PKPM-09

PARA KSATRIA PENJAGA MAJAPAHIT

Karya : Ki Arief “Sandilaka” Sujana

Jilid 9

Sentong kiri

 

TERLIHAT mereka berdua sudah melompat diatas kuda masing-masing dan langsung menghentakkan perut kudanya agar langsung berlari. Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru adalah para prajurit pilihan, orang-orang yang terlatih dan telah ditempa raganya menghadapi berbagai rintangan yang sangat berat, menempuh perjalanan yang sulit dan jauh, menghadapi pertempuran di peperangan seharian penuh tanpa beristirahat sedikitpun.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Rangga Gajah Biru, mereka berdua memang telah tertinggal setengah hari perjalanan dengan Patih Mahesa Amping yang telah meninggalkan kudanya. Keduanya sama-sama membayangkan bahwa sang patih Daha yang amat sakti itu pasti telah mengunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat sempurna itu, yang konon dapat berlari kencang mengendarai angin.

Itulah sebabnya dengan perasaan tak menentu, menduga-duga kebenaran perkataan dara Jingga yang mengatakan suaminya itu telah kehilangan akal sehatnya, terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung tetap memacu kuda-kuda mereka berlari di bawah langit malam yang dingin, melewati beberapa kademangan, melewati jalan hutan yang gelap, membelah padang ilalang dan tanah berawa.

“Kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak, kuda kita nampaknya sudah mulai jemu berlari”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil memperlambat laju kudanya.

Mendengar ucapan Ki rangga Gajah Biru, terlihat Ki Demung Juru ikut memperlambat laju kudanya.

Hingga di sebuah jalan di puncak sebuah perbukitan mereka telah berhenti untuk beristirahat.

Sementara itu langit diatas kepala mereka sudah terlihat bias memerah sebagai pertanda sang malam sebentar lagi akan tergantikan oleh sang putra pagi, sang putra fajar pemilik cahaya di bumi.

“Kasihan kuda-kuda kita”, berkata Ki Demung Juru sambil melihat kuda-kuda mereka yang langsung rebah di hamparan rumput liar dengan nafas yang masih tersengal-sengal kelelahan.

Akhirnya manakala sang fajar terlihat mengintip di ujung timur bumi, keduanya telah menuntun kuda-kuda mereka tidak langsung menungganginya untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka menghangatkan otot-otot tubuhnya dengan udara pagi yang segar.

“Kotaraja Majapahit sudah tinggal setengah hari perjalanan lagi”, berkata Ki Rangga Gajah Biru.

Sementara itu di waktu yang sama terlihat sebuah rakit tengah meluncur menyeberangi sungai Kalimas. Terlihat seorang lelaki tua yang mengenakan pakaian kebesaran seorang pejabat istana berada diatas rakit itu bersama dua orang prajurit Majapahit yang mengawalnya.

Terlihat di seberang sungai Kalimas beberapa prajurit Majapahit berdiri sepertinya tengah menunggu rakit itu menepi.

Manakala rakit itu telah menepi di seberang, lelaki tua yang sangat berwibawa itu dengan begitu ringannya melangkah ke dermaga kayu di tepian sungai Kalimas itu sebagai pertanda orang itu seorang yang sangat terlatih dalam olah kanuragan.

“kami telah menyiapkan kuda untuk tuanku Patih Amangkubumi”, berkata seorang prajurit Majapahit yang menjemputnya di tepian sungai Kalimas itu.

“terima kasih”, berkata lelaki tua itu yang ternyata adalah Patih Amangkubumi, seorang yang dikenal sangat ramah, seorang yang selalu bersahaja meski telah memiliki jabatan tinggi di kerajaan Majapahit itu.

Ternyata hari itu Patih Amangkubumi telah mewakili Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk melakukan sebuah perundingan dengan seorang utusan resmi Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, setelah kekalahan pasukan Mongolia di Jawadwipa, telah terjadi kevakuman hubungan diantara kedua kerajaan ini. Peperangan di lautan bebas tak pernah bisa dielakkan bila kedua perahu dagang mereka bertemu.

Merasa lelah dengan peperangan-peperangan yang merugikan kedua belah pihak, akhirnya para pedagang bangsa Mongolia telah dapat melunakkan hati Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan untuk mengutus seseorang ahli runding membuat beberapa kesepakatan bersama kerajaan Majapahit.

Namun utusan Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan itu sangat menjunjung tinggi martabat Sang Maharaja nya, merasa lebih rendah derajatnya bila harus datang ke istana Majapahit. Akhirnya disepakati perundingan dilakukan di Bale Tamu di Tanah Ujung Galuh, sebuah tempat yang dibangun oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya beberapa tahun silam sebagai basis kekuatan armada dagangnya menghadapi kekuatan Raja Jayakatwang pada saat itu.

Karena Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih belum kembali dari kunjungannya di Tanah Pasundan, maka Patih Amangkubumi telah mewakilinya membuat beberapa kesepakatan dengan utusan kerajaan terbesar di jaman itu yang konon telah menguasai setengah wilayah permukaan bumi.

Dan manakala Patih Amangkubumi bersama rombongannya tengah memasuki pintu gerbang Bale Tamu, di waktu yang sama pula terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah memasuki wilayah Kademangan Maja.

Terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru tidak memperlambat laju kudanya meski telah berada di jalan Kademangan Maja yang sudah cukup ramai di lalui beberapa orang yang tengah berjalan kaki.

Derap langkah kaki kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru benar-benar telah membuat panic beberapa orang yang langsung berlari menepi takut tertabrak kuda-kuda mereka. Dan sumpah serapah keluar dari mulut mereka sebagai caci maki kemarahan dan kedongkolan mereka.

Namun sepertinya Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung tidak memperdulikannya, yang dipikirkan saat itu adalah secepatnya menemui Patih Mahesa Amping.

Akhirnya mereka memang telah keluar dari beberapa padukuhan di Kademangan Maja yang sudah sangat ramai itu, terlihat dihadapan mereka sebuah gapura yang sangat tinggi berdiri menantang sang Mentari yang telah berada tepat diatas kepala.

Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru akhirnya telah memasuki Kotaraja Majapahit dari arah sebelah barat.

Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Patih Amangkubumi tengah melakukan pembicaraan bersama seorang utusan Kaisar Mongolia yang memperkenalkan dirinya bernama Yultemujin.

“Mari kita melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita, tanpa itu kita tidak akan menemui kesepakatan apapun, sesuatu kerugian yang sangat besar dimana tuan Yultemujin telah datang dari tempat yang amat jauh”, berkata Patih Amangkubumi memulai pembicaraannya dengan utusan itu.

“Di negeri kami, pandangan untuk orang Jawadwipa adalah sekumpulan orang liar yang sangat sukar untuk berdamai, ternyata setelah bertemu dengan tuan Patih Amangkubumi telah mencairkan perasaan hatiku, ternyata orang Jawadwipa adalah orang santun yang dapat diajak bicara”, berkata Yultemujin memuji sikap dan tutur kata Patih Amangkubumi yang menggambarkan kesetaraan jiwa orang Jawadwipa yang merdeka, namun disampaikan dengan bahasa yang santun.

Ternyata Patih Amangkubumi adalah seorang perunding yang hebat, telah mendapatkan beberapa kesepakatan yang banyak menguntungkan di pihak kerajaan Majapahit. Beberapa kesepakatan itu antara lain adalah menghentikan segala macam permusuhan diantara kedua bangsa, menjalin hubungan perdagangan kembali dimana tidak ada perlakuan yang berbeda sebagaimana yang diberlakukan oleh semua pedagang bangsa asing lainnya yaitu tidak diperbolehkan berdagang langsung ke pedalaman, hanya diperbolehkan berdagang dengan perwakilan kerajaan Majapahit yang ditunjuk di sepanjang wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

“Aku akan bercerita kepada kaisar kami Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan bahwa di Jawadwipa ini kami diterima dengan perjamuan dan keramahan. Adakah sebuah permintaan dari tuan Patih Amangkubumi yang dapat kami sampaikan kepada kaisar kami?”, berkata Yultemujin kepada Patih Amangkubumi di tengah-tengah perjamuan.

“Sampaikan salamku kepada kaisarmu bahwa kami orang di Jawadwipa ini mencintai perdamaian, satu orang teman baik lebih ternilai dibandingkan dengan seribu orang musuh. Permintaanku adalah semoga Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan bermurah hati untuk mengembalikan kehormatan Panglima setianya, Ike Mese. Sampaikan kepada kaisarmu bahwa kekalahan prajurit Mongol bukan kesalahan Panglima Ike Mese, tapi Gusti Yang Maha Agung saat itu telah berpihak kepada orang Jawa”.

Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah memasuki jalan utama kotaraja Majapahit.

Berdebar perasaan hati mereka manakala mendengar suara riuh ribuan prajurit di muka gerbang istana Majapahit.

Dan bukan main terguncangnya hati dan perasaan mereka berdua manakala mengetahui bahwa suara riuh ribuan prajurit itu tengah mengeroyok Patih Mahesa Amping seorang diri. Namun tidak satupun pedang ditangan prajurit mampu melukainya, sebaliknya siapapun yang terdekat akan terlempar roboh tak bergerak lagi oleh terjangan Patih Mahesa Amping yang sangat sakti itu.

Langsung seketika itu juga terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru langsung melompat dari punggung kudanya, langsung masuk menyibak kerumunan ribuan prajurit Majapahit sambil berteriak meminta para prajurit Majapahit itu menghentikan pengeroyokan itu.

“Kalian salah menyerang orang, dia adalah pahlawan Majapahit yang harus di hormati”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil mendorong beberapa orang prajurit Majapahit.

Namun tiba-tiba saja ada seorang prajurit yang mengancamnya dengan pedang panjang yang terhunus.

“Siapa yang kamu katakan pahlawan?, lihatlah mayat kawan-kawan kami, puluhan jiwa telah melayang ditangannya. Apakah pantas orang biadab itu di panggil dengan sebutan seorang pahlawan?”, berkata seorang prajurit rendahan sambil mengancam Ki Rangga Gajah Biru dengan pedang yang telanjang.

Sebagai seorang prajurit perwira tinggi di istana Kediri, perkataan prajurit rendahan itu seperti sebuah hinaan. Dan Ki Rangga Gajah Biru yang punya sifat mudah marah itu seperti sebuah kayu kering disulut api, maka berkobarlah kemarahannya.

“Aku Rangga Gajah Biru akan berada dibelakang Patih Mahesa Amping, siapapun yang menyakitinya akan menjadi musuh utamaku hari ini”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil meloloskan pedangnya siap memegang kata-katanya sendiri.

Ternyata perkataan Ki Rangga Gajah Biru menjadi perhatian beberapa orang prajurit Majapahit.

“Kita tutup mulut perwira sombong dari Kediri itu”, berkata salah seorang prajurit Majapahit kepada beberapa orang kawannya.
Melihat beberapa orang prajurit Majapahit telah mengepung Li Rangga Gajah Biru, dengan penuh kesetiaan Ki Demung Juru langsung maju melindungi bagian belakang tubuh Ki Rangga Gajah Biru.

Akhirnya keriuhan suasana keributan itu seperti terbagi dua, satu kelompok tengah mengepung Patih Mahesa Amping, satu kelompok lainnya tengah mengepung dua perwira tinggi dari Kediri itu.

Terlihat Patih Mahesa Amping yang sudah memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi itu dimana tidak satupun pedang mampu melukainya, bahkan seperti sebuah pelita dan laron di pergantian musim, siapapun yang berani mendekat akan terlempar mati.

Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru bertempur seperti dua ekor banteng yang kalap, beberapa orang prajurit Majapahit sudah terkena sabetan senjata pedangnya.

Melihat beberapa orang kawan mereka menjadi korban pedang kedua perwira tinggi dari Kediri itu telah membuat panas hati para prajurit Majapahit, mereka menjadi seperti kerasukan setan untuk beramai-ramai menghabisi kedua orang itu.

Malang sungguh nasib kedua perwira tinggi dari Kediri itu, setelah berkuda cukup jauh tanpa beristirahat yang cukup, langsung mereka menghadapi keroyokan para prajurit Majapahit. Terlihat dengan cepatnya tenaga mereka menjadi surut, gerakan mereka pun menjadi kian lambat.

Dan dua tiga kali tusukan dari beberapa prajurit Majapahit yang menyerangnya telah melukai kedua prajurit perwira tinggi itu yang secara terbuka mengatakan berada di belakang Patih Mahesa Amping.

Rasa lelah yang sangat, serta darah di beberapa luka di tubuh yang terus mengalir telah membuat Ki Demung Juru merasakan kepalanya menjadi pening, tidak jelas lagi memandang arah pedang yang tengah menyerangnya.

Dan…….blessss….

Sebuah pedang tajam telah menembus batang paha kaki Ki Demung Juru membuat orang tua gagah perkasa itu jatuh terkulai karena satu kakinya sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.

Melihat sahabatnya jatuh terkulai lemah tak berdaya telah menjatuhkan kata dari mulut Ki Rangga Gajah Biru.

“Nyawaku setara dengan seratus jiwa orang, mari mati bersamaku”, berkata Ki Rangga Gajah Biru dengan kedua kaki yang kokoh merekat diatas bumi pijakannya.

Namun perkataan Ki Rangga Gajah Biru tidak menyusutkan langkah para prajurit Majapahit, terlihat lima orang prajurit Majapahit telah maju bersama-sama menerjang kearah Ki Rangga Gajah Biru.

Luar biasa ketangkasan orang tua yang bertubuh tinggi besar itu, seperti seekor gajah marah telah dapat menangkis satu persatu serangan lawan-lawannya. Empat serangan masih dapat di, namun satu serangan telah terlepas dari ujung matanya.

Dan…..crattttt…..

Sebuah sabetan pedang telah berhasil merobek lengan kanan Ki Rangga Gajah Biru.

Tapi Ki Rangga Gajah Biru sudah seperti mati rasa, tanpa peduli rasa sakit sedikitpun telah memindahkan pedangnya di tangan kirinya.
“Mari mati bersamaku”, berkata Ki Gajah Biru dengan wajah dan tatap mata dingin tak berkedip.

“Matilah kamu sendiri”, berkata seorang prajurit yang langsung menyerang kearah Ki Rangga Gajah Biru.

Naas bagi prajurit Majapahit itu yang tidak menduga bahwa Ki Rangga Gajah Biru masih dapat bergerak cepat meski dengan sebuah tangan kirinya.

Dan….brettt

Perut prajurit naas itu telah kebeset sabetan pedang Ki Rangga Gajah Biru meninggalkan goresan yang cukup dalam dan panjang banyak menumpahkan darah segar.

Terlihat prajurit naas itu bergulingan menahan rasa sakit yang amat sangat.

Melihat hal itu telah membuat kawan-kawan mereka langsung menubruk Ki Rangga Gajah Biru dengan berbagai serangan dari berbagai arah.

Akibatnya dua hingga tiga sabetan pedang panjang tidak mampu untuk dielakkan, orang tua berbadan tinggi besar itu terlihat jatuh terkulai dengan banyak luka di tubuhnya. Nampaknya Ki Rangga Gajah Biru telah banyak kehabisan darah segar yang banyak keluar dari beberapa lukanya.

Sementara itu kepungan kepada Patih Mahesa Amping menjadi semakin rapat, pedang dan lembing berkali-kali melesat kearah tubuhnya, namun sang Patih yang perkasa dan sakti tak tertandingi di jamannya itu masih dapat saja mengelak bahkan terus melemparkan lawan-lawannya yang sepertinya tidak pernah berkurang meski puluhan orang telah tergeletak terkena sambaran tangan dan kaki Patih Mahesa Amping.

“Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus=tikus tidak berarti ini”, berteriak Patih Mahesa Amping sambil melemparkan siapapun prajurit Majapahit yang datang mendekatinya.

Teriakan Patih Mahesa Amping tidak pernah berubah, selalu memanggil nama Jaka Sesuruh dengan perkataan penuh kebencian yang amat sangat.

Hampir semua prajurit Majapahit mengenal namai itu, dan sudah hampir melupakannya karena nama yang disebut oleh Patih Mahesa Amping adalah nama kecil Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sebuah nama yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mencintai Raja mereka, karena nama itu adalah nama hinaan seorang anak lelaki kecil yatim ditinggal mati seorang ibu yang terbuang tersia-siakan. Itulah sejarah pahit derita Baginda Raja Sanggrama Wijaya, seorang yatim bersama ayahandanya telah terusir dari Tanah Pasundan yang dengan penuh perjuangan mengembara dalam hingga dapat kembali ke kampong halamannya, keluarga istana Singasari.

Dan Patih Mahesa Amping dengan penuh kebencian dan dendam telah menyebut berulang nama kecil Baginda Raja Sanggrama Wijaya, dengan ucapan Jaka Sesuruh.

“Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus-tikus tidak berarti ini”, berteriak kembali Patih Mahesa Amping sambil melemparkan siapapun prajurit Majapahit yang datang mendekatinya.

Kembali jumlah korban prajurit Majapahit di tangan Patih Mahesa Amping telah bertambah lagi.

Ribuan prajurit itu benar-benar tidak mampu melumpuhkan Patih Mahesa Amping, siapapun yang berani mendekat akan langsung terlempar tidak kenal ampun ditangan Patih Mahesa Amping.

Melihat mulai banyaknya korban yang bergelimpangan akibat pukulan tangan kosong Patih Mahesa Amping telah membuat gentar para prajurit Majapahit itu, beberapa orang terdepan terlihat mundur beberapa langkah tidak berani maju menyerang. Mereka hanya berdiri mengepung agar Patih Mahesa Amping tidak melarikan diri.
Pemandangan saat itu Patih Mahesa Amping seperti tengah berdiri di tengah pusaran laut manusia.

“Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus-tikus tidak berarti ini”, berteriak kembali Patih Mahesa Amping sambil berdiri tegak menantang.

Ternyata teriakan Patih Mahesa Amping itu adalah teriakan yang terakhir, karena selesai berteriak terlihat tubuh Patih yang perkasa itu mulai limbung layaknya seorang pemabuk yang tak mampu mengendalikan dirinya.

Melihat hal demikian pada diri Patih Mahesa Amping telah membuat dua orang prajurit sedikit punya keberanian kembali, terlihat keduanya telah bergerak dengan senjata pedang terhunus menuju arah Patih Mahesa Amping.

Namun sebelum gerakan dua orang prajurit itu mencapai sasaran, tiba-tiba saja berkelebat dua sosok bayangan.
Satu sosok bayangan telah mendekati kedua prajurit yang masih bernyali itu, entah dengan apa tiba-tiba saja kedua prajurit itu terlempar dengan merasakan kepala mereka seperti tertimpa batu yang amat keras.

Sementara sosok bayangan lainnya telah langsung mendekati Patih Mahesa Amping yang hampir jatuh terkulai. Terlihat tubuh Patih Mahesa Amping sudah ada dalam pangkuan seorang pemuda yang tidak lain adalah putranya sendiri, Adityawarman.

“Ayah,,,”, hanya itu yang diucapkan oleh Adityawarman penuh kekhawatiran atas keadaan ayahandanya itu.

Sementara itu, sosok bayangan lainnya ternyata adalah Tumenggung Mahesa Semu yang berdiri tegak membelakangi Adityawarman dan Patih Mahesa Amping.

“Bila perbuatanku hari ini bersalah, aku akan dengan suka rela melepaskan jabatanku ini, namun bila ada yang berani menyentuh kulit tubuh saudaraku ini, berarti akan berhadapan denganku sebagai musuh besarku”, berkata Tumenggung Mahesa Semu dengan suara yang lantang.

Mendengar tantangan Tumenggung Mahesa Semu telah membuat para prajurit menjadi gentar, mereka mulai ragu apakah mampu menghadapi seorang Tumenggung Mahesa Semu yang mereka ketahui adalah saudara seperguruan Patih Mahesa Amping yang hanya selisih sedikit ilmu kesaktiannya.

Ditengah keraguan para prajurit menghadapi tantangan Tumenggung Mahesa Semu, tiba-iba saja terdengar suara orang yang berteriak memberikan semangat agar para prajurit Majapahit tidak takut menghadapi Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman.

“Jumlah kita ribuan banyaknya, dengan maju bersama kita akan kuat. Cincang kedua orang itu yang telah membela Patuh Mahesa Amping, pembunuh kawan-kawan kita”, berkata seseorang memberikan hasutan kepada para prajurit untuk bergerak maju.

Sebagai seorang Tumenggung yang belum lama dilantik, Tumenggung Mahesa Semu sudah mulai banyak mengenal beberapa orang pejabat istana Majapahit. Terlihat Tumenggung Mahesa Semu seperti mengenali siapa pemilik suara yang melengking itu.

Namun belum sempat Tumenggung Mahesa Semu berpikir lebih lanjut, kembali para prajurit Majapahit telah bergerak kembali.
Melihat bahaya yang akan dihadapi, Tumenggung telah langsung melepas pedangnya yang tajam berkilat.

Sementara itu Adityawarman juga telah bergerak cepat, meletakkan tubuh ayahnya di tanah dan langsung sudah melangkah membelakangi punggung Tumenggung Mahesa Semu dengan senjata keris ditangan.

Nampaknya kedua ksatria Majapahit itu sudah siap menghadapi ribuan prajurit Majapahit dengan dada terbuka tidak terlihat sedikitpun rasa gentar di sorot mata keduanya.

Tak terbayangkan suasana dan akibat yang pasti akan terjadi, dua orang ksatria tangguh menghadapi ribuan prajurit, pastinya akan terjadi banyak korban di pihak para prajurit, Tanah halaman disekitar gerbang istana itu akan menjadi banjir darah dimana anyir baunya akan berpekan-pekan lamanya baru dapat hilang, sementara hampir di setiap malam suasana disekitarnya menjadi semakin mencekam dipenuhi banyak hantu penasaran yang bergentayangan.

Namun semua bayangan yang mencekam itu tidak akan terjadi, karena tiba-tiba saja terdengar suara bergema yang terdengar jelas berputar-putar seperti datang dari berbagai penjuru mata angin. Hanya orang sakti yang telah menguasai ajian gelap Ngampar yang dapat melakukannya.

“Mundur semuanya dan sarungkan kembali pedang kalian”, demikian suara itu terdengar bergema menghentakkan dada setiap para prajurit yang seperti tersihir langsung mundur beberapa langkah dan juga serentak telah menyarungkan pedang masing-masing.

Siapa gerangan pemilik ajian gelap Ngampar yang sudah amat langka itu?

Belum reda debar di dada para prajurit, tiba-tiba saja terlihat angin puyuh berputar-putar diatas kepala mereka.

Benar-benar sebuah pemandangan yang sangat menegangkan siapapun yang melihatnya disaat itu.

Seluruh mata masih tertuju kepada pusaran angin puyuh yang terus bergerak kearah pusat kerumunan, dan berhenti turun di dekat Patih Mahesa Amping.

Terperangah wajah seluruh prajurit manakala pusaran angin puyuh itu tiba-tiba menghilang, berganti dengan sesosok tubuh lelaki tua berdiri penuh wibawa.

“Tuan Patih Amangkubumi”, berdesah perlahan dari bibir para prajurit Majapahit yang telah mengenal sosok lelaki tua itu.

“Aku patih Amangkubumi, hari ini aku memegang mandate Baginda Raja Sanggrama Wijaya, ucapanku adalah ucapannya”, berkata Patih Amangkubumi dengan suara yang lantang terdengar hingga di barisan kerumunan paling belakang para prajurit Majapahit.

Terlihat hampir semua prajurit Majapahit menundukkan wajahnya, mencoba menduga-duga keputusan apa yang akan keluar dari pemegang mandat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

“Aku Patih Amangkubumi, hari ini kuasa keadilan berada di tanganku, kitab hukum Kutara Wanara Dharmasasra berada di tanganku”, berkata kembali Patih Amangkubumi masih dengan suara yang sangat lantang.

Berdebar-debar dada para prajurit mendengar perkataan Patih Amangkubumi yang telah menyebut sebuah kitab hukum kerajaan yang sangat tinggi itu, kitab hukum keadilan yang tidak mengenal persaudaraan, tidak mengenal persahabatan, tidak pejabat kerajaan dan kaum jelata, juga para pendeta akan tunduk patuh menjalaninya.

Para prajurit Majapahit itu merasa takut bahwa mereka akan terjerat kesalahan karena telah mencelakai Patih Mahesa Amping yang masih berbaring tidak sadarkan diri itu.

semua prajurit Majapahit masih menundukkan wajahnya, masih mencoba menduga-duga keputusan apa yang akan keluar dari pemegang mandat Baginda Raja Sanggrama Wijaya itu.

“Serahkan keadilan kepadaku, kembalilah kalian ke barak kesatuan masing-masing”, berkata Patih Amangkubumi masih dengan suara yang terdengar begitu lantangnya.

Tanpa menunggu perintah kedua, terlihat ribuan prajurit itu telah membubarkan dirinya, mereka takut Patih Amangkubumi akan berubah pikiran tidak memaafkan apa yang telah mereka perbuat.

Tanpa menunggu para prajurit bubar seluruhnya, terlihat Patih Amangkubumi telah mengangkat tubuh Patih Mahesa Amping begitu ringannya langsung berkelebat kearah dalam istana.

Sementara itu Adityawarman terlihat mengikuti jejak Patih Amangkubumi sambil membawa tubuh Ki Rangga Gajah biru yang terluka parah tidak mampu berdiri.

Melihat Adityawarman dan Patih Amangkubumi, terlihat Tumenggung Mahesa Semu ikut membawa Ki Demung Juru yang juga telah pingsan tak sadarkan diri akibat banyak darah yang keluar dari beberapa lukanya. Sebagaimana Adityawarman, terlihat Tumenggung Mahesa Semu mengikuti arah Patih Amangkubumi.

Ternyata arah Patih Amangkubumi membawa tubuh Patih Mahesa Amping menuju puri pasanggrahannya sendiri.

“berikan mereka ramuan bubuk pengering luka”, berkata Patih Amangkubumi kepada seorang lelaki tua pelayan dalem yang menyongsong kedatangan majikannya itu.

Tanpa menunggu pelayan dalem itu datang kembali, terlihat Patih Amangkubumi sudah duduk disisi Patih Mahesa Amping yang telah dibaringkan di panggung pendapanya.

“Bagaimana keadaan ayahku?”, bertanya Adityawarman dengan wajah penuh rasa cemas.

“Aku belum dapat memastikannya, hanya baru menduga-duga sebagaimana laporan pertama yang kudapat dari seorang prajurit yang datang kepadaku di Bale tamu mengatakan bahwa ayahmu menjadi gila membunuh para prajurit Majapahit”, berkata Patih Amangkubumi sambil masih memeriksa beberapa jalan darah di tubuh Patih Mahesa Amping.

“Apakah ayahku masih dapat disembuhkan?”, bertanya kembali Adityawarman dengan penuh harap dan cemas.

Belum sempat Patih Amangkubumi menjawab pertanyaan Adityawarman, tiba-tiba pelayan dalem telah datang bersama tiga orang kawannya dengan membawa sebuah bubu kecil dari bambu.

Nampaknya pelayan dalem itu membawa kedua kawannya untuk membantunya, dan tanpa menunggu perintah dari Patih Amangkubumi, kedua kawan pelayan dalem itu telah mendekati tubuh Ki Rangga gajah Biru dan Ki Demung Juru membaluri luka-lika mereka dengan bubuk pengering luka.

“Bawakan kepadaku selembar daun keladi dan pisau pendekku”, berkata Patih Amangkubumi kepada pelayan dalemnya yang nampaknya memang menunggu perintah dari majikannya itu.

“Apakah ayahku masih dapat disembuhkan?”, bertanya kembali Adityawarman kepada Patih Amangkubumi.

“Aku masih menduga-duga, untuk kepastiannya aku harus melihat sendiri beberapa tetes darahnya”, berkata Patih Amangkubumi merasa kasihan melihat kecemasan di wajah Adityawarman itu.

Dan tidak lama berselang, pelayan dalem telah datang kembali sambil membawa selembar daunt keladi dan sebuah pisau pendek langsung diserahkan kepada Patih Amangkubumi.

Terlihat Patih Amangkubumi menorehkan pisau pendeknya di salah satu ujung jari patih Mahesa Amping. Darah segar keluar dari jari tangan Patih Mahesa Amping yang langsung ditadahkan oleh patih Amangkubumi dengan bejana selembar daun keladi.

Dengan tidak sabar terlihat Adityawarman menunggu ucapan Patih Amangkubumi yang tengah mengamati darah diatas daun keladi, tetesan darah ayahnya.

Terlihat Patih Amangkubumi menarik nafas berat sekali.

Dengan wajah penuh harap dan cemas, terlihat Adityawarman menahan nafasnya menanti perkataan Patih Amangkubumi.
“Ayahmu terkena serangan racun hati celeng bunting”, berkata Patih Amangkubumi dengan suara lirih kepada Adityawarman.

“racun hati celeng bunting?”, berkata bersamaan Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu merasa baru kali ini mendengar jenis racun seperti yang dikatakan oleh Patih Amangkubumi itu.

“Orang biasa akan mati dalam satu hari, sementara ayahmu masih dapat bertahan hingga saat ini. Nampaknya daya sakti hawa murninya telah dapat bekerja dengan sendiri melindungi tubuhnya, namun tidak mampu melindungi bagian isi kepalanya. Itulah yang menyebabkan ayahmu tak terkendalikan ingatannya”, berkata patih Amangkubumi kepada Adityawarma.

“Apakah ayahku masih dapat disembuhkan?”, berkata Adityawarman masih dengan wajah penuh harap dan cemas.

“Serahkan semuanya kepada Gusti Yang Maha Hidup, dialah penguasa kehidupan ini, hidup dan mati kita ada ditangannya. Sementara kita hanya dapat berupaya dengan sariatnya”, berkata Patih Amangkubumi sambil berdiri dan dengan bahasa tubuhnya memanggil pelayan dalem untuk mendekatinya.

Terdengar Patih Amangkubumi menyebut beberapa tanaman obat kepada pelayan dalemnya.

“Kamu harus pergi cepat ke hutan Maja”, berkata Patih Amangkubumi menjelaskan dimana mendapatkan beberapa jenis tanaman obat yang disebutkannya itu.

“Hamba pamit diri”, berkata pelayan dalem kepada patih Amangkubumi.

Terlihat pelayan dalem itu tengah menuruni anak tangga panggung pendapa, namun begitu kakinya menyentuh tanah, tiba-tiba saja seperti melesat terbang dan menghilang di ujung gerbang gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

Diam-diam Adityawarman dan Mahesa Semu mengakui bahwa ternyata Patih Amangkubumi dikelilingi oleh orang-orang hebat yang punya ilmu kesaktian cukup tinggi.

Sementara itu dua orang pelayan dalem lainnya terlihat telah selesai melaburi luka di tubuh Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.
Dan tidak lama berselang terlihat pelayan dalem yang diperintahkan oleh Patih Amangkubumi ke hutan Maja telah datang kembali.

“Hamba telah mendapatkan tanaman obat yang tuan cari”, berkata pelayan dalem itu sambil menyerahkan beberapa lembar daun dan kulit kayu kepada patih Amangkubumi.

Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu terdiam menyaksikan tangan Patih Amangkubumi tengah meremas beberapa lembar daun yang langsung dimasukkan kedalam sebuah mangkuk.

Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu masih diam membisu menyaksikan Patih Amangkubumi membuka mulut Patih Mahesa Amping dan memasukkan cairan racikannya sedikit demi sedikit.
Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu masih diam membisu menyaksikan semangkuk cairan racikan telah habis masuk ke tubuh Patih Mahesa Amping.

“Nampaknya Ayahmu telah banyak menguras tenaganya tanpa makan dan minum dalam beberapa hari, itulah yang menyebabkannya dirinya lemas tidak sadarkan diri. Mudah-mudahan cairan racikanku ini dapat mengaliskan racun yang ada di seluruh peredaran darahnya itu”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman.

Mendengar perkataan Patih Amangkubumi, terlihat kecemasan di wajah Adityawarman sudah sedikit berkurang, nampaknya putra tunggal Patih Daha itu sangat mempercayai keahlian Patih Amangkubumi dalam ilmu pengobatan itu.

Lama menunggu, Patih Mahesa Amping masih juga belum sadarkan diri.

Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru sudah mulai terlihat bergerak menggeliat.

“Siapkan tempat di dalam agar mereka berdua dapat beristirahat”, berkata Patih Amangkubumi kepada ketiga pelayan dalemnya yang masih berada diatas panggung pendapa untuk membawa Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu dan Patih Amangkubumi masih menunggu Patih Mahesa Amping yang belum juga siuman, masih diam tak bergerak, hanya desah nafasnya saja yang masih terdengar lemah.

“Desah nafasnya sudah mulai terdengar lebih kuat, sebagai pertanda racikanku tengah bekerja”, berkata Patih Amangkubumi yang melihat rongga dada Patih Mahesa Amping telah bergerak kembang kempis lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara itu bulan terbelah diatas langit malam puri pasanggrahan Patih Amangkubumi hanya ditemani tiga bintang.

Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu dan Patih Amangkubumi masih menunggu Patih Mahesa Amping yang belum juga siuman, masih diam tak bergerak, hanya desah nafasnya saja yang sudah terdengar mulai teratur.

“Ayah….”, berkata Adityawarman yang telah melihat ayahnya membuka matanya perlahan.

“jangan bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah”, berkata Patih Amangkubumi sambil memandang wajah Patih Mahesa Amping yang telah membuka matanya merasa silau oleh cahaya pelita malam yang tergantung di tiang pendapa puri pasanggrahan.

“Dimana aku?”, berkata Patih Mahesa Amping lirih perlahan.

“kamu berada di tempat yang aman, wahai saudaraku”, berkata Patih Amangkubumi.

Terlihat Patih Mahesa Amping memandang wajah Patih Amangkubumi yang tersenyum penuh kasih.

“Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping membalas senyuman Patih Amangkubumi yang dipanggil dengan nama samarannya ketika masih dalam awal-awal perjuangan menyelamatkan keluarga istana Singasari dalam kejaran pasukan Raja Jayakatwang.

“Sekarang, tengoklah orang disebelah kirimu”, berkata patih Amangkubumi kepada Patih Mahesa Amping.
Perlahan Patih Mahesa Amping menggerakkan kepalanya menoleh ke kiri.

“Putraku Adityawarman….”, berkata Patih Mahesa Amping.

“Sekarang, pandanglah orang disebelah putramu itu”, berkata kembali Pati Amangkubumi.

“saudaraku…..Kakang Mahesa Semu”, berkata Patih Mahesa Amping sambil memandang Tumenggung Mahesa Semu yang tengah tersenyum memandangnya.

Terlihat Patih Amangkubumi menarik nafas dalam-dalam, merasa gembira melihat sahabatnya telah pulih daya ingatnya, telah terbebas dari serangan racun yang diketahui sangat keras, sebuah racun yang jarang sekali dikenal oleh banyak orang kecuali oleh orang-orang yang ahli mengenal ilmu pengobatan seperti dirinya.

“Racun hati celeng bunting”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati sambil mengutuk orang yang begitu jahat meracuni sahabatnya itu.

“Siapa gerangan yang telah menurunkan tangan jahatnya kepada patih Mahesa Amping?”, berkata kembali Patih Amangkubumi dalam hati, namun setelah lama berpikir tidak juga dapat menemukan apa yang dicari dalam pikirannya itu.

“Gandhok tengen sudah hamba siapkan”, berkata seorang pelayan dalem menyadarkan Patih Amangkubumi yang tengah berada dalam pikirannya sendiri.

“Biarlah aku yang membawa saudaraku”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menawarkan dirinya membawa patih Mahesa Amping untuk beristirahat di tempat yang telah disiapkan untuknya.

“Udara malam sudah menjadi begitu dingin”, berkata Patih Amangkubumi mengajak Adityawarman masuk ke ruang dalam.

Saat itu malam memang terasa sangat dingin, halaman muka puri pasanggrahan Patih Amangkubumi sudah menjadi begitu gelap.

“Biarlah ayahmu beristirahat disini untuk beberapa hari sampai dapat pulih kembali seperti sediakala”, berkata patih Amangkubumi kepada Adityawarman diatas bale kayu di ruang dalam.

“Terima kasih untuk semuanya, tidak terbayangkan bila saja Ki patih Amangkubumi tidak datang tepat pada waktunya”, berkata Adityawarman dengan wajah penuh rasa terima kasih.

Sepanjang malam itu Adityawarman menunggu Patih Mahesa Amping di dekat pembaringannya. Matanya tidak pernah lepas mengamati wajah ayah tercintanya. Terbayang masa-masa kecilnya dimana Ayahnya dengan begitu kasih menjaganya, merasa belum dapat membalas budi kebaikan dan kasih sayang yang pernah tercurah kepadanya.

“Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru pasti dapat menceritakan beberapa hal tentang awal mula di balik peristiwa tadi siang”, berkata Adityawarman dalam hati.

“Hari telah mulai menjelang pagi, wahai putra saudaraku, beristirahatlah sejenak, biarlah aku yang berganti menjaganya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu yang baru saja masuk ke gandhok tempat Patih Mahesa Amping beristirahat.

“Terima kasih, aku merasa tenteram berada disisi ayahku”, berkata Adityawarman.

Tumenggung Mahesa Semu memaklumi perasaan putra Patih Mahesa Amping itu, terlihat mereka berdua duduk disisi peraduan Patih Mahesa Amping.

Tidak lama berselang pintu gandhok terbuka, terlihat wajah penuh senyum yang muncul dari pintu gandhok yang telah terbuka itu.
“Raut wajahnya sudah tidak pucat lagi”, berkata orang yang baru itu
sambil memandang wajah Patih Mahesa Amping yang masih tertidur nyenyak itu, yang tidak lain adalah Patih Amangkubumi.

“Sejak tidur semalaman tidak terbangun sama sekali, tidurnya memang sangat nyenyak sekali”, berkata Adityawarman.

“Aku telah memesan kepada seorang pelayan dalem untuk membuat beberapa racikan untuk diberikan kepada Patih Mahesa Amping”, berkata Patih Amangkubumi sambil mengatakan untuk berpamit diri melaksanakan tugas kepatihan di istana Majapahit.

“Seluruh pelayan dalem di tempatku ini dapat dipercaya, dan aku telah memberikan tugas kepada mereka untuk melarang siapapun orang luar masuk ke puri pasanggrahanku”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

“Orang-orang jahat yang telah meracuni ayahku pasti ingin memastikan keadaannya”, berkata Adityawarman membenarkan kehati-hatian Patih Amangkubumi itu.

Demikianlah, pagi itu terlihat Patih Amangkubumi telah keluar dari puri pasanggrahannya untuk melaksanakan tugas kepatihan di istana Majapahit.

Sepanjang hari itu Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu selalu menjaga Patih Mahesa Amping yang masih sangat lemah.
Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Amangkubumi, para pelayan dalem telah melarang orang luar masuk ke wilayah puri pasanggrahan Patih Mangkubumi.

“Sejak kapan ada larangan tidak boleh masuk?”, berkata seorang tukang kayu bakar merasa janggal.

Mendengar perkataan seorang tukang kayu bakar itu, pelayan dalem yang berjaga di muka halaman puri pasanggrahan Patih Amangkubumi hanya tersenyum.

“Letakkan saja kayu bakarmu di halaman ini, nanti kami yang akan membawanya ke belakang”, berkata pelayan dalem kepada tukang kayu bakar yang memang sudah terbiasa keluar masuk puri pasanggrahan setiap harinya.

Ternyata larangan masuk ke puri pasanggrahan juga berlaku untuk lima orang prajurit penjaga yang biasa berkeliling di semua tempat di dalam istana untuk memastikan suasana dan keadaan disekitarnya aman terkendali.

“aku ini prajurit penjaga, aku ingin memastikan keamanan disini”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu yang ditahan oleh seorang pelayan dalem di muka gapura puri pasanggrahan.

“ini bukan keinginanku, tapi perintah tuan Patih Amangkubumi sendiri”, berkata pelayan dalem kepada para prajurit penjaga itu.

“Baiklah bila memang itu perintah tuan Patih Amangkubumi”, berkata salah seorang penjaga tidak mencoba membantah setelah mendengar bahwa larangan itu atas perintah Patih Amangkubumi.

Terlihat kelima prajurit penjaga itu telah berjalan kembali ke tempat lain untuk memeriksa keadaan dan keamanan istana.

Dan tidak lama berselang muncul seorang pelayan dalem wanita yang biasa belanja sayur mayor kebutuhan warga puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

“Gawat !!”, berkata pelayan dalem wanita itu sambil menurunkan belanjaannya di dekat pelayan dalem lelaki yang bertugas menjaga halaman mula puri pasanggrahan.

“gawat apanya?”, bertanya pelayan dalem lelaki kepada kawannya itu.

“hampir semua orang di pasar membicarakan peristiwa kemarin”, berkata pelayan dalem wanita itu.

“lalu apanya yang gawat?”, bertanya kembali pelayan lelaki itu.

“gawatnya adalah bahwa para keluarga korban, keluarga para prajurit yang tewas telah menuntut keadilan, nyawa harus dibayar nyawa”, berkata pelayan wanita menjelaskan.

“Syukurlah, bukan segawat yang kukira”, berkata pelayan dalem lelaki sambil tersenyum menggoda.

“Gawat apa yang kamu kira?”, berkata pelayan dalem wanita itu penuh penasaran.

“Kukira ada berita keluargamu tidak merestui hubungan kita, itulah gawat darurat yang paling kukhawatirkan”, berkata pelayan dalem lelaki masih dengan senyum menggodanya.

“Masih jauh untuk bercerita tentang hubungan kita kepada keluargaku”, berkata pelayan dalem wanita itu sambil mengangkat kembali bakul belanjaannya diatas kepalanya.

Hingga disaat sore menjelang, terlihat Patih Amangkubumi telah kembali dan langsung menengok Patih Mahesa Amping yang sudah terbangun namun masih sangat lemah.

“Ada yang ingin kubicarakan bersama kalian berdua”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu mengajaknya bicara di ruang serambi dalam mungkin agar tidak didengar langsung oleh Patih Mahesa Amping, takut mempengaruhi kesehatannya yang belum benar-benar pulih.

Tidak lama berselang ketiganya telah duduk di ruang serambi dalam.

“Tadi di Bale Kepatihan, para pejabat Dharmayaksa yang diwakili oleh pendeta Dang Acarca Sujiwa telah menyampaikan sebuah kabar tentang peristiwa kemarin, dimana para keluarga prajurit yang menjadi korban telah menuntut Patih Mahesa Amping untuk diadili dalam dua pemberatan ageman kitab hukum Kutara Wanara Dharmasasra, melakukan pembunuhan dan melakukan caci maki”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

“Apakah Ki Patih sudah memberikan sebuah keputusan?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu yang juga telah memahami tentang kitab hukum kerajaan Majapahit itu yang menjadi ageman di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit, sebagai garis hukum menjaga tatanan etika keselarasan manusia yang hidup di bumi Majapahit.

“Semula aku meminta untuk diundurkan sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, namun mereka memaksaku untuk secepatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari permasalahannya”, berkata Patih Amangkubumi.

“Apakah mereka meminta batasan waktu?”, bertanya kembali Tumenggung Mahesa Semu.

“Mereka meminta di akhir tutup tahun, antara akhir bulan Phalguna dan awal bulan Caitra bersamaan dengan pertemuan agung seluruh pejabat kerajaan”, berkata Patih Amangkubumi.

“hanya tinggal dua pekan lagi?”, berkata Tumenggung Mahesa Semu
“Aku berharap sebelum datang batasan yang mereka pinta, Baginda Raja Sanggrama Wifaya sudah datang kembali”, berkata Patih Amangkubumi.

“Aku melihat sepertinya ada tangan yang sengaja mengambil keuntungan dalam suasana kekeruhan ini, dimulai dari rencana pembunuhan Patih Mahesa Amping, hingga usaha pengerahan keluarga korban prajurit untuk menuntut keadilan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

“Ada asap ada api, kita bisa memulainya dari pendeta Dang Acarca yang membawa permasalahan peristiwa Patih Mahesa Amping, kita juga dapat mengupas siapa orang di balik para keluarga prajurit yang gugur dalam peristiwa itu”, berkata Patih Amangkubumi.

“Sebelum pertemuan agung, mudah-mudahan kita sudah dapat menjernihkan suasana, sedikitnya mengetahui siapa dalang di balik kekeruhan ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

Demikianlah, keesokan harinya Tumenggung Mahesa Semu sudah mulai bekerja, mengerahkan beberapa orang kepercayaannya yang berada dalam kesatuan khusus prajurit telik sandi untuk melakukan penyelidikan yang tersebar.

Berdebar perasaan Pendeta Dang Acarca Sujiwa manakala dua orang prajurit telik sandi mendatangi kediamannya. Ternyata kedua orang prajurit itu telah mendapat tugas untuk membawa Pendeta Dang Acarca Sujiwa ke istana Majapahit hari itu juga.

“Pemimpin kami hanya ingin meminta beberapa keterangan”, berkata salah seorang prajurit kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

bersambung ke senthong tengah

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30 Maret 2015 at 22:06  Comments (101)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

101 KomentarTinggalkan komentar

  1. Demikianlah, ketika telah dipertemukan dengan ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, terlihat Empu Halayuda telah memperkenalkan dirinya.

    “Hamba adalah Dang Acarca Empu Halayuda, diperkenankan datang sebagai utusan Baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda memperkenalkan dirinya.

    “Pastinya ada sesuatu yang amat penting, sehingga Raja Jayanagara harus mengutus seorang pendeta datang menghadapku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Dugaan Kanjeng Ratu sangatlah tepat, tidak tergelincir sedikitpun”, berkata Empu Halayuda.

    “katakanlah segera, agar aku tidak banyak menduga-duga”, berkata Ibu Suri kanjeng Ratu Gayatri mulai tidak suka dengan sikap orang dihadapannya itu yang sekilas menangkap mata lelaki kebanyakan ketika melihat kaum wanita.

    “Sesungguhnya maksud kedatangan hamba adalah untuk meminang putri Dyah Wiyat”, berkata Empu Halayuda.

    Bukan main terkejutnya Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang tidak pernah menyangka bahwa utusan Raja Jayanagara itu adalah bermaksud untuk meminang putri Dyah Wijat.

    “Raja Jayanagara benar-benar Raja Kalagemet”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri menyebut Raja Jayanagara dengan sebutan Raja Kalagemet, sebuah cemohan untuk seseorang yang sudah tidak waras pikirannya di jaman itu.

    “Bagaimana Kanjeng Ratu, apakah pinangan Raja Jayanagara dapat diterima ?”, berkata Empu Halayuda.

    “katakan kepada Raja Kalagemet itu bahwa dirinya telah terlambat satu hari dari Adipati Menak Jingga yang telah lebih dulu datang melamar putriku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri masih dapat menahan rasa amarahnya yang sudah seperti akan meluap diatas ubun-ubun kepalanya.

    “Adipati Menak Jingga dari Balambangan ?”, bertanya Empu Halayuda seperti ingin penegasan dari Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Benar, Adipati Blambangan putra Empu Nambi, sang Patih Amangkubumi Majapahit”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan suara lebih tegas lagi.

    “Apakah Kanjeng Ratu menerima pinangan Adipati Blambangan itu ?”, bertanya Empu Halayuda.

    “Aku tidak perlu menjawabnya untukmu, karena itu bukanlah urusanmu”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan nada suara yang tidak lagi mengindahkan tata karma, menganggap Empu Halayuda hanya seorang utusan yang sangat menjengkelkan.

    “Hamba mohon pamit diri, hamba akan menyampaikan apapun yang hamba dengar kepada baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda yang dapat membaca wajah dan pikiran Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang sudah begitu masam, menahan rasa kemangkelannya yang amat sangat.

  2. Terlihat Empu Halayuda sudah jauh keluar pintu gapura batas kotaraja Kahuripan, dihatinya seperti bersenandung lagu kemenangan merasa telah berhasil membuat sebuah awal keretakan di dalam keluarga istana Majapahit.

    “Hanya anjing bodoh saja yang mau mengawini saudara tirinya”, berkata Empu Halayuda sambil menghentakkan perus kudanya agar berlari lebih cepat lagi mengambil jalan utama menuju arah Kotaraja Majapahit.

    Hari telah menjadi wayah sepi uwong makanala kuda tunggangan Empu Halayuda memasuki gapura batas kotaraja Majapahit.

    Terlihat Empu Halayuda telah memasuki istana Majapahit, langsung melangkahkan kakinya kea rah puri pasanggrahan Raja jayanagara.
    Ternyata Raja Jayanagara memang sedang menunggunya.

    “mata ini terasa lelah menatap ujung halaman puri pasanggrahan, gelisah berharap Empu Halayuda datang membawa kabar berita”, berkata Raja Jayanagara kepada Empu Halayuda.

    Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dalam-dalam, mencoba melakoni seorang yang telah bersusah payah melakukan sebuah perjalanan yang amat jauh, sesorang yang baru saja melaksanakan tugas berat dari majikannya.

    Dan sang putra keturunan ke enam dari Raja Wurawari itu telah memulai kembali lakon adu dombanya, meretakkan suasana di istana kerajaan Majapahit itu.

    “Sangat disayangkan bahwa kedatangan hamba terlambat satu hari”, berkata Empu Halayuda.

    “terlambat ?”, bertanya Raja jayanagara.

    “Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang mengatakannya, bahwa pinangan Baginda Raja telah didahului oleh Adipati dari Blambangan”, berkata Empu Halayuda.

    “Istri Adipati Menak Jingga sudah berjumlah sembilan puluh sembilan, apakah Ibunda Ratu Gayatri menerima pinangannya ?”, bertanya Raja Jayanagara.

    “Kemungkinan yang dapat hamba rasakan adalah bahwa Kanjeng Ratu Gayatri sangat menghormati Patih Amangkubumi, ayahanda Adipati Blambangan itu. Kanjeng Ratu Gayatri akan merasa bersalah bila menolak pinangan itu”, berkata Empu Halayuda mencoba mengeruhkan nama Empu Nambi di hadapan Raja Jayanagara.

    “Lebih agung mana nama Amangkubumi dengan nama kebesaran ayahku ?”, berkata Raja Jayanagara mulai tidak menyukai nama Empu Nambi terdengar ditelinganya.

    Didalam hati Empu Halayuda terdengar senandung kemenangan manakala mendengar perkataan Raja Jayanagara itu, namun tidak diperlihatkan di dalam raut wajahnya.

  3. Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dala-dalam dengan wajah memperlihatkan raut yang penuh kekhawatiran yang amat sangat.

    “hamba hanya menduga-duga bahwa Empu Nambi nampaknya tengah merangkai sebuah rencana yang sangat halus, merangkul Kanjen Ratu Gayatri dengan cara mempersunting putrinya. Mana kita tahu bila Empu Nambi tengah menyusun sebuah kekuatan di dalam istana ini untuk menggulingkan Baginda Raja, menyergap di malam hari di waktu Baginda pulas tertidur. Maka bisa jadi Adipati Menak Jingga yang telah menjadi menantu Kanjeng Ratu Gayatri akan direstui menjadi Raja Majapahit ini”, berkata Empu Halayuda sambil mengamati raut warna di wajah Raja Jayanagara, sebagaimana seorang pemburu yang memasang umpan hidup sambil menunggu buruannya masuk perangkapnya.

    Begitu gembiranya hati Empu Halayuda manakala melihat perubahan di wajah Raja Jayanagara.

    “Srigala tua itu harus segera disingkirkan”, berkata Raja jayanagara yang sudah masuk perangkap hasutan Empu Halayuda yang sangat cerdik itu.

    “Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan srigala tua itu”, berkata Empu Halayuda merasa telah menjerat binatang buruannya, telah berhasil mempengaruhi Raja Jayanagara.

    Dan ternyata bintang terang nampaknya masih selalu berada di dekat Empu Halayuda.

    Tersiar sebuah berita duka dari Tanah Lamajang bahwa Ki Banyak Wedi yang dulu pernah menyandang nama besar sebagai sang Arya Wiraraja telah meninggal dunia. Dan Empu Nambi telah menghadap diri kepada Raja Jayanagara untuk atas nama Kerajaan Majapahit menyambangi keluarganya yang tengah berduka sebagai pertanda bahwa keluarga istana Majapahit mengakui Ki Banyak Wedi sebagai seorang pahlawan yang banyak berjasa dalam awal pendirian Kerajaan Majapahit itu.

    Dan Raja jayanagara telah menerima permohonan Empu Nambi untuk datang menyambangi keluarga Ki Banyak Wedi yang tengah berduka itu di Tanah Lamajang.

    Demikianlah, keesokan harinya disaat pagi masih sangat gelap terlihat Patih Amangkubumi yang diringi sekitar dua puluh orang prajurit telah berangkat meninggalkan Kotaraja Majapahit menuju Tanah Lamajang. Patih Amangkubumi bersama rombongannya itu berangkat dengan pertanda khusus kebesaran bendera Majapahit Raya yang menunjukkan bahwa mereka adalah para utusan Kerajaan Majapahit.

    “Hendak kemanakah gerangan para utusan kerajaan Majapahit itu ?”, berkata seorang petani tua dalam hati manakala melihat rombongan Patih Amangkubumi melintasi jalan sebuah Padukuhan.

    Dan rombongan Patih Amangkubumi memang terus bergerak, derap langkah kaki kuda mereka telah meninggalkan debu-debu yang beterbangan, beberapa pedagang menepikan gerobak pedati mereka di sebuah jalan Kademangan sebagai pertanda penghormatan mereka memberi jalan kepada rombongan utusan kerajaan Majapahit itu yang terlihat dari bendera kebesarannya, bendera sang surya Majapahit yang berkibar di bawa oleh seorang prajurit di barisan pasukan berkuda terdepan.

    • Kamsiaaaa Pak Dhalang……..
      Episode Menak Jinggo akan segera berkobar kobar……

  4. senja kala sang sandikala

  5. tambah seru intrik2 di seputar kekuasaan yang makin kuat. kelemahannya justru di dalam lingkaran2 pusat kekuasaan, seperti juga saat ini…

  6. Patih Amangkubumi dan rombongannya terus memacu kudanya diiringi tatap sang surya yang terus mendaki merayapi kaki cakarawala langit.

    “Kita beristirahat diujung sana”, berkata Patih Amangkubumi kepada seorang prajurit perwira tinggi yang menjadi pimpinan rombongan itu.
    Maka disebuah tempat terlihat prajurit perwira tinggi itu mengangkat tangannya, seketika itu juga rombongan berkuda itu telah menghentikan langkah kaki kuda mereka.

    Matahari saat itu memang sudah berada diatas kepala, terlihat Patih Amangkubumi mencari tempat berteduh disebuah pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan itu. Sementara beberapa orang prajurit telah membawa kuda-kuda mereka ke tepi sungai kecil yang ada disekitar tempat itu.

    Cukup lama Patih Amangkubumi dan rombongannya beristirahat di tempat itu, hingga manakala matahari sudah mulai bergeser dari puncaknya dan kuda-kuda mereka terlihat sudah tegar kembali, terlihat rombongan pasukan kerajaan Majapahit itu tengah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Tanah Lamajang.

    Dan tidak lama berselang rombongan Patih Amangkubumi terlihat sudah bergerak kembali memacu kuda-kuda mereka.
    Debu beterbangan dibelakang langkah kaki kuda mereka, bendera sang surya Majapahit terlihat terus berkibar dibawa lari kuda yang bergerak membelah udara disebuah padang ilalang yang terhampar luas.

    Hingga akhirnya rombongan itu telah memasuki sebuah jalan tanah yang membelah dua buah bukit.

    Namun disebuah kelokan jalan, tiba-tiba saja prajurit perwira yang menjadi pimpinan para prajurit terlihat mengangkat tangannya tingi-tinggi.

    Seketika itu juga para prajurit berkuda itu telah memperlambat laju kuda mereka.

    Patih Amangkubumi dan rombongannya telah melihat segerombolan orang dua kali lipat dari jumlah jumlah mereka yang telah memenuhi semua sisi jalan.

    “Prajurit Majapahit ?”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati ketika sudah menjadi dekat dengan orang-orang yang menghalangi jalan mereka yang ternyata memang mengenakan pertanda keprajuritan Majapahit.

    “Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini ?”, bertanya-tanya Patih Amangkubumi dalam hati merasa heran ada sepasukan prajurit Majapahit ditemui di jalan itu.

    “Siapakah pemimpin pasukan ini ?”, berkata prajurit perwira yang menjadi pimpinan rombongan Patih Amangkubumi bertanya kepada para prajurit Majapahit yang menghalangi jalan mereka.

    “Aku pimpinan pasukan disini”, berkata seseorang yang punya suara sangat berat kepada prajurit perwira yang bertanya.

  7. Semoga ending Empu Nambi serupa dengan dua sahabatnya.

    • deg deg plas….
      berarti Ki BP sama dengan saya nggih.
      Saya paling benci sejarah di bagian ini, semoga Pak Dhalangnya bisa meceritakannnya dengan baik. Tidak memutar balikkan sejarah, tetapi membuat alur yang logis dan tidak tragis.
      he he he .. embuhlah, terserah Pak Dhalangnya saja.

      • Tenang saja Pak Satpam, para tokoh tidak akan terlihat hitam kelam, semua terjadi karena adanya Sengkuni yang selalu meng’kompor”i dan memanfaatkan situasi.

        • Kasinggihan Ki

          justru karena itu, orang baik jadi “terlihat jahat” karena adanya “Sengkuni” di sekeliling penguasa.

          mangkelnya tu di sini ……. (he he he … kaya lagu saja)

  8. “Dari kesatuan manakah kalian ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan merasa tidak ada satupun yang dikenal dari para prajurit yang tengah menghadangnya itu.

    “kami tidak dari kesatuan manapun, yang pasti kami berada dibawah garis perintah Raja Jayanagara langsung”, berkata pimpinan mereka yang bersuara berat itu.

    Terkejut Patih Amangkubumi yang masih berada diatas punggung kudanya manakala mendengar penjelasan pimpinan prajurit yang menghalangi jalan mereka itu.

    “Raja Jayanagara telah membentuk sebuah pasukan khusus ?”, berkata Patih Amankubumi dalam hati merasa heran bahwa dirinya tidak mengetahuinya. “Apakah Raja Jayanagara sudah tidak percaya lagi denganku ?”, berkata kembali Patih Amangkubumi dalam hati.

    “lalu, apa tugas kalian disini ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan.

    Pertanyaan perwira tinggi itu dijawab dengan tawa bergelak-gelak dari prajurit yang bersuara berat itu diikuti oleh para pengikutnya.

    “Tugas kami disini adalah memenggal kepala kalian semua”, berkata prajurit bersuara berat itu setelah menghentikan tawanya.

    Mendengar pernyataan prajurit bersuara berat itu memang sebuah tantangan didengar oleh perwira tinggi itu, terlihat perwira tinggi itu sudah langsung turun dari kudanya diikiti oleh Patih Amangkubumi dan dua puluh orang prajurit yang ikut bersamanya.

    “Penggal kepala mereka semua”, berteriak prajurit bersuara berat itu memberi perintah kepada pengikutnya.

    Mendengar teriakan perintah dari pemimpinnya, terlihat para pengikutnya sudah langsung melepas pedang panjang mereka dan bergerak menerjang rombongan Patih Amangkubumi.

    Tapi para prajurit yang mengawal Patih Amangkubumi itu adalah para prajurit utama, prajurit pilihan yang sudah banyak pengalaman bertempurnya. Terlihat mereka telah langsung siaga menunggu terjangan datang dari sekelompok orang yang mengaku para prajurit Majapahit itu.

    Maka dalam waktu yang begitu singkat, pertempuran dua kelompok yang sama-sama memakai pertanda keprajuritan Majapahit itu sudah melebur dalam sebuah kancah gelora pertempuran yang keras, setiap orang berusaha melumpuhkan lawannya, dan suara denting pedang yang saling berbenturan bersama suara bentakan dan sumpah serapah telah bergemuruh bersatu padu menjadi suara peperangan yang begitu menegangkan disebuah jalan tanah diantara dua buah perbukitan itu.

    Naas sekali nasib para prajurit penghadang yang kebetulan memilih orang tua berjanggut putih yang tidak mengeluarkan senjata apapun itu, entah dengan cara apa, siapapun yang mendatanginya akan terlempar pingsan. Orang tua berjanggut putih itu hanya berdiri ditempatnya, dua atau tiga orang penyerangnya langsung terjungkal berguling-guling terkena sambaran tangan dan kaki orang tua itu yang terlihat bergerak seadanya.

  9. Para prajurit penghadang itu nampaknya tidak mengetahui bahwa orang tua berjanggut putih itu adalah Empu Nambi, seorang yang sebelum menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit adalah seorang gurusuci pemimpin tertinggi aliran kelompok Teratai Putih yang berpengaruh dan mempunyai pengikut terbesar di jaman itu dimana padepokannya tersebar di hampir seluruh Jawadwipa dan Balidwipa.

    Bila saja Empu Nambi menghendaki, dengan sekali sapuan tenaga saktinya saja sudah dapat merobohkan semua prajurit penghadang itu. Namun Empu Nambi tidak mau melakukannya, hanya melumpuhkan lawan yang kebetulan datang menyerangnya, masih tetap berdiri ditempatnya sambil menggerakkan tangan dan kakinya seperti seadanya, tapi dua tiga orang kembali terpental tidak berdaya.

    Meski tengah menghadapi beberapa orang prajurit penghadang yang belum juga jera, Empu Nambi masih dapat mengamati seluruh pertempuran, dimana dilihatnya para prajurit rombongannya masih dapat diandalkan, masih dapat mengimbangi serangan pihak lawan yang jumlahnya dua kali lipat itu.

    Dan kembali dua tiga orang pihak lawan terlempar terkena sambaran tangan Empu Nambi yang terlihat seadanya bergerak, namun telah dilambari tenaga sakti dan daya gerak tingkat tinggi hingga tidak seorangpun lawannya dapat mengelak dan sudah langsung terjungkal meski hanya mengenai angin sambarannya saja.

    Beberapa prajurit penghadng yang melihat kesaktian Empu Nambi mulai berpikir-pikir untuk mendekat, mereka mencoba mencari lawan lainnya.

    Terlihat senyum di bibir Empu Nambi yang melihat beberapa orang prajurit penghadangnya bergeser menghindarinya, melihat yang demikian telah memaksa Empu Nambi mulai bergerak merambah masuk ketengah pertempuran yang tengah berkecamuk itu.

    Tak terkira kesaktian Empu Nambi membuat jerih siapapun yang melihatnya, karena tangan dan kaki Empu Nambi telah mampu memporakporandakan pasukan lawan, kemanapun tubuh Empu nimbi bergerak, pastilah ada jeritan dan orang yang terlempar.

    Akibatnya dalam waktu yang amat singkat, jumlah prajurit penghadang itu sudah semakin jauh menyusut.

    “Selamatkan diri kalian !!”, berteriak pemimpin mereka yang bersuara berat itu memberi perintah untuk segera pergi meninggalkan pertempuran.

    “jangan kejar mereka”, berkata Empu Nambi kepada prajuritnya yang hendak mengejar para prajurit penghadang itu.

    Mendengar perkataan dari Empu Nambi, beberapa prajurit yang sudah kadung mengejar para penghadang itu telah menghentikan langkah mereka.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam-dalam manakala melihat prajurit rombongannya tidak ada yang terluka.

  10. Hups……
    Baru sempat tengok padepokan.
    Suwun…….

  11. Ketika melihat beberapa orang prajurit pihak lawan yang tengah merintih Manahan rasa sakit yang amat sangat, terlihat Empu Nambi mendatangi orang-orang yang terluka dan dengan penuh kasih telah langsung menurunkan tangannya mengobati dan meringankan rasa sakit mereka.

    “Sempurnakanlah jasad mereka”, berkata Empu Nambi kepada para prajuritnya untuk menguburkan beberapa orang yang tewas dalam pertempuran itu.

    Terlihat hampir semua prajurit rombongan Empu Nambi itu bekerja sepenuh hati menyempurnakan jasad-jasad orang yang sebelumnya telah menjadi lawan mereka sendiri.

    “mari kita melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari sini ada sebuah Kademangan dimana kita dapat menitipkan para tawanan”, berkata Empu Nambi kepada prajurit perwiranya.

    Demikianlah, hari memang belum beranjak senja ketika rombongan Empu Nambi terlihat bergerak untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke Tanah lamajang. Gerak langkah mereka tidak seperti sebelumnya, karena mereka harus membawa beberapa orang tawanan.

    Diperjalanan Patih Amangkubumi terus berpikir keras, mencoba merunut beberapa kejadian untuk dapat mengungkapkan kaitannya dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Pikiran Empu Nambi bergerak mulai dari kejadian di hutan Kemiri, sebuah percobaan pembunuhan sahabatnya patih Mahesa Amping, dan kembali peristiwa percobaan pembunuhan atas diri Patih Mahesa Amping lewat sebuah racun hati celeng bunting.

    “nampaknya sekarang ini, akulah yang akan menjadi sasaran mereka”, berkata Empu Nambi dalam hati setelah menemukan benang basah keterkaitan berbagai peristiwa.”Istana Majapahit telah dibayangi tangan-tangan hitam diluar pengetahuan Raja Jayanagara”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati.

    Sementara itu gerak langkah rombongan Empu Nambi telah memasuki Kademangan Japan disaat hari telah diujung senja.

    Tergopoh-gopoh Ki Demang menerima rombongan istana Majapahit itu, menyiapkan kediamannya sendiri dan beberapa rumah tetangganya untuk beristirahat Empu Nambi dan rombongannya.

    Atas permintaan Empu Nambi, maka Ki Demang telah menempatkan para tawanan di lumbung desa dengan penjagaan yang sangat ketat.

    “Aku menitipkan para tawanan di Kademangan Japan ini, pada saatnya akan kami bawa ke Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambil kepada Ki Demang Japan.

    Sementara itu diwaktu yang sama di sebuah hutan terlihat dua orang lelaki baru saja menghabisi nyawa sepuluh orang prajurit yang memakai pertanda keprajuritan Majapahit, diantaranya seorang pemimpin prajurit yang bersuara berat, ada terlihat sudah tak bernyawa lagi diantara mayat kawan-kawannya.

    “Kita harus membunuh sisa dari mereka yang telah menjadi tawanan Empu Nambi”, berkata seorang lelaki kepada kawannya.

  12. Terlihat lelaki itu telah menyarungkan kembali dua trisulanya di kiri dan kanan pinggangnya.

    Siapakah kedua lelaki itu ?

    Siapa lagi pemilik trisula kembar bila bukan Dang Acarca Empu Dyah halayuda, seorang pendeta yang diangkat oleh Raja jayanagara sebagai anggota Dharmayaksa. Sementara lelaki yang bersamanya itu adalah Ra Kuti.

    Ternyata sehari sebelum keberangkatan Empu Nambi dan rombongannya, Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti telah menyiapkan emput puluh orang untuk menghadang rombongan Empu Nambi.

    Benarkah keempat puluh orang yang menghadang Empu Nambi adalah para prajurit Majapahit ?

    Tidak ada seorangpun yang mengatahui bahwa Empu Dyah Halayudan dan Ra Kuti telah lama menggalang sebuah kekuatan baru, para prajurit Majapahit baru di sebuah tempat yang sangat dirahasiakan tidak jauh dari Kotaraja Majapahit. Namun penggalangan prajurit baru itu tanpa sepengetahuan Raja Jayanagara.

    Kekalahan keempat puluh orang prajurit yang menghadang rombongan Empu Nambi memang sudah diperhitungkan oleh Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti. Keempat puluh prajurit ibarat bidak-bidak umpan hidup untuk mendapatkan sebuah rencana panjang yang telah disusun dengan begitu rapih penuh selubung-selubung hitam.

    Dan malam itu dua orang pelakon panggung sejarah hitam Kerajaan Majapahit itu telah berada disekitar kademangan Japan. Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Mereka adalah dua orang berilmu tinggi, dengan mudahnya menyelinap dan berkelebat mendekati sasaran mereka, sebuah panggung lumbung desa yang cukup besar yang dijaga oleh sekitar sepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Pasir besiku akan melumpuhkan mereka”, berbisik Empu Dyah Halayuda kepada Ra Kuti.

    Bergidik perasaan hati Ra Kuti melihat kelihaian Empu Dyah Halayuda menggunakan pasir besi yang selalu dibawanya di dalam lipatan pakaiannya itu.

    Ra Kuti telah melihat ayunan tangan Empu Dyah Halayuda melepas pasir besi itu yang telah langsung meluncur dengan kecepatan yang sungguh luar biasa seperti ribuan jarum terbang.

    Dan dengan mata terbelalak, Ra Kuti telah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kesepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan sudah langsung tergeletak tanpa bersuara terkena senjata rahasia pasir besi yang sangat mematikan itu.

    Terlihat keduanya dengan sangt tenang sekali naik keatas panggung lumbung desa yang sudah tidak terjaga itu.

    “kami merasa yakin bahwa tuan-tuan pasti akan datang menyelamatkan kami”, berkata salah seorang tawanan yang telah melihat Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti masuk menemui mereka.

  13. Namun baru saja selesai bicara, tawanan itu telah melihat sebuah kilatan yang berasal dari tangan Empu Dyah Halayuda. Dan dengan mata terbelalak tawanan itu telah terbungkam selama-lamanya terkena sabetan trisula Empu Dyah Halayuda yang sangat tajam itu.

    Dua belas orang tawanan yang terkurung di dalam lumping desa itu terbelalak matanya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, harapan mereka untuk dibebaskan seperti buyar seketika. Di dalam benak dan pikiran para tawanan itu dipenuhi ketidak mengertian, mengapa pimpinan mereka sendiri yang selama ini telah menempa diri mereka menjadi prajurit yang handal telah begitu ringannya melepas nyawa salah seorang dari mereka ?

    Namun belum sempat terjawab pertanyaan besar yang memenuhi benak dan pikiran ke dua belas tawanan itu, tiba-tiba saja keris ra Kuti sudah berkelebat dengan sangat cepatnya merobek urat leher mereka. Dan hanya dengan hitungan beberapa kedipan mata saja, kedua belas tawanan itu sudah hilang nyawanya dengan urat leher terputus.

    Gegerlah suasana pagi di Kademangan Japan, isak tangis terdengar dari suara beberapa wanita, ibu dan istri para prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Kami telah membawa rentetan petaka ini di Kademangan Japan”, berkata Empu Nambi yang merasa terpukul dengan kejadian itu, seperti kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan gelora perasaannya sendiri, antara duka dan kemarahan yang amat sangat.

    “Tidak bisa kita berhindar bersembunyi di liang semut sekalipun, menurut hamba ini bukan sebuah rentetan petaka, tapi garis ketetapan Sang Gusti pemilik kehidupan ini”, berkata Ki Demang japan kepada Empu Nambi.

    Demikianlah, kejadian pembunuhan di kademangan Japan telah menunda keberangkatan rombongan Empu Nambi. Mereka harus menunggu pelaksanaan upacara penyempurnaan para korban.

    “Dua puluh tiga gundukan tanah itu akan menjadi saksi bisu kekelaman sejarah Kerajaan Majapahit ini”, berkata Empu Nambi sambil memandang makam para korban yang telah selesai di kebumikan itu kepada seorang perwira tinggi di dekatnya.

    “Hamba akan menjadi saksi kebenaran di belakang tuan Patih Amangkubumi”, berkata perwira tinggi itu.

    “Meski bilamana aku berada diseberang garis pertempuran menghadapi para prajurit Kerajaan Majapahit ?”, bertanya Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    “Aku akan berada selamanya di belakang kebenaran”, berkata perwira tinggi itu penuh dengan ketegasan dan keteguhan hati.

    “Lika-liku sandiwara kehidupan selalu dipenuhi berbagai corak warna-warni yang melatari pegelaran itu, semoga warna merah putih dihatimu tidak akan pernah luntur, sebagai keteguhan hati seorang ksatria yang berjalan diatas padang gurun kebenaran”, berkata Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    • Kamsssiiiiaaaaa Pak Dhalang………
      Tambah mencekam……….

  14. Matahari siang itu redup tertutup awan kelabu yang berarak bergerak terbawa angin.

    Terlihat sebuah pasukan berkuda telah bergerak meninggalkan gapura Kademangan Japan. Mereka adalah rombongan Empu Nambi yang akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Lamajang.
    Manakala Kademangan Japan sudah jauh dibelakang, terlihat mereka telah memacu kudanya. Kembali terlihat bendera sang surya Majapahit berkibar kembali dihempas angin dan lari kuda yang melaju kencang.

    Warna biru barisan pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru seperti melambaikan tangan memanggil-manggil kuda-kuda mereka agar berpacu lebih cepat lagi.

    Tidak ada halangan yang berarti di dalam perjalanan mereka itu, hingga ketika senja mulai turun membayangi bumi mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Lamajang yang sangat luas itu. Namun masih perlu waktu untuk tiba di Kota Kadipaten Lamajang.

    Akhirnya setelah menyusuri dan melewati beberapa Kademangan, mereka telah berada di jalan utama menuju istana kadipaten Lamajang, sementara hari telah menjadi larut malam.
    Gembira hati Adipati Menak Koncar melihat kedatangan ayahandanya itu. Dalam pertemuan awal itu, Empu Nambi mengatakan bahwa keberadaannya di Tanah Lamajang ini adalah sebagai utusan keluarga istana Majapahit untuk menyambangi rumah duka keluarga Ki Banyak Wedi. Sengaja Empu Nambi tidak bercerita tentang beberapa kejadian dan peristiwa yang dialaminya selama di perjalanan.

    “Besok pagi, aku akan ikut mengantar Ayahanda ke rumah duka itu”, berkata Adipati Menak Koncar masih diliputi suasana kegembiraan hati mendapatkan kunjungan Empu Nambi di istana Kadipatennya.

    Maka keesokan harinya, ketika pagi sudah mulai terang tanah terlihat rombongan Empu Nambi telah keluar dari gerbang istana Kadipaten lamajang, Adipati menak Koncar terlihat ada bersama mereka.

    Rombongan berkuda itu terlihat tidak memacu kudanya sebagaimana hari sebelumnya, nampaknya Empu Nambi ingin menikmati suasana Tanah Lamajang yang sudah sekian tahun ditinggalkannya semenjak di daulat oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai Patih Amangkubumi di Kerajaan Majapahit.

    Sawah yang hijau bunting menguning terhampar luas membentang hingga kaki Gunung Semeru seperti telah membawa angan dan kenangan Empu Nambi di masa-masa mudanya dalam didikan dan gemblengan ayahnya sendiri yang penuh kasih telah membentuk dirinya, mengajarkan olah kanuragan dan olah Kajiwan.

    “Kita telah memasuki wilayah Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ayahandanya ketika mereka memasuki sebuah regol gapura Kademangan Randu Agung.

    Ternyata mereka datang di saat upacara pengabuan jenasah tengah berlangsung. Kuda Anjampiani menerima kedatangan Empu Nambi dan rombongannya dengan penuh rasa suka dan cita. Merasa terhormat mendapatkan sambangan dari keluarga istana Majapahit yang turut berbela sungkawa.

    • Kamsiiiaaaaa………
      Seharusnya Mahisa Semu sebagai Kepala BIN Majapahit bisa mendeteksi pergerakan Halayuda alias Mpu Secang…..

  15. kelihatan lengah ya..

  16. Risang kok lupa, Gajahmada kemana ya

    • Lagi nungguin Lendhut Benter, takut mbludag……

  17. Bagi masyarakat Jawa Tengah, episode yang sedang digeber Ki Dhalang Kompor ini terkenal dengan nama episode Damarwulan.
    Pada kira2 th 1851, keluarga Sri Mangkunegara IV menggubah cerita lewat karya tari klasik dan tembang yang dibagi dalam 4 episode.

    1. Damarwulan ngarit.
    2. Ranggalawe Gugur.
    3. Menakjingga Lena.
    4. Jumenenging Damarwulan dados Ratu ing Majapahit kagarwa Ratu Ayu Kencanawungu.

    Dalam cerita Langendriyan ini Ranggalawe gugur melawan Menakjingga yang menagih janji untuk menyunting Ratu Ayu Kencanawungu karena sudah berhasil memadamkan pemberontakan Kebo Marcuet. Dalam cerita ini Menakjingga digambarkan sebagai tokoh jahat dengan kaki pincang dan mata rusak sebelah tetapi memiliki kesaktian yang tinggi dengan senjata wesi kuning.
    Tentu saja cerita ini dibantah oleh masyarakat Blambangan/Banyuwangi karena dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah.
    Walaupun saya sejak kecil sering mendengarkan kisah ini lewat siaran radio maupun kaset, namun membaca cerita yang ditulis Ki Dhalang Sandikala ini saya merasa sangat saluuut dan respek.
    Memang sejarah harus dilihat dari dua sisi.

    Harak inggih leres mekaten to Pak Satpam…..???
    (menawi mboten leres mangke kula “bold/italic”)

    • Injih Ki mBleh, leres (timbang di bold / italic terus lupa menutupnya, sehingga meluber kemana-mana.)

      he he he ….

  18. Selesai menjepret rontal bersamaan dengan kumandangnya adzan Maghrib di tempat Satpam.

    Dua rontal lagi Pak Dhalang, sudah cukup untuk menutup gandok 09, dan Satpam siap buka gandok 10.

    nuwun

  19. haduhh, coapeknya minta ampun, sejak jumat sore berangkat ke bandung pulang ke jakarta di tempat Sultan Agung menempatkan tentaranya di Matraman, hehe….terus berangkat lagi tapak tilas tempat semedhi Raja Siliwangi di kaki guung Gede, Cibodas, baru sore ini tingak-tengok Padepokan.

    ehem….ternyata hanya perlu 2 rontal untuk menutupnya…..kamsia untuk kebersamaannya
    kamsia…kamsia,,,kamsia

    • njih Pak Lik

      PKPM-09 kurang dua halaman dan gandok 10 sudah siap.
      tetapi kalau capek ya istirahat dulu lah, biar alur ceritanya enak dibaca.

      nuwun

  20. jaga kesehatan ki..

  21. Setelah ikut bersama dalam upacara pelarungan abu jenazah di laut, Empu Nambi berjanji kepada Kuda Anjampiani akan datang kembali dalam upacara Makelud, dua belas hari setelah upacara pengabuan.

    “Hanya doa seorang cucu tercinta yang dapat sampai ke buyutnya, aku masih cukup lama berada di Tanah Lamajang ini, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali di upacara Makelud”, berkata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani manakala akan kembali ke istana Kadipaten Lamajang.

    Demikianlah, malam itu Empu Nambi masih menginap di istana Kadipaten Lamajang. Dan dalam sebuah kesempatan ketika Empu Nambi berbincang di serambi istana Kadipaten Lamajang, bukan main terkejutnya Adipati Menak Koncar mendengar cerita dari Empu Nambi tentang empat puluh prajurit Majapahit yang telah menghadangnya di sekitar Kademangan Japan.

    “Aku tidak akan melepas ayahanda kembali ke Kotaraja Majapahit, sebelum adanya jaminan keselamatan ayahanda dari Raja Jayanagara sendiri”, berkata Adipati Menak Koncar penuh kekawatiran kepada Ayahandanya.

    “Sayangnya kita tidak mengetahui siapa dalang dibalik semua rentetan peristiwa ini”,berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Siapapun dalang dibalik semua ini, aku tidak mau nasib ayahanda sebagaimana Patih Mahesa Amping. Aku tidak ingin ada kereta jenasah datang membawa mayat ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar tetap bersikeras tidak menginjinkan Ayahandanya kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Wahai putraku, ayahandamu ini sudah tua. Namun aku tidak akan menyerahkan kepalaku seperti seekor kerbau, aku tidak akan menyerahkan kepalaku untuk sebuah kesalahan yang tidak kuperbuat. Tapi kita sudah membuat banyak dugaan-dugaan terlalu jauh, kita belum tahu berhadapan dengan siapa”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Ayahanda benar, namun aku tetap tidak ingin apa yang di alami Patih Mahesa Amping terjadi pula kepada diri Ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Demi keutuhan kerajaan Majapahit, demi menghindari sebuah peperangan yang akan terjadi, Patih Mahesa Amping telah mengorbankan dirinya untuk semua itu. Namun ternyata Patih Mahesa Amping bukan sasaran terakhir mereka. Ayahandamu juga bukan tumbal terakhir mereka, masih ada banyak tumbal yang harus mereka cari lagi demi meluluskan keinginan utama mereka, menguasai tahta Singgasana Majapahit ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Mereka tidak akan mendapatkan diri ayahanda, aku disini akan menjaga ayahanda meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara di medan pertempuran”, berkata Adipati Menak Koncar penuh keberanian.

    “Semoga itu tidak akan pernah terjadi, wahai putraku”, berkata Empu Nambi penuh senyum lembut kepada putranya, Adipati Menak Koncar.
    “Semoga hal itu memang tidak akan pernah terjadi, wahai ayahandaku”, berkata Adipati menak Koncar.

  22. Namun keduanya terlihat saling bertatapan mata manakala seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang datang menemui mereka mangatakan ada tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit.
    “kami akan menemui mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawal itu.

    Terlihat Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi telah berjalan kearah pintu pringgitan dengan perasaan berdebar-debar dan rasa keingintahuannya siapa gerangan tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit itu.

    Namun manakala mereka telah membuka pintu pringgitan lebar-lebar, rasa debar di dada keduanya seperti berdebar bertambah kencang, karena mereka berdua telah mengenal ketiganya sebagai orang penting di istana Majapahit.

    Siapakah ketiga tamu itu yang langsung berdiri diatas pendapa menakala melihat Adipati menak Koncar dan Empu Nambi yang telah keluar dari pintu pringgitan ?

    “Ternyata ada tiga saudaraku dari Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambi kepada ketiga tamunya yang tidak lain adalah Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Dua malam tidak melihat Empu Nambi di Istana seperti kehilangan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu sambil tersenyum.
    “Selamat datang kembali di istanaku, wahai saudaraku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ketiga tamunya itu.

    Demikianlah, merekapun saling duduk kembali diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang dengan pembicaraan beberapa hal yang ringan seputar pelaksanaan upacara pengabuan Ki Banyak Wedi dan keadaan Kuda Anjampiani yang nampaknya sudah menjadi semakin dewasa.

    “nampaknya Ki Banyak Wedi sudah dapat membimping cucu tercintanya itu sesuai dengan yang diharapkannya”, berkata Gajahmada.

    Namun Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar tidak mudah untuk meredam debar perasaannya sendiri, merasa bahwa kedatangan tamunya di malam hari itu pastinya bukan hanya sekedar bertanya tentang upacara pengabuan Ki Banyak Wedi, tapi ada sesuatu yang sangat penting sekali. Apalagi manakala Tumenggung Mahesa Semu bercerita bahwa mereka tidak beristirahat bermalam dalam perjalanan mereka ke Tanah Lamajang.

    “Nampaknya ada sebuah berita yang sangat penting sekali sehingga kalian harus membuang malam di perjalanan kalian “, berkata Empu Nambi tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan hatinya sendiri.

    Telihat ada perubahan wajah diantara ketiganya, Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu manakala mendengar perkataan Empu Nambi itu. Wajah ketiganya terlihat berubah menjadi begitu kaku dan tegang.

    “Kakang Tumenggung Mahesa Semu mungkin dapat menyampaikannya lebih jelas lagi”, berkata Gajahmada sambil memalingkan wajahnya kearah Tumenggung Mahesa Semu,

    • Kamsia………
      belum bisa dijepret dan ditutup
      nanti malam nggih…..

      tapi, gandok 10 sudah siap kok

      • Kamsiaaaaa Pak Dhalang………..

    • Motongnya nggak enak blas Ki Dalang, nanggung berat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: