah yang ingin ditampilkan dalam siasat peperangan menghadapi pasukan Ki Secang itu. Sebuah siasat yang telah disepakati bersama antara Mahesa Semu, Putu Risang dan Adipati Menak Koncar. Sebuah siasat perang dengan sebuah perencanaan yang sangat matang.

Dan pasukan baru itu telah langsung bergabung menerjang lawan mereka. Tenaga dan nafas baru mereka benar-benar telah dapat menekan pertahanan pihak lawan.

Namun pasukan Ki Secang adalah sebuah pasukan yang sudah dilatih cukup lama, telah dilatih menghadapi bermacam tekanan dan juga terlatih dalam hal ketahanan. Meski secara jumlah mereka sudah menjadi kalah, tetap saja mereka adalah sebuah pasukan yang sangat sulit untuk ditaklukkan.

Maka pertempuran menjadi semakin seru, semakin dahsyat dan semakin menegangkan.

Sementara itu beberapa orang warga kota Kadipaten Blambangan telah melihat pertempuran dari balik pintu rumah masing-masing. Berdebar hati dan perasaan mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Beberapa orang kepala keluarga dengan penuh bijaksana menentramkan perasaan anggota keluarganya sendiri dengan pesan untuk terus berdoa kepada Gusti Yang Maha Agung agar diberikan keselamatan dan kemenangan menghadapi sang angkara murka.

“Berdoalah kalian tanpa terputus kepada Gusti Yang Maha Agung memohon perlindunganNya”, berkata seorang lelaki tua kepada istri, anak gadis dan menantunya.

Ternyata doa para warga yang telah melihat pertempuran itu begitu tulus dan murni memohon harap di hadapan sang pencipta semesta alam agung dan alam alit itu.

Dan Gusti Yang Maha Agung nampaknya telah mendengar permohonan doa para warga kota Kadipaten Blambangan, mengabulkannya dengan caranya sendiri.

Dan pertanda kasih Gusti Yang Maha Agung itu terdengar dari suara menggelegar yang bersumber dari dua orang bercambuk di tengah-tengah pertempuran itu.

Putu Risang dan Gajahmada secara sadar telah mengakui keunggulan jurus tempur pasukan musuh yang sangat tangguh itu. Mereka berdua nampaknya telah mendapatkan pikiran yang sama, sebuah cara yang sama untuk mengalahkan barisan jurus tempur lawan yang sangat kuat dan tangguh itu, yaitu memecahkan barisan mereka.

Demikianlah, Gajahmada dan Putu Risang dengan cambuk pendeknya terlihat telah dihentakkan menciptakan suara yang menggelegar menciutkan hati dan perasaan siapapun yang mendengarkannya.

Luar biasa memang lecutan ujung cambuk Gajahmada dan Putu Risang yang bergerak seperti punya mata, kemanapun bergerak selalu menemui korbannya. Dua tiga orang dalam barisan tempur pasukan Ki Secang telah terlempar terluka parah terkena ujung cambuk Gajahmada dan Putu Risang.

Akibatnya, telah membuat gerak kelompok barisan itu menjadi rusak tak terkendali lagi.

Disaat itulah barisan pasukan gabungan dalam jurus tempur Sang naga terbang turun ke bumi langsung merobek-robek barisan kelompok musuh yang sudah terpecah itu menjadi semakin carut marut buyar dan dengan sangat mudahnya ditaklukkan.

Dan dalam waktu yang tidak begitu lama, enam kelompok barisan musuh sudah dapat ditaklukkan oleh pasukan gabungan itu, para prajurit Majapahit, Lamajang dan Blambangan.

Ternyata Ki Secang telah melihat apa yang terjadi dalam pertempuran itu, telah mengetahui sumber kehancuran barisan kelompok tempurnya.

“Dua orang bercambuk”, berkata Ki Secang dalam hati dengan kemarahan yang memuncak.

Terlihat tubuh Ki Secang berkelebat mendekati salah satu orang bercambuk yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan itu.
Ternyata Ki Secang telah memilih Gajahmada, orang bercambuk yang dilihatnya lebih dekat dari tempatnya berdiri.

“Cambukmu telah mengacaukan barisan tempurku”, berkata Ki Secang dengan mata yang sangat tajam memandang kearah Gajahmada.

“Apakah ada yang salah dengan cambukku ini?”, berkata Gajahmada kepada orang tua itu dengan wajah sedikit tersenyum seakan tidak gentar sedikitpun dengan tatapan matanya yang terlihat begitu tajam menggetarkan hati.

“Anak muda, kamu terlalu percaya diri, sayangnya umurmu sudah sangat dekat diujung trisulaku ini”, berkata Ki Secang sambil bergerak dengan begitu cepatnya menjulurkan trisulanya yang sepertinya ingin secepatnya menghabisi anak muda di hadapannya itu demi untuk secepatnya menyelamatkan barisan tempurnya itu.

Namun orang tua itu telah salah menduga, telah salah menempatkan anak muda di depannya itu sebagai orang biasa yang sekali terjang akan dapat melukainya.

Terkejut bukan main Ki Secang mendapatkan anak muda itu ternyata dapat bergerak dengan begitu cepatnya menghindari serangan pertamanya, bahkan telah membalas dengan membuat serangan balik dengan sebuah ayunan cambuk melingkar mencecar arah pinggang Ki Secang.

Wuutt……

Suara angin ayunan cambuk Gajahmada bergerak dengan tenaga yang amat kuat.

Kembali Ki Secang harus melompat mundur.
Sementara matanya telah melihat satu kelompok tempurnya kembali dapat dipecahkan oleh seorang bercambuk lainnya.

“Aku harus menyelesaikan anak setan ini”, berkata Ki Secang dalam hati dengan perasaan geram ingin secepatnya merobohkan satu orang bercambuk di hadapannya itu.

Terlihat Ki Secang sudah bergerak kembali menerjang dengan trisula terhunus kea rah dada Gajahmada. Serangan Ki Secang berlipat-lipat kekuatan dan kecepatannya dari serangan sebelumnya.

Keinginan Ki Secang untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran menghadapi anak muda itu ternyata kalis seperti air hujan yang turun di gurun pasir, hilang tanpa jejak.

Ternyata anak muda yang dihadapinya itu terlalu alot dan sangat licin seperti seekor belut tidak mudah ditaklukkan.

Berkali-kali Ki Secang menyusun banyak serangan, selalu saja serangannya dapat dielakkan oleh Gajahmada dan kalis begitu saja.
Sementara dilihatnya dua kelompok tempurnya kembali telah dapat dipecahkan oleh orang bercambuk lainnya.

Sorak sorai para prajurit gabungan tiap kali dapat menaklukkan kelompok tempur telah membuat Ki Secang naik darah hingga ke ubun-ubun rasanya.

Kembali terlihat serangan trisula di tangan Ki Secang datang berputar dan bergulung-gulung berharap dapat langsung merobohkan lawan mudanya itu.

Tapi kembali Gajahmada dapat mengaliskan serangan yang amat dahsyat, selalu dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawannya. Bahkan Gajahmada telah balas menyerang dengan tidak kalah cepat dan kuatnya, telah berlipat-lipat kecepatan dan kekuatannya seiring dengan laju gerak tataran Ki Secang yang sudah langsung merambat ke puncak ilmunya, ke puncak kekuatannya yang sebenarnya.

Dan Ki Secang sudah benar=benar putus asa melihat pasukannya yang lambat tapi pasti akan mengalami kehancuran, sementara dirinya tidak juga dapat mengalahkan lawan yang semula dianggap tidak berarti itu.

Dan Ki Secang pada akhirnya tidak lagi memperdulikan pasukannya, yang dipedulikan adalah mengakhiri nyawa anak muda yang menjadi salah satu kehancuran pasukannya itu.

Kilatan cahaya ketajaman senjata trisula di tangan Ki Secang terlihat berkilat-kilat menyelubungi seluruh tubuh Ki Secang dan telah bergerak seperti sebuah anak panah yang ditarik dari tali busurnya dengan tenaga yang amat kuat.

Ki Secang telah meluncur dengan sangat cepat dan kuat kearah Gajahmada.

Gajahmada masih merasa yakin bahwa kecepatan dirinya bergerak masih berada lawannya, namun tetap saja telah melambari dirinya dengan ajian kekebalan setara ajian Lembu Sekilan yang sangat tangguh itu hanya untuk sekedar berjaga-jaga karena sedikit saja kelengahan akan berakibat nyawanya melayang tercabik-cabik trisula di tangan Ki Secang yang sangat luar biasa itu.

Luar biasa serangan Ki Secang itu, telah bergerak begitu cepat kearah Gajahmada.

Namun Gajahmada adalah seorang yang telah mempunyai ilmu rangkap yang sangat sempurna telah langsung bergerak menghindari terjangan Ki Secang, dan sambil menghindar telah membuat tekanan yang tidak kalah berbahayanya telah menghentakkan cambuk pendeknya dengan cara sandal pancing.

Gelegar!!!

Terdengar suara hentakan cambuk pendek Gajahmada telah membuat Ki Secang melompat jauh menghindarinya. Namun meski Ki Secang dapat menghindari serangan cambuk pendek Gajahmada itu, suara hentakan cambuk itu masih dirasakan telah menghimpit dadanya.

Ki Secang menyadari bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu mempunyai ilmu kekuatan yang sangat dahsyat bagai seorang pertapa yang telah bersemadhi ratusan tahun lamanya.

Sementara itu terdengar kembali sorak sorai suara para prajurit gabungan yang telah dapat menaklukkan kelompok tempur terakhir pasukan Ki Secang.

“Aku akan membunuh kalian semua!!”, berteriak Ki Secang dengan suara yang bergulung-gulung yang dihentakkannya dengan tenaga saktinya.

Terlihat beberapa prajurit bergulingan tidak mampu menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

“Ajian ilmu Gelap Ngampar”, berkata Putu Risang dalam hati sambil berdiri mematung melihat kearah pertempuran Ki Secang dan Gajahmada yang belum juga usai itu.

Dan kali ini Putu Risang melihat Ki Secang bukan hanya melepas ajian ilmu gelap ngamparnya lewat suaranya, tapi kali ini telah melepas ajian ilmu gelap ngamparnya lewat kilatan cahaya ketajaman trisulanya yang sudah menyelimuti dirinya, diputar dengan gerakan sangat cepat dan kuat.

“Kabut kilatan cahaya trisula”, berkata Gajahmada dalam hati teringat kepada Ki Banyak Ara yang telah melakukan gerakan yang sama, gerakan kabut kilatan trisula yang sangat dahsyat dan berbahaya itu.

Dan kali ini ilmu yang sangat langka itu telah dihentakkan oleh guru Ki Banyak Ara, pasti berlipat-lipat kedahsyatannya.

Ternyata dugaan Gajahmada tidak meleset, kabut kilatan trisula di sekitar tubuh telah semakin melebar.

“Selamatkan diri kalian!!”, berkata Putu Risang mengingatkan para prajurit untuk menghindari dirinya dari pusaran kabut kilatan trisula yang sudah semakin jauh melebar.

Riuh suasana dan suara para prajurit yang berlarian menjauhi lingkaran kabut kilatan senjata trisula itu.

Lega hati dan perasaan Gajahmada yang melihat para prajurit dan para tawanan telah keluar dari lingkaran kabut kilatan trisula yang sangat berbahaya itu sebagaimana yang pernah dilihat sendiri ketika berhadapan dengan Ki Banyak Ara.

“Kekuatan kabut Ki Secang pasti berlipat-lipat ganda”, berkata dalam hati Gajahmada memperkirakan kekuatan kabut kilatan trisula yang diciptakan oleh Ki Secang.

Berpikir seperti itu, Gajahmada sudah meningkatkan daya kekebalan yang melambari tubuhnya sambil menatap lingkaran kabut yang terus bergerak yang sebentar lagi akan menjangkau dirinya.

Dan Gajahmada masih berdiri tegap dengan senjata cambuk yang menjurai ke tanah manakala lingkaran kabut itu telah menjangkaunya.
Bukan main terkejutnya Ki Secang melihat lingkaran kabut kilatan trisulanya tidak merusak kulit Gajahmada sedikitpun.

“Hanya dewa yang mampu menahan ilmuku”, berkata Ki Secang dalam hati seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri bahwa Gajahmada masih berdiri tegak di tempatnya.

Berbeda ketika berhadapan dengan Ki Banyak Ara, kali ini Gajahmada telah dapat mengendalikan perasaannya sendiri.

“Setiap orang pernah salah jalan, mudah-mudahan aku dapat menunjukkan arah kepada Ki Secang untuk kembali menuju arah kebenaran”, berkata Gajahmada dalam hati mencoba tetap berpikir jernih tidak mengikuti perasaannya.

Dan dengan pikiran yang jernih, terlihat Gajahmada telah memutar cambuknya perlahan, terus diputarnya lagi tiada henti semakin lama semakin cepat berputar mengelilingi tubuhnya.

Dan lama-kelamaan putaran kabut Gajahmada telah membentuk putaran angin yang menyelubungi tubuhnya.
Luar biasa, putaran angin yang diciptakan oleh Gajahmada telah dapat menghalau kabut kilatan cahaya trisula yang diciptakan oleh Ki Secang.

Perlahan tapi pasti, kabut kilatan cahaya yang sangat berbahaya itu kian menipis, hingga akhirnya hilang sama sekali.

Kabut kilatan trisula itu sudah benar-benar sirna, tubuh Ki Secang sudah dapat terlihat lagi masih terus memutar trisulanya.
“Gila!!”, berkata Ki Secang sambil melompat menjauh dari tempatnya berdiri.

Ternyata putaran angin yang diciptakan oleh Gajahmada telah menekan dengan amat kuatnya mendorong putaran angin kilatan trisula ciptaan Ki Secang kearah tuannya sendiri.

Terlihat Ki Secang berdiri mematung merasa telah terlepas dari ilmu kabutnya sendiri.

Putu Risang yang melihat pertempuran itu berdecak penuh kekaguman.

“Gajahmada telah menyempurnakan ilmunya di tingkat yang sangat tinggi”, berkata Putu Risang dalam hati memuji tingkat ilmu muridnya itu.

“Mudah-mudahan Gajahmada dapat mengekang perasaannya”, berkata kembali Putu Risang dalam yang melihat Gajahmada masih berdiri di tempatnya tidak berusaha mengejar Ki Secang yang baru saja terlepas dari ancaman ilmu kabutnya sendiri.

Sebagaimana yang dilihat oleh Putu Risang, Gajahmada memang masih berdiri di tempatnya dengan tidak lagi memutar cambuknya.

“Ki Secang, lihatlah sekelilingmu, seluruh pasukanmu telah dapat kami lumpuhkan. Apakah kamu masih tetap ingin melanjutkan pertempuran ini?” berkata Gajahmada kepada Ki Secang, menawarkannya untuk menyerah.

Ki Secang memang telah melihat sendiri bahwa seluruh pasukannya sudah dapat dilumpuhkan oleh pihak lawan, dilihat pula ratusan pasukan lawan masih dengan senjata terhunus tengah berdiri di sekelingnya. Namun tidak juga membuat perasaan Ki Secang dingin menciut, bahkan sebaliknya telah membakar kemarahannya dalam keputus-asaan dan kekecewaan yang sangat.

“Jangan sombong telah dapat menaklukkan ilmu kabutku, masih ada ilmu simpananku yang lain”, berkata Ki Secang kepada Gajahmada sambil menggerakkan trisula di tangannya mengarah ke tubuh Gajahmada.

Luar biasa, terlihat kilatan cahaya kuning keemasan meluncur kearah Gajahmada. Meski telah melambari dirinya dengan ilmu ajian lembu sekilan tingkat tinggi, Gajahmada belum ingin mencoba membenturkannya. Gajahmada hanya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melesat cepat menghindari sambaran kilat yang berasal dari ilmu sakti Ki Secang yang lain.

Namun belum sempat Gajahmada menjejakkan kakinya, sebuah sambaran kilat telah memburunya. Beruntung Gajahmada sudah memiliki tataran ilmu meringankan tubuh yang nyaris amat sempurna, seperti terbang saja layaknya Gajahmada langsung melenting ke samping. Namun sambaran kilat seperti terus memburunya kemanapun diri Gajahmada bergerak menghindar.

Dan jalan tanah kota Kadipaten Blambangan yang menjadi kancah pertempuran itu terlihat sudah terbongkar terkena sasaran sambaran kilat ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat itu. Tiga buah pohon tumbang terkena sambaran ilmu sakti Ki Secang yang meleset. Terlihat beberapa prajurit harus berlari menjauh, takut terkena salah sasaran.

Melihat dampak dari serangan ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat itu telah membuat Gajahmada harus berpikir keras, bagaimana caranya melumpuhkan Ki Secang tanpa harus membunuhnya.

Nampaknya Gajahmada telah menemukan jawabannya, terlihat dirinya tidak lagi hanya menghindar, terlihat sudah langsung membuat tekanan, membuat serangan balasan dengan cambuk pendeknya.

Akhirnya, dalam beberapa kali serangan, ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh kulit tubuh Ki Secang.

Dua sampai tiga kali ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh tubuh Ki Secang, namun tidak dirasakan oleh Ki Secang, Hal itu telah membanggakan diri Ki Secang yang merasa bahwa tenaga sakti Gajahmada masih berada dibawahnya, merasa bahwa lawannya itu hanya punya ilmu meringankan tubuh yang hebat, hanya bisa menghindar tanpa punya kekuatan tenaga sakti yang dapat diandalkan.

Namun manakala ujung cambuk Gajahmada untuk ke sekian kalinya kembali menyentuh kulit tubuhnya, barulah dirasakan dampak dari sentuhan-sentuhan ujung cambuk Gajahmada itu.

“Ilmu setan dedemit”, berkata Ki Secang dalam hati merasakan tenaganya menjadi semakin lemah, kemampuan menghentakkan ilmu saktinya menjadi semakin berkurang. Ki Secang melihat sendiri hasil sambarannya ilmu saktinya tidak lagi dapat menghancurkan sebuah bongkahan batu besar yang terkena sasaran bidiknya.

Akhirnya setelah kembali beberapa sentuhan ujung cambuk Gajahmada menyentuh dirinya, barulah Ki Secang menyadari sungguh-sungguh bahwa tenaganya yang terkuras itu akibat ajian ilmu lawannya, sebuah ajian ilmu yang sudah sangat langka yang pernah didengarnya.

“Ajian lampah-lumpuh”, berkata Ki Secang sambil melompat mundur beberapa langkah.

Ternyata dugaan Ki Secang memang benar, Gajahmada telah melepaskan ajian yang setara dengan ajian lampah-lumpuh sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Secang. Namun sebenarnya adalah sebuah ajian Pangeran Muncang yang dilakukan dengan cara terbalik yang dapat menyerap tenaga hawa murni lawan tempurnya itu, sebuah ilmu ajian yang pernah diwariskan kepadanya oleh seorang sakti dari Tanah Pasundan, Sang Prabu Guru Darmasiksa.

Namun kesadaran Ki Secang sudah terlambat, tiga perempat tenaga hawa murninya telah terserap ke dalam diri Gajahmada. Tenaga hawa murni yang telah diendapkannya lewat semadhi puluhan tahun telah hilang dalam waktu yang pendek, terserap menjadi kekuatan baru di dalam tubuh Gajahmada.

“Bagaimana Ki Secang, apakah kamu masih ingin melanjutkan pertempuran ini?” berkata Gajahmada sambil berdiri tegak dengan tangan masih memegang cambuknya yang ujung cambuknya terjulur menyentuh tanah.

Terlihat Ki Secang masih terpaku berdiri di tempatnya, Ki Secang seperti terjepit oleh berbagai perasaan yang berkecamuk memenuhi jiwanya, mulai dari rasa amarah yang amat sangat, rasa kecewa yang amat sangat, juga rasa putus asa yang berlebihan membuat dirinya menjadi begitu lemah tidak berdaya. Yang ada dalam pikirannya bahwa lawannya yang masih muda itu ternyata memiliki ilmu yang amat tinggi. Yang terpikir oleh dirinya adalah menyelamatka selembar nyawanya, karena bila pertempuran itu dilanjutkan, tenaganya akan semakin terkuras habis.

“Aku menyerah kalah”, berkata Ki Secang setelah berpikir lama sambil melemparkan senjata trisulanya jauh dari jangkauan tangannya.

Terdengar sorak sorai para prajurit yang telah melihat akhir dari pertempuran dua naga kanuragan itu.

Beberapa warga kota Kadipaten Blambangan yang semula hanya mengintip lewat celah-celah pintu rumah mereka, terlihat sudah memberanikan dirinya keluar halaman dan mencoba mengetahui lebih dekat apa yang telah terjadi.

Namun dengan penuh kebijaksanaan, Adipati Menak Jingga meminta mereka kembali untuk menyempurnakan laku Nyepi mereka di rumah masing-masing.

“Saat ini tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Kembalilah kalian ke rumah masing-masing untuk menyempurnakan laku Nyepi kalian. Serahkan tugas keamanan kepada para prajurit pengawal Kadipaten Blambangan”, berkata Adipati Menak Jingga kepada para warga kota yang berdatangan ke tempat pertempuran yang telah usai itu.

Demikianlah, para warga kota Kadipaten Blambangan telah kembali ke rumah masing-masing. Kepada anggota keluarganya mereka mengabarkan suasana pertempuran telah usai, para perusuh sudah dapat dilumpuhkan.

“Keadaan sudah aman, para perusuh sudah dapat ditaklukkan oleh Adipati Menak Jingga bersama para prajuritnya”, berkata seorang kepala keluarga kepada istri, anak gadis dan menantunya.

“Adipati Menak Jingga pasti sangat sakti, telah dapat mengalahkan para buta kala”, berkata seorang anak lelaki kepada kakeknya yang baru datang itu dan ikut mendengar penuturan tentang suasana pertempuran yang telah usai.

Terlihat sang kakek hanya tersenyum, teringat ketika terjadi suasana pertempuran, anak itu menangis ketakutan, dan sang kakek menenangkannya dengan mengatakan di luar ada banyak buta kala ingin memakan anak-anak kecil.

“Makanya, kamu jangan sering menangis, nanti didengar oleh buta kala”, berkata sang kakek kepada cucunya itu.

“Besok kamu ikut aku ke pasar, nenek akan memasak pecel pitik dan urap-urap untukmu”, berkata sang nenek memberi janji kepada cucunya.

Sementara itu di jalan tempat pertempuran, terlihat para prajurit tengah menolong orang-orang yang terluka, bukan hanya kawan mereka, tapi juga orang-orang yang menjadi lawan tanding di pertempuran dengan para prajurit gabungan itu. Beberapa prajurit lainnya terlihat tengah mengumpulkan mayat-mayat korban pertempuran itu, memisahkannya mana kawan mereka dan mana musuh mereka guna mempermudah membawa mereka ke tempat pemakaman yang memang telah dipisahkan.

“Kita harus melakukan pemakaman di hari ini juga, karena besok sudah masuk hari Ngembak Geni”, berkata Adipati Menak Jingga kepada para prajuritnya.

Demikianlah, pada hari itu juga telah dilaksanakan upacara pemakaman bagi para korban pertempuran di hari raya Nyepi itu. Semua korban diperlakukan dengan sama tanpa perbedaan apapun, kawan, saudara atau mantan musuh mereka.

Senja yang bening menatap bumi yang ternoda darah dan air mata, di hari raya Nyepi yang suci.

Hari ke tiga di bulan ke sepuluh penanggalan tahun saka, sehari setelah perayaan hari Ngembak Geni di kota Kadipaten Blambangan. Terlihat Adipati Menak Koncar telah membawa kembali pasukannya ke Tanah Lamajang lewat jalan darat.

“Bila ada waktu, aku akan menyambangi Balidwipa”, berkata Gajahmada melepas Putu Risang yang ikut bersama pasukan Lamajang karena akan menjemput putranya, Rangga Seta.

Bersamaan dengan keluarnya pasukan Adipati Menak Koncar itu, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu telah berangkat meninggalkan bumi Blambangan menuju Kotaraja Majapahit. Mereka akan menempuh perjalanan lewat jalur laut. Gajahmada dan Adityawarman ikut bersama mereka, juga para tawanan perang.

Pada jaman itu biasanya para tawanan perang akan menjadi salah satu rampasan perang, mereka berharga sebagai budak belian yang diperdagangkan.

Sementara itu untuk Ki Secang ada perlakuan khusus atas permintaan Gajahmada kepada Mahesa Semu sebagai pimpinan prajurit Majapahit yang bertugas di timur Jawadwipa itu.

“Aku ingin Ki Secang diserahkan kepada Ra Kuti. Aku berharap dirinya dapat menemukan kembali jalan kebenaran”, berkata Gajahmada dalam sebuah pelayaran kepada Mahesa Semu.

“Ki Secang adalah milikmu, apapun yang kamu inginkan aku akan menyetujuinya”, berkata Mahesa Semu menyetujui permintaan Gajahmada atas diri Ki Secang itu.

Ra Kuti adalah seorang pejabat kerajaan, salah seorang dari Dharmaputra yang diangkat langsung oleh baginda Raja Sanggrama Wijaya yang bertugas mengurus dan mengayomi salah satu aliran agama yang memuja dewa Whisnu. Dan Gajahmada berharap Ki Secang dapat diluruskan kembali lewat pengawasan seorang pejabat kerajaan bernama Ra Kuti.

Demikianlah, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu akhirnya telah tiba di Bandar Pelabuhan Ujung Galuh.

Ketika mereka tiba di kotaraja Majapahit, para warga menyambut mereka dengan penuh suka dan cita. Dengan sebuah upacara kebesaran, mereka telah disambut langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Inilah awal babad baru bagi perselisihan yang panjang dan hancurnya sebuah persaudaraan yang ada di bumi Majapahit yang besar itu, karena diantara para tawanan yang mereka bawa, ada seorang yang benar-benar luput dari perhatian. Orang itu adalah Ki Secang.

“Aku akan menjadi duri dalam daging mereka, aku akan menjadi mimpi buruk bagi mereka”, berkata Ki Secang dalam hati dengan senyum kecutnya manakala tengah memasuki istana Majapahit.

Ki Secang diserahkan sepenuhnya dalam pengawasan Ra Kuti. Dalam perkenalan pertama Ra Kuti sudah menyukai sikap orang tua itu, mengijinkannya untuk tinggal serumah dengannya.
Ki Secang ternyata begitu mudahnya mengambil hati Ra Kuti, dan pejabat istana itu telah mempercayakan Ki Secang sebagai seorang pengurus Pura istana Majapahit.

Ra Kuti melihat Ki Secang seorang pekerja yang sangat rajin, menyiapkan Pura istana dalam hari-hari upacara dengan sangat baik. Semakin bertambahlah rasa suka pejabat Dharmaputra itu kepada Ki Secang. Dan dalam waktu singkat mereka terlihat begitu akrab layaknya dua orang sahabat.

Ra Kuti mulai mengenal Ki Secang lebih jauh lagi, bukan hanya mempunyai pemahaman yang tinggi atas berbagai kitab keagamaan, namun Ra Kuti juga telah mengetahui bahwa Ki Secang seorang yang berilmu tinggi dalam olah kanuragam, mempunyai banyak simpanan ajian ilmu yang langka.

Akhirnya secara diam-diam Ra Kuti telah mengangkat Ki Secang sebagai seorang guru.

“Tenaga hawa murniku yang kupupuk puluhan tahun lamanya telah terserap hilang oleh Gajahmada. Namun aku masih dapat menjadi seorang guru untukmu. Mewariskan semua ilmu yang kumiliki”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

Sejak saat itu, di malam-malam yang sepi, Ra Kuti giat berlatih di tempat terbuka di dalam Pura istana. Dan Ra Kuti yang sudah punya dasar kanuragan yang cukup kuat dengan sangat cepatnya menyerap ilmu yang diajarkan Ki Secang kepadanya.

Apakah Ki Secang seorang guru yang tulus? Sebenarnya tidak, Ki Secang telah melihat bahwa sebagaimana Ki Banyak Ara, ternyata Ra Kuti punya sebuah persamaan, yaitu seorang yang haus akan sebuah kekuasaan, seorang yang sangat haus akan sebuah pujian.

Perlahan tapi pasti, Ra Kuti sudah berada di dalam genggaman Ki Secang lewat bisikan-bisikannya yang membahana, menerbangkan hayal dan angan Ra Kuti menuju puncak tahta istana.

“Baginda Raja Sanggrama Wijaya dikelilingi oleh orang-orang yang kuat, para sahabatnya yang sangat setia patuh melindungi dan menjaganya”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti. “Sebagaimana tanaman merambat, kita harus merusak pagarnya agar tidak ada tempat menggantung, dan tanaman itu akan mati dengan sendirinya”, berkata kembali Ki Secang kepada Ra Kuti.

“Patih Mahesa Amping dan Ki Mangkubumi adalah para pelindung Baginda Raja, dengan cara apa kita harus menghadapi mereka?”, bertanya Ra Kuti kepada Ki Secang.

“Mereka memang sakti Mandraguna, tapi mereka sesungguhnya tidak kebal terhadap racun”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

“Racun?”, bertanya Ra Kuti dengan mengerutkan keningnya masih dalam penuh keraguan.

Sementara itu di sebuah tempat di Tanah Ujung Galuh. Terlihat sebuah puri pasanggrahan yang berdiri diatas sebuah tanah yang tinggi menghadap arah pantai Tanah Ujung Galuh, bulan bulat bersinar cemerlang diatas langitnya.

Puri Pasanggrahan dan rembulan diatasnya, sungguh sebuah lukisan alam yang amat elok membuat iri langkah kaki untuk singgah mendatanginya.

Sudah sepekan Gajahmada tinggal di puri pasanggrahan milik Jayakatwang itu. Atas amanat Jayakatwang, puri pasanggrahan yang indah itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Gajahmada.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jatakatwang dan istrinya telah mendampingi Kertawardhana yang telah menjadi Raja Muda di Tumapel. Sementara ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, Dyah Wiyat dan biksuni Andini yang juga menjadi penghuni puri pasanggrahan itu telah mengikuti Ratu Tribuana Tunggadewi yang telah menjadi raja muda di Kahuripan.

Hari-hari Gajahmada di puri pasanggrahan itu ditemani seorang sahabatnya Supo Mandagri dan ibu kandungnya Nyi Nari Ratih yang sudah tidak tinggal lagi bersama pasukan khusunya di barak prajurit Srikandi di Kotaraja Majapahit.

Deru ombak pantai Tanah Ujung Galuh masih terdengar dari pendapa puri pasanggrahan dimana Gajahmada tengah duduk sendiri memandang sang rembulan.

Anak muda perkasa itu tengah menepati janjinya, menatap wajah sang rembulan. Karena jauh di tanah Kahuripan diyakininya seorang gadis jelita telah melakukan yang sama, bersama memandang wajah sang rembulan. Siapa lagi gadis jelita yang selalu ada di hati anak muda perkasa itu yang tidak lain adalah Biksuni Andini, murid Nyimas Kanjeng Ratu Gayatri.

Tiba-tiba saja mata Gajahmada yang terlatih dapat menembus kegelapan itu telah melihat sesosok bayangan hitam tengah memasuki pintu gapura puri pasanggrahan.

Terlihat bibir Gajahmada menebarkan sedikit senyum manakala sosok bayangan hitam itu ternyata adalah sahabatnya, Supo Mandagri.

“Puri pasanggrahan yang megah di bawah sinar rembulan, sungguh pasangan yang serasi”, berkata Supo Mandagri manakala telah berada di tangga terakhir panggung pendapa menyapa sahabatnya Gajahmada.

Terlihat Supo Mandagri langsung duduk bersama Gajahmada dan bercerita bahwa dirinya telah diperkenalkan oleh Empu Nambi seorang teman baiknya di kotaraja Majajahit yang dapat mencarikannya sebuah batu bintang. Itulah yang menyebabkan kepulangannya menjelang malam tiba.

“Batu bintang?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

“Batu bintang yang dapat menjadikan pamor sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri.

“Batu Bintang yang jatuh dari langit?”, bertanya kembali Gajahmada penuh rasa keingintahuannya.

Sementara itu di waktu yang sama, Ki Secang dan Ra Kuti masih berada di Pura istana. Mereka berdua tengah membicarakan rencana busuknya untuk menghancurkan orang-orang terdekat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

“Aku banyak mengenal berbagai jenis racun yang sangat mematikan. Ada sebuah jenis racun yang sangat kuat dimana seorang yang sakti seperti dewa tidak akan mampu hidup lebih lama lagi. Sebuah racun yang tidak berwarna, tidak tercium aromanya namun racun paling manjur dan paling kuat yang kukenal di dunia ini”, berkata Ki Secang berusaha meyakinkan Ra Kuti memperkenalkan kepadanya berbagai jenis racun yang sangat mematikan.

“Bagaimana kita mendapatkan racun yang bertuah itu?”, bertanya Ra Kuti.

“Dari hati seekor induk celeng betina yang masih mengandung”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

Diam-diam Ra Kuti menjadi semakin kagum kepada Ki Secang, ternyata sangat ahli dan mumpuni mengenal berbagai jenis racun yang mematikan.

“Aku punya seorang kenalan baik, seorang pengurus rumah tangga kerajaan Kediri, namanya Demung Gunari. Kita dapat membujuknya untuk melaksanakan rencana kita, meracuni Patih Mahesa Amping”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

“Apakah Demung Gunari masih golongan kita sendiri?”, bertanya Ki Secang

“Demung Gunari seorang pemuja Dewa Whisnu yang sangat taat, aku yakin dirinya sangat bangga melihat aliran golongan kita besar di Jawadwipa ini, akan menjadi sukarelawan yang patuh membantu perjuangan kita”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

“Bagus, kita bicarakan di rumah, tidak baik terlalu malam di pura istana ini akan menjadi pertanyaan para prajurit pengawal istana”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti untuk keluar dari pura istana.

Ketika mereka tengah melewati gerbang istana Majapahit, beberapa prajurit pengawal istana tidak bertanya apapun, nampaknya mereka sudah menjadi biasa melihat Ki Secang dan Ra Kuti keluar dari istana di malam hari itu sebagimana hari-hari kemarin, dan kemarinnya lagi.

Ketika mereka tiba di rumah Ra Kuti yang tidak begitu jauh dari istana Majapahit, keduanya telah melanjutkan pembicaraannya lagi.

“Membuat racun dari hati celeng betina itu sangat mudah, hanya perlu beberapa hari. Yang paling susah adalah mendekati Demung Gunari itu”, berkata Ki Secang memulai kembali pembicaraannya di rumah Ra Kuti.

“Dalam beberapa hari ini aku akan minta ijin dengan berbagai alasan untuk datang ke Kediri guna menjumpai kenalanku itu”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang

“Bagus, aku berharap orang itu dapat kamu dekati untuk membantu perjuangan kita ini. Sementara kamu pergi ke Kediri, aku akan menyiapkan racun hati celeng betina itu”, berkata Ki Secang penuh semangat pengharapan.

Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Gajahmada dan Supo Mandagri masih asyik membicarakan batu bintang yang konon akan membuat pamor sebuah keris bertuah akan menjadi bertuah.

“Kenalan Empu Nambi itu bercerita bahwa batu bintang itu dapat dipesan lewat para pedagang bangsa Arab yang singgah di Tanah Ujung Galuh. Konon para pedagang bangsa Arab itu mendapatkan batu bintang itu dari sebuah bukit bernama gunung uhud di tempat asal mereka”, berkata Supo Mandagri menjelaskan kepada Gajahmada mengenai batu bintang.

“Ternyata Empu Nambi telah menepati janjinya, membimbingmu dalam membuat sebuah keris pusaka”, berkata Gajahmada penuh kegembiraan hati mendengar cerita sahabatnya itu.

“Empu Nambi memang banyak membimbingku adalah hal pembuatan keris pusaka, mulai dari sebuah laku khusus sebelum memulai pembuatan keris pusaka, sampai memperkenalkan kepadaku Sembilan jenis logjam yang terbaik yang dapat menghasilkan sebuah keris pusaka yang sangat kuat dan berderajat”, berkata Supo Mandagri.

“Sesuai dengan amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya, keris Naga Sasra harus kuserahkan kepada pewarisnya. Aku berharap pada saatnya tetap mempunyai keris Naga Sasra seperti itu, hasil buah tangan darimu sendiri”, berkata Gajahmada merasa yakin bahwa Supo Mandagri adalah seorang yang sangat berbakat dalam pembuatan sebuah keris pusaka.

“Terima kasih atas kepercayaanmu itu, aku tidak sabar untuk memulai semuanya, menciptakan sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri penuh harapan.

“Kamu dapat membuat pondokan di tanah belakang puri pasanggrahan ini. Dan aku akan siap membantumu apapun kebutuhanmu, bukankah aku ini saudaramu?”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

“Terima kasih untuk semua dukunganmu, memang perlu tempat khusus untuk membuat sebuah keris pusaka, sebuah tempat yang tenang. Aku merasa yakin bahwa puri pasanggrahan ini adalah sebuah tempat yang baik untuk berkarya sebagaimana pujangga Jayakatwang telah banyak menciptakan karya tembangnya di tempat ini”, berkata Supo Mandagri penuh rasa kegembiraan hati mendapatkan dukungan dari sahabatnya itu.

Namun pembicaraan mereka menjadi terhenti manakala Nyi Nari Ratih muncul dari pintu pringgitan. Melihat dari caranya berjalan dan melangkah menandakan seorang wanita yang sangat terlatih olah kanuragan.

“Masih hangat wedangnya”, berkata Nyi Nari Ratih sambil meletakkan tiga buah cangkir tembikar dan ikut duduk bersama mereka.

Kepada ibundanya itu, Gajahmada bercerita tentang keinginan Supo Mandagri membuat sebuah pondokan di tanah belakang Puri Pasanggrahan.

bersambung ke senthong kanan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 12 Maret 2015 at 00:01  Comments (148)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

148 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hari ke tiga di bulan ke sepuluh penanggalan tahun saka, sehari setelah perayaan hari Ngembak Geni di kota Kadipaten Blambangan.
    Terlihat Adipati Menak Koncar telah membawa kembali pasukannya ke Tanah Lamajang lewat jalan darat.

    “Bila ada waktu, aku akan menyambangi Balidwipa”, berkata Gajahmada melepas Putu Risang yang ikut bersama pasukan Lamajang karena akan menjemput putranya, Rangga Seta.

    Bersamaan dengan keluarnya pasukan Adipati Menak Koncar itu,, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu telah berangkat meninggalkan bumi Blambangan menuju Kotaraja Majapahit. Mereka akan menempuh perjalanan lewat jalur laut.

    Gajahmada dan Adityawarman ikut bersama mereka, juga para tawanan perang.

    Pada jaman itu biasanya para tawanan perang akan menjadi salah satu rampasan perang, mereka berharga sebagai budak belian yang diperdagangkan.

    Sementara itu untuk Ki Secang ada perlakuan khusus atas permintaan Gajahmada kepada Mahesa Semu sebagai pimpinan prajurit Majapahit yang bertugas di timur Jawadwipa itu.

    “Aku ingin Ki Secang diserahkan kepada Ra Kuti. Aku berharap dirinya dapat menemukan kembali jalan kebenaran”, berkata Gajahmada dalam sebuah pelayaran kepada Mahesa Semu.

    “Ki Secang adalah milikmu, apapun yang kamu inginkan aku akan menyetujuinya”, berkata Mahesa Semu menyetujui permintaan Gajahmada atas diri Ki Secang itu.

    Ra Kuti adalah seorang pejabat kerajaan, salah seorang dari Dharmaputra yang diangkat langsung oleh baginda Raja Sanggrama Wijaya yang bertugas mengurus dan mengayomi salah satu aliran agama yang memuja dewa Whisnu. Dan Gajahmada berharap Ki Secang dapat diluruskan kembali lewat pengawasan seorang pejabat kerajaan bernama Ra Kuti.

    Demikianlah, tiga ratus prajurit Majapahit yang dipimpin oleh Mahesa Semu akhirnya telah tiba di Bandar Pelabuhan Ujung Galuh.
    Ketika mereka tiba di kotaraja Majapahit, para warga menyambut mereka dengan penuh suka dan cita.

    Dengan sebuah upacara kebesaran, mereka telah disambut langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Inilah awal babad baru bagi perselihan yang panjang dan hancurnya sebuah persaudaraanar yang ada di bumi Majapahit yang besar itu, karena diantara para tawanan yang mereka bawa, ada seorang yang benar-benar luput dari perhatian. Orang itu adalah Ki Secang.

    “Aku akan menjadi duri dalam daging mereka, aku akan menjadi mimpi buruk bagi mereka”, berkata Ki Secang dalam hati dengan senyum kecutnya manakala tengah memasuki istana Majapahit.

    • waooo…ternyata pak satpam sangat mumpuni, semua rontal sudah langsung dijebret, qiqiqiqiq

  2. Suwun Ki Dalang, lanjut.

  3. Suwun ki Secang, eh, ki Sandikala…

  4. Ki Secang diserahkan sepenuhnya dalam pengawasan Ra Kuti.

    Dalam perkenalan pertama Ra Kuti sudah menyukai sikap orang tua itu, mengijinkannya untuk tinggal serumah dengannya.
    Ki Secang ternyata begitu mudahnya mengambil hati Ra Kuti, dan pejabat istana itu telah mempercayakan Ki Secang sebagai seorang pengurus Pura istana Majapahit.

    Ra Kuti melihat Ki Secang seorang pekerja yang sangat rajin, menyiapkan Pura istana dalam hari-hari upacara dengan sangat baik. Semakin bertambahlah rasa suka pejabat Dharmaputra itu kepada Ki Secang. Dan dalam waktu singkat mereka terlihat begitu akrab layaknya dua orang sahabat.

    Ra Kuti mulai mengenal Ki Secang lebih jauh lagi, bukan hanya mempunyai pemahaman yang tinggi atas berbagai kitab keagamaan, namun Ra Kuti juga telah mengetahui bahwa Ki Secang seorang yang berilmu tinggi dalam olah kanuragam, mempunyai banyak simpanan ajian ilmu yang langka.

    Akhirnya secara diam-diam Ra Kuti telah mengangkat Ki Secang sebagai seorang guru.

    “Tenaga hawa murniku yang kupupuk puluhan tahun lamanya telah terserap hilang oleh Gajahmada. Namun aku masih dapat menjadi seorang guru untukmu. Mewariskan semua ilmu yang kumiliki”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

    Sejak saat itu, di malam-malam yang sepi, Ra Kuti giat berlatih di tempat terbuka di dalam Pura istana. Dan Ra Kuti yang sudah punya dasar kanuragan yang cukup kuat dengan sangat cepatnya menyerap ilmu yang diajarkan Ki Secang kepadanya.

    Apakah Ki Secang seorang guru yang tulus ?

    Sebenarnya tidak, Ki Secang telah melihat bahwa sebagaimana Ki Banyak Ara, ternyata Ra Kuti punya sebuah persamaan, yaitu seorang yang haus akan sebuah kekuasaan, seorang yang sangat haus akan sebuah pujian.

    Perlahan tapi pasti, Ra Kuti sudah berada di dalam genggaman Ki Secang lewat bisikan-bisikannya yang membahana, menerbangkan hayal dan angan Ra Kuti menuju puncak tahta istana.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya dikelilingi oleh orang-orang yang kuat, para sahabatnya yang sangat setia patuh melindungi dan menjaganya”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.”Sebagaimana tanaman merambat, kita harus merusak pagarnya agar tidak ada tempat menggantung, dan tanaman itu akan mati dengan sendirinya”, berkata kembali Ki Secang kepada Ra Kuti.

    “Patih Mahesa Amping dan Ki Mangkubumi adalah para pelindung Baginda Raja, dengan cara apa kita harus menghadapi mereka ?”, bertanya Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Mereka memang sakti Mandraguna, tapi mereka sesungguhnya tidak kebal terhadap racun”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti.

    “Racun ?”, bertanya Ra Kuti dengan mengerutkan keningnya masih dalam penuh keraguan.

  5. Sementara itu di sebuah tempat di Tanah Ujung Galuh.

    Terlihat sebuah puri pasanggrahan yang berdiri diatas sebuah tanah yang tinggi menghadap arah pantai Tanah Ujung Galuh, bulan bulat bersinar cemerlang diatas langitnya.

    Puri Pasanggrahan dan rembulan diatasnya, sungguh sebuah lukisan alam yang amat elok membuat iri langkah kaki untuk singgah mendatanginya.

    Sudah sepekan Gajahmada tinggal di puri pasanggrahan milik Jayakatwang itu. Atas amanat Jayakatwang, puri pasanggrahan yang indah itu telah diserahkan sepenuhnya kepada Gajahmada.

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Jatakatwang dan istrinya telah mendampingi Kertawardhana yang telah menjadi Raja Muda di Tumapel. Sementara ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, Dyah Wiyat dan biksuni Andini yang juga menjadi penghuni puri pasanggrahan itu telah mengikuti RatuTribuana Tunggadewi yang telah menjadi raja muda di Kahuripan.

    Hari-hari Gajahmada di puri pasanggrahan itu ditemani seorang sahabatnya Supo Mandagri dan ibu kandungnya Nyi Nari Ratih yang sudah tidak tinggal lagi bersama pasukan khusunya di barak prajurit Srikandi di Kotaraja Majapahit.

    Deru ombak pantai Tanah Ujung Galuh masih terdengar dari pendapa puri pasanggrahan dimana Gajahmada tengah duduk sendiri memandang sang rembulan.

    Anak muda perkasa itu tengah menepati janjinya, menatap wajah sang rembulan. Karena jauh di tanah Kahuripan diyakininya seorang gadis jelita telah melakukan yang sama, bersama memandang wajah sang rembulan. Siapa lagi gadis jelita yang selalu ada di hati anak muda perkasa itu yang tidak lain adalah Biksuni Andini, murid Nyimas Kanjeng Ratu Gayatri.

    Tiba-tiba saja mata Gajahmada yang terlatih dapat menembus kegelapan itu telah melihat sesesok bayangan hitam tengah memasuki pintu gapura puri pasanggrahan.

    Terlihat bibir Gajahmada menebarkan sedikit senyum manakala sosok bayangan hitam itu ternyata adalah sahabatnya, Supo Mandagri.

    “Puri pasanggrahan yang megah di bawah sinar rembulan, sungguh pasangan yang serasi”, berkata Supo Mandagri manakala telah berada di tangga terakhir panggung pendapa menyapa sahabatnya Gajahmada.

    Terlihat Supo Mandagri langsung duduk bersama Gajahmada dan bercerita bahwa dirinya telah diperkenalkan oleh Empu Nambi seorang teman baiknya di kotaraja Majajahit yang dapat mencarikannya sebuah batu bintang. Itulah yang menyebabkan kepulangannya menjelang malam tiba.

    “Batu bintang ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Batu bintang yang dapat menjadikan pamor sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri.

    “Batu Bintang yang jatuh dari langit ?”, bertanya kembali Gajahmada penuh rasa keingintahuannya.

    • Kamsiiiiaaaa Pak Dhalang………

  6. Sementara itu di waktu yang sama, Ki Secang dan Ra Kuti masih berada di Pura istana. Mereka berdua tengah membicarakan rencana busuknya untuk menghancurkan orang-orang terdekat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Aku banyak mengenal berbagai jenis racun yang sangat mematikan. Ada sebuah jenis racun yang sangat kuat dimana seorang yang sakti seperti dewa tidak akan mampu hidup lebih lama lagi. Sebuah racun yang tidak berwarna, tidak tercium aromanya namun racun paling manjur dan paling kuat yang kukenal di dunia ini”, berkata Ki Secang berusaha meyakinkan Ra Kuti memperkenalkan kepadanya berbagai jenis racun yang sangat mematikan.

    “Bagaimana kita mendapatkan racun yang bertuah itu ?”, bertanya Ra Kuti.

    “Dari hati seekor induk celeng betina yang masih mengandung”, berkata Ki Seceng kepada Ra Kuti.

    Diam-diam Ra Kuti menjadi semakin kagum kepada Ki Secang, ternyata sangat ahli dan mumpuni mengenal berbagai jenis racun yang mematikan.

    “Aku punya seorang kenalan baik, seorang pengurus rumah tangga kerajaan Kediri, namanya Demung Gunari. Kita dapat membujuknya untuk melaksanakan rencana kita, meracuni Patih Mahesa Amping”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Apakah Demung Gunari masih golongan kita sendiri ?”, bertanya Ki Secang

    “Demung Gunari seorang pemuja Dewa Whisnu yang sangat taat, aku yakin dirinya sangat bangga melihat aliran golongan kita besar di Jawadwipa ini, akan menjadi sukarelawan yang patuh membantu perjuangan kita”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang.

    “Bagus, kita bicarakan di rumah, tidak baik terlalu malam di pura istana ini akan menjadi pertanyaan para prajurit pengawal istana”, berkata Ki Secang kepada Ra Kuti untuk keluar dari pura istana.

    Ketika mereka tengah melewati gerbang istana Majapahit, beberapa prajurit pengawal istana tidak bertanya apapun, nampaknya mereka sudah menjadi biasa melihat Ki Secang dan Ra Kuti keluar dari istana dimalam hari itu sebagimana hari-hari kemarin, dan kemarinnya lagi.

    Ketika mereka tiba di rumah Ra Kuti yang tidak begitu jauh dari istana Majapahit, keduanya telah melanjutkan pembicaraannya lagi.

    “Membuat racun dari hati celeng betina itu sangat mudah, hanya perlu beberapa hari. Yang paling susah adalah mendekati Demung Gunari itu”, berkata Ki Secang memulai kembali pembicaraannya di rumah Ra Kuti.

    “Dalam beberapa hari ini aku akan minta ijin dengan berbagai alasan untuk datang ke Kediri guna menjumpai kenalanku itu”, berkata Ra Kuti kepada Ki Secang

    “Bagus, aku berharap orang itu dapat kamu dekati untuk membantu perjuangan kita ini. Sementara kamu pergi ke Kediri, aku akan menyiapkan racun hati celeng betina itu”, berkata Ki Secang penuh semangat pengharapan.

  7. Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Gajahmada dan Supo Mandagri masih asyik membicarakan batu bintang yang konon akan membuat pamor sebuah keris bertuah akan menjadi bertuah.

    “Kenalan Empu Nambi itu bercerita bahwa batu bintang itu dapat dipesan lewat para pedagang bangsa Arab yang singgah di Tanah Ujung Galuh. Konon para pedagang bangsa Arab itu mendapatkan batu bintang itu dari sebuah bukit bernama gunung uhud di tempat asal mereka”, berkata Supo Mandagri menjelaskan kepada Gajahmada mengenai batu bintang.

    “Ternyata Empu Nambi telah menepati janjinya, membimbingmu dalam membuat sebuah keris pusaka”, berkata Gajahmada penuh kegembiraan hati mendengar cerita sahabatnya itu.

    “Empu Nambi memang banyak membimbingku dalah hal pembuata keris pusaka, mulai dari sebuah laku khusus sebelum memulai pembuatan keris pusaka, sampai memperkenalkan kepadaku sembilan jenis logam yang terbaik yang dapat menghasilkan sebuah keris pusaka yang sangat kuat dan berderajat”, berkata Supo Mandagri.

    “Sesuai dengan amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya, keris Naga Sasra harus kuserahkan kepada pewarisnya. Aku berharap pada saatnya tetap mempunyai keris Naga Sasra seperti itu, hasil buah tangan darimu sendiri”, berkata Gajahmada merasa yakin bahwa Supo Mandagri adalah seorang yang sangat berbakat dalam pembuatan sebuah keris pusaka.

    “Terima kasih atas kepercayaanmu itu, aku tidak sabar untuk memulai semuanya, menciptakan sebuah keris pusaka”, berkata Supo Mandagri penuh harapan.

    “Kamu dapat membuat pondokan di tanah belakang puri pasasnggrahan ini. Dan aku akan siap membantumu apapun kebutuhanmu, bukankah aku ini saudaramu ?”, berkata Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Terima kasih untuk semua dukunganmu, memang perlu tempat khusus untuk membuat sebuah keris pusaka, sebuah tempat yang tenang. Aku merasa yakin bahwa puri pasanggrahan ini adalah sebuah tempat yang baik untuk berkarya sebagaimana pujangga Jayakatwang telah banyak menciptakan karya tembangnya di tempat ini”, berkata Supo Mandagri penuh rasa kegembiraan hati mendapatkan dukungan dari sahabatnya itu.

    Namun pembicaraan mereka menjadi terhenti manakala Nyi Nari Ratih muncul dari pintu pringgitan. Melihat dari caranya berjalan dan melangkah menandakan seorang wanita yang sangat terlatih olah kanuragan.

    “Masih hangat wedangnya”, berkata Nyi Nari Ratih sambil meletakkan tiga buah cangkir tembikar dan ikut duduk bersama mereka.

    Kepada ibundanya itu, Gajahmada bercerita tentang keinginnan Supo Mandagri membuat sebuah pondokan di tanah belakang Puri Pasanggrahan.

    “Setiap manusia punya pembaktiannya sendiri-sendiri. Hanya jiwa yang merdeka saja yang dapat mampu membuat sebuah karya yang besar. Dan setiap jiwa dicitrakan sesuai dengan apa yang telah diciptakannya”, berkata ibunda Nyi Nari Ratih dengan senyum yang begitu lembut.

    • Ampun……
      capek…………..
      sejak kemarin sudah melihat gunungan rontal yang berceceran di halaman padepoka, tetapi tidak bisa menyapu rontal-rontal tersebut.
      Menjelang tangah malam, satpam ronda padepokan. We lha dala, sudah semakin menggunung rontal-rontal yang meloncat dari Situ Cipondoh.

      Hadu…..
      malam-malam harus nyapu rontal dan menatanya di gandoknya.
      tapi, meski capek, senang juga ya menata sambil membaca rontal Ki Sandikala.

      Selama ini, pelajaran sejarah yang sama benci adalah sejarah runtuhnya Majapahit oleh intrik dalam kerajaan sendiri. Kawan jadi lawan, sahabat jadi musuh yang harus diperangi.

      Pemberontakan Ranggalawe sudah demikian mulus diceritakan oleh Ki Sandikala, dan sedikit mengurangi kekecewaan satpam.

      Tinggal menunggu kisah “pemberontakan” Lembusora (Mahisa Amping?) dan Empu Nambi (Sandikala), bagaimana Ki Sandikala bisa membesutnya, sehingga ada “image” baru dalam pikiran satpam, dan tentunya yang lebih baik.

      monggo Pak Dhalang

      rontal-rontal sudah tersusun dengan rapi di gandoknya, dan…. senthong tengah sudah ditutup, selanjutnya tinggal mengisi senthong kanan.

    • Kamsia Pak Dhalang……….
      Hore…….Pak Satpam nganti ngelu digrojogi rontal……
      Tancap terus Pak Dhalang………

  8. luar biasa ki Sandikala, mampu membuat “tafsir” sejarah yang sampai pada kita, malah rontal ki Sandikala masuk akal, jangan2 dapet bocoran dari gaib ya? hahahaha salam

    • Ronggolawe saja bisa datang apalagi Patih Nambi dan Lembu Sora.

      • Kalau Layang Seta dan Layang Kumitir yang kemudian bisa membunuh Adipati Menak Jingga itu anak siapa ya Ki Dhalang……????

        • Layang Seta dan Layang Kumitir itu cuma memancing amarah saja lalu yang melawan Menak Jingga itu Damarwulan, betulkah….???

          • layang seta dan layang kumitir putra arku bambu petung, hahaha (becanda.com)

          • Berarti Layangan Seta ama Layangan Kumitir…..???

  9. Dan pencitraan hitam putih sejarah kerajaan Majapahit nampaknya telah dimulai.

    Diawali dengan benih sumber kebusukan yang mulai ditebarkan oleh Ki Secang dan Ra Kuti di pura istana Majapahit yang suci. Dua orang rohaniawan para penghapal berbagai kitab suci itu telah mulai menebarkan benih sejarah kesuraman kerajaan Majapahit.

    Disisi lain, diawali dari sebuah puri pasanggrahan milik mantan seorang raja yang tersingkirkan, Raja Jayakatwang. Benih kecemerlangan sejarah Majapahit tengah ditempa, diasah dan disuh dalam kasih seorang wanita yang lembut kepada dua orang anak muda untuk mengharumkan warisan budaya milik lelehur bangsa, dalam sebuah seni keris yang indah, dalam sebuah lekuk dan liku pemikiran leluhur yang indah dalam berkehidupan bersama, bermartabat dalam cinta kasih yang tulus penuh perdamaian dalam rangkaian satu kesatuan nusa-nusa untaian mutiara khatulistiwa.

    Dan sejarah hitam dan putih, sejarah kesuraman dan kecemerlangan Kerajaan Majapahit telah dimulai. Diawali saat sang Surya pagi tengah memanjat dan mendaki di pucuk tiang-tiang layar perahu dagang yang tengah bersandar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    Terlihat sebuah perahu jukung dengan tiga orang lelaki tengah menyusuri sungai Perigian.

    “Hari yang baik untuk menebang bambu dan kayu”, berkata seorang pemuda manakala perahu jukung mereka menepi di hutan Perigian.

    “Kamu benar, purnama telah lewat. Kita akan mendapatkan bambu dan kayu yang kering dan terbebas dari kutu kayu”, berkata salah satu lelaki kepada pemuda itu yang tidak lain adalah Supo Mandagri.
    Ternyata Supo Mandagri tengah mencari bambu dan kayu untuk membuat sebuah pondokan yang akan dibangun di belakang puri pasnggrahan atas ijin Gajahmada.

    Terlihat Supo Mandagri dan dua orang lelaki warga asli padukuhan Tanah Ujung Galuh yang dibayar untuk membantunya itu telah memasuki hutan Perigian lebih kedalam lagi.

    Tiba-tiba ketiganya melihat seorang pemburu di hutan Perigian itu.

    “Aku mengenal lelaki itu, seorang pengurus pura istana”, berkata Supo Mandagri kepada kedua orang pembantunya itu.

    Terlihat Supo Mandagri telah meminta kedua pembantunya itu untuk diam ditempat, sementara Supo Mandagri terus mengikuti lelaki yang dikenalnya, yang tidak lain adalah Ki Secang.

    “Tetaplah kalian disini, aku akan mengikuti orang itu”, berkata Supo Mandagri kepada kedua pembantuny a itu.

    Maka dengan cara mengendap-endap dari kejauhan, Supo Mandagri dapat terus mengikuti Ki Secang yang terus berjalan masuk ke hutan Perigian lebih dalam lagi.

    Terlihat Ki Secang berhenti dan diam disebuah semak gerumbul, sikapnya seperti seorang pemburu yang handal telah bersiap siaga menunggu buruannya dengan sebuah tombak ditangan.

  10. Ternyata Ki Secang memang tengah berburu babi hutan, karena tidak jauh darinya terlihat sebuah liang besar tempat sarang sepasang babi hutan.

    Nampaknya Ki Secang tidak harus menunggu cukup lama, karena tidak lama berselang terlihat sepasang babi hutan tengah berjalan menuju arah sarang mereka itu.

    Terlihat seekor babi hutan jantan telah mendahului masuk ke dalam sarang, sementara dibelakangnya seekor babi hutan betina siap mengikuti pasangan jantannya itu.

    Namun naas nasib babi hutan betina yang tengah bunting besar itu, sebuah tombak tajam terlihat meluncur dengan sangat cepat membelah udara.
    Clep..!!!

    Ujung batang tombak telah berhasil menembus tepat babi hutan naas itu yang belum sempat masuk ke sarangnya.

    Jeritan mencicit dari babi hutan betina itu terdengar di hutan yang sunyi itu, namun hanya sekali. Itulah jeritan terakhir dari babi hutan betina itu yang terlihat telah rebah dengan ujung tombak tembus di batang lehernya.

    “Sangat biadab, membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar”, berkata Supo Mandagri dalam hati mengutuk perbuatan Ki Secang dimana pada saat itu adalah tabu membunuh hewan apapun yang tengah bunting besar.

    Dan Supo Mandagri masih terus mengamati Ki Secang yang dengan pisau pendeknya terlihat tengah membedah perut dan dada binatang naas itu.
    Terlihat Supo Mandagri mengerutkan keningnya manakala dilihatnya dari kejauhan bahwa Ki Secang hanya mengambil hati binatang buruannya itu.

    “Membunuh hewan hanya untuk diambil hatinya ?”, berkata Supo Mandagri dalam hati penuh tanda tanya manakala dilihatnya Ki Secang telah berjalan menjauhi hewan buruannya itu yang masih menganga isi perutnya dengan hanya membawa sebuah hati dari babi hutan betina tengah bunting besar itu.

    Ketika Ki Secang sudah tidak terlihat lagi, menghilang di antara semak dan pepehonan yang rapat di hutan Perigian itu, terlihat Supo Mandagri telah keluar dari persembunyianya dan langsung berjalan menuju arah dimana kedua pembantunya berada.

    Kepada kedua orang pembantunya itu, Supo Mandagri tidak bercerita banyak, hanya menyampaikan bahwa orang yang dibuntuti itu ternya hanya tengah berburu babi hutan di hutan Perigian itu.

    “Mari kita lanjutkan kerja kita, mencari bambu dan kayu”, berkata Supo Mandagri kepada kedua pembantunya itu.

    Tidak perlu banyak waktu, ketika hari masih diawal senja mereka telah mendapatkan apa yang dicarinya.

    • Lha…. telat aku, untung sik rung diacak-acak Ki mBleh.
      😛

  11. Dan disaat malam tiba, manakala Gajahmada dan Nyi Nari Ratih telah kembali dari Kotaraja Majaphit berkumpul bersama di Puri Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh, Supo Mandagri telah bercerita tentang apa yang dilihatnya di hutan Perigian.

    “Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku bahwa Ki Secang telah membunuh seekor babi hutan betina yang tengah bunting besar”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada dan Nyi Nari Ratih.

    “Sungguh sebuah perbuatan kurang terpuji, membunuh binatang yang tengah mengandung anaknya”, berkata Gajahmada menanggapi cerita Supo Mandagri.

    “Naluri seekor harimau dapat memilih mangsanya, hanya memburu binatang jantan. Bila itu dilakukan oleh seorang manusia, maka derajatnya menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun”, berkata Nyi Nariratih ikut menanggapi cerita Supo Mandagri.

    :Yang sangat kuherankan, Ki Secang hanya mengambil hati binatang itu, meninggalkan begitu saja bagian yang lainnya”, berkata kembali Supo Mandagri tentang apa yang dilakukan oleh Ki Secang.

    Terlihat Gajahmada mengerutkan keningnya merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh Ki Secang dengan hati seekor babi hutan itu. Masih dengan rasa ketidak tahuannya itu telah menoleh kearah ibundanya berharap wanita yang amat dicintainya itu dapat lebih tahu darinya perihal apa yang diperbuat oleh Ki Secang itu.

    Nampaknya Nyi Nari Ratih dapat membaca apa yang diinginkan oleh putranya itu.

    “Sayang sekali aku tidak tahu untuk apa Ki Secang berbuat seperti itu”, berkata Nyi Nari Ratih sambil menggelengkan kepalanya perlahan dihadapan Gajahmada.

    Akhirnya pembicaraan bergeser perihal pembangunan pondokan di belakang Puru Pasanggrahan itu, Maka Supo mandagri
    menyampaikan bahwa sampai saat ini mendapatkan bahan kayu dan bambu, belum perlengkapan pengapian dan pernak pernik lainnya sebagimana layaknya para pandai besi.

    Setelah pondokan selesai, aku akan mencarikan barang keperluanmu itu”, berkata Gajahmada.

    Senang sekali Supo Mandagri mendengar janji Gajahmada kepadanya.

    “Aku seperti sudah tidak sabar, ingin secepatnya membangun sebuah keris pertamaku”, berkata Supo Mandagri dengan wajah berbinar-binar.

    Sementara itu masalah ki Secang seperti menguap begitu saja, tidak ada seorangpun diantara mereka bertiga yang membicarakannya lagi.

    “Nampaknya makan malam kita sudah disiapkan”, berkata Nyi Nari Ratih yang melihat seorang pelayan wanita keluar dari pintu pringgitan.

    Benar saja, pelayan wanita itu memang bermaksud memberitahukan kepada mereka bertiga bahwa makan malam telah disiapkan di ruang dalam.

    • Jam segini mau makan malam, hadu…,
      He he he … suwun P. Dhalang

  12. Sementara itu deru dan debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh semakin keras di malam yang semakin larut itu. Terlihat beberapa perahu dagang yang tengah bersandar terus bergoyang bersinggungan dengan tepi kayu dermaga.

    Suasana Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh di malam itu masih saja ramai, hiruk pikuk para buruh angkut, suara canda tawa menggoda para wanita penghibur dan cahaya oncor yang dipasang berjajar menjadi gerak kehidupan Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh yang sangat ramai itu di malam hari.

    Terlihat perahu dagang dari beberapa penjuru nagari barsandar di dermaga Bandar pelabuhan yang tidak pernah sepi itu. Bandar pelabuhan yang tidak pernah mati, begitulah orang menyebutnya, karena Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh tidak pernah sepi, pagi, siang dan malam.

    Pada saat itu, Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh adalah satu dari beberapat Bandar pelabuhan yang sangat ramai yang dikuasai sepenuhnya dalam rangkaian wilayah perdagangan Kerajaan Majapahit, mulai dari tanah melayu di swarnadwipa, hingga berantai disepanjang pesisr utara Jawadwipa. Di setiap Bandar pelabuhan itu ada sebuah perwakilan dagang sebagai kepanjangan tangan dari Kerajaan Majapahit menjalin kerjasama perdagangan dengan para pedagang asing. Begitulah cara Baginda Raja Sanggrama Wijaya menguasai wilayah kelautannya.

    Nampaknya Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah melaksanakan amanat suci para leluhurnya, para raja-raja Singasari untuk membangun sebuah singgasana diatas samudera raya.

    Geliat Bandar pelabuhan di wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit adalah geliat kemakmuran Kerajaan Majapahit lewat pundi-pundi yang terus mengalir ke gudang perbendahara istana, kepingan emas bangsa arab, kepingan pecahan perak milik bangsa cina yang telah diijinkan menjadi alat tukar perdagangan pada saat itu terus melimpah memenuhi gudang penyimpanan kekayaan kerajaan.

    Hasil kekayaan yang melimpah dari hasil perdagangan itu dijadikan sepenuhnya untuk kemakmuran anak negeri lewat keringanan pajak hasil bumi, pembangunan candi pura di hampir seluruh pelosok nagari. Bumi makmur, para seniman melahirkan banyak karya besarnya, para rohaniawan merdeka dan terlindungi memajukan umatnya. Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan sang putra Lenbu Tal ini pada saat itu ibarat sebuah naga samudera muda yang tengah menggeliat mengarungi samudera raya yang lebih luas lagi, dan lebih jauh lagi.

    Namun Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih tetap seperti dulu tidak berubah sedikitpun, seorang raja yang bersahaja yang masih mau bertutur sapa kepada para jelata, menyambangi rumah para sahabat, kerabat dan saudara.

    Demikianlah, pada suatu hari Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah bermaksud untuk menyambangi kakeknya yang jauh di Tanah Pasundan, Sang Prabuguru Darmasiksa.

    Dan Gajahmada sebagai pemimpin pasukan pengawal Raja telah ikut bersamanya, mengunjungi tanah Pasundan, tanah leluhur Baginda Raja Sanggrama Wijaya dari pihak ibunya itu.

    Tiga ratus prajurit mengiringi Baginda Raja Sanggrama Wijaya lewat jalur laut ke tanah Pasundan.

    • Kamsia Pak Dhalang………

  13. Hampir seluruh pejabat istana ikut mengantar keberangkatan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di Bandar Pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    Nyi Nari Ratih dan Supo Mandagri ikut hadir di sana.

    Dipenghujung senja, manakala warna bumi semakin redup karena sang mentari telah bersembunyi di sebelah barat perbukitan. Manakala pelita malam telah dinyalakan di beberapa rumah di padukuhan Tanah Ujung Galuh, perahu besar jung Majapahit terlihat telah bergerak bergeser dari dermaga.

    Buram warna malam menutupi keharuan di wajah Nyi Nari Ratih menatap perahu besar Jung Majapahit yang terus semakin menjauhi dermaga.

    Wajah wanita itu telah mulai berkaca-kaca, menatap perahu besar jung Majaphit yang mulai menjauh membawa Gajahmada, putra tercinta pergi bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya ke Tanah Pasundan.

    “Semoga Gusti yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan perjalanan mereka”, berkata Supo Mandagri yang melihat perahu besar Jung Majapahit telah hilang tertelan kegelapan malam.
    Suara lirih Supo Mandagri seperti menyadarkan Nyi Narih Ratih dari keterpakuannya.

    “Mari kita kembali”, berkata Nyi Nari Ratih kepada anak muda itu untuk kembali ke puri pasanggrahannya.

    Sementara itu diwaktu yang sama, disebuah tempat yang jauh beberapa hari perjalanan berkuda dari kotaraja Majaphit, terlihat seorang penunggang tengah memasuki gapura batas kota Kediri.
    Desir angin dingin menyapu wajah lelaki penunggang kuda itu yang terus berjalan memasuki wilayah kotaraja Kediri yang sudah menjadi sepi itu.

    Disebuah persimpangan jalan,terlihat lelaki penunggang kuda itu telah keluar dari jalan utama memasuki sebuah jalan padukuhan.

    Didepan sebuah rumah panggung terlihat penunggang kuda itu berhenti dan langsung turun dari kudanya.

    Malam saat itu masih wayah sepi bocah, sepasang suami istri terlihat duduk di panggung pendapa rumah mereka dan telah melihat lelaki berkuda itu telah mendekati rumah mereka.

    Pelita malam yang temaram tergantung di atas tangga pendapa telah menerangi wajah lelaki berkuda itu.

    “Ra Kuti !!”, hampir berteriak lelaki diatas panggung pendapa itu menyebut sebuah nama dari lelaki penunggang kuda itu.

    “Lama kita tidak berjumpa, ternyata kamu masih mengenal wajahku”, berkata lelaki berkuda itu yang ternyata adalah Ra Kuti, seorang pejabat istana, salah seorang Dharmaputra di kerajaan Majapahit.

  14. aseeek… suwun ki

  15. Setelah mengikat kudanya di sebuah tiang panggung, terlihat Ra Kuti Langsung naik keatas panggung pendapa.
    Ra Kuti, perkenalkan ini istriku”, berkata lelaki itu kepada Ra Kuti memperkenalkan wanita disebelahnya sebagai istrinya.

    “Ternyata Demung Gunari sangat pandai memilih seorang istri”, berkata Ra Kuti kepada lelaki itu yang dipanggilnya sebagai Demung Gunari.

    Setelah menyampaikan kata keselamatan masing-masing, terlihat Nyi Demung Gunari bermaksud pamit kepawon untuk menyiapkan minuman hangat untuk mereka.

    “Aku kepawon sebentar untuk menyiapkan minuman hangat”, berkata Nyi Demung berpamit diri.

    Manakala Nyi Demung Gunari telah masuk ke dalam, Ra Kuti belum juga menyampaikan maksud kedatangannya ke Kotaraja Kediri itu, hanya mengatakan ada tugas biasa di istana Kediri dan mampir karena merasa rindu sudah lama tidak bertemu dengan Demung Gunari.

    Pembicaraanpun masih berupa hal-hal yang ringan, cerita berkisar tentang masa lalu mereka yang ternyata berasal dari kampong halaman yang sama, dari Tanah Lamajang.

    Ra Kuti masih belum mengatakan apapun hingga Nyi Demung Gunari datang membawa minuman hangat dan beberapa potong makanan untuk mereka dan langsung masuk kembali ke dalam tidak menemani pembicaraan mereka di pendapa rumahnya itu.

    “Terlanjur malam dirumahku, menginaplah disini”, berkata Demung Gunari kepada Ra Kuti.

    “Terima kasih”, berkata Ra Kuti menerima permintaan kawannya itu untuk menginap dirumahnya.

    Hingga ketika hari mulai larut malam, mulailah Ra Kuti mencoba mengukur tingkat kepedulian Demung Gunari sejauh mana rasa pembelaannya terhadap agama yang dianutnya itu.

    Dari pancingan-pancingan lewat bahasa yang tersamar, Ra Kuti sudah dapat menilai tingkat kepedulian Demung Gunari terhadap agama yang dianutnya.

    Mulailah Ra Kuti menawarkan gagasan-gagasannya, membesarkan agama yang dianutnya itu.

    “Kita tidak ingin agama yang kita anut akan terus tersingkir oleh ajaran-ajaran baru, ajaran baru yang di anut oleh keluarga kerajaan Majapahit saat ini. Apakah dirimu rela disuatu saat nanti, anak dan cucu keturunanmu tidak lagi melihat pura persembahyangan yang memuja dewa kita ?”, berkata Ra Kuti yang mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan.

    “Tidak, aku tidak rela”, berkata Demung Gunari dengan perkataan yang amat tegas.

    “Bagus”, berkata Ra Kuti dengan senyum kemenangan telah dapat memancing perasaan Demung Gunari menuju perangkapnya.

    • bagusss…!!!, jadi inget pak Tino Sidin mengomentari hampir semua gambar para anak TK, hahahaha

  16. Mulailah Ra Kuti dengan bahasa yang sangat menarik yang dikemas dengan bahasa agama yang dianutnya menyampaikan gagasan-gagasannya membesarkan golongan agama yang dianutnya.

    “Jalan satu-satunya agar golongan agama kita menjadi besar adalah dengan jalan mengambil alih kekuasaan Kerajaan Majapahit”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari.

    “Dari mana kita memulainya ?”, bertanya Demung Gunari yang sudah termakan pancingan Ra kuti yang sangat pandai bicara itu.

    “Dimulai dengan melumpuhkan sahabat-sahabat setia di sekitar penguasa Majapahit itu”, berkata Ra Kuti menuturkan rencana-rencananya.

    “Dimana tempatku berada dalam perjuangan besar ini ?”, bertanya Demung Gunari penuh semangat.

    “Tempatmu adalah mencari seorang pengantin, seorang yang akan kita tugaskan membunuh Patih Mahesa Amping dengan cara meracuninya”, berkata Ra Kuti mengistilahkan seorang calon pembunuh dengan istilah “pengantin”

    “Aku adalah seorang Demung yang mengurus rumah tangga istana, aku dapat mencarikan seorang pengantin itu, seorang yang dengan suka rela melaksanakan rencana kita itu”, berkata Demung Gunari menyanggupi tugas yang di berikan kepadanya, mencari seorang “pengantin”.

    “jangan khawatirkan mengenai masalah biaya”, berkata Ra Kuti sambil mengeluarkan serenceng uang keeping emas yang langsung diberikan kepada Demung Gunari.

    “Sanagat banyak sekali”, berkata Demung Gunari dengan wajah berbinar-binar.

    “Nilai keping emas ini tidak berarti dibandingkan dengan hasil perjuangan kita, membesarkan agama anutan kita”, berkata Ra Kuti sambil tersenyum telah dapat dengan mudahnya menjaring sukarelawan di kotaraja Kediri itu.

    “kapan kamu akan kembali ke kotaraja Kediri ini”, bertanya Demung Gunari kepada Ra Kuti yang berkata besok setelah menyelesaikan beberapa tugas di Istana Kediri akan kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Bulan depan aku akan kembali menemuimu, mendengar hasil upayamu mencari calon pengantin yang kita butuhkan”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari.

    “Aku merasa sangat yakin, dalam waktu sebulan telah mendapatkan calon pengantin itu”, berkata Demung Gunari dengan penuh keyakinan sambil berhayal bahwa bulan depan sahabatnya itu akan membawa serenceng keeping emas untuknya.

    Sementara itu malam sudah semakin larut, desir angin terasa dingin menusuk kulit tubuh. Terdengar suara burung hantu yang hinggap di cabang pohon nangka di samping rumah Demung Gunari. Tidak lama berselang burung hantu itu telah terbang kembali ditandai dengan suaranya yang cukup mengejutkan di kesunyian malam yang senyap dan masih terus terdengar hingga sayup di kejauhan.

    Dan kotaraja Kediri malam itu telah terperangkap dalam selimut mimpinya.

  17. waduuuh…

  18. Waduh,…. Ki Dalang juga mengadopsi istilah JI.

  19. Kamsia atas potret situasi yang akurat Pak Dhalang……

  20. Keesokan harinya, sebanarnya bisa saja Ra Kuti langsung kembali ke Kotaraja Majapahit, namun untuk menutupi rencana besarnya dengan terpaksa harus menemui seseorang di istana Kediri agar terkesan dirinya memang punya urusan tugas kerajaan yang harus diselesaikannya.

    Dan pagi itu terlihat Ra Kuti dan Demung Gunarisudah berada di jalan utama Kotaraja Kediri.
    Setelah mereka tiba di istana Kediri, merekapun terlihat berpisah karena tugas yang berbeda.

    “Bila urusanku selesai di istana ini, aku akan langsung kembali ke Kotaraja Majapahit”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari manakala mereka akan berpisah jalan di lorong istana Kediri.
    Demikianlah, disaat hari telah mulai siang, terlihat Ra Kuti mencari Demung Gunari untuk pamit diri kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Bulan depan aku akan kembali lagi”, berkata Ra Kuti kepada Demung Gunari ketika akan berangkat meninggalkan Kotaraja Kediri.

    Dan di hari kedua setelah pertemuannya dengan Ra Kuti, mulailah Demung Gunari mencoba mencari siapa gerangan orang yang paling tepat untuk melaksanakan tugas menjadi pengantin itu.

    Diam-diam Demung Gunari mengamati suasana kehidupan keluarga Patih Mahesa Amping yang tinggal di dalam istana Kediri, kesehariannya dan segala kebiasaannya. Sebagai seorang Demung istana yang bertugas mengurus rumah tangga istana Kediri, tidak seorangpun yang mencurigainya ketika Demung Gunari melihat-lihat sekitar taman di puri pasanggrahan tempat tinggal Patih Mahesa Amping, bertanya beberapa hal kepada dua tiga orang pelayan dalem yang bertugas melayani keluarga Patih Mahesa Amping.

    Ibarat seekor berang berang membangun sarang perangkap, Demung Gunarai telah bekerja dengan sangat teliti, merasa tidak ada satupun yang tertinggal dalam pengamatannya.

    Akhirnya setelah merasa cukup mengenal keseharian dan kebiasaan Patih Mahesa Amping, Demung Gunari telah mengetahui siapa gerangan orang yang paling dekat di dalam keluarga Patih Mahesa Amping.

    Ni Narsih, adalah seorang pelayan dalem di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping yang bertugas sehari-hari menyiapkan makanan bagi keluarga itu, seorang pelayan dalem yang sangat dipercaya oleh keluarga Patih Mahesa Amping.

    Meskipun masih nampak muda, namun untuk ukuran anak gadis di jaman itu sudah dapat dikatakan terlambat untuk berumah tangga. Bersama dengan beberapa pelayan dalem istana, Ni Narsih bertempat tinggal di pondokan belakang istana Kediri.

    Suranta, adalah seorang pekatik muda yang belum lama bekerja sebagai pekatik di istana Kediri. Usianya masih sangat muda, punya kegemaran menyabung ayam dan berjudi. Namun Suranta adalah seorang pekerja yang rajin, menyiapkan makanan kuda, membersihkan kandang kuda dan merawat kuda dengan sangat baik.

  21. Dan di akhir-akhir pekan ini hampir disetiap waktu senggangnya, Suranta selalu datang di tempat penyabungan ayam. Hampir semua hutang-hutangnya telah dapat dilunasinya. Namun tidak seorangpun yang bertanya-tanya dari mana Suranta yang hanya seorang pekatik istana dapat punya uang yang cukup banyak, menghabiskan banyak waktunya di tempat penyabungan ayam dan berjudi.

    Akhirnya hampir semua orang menduga-duga bahwa gaya hidup Suranta belakangan ini karena kedekatannya dengan seorang perempuan pelayan dalem istana, seorang perawan tua yang tergila-gila dengannya sehingga apapun yang diminta oleh Suranta pasti akan dipenuhinya.

    Suranta hanya sedikit tersenyum manakala seorang kawan dekatnya mengatakan dugaan dari orang banyak itu tentang hubungannya dengan Ni Narsih.

    “Terserah apapun yang orang katakan tentang hubunganku dengan Ni Narsih”, berkata Suranta kepada kawannya sambil tersenyum.

    Suranta memang telah dapat menutup mulutnya rapat-rapat, tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa hubungannya dengan Ni Narsih adalah hubungan yang semu, sebuah hubungan sandiwara sesuai perintah Demung Gunari yang telah membayarnya.

    “Buatlah agar Ni Narsih tergila-gila kepadamu”, berkata Demung Gunari kepada Suranta di suatu waktu.

    Ternyata dengan sangat mudahnya Suranta dapat mendekati Ni Narsih, mendapatkan cintanya yang sangat tulus tanpa kesangsian apapun bahwa dirinya sesungguhnya hanya diperalat untuk sebuah keinginan tertentu.

    Berita tentang kedekatan Ni Narsih dengan Suranta ternyata didengar juga oleh Nyi Patih Mahesa Amping, seorang putri Raja Melayu yang kita kenal dengan nama Dara Jingga itu.

    “Apakah kamu sudah memikirkannya dengan masak-masak, usia calon suamimu itu lebih muda darimu”, berkata Nyi Patih Mahesa Amping kepada Ni Darsih.

    “Mungkin sudah suratan takdir hamba, mendapatkan calon suami yang lebih muda dari usia hamba”, berkata Ni Narsih kepada Nyi Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, akhirnya semua orang tidak mempertanyakan apapun tentang hubungan cinta antara Ni Narsih dan Suranta, terutama kawan-kawan dekat Suranta sendiri yang sering dijamu berbagi kesenangan bersamanya.

    Hingga akhirnya, manakala melihat hubungan Bi narsih dan Suranta sudah menjadi begitu dekat, maka disuatu malam Demung Gunarai datang menemui Suranta di rumahnya.

    “Tugasmu sekarang adalah membujuk Ni Narsih agar mencampurkan cairan ini kedalam minuman Patih Mahesa Amping”, berkata Demung Gunari sambil menyerahkan sebuah bubu kecil dari bamboo kepada Suranta.

    “Aku akan membujuknya”, berkata Suranta kepada Demung Gunari.

  22. Demung Gunara sengaja tidak menjelaskan yang sebenarnya, hanya menyampaikan bahwa cairan itu telah dimantrai agar Patih Mahesa Amping menjadi semakin kasih kepadanya sehingga akan memilihnya menduduki sebuah jabatan yang amat penting di istana kediri.

    “Bila kamu dapat membujuk Ni Narsih, aku akan memberimu lebih banyak lagi”, berkata Demung Gunari sambil menteerahkan empat keping emas di tangan Suranta.

    Gembira hati Suranta melihat empat keeping emas ditangannya, terbayang si burik, ayam jago unggulan milik seorang kenalannya yang selalu menang dalam setiap penyabungan yang akan dibelinya, terbayang pula wajah empat orang kawan dekatnya yang akhir-akhir ini selalu ikut bersamanya mencari kesenangan yang mereka inginkan.

    Hingga di suatu malam Suranta telah menemui Ni Narsih di pondokannya di belakang istana Kediri.

    “Bantulah aku untuk mencampurkan cairan ini di minuman Patih Mahesa Amping, hanya cairan pengasih yang sudah dimantrai agar Patih Mahesa Amping selalu kasih melihat Demung Gunari”, berkata Suranta kepada Ni Narsih.

    “Berapa kamu di bayar oleh Demung Gunari ?”, bertanya Ni Narsih penuh selidik.

    “Hanya sebuah balas budi, Demung G Gunarai yang membawaku masuk di istana ini sebagai seorang pekatik. Dan Demung Gunari telah menjanjikan kepadaku bila telah menjadi pejabat penting di istana akan mengambilku sebagai pembantu utamanya”, berkata Suranta berusaha membujuk kekasihnya itu.

    Mendengar bujuk rayu Suranta telah membuat Ni Narsih serba salah untuk menolaknya, merasa kasihan memandang wajah kekasihnya yang penuh rasa harap itu.

    “Hanya sebuah air pengasih”, berkata Ni Narsih dalam hati sambil tersenyum menganggukkan kepalanya sebagai pertanda menerima tugas yang diminta oleh kekasih pujaan hatinya itu.

    Terlihat wajah Suranta berubah penuh rasa gembira, Ni Ratih menyanggupi tugas itu.

    Demikianlah hingga di sebuah sore yang cerah terlihat Patih Mahesa Amping duduk berbincang bersama Dara Jingga di serambi puri pasanggrahannya.

    Seperti biasa Ni Narsih menyiapkan secangkir wedang sereh untuk majikannya itu.

    Melihat tidak ada seorangpun yang berada di pawon, terlihat Ni Narsih telah menuangkan sebuah cairan dari dalam bubu kecil kedalam minuman yang akan diberikan kepada majikannya itu.

    Tanpa beban apapun, Ni Narsih telah membawa minuman hangat itu ke serambi dimana majikannya tengah beristirahat berbinvcang bersama istrinya, Dara Jingga.

    “Terima kasih”, berkata Dara Jingga penuh senyum ramah kepada Ni Narsih yang telah meletakkan secangkir wedang hangat untuk Patih Mahesa Amping.

    Tergesa-gesa terlihat Ni Narsih berjalan kembali masuk ke pawon, dadanya terasa berdebar-debar.

    • Wah… yok opo iki Pak Dhalang
      Ranta itu sepupuku, lha Narsih itu tetanggaku.
      He he he he …

      Suwun Pak Lik.

  23. Keesokan harinya, Ni Narsih terlihat menarik nafasnya lega sekali karena melihat Patih Mahesa Amping seperti biasa duduk di ruang dalam menanti hidangan sarapan pagi bersama istrinya Dara Jingga.
    Ketika sore datang menjelang, Ni Narsih masih melihat Patih Mahesa Amping di serambi ketika dirinya menyuguhkan secangkir wedang hangat.

    Keesokan harinya lagi, Ni Narsih masih melihat Patih mahesa Amping keluar dari puri pasanggrahannya untuk menyelesaikan beberapa tugasnya di istana Kediri.

    Demikianlah, dalam dua hari itu Ni Narsih masih melihat Patih Mahesa Amping tetap segar bugar.

    “Hanya air pengasih”, berkata Ni Narsih dalam hati menghilangkan rasa bersalahnya.

    Namun di hari ketiganya, disaat wajah bumi pagi masih bening suram terjadilah sebuah kehebohan besar di istana Kediri yang berawal di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping.

    Pagi itu Dara Jingga terkejut ketika membuka matanya melihat suaminya, sang Patih Mahesa Amping tengah duduk bersila dengan mata terpejam.

    Sebagai seorang istri yang sudah lama mengenal kebiasaan suaminya, pahamlah Dara Jingga bahwa suaminya tengah menghadapi sesuatu yang menggangu kesehatannya. Dan dengan rasa khawatir yang sangat terlihat Dara Jingga masih tetap menunggu disisi suami tercintanya itu.

    Rasa cemas mengisi perasaan dara Jingga manakala melihat peluh bercucuran membasahi seluruh tubuh Patih Mahesa Amping.
    Masih dengan perasaan penuh cemas, Dara Jingga melihat suaminya perlahan membuka matanya dan langsung memandangnya.

    “Dindaku, apakah engkau mencintaiku ?”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Dara Jingga.

    “lautan yang luas telah kuseberangi, meninggalkan segala kemanjaan sebagai seorang putri di tanah Melayu, hanya untuk menemui kakanda”, berkata Dara Jingga sambil mengusap peluh di wajah suaminya.

    “Ambilah pisau pendek yang tergantung di dinding kamar kita itu, arahkan dengan tepat di jantungku”, berkata Patih Mahesa Amping kepada istrinya.

    “kakanda pasti tengah mengigau”, berkata Dara Jingga sambil mengerutkan keningnya merasa bahwa suaminya telah bicara tanpa sadar.

    “Cepatlah dinda bila kamu benar-benar mencintaiku”, berkata Patih Mahesa Amping dengan suara lebih keras lagi pertanda keluar dari kesungguhan hatinya.

    “Tidak, aku tidak akan melakukannya”, berkata Dara Jingga sambil menggelengkan kepalanya penuh rasa cemas menghantui perasaan dan pikirannya menatap wajah suaminya yang basah oleh peluh yang terus mengucur dengan derasnya.

  24. Ternyata sebagai seorang yang berilmu sangat tingi, memahami ilmu pengobatan, memehami berbagai jenis aneka racun. Ketika terbangun di pagi hari Patih Mahesa Amping sudah dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres di dalam dirinya, maka langsung saja Patih Mahesa Amping bersila di peraduannya mengerahkan segenap kekuatan sejati hawa murninya mencoba menghentikan sesuatu yang dirasakannya telah memenuhi seluruh jalur pembuluh darahnya. Setelah lama mencoba dengan kekuatan tenaga sakti sejati hawa murninya yang sangat tinggi itu, ternyata Patih Mahesa Amping telah terlambat untuk menghentikannya, dirasakan racun yang amat kuat itu sudah naik keatas kepala.

    Sebagai seorang yang sangat memahami berbagai jenis racun, Patih Mahesa Amping sadar betul bahwa racun yang telah masuk merambati seluruh isi kepalanya itu akan berdampak merusak segala akal pikirannya, akan merubah dirinya menjadi seorang yang lupa ingatan.

    Itulah sebabnya Patih Mahesa Amping telah meminta istrinya agar membunuhnya.

    Namun semua memang sudah terlambat, racun yang amat kuat telah merusak seluruh isi kepala Patih Mahesa Amping, merusak segala ingatannya. Merubahnya menjadi sesosok tubuh yang hanya dipenuhi amarah, memandang seluruh isi dunia dengan cara terbalik, musuh dianggapnya kawan, dan sahabat setia dilihatnya sebagai musuh paling jahat yang harus dibunuh.

    Berlinang air mata Dara Jingga tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada suami tercintanya itu yang tiba-tiba saja menatap dirinya dengan mata yang memerah menakutkan.

    “Kandaku…”, berkata lirih Dara Jingga menatap wajah suaminya yang sudah kehilangan sosok sejatinya yang dikenalnya selama ini.
    Dan tiba-tiba saja Dara Jingga menjerit tertahan manakala tangan Patih Mahesa Amping yang amat kuat itu telah mencengkeramnya dan melemparkannya hingga membentur dinding kayu kamar peraduannya.

    Brakk !!!!

    Dengan mata terbelalak Dara Jingga melihat suaminya telah manabrak pintu kamar yang langsung terbuka lebar.
    Dan dengan masih menahan rasa sakit sebagian tubuhnya yang terbentur kayu, terlihat Dara Jingga berusaha bangkit berdiri dan mengejar Patih Mahesa Amping yang telah pergi berlari kearah pintu pringgitan.

    Brak !!!

    Kembali Dara Jingga melihat Patih Mahesa Amping telah menabrak pintu pringgitan yang langsung hancur terbuka lebar.
    “Kanda Mahesa Amping”, berteriak Dara Jingga memanggil suaminya.
    Namun Patih Mahesa Amping seperti tidak mendengar apapun, telah berlari kearah samping bagunan puri pasanggrahannya kearah kandang kuda.

  25. Seorang pekatik tua terbelangak melihat majikannya datang dengan cara berlari dan langsung menghentakkan tali kekang kuda yang terikat di sebuah tiang penyangga kandang kuda.

    Akkibatnya tiang penyangga itu telah pecah dua, merobohkan sebagian atap bangunan kandang kuda itu.

    Pekatik tua itu masih terbelangak tidak tahu apa yang harus dilakukannya, namun tiba-tiba dilihatnya sang majikan telah melompat dan langsung menghentakkan perut kuda agar berlari kencang.

    Pekatik tua masih dengan mata terbelangak melihat majikannya telah melarikan kudanya kearah halaman depan.

    Bersamaan dengan itu, terlihat dua orang pejabat istana tengah memasuki gerbang gapura puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping.

    Terkejut keduanya karena tiba-tiba saja didepan keduanya terlihat Patih Mahesa Amping melarikan kudanya begitu cepat sekali.

    Namun dengan sangat sigap keduanya telah langsung melompat kekiri dan kekanan menghindari tabrakan kuda yang berlari begitu cepatnya langsung keluar dari gerbang gapura.

    Sementara itu keduanya telah melihat seorang wanita berlari kearah mereka.

    “Nyi Patih, katakana apa yang telah terjadi”, berkata salah seorang dari pejabat Istana itu bertanya kepada wanita itu yang tidak lain adalah Dara Jingga masih dengan isak tangisnya.

    “Tolonglah suamiku, dirinya telah hilang kendali”, berkata Dara Jingga kepada kedua pejabat istana Kediri itu yang sudah dikenalnya bernama Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru.

    Tanpa bertanya apapun, terlihat Ki Rangga Kebo Biru dn Ki Demung Juru telah langsung berlari kearah Patih Mahesa Amping melarikan kudanya.

    “Aku butuh kuda ini kembali”, berkata Ki Rangga Kebo Biru kepada seorang pekatik yang tengah membawa dua ekor kuda untuk dirawatnya.

    Sebagaimana Ki Rangga Kebo Biru, terlihat Ki Demung Juru telah melakukan yang sama mengambil tali kekang kuda dari tangan pekatik.

    Maka tidak lama berselang Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru telah berada dipunggung kudanya masing-masing.

    Tinggal para prajurit penjaga di gerbang istana Kediri yang terpaku di tempatnya karena baru saja dilihatnya Patih Mahesa Amping telah melarikan kudanya dengan sangat cepat sekali, tiba-tiba saja dibelakangnya sudh muncul Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru berkuda sangat cepat sebagaimana Patih Mahesa Amping.

    “Apa yang terjadi atas mereka bertiga ?“, berkata seorang prajurit penjaga kepada kawannya.

  26. aduuuh…

  27. Beruntung bahwa Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru masih dapat melihat arah kuda Patih Mahesa Amping yang ternyata menuju arah utara gerbang gapura kotaraja Kediri. Namun mereka berdua belum dapat mengejar kecepatan lari kuda Patih Mahesa Amping yang berlari seperti terbang membelah udara pagi yang mulai terang tanah.

    Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru masih jauh dibelakang Patih Mahesa Amping yang telah melewati gerbang gapura sebelah utara Kotaraja Kediri. Terlihat debu mengepul dibelakang kaki kuda Patih Mahesa Amping yang terus berlari dengan cepatnya meninggalkan Kotaraja Kediri dan terus berlari kearah utara.

    Sementara itu sambil terus mengejar kuda Patih Mahesa Amping, didalam pikiran Ki Rangga Gajah Semu masih menyangsikan perkataan Dara Jingga bahwa sahabatnya itu telah hilang ingatan.

    “Mungkinkah Patih Mahesa Amping telah kehilangan akalnya sebagaomana yang dikatakan oleh istrinya sendiri ?”, bertanya dalam hati Ki Rangga Gajah Biru sambil terus berusaha mengejar laju kuda Patih Mahesa Amping.

    Kejar kejaranpun terus berlangsung di jalan tanah yang telah menjadi semakin terang di sinari matahari yang telah mulai naik disebelah kanan arah mereka berpacu.

    Kejar kejaranpun masih terus berlangsung hingga matahari telah mencapai puncaknya diatas kepala mereka, namun tetap saja laju kuda Patih Mahesa Amping tetap berada jauh didepan Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

    Hingga manakala matahari mulai turun di sebelah kiri mereka, mulailah dapat dinilai kuda siapa yang merupakan kuda unggulan.

    Ternyata kuda yang dikendarai oleh Patih Mahesa Amping adalah seekor kuda pilihan keturunan kedua dari kuda milik Raja Mahesa Cempaka yang sangat terkenal itu. Seekor kuda yang sangat kuat dan dapat berlari dengan sangat cepatnya. Dan sudah mulai dapat terlihat laju kuda Ki rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru semakin jauh tertinggal.

    “Nampaknya kuda kita sudah mulai kepayahan”, berteriak Ki Rangga Gajah Biru sambil sambil memperlambat laju kudanya dan mengangkat tangannya kearah Ki Demung Juru.

    Mendengar teriakan Ki Rangga Gajah Biru, terlihat Ki Demung Juru langsung memperlambat laju kudanya sebagaimana yang dilakukan oleh kawannya itu.

    “Kuda kita akan mati kelelahan bila kita paksakan terus berlari”, berkata Ki Rangga Gajah Biru kepada Ki Demung Juru.

    Demikianlah, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah tertinggal jauh oleh Patih Mahesa Amping, kuda-kuda mereka berdua tidak setegar dan sekuat kuda Patih Mahesa Amping yang seperti punya sepuluh nafas cadangan berlari terus tanpa berhenti.

    “Kita lanjutkan pengejaran setelah kuda-kuda kita beristirahat dengan cukup”, berkata Ki Rangga Gajah Biru kepada Ki Demung Juru ketika melihat sebuah sungai kecil berbatu membelah jalan mereka.

  28. Beruntung di tepi sungai kecil itu tumbuh sebatang pohon pisang hutan yang telah berbuah matang. Terlihat Ki Demung Juru memenggal setangkai pisang matang itu, berbagi dengan Ki Rangga Gajah Biru beberapa buah, sisanya disimpan sebagai bekal. Nampaknya Ki Demung Juru menyadari bahwa mungkin mereka tidak singgah bermalam di sebuah padukuhan yang mereka lewati, mereka akan terus memacu kudanya berusaha untuk mengejar Patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, setelah melihat kuda-kuda mereka telah beristirahan dengan cukup, terlihat mereka sudah duduk diatas punggung kuda mereka masing-masing untuk melanjutkan perjalanan mereka mengejar Patih Mahesa Amping.

    Ternyata setelah beristiraha dengan cukup, kuda-kuda mereka dapat diperintahkan untuk berlari kembali, dipacu kembali meninggalkan debu yang betrbangan mengepul di belakang langkah kaki kuda-kuda mereka.

    Hingga akhirnya dipenghujung senja, di sebuah persimpangan jalan mereka harus menghentikan lari kuda mereka.

    Terlihat Ki Rangga Gajah Biru telah melompat turun dari pungung kudanya tepat di persimpangan jalan itu. Ternyata Ki Rangga gajah Biru adalah seorang pencari jejang ulung telah menemukan jejak langkah kaki kuda Patih Mahesa Amping.

    “Patih Mahesa Amping telah mengambil arah Kotaraja Majapahit”, berkata Ki Rangga Gajah Biru yang telah bongkahan-bongkahan rumput halus yang tumbuh di jalan tanah itu yang terbongkar oleh langkah kaki kuda yang diyakininya milik kuda Patih Mahesa Amping.

    Nampaknya Ki Demung Juru tidak menyangsikan keahlian sahabatnya itu dalah hal menemukan jejak, hanya dengan melihat kedalaman jejak kaki seekor harimau sudah dapat mengukur dengan tepat berat badan harimau itu serta tidak kehilangan arah kemana binatang besar itu berjalan.

    “Kita telah tertinggal seperempat hari perjalanan”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil meraba jejak langkah kaki kuda patih Mahesa Amping.

    Demikianlah, terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah mengambil arah perjalanan menuju Kotaraja Majapahit, arah yang mereka yakini adalah arah perjalanan Patih Mahesa Amping.

    Dikeremangan malam, dibawah langit dan cahaya bulan terpotong langkah kaki kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru terus berlari membelah udara dingin malam.

    “Berhenti !!”, berkata Ki Rangga Gajah Biru manakala melihat seonggok bayangan hitan tergeletak di tengah jalan di hadapan mereka.

    Terlihat mereka berdua langsung menghentikan laju kuda mereka dan langsung melompat dari punggung kuda mereka masing-masing.

    “Kuda Patih Mahesa Amping”, berkata Ki Demung Juru didekat seekor kuda yang tergeletak sudah tidak bernafas lagi, yang dikenali sebagai kuda milik Patih Mahesa Amping.

  29. “Patih Mahesa Amping sangat menyayangi kudanya, namun dengan tangannya sendiri telah membunuhnya”, berkata Ki Rangga Gajah Biru yang melihat tulang dada kuda itu telah remuk terpukul oleh sebuah tangan yang amat kuat.

    “nampaknya kuda ini sudah tidak dapat lagi menuruti perintah majikannya untuk terus berlariian”, berkata Ki Demung Juru menduga-duga kematian kuda kesayangan Patih Mahesa Amping itu.

    “Kita telah tertinggal setengah hari perjalanan”, berkata Ki rangga Gajah Biru setelah meraba bagian tubuh bangkai kuda itu.

    Terlihat mereka berdua sudah melompat diatas kuda masing-masing dan langsung menghentakkan perut kudanya agar langsung berlari.
    Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru adalah para prajurit pilihan, orang-orang yang terlatih dan telah ditempa raganya menghadapi berbagai rintangan yang sangat berat, menempuh perjalanan yang sulit dan jauh, menghadapi pertempuran dipeperangan seharian penuh tanpa beristirahat sedikitpun.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Rangga Gajah Biru, mereka berdua memang telah tertinggal setengah hari perjalanan dengan Patih Mahesa Amping yang telah meninggalkan kudanya. Keduanya sama-sama membayangkan bahwa sang patih Daha yang amat sakti itu pasti telah mengunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna itu, yang konon dapat berlari kencang mengendarai angin.

    Itulah sebabnya dengan perasaan tak menentu, menduga-duga kebenaran perkataan dara Jingga yang mengatakan suaminya itu telah kehilangan akal sehatnya, terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung tetap memacu kuda-kuda mereka berlari di bawah langit malam yang dingin, melewati beberapa kademangan, melewati jalan hutan yang gelap, membelah padang ilalang dan tanah berawa.
    “Kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak, kuda kita nampaknya sudah mulai jemu berlari”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil memperlambat laju kudanya.

    Mendengar ucapan Ki rangga Gajah Biru, terlihat Ki Demung Juru ikut memperlambat laju kudanya.

    Hingga disebuah jalan di puncak sebuah perbukitan mereka telah berhenti untuk beristirahat.

    Sementara itu langit diatas kepala mereka sudah terlihat bias memerah sebagai pertanda sang malam sebentar lagi akan tergantikan oleh sang putra pagi, sang putra fajar pemilik cahaya di bumi.

    “Kasihan kuda-kuda kita”, berkata Ki Demung Juru sambil melihat kuda-kuda mereka yang langsung rebah dihamparan rumput liar dengan nafas yang masih tersengal-sengal kelelahan.

    Akhirnya manakala sang fajar terlihat mengintip diujung timur bumi, keduanya telah menuntun kuda-kuda mereka tidak langsung menungganginya untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka menghangatkan otot-otot tubuhnya dengan udara pagi yang segar.

    “Kotaraja Majaphit sudah setengah hari perjalanan lagi”, berkata Ki Rangga Gajah Biru.

    • arrgghhhh…..tragis.

  30. Ora tega mocone, sepuntene Ki Dalang

  31. nunggu pak satpam berhitung, sudah layakkah membuka gandhok ANYER ??

  32. aduuuh…ra tego patine

  33. Alhamdulillah…

    gandok PKPM-08 sudah bisa ditutup, tikar digulung
    sudah buka gandok PKPM-09, tikar sudah digelar

    monggo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: