PKPM-10

<< kembali | lanjut >>

PKPM-10

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 13 April 2015 at 00:01  Comments (110)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

110 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mendapatkan ancaman dari kedua begundal itu tidak membuat takut sedikitpun diwajah orang tua itu. Bahkan terlihat sikapnya yang sangat dingin seakan meremehkan kedua begundal itu.

    “huhh”, terdengar dengus orang tua itu sebagai sikap tantangan.

    Kedua begundal itu sudah seperti hilang kendali melihat sikap orang tua itu, terlihat sudah mulai menggerakkan golok panjang di tangan mereka.

    Namun tiba-tiba saja kedua begundal itu mengurungkan niatnya, menahan golok panjangnya karena mendengar sebuah teriakan.

    “jangan kalian sakiti orang tua itu !!”, terdengar sebuah teriakan dari arah belakang kedua begundal itu.

    Ternyata yang berteriak dan datang ditempat itu adalah Supo Mandagri.

    “Biarkan orang tua itu pergi, bawalah kerisku ini sebagai penggantinya”, berkata Supo Mandagri kepada kedua begundal itu sambil menunjukkan sebuah keris di tangannya.

    “Keris yang sangat bagus”, berkata salah seorang begundal penuh kagum melihat keris ditangan Supo Mandagri.

    “Kuberikan untukmu, jangan sakiti orang tua itu”, berkata Supo Mandagri sambil menyerahkan keris miliknya.

    Mendapat sebuah keris yang sangat bagus dan sangat berharga itu telah membuat kedua begundal itu sama sekali melupakan orang tua yang semula ingin di perasnya itu,terlihat kedua begundal itu sudah pergi berlalu menghilang di sebuah persimpangan jalan.

    “Kamu tidak sama sekali mengenalku, mengapa berbaik hati menolongku ?”, bertanya orang tua itu kepadaSupo Mandagri.

    “Kenal atau tidak kenal, sudah menjadi kewajibanku menolong siapapun”, berkata Supo Mandagri.

    “Tapi kamu telah mengorbankan sebuah keris yang sangat berharga”, berkata orang tua itu.

    “Aku seorang pembuat keris, pada suatu saat aku dapat membuat yang lebih bagus lagi dari yang ku punya itu”, berkata Supo Mandagri.
    “kamu seorang pembuat keris ?”, bertanya orang tua itu.

    “Benar, aku seorang pembuat keris”, berkata Supo Mandagri sambil sedikit bercerita tentang asal usulnya yang berasal dari Tanah Tuban dan saat ini tengah mencari tambahan biaya melanjutkan usaha orang tuanya sebagai pembuat keris.

    “Seorang pembuat keris punya kemampuan melebihi seorang pandai besi”, berkata orang tua itu.

    “Benar, aku mampu membuat berbagai senjata, namun seorang pandai besi biasa tidak mampu membuat sebuah keris”, berkata Supo Mandagri membanggakan dirinya sendiri.

    “Sangat kebetulan sekali, kami tengah mencari seorang pandai besi yang ahli”, berkata orang tua itu.

  2. Suwun Ki Dalang. Maltu, malam Sabtu.

    • ladhalah … tak kiro peltu jeee …

  3. suwun ki

  4. Alhamdulillah

    Hampir seminggu Satpam menjadi “tahanan rumah”. Polisi di rumah galak setengah mati. Baru hari ini diijinkan buka PC (kemarin sih sebenarnya sudah buka juga, tapi nyuri-nyuri jika polisinya tidak ada di rumah).

    hadu… harus nyapu dua padepokan, capek juga.
    rontal sudah tertata rapi di tempatnya.
    Hmm… sudah masuk ke senthong kanan rupanya.
    suwun Pak Dhalang.

  5. “Percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakan”, berkata Supo Mandagri penuh kegembiraan hati telah dapat mendekati sasarannya itu.

    “Panggil aku Ki Samban, aku akan mengajakmu kesebuah tempat”, berkata orang tua itu yang menyebut dirinya bernama Ki Samban.

    “Aku seorang pengembara, tiada sanak dan saudara. Aku akan ikut bersamamu”, berkata Supo Mandagri mencoba meyakinkan Ki Samban bahwa dirinya tidak tinggal di Kotaraja Majapahit, hanya seorang pengembara.

    Terlihat Ki Samban telah berjalan bersama Supo Mandagri ke arah barat Kotaraja Majapahit, sementara matahari sudah bergeser jauh dari puncaknya.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah bukit berbatu.

    Manakala mereka telah mencapai puncak bukit berbatu itu, Ki Samban telah mengambil arah selatan lereng bukit berbatu itu hingga akhirnya menemukan sebuah jalan buntu, sebuah jurang yang sangat amat tinggi tak terlihat dasarnya.

    “Apakah kamu punya keberanian menuruni jurang ini ?”,bertanya Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Perlu sebuah sayap untuk terjun ke jurang ini”, berkata Supo Mandagri yang tidak melihat alat apapun untuk dapat menuruni jurang terjal itu.

    Terlihat Ki Samban tersenyum mendengar jawaban Supo Mandagri yang nampaknya tidak punya rasa takut sedikitpun berdiri diatas jurang terjal itu.

    Tapi tiba-tiba saja Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit panjang hingga tiga kali.

    “Ternyata ada sebuah goa yang terhalang rerimbunan”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang telah melihat seseorang keluar dari sebuah goa yang terhalang sebuah rerimbunan semak belukar.

    “Selamat datang Ki Samban”, berkata orang itu kepada Ki Samban sambil membawa sebuah anak tangga yang terbuat dari tali temali dan batang rotan sebagai anak tangganya.

    Terlihat orang itu langsung mengikat ujung tali temali anak tangga itu kesebuah batu cadas.

    “Tidak perlu sebuah sayap untuk menuruni jurang ini”, berkata Ki Samban mengajak Supo Mandagri menuruni jurang itu dengan tali anak tangga yang sudah disiapkan.

    Ketika melihat Ki Samban menuruni jurang dengan tali temali anak tangga, maka Supo Mandagri tanpa rasa takut apapun telah langsung mengikutinya, menuruni jurang yang amat dalam itu.

    “Pantas Tumenggung Mahesa Semu tidak dapat menemukan tempat persembunyian mereka”, berkata Supo Mandagri dalam hati ketika kakinya telah menginjak tanah di dasar jurang yang amat terjal dan dalam itu.

    Kembali Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit tiga kali, maka anak tangga itu terlihat ditarik kembali dari atas.

    “Seperti itulah memanggil penjaga tali anak tangga itu”, berkata dalam hati Supo Mandagri.

  6. Ternyata tidak jauh dari tempat pendaratan mereka di dasar jurang itu terlihat sebuah tanah lapang yang cukup luas.

    “Disinilah pusat kekuatan baru Ra Kuti itu”, berkata Supo Mandagri dalam hati manakala telah melihat tiga buah barak panjang yang berjajar menghadap kearah tanah lapang yang cukup luas itu. Didalam barak-barak panjang itu terlihat banyak sekali prajurit yang tengah beristirahat.

    Akhirnya Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah gubukan yang terpisah dari barak-barak prajurit.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke tempat pertukangan pandai besi yang dilengkapi dengan dapur perapiannya.

    “Sepekan yang lalu seorang pandai besi kami sakit keras dan mati, kami akan membayar penuh setelah kamu dapat menyiapkan semua pesanan kami”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Barang jenis apa yang akan kubuat ?”, bertanya Supo Mandagri.

    “Tiga ribu mata anak panah”, berkata Ki Samban.

    “Apakah aku boleh meminta seorang pembantu ?”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Aku akan memberimu dua orang pembantu”, berkataKi Samban kepada Supo Mandagri.

    “Terima kasih telah memberiku sebuah kerja”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Sekarang beristirahatlah, besok pagi kamu sudah mulai bekerja”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri dan langsung meninggalkannya seorang diri di gubuk itu.

    Terlihat Supo Mandagri telah berbaring di sebuah bale bambu yang ada di dalam gubuk itu, sambil terus berpikir bagaimana caranya untuk dapat keluar dari tempat itu. Sementara itu malam sudah mulai merambati seisi tanah lapang di dasar jurang yang sangat dalam itu, sebuah pusat kekuatan baru yang sudah lama di bangun oleh Ra Kuti untuk sebuah cita-cita dan harapannya menjadi seorang raja di Kerajaan Majapahit.

    “Ternyata kecurigaan Tumenggung Mahesa Semu terhadap Ra Kuti selama ini telah terbukti,begitu busuknya hati orang itu, tidak menghargai Baginda Raja Sanggrama Wikaya yang telah menobatkannya sebagai salah satu pejabat Dharmaputra”, berkata dalam hati Supo Mandagri masih belum dapat memejamkan matanya.

    Namun akhirnya anak muda itu dapat tertidur juga, terlelap sendiri diatas bale di dalam gubuknya.

    Hingga akhirnya ketika pagi datang menjelang, Supo Mandagri sudah terbangun termangu-mangu seperti tengah bermimpi berada seorang diri di dalam sebuah gubukan.

    “Aku membawakan untukmu ransum pagi”, berkata seorang prajurit yang datang ke gubuknya sambil membawa baki berisi makanan dan minuman.

    “Terima kasih”,berkata Supo Mandagri kepada prajurit itu.
    “Makan yang banyak, agar kamu tidak sakit seperti orang sebelummu”, berkata prajurit itu.

  7. Sementara itu di waktu yang sama di istana Majapahit, berita tentang kekalahan pasukan Majapahit di bumi Lamajang sudah sampai di telinga Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Diluar dugaan dan perhitungan siapapun ternyata kekalahan pasukan Majapahit sudah diperhitungkan dan menjadi bagian rencana Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    “Dengan berita kekalahan pasukan Majapahit ini, tentunya akan membuat kemarahan besar pada diri Raja Jayanagara”, berkata Ra Kuti penuh senyum kegembiraan.

    “Raja Jayanagara akan menurunkan pasukan lebih besar lagi”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Kita akan meminta Raja Jayanagara untuk menurunkan kesatuan pasukan yang masih setia kepada kerajaan ini, sehingga di istana Majapahit ini hanya ada orang-orang dungu yang setia kepada kita”, berkata Ra Kuti.

    “Dan kita dapat menguasai kerajaan Majapahit ini, membunuh Raja lemah itu dengan begitu mudahnya”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Sekali dayung, tiga pulau terlampaui”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda penuh kebanggaan hati membayangkan semua rencananya akan menjadi sebuah kenyataan.

    “Dua sasaran dapat kita hancurkan sekaligus, para pemberontak Empu Nambi dan kesatuan pasukan Jala Rananggana yang sangat setia pada kerajaan ini”, berkata Ra Kuti.

    “Aku akan meminta kepada Raja Jayanagara agar diriku sendiri yang akan menjadi senapati pasukan besar itu”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Aku begitu yakin sekali, Mahapatih akan pulang dengan sebuah kemenangan besar’, berkata Ra Kuti penuh kegembiraan.

    “Aku juga begitu yakin, bahwa pasukanmu akan dengan mudah menguasai istana Majapahit ini”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda sambil tertawa panjang.

    “Ada berita gembira lainnya yang perlu diketahui, bahwa Tumenggung Jala Pati dan seluruh pasukan yang berada di kesatuannya telah berada di belakangku, mendukung penuh rencana kita menguasai istana Majapahit ini”, berkata Ra Kuti.

    “Sungguh sebuah berita gembira, yang akan kita hadapi nanti adalah hanya satu kesatuan khusus pimpinan Tumenggung Jala Yudha yang berada di benteng Tanah Ujung Galuh”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda penuh kegembiraan.

    Demikianlah, Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti denganpenuh kegembiraan hati mempercakapkan rencana-rencana busuk mereka. Kegembiraan hati yang berlebihan itulah yang mereka berdua tidak menyadari menjadi sebuah bumerang kegagalan dan kehancuran rencana, harapan dan cita-cita mereka berdua, karena kegembiraan hati mereka membuat lupa diri bahwa di balik pintu ada seorang prajurit pengawal istana yang mendengarkan semua pembicaraannya itu.

    Terlihat prajurit pengawal istana yang ditugaskandi Bale Kepatihan itu berdebar-debar mendengar semua percakapan Mahapatih Dyah halayuda dan Ra Kuti, sebuah rencana busuk dari dua orang pejabat yang sangat dihormati di istana Majapahit itu, juga sebagai dua orang pendeta suci.

    • Ki Gembleh sulit manuk…eh…masuk !..padahal enggak tuh?..ma kasih Pak Dalang..mantaff..!

  8. laptop saya rusak, minjem punya sang putra pangeran, jadi…..enggak tahu udah sampe dimana ya ??

    Pak SATPAM, tinggal berapa rontal lagi pindah gandhok anyer ??

    • Menurut penerawangan Satpam, kira-kira masih kurang tujuh atau delapan rontal lagi Pak Dhalang.

      Monggo, kalau malam ini atau besok PKPM-10 akan diselesaikan, he he he …..

  9. Kabut pekat perlahan seperti sebuah jerat telah menyelimuti langit diatas istana Majapahit, suara deru angin berputar-putarseperti suara putra sangkala mengintai mangsanya berkeliling sekitar kotaraja Majapahit.

    Perlahan warna senja tua terlihat semakin murung menghilang ditelan kegelapan malam.

    “Angin bertiup terlalu kencang menerbangkan awan hujan”, berkata Gajahmada kepada ibundanya di pasanggrahannyadi Tanah Ujung Galuh.

    “Belum kamu dapatkan kabar tentang Supo Mandagri ?”, bertanya Nyi Nariratih kepada putranya itu.

    “Seorang pedagang di Tanah Ujung Galuh mengabarkan kepadaku telah membeli sebuah keris yang diketahuinya milik Supo Mandagri dari dua orang begundal pasar”, berkata Gajahmada.

    “Keris Supo Mandagri direbut dua orang begundal pasar ?”, bertanya Nyi Nariratih.

    “Aku sudah berhasil menemui dua orang begundal pasar itu, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi”, berkata Gajahmada.

    “Apa sebenarnya terjadi atas diri anak itu ?”, bertanya Nyi Nariratih penuh kekhawatiran.

    Secara singkat, Gajahmada telah bercerita apa yang diketahuinya dari dua orang begundal pasar yang berhasil ditanyai.

    “Nampaknya itulah hari terakhir Supo Mandagri berada di sekitar Kotaraja Majapahit”, berkata Gajahmada.

    Namun pembicaraan Gajahmada dan ibundanya terhenti manakala terdengar suara ketukan pintu.

    Ternyata yang datang di malam hari itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman. Sudah beberapa hari itu mereka selalu datang di malam hari di pasanggrahan Gajahmada membahas berbagai hal perkembangan kemelut dan kabut yang tengah memenuhi langit disekitar istana Majaphit itu.

    “Kabut di atas istana Majapahit sudah begitu pekat”, berkata Gajahmada bertutur tentang sebuah rencana busuk Dyah Halayuda dan Ra Kuti yang didapatkan dari salah seorang prajurit pengawal istana tadi siang.

    “Yang menjadi masalah besar kita adalah memberikan kesadaran Raja Jayanagara bahwa dirinya saat ini telah berada di dalam cengkraman dua srigala jahat”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Biarlah Raja Jayanagara akan terbuka mata hatinya di akhir permainan ini”, berkata Gajahmada.

    “Jelaskan kepada kami permainan apa yang ada dalam kepalamu, wahai Gajahmada”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajahmada.

    “Duri penghalang terbesar bagi Dyah Halayuda dan Ra Kuti saat ini adalah Empu Nambi, menurut mereka Empu Nambi dan para pendukungnya yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa adalah saingan terbesar mereka yang dapat merebut tahta kerajaan Majapahit ini”, berkata Gajahmada.

  10. “Akumengenal Empu Nambi seutuhnya, mungkinkah Empu Nambi punya sedikit pikiran untuk merebut tahta kerajaan ini ?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu.

    “Selama tahta kerajaan ini berada di tangan yang berhak, Empu Nambi sedikitpun tidak akan mengganggunya, bahkan akan berada di baris terdepan menghadapi musuh-musuh kerajaan Majapahit ini.
    Namun manakala tahta ini berpindah tangan dalam genggaman orang-orang yang tidak berhak memilikinya, maka Empu Nambi dan para pendukungnya akan tampil kedepan, menyelamatkan kerajaan ini, dan bila mungkin menjadi seorang Raja. Itulah sebabnya Dyah Halayuda dan Ra Kuti menganggap Empu Nambi adalah orang yang harus mereka singkirkan sebelum menguasai singgasana kerajaan ini”, berkata Gajahmada menyampaikan pandangannya.

    “Sudah tergambar permainan apa yang akan kita mainkan menyelamatkan bahtera dari badai awan hitam yang ditebarkan oleh dyah Halayuda dan Ra Kuti. Saat ini kita masih harus menunggu gerak akhir mereka, bukankah begitu wahai Gajahmada ?”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mencoba membaca jalan pikiran Gajahmada.

    “Benar,kita turun di ujung permainan mereka, menyelamatkan Raja jayanagara dan tahtanya”, berkata Gajahmada membenarkan perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “hanya kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan baru yang saat ini tengah di galang oleh Ra Kuti di sebuah tempat yang masih sangat rahasia itu”, berkata Adityawarman ikut berbicara setelah lama hanya menjadi pendengar.

    “Mudah-mudahan Supo Mandagri dapat melaksanakan tugasnya, nampaknya anak muda itu tengah berada di sarang mereka saat ini”, berkata Gajahmada.

    “Kesatuan pasukan Jala Ranaggana, Jala Pati dan Jala Yudha sebagai kekuatan benteng pertahanan kerajaan ini telah dapat mereka pecah-pecahkan. Maka sebagai pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Srikandi aku akan berjuang bersama kalian, tetap menjaga bahtera bumi Majapahit apapun dan hingga sampai kapanpun”, berkata Nyi Nariratih

    “Terima kasih Nyi Nariratih, kita akan berjuang bersama menghadapi badai besar ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Berita yang kudapat hingga hari ini bahwa sisa prajurit Majapahit yang dapat di pukul mundur oleh pasukan Empu Nambi saat ini masih berada di Kademangan Japan. Adakah yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan Empu Nambi ?”, berkata Adityawarman.

    Mendengar perkataan Adityawarman telah membuat semuanya terdiam membisu, didalam hati dan pikiran mereka merasa bersedih tidak dapat berbuat apapun.

    “Empu Nambi meminta kita untuk tetap berada di istana Majapahit ini, Empu Nambi berharap hanya kitalah benteng terakhir yang dapat menyelamatkan bahtera kerajaan Majapahit ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu memecahkan suasana sepi.

    Namun kembali suasana menjadi begitu hening dan sepi, semua hati dan pikiran nampaknya tengah mengenang masa-masa Empu Nambi di istana, masa-masa kehidupannya yang sangat bersahaya itu.

    Dan suara debur ombak di Tanah Ujung Galuh seperti mendendangkan suara nyanyian rindu.

  11. Malam memang telah menjadi begitu dingin ketika hujan turun begitu lebat mengguyur sebuah lembah yang sunyi di kaki perbukitan berbatu yang tidak begitu jauh jaraknya dengan kotaraja Majapahit, sebuah tempat yang tak terjamah karena sangat tandus dan terjal.
    Itulah lembah dimana Supo Mandagri berada bersama ribuan prajurit yang tengah disiapkan oleh Ra Kuti untuk melakukan sebuah makar, merebut tahta kerajaan Majapahit.

    “Aku mencium bau anyir darah di sekitar gubuk ini”,berkata Supo Mandagri dalam hati yang belum juga dapat memejamkan matanya membayangkan bahwa pandai besi yang pernah bekerja di gubuk itu tidak sakit dan meninggal, melainkan mereka bunuh.

    “Aku sudah dapat menemukan sarang mereka, menilai kekuatan mereka. Yang harus kulakukan malam ini adalah keluar pergi dari tempat ini”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

    Demikianlah, setelah membulatkan tekadnya terlihat Supo Mandagri di bawah hujan yang sangat lebat itu telah keluar dari gubuknya.

    “Diujung lembah sempit itu pasti ada jalan keluar”, berkata Supo Mandagri dalam hati memilih arah jalan untuk keluar dari tempat itu.
    Malam itu hujan turun begitu lebat, terlihat Supo Mandagri berjalan cepat menyusuri lembah sempit berusaha menjauhi sarang kekuatan para prajurit Ra Kuti.

    “Suara air terjun ?”, berkata Supo Mandagri dalam hati mendengar suaraderu air terjun didekatnya.

    Ternyata lembah sempit yang disusuri oleh Suo Mandagri berujung sebuah sendang mata air sumber sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi karena terdengar suara hempasannya di bawah sana oleh Supo Mandagri di malam yang sangat gelap itu.

    “nampaknya tebing ini dapat kuturuni”, berkata Supo Mandagri meski di keremangan malam masih dapat melihat banyak tonjolan batu di tebing kiri sebelah air terjun yang tidak begitu tinggi itu.

    Perlu sebuah perjuangan untuk menuruni sebuah tebing, di saatmalam gelap, disaat hujan turun masih begitu lebatnya.

    Namun Supo Mandagri adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan terlatih, dengan penuh kesabaran dan ketabahan telah merayap menuruni tebing yang sangat licin. basah dancukup terjal.

    Akhirnya dengan kesabaran dan ketabahan hatinya, Supo Mandagri selangkah demi selangkah dapat menuruni tebing terjal itu hingga sampai kedasarnya.

    “Hujan sudah mulai reda”, berkata dalam hati Supo Mandagri sambil menarik nafas panjang telah berhasil menuruni tebing disisi kiri sebuah air terjun.

    “Sungai kecil ini pasti bermuara di sebuah tempat terbuka, disana aku dapat mencari arah jalan pulang”, berkata Supo Mandagri dalam hati berniat untuk menyusuri sungai kecil itu yang bersumber dari air terjun itu.

    Di malam yang masih sangat gelap itu memang tidak ada pilihan lain selain berjalan menyururi jalan diatas sungai kecil berbatu itu dimana disepanjang kiri dan kanannya adalah sebuah hutan belantara.

  12. aseeek.. suwun ki..

  13. Demikianlah, Supo Mandagri terlihat tengah menyusuri sungai kecil berbatu di malam gelap, tekadnya saat itu adalah berjalan sejauh mungkin agar pelariannya tidak akan mungkin dapat ditemukan kembali.

    Akhirnya Supo Mandagri telah menemukan sebuah tempat terbuka, namun hari masih gelab.

    “Nampaknya aku sudah berjalan cukup lama dan sudah cukup jauh”, berkata Supo Mandagri dalam hati sambil bersandar di sebuah batu besar mencoba mengendurkan urat-urat kakinya yang terasa lelah setelah cukup lama berjalan.

    Dan perlahan Supo Mandagri melihat warna langit mulai bias kemerahanpertanda pagi akan segera datang.

    “Langit sudah mulai terang”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang sudah melihat samar suasana di depannya.

    Ternyata di hadapan Supo Mandagri adalah sebuah tanah berawa yang cukup luas, terlihat sekumpulan pohon galam di beberapa tempat tumbuh dengan amat suburnya.

    Tanpa menunggu banyak waktu, terlihat Supo Mandagri sudah turun di tanah berawa itu berharap akan menemukan sebuah daratan diseberang sana.

    Berjalan diatas tanah berawa yang cukup dalam setinggi paha itu memang telah membuat Supo Mandagri tidak dapat bergerak lebih cepat lagi, namun Supo Mandagri telah dapat melihat arah jalan pulang, karena telah melihat perbukitan berbatu di sebelah kanan langkah kakinya.

    “Setelah menemukan daratan aku harus memutar perbukitan berbatu itu”,berkata dalam hati Supo Mandagri yang telah menemukan arah menuju Kotaraja Majapahit.

    Akhirnya setelah cukup lama berjalan di atas tanah berawa, Supo Mandagri telah menemukan tepian rawa.

    Terlihat Supo Mandagri menarik nafas panjang penuh kegembiraan telah berada diatas sebuah tanah kering, semilir angin sejuk berhembus di wajahnya.

    Di bawah cahaya sinar matahari yang sudah cukup tinggi Supo Mandagri berjalan diatas tanah kering dan keteduhan kerimbunan pepohonan, memang terasa ringan setelah cukup lama merambat diatas tanah berawa yang cukup dalam.

    Namun keringanan langkah Supo Mandagri tiba-tiba saja tertahan manakala tidak jauh darinya terlihat dua orang lelaki duduk terlindung sebuah semak belukar.

    “Apa yang kalian lakukan di tempat ini ?”, bertanya Supo mandagri kepada kedua lelaki itu.

    Mendengar pertanyaan Supo Mandagri, terlihat kedua lelaki itu berdiri dan tersenyum memandang kearah Supo Mandagri.

    “Kami diminta oleh Ki Samban untuk menunggumu disini”, berkata salah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan berotot sebagai pertanda sangat kuat dan terlatih olah beban.

  14. Mendengar perkataan salah seorang dari lelaki itu, terlihat Supo Mandagri seperti tertegun sejenak tidak menyangka bahwa orangnya Ki Samban telah menemukan dirinya kembali. Namun Supo Mandagri berusaha menenangkan dirinya.

    “Ternyata kalian hanya ingin menungguku, sampaikan salam kepada Ki Samban bahwa aku tidak ingin kembali ketempatnya”, berkata Supo Mandagri sambil berjalan ke arah lain menghindari kedua lelaki itu.

    “Kami tidak sekedar menunggumu, kami juga diminta untuk membawamu kembali”, berkata seorang lelaki yang lain berperawakan sedang namun seperti kawannya juga berotot hampir diseluruh lekuk tubuhnya.

    “Apakah kalian akan memaksa ?”, bertanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki itu yang telah bergeser menghalangi langkahnya.

    “Ikutlah bersama kami, dan kami tidak akan melukaimu”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar mengancam Supo Mandagri.

    “Kulihat kalian tidak bersenjata, bagaimana kalian akan melukaiku ?”, berkata Supo Mandagri dengan sikap menantang.

    “Aku akan melukai mulutmu dengan tanganku ini”, berkata seorang yang berperawakan sedang langsung melayangkan sebuah tamparan kewajah Supo Mandagri.

    Nampaknya orang itu menganggap Supo Mandagri adalah anak muda biasa yang tidak pernah belajar kanuragan, atau bila mengenal olah kanuragan pastinya hanya baru satu dua jurus pukulan dari seorang guru kampung.

    Ternyata dugaan orang itu meleset jauh, sebelum bertemu dengan Gajahmada, tataran ilmu kanuragan Supo Mandagri sudah cukup tinggi, dan Gajahmada telah meningkatkan kemampuan anak muda itu lebih dalam lagi sejak tinggal bersamanya.

    Bukan main terkejutnya orang itu melihat Supo Mandagri dengan sangat cepat sekali merendahkan tubuhnya dan sebuah pukulan yang sangat kuat dan telak sekali dirasakan menghantam pangkal bawah tangannya.
    Plakk !!!

    Seketika itu juga orang berperawakan sedang dan berotot kuat itu langsung terpelanting mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.

    “Ternyata kamu bisa satu dua jurus”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar langsung menerjang Supo Mandagri dengan tendangan kakinya.

    Bukan main terkejutnya orang bertubuh tinggi besar itu melihat Supu Mandagri dengan begitu cepatnya bergeser ke kiri dan telah melayangkan sebuah tendangan keras menghantam tepat bagian tubuh dibawah pusarnya.

    Seketika itu juga orang bertubuh tinggi besar itu terbelalak dengan mata terbuka merasakan nafasnya hilang seketika. Terlihat orang itu terjatuh duduk merasakan nyeri di bawah pusarnya.

    • semangkin mantaff….tarengkiu

    • ehm…….

  15. Suwun Ki Dalang

  16. Apakah Pak Dhalang, Ki BP dan Ki Karto…, eh Ki Sanepo kesulitan masuk padepokan?
    Satpam tidak tahu, kenapa Ki Gembleh kok tidak bisa masuk. Perasaan satpam bisa masuk dengan mudah.

    Mungkin karena badaya yang besar sehingga tidak muat pintu yang satpam buat, he he he …… mblayu…. takut dibalang ledut benter……

  17. maknyus.. suwun ki dalang..

  18. Terlihat Supo Mandagri masih berdiri sedikit tersenyum memandang kedua orang lelaki yang tengah bangkit berdiri sambil meringis menahan rasa sakit.

    “Apakah kalian tetap ingin membawaku ke tempat Ki Samban ?”, berkata Supo Mandagri kepada kedua orang lelaki itu.

    “jangan sombong, kamu hanya kebetulan saja dapat menjatuhkan kami”, berkata lelaki yang berperawakan sedang kepada Supo Mandagri.

    “Bagus, majulah kalian berdua. Mudah-mudahan masih kebetulan lagi aku dapat merobohkan kalian berdua”, berkata Supo Mandagri dengan sikap siap menghadapi serangan kedua lawannya itu.

    Nampaknya kedua lelaki itu sudah sepakat untuk menghajar anak muda yang telah menjatuhkan mereka, terlihat keduanya sudah bergerak maju.

    Lelaki yang berbadan tinggi besar sudah langsung mengayunkan pukulannya kearah dada Supo Mandagri. Bersamaan pula lelaki yang berperawakan sedang seperti terbang meluncurkan kakinya dari arah samping Supo Mandagri.

    Menghadapi dua serangan yang datang bersamaan itu tidak membuat Supo Mandagri gugup, terlihat dengan sangat tenang sekali Supo Mandagri memiringkan badannya dan maju selangkah menghindari pukulan lelaki bertubuh tinggi besar dan tendangan lelaki yang berperawakan sedang.

    Plakk !!

    Tangan Supo Mandagri telah bersarang di wajah lelaki yang bertubuh tinggi besar itu.

    Bukk !!

    Sikut Supo Mandagri telah bersarang di pangkal paha lelaki berperawakan sedang .

    Kembali kedua lawan Supo Mandagri terlempar jatuh ke tanah kotor. Nampaknya pukulan Supo Mandagri lebih keras dari sebelumnya telah membuat keduanya sangat sukar sekali untuk bangkit berdiri.

    Ternyata lelaki yang berperawakan sedang merasakan tulang pangkal pahanya seperti remuk patah, sementara lelaki bertubuh tinggi besar itu merasakan bumi tempatnya berpijak terasa bergoyang dan melihat sekelingnya dengan pandangan agak kabur.

    Tanpa berkata apapun, terlihat Supo Mandagri segera meninggalkan mereka berdua yang belum juga dapat berdiri di tempatnya.

    Setelah berjalan cukup lama memutar perbukitan berbatu, terlihat Supo Mandagri mengambil arah timur matahari. Nampaknya anak muda itu menghindari masuk kekotaraja Majapahit mengambil jalan langsung menuju Tanah Ujung Galuh.

    “Ki Samban mungkin telah menyebarkan orang-orangnya di Kotaraja Majapahit”, berkata Supo Mandagri dalam hati memutuskan untuk tidak memasuki Kotaraja Majapahit dan mengambil jalan lain untuk menuju ke arah Tanah Ujung Galuh.

  19. Suara debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh tak pernah sepi mengawani bulan terpotong yang belum tua di awal malam itu.

    Seperti biasa,disaat seperti itulah Gajahmada dan Nyi Nariratih datang kembali dari tugas-tugas mereka di istana Majapahit untuk pulang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.

    “Ada orang diatas panggung pendapa”, berkata Gajahmada kepada ibundanya ketika memasuki gapura puri pasanggrahannya.
    Gembira hati Gajahmada dan Nyi Nariratih manakala mengetahui bahwa orang diatas panggung pendapa itu adalah Supo Mandagri.

    “Syukurlah, kamu telah datang kembali”, berkata Gajahmada menyapa Supo Mandagri.

    “Banyak yang akan kuceritakan kepada kalian”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada dan Nyi Nariratih.

    Maka setelah bersih-bersih di pakiwan, terlihat Gajahmada dan Nyi Nariratih sudah bergabung kembali di pendapa untuk mendengar cerita dari Supo Mandagri.

    “Berapa kekuatan mereka yang kamu lihat saat itu”, berkata Nyi Nariratih kepada Supo Mandagri.

    “Sebanyak satu kesatuan pasukan yang ada di Kerajaan Majapahit”, berkata Supo Mandagri.

    “Berapa jarak tempuh dari tempat mereka menuju Kotaraja Majapahit ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Sekitar setengah hari perjalanan”, berkata Supo Mandagri.
    Namun perbincangan mereka terhenti manakala seorang pelayan wanita datang membawa hidangan malam untuk mereka.

    “terima kasih Bi Kusun, tolong minumannya ditambah untuk dua orang tamu”, berkata Nyi Nariratih kepada pelayan wanita itu.

    Ternyata dua orang tamu yang dimaksudkan itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman yang sudah beberapa malam itu selalu datang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.
    Benar saja, tidak lama kemudian kedua orang itu terlihat datang dan bergabung bersama di pendapa.

    Bukan main gembiranya Tumenggung MahesaSemu dan Adityawarman melihat Supo Mandagri telah hadir bersama mereka.

    “Aku berhasil keluardari sarang mereka”, bercerita kembali Supo Mandagri kepada Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman mulai dari awal hingga sampai akhir dapat berkumpul kembali di Tanah Ujung Galuh.

    Sementara itu suara debur ombak pantai tanah Ujung Galuh dan suara angin malam terus hadir menemani suasana diatas panggung pendapa puri Pasanggrahan Gajahmada.

    • Matur suwun Pak Dhalang

      Jika ada satu rontal lagi, kita sudah bisa buka gandok PKPM-11

      Nuwun

      • Menunggu….
        gandok PKPM-11 sudah siap, tinggal menunggu pengguntingan pita.

        • Cuma satu rontal, …..,……,…………… bagi Ki Dalang Kompor Sandilala, ….keciiiiiil. Suwun Ki Dalang

          • Suwun Ki Dalang……Ki Gembleh kemana yaa…😀

          • Hadiiiir Ki Sanepo….!
            Setelah mateg aji Rog Rog Asem baru bisa tembus masuk gandhok tercinta ini.
            Sudah sepuluh hari terhambat ajian Tameng Waja, tak bisa menchungul di gandhok ini.

          • He..?….tameng wajanya Ki Gembleh ga bisa mencungul ?

          • iya Ki SaN, tameng wajane ngambek, yang menchungul malah tombak wesi……..

  20. selalu sehat ki dalang… wass

  21. Lapor Ki Dhalang…..gembleh hadir……..
    Sepuluh hari dihalangi Kiageng WordPress…….

  22. Setelah mendengar penuturan Supo Mandagri, terlihat Tumenggung Mahesa Semu menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya seperti menahan amarah yang terpendam.

    “Kecurigaan pejabat bendahara Kerajaan ternyata terbukti, Ra Kuti telah menelikung pundi-pundi milik para brahmana, milik pura suci untuk kepentingan pribadinya membangun sebuah kekuatan baru di lembah perbukitan berbatu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kabarnya Raja jayanagara telah menyetujui permintaan Mahapatih Dyah Halayuda menurunkan kesatuan pasukan Jala Rananggana ke Tanah Lamajang”, berkata Gajahmada.

    “Kesetiaan kesatuan pasukan Jala Rananggana kepada kerajaan ini tidak dapat diragukan lagi, keputusan Raja Jayanagara hari ini ibarat melepaskan pedangnya sendiri, menyerahkan lehernya diujung pedang musuh”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kasihan Tumenggung Jala Rananggana harus di hadapkan oleh pilihan yang amat sangat sulit, harus berhadapan dengan besan dan anak menantunya sendiri, EmpuNambi dan Adipati Menak Koncar”, berkata Gajahmada.

    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat semua orang terdiam, membayangkan sebuah peperangan yang sangat memilukan hati antara besan, mertua dan anak menantu sendiri berada di dua kubu yang berbeda.

    “Itulah suasana yang diinginkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata Gajahmada mencoba memecahkan suasana kebisuan saat itu.

    “Nampaknya Empu Nambi sudah dapat memperhitungkan dari kesatuan mana yang akan diturunkan menghadapinya, mungkin itulah sebabnya telah melakukan penjarakan kepada setiap orang yang datang mendukungnya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Penjarakan ?”, berkata Supo Mandagri tidak mengerti maksud perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Maksudku, setiap prajuritnya mengenakan daun jarak sebagai pertanda kesetiannya,menjadikan daun jarak sebagai lambang perjuangan mereka sebagaimana para prajurit Majapahit yang memakai lambang gula kelapa di atas kepalanya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menjelaskan makna penjarakan kepada Supo Mandagri.

    “Menurutku lambang penjarakan adalah sebuah isyarat yang sengaja disampaikan kepada kita oleh EmpuNambi”, berkata Gajahmada.

    “Isyarat apa yang ingin disampaikan oleh Empu Nambi kepada kita ?”, bertanya Adityawatman.

    “Isyarat bahwa Ra Kuti memanfaatkan suasana kekosangan kekuatan di istana Majapahit. Gabungan kesatuan pasukan Jala Pati yang sudah dalam kendali Ra Kuti dan pasukannya sendiri dilembah perbukitan berbatu itu akan mudah menguasai istana Majapahit, mungkin inilah sebabnya Empu Nambi melarang kita bergabung bersamanya, berharap kita dapat menjadi benteng pertahanan terakhir di istana Majapahit ini”, berkata Gajahmada mencoba membaca isyarat dari Empu Nambi kepada mereka.

    • Suwun Ki Dalang, tumben cuma satu lontar ? Belum bisa untuk mengawali gandok baru dengan rontal baru.

    • Suwun Pak Dhalang

      ngaputen baru baca.
      gandok PKPM-10 ditutup nanti malam nggih.

      Meskipun demikian, gandok PKPM-11 sudah siap menampung luberan rontal dari Situ Cipondoh kok.

      Monggo…..

    • Kamsiiiaaaaa Pak Dhalang……

  23. mantaaap ki. suwun

  24. di sentong kiri, saya menemukan kata “memproklamirkan”… biar lebih afdol, ada baiknya diganti dengan “menyatakan diri”.

    nuwun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: