PKPM-09

senthong tengah

Tanpa dapat membantah, meski dirinya adalah salah satu anggota Dharmayaksa yang bertugas menangani berbagai perselisihan sebagai pejabat hakim agung, Pendeta Dang Acarca hari itu juga telah memenuhi panggilan Tumenggung Mahesa Semu, seorang pejabat istana Majapahit yang sangat disegani karena merupakan orang kepercayaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sang penguasa tertinggi di kerajaan Majapahit. Atas perkenan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, wewenang Tumenggung Mahesa Semu dapat memenjarakan siapapun orang yang dicurigai akan mengganggu tatanan keamanan di bumi Majapahit.

Dan hari itu Pendeta Dang Acarca Sujiwa bersama dua orang prajurit telik sandi terlihat tengah memasuki puri pasanggrahan milik Tumenggung Mahesa Semu di dalam istana Majapahit, disamping sebagai tempat resmi kediaman Tumenggung Mahesa Semu, juga sebagai pusat kendali para prajurit telik sandi.

Ternyata Tumenggung Mahesa Semu seorang yang sangat menjiwai tugasnya, dapat mengupas dan menelanjangi orang dengan berbagai cara tanpa kekerasan.

Dan Pendeta Dang Acarca Sujiwa benar-benar merasa kelelahan jiwa dan raganya setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan, berbagai pertanyaan dari pagi hingga menjelang petang hari.

Dan akhirnya Pendeta Dang Acarca Sujiwa sudah mulai menyerah, yang ada dalam pikirannya adalah melindungi diri sendiri, melindungi jabatan dan kehormatannya sendiri.

“Mendapatkan jabatan sebagai anggota Dharmayaksa sungguh sebuah kebanggaan hati siapapun orangnya, sebuah jembatan dimana diri dan keluarga kita dihormati dan dimuliakan. Namun semua kembali ke diri tuan pendeta, karena kejujuran tuan pendeta adalah pertimbanganku apakah jabatan dan kehormatan tuan pendeta memang harus hanya sampai disini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

Terlihat Pendeta Dang Acarca Sujiwa menarik nafas panjang, merasa sudah begitu lelah.

“Semua kulakukan karena mendapatkan ancaman dari Ra Kuti yang akan membongkar kehidupan hitamku di masa lalu”, berkata Pendeta Dang Acarca sambil menundukkan kepalanya.

“Ra Kuti, salah satu pejabat Dharmaputra”, berkata dalam hati Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara itu di tempat kediaman Patih Amangkubumi terlihat seorang wanita setengah baya bersama seorang pemuda tertahan di gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

“Kami hanya menjalankan perintah”, berkata seorang pelayan dalem dengan penuh santun.

Beruntung belum sempat meruncing menjadi sebuah ketegangan, Patih Amangkubumi yang baru pulang dari kepatihan telah melihat mereka.

“Maaf Nyi Nariratih, aku yang melarang orang luar masuk ke puri pasanggrahanku”, berkata Patih Amangkubumi kepada wanita setengah baya itu yang ternyata adalah Nyi Nariratih, ibunda Gajahmada. Sementara pemuda yang bersamanya adalah Supo Mandagri.

Terlihat Patih Amangkubumi sendiri yang mengantar mereka memasuki halaman puri pasanggrahan dan langsung ke gandok dalam menemui Patih Mahesa Amping.

“Tuan Patih….”, berkata Nyi Nariratih ketika menemui Patih Mahesa Amping yang sudah dapat duduk di peraduannya dan hanya ditemani oleh putranya, Adityawarman.

“Tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku berada di tangan seorang tabib paling hebat di bumi Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping sambil melebarkan senyumnya.

Mendengar pujian dari Patih Mahesa Amping, terlihat Patih Amangkubumi hanya sedikit tersenyum.

“Aku hanya sedikit mengenal beberapa macam tanaman obat”, berkata Patih Amangkubumi merendahkan dirinya.

“Ki Sandikala memang terlalu merendahkan diri, tabib biasa mungkin tidak akan mampu menawarkan racun hati celeng bunting”, berkata Patih Mahesa Amping.

“Racun hati celeng bunting ?, apakah berasal dari hati seekor babi hutan yang akan melahirkan ?”, bertanya Supo Mandagri

“Benar, salah satu racikannya berasal dari hati seekor babi hutan yang tengah mengandung tua”, berkata Patih Amangkubumi menjelaskan kepada Supo Mandagri.

“Beberapa bulan yang lalu, aku pernah melihat Ki Secang berburu seekor babi hutan. Pada saat itu aku merasa heran bahwa yang diambilnya dari babi hutan yang tengah mengandung tua itu hanya hatinya”, berkata Supo Mandagri bercerita tentang pertemuannya dengan Ki Secang di hutan Perigian beberapa bulan yang lalu.

“Ki Secang?”, bertanya Patih Mahesa Amping merasa belum kenal dengan orang yang bernama Ki Secang.

Kepada ayahnya, Adityawarman menjelaskan bahwa Ki Secang adalah pimpinan sebuah kelompok yang pernah datang menyerang Kadipaten Blambangan.

“Ki Secang adalah tawanan perang, saat ini telah dipekerjakan di pura istana”, berkata Adityawarman.

Adityawarman juga bercerita bahwa Ki Secang seorang yang berilmu tinggi, mampu membuat sebuah kabut dengan trisula kembarnya.

“Siapapun yang tergulung kabut ciptaan Ki Secang itu akan langsung mati binasa seperti dicincang oleh ribuan senjata tajam”, berkata Adityawarman bercerita tentang ilmu yang dimiliki oleh Ki Secang.

“Kabut dan trisula kembar?”, berkata Patih Amangkubumi seperti mengingat-ingat sesuatu yang lama terkubur dalam benaknya.

Patih Amangkubumi langsung bercerita bahwa beberapa tahun yang telah silam, dirinya pernah dibawa oleh ayahnya mengunjungi seorang kerabatnya bernama Empu Dyah Agniyuda, seorang keturunan ke lima Raja Wurawari yang mati terbunuh oleh Raja Erlangga.

“Ternyata kami datang disaat dirinya tengah berduka, putra tunggalnya telah pergi meninggalkannya dengan membawa sebuah kitab ilmu rahasia, sebuah rahasia ilmu yang amat langka bernama Kabut Trisula kembar. Empu Dyah Agniyuda berpesan kepada ayahku bilamana bertemu dengan putranya untuk dapat membimbingnya, membawanya kembali ke jalan kebenaran. Menurut Empu Dyah Agniyudha putranya selisih sedikit usianya denganku, bernama Dyah Halayuda”, berkata Patih Amangkubumi mengakhiri ceritanya.

“Ki Secang dan Dyah Halayuda bisa jadi adalah orang yang sama”, berkata Adityawarman mencoba menyimpulkan cerita Patih Amangkubumi.

“Bila memang benar Ki Secang adalah Dyah Halayudha, kita harus mulai berhati-hati. Karena aku masih ingat perkataan Empu Dyah Agniyuda bahwa putranya punya keinginan yang amat besar untuk membangun kembali kerajaan leluhurnya”, berkata Patih Amangkubumi.

Sementara itu Nyi Nariratih merasa cukup lama mengganggu istirahatnya Patih Mahesa Amping dan bermaksud untuk pamit diri.

“Tuan Patih Mahesa Amping mungkin ingin beristirahat”, berkata Nyi Nariratih sambil pamit diri.

Demikianlah, terlihat Nyi Nariratih dan Supo Mandagri telah pergi meninggalkan Puri Pasanggrahan Patih Amangkubumi untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.

Dan tidak lama berselang, Tumenggung Mahesa Semu telah muncul di puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

“Aku telah menugaskan beberapa prajurit telik sandi untuk mengusut siapa orang di balik semua kekeruhan ini, semua mengerucut kepada satu nama, Ra Kuti”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada Patih Amangkubumi.

“Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah berlaku adil mengayomi semua aliran agama, keadilan macam mana lagi yang diinginkan oleh Ra Kuti”, berkata Patih Amangkubumi.

“Ra Kuti nampaknya menginginkan tahta kerajaan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

Dalam pembicaraan itu, Patih Amangkubumi juga bercerita tentang keterlibatan Ki Secang.

“Ki Secang yang dipekerjakan di pura istana?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu.

Patih Amangkubumi menjelaskan kecurigaannya itu, mulai dari cerita Supo Mandagri di hutan Perigian hingga ilmu kabut trisula kembar yang dimiliki oleh Ki Secang.

“Bila memang demikian, aku akan menugaskan beberapa orang prajurit telik sandi untuk membayangi gerak mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara itu di pura istana, terlihat dua orang masih bercakap-cakap disana. Ternyata mereka berdua adalah Ra Kuti dan Ki Secang yang tengah membicarakan peristiwa kemarin di muka gerbang istana dimana Patih Mahesa Amping dikeroyok oleh ribuan prajurit Majapahit.

“Racunku amat kuat, orang yang kena racunku akan gila dan mati dalam beberapa hari”, berkata Ki Secang merasa gembira dengan hasil racunnya yang sangat luar biasa itu.

“Belum ada berita tentang keadaan Patih Mahesa Amping dan kedua kawannya itu, tidak ada seorang pun diperbolehkan masuk ke puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

“Racunku amat kuat, aku yakin Patih Mahesa Amping telah membusuk di tempat kediaman Patih Amangkubumi itu”, berkata Ki Secang penuh keyakinan.

Namun ternyata perkiraan Ki Secang melenceng jauh, orang yang disangka telah membusuk akibat racun hati celeng bunting itu masih tetap hidup, bahkan berangsur-angsur menunjukkan tanda kepulihannya.

Beruntung bahwa Patih Mahesa Amping telah ditangani oleh seorang yang ahli pengobatan yang mumpuni seperti Patih Amangkubumi yang biasa dipanggil juga dengan sebutan Empu Nambi itu.

Dari hari ke hari, kesehatan Patih Mahesa Amping berangsur-angsur terus mengalami banyak kemajuan, juga kedua sahabatnya yang setia, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

Penuh rasa syukur dan kegembiraan yang amat sangat di hati Adityawarman di sebuah pagi telah melihat ayahnya telah keluar dan berjalan sendiri menuju pakiwan untuk bersih-bersih diri.

“Pagi yang indah”, berkata Patih Mahesa Amping ketika duduk di panggung pendapa memandang taman halaman muka puri pasanggrahan.

“Aku juga tidak menyangka bahwa pagi ini masih dapat melihat indahnya rerumputan hijau”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil bercerita kepada Patih Mahesa Amping bagaimana mereka berkuda membuntutinya dari Kotaraja Kediri hingga ke Kotaraja Majapahit.

“Kudaku telah tewas ?”, berkata Patih Mahesa Amping lirih setelah mendengar semua cerita tentang dirinya yang hilang ingatan dan mengamuk di pintu gerbang istana Majapahit.

“Benar, mati ditangan tuan Patih sendiri”, berkata Ki Demung Juru.

Sementara itu di Kepatihan, terlihat Patih Amangkubumi tengah menerima lima orang pendeta anggota Dharmayaksa, salah satu diantara mereka adalah pendeta Dang Acarca Sujiwa.

Patih Amangkubumi sudah dapat menebak bahwa kedatangan mereka ini sama seperti yang pernah disampaikan oleh Pendeta Dang Acarca Sujiwa kemarin, menuntut keadilan atas diri Patih Mahesa Amping yang telah melakukan banyak pembunuhan.

“Hari ini kami datang sebagai anggota Dharmayaksa, ingin menyampaikan tuntutan keadilan atas apa yang telah dilakukan oleh Patih Mahesa Amping”, berkata Pendeta Dang Acarca mewakili empat orang anggota Dharmayaksa yang hadir lengkap di Kepatihan.

Patih Amangkubumi merasakan darahnya seperti mendidih menahan rasa amarah yang sangat, telah dapat menebak bahwa kelima orang pendeta itu pasti telah diperalat oleh Ra Kuti. Namun Patih

Amangkubumi sangat pandai mengusai perasaannya sendiri, meski hatinya panas, namun pikirannya tetap jernih tidak terpengaruh oleh keadaan dan suasana hatinya yang sangat mencela sikap kelima pendeta itu. Terutama kepada pendeta Dang Acarca Sujiwa, pasti telah mendapatkan ancaman lebih keras lagi dari Ra Kuti. “Pasti Ra Kuti telah membeli mereka dengan harga yang cukup tinggi”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati.

“Bukankah kemarin sudah aku katakan bahwa keputusan akan disampaikan di pertemuan agung di akhir tutup tahun sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya ?”, berkata Patih Amangkubumi sambil menahan rasa amarahnya.

“Permasalahan Patih Mahesa Amping tidak bisa ditunda-tunda lagi, terlalu lama bila harus menunggu pertemuan agung”, berkata Dang Acarca Sujiwa memberikan alasannya.

“Kami para anggota Dharmayaksa berkewajiban melaksanakan amanat keadilan yang dituntut oleh para keluarga korban. Kasus Patih Mahesa Amping sudah menjadi pergunjingan umum, kami ingin menghindari persangkaan umum bahwa keadilan kami hanya berlaku untuk para jelata, sementara kepada seorang pejabat tinggi kerajaan keadilan tidak terjamah sama sekali”, berkata seorang pendeta anggota Dharmayaksa ikut membantu Pendeta Dang Acarca Sujiwa memberikan alasan bahwa peradilan kasus Patih Mahesa Amping harus segera di gelar.

“Baginda Raja Sanggrama Wijaya pasti akan bangga bila tuan Patih Amangkubumi telah memutuskan kasus Patih Mahesa Amping secepatnya tanpa menunggu kedatangannya. Bukankah tuan Patih Amangkubumi tidak ingin ada persangkaan bahwa penundaan ini ada kaitan persahabatan tuan dengan Patih Mahesa Amping ?”, berkata pendeta yang lain lagi benar-benar telah menyudutkan diri Patih Amangkubumi.

Bergetar perasaan Patih Amangkubumi mendengar perkataan pendeta terakhir itu, namun sekali lagi Patih Amangkubumi masih dapat menjernihkan pikirannya, tidak terpengaruh oleh perasaannya sendiri.

“Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang gila ?”, bertanya Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta anggota Dharmayaksa itu.

Cukup lama kelima pendeta itu berpikir untuk menjawab pertanyaan Patih Amangkubumi.

Namun terlihat pendeta Dang Acarca Sujiwa telah mewakili anggotanya.

“Kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra memang tidak berlaku untuk orang gila, namun menurut hemat pikiran kami bahwa ketika terjadi peristiwa itu, Patih Mahesa Amping dalam keadaan sehat, jasmani dan rohani”, berkata pendeta Dang Acarca Sujiwa.

“Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang mati ?”, bertanya kembali Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta anggota Dharmayaksa itu.

Kembali cukup lama kelima pendeta itu berpikir untuk menjawab pertanyaan Patih Amangkubumi.

Namun terlihat pendeta Dang Acarca Sujiwa telah mewakili anggotanya.

“Kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra memang tidak berlaku untuk orang mati”, berkata pendeta Dang Acarca Sujiwa.

“Terima kasih untuk jawaban pertanyaanku itu, sekarang kalian boleh meninggalkan Kepatihan ini, besok akan kuputuskan kapan peradilan itu akan dilaksanakan”, berkata Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta itu.

Demikianlah, setelah kelima pendeta itu telah meninggalkan Kepatihan, terlihat patih Amangkubumi masih menerima kunjungan beberapa pejabat kerajaan lainnya, tentunya dalam persoalan yang lain.

Hingga ketika sore menjelang, barulah Patih Amangkubumi meninggalkan Kepatihan.

“Selamat datang Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping menyapa Patih Amangkubumi dengan sebutan yang lain, sebagai pertanda begitu dekatnya mereka berdua.

“Senang melihat kalian bertiga berjemur diri di panggung pendapa ini”, berkata Patih Amangkubumi yang melihat Patih Mahesa Amping, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru sudah pulih kesehatannya. Dan Adityawarman ada bergabung bersama di panggung pendapa itu

“Tapi menjadi kurang kegembiraan hati kami yang melihat Ki Sandikala seperti tengah memikul beban yang amat berat, berbagilah dengan kami semoga dapat sedikit meringankan beban di pikiran”, berkata Patih Mahesa Amping yang seperti dapat membaca beban pikiran sahabatnya itu.

Tanpa dapat mengelak dan menghindar, maka Patih Amangkubumi langsung bercerita tentang tuntutan para anggota Dharmayaksa di Kepatihan untuk mengadili Patih Mahesa Amping.

“Maafkan aku bila selama ini, meski berada di pembaringan aku telah mendengar bisik-bisik pembicaraan kalian di ruang serambi dalam perihal tuntutan ini”, berkata Patih Amangkubumi sambil tersenyum.

Terlihat Adityawarman dan Patih Amangkubumi saling berpandangan, mereka tidak mengira bahwa selama ini pembicaraan mereka dapat disimak oleh Patih Mahesa Amping.

Patih Mahesa Amping tidak langsung bicara, menunggu perhatian Adityawarman dan Patih Amangkubumi beralih kepadanya.
“Sebelum aku menyampaikan pikiran dan pandanganku sendiri, aku ingin bertanya kepada Ki Rangga Gajah Biru”, berkata Patih Mahesa Amping.

Terlihat Ki Rangga Gajah Biru tergagap tidak menyangka ada sebuah pertanyaan untuknya dan telah menyiapkan dirinya untuk mendengar pertanyaan dari Patih Mahesa Amping.

“Katakan sejujurnya wahai sahabatku apa perasaan para orang Kediri manakala mendengar aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini ”, berkata Patih Mahesa Amping yang ditujukan oleh Ki Rangga gajah Biru.

Semua mata di atas pendapa itu telah tertuju kearah Ki Rangga gajah Biru.

Terlihat Ki Rangga Gajah Biru menarik nafas panjang, menyiapkan dirinya menjawab pertanyaan Patih Mahesa Amping.

“Maaf bila aku berkata sejujurnya, tidak sedang memuji untuk mengambil keuntungan dari tuan Patih Mahesa Amping. Setahuku bahwa orang Kediri lebih mencintai tuan Patih ketimbang Raja Muda Jayanagara”, berkata Ki Rangga gajah Biru berhenti sebentar sambil menatap wajah semua orang di atas pendapa.“Karena orang Kediri tahu benar bahwa Patih Mahesa Amping telah berjasa besar membangun Kotaraja Kediri, merekatkan persaudaraan diantara mereka dari dendam perselisihan akibat peperangan lama para pembela Raja Jayakatwang dan para pembela keluarga Tumapel”, berkata kembali Ki Rangga Gajah Biru dan berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang. “Dan bila hari ini telah mendengar tuan Patih Mahesa Amping terpancung di Kotaraja Majapahit, maka sebagaimana diriku, seluruh orang yang merasa putra Kediri akan mengangkat senjata”, berkata Ki Rangga gajah Biru telah menjawab pertanyaan Patih Mahesa Amping.

“Terima kasih telah menjawab pertanyaanku dengan jujur”, berkata Patih Mahesa Amping kepada ki Rangga Gajah Biru. “Pertanyaaku selanjutnya kutujukan kepada putraku sendiri, Adityawarman.

Sebagaimana Ki Rangga Gajah Biru, terlihat Adityawarman tersentak kaget tidak menyangka pertanyaan Patih Mahesa Amping tertuju kepadanya.

“Putraku, bila saja kamu mendengar hari ini aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini, aku dapat memahami perasaanmu, kamu akan berduka, kamu akan dendam selamanya kepada kerajaan ini yang telah menjatuhkan hukuman kepadaku. Dan manakala ada sebuah kesempatan, sebagai seorang cucunda tercinta Raja di Tanah Melayu, kamu pasti akan membawa sebuah pasukan besar memerangi Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping sambil memandang kearah putranya.”Sekarang jawab pertanyaan Ayahandamu, benarkah perasaanmu sebagaimana persangkaanku ?”, berkata kembali Patih Mahesa Amping yang ditujukan kepada Adityawarman.

“Persangkaan Ayahanda tidak ada yang salah sedikitpun, ananda akan menghimpun kekuatan bukan hanya dari tanah Melayu, namun dari segala penjuru nagari”, berkata Adityawarman penuh semangat.

Sontak semua pandangan tertuju kearah Adityawarman, mereka telah membayangkan sebuah pasukan besar dari berbagai nagari tengah berjalan mengepung Kotaraja Majapahit. Nampaknya hampir semua orang di atas pendapa itu yakin bahwa seorang Adityawarman dapat melakukan apa yang dikatakannya. Karena mereka yakin seorang Adityawarman punya bakat sikap seorang pemimpin yang hebat, juga seorang yang sangat cerdas.

Suasana diatas pendapa seketika hening membisu, terbius oleh perkataan Adityawarman yang sangat menggetarkan hati itu.

“Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping kepada Patih Amangkubumi yang ditujukan mencoba memecahkan suasana sepi diatas pendapa itu. “Sebagian pandangan dan pemikiranku sudah terjawab oleh Ki Rangga Gajah Biru dan Adityawarman, bahwa selembar jiwaku yang tak berharga ini akan dapat membawa sebuah peperangan yang sangat berkepanjangan, bahwa selembar jiwaku yang tiada berarti ini bahkan dapat melemahkan, bahkan dapat menghancurkan Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping dan berhenti sebentar menarik nafas panjang sepertinya ada banyak sekali yang ingin dikatakan di atas pendapa puri pasanggrahan Patih Amangkubumi itu.

“Ki Sandikala”, berkata kembali patih Mahesa Amping yang masih ditujukan kepada Patih Amangkubumi. “Kita telah bersama-sama dalam sebuah perjuangan yang begitu panjang membangun Kerajaan Majapahit ini, sebuah kerajaan yang terbaik dan terbesar yang telah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan para leluhur kita menjadikan Kerajaan Majapahit ini sebagai kekuasaan tertinggi membangun keadilan di pintu Gapura nya, membangun kemakmuran di setiap dinding-dinding rumah yang ada di wilayahnya, membangun keamanan dan kesejahteraan di setiap jalan yang terhubung di wilayah kesatuan Majapahit ini”, berkata kembali Patih Mahesa Amping dan berhenti sambil menarik nafas dalam-dalam.

Semua mata masih tertuju kearah Patih Mahesa Amping, menunggu pandangan dan pemikirannya selanjutnya.

“Ki Sandikala”, berkata kembali Patih Mahesa Amping yang masih ditujukan kepada Patih Amangkubumi. “Aku punya sebuah cita-cita yang begitu sederhana, mempunyai sebidang tanah dimana aku akan menanaminya dengan padi dan sayur mayor, dimana hampir setiap hari keringatku mengucur disana sambil memandang benih-benih tanamanku tumbuh berkembang dengan subur, bercanda bersama istri tercinta di saung sambil menjaga padi yang sudah menguning dari burung-burung kecil pencuri padi”, berkata Patih Mahesa Amping berhenti sebentar menatap kea rah Patih Amangkubumi dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya mencoba menengok rasa, akal dan budi Patih Amangkubumi yang terlihat merenung cukup dalam menelusuri kemana jalan arah pemikiran sang Patih Daha yang perkasa itu yang pernah dijuluki sebagai manusia setengah dewa itu.

“Ki Sandikala”, berkata kembali Patih Mahesa Amping. “inilah kesempatanku untuk keluar dari hiruk pikuk kehidupan duniawi, tinggal di sebuah tempat yang terasing, tidak dikenal oleh siapapun menjadi seorang petani biasa.

“Meninggalkan jabatan Patih di Kediri?”, bertanya Ki Demung Juru yang sedari tadi diam menyimak.

Terlihat Patih Mahesa Amping tersenyum kearah Ki Demung Juru.

“Benar Ki Demung Juru, mungkin ini adalah keputusanku yang terbaik, menghindari hukuman pancung, menghindari pertempuran yang berdarah-darah yang dapat membawa penderitaan lebih banyak lagi manusia. Mungkin inilah jalanku, jalan seorang Mahesa Amping yang berasal dari seorang anak kecil yang tidak mengenal kasih sayang seorang ayah dan ibu, seorang Mahesa Amping kecil yang tidak dikenal oleh siapapun”, berkata Patih Mahesa Amping.

Suasana di atas pendapa itu sepertinya langsung menjadi sepi, semua orang nampaknya tengah berada di dalam pikiran masing-masing terbawa oleh kata-kata Patih Mahesa Amping.

“Ra Kuti lewat para anggota Dharmayaksa pasti akan terus menuntut penguasa Kerajaan menggelar pengadilan ini”, berkata Patih Amangkubumi kepada Patih Mahesa Amping.

Mahesa Amping terlihat hanya tersenyum mendengar perkataan Patih Amangkubumi. Dan semua mata diatas pendapa itu telah tertuju kembali kearah Patih Mahesa Amping berharap dapat mendengar sebuah jalan pikirannya.

“Empu Nambi”, berkata Patih Mahesa Amping dengan sebutan yang lain dari Patih Amangkubumi. “Bukankah para anggota Dharmayaksa telah mengatakan bahwa kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra tidak dapat menghukum orang yang sudah mati ?, tentunya Empu

Nambi sudah sangat mengenal tujuh jalan darah yang dapat membuat seseorang tidak berdenyut nadinya selama tiga hari tiga malam, lakukan cara itu di jalan darahku, biar semua orang berpikir bahwa seorang Mahesa Amping sudah mati”, berkata kembali Patih Mahesa Amping.

Suasana diatas pendapa itu kembali menjadi sepi, semua membisu merenungi perkataan Patih Mahesa Amping.

“Saudaraku Patih Mahesa Amping, apakah kamu telah berpikir jernih menawarkan sebuah cara seperti itu?, Kerajaan Majapahit akan kehilangan seorang ksatrianya yang terbaik yang selalu ada melindungi kebesarannya, yang selalu ada memberikan banyak pemikiran yang cerdas dalam setiap perselisihan, yang selalu ada merekatkan persaudaraan dan perdamaian di bumi ini”, berkata Patih Amangkubumi masih dengan perasaan sangat berat hati dan belum dapat menerima untuk melepas seorang sahabat setianya itu, yang telah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.

“Empu Nambi, ibarat matahari maka umurku sudah hampir senja. Inilah kesempatan kepada orang muda mengambil alih tali sejarah dengan pemikiran yang jauh lebih bening, dengan pemikiran dan pandangan yang jauh lebih luas dari apa yang kita miliki dan kita raih”, berkata Patih Mahesa Amping dengan senyum yang selalu terhias di bibirnya.

Demikianlah, hingga larut malam nampaknya tidak juga menemukan jalan yang lebih baik dari jalan yang ditawarkan oleh Patih Mahesa Amping.

Akhirnya semua orang diatas pendapa itu menerima jalan Patih Mahesa Amping, jalan mati suri.

Dan pagi itu, langit terlihat begitu teduh setelah hujan cukup lebat datang mengguyur bumi bersamaan saat fajar menjelang.

Puri pasanggrahan setelah beberapa hari menjadi sebuah tempat yang terlarang di masuki oleh orang luar, namun sejak pagi tadi sudah banyak terlihat orang keluar masuk pintu gapuranya.

Ternyata pada hari itu telah tersiar kabar duka bahwa Patih Mahesa Amping telah menghembuskan nafas terakhirnya di puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

Tersiar kabar pula bahwa pemakaman Patih Mahesa Amping di laksanakan di sebuah tempat di luar Kotaraja Majapahit yang sangat rahasia sesuai pesan terakhirnya.

Itulah pemandangan di pintu gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi setelah tersiar berita duka kematian Patih Mahesa Amping yang sangat menghebohkan itu, bergelombang para warga datang untuk melayat seorang manusia yang pernah hidup berjasa di kerajaan Majapahit itu, Banyak orang datang untuk melihat Patih Mahesa Amping untuk terakhir kalinya, sementara beberapa orang lagi datang hanya sekedar memastikan bahwa Patih Mahesa Amping benar-benar sudah mati.

Dan menjelang siang, terlihat sebuah kereta kuda telah membawa peti jenasah Patih Mahesa Amping keluar dari pintu gapura Patih Amangkubumi. Dibelakangnya terlihat sepuluh orang penunggang kuda yang mengiringi kereta jenasah. Terlihat juga beberapa orang mengiringi kereta jenasah dengan berjalan kaki.
Kereta jenasah itu berjalan merayap mendekati arah pintu gerbang istana Majapahit.

Terharu perasaan hati Patih Amangkubumi yang mengantar kereta jenasah hingga gerbang istana Majapahit, karena dilihatnya ribuan manusia telah berada di muka gerbang istana Majapahit yang berharap dapat ikut mengantar dan melihat kereta jenasah Patih Mahesa Amping.

“Ternyata kecintaan warga Kotaraja Majapahit kepada Patih Mahesa Amping sama dengan kecintaan orang Kediri”, berkata Patih Amangkubumi dengan perasaan hati begitu terharu.

Terlihat kereta jenasah dan sepuluh orang berkuda yang mengiringnya harus berjalan merayap karena dikerumuni oleh ribuan manusia.

Demikianlah, ribuan orang telah berjalan kaki mengiringi kereta jenasah Patih Mahesa Amping hingga sampai di gerbang gapura Majapahit.

Terlihat kereta jenasah sudah dapat berjalan lebih cepat tidak merayap lagi manakala telah keluar dari gapura gerbang batas kotaraja sebelah barat yang terus diiringi oleh sepuluh orang berkuda.

Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu, Ki rangga Gajah Biru dan Ki Demang Juru termasuk dari sepuluh orang berkuda yang terus mengiringi kereta jenasah.

Terlihat ribuan manusia belum beranjak dari tempatnya berdiri, mereka melambaikan tangannya kearah kereta jenasah yang semakin menjauh meninggalkan gapura gerbang batas kotaraja Majapahit.

Sepekan setelah peristiwa Patih Mahesa Amping, rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah kembali dari Tanah Pasundan.

Bukan main terkejutnya Baginda Raja Sanggrama Wijaya manakala mengetahui tentang peristiwa kematian Patih Mahesa Amping. Dan sengaja Patih Amangkubumi tidak bercerita yang sebenarnya, karena takut rahasia besar itu akan diketahui oleh pihak lain yang punya maksud dan kepentingan buruk.

Hingga akhirnya di malam harinya, terlihat Patih Amangkubumi datang menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya, menemuinya di serambi puri pasanggrahan milik Baginda Raja. Kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya, Patih Amangkubumi bercerita yang sebenarnya tentang apa terjadi atas diri Patih Mahesa Amping.

“Patih Mahesa Amping belum mati, tapi telah pergi atas kesadarannya sendiri ke sebuah tempat yang sangat dirahasiakannya”, berkata Patih Amangkubumi sambil bercerita alasan Patih Mahesa Amping mengambil jalan seperti itu, yaitu guna menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi.

Lama Baginda Raja Sanggrama tidak berkata-kata apapun, terlihat masih termenung setelah mendengar cerita Patih Amangkubumi tentang peristiwa Patih Mahesa Amping itu.

“Aku selalu kalah satu langkah dengannya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya setelah lama terdiam, termenung. “Ketika kami masih menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta, aku tidak pernah dapat mengalahkannya, dalam olah kanuragan, dalam kesempurnaannya membuat sebilah pedang. Sementara sekarang ini, aku kembali dapat dikalahkannya”, berkata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terlihat sudah tidak berduka lagi, wajahnya terlihat begitu ceria.

“Apa yang dikalahkan dari diri Baginda Raja?”, bertanya Patih Amangkubumi belum dapat menangkap arah pembicaraan Baginda Raja Sanggrama Wijaya itu.

“Patih Mahesa Amping telah mendahuluiku, telah berani dan mampu melepas gemerlap kehidupan duniawinya, telah menemukan sang raja hakiki yang ada di dalam dirinya sendiri. Itulah kekalahanku.

Sementara aku masih belum berani melepas pakaian kebesaranku ini, masih belum berani mengikuti jejak langkah yang ditempuh oleh Patih Mahesa Amping”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Sejenak suasana di serambi puri pasanggrahan itu menjadi hening membisu, Patih Amangkubumi dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya sepertinya tengah berada di dalam angan dan pikiran masing-masing.

“Ki Sandikala”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya mencoba memecahkan Susana sepi itu.”Kepergian Patih Mahesa Amping mengisyaratkan kepadaku untuk mengikuti jejaknya”, berkata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.
Tersentak Patih Amangkubumi mendengar perkataan Baginda Raja yang terdengar sangat mengejutkan itu, ingin mengikuti jejak Patih Mahesa Amping.

“Mengasingkan diri seperti Patih Mahesa Amping ?”, bertanya Patih Amangkubumi.

Terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya menganggukkan kepalanya perlahan pertanda membenarkan pertanyaan Patih Amangkubumi itu.

“Tidak seorang pun mengetahui dimana Patih Mahesa Amping mengasingkan dirinya, sebuah tempat yang sangat dirahasiakan oleh dirinya. Bagaimana Baginda Raja dapat menemukannya ?”, berkata patih Amangkubumi penuh rasa kekhawatiran yang sangat sebagaimana orang tua yang kan melepas keberangkatan putranya ke sebuah tempat yang sangat jauh.

Terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya sedikit tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Patih Amangkubumi.

“Aku pernah mengembara bersama Patih Mahesa Amping ke sebuah tempat yang kami anggap sebagai sebuah daerah yang dilindungi oleh para dewa, karena di tempat itu lumpur gunung Kelud tidak mampu menjamahnya. Sebuah tempat yang amat sunyi menenteramkan hati, seperti sebuah persinggahan para dewa untuk naik ke surga Ditempat itulah kami berdua pernah berjanji untuk mengisi hari-hari terakhir kami di dunia ini sebagaimana sang Prabu guru Dharmasiksa menyisakan hidupnya di lereng Gunung Galunggung”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.

“Sebuah tempat di lereng Gunung Kelud?”, bertanya Patih Amangkubumi .

“Benar, di lereng Gunung Kelud menghadap pantai selatan Jawadwipa di sebuah perbukitan yang begitu amat subur, Patih Mahesa Amping menyebutnya sebagai Bukit Gedang”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

“Siapa yang dapat mengendalikan Kerajaan Majapahit ini bila Baginda Raja pergi meninggalkannya?”, bertanya Patih Amangkubumi.

“Sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Mahesa Amping, inilah saatnya memberikan kesempatan kepada para orang muda mengambil alih tali sejarah, membawa bahtera kerajaan Majapahit ke segala lautan yang lebih luas lagi. Aku ingin Ki Sandikala mendidik Putraku Jayanagara, menjadikannya sebagai seorang Raja di bumi Majapahit ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

“Hamba orang tua tidak dapat menghalangi hasrat Baginda Raja, mudah-mudahan hamba orang tua dapat mendidik putra Baginda Raja mengendalikan Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Amangkubumi.

“Belajar menjadi seorang Raja yang bijaksana memang tidaklah mudah, namun lebih sulit lagi belajar untuk menjadi seorang raja pada diri sendiri”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan suara yang lirih perlahan seperti berkata kepada dirinya sendiri.

“Hamba orang tua menjadi iri dengan kalian berdua, usia patih Mahesa Amping dan Baginda Raja masih jauh dari usia hamba, namun mata dan pandangan hidup kalian lebih dekat melihat tabir rahasia kehidupan alam alit ini”, berkata Patih Amangkubumi.

Suasana di serambi puri pasanggrahan kembali sunyi membisu.

Terlihat Baginda Raja Sanggrama memicingkan matanya memandang penuh senyum kearah Patih Amangkubumi.

“Ki Sandikala”, berkata Baginda Raja Sanggrama masih dengan sisa senyumnya yang masih terlihat.”Aku melihat ada yang masih mengganjal di dalam pikiran Ki Sandikala”, berkata Baginda Raja kepada orang tua itu.

“Hamba orang tua sudah mengenal Baginda sejak lama, hamba orang tua tahu betul bilamana Baginda Raja telah melepas senjata maka selalu ada dua tempat bekas luka dalam satu kali tebasan”, berkata Patih Amangkubumi diam sebentar. “Hamba orang tua hanya ingin tahu bahwa Baginda Raja bukan sekedar menggenapi janji kepada Patih Mahesa Amping untuk hidup mengasingkan diri, melepas segala keinginan nafsu duniawi sebagaimana para pertapa suci bersatu dalam laku tapa brata, yogi dan samadhi”, berkata Patih Amangkubumi.

Mendengar perkataan Patih Amangkubumi, terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengembangkan senyumnya. Diam-diam mengakui kebenaran dugaan Patih Amangkubumi bahwa ada hal lain yang diinginkannya dengan rencana pengasingannya dirinya.

“Pikiran Ki Sandikala sangat tajam, aku tidak dapat memungkirinya bahwa dibalik rencanaku mengasingkan diri adalah ingin melihat kebusukan-kebusukan yang akan bermunculan seiring dengan kepergianku itu, inilah caraku menguji putraku sendiri mengenal hitam dan putihnya orang-orang di sekelilingnya. Inilah caraku membersihkan kerajaanku agar kuat ,tumbuh dan berkembang dikelilingi oleh para pejabat kerajaan yang bersih, para ksatria muda, para pembela dan pelindung Majapahit yang mewarisi cita-cita awal kita membangun kerajaan ini, menjadikan setiap manusia dalam tatanan kesetaraan, keserasian dan kedamaian”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.

“Semoga hamba di beri umur panjang, membimbing putra Baginda Raja”, berkata Patih Amangkubumi.

“Tanpa kehadiran Ki Sandikala di kerajaan ini, apalah artinya kami yang hanya tahu bagaimana menghadapi musuh di medan perang, hanya tahu bagaimana memutar pedang, hanya tahu membidik anak panah. Pemahaman Ki Sandikala tentang Dewata nawa sanga yang telah menjadi tatanan hukum kenegaraan di kerajaan ini adalah sumbangsih maha karya yang terus hidup. Dan aku berharap Ki Sandikala selalu ada di kerajaan ini, menjaganya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

“Titah paduka adalah sabda para dewata, semoga hamba dapat menjaga kerajaan ini hingga di penghujung usia”, berkata Patih Amangkubumi penuh kesungguhan hati.

“Kutitipkan putraku kepadamu, dan aku rela bila pedangmu berlumuran darah putraku sendiri, bilamana tidak ada jalan yang lain untuk meluruskannya.

Terlihat Patih Amangkubumi terdiam membisu, berharap perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terakhir itu tidak akan pernah terjadi.

Dan bulan tua diatas langit terlihat redup terhalang awan kelabu, hari telah larut malam.

Keesokan harinya, Kotaraja Majapahit dikejutkan oleh sebuah berita tentang pelengseran para pejabat anggota Dharmayaksa, sekelompok pendeta dari berbagai aliran agama yang ada di bumi Majapahit yang bertugas sebagai hakim agung memutuskan berbagai perkara dan perselisihan.

“nampaknya berkaitan dengan peristiwa Patih Mahesa Amping”, berkata beberapa orang di sebuah kedai di pasar Kotaraja Majapahit menggunjingkan masalah pelengseran anggota Dharmayaksa itu.

Sementara itu, Ra Kuti yang mengetahui ihwal pelengseran itu cukup menjadi ketar-ketir menduga-duga bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya akan melengserkannya pula sebagai anggota Dharmaputra.

“Baginda Raja pasti harus berpikir ulang untuk melengserkanku, aku punya sekelompok umat yang cukup besar”, berkata Ra Kuti dalam hati.

Ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya bukan hanya bermaksud melengserkannya, melainkan akan menghancurkan Ra Kuti bersama para pengikutnya.

“Kita akan membuat perangkap untuk mereka”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu yang datang menghadap melaporkan kegiatan para pasukan telik sandinya membayangi Ra Kuti.

Demikianlah, hingga datangnya hari pertemuan agung , disaat semua pejabat kerajaan, para pejabat perwakilan di seluruh pelosok wilayah kekuasaan Majapahit, Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak menyinggung masalah peristiwa Patih Mahesa Amping, hanya memberikan penilaian-penilaian dan pandangannya tentang tugas dan kewajiban para pembantunya itu sebagaimana biasa disampaikan di tahun-tahun sebelumnya dalam pertemuan agung itu.

“Para Rakryan Mantri ri Pakirakiran, para anggota Dharmadhyaksa yang baru ,para anggota Dharmaputra, para perwakilan uparaja yang telah menempuh perjalanan dari berbagai pelosok nagari, para Arya, sahabatku para Satria, pendeta, pujangga, para wipra, atas nama dewata agung mengucapkan puja dan puji atas semua bhakti yang telah kalian persembahkan demi menggerakkan roda laju kerajaan yang kita cintai ini. Semoga amal bhakti kalian bermakna membawa kemuliaan dan kesempurnaan penitisan di hari penciptaan berikutnya. Semoga cita-cita kita bersama membangun kerajaan ini dapat terwujud, menciptakan kesetaraan, kesejahteraan dan kedamaian umat manusia di muka bumi ini:, demikian awal sambutan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di pertemuan agung di pendapa agung puri pasanggrahannya.

Namun di penghujung sambutannya, semua orang yang hadir di pendapa agung itu sontak terkejut seperti mendengar petir di siang hari, manakala Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengatakan akan mengundurkan diri, mengasingkan diri sebagai seorang pertapa.

“hari ini ditempat pendapa agung ini, adalah hari terakhir kalian bertatap muka denganku, karena aku akan menemui kehidupanku yang lain, penghidupan sebagai seorang pertapa. Kutitipkan kerajaan ini kepada kalian, kutitipkan juga putraku Jayanagara yang akan duduk di tahta singgasanaku hingga di hari penobatannya tiba manakala ajalku tiba. Aku masih tetap berada disekitar kalian, aku masih berada mengawasi kerajaan Majapahit ini bersama kalian”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Suasana di pendapa agung seketika menjadi begitu hening manakala mendengar tutur penghujung perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Namun mata Baginda Raja Sanggrama meski sekilas telah dapat
menangkap sebaris senyum di bibir Ra Kuti.

“Bergembiralah kamu hari ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama dalam hati menangkap makna di balik senyuman Ra Kuti, salah seorang dari ketujuh anggota Dharmaputra.

Demikianlah, setelah menyampaikan beberapa puja, puji dan doa, terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya berdiri berkenan untuk meninggalkan pendapa agung.

Segenap semua yang hadir diatas pendapa agung ikut berdiri, menundukkan kepalanya sambil memberi penghormatan dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

Itulah penghormatan mereka yang terakhir untuk seorang raja pendiri Kerajaan Majapahit yang sangat bersahaja itu, seorang Raja yang sangat bijaksana, seorang Raja yang selalu dekat dengan para kerabat, seorang Raja yang gemar bertukar pikiran bersama para pendeta dan para brahmana, seorang Raja yang masih mau duduk bersama para kawula dan para papa jelata.

Dan pada hari itu juga, terlihat empat orang prajurit berkuda telah keluar dari gapura gerbang batas kotaraja Majapahit sebelah barat.

Ternyata mereka adalah para prajurit yang diutus langsung oleh Baginda Raja Sanggrama untuk menjemput putranya, sang raja muda Daha, putra mahkota Jayanagara.

Hingga manakala hari telah mulai menjelang malam, terlihat Gajahmada dan patih Amangkubumi duduk menemani Baginda Raja Sanggrama Wijaya di serambi puri pasanggrahannya.
Banyak pesan-pesan yang disampaikan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kedua orang kepercayaannya itu, Gajahmada dan Patih Amangkubumi.

“Di Pertemuan agung itu, aku menangkap sebaris senyum kegembiraan pada diri Ra Kuti, semoga serigala itu akan terus mengikuti bau busuk bangkai umpan yang kita pasang”, berkata Baginda Raja Sanggrama kepada patih Amangkubumi dan Gajahmada di serambi puri pasanggrahannya.

“Serigala adalah seekor binatang yang sangat peka, selalu curiga mengamati keadaan sekitarnya. Sementara umpan kita adalah sang putra mahkota, raja muda Jayanagara yang tidak pernah melihat serigala berbulu domba itu bukan sebuah dongeng belaka, ada disekitarnya. Hamba merasa cemas permainan kita ini adalah sebuah permainan yang sangat berbahaya bagi seorang Jayanagara”, berkata Patih Amangkubumi.

“Putraku Jayanagara harus dapat belajar membedakan mana serigala dan mana seekor domba, biarkan cakaran seekor serigala mengajarkannya untuk menjadi seorang lelaki, menjadi seorang Raja sebenarnya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya menanggapi kekhawatiran Patih Amangkubumi.

Sementara itu Gajahmada hanya berdiam diri, memahami sikap kekhawatiran Patih Amangkubumi bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menggelar sebuah permainan yang sangat berbahaya.

Dan hari itu masih di awal kresnapaksa bulan Wesakha tahun saka berangka tahun seribu dua ratus tiga puluh satu.

Terlihat sepuluh orang penunggang kuda baru saja meninggalkan gapura batas kotaraja Majapahit.

Semilir angin yang sejuk di pagi hari itu menyapu wajah seorang penunggang kuda yang berjalan terdepan, rambutnya yang ikal panjang jatuh sebahu terlihat terurai tertiup angin.

Siapapun tidak akan menyangka bahwa lelaki berkuda yang berjalan terdepan itu adalah Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah berpakaian layaknya orang biasa dan dikawal oleh Sembilan orang prajurit perwira utama, diantaranya adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Rangga Adityawarman.

Setelah menempuh setengah hari lebih perjalanan, terlihat rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah keluar dari jalan utama masuk ke sebuah perbukitan hutan pinus.

Rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya terlihat berhenti di sebuah danau yang jernih dikelilingi rerimbunan pohon yang meneduhinya dari cahaya sinar matahari sore.

“Kuburkanlah pakaian kebesaranku ini di peti jenasah Patih Mahesa Amping”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu sambil menyerahkan sepengadek pakaiannya.

Terlihat Tumenggung Mahesa Semu sudah berada di dalam danau jernih itu yang tidak terlalu dalam.

Ternyata Tumenggung Mahesa Semu masih ingat dimana dirinya menenggelamkan peti jenasah Patih Mahesa Amping di dasar danau itu. Maka tidak lama berselang terlihat Tumenggung Mahesa Semu sudah menemukan peti jenasah itu dan langsung memasukkan sepengadek pakaian kebesaran Baginda Raja Sanggrama Wijaya kedalam peti kayu jenasah itu.

“Dengarlah, sejak hari ini aku ini bukan lagi seorang Raja yang dipuja, sejak hari ini aku adalah kawula papa jelata. Kutitipkan kerajaanku kepada kalian semua untuk menjaganya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kesembilan prajurit perwira utama yang mengantarnya itu.

“Sejak hari ini pula aku tidak membutuhkanmu lagi”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil mengelus-elus leher dan kepala kuda kesayangannya itu yang telah begitu setia mengiringi setiap perjalanannya, di waktu yang sangat panjang.

Terlihat kesembilan prajurit perwira utama begitu terharu terdiam membisu melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah melangkahkan kakinya menjauhi mereka.

Mata Tumenggung Mahesa Semu tidak berkedip sedikitpun, terlihat sudah berkaca-kaca dan terus memandang lelaki yang hanya berpakaian orang biasa, membiarkan rambutnya yang ikal hitam bergelombang tergerai tanpa ikat kepala telah semakin jauh meninggalkannya.

“Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengambil arah yang diambil oleh Patih Mahesa Amping”, berkata Tumenggung Mahesa Amping dalam hati melihat arah perjalanan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terus berjalan hingga menghilang terhalang sebuah kerimbunan hutan perbukitan.

Itulah hari pertama Raja Jayanagara memegang kekuasaan di bumi Majapahit.

Mandat Raja Muda Jayanagara hanya sebagai wakil pemegang kuasa, bukan sebagai pemegang kuasa, Hal inilah yang membuat Raja Jayanagara berprasangka buruk bahwa ayahandanya masih setengah hati menjadikannya sebagai seorang Putra Mahkota. Menurut pikiran Raja Jayanagara bahwa ayahandanya sebenarnya berharap seorang putra mahkota akan terlahir dari istrinya Dyah Gayatri seorang putri keturunan Raja Kertanagara, namun ternyata Dyah Gayatri hanya melahirkan dua orang putri, seperti itulah prasangka Raja Jayanagara terhadap ayahandanya. Disamping itu memang sejak kecil dirinya banyak mendengar sindiran orang-orang dalam istana yang mencibirkan dirinya sebagai anak darah campuran, bukan orang asli Jawa.

Berawal dari perasaan seperti itulah yang membuat Raja Jayanagara tidak mudah bergaul dengan banyak orang, sering menyendiri dan tidak mau diiringi oleh prajurit pengawal istana.

Hingga pada suatu waktu, terlihat Raja Jayanagara tengah berkeliling istana, berjalan seorang diri dari satu lorong ke lorong lain di dalam wilayah istana, hingga tanpa disadarinya langkahnya telah membawanya masuk kedalam pura istana.

Entah mengapa setelah berada di dalam pura istana, Raja Jayanagara seperti menemukan sebuah ketenangan hati,

Lama Raja Jayanagara duduk bersimpuh di dekat altar terbuka, di awasi mata patung sang Budha yang tersenyum penuh kasih, diawasi sepasang mata patung sang Siwa yang memancarkan cahaya kemurkaan.

Lama Raja Jayanagara duduk bersimpuh di dekat altar terbuka, tidak menyadari bahwa sepasang mata serigala sudah begitu lama mengamatinya seperti siap untuk menerkamnya.

bersambung ke senthong kanan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30 Maret 2015 at 22:06  Comments (101)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

101 KomentarTinggalkan komentar

  1. Demikianlah, ketika telah dipertemukan dengan ibu suri Kanjeng Ratu Gayatri, terlihat Empu Halayuda telah memperkenalkan dirinya.

    “Hamba adalah Dang Acarca Empu Halayuda, diperkenankan datang sebagai utusan Baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda memperkenalkan dirinya.

    “Pastinya ada sesuatu yang amat penting, sehingga Raja Jayanagara harus mengutus seorang pendeta datang menghadapku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Dugaan Kanjeng Ratu sangatlah tepat, tidak tergelincir sedikitpun”, berkata Empu Halayuda.

    “katakanlah segera, agar aku tidak banyak menduga-duga”, berkata Ibu Suri kanjeng Ratu Gayatri mulai tidak suka dengan sikap orang dihadapannya itu yang sekilas menangkap mata lelaki kebanyakan ketika melihat kaum wanita.

    “Sesungguhnya maksud kedatangan hamba adalah untuk meminang putri Dyah Wiyat”, berkata Empu Halayuda.

    Bukan main terkejutnya Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang tidak pernah menyangka bahwa utusan Raja Jayanagara itu adalah bermaksud untuk meminang putri Dyah Wijat.

    “Raja Jayanagara benar-benar Raja Kalagemet”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri menyebut Raja Jayanagara dengan sebutan Raja Kalagemet, sebuah cemohan untuk seseorang yang sudah tidak waras pikirannya di jaman itu.

    “Bagaimana Kanjeng Ratu, apakah pinangan Raja Jayanagara dapat diterima ?”, berkata Empu Halayuda.

    “katakan kepada Raja Kalagemet itu bahwa dirinya telah terlambat satu hari dari Adipati Menak Jingga yang telah lebih dulu datang melamar putriku”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri masih dapat menahan rasa amarahnya yang sudah seperti akan meluap diatas ubun-ubun kepalanya.

    “Adipati Menak Jingga dari Balambangan ?”, bertanya Empu Halayuda seperti ingin penegasan dari Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri.

    “Benar, Adipati Blambangan putra Empu Nambi, sang Patih Amangkubumi Majapahit”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan suara lebih tegas lagi.

    “Apakah Kanjeng Ratu menerima pinangan Adipati Blambangan itu ?”, bertanya Empu Halayuda.

    “Aku tidak perlu menjawabnya untukmu, karena itu bukanlah urusanmu”, berkata Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri dengan nada suara yang tidak lagi mengindahkan tata karma, menganggap Empu Halayuda hanya seorang utusan yang sangat menjengkelkan.

    “Hamba mohon pamit diri, hamba akan menyampaikan apapun yang hamba dengar kepada baginda Raja Jayanagara”, berkata Empu Halayuda yang dapat membaca wajah dan pikiran Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang sudah begitu masam, menahan rasa kemangkelannya yang amat sangat.

  2. Terlihat Empu Halayuda sudah jauh keluar pintu gapura batas kotaraja Kahuripan, dihatinya seperti bersenandung lagu kemenangan merasa telah berhasil membuat sebuah awal keretakan di dalam keluarga istana Majapahit.

    “Hanya anjing bodoh saja yang mau mengawini saudara tirinya”, berkata Empu Halayuda sambil menghentakkan perus kudanya agar berlari lebih cepat lagi mengambil jalan utama menuju arah Kotaraja Majapahit.

    Hari telah menjadi wayah sepi uwong makanala kuda tunggangan Empu Halayuda memasuki gapura batas kotaraja Majapahit.

    Terlihat Empu Halayuda telah memasuki istana Majapahit, langsung melangkahkan kakinya kea rah puri pasanggrahan Raja jayanagara.
    Ternyata Raja Jayanagara memang sedang menunggunya.

    “mata ini terasa lelah menatap ujung halaman puri pasanggrahan, gelisah berharap Empu Halayuda datang membawa kabar berita”, berkata Raja Jayanagara kepada Empu Halayuda.

    Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dalam-dalam, mencoba melakoni seorang yang telah bersusah payah melakukan sebuah perjalanan yang amat jauh, sesorang yang baru saja melaksanakan tugas berat dari majikannya.

    Dan sang putra keturunan ke enam dari Raja Wurawari itu telah memulai kembali lakon adu dombanya, meretakkan suasana di istana kerajaan Majapahit itu.

    “Sangat disayangkan bahwa kedatangan hamba terlambat satu hari”, berkata Empu Halayuda.

    “terlambat ?”, bertanya Raja jayanagara.

    “Ibu Suri Kanjeng Ratu Gayatri yang mengatakannya, bahwa pinangan Baginda Raja telah didahului oleh Adipati dari Blambangan”, berkata Empu Halayuda.

    “Istri Adipati Menak Jingga sudah berjumlah sembilan puluh sembilan, apakah Ibunda Ratu Gayatri menerima pinangannya ?”, bertanya Raja Jayanagara.

    “Kemungkinan yang dapat hamba rasakan adalah bahwa Kanjeng Ratu Gayatri sangat menghormati Patih Amangkubumi, ayahanda Adipati Blambangan itu. Kanjeng Ratu Gayatri akan merasa bersalah bila menolak pinangan itu”, berkata Empu Halayuda mencoba mengeruhkan nama Empu Nambi di hadapan Raja Jayanagara.

    “Lebih agung mana nama Amangkubumi dengan nama kebesaran ayahku ?”, berkata Raja Jayanagara mulai tidak menyukai nama Empu Nambi terdengar ditelinganya.

    Didalam hati Empu Halayuda terdengar senandung kemenangan manakala mendengar perkataan Raja Jayanagara itu, namun tidak diperlihatkan di dalam raut wajahnya.

  3. Terlihat Empu Halayuda menarik nafas dala-dalam dengan wajah memperlihatkan raut yang penuh kekhawatiran yang amat sangat.

    “hamba hanya menduga-duga bahwa Empu Nambi nampaknya tengah merangkai sebuah rencana yang sangat halus, merangkul Kanjen Ratu Gayatri dengan cara mempersunting putrinya. Mana kita tahu bila Empu Nambi tengah menyusun sebuah kekuatan di dalam istana ini untuk menggulingkan Baginda Raja, menyergap di malam hari di waktu Baginda pulas tertidur. Maka bisa jadi Adipati Menak Jingga yang telah menjadi menantu Kanjeng Ratu Gayatri akan direstui menjadi Raja Majapahit ini”, berkata Empu Halayuda sambil mengamati raut warna di wajah Raja Jayanagara, sebagaimana seorang pemburu yang memasang umpan hidup sambil menunggu buruannya masuk perangkapnya.

    Begitu gembiranya hati Empu Halayuda manakala melihat perubahan di wajah Raja Jayanagara.

    “Srigala tua itu harus segera disingkirkan”, berkata Raja jayanagara yang sudah masuk perangkap hasutan Empu Halayuda yang sangat cerdik itu.

    “Kita harus menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan srigala tua itu”, berkata Empu Halayuda merasa telah menjerat binatang buruannya, telah berhasil mempengaruhi Raja Jayanagara.

    Dan ternyata bintang terang nampaknya masih selalu berada di dekat Empu Halayuda.

    Tersiar sebuah berita duka dari Tanah Lamajang bahwa Ki Banyak Wedi yang dulu pernah menyandang nama besar sebagai sang Arya Wiraraja telah meninggal dunia. Dan Empu Nambi telah menghadap diri kepada Raja Jayanagara untuk atas nama Kerajaan Majapahit menyambangi keluarganya yang tengah berduka sebagai pertanda bahwa keluarga istana Majapahit mengakui Ki Banyak Wedi sebagai seorang pahlawan yang banyak berjasa dalam awal pendirian Kerajaan Majapahit itu.

    Dan Raja jayanagara telah menerima permohonan Empu Nambi untuk datang menyambangi keluarga Ki Banyak Wedi yang tengah berduka itu di Tanah Lamajang.

    Demikianlah, keesokan harinya disaat pagi masih sangat gelap terlihat Patih Amangkubumi yang diringi sekitar dua puluh orang prajurit telah berangkat meninggalkan Kotaraja Majapahit menuju Tanah Lamajang. Patih Amangkubumi bersama rombongannya itu berangkat dengan pertanda khusus kebesaran bendera Majapahit Raya yang menunjukkan bahwa mereka adalah para utusan Kerajaan Majapahit.

    “Hendak kemanakah gerangan para utusan kerajaan Majapahit itu ?”, berkata seorang petani tua dalam hati manakala melihat rombongan Patih Amangkubumi melintasi jalan sebuah Padukuhan.

    Dan rombongan Patih Amangkubumi memang terus bergerak, derap langkah kaki kuda mereka telah meninggalkan debu-debu yang beterbangan, beberapa pedagang menepikan gerobak pedati mereka di sebuah jalan Kademangan sebagai pertanda penghormatan mereka memberi jalan kepada rombongan utusan kerajaan Majapahit itu yang terlihat dari bendera kebesarannya, bendera sang surya Majapahit yang berkibar di bawa oleh seorang prajurit di barisan pasukan berkuda terdepan.

    • Kamsiaaaa Pak Dhalang……..
      Episode Menak Jinggo akan segera berkobar kobar……

  4. senja kala sang sandikala

  5. tambah seru intrik2 di seputar kekuasaan yang makin kuat. kelemahannya justru di dalam lingkaran2 pusat kekuasaan, seperti juga saat ini…

  6. Patih Amangkubumi dan rombongannya terus memacu kudanya diiringi tatap sang surya yang terus mendaki merayapi kaki cakarawala langit.

    “Kita beristirahat diujung sana”, berkata Patih Amangkubumi kepada seorang prajurit perwira tinggi yang menjadi pimpinan rombongan itu.
    Maka disebuah tempat terlihat prajurit perwira tinggi itu mengangkat tangannya, seketika itu juga rombongan berkuda itu telah menghentikan langkah kaki kuda mereka.

    Matahari saat itu memang sudah berada diatas kepala, terlihat Patih Amangkubumi mencari tempat berteduh disebuah pohon besar yang sangat rindang di tepi jalan itu. Sementara beberapa orang prajurit telah membawa kuda-kuda mereka ke tepi sungai kecil yang ada disekitar tempat itu.

    Cukup lama Patih Amangkubumi dan rombongannya beristirahat di tempat itu, hingga manakala matahari sudah mulai bergeser dari puncaknya dan kuda-kuda mereka terlihat sudah tegar kembali, terlihat rombongan pasukan kerajaan Majapahit itu tengah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali menuju Tanah Lamajang.

    Dan tidak lama berselang rombongan Patih Amangkubumi terlihat sudah bergerak kembali memacu kuda-kuda mereka.
    Debu beterbangan dibelakang langkah kaki kuda mereka, bendera sang surya Majapahit terlihat terus berkibar dibawa lari kuda yang bergerak membelah udara disebuah padang ilalang yang terhampar luas.

    Hingga akhirnya rombongan itu telah memasuki sebuah jalan tanah yang membelah dua buah bukit.

    Namun disebuah kelokan jalan, tiba-tiba saja prajurit perwira yang menjadi pimpinan para prajurit terlihat mengangkat tangannya tingi-tinggi.

    Seketika itu juga para prajurit berkuda itu telah memperlambat laju kuda mereka.

    Patih Amangkubumi dan rombongannya telah melihat segerombolan orang dua kali lipat dari jumlah jumlah mereka yang telah memenuhi semua sisi jalan.

    “Prajurit Majapahit ?”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati ketika sudah menjadi dekat dengan orang-orang yang menghalangi jalan mereka yang ternyata memang mengenakan pertanda keprajuritan Majapahit.

    “Apa yang mereka lakukan di tempat seperti ini ?”, bertanya-tanya Patih Amangkubumi dalam hati merasa heran ada sepasukan prajurit Majapahit ditemui di jalan itu.

    “Siapakah pemimpin pasukan ini ?”, berkata prajurit perwira yang menjadi pimpinan rombongan Patih Amangkubumi bertanya kepada para prajurit Majapahit yang menghalangi jalan mereka.

    “Aku pimpinan pasukan disini”, berkata seseorang yang punya suara sangat berat kepada prajurit perwira yang bertanya.

  7. Semoga ending Empu Nambi serupa dengan dua sahabatnya.

    • deg deg plas….
      berarti Ki BP sama dengan saya nggih.
      Saya paling benci sejarah di bagian ini, semoga Pak Dhalangnya bisa meceritakannnya dengan baik. Tidak memutar balikkan sejarah, tetapi membuat alur yang logis dan tidak tragis.
      he he he .. embuhlah, terserah Pak Dhalangnya saja.

      • Tenang saja Pak Satpam, para tokoh tidak akan terlihat hitam kelam, semua terjadi karena adanya Sengkuni yang selalu meng’kompor”i dan memanfaatkan situasi.

        • Kasinggihan Ki

          justru karena itu, orang baik jadi “terlihat jahat” karena adanya “Sengkuni” di sekeliling penguasa.

          mangkelnya tu di sini ……. (he he he … kaya lagu saja)

  8. “Dari kesatuan manakah kalian ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan merasa tidak ada satupun yang dikenal dari para prajurit yang tengah menghadangnya itu.

    “kami tidak dari kesatuan manapun, yang pasti kami berada dibawah garis perintah Raja Jayanagara langsung”, berkata pimpinan mereka yang bersuara berat itu.

    Terkejut Patih Amangkubumi yang masih berada diatas punggung kudanya manakala mendengar penjelasan pimpinan prajurit yang menghalangi jalan mereka itu.

    “Raja Jayanagara telah membentuk sebuah pasukan khusus ?”, berkata Patih Amankubumi dalam hati merasa heran bahwa dirinya tidak mengetahuinya. “Apakah Raja Jayanagara sudah tidak percaya lagi denganku ?”, berkata kembali Patih Amangkubumi dalam hati.

    “lalu, apa tugas kalian disini ?”, bertanya perwira tinggi pimpinan rombongan.

    Pertanyaan perwira tinggi itu dijawab dengan tawa bergelak-gelak dari prajurit yang bersuara berat itu diikuti oleh para pengikutnya.

    “Tugas kami disini adalah memenggal kepala kalian semua”, berkata prajurit bersuara berat itu setelah menghentikan tawanya.

    Mendengar pernyataan prajurit bersuara berat itu memang sebuah tantangan didengar oleh perwira tinggi itu, terlihat perwira tinggi itu sudah langsung turun dari kudanya diikiti oleh Patih Amangkubumi dan dua puluh orang prajurit yang ikut bersamanya.

    “Penggal kepala mereka semua”, berteriak prajurit bersuara berat itu memberi perintah kepada pengikutnya.

    Mendengar teriakan perintah dari pemimpinnya, terlihat para pengikutnya sudah langsung melepas pedang panjang mereka dan bergerak menerjang rombongan Patih Amangkubumi.

    Tapi para prajurit yang mengawal Patih Amangkubumi itu adalah para prajurit utama, prajurit pilihan yang sudah banyak pengalaman bertempurnya. Terlihat mereka telah langsung siaga menunggu terjangan datang dari sekelompok orang yang mengaku para prajurit Majapahit itu.

    Maka dalam waktu yang begitu singkat, pertempuran dua kelompok yang sama-sama memakai pertanda keprajuritan Majapahit itu sudah melebur dalam sebuah kancah gelora pertempuran yang keras, setiap orang berusaha melumpuhkan lawannya, dan suara denting pedang yang saling berbenturan bersama suara bentakan dan sumpah serapah telah bergemuruh bersatu padu menjadi suara peperangan yang begitu menegangkan disebuah jalan tanah diantara dua buah perbukitan itu.

    Naas sekali nasib para prajurit penghadang yang kebetulan memilih orang tua berjanggut putih yang tidak mengeluarkan senjata apapun itu, entah dengan cara apa, siapapun yang mendatanginya akan terlempar pingsan. Orang tua berjanggut putih itu hanya berdiri ditempatnya, dua atau tiga orang penyerangnya langsung terjungkal berguling-guling terkena sambaran tangan dan kaki orang tua itu yang terlihat bergerak seadanya.

  9. Para prajurit penghadang itu nampaknya tidak mengetahui bahwa orang tua berjanggut putih itu adalah Empu Nambi, seorang yang sebelum menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit adalah seorang gurusuci pemimpin tertinggi aliran kelompok Teratai Putih yang berpengaruh dan mempunyai pengikut terbesar di jaman itu dimana padepokannya tersebar di hampir seluruh Jawadwipa dan Balidwipa.

    Bila saja Empu Nambi menghendaki, dengan sekali sapuan tenaga saktinya saja sudah dapat merobohkan semua prajurit penghadang itu. Namun Empu Nambi tidak mau melakukannya, hanya melumpuhkan lawan yang kebetulan datang menyerangnya, masih tetap berdiri ditempatnya sambil menggerakkan tangan dan kakinya seperti seadanya, tapi dua tiga orang kembali terpental tidak berdaya.

    Meski tengah menghadapi beberapa orang prajurit penghadang yang belum juga jera, Empu Nambi masih dapat mengamati seluruh pertempuran, dimana dilihatnya para prajurit rombongannya masih dapat diandalkan, masih dapat mengimbangi serangan pihak lawan yang jumlahnya dua kali lipat itu.

    Dan kembali dua tiga orang pihak lawan terlempar terkena sambaran tangan Empu Nambi yang terlihat seadanya bergerak, namun telah dilambari tenaga sakti dan daya gerak tingkat tinggi hingga tidak seorangpun lawannya dapat mengelak dan sudah langsung terjungkal meski hanya mengenai angin sambarannya saja.

    Beberapa prajurit penghadng yang melihat kesaktian Empu Nambi mulai berpikir-pikir untuk mendekat, mereka mencoba mencari lawan lainnya.

    Terlihat senyum di bibir Empu Nambi yang melihat beberapa orang prajurit penghadangnya bergeser menghindarinya, melihat yang demikian telah memaksa Empu Nambi mulai bergerak merambah masuk ketengah pertempuran yang tengah berkecamuk itu.

    Tak terkira kesaktian Empu Nambi membuat jerih siapapun yang melihatnya, karena tangan dan kaki Empu Nambi telah mampu memporakporandakan pasukan lawan, kemanapun tubuh Empu nimbi bergerak, pastilah ada jeritan dan orang yang terlempar.

    Akibatnya dalam waktu yang amat singkat, jumlah prajurit penghadang itu sudah semakin jauh menyusut.

    “Selamatkan diri kalian !!”, berteriak pemimpin mereka yang bersuara berat itu memberi perintah untuk segera pergi meninggalkan pertempuran.

    “jangan kejar mereka”, berkata Empu Nambi kepada prajuritnya yang hendak mengejar para prajurit penghadang itu.

    Mendengar perkataan dari Empu Nambi, beberapa prajurit yang sudah kadung mengejar para penghadang itu telah menghentikan langkah mereka.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam-dalam manakala melihat prajurit rombongannya tidak ada yang terluka.

  10. Hups……
    Baru sempat tengok padepokan.
    Suwun…….

  11. Ketika melihat beberapa orang prajurit pihak lawan yang tengah merintih Manahan rasa sakit yang amat sangat, terlihat Empu Nambi mendatangi orang-orang yang terluka dan dengan penuh kasih telah langsung menurunkan tangannya mengobati dan meringankan rasa sakit mereka.

    “Sempurnakanlah jasad mereka”, berkata Empu Nambi kepada para prajuritnya untuk menguburkan beberapa orang yang tewas dalam pertempuran itu.

    Terlihat hampir semua prajurit rombongan Empu Nambi itu bekerja sepenuh hati menyempurnakan jasad-jasad orang yang sebelumnya telah menjadi lawan mereka sendiri.

    “mari kita melanjutkan perjalanan, tidak jauh dari sini ada sebuah Kademangan dimana kita dapat menitipkan para tawanan”, berkata Empu Nambi kepada prajurit perwiranya.

    Demikianlah, hari memang belum beranjak senja ketika rombongan Empu Nambi terlihat bergerak untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke Tanah lamajang. Gerak langkah mereka tidak seperti sebelumnya, karena mereka harus membawa beberapa orang tawanan.

    Diperjalanan Patih Amangkubumi terus berpikir keras, mencoba merunut beberapa kejadian untuk dapat mengungkapkan kaitannya dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Pikiran Empu Nambi bergerak mulai dari kejadian di hutan Kemiri, sebuah percobaan pembunuhan sahabatnya patih Mahesa Amping, dan kembali peristiwa percobaan pembunuhan atas diri Patih Mahesa Amping lewat sebuah racun hati celeng bunting.

    “nampaknya sekarang ini, akulah yang akan menjadi sasaran mereka”, berkata Empu Nambi dalam hati setelah menemukan benang basah keterkaitan berbagai peristiwa.”Istana Majapahit telah dibayangi tangan-tangan hitam diluar pengetahuan Raja Jayanagara”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati.

    Sementara itu gerak langkah rombongan Empu Nambi telah memasuki Kademangan Japan disaat hari telah diujung senja.

    Tergopoh-gopoh Ki Demang menerima rombongan istana Majapahit itu, menyiapkan kediamannya sendiri dan beberapa rumah tetangganya untuk beristirahat Empu Nambi dan rombongannya.

    Atas permintaan Empu Nambi, maka Ki Demang telah menempatkan para tawanan di lumbung desa dengan penjagaan yang sangat ketat.

    “Aku menitipkan para tawanan di Kademangan Japan ini, pada saatnya akan kami bawa ke Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambil kepada Ki Demang Japan.

    Sementara itu diwaktu yang sama di sebuah hutan terlihat dua orang lelaki baru saja menghabisi nyawa sepuluh orang prajurit yang memakai pertanda keprajuritan Majapahit, diantaranya seorang pemimpin prajurit yang bersuara berat, ada terlihat sudah tak bernyawa lagi diantara mayat kawan-kawannya.

    “Kita harus membunuh sisa dari mereka yang telah menjadi tawanan Empu Nambi”, berkata seorang lelaki kepada kawannya.

  12. Terlihat lelaki itu telah menyarungkan kembali dua trisulanya di kiri dan kanan pinggangnya.

    Siapakah kedua lelaki itu ?

    Siapa lagi pemilik trisula kembar bila bukan Dang Acarca Empu Dyah halayuda, seorang pendeta yang diangkat oleh Raja jayanagara sebagai anggota Dharmayaksa. Sementara lelaki yang bersamanya itu adalah Ra Kuti.

    Ternyata sehari sebelum keberangkatan Empu Nambi dan rombongannya, Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti telah menyiapkan emput puluh orang untuk menghadang rombongan Empu Nambi.

    Benarkah keempat puluh orang yang menghadang Empu Nambi adalah para prajurit Majapahit ?

    Tidak ada seorangpun yang mengatahui bahwa Empu Dyah Halayudan dan Ra Kuti telah lama menggalang sebuah kekuatan baru, para prajurit Majapahit baru di sebuah tempat yang sangat dirahasiakan tidak jauh dari Kotaraja Majapahit. Namun penggalangan prajurit baru itu tanpa sepengetahuan Raja Jayanagara.

    Kekalahan keempat puluh orang prajurit yang menghadang rombongan Empu Nambi memang sudah diperhitungkan oleh Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti. Keempat puluh prajurit ibarat bidak-bidak umpan hidup untuk mendapatkan sebuah rencana panjang yang telah disusun dengan begitu rapih penuh selubung-selubung hitam.

    Dan malam itu dua orang pelakon panggung sejarah hitam Kerajaan Majapahit itu telah berada disekitar kademangan Japan. Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Mereka adalah dua orang berilmu tinggi, dengan mudahnya menyelinap dan berkelebat mendekati sasaran mereka, sebuah panggung lumbung desa yang cukup besar yang dijaga oleh sekitar sepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Pasir besiku akan melumpuhkan mereka”, berbisik Empu Dyah Halayuda kepada Ra Kuti.

    Bergidik perasaan hati Ra Kuti melihat kelihaian Empu Dyah Halayuda menggunakan pasir besi yang selalu dibawanya di dalam lipatan pakaiannya itu.

    Ra Kuti telah melihat ayunan tangan Empu Dyah Halayuda melepas pasir besi itu yang telah langsung meluncur dengan kecepatan yang sungguh luar biasa seperti ribuan jarum terbang.

    Dan dengan mata terbelalak, Ra Kuti telah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kesepuluh orang prajurit pengawal Kademangan Japan sudah langsung tergeletak tanpa bersuara terkena senjata rahasia pasir besi yang sangat mematikan itu.

    Terlihat keduanya dengan sangt tenang sekali naik keatas panggung lumbung desa yang sudah tidak terjaga itu.

    “kami merasa yakin bahwa tuan-tuan pasti akan datang menyelamatkan kami”, berkata salah seorang tawanan yang telah melihat Empu Dyah Halayuda dan Ra Kuti masuk menemui mereka.

  13. Namun baru saja selesai bicara, tawanan itu telah melihat sebuah kilatan yang berasal dari tangan Empu Dyah Halayuda. Dan dengan mata terbelalak tawanan itu telah terbungkam selama-lamanya terkena sabetan trisula Empu Dyah Halayuda yang sangat tajam itu.

    Dua belas orang tawanan yang terkurung di dalam lumping desa itu terbelalak matanya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, harapan mereka untuk dibebaskan seperti buyar seketika. Di dalam benak dan pikiran para tawanan itu dipenuhi ketidak mengertian, mengapa pimpinan mereka sendiri yang selama ini telah menempa diri mereka menjadi prajurit yang handal telah begitu ringannya melepas nyawa salah seorang dari mereka ?

    Namun belum sempat terjawab pertanyaan besar yang memenuhi benak dan pikiran ke dua belas tawanan itu, tiba-tiba saja keris ra Kuti sudah berkelebat dengan sangat cepatnya merobek urat leher mereka. Dan hanya dengan hitungan beberapa kedipan mata saja, kedua belas tawanan itu sudah hilang nyawanya dengan urat leher terputus.

    Gegerlah suasana pagi di Kademangan Japan, isak tangis terdengar dari suara beberapa wanita, ibu dan istri para prajurit pengawal Kademangan Japan.

    “Kami telah membawa rentetan petaka ini di Kademangan Japan”, berkata Empu Nambi yang merasa terpukul dengan kejadian itu, seperti kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan gelora perasaannya sendiri, antara duka dan kemarahan yang amat sangat.

    “Tidak bisa kita berhindar bersembunyi di liang semut sekalipun, menurut hamba ini bukan sebuah rentetan petaka, tapi garis ketetapan Sang Gusti pemilik kehidupan ini”, berkata Ki Demang japan kepada Empu Nambi.

    Demikianlah, kejadian pembunuhan di kademangan Japan telah menunda keberangkatan rombongan Empu Nambi. Mereka harus menunggu pelaksanaan upacara penyempurnaan para korban.

    “Dua puluh tiga gundukan tanah itu akan menjadi saksi bisu kekelaman sejarah Kerajaan Majapahit ini”, berkata Empu Nambi sambil memandang makam para korban yang telah selesai di kebumikan itu kepada seorang perwira tinggi di dekatnya.

    “Hamba akan menjadi saksi kebenaran di belakang tuan Patih Amangkubumi”, berkata perwira tinggi itu.

    “Meski bilamana aku berada diseberang garis pertempuran menghadapi para prajurit Kerajaan Majapahit ?”, bertanya Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    “Aku akan berada selamanya di belakang kebenaran”, berkata perwira tinggi itu penuh dengan ketegasan dan keteguhan hati.

    “Lika-liku sandiwara kehidupan selalu dipenuhi berbagai corak warna-warni yang melatari pegelaran itu, semoga warna merah putih dihatimu tidak akan pernah luntur, sebagai keteguhan hati seorang ksatria yang berjalan diatas padang gurun kebenaran”, berkata Empu Nambi kepada perwira tinggi itu.

    • Kamsssiiiiaaaaa Pak Dhalang………
      Tambah mencekam……….

  14. Matahari siang itu redup tertutup awan kelabu yang berarak bergerak terbawa angin.

    Terlihat sebuah pasukan berkuda telah bergerak meninggalkan gapura Kademangan Japan. Mereka adalah rombongan Empu Nambi yang akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Lamajang.
    Manakala Kademangan Japan sudah jauh dibelakang, terlihat mereka telah memacu kudanya. Kembali terlihat bendera sang surya Majapahit berkibar kembali dihempas angin dan lari kuda yang melaju kencang.

    Warna biru barisan pegunungan Tengger, Bromo dan Semeru seperti melambaikan tangan memanggil-manggil kuda-kuda mereka agar berpacu lebih cepat lagi.

    Tidak ada halangan yang berarti di dalam perjalanan mereka itu, hingga ketika senja mulai turun membayangi bumi mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Lamajang yang sangat luas itu. Namun masih perlu waktu untuk tiba di Kota Kadipaten Lamajang.

    Akhirnya setelah menyusuri dan melewati beberapa Kademangan, mereka telah berada di jalan utama menuju istana kadipaten Lamajang, sementara hari telah menjadi larut malam.
    Gembira hati Adipati Menak Koncar melihat kedatangan ayahandanya itu. Dalam pertemuan awal itu, Empu Nambi mengatakan bahwa keberadaannya di Tanah Lamajang ini adalah sebagai utusan keluarga istana Majapahit untuk menyambangi rumah duka keluarga Ki Banyak Wedi. Sengaja Empu Nambi tidak bercerita tentang beberapa kejadian dan peristiwa yang dialaminya selama di perjalanan.

    “Besok pagi, aku akan ikut mengantar Ayahanda ke rumah duka itu”, berkata Adipati Menak Koncar masih diliputi suasana kegembiraan hati mendapatkan kunjungan Empu Nambi di istana Kadipatennya.

    Maka keesokan harinya, ketika pagi sudah mulai terang tanah terlihat rombongan Empu Nambi telah keluar dari gerbang istana Kadipaten lamajang, Adipati menak Koncar terlihat ada bersama mereka.

    Rombongan berkuda itu terlihat tidak memacu kudanya sebagaimana hari sebelumnya, nampaknya Empu Nambi ingin menikmati suasana Tanah Lamajang yang sudah sekian tahun ditinggalkannya semenjak di daulat oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai Patih Amangkubumi di Kerajaan Majapahit.

    Sawah yang hijau bunting menguning terhampar luas membentang hingga kaki Gunung Semeru seperti telah membawa angan dan kenangan Empu Nambi di masa-masa mudanya dalam didikan dan gemblengan ayahnya sendiri yang penuh kasih telah membentuk dirinya, mengajarkan olah kanuragan dan olah Kajiwan.

    “Kita telah memasuki wilayah Kademangan Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ayahandanya ketika mereka memasuki sebuah regol gapura Kademangan Randu Agung.

    Ternyata mereka datang di saat upacara pengabuan jenasah tengah berlangsung. Kuda Anjampiani menerima kedatangan Empu Nambi dan rombongannya dengan penuh rasa suka dan cita. Merasa terhormat mendapatkan sambangan dari keluarga istana Majapahit yang turut berbela sungkawa.

    • Kamsiiiaaaaa………
      Seharusnya Mahisa Semu sebagai Kepala BIN Majapahit bisa mendeteksi pergerakan Halayuda alias Mpu Secang…..

  15. kelihatan lengah ya..

  16. Risang kok lupa, Gajahmada kemana ya

    • Lagi nungguin Lendhut Benter, takut mbludag……

  17. Bagi masyarakat Jawa Tengah, episode yang sedang digeber Ki Dhalang Kompor ini terkenal dengan nama episode Damarwulan.
    Pada kira2 th 1851, keluarga Sri Mangkunegara IV menggubah cerita lewat karya tari klasik dan tembang yang dibagi dalam 4 episode.

    1. Damarwulan ngarit.
    2. Ranggalawe Gugur.
    3. Menakjingga Lena.
    4. Jumenenging Damarwulan dados Ratu ing Majapahit kagarwa Ratu Ayu Kencanawungu.

    Dalam cerita Langendriyan ini Ranggalawe gugur melawan Menakjingga yang menagih janji untuk menyunting Ratu Ayu Kencanawungu karena sudah berhasil memadamkan pemberontakan Kebo Marcuet. Dalam cerita ini Menakjingga digambarkan sebagai tokoh jahat dengan kaki pincang dan mata rusak sebelah tetapi memiliki kesaktian yang tinggi dengan senjata wesi kuning.
    Tentu saja cerita ini dibantah oleh masyarakat Blambangan/Banyuwangi karena dianggap tidak sesuai dengan fakta sejarah.
    Walaupun saya sejak kecil sering mendengarkan kisah ini lewat siaran radio maupun kaset, namun membaca cerita yang ditulis Ki Dhalang Sandikala ini saya merasa sangat saluuut dan respek.
    Memang sejarah harus dilihat dari dua sisi.

    Harak inggih leres mekaten to Pak Satpam…..???
    (menawi mboten leres mangke kula “bold/italic”)

    • Injih Ki mBleh, leres (timbang di bold / italic terus lupa menutupnya, sehingga meluber kemana-mana.)

      he he he ….

  18. Selesai menjepret rontal bersamaan dengan kumandangnya adzan Maghrib di tempat Satpam.

    Dua rontal lagi Pak Dhalang, sudah cukup untuk menutup gandok 09, dan Satpam siap buka gandok 10.

    nuwun

  19. haduhh, coapeknya minta ampun, sejak jumat sore berangkat ke bandung pulang ke jakarta di tempat Sultan Agung menempatkan tentaranya di Matraman, hehe….terus berangkat lagi tapak tilas tempat semedhi Raja Siliwangi di kaki guung Gede, Cibodas, baru sore ini tingak-tengok Padepokan.

    ehem….ternyata hanya perlu 2 rontal untuk menutupnya…..kamsia untuk kebersamaannya
    kamsia…kamsia,,,kamsia

    • njih Pak Lik

      PKPM-09 kurang dua halaman dan gandok 10 sudah siap.
      tetapi kalau capek ya istirahat dulu lah, biar alur ceritanya enak dibaca.

      nuwun

  20. jaga kesehatan ki..

  21. Setelah ikut bersama dalam upacara pelarungan abu jenazah di laut, Empu Nambi berjanji kepada Kuda Anjampiani akan datang kembali dalam upacara Makelud, dua belas hari setelah upacara pengabuan.

    “Hanya doa seorang cucu tercinta yang dapat sampai ke buyutnya, aku masih cukup lama berada di Tanah Lamajang ini, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali di upacara Makelud”, berkata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani manakala akan kembali ke istana Kadipaten Lamajang.

    Demikianlah, malam itu Empu Nambi masih menginap di istana Kadipaten Lamajang. Dan dalam sebuah kesempatan ketika Empu Nambi berbincang di serambi istana Kadipaten Lamajang, bukan main terkejutnya Adipati Menak Koncar mendengar cerita dari Empu Nambi tentang empat puluh prajurit Majapahit yang telah menghadangnya di sekitar Kademangan Japan.

    “Aku tidak akan melepas ayahanda kembali ke Kotaraja Majapahit, sebelum adanya jaminan keselamatan ayahanda dari Raja Jayanagara sendiri”, berkata Adipati Menak Koncar penuh kekawatiran kepada Ayahandanya.

    “Sayangnya kita tidak mengetahui siapa dalang dibalik semua rentetan peristiwa ini”,berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Siapapun dalang dibalik semua ini, aku tidak mau nasib ayahanda sebagaimana Patih Mahesa Amping. Aku tidak ingin ada kereta jenasah datang membawa mayat ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar tetap bersikeras tidak menginjinkan Ayahandanya kembali ke Kotaraja Majapahit.

    “Wahai putraku, ayahandamu ini sudah tua. Namun aku tidak akan menyerahkan kepalaku seperti seekor kerbau, aku tidak akan menyerahkan kepalaku untuk sebuah kesalahan yang tidak kuperbuat. Tapi kita sudah membuat banyak dugaan-dugaan terlalu jauh, kita belum tahu berhadapan dengan siapa”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Ayahanda benar, namun aku tetap tidak ingin apa yang di alami Patih Mahesa Amping terjadi pula kepada diri Ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Demi keutuhan kerajaan Majapahit, demi menghindari sebuah peperangan yang akan terjadi, Patih Mahesa Amping telah mengorbankan dirinya untuk semua itu. Namun ternyata Patih Mahesa Amping bukan sasaran terakhir mereka. Ayahandamu juga bukan tumbal terakhir mereka, masih ada banyak tumbal yang harus mereka cari lagi demi meluluskan keinginan utama mereka, menguasai tahta Singgasana Majapahit ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Mereka tidak akan mendapatkan diri ayahanda, aku disini akan menjaga ayahanda meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara di medan pertempuran”, berkata Adipati Menak Koncar penuh keberanian.

    “Semoga itu tidak akan pernah terjadi, wahai putraku”, berkata Empu Nambi penuh senyum lembut kepada putranya, Adipati Menak Koncar.
    “Semoga hal itu memang tidak akan pernah terjadi, wahai ayahandaku”, berkata Adipati menak Koncar.

  22. Namun keduanya terlihat saling bertatapan mata manakala seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang datang menemui mereka mangatakan ada tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit.
    “kami akan menemui mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawal itu.

    Terlihat Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi telah berjalan kearah pintu pringgitan dengan perasaan berdebar-debar dan rasa keingintahuannya siapa gerangan tiga orang tamu dari Kotaraja Majapahit itu.

    Namun manakala mereka telah membuka pintu pringgitan lebar-lebar, rasa debar di dada keduanya seperti berdebar bertambah kencang, karena mereka berdua telah mengenal ketiganya sebagai orang penting di istana Majapahit.

    Siapakah ketiga tamu itu yang langsung berdiri diatas pendapa menakala melihat Adipati menak Koncar dan Empu Nambi yang telah keluar dari pintu pringgitan ?

    “Ternyata ada tiga saudaraku dari Kotaraja Majapahit”, berkata Empu Nambi kepada ketiga tamunya yang tidak lain adalah Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Dua malam tidak melihat Empu Nambi di Istana seperti kehilangan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu sambil tersenyum.
    “Selamat datang kembali di istanaku, wahai saudaraku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ketiga tamunya itu.

    Demikianlah, merekapun saling duduk kembali diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang dengan pembicaraan beberapa hal yang ringan seputar pelaksanaan upacara pengabuan Ki Banyak Wedi dan keadaan Kuda Anjampiani yang nampaknya sudah menjadi semakin dewasa.

    “nampaknya Ki Banyak Wedi sudah dapat membimping cucu tercintanya itu sesuai dengan yang diharapkannya”, berkata Gajahmada.

    Namun Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar tidak mudah untuk meredam debar perasaannya sendiri, merasa bahwa kedatangan tamunya di malam hari itu pastinya bukan hanya sekedar bertanya tentang upacara pengabuan Ki Banyak Wedi, tapi ada sesuatu yang sangat penting sekali. Apalagi manakala Tumenggung Mahesa Semu bercerita bahwa mereka tidak beristirahat bermalam dalam perjalanan mereka ke Tanah Lamajang.

    “Nampaknya ada sebuah berita yang sangat penting sekali sehingga kalian harus membuang malam di perjalanan kalian “, berkata Empu Nambi tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan hatinya sendiri.

    Telihat ada perubahan wajah diantara ketiganya, Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu manakala mendengar perkataan Empu Nambi itu. Wajah ketiganya terlihat berubah menjadi begitu kaku dan tegang.

    “Kakang Tumenggung Mahesa Semu mungkin dapat menyampaikannya lebih jelas lagi”, berkata Gajahmada sambil memalingkan wajahnya kearah Tumenggung Mahesa Semu,

    • Kamsia………
      belum bisa dijepret dan ditutup
      nanti malam nggih…..

      tapi, gandok 10 sudah siap kok

      • Kamsiaaaaa Pak Dhalang………..

    • Motongnya nggak enak blas Ki Dalang, nanggung berat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: