PKPM-09

<< kembali | lanjut >>

PKPM-09

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30 Maret 2015 at 22:06  Comments (101)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

101 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sungguh menyedihkan…

    Tidak tahu, bagaimana Pak Dhalangnya akan membawa arah cerita ini.

    Jika boleh (bisa) menolak, Satpam akan menolak cerita yang akan menyedihkan ini.

    Pada postingan terdahulu, Satpam pernah cerita bahwa Satpam pernah membaca tentang Majapahit di bagian ini. Banyak intrik dalam kekuasaan Majapahit, mungkin seperti di negeri kita saat ini.
    Sejak saat itu, satpam tidak pernah mau baca lagi cerita apapun tentang Majapahit pada bagian ini.

    Tetapi…

    apa boleh buat….
    Ki Arema “tidak mau” memegang sementara gandok ini, sehingga ‘TERPAKSA’ satpam harus piket, menyapu halaman, menata rontal di gandoknya dan itu harus membaca satu-persatu. Apalagi, Satpam sudah dipercaya Kiaine untuk edit rontal Ki Sandikala sekedarnya, meski hanya memeriksa salah ketik saja.

    hadu…..
    tolong saya Pak Dhalang, akhir cerita dari Mahisa Amping dan Ki sandikala jangan terlalu tragis, agar satpam bisa tidur nyenyak di malam hari.

    nuwun

  2. Haduh, mata kok sepet amat nich……..

    Maunya sic membawa Mahesa Amping ke tanah subur, mengajaknya menanam padi bersama dara jingga, agar setiap hari dapat bercanda di saung sambil menunggu burung-burung nakal pencuri padi.

    Itulah cita-cita sederhana mahesa Amping yang belum juga kesampaian…………….

    Cita-cita hanya tinggal sebuah cita-cita, Mahesa Amping hanya sebatang kayu anak wayang yang harus melakoni sebuah kepahitan hidup, melakoni sebuah sandiwara hitam para penghasut, para penghayal yang hanya berani bermimpi tanpa berani menghadapi tantangan kehidupan yang sebenarnya, tantangan kehidupan yang harus dihadapi dengan tangannya, bukan dengan lidahnya yang berbisa.

    Dan Mahesa Amping hanya manusia wayang, pelakon sejarah hitam putihnya Majapahit, sejarah buram dan cemerlangnya majapahit.

    Dan kita harus melewatinya, meski ora tego mocone…………………………..

    • Pak Satpam harus berusaha memahami realita intrik kekuasaan. Hampir tidak ada tampuk kekuasaan yang bisa diraih dengan jalan lurus sepanjang nafsu angkara masih melekat pada manusia.
      Bermacam macam kemasan bisa dibuat sebagai kedok untuk mencapai tujuan menapaki puncak kekuasaan. Pada waktu masih dalam tahap perjuangan meraih kekuasaan memang terlihat bahwa kedok yang dipakai sangat bagus. Ujian yang sesungguhnya adalah ketika kekuasaan sudah ada dalam genggaman.
      Mungkin sebab itulah kita punya semboyan “rawe rawe rantas malang malang putung” segala jalan dimungkinkan untuk meraih kekuasaan, baik secara halus maupun kasar, beretika maupun tidak, pun apabila tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan.
      Harak inggih kira2 mekaten to Pak Satpam…….????

      • Lha nggih duka no, Satpam kadit itreng

  3. Sementara itu diwaktu yang sama terlihat sebuah rakit tengah meluncur menyeberangi sungai Kalimas. Terlihat seorang leleki tua yang mengenakan pakaian kebesaran seorang pejabat istana berada diatas rakit itu bersama dua orang prajurit Majapahit yang mengawalnya.

    Terlihat diseberang sungai Kalimas beberapa prajurit Majapahit berdiri sepertinya tengah menunggu rakit itu menepi.

    Manakala rakit itu telah menepi diseberang, leleki tua yang sangat berwibawa itu dengan begitu ringannya melangkah ke dermaga kayu ditepian sungai Kalimas itu sebagai pertanda orang itu seorang yang sangat terlatih dalam olah kanuragan.

    “kami telah menyiapkan kuda untuk tuanku Patih Amangkubumi”, berkata seorang prajurit Majapahit yang menjemputnya di tepian sungai Kalimas itu.

    “terima kasih”, berkata lelaki tua itu yang ternyata adalah Patih Amankubumi, seorang yang dikenal sangat ramah, seorang yang selalu bersahaja meski telah memiliki jabatan tinggi di kerajaan Majapahit itu.

    Ternyata hari itu Patih Amangkubumi telah mewakili Baginda Raja Sanggrama Wijaya untuk melakukan sebuah perundingan dengan seorang utusan resmi Yang dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan.

    Sebagaimana yang kita ketahui bersama, setelah kekalahan pasukan Mongolia di Jawadwipa, telah terjadi kepakuman hubungan diantara kedua kerajaan ini. Peperangan di lautan bebas tak pernah bisa dielakkan bila kedua perahu dagang mereka bertemu.

    Merasa lelah dengan peperanga-peperangan yang merugikan kedua belah pihak, akhirnya para pedagang bangsa Mongolia telah dapat melunakkan hati Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan untuk mengutus seseorang ahli runding membuat beberapa kesepakatan bersama kerajaan Majapahit.

    Namun utusan Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan itu sangat menjunjung tinggi martabat Sang Maharajanya, merasa lebih rendah derajatnya bila harus datang ke istana Majapahit. Akhirnya disepakati perundingan dilakukan di Bale Tamu di Tanah Ujung Galuh, sebuah tempat yang dibangun oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya beberapa tahun silam sebagai basis kekuatan armada dagangnya menghadapi kekuatan Raja jayakatwang pada saat itu.

    Karena baginda Raja Sanggrama Wijaya masih belum kembali dari kunjungannya di Tanah Pasundan, maka Patih Amangkubumi telah mewakilinya membuat beberapa kesepakatan dengan utusan kerajaan terbesar di jaman itu yang konon telah menguasai setengah wilayah permukaan bumi.

    Dan manakala Patih Amangkubumi bersama rombongannya tengah memesuki pintu gerbang Bale Tamu, diwaktu yang sama pula terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah memasuki wilayah Kademangan Maja.

    Terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru tidak memperlambat laju kudanya meski telah berada di jalan Kademangan Maja yang sudah cukup ramai di lalui beberapa orang yang tengah berjalan kaki.

  4. Derap langkah kaki kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru benar-benar telah membuat panic beberapa orang yang langsung berlari menepi takut tertabrak kuda-kuda mereka. Dan sumpah serapah keluar dari mulut mereka sebagai caci maki kemarahan dan kedongkolan mereka.

    Namun sepertinya Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung tidak memperdulikannya, yang dipikirkan saat itu adalah secepatnya menemui Patih Mahesa Amping.

    Akhirnya mereka memang telah keluar dari beberapa padukuhan di Kademangan Maja yang sudah sangat ramai itu, terlihat dihadapan mereka sebuah gapura yang sangat tinggi berdiri menantang sang Mentari yang telah berada tepat diatas kepala.

    Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru akhirnya telah memasuki Kotaraja Majapahit dari arah sebelah barat.

    Sementara itu di Tanah Ujung Galuh, Patih Amankubumi tengah melakukan pembicaraan bersama seorang utusan Kaisar Mongolia yang memperkenalkan dirinya bernama Yultemujin.

    “Mari kita melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita, tanpa itu kita tidak akan menemui kesepakatan apapun, sesuatu kerugian yang sangat besar dimana tuan Yultemujin telah datang dari tempat yang amat jauh”, berkata Patih Amangkubumi memulai pembicaraannya dengan utusan itu.

    “Di negri kami, pandangan untuk orang Jawadwipa adalah sekumpulam orang liar yang sangat sukar untuk berdamai, ternyata setelah bertemu dengan tuan Patih Amangkubumi telah mencairkan perasaan hatiku, ternyata orang Jawadwipa adalah orang santun yang dapat diajak bicara”, berkata Yultemujin memuji sikap dan tutur kata Patih Amangkubumi yang menggambarkan kesetaraan jiwa orang Jawadwipa yang merdeka, namun disampaikan dengan bahasa yang santun.

    Ternyata Patih Amangkubuni adalah seorang perunding yang hebat, telah mendapatkan beberapa kesepakan yang banyak menguntungkan di pihak kerajaan Majapahit. Beberapa kesepakatan itu antara lain adalah menghentikan segala macam permusuhan diantara kedua bangsa, menjalin hubungan perdagangan kembali dimana tidak ada perlakuan yang berbeda sebagaimana yang diberlakukan oleh semua pedagang bangsa asing lainnya yaitu tidak diperbolehkan berdagang langsung ke pedalaman, hanya diperbolehkan berdagang dengan perwakilan kerajaan Majapahit yang ditunjuk di sepanjang wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

    “Aku akan bercerita kepada kaisar kami Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan bahwa di Jawadwipa ini kami diterima dengan perjamuan dan keramahan. Adakah sebuah permintaan dari tuan Patih Amangkubumi yang dapat kami sampaikan kepada kaisar kami ?”, berkata Yultemujin kepada Patih Amangkubumi di tengah-tengah perjamuan.

    “Sampaikan salamku kepada kaisarmu bahwa kami orang di Jawadwipa ini mencintai perdamaian, satu orang teman baik lebih ternilai dibandingkan dengan seribu orang musuh. Permintaanku adalah semoga Yang Dipertuan Agung Maharaja Kubilai Khan bermurah hati untuk mengembalikan kehormatan Panglima setianya, Ike Mese. Sampaikan kepada kaisarmu bahwa kekalahan prajurit Mongol bukan kesalahan Panglima Ike Mese, tapi Gusti Yang Maha Agung saat itu telah berpihak kepada orang Jawa”.

  5. Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru telah memasuki jalan utama kotaraja Majapahit.

    Berdebar perasaan hati mereka manakala mendengar suara riuh ribuan prajurit di muka gerbang istana Majapahit.

    Dan bukan main terguncangnya hati dan perasaan mereka berdua manakala mengetahui bahwa suara riuh ribuan prajurit itu tengah mengeroyok Patih Mahesa Amping seorang diri. Namun tidak satupun pedang ditangan prajurit mampu melukainya, sebaliknya siapapun yang terdekat akan terlempar roboh tak bergerak lagi oleh terjangan Patih Mahesa Amping yang sangat sakti itu.

    Langsung seketika itu juga terlihat Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru langsung melompat dari punggung kudanya, langsung masuk menyibak kerumunan ribuan prajurit Majapahit sambil berteriak meminta para prajurit Majapahit itu menghentika pengeroyokan itu.

    “Kalian salah menyerang orang, dia adalah pahlawan Majapahit yang harus di hormati”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil mendorong beberapa orang prajurit Majapahit.

    Namun tiba-tiba saja ada seorang prajurit yang mengancamnya dengan pedang panjang yang terhunus.

    “Siapa yang kamu katakan pahlawan ?, lihatlah mayat kawan-kawan kami, puluhan jiwa telah melayang ditangannya. Apakah pantas orang biadab itu di panggil dengan sebutan seorang pahlawan ?”, berkata seorang prajurit rendahan sambil mengancam Ki Rangga Gajah Biru dengan pedang yang telanjang.

    Sebagai seorang prajurit perwira tinggi di istana Kediri, perkataan prajurit rendahan itu seperti sebuah hinaan. Dan Ki Rangga Gajah Biru yang punya sifat mudah marah itu seperti sebuah kayu kering disulut api, maka berkobarlah kemarahannya.

    “Aku Rangga Gajah Biru akan berada dibelakang Patih Mahesa Amping, siapapun yang menyakitinya akan menjadi musuh utamaku hari ini”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil meloloskan pedangnya siap memegang kata-katanya sendiri.

    Ternyata perkataan Ki Rangga Gajah Biru menjadi perhatian beberapa orang prajurit Majapahit.

    “Kita tutup mulut perwira sombong dari Kediri itu”, berkata salah seorang prajurit Majapahit kepada beberapa orang kawannya.
    Melihat beberapa orang prajurit Majapahit telah mengepung Li Rangga Gajah Biru, dengan penuh kesetiaan Ki Demung Juru langsung maju melindungi bagian belakang tubuh Ki Rangga Gajah Biru.

    Akhirnya keriuhan suasana keributan itu seperti terbagi dua, satu kelompok tengah mengepung Patih Mahesa Amping, satu kelompok lainnya tengah mengepung dua perwira tinggi dari Kediri itu.

    Terlihat Patih Mahesa Amping yang sudah memiliki ilmu kesaktian yang amat tinggi itu dimana tidak satupun pedang mampu melukainya, bahkan seperti sebuah pelita dan laron di pergantian musim, siapapun yang berani mendekat akan terlempar mati.

  6. Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru bertempur seperti dua ekor banteng yang kalap, beberapa orang prajurit Majapahit sudah terkena sabetan senjata pedangnya.

    Melihat beberapa orang kawan mereka mejadi korban pedang kedua perwira tinggi dari Kediri itu telah membuat panas hati para prajurit Majapahit, mereka menjadi seperti kerasukan setan untuk beramai-ramai menghabisi kedua orang itu.

    Malang sungguh nasib kedua perwira tinggi dari Kediri itu, setelah berkuda cukup jauh tanpa beritirahat yang cukup, langsung mereka menghadapi keroyokan para prajurit Majapahit. Terlihat dengan cepatnya tenaga mereka menjadi surut, gerakan merekapun menjadi kian lambat.

    Dan dua tiga kali tusukan dari beberapa prajurit Majapahit yang menyerangnya telah melukai kedua prajurit perwira tinggi itu yang secara terbuka mengatakan berada di belakang Patih Mahesa Amping.

    Rasa lelah yang sangat, serta darah di beberapa luka ditubuh yang terus mengalir telah membuat Ki Demung Juru merasakan kepalanya menjadi pening, tidak jelas lagi memandang arah pedang yang tengah menyerangnya.

    Dan…….blessss….

    Sebuah pedang tajam telah menembus batang paha kaki Ki Demung Juru membuat orang tua gagah perkasa itu jatuh terkulai karena satu kakinya sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri.

    Melihat sahabatnya jatuh terkulai lemah tak berdaya telah menjatuhkan kata dari mulut Ki Rangga Gajah Biru.

    “Nyawaku setara dengan seratus jiwa orang, mari mati bersamaku”, berkata Ki Rangga Gajah Biru dengan kedua kaki yang kokoh merekat diatas bumi pijakannya.

    Namun perkataan Ki Rangga Gajah Biru tidak menyusutkan langkah para prajurit Majapahit, terlihat lima orang prajurit Majapahit telah maju bersama-sama menerjang kearah Ki Rangga Gajah Biru.

    Luar biasa ketangkasan orang tua yang bertubuh tinggi besar itu, seperti seekor gajah marah telah dapat menagkis satu persatu serangan lawan-lawannya. Empat serangan masih dapat di halaunya, namun satu serangan telah terlepas dari ujung matanya.

    Dan…..crattttt…..

    Sebuah sabetan pedang telah berhasil merobek lengan kanan Ki Rangga Gajah Biru.

    Tapi Ki Rangga Gajah Biru sudah seperti mati rasa, tanpa peduli rasa sakit sedikitpun telah memindahkan pedangnya di tangan kirinya.
    “Mari mati bersamaku”, berkata Ki Gajah Biru dengan wajah dan tatap mata dingin tak berkedip.

    “Matilah kamu sendiri”, berkata seorang prajurit yang langsung menyerang kearah Ki Rangga Gajah Biru.

  7. Naas bagi prajurit Majapahit itu yang tidak menduga bahwa Ki Rangga Gajah Biru masih dapat bergerak cepat meski dengan sebuah tangan kirinya.

    Dan….brettt

    Perut prajurit naas itu telah kebeset sabetan pedang Ki Rangga Gajah Biru meninggalkal goresan yang cukup dalam dan panjang banyak menumpahkan darah segar.

    Terlihat prajurit naas itu bergulingan menahan rasa sakit yang amat sangat.

    Melihat hal itu telah membuat kawan-kawan mereka langsung menubruk Ki Rangga Gajah Biru dengan berbagai serangan dari berbagai arah.

    Akibatnya dua hingga tiga sabetan pedang panjang tidak mampu untuk dielakkan, orang tua berbadan tinggi besar itu terlihat jatuh terkulai dengan banyak luka ditubuhnya. Nampaknya Ki Rangga Gajah Biru telah banyak kehabisan darah segar yang benyak keluar dari beberapa lukanya.

    Sementara itu kepungan kepada Patih Mahesa Amping menjadi semakin rapat, pedang dan lembing berkali-kali melesat kearah tubuhnya, namun sang Patih yang perkasa dan sakti tak tertandingi dijamannya itu masih dapat saja mengelak bahkan terus melemparkan lawan-lawannya yang sepertinya tidak pernah berkurang meski puluhan orang telah tergeletak terkena sambaran tangan dan kaki Patih Mahesa Amping.

    “Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus=tikus tidak berarti ini”, berteriak Patih Mahesa Amping sambil melemparkan siapapun prajurit Majapahit yang datang mendekatinya.

    Teriakan Patih Mahesa Amping tidak pernah berubah, selalu memanggil nama Jaka Sesuruh dengan perkataan penuh kebencian yang amat sangat.

    Hampir semua prajurit Majapahit mengenal namai itu, dan sudah hampir melupakannya karena nama yang disebut oleh Patih Mahesa Amping adalah nama kecil Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sebuah nama yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mencintai Raja mereka, karena nama itu adalah nama hinaan seorang anak lelaki kecil yatim ditinggal mati seorang ibu yang terbuang tersia-siakan. Itulah sejarah pahit derita Baginda Raja Sanggrama Wijaya, seorang yatim bersama ayahandanya telah terusir dari Tanah Pasundan yang dengan penuh perjuangan mengembara dalam hingga dapat kembali ke kampong halamannya, keluarga istana Singasari.

    Dan Patih Mahesa Amping dengan penuh kebencian dan dendam telah menyebut berulang nama kecil Baginda Raja Sanggrama Wijaya, dengan ucapan Jaka Sesuruh.

    “Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus-tikus tidak berarti ini”, berteriak kembali Patih Mahesa Amping sambil melemparkan siapapun prajurit Majapahit yang datang mendekatinya.

    Kembali jumlah korban prajurit Majapahit di tangan Patih Maheasa Amping telah bertambah lagi.

  8. Ribuan prajurit itu benar-benar tidak mampu melumpuhkan Patih Mahesa Amping, siapapun yang berani mendekat akan langsung terlempar tidak kenal ampun ditangan Patih Mahesa Amping.

    Melihat mulai banyaknya korban yang bergelimpangan akibat pukulan tangan kosong Patih Mahesa Amping telah membuat gentar para prajurit Majapahit itu, beberapa orang terdepan terlihat mundur beberapa langkah tidak berani maju menyerang. Mereka hanya berdiri mengepung agar Patih Mahesa Amping tidak melarikan diri.
    Pemandangan saat itu Patih Mahesa Amping seperti tengah berdiri di tengah pusaran laut manusia.

    “Jaka Sesuruh, keluarlah engkau, jangan kamu berlindung di belakang tikus-tikus tidak berarti ini”, berteriak kembal Patih Mahesa Amping sambil berdiri tegag menantan.

    Ternyata teriakan Patih Mahesa Amping itu adalah teriakan yang terakhir, karena selesai berteriak terlihat tubuh Patih yang perkasa itu mulai limbung layaknya seorang pemabok yang tak mampu mengendalikan dirinya.

    Melihat hal demikian pada diri Patih mahesa Amping telah membuat dua orang prajurit sedikit punya keberanian kembali, terlihat keduanya telah bergerak dengan senjata pedang terhunus menuju arah Patih Mahesa Amping.

    Namun sebelum gerakan dua orang prajurit itu mencapai sasaran, tiba-tiba saja berkelebat dua sosok bayangan.
    Satu sosok bayangan telah mendekati kedua prajurit yang masih bernyali itu, entah dengan apa tiba-tiba saja kedua prajurit itu terlempar dengan merasakan kepala mereka seperti tertimpa batu yang amat keras.

    Sementara sosok bayangan lainya telah langsung mendekati Patih Mahesa Amping yang hampir jatuh terkulai. Terlihat tubuh Patih Mahesa Amping sudah ada dalam pangkuan seorang pemuda yang tidak lain adalah putranya sendiri, Adityawarman.

    “Ayah,,,”, hanya itu yang diucapkan oleh Adityawarman penuh kekhawatiran atas keadaan ayahandanya itu.

    Sementara itu, sosok bayangan lainnya ternyata adalah Tumenggung Mahesa Semu yang berdiri tegak membelakangi Adityawarman dan Patih Mahesa Amping.

    “Bila perbuatanku hari ini bersalah, aku akan dengan suka rela melepaskan jabatanku ini, namun bila ada yang berani menyentuh kulit tubuh saudaraku ini, berarti akan berhadapan denganku sebagai musuh besarku”, berkata Tumenggung Mahesa Semu dengan suara yang lantang.

    Mendengar tantangan Tumenggung Mahesa Semu telah membuat para prajurit menjadi gentar, mereka mulai ragu apakah mampu menghadapi seorang Tumenggung Mahesa Semu yang mereka keyahui adalah saudara seperguruan Patih Mahesa Amping yang hanya selisih sedikit ilmu kesaktiannya.

  9. Ditengah keraguan para prajurit menghadapi tantangan Tumenggung Mahesa Semu, tiba-iba saja terdengar suara orang yang berteriak memberikan semangat agar para prajurit Majapahit tidak takut menghadapi Tumenggung mahesa Semu dan Adityawarman.

    “Jumlah kita ribuan banyaknya, dengan maju bersama kita akan kuat. Cincang kedua orang itu yang telah membela Patuh Mahesa Amping, pembunuh kawan-kawan kita”, berkata seseorang memberikan hasutan kepada para prajurit untuk bergerak maju.

    Sebagai seorang Tumenggung yang belum lama dilantik, Tumenggung Mahesa Semu sudah mulai bayak mengenal beberapa orang pejabat istana Majaphit. Terlihat Tumenggung Magesa Semu seperti mengenali siapa pemilik suara yang melengking itu.

    Namun belum sempat Tumenggung Mahesa Semu berpikir lebih lanjut, kembali para prajurit Majapahit telah bergerak kembali.
    Melihat bahaya yang akan dihadapi, Tumenggung telah langsung melepas pedangnya yang tajam berkilat.

    Sementara itu Adityawarman juga telah bergerak cepat, meletakkan tubuh ayahnya di tanah dan langsung sudah melangkah membelakangi punggung Tumenggung Mahesa Semu dengan senjata keris ditangan.

    Nampaknya kedua ksatria Majapahit itu sudah siap menghadapi ribuan prajurit Majaphit dengan dada terbuka tidak terlihat sedikitpun rasa gentar di sorot mata keduanya.

    Tak terbayangkan suasana dan akibat yang pasti akan terjadi, dua orang ksatria tangguh menghadapi ribuan prajurit, pastinya akan terjadi banyak korban di pihak para prajurit, Tanah halaman disekitar gerbang istana itu akan menjadi banjir darah dimana anyir baunya akan berpekan-pekan lamanya baru dapat hilang, semantara hampir disetiap malam suasana disekitarnya menjadi samun mencekam dipenuhi banyak hantu penasaran yang bergentayangan.

    Namun semua bayangan yang mencekam itu tidak akan terjadi, karena tiba-tiba saja terdengar suara bergema yang terdengar jelas berputar-putar seperti datang dari berbagai penjuru mata angin. Hanya orak sakti yang telah menguasai ajian gelap ngampar yang dapat melakukannya.

    “Mundur semuanya dan sarungkan kembali pedang kalian”, demikian suara itu terdengar bergema menghentakkan dada setiap para prajurit yang seperti tersihir langsung mundur beberapa langkah dan juga serentak telah menyarungkan pedang masing-masing.

    Siapa gerangan pemilik ajian gelap ngampar yang sudah amat langka itu ?

    Belum reda debar di dada para prajurit, tiba-tiba saja terlihat angin puyuh berputar-putar diatas kepala mereka.

    Benar-benar sebuah pemandangan yang sangat menegangkan siapapun yang melihatnya disaat itu.

  10. Seluruh mata masih tertuju kepada pusaran angin puyuh yang terus bergerak kearah pusat kerumunan, dan berhenti turun di dekat Patih Mahesa Amping.

    Terperangah wajah seluruh prajurit manakala pusaran angin puyuh itu tiba-tiba menghilang, berganti dengan sesosok tubuh lelaki tua berdiri penuh wibawa.

    “Tuan Patih Amangkubumi”, berdesah perlahan dari bibir para prajurit Majapahit yang telah mengenal sosok lelaki tua itu.

    “Aku patih Amangkubumi, hari ini aku memegang mandate Baginda Raja Sanggrama Wijaya, ucapanku adalah ucapannya”, berkata Patih Amangkubumi dengan suara yang lantang terdengar hingga di barisan kerumunan paling belakang para prajurit Majapahit.

    Terlihat hampir semua prajurit Majapahit menundukkan wajahnya, mencoba menduga-duga keputusan apa yang akan keluar dari pemegang mandat Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Aku Patih Amangkubumi, hari ini kuasa keadilan berada ditanganku, kitab hukum Kutara Wanara Dharmasasra berada ditanganku”, berkata kembali Patih Amangkubumi masih dengan suara yang sangat lantang.

    Berdebar-debar dada para prajurit mendengar perkataan Patih Amangkubumi yang telah menyebut sebuah kitab hukum kerajaan yang sangat tinggi itu, kitab hukum keadilan yang tidak mengenal persaudaraan, tidak mengenal persahabatan, tidak pejabat kerajaan dan kaum jelata, juga para pendeta akan tunduk patuh menjalaninya.

    Para prajurit Majapahit itu merasa takut bahwa mereka akan terjerat kesalahan karena telah mencelakai Patih Mahesa Amping yang masih berbaring tidak sadarkan diri itu.

    semua prajurit Majapahit masih menundukkan wajahnya, masih mencoba menduga-duga keputusan apa yang akan keluar dari pemegang mandat Baginda Raja Sanggrama Wijaya itu.

    “Serahkan keadilan kepadaku, kembalilah kalian ke barak kesatuan masing-masing”, berkata Patih Amangkubumi masih dengan suara yang terdengar begitu lantangnya.

    Tanpa menunggu perintah kedua, terlihat ribuan prajurit itu telah membubarkan dirinya, mereka takut Patih Amangkubumi akan berubah pikiran tidak memaafkan apa yang telah mereka perbuat.

    Tanpa menunggu para prajurit bubar seluruhnya, terlihat Patih Amangkubumi telah mengangkat tubuh Patih Mahesa Amping begitu ringannya langsung berkelebat kearah dalam istana.

    Sementara itu Adityawarman terlihat mengikuti jejak Patih Amangkubumi sambil membawa tubuh Ki Rangga Gajahbiru yang terluka parah tidak mampu berdiri.

    Melihat Adityawarman dan Patih Amangkubumi, terlihat Tumenggung Mahesa Semu ikut membawa Ki Demung Juru yang juga telah pingsan tak sadarkan diri akibat banyak darah yang keluar dari beberapa lukanya. Sebagaimana Adiryawarman, terlihat Tumenggung Mahesa Semu mengikuti arah Patih Amangkubumi.

  11. Ternyata arah Patih Amangkubumi membawa tubuh Patih Mahesa Amping menuju puri pasanggrahannya sendiri.

    “berikan mereka ramuan bubuk pengering luka”, berkata Patih Amangkubumi kepada seorang lelaki tua pelayan dalem yang menyongsong kedatangan majikannya itu.

    Tanpa menunggu pelayan dalem itu datang kembali, terlihat Patih Amangkubumi sudah duduk disisi Patih mahesa Amping yang telah dibaringkan di panggung pendapanya.

    “Bagaimana keadaan ayahku ?”, bertanya Adityawarman dengan wajah penuh rasa cemas.

    “Aku belum dapat memastikannya, hanya baru menduga-duga sebagaimana laporan pertama yang kudapat dari seorang prajurit yang datang kepadaku di Bale tamu mengatakan bahwa ayahmu menjadi gila membunuh para prajurit Majapahit”, berkata Patih Amangkubumi sambil masih memeriksa beberapa jalan darah di tubuh Patih Mahesa Amping.

    “Apakah ayahku masih dapat disembuhkan ?”, bertanya kembali Adityawarman dengan penuh harap dan cemas.

    Belum sempat Patih Amangkubumi menjawab pertanyaan Adityawarman, tiba-tiba pelayan dalem telah datang bersama tiga orang kawannya dengan membawa sebuah bubu kecil dari bambu.

    Nampaknya pelayan dalem itu membawa kedua kawannya untuk membantunya, dan tanpa menunggu perintah dari Patih Amangkubumi, kedua kawan pelayan dalem itu telah mendekati tubuh Ki Rangga gajah Biru dan Ki Demung Juru membaluri luka-lika mereka dengan bubuk pengering luka.

    “Bawakan kepadaku selembar daun keladi dan pisau pendekku”, berkata Patih Amangkubumi kepada pelayan dalemnya yang nampaknya memang menunggu perintah dari majikannya itu.

    “Apakah ayahku masih dapat disembuhkan ?”, bertanya kembali Adityawarman kepada Patih Amangkubumi.

    “Aku masih menduga-duga, untuk kepastiannya aku harus melihat sendiri beberapa tetes darahnya”, berkata Patih Amangkubumi merasa kasihan melihat kecemasan di wajah Adityawarman itu.

    Dan tidak lama berselang, pelayan dalem telah datang kembali sambil membawa selembar daunt keladi dan sebuah pisau pendek langsung diserahkan kepada Patih Amangkubumi.

    Terlihat Patih Amangkubumi menorehkan pisau pendeknya di salah satu ujung jari patih Mahesa Amping. Darah segar keluar dari jari tangan Patih Mahesa Amping yang langsung ditadahkan oleh patih Amangkubumi dengan bejana selembar daun keladi.

    Dengan tidak sabar terlihat Adityawarman menunggu ucapan Patih Amangkubumi yang tengah mengamati darah diatas daun keladi, tetesan darah ayahnya.

    Terlihat Patih Amangkubumi menarik nafas berat sekali.

  12. Dengan wajah penuh harap dan cemas, terlihat Adityawarman menahan nafasnya menanti perkataan Patih Amangkubumi.
    “Ayahmu terkena serangan racun hati celeng bunting”, berkata Patih Amangkubumi dengan suara lirih kepada Adityawarman.

    “racun hati celeng bunting ?”, berkata bersamaan Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu merasa baru kali ini mendengar jenis racun seperti yang dikatakan oleh Patih Amangkubumi itu.

    “Orang biasa akan mati dalam satu hari, sementara ayahmu masih dapat bertahan hingga saat ini. Nampaknya daya sakti hawa murninya telah dapat bekerja dengan sendiri melindungi tubuhnya, namun tidak mampu melindungi bagian isi kepalanya. Itulah yang menyebabkan ayahmu tak terkendalikan ingatannya”, berkata patih Amangkubumi kepada Adityawarma.

    “Apakah ayahku masih dapat disembuhkan ?”, berkata Adityawarman masih dengan wajah penuh harap dan cemas.

    “Serahkan semuanya kepada Gusti Yang Maha Hidup, dialah penguasa kehidupan ini, hidup dn mati kita ada ditangannya. Sementara kita hanya dapat berupaya dengan sareatnya”, berkata Patih Amangkubumi sambil berdiri dan dengan bahasa tubuhnya memanggil pelayan dalem untuk mendekatinya.

    Terdengar Patih Amangkubumi menyebut beberapa tanaman obat kepada pelayan dalemnya.

    “Kamu harus pergi cepat ke hutan Maja”, berkata Patih Amangkubumi menjelaskan dimana mendapatkan beberapa jenis tanaman obat yang disebutkannya itu.

    “Hamba pamit diri”, berkata pelayan dalem kepada patih Amangkubumi.

    Terlihat pelayan dalem itu tengah menuruni anak tangga panggung pendapa, namun begitu kakinya menyentuh tanah, tiba-tiba saja seperti melesat terbang dan menghilang diujung gerbang gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

    Diam-diam Adityawarman dan Mahesa Semu mengakui bahwa ternyata Patih Amangkubumi dikelilingi oleh orang-orang hebat yang punya ilmu kesaktian cukup tinggi.

    Sementara itu dua orang pelayan dalem lainnya terlihat telah selesai melaburi luka di tubuh Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.
    Dan tidak lama berselang terlihat pelayan dalem yang diperintahkan oleh Patih Amangkubumi ke hutan Maja telah datang kembali.

    “Hamba telah mendapatkan tanaman obat yang tuan cari”, berkata pelayan dalem itu sambil menyerahkan beberapa lembar daun dan kulit kayu kepada patih Amangkubumi.

    Adiryawarman dan Tumenggung Mahesa Semu terdiam menyaksikan tangan Patih Amangkubumi tengah meremas beberapa lembar daun yang langsung dimasukkan kedalam sebuah mangkuk.

  13. Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu masih diam membisu menyaksikan Patih Amangkubumi membuka mulut Patih Mahesa Amping dan memasukkan cairan racikannya sedikit demi sedikit.
    Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu masih diam membisu menyaksikan semangkuk cairan racikan telah habis masuk ke tubuh Patih Mahesa Amping.

    “Nampaknya Ayahmu telah banyak menguras tenaganya tanpa makan dan minum dalam beberapa hari, itulah yang menyebabkannya dirinya lemas tidak sadarkan diri. Mudah-mudahan cairan racikanku ini dapat mengaliskan racun yang ada di seluruh peredaran darahnya itu”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman.

    Mendengar perkataan Patih Amangkubumi, terlihat kecemasan di wajah Adityamawran sudah sedikit berkurang, nampaknya putra tunggal Patih Daha itu sangat mempercayai keahlian Patih Amangkabumi dalam ilmu pengobatan itu.

    Lama menunggu, Patih Mahesa Amping masih juga belum sadarkan diri.

    Sementara itu Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru sudah mulai terlihat bergerak menggeliat.

    “Siapkan tempat di dalam agar mereka berdua dapat beristirahat”, berkata Patih Amangkubumi kepada ketiga pelayan dalemnya yang masih berada diatas panggung pendapa untuk membawa Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

    Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu dan Patih Amangkubumi masih menunggu Patih Mahesa Amping yang belum juga siuman, masih diam tak bergerak, hanya desah nafasnya saja yang masih terdengar lemah.

    “Desah nafasnya sudh mulai terdengar lebih kuat, sebagai pertanda racikanku tengah bekerja”, berkata Patih Amangkubumi yang melihat rongga dada Patih Mahesa Amping telah bergerak kembang kempis lebih cepat dari sebelumnya.

    Sementara itu bulan terbelah diatas langit malam puri pasanggrahan Patih Amangkubumi hanya ditemani tiga bintang.

    Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu dan Patih Amangkubumi masih menunggu Patih Mahesa Amping yang belum juga siuman, masih diam tak bergerak, hanya desah nafasnya saja yang sudah terdengar mulai teratur.

    “Ayah….”, berkata Adityawarman yang telah melihat ayahnya membuka matanya perlahan.

    “jangan bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah”, berkata Patih Amangkubumi sambil memandang wajah Patih Mahesa Amping yang telah membuka matanya merasa silau oleh cahaya pelita malam yang tergantung di tiang pendapa puri pasanggrahan.

    “Dimana aku ?”, bekata Patih Mahesa Amping lisrih perlahan.

    “kamu berada di tempat yang aman, wahai saudaraku”, berkata Patih Amangkubumi.

  14. Terlihat Patih Mahesa Amping memandang wajah Patih Amangkubumi yang tersenyum penuh kasih.

    “Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping membalas senyuman Patih Amangkubumi yang dipanggil dengan nama samarannya ketika masih dalam awal-awal perjuangan menyelamatkan keluarga istana Singasari dalam kejaran pasukan Raja jayakatwang.

    “Sekarang, tengoklah orang disebelah kirimu”, berkata patih Amangkubumi kepada Patih mahesa Amping.
    Perlahan Patih Mahesa Amping menggerakkan kepalanya menoleh ke kiri.

    “Putraku Adityawarman….”, berkata Patih Mahesa Amping.

    “Sekarang, pandanglah orang disebelah putramu itu”, berkata kembali Pati Amangkubumi.

    “saudaraku…..Kakang Mahesa Semu”, berkata Patih Mahesa Amping sambil memandang Tumenggung Mahesa Semu yang tengah tersenyum memandangnya.

    Terlihat Patih Amangkubumi menarik nafas dalam-dalam, merasa gembira melihat sahabatnya telah pulih daya ingatnya, telah terbebas dari serangan racun yang diketahui sangat keras, sebuah racun yang jarang sekali dikenal oleh banyak orang kecuali oleh orang-orang yang ahli mengenal ilmu pengobatan seperti dirinya.

    “Racun hati celeng bunting”, berkata Patih Amankubumi dalam hati sambil mengutuk orang yang begitu jahat meracuni sahabatnya itu.

    “Siapa gerangan yang telah menurunkan tangan jahatnya kepada patih Mahesa Amping ?”, berkata kembali Patih Amangkubumi dalam hati, namun setelah lama berpikir tidak juga dapat menemukan apa yang dicari dalam pikirannya itu.

    “Gandhok tengen sudah hamba siapkan”, berkata seorang pelayan dalem menyadarkan Patih Amangkubumi yang tengah berada dalam pikirannya sendiri.

    “Biarlah aku yang membawa saudaraku”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menawarkan dirinya membawa patih Mahesa Amping untuk beristirahat di tempat yang telah disiapkan untuknya.

    “Udara malam sudah menjadi begitu dingin”, berkata Patih Amangkubumi mengajak Adityawarman masuk ke ruang dalam.

    Saat itu malam memang terasa sangat dingin, halaman muka puri pasanggrahan Patih Amangkubumi sudah menjadi begitu gelap.

    “Biarlah ayahmu beristirahat disini untuk beberapa hari sampai dapat pulih kembali seperti sediakala”, berkata patih Amangkubumi kepada Adityawarman diatas bale kayu di ruang dalam.

    “Terima kasih untuk semuanya, tidak terbanyangkan bila saja Ki patih Amangkubumi tidak datang tepat pada waktunya”, berkata Adityawarman dengan wajah penuh rasa terima kasih.

    • kamsia, kamsia, kamsia

      untung ada Ki Sandikala, kalo ada Ki Kompor pasti bakalan lebih seru lagi, hehehe

      trik dan intrik masih bakal terus menggoyang kemapanan istana Majapahit………………..

  15. sejarah memang berisi pergulatan kekuasaan, penghianatan, pembrontakan di samping juga cinta dan kesetiakawanan…

  16. Biyuh…….
    sampe rembes mataku maca luberan rontal dari Ki Sandikala.
    suwun Pak Dhalang..
    ngapunten, baru sempat baca, semalam pulang malam, capek sekali dan pagi-pagi harus sudah berangkat lagi.
    barusan punya waktu luang untuk tengok padepokan.

  17. “Diwenehi ati ngrogoh rempelo” begitu kata orang.

    Kalau saja, ada empat rontal lagi, sudah cukup untuk menutup senthong kiri untuk buka senthong tengah

    pecahkan rekor Pak Dhalang, tutup senthong dalam waktu dua hari.

    he he he …..

  18. Alhamdulillahi, tidak terlalu tragis, hampir-hampir tak kuasa membaca. Suwun Ki Dalang

  19. Deg deg an buanget.
    Ampek meleleh ice creamku bca rontal ;( 😉

  20. Sepanjang malam itu Adityawarman menunggu Patih Mahesa Amping di dekat pembaringannya. Matanya tidak pernah lepas mengamati wajah ayah tercintanya. Tebayang masa-masa kecilnya dimana Ayahnya dengan begitu kasih menjaganya, merasa belum dapat membalas budi kebaokan dan kasih sayang yang pernah tercurah kepadanya.

    “Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru pasti dapat menceritakan beberapa hal tentang awal mula di balik peristiwa tadi siang”, berkata Adityawarman dalam hati.

    “Hari telah mulai menjelang pagi, wahai putra saudaraku, beristirahatlah sejenak, biarlah aku yang berganti menjaganya”,berkata Tumenggung Mahesa Semu yang baru saja masuk ke gandhok tempat Patih Mahesa Amping beristirahat.

    “Terima kasih, aku merasa tenteram berada disisi ayahku”, berkata Adityawarman.

    Tumenggung Mahesa Semu memaklumi perasaan putra Patih Mahesa Amping itu, terlihat mereka berdua duduk disisi peraduan Patih Mahesa Amping.

    Tidak lama berselang pintu gandhok terbuka, terlihat wajah penuh senyum yang muncul dari pintu gandhok yang telah terbuka itu.
    “Raut wajahnya sudah tidak pucat lagi”, berkata orang yang baru itu
    sambil memandang wajah Patih Mahesa Amping yang masih tertidur nyenyak itu, yang tidak lain adalah Patih Amangkubumi.

    “Sejak tidur semalaman tidak terbangun sama sekali, tidurnya memang sangat nyenyak sekali”, berkata Adityawarman.

    “Aku telah memesan kepada seorang pelayan dalem untuk membuat beberapa racikan untuk diberikan kepada Patih Mahesa Amping”, berkata Patih Amangkubumi sambil mengatakan untuk berpamit diri melaksanakan tugas kepatihan di istana Majapahit.

    “Seluruh pelayan dalem di tempatku ini dapat dipercaya, dan aku telah memberikan tugas kepada mereka untuk melarang siapapun orang luar masuk ke puri pasanggrahanku”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Orang-orang jahat yang telah meracuni ayahku pasti ingin memastikan keadaannya”, berkata Adityawarman membenarkan kehati-hatian Patih Amangkubumi itu.

    Demikianlah, pagi itu terlihat Patih Amangkubumi telah keluar dari puri pasanggrahannya untuk melaksanakan tugas kepatihan di istana Majapahit.

    Sepanjang hari itu Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu selalu menjaga Patih Mahesa Amping yang masih sangat lemah.
    Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Amangkubumi, para pelayan dalem telah melarang orang luar masuk ke wilayah puri pasanggrahan Patih Mangkubumi.

    “Sejak kapan ada larangan tidak boleh masuk ?”, berkata seorang tukang kayu bakar merasa janggal.

  21. Mendengar perkataan seorang tukang kayu bakar itu, pelayan dalem yang berjaga di muka halaman puri pasanggrahan Patih Amangkubumi hanya tersenyum.

    “Letakkan saja kayu bakarmu di halaman ini, nanti kami yang akan membawanya ke belakang”, berkata pelayan dalem kepada tukang kayu bakar yang memang sudah terbiasa keluar masuk puri pasanggrahan setiap harinya.

    Ternyata larangan masuk ke puri pasanggrahan juga berlaku untuk lima orang prajurit penjaga yang biasa berkeliling disemua tempat di dalam istana untuk memastikan suasana dan keadaan disekitarnya aman terkendali.

    “aku ini prajurit penjaga, aku ingin memastikan keamanan disini”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu yang ditahan oleh seorang pelayan dalem di muka gapura puri pasanggrahan.

    “ini bukan keinginanku, tapi perintah tuan Patih Amangkubumi sendiri”, berkata pelayan dalem kepada para prajurit penjaga itu.

    “Baiklah bila memang itu perintah tuan Patih Amangkubumi”, berkata salah seorang penjaga tidak mencoba membantah setelah mendengar bahwa larangan itu atas perintah Patih Amangkubumi.

    Terlihat kelima prajurit penjaga itu telah berjalan kembali ketempat lain untuk memeriksa keadaan dan keamanan istana.

    Dan tidak lama berselang muncul seorang pelayan dalem wanita yang biasa belanja sayur mayor kebutuhan warga puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

    “Gawat !!”, berkata pelayan dalem wanita itu sambil menurunkan belanjaannya di dekat pelayan dalem lelaki yang bertugas menjaga halaman mula puri pasanggrahan.

    “gawat apanya ?”, bertanya pelayan dalem lelaki kepada kawannya itu.

    “hampir semua orang di pasar membicarakan peristiwa kemarin”, berkata pelayan dalem wanit itu.

    “lalu apanya yang gawat ?”, bertanya kembali pelayan lelaki itu.

    “gawatnya adalah bahwa para keluarga korban, keluarga para prajurit yang tewas telah menuntut keadilan, nyawa harus dibayar nyawa”, berkata pelayan wanita menjelaskan.

    “Syukurlah, bukan segawat yang kukira”, berkata pelayan dalem lelaki sambil tersenyum menggoda.

    “Gawat apa yang kamu kira ?”, berkata pelayan dalem wanita itu penuh penasaran.

    “Kukira ada berita keluargamu tidak merestui hubungan kita, itulah gawat darurat yang paling kukhawatirkan”, berkata pelayan dalem lelaki masih dengan senyum menggodanya.

    “Masih jauh untuk bercerita tentang hubungan kita kepada keluargaku”, berkata pelayan dalem wanita itu sambil mengangkat kembali bakul belanjaannya diatas kepalanya.

  22. Hingga disaat sore menjelang, terlihat Patih Amangkubumi telah kembali dan langsung menengok Patih Mahesa Amping yang sudah terbangun namun masih sangat lemah.

    “Ada yang ingin kubicarakan bersama kalian berdua”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu mengajaknya bicara di ruang serambi dalam mungkin agar tidak didengar langsung oleh Patih Mahesa Amping, takut mempengaruhi kesehatannya yang belum benar-benar pulih.

    Tidak lama berselang ketiganya telah duduk di ruang serambi dalam.

    “Tadi di Bale Kepatihan, para pejabat dharmayaksa yang diwakili oleh pendeta Dang Acarca Sujiwa telah menyampaikan sebuah kabar tentang peristiwa kemarin, dimana para keluarga prajurit yang menjadi korban telah menuntut Patih Mahesa Amping untuk diadili dalam dua pemberatan ageman kitab hukum Kutara Wanara Dharmasasra, melakukan pembunuhan dan melakukan caci maki”, berkata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Apakah Ki Patih sudah memberikan sebuah keputusan ?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu yang juga telah memahami tentang kitab hukum kerajaan Majapahit itu yang menjadi ageman di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit, sebagai garis hukum menjaga tatanan etika keselarasan manusia yang hidup di bumi Majapahit.

    “Semula aku meminta untuk diundurkan sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, namun mereka memaksaku untuk secepatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari permasalahannya”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Apakah mereka meminta batasan waktu ?”, bertanya kembali Tumenggung Mahesa Semu.

    “Mereka meminta di akhit tutup tahun, antara akhir bulan Phalguna dan awal bulan Caitra bersamaan dengan pertemuan agung seluruh pejabat kerajaan”, berkata Patih Amangkubumi.

    “hanya tinggal dua pekan lagi ?”, berkata Tumenggung Mahesa Semu
    “Aku berharap sebelum datang batasan yang mereka pinta, Baginda Raja Sanggrama Wifaya sudah datang kembali”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Aku melihat sepertinya ada tangan yang sengaja mengambil keuntungan dalam suasana kekeruhan ini, dimulai dari rencana pembunuhan Patih Mahesa Amping, hingga usaha pengerahan keluarga korban prajurit untuk menuntut keadilan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Ada asap ada api, kita bisa memulainya dari pendeta Dang Acarca yang membawa permasalahan peristiwa Patih Mahesa Amping, kita juga dapat mengupas siapa orang di balik para keluarga prajurit yang gugur dalam peristiwa itu”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Sebelum pertemuan agung, mudah-mudahan kita sudah dapat menjernihkan suasana, sedikitnya mengetahui siapa dalang di balik kekeruhan ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    • sip………….Thanks..!

  23. Demikianlah, keesokan harinya Tumenggung Mahesa Semu sudah mulai bekerja, mengerahkan beberapa orang kepercayaannya yang berada dalam kesatuan khusus prajurit delik sandi untuk melakukan penyelidikan yang tersebar.

    Berdebar perasaan Pendeta Dang Acarca Sujiwa manakala dua orang prajurit delik sandi mendatangi kediamannya. Ternyata kedua orang prajurit itu telah mendapat tugas untuk membawa Pendeta Dang Acarca Sujiwa ke istana Majapahit hari itu juga.

    “Pemimpin kami hanya ingin meminta beberapa keterangan”, berkata salah seorang prajurit kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

    Tanpa dapat membantah, meski dirinya adalah salah satu anggota Dharmayaksa yang bertugas menangani berbagai perselisihan sebagai pejabat hakim agung, Pendeta Dang Acarca hari itu juga telah memenuhi panggilan Tumenggung Mahesa Semu, seorang pejabat istana Majapahit yang sangat disegani karena merupakan orang kepercayaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sang penguasa tertinggi di kerajaan Majapahit. Atas perkenan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, wewenang Tumenggung Mahesa Semu dapat memenjarakan siapapun orang yang dicurigai akan mengganggu tatanan keamanan di bumi Majapahit.

    Dan hari itu Pendeta Dang Acarca Sujiwa bersama dua orang prajurit delik sandi terlihat tengah memasuki puri pasanggrahan milik Tumenggung Mahesa Semu di dalam istana Majapahit, disamping sebagai tempat resmi kediaman Tumenggung Mahesa Semu, juga sebagai pusat kendali para prajurit delik sandi.

    Ternyata Tumenggung Mahesa Semu seorang yang sangat menjiwai tugasnya, dapat mengupas dan menelanjangi orang dengan berbagai cara tanpa kekerasan.

    Dan Pendeta Dang Acarca Sujiwa benar-benar merasa kelelahan jiwa dan raganya setetah menjalani berbagai macam pemeriksaan, berbagai pertanyaan dari pagi hingga menjelang petang hari.

    Dan akhirnya Pendeta Dang Acarca Sujiwa sudah mulai menyerah, yang ada dalam pikirannya adalah melindungi diri sendiri, melindungi jabatan dan kehormatannya sendiri.

    “Mendapatkan jabatan sebagai anggota Dharmayaksa sungguh sebuah kebanggaan hati siapapun orangnya, sebuah jembatan dimana diri dan keluarga kita dihormati dan dimuliakan. Namun semua kembali ke diri tuan pendeta, karena kejujuran tuan pendeta adalah pertimbanganku apakah jabatan dan kehornatan tuan pendeta memang harus hanya sampai disini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

    Terlihat Pendeta Dang Acarca Sujiwa menarik nafas panjang, merasa sudah begitu lelah.

    “Semua kulakukan karena mendapatkan ancaman dari Ra Kuti yang akan membongkar kehidupan hitamku di masa lalu”, berkata Pendeta Dang Acarca sambil menundukkan kepalanya.

    “Ra Kuti, salah satu pejabat Dharmaputra”, berkata dalam hati Tumenggung Mahesa Semu.

    • kamsiaaa…………………………..!!!!!
      (mumpung sudah siang, bisa teriak, he he he …)

    • Kayane wis iso nutup senthong kiri, tetapi nanti malam sajalah, sekarang saatnya ngurusi yang lain, he he he …..

      • ..ngurusin yang lain?…..tapi jangan terlalu kurus P Satpam…

    • Suwun Ki Dalang, mulai menikmati lagi dengan harap-harap cemas.

  24. nuhun ki dalang… tks u

  25. Sementara itu di tempat kediaman Patih Amangkubumi terlihat seorang wanita setengah baya bersama seorang pemuda tertahan di gapura puri pasanggrahan Patih Amankubumi.
    “kami hanya menjalankan perintah”, berkata seorang pelayan dalem dengan penuh santun.

    Beruntung belum sempat meruncing menjadi sebuah persetegangan, Patih Amangkubumi yang baru pulang dari kepatihan telah melihat mereka.

    “Maaf Nyi Nariratih, aku yang melarang orang luar masuk ke puri pasanggrahanku”, berkata Patih Amangkubumi kepada wanita setengah baya itu yang ternyata adalah Nyi Nariratih, ibunda Gajahmada. Sementara pemuda yang bersamanya adalah Supo Mandagri.

    Terlihat Patih Amangkubumi sendiri yang mengantar mereka memasuki halaman puri pasanggrahan dan langsung ke gandok dalam menemui Patih Mahesa Amping.

    “Tuan Patih….”, berkata Nyi Nariratih ketika menemui Patih Mahesa Amping yang sudah dapat duduk di peraduannya dan hanya ditemani oleh putranya, Adityawarman.

    “Tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku berada di tangan seorang tabib paling hebat di bumi Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping sambil melebarkan senyumnya.

    Mendengar pujian dari Patih Mahesa Amping, terlihat Patih Amangkubumi hanya sedikit tersenyum.

    “Aku hanya sedikit mengenal beberapa macam tanaman obat”, berkata Patih Amangkubumi merendahkan dirinya.

    “Ki Sandikala memang terlalu merendahkan diri, tabib biasa mungkin tidak akan mampu menawarkan racun hati celeng bunting”, berkata Patih Mahesa Amping.

    “Racun hati celeng bunting ?, apakah berasal dari hati seekor babi hutan yang akan melahirkan ?”, bertanya Supo Mandagri

    “Benar, salah satu racikannya berasal dari hati seekor babi hutan yang tengan mengandung tua”, berkata Patih Amangkubumi menjelaskan kepada Supo Mandagri.

    “Beberapa bulan yang lalu, aku pernah melihat Ki Secang berburu seekor babi hutan. Pada saat itu aku merasa heran bahwa yang diambilnya dari babi hutan yang tengah mengandung tua itu hanya hatinya”, berkata Supo Mandagri bercerita tentang pertemuannya dengan Ki Secang di hutan Perigian beberapa bulan yang lalu.

    “Ki Secang ?”, bertanya Patih Mahesa Amping merasa belum kenal dengan orang yang bernama Ki Secang.

    Kepada ayahnya, Adityawarman menjelaskan bahwa Ki Secang adalah pimpinan sebuah kelompok yang pernah datang menyerang Kadipaten Blambangan.

    “Ki Secang adalah tawanan perang, saat ini telah dipekerjakan di pura istana”, berkata Adityawarman.

  26. Adityawarman juga bercerita bahwa Ki Secang seorang yang berilmu tinggi, mampu membuat sebuah kabut dengan trisula kembarnya.

    “Siapapun yang tergulung kabut ciptaan Ki Secang itu akan langsung mati binasa seperti dicincang oleh ribuan senjata tajam”, berkata Adiryawarman bercerita tentang ilmu yang dimiliki oleh Ki Secang.

    “Kabut dan trisula kembar ?”, berkata Patih Amangkubumi seperti mengingat-ingat sesuatu yang lama terkubur dalam benaknya.

    Patih Amangkubumi langsung bercerita bahwa beberapa tahun yang telah silam, dirinya pernah dibawa oleh ayahnya mengunjungi seorang kerabatnya bernama Empu Dyah Agniyuda, seorang keturunan ke lima Raja Wurawari yang mati terbunuh oleh Raja Erlangga.

    “Ternyata kami datang disaat dirinya tengah berduka, putra tunggalnya telah pergi meninggalkannya dengan membawa sebuah kitab ilmu rahasia, sebuah rahasia ilmu yang amat langka bernama Kabut Trisula kembar. Empu Dyah Agniyuda berpesan kepada ayahku bilamana bertemu dengan putranya untuk dapat membimbingnya, membawanya kembali kejalan kebenaran. Menurut Empu Dyah Agniyudha putranya selisih sedikit usianya denganku, bernama Dyah Halayuda”, berkata Patih Amangkubumi mengakhiri ceritanya.

    “Ki Secang dan Dyah Halayuda bisa jadi adalah orang yang sama”, berkata Adityawarman mencoba menyimpulkan cerita Patih Amangkubumi.

    “Bila memang benar Ki Secang adalah Dyah Halayudha, kita harus mulai berhati-hati. Karena aku masih ingat perkataan Empu Dyah Agniyuda bahwa putranya punya keinginnan yang amat besar untuk membangun kembali kerajaan leluhurnya”, berkata Patih Amangkubumi.

    Sementara itu Nyi Nariratih merasa cukup lama mengganggu istirahatnya Patih ahesa Amping dan bermaksud untuk pamit diri.
    “Tuan Patih Mahesa Amping mungkin ingin beristirahat”, berkata Nyi Nariratih sambil pamit diri.

    Demikianlah, terlihat Nyi Nariratih dan Supo Mandagri telah pergi meninggalkan Puri Pasanggrahan Patih Amangkubumi untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh.

    Dan tidak lama berselang, Tumenggung Mahesa Semu telah muncul di puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

    “Aku telah menugaskan beberapa prajurit delik sandi untuk mengusut siapa orang di balik semua kekeruhan ini, semua mengerucut kepada satu nama, Ra Kuti”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada Patih Amangkubumi.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah berlaku adil mengayomi semua aliran agama, keadilan macam mana lagi yang diinginkan oleh Ra Kuti”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Ra Kuti nampaknya menginginkan tahta kerajaan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

  27. Dalam pembicaraan itu, Patih Amangkubumi juga bercerita tentang keterlibatan Ki Secang.

    “Ki Secang yang dipekerjakan di pura istana?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu.

    Patih Amangkubumi menjelaskan kecurigaannya itu, mulai dari cerita Supo Mandagri di hutan Perigian hingga ilmu kabut trisula kembar yang dimiliki oleh Ki Secang.

    “Bila memang demikian, aku akan menugaskan beberapa orang prajurit delik sandi untuk membayangi gerak mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    Sementara itu di pura istana, terlihat dua orang masih bercakap-cakap disana. Ternyata mereka berdua adalah Ra Kuti dan Ki Secang yang tengah membicarakan peristiwa kemarin di muka gerbang istana dimana Patih Mahesa Amping dikeroyok oleh ribuan prajurit Majapahit.

    “Racunku amat kuat, orang yang kena racunku akan gila dan mati dalam beberapa hari”, berkata Ki Secang merasa gembira dengan hasil racunnya yang sangat luar biasa itu.

    “Belum ada berita tentang keadaan Patih Mahesa Amping dan kedua kawannya itu, tidak ada seorangpun diperbolehkan masuk ke puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

    “Racunku amat kuat, aku yakin Patih Mahesa Amping telah membusuk di tempat kediaman Patih Amangkubumi itu”, berkata Ki Secang penuh keyakinan.

    Namun ternyata perkiraan Ki Secang melenceng jauh, orang yang disangka telah membusuk akibat racun hati celeng bunting itu masih tetap hidup, bahkan berangsur-angsur menunjukkan tanda kepulihannya.

    Beruntung bahwa Patih Mahesa Amping telah ditangani oleh seorang yang ahli pengobatan yang mumpuni seperti Patih Amangkubumi yang biasa dipanggil juga dengan sebutan Empu Nambi itu.

    Dari hari ke hari, kesehatan Patih Mahesa Amping berangsur-angsur terus mengalami banyak kemajuan, juga kedua sahabatnya yang setia, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

    Penuh rasa syukur dan kegembiraan yang amat sangat di hati Adityawarman di sebuah pagi telah melihat ayahnya telah keluar dan berjalan sendiri menuju pakiwan untuk bersih-bersih diri.

    “Pagi yang indah”, berkata Patih Mahesa Amping ketika duduk di panggung pendapa memandang taman halaman muka puri pasanggrahan.

    “Aku juga tidak menyangka bahwa pagi ini masih dapat melihat indahnya rerumputan hijau”, berkata Ki Rangga Gajah Biru sambil bercerita kepada Patih Mahesa Amping bagaimana mereka berkuda membuntutinya dari Kotaraja Kediri hingga ke Kotaraja Majapahit.

    “Kudaku telah tewas ?”, berkata Patih Mahesa Amping lirih setelah mendengar semua cerita tentang dirinya yang hilang ingatan dan mengamuk di pintu gerbang istana Majapahit.

    “Benar, mati ditangan tuan Patih sendiri”, berkata Ki Demung Juru.

  28. Sementara itu di Kepatihan, terlihat Patih Amangkubumi tengah menerima lima orang pendeta anggota Dharmayaksa, salah satu diantara mereka adalah pendeta Dang Acarca Sujiwa.

    Patih Amangkubumi sudah dapat menebak bahwa kedatangan mereka ini sama seperti yang pernah disampaikan oleh Pendeta Dang Acarca Sujiwa kemarin, menuntut keadilan atas diri Patih Mahesa Amping yang telah melakukan banyak pembunuhan.

    “Hari ini kami datang sebagai anggota Dharmayaksa, ingin menyampaikan tuntutan keadilan atas apa yang telah dilakukan oleh Patih Mahesa Amping”, berkata Pendeta Dang Acarca mewakili empat orang anggota Dharmayaksa yang hadir lengkap di Kepatihan.

    Patih Amangkubumi merasakan darahnya seperti mendidih menahan rasa amarah yang sangat, telah dapat menebak bahwa kelima orang pendeta itu pasti telah diperalat oleh Ra Kuti. Namun Patih

    Amangkubumi sangat pandai mengusai perasaannya sendiri, meski hatinya panas, namun pikirannya tetap jernih tidak terpengaruh oleh keadaan dan suasana hatinya yang sangat mencela sikap kelima pendeta itu. Terutama kepada pendeta Dang Acarca Sujwa, pasti telah mendapatkan ancaman lebih keras lagi dari Ra Kuti. “Pasti Ra Kuti telah membeli mereka dengan harga yang cukup tinggi”, berkata Patih Amangkubumi dalam hati.

    “Bukankah kemarin sudah aku katakan bahwa keputusan ak an disampaikan di pertemuan agung di akhir tutup tahun sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya ?”, berkata Patih Amangkubumi sambil menahan rasa amarahnya.

    “Permasalahan Patih Mahesa Amping tidak bisa ditunda-tunda lagi, terlalu lama bila harus menunggu pertemuan agung”, berkata Dang Acarca Sujiwa memberikan alasannya.

    “Kami para anggota Dharmayaksa berkewajiban melaksanakan amanat keadilan yang dituntut oleh para keluarga korban. Kasus Patih
    Mahesa Amping sudah menjadi pergunjingan umum, kami ingin menghindari persangkaan umum bahwa keadilan kami hanya berlaku untuk para jelata, sementara kepada seorang pejabat tinggi kerajaan keadilan tidak terjamah sama sekali”, berkata seorang pendeta anggota Dharmayaksa ikut membantu Pendeta Dang Acarca Sujiwa memberikan alasan bahwa peradilan kasus Patih Mahesa Amping harus segera di gelar.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya pasti akan bangga bila tuan Patih Amangkubumi telah memutuskan kasus Patih Mahesa Amping secepatnya tanpa menunggu kedatangannya. Bukankah tuan Patih Amangkubumi tidak ingin ada persangkaan bahwa penundaan ini ada kaitan persahabatan tuan dengan Patih Mahesa Amping ?”, berkata pendeta yang lain lagi benar-benar telah menyudutkan diri Patih Amangkabumi.

    Bergetar perasaan Patih Amangkubumi mendengar perkataan pendeta terakhir itu, namun sekali lagi Patih Amangkubumi masih dapat menjernihkan pikirannya, tidak terpengaruh oleh perasaannya sendiri.

    “Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang gila ?”, bertanya Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta anggota Dharmayaksa itu.

  29. Cukup lama kelima pendeta itu berpikir untuk menjawab pertanyaan Patih Amangkubumi.

    Namun terlihat pendeta Dang Acarca Sujiwa telah mewakili anggotanya.

    “Kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra memang tidak berlaku untuk orang gila, namun menurut hemat pikiran kami bahwa ketika terjadi peristiwa itu, Patih Mahesa Amping dalam keadaan sehat, jasmani dan rohani”, berkata pendeta Dang Avarca Sujiwa.

    “Apakah kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra berlaku untuk orang mati ?”, bertanya kembali Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta anggota Dharmayaksa itu.

    Kembali cukup lama kelima pendeta itu berpikir untuk menjawab pertanyaan Patih Amangkubumi.

    Namun terlihat pendeta Dang Acarca Sujiwa telah mewakili anggotanya.

    “Kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra memang tidak berlaku untuk orang mati”, berkata pendeta Dang Acarca Sujiwa.

    “Terima kasih untuk jawaban pertanyaanku itu, sekarang kalian boleh meninggalkan Kepatihan ini, besok akan kuputuskan kapan peradilan itu akan dilaksanakan”, berkata Patih Amangkubumi kepada kelima pendeta itu.

    Demikianlah, setelah kelima pendeta itu telah meninggalkan Kepatihan, terlihat patih Amangkubumi masih menerima kunjungan beberapa pejabat kerajaan lainnya, tentunya dalam persoalan yang lain.

    Hingga ketika sore menjelang, barulah Patih Amangkubumi meninggalkan Kepatihan.

    “Selamat datang Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping menyapa Patih Amangkubumi dengan sebutan yang lain, sebagai pertanda begitu dekatnya mereka berdua.

    “Senang melihat kalian bertiga berjemur diri di panggung pendapa ini”, berkata Patih Amangkubumi yang melihat Patih Mahesa Amping, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru sudah pulih kesehatannya. Dan Adityawarman ada bergabung bersama di panggung pendapa itu

    “Tapi menjadi kurang kegembiraan hati kami yang melihat Ki Sandikala seperti tengah memikul beban yang amat berat, berbagilah dengan kami semoga dapat sedikit meringankan beban di pikiran”, berkata Patih Mahesa Amping yang seperti dapat membaca beban pikiran sahabatnya itu.

    Tanpa dapat mengelak dan menghindar, maka Patih Amangkubumi langsung bercerita tentang tuntutan para anggota Dharmayaksa di Kepatihan untuk mengadili Patih Mahesa Amping.

    “Maaflan aku bila selama ini, meski berada di pembaringan aku telah mendengar bisik-bisik pembicaraan kalian di ruang serambi dalam perihal tuntutan ini”, berkata Patih Amangkubumi sambil tersenyum.

    Terlihat Adityawarman dan Patih Amangkubumi saling berpandangan, mereka tidak mengira bahwa selama ini pembicaraan mereka dapat disimak oleh Patih Mahesa Amping.

  30. WAH2, ki dalang selalu mampu membuat kejutan2 dalam membangun cerita.. salam

  31. Patih Mahesa Amping tidak langsung bicara, menunggu perhatian Adityawarman dan Patih Amangkubumi beralih kepadanya.
    “Sebelum aku menyampaikan pikiran dan pandanganku sendiri, aku ingin bertanya kepada Ki Rangga Gajah Biru”, berkata Patih Mahesa Amping.

    Terlihat Ki Rangga Gajah Biru tergagap tidak menyangka ada sebuah pertanyaan untuknya dan telah menyiapkan dirinya untuk mendengar pertanyaan dari Patih Mahesa Amping.

    “Katakan sejujurnya wahai sahabatku apa perasaan para orang Kediri manakala mendengar aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini ”, berkata Patih Mahesa Amping yang ditujukan oleh Ki Rangga gajah Biru.

    Semua mata di atas pendapa itu telah tertuju kearah Ki Rangga gajah Biru.

    Terlihat Ki Rangga Gajah Biru menarik nafas panjang, menyiapkan dirinya menjawab pertanyaan Patih Mahesa Amping.

    “Maaf bila aku perkata sejujurnya, tidak sedang memuji untuk mengambil keuntungan dari tuan Patih Mahesa Amping. Setahuku bahwa orang Kediri lebih mencintai tuan Patih ketimbang Raja Muda Jayanagara”, berkata Ki Rangga gajah Biru berhenti sebentar sambil menatap wajah semua orang di atas pendapa.“Karena orang Kediri tahu benar bahwa Patih Mahesa Amping telah berjasa besar membangun Kotaraja Kediri, merekatkan persaudaraan diantara mereka dari dendam perselisahan akibat peperangan lama para pembela Raja Jayakatwang dan para pembela keluarga Tumapel”, berkata kembali Ki Rangga Gajah Biru dan berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang. “Dan bila hari ini telah mendengar tuan Patih Mahesa Amping terpancung di Kotaraja Majapahit, maka sebagaimana diriku, seluruh orang yang merasa putra Kediri akan mengangkat senjata”, berkata Ki Rangga gajah Biru telah menjawab pertanyaan Patih Mahesa Amping.

    “Terima kasih telah menjawab pertanyaanku dengan jujur”, berkata Patih Mahesa Amping kepada ki Rangga Gajah Biru. “Pertanyaaku selanjutnya kutujukan kepada putraku sendiri, Adityawarman.

    Sebagaimana Ki Rangga Gajah Biru, terlihat Adityawarman tersentak kaget tidak menyangka pertanyaan Patih Mahesa Amping tertuju kepadanya.

    “Putraku, bila saja kamu mendengar hari ini aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini, aku dapat memahami perasaanmu, kamu akan berduka, kamu akan dendam selamanya kepada kerajaan ini yang telah menjatuhkan hukuman kepadaku. Dan manakala ada sebuah kesempatan, sebagai seorang cucunda tercinta Raja di Tanah Melayu, kamu pasti akan membawa sebuah pasukan besar memerangi Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping sambil memandang kearah putranya.”Sekarang jawab pertanyaan Ayahandamu, benarkah perasaanmu sebagaimana persangkaanku ?”, berkata kembali Patih Mahesa Amping yang ditujukan kepada Adityawarman.

    “Persangkaan Ayahanda tidak ada yang salah sedikitpun, ananda akan menghimpun kekuatan bukan hanya dari tanah Melayu, namun dari segala penjuru nagari”, berkata Adityawarman penuh semangat.

    • Lanjut…..
      He he he …., suwun…!!!

  32. Sontak semua pandangan tertuju kearah Adityawarman, mereka telah membayangkan sebuah pasukan besar dari berbagai nagari tengah berjalan berjalan mengepung Kotaraja Majaphit. Nampaknya hampir semua orang di atas pendapa itu yakin bahwa seorang Adityawarman dapat melakukan apa yang dikatakannya. Karena mereka yakin seorang Adityawarman punya bakat sikap seorang pemimpin yang hebat, juga seorang yang sangat cerdas.

    Suasana diatas pendapa seketika hening membisu, terbius oleh perkataan Adityawarman yang sangat menggetarkan hati itu.

    “Ki Sandikala”, berkata Patih Mahesa Amping ih Amangkubumi yang ditujukan kepada Patmencoba memecahkan suasana sepi diatas pendapa itu. “Sebagian pandangan dan pemikiranku sudah terjawab oleh Ki Rangga Gajah Biru dan Adityawarman, bahwa selembar jiwaku yang tak berharga ini akan dapat membawa sebuah peperangan yang sangat berkepanjangan, bahwa selembar jiwaku yang tiada berarti ini bahkan dapat melemahkan, bahkan dapat menghancurkan Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Mahesa Amping dan berhenti sebentar menarik nafas panjang sepertinya ada banyak sekali yang ingin dikatakan di atas pendapa puri pasanggrahan Patih Amangkubumi itu.

    “Ki Sandikala”, berkata kembali patih Mahesa Amping yang masih ditujukan kepada Patih Amangkubumi. “Kita telah bersama-sama dalam sebuah perjuangan yang begitu panjang membangun Kerajaan Majapahit ini, sebuah kerajaan yang terbaik dan terbesar yang telah banyak belajar dari kesalahan-kesalahan para leluhur kita menjadikan Kerajaan Majapahit ini sebagai kekuasaan tertinggi membangun keadilan di pintu Gapuranya, membangun kemakmuran disetiap dinding-dinding rumah yang ada di wilayahnya, membangun keamanan dan kesejahteraan di setiap jalan yang terhubung di willayah kesatuan Majapahit ini”, berkata kembali Patih Mahesa Amping dan berhenti sambil menarik nafas dalam-dalam.

    Semua mata masih tertuju kearah Patih Mahesa Amping, menunggu pandangn dan pemikirannya selanjutnya.

    “Ki Sandikala ”, berkata kembali Patih Mahesa Amping yang masih ditujukan kepada Patih Amangkubumi. “Aku punya sebuah cita-cita yang begitu sederhana, mempunyai sebidang tanah dimana aku akan menanaminya dengan padi dan sayur mayor, dimana hampir setiap hari keringatku mengucur disana sambil memandang benih-benih tanamanku tumbuh berkembang dengan subur, bercanda bersama istri tercinta di saung sambil menjaga padi yang sudah menguning dari burung-burung kecil pencuri padi”, berkata Patih Mahesa Amping berhenti sebentar menatap kea rah Patih Amangkubumi dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya mencoba menengok rasa, akal dan budi Patih Amangkubumi yang terlihat merenung cukup dalam menelusuri kemana jalan arah pemikiran sang Patih Daha yang perkasa itu yang pernah dijuluki sebagai manusia setengah dewa itu.

    “Ki Sandikala”, berkata kembali Patih Mahesa Amping. “inilah kesempatanku untuk keluar dari hiruk pikuk kehidupan duniawi, tinggal disebuah tempat yang terasing, tidak dikenal oleh siapapun menjadi seorang petani biasa.

    “Meninggalkan jabatan Patih di Kediri ?”, bertanya Ki Demung Juru yang sedari tadi diam menyimak.

  33. Terlihat Patih Mahesa Ampin g tersenyum kearah Ki Demung Juru.

    “Benar Ki Demung Juru, mungkin ini adalah keputusanku yang terbaik, menghindari hukuman pancung, menghindari pertempuran yang berdarah-darah yang dapat membawa penderitaan lebih banyak lagi manusia. Mungkin inilah jalanku, jalan seorang Mahesa Amping yang berasal dari seorang anak kecil yang tidak mengenal kasih sayang seorang ayah dan ibu, seorang Mahesa Amping kecil yang tidak dikenal oleh siapapun”, berkata Patih Mahesa Amping.

    Suasana di atas pendapa itu sepertinya langsung menjadi sepi, semua orang nampaknya tengah berada di dalam pikiran masing-masing terbawa oleh kata-kata Patih Mahesa Amping.

    “Ra Kuti lewat para anggota dharmayaksa pasti akan terus menuntut penguasa Kerajaan menggelar pengadilan ini”, berkata Patih Amankubumi kepada Patih Mahesa Amping.

    Mahesa Amping terlihat hanya tersenyum mendengar perkataan Patih Amangkubumi. Dan semua mata diatas pendapa itu telah tertuju kembali kearah Patih Mahesa Amping berharap dapat mendengar sebuah jalan pikirannya.

    “Empu Nambi”, berkata Patih Mahesa Amping dengan sebutan yang lain dari Patih Amangkubumi. “Bukankah para anggota Dharmataksa telah mengatakan bahwa kitab hukum Kutara Manawa Dharmasasra tidak dapat menghukum orang yang sudah mati ?, tentunya Empu

    Nambi sudah sangat mengenal tujuh jalan darah yang dapat membuat seseorang tidak berdenyut nadinya selamiga tiga hari tiga malam, lakukan cara itu di jalan darahku, biar semua orang berpikir bahwa seorang Mahesa Amping sudah mati”, berkata kembali Patih Mahesa Amping.

    Suasana diatas pendapa itu kembali menjadi sepi, semua membisu merenungi perkataan Patih mahesa Amping.

    “Saudaraku Patih Mahesa Amping, apakah kamu telah berpikir jernih menawarkan sebuah cara seperti itu ?, Kerajaan Majapahit akan kehilangan seorang ksatrianya yang terbaik yang selalu ada melindungi kebesarannya, yang selalu ada memberikan banyak pemikiran yang cerdas dalam setiap perselisihan, yang selalu ada merekatkan persaudaraan dan perdamaian di bumi ini”, berkata Patih Amangkubumi masih dengan perasaan sangat berat hati dan belum dapat menerima untuk melepas seorang sahabat setianya itu, yang telah dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.

    “Empu Nambi, ibarat matahari maka umurku sudah hampir senja. Inilah kesempatan kepada orang muda mengambil alih tali sejarah dengan pemikiran yang jauh lebih bening, dengan pemikiran dan pandangan yang jauh lebih luas dari apa yang kita miliki dan kita raih”, berkata Patih Mahesa Amping dengan senyum yang selalu terhias di bibirnya.

    Demikianlah, hingga larut malam nampaknya tidak juga menemukan jalan yang lebih baik dari jalan yang ditawarkan oleh Patih Mahesa Amping.

    Akhirnya semua orang diatas pendapa itu menerima jalan Patih Mahesa Amping, jalan mati suri.

  34. TUHAN, TERLALU CEPAT SEMUA
    KAU PANGGIL SATU SATUNYA, YANG TERSISA, PROKLAMATKU TERCINTA

    JUJUR, LUHUR DAN BIJAKSANA, MENGERTI APA YANG TERSIRAT DIDALAM JIWA
    TUK INDONESIA

  35. mantaap ki Sandikala… matur nuwun

  36. Dan pagi itu, langit terlihat begitu teduh setelah hujan cukup lebat datang mengguyur bumi bersamaan saat fajar menjelang.

    Puri pasanggrahan setelah beberapa hari menjadi sebuah tempat yang terlarang di masuki oleh orang luar, namun sejak pagi tadi sudah banyak terlihat orang keluar masuk pintu gapuranya.

    Ternyata pada hari itu telah tersiar kabar duka bahwa Patih Mahesa Amping telah menghembuskan nafas terakhirnya di puri pasanggrahan Patih Amangkubumi.

    Tersiar kabar pula bahwa pemakaman Patih Mahesa Amping di laksanakan di sebuah tempat di luar Kotaraja Majapahit yang sangat rahasia sesuai pesan terakhirnya.

    Itulah pemandangan di pintu gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi setelah tersiar berita duka kematian Patih Mahesa Amping yang sangat menghebohkan itu, bergelombang para warga datang untuk melayat seorang manusia yang pernah hidup berjasa di kerajaan Majapahit itu, Banyak orang datang untuk melihat Patih Mahesa Amping untuk terakhir kalinya, sementara beberapa orang lagi datang hanya sekedar memastikan bahwa Patih Mahesa Amping benar-benar sudah mati.

    Dan menjelang siang, terlihat sebuah kereta kuda telah membawa peti jenasah Patih Mahesa Amping keluar dari pintu gapura Patih Amangkubumi. Dibelakangnya terlihat sepuluh orang penunggang kuda yang mengiringi kereta jenasah. Terlihat juga beberapa orang mengiringi kereta jenasah dengan berjalan kaki.
    Kereta jenasah itu berjalan merayap mendekati arah pintu gerbang istana Majapahit.

    Terharu perasaan hati Patih Amangkubumi yang mengantar kereta jenasah hingga gerbang istana Majapahit, karena dilihatnya ribuan manusia telah berada di muka gerbang istana Majapahit yang berharap dapat ikut mengantar dan melihat kereta jenasah Patih Mahesa Amping.

    “Ternyata kecintaan warga Kotaraja Majapahit kepada Patih Mahesa Amping sama dengan kecintaan orang Kediri”, berkata Patih Amangkubumi dengan perasaan hati begitu terharu.

    Terlihat kereta jenasah dan sepuluh orang berkuda yang mengiringnya harus berjalan merayap karena dikerumuni oleh ribuan manusia.

    Demikianlah, ribuan orang telah berjalan kaki mengiringi kereta jenasah Patih Mahesa Amping hingga sampai di gerbang gapura Majapahit.

    Terlihat kereta jenasah sudah dapat berjalan lebih cepat tidak merayap lagi manakala telah keluar dar i gapura gerbang batas kotaraja sebelah barat yang terus diringi oleh sepuluh orang berkuda.

    Adityawarman, Tumenggung mahesa Semu, Ki rangga Gajah Biru dan Ki Demang Juru termasuk dari sepuluh orang berkuda yang terus mengiringi kereta jenasah.

    Terlihat ribuan manusia belum beranjak dari tempatnya berdiri, mereka melambaikan tangannya kearah kereta jenasah yang semakin menjauh meninggalkan gapura gerbang batas kotaraja Majapahit.

  37. Sepekan setelah peristiwa Patih Mahesa Amping, rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah kembali dari Tanah Pasundan.

    Bukan main terkejutnya Baginda Raja Sanggrama Wijaya manakala mengetahui tentang peristiwa kematian Patih Mahesa Amping. Dan sengaja Patih Amangkubumi tidak bercerita yang sebenarnya, karena takut rahasia besar itu akan diketahui oleh pihak lain yang punya maksud dan kepentingan buruk.

    Hingga akhirnya di malam harinya, terlihat Patih Amangkubumi datang menghadap Baginda Raja Sanggrama Wijaya, menemuinya di serambi puri pasanggrahan milik Baginda Raja.
    Kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya, Patih Amangkubumi bercerita yang sebenarnya tentang apa terjadi atas diri Patih Mahesa Amping.

    “Patih Mahesa Amping belum mati, tapi telah pergi atas kesadarannya sendiri kesebuah tempat yang sangat dirahasiakannya”, berkata Patih Amangkubumi sambil bercerita alasan Patih Mahesa Amping mengambil jalan seperti itu, yaitu guna menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi.

    Lama Baginda Raja Sanggrama tidak berkata-kata apapun, terlihat masih termenung setelah mendengar cerita Patih Amangkubunya tentang peristiwa Patih Mahesa Amping itu.

    “Aku selalu kalah satu langkah dengannya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya setelah lama terdiam, termenung. “Ketika kami masih menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta, aku tidak pernah dapat mengalahkannya, dalam olah kanuragan, dalam

    kesempurnaannya membuat sebilah pedang. Sementara sekarang ini, aku kembali dapat dikalahkannya”, berkata kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terlihat sudah tidak berduka lagi, wajahnya terlihat begitu ceria.

    “Apa yang dikalahkan dari diri Baginda Raja ?”, bertanya Patih Amangkubumi belum dapat menangkap arah pembicaraan Baginda Raja Sanggrama Wijaya itu.

    “Patih Mahesa Amping telah mendahuluiku, telah berani dan mampu melepas gemerlap kehidupan duniawinya, telah menemukan sang raja hakiki yang ada di dalam dirinya sendiri. Itulah kekalahanku.

    Sementara aku masih belum berani melepas pakaian kebesaranku ini, masih belum berani mengikuti jejak langkah yang ditempuh oleh Patih Mahesa Amping”, berkata baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Sejenak suasana diserambi puri pasanggrahan itu menjadi hening membisu, Patih Amangkubumi dan baginda Raja Sanggrama Wijaya sepertinya tengah berada di dalam angan dan pikiran masing-masing.

    “Ki Sandikala”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya mencoba memecahkan Susana sepi itu.”Kepergian Patih Mahesa Amping mengisyaratkan kepadaku untuk mengikuti jejaknya”, berkata kembali baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.
    Tersentak Patih Amangkubumi mendengar perkataan Baginda Raja yang terdengar sangat mengejutkan itu, ingin mengikuti jejak Patih Mahesa Amping.

    “Mengasingkan diri seperti Patih Mahesa Amping ?”, bertanya Patih Amangkubumi.

  38. Terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya menganggukkan kepalanya perlahan pertanda membenarkan pertanyaan Patih Amangkubumi itu.

    “Tidak seorangpun mengetahui dimana Patih Mahesa Amping mengasingkan dirinya, sebuah tempat yang sangat dirahasiakan oleh dirinya. Bagaimana Baginda Raja dapat menemukannya ?”, berkata patih Amangkubumi penuh rasa kekhawatiran yang sangat sebagaimana orang tua yang kan melepas keberangkata putranya ke sebuah tempat yang sangat jauh.

    Terlihat baginda Raja Sanggrama Wijaya sedikit tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Patih Amangkubumi.

    “Aku pernah mengembara bersama Patih mahesa Amping kesebuah tempat yang kami anggap sebagai sebuah daerah yang dilindungi oleh para dewa, karena di tempat itu lumpur gunung Kelud tidak mampu menjamahnya. Sebuah tempat yang amat sunyi menenteramkan hati, seperti sebuah persinggahan para dewa untuk naik ke surga Ditempat itulah kami berdua pernah berjanji untuk mengisi hari-hari terakhir kami di dunia ini sebagaimana sang Prabuguru Dharmasiksa menyisakan hidupnya di lereng Gunung Galunggung”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.

    “Sebuah tempat di lereng Gunung Kelud ?”, bertanya Patih Amangkubumi .

    “Benar, dilereng Gunung kelud menghadap pantai selatan Jawadwipa di sebuah perbukitan yang begitu amat subur, Patih Mahesa Amping menyebutnya sebagai Bukit Gedang”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Siapa yang dapat mengendalikan Kerajaan Majapahit ini bila Baginda Raja pergi meninggalkannya ?”, bertanya Patih Amangkubumi.

    “Sebagaimana yang dikatakan oleh Patih Mahesa Amping, inilah saatnya memberikan kesempatan kepada para orang muda mengambil alih tali sejarah, membawa bahtera kerajaan Majapahit ke segara lautan yang lebih luas lagi. Aku ingin Ki Sandikala mendidik Putraku Jayanagara, menjadikannya sebagai seorang Raja di bumi Majapahit ini”, berkata baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Hamba orang tua tidak dapat menghalangi hasrat Baginda Raja, mudah-mudahan hamba orang tua dapat mendidik putra Baginda Raja mengendalikan Kerajaan Majapahit ini”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Belajar menjadi seorang Rajayang bijaksana memang tidaklah mudah, namun lebih sulit lagi belajar untuk menjadi seorang raja pada diri sendiri”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan suara yang lirih perlahan seperti berkata kepada dirinya sendiri.

    “Hamba orang tua menjadi iri dengan kalian berdua, usia patih Mahesa Amping dan baginda Raja masih jauh dari usia hamba, namun mata dan pandangan hidup kalian lebih dekat melihat tabir rahasia kehidupan alam alit ini”, berkata Patih Amangkubumi.

    Suasana di serambi puri pasanggrahan kembali sunyi membisu.

    • matur nuwun Pak Lik
      selama ini cerita sudah sangat mulus, Satpam mulai menikmatinya, mudah-mudahan untuk selanjutnya semakin “enak” dibaca. He he he ….

      kamsiaaaaa………!!!

      • …dan perlu…!

        • Wah njur kaya iklan Tempo

  39. ki dalang sepertinya punya sumber2 cerita yang mendekati sebenarnya. suwun ki…

  40. Terlihat Baginda Raja Sanggrama memicingkan matanya memandang penuh senyum kearah Patih Amangkubumi.

    “Ki Sandikala”, berkata Baginda Raja Sanggrama masih dengan sisa senyumnya yang masih terlihat.”Aku melihat ada yang masih mengganjal di dalam pikiran Ki Sandikala”, berkata Bagind Raja kepada orang tua itu.

    “Hamba orang tua sudah mengenal Baginda sejak lama, hamba orang tua tahu betul bilamana Baginda Raja telah melepas senjata maka selalu ada dua tempat bekas luka dalam satu kali tebasan”, berkata Patih Amangkubumi diam sebentar. “Hamba orang tua hanya ingin tahu bahwa Baginda Raja bukan sekedar menggenapi janji kepada Patih Mahesa Amping untuk hidup mengasingkan diri, melepas segala keinginan nafsu duniawi sebagaimana para pertapa suci bersatu dalam laku brata tapa, yogi dan samadhi”, berkata Patih Amangkubumi.

    Mendengar perkataan Patih Amangkubumi, terlihat Baginda Raja Sangrama Wijaya mengembangkan senyumnya. Diam-diam mengakui kebenaran dugaan Patih Amangkubumi bahwa ada hal lain yang dinginkannya dengan rencana pengasingannya dirinya.

    “Pikiran Ki Sandikala sangat tajam, aku tidak dapat memungkirinya bahwa dibalik rencanaku mengasingkan diri adalah ingin melihat kebusukan-kebusukan yang akan bermunculan seiring dengan kepergianku itu, inilah caraku menguji putraku sendiri mengenal hitam dan putihnya orang-orang disekilingnya. Inilah caraku membersihkan kerajaanku agar kuat ,tumbuh dan berkembang dikelilingi oleh para pejabat kerajaan yang bersih, para ksatria muda, para pembela dan pelindung Majapahit yang mewarisi cita-cita awal kita membangun kerajaan ini, menjadikan setiap manusia dalam tatanan kesetaraan, keserasian dan kedamaian”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Amangkubumi.

    “Semoga hamba di beri umur panjang, membimbing putra Baginda Raja”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Tanpa kehadiran Ki Sandikala di kerajaan ini, apalah artinya kami yang hanya tahu bagaimana menghadapi musuh di medan perang, hanya tahu bagaimana memutar pedang, hanya tahu membidik anak panah.Pemahaman Ki Sandikala tentang Dewata nawa sanga yang telah menjadi tatanan hukum kenegaraan di kerajaan ini adalah sumbangsih maha karya yang terus hidup. Dan aku berharap Ki Sandikala selalu ada di kerajaan ini, menjaganya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    “Titah paduka adalah sabda para dewata, semoga hamba dapat menjaga kerajaan ini hingga di penghujung usia”, berkata Patih Amangkubumi penuh kesungguhan hati.

    “Kutitipkan putraku kepadamu, dan aku rela bila pedangmu berlumuran darah putraku sendiri, bilamana tidak ada jalan yang lain untuk meluruskannya.

    Terlihat Patih Amangkubumi terdiam membisu, berharap perkataan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terakhir itu tidak akan pernah terjadi.

    Dan bulan tua diatas langit terlihat redup terhalang awan kelabu, hari telah larut malam.

  41. Keesokan harinya, Kotaraja Majapahit dikejutkan oleh sebuah berita tentang pelengseran para pejabat anggota Dharmayaksa, sekelompok pendeta dari berbagai aliran agama yang ada di bumi Majapahit yang bertugas sebagai hakim agung memutuskan berbagai perkara dan perselisihan.

    “nampaknya berkaitan dengan peristiwa Patih Mahesa Amping”, berkata beberapa orang di sebuah kedai di pasar Kotaraja Majaphit menggunjingkan masalah pelengseran anggota Dharmayaksa itu.

    Sementara itu, Ra Kuti yang mengetahui ihwal pelengseran itu cukup menjadi ketar-ketir menduga-duga bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya akan melengserkannya pula sebagai anggota Dharmaputra.

    “Baginda Raja pasti harus berpikir ulang untuk melengserkanku, aku punya sekelompok umat yang cukup besar”, berkata Ra Kuti dalam hati.

    Ternyata Baginda Raja Sanggrama Wijaya bukan hanya bermaksud melengserkannya, melainkan akan menghancurkan Ra Kuti bersama para pengikutnya.

    “Kita akan membuat perangkap untuk mereka”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu yang datang menghadap melaporkan kegiatan para pasukan delik sandinya membayangi Ra Kuti.

    Demikianlah, hingga datangnya hari pertemuan agung , disaat semua pejabat kerajaan, para pejabat perwakilan di seluruh pelosok wilayah kekuasaan Majapahit, Baginda Raja Sanggrama Wijaya tidak menyinggung masalah peristiwa Patih Mahesa Amping, hanya memberikan penilaian-penilaian dan pandangannya tentang tugas dan kewajiban para pembantunya itu sebagaimana biasa disampaikan di tahun-tahun sebelumnya dlam pertemuan agung itu.

    “Para Rakryan Mantri ri Pakirakiran, para anggota Dharmadhyaksa yang baru ,para anggota Dharmaputra, para perwakilan uparaja yang yang telah menempuh perjalanan dari berbagai pelosok nagari,para Arya,sahabatku para Satria, pendeta, pujangga, para wipra, atas nama dewata agung mengucapkan puja dan puji atas semua bhakti yang telah kalian persembahkan demi menggerakkan roda laju kerajaan yang kita cintai ini. Semoga amal bhakti kalian bermakna membawa kemuliaan dan kesempurnaan penittisan di hari penciptaan berikutnya. Semoga cita-cita kita bersama membangun kerajaan ini dapat terwujud, menciptakan kesetaraan, kesejahteraan dan kedamaian umat manusia di muka bumi ini:, demikian awal sambutan Baginda Raja Sanggrama Wijaya di pertemuan agung di pendapa agung puri pasanggrahannya.

    Namun dipenghujung sambutannya, semua orang yang hadir di pendapa agung itu sontak terkejut seperti mendengar petir di siang hari, manakala baginda Raja Sanggrama Wijaya mengatakan akan mengundurkan diri, mengasingkan diri sebagai seorang pertapa.

    “hari ini ditempat pendapa agung ini, adalah hari terakhir kalian bertatap muka denganku, karena aku akan menemui kehidupanku yang lain, penghidupan sebagai seorang pertapa. Kutitipkan kerajaan ini kepada kalian, kutitipkan juga putraku Jayanagara yang akan duduk di tahta singgasanaku hingga di hari penobatannya tiba manakala ajalku tiba. Aku masih tetap berada disekitar kalian, aku masih berada mengawasi kerajaan Majapahit ini bersama kalian”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

  42. Suasana di pendapa agung seketika menjadi begitu hening manakala mendengar tutur penghujung perkataan baginda Raja Sanggrama Wijaya.

    Namun mata Baginda Raja Sanggrama meski sekilas telah dapat
    menangkap sebaris senyum di bibir Ra Kuti.

    “Bergembiralah kamu hari ini”, berkata Baginda Raja Sanggrama dalam hati menangkap makna di balik senyuman Ra Kuti, salah seorang dari ketujuh anggota Dharmaputra.

    Demikianlah, setelah menyampaikan beberapa puja, puji dan doa, terlihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya berdiri berkenan untuk meninggalkan pendapa agung.

    Segenap semua yang hadir diatas pendapa agung ikut berdiri, menundukkan kepalanga sambil memberi penghormatan dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

    Itulah penghormatan mereka yang terakhir untuk seorang raja pendiri Kerajaan Majapahit yang sangat bersahaja itu, seorang Raja yang sangat bijaksana, seorang Raja yang selalu dekat dengan para kerabat, seorang Raja yang gemar bertukar pikiran bersama para pendeta dan para brahmana, seorang Raja yang masih mau duduk bersama para kawula dan para papa jelata.

    Dan pada hari itu juga, terlihat empat orang prajurit berkuda telah keluar dari gapura gerbang batas kotaraja Majapahit sebelah barat.

    Ternyata meraka adalah para prajurit yang diutus langsung oleh Baginda Raja Sanggrama untuk menjemput putranya, sang raja muda Daha, putra mahkota Jayanagara.

    Hingga manakala hari telah mulai menjelang malam, terlihat Gajahmada dan patih Amangkubumi duduk menemani baginda Raja sanggrama Wijaya di serambi puri pasanggrahannya.
    Banyak pesan-pesan yang disampaikan oleh baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kedua orang kepercayaannya itu, Gajahmada dan Patih Amangkubumi.

    “Di Pertemuan agung itu, aku menangkap sebaris senyum kegembiraan pada diri Ra Kuti, semoga srigala itu akan terus mengikuti bau busuk bangkai umpan yang kita pasang”, berkata baginda Raja Sanggrama kepada patih Amangkubumi dan Gajahmada di serambi puri pasanggrahannya.

    “Srigala adalah seekor binatang yang sangat peka, selalu curiga mengamati keadaan sekitarnya. Sementara umpan kita adalah sang putra mahkota, raja muda Jayanagara yang tidak pernah melihat srigala berbulu domba itu bukan sebuah dongeng belaka, ada disekitarnya. Hamba merasa cemas permainan kita ini adalah sebuah permainan yang sangat berbahaya bagi seorang Jayanagara”, berkata Patih Amangkubumi.

    “Putraku Jayanagara harus dapat belajar membedakan mana srigala dan mana seekor domba, biarkan cakaran seekor srigala mengajarkannya untuk menjadi seorang lelaki, menjadi seorang Raja sebenarnya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya menanggapi kekhawatiran Patih Amangkubumi.

    Sementara itu Gajahmada hanya berdiam diri, memahami sikap kekhawatiran Patih Amangkubumi bahwa Baginda Raja sanggrama Wijaya telah menggelar sebuah permainan yang sangat berbahaya.

  43. Dan hari itu masih diawal kresnapaksa bulan Wesakha tahun saka berangka tahun seribu dua ratus tiga puluh satu.

    Terlihat sepuluh orang penunggang kuda baru saja meninggalkan gapura batas kotaraja Majapahit.

    Semilir angin yang sejuk di pagi hari itu menyapu wajah seorang penunggang kuda yang berjalan terdepan, rambutnya yang ikal panjang jatuh sebahu terlihat terurai tertiup angin.

    Siapapun tidak akan menyangka bahwa lelaki berkuda yang berjalan terdepan itu adalah Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah berpakaian layaknya orang biasa dan dikawal oleh Sembilan orang prajurit perwira utama, diantaranya adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Rangga Adityawarman.

    Setelah menempuh setengah hari lebih perjalanan, terlihat rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah keluar dari jalan utama masuk kesebuah perbukitan hutan pinus.

    Rombongan Baginda Raja Sanggrama Wijaya terlihat berhenti di sebuah danau yang jernih dikelilingi rerimbunan pohon yang meneduhinya dari cahaya sinar matahari sore.

    “Kuburkanlah pakaian kebesaranku ini di peti jenasah Patih Mahesa Amping”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Tumenggung Mahesa Semu sambil menyerahkan sepengadek pakaiannya.

    Terlihat Tumenggung Mahesa Semu sudah berada di dalam danau jernih itu yang tidak terlalu dalam.

    Ternyata Tumenggung Mahesa Semu masih ingat dimana dirinya menenggelamkan peti jenasah Patih Mahesa Amping di dasar danau itu. Maka tidak lama berselang terlihat Tumenggung Mahesa Semu sudah menemukan pei jenasah itu dan langsung memasukkan sepengadek pakaian kebesara Baginda Raja Sanggrama Wijaya kedalam peti kayu jenasah itu.

    “Dengarlah, sejak hari ini aku ini bukan lagi seorang Raja yang dipuja, sejak hari ini aku adalah kawula papa jelata. Kutitipkan kerajaanku kepada kalian semua untuk menjaganya”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada kesembilan prajurit perwira utama yang mengantarnya itu.

    “Sejak hari ini pula aku tidak membutuhkanmu lagi”, berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil mengelus-elus leher dan kepala kuda kesayangannya itu yang telah begitu setia mengiringi setiap perjalanannya, diwaktu yang sangat panjang.

    Terlihat kesembilan prajurit perwira utama begitu terharu terdiam membisu melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah melangkahkan kakinya menjauhi mereka.

    Mata Tumenggung Mahesa Semu tidak berkedip sedikitpun, terlihat sudah berkaca-kaca dan terus memandang lelaki yang hanya berpakaian orang biasa, membiarkan rambutnya yang ikal hitam bergelombang tergerai tanpa ikat kepala telah semakin jauh meninggalkannya.

    “Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah mengambil arah yang diambil oleh Patih Mahesa Amping”, berkata Tumenggung Mahesa Amping dalam hati melihat arah perjalanan Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang terus berjalan hingga menghilang terhalang sebuah kerimbunan hutan perbukitan.

  44. ki… alinea terakhir tertulis… , berkata Tumenggung Mahesa Amping.. seharusnya Mahesa Semu ya…

    • betul, betul, betul, kamsia

    • Skenario luar biasa dari Ki Kompor Sandikala, mulai menikmati lagi dan menggigit penasaran untaian selanjutnya, utamanya bagaimana Ki Dalang merangkai lagi skenario jitu untuk pemberontakan patih Nambi dan Minak Jinggo.

  45. Itulah hari pertama Raja Jayanagara memegang kekuasaan di bumi Majapahit.

    Mandat Raja Muda Jayanagara hanya sebagai wakil pemegang kuasa, bukan sebagai pemegang kuasa, Hal inilah yang membuat Raja Jayanagara berprasangka buruk bahwa ayahandanya masih setengah hati menjadikannya sebagai seorang Putra Mahkota. Menurut pikiran Raja Jayanagara bahwa ayahandanya sebenarnya berharap seorang putra mahkota akan terlahir dari istrinya Dyah Gayatri seorang putri keturunan Raja Kertanagara, namun ternyata Dyah Gayatri hanya melahirkan dua orang putri, seperti itulah prasangka Raja Jayanagara terhadap ayahandanya. Disamping itu memang sejak kecil dirinya banyak mendengar sindiran orang-orang dalam istana yang mencebirkan dirinya sebagai anak darah campuran, bukan orang asli jawa.

    Berawal dari perasaan seperti itulah yang membuat Raja Jayanagara tidak mudah bergaul dengan banyak orang, sering menyendiri dan tidak mau diiringi oleh prajurit pengawal istana.

    Hingga pada suatu waktu, terlihat Raja Jayanagara tengah berkeliling istana, berjalan seorang diri dari satu lorong ke lorong lain di dalam wilayah istana, hingga tanpa disadarinya langkahnya telah membawanya masuk kedalam pura istana.

    Entah mengapa setelah berada di dalam pura istana, Raja jayanagara seperti menemukan sebuah ketenangan hati,

    Lama Raja Jayanagara duduk bersimpuh di dekat altar terbuka, di awasi mata patung sang budha yang tersenyum penuh kasih, diawasi sepasang mata patung sang siwa yang memancarkan cahaya kemurkaan.

    Lama Raja Jayanagara duduk bersimpuh di dekat altar terbuka, tidak menyadari bahwa sepasang mata srigala sudah begitu lama mengamatinya seperti siap untuk menerkamnya.

    Namun ternyata srigala itu tidak menerkamnya, melainkan menyentuh pundaknya dengan perasaan penuh tulus dan kasih.

    “Wahai baginda Raja Jayanagara, janganlah baginda tertidur di pura ini, hari telahmenjelang malam dan udara di pura ini sangat dingin”, berkata seorang tua pekerja pura istana mengingatkannya.

    Terkejut Raja jayanagara menyadari bahwa hari memang sebentar lagi menjadi malam.

    “Aku merasa tenang di tempat ini”, berkata Raja jayanagara kepada orang tua itu.

    Terlihat orang tua itu tersenyum dengan sangat tulus sekali, seperti seorang ayah memandang seorang anak yang tengah asyik bermain di halaman.

    “Nampaknya Baginda Raja tengah memendang banyak hal yang tidak mengenakkan hati”, berkata orang tua itu dengan perkataan yang sangat lembut penuh ketulusan hati.

    Mungkin karena sedari kecil Raja jayanagara kurang mendapatkan perhatian yang penuh dari ayahandanya, telah membuat Raja jayanagara begitu haus akan sebuah kasih sayang.

  46. sepertinya ki Secang dah mulai beraksi lagi,…

  47. Dan Raja Jayanagara telah mulai menyukai orang tua itu.

    “Bila Baginda Raja punya ganjalan dihati, katakanlah kepadaku ?”, berkata orang tua itu dengan wajah begitu lembut.

    Namun Raja Jayanagara menatap tajam kearah orang tua itu, seakan berkata”apakah kamu dapat dipercaya “,

    Ternyata orang tua itu seperti dapat membaca pikiran Raja Jayanagara.

    “Di Kotaraja ini hamba tidak punya kerabat, saudara atau seorang sahabat satupun. Apapun yang Baginda Raja sampaikan tidak akan aku katakana kepada siapapun.

    Mendengar perkataan orang tua itu yang mengatakan dirinya tidak punya kerabat, saudara dan sahabat, telah membuat Raja jayanagara merasa sepenanggungan dengan orang tua itu.

    “Orang tua tidak punya siapa-siapa di kotaraja ini ?”, bertanya baginda Raja Jayanagara.

    “Panggil hamba Ki Secang, itulah nama hamba”, berkata orang tua itu yang ternyata Ki Secang, seorang yang dipekerjakan sebagai pengurus pura istana.

    Entah mengapa Raja jayanagara mulai percaya kepada Ki Secang, tak disadarinya telah bercerita tentang kegundahan hatinya, rasa kecewanya kepada ayahandanya sendiri, rasa kecewanya mengapa terlahir berdara campuran, bukan sebagai orang jawa asli.

    Ternyata Ki Secang adalah seorang pendengar yang baik, mendengarkan semua kegundahan hati raja Jayanagara.

    Demikianlah, sejak saat itu hapir setiap malam raja jayanagara menyempatkan waktunya berkunjung ke pura istana. Dan Ki Secang selalu menjadi pendengar yang baik.

    Perkerabatan Raja jayanagara semakin meningkat menjadi sebuah kekaguman manakala Ki Secang telah menunjukkan beberapa ilmu kesaktiannya yang memang sudah amat langka.

    “Apakah Baginda raja ingin mempelajarinya ?”, berkata Ki Secang kepada baginda Raja Sanggrama .

    “Senang sekali seandainya aku dapat memahaminya”, berkata raja jayanagara.

    “Mulailah Baginda Raja dengan mengenal senjata trisula kembar ini”, berkata Ki Secang sambil menyerahkan kedua buah trisula kembarnya kepada Raja jayanagara.

    Demikianlah, dimalam itu dan dimalam-malam selanjutnya raja jayanagara telah mulai mendalami sebuah aliran perguruan yang sangat berbeda dasar geraknya dari aliran yang sudah dipelajarinya selama ini. Namun karena dasar kanuragan Raja jayanagara sudah amat tinggi, tidak sukar baginya mempelajari sebuah aliran yang bersumber dari perguruan Ki Secang.

    Dan mulailah Ki Secang membangun sebuah jeratan-jeratan permainan baru.

  48. Celakanya, Raja Jayanagara dengan begitu mudahnya menerima semua pemikiran dan pemahaman Ki Secang , pemikiran dan pemahaman sebuah aliran agama yang lain, bukan aliran agama sembahan keluarganya.

    Dalam pandangan Raja jayanagara, dilihatnya bahwa Ki Secang seorang yang sangat tulus, penuh kasih sayang dan seorang yang punya pemahaman tinggi tentang ilmu kejiwan, juga seorang yang bersembunyi di balik kesaktiannya.

    Lebih celaka lagi, diam-diam Raja jayanagara telah mengangkat Ki Secang sebagai guru rohaninya dan dengan secara sadar dan sukareka memanggilnya dengan sebutan Empu Halayuda, sebuah nama asli dari Ki Secang sendiri yang telah berterus terang tentang jati dirinya sebagai seorang bangsawan, keturunan ke enam dari Raja Wurawari, seorang raja yang sakti perkasa yang hanya dapat ditandingi oleh kesaktian guru Raja Erlangga pada jamannya.

    Sementara itu Ra Kuti yang melihat kedekatan Ki Secang dengan Raja jayanagara, telah mulai menjaga jarak dengan Ki Secang, membiarkan Ki Secang dengan permainannya. Namun diam-diam mereka kadang melakukan pertemuan-pertemuan rahasia.

    Hubungan Raja jayanagara dan Ki Secang akhirnya sudah bukan rahasia umum lagi manakala Raja Jayanagara telah mengangkatnya menjadi salah satu anggota Dharmayaksa. Dan semua orang telah memanggil nama Ki Secang sebagai Dang Acarca Empu Halayuda.

    Perlahan tapi pasti, Empu Halayuda sudah mulai meniup api permusuhan hubungan Raja jayanagara dengan Patih Amangkubumi.
    Dimulai dengan pembicaraan Empu Halayuda tentang perlunya seorang permaisuri bagi Raja Jayanagara.

    “Baginda Raja sudah seharusnya mempunyai seorang permaisuri”, berkata Empu Halayuda disuatu malam kepada Baginda Raja Jayanagara.

    “Siapa menurut guru wanita yang pantas menjadi pendampingku”, berkata Baginda Raja Jayanagara.

    “Dyah Wijat, putri Kanjeng Ratu Gayatri di Kahuripan”, berkata Empu Halayuda

    “Dyah Wijat ?”, berkata Raja jayanagara. “Dia adalah adik tiriku sendiri”, berkata kembali Raja Jayanagara.

    “Tidak masalah, bukankah ayahanda baginda Raja sendiri mengawini putri Gayatri yang masih sedarah dekat dengannya ?”, berkata Empu Halayuda. “Dengan menyunting putri Dyah Wijat akan dapat memperkuat kedudukan Baginda Raja saat ini. Kedudukan Baginda raja tidak akan tergoyahkan karena telah merangkul keturunan pemilik wahyu keraton di tanah jawa ini, sang ratu Kendedes leluhur Raja Kertanagara”, berkata Empu Halayuda meyakinkan Raja Jayanagara.

    “Bila memang wanita itu dapat mengokohkan kedudukanku, aku bersedia mempersuntingnya”, berkata Raja Jayanagara menyetujuinya.

  49. Rencana raja jayanagara untuk mempersunting Dyah Wijat di kecam keras oleh Patih Amangkubumi. Namun kembali menjadi bumerang bagi Patih Amangkubumi menjadi semakin menjauhi hubungan dengan Raja Jayanagara, terutama dengan cara Empu Halayuda yang telah dapat mempengaruhinya mengatakan kepada Raja Jayanagara bahwa Patih Amangkubumi sengaja tidak ingin melihat kedudukan Raja jayanagara menjadi kuat tak tergoyahkan.

    “Empu Nambi tidak ingin melihat kedudukan Baginda Raja menjadi kuat, jangan-jangan ada maksud tersendiri dari Empu Nambi mencari kesempatan merangkul keluarga Kanjeng Ratu Gayatri menyingkirkan tahta singgasana Baginda raja ”, berkata Empu Halayuda mempengaruhi Raja jayanagara.

    “Empu Nambi tidak mau menjadi utusanku ke Tanah kahuripan”, berkata Raja jayanagara.

    “Hamba bersedia menjadi utusan Baginda Raja, membawa nama Baginda Raja datang melamar sendiri ke Tanah kahuripan”, berkata Empu Halayuda menawarkan dirinya.

    “Terima kasih, kapan Empu Halayuda datang melamar untukku”, berkata Raja jayanagara penuh kegembiraan hati.

    “Besok hamba akan berangkat ke Tanah Kahuripan”, berkata Empu Halayuda kepada Raja jayanagara.

    Demikianlah, pagi-pagi sekali Empu Halayuda telah berangkat pergi menuju Tanah Kahuripan.

    Matahari terlihat baru saja bergeser dari puncaknya manakala kuda yang ditunggangi oleh Empu telah memasuki gapura batas kotaraja Kahuripan.

    “Kota tua milik Raja Erlangga, musuh leluhurku”, berkata Empu Halayuda dalam hati ketika telah memasuki jalan utama menuju arah pusat kotaraja Kahuripan.

    Bumi Kahuripan adalah sebuah tanah datar dimana hasil buminya berupa padi menjadi sumber penghidupan sebagian warganya sebagai barang perdagangan yang paling diunggulkan dijaman itu.

    Dan suasana kemakmuran dan kesejahteraan warganya menjadi kian meningkat manakala Ratu Tribuana Wiajaya Tungga Dewi menjadi raja muda di sana.

    “Siapakah tuan, dan ada keperluan apa gerangan ?”, bertanya seorang prajurit penjaga istana Kahuripan kepada seorang pendeta tua yang ternyata adalah Empu Halayuda.

    “Aku utusan dari kerajaan Majapahit, bermaksud untuk bertemu langsung dengan ibu suri kanjeng ratu Gayatri”, berkata Empu Halayuda sambil menunjukkan sebuah peneng emas bergambar cakra nawa sanga.

    Terkejut dua orang prajurit yang menahan Empu Halayuda di depan gerbang pintu istana kahuripan, nampaknya mereka tahu bahwa peneng emas itu adalah tanda resmi penguasa tunggal bumi Majapahit, dan pertanda khusus itu menandakan yang membawanya pastinya bukan orang sembarangan, pastinya seorang pejabat tinggi di kerajaan Majapahit.

    “Kami akan mengantar tuan ”, berkata seorang prajurit kepada Empu Halayuda dengan penuh hormat.

  50. tambah seru ki dalang, suwun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: