PKPM-08

<< kembali | lanjut >>

PKPM-08

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 12 Maret 2015 at 00:01  Comments (148)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

148 KomentarTinggalkan komentar

  1. hadir

  2. nomer berapa ya ?

  3. Dengan ini sahaja mengoemoemken bachwasanja sahaja dengen amat terpaksa mendahoeloei oentoek menghadiri gandhok anjar ini sonder menoenggoe itoe para Tjantrik jang lainnja.

    • Kalah selangkah dg Ki Gembleh.

  4. Monggo………

  5. hup…..melompat lewat dinding pagar, masih sepi
    Selamat malam jumat, ba’da magrib

  6. Sementara itu pandangan mata Gajahmada telah beralih menyapu seluruh pertempuran dimana dilihatnya para prajurit Kadipaten Lamajang telah berada diatas angin tidak terpengaruh oleh cara perang para bajak laut yang sangat kasar itu, mereka nampaknya sudah sangat terlatih menghadapi perang brubuh itu.

    “Jurus tempur teratai putih”, berkata Gajahmada dalam hati mengenal sebuah jenis cara bertempur yang diciptakan oleh Empu Nambi yang juga sudah menjadi dasar andalan para prajurit Majapahit pada umumnya.

    Namun jurus tempur teratai putih ciptaan Empu Nambi itu tidak dapat menahan seorang lelaki tua yang dengan sangat garangnya memecahkan kepungan para prajurit Kadipaten Lamjang itu.

    “Ki Banyak Ara”, berkata Gajahmada dalam hati yang langsung bergerak mendekati lelaki tua itu.

    “Akhirnya kamu datang juga, wahai anak muda”, berkata saudara kembar Ki Randu Alam itu manakala melihat kehadiran Gajahmada di tengah pertempuran itu.

    “Sepuluh orang prajurit nampaknya bukan tandingan Ki banyak Ara”, berkata Gajahmada kepada lelaki tua yang dipanggilnya dengan nama Ki Banyak Ara itu.

    Terlihat lelaki tua itu mengerutkan keningnya, merasa penasaran bahwa anak muda di hadapannya itu telah mengenal namanya.

    “Sudah lama sekali aku tidak menggunakan nama kecilku itu, dari mana kamu mengenalnya ?”, bertanya lelaki tua itu kepada Gajahmada.

    “Saudara kembarmu, Ki Banyak Wedi telah banyak bercerita tentang dirimu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum penuh percaya diri yang amat tinggi.

    “Nampaknya kamu sudah tahu banyak tentang diriku”, berkata Ki Banyak Ara sambil memandang tajam kearah Gajahmada seperti tengah mengukur kemampuan anak muda dihadapannya itu.

    “Hari ini kami datang untuk menghentikan cita-citamu yang sangat tinggi itu, menjadi penguasa di bumi Jawadwipa ini”, berkata Gajahmada sambil balas tatapan mata Ki banyak Ara yang sangat tajam itu.

    “jangan merasa tinggi hati telah dapat menahan jurusku tempo hari, hari ini kamu akan tahu kemampuanku yang sebenarnya”, berkata Ki banyak Ara sambil menunjuk wajah Gajahmada dengan trisulanya.

    “Aku tidak merasa tinggi hati, hanya merasa yakin dapat melumpuhkanmu, wahai orang tua”, berkata Gajahmada dengan suara datar kepada Ki Banyak Wedi dihadapannya itu.

    “Lepaskan cambuk dipinggangmu itu, agar aku orang tua tidak dianggap telah berlaku tidak adil membunuh seorang yang tidak bersenjata”, berkata Ki Banyak Wedi sambil menunjuk cambuk pendek yang melingkar di pinggang Gajahmada.

    Perlahan Gajahmada melepas cambuk pendek yang melingkar dipinggangnya itu.

    • Manusia bercambuk?

    • Kamsia Pak Dhalang………
      kok cuma satu rontal….??? yang lainnya nyangkut dimana ya….???

      • dipagar…….karena beliaunya melompat

      • hemm….sambil bersedakep dan bersila

        • dan tentunya bersarung……jika tidak ikut tersangkut

          • dan tentumya bertarung…….
            apakah bertarung harus bersarung……??

  7. Ki Banyak Ara seperti tidak menghiraukan Gajahmada yang telah bersiap menghadapinya, matanya sekilas menyapu suasana pertempuran di halaman yang sangat luas itu. Terlihat kegusaran hatinya melihat orang-orangnya telah mulai berkurang satu persatu dan para prajurit Kadipaten Lamajang itu dengan penuh keteraturan melakukan penekanan kepada lawan-lawannya itu.

    “Orang-orangmu akan habis satu persatu”, berkata Gajahmada yang melihat kegusaran di wajah Ki banyak Ara.

    “Nyawamu yang akan membayar kematian mereka”, berkata Ki banyak Ara dengan suara gusar langsung menerjang Gajahmada.

    Namun Gajahmada bukan anak muda yang punya ilmu dangkal, seumurnya telah memiliki hawa tenaga sakti inti sejati tingkat tinggi setingkat orang yang berlatih puluhan tahun. Maka dengan mudahnya Gajahmada bergerak dengan sangat cepatnya berkelit dari serangan Ki Banyak Ara yang ganas itu bahkan telah melakukan tekanan balik, membalas serangan Ki Banyak Ara itu dengan sebuah lecutan cambuk pendeknya kearah bawah kaki Ki Banyak Ara.

    “Punya taring juga kamu rupanya”, berkata Ki banyak Ara sambil meloncat menghindari lecutan cambuk pendek Gajahmada sambil berbalik badan dan langsung mengejar Gajahmada dengan trisulanya.

    Bukan main terkejutnya Ki banyak Ara, tidak menyangka anak muda yang menjadi lawan tempurnya itu dapat mengimbangi kecepatannya bergerak, selalu dapat bergerak lebih cepat melepaskan diri dari setiap tekanan serangannya, bahkan langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat dan berbahayanya.

    Dengan rasa penuh penasaran, Ki Banyak Ara telah meningkatkan tataran ilmunya, lebih cepat dan penuh tenaga sakti angin panas yang amat tajam, setajam trisulanya yang berkilat-kilat.

    Namun Gajahmada selalu dapat mengimbangi tataran ilmu Ki Banyak Ara, diam-diam telah melambari dirinya dengan daya sakti inti sejatinya setingkat ajian lembu sekilan yang sangat terkenal itu dimana angin serangan Ki Banyak Ara yang sangat panas tajamnya tidak berpengaruh apapun merusak dan melukai kulit tubuhnya.

    Tanpa terasa semua orang telah menyingkir menjauhi pertempuran antara Gajahmada dan Ki Banyak Ara yang telah menerapkan puncak kedahsyatan ilmunya masing-masing.

    Terlihat cambuk dan trisula seperti dua ekor naga raksasa yang saling memburu.

    Sementara itu para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah sangat mahir terlatih dalam gelar jurus tempur perguruan teratai putih itu terlihat sudah semakin menguasai arena pertempuran, jumlah lawan mereka semakin berkurang tajam.

    Bersamaan dengan itu pula terlihat Adipati Menak Koncar telah merambah tataran ilmunya semakin tinggi telah membuat Ki Ajar Pelandongan seperti tak berdaya mendapatkan tekanan serangan dari putra sulung Ki Nambi yang perkasa itu.

  8. ditunggu lanjutannya di malam minggu ki.. suwun

  9. Hingga akhirnya terlihat Ki Ajar Pelandongan dengan sangat terpaksa membenturkan tongkatnya menahan terjangan senjata cakra yang keras dan sangat kuat.

    Krakk !!!!

    Luar biasa daya kekuatan tenaga Adipati Menak Koncar itu.

    Terlihat tongkat kayu Ki Ajar Pelandongan patah dua !!!

    Nampaknya tongkat kayu milik Ki Ajar Pelandongan yang terbuat dari bahan kayu pilihan itu tidak mampu menahan daya bentur cakra di tangan Adipati Menak Koncar itu.

    Bahkan terlihat senjata cakra itu terus melaju membentur dada Ki Ajar Pelandongan yang masih terkejut mendapatkan tongkat kayunya terpatah dua.
    Achhh..!!!

    Terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat dari mulut Ki Ajar Pelandongan yang merasakan tulang dadanya remuk seperti diterjang oleh dua ekor kerbau jantan secara bersamaan.

    Terlihat Ki Ajar Pelandongan rebah ditanah tidak jauh dari dua buah patahan tongkatnya, dihadapannya berdiri Adipati menak Koncar masih dengan menggenggam sebuah senjata cakra di tangan kanannya.

    “Mudah-mudahan lukanya dapat disembuhkan”, berkata Adipati menak Koncar dalam hati merasa kasihan menatap tubuh orang tua itu yang terbaring pingsan tak bergerak.

    Manakala Adipati Menak Koncar menyapu pertempuran di halaman itu, dilihatnya para prajurit Kadipaten sudah dapat meredam perlawanan para bajak laut, mengepung satu dua orang yang masih tetap bertahan tidak mau menyerah.

    Dan pandangan mata Adipati Menak Koncar beralih ketiga tempat terpisah, melihat Gajahmada, Mahesa Semu dan Putu Risang masih bertempur menghadapi lawannya masing-masing.

    “Nampaknya lawan mereka adalah orang-orang yang sangat tangguh”, berkata Adipati Menak Koncar dalam hati penuh kecemasan berharap kawan-kawannya dapat memenangkan pertempurannya.

    “Sungguh sebuah jurus permainan pedang yang sangat sempurna”, berkata Adipati menak Koncar dalam hati manakala pandangannya tertuju kearah Mahesa Semu yang tengah menghadapi Ki Gagakpati.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Adipati menak Koncar, ternyata memang jurus permainan pedang Mahesa Semu sangat begitu sempurna membuat Ki Gagakpati susah sekali untuk dapat mendekati Mahesa Semu untuk bertempur secara jarak pendek sehubungan senjata yang digunakannya adalah sebatang keris yang kalah panjang dengan pedang di tangan Mahesa Semu.

    Akibatnya Ki Gagakpati lebih banyak mendapatkan tekanan-tekanan yang sangat berbahaya mengancam jiwanya.

  10. selamat malam kadank sedoyo

    selamat malam mingguan

  11. “Setan mana telah merasuki orang ini”, berkata Ki Gagakpati dalam hati yang merasa kewalahan mendapatkan serangan Mahesa Semu yang datang seperti guruh ombak yang bergulung-gulung tak pernah berhenti.

    Terlihat Mahesa Semu sedikit tersenyum melihat wajah orang tua dihadapannya itu yang seperti telah kehilangan akal, kemanapun berkelit selalu saja pedangnya seperti terus mengikuti dan mengejarnya.

    Tranggg !!!!

    Dalam sebuah serangan, Mahesa Semu sengaja membenturkan keris di tangan Ki Gagakpati dengan pedangnya, mencoba mengukur kekuatan tenaga inti sejati lawannya itu.

    “Gila !!”, berkata Ki Gagakpati tidak sadar merasakan tangannya seperti panas sebagai pertanda tenaga lawannya jauh lebih kuat darinya.

    “Aku belum gila, wahai orang tua”, berkata Mahesa Semu berdiri tegap memberikan kesempatan kepada lawannya menyempurnakan keseimbangannya.

    “Tenagamu sangat kuat, jurus pedangmu juga sangat hebat, aku orang tua ingin tahu siapa gerangan gurumu”, berkata Ki Gagakpati yang sudah dapat berdiri dengan sempurna.

    “Aku hanya cantrik biasa dari Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Semu dengan suara datar.

    “Ternyata aku telah berhadapan dengan saudara seperguruan dari Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Aku orang tua merasa tersanjung mengenal jurus-jurus kalian”, berkata Ki Gagakpati yang berubah penuh hormat berbicara kepada Mahesa Semu.

    “Kita belum menyelesaikan pertempuran ini”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati.

    “Tidak perlu dilanjutkan, aku orang tua sudah mengakui keunggulanmu. Aku yakin bahwa kamu sengaja tidak mengungkapkan seluruh kemampuan dirimu. Dan aku masih ingin tetap hidup di sisa umurku ini”, berkata Ki Gagakpati sambil melemparkan kerisnya ketanah jauh dari jangkauannya.

    “Aku akan meminta Adipati Menak Koncar untuk meringankan hukumanmu”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati yang telah menyerahkan dirinya tidak melawan manakala diikat oleh seorang prajurit Kadipaten Lamajang.

    Berdiri seorang diri, tatapan Mahesa Semu telah beralih kearah dua pertempuran yang terpisah masih tengah berlangsung dengan sangat serunya antara Gajahmada menghadapi Ki Banyak Arad an Putu Risang yang tengah menghadapi seorang Brahmana bernama Ki Jatiwangi.

    “Pantas baginda Raja Sanggrama Wijaya begitu mempercayai anak muda itu”, berkata Mahesa Semu dalam hati tertegun memperhatikan sepak terjang Gajahmada yang dilihatnya sangat kuat dan tangguh dapat mengimbangi gempuran lawannya.

    Sebagaimana yang disaksikan oleh Mahesa Semu, ternyata Gajahmada memang masih dapat menghadapi gempuran dan terjangan trisula Ki banyak Ara yang tajam berkilat-kilat itu.

    • Waduh…, baru tahu kalau ada rontal yang berguguran. Semalam wira wiri nganter Nyaine. Pagi diajak Kiaine ke kebun, macul kebun.

      Matur suwun.

  12. Matur suwun Ki Dalang.

  13. Sementara itu ditempat terpisah di halaman yang cukup luas itu, terlihat dua naga kanuragan lainnya yaitu Putu Risang dan Ki Jatiwangi yang masih tengah bertempur dimana keduanya seperti bersepakat untuk tidak menggunakan senjata apapun, meski begitu pertempuran keduanya terlihat sangat mengerikan dengan saling melepaskan ajian kesaktian masing-masing.

    Dari tubuh Ki Jatiwangi terlihat asap menguap sebagai pertanda begitu kuatnya hawa panas membakar sekeliling dirinya kemanapun dirinya bergerak.

    Namun Brahmana tua itu merasa sangat penasaran sekali melihat lawannya yang masih muda itu seperti tidak merasakan apapun, biasanya orang yang pernah menghadapinya akan berusaha menghindarinya karena hawa panas yang dipancarkannya dapat merusak kulit dan daging, sementara Putu Risang tetap menghadapinya dengan perlawanan jarak pendek tanpa merasakan panas sedikitpun.

    Ki Jatiwangi nampaknya belum mengenal dengan siapa dirinya bertempur, tidak mengenal bahwa orang muda itu adalah seorang ketua Padepokan Pamecutan dari Balidwipa, sebuah padepokan tempat para pangeran dan para raja Balidwipa menimba ilmu keluhuran budi dan kanuragan di padepokan itu.

    Tingkat tataran ilmu Putu Risang saat itu memang telah begitu tinggi, apalagi dirinya telah mendapatkan sebuah rahasia olah pernafasan dari seorang pertapa dari gunung Wilis yang telah membuatnya mempunyai tenaga inti hawa murni berlipat-lipat layaknya seorang yang telah bertapa ratusan tahun lamanya.

    Makanya ketika menghadapi pancaran panas yang keluar dari tubuh Brahmana tua itu, Putu Risang tidak terpengaruh sedikitpun, karena tenaga inti hawa murninya telah melindunginya dengan sendirinya, meredam pancaran panas yang mengepungnya.

    Angin pukulan Ki Jatiwangi yang sangat luar biasa itu tidak berpengaruh apapun pada diri Putu Risang, sebaliknya angin pukulan dari Putu Risang yang diam-diam telah meningkatkan tataran ilmunya telah mulai terlihat menyusahkan diri Ki Jatiwangi.

    Ternyata Putu Risang telah melambari dirinya dengan tenaga pancaran hawa dingin yang amat kuat, begitu dinginnya hingga membuat Ki Jatiwangi harus bergerak mundur beberapa langkah.

    Hingga akhirnya dalam sebuah gebrakan, dengan menerapkan ilmu meringankan tubuhnya yang sangat tinggi, terlihat Putu Risang telah bergerak dengan amat cepat sekali tak tertandingi oleh mata dan gerakan Brahmana tua itu.

    Desss…!!!

    Sebuah pukulan tangan Putu Risang telah langsung menghantam dada Brahmana tua itu.

    Brahmana tua itu seperti merasakan tertumbuk sebuah batu cadas yang amat kuat, seketika nafasnya seperti putus. Brahmana tua itu terlihat terlempar sekitar sepuluh langkah dari tempatnya semula, bergulingan di tanah yang berumput basah itu.

    Sorak sorai terdengar dari para prajurit Kadipaten Lamajang yang menyaksikan pertempuran itu.

    • Siip…..
      Kamsiaaaaaaaaaa…………..!!!!!!
      Lama tidak teriak, lega rasanya….

      • horeee,,,,,,,,

  14. Mendengar suara sorak dan sorai para prajurit Kadipaten Lamajang telah membuat Ki Banyak Ara yang tengah menghadapi Gajahmada menjadi semakin murka, telah melampiaskan semua kemurkaannya itu dengan menghentakkan sebuah serangan yang sangat dahsyat kearah Gajahmada.

    Trisula Ki Banyak Ara yang tajam berkilat itu telah bergerak dengan amat cepatnya seperti lidah seekor naga yang menyemburkan lidah apinya kearah Gajahmada.

    Gajahmada yang menyadari bahwa angin serangan trisula itu sangat berbahaya terlihat telah berkelit tidak kalah cepatnya.

    Meski telah melambari dirinya dengan ajian sakti kekebalan setara Ajian Lembu Sekilan, Gajahmada tetap berhati-hati untuk tidak tersentuh angin serangan trisula yang sangat panas itu. Dan sambil berkelit Gajahmada langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya lewat hentakan dan lecutan cambuk pendeknya yang menimbulkan kilatan cahaya lidah halilintar yang menggelegar menghimpit dada dan perasaan lawannya.

    “Permainan cambuk anak nakal itu ternyata sudah meningkat begitu pesatnya”,berkata Adipati Menak Koncar kepada Putu Risang didekatnya yang tidak berkedip menyaksikan pertarungan antara Gajahmada dan Ki Banyak Ara.

    Mendengar perkataan Adipati Menak Koncar, terlihat Putu Risang tidak menjawab apapun, hanya sedikit tersenyum. Sebagai seorang guru penuntun, nampaknya Putu Risang sudah sangat mengenal tataran kemampuan Gajahmada dimana suara menggelegar yang keluar dari hentakan cambuk muridnya itu sebagai pertanda bahwa muridnya belum mengungkapkan puncak ilmunya yang sebenarnya.

    Sebagaimana yang dipikirkan oleh Putu Risang, dalam pertempuran itu Gajahmada memang belum melepaskan puncak tataran ilmunya, hanya sekedar mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawannya. Namun tetap saja menimbulkan kekaguman siapapun yang melihatnya, dimana tubuh Gajahmada terlihat berkelebat dan berkelit dengan cepatnya menghindari setiap serangan trisula Ki Banyak Ara yang yang terus memburunya dengan sesekali memberikan serangan balasan untuk sekedar mengurangi tekanan.

    Ki Banyak Ara yang gusar melihat kekalahan orang-orangnya telah bertambah-tambah kegusaran hatinya mendapatkan kenyataan bahwa dirinya tidak dapat melumpuhkan lawannya yang masih sangat muda itu.

    Bersamaan dengan kegusaran hatinya itu, dengan rasa penasaran yang sangat Ki banyak Ara telah merambati puncak kesaktiannya.

    Semua mata tertegun melihat Ki Banyak Ara yang dengan tiba-tiba sekali berdiri dan berputar begitu cepat seperti sebuah gasing bambu diatas sumbunya. Begitu cepatnya hingga tubuhnya telah menghilang, hanya kilatan cahaya trisulanya yang bergerak melingkar menyelimuti seluruh tubuhnya dan terus berputar semakin cepat lagi membentuk sebuah angin pusaran yang semakin luas melebar dan bergerak hingga akhirnya lingkaran kabut itu telah menutupi tubuh Gajahmada.

    • gimana nasib Gajahmada yang telah terkepung dalam lingkara kabut kilatan cahaya trusula Ki Banyak Ara itu ??

      • dijawab gak ya…..
        he he he ….

    • Tanya

  15. Berdebar perasaan Putu Risang penuh kecemasan melihat Gajahmada telah hilang masuk dalam lingkaran kabut kilatan trisula Ki Banyak Ara.

    Apa yang terjadi atas diri Gajahmada ?

    Ilmu puncak Ki Banyak Ara itu yang dapat membuat kabut kilatan itu memang sebuah ilmu yang sangat langka. Kedahsyatan ilmu sakti itu bukan hanya dapat menutup pandangan musuh, bahkan dapat mencabik-cabik daging tubuh siapapun yang telah masuk kedalam lingkaran kabut itu.

    Beruntung bahwa Gajahmada telah berjaga-jaga melambari dirinya dengan tameng kekebalan yang berasal dari hawa murni tenaga inti sejatinya yang sudah berlipat-lipat kekuatannya sebagaimana Putu Risang yang sama-sama memiliki rahasia ilmu kitab sakti sang pertapa dari Gunung Wilis yang ternyata adalah ayah kandungnya itu.

    Dan daging tubuh Gajahmada masih utuh tak tergores sedikitpun meski telah masuk didalam lingkaran kabut kilatan trisula yang diciptakan oleh ilmu sakti Ki Banyak Ara itu.

    Tak seorangpun yang tahu apa yang terjadi atas diri Gajahmada karena terhalang kabut kilatan itu, namun tidak bagi penglihatan Ki banyak Ara pencipta ilmu langka itu.

    Ki Banyak Ara seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, telah melihat Gajahmada tidak bergeming tercabik-cabik ajian ilmu saktinya itu. Dan baru kali ini ada orang yang mampu bertahan dari serangan ilmu kabut kilatan trisulanya yang sangat dahsyat itu, yang membuat tidak habis pikirnya adalah bahwa orang itu masih sangat muda, memang sukar dipercaya oleh siapapun bahwa semuda Gajahmada sudah memiliki tenaga hawa murni inti sejati yang sangat tinggi yang hanya dimiliki oleh para pertapa tua, kilatan kabut yang amat tajam itu tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

    Gajahmada masih tegaj berdiri dengan tangan masih menggenggam cambuk yang ujungnya terjulur menyentuh tanah.

    “Anak muda ini dapat bertahan dari ajian ilmu andalanku, tapi akan kucoba untuk membunuh semua orang dihalaman ini”, berkata Ki Banyak Ara sambil mengerahkan ilmu kesaktiannya memperlebar dan memperluas jarak jangkauan kabut kilatannya.

    Berdebar perasaan Gajahmada yang telah mulai dapat membaca pikiran jahat Ki Banyak Ara untuk membunuh semua orang yang berada di halaman rumah itu. Gajahmada telah membayangkan tubuh para prajurit yang tidak akan sempat menjauh akan terkena ajian ilmu sakti Ki Banyak Ara yang tengah di cekam keputus asaan itu.

    Perlahan kabut kilatan itu terlihat sudah semakin meluas, sudah hampir menjelajah sebagian halaman rumah itu.

    “Menyingkir dari kabut itu !!”, berteriak Putu Risang kepada para prajurit agar berlari secepatnya menghindari dari sergapan kabut ciptaan KIi Banyak Ara itu.

    Berserabutan para prajurit berlari menjauhi kabut kilatan yang sangat berbahaya itu.

    • Ups…..
      Satpam juga harus menyingkir dari kabut itu, hawa dingin menusuk kulit. Kudu nyungsep dalam selimut nih.
      He he he …
      Sepak bola MUN vs TOT sudah usai, rudit ah….

      • pagi hari berusaha masuk ke lingkaran kabut itu, tapi sudah keburu pudar diterjang panas mentari………..
        Kamsiiiaaaa Pak Dhalang…….

        • …kabut yang keluar dari perut…..tentu tidak mudah pudar….

  16. Malang sungguh nasib tujuh orang tawanan yang tidak sempat lari menghindar karena masih dalam keadaan terluka parah.

    Tercekam perasaan Gajahmada yang melihat ketujuh orang itu langsung hancur tercabik-cabik terperangkap dalam kabut kilatan yang diciptakan oleh ilmu sakti Ki Banyak Ara.

    Darah Gajahmada seperti berdesir menahan amarah yang telah meluap-luap tidak menyangka begitu kejamnya diri Ki Banyak Ara yang telah melepaskan ilmunya. Hilanglah kesabaran dan kesadaran Gajahmada yang telah bermaksud menawan orang tua itu hidup-hidup.

    Terlihat tubuh Gajahmada berdiri tegak menegang, tiba-tiba saja tangannya telah bergerak mengangkat cambuknya tinggi-tinggi.

    Degg…..

    Sebuah lecutan sendal pancing telah dilepaskan oleh Gajahmada.
    Suara lecutan cambuk yang tidak menggelegar itu ternyata mempunyai kekuatan yang sungguh sangat hebat dan sangat luar biasa. Meski ujung cambuknya tidak mengenai tubuh Ki Banyak Ara, namun getaran tenaganya telah menghimpit detak jantungnya yang langsung pecah tak bergerak lagi.

    Terlihat tubuh Ki Banyak Ara runtuh jatuh di bumi.
    Bersamaan dengan robohnya Ki Banyak Ara, seketika itu pula lingkaran kabut kilatan ilmu sakti Ki Banyak Ara telah lenyap seperti tertelan bumi.

    “Orang tua itu telah mencari kematiannya sendiri, sementara ujung cambukmu adalah tali takdir yang tiada seorangpun mampu menghentikannya”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada yang masih berdiri mematung memandang tubuh Ki Banyak Ara yang rebah di tanah sudah tidak bernyawa lagi.

    Sementara itu sang mentari pagi di atas rumah kediaman Ki Randu Alam sudah terlihat semakin naik, beberapa orang prajurit terlihat tengah meyiapkan sebuah pemakaman bagi para korban pertempuran.

    Tidak lama berselang, Ki Banyak Wedi terlihat muncul bersama para warga Kademangan.

    “Terima kasih, akhirnya aku dapat kembali ke rumahku sendiri”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Adipati Menak Koncar diatas panggung pendapa rumahnya.

    “Aku berharap semoga Ki Banyak Wedi mendapatkan kedamaian di rumah ini, dikelilingi kesetiaan dan cinta para warga Kademangan Randu Agung yang memerlukan pengayoman seorang seperti Ki Banyak Wedi”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ki Banyak Wedi yang ditemani oleh cucunya, Kuda Anjampiani.

    “Kesetian dan cinta itulah yang membuat hidupku merasa punya arti”, berkata Ki Banyak Wedi dengan wajah penuh kebahagiaan sambil memandang jauh ke ujung dinding pagar rumahnya, terus menerawang jauh menjelajahi pematang sawah yang sangat luas hingga menyentuk kaki biru perbukitan Semeru, Bromo dan Tengger yang seperti raksasa bisu menjaga bumi Lamajang sepanjang masa.

    • Kamsiiiiaa Pak Dhalang……..
      ternyata kabutnya baru bisa hilang disiang bolong ini…..

    • Kuda Anjampiani masih dendamkah soal Andini?

  17. Protes pak Dalang … lha kok Ki Banyak Ara simpel amat matinya hehehe … sementara para pengedar narkoba yang nunggu eksekusi malah pada main layangan alias tarik-ulur. Tau begitu para pengedar itu di-sendalpancing saja habis perkara!
    Tadinya saya sudah membayangkan skenario sampai detik-detik akhir eksekusi oleh Gajahmada terhadap Ki Banyak Ara akan begitu dramatis bagaikan gugurnya Eyang Bisma oleh Srikandi di Perang Bharatayudha, ada penyesalan dan permintaan maaf kepada kembarannya Ki Banyak Wedi dan insyaf pada akhirnya.
    Nggak taunya cuma … degg … game-over!
    Tapi apa pun dan bagaimana pun penyelesaian akhir, terima kasih pak Dalang yang telah berhasil memancing emosiku hahaha … matur nuwun!

  18. Suwun Ki Dalang

  19. hahahahaha… ki dalang udah udah gak sabar, cerita PKPM masih puannjang..

    • Pak Dhalaaaannnnnn…….rontale pundi….???

  20. Dan pagi itu suasana di Kademangan Randu Agung terlihat begitu cerah, para petani telah bekerja turun di sawah ladangnya, para gembala asyik bersenandung di bawah pohon rindang sambil mengawasi kerbau mereka yang tengah berkubang.

    Disaat seperti itulah terlihat pasukan Adipati Menak Koncar telah bergerak meninggalkan Kademangan Randu Agung untuk kembali ke Kadipaten Lamajang.

    Gerak pasukan itu terlihat berjalan lambat, karena mereka harus membawa para tawanan dan orang-orang yang terluka.

    Tak ada hambatan apapun dalam perjalanan mereka, hingga manakala matahari mulai tergelincir diujung tepi barat bumi, mereka telah memasuki batas Kadipaten Lamajang dari sebelah selatan.

    Warga Kadipaten Lamajang menyambut mereka dengan perasaan suka cita dalam sebuah upacara selamatan yang cukup meriah hingga jauh malam.

    Keesokan harinya, Mahesa Semu yang telah ditugaskan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa itu telah memanggil Ki Gagakpati yang sudah menjadi tawanan mereka.

    “Aku sudah menjadi tawanan tuan, kemerdekaan jiwaku sepenuhnya berada di tangan tuan”, berkata Ki Gagakpati kepada Mahesa Semu yang memanggilnya di pendapa agung istana Kadipaten Lamajang.

    “Aku hanya ingin mendengar sedikit penuturan Ki Gagakpati mengenai sebuah gerakan yang saat ini berpusat di hutan gunung Raung, bukankah Ki Gagakpati sendiri berasal dari Padepokan Gunung Raung ?”, bertanya Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati dengan bahasa yang sangat santun, tidak berusaha melakukan tekanan.

    Adipati Menak Koncar, Putu Risang dan Gajahmada yang ada bersama di pendapa sebagai pendengar terlihat menahan nafasnya, ikut menunggu penuturan Ki Gagakpati tentang sebuah gerakan yang telah dipusatkan di sekitar hutan Gunung Raung itu.

    Setelah berdiam sejenak, terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang merasa tidak ada alasan baginya untuk menutup rapat tentang sebuah pergerakan yang berpusat di sekitar hutan Gunung Raung itu.

    “Aku mengenal Ki Banyak Ara ketika kami sama-sama menuntut ilmu dengan seorang Brahmana yang bernama Ki Secang di Padepokannya yang berada di kaki Gunung Raung”, berkata Ki Gagakpati memulai penuturannya.”Sudah begitu lama Ki Banyak Ara menghilang dari Padepokan kami, hingga akhirnya dua tahun lalu telah muncul kembali membawa banyak mimpi untuk membangun sebuah kerajaan di timur Jawadwipa ini, dan guruku Ki Secang telah mendukungnya dengan membantu membangun sebuah pusat kekuatan di sekitar hutan Gunung Raung itu”, berkata kembali Ki Gagakpati.

    “Ada berapa orang yang bergabung di sana ?”, berkata Putu Risang ikut bertanya.

    “Saat ini yang sudah bergabung bersama kami ada sekitar enam ratus orang”, berkata Ki Gagakpati menjawab pertanyaan Putu Risang.

    • Kamsiiaaaa Pak Dhalang……….
      Bonus untuk ulang taun Ki Arema mana….???

  21. “Berita tentang kematian Ki Banyak Ara pasti akan sampai juga di telinga Ki Secang. Menurut Ki Gagakpati, apakah Ki Secang akan tetap melanjutkan impian Ki Banyak Ara itu ?, bertanya kembali Putu Risang kepada Ki Gagakpati.

    Mendapatkan sebuah pertanyaan dari Putu Risang, terlihat Ki Gagakpati mengangkat wajahnya memandang kearah Putu Risang, namun tidak lama, orang tua itu sudah kembali menundukkan wajahnya.

    Semua orang di atas pendapa itu sepertinya dengan penuh kesabaran menantikan jawaban dari Ki Gagakpati yang masih menunduk menatap lantai kayu panggung pendapa di hadapannya itu.

    Perlahan terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang, menegakkan kepalanya kembali.

    “Ki Banyak Ara telah berjanji untuk berbagi kekuasaan kepada guruku. Kematian Ki Banyak Ara tidak akan menghentikan gerak kekuatan yang sudah tergalang cukup lama. Kematian Ki Banyak Ara hanya sebuah peralihan kendali. Tanpa kehadiran Ki Banyak Ara, pekan depan enam ratus orang yang telah ditempa oleh guruku sendiri akan bergerak menggempur Kadipaten Blambangan. Kabar kematian Ki Banyak Ara akan menjadi kabar gembira untuk guruku, karena tidak perlu berbagi kekuasaan kepada siapapun, selain dirinya sendiri”, berkata Ki Gagakpati mengakhirinya dengan sebuah tarikan nafas panjang.

    “Maaf, bukan maksudku untuk menyangsikan semua perkataan Ki Gagakpati”, berkata Putu Risang dengan suara perlahan namun cukup didengar oleh semua orang yang ada di pendapa itu, terutama Ki Gagakpati sendiri. “Yang ingin kutanyakan mengapa Ki Gagakpati mengatakan semua ini kepada kami ?”, berkata kembali Putu Risang melanjutkan ucapannya kepada Ki Gagakpati.

    Terlihat Ki Gagakpati menarik nafas panjang memandang dengan cara memicingkan matanya kearah Putu Risang.

    “Hati kecilku selama ini memang tidak sejalan dengan pikiran guruku, namun aku tidak kuasa untuk menentangnya, karena rasa hormatku kepadanya. Selama ini aku berharap ada sebuah kekuatan yang dapat menghentikannya, membuka akal budinya untuk kembali menemukan jalan kebenaran sebagaimana awal membangun padepokannya di kaki gunung Raung itu, memberikan cahaya penerang hati kepada semua orang yang datang untuk berguru dan menuntut ilmu, bukan mengejar dahaga tahta kekuasaan duniawi yang tak akan terpuaskan itu”, berkata Ki Gagakpati.

    Sejenak semua orang diatas pendapa itu terdiam, perkataan Ki Gagakpati nampaknya sebuah kejujuran hatinya.

    “Terima kasih telah menjawab semua pertanyaan kami”, berkata Mahesa Semu kepada Ki Gagakpati mencoba memecahkan suasana.

    Demikianlah, setelah tidak ada lagi yang dapat dipertanyakan kepada Ki Gagakpati, orang tua itupun dipersilahkan untuk kembali ketempatnya semula.

    • Kamsiiaaaa Pak Dhalang……….
      Bonus untuk ulang taun Ki Arema yaaaa….???

      • Karena Ki Gagakpati telah menjawab semua pertanyaan maka akan diberi hadiah rontal 4 lembar dan kehadiran Ki Sanepo akan menyebabkan gogroknya 4 rontal lagi……..
        Harak begitu to Pak Dhalang…..???

  22. siip

  23. Setelah Ki Gagapkati telah meninggalkan pendapa Agung istana Kadipaten Lamajang, pembicaraan tertuju kepada rencana penyerangan pasuan Ki Secang ke Kadipaten Blambangan.

    “Pekan depan mereka akan menyerang Kadipaten Blambangan”, berkata Adipati Menak Koncar dengan sikap penuh kekhawatiran.

    “Berapa jumlah prajurit pengawal Kadipaten Blambangan yang dapat menahan serangan pasukan Ki Secang ?”, bertanya Putu Risang kepada Adipati Menak Koncar.

    “Perkiraanku saat ini ada sekitar tiga ratus orang prajurit”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Berapa jumlah prajurit Majapahit yang saat ini berada di Bandar pelabuhan Banyuwangi ?”, bertanya Putu Risang kepada Mahesa Semu.

    “Ada sekitar seratus orang dibawah kendali Adityawarman”, berkata Mahesa Semu kepada Putu Risang.

    “Artinya ada empat ratus orang prajurit yang dapat menjaga Kadipaten Blambangan dari dalam, sementara dua ratus orang prajurit Majapahit akan tiba menjepit mereka dari arah belakang”, berkata Putu Risang mencoba mengusulkan sebuah siasat perang menghadapi pasukan Ki Secang.

    “Aku punya dua ratus orang prajurit yang siap membantu”, berkata Adipati menak Koncar menawarkan prajuritnya dari Lamajang.

    “Itu akan menjadi lebih baik lagi”, berkata Mahesa Semu merasa gembira dengan penawaran Adipati Menak Koncar itu. “Hari ini juga aku akan mengutus dua orang prajurit ke Kadipaten Blambangan agar mereka mempersiapkan diri menghadapi serangan pasukan Ki Secang”, berkata Mahesa Semu.

    Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Semu telah memanggil dua orang prajurit Majapahit yang ada di Kadipaten Lamajang untuk segera berangkat ke Blambangan dan Banyuwangi mengabarkan tentang pasukan Ki Secang yang akan melakukan penyerangan.

    “Mbokyu Endang Trinil pasti akan khawatir menunggu Kakang dan Rangga Seta begitu lama”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang.

    “Mbokyumu sudah terbiasa kutinggal berpekan-pekan, aku dan Rangga Seta sering pergi mengembara ke berbagai tempat di Balidwipa”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada sambil tersenyum.

    “Sedari pagi aku belum melihat anak itu ?”, bertanya Gajahmada kepada Putu Risang mengenai putranya, Rangga Seta.

    “Sejak pagi tadi sudah diajak Supo Mandagri ke pasar Kadipaten”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

    “Atas nama pimpinan prajurit Majapahit di timur Jawadwipa ini, kami mengucapkan rasa terima kasih atas kesediaanmu membantu perjuangan kami”, berkata Mahesa Semu kepada Putu Risang.

    “Berjuang bersama para prajurit Majapahit adalah sebuah kebanggaan”, berkata Putu Risang.

  24. Dan malam itu bumi Lamajang begitu lengang, gerimis turun sejak senja.

    Terlihat empat orang berkuda berjalan diatas jalan Kadipaten Lamajang dibawah hujan gerimis yang belum juga surut.
    Hingga di sebuah persimpangan jalan mereka terlihat berpisah, dua orang penunggang kuda telah menganbil jalan berbelok kearah utara, sementara dua orang berkuda lainnya mengambil jalan lurus kearah timur.

    Ternyata keempat orang berkuda itu adalah Gajahmada, Supo Mandagri, Mahesa Semu dan Putu Risang.

    Dipersimpangan jalan itu, Gajahmada dan Supo Mandagri yang mengambil arah utara untuk menghimpun seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu masih berada di beberapa hutan Lamajang. Rencananya Gajahmada akan membawa seratus orang prajurit Majapahit itu lewat jalur laut yang akan muncul dari arah utara Kadipaten Blambangan.

    Sementara itu dua orang berkuda lainnya adalah Mahesa Semu dan Putu Risang yang telah mengambil arah lurus ke utara. Mereka berdua rencananya akan menjemput seratus orang prajurit Majapahit yang saat itu berada disekitar pantai Panarukan. Mahesa Semu akan membawa pasukannya itu menuju hutan Waringin, sebuah hutan yang berada di sebelah barat kaki gunung Raung. Mahesa Semu telah sepakat dengan Adipati Menak Koncar yang akan membawa pasukannya sendiri keesokan harinya untuk berkumpul di hutan Waringin itu.

    Dan keesokan harinya, Adipati Menak Koncar telah menepati janjinya telah menghimpun dua ratus orang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang untuk bergabung membantu pasukan Majapahit yang akan menghadapi pasukan Ki Secang.

    Sebagaimana diketahui bahwa penguasa Kadipaten Blambangan saat itu adalah Adipati Menak Jingga, putra kedua Mahapatih Majapahit, saudara kandung Adipati Menak Koncar sendiri. Itulah sebabnya Adipati Menak Koncar memimpin sendiri dua ratus pasukannya bergabung dengan pasukan Majapahit menghadapi pasukan Ki Secang yang akan menyerang wilayah saudara kandungnya itu.

    Demikianlah, empat ratus prajurit telah bergerak dari tempat yang berbeda menuju arah Blambangan. Seratus prajurit di pimpin oleh Gajahmada melewati jalur laut, seratus prajurit Majapahit bergerak dari arah pantai Panarukan di pimpin oleh Mahesa Semu menuju hutan Waringin menunggu dua ratus prajurit Adipati Menak Koncar yang akan bergabung bersama di hutan waringan yang berada di sebelah barat kaki gunung Raung itu.

    Sementara itu disebuah tempat lapang yang terkurung rimba pepohonan kayu yang sangat lebat, di bawah kaki Gunung Raung terlihat sebuah bangunan rumah dengan halaman muka yang sangat luas dikelilingi dinding pagar kayu yang cukup tinggi, pendapa banguna rumah itu terlihat menghadap arah terbitnya matahari. Itulah Padepokan Ki Secang, seorang Brahmana yang berilmu sangat tinggi yang dipercayakan oleh Ki Banyak Ara untuk menempa enam ratus orang sebagai cikal bakal kekuatan baru di bumi timur Jawadwipa itu.

    • Suwun

    • Suwun Ki Dalang, kalah cepat dengan Ki Pak Satpam.

      • Satpam dilawan….
        NGalong

    • Ki Dalang … kenapa musti pisah jalan kalo mereka berempat sama-sama ke utara hehehe … oh ternyata ada salah ketik Ki, yang belok ke utara itu Gajahmada dan Supo Mandagri, sedang Putu Risang dan Mahesa Semu lurus ke arah timur ke arah Panarukan. Benar nggak Ki?

      • hahaha, benerrrr…saking asyiknya menyiapkan pawai ogoh-ogoh, hehehe

  25. matur nuwun ki…

  26. Hari itu, matahari sudah tergelincir jauh di barat bumi sembunyi di balik asap kepulan kawah gunung Raung. Angin diawal senja itu berdesir cukup keras memutar-mutar daun ranting pepohonan bergerak kekiri dan kekanan.

    “Mereka telah menguasai jurus gelar perang ciptaanku sendiri”, berkata seorang lelaki tua dalam hati diatas panggung pendapa sambil memandang enam ratus orang tengah berlatih di halaman muka pendapa itu yang cukup luas.

    Rambut putih yang terurai panjang dikepala lelaki tua itu hanya diikat oleh sebuah kain kepala. Pakaian lelaki tua itu adalah sebuah dres panjang, sebagai pertanda bahwa lelaki itu itu adalah seorang Brahmana.

    Lelaki tua itu adalah Ki Secang, pemilik padepokan di lereng Gunung Raung, guru Ki Gagakpati dan Ki Banyak Ara.
    Letak Padepokan yang terasing dari lingkungan sekitarnya telah membuat Padepokan itu benar-benar sebuah Padepokan yang tertutup.

    Ibarat sebuah busur, Ki Secang adalah sebuah anak panah yang sudah terlanjur dilepaskan oleh Ki Banyak Ara. Ki Secang hanya tahu bahwa manakala bulan dilangit sudah segaris tipis adalah sebuah pertanda bahwa saatnya dirinya turun gunung menguasai Kadipaten Blambangan.

    Seandainya Ki Secang mengetahui bahwa Ki Banyak Ara sudah tiada lagi di dunia ini, seandainya Ki Secang telah mengetahui bahwa jalur perdagangan di timur Jawadwipa sudah tidak lagi dalam kendali dan kekuasaan Ki banyak Ara, mungkin Ki Secang akan berpikir ulang membangun sebuah kerajaan di timur Jawadwipa itu.

    Namun keterasingan Padepokan itu benar-benar tertutup dari berita apapun, enam ratus orang di padepokan Ki Secang yang sudah sangat terlatih itu adalah enam ratus anak panah yang telah ditarik tali busurnya siap meluncur dan menerjang Kadipaten Blambangan.

    Gerak langkah enam ratus orang lelaki yang dipisahkan dalam beberapa kelompok itu terlihat begitu serasi dan begitu sangat terlatih telah membuat hati dan perasaan Ki Secang di atas panggung pendapanya terlihat berbinar-binar penuh kebanggaan hati.

    Hati dan perasaan lelaki tua itu seperti melambung terbang.

    “Mereka adalah para prajuritku yang akan membawaku di puncak jabatan sebuah kerajaan besar di Jawadwipa ini”, berkata dalam hati Ki Secang dengan sebuah senyum terlukis dibibirnya. “Jabatan apakah yang tepat untukku ini ?”, berkata kembali Ki Secang dalam hati masih dalam alam hayalnya sendiri.”Menjadi seorang pendeta suci di istana ?, tidak,tidak, tidak, membosankan hanya sibuk mencari hari upacara”, berkata kembali Ki Secang dalam hatinya sendiri.”Seorang Mahapatih, jabatan itulah yang paling tepat untukku, hari-hariku dalam sanjungan dan kehormatan semua orang”, berkata kembali Ki Secang dalam hati yang masih dalam dunia hayalnya sendiri.

    • Kamsiiiiaaaaa Pak Dhalang……..
      Ikut Ki Secang berkhayal ah………

  27. Dan diujung senja, halaman muka Padepokan Ki Secang sudah tidak terlihat lagi seorangpun disana, nampaknya semua orang sudah masuk ke barak masing-masing untuk beristirahat.

    Diujung senja itu pula, ribuan kalelawar terlihat telah keluar dari sarangnya terbang melintas diatas langit padepokan Ki Secang dan terus menyusuri kaki gunung Raung menuju arah timur perbatasan kota Kadipaten Blambangan yang sudah terlihat mulai sepi dan terus terbang menuju arah laut pantai timur Jawadwipa.

    Jalan di Kota Kadipaten Blambangan diujung senja itu memang sudah terlihat sepi dan lengang, mungkin semua orang sudah berada di rumahnya masing-masing. Dijalan yang telah menjadi sepi dan lengang itu, tiba-tiba saja terlihat seorang penunggang kuda yang melarikan kudanya dari arah timur. Penunggang kuda itu terlihat berhenti tepat di depan pintu gerbang istana Kadipaten Blambangan dan langsung meloncat dari punggung kudanya.

    Melihat dari wajahnya, nampaknya penunggang kuda itu seorang yang masih sangat muda belia

    “Selamat datang tuan muda”,berkata seorang prajurit penjaga istana Kadipaten Blambangan menyapa orang itu yang sepertinya sudah sangat mengenalnya.

    “Terima kasih”, berkata orang muda itu dengan penuh kesopanan menyerahkan tali pengekang kudanya kepada prajurit penjaga itu yang memintanya.

    “Kuantar tuan muda menghadap Adipati Menak Jingga”, berkata prajurit penjaga lainnya yang datang menghampirinya.

    Maka terlihat orang muda itu sudah berjalan menuju arah pendapa agung istana Kadipaten Blambangan bersama seorang prajurit penjaga yang mengantarnya.

    “Aku akan memberitahukan kedatangan tuan muda”, berkata prajurit penjaga itu ketika mereka sudah berada di depan anak tangga pendapa agung istana Kadipaten Blambangan.

    “Aku akan menunggu”, berkata orang muda itu kepada prajurit penjaga yang terlihat terus berjalan kearah pintu butulan.

    Tidak begitu lama orang muda itu menunggu, karena tidak lama kemudia dilihatnya pintu pringgitan terbuka lebar dan muncul seorang lelaki yang berwajah bersih dengan sebuah kumis tebal dan bercambang halus menyambung dengan janggutnya yang hitam pendek terawat rapi. Seorang lelaki yang tampan, begitulah pujian setia orang yang pertama kali bertemu dengannya yang ternyata adalah Adipati Minak Jingga, putra kedua Empu Nambi, Mahapatih Majapahit.

    “Selamat datang, wahai putra Patih Mahesa Amping”, berkata Adipati Menak Jingga menyapa anak muda itu yang ternyata adalah Adityawarman, putra Patih Mahesa Amping dari Kerajaan Kediri.

    Terlihat Adityawarman telah menaiki anak tangga pendapa dan diterima oleh Adipati menak Jingga di ruang pringgitan.

    • Kamsiaaaaa Pak Dhalang……..
      Selanjutnya apakah yang dibicarakan oleh mereka berdua…?
      Apakah Adityawarman bercerita bahwa di tlatah Kediri banyak warga yang membuat tahu dan gethuk pisang yang enak…..??
      Lalu Menak Jingga gantian bercerita bahwa di mBanyuwangi banyak warga yang berjualan rujak soto dan ada juga buah durian yang dagingnya berwarna merah…..
      Hanya Pak Dhalanglah yang tau…….

      • ..juga pecel rawon…nasi tlethong…eh..tepong !

  28. Suwun Ki Dalang, monggo dilanjut.

  29. Bukan main terkejutnya Adipati Menak Jingga manakala Adityawarman membawa berita tentang rencana penyerangan Ki Secang dari Gunung Raung. Nampaknya utusan Mahesa Semu sudah tiba di Banyuwamgi menyampaikan beritanya kepada Adityawarma yang menjadi pimpinan seratus prajurit Majapahit yang mengamankan jalur perdagangan di Bandar pelabuhan Banyuwangi.

    “Sangat licik sekali, mereka melakukan penyerangan bertepatan di hari raya Nyepi”, berkata Adiati Menak Jingga kepada Adityawarman.

    “Kakang Mahesa Semu meminta kita menjebak mereka, membiarkan pihak lawan masuk ke Kadipaten Blambangan ini”, berkata Adityawarman sambil menyampaikan beberapa pesan lainnya dari Mahesa Semu yaitu akan datang empat ratus pasukan gabungan prajurit Majapahit dan prajurit dari Lamajang yang akan menjepit pasukan musuh, juga beberapa pertanda dan kata sandi yang akan digunakan oleh para prajurit gabungan itu untuk keseragaman menghadapi pihak musuh di hari raya Nyepi itu.

    “Aku setuju dengan siasat Kakang Mahesa Semu itu, lebih sempurna lagi kita akan melakukan upacara sebelum hari raya Nyepi dengan sebuah upacara yang sangat meriah di kota Kadipaten Blambangan ini agar pihak musuh mengira seakan-akan kita belum mengetahui rencana penyerangan mereka”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman sambil menjabarkan apa saja yang harus mereka persiapkan menghadapi pihak lawan di hari raya Nyepi itu.

    “Secara bertahap aku akan menyusupkan seratus orang prajurit Majapahit bergabung bersama di Kota Kadipaten Blambangan ini”, berkata Adityawarman kepada Adipati Menak Jingga.

    “Warga kota Kadiapten Blambangan ini memang tidak perlu mengetahui apa yang akan terjadi di hari raya Nyepi itu, biarlah mereka tetap tenang berlaku nyepi semedi di rumah masing-masing. Sementara para prajurit telah bersiap siaga ditempat-tempat tertentu membuat sebuah kejutan menyambut kedatangan pihak musuh”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman.

    Demikianlah, setelah tidak ada hal lagi yang perlu di bicarakan, Adityawarman terlihat berpamit diri kembali ke Bandar pelabuhan Banyuwangi.

    “Besok kita akan bertemu kembali di pantai Banyuwangi, aku dan semua warga kota Kadipaten Blambangan ini akan melakukan upacara Melasti, menyucikan segala sarana persembahyangan pura di laut pantai Banyuwangi”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adtyawarman yang mengantarnya sampai di pendapa Agung istana Kadipaten Blambangan.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menyiapkan benih-benih muda, para ksatria penjaga Majapahit di masa yang akan datang”, berkata Adipati Menak Jingga dalam hati sambil memandang Adityawarman yang telah menuruni anak tangga pendapa dan terus melangkah di keremangan malam menuju arah pintu gerbang pintu istana Kadipaten Blambangan.

  30. Dan pagi itu, tiga hari menjelang hari raya Nyepi.

    Terlihat semua warga Kadipaten Blambangan yang berada di kota maupun dukuh-dukuh terpencil telah berduyun-duyun keluar dari rumahnya dan bergabung di jalan utama Kadipaten Blambangan menuju arah pantai Banyuwangi.

    Ternyata mereka warga Kadipaten Blambangan itu tengah melakukan sebuah upacara Melasti, sebuah upacara penyucian alat dan sarana persembahyangan yang ada di pura masing-masing. Sebagaimana biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka menyucikan alat dan sarana persembahyangannya di pantai Banyuwangi.

    Gelombang iring-iringan warga Kadipaten Blambangan itu terlihat panjang menuju pantai Banyuwangi dengan mengenakan pakaian serba putih sebagai perlambang kesucian hati mereka.

    “Para warga Kadipaten Blambangan nampaknya tidak ada yang menyadari bahwa itulah upacara Melasti terakhir dalam hidupnya”, berkata Ki Secang penuh kegembiraan hati kepada seorang kepercataannya yang telah melakukan pengamatan sepanjang hari keadaan di sekitar Kadipaten Blambangan itu.

    Keesokan harinya, orang kepercayaan Ki Secang itu kembali melakukan pengamatan di sekitar Kadipaten Blambangan dan mendapatkan kenyataan bahwa tidak ada seorangpun warga Kadipaten Blambangan yang mengungsi sebagai pertanda bahwa para warga memang belum mengetahui akan terjadi sebuah penyerangan di kota Kadipaten mereka. Orang kepercayaan Ki Secang hanya melihat setiap keluarga tengah melakukan upacara Buta Yadnya dengan pencaruan di rumah masing-masing, sebuah upacara selamatan berharap dilindungi seluruh anggota keluarganya dari sang Buta Kala.

    Hingga keesokan harinya lagi, kembali orang kepercayaan Ki Secang tidak melihat gelombang pengungsian, yang dilihat adalah sebuah suasana hiruk pikuk warga yang tengah melakukan upacara pengerupukan, sebuah upacara pegusiran sang Buta Kala dengan cara menyebarkan nasi tawur di berbagai tempat di rumah dan di pekarangan mereka serta dibarengi dengan memukul tetabuhan dan kentongan.

    Dan ketika sore harinya, orang kepercayaan Ki Secang masih berada di Kadipaten Blambangan melihat setiap orang di Kademangan masing-masing telah menyiapkan ogoh-ogoh untuk diarak berkeliling Kadipaten Blambangan. Atas perintah Adipati Menak Jingga, arak-arakan pawai ogoh-ogoh itu berakhir di ujung barat perbatasan Kadipaten Blambangan untuk membakar bersama semua ogoh-ogoh yang telah mereka arak berkeliling kota Kabupaten Blambangan itu.

    Asap tebal terlihat mengepul tinggi diudara dari beberapa ogoh-ogoh yang terbakar, para warga yang hadir begitu gembira menikmati suasana pembakaran ogoh-ogoh itu sebagai ungkapan mereka terlepas dan terbebas dari sang Buta Kala.

    • Terima kasih……besok nonton ogoh ogoh

    • Kamsiiiiiaaaaaa……………………aaaaa …..aaaaaaa……aaaaaa…….!!!!!

  31. Ternyata perintah pelaksanaan pembakaran yang dilakukan di batas barat Kadipaten Blambangan adalah kecerdikan Adipati Menak Jingga yang telah mengetahui bahwa pasukan Ki Secang pastinya sudah berada disekitarnya,melihat saat-saat pembakaran itu.

    “Hari ini mereka merasa terbebas dari prahara sang Buta Kala, namun besok mereka pastinya tidak akan dapat membendung prahara Ki Secang”,berkata Ki Secang sambil terbahak-bahak sangat senang sekali melihat para warga Kadipaten Blambangan sepertinya tidak mengetahui aka nada sebuah bencana besar tengah mengintai mereka.

    Justru sebanarnya pasukan Ki Secang sendiri yang sudah masuk dalam perangkap jebakan permainan Adipati Menak Jingga yang sangat cerdik itu.

    “Mereka pasti tidak akan berani melawan matahari terbit, mereka pasti datang setelah matahari tergelincir diatas kepala”, berkata Adipati Menak Jingga kepada Adityawarman yang menemaninya hingga jauh malam diserambi rumahnya,istana Kadipaten Blambangan.

    Diam-diam Adityawarman mengakui kecerdasan Adipati Blambangan yang sangat tampan itu yang memperhitungkan pasukan musuh yang datang dari arah barat itu.

    Sementara itu, meski telah dipastikan bahwa pasukan Ki Secang akan melakukan penyerangan keesokan harinya, tetap saja Adipati Menak Jingga telah menempatkan beberapa orang prajuritnya ditempat tersembunyi mengamati pihak lawan yang sudah berada disekitar hutan belukar batas kota Kadipaten Blambangan sebelah barat itu.

    “Beristirahatlah kamu, biarlah aku yang berjaga-jaga”, berkata seorang prajurit Blambangan kepada kawannya disebuah tempat persembunyian mereka menawarkan giliran waktu berjaga.

    “Aku tidak bisa tidur, selalu membayangkan hari raya Nyepi besok dimana aku tidak berkumpul bersama anak dan istriku di rumah”, berkata kawannya.

    “Bila besok kita tidak ikut laku Nyepi, tahun depan masih ada hari raya Nyepi lagi”, berkata prajurit itu mencoba menentramkan hati dan perasaan kawannya itu.

    “kamu benar, tapi aku memang benar-benar tidak bisa memejamkan mataku”,berkata kawannya.

    “Bila demikian akulah yang tidur lebih dulu, dan bangunkan aku bila saatnya tiba”, berkata prajurit itu sambil mencari tempat sandaran di sebuah batu besar.

    Tidak lama kemudian, prajurit itu sudah tertidur pulas seperti tidak punya beban apapun. Sementara kawannya dengan penuh rasa tanggung jawab terus berjaga-jaga mengamati keadaan disekitar batas kota Kadipaten Blambangan sebelah barat

    Perlahan, warna langit malam mulai memudar kemerahan. Bumi terlihat begitu bening, lengang dan sepi, dan sayup terdengar suara ayam jantan dari sebuah tempat yang amat jauh.

    Perlahan, sang surya bangkit mengintip diujung timur pantai Banyuwangi menebarkan cahaya kuning keemasan diatas tanah persawahan, di atas jalan tanah dingin berembun yang masih lengang dan sepi.

    • Kamsiaaaaa……….!!!!!

      • Senthong kiri sudah ditutup, mulai ngisi lapak Senthong tengah.

  32. Suwun Ki Dalang, sambil nunggu perang brubuh setelah sholat dhuha.

  33. Hari itu bertepatan dengan hari raya Nyepi, terlihat hampir semua tempat telah menjadi sepi dan lengang. Kota Kadipaten Blambangan seperti kota mati, semua warganya telah mengurung dirinya di dalam rumah tanpa geni, tanpa melakukan pekerjaan apapun selain laku Nyepi dengan tapa, brata, yoga dan semedhi.

    Adipati Menak Jinga hari itu memang telah merahasiakan kepada warganya, bahwa hari itu aka nada sebuah penyerangan yang di lakukan oleh sebuah kekuatan yang berasal dari padepokan Ki Secang yang bermukim di hutan lereng timur Gunung Raung.

    Adipati Menak Jingga memang tidak ingin warganya mengetahui, telah memberikan kesempatan warganya penuh kedamaian hati memasuki hari raya Nyepi, hari tahun baru dalam lembaran semangat baru memperbaharui jiwa dan kesucian hati.

    Kelengangan suasana di kota Kadipaten Blambangan terus berlanjut hingga matahari telah menerangi tanah persawahan, menerangi jalan tanah dan pekarangan rumah.

    Hingga akhirnya manakala matahari telah tepat diatas kepala, kelengangan itu sudah mulai berubah, ditandai dengan telah bergeraknya sebuah pasukan besar yang dipimpin langsung oleh Ki Secang terlihat tengah menuruni hutan di dekat perbatasan kota Kadipaten Balambangan sebelah barat.

    “Aku datang sebagai sang Buta Kala”, berkata Ki Secang sambil menatap pintu gerbang gapura yang berdiri menjulang tinggi seperti raksasa bisu menatap semesta.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Secang, mereka memang telah datang mengganyang kota Kadipaten Blambangan sebagai sang Buta Kala, terlihat hampir semua pasukannya bertelanjang dada dengan wajah dan seluruh tubuhnya bercoreng moreng lumpur kawah Gunung Raung, sungguh sangat meyeramkan siapapun yang kebetulan melihatnya, sebuah pasukan sang Buta Kala tengah mendekati pintu gerbang gapura batas kota Blambangan sebelah barat itu.

    Demikianlah, tepat disaat matahari diatas kepala, pasukan menyeramkan itu telah memasuki gerbang gapura kota, memasuki jalan yang lengang menuju arah istana Kadipaten Blambangan.

    “Sang dewa Wisnu telah memberikan karunianya, sebentar lagi wilayah ini akan berada di dalam genggamanku”, berkata Ki Secang dalam hati yang berjalan di muka melihat suasana jalan yang begitu lengang, tidak seorangpun dijumpainya, merasa begitu mudah mendapatkan apa yang dicita-citakannya itu, menguasai kota kadipaten Blambangan.

    Namun angan-angan Ki Secang seperti buyar pecah, karena pendengarannya yang amat tajam itu telah mendengar suara berdesing yang berasal dari kakan kiri jalan yang sangat sepi itu.

    Berdebar dan berguncang perasaan Ki Secang penuh rasa terkejut yang sangat manakala menyadari bahwa suara berdesing itu berasal dari suara anak panah, suara ratusan anak panah yang dilepaskan secara serempak bersamaan.

    Ki Secang tidak punya kesempatan sama sekali untuk mengingatkan seluruh pasukannya selain melindungi dirinya sendiri.

  34. Pasukan Ki Secang seketika itu telah dihujani ratusan anak panah, puluhan orang tidak bisa melindungi dirinya sendiri, telah terluka tertancap anak panah. Pasukan itu seperti telah bercerai berai menyelamatkan diri dari hujan panah yang deras meluncur dari kanan kiri jalan.

    Belum habis masa terkejutnya, tiba-tiba saja muncul dari kanan kiri mereka sebuah pasukan besar langsung menerjang pasukan sang Buta kala itu.

    “Hancurkan pasukan sang Buta Kala”, berteriak Adipati Manak Koncar memberi semangat di barisan paling depan memimpin pasukannya dari sebelah kanan.

    “Mereka hanya manusia biasa”, berteriak Adityawarman yang memimpin pasukannya dari sebelah kiri jalan memberikan semangat dan keberanian pasukannya bahwa yang mereka hadapi adalah manusia biasa yang telah dicoreng morengkan lumpur kawah.
    Lompata para prajurit gabungan itu telah langsung menerjang pasukan Ki Secang dari arah kiri dan kanan jalan.

    Seperti limpahan air banjir, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu telah tumpah menjepit pasukan Ki Secang.
    Perang brubuhpun tak terelakkan lagi, denting suara senjata terdengar begitu bising bersama suara sumpah serapah yang sudah tak terkendalikan lagi telah menjadi suara peperangan di hari Nyepi itu.

    “kendalikan diri kalian, hadapi mereka dengan jurus tempur cakar elang”, berteriak Ki Secang mencoba membangun pasukannya yang telah terhimpit itu dengan sebuah jurus tempur ciptaannya sendiri yang dinamakannya sebagai jurus tempur cakar elang.

    Hebat luar biasa teriakan Ki Secang itu, tiba-tiba saja pasukannya seperti berubah pecah memisahkan diri membentuk beberapa kelompok kecil terdiri dari sekitar lima belas orang.

    Hebat luar biasa tandang pasukan Ki Secang yang telah membangun berbagai kelompok tempur itu, begitu kuat menerjang lawannya dan begitu kuat untuk di tembus karena satu sama lain telah saling melindungi. Benar-benar seperti sekumpulan elang yang turun bersama-sama dengan cakar siap menerkam mangsanya.

    Nampaknya Ki Secang telah begitu sempurna menciptakan jurus tempur itu, melengkapi pasukannya dengan dua senjata cakra di kedua tangan mereka. Benar-benar seperti seekor elang dengan dua cakar kakinya yang sangat kuat, tajam dan kokoh.

    Seketika itu juga pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu terdesak mundur beberapa langkah, bahkan ada yang terlempar terkena amukan sepasang cakra di tangan para pasukan Ki Secang yang sangat terlatih itu.

    “Sang Naga terbang mendamaikan bumi”, berteriak Adipati Menak Jingga mengumandangkan sebuah kata yang sudah sangat dikenal oleh pasukan gabungan itu.

    Ternyata Adipati menak Jingga telah mengumandangkan sebuah jurus tempur ciptaan ayahnya, Empu Nambi. Sebuah jurus tempur kebanggaan para prajurit Majapahit dan prajurit Blambangan saat itu.

  35. di Monas katanya ada ogoh-ogoh, hehehe

  36. Kok ya bareng hari Nyepi? Suwun Ki Dalang.

  37. Teriakan Adipati Menak Jingga mengumandang begitu kerasnya, nampaknya telah dilontarkan oleh sebuah tenaga sejati yang sangat kuat.

    Seketika itu juga, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit itu telah menyusun sebuah barisan tempur dalam beberapa kelompok kecil sekitar sepuluh orang setiap kelompoknya.

    Begitu serasi setiap kelompok itu bergerak meliuk-liuk membingungkan lawannya karena seperti tiada celah terbuka kelemahan sedikitpun.

    Perang yang sangat indah, sebuah tontonan pertempuran yang sangat terpadu antara dua barisan tempur yang sama-sama tangguhnya. Saling merobek, saling mencengkeram, mematuk dan menjepit.

    Ternyata jurus tempur cakar elang itu memang sengaja di ciptakan oleh Ki Secang untuk menghadapi jurus tempur ciptaan Empu Nambi yang sangat terkenal itu.

    Sukar sekali untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara mereka dalam pertempuran itu, kedua pasukan yang bertempur itu telah menunjukkan kemahirannya dengan jurus tempur masing-masing.

    Hingga tiba-tiba sekali pendengaran Ki Secang yang amat terlatih itu telah mendengar suara panah sanderan berdesing dengan amat kuatnya membelah udara siang yang amat panas itu.

    “Apa yang ingin mereka perbuat dengan panah sanderan itu ?”, bertanya-tanya Ki Secang dalam hati.

    Belum sempat Ki Secang mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja pasukannya di kejutkan dengan suara ramai penuh bergelora dari arah utara.

    Ternyata suara bergelora itu berasal dari seratus orang prajurit Majapahit dari arah utara yang memang telah menunggu pertanda panah sanderan diatas langit tempat persembunyian mereka.

    Bukan main terkejutnya Ki Secang dan pasukannya mendapatkan sebuah gempuran lain dari pasukan Majapahit yang baru datang itu.

    Sebagaimana pasukan gabungan bertempur, pasukan Majapahit yang baru datang juga telah langsung menerjang musuhnya dengan jurus tempur yang sama, jurus tempur Naga terbang turun ke bumi.

    Dan pertempuran terlihat menjadi lebih seru lagi, lebih dahsyat dan menegangkan dari sebelumnya.

    Beruntung bahwa pasukan Ki Secang masih menang dalam jumlah, sehingga tidak mempengaruhi jalannya pertempuran meski pihak lawan telah mendapatkan bantuan tenaga baru yang datang dari arah utara itu.

    Namun tiba-tiba saja pendengaran Ki Secang yang amat tajam itu kembali mendengar suara desingan panah sandera membelah udara. Kali ini dua panah sanderan meluncur bersamaaan melesat begitu cepatnya.

    “Gila, apakah ada bantuan pasukan lainnya ?”, berkata Ki Secang dalam hati menduga-duga.

  38. tidak menyangka, ternyata hari ini hari raya Nyepi, hehehe kok bebarengan sama serangan pasukan Ki Secang di kota Kadipaten Blambangan ?

    cuma kebetulan yang enggak disengaja.

    Ada cerita aneh, ketika menukis tentang peperangan Ranggalawe. Saya didatangi Ranggalawe dalam sebuah mimipi yang mengatakan bahwa akhir cerita bukan seperti yang ada dalam pikiran saya, Keesokan harinya langsung saya delete ulang dua lembar tulisan yang telah siap saya kirim, hehehe. terus menghayal kembali dengan sebuah akhir peperangan yang berbeda.

    Syukur….tidak didatangi Ranggalawe lagi, hehehe

    • awas, kalau ceritanya keliru nanti didatangi Menak Jingga lho.

  39. Ternyata dugaan Ki Secang tidak meleset sedikitpun, panah sanderan itu memang untuk memanggil sebuah pasukan besar yang akan muncul dari sebakah barat Kadipaten Blambangan,
    Benar saja, tidak lama berselang telah muncul sekitar tiga ratus pasukan gabungan, para prajurit Majapahit dan para prajurit dari Lamajang.

    Sorak sorai para prajurit yang tengah bertempur melemahkan pihak pasukan Ki Secang menyambut kedatangan pasukan yang baru datang itu.

    Semangat baru dan nafas baru, itulah yang ingin di tampilkan dalam siasat peperangan menghadapi pasukan Ki Secang itu.Sebuah siasat yang telah disepakati bersama antara Mahesa Semu, Putu Risang dan Adipati Menak Koncar. Sebuah siasat perang dengan sebuah perencanaan yang sangat matang.

    Dan pasukan baru itu telah langsung bergabung menerjang lawan mereka. Tenaga dan nafas baru mereka benar-benar telah dapat menekan pertahanan pihak lawan.

    Namun pasukan Ki Secang adalah sebuah pasukan yang sudah dilatih cukup lama, telah dilatih menghadapi bermacam tekanan dan juga terlatih dalam hal ketahanan. Meski secara jumlah mereka sudah menjadi kalah, tetap saja mereka adalag sebuah pasukan yang sangat sulit untuk di taklukkan.

    Maka pertempuran menjadi semakin seru, semakin dahsyat dan semakin menegangkan.

    Sementara itu beberapa orang warga kota Kadipaten Blambangan telah melihat pertempuran dari balik pintu rumah masing-masing. Berdebar hati dan perasaan mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat. Beberapa orang kepala keluarga dengan penuh bijaksana menentramkan perasaan anggota keluarganya sendiri dengan pesan untuk terus berdoa kepada Gusti Yang Maha Agung agar diberikan keselamatan dan kemenangan menghadapi sang angkara murka.

    “Berdoalah kalian tanpa terputus kepada Gusti Yang Maha Agung memohon perlindungannya”, berkata seorang lelaki tua kepada istri, anak gadis dan menantunya.

    Ternyata doa para warga yang telah melihat pertempuran itu begitu tulus dan murni memohon harap dihadapan sang pencipta semesta alam agung dan alam alit itu.

    Dan Gusti Yang Maha Agung nampaknya telah mendengar permohonan doa para warga kota Kadipaten Blambangan, mengabulkannya dengan caranya sendiri.

    Dan pertanda kasih Gusti Yang Maha Agung itu terdengar dari suara menggelegar yang bersumber dari dua orang bercambuk di tengah-tengah pertempuran itu.

    Putu Risang dan Gajahmada secara sadar telah mengakui keunggulan jurus tempur pasukan musuh yang sangat tangguh itu. Mereka berdua nampaknya telah mendapatkan pikiran yang sama, sebuah cara yang sama untuk mengalahkan barisan jurus tempur lawan yang sangat kuat dan tangguh itu, yaitu memecahkan barisan mereka.

    Demikianlah, Gajahmada dan Putu Risang dengan cambuk pendeknya terlihat telah dihentakkan menciptakan suara yang menggelegar menciutkan hati dan perasaan siapapun yang mendengarkannya.

  40. mantap ki, suwun…

  41. Luar biasa memang lecutan ujung cambuk Gajahmada dan Putu Risang yang bergerak seperti punya mata, kemanapun bergerak selalu menemui korbannya. Dua tiga orang dalam barisan tempur pasukan Ki Secang telah terlempar terluka parah terkena ujung cambuk Gajahmada dan Putu Risang.

    Akibatnya, telah membuat gerak kelompok barisan itu menjadi rusak tak terkendali lagi.

    Disaat itulah barisan pasukan gabungan dalam jurus tempur Sang naga terbang turun ke bumi langsung merobek-robek barisan kelompok musuh yang sudah terpecah itu menjadi semakin carut marut buyar dan dengan sangat mudahnya ditaklukkan.

    Dan dalam waktu yang tidak begitu lama, enam kelompok barisan musuh sudah dapat ditaklukkan oleh pasukan gabungan itu, para prajurit Majapahit, Lamajang dan Blambangan.

    Ternyata Ki Secang telah melihat apa yang terjadi dalam pertempuran itu, telah mengetahui sumber kehancuran barisan kelompok tempurnya.

    “Dua orang bercambuk”, berkata Ki Secang dalam hati dengan kemarahan yang memuncak.

    Terlihat tubuh Ki Secang berkelebat mendekati salah satu orang bercambuk yang dianggapnya sebagai sumber kekacauan itu.
    Ternyata Ki Secang telah memilih Gajahmada, orang bercambuk yang dilihatnya lebih dekat dari tempatnya berdiri.

    “Cambukmu telah mengacaukan barisan tempurku”, berkata Ki Secang dengan mata yang sangat tajam memandang kearah Gajahmada.

    “Apakah ada yang salah dengan cambukku ini ?”, berkata Gajahmada kepada orang tua itu dengan wajah sedikit tersenyum seakan tidak gentar sedikitpun dengan tatapan matanya yang terlihat begitu tajam menggetarkan hati.

    “Anak muda, kamu terlalu percaya diri, sayangnya umurmu sudah sangat dekat diujung trisulaku ini”, berkata Ki Secang sambil bergerak dengan begitu cepatnya menjulurkan trisulanya yang sepertinya ingin secepatnya menghabisi anak muda dihadapannya itu demi untuk secepatnya menyelamatkan barisan tempurnya itu.

    Namun orang tua itu telah salah menduga, telah salah menempatkan anak muda di depannya itu sebagai orang biasa yang sekali terjang akan dapat melukainya.

    Terkejut bukan main Ki Secang mendapatkan anak muda itu ternyata dapat bergerak dengan begitu cepatnya menghindari serangan pertamanya, bahkan telah membalas dengan membuat serangan balik dengan sebuah ayunan cambuk melingkar mengecar arah pinggang Ki Secang.

    Wuutt……

    Suara angin ayunan cambuk Gajahmada bergerak dengan tenaga yang amat kuat.

    • Suwun…. (dengan suara lirih, takut membangunkan orang terlelap dalam tidurnya)

    • Suwun, kalah dhisik karo Ki Pak Satpam

  42. Kembali Ki Secang harus melompat mundur.
    Sementara matanya telah melihat satu kelompok tempurnya kembali dapat di pecahkan oleh seorang bercambuk lainnya.

    “Aku harus menyelesaikan anak setan ini”, berkata Ki Secang dalam hati dengan perasaan geram ingin secepatnya merobohkan satu orang bercambuk di hadapannya itu.

    Terlihat Ki Secang sudah bergerak kembali menerjang dengan trisula terhunus kea rah dada Gajahamada. Serangan Ki Secang berlipat-lipat kekuatan dan kecepatannya dari serangan sebelumnya.

    Keinginan Ki Secang untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran menghadapi anak muda itu ternyata kalis seperti air hujan yang turun di gurun pasir, hilang tanpa jejak.

    Ternyata anak muda yang dihadapinya itu terlalu alot dan sangat licin seperti seekor belut tidak mudah ditaktukkan.

    Berkali-kali Ki Secang menyusun banyak serangan, selalu saja serangannya dapat di elakkan oleh Gajahmada dan kalis begitu saja.
    Sementara dilihatnya dua kelompok tempurnya kembali telah dapat dipecahkan oleh orang bercambuk lainnya.

    Sorak sorai para prajurit gabungan tiap kali dapat menaklukkan kelompok tempur telah membuat Ki Secang naik darah hingga ke ubun-ubun rasanya.

    Kembali terlihat serangan trisula di tangan Ki Secang datang berputar dan bergulung-gulung berharap dapat langsung merobohkan lawan mudanya itu.

    Tapi kembali Gajahmada dapat mengaliskan serangan yang amat dahsyat, selalu dapat mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawannya. Bahkan Gajahmada telah balas menyerang dengan tidak kalah cepat dan kuatnya, telah berlipat-lipat kecepatan dan kekuatannya seiring dengan laju gerak tataran Ki Secang yang sudah langsung merambat ke puncak ilmunya, kepuncak kekuatannya yang sebenarnya.

    Dan Ki Secang sudah benar=benar putus asa melihat pasukannya yang lambat tapi pasti akan mengalami kehancuran, sementara dirinya tidak juga dapat mengalahkan lawan yang semula dianggap tidak berarti itu.

    Dan Ki Secang pada akhirnya tidak lagi memperdulikan pasukannya, yang dipedulikan adalah mengakhiri nyawa anak muda yang menjadi salah satu kehancuran pasukannya itu.

    Kilatan cahaya ketajaman senjata trisula di tangan Ki Secang terlihat berkilat-kilat menyelubungi seluruh tubuh Ki Secang dan telah bergerak seperti sebuah anak panah yang ditarik dari tali busurnya dengan tenaga yang amat kuat.

    Ki Secang telah meluncur dengan sangat cepat dan kuat kearah Gajahmada.

  43. Gajahmada masih merasa yakin bahwa kecepatan dirinya bergerak masih berada lawannya, namun tetap saja telah melambari dirinya dengan ajian kekebalan setara ajian kebo sekilan yang sangat tangguh itu hanya untuk sekedar berjaga-jaga karena sedikit saja kelengahan akan berakibat nyawanya melayang tercabik-cabik trisula ditangan Ki Secang yang sangat luar biasa itu.

    Luar biasa serangan Ki Secang itu, telah bergerak begitu cepat kearah Gajahmada.

    Namun Gajahmada adalah seorang yang telah mempunyai ilmu rangkap yang sangat sempurna telah langsung bergerak menghindari terjangan Ki Secang, dan sambil menghindar telah membuat tekanan yang tidak kalah berbahayanya telah menghentakkan cambuk pendeknya dengan cara sandal pancing.

    Gelegar !!!

    Terdengar suara hentakan cambuk pendek Gajahmada telah membuat Ki Secang melompat jauh menghindarinya. Namun meski Ki Secang dapat menghindari serangan cambuk pendek Gajahmada itu, suara hentakan cambuk itu masih dirasakan telah menghimpit dadanya.

    Ki Secang menyadari bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu mempunyai ilmu kekuatan yang sangat dahsyat bagai seorang pertapa yang telah bersemadhi ratusan tahun lamanya.

    Sementara itu terdengar kembali sorak sorai suara para prajurit gabungan yang telah dapat menaklukkan kelompok tempur terakhir pasukan Ki Secang.

    “Aku akan membunuh kalian semua !!”, berteriak Ki Secang dengan suara yang bergulung-gulung yang dihentakkannya dengan tenaga saktinya.

    Terlihat beberapa prajurit bergulingan tidak mampu menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.

    “Ajian ilmu gelap ngampar”, berkata Putu Risang dalam hati sambil berdiri mematung melihat kearah pertempuran Ki Secang dan Gajahmada yang belum juga usai itu.

    Dan kali ini Putu Risang melihat Ki Secang bukan hanya melepas ajian ilmu gelap ngamparnya lewat suaranya, tapi kali ini telah melepas ajian ilmu gelap ngamparnya lewat kilatan cahaya ketajaman trisulanya yang sudah menyelimuti dirinya, diputar dengan gerakan sangat cepat dan kuat.

    “kabut kilatan cahaya trisula”, berkata Gajahmada dalam hati teringat kepada Ki banyak Ara yang telah melakukan gerakan yang sama, gerakan kabut kilatan trisula yang sangat dahsyat dan berbahaya itu.

    Dan kali ini ilmu yang sangat langka itu telah di hentakkan oleh guru Ki Banyak Ara, pasti berlipat-lipat kedahsyatannya.

    Ternyata dugaan Gajahmada tidak meleset, kabut kilatan trisula di sekitar tubuh telah semakin melebar.

    “Selamatkan diri kalian !!”, berkata Putu Risang mengingatkan para prajurit untuk menghindari dirinya dari pusaran kabut kilatan trisula yang sudah semakin jauh melebar.

    Riuh suasana dan suara para prajurit yang berlarian menjauhi lingkaran kabut kilatan senjata trisula itu.

    • Ups…
      tadi sudah posting komen lewat hp, kok tidak masuk ya.

      Matur suwun Pak Dhalang

      PC padepokan sedang rawat inap di bengkel
      tidak bisa buka buku besar
      sementara belum bisa jepret rontal

      ngapunten njih

  44. ki dalang, lanjut nggih.. suwun ki..

  45. Lega hati dan perasaan Gajahmada yang melihat para prajurit dan para tawanan telah keluar dari lingkaran kabut kilatan trisula yang sangat berbahaya itu sebagaimana yang pernah dilihat sendiri ketika berhadapan dengan Ki Banyak Ara.

    “Kekuatan kabut Ki Secang pasti berlipat-lipat ganda”, berkata dalam hati Gajahmada memperkirakan kekuatan kabut kilatan trisula yang diciptakan oleh Ki Secang.

    Berpikir seperti itu, Gajahmada sudah meningkatkan daya kekebalan yang melambari tubuhnya sambil menatap lingkaran kabut yang terus bergerak yang sebentar lagi akan menjangkau dirinya.

    Dan Gajahmada masih berdiri tegap dengan senjata cambuk yang menjurai ketanah manakala lingkaran kabut itu telah menjangkaunya.
    Bukan main terkejutnya Ki Secang melihat lingkaran kabut kilatan trisulanya tidak merusak kulit Gajahmada sedikitpun.

    “Hanya dewa yang mampu menahan ilmuku”, berkata Ki Secang dalam hati seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sendiri bahwa Gajahmada masih berdiri tegak ditempatnya.

    Berbeda ketika berhadapan dengan Ki Banyak Ara, kali ini Gajhmada telah dapat mengendalikan perasaannya sendiri.

    “Setiap orang pernah salah jalan, mudah-mudahan aku dapat menunjukkan arah kepada Ki Secang untuk kembali menuju arah kebenaran”, berkata Gajahmada dalam hati mencoba tetap berpikir jernih tidak mengikuti perasaannya.

    Dan dengan pikiran yang jernih, terlihat Gajahmada telah memutar cambuknya perlahan, terus diputarnya lagi tiada henti semakin lama semakin cepat berputar mengelilingi tubuhnya.

    Dan lama kelamaan putaran kabut Gajahmada telah membentuk putaran angin yang menyelubungi tubuhnya.
    Luar biasa, putaran angin yang diciptakan oleh Gajahmada telah dapat menghalau kabut kilatan cahaya trisula yang diciptakan oleh Ki Secang.

    Perlahan tapi pasti, kabut kilatan cahaya yang sangat berbahaya itu kian menipis, hingga akhirnya hilang sama sekali.

    Kabut kilatan trisula itu sudah benar-benar sirna, tubuh Ki Secang sudah dapat terlihat lagi masih terus memutar trusulanya.
    “Gila !!”, berkata Ki Secang sambil melompat menjauh dari tempatnya berdiri.

    Ternyata putaran angin yang diciptakan oleh Gajahmada telah menekan dengan amat kuatnya mendorong putaran angin kilatan trisula ciptaan Ki Secang kearah tuannya sendiri.

    Terlihat Ki Secang berdiri mematung merasa telah terlepas dari ilmu kabutnya sendiri.

    • Kamsiaaaa Pak Dhalang…….
      Dua hari absent langsung digrojog rontal nganti mripat pedhes kakehan maca……he…he…he….

  46. Pak Satpam……..senthonge wes uyel2an….

    • ..Pak Satpam lum bisa jepret rontal…….

  47. Putu Risang yang melihat pertempuran itu berdecak penuh kekaguman.

    “Gajahmada telah menyempurnakan ilmunya ditingkat yang sangat tinggi”, berkata Putu Risang dalam hati memuji tingkat ilmu muridnya itu.

    “Mudah-mudahan Gajahmada dapat mengekang perasaannya”, berkata kembali Putu Risang dalam yang melihat Gajahmada masih berdiri ditempatnya tidak berusaha mengejar Ki Secang yang baru saja terlepas dari ancaman ilmu kabutnya sendiri.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Putu Risang, Gajahmada memang masih berdiri ditempatnya dengan tidak lagi memutar cambuknya.

    “Ki Secang, lihatlah sekelilingmu, seluruh pasukanmu telah dapat kami lumpuhkan. Apakah kamu masih tetap ingin melanjutkan pertempuran ini ?”, berkata Gajahmada kepada Ki Secang, menawarkannya untuk menyerah.

    Ki Secang memang telah melihat sendiri bahwa seluruh pasukannya sudah dapat dilumpuhkan oleh pihak lawan, dilihat pula ratusan pasukan lawan masih dengan senjata terhunus tengah berdiri disekelingnya. Namun tidak juga membuat perasaan Ki Secang dingin menciut, bahkan sebaliknya telah membakar kemarahannya dalam keputus asaan dan kekcewaan yang sangat.

    “Jangan sombong telah dapat menaklukkan ilmu kabutku, masih ada ilmu simpananku yang lain”, berkata Ki Secang kepada Gajahmada sambil menggerakkan trisula ditangannya mengarah ke tubuh Gajahmada.

    Luar biasa, terlihat kilatan cahaya kuning keemasan meluncur kearah Gajahmada.

    Meski telah melambari dirinya dengan ilmu ajian lembu sekilan tingkat tinggi, Gajahmada belum ingin mencoba membenturkannya. Gajahmada hanya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, melesat cepat menghindari sambaran kilat yang berasal dari ilmu sakti Ki Secang yang lain.

    Namun belum sempat Gajahmada menjejakkan kakinya, sebuah sambaran kilat telah memburunya. Beruntung Gajahmada sudah memiliki tataran ilmu meringankan tubuh yang nyaris amat sempurna,
    seperti terbang saja layaknya Gajahmada langsung melenting kesamping.

    Namun sambaran kilat seperti terus memburunya kemanapun diri Gajahmada bergerak menghindar.

    Dan jalan tanah kota Kadipaten Blambangan yang menjadi kancah pertempuran itu terlihat sudah terbongkar terkena sasaran sambaran kilat ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat itu. Tiga buah pohon tumbang terkena sambaran ilmu sakti Ki Secang yang meleset.
    Terlihat beberapa prajurit harus berlari menjauh, takut terkena salah sasaran.

    Melihat dampak dari serangan ilmu sakti Ki Secang yang amat dahsyat itu telah membuat Gajahmada harus berpikir keras, bagaimana caranya melumpuhkan Ki Secang tanpa harus membunuhnya.

    Nampaknya Gajahmada telah menemukan jawabannya, terlihat dirinya tidak lagi hanya berhindar, terlihat sudah langsung membuat tekanan, membuat serangan balasan dengan cambuk pendeknya.

    • mau tahu tataran kesaktian Pak Satpam sudah sejauh mana, meluberkan rontal biar uyel-uyelan, hehehe

      • ..ketika ajian jepretan rontal ga mempan…..jangan2 ngluarin ajian jepretan tikus….

  48. Alhasil, dalam beberapa kali serangan, ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh kulit tubuh Ki Secang.

    Dua sampai tiga kali ujung cambuk Gajahmada berhasil menyentuh tubuh Ki Secang, namun tidak dirasakan oleh Ki Secang, Hal itu telah membanggakan diri Ki Secang yang merasa bahwa tenaga sakti Gajahmada masih berada dibawahnya, merasa bahwa lawannya itu hanya punya ilmu meringankan tubuh yang hebat, hanya bisa menghindar tanpa punya kekuatan tenaga sakti yang dapat diandalkan.

    Namun manakala ujung cambuk Gajahmada untuk kesekian kalinya kembali menyentuh kulit tubuhnya, barulah dirasakan dampak dari sentuhan-sentuhan ujung cambuk Gajahmada itu.

    “Ilmu setan dedemit”, berkata Ki Secang dalam hati merasakan tenaganya menjadi semakin lemah, kemampuan menghentakkan ilmu saktinya menjadi semakin berkurang. Ki Secang melihat sendiri hasil sambarannya ilmu saktinya tidak lagi dapat menghancurkan sebuah bongkahan batu besar yang terkena sasaran bidiknya.

    Akhirnya setelah kembali beberapa sentuhan ujung cambuk Gajahmada menyentuh dirinya, barulah Ki Secang menyadari sungguh-sungguh bahwa tenaganya yang terkuras itu akibat ajian ilmu lawannya, sebuah ajian ilmu yang sudah sangat langka yang pernah didengarnya.

    “Ajian lampah-lumpuh”, berkata Ki Secang sambil melompat mundur beberapa langkah.

    Ternyata dugaan Ki Secang memang benar, Gajahmada telah melepaskan ajian yang setara dengan ajian lampah-lumpuh sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Secang. Namun sebenarnya adalah sebuah ajian Pangeran Muncang yang dilakukan dengan cara terbalik yang dapat menyerap tenaga hawa murni lawan tempurnya itu, sebuah ilmu ajian yang pernah diwariskan kepadanya oleh seorang sakti dari Tanah Pasundan, Sang Prabu Guru Darmasiksa.

    Namun kesadaran Ki Secang sudah terlambat, tiga perempat tenaga hawa murninya telah terserap kedalam diri Gajahmada. Tenaga hawa murni yang telah di endapkannya lewat semadhi puluhan tahun telah hilang dalam waktu yang pendek, terserap menjadi kekuatan baru di dalam tubuh Gajahmada.

    “Bagaimana Ki Secang, apakah kamu masih ingin melanjutkan pertempuran ini ?”, berkata Gajahmada sambil berdiri tegak dengan tangan masih memegang cambuknya yang ujung cambuknya terjulur menyentuh tanah.

    Terlihat Ki Secang masih terpaku berdiri ditempatnya, Ki Secang seperti terjepit oleh berbagai perasaan yang berkecamuk memenuhi jiwanya, mulai dari rasa amarah yang amat sangat, rasa kecewa yang amat sangat, juga rasa putus asa yang berlebihan membuat dirinya menjadi begitu lemah tidak berdaya. Yang ada dalam pikirannya bahwa lawannya yang masih muda itu ternyata memiliki ilmu yang amat tinggi. Yang terpikir oleh dirinya adalah menyelamatka selembar nyawanya, karena bila pertempuran itu dilanjutkan, tenaganya akan semakin terkuras habis.

    “Aku menyerah kalah”, berkata Ki Secang setelah berpikir lama sambil melemparkan senjata trisulanya jauh dari jangkauan tangannya.

    Terdengar sorak sorai para prajurit yang telah melihat akhir dari pertempuran dua naga kanuragan itu.

    • allahu akbar…allahu akbar (terdengar suasa azan), beruntunglah Pak Satpam, luberan rontal harus terhenti sesaat, hehehe

      • …akhirnya Pak Satpam bisa menarik napas panjang…..

        Terima kasih Pak Dalang…pules…eh..puas !

  49. Suwun Ki Dalang, ma’af telat.

  50. Beberapa warga kota Kadipaten Blambangan yang semula hanya mengintip lewat celah-celah pintu rumah mereka, terlihat sudah memberanikan dirinya keluar halaman dan mencoba mengetahui lebih dekat apa yang telah terjadi.

    Namun dengan penuh kebijaksanaan, Adipati Menak Jingga meminta mereka kembali untuk menyempurnakan laku Nyepi mereka di rumah masing-masing.

    “Saat ini tidak ada yang perlu di risaukan lagi. Kembalilah kalian kerumah masing-masing untuk menyempurnakan laku Nyepi kalian. Serahkan tugas keamanan kepada para prajurit pengawal Kadipaten Blambangan”, berkata Adipati Menak Jingga kepada para warga kota yang berdatangan ke tempat pertempuran yang telah usai itu.

    Demikianlah, para warga kota Kadipaten Blambangan telah kembali ke rumah masing-masing. Kepada anggota keluarganya mereka mengabarkan suasana pertempuran telah usai, para perusuh sudah dapat dilumpuhkan.

    “Keadaan sudah aman, para perusuh sudah dapat ditaktukkan oleh Adipati menak Jingga bersama para prajuritnya”, berkata seorang kepala keluarga kepada istri, anak gadis dan menantunya.

    “Adipati Menak Jingga pasti sangat sakti, telah dapat mengalahkan para buta kala”, berkata seorang anak lelaki kepada kakeknya yang baru datang itu dan ikut mendengar penuturan tentang suasana pertempuran yang telah usai.

    Terlihat sang kakek hanya tersenyum, teringat ketika terjadi suasana pertempuran, anak itu menangis ketakutan, dan sang kakek menenangkannya dengan mengatakan di luar ada banyak buta kala ingin memakan anak-anak kecil.

    “makanya, kamu jangan sering menangis, nanti didengar oleh buta kala”, berkata sang kakek kepada cucunya itu.

    “Besok kamu ikut aku ke pasar, nenek akan memasak pecel pitik dan urap-urap untukmu”, berkata sang nenek memberi janji kepada cucunya.

    Sementara itu di jalan tempat pertempuran, terlihat para prajurit tengah menolong orang-orang yang terluka, bukan hanya kawan mereka, tapi juga orang-orang yang menjadi lawan tanding dipertempuran dengan para prajurit gabungan itu. Beberapa prajurit lainnya terlihat tengah mengumpulkan mayat-mayat korban pertempuran itu, memisahkannya mana kawan mereka dan mana musuh mereka guna mempermudah membawa mereka ke tempat pemakaman yang memang telah dipisahkan.

    “Kita harus melakukan pemakaman di hari ini juga, karena besok sudah masuk hari Ngembak Geni”, berkata Adipati Menak Jingga kepada para prajuritnya.

    Demikianlah, pada hari itu juga telah dilaksanakan upacara pemakaman bagi para korban pertempuran di hari raya Nyepi itu. Semua korban diperlakukan dengan sama tanpa perbedaan apapunm, kawan, saudara atau mantan musuh mereka.

    Senja yang bening menatap bumi yang ternoda darah dan air mata, di hari raya Nyepi yang suci.

    • Suwun……
      (masih pagi, belum berani teriak, he he he…)

      • Selesai baca bersamaan dengan terdengarnya adzan subuh

      • Eh… Baju satpam masih dicuci, pakai baju pelangisingosari dulu, he he he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: