PKPM-09

<< kembali | lanjut >>

PKPM-09

Iklan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30 Maret 2015 at 22:06  Comments (101)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

101 KomentarTinggalkan komentar

  1. Demikianlah, ketika telah dipertemukan dengan ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, terlihat Empu Halayuda telah memperkenalkan dirinya.

    “Hamba adalah Dang Acarca Empu Halayuda, diperkenankan datang sebagai utusan Baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda memperkenalkan dirinya.

    “Pastinya ada sesuatu yang amat penting, sehingga Raja Jayanagara harus mengutus seorang pendeta datang menghadapku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Dugaan Kanjeng Ratu sangatlah tepat, tidak tergelincir sedikitpun”, berkata Empu Halayuda.

    “katakanlah segera, agar aku tidak banyak menduga-duga”, berkata Ibu Suri kanjeng Ratu Gayatri mulai tidak suka dengan sikap orang dihadapannya itu yang sekilas menangkap mata lelaki kebanyakan ketika melihat kaum wanita.

    “Sesungguhnya maksud kedatangan hamba adalah untuk meminang putri Dyah Wiyat”, berkata Empu Halayuda.

    Bukan main terkejutnya Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang tidak pernah menyangka bahwa utusan Raja Jayanagara itu adalah bermaksud untuk meminang putri Dyah Wijat.

    “Raja Jayanagara benar-benar Raja Kalagemet”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri menyebut Raja Jayanagara dengan sebutan Raja Kalagemet, sebuah cemohan untuk seseorang yang sudah tidak waras pikirannya di jaman itu.

    “Bagaimana Kanjeng Ratu, apakah pinangan Raja Jayanagara dapat diterima ?”, berkata Empu Halayuda.

    “katakan kepada Raja Kalagemet itu bahwa dirinya telah terlambat satu hari dari Adipati Menak Jingga yang telah lebih dulu datang melamar putriku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri masih dapat menahan rasa amarahnya yang sudah seperti akan meluap diatas ubun-ubun kepalanya.

    “Adipati Menak Jingga dari Balambangan ?”, bertanya Empu Halayuda seperti ingin penegasan dari Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Benar, Adipati Blambangan putra Empu Nambi, sang Patih Amangkubumi Majapahit”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan suara lebih tegas lagi.

    “Apakah Kanjeng Ratu menerima pinangan Adipati Blambangan itu ?”, bertanya Empu Halayuda.

    “Aku tidak perlu menjawabnya untukmu, karena itu bukanlah urusanmu”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan nada suara yang tidak lagi mengindahkan tata karma, menganggap Empu Halayuda hanya seorang utusan yang sangat menjengkelkan.

    “Hamba mohon pamit diri, hamba akan menyampaikan apapun yang hamba dengar kepada baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda yang dapat membaca wajah dan pikiran Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang sudah begitu masam, menahan rasa kemangkelannya yang amat sangat.

  2. Terlihat Empu Halayuda sudah jauh keluar pintu gapura batas kotaraja Kahuripan, dihatinya seperti bersenandung lagu kemenangan merasa telah berhasil membuat sebuah awal keretakan di dalam keluarga istana Majapahit.

    “Hanya anjing bodoh saja yang mau mengawini saudara tirinya”, berkata Empu Halayuda sambil menghentakkan perus kudanya agar berlari lebih cepat lagi mengambil jalan utama menuju arah Kotaraja Majapahit.

    Hari telah menjadi wayah sepi uwong makanala kuda tunggangan Empu Halayuda memasuki gapura batas kotaraja Majapahit.

    Terlihat Empu Halayuda telah memasuki istana Majapahit, langsung melangkahkan kakinya kea rah puri pasanggrahan Raja jayanagara.
    Ternyata Raja Jayanagara memang sedang menunggunya.

    “mata ini terasa lelah menatap ujung halaman puri pasanggrahan, gelisah berharap Empu Halayuda datang membawa kabar berita”, berkata Raja Jayanagara kepada Empu Halayuda.

    Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dalam-dalam, mencoba melakoni seorang yang telah bersusah payah melakukan sebuah perjalanan yang amat jauh, sesorang yang baru saja melaksanakan tugas berat dari majikannya.

    Dan sang putra keturunan ke enam dari Raja Wurawari itu telah memulai kembali lakon adu dombanya, meretakkan suasana di istana kerajaan Majapahit itu.

    “Sangat disayangkan bahwa kedatangan hamba terlambat satu hari”, berkata Empu Halayuda.

    “terlambat ?”, bertanya Raja jayanagara.

    “Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang mengatakannya, bahwa pinangan Baginda Raja telah didahului oleh Adipati dari Blambangan”, berkata Empu Halayuda.

    “Istri Adipati Menak Jingga sudah berjumlah sembilan puluh sembilan, apakah Ibunda Ratu Gayatri menerima pinangannya ?”, bertanya Raja Jayanagara.

    “Kemungkinan yang dapat hamba rasakan adalah bahwa Kanjeng Ratu Gayatri sangat menghormati Patih Amangkubumi, ayahanda Adipati Blambangan itu. Kanjeng Ratu Gayatri akan merasa bersalah bila menolak pinangan itu”, berkata Empu Halayuda mencoba mengeruhkan nama Empu Nambi di hadapan Raja Jayanagara.

    “Lebih agung mana nama Amangkubumi dengan nama kebesaran ayahku ?”, berkata Raja Jayanagara mulai tidak menyukai nama Empu Nambi terdengar ditelinganya.

    Didalam hati Empu Halayuda terdengar senandung kemenangan manakala mendengar perkataan Raja Jayanagara itu, namun tidak diperlihatkan di dalam raut wajahnya.

  3. Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dala-dalam dengan wajah memperlihatkan raut yang penuh kekhawatiran yang amat sangat.

    “hamba hanya menduga-duga bahwa Empu Nambi nampaknya tengah merangkai sebuah rencana yang sangat halus, merangkul Kanjen Ratu Gayatri dengan cara mempersunting putrinya. Mana kita tahu bila Empu Nambi tengah menyusun sebuah kekuatan di dalam istana ini untuk menggulingkan Baginda Raja, menyergap di malam hari di waktu Baginda pulas tertidur. Maka bisa jadi Adipati Menak Jingga yang telah menjadi menantu Kanjeng Ratu Gayatri akan direstui menjadi Raja Majapahit ini”, berkata Empu Halayuda sambil mengamati raut warna di wajah Raja Jayanagara, sebagaimana seorang pemburu yang memasang umpan hidup sambil menunggu buruannya masuk perangkapnya.

    Begitu gembiranya hati Empu Halayuda manakala melihat perubahan di wajah Raja Jayanagara.

    “Srigala tua itu harus segera disingkirkan”, berkata Raja jayanagara yang sudah masuk perangkap hasutan Empu Halayuda yang sangat cerdik itu.

    “Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan srigala tua itu”, berkata Empu Halayuda merasa telah menjerat binatang buruannya, telah berhasil mempengaruhi Raja Jayanagara.

    Dan ternyata bintang terang nampaknya masih selalu berada di dekat Empu Halayuda.

    Tersiar sebuah berita duka dari Tanah Lamajang bahwa Ki Banyak Wedi yang dulu pernah menyandang nama besar sebagai sang Arya Wiraraja telah meninggal dunia. Dan Empu Nambi telah menghadap diri kepada Raja Jayanagara untuk atas nama Kerajaan Majapahit menyambangi keluarganya yang tengah berduka sebagai pertanda bahwa keluarga istana Majapahit mengakui Ki Banyak Wedi sebagai seorang pahlawan yang banyak berjasa dalam awal pendirian Kerajaan Majapahit itu.

    Dan Raja jayanagara telah menerima permohonan Empu Nambi untuk datang menyambangi keluarga Ki Banyak Wedi yang tengah berduka itu di Tanah Lamajang.

    Demikianlah, keesokan harinya disaat pagi masih sangat gelap terlihat Patih Amangkubumi yang diringi sekitar dua puluh orang prajurit telah berangkat meninggalkan Kotaraja Majapahit menuju Tanah Lamajang. Patih Amangkubumi bersama rombongannya itu berangkat dengan pertanda khusus kebesaran bendera Majapahit Raya yang menunjukkan bahwa mereka adalah para utusan Kerajaan Majapahit.

    “Hendak kemanakah gerangan para utusan kerajaan Majapahit itu ?”, berkata seorang petani tua dalam hati manakala melihat rombongan Patih Amangkubumi melintasi jalan sebuah Padukuhan.

    Dan rombongan Patih Amangkubumi memang terus bergerak, derap langkah kaki kuda mereka telah meninggalkan debu-debu yang beterbangan, beberapa pedagang menepikan gerobak pedati mereka di sebuah jalan Kademangan sebagai pertanda penghormatan mereka memberi jalan kepada rombongan utusan kerajaan Majapahit itu yang terlihat dari bendera kebesarannya, bendera sang surya Majapahit yang berkibar di bawa oleh seorang prajurit di barisan pasukan berkuda terdepan.

    • Kamsiaaaa Pak Dhalang……..
      Episode Menak Jinggo akan segera berkobar kobar……

  4. senja kala sang sandikala

  5. tambah seru intrik2 di seputar kekuasaan yang makin kuat. kelemahannya justru di dalam lingkaran2 pusat kekuasaan, seperti juga saat ini…

  6. Patih Amangkubumi dan rombongannya terus memacu kudanya diiringi tatap sang surya yang terus mendaki merayapi kaki cakarawala langit.

    “Kita beristirahat diujung sana”, berkata Patih Amangkubumi kepada seorang prajurit perwira tinggi yang menjadi pimpinan rombongan itu.
    Maka disebuah tempat terlihat prajurit perwira tinggi itu mengangkat tangannya, seketika itu juga rombongan berkuda itu telah menghentikan langkah kaki kuda mereka.

    Matahari saat itu memang sudah berada diatas kepala, terlihat Patih Amangkubumi mencari tempat berteduh disebuah pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan itu. Sementara beberapa orang prajurit telah membawa kuda-kuda mereka ke tepi sungai kecil yang ada disekitar tempat itu.

    Cukup lama Patih Amangkubumi dan rombongannya beristirahat di tempat itu, hingga manakala matahari sudah mulai bergeser dari puncaknya dan kuda-kuda mereka terlihat sudah tegar kembali, terlihat rombongan pasukan kerajaan Majapahit itu tengah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Tanah Lamajang.

    Dan tidak lama berselang rombongan Patih Amangkubumi terlihat sudah bergerak kembali memacu kuda-kuda mereka.
    Debu beterbangan dibelakang langkah kaki kuda mereka, bendera sang surya Majapahit terlihat terus berkibar dibawa lari kuda yang bergerak membelah udara disebuah padang ilalang yang terhampar luas.

    Hingga akhirnya rombongan itu telah memasuki sebuah jalan tanah yang membelah dua buah bukit.

    Namun disebuah kelokan jalan, tiba-tiba saja prajurit perwira yang menjadi pimpinan para prajurit terlihat mengangkat tangannya tingi-tinggi.

    Seketika itu juga para prajurit berkuda itu telah memperlambat laju kuda mereka.

    Patih Amangkubumi dan rombongannya telah melihat segerombolan orang dua kali lipat dari jumlah jumlah mereka yang telah memenuhi semua sisi jalan.

    “Prajurit Majapahit ?”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati ketika sudah menjadi dekat dengan orang-orang yang menghalangi jalan mereka yang ternyata memang mengenakan pertanda keprajuritan Majapahit.

    “Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini ?”, bertanya-tanya Patih Amangkubumi dalam hati merasa heran ada sepasukan prajurit Majapahit ditemui di jalan itu.

    “Siapakah pemimpin pasukan ini ?”, berkata prajurit perwira yang menjadi pimpinan rombongan Patih Amangkubumi bertanya kepada para prajurit Majapahit yang menghalangi jalan mereka.

    “Aku pimpinan pasukan disini”, berkata seseorang yang punya suara sangat berat kepada prajurit perwira yang bertanya.

  7. Semoga ending Empu Nambi serupa dengan dua sahabatnya.

    • deg deg plas….
      berarti Ki BP sama dengan saya nggih.
      Saya paling benci sejarah di bagian ini, semoga Pak Dhalangnya bisa meceritakannnya dengan baik. Tidak memutar balikkan sejarah, tetapi membuat alur yang logis dan tidak tragis.
      he he he .. embuhlah, terserah Pak Dhalangnya saja.

      • Tenang saja Pak Satpam, para tokoh tidak akan terlihat hitam kelam, semua terjadi karena adanya Sengkuni yang selalu meng’kompor”i dan memanfaatkan situasi.

        • Kasinggihan Ki

          justru karena itu, orang baik jadi “terlihat jahat” karena adanya “Sengkuni” di sekeliling penguasa.

          mangkelnya tu di sini ……. (he he he … kaya lagu saja)

  8. “Dari kesatuan manakah kalian ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan merasa tidak ada satupun yang dikenal dari para prajurit yang tengah menghadangnya itu.

    “kami tidak dari kesatuan manapun, yang pasti kami berada dibawah garis perintah Raja Jayanagara langsung”, berkata pimpinan mereka yang bersuara berat itu.

    Terkejut Patih Amangkubumi yang masih berada diatas punggung kudanya manakala mendengar penjelasan pimpinan prajurit yang menghalangi jalan mereka itu.

    “Raja Jayanagara telah membentuk sebuah pasukan khusus ?”, berkata Patih Amankubumi dalam hati merasa heran bahwa dirinya tidak mengetahuinya. “Apakah Raja Jayanagara sudah tidak percaya lagi denganku ?”, berkata kembali Patih Amangkubumi dalam hati.

    “lalu, apa tugas kalian disini ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan.

    Pertanyaan perwira tinggi itu dijawab dengan tawa bergelak-gelak dari prajurit yang bersuara berat itu diikuti oleh para pengikutnya.

    “Tugas kami disini adalah memenggal kepala kalian semua”, berkata prajurit bersuara berat itu setelah menghentikan tawanya.

    Mendengar pernyataan prajurit bersuara berat itu memang sebuah tantangan didengar oleh perwira tinggi itu, terlihat perwira tinggi itu sudah langsung turun dari kudanya diikiti oleh Patih Amangkubumi dan dua puluh orang prajurit yang ikut bersamanya.

    “Penggal kepala mereka semua”, berteriak prajurit bersuara berat itu memberi perintah kepada pengikutnya.

    Mendengar teriakan perintah dari pemimpinnya, terlihat para pengikutnya sudah langsung melepas pedang panjang mereka dan bergerak menerjang rombongan Patih Amangkubumi.

    Tapi para prajurit yang mengawal Patih Amangkubumi itu adalah para prajurit utama, prajurit pilihan yang sudah banyak pengalaman bertempurnya. Terlihat mereka telah langsung siaga menunggu terjangan datang dari sekelompok orang yang mengaku para prajurit Majapahit itu.

    Maka dalam waktu yang begitu singkat, pertempuran dua kelompok yang sama-sama memakai pertanda keprajuritan Majapahit itu sudah melebur dalam sebuah kancah gelora pertempuran yang keras, setiap orang berusaha melumpuhkan lawannya, dan suara denting pedang yang saling berbenturan bersama suara bentakan dan sumpah serapah telah bergemuruh bersatu padu menjadi suara peperangan yang begitu menegangkan disebuah jalan tanah diantara dua buah perbukitan itu.

    Naas sekali nasib para prajurit penghadang yang kebetulan memilih orang tua berjanggut putih yang tidak mengeluarkan senjata apapun itu, entah dengan cara apa, siapapun yang mendatanginya akan terlempar pingsan. Orang tua berjanggut putih itu hanya berdiri ditempatnya, dua atau tiga orang penyerangnya langsung terjungkal berguling-guling terkena sambaran tangan dan kaki orang tua itu yang terlihat bergerak seadanya.

  9. Para prajurit penghadang itu nampaknya tidak mengetahui bahwa orang tua berjanggut putih itu adalah Empu Nambi, seorang yang sebelum menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit adalah seorang gurusuci pemimpin tertinggi aliran kelompok Teratai Putih yang berpengaruh dan mempunyai pengikut terbesar di jaman itu dimana padepokannya tersebar di hampir seluruh Jawadwipa dan Balidwipa.

    Bila saja Empu Nambi menghendaki, dengan sekali sapuan tenaga saktinya saja sudah dapat merobohkan semua prajurit penghadang itu. Namun Empu Nambi tidak mau melakukannya, hanya melumpuhkan lawan yang kebetulan datang menyerangnya, masih tetap berdiri ditempatnya sambil menggerakkan tangan dan kakinya seperti seadanya, tapi dua tiga orang kembali terpental tidak berdaya.

    Meski tengah menghadapi beberapa orang prajurit penghadang yang belum juga jera, Empu Nambi masih dapat mengamati seluruh pertempuran, dimana dilihatnya para prajurit rombongannya masih dapat diandalkan, masih dapat mengimbangi serangan pihak lawan yang jumlahnya dua kali lipat itu.

    Dan kembali dua tiga orang pihak lawan terlempar terkena sambaran tangan Empu Nambi yang terlihat seadanya bergerak, namun telah dilambari tenaga sakti dan daya gerak tingkat tinggi hingga tidak seorangpun lawannya dapat mengelak dan sudah langsung terjungkal meski hanya mengenai angin sambarannya saja.

    Beberapa prajurit penghadng yang melihat kesaktian Empu Nambi mulai berpikir-pikir untuk mendekat, mereka mencoba mencari lawan lainnya.

    Terlihat senyum di bibir Empu Nambi yang melihat beberapa orang prajurit penghadangnya bergeser menghindarinya, melihat yang demikian telah memaksa Empu Nambi mulai bergerak merambah masuk ketengah pertempuran yang tengah berkecamuk itu.

    Tak terkira kesaktian Empu Nambi membuat jerih siapapun yang melihatnya, karena tangan dan kaki Empu Nambi telah mampu memporakporandakan pasukan lawan, kemanapun tubuh Empu nimbi bergerak, pastilah ada jeritan dan orang yang terlempar.

    Akibatnya dalam waktu yang amat singkat, jumlah prajurit penghadang itu sudah semakin jauh menyusut.

    “Selamatkan diri kalian !!”, berteriak pemimpin mereka yang bersuara berat itu memberi perintah untuk segera pergi meninggalkan pertempuran.

    “jangan kejar mereka”, berkata Empu Nambi kepada prajuritnya yang hendak mengejar para prajurit penghadang itu.

    Mendengar perkataan dari Empu Nambi, beberapa prajurit yang sudah kadung mengejar para penghadang itu telah menghentikan langkah mereka.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam-dalam manakala melihat prajurit rombongannya tidak ada yang terluka.

  10. Hups……
    Baru sempat tengok padepokan.
    Suwun…….

  11. Ketika melihat beberapa orang prajurit pihak lawan yang tengah merintih Manahan rasa sakit yang amat sangat, terlihat Empu Nambi mendatangi orang-orang yang terluka dan dengan penuh kasih telah langsung menurunkan tangannya mengobati dan meringankan rasa sakit mereka.

    “Sempurnakanlah jasad mereka”, berkata Empu Nambi kepada para prajuritnya untuk menguburkan beberapa orang yang tewas dalam pertempuran itu.

    Terlihat hampir semua prajurit rombongan Empu Nambi itu bekerja sepenuh hati menyempurnakan jasad-jasad orang yang sebelumnya telah menjadi lawan mereka sendiri.

    “mari kita melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari sini ada sebuah Kademangan dimana kita dapat menitipkan para tawanan”, berkata Empu Nambi kepada prajurit perwiranya.

    Demikianlah, hari memang belum beranjak senja ketika rombongan Empu Nambi terlihat bergerak untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke Tanah lamajang. Gerak langkah mereka tidak seperti sebelumnya, karena mereka harus membawa beberapa orang tawanan.

    Diperjalanan Patih Amangkubumi terus berpikir keras, mencoba merunut beberapa kejadian untuk dapat mengungkapkan kaitannya dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Pikiran Empu Nambi bergerak mulai dari kejadian di hutan Kemiri, sebuah percobaan pembunuhan sahabatnya patih Mahesa Amping, dan kembali peristiwa percobaan pembunuhan atas diri Patih Mahesa Amping lewat sebuah racun hati celeng bunting.

    “nampaknya sekarang ini, akulah yang akan menjadi sasaran mereka”, berkata Empu Nambi dalam hati setelah menemukan benang basah keterkaitan berbagai peristiwa.”Istana Majapahit telah dibayangi tangan-tangan hitam diluar pengetahuan Raja Jayanagara”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati.

    Sementara itu gerak langkah rombongan Empu Nambi telah memasuki Kademangan Japan disaat hari telah diujung senja.

    Tergopoh-gopoh Ki Demang menerima rombongan istana Majapahit itu, menyiapkan kediamannya sendiri dan beberapa rumah tetangganya untuk beristirahat Empu Nambi dan rombongannya.

    Atas permintaan Empu Nambi, maka Ki Demang telah menempatkan para tawanan di lumbung desa dengan penjagaan yang sangat ketat.

    “Aku menitipkan para tawanan di Kademangan Japan ini, pada saatnya akan kami bawa ke Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambil kepada Ki Demang Japan.

    Sementara itu diwaktu yang sama di sebuah hutan terlihat dua orang lelaki baru saja menghabisi nyawa sepuluh orang prajurit yang memakai pertanda keprajuritan Majapahit, diantaranya seorang pemimpin prajurit yang bersuara berat, ada terlihat sudah tak bernyawa lagi diantara mayat kawan-kawannya.

    “Kita harus membunuh sisa dari mereka yang telah menjadi tawanan Empu Nambi”, berkata seorang lelaki kepada kawannya.

  12. Terlihat lelaki itu telah menyarungkan kembali dua trisulanya di kiri dan kanan pinggangnya.

    Siapakah kedua lelaki itu ?

    Siapa lagi pemilik trisula kembar bila bukan Dang Acarca Empu Dyah halayuda, seorang pendeta yang diangkat oleh Raja jayanagara sebagai anggota Dharmayaksa. Sementara lelaki yang bersamanya itu adalah Ra Kuti.

    Ternyata sehari sebelum keberangkatan Empu Nambi dan rombongannya, Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti telah menyiapkan emput puluh orang untuk menghadang rombongan Empu Nambi.

    Benarkah keempat puluh orang yang menghadang Empu Nambi adalah para prajurit Majapahit ?

    Tidak ada seorangpun yang mengatahui bahwa Empu Dyah Halayudan dan Ra Kuti telah lama menggalang sebuah kekuatan baru, para prajurit Majapahit baru di sebuah tempat yang sangat dirahasiakan tidak jauh dari Kotaraja Majapahit. Namun penggalangan prajurit baru itu tanpa sepengetahuan Raja Jayanagara.

    Kekalahan keempat puluh orang prajurit yang menghadang rombongan Empu Nambi memang sudah diperhitungkan oleh Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti. Keempat puluh prajurit ibarat bidak-bidak umpan hidup untuk mendapatkan sebuah rencana panjang yang telah disusun dengan begitu rapih penuh selubung-selubung hitam.

    Dan malam itu dua orang pelakon panggung sejarah hitam Kerajaan Majapahit itu telah berada disekitar kademangan Japan. Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Mereka adalah dua orang berilmu tinggi, dengan mudahnya menyelinap dan berkelebat mendekati sasaran mereka, sebuah panggung lumbung desa yang cukup besar yang dijaga oleh sekitar sepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Pasir besiku akan melumpuhkan mereka”, berbisik Empu Dyah Halayuda kepada Ra Kuti.

    Bergidik perasaan hati Ra Kuti melihat kelihaian Empu Dyah Halayuda menggunakan pasir besi yang selalu dibawanya di dalam lipatan pakaiannya itu.

    Ra Kuti telah melihat ayunan tangan Empu Dyah Halayuda melepas pasir besi itu yang telah langsung meluncur dengan kecepatan yang sungguh luar biasa seperti ribuan jarum terbang.

    Dan dengan mata terbelalak, Ra Kuti telah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kesepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan sudah langsung tergeletak tanpa bersuara terkena senjata rahasia pasir besi yang sangat mematikan itu.

    Terlihat keduanya dengan sangt tenang sekali naik keatas panggung lumbung desa yang sudah tidak terjaga itu.

    “kami merasa yakin bahwa tuan-tuan pasti akan datang menyelamatkan kami”, berkata salah seorang tawanan yang telah melihat Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti masuk menemui mereka.

  13. Namun baru saja selesai bicara, tawanan itu telah melihat sebuah kilatan yang berasal dari tangan Empu Dyah Halayuda. Dan dengan mata terbelalak tawanan itu telah terbungkam selama-lamanya terkena sabetan trisula Empu Dyah Halayuda yang sangat tajam itu.

    Dua belas orang tawanan yang terkurung di dalam lumping desa itu terbelalak matanya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, harapan mereka untuk dibebaskan seperti buyar seketika. Di dalam benak dan pikiran para tawanan itu dipenuhi ketidak mengertian, mengapa pimpinan mereka sendiri yang selama ini telah menempa diri mereka menjadi prajurit yang handal telah begitu ringannya melepas nyawa salah seorang dari mereka ?

    Namun belum sempat terjawab pertanyaan besar yang memenuhi benak dan pikiran ke dua belas tawanan itu, tiba-tiba saja keris ra Kuti sudah berkelebat dengan sangat cepatnya merobek urat leher mereka. Dan hanya dengan hitungan beberapa kedipan mata saja, kedua belas tawanan itu sudah hilang nyawanya dengan urat leher terputus.

    Gegerlah suasana pagi di Kademangan Japan, isak tangis terdengar dari suara beberapa wanita, ibu dan istri para prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Kami telah membawa rentetan petaka ini di Kademangan Japan”, berkata Empu Nambi yang merasa terpukul dengan kejadian itu, seperti kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan gelora perasaannya sendiri, antara duka dan kemarahan yang amat sangat.

    “Tidak bisa kita berhindar bersembunyi di liang semut sekalipun, menurut hamba ini bukan sebuah rentetan petaka, tapi garis ketetapan Sang Gusti pemilik kehidupan ini”, berkata Ki Demang japan kepada Empu Nambi.

    Demikianlah, kejadian pembunuhan di kademangan Japan telah menunda keberangkatan rombongan Empu Nambi. Mereka harus menunggu pelaksanaan upacara penyempurnaan para korban.

    “Dua puluh tiga gundukan tanah itu akan menjadi saksi bisu kekelaman sejarah Kerajaan Majapahit ini”, berkata Empu Nambi sambil memandang makam para korban yang telah selesai di kebumikan itu kepada seorang perwira tinggi di dekatnya.

    “Hamba akan menjadi saksi kebenaran di belakang tuan Patih Amangkubumi”, berkata perwira tinggi itu.

    “Meski bilamana aku berada diseberang garis pertempuran menghadapi para prajurit Kerajaan Majapahit ?”, bertanya Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    “Aku akan berada selamanya di belakang kebenaran”, berkata perwira tinggi itu penuh dengan ketegasan dan keteguhan hati.

    “Lika-liku sandiwara kehidupan selalu dipenuhi berbagai corak warna-warni yang melatari pegelaran itu, semoga warna merah putih dihatimu tidak akan pernah luntur, sebagai keteguhan hati seorang ksatria yang berjalan diatas padang gurun kebenaran”, berkata Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    • Kamsssiiiiaaaaa Pak Dhalang………
      Tambah mencekam……….

  14. Matahari siang itu redup tertutup awan kelabu yang berarak bergerak terbawa angin.

    Terlihat sebuah pasukan berkuda telah bergerak meninggalkan gapura Kademangan Japan. Mereka adalah rombongan Empu Nambi yang akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Lamajang.
    Manakala Kademangan Japan sudah jauh dibelakang, terlihat mereka telah memacu kudanya. Kembali terlihat bendera sang surya Majapahit berkibar kembali dihempas angin dan lari kuda yang melaju kencang.

    Warna biru barisan pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru seperti melambaikan tangan memanggil-manggil kuda-kuda mereka agar berpacu lebih cepat lagi.

    Tidak ada halangan yang berarti di dalam perjalanan mereka itu, hingga ketika senja mulai turun membayangi bumi mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Lamajang yang sangat luas itu. Namun masih perlu waktu untuk tiba di Kota Kadipaten Lamajang.

    Akhirnya setelah menyusuri dan melewati beberapa Kademangan, mereka telah berada di jalan utama menuju istana kadipaten Lamajang, sementara hari telah menjadi larut malam.
    Gembira hati Adipati Menak Koncar melihat kedatangan ayahandanya itu. Dalam pertemuan awal itu, Empu Nambi mengatakan bahwa keberadaannya di Tanah Lamajang ini adalah sebagai utusan keluarga istana Majapahit untuk menyambangi rumah duka keluarga Ki Banyak Wedi. Sengaja Empu Nambi tidak bercerita tentang beberapa kejadian dan peristiwa yang dialaminya selama di perjalanan.

    “Besok pagi, aku akan ikut mengantar Ayahanda ke rumah duka itu”, berkata Adipati Menak Koncar masih diliputi suasana kegembiraan hati mendapatkan kunjungan Empu Nambi di istana Kadipatennya.

    Maka keesokan harinya, ketika pagi sudah mulai terang tanah terlihat rombongan Empu Nambi telah keluar dari gerbang istana Kadipaten lamajang, Adipati menak Koncar terlihat ada bersama mereka.

    Rombongan berkuda itu terlihat tidak memacu kudanya sebagaimana hari sebelumnya, nampaknya Empu Nambi ingin menikmati suasana Tanah Lamajang yang sudah sekian tahun ditinggalkannya semenjak di daulat oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai Patih Amangkubumi di Kerajaan Majapahit.

    Sawah yang hijau bunting menguning terhampar luas membentang hingga kaki Gunung Semeru seperti telah membawa angan dan kenangan Empu Nambi di masa-masa mudanya dalam didikan dan gemblengan ayahnya sendiri yang penuh kasih telah membentuk dirinya, mengajarkan olah kanuragan dan olah Kajiwan.

    “Kita telah memasuki wilayah Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ayahandanya ketika mereka memasuki sebuah regol gapura Kademangan Randu Agung.

    Ternyata mereka datang di saat upacara pengabuan jenasah tengah berlangsung. Kuda Anjampiani menerima kedatangan Empu Nambi dan rombongannya dengan penuh rasa suka dan cita. Merasa terhormat mendapatkan sambangan dari keluarga istana Majapahit yang turut berbela sungkawa.

    • Kamsiiiaaaaa………
      Seharusnya Mahisa Semu sebagai Kepala BIN Majapahit bisa mendeteksi pergerakan Halayuda alias Mpu Secang…..

  15. kelihatan lengah ya..

  16. Risang kok lupa, Gajahmada kemana ya

    • Lagi nungguin Lendhut Benter, takut mbludag……

  17. Bagi masyarakat Jawa Tengah, episode yang sedang digeber Ki Dhalang Kompor ini terkenal dengan nama episode Damarwulan.
    Pada kira2 th 1851, keluarga Sri Mangkunegara IV menggubah cerita lewat karya tari klasik dan tembang yang dibagi dalam 4 episode.

    1. Damarwulan ngarit.
    2. Ranggalawe Gugur.
    3. Menakjingga Lena.
    4. Jumenenging Damarwulan dados Ratu ing Majapahit kagarwa Ratu Ayu Kencanawungu.

    Dalam cerita Langendriyan ini Ranggalawe gugur melawan Menakjingga yang menagih janji untuk menyunting Ratu Ayu Kencanawungu karena sudah berhasil memadamkan pemberontakan Kebo Marcuet. Dalam cerita ini Menakjingga digambarkan sebagai tokoh jahat dengan kaki pincang dan mata rusak sebelah tetapi memiliki kesaktian yang tinggi dengan senjata wesi kuning.
    Tentu saja cerita ini dibantah oleh masyarakat Blambangan/Banyuwangi karena dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah.
    Walaupun saya sejak kecil sering mendengarkan kisah ini lewat siaran radio maupun kaset, namun membaca cerita yang ditulis Ki Dhalang Sandikala ini saya merasa sangat saluuut dan respek.
    Memang sejarah harus dilihat dari dua sisi.

    Harak inggih leres mekaten to Pak Satpam…..???
    (menawi mboten leres mangke kula “bold/italic”)

    • Injih Ki mBleh, leres (timbang di bold / italic terus lupa menutupnya, sehingga meluber kemana-mana.)

      he he he ….

  18. Selesai menjepret rontal bersamaan dengan kumandangnya adzan Maghrib di tempat Satpam.

    Dua rontal lagi Pak Dhalang, sudah cukup untuk menutup gandok 09, dan Satpam siap buka gandok 10.

    nuwun

  19. haduhh, coapeknya minta ampun, sejak jumat sore berangkat ke bandung pulang ke jakarta di tempat Sultan Agung menempatkan tentaranya di Matraman, hehe….terus berangkat lagi tapak tilas tempat semedhi Raja Siliwangi di kaki guung Gede, Cibodas, baru sore ini tingak-tengok Padepokan.

    ehem….ternyata hanya perlu 2 rontal untuk menutupnya…..kamsia untuk kebersamaannya
    kamsia…kamsia,,,kamsia

    • njih Pak Lik

      PKPM-09 kurang dua halaman dan gandok 10 sudah siap.
      tetapi kalau capek ya istirahat dulu lah, biar alur ceritanya enak dibaca.

      nuwun

  20. jaga kesehatan ki..

  21. Setelah ikut bersama dalam upacara pelarungan abu jenazah di laut, Empu Nambi berjanji kepada Kuda Anjampiani akan datang kembali dalam upacara Makelud, dua belas hari setelah upacara pengabuan.

    “Hanya doa seorang cucu tercinta yang dapat sampai ke buyutnya, aku masih cukup lama berada di Tanah Lamajang ini, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali di upacara Makelud”, berkata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani manakala akan kembali ke istana Kadipaten Lamajang.

    Demikianlah, malam itu Empu Nambi masih menginap di istana Kadipaten Lamajang. Dan dalam sebuah kesempatan ketika Empu Nambi berbincang di serambi istana Kadipaten Lamajang, bukan main terkejutnya Adipati Menak Koncar mendengar cerita dari Empu Nambi tentang empat puluh prajurit Majapahit yang telah menghadangnya di sekitar Kademangan Japan.

    “Aku tidak akan melepas ayahanda kembali ke Kotaraja Majapahit, sebelum adanya jaminan keselamatan ayahanda dari Raja Jayanagara sendiri”, berkata Adipati Menak Koncar penuh kekawatiran kepada Ayahandanya.

    “Sayangnya kita tidak mengetahui siapa dalang dibalik semua rentetan peristiwa ini”,berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Siapapun dalang dibalik semua ini, aku tidak mau nasib ayahanda sebagaimana Patih Mahesa Amping. Aku tidak ingin ada kereta jenasah datang membawa mayat ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar tetap bersikeras tidak menginjinkan Ayahandanya kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Wahai putraku, ayahandamu ini sudah tua. Namun aku tidak akan menyerahkan kepalaku seperti seekor kerbau, aku tidak akan menyerahkan kepalaku untuk sebuah kesalahan yang tidak kuperbuat. Tapi kita sudah membuat banyak dugaan-dugaan terlalu jauh, kita belum tahu berhadapan dengan siapa”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Ayahanda benar, namun aku tetap tidak ingin apa yang di alami Patih Mahesa Amping terjadi pula kepada diri Ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Demi keutuhan kerajaan Majapahit, demi menghindari sebuah peperangan yang akan terjadi, Patih Mahesa Amping telah mengorbankan dirinya untuk semua itu. Namun ternyata Patih Mahesa Amping bukan sasaran terakhir mereka. Ayahandamu juga bukan tumbal terakhir mereka, masih ada banyak tumbal yang harus mereka cari lagi demi meluluskan keinginan utama mereka, menguasai tahta Singgasana Majapahit ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Mereka tidak akan mendapatkan diri ayahanda, aku disini akan menjaga ayahanda meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara di medan pertempuran”, berkata Adipati Menak Koncar penuh keberanian.

    “Semoga itu tidak akan pernah terjadi, wahai putraku”, berkata Empu Nambi penuh senyum lembut kepada putranya, Adipati Menak Koncar.
    “Semoga hal itu memang tidak akan pernah terjadi, wahai ayahandaku”, berkata Adipati menak Koncar.

  22. Namun keduanya terlihat saling bertatapan mata manakala seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang datang menemui mereka mangatakan ada tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit.
    “kami akan menemui mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawal itu.

    Terlihat Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi telah berjalan kearah pintu pringgitan dengan perasaan berdebar-debar dan rasa keingintahuannya siapa gerangan tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit itu.

    Namun manakala mereka telah membuka pintu pringgitan lebar-lebar, rasa debar di dada keduanya seperti berdebar bertambah kencang, karena mereka berdua telah mengenal ketiganya sebagai orang penting di istana Majapahit.

    Siapakah ketiga tamu itu yang langsung berdiri diatas pendapa menakala melihat Adipati menak Koncar dan Empu Nambi yang telah keluar dari pintu pringgitan ?

    “Ternyata ada tiga saudaraku dari Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambi kepada ketiga tamunya yang tidak lain adalah Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Dua malam tidak melihat Empu Nambi di Istana seperti kehilangan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu sambil tersenyum.
    “Selamat datang kembali di istanaku, wahai saudaraku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ketiga tamunya itu.

    Demikianlah, merekapun saling duduk kembali diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang dengan pembicaraan beberapa hal yang ringan seputar pelaksanaan upacara pengabuan Ki Banyak Wedi dan keadaan Kuda Anjampiani yang nampaknya sudah menjadi semakin dewasa.

    “nampaknya Ki Banyak Wedi sudah dapat membimping cucu tercintanya itu sesuai dengan yang diharapkannya”, berkata Gajahmada.

    Namun Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar tidak mudah untuk meredam debar perasaannya sendiri, merasa bahwa kedatangan tamunya di malam hari itu pastinya bukan hanya sekedar bertanya tentang upacara pengabuan Ki Banyak Wedi, tapi ada sesuatu yang sangat penting sekali. Apalagi manakala Tumenggung Mahesa Semu bercerita bahwa mereka tidak beristirahat bermalam dalam perjalanan mereka ke Tanah Lamajang.

    “Nampaknya ada sebuah berita yang sangat penting sekali sehingga kalian harus membuang malam di perjalanan kalian “, berkata Empu Nambi tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan hatinya sendiri.

    Telihat ada perubahan wajah diantara ketiganya, Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu manakala mendengar perkataan Empu Nambi itu. Wajah ketiganya terlihat berubah menjadi begitu kaku dan tegang.

    “Kakang Tumenggung Mahesa Semu mungkin dapat menyampaikannya lebih jelas lagi”, berkata Gajahmada sambil memalingkan wajahnya kearah Tumenggung Mahesa Semu,

    • Kamsia………
      belum bisa dijepret dan ditutup
      nanti malam nggih…..

      tapi, gandok 10 sudah siap kok

      • Kamsiaaaaa Pak Dhalang………..

    • Motongnya nggak enak blas Ki Dalang, nanggung berat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: