PKPM-10

PARA KSATRIA PENJAGA MAJAPAHIT

Karya : Ki Arief “Sandilaka” Sujana

Jilid 10

Sentong kiri

KAKANG Tumenggung Mahesa Semu mungkin dapat menyampaikannya lebih jelas lagi”, berkata Gajahmada sambil memalingkan wajahnya kearah Tumenggung Mahesa Semu.

Terlihat Tumenggung Mahesa Semu menarik nafas dalam-dalam seperti mencoba mengurangi ketegangan hatinya.

“Kami datang bertiga bukan atas perintah siapapun, tapi kami datang ke Tanah Lamajang ini demi kecintaan kami kepada Empu Nambi yang telah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri”, berkata Tumenggung Mahesa Semu memulai pembicaraannya.

Mendengar perkataan Tumenggung Mahesa Semu, terlihat Adipati Menak Koncar langsung memalingkan wajahnya kearah Empu Nambi, merasa bahwa ada hal yang sangat penting berkaitan dengan ayahandanya itu.

“Istana Majapahit tengah tertutup awan hitam, Raja Jayanagara nampaknya sudah terperosok dalam lubang jebakan yang sangat dalam, sudah terperangkap dalam genggaman tangan gurita penghasutnya, hingga lebih mempercayai orang lain ketimbang kami bertiga”, berkata kembali Tumenggung Mahesa Semu dan berhenti sebentar sambil memandang kearah Empu Nambi.

“Apa yang terjadi di istana Majapahit sepeninggalku ?”, bertanya Empu Nambi sudah mulai tidak dapat menahan keingintahuannya.

“Berita mengenai Empu Nambi sendiri, tersebar berita bahwa Empu Nambi telah membunuh empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu dengan tatapan masih kearah Empu Nambi.”Inilah yang membawa kami bertiga ke Tanah Lamajang ini, ingin meminta penjelasan dari Empu Nambi sendiri apa sebenarnya telah terjadi atas diri keempat puluh prajurit Majapahit itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Empu Nambi.

“Aku sudah menduga bahwa keempat puluh prajurit itu adalah umpan jebakan mereka”, berkata Empu Nambi sambil bercerita dari awal perjalanannya hingga akhirnya bertemu dengan keempat puluh prajurit Majapahit yang menghadangnya itu.

“Kami bertiga tidak meragukan sedikitpun keterangan Empu Nambi, sebagaimana pernah kami sampaikan juga kepada Raja Jayanagara bahwa Empu Nambi tidak mungkin melakukan hal buruk itu, membunuh empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.” namun Raja Jayanagara tetap bersikeras untuk dapat membawa dan mengadili Empu Nambi di Kotaraja Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

“Patih Mahesa Amping, Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan sekarang akulah yang ingin mereka singkirkan dari istana. Sementara Raja Jayanagara masih begitu muda untuk mengenal mana kawan dan mana lawan, mana emas dan mana tembaga. Mungkin inilah saatnya aku akan mengingatkannya dengan senjataku sendiri agar terbuka mata hatinya”, berkata Empu Nambi.

“kami bertiga juga tidak akan merelakan Empu Nambi menyerahkan diri, masuk dalam jeratan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

“Aku akan berdiri disamping ayahku, meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara”, berkata Adipati Menak Koncar.

“Aku Gajahmada, akan berada bersama Empu Nambi”, berkata Gajahmada sambil membusungkan dadanya.

“Aku Adityawarman, akan berada bersama Empu Nambi”, berkata pula Adityawarman.

“Aku Mahesa Semu, berdiri bersama Empu Nambi”, berkata pula Tumenggung Mahesa Semu.

“Tumenggung Mahesa Semu, angger Gajahmada dan Adityawarman, tempat kalian adalah di istana Majapahit. Siapa lagi yang dapat kupercaya menjaga kerajaan Majapahit ini selain kalian bertiga. Bila aku mengangkat senjata, bukanlah memerangi Kerajaan Majapahit, tapi aku memerangi kebusukan di dalam istana Majapahit saat ini. Aku mengangkat senjata untuk mempertahankan kepalaku sendiri, mempertahankan keadilan untuk diriku sendiri. Kembalilah kalian ke istana, dimana aku akan merasa tentram bahwa masih ada tiga orang ksatria yang dapat kupercaya menjaga bumi Majapahit ini. Firasatku mengatakan bahwa aku bukan tumbal terakhir yang mereka butuhkan. Bila kalian bertiga berdiri bersamaku akan menggembirakan hati mereka menyapu bersih duri-duri yang menghalangi hasrat dan keinginan mereka menguasai tahta singgasana Majapahit ini”, berkata Empu Nambi.

Suasana diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang seketika menjadi begitu hening, semua orang di dalamnya seperti telah terperangkap di dalam kebisuan hatinya, terperangkap didalam alam pikirannya masing-masing.

“Kembalilah ke istana Majapahit selagi tidak seorang pun mengetahui keberpihakan kalian kepadaku. Mereka pasti akan membuat rencana yang lebih besar lagi, buka mata kalian untuk dapat meyakinkan siapa orang yang telah menyebarkan badai disekitar bahtera Majapahit ini. Himpunlah kekuatan baru yang bersih agar kalian mampu mengusir sang badai menyelamatkan bahtera singgasana tahta Majapahit ini”, berkata kembali Empu Nambi kepada Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

“Kami akan menjaga amanat dan pesan Patih Amangkubumi. Kita memang harus berpikir jernih tidak mengandalkan kekeruhan perasaan hati. Kami akan selalu menjaga dan mencintai bumi Majapahit ini sebagaimana Empu Nambi pernah menjaga dan mencintainya. Ijinkan dan restui keberangkatan kami malam ini juga kembali ke kotaraja Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mewakili kedua kawannya, Gajahmada dan Adityawarman.

“Terima kasih untuk kesadaran hati kalian, kecintaan dan kesetiaan kalian kepadaku tidak kusangsikan lagi, tapi lebih utama kejernihan hati agar kita tidak masuk perangkap musuh. Itulah kejernihan hati dan pikiran seorang ksatria utama di dalam sebuah peperangan dan di pertempuran dimanapun. Kurestui kalian berangkat malam ini juga. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan kepada kita semua”, berkata Empu Nambi kepada Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

Terlihat semua yang berada diatas pendapa istana kadipaten Lamajang itu berdiri, saling berpelukan sebagai ungkapan perpisahan yang sangat memilukan hati itu.

Angin dingin malam berdesir, remang pelita malam yang tergantung diatas pendapa istana kadipaten mengiringi tiga ksatria yang terlihat menuruni anak tangga pendapa, menghilang di kegelapan malam.

Hari ke tiga belas setelah upacara pengabuan Ki Banyak Wedi. Sehari setelah upacara Makelud di Kademangan Randu Agung Kadipaten Lamajang.

Dan pagi itu terlihat Empu Nambi dan putranya, Adipati Menak Koncar tengah duduk bersama di pendapa agung istana kadipaten ditemani seorang prajurit perwira tinggi yang menjadi pimpinan rombongan Empu Nambi ketika berangkat dari Kotaraja Majapahit.

“Ampun tuanku Adipati, ada seorang tamu dari Kotaraja Majapahit ingin bertemu dengan Ki Patih Amangkubumi”, berkata seorang prajurit pengawal Kadipaten yang baru saja naik ke pendapa menghadap Adipati Menak Koncar.

“Apakah tamu itu menyebutkan jati dirinya ?”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawalnya.

“Tamu itu menyebut namanya sebagai Rangga Umbaran”, berkata prajurit pengawal itu.

“Antarkan tamu itu ke pendapa ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawalnya.

Tidak lama berselang prajurit itu telah kembali bersama seseorang prajurit perwira tinggi Majapahit, bernama Rangga Umbara.

Ternyata perwira tinggi dari Majapahit yang baru datang itu sudah dikenal oleh Empu Nambi.

“Nampaknya ada masalah yang sangat penting sekali dari istana Majapahit, sehingga harus mengutus seorang Rangga Umbaran”, berkata Empu Nambi kepada tamu yang sudah dikenalnya itu.

“Dalam perjalanan dari Kotaraja Majapahit hingga di Tanah Lamajang ini, di kepalaku dipenuhi kebimbangan hati, begitu berat kurasakan tugas yang ku emban ini”, berkata Rangga Umbaran dengan suara penuh keraguan hati.

“katakanlah wahai Rangga Umbaran, aku mengenalmu sangat lama sebagai prajurit yang paling tangkas dan paling berani di kesatuanku ketika kita sama-sama berendam setengah hari penuh di sungai Kalimas menunggu dan menyergap perahu-perahu perang prajurit Mongol”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran yang ternyata pernah menjadi bawahan langsung Empu Nambi dalam peperangan menghancurkan para prajurit Mongol.

“Aku memang telah mengenal Ki Patih Amangkubumi begitu lama, aku mengenal betul bagaimana cinta kasih dan pembelaan Ki Patih Amangkubumi kepada kami para prajurit Majapahit dalam suka dan duka, dimasa-masa sulit dan dimasa-masa kemenangan”, berkata Rangga Umbaran masih belum mampu mengutarakan maksud kedatangannya itu.

“katakanlah wahai Rangga Umbaran, meski mungkin sangat pahit untuk diriku”, berkata Empu Nambi dengan senyum seorang ayah kepada putranya.

Terlihat Rangga Umbaran menarik nafas panjang seperti ingin meredam kebimbangan hatinya.

“Bilasaja ada tugas yang sangat berat seperti memenggal kepala seekor naga terbang, aku akan melakukannya. Namun hari ini aku ditugaskan jauh lebih berat dari itu, hari ini aku ditugaskan membawa Ki Patih Amangkubumi kembali ke Kotaraja Majapahit, dengan sukarela atau dengan cara paksa, hidup atau mati”, berkata Rangga Umbaran langsung menundukkan kepalanya seperti berat menegakkan kepalanya memandang wajah Empu Nambi.
Melihat hal demikian, Empu Nambi menjadi kasihan kepada mantan prajurit bawahannya itu.

“Rangga Umbaran, tegakkan kepalamu. Jangan kecewakan diriku telah mendidikmu sebagai seorang prajurit”, berkata Empu Nambi dengan sikap keras dan tegas seperti seorang atasan kepada prajurit bawahannya.

Perlahan Rangga Umbaran menegakkan kembali kepalanya.

“Laksanakan tugasmu sebagai seorang prajurit, pertanyaanku dengan cara apa kamu akan membawaku ke Kotaraja Majapahit

“Aku membawa tiga ribu prajurit Majapahit, saat ini telah berada di perbatasan Kota Kadipaten Lamajang”, berkata Rangga Umbaran kepada Empu Nambi.

“Pertanyaanku yang kedua, atas dasar apa kamu ditugaskan membawaku dengan sukarela atau dengan paksa, hidup atau mati ?”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

“Ki Patih Amangkubumi harus bertanggung jawab atas kematian empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Rangga Umbaran telah melupakan rasa sungkan dan kebimbangan hatinya.

“Rangga Pamandana, kamu ada bersamaku dari Kotaraja Majapahit hingga di Tanah Lamajang ini, ceritakanlah apa yang kamu ketahui dalam perjalanan itu bersamaku”, berkata Empu Nambi kepada seorang perwira tinggi yang selalu ada bersamanya yang bernama Rangga Pamandana itu.

Terlihat Rangga Pamandana langsung bercerita didengar oleh Rangga Umbaran dengan penuh seksama mengenai peristiwa penghadangan empat puluh orang prajurit di sekitar Kademangan Japan.

“Itulah cerita dariku tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi di sekitar Kademangan Japan”, berkata Rangga Pamandana mengakhiri ceritanya.

“Rangga Umbaran, pendapa ini bukan Bale yaksa, bukan tempat persaksian benar dan salah, tapi setidaknya kamu telah mendengar peristiwa ini dari kami. Kembalilah kamu kepada pasukanmu, besok pagi aku akan datang sendiri ke perbatasan kota Kadipaten”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

“Terima kasih, ijinkan aku kembali ke pasukanku”, berkata Rangga Umbaran mohon pamit diri.

“Rangga Umbaran, aku bangga denganmu”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa istana Kadipaten Lamajang.

Di ujung anak tangga terakhir, terlihat Rangga Umbaran berbalik badan.

“Mohon doa restu Ki Patih Amangkubumi”, berkata Rangga Umbaran dengan penuh rasa hormat merangkapkan kedua tangannya di depan dadanya.

Empu Nambi masih memandang punggung mantan prajurit bawahannya itu dengan senyumnya yang selalu menghiasi wajahnya hingga Rangga Umbaran sudah semakin menjauh menuju gerbang istana kadipaten Lamajang.

“Ayahanda akan menyerahkan diri di bawa ke kotaraja Majapahit ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.
“Aku hanya mengatakan akan datang menemui pasukannya di perbatasan kota kadipaten”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

“Aku tidak akan membiarkan ayahanda menghadapi tiga ribu prajurit Majapahit seorang diri, aku akan membawa para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang berdiri disisi ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar seperti dapat membaca apa yang dilakukan oleh ayahandanya, tidak akan menyerahkan dirinya dibawa ke Kotaraja Majapahit untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.

“Ki Patih Amangkubumi, hari ini aku telah melihat sendiri sebuah kebusukan, ketidak adilan dan kesewenang-wenangan, aku akan berada disisi Ki Patih Amangkubumi meski harus melepaskan segala lencanaku sebagai seorang prajurit Majapahit”, berkata Rangga Pamandana telah berikrar diri berada di belakang Patih Amangkubumi.

“Wahai putraku, wahai Rangga Pamandana. Seorang ksatria utama adalah yang mau melepaskan segala lencananya, segala pangkat dan jabatannya, berani melawan arus, berani berseberangan demi menegakkan kebenaran demi menegakkan panji keadilan di tangannya. Sejarah adalah hakim keadilan yang paling jujur mencatat perjalanan setiap manusia, mencatat jiwa kepahlawanan, mencatat jiwa keculasan, mencatat sisi hitam dan putihnya setiap jiwa. Banggakanlah anak dan cucu kita bahwa leluhur mereka adalah para ksatria utama yang selalu membawa pedang di tangan kanannya, membawa panji kebenaran di tangan kirinya. Tali kekang kudanya adalah tali ikatan kendali suci yang bercahaya terang benderang di dalam mata hatinya yang akan membawanya berjalan lurus membelah pasukan angkara”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.

“Tutur Ki Patih Amangkubumi adalah pusaka yang akan kusimpan dan kujaga, sebagai pusaka hati yang selalu menghadirkan keberanian di dalam jiwaku”, berkata Rangga Pamandana dengan penuh rasa hormat dan haru.

“Tutur ayahanda, menjadi pusakaku”, berkata pula Adipati Menak Koncar penuh haru dan hormat dihadapan ayahandanya itu.

“Mulai besok, aku bukan lagi seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit, aku hanya seorang manusia biasa yang tidak akan menyerahkan kepalaku sendiri. Mulai besok aku akan mengikrarkan diriku berada berseberangan dengan penguasa angkara. Inilah amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepadaku, menjaga bumi Majapahit ini meski dengan cara membasahi pedangku ini dengan darah putra mahkotanya, Raja Jayanagara”, berkata Empu Nambi mengikrarkan dirinya.

Hari itu masih di bulan kelima tahun saka, candranya pancuran emas menyirami dunia.

Dan beberapa orang lelaki yang tengah memperbaiki saluran air untuk sawah mereka terlihat berhenti bekerja manakala sebuah iring-iringan pasukan besar melintas di jalan utama menuju perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

Ternyata mereka adalah para prajurit pengawal Kadipaten Lamajang yang tengah mengiringi Empu Nambi menyongsong pasukan Majapahit di perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

Di barisan terdepan terlihat Empu Nambi diatas punggung kudanya diapit oleh Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.

Akhirnya iring-iringan pasukan besar itu terlihat sudah mendekati gapura perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

“Jumlah pasukan kita sepadan dengan jumlah mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahandanya ketika mereka telah keluar dari perbatasan kota Kadipaten dan melihat pasukan prajurit Majapahit berjajar memenuhi sebuah padang ilalang yang cukup luas.

“Berhenti!!”, berteriak Adipati Menak Koncar memberi perintah kepada pasukannya ketika jarak dengan pasukan prajurit Majapahit sekitar empat tumbak.

“Aku akan berbicara dengan mereka”, berkata Empu Nambi yang telah melihat Rangga Umbaran di kawal oleh lima orang prajuritnya bergerak maju ke depan dan berhenti di tengah-tengah dua pasukan itu.

Terlihat Empu Nambi telah menghentakkan kakinya di perut kudanya memberi isyarat agar berjalan. Tidak sebagaimana Rangga Umbaran yang dikawal oleh lima orang prajuritnya, sementara Empu Nambi hanya di temani oleh Rangga Pamandana.

“Selamat berjumpa kembali, wahai Empu Nambi”, berkata Rangga Umbaran kepada Empu Nambi yang telah datang menghampirinya.

“Aku datang sesuai dengan janjiku, apakah kamu akan tetap melaksanakan tugasmu, membawaku dengan paksa atau sukarela, hidup atau mati?”, bertanya Empu Nambi masih dengan senyum penuh persahabatan kepada Rangga Umbaran.

“Di belakang Empu Nambi ada sebuah pasukan besar yang sebanding dengan jumlah pasukan yang kubawa”, berkata Rangga Umbara kepada Empu Nambi.

“Aku mengenalmu cukup lama, wahai Rangga Umbaran. Seandainya aku datang dengan jumlah dua kali lipat dari saat ini, pasti tidak akan mempengaruhi keberanianmu”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

“Empu Nambi yang menghidupkan keberanian itu, menciptakan para prajurit pejuang di Kerajaan Majapahit ini. Dan setengah dari mereka itu saat ini ada bersamaku”, berkata Rangga Umbaran.

Terlihat Empu Nambi tersenyum pahit mendengar bahwa setengah dari prajurit itu adalah prajurit asuhannya sendiri.

“Tak dapat kubayangkan menghadapi pedang-pedang mereka, aku atau mereka yang terluka adalah sama-sama sangat menyakitkan hati”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

“Tidak akan seperti yang akan Empu Nambi bayangkan”, berkata Rangga Umbaran sambil tersenyum.

Sementara itu para pasukan prajurit pengawal Kadipaten Lamajang terlihat begitu tegang, telapak tangan mereka terlihat telah mulai basah untuk kesekian kalinya meraba gagang pedang masing-masing sambil membayangkan sebuah pertempuran akan segera terjadi memenuhi padang ilalang yang sangat luas itu.

Terlihat dada para pasukan prajurit pengawal Kadipaten Lamajang berdebar kencang manakala telah melihat Rangga Umbaran telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

Para prajurit pengawal kadipaten Lamajang, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi, semuanya mengira bahwa tindakan Rangga Umbaran adalah pertanda kepada pasukannya untuk mempersiapkan dirinya menghadapi sebuah pertempuran.

Namun ternyata persangkaan semuanya jauh dari yang dibayangkan, karena tidak ada gerakan apapun dari para prajurit Majapahit yang telah melihat pertanda yang diberikan oleh Senapati perang mereka, Rangga Umbaran.

Para pasukan prajurit pengawal Kadipaten, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi tidak melihat adanya sebuah persiapan apapun dari para prajurit Majapahit, hanya mereka mendengar suara yang sangat lantang sekali berasal dari tengah-tengah pasukan prajurit Majapahit.

“Wahai para prajurit yang pernah menghadapi pertempuran di hutan Simpang menghadapi Raja Jayakatwang, pantaskah pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi?, pantaskah kita masih berdiri berseberangan dengan Empu Nambi?”, terdengar suara amat lantang dari tengah-tengah pasukan Majapahit.

Para pasukan prajurit pengawal Kadipaten, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi telah melihat sekitar lima ratus orang prajurit Majapahit telah bergerak maju kedepan.

“Panji Anengah”, berkata Empu Nambi dalam hati mengenal prajurit terdepan diantara prajurit yang tengah bergerak maju itu.

Terlihat Empu Nambi menarik nafas panjang manakala para prajurit Majapahit itu terus bergerak memutar tepat berada di belakang Empu Nambi.

Kembali terdengar suara lantang di tengah-tengah para prajurit Majapahit.

“Wahai para mantan prajurit perang senyap yang pernah bersembunyi di sekitar hutan Gelang-gelang, pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi?”, terdengar suara lantang itu.

“Panji Samara”, berkata Empu Nambi dalam hati mengenal prajurit terdepan yang bergerak maju.

Sebagaimana rombongan pertama, rombongan kedua juga telah bergerak dan memutar arah berada tepat di belakang Empu Nambi.

Kembali terdengar suara yang lantang terdengar kembali dari tengah-tengah pasukan prajurit Majapahit.

“Wahai para prajurit utama, pembuka hutan Maja. Pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi?”, begitu suara lantang itu terdengar.

“Panji Wiranagari”, berkata Empu Nambi mengenal prajurit Majapahit yang berada terdepan diantara para prajurit Majapahit yang telah bergerak maju.

Sebagaimana rombongan pertama dan kedua, rombongan ketiga itu juga terus bergerak maju dan berputar arah tepat dibelakang Empu Nambi.

Terlihat Rangga Umbaran tersenyum memandang wajah Empu Nambi yang masih belum dapat mengerti mengapa setengah dari pasukan prajurit Majapahit itu telah berpindah arah berpihak kepadanya.

“Semalam aku telah bercerita kepada semua prajuritku apa yang sebenarnya terjadi atas di Empu Nambi saat ini. Aku tidak mempengaruhi apapun, pilihan kuserahkan kepada para prajuritku sendiri”, berkata Rangga Umbaran masih sambil mengumbar senyumnya.

Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam, berusaha menekan keharuannya melihat keberpihakan para prajurit Majapahit yang sebagian besar para pejuang utama yang bersama-sama bahu-membahu dalam suka dan duka mendirikan Kerajaan Majapahit ini.

“Empu Nambi pernah mengatakan kepadaku, bahwa seorang ksatria utama adalah yang mampu melawan arus, yang berani berseberangan. Bahwa seorang ksatria utama harus melihat bukan dengan perasaan hatinya, tapi dengan kejernihan pikirannya. Nampaknya kejernihan pikiranku mengatakan bahwa hari ini pasukanku kalah banyak dengan pasukan yang berada di belakang Empu Nambi”, berkata Rangga Umbaran sambil masih mengumbar senyumnya dan perlahan bergerak membalikkan arah badan kudanya dan langsung melangkah perlahan meninggalkan Empu Nambi diikuti oleh kelima pengawalnya.

“Rangga Umbaran”, berkata Empu Nambi.

Mendengar namanya dipanggil, terlihat Rangga Umbaran menghentikan langkah kudanya dan memalingkan wajahnya kearah Empu Nambi.

“Aku bangga denganmu, ternyata kamu memang prajurit paling berani yang pernah kukenal”, berkata Empu Nambi dengan suara agak keras karena jaraknya dengan Rangga Umbaran sudah cukup jauh.

Terlihat Rangga Umbaran tidak berkata apapun selain mengumbar senyumnya sambil melambaikan tangannya kearah Empu Nambi dan langsung menghentakkan kudanya berjalan kearah pasukannya.

Juntai ujung bunga ilalang merunduk terhembus angin, pasukan prajurit Majapahit yang tersisa terlihat telah semakin jauh meninggalkan batas kota Kadipaten Lamajang.
“Mari kita kembali”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

Terlihat iring-iringan pasukan prajurit telah memasuki gapura batas kota Kadipaten Lamajang. Langkah kaki mereka seperti mendendangkan suara hati mereka, langkah kegembiraan hati untuk segera bertemu keluarga, istri dan kekasih tercinta.

“Pakde Kliwon, apakah mataku tidak salah melihat?, mereka kembali dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya”, berkata seorang lelaki muda yang tengah memperbaiki saluran air kepada lelaki tua didekatnya.

“Kamu benar, jumlah mereka memang bertambah banyak”, berkata lelaki yang dipanggil Pakde Kliwon itu.

Saat itu musim hujan memang sudah datang mengguyur bumi Lamajang, para petani tengah memperbaiki saluran air di sawah mereka yang telah ditebarkan bibit benih padi gaga. Namun manakala melihat iring-iringan pasukan prajurit melewati jalan utama yang membelah persawahan, mereka langsung berhenti bekerja menundukkan kepala serta merangkapkan kedua telapak tangannya didepan dadanya sebagai penghormatan kepada Adipati Menak Koncar dan pasukannya.

Sementara itu sang surya belum sempurna berdiri di puncak cakrawala langit. Gugusan pegunungan Semeru, Bromo dan Tengger seperti raksasa biru yang masih rebah tertidur menjaga bumi Lamajang yang damai, guyup dan sejahtera.

“Nampaknya kita harus segera membangun barak-barak sementara untuk para prajurit Majapahit yang telah bergabung bersama kita”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahandanya, Empu Nambi.

“Juga ransum selamat datang untuk mereka”, berkata Empu Nambi sambil tersenyum kepada Adipati Menak Koncar.

Demikianlah, pada hari itu para pelayan dalem istana Kadipaten Lamajang terlihat begitu sibuk menyiapkan masakan lebih banyak lagi untuk para prajurit Majapahit yang baru bergabung itu.

Sementara itu, di pendapa istana Kadipaten, terlihat Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Rangga Pamandana, Panji Samara, Panji Anengah dan Panji Wiranagari tengah duduk merundingkan berbagai rencana menghadapi sikap kemarahan istana Majapahit yang tidak berhasil membawa paksa Empu Nambi, serta pembangkangan para prajuritnya sendiri yang telah bergabung mendukung perjuangan Empu Nambi.

“Aku memang tidak berhasil dibawa menghadapi pengadilan dagelan mereka, namun mereka telah menang satu langkah lebih maju, telah dapat menyingkirkan ku dari lingkungan istana Majapahit. Entah siapa lagi yang akan mereka singkirkan setelah diriku ini”, berkata Empu Nambi diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang.

Semua orang yang hadir di atas pendapa itu seperti tengah berpikir dan merenungi perkataan Empu Nambi, mulai meraba siapa sebenarnya pelakon yang menyebarkan awan badai di sekitar istana Majapahit itu. Suasana diatas pendapa itu sejenak menjadi hening, senyap membisu.

“Ibarat mandi, kita sudah kadung basah kuyup. Selama ini ayahanda telah banyak berperan mengendalikan roda pemerintahan di Kerajaan Majapahit ini, ayahanda juga punya hubungan yang sangat luas dengan para saudagar besar dari berbagai pelosok nagari. Aku putramu akan menyerahkan Tanah Lamajang ini kepada ayahanda sebagai sebuah wilayah yang berdaulat terlepas dari Kerajaan Majapahit”, berkata Adipati memecahkan suasana hening diatas pendapa itu.

Semua mata terlihat memandang kearah Empu Nambi yang masih terdiam dengan sorot mata lurus ke arah dua pohon beringin kembar yang tumbuh tinggi menjulang di tengah lapangan alun-alun.

“Aku setuju dengan usulan Adipati Menak Koncar, bukankah Empu Nambi saat ini masih diakui sebagai Mahaguru suci di persekutuan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa?, Empu Nambi dapat menggalang kekuatan yang sangat besar yang datang dari setiap padepokan-padepokan mereka”, berkata Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

Kembali semua mata terlihat beralih memandang kearah Empu Nambi yang masih terdiam dengan sorot mata lurus kearah dua pohon beringin kembar yang tumbuh tinggi menjulang di tengah lapangan alun-alun. Nampaknya semua orang di atas pendapa itu berharap Empu Nambi memberikan tanggapan kesediaannya, menerima usulan Adipati Menak Koncar dan Panji Wiranagari itu.

Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam-dalam, semua orang seperti menahan nafasnya ingin mendengar tutur kata dan sikap dari Empu Nambi sendiri.

“Kalian tengok dua pohon beringin kembar itu, seperti itulah aku dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Kami telah bertekad yang sama, berikrar yang sama untuk membesarkan kerajaan Majapahit ini menjadi sebuah bahtera sang dewa Siwa yang terang benderang mengarungi lautan samudera malam yang luas, memerdekakan setiap manusia dalam kesetaraan, kemandirian dan kemakmuran bersama di muka bumi ini. Sementara Bahtera itu sudah jauh bergerak meninggalkan dermaganya. Bila hari ini aku mendirikan sebuah kerajaan baru di Tanah Lamajang ini yang terlepas dari kedaulatan Majapahit Raya, itu adalah pengingkaran atas tekad dan ikrarku, mendustakan hati nurani sendiri. Memproklamirkan sebuah kerajaan baru di Tanah Lamajang ini akan menjadi sebuah contoh yang buruk, karena dapat dipastikan beberapa wilayah akan melakukan yang sama, memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya. Pemberontakan muncul dimana-mana, peperangan berkobar tak pernah dapat diselesaikan. Lautan pengungsian, kemelaratan dan penderitaan menjadi sebuah pemandangan ke sehari-harian. Dan bahtera Kerajaan Majapahit akan menghilang hanyut tergulung badai”, berkata Empu Nambi dan mengakhirinya dengan menarik nafas dalam-dalam sambil masih memandang kearah dua pohon beringin kembar yang tumbuh rindang meneduhi tanah lapang alun-alun.

Semua orang diatas pendapa itu seperti terbelenggu oleh pemikiran Empu Nambi, memahami makna sikap dan pendirian Empu Nambi yang begitu kuat, kokoh mengakar mencengkeram bumi.

Dan sang surya pun terus bergerak menggenapi titah suci keberadaannya., menyempurnakan hari.

Seiring pergantian siang dan malam, benih padi yang ditebar di sawah terlihat terus tumbuh, sumber air yang melimpah di awal musim penghujan itu telah menyuburkan tanah persawahan.

Dan berita tentang Empu Nambi dan pembelotan para prajurit Majapahit telah tersebar hingga di bumi Blambangan, juga di hampir seluruh padepokan yang berada dalam persekutuan perguruan Teratai Putih di sepanjang Jawadwipa dan Balidwipa.

Banyak sekali para utusan dari padepokan-padepokan yang telah menyampaikan sikap dukungannya kepada Empu Nambi.
“Katakan kepada para ketua kalian rasa terima kasihku yang tak terhingga atas sikap dukungannya. Katakan kepada ketua kalian bahwa yang aku lakukan saat ini hanya sekedar menjaga sepenggal kepalaku yang sudah tua ini”, berkata Empu Nambi kepada para utusan itu.

Sementara itu yang paling keras sikapnya atas peristiwa yang menimpa Empu Nambi adalah Adipati Menak Jingga, dengan sangat beraninya telah mengusir para pejabat perwakilan dagang Kerajaan Majapahit yang berada di beberapa Bandar pelabuhan di wilayah Blambangan. Sikap penguasa Blambangan itu di dukung penuh oleh para saudagar kaya yang selama ini terhambat gerak mereka oleh berbagai aturan Kerajaan Majapahit. Letak Blambangan yang menjadi jembatan jalur perdagangan beberapa kepulauan sebelah timur Jawadwipa ini memang merupakan sebuah jalur emas perdagangan yang sangat menggiurkan.

Sikap penguasa Blambangan inilah yang sengaja diputar balikkan oleh Empu Dyah Halayuda sebagai sebuah pembangkangan, sebuah penodaan wibawa Raja Jayanagara sebagai keturunan titisan para dewata.

“Empu Nambi telah menghasut kedua putranya, menghasut beberapa kesatuan prajurit Majapahit untuk melakukan pembangkangan, tidak lagi menghormati kesucian Baginda Raja Jayanagara sebagai keturunan titisan para dewata. Titahkan hamba untuk memangku jabatan Patih Amangkubumi, agar hamba dapat membangun kekuatan baru di Kerajaan Majapahit ini, para prajurit yang setya, sadu dan tuhu. Dan hamba berjanji akan membawa kepala Empu Nambi di istana Majapahit ini, sebagai pengajaran besar kepada semua orang bahwa itulah ganjaran kepada seseorang yang telah menodai kesucian seorang raja titisan para dewata”, berkata Dyah Halayuda kepada Raja Jayanagara.

“Aku yakin dan percaya atas kemampuan Empu Halayuda, hari ini juga aku akan memanggil Ki Kanuruhan Jangga untuk menyiapkan penobatan Empu Dyah Halayuda memangku jabatan Patih Amangkubumi”, berkata Raja Jayanagara kepada Dyah Halayuda.

Bukan main gembiranya Empu Dyah Halayuda mendengar perkataan Raja Jayanagara, angannya seperti terbang membumbung keatas langit.

“Tercapai sudah segala citaku, akhirnya aku mendapatkan impianku. Akulah penguasa kerajaan Majapahit ini, bukan anak muda lemah ini”, berkata Empu Dyah Halayuda dalam hati.

Delapan puluh delapan hari setelah penobatan Empu Dyah Halayuda sebagai Mahapatih di Kerajaan Majapahit.

Hampir semua orang menertawakan Mahapatih baru itu, karena telah memerintahkan seribu orang prajurit Majapahit untuk melakukan sebuah penyerangan ke Tanah Lamajang dalam waktu dekat itu.

“Apakah Mahapatih baru itu tidak belajar dari pengalaman, tiga ribu prajurit dibawah pimpinan Rangga Umbara kembali dengan tangan hampa, sekarang Mahapatih baru itu telah memerintahkan hanya dengan seribu prajurit, dasar orang bodoh”, berkata seorang pejabat tinggi istana memperbincangkan masalah penyerangan ke Tanah Lamajang itu.

Benarkah Mahapatih Empu Dyah Halayuda orang bodoh sebagaimana persangkaan kebanyakan orang disaat itu?

Mungkin semua orang mengatakan hal serupa sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pejabat tinggi di istana Majapahit, tapi tidak bagi Tumenggung Mahesa Semu yang punya jaringan sandinya, seorang pejabat bendahara kerajaan.

Dari pejabat bendahara kerajaan itu, Tumenggung Mahesa Semu telah mendapat berita bahwa Mahapatih Dyah Halayuda dua pekan yang lalu telah menyiapkan persediaan pangan untuk enam ribu pasukan selama sembilan puluh hari perjalanan yang ditempatkan di sebuah bahtera perahu besar.

“Seribu prajurit yang dikirim oleh Mahapatih adalah sebuah pengalihan perhatian agar persediaan pangan enam ribu prajurit yang diangkut dengan sebuah bahtera perahu besar dapat aman tiba di sebuah pantai yang tersembunyi di sekitar pantai Pasuruan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mencoba menafsirkan berita dari pejabat bendahara kerajaan kepada Adityawarman.

“Mahapatih Dyah Halayuda tidak sebodoh yang orang lain perkirakan”, berkata Adityawarman mengakui kecerdikan siasat Mahapatih Dyah Halayuda itu.

“Hari ini aku akan mengirim seorang utusan ke Tanah Lamajang”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

Demikianlah, pada hari itu juga terlihat seorang penunggang kuda keluar dari gerbang gapura batas kotaraja Majapahit, menembus keremangan di ujung batas senja.

Penunggang kuda itu adalah seorang utusan Tumenggung Mahesa Semu yang akan menuju ke Tanah Lamajang untuk menyampaikan sebuah berita penting kepada Empu Nambi.

Sementara itu, keesokan harinya terlihat seribu prajurit Majapahit tengah menaiki sebuah bahtera perahu besar yang bersandar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

“Kasihan para prajurit itu, menjadi korban kebodohan Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata seorang saudagar besar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh kepada kawannya yang melihat seribu prajurit Majapahit tengah menaiki sebuah bahtera perahu besar.

“Raja Jayanagara telah salah memilih Mahapatih nya”, berkata kawan saudagar besar itu.

Sementara itu di waktu yang sama di istana Kadipaten Lamajang, terlihat seorang penunggang kuda telah turun dari kudanya tepat didepan pintu gerbang istana Kadipaten.

“Aku ingin bertemu dengan Empu Nambi”, berkata lelaki penunggang kuda itu kepada seorang prajurit pengawal.

“Apakah Empu Nambi mengenalmu?”, berkata prajurit pengawal kepada lelaki itu.

“Namaku Ki Bancak, katakan kepada Empu Nambi”, berkata lelaki itu menyampaikan jati dirinya.

“Tunggulah disini, kawanku akan menghadap Empu Nambi”, berkata prajurit pengawal itu yang langsung berbicara kepada kawannya.

Terlihat kawan prajurit pengawal itu telah berjalan kearah pendapa istana menemui Empu Nambi disana.

Tidak lama berselang, terlihat kawan prajurit itu tengah berjalan kembali ke gardu jaga.

“Empu Nambi menerima Ki Bancak di pendapa istana”, berkata kawan prajurit itu kepada Ki Bancak.

Maka tidak lama berselang terlihat Ki Bancak telah diantar oleh seorang prajurit pengawal menuju arah pendapa istana Kadipaten.

“Selamat datang di istanaku, wahai Ki Lurah Bancak”, berkata Empu Nambi kepada Ki Bancak yang ternyata sudah sangat dikenalnya itu.

Terlihat Empu Nambi di pendapa istana ditemani oleh Adipati Menak Koncar, Panji Samara dan Panji Wiranagari. Ternyata semua orang diatas pendapa itu telah mengenal Ki Bancak sebagai mantan prajurit Majapahit yang sudah mengundurkan diri di lingkungan keprajuritannya.

“Tumenggung Mahesa Semu telah memintaku untuk membawa sebuah berita yang sangat penting sekali”, berkata Ki Bancak langsung menyampaikan berita tentang rencana penyerangan prajurit Majapahit di Tanah Lamajang itu.

“Perhitungan Mahapatih Majapahit itu sangat cerdas sekali, datang disaat buah padi sudah mulai menguning, disaat lumbung kita sudah hampir menipis”, berkata Empu Nambi setelah mendengar berita yang dibawa oleh Ki Bancak itu.”Beruntung kita masih punya banyak sahabat di istana Majapahit, seperti Tumenggung Mahesa Semu dan Ki Bancak ini”, berkata kembali Empu Nambi.

“Kuserahkan kepada ayahanda, apa dan bagaimana sepatutnya menerima tamu-tamu kita dari Majapahit itu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ayahandanya, Empu Nambi.

“Kuserahkan dirimu menjadi tuan rumah yang baik malam ini di pantai Pasuruan”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

“Sementara itu Panji Samara dan Panji Wiranagari menyambut langsung bingkisan tamu-tamu kita ditengah lautan”, berkata Empu Nambi kepada Panji Samara dan Panji Wiranagari.

“Bagaimana dengan segelar sepapan enam ribu pasukan Majapahit yang datang mengunjungi Bumi Lamajang ini?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi

Empu Nambi tidak langsung menjawab pertanyaan Adipati Menak Koncar, terlihat menarik nafas dalam-dalam.

“Inilah hal yang paling pahit yang tidak kuinginkan dalam peperangan apapun”, berkata Empu Nambi dan terdiam sesaat sambil kembali menarik nafas panjang

Semua orang diatas pendapa itu seperti ikut menarik nafas panjang, menunggu penuturan Empu Nambi selanjutnya.

“Kita harus mengungsikan para penduduk, membakar persawahan mereka yang sebentar lagi akan bunting tua siap di panen”, berkata Empu Nambi.

“Membakar persawahan penduduk?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi masih belum dapat menangkap maksud perkataan Empu Nambi.

“Kita akan berhadapan dengan enam ribu pasukan musuh yang kelaparan karena ransumnya sudah kita curi”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar yang langsung dapat menangkap jalan pikiran ayahnya itu.

“Kita hanya bertahan di istana ini sambil membidik serigala-serigala yang kelaparan diluar dinding tembok tinggi”, berkata Adipati Menak Koncar mencoba menguraikan pikiran yang ada didalam benak ayahandanya.

“Waktu kita sangat singkat untuk menjamu tamu-tamu kita malam ini dan besok”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

Demikianlah, pada hari itu juga terlihat Adipati Menak Koncar telah mengumpulkan para punggawanya untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan menghadapi serangan pasukan prajurit dari Majapahit itu.

“Mengungsilah kalian ke lereng Gunung Semeru menunggu saat yang aman untuk kembali”, berkata Adipati Menak Koncar kepada para punggawanya.

Maka tidak lama berselang, seribu lima ratus prajurit Lamajang terlihat telah bergerak keluar dari istana Kadipaten Lamajang. Mereka terbagi dalam dua kelompok pasukan.

Pasukan pertama berjumlah sekitar lima ratus orang prajurit dipimpin oleh Panji Samara dan Panji Wiranagari. Mereka adalah pasukan yang akan bertugas merebut bahtera perahu besar yang bermuatan penuh persediaan pangan enam ribu prajurit Majapahit.

Sementara pasukan kedua berjumlah seribu prajurit dipimpin langsung oleh Adipati Menak Koncar.

“Keringat para petani harus dikorbankan”, berkata dalam hati Empu Nambi diatas kudanya sambil memandang hamparan hijau persawahan yang sangat luas, yang sebentar lagi tua dan dipanen itu.

Bulan sabit pucat terhalang awan hitam di langit pantai Pasuruan.
Di keremangan malam itu, terlihat para prajurit Lamajang telah menyebar di berbagai tempat sepanjang pantai Pasuruan bersembunyi di gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman suru yang banyak tumbuh di sekitar pantai itu.

“Perhitunganku, mereka akan merapat di malam ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar, Panji Wiranagari dan Panji Samara di kerimbunan perdu.

“Prajuritku sudah menyebar menyamar sebagai para nelayan di sekitar perairan ini, kita hanya menunggu kabar dari mereka, dimana kedua bahtera itu akan merapat”, berkata Panji Samara kepada Empu Nambi.

“Tiga ratus prajuritku sudah berada diatas bahtera perahu kayu, mereka akan memerankan lakon bajak laut di pesisir Pasuruan ini”, berkata Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

“Bagaimana dengan kesiapan para prajuritmu?”, bertanya Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

“Mereka akan menyambut para tamunya dengan dua obor ditangan, di kegelapan malam di pantai Pasuruan ini pasti akan menggetarkan hati musuh yang melihatnya, dua obor ditangan seakan-akan melipat gandakan jumlah prajuritku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

“Nampaknya gending selamat datang sudah harus dimainkan”, berkata Empu Nambi sambil menatap di keremangan malam seorang lelaki yang tengah merapatkan jukungnya di pasir pantai Pasuruan.
Terlihat lelaki itu telah berlari kearah mereka yang bersembunyi di kerimbunan tanaman perdu dan suru.

“Kami telah melihat du bahtera perahu besar datang dari arah utara, satu bahtera nampaknya akan merapat di Gadingrejo, sementara satunya lagi akan merapat di Bugulkidul”, berkata lelaki itu yang ternyata adalah salah seorang prajurit Panji Samara.

“Kami akan segera bergabung dengan kawan-kawan kami yang sejak senja tadi melaut”, berkata panji Samara dan Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

Terlihat Panji Samara dan Panji Wiranagari bersama beberapa prajuritnya telah langsung menarik beberapa jukung yang telah lama mereka persiapkan kearah pantai. Dan tidak lama berselang jukung-jukung mereka telah meluncur diatas air laut, di bawah keremangan langit malam.

Sementara itu Adipati Menak Koncar telah menemui pasukannya, memerintahkan mereka untuk bergeser kearah pantai Bugulkidul.
Terlihat Empu Nambi ikut bersama pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar itu.

Sementara itu Panji Samara dan Panji Wiranagari diatas sebuah jukung yang sama telah mengayuh dayung mereka lebih cepat lagi.

Ternyata Panji Samara dan Panji Wiranagari bersama-sama beberapa jukung lainnya telah meluncur kearah sebuah bahtera siluman mereka, sebuah perahu kayu yang cukup besar, perahu kayu para pedagang Madura yang biasa digunakan mengarungi lautan raya.
Dengan sangat sigap dan cekatan terlihat Panji Wiranagari dan Panji Samara telah langsung melompat ke perahu kayu dimana para prajuritnya sudah lama menunggunya.

“Angkat sauh dan matikan lentera”, berkata Panji Samara kepada para prajuritnya. “Kita mengikuti arah jukung Juwana”, berkata kembali Panji Samara sambil menunjuk kearah sebuah jukung didepan mereka yang akan memberi arah kemana mereka harus bergerak.

bersambung ke senthong tengah

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 13 April 2015 at 00:01  Comments (110)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

110 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mendapatkan ancaman dari kedua begundal itu tidak membuat takut sedikitpun diwajah orang tua itu. Bahkan terlihat sikapnya yang sangat dingin seakan meremehkan kedua begundal itu.

    “huhh”, terdengar dengus orang tua itu sebagai sikap tantangan.

    Kedua begundal itu sudah seperti hilang kendali melihat sikap orang tua itu, terlihat sudah mulai menggerakkan golok panjang di tangan mereka.

    Namun tiba-tiba saja kedua begundal itu mengurungkan niatnya, menahan golok panjangnya karena mendengar sebuah teriakan.

    “jangan kalian sakiti orang tua itu !!”, terdengar sebuah teriakan dari arah belakang kedua begundal itu.

    Ternyata yang berteriak dan datang ditempat itu adalah Supo Mandagri.

    “Biarkan orang tua itu pergi, bawalah kerisku ini sebagai penggantinya”, berkata Supo Mandagri kepada kedua begundal itu sambil menunjukkan sebuah keris di tangannya.

    “Keris yang sangat bagus”, berkata salah seorang begundal penuh kagum melihat keris ditangan Supo Mandagri.

    “Kuberikan untukmu, jangan sakiti orang tua itu”, berkata Supo Mandagri sambil menyerahkan keris miliknya.

    Mendapat sebuah keris yang sangat bagus dan sangat berharga itu telah membuat kedua begundal itu sama sekali melupakan orang tua yang semula ingin di perasnya itu,terlihat kedua begundal itu sudah pergi berlalu menghilang di sebuah persimpangan jalan.

    “Kamu tidak sama sekali mengenalku, mengapa berbaik hati menolongku ?”, bertanya orang tua itu kepadaSupo Mandagri.

    “Kenal atau tidak kenal, sudah menjadi kewajibanku menolong siapapun”, berkata Supo Mandagri.

    “Tapi kamu telah mengorbankan sebuah keris yang sangat berharga”, berkata orang tua itu.

    “Aku seorang pembuat keris, pada suatu saat aku dapat membuat yang lebih bagus lagi dari yang ku punya itu”, berkata Supo Mandagri.
    “kamu seorang pembuat keris ?”, bertanya orang tua itu.

    “Benar, aku seorang pembuat keris”, berkata Supo Mandagri sambil sedikit bercerita tentang asal usulnya yang berasal dari Tanah Tuban dan saat ini tengah mencari tambahan biaya melanjutkan usaha orang tuanya sebagai pembuat keris.

    “Seorang pembuat keris punya kemampuan melebihi seorang pandai besi”, berkata orang tua itu.

    “Benar, aku mampu membuat berbagai senjata, namun seorang pandai besi biasa tidak mampu membuat sebuah keris”, berkata Supo Mandagri membanggakan dirinya sendiri.

    “Sangat kebetulan sekali, kami tengah mencari seorang pandai besi yang ahli”, berkata orang tua itu.

  2. Suwun Ki Dalang. Maltu, malam Sabtu.

    • ladhalah … tak kiro peltu jeee …

  3. suwun ki

  4. Alhamdulillah

    Hampir seminggu Satpam menjadi “tahanan rumah”. Polisi di rumah galak setengah mati. Baru hari ini diijinkan buka PC (kemarin sih sebenarnya sudah buka juga, tapi nyuri-nyuri jika polisinya tidak ada di rumah).

    hadu… harus nyapu dua padepokan, capek juga.
    rontal sudah tertata rapi di tempatnya.
    Hmm… sudah masuk ke senthong kanan rupanya.
    suwun Pak Dhalang.

  5. “Percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakan”, berkata Supo Mandagri penuh kegembiraan hati telah dapat mendekati sasarannya itu.

    “Panggil aku Ki Samban, aku akan mengajakmu kesebuah tempat”, berkata orang tua itu yang menyebut dirinya bernama Ki Samban.

    “Aku seorang pengembara, tiada sanak dan saudara. Aku akan ikut bersamamu”, berkata Supo Mandagri mencoba meyakinkan Ki Samban bahwa dirinya tidak tinggal di Kotaraja Majapahit, hanya seorang pengembara.

    Terlihat Ki Samban telah berjalan bersama Supo Mandagri ke arah barat Kotaraja Majapahit, sementara matahari sudah bergeser jauh dari puncaknya.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah bukit berbatu.

    Manakala mereka telah mencapai puncak bukit berbatu itu, Ki Samban telah mengambil arah selatan lereng bukit berbatu itu hingga akhirnya menemukan sebuah jalan buntu, sebuah jurang yang sangat amat tinggi tak terlihat dasarnya.

    “Apakah kamu punya keberanian menuruni jurang ini ?”,bertanya Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Perlu sebuah sayap untuk terjun ke jurang ini”, berkata Supo Mandagri yang tidak melihat alat apapun untuk dapat menuruni jurang terjal itu.

    Terlihat Ki Samban tersenyum mendengar jawaban Supo Mandagri yang nampaknya tidak punya rasa takut sedikitpun berdiri diatas jurang terjal itu.

    Tapi tiba-tiba saja Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit panjang hingga tiga kali.

    “Ternyata ada sebuah goa yang terhalang rerimbunan”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang telah melihat seseorang keluar dari sebuah goa yang terhalang sebuah rerimbunan semak belukar.

    “Selamat datang Ki Samban”, berkata orang itu kepada Ki Samban sambil membawa sebuah anak tangga yang terbuat dari tali temali dan batang rotan sebagai anak tangganya.

    Terlihat orang itu langsung mengikat ujung tali temali anak tangga itu kesebuah batu cadas.

    “Tidak perlu sebuah sayap untuk menuruni jurang ini”, berkata Ki Samban mengajak Supo Mandagri menuruni jurang itu dengan tali anak tangga yang sudah disiapkan.

    Ketika melihat Ki Samban menuruni jurang dengan tali temali anak tangga, maka Supo Mandagri tanpa rasa takut apapun telah langsung mengikutinya, menuruni jurang yang amat dalam itu.

    “Pantas Tumenggung Mahesa Semu tidak dapat menemukan tempat persembunyian mereka”, berkata Supo Mandagri dalam hati ketika kakinya telah menginjak tanah di dasar jurang yang amat terjal dan dalam itu.

    Kembali Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit tiga kali, maka anak tangga itu terlihat ditarik kembali dari atas.

    “Seperti itulah memanggil penjaga tali anak tangga itu”, berkata dalam hati Supo Mandagri.

  6. Ternyata tidak jauh dari tempat pendaratan mereka di dasar jurang itu terlihat sebuah tanah lapang yang cukup luas.

    “Disinilah pusat kekuatan baru Ra Kuti itu”, berkata Supo Mandagri dalam hati manakala telah melihat tiga buah barak panjang yang berjajar menghadap kearah tanah lapang yang cukup luas itu. Didalam barak-barak panjang itu terlihat banyak sekali prajurit yang tengah beristirahat.

    Akhirnya Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah gubukan yang terpisah dari barak-barak prajurit.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke tempat pertukangan pandai besi yang dilengkapi dengan dapur perapiannya.

    “Sepekan yang lalu seorang pandai besi kami sakit keras dan mati, kami akan membayar penuh setelah kamu dapat menyiapkan semua pesanan kami”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Barang jenis apa yang akan kubuat ?”, bertanya Supo Mandagri.

    “Tiga ribu mata anak panah”, berkata Ki Samban.

    “Apakah aku boleh meminta seorang pembantu ?”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Aku akan memberimu dua orang pembantu”, berkataKi Samban kepada Supo Mandagri.

    “Terima kasih telah memberiku sebuah kerja”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Sekarang beristirahatlah, besok pagi kamu sudah mulai bekerja”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri dan langsung meninggalkannya seorang diri di gubuk itu.

    Terlihat Supo Mandagri telah berbaring di sebuah bale bambu yang ada di dalam gubuk itu, sambil terus berpikir bagaimana caranya untuk dapat keluar dari tempat itu. Sementara itu malam sudah mulai merambati seisi tanah lapang di dasar jurang yang sangat dalam itu, sebuah pusat kekuatan baru yang sudah lama di bangun oleh Ra Kuti untuk sebuah cita-cita dan harapannya menjadi seorang raja di Kerajaan Majapahit.

    “Ternyata kecurigaan Tumenggung Mahesa Semu terhadap Ra Kuti selama ini telah terbukti,begitu busuknya hati orang itu, tidak menghargai Baginda Raja Sanggrama Wikaya yang telah menobatkannya sebagai salah satu pejabat Dharmaputra”, berkata dalam hati Supo Mandagri masih belum dapat memejamkan matanya.

    Namun akhirnya anak muda itu dapat tertidur juga, terlelap sendiri diatas bale di dalam gubuknya.

    Hingga akhirnya ketika pagi datang menjelang, Supo Mandagri sudah terbangun termangu-mangu seperti tengah bermimpi berada seorang diri di dalam sebuah gubukan.

    “Aku membawakan untukmu ransum pagi”, berkata seorang prajurit yang datang ke gubuknya sambil membawa baki berisi makanan dan minuman.

    “Terima kasih”,berkata Supo Mandagri kepada prajurit itu.
    “Makan yang banyak, agar kamu tidak sakit seperti orang sebelummu”, berkata prajurit itu.

  7. Sementara itu di waktu yang sama di istana Majapahit, berita tentang kekalahan pasukan Majapahit di bumi Lamajang sudah sampai di telinga Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Diluar dugaan dan perhitungan siapapun ternyata kekalahan pasukan Majapahit sudah diperhitungkan dan menjadi bagian rencana Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    “Dengan berita kekalahan pasukan Majapahit ini, tentunya akan membuat kemarahan besar pada diri Raja Jayanagara”, berkata Ra Kuti penuh senyum kegembiraan.

    “Raja Jayanagara akan menurunkan pasukan lebih besar lagi”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Kita akan meminta Raja Jayanagara untuk menurunkan kesatuan pasukan yang masih setia kepada kerajaan ini, sehingga di istana Majapahit ini hanya ada orang-orang dungu yang setia kepada kita”, berkata Ra Kuti.

    “Dan kita dapat menguasai kerajaan Majapahit ini, membunuh Raja lemah itu dengan begitu mudahnya”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Sekali dayung, tiga pulau terlampaui”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda penuh kebanggaan hati membayangkan semua rencananya akan menjadi sebuah kenyataan.

    “Dua sasaran dapat kita hancurkan sekaligus, para pemberontak Empu Nambi dan kesatuan pasukan Jala Rananggana yang sangat setia pada kerajaan ini”, berkata Ra Kuti.

    “Aku akan meminta kepada Raja Jayanagara agar diriku sendiri yang akan menjadi senapati pasukan besar itu”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Aku begitu yakin sekali, Mahapatih akan pulang dengan sebuah kemenangan besar’, berkata Ra Kuti penuh kegembiraan.

    “Aku juga begitu yakin, bahwa pasukanmu akan dengan mudah menguasai istana Majapahit ini”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda sambil tertawa panjang.

    “Ada berita gembira lainnya yang perlu diketahui, bahwa Tumenggung Jala Pati dan seluruh pasukan yang berada di kesatuannya telah berada di belakangku, mendukung penuh rencana kita menguasai istana Majapahit ini”, berkata Ra Kuti.

    “Sungguh sebuah berita gembira, yang akan kita hadapi nanti adalah hanya satu kesatuan khusus pimpinan Tumenggung Jala Yudha yang berada di benteng Tanah Ujung Galuh”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda penuh kegembiraan.

    Demikianlah, Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti denganpenuh kegembiraan hati mempercakapkan rencana-rencana busuk mereka. Kegembiraan hati yang berlebihan itulah yang mereka berdua tidak menyadari menjadi sebuah bumerang kegagalan dan kehancuran rencana, harapan dan cita-cita mereka berdua, karena kegembiraan hati mereka membuat lupa diri bahwa di balik pintu ada seorang prajurit pengawal istana yang mendengarkan semua pembicaraannya itu.

    Terlihat prajurit pengawal istana yang ditugaskandi Bale Kepatihan itu berdebar-debar mendengar semua percakapan Mahapatih Dyah halayuda dan Ra Kuti, sebuah rencana busuk dari dua orang pejabat yang sangat dihormati di istana Majapahit itu, juga sebagai dua orang pendeta suci.

    • Ki Gembleh sulit manuk…eh…masuk !..padahal enggak tuh?..ma kasih Pak Dalang..mantaff..!

  8. laptop saya rusak, minjem punya sang putra pangeran, jadi…..enggak tahu udah sampe dimana ya ??

    Pak SATPAM, tinggal berapa rontal lagi pindah gandhok anyer ??

    • Menurut penerawangan Satpam, kira-kira masih kurang tujuh atau delapan rontal lagi Pak Dhalang.

      Monggo, kalau malam ini atau besok PKPM-10 akan diselesaikan, he he he …..

  9. Kabut pekat perlahan seperti sebuah jerat telah menyelimuti langit diatas istana Majapahit, suara deru angin berputar-putarseperti suara putra sangkala mengintai mangsanya berkeliling sekitar kotaraja Majapahit.

    Perlahan warna senja tua terlihat semakin murung menghilang ditelan kegelapan malam.

    “Angin bertiup terlalu kencang menerbangkan awan hujan”, berkata Gajahmada kepada ibundanya di pasanggrahannyadi Tanah Ujung Galuh.

    “Belum kamu dapatkan kabar tentang Supo Mandagri ?”, bertanya Nyi Nariratih kepada putranya itu.

    “Seorang pedagang di Tanah Ujung Galuh mengabarkan kepadaku telah membeli sebuah keris yang diketahuinya milik Supo Mandagri dari dua orang begundal pasar”, berkata Gajahmada.

    “Keris Supo Mandagri direbut dua orang begundal pasar ?”, bertanya Nyi Nariratih.

    “Aku sudah berhasil menemui dua orang begundal pasar itu, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi”, berkata Gajahmada.

    “Apa sebenarnya terjadi atas diri anak itu ?”, bertanya Nyi Nariratih penuh kekhawatiran.

    Secara singkat, Gajahmada telah bercerita apa yang diketahuinya dari dua orang begundal pasar yang berhasil ditanyai.

    “Nampaknya itulah hari terakhir Supo Mandagri berada di sekitar Kotaraja Majapahit”, berkata Gajahmada.

    Namun pembicaraan Gajahmada dan ibundanya terhenti manakala terdengar suara ketukan pintu.

    Ternyata yang datang di malam hari itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman. Sudah beberapa hari itu mereka selalu datang di malam hari di pasanggrahan Gajahmada membahas berbagai hal perkembangan kemelut dan kabut yang tengah memenuhi langit disekitar istana Majaphit itu.

    “Kabut di atas istana Majapahit sudah begitu pekat”, berkata Gajahmada bertutur tentang sebuah rencana busuk Dyah Halayuda dan Ra Kuti yang didapatkan dari salah seorang prajurit pengawal istana tadi siang.

    “Yang menjadi masalah besar kita adalah memberikan kesadaran Raja Jayanagara bahwa dirinya saat ini telah berada di dalam cengkraman dua srigala jahat”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Biarlah Raja Jayanagara akan terbuka mata hatinya di akhir permainan ini”, berkata Gajahmada.

    “Jelaskan kepada kami permainan apa yang ada dalam kepalamu, wahai Gajahmada”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajahmada.

    “Duri penghalang terbesar bagi Dyah Halayuda dan Ra Kuti saat ini adalah Empu Nambi, menurut mereka Empu Nambi dan para pendukungnya yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa adalah saingan terbesar mereka yang dapat merebut tahta kerajaan Majapahit ini”, berkata Gajahmada.

  10. “Akumengenal Empu Nambi seutuhnya, mungkinkah Empu Nambi punya sedikit pikiran untuk merebut tahta kerajaan ini ?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu.

    “Selama tahta kerajaan ini berada di tangan yang berhak, Empu Nambi sedikitpun tidak akan mengganggunya, bahkan akan berada di baris terdepan menghadapi musuh-musuh kerajaan Majapahit ini.
    Namun manakala tahta ini berpindah tangan dalam genggaman orang-orang yang tidak berhak memilikinya, maka Empu Nambi dan para pendukungnya akan tampil kedepan, menyelamatkan kerajaan ini, dan bila mungkin menjadi seorang Raja. Itulah sebabnya Dyah Halayuda dan Ra Kuti menganggap Empu Nambi adalah orang yang harus mereka singkirkan sebelum menguasai singgasana kerajaan ini”, berkata Gajahmada menyampaikan pandangannya.

    “Sudah tergambar permainan apa yang akan kita mainkan menyelamatkan bahtera dari badai awan hitam yang ditebarkan oleh dyah Halayuda dan Ra Kuti. Saat ini kita masih harus menunggu gerak akhir mereka, bukankah begitu wahai Gajahmada ?”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mencoba membaca jalan pikiran Gajahmada.

    “Benar,kita turun di ujung permainan mereka, menyelamatkan Raja jayanagara dan tahtanya”, berkata Gajahmada membenarkan perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “hanya kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan baru yang saat ini tengah di galang oleh Ra Kuti di sebuah tempat yang masih sangat rahasia itu”, berkata Adityawarman ikut berbicara setelah lama hanya menjadi pendengar.

    “Mudah-mudahan Supo Mandagri dapat melaksanakan tugasnya, nampaknya anak muda itu tengah berada di sarang mereka saat ini”, berkata Gajahmada.

    “Kesatuan pasukan Jala Ranaggana, Jala Pati dan Jala Yudha sebagai kekuatan benteng pertahanan kerajaan ini telah dapat mereka pecah-pecahkan. Maka sebagai pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Srikandi aku akan berjuang bersama kalian, tetap menjaga bahtera bumi Majapahit apapun dan hingga sampai kapanpun”, berkata Nyi Nariratih

    “Terima kasih Nyi Nariratih, kita akan berjuang bersama menghadapi badai besar ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Berita yang kudapat hingga hari ini bahwa sisa prajurit Majapahit yang dapat di pukul mundur oleh pasukan Empu Nambi saat ini masih berada di Kademangan Japan. Adakah yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan Empu Nambi ?”, berkata Adityawarman.

    Mendengar perkataan Adityawarman telah membuat semuanya terdiam membisu, didalam hati dan pikiran mereka merasa bersedih tidak dapat berbuat apapun.

    “Empu Nambi meminta kita untuk tetap berada di istana Majapahit ini, Empu Nambi berharap hanya kitalah benteng terakhir yang dapat menyelamatkan bahtera kerajaan Majapahit ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu memecahkan suasana sepi.

    Namun kembali suasana menjadi begitu hening dan sepi, semua hati dan pikiran nampaknya tengah mengenang masa-masa Empu Nambi di istana, masa-masa kehidupannya yang sangat bersahaya itu.

    Dan suara debur ombak di Tanah Ujung Galuh seperti mendendangkan suara nyanyian rindu.

  11. Malam memang telah menjadi begitu dingin ketika hujan turun begitu lebat mengguyur sebuah lembah yang sunyi di kaki perbukitan berbatu yang tidak begitu jauh jaraknya dengan kotaraja Majapahit, sebuah tempat yang tak terjamah karena sangat tandus dan terjal.
    Itulah lembah dimana Supo Mandagri berada bersama ribuan prajurit yang tengah disiapkan oleh Ra Kuti untuk melakukan sebuah makar, merebut tahta kerajaan Majapahit.

    “Aku mencium bau anyir darah di sekitar gubuk ini”,berkata Supo Mandagri dalam hati yang belum juga dapat memejamkan matanya membayangkan bahwa pandai besi yang pernah bekerja di gubuk itu tidak sakit dan meninggal, melainkan mereka bunuh.

    “Aku sudah dapat menemukan sarang mereka, menilai kekuatan mereka. Yang harus kulakukan malam ini adalah keluar pergi dari tempat ini”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

    Demikianlah, setelah membulatkan tekadnya terlihat Supo Mandagri di bawah hujan yang sangat lebat itu telah keluar dari gubuknya.

    “Diujung lembah sempit itu pasti ada jalan keluar”, berkata Supo Mandagri dalam hati memilih arah jalan untuk keluar dari tempat itu.
    Malam itu hujan turun begitu lebat, terlihat Supo Mandagri berjalan cepat menyusuri lembah sempit berusaha menjauhi sarang kekuatan para prajurit Ra Kuti.

    “Suara air terjun ?”, berkata Supo Mandagri dalam hati mendengar suaraderu air terjun didekatnya.

    Ternyata lembah sempit yang disusuri oleh Suo Mandagri berujung sebuah sendang mata air sumber sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi karena terdengar suara hempasannya di bawah sana oleh Supo Mandagri di malam yang sangat gelap itu.

    “nampaknya tebing ini dapat kuturuni”, berkata Supo Mandagri meski di keremangan malam masih dapat melihat banyak tonjolan batu di tebing kiri sebelah air terjun yang tidak begitu tinggi itu.

    Perlu sebuah perjuangan untuk menuruni sebuah tebing, di saatmalam gelap, disaat hujan turun masih begitu lebatnya.

    Namun Supo Mandagri adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan terlatih, dengan penuh kesabaran dan ketabahan telah merayap menuruni tebing yang sangat licin. basah dancukup terjal.

    Akhirnya dengan kesabaran dan ketabahan hatinya, Supo Mandagri selangkah demi selangkah dapat menuruni tebing terjal itu hingga sampai kedasarnya.

    “Hujan sudah mulai reda”, berkata dalam hati Supo Mandagri sambil menarik nafas panjang telah berhasil menuruni tebing disisi kiri sebuah air terjun.

    “Sungai kecil ini pasti bermuara di sebuah tempat terbuka, disana aku dapat mencari arah jalan pulang”, berkata Supo Mandagri dalam hati berniat untuk menyusuri sungai kecil itu yang bersumber dari air terjun itu.

    Di malam yang masih sangat gelap itu memang tidak ada pilihan lain selain berjalan menyururi jalan diatas sungai kecil berbatu itu dimana disepanjang kiri dan kanannya adalah sebuah hutan belantara.

  12. aseeek.. suwun ki..

  13. Demikianlah, Supo Mandagri terlihat tengah menyusuri sungai kecil berbatu di malam gelap, tekadnya saat itu adalah berjalan sejauh mungkin agar pelariannya tidak akan mungkin dapat ditemukan kembali.

    Akhirnya Supo Mandagri telah menemukan sebuah tempat terbuka, namun hari masih gelab.

    “Nampaknya aku sudah berjalan cukup lama dan sudah cukup jauh”, berkata Supo Mandagri dalam hati sambil bersandar di sebuah batu besar mencoba mengendurkan urat-urat kakinya yang terasa lelah setelah cukup lama berjalan.

    Dan perlahan Supo Mandagri melihat warna langit mulai bias kemerahanpertanda pagi akan segera datang.

    “Langit sudah mulai terang”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang sudah melihat samar suasana di depannya.

    Ternyata di hadapan Supo Mandagri adalah sebuah tanah berawa yang cukup luas, terlihat sekumpulan pohon galam di beberapa tempat tumbuh dengan amat suburnya.

    Tanpa menunggu banyak waktu, terlihat Supo Mandagri sudah turun di tanah berawa itu berharap akan menemukan sebuah daratan diseberang sana.

    Berjalan diatas tanah berawa yang cukup dalam setinggi paha itu memang telah membuat Supo Mandagri tidak dapat bergerak lebih cepat lagi, namun Supo Mandagri telah dapat melihat arah jalan pulang, karena telah melihat perbukitan berbatu di sebelah kanan langkah kakinya.

    “Setelah menemukan daratan aku harus memutar perbukitan berbatu itu”,berkata dalam hati Supo Mandagri yang telah menemukan arah menuju Kotaraja Majapahit.

    Akhirnya setelah cukup lama berjalan di atas tanah berawa, Supo Mandagri telah menemukan tepian rawa.

    Terlihat Supo Mandagri menarik nafas panjang penuh kegembiraan telah berada diatas sebuah tanah kering, semilir angin sejuk berhembus di wajahnya.

    Di bawah cahaya sinar matahari yang sudah cukup tinggi Supo Mandagri berjalan diatas tanah kering dan keteduhan kerimbunan pepohonan, memang terasa ringan setelah cukup lama merambat diatas tanah berawa yang cukup dalam.

    Namun keringanan langkah Supo Mandagri tiba-tiba saja tertahan manakala tidak jauh darinya terlihat dua orang lelaki duduk terlindung sebuah semak belukar.

    “Apa yang kalian lakukan di tempat ini ?”, bertanya Supo mandagri kepada kedua lelaki itu.

    Mendengar pertanyaan Supo Mandagri, terlihat kedua lelaki itu berdiri dan tersenyum memandang kearah Supo Mandagri.

    “Kami diminta oleh Ki Samban untuk menunggumu disini”, berkata salah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan berotot sebagai pertanda sangat kuat dan terlatih olah beban.

  14. Mendengar perkataan salah seorang dari lelaki itu, terlihat Supo Mandagri seperti tertegun sejenak tidak menyangka bahwa orangnya Ki Samban telah menemukan dirinya kembali. Namun Supo Mandagri berusaha menenangkan dirinya.

    “Ternyata kalian hanya ingin menungguku, sampaikan salam kepada Ki Samban bahwa aku tidak ingin kembali ketempatnya”, berkata Supo Mandagri sambil berjalan ke arah lain menghindari kedua lelaki itu.

    “Kami tidak sekedar menunggumu, kami juga diminta untuk membawamu kembali”, berkata seorang lelaki yang lain berperawakan sedang namun seperti kawannya juga berotot hampir diseluruh lekuk tubuhnya.

    “Apakah kalian akan memaksa ?”, bertanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki itu yang telah bergeser menghalangi langkahnya.

    “Ikutlah bersama kami, dan kami tidak akan melukaimu”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar mengancam Supo Mandagri.

    “Kulihat kalian tidak bersenjata, bagaimana kalian akan melukaiku ?”, berkata Supo Mandagri dengan sikap menantang.

    “Aku akan melukai mulutmu dengan tanganku ini”, berkata seorang yang berperawakan sedang langsung melayangkan sebuah tamparan kewajah Supo Mandagri.

    Nampaknya orang itu menganggap Supo Mandagri adalah anak muda biasa yang tidak pernah belajar kanuragan, atau bila mengenal olah kanuragan pastinya hanya baru satu dua jurus pukulan dari seorang guru kampung.

    Ternyata dugaan orang itu meleset jauh, sebelum bertemu dengan Gajahmada, tataran ilmu kanuragan Supo Mandagri sudah cukup tinggi, dan Gajahmada telah meningkatkan kemampuan anak muda itu lebih dalam lagi sejak tinggal bersamanya.

    Bukan main terkejutnya orang itu melihat Supo Mandagri dengan sangat cepat sekali merendahkan tubuhnya dan sebuah pukulan yang sangat kuat dan telak sekali dirasakan menghantam pangkal bawah tangannya.
    Plakk !!!

    Seketika itu juga orang berperawakan sedang dan berotot kuat itu langsung terpelanting mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.

    “Ternyata kamu bisa satu dua jurus”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar langsung menerjang Supo Mandagri dengan tendangan kakinya.

    Bukan main terkejutnya orang bertubuh tinggi besar itu melihat Supu Mandagri dengan begitu cepatnya bergeser ke kiri dan telah melayangkan sebuah tendangan keras menghantam tepat bagian tubuh dibawah pusarnya.

    Seketika itu juga orang bertubuh tinggi besar itu terbelalak dengan mata terbuka merasakan nafasnya hilang seketika. Terlihat orang itu terjatuh duduk merasakan nyeri di bawah pusarnya.

    • semangkin mantaff….tarengkiu

    • ehm…….

  15. Suwun Ki Dalang

  16. Apakah Pak Dhalang, Ki BP dan Ki Karto…, eh Ki Sanepo kesulitan masuk padepokan?
    Satpam tidak tahu, kenapa Ki Gembleh kok tidak bisa masuk. Perasaan satpam bisa masuk dengan mudah.

    Mungkin karena badaya yang besar sehingga tidak muat pintu yang satpam buat, he he he …… mblayu…. takut dibalang ledut benter……

  17. maknyus.. suwun ki dalang..

  18. Terlihat Supo Mandagri masih berdiri sedikit tersenyum memandang kedua orang lelaki yang tengah bangkit berdiri sambil meringis menahan rasa sakit.

    “Apakah kalian tetap ingin membawaku ke tempat Ki Samban ?”, berkata Supo Mandagri kepada kedua orang lelaki itu.

    “jangan sombong, kamu hanya kebetulan saja dapat menjatuhkan kami”, berkata lelaki yang berperawakan sedang kepada Supo Mandagri.

    “Bagus, majulah kalian berdua. Mudah-mudahan masih kebetulan lagi aku dapat merobohkan kalian berdua”, berkata Supo Mandagri dengan sikap siap menghadapi serangan kedua lawannya itu.

    Nampaknya kedua lelaki itu sudah sepakat untuk menghajar anak muda yang telah menjatuhkan mereka, terlihat keduanya sudah bergerak maju.

    Lelaki yang berbadan tinggi besar sudah langsung mengayunkan pukulannya kearah dada Supo Mandagri. Bersamaan pula lelaki yang berperawakan sedang seperti terbang meluncurkan kakinya dari arah samping Supo Mandagri.

    Menghadapi dua serangan yang datang bersamaan itu tidak membuat Supo Mandagri gugup, terlihat dengan sangat tenang sekali Supo Mandagri memiringkan badannya dan maju selangkah menghindari pukulan lelaki bertubuh tinggi besar dan tendangan lelaki yang berperawakan sedang.

    Plakk !!

    Tangan Supo Mandagri telah bersarang di wajah lelaki yang bertubuh tinggi besar itu.

    Bukk !!

    Sikut Supo Mandagri telah bersarang di pangkal paha lelaki berperawakan sedang .

    Kembali kedua lawan Supo Mandagri terlempar jatuh ke tanah kotor. Nampaknya pukulan Supo Mandagri lebih keras dari sebelumnya telah membuat keduanya sangat sukar sekali untuk bangkit berdiri.

    Ternyata lelaki yang berperawakan sedang merasakan tulang pangkal pahanya seperti remuk patah, sementara lelaki bertubuh tinggi besar itu merasakan bumi tempatnya berpijak terasa bergoyang dan melihat sekelingnya dengan pandangan agak kabur.

    Tanpa berkata apapun, terlihat Supo Mandagri segera meninggalkan mereka berdua yang belum juga dapat berdiri di tempatnya.

    Setelah berjalan cukup lama memutar perbukitan berbatu, terlihat Supo Mandagri mengambil arah timur matahari. Nampaknya anak muda itu menghindari masuk kekotaraja Majapahit mengambil jalan langsung menuju Tanah Ujung Galuh.

    “Ki Samban mungkin telah menyebarkan orang-orangnya di Kotaraja Majapahit”, berkata Supo Mandagri dalam hati memutuskan untuk tidak memasuki Kotaraja Majapahit dan mengambil jalan lain untuk menuju ke arah Tanah Ujung Galuh.

  19. Suara debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh tak pernah sepi mengawani bulan terpotong yang belum tua di awal malam itu.

    Seperti biasa,disaat seperti itulah Gajahmada dan Nyi Nariratih datang kembali dari tugas-tugas mereka di istana Majapahit untuk pulang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.

    “Ada orang diatas panggung pendapa”, berkata Gajahmada kepada ibundanya ketika memasuki gapura puri pasanggrahannya.
    Gembira hati Gajahmada dan Nyi Nariratih manakala mengetahui bahwa orang diatas panggung pendapa itu adalah Supo Mandagri.

    “Syukurlah, kamu telah datang kembali”, berkata Gajahmada menyapa Supo Mandagri.

    “Banyak yang akan kuceritakan kepada kalian”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada dan Nyi Nariratih.

    Maka setelah bersih-bersih di pakiwan, terlihat Gajahmada dan Nyi Nariratih sudah bergabung kembali di pendapa untuk mendengar cerita dari Supo Mandagri.

    “Berapa kekuatan mereka yang kamu lihat saat itu”, berkata Nyi Nariratih kepada Supo Mandagri.

    “Sebanyak satu kesatuan pasukan yang ada di Kerajaan Majapahit”, berkata Supo Mandagri.

    “Berapa jarak tempuh dari tempat mereka menuju Kotaraja Majapahit ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Sekitar setengah hari perjalanan”, berkata Supo Mandagri.
    Namun perbincangan mereka terhenti manakala seorang pelayan wanita datang membawa hidangan malam untuk mereka.

    “terima kasih Bi Kusun, tolong minumannya ditambah untuk dua orang tamu”, berkata Nyi Nariratih kepada pelayan wanita itu.

    Ternyata dua orang tamu yang dimaksudkan itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman yang sudah beberapa malam itu selalu datang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.
    Benar saja, tidak lama kemudian kedua orang itu terlihat datang dan bergabung bersama di pendapa.

    Bukan main gembiranya Tumenggung MahesaSemu dan Adityawarman melihat Supo Mandagri telah hadir bersama mereka.

    “Aku berhasil keluardari sarang mereka”, bercerita kembali Supo Mandagri kepada Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman mulai dari awal hingga sampai akhir dapat berkumpul kembali di Tanah Ujung Galuh.

    Sementara itu suara debur ombak pantai tanah Ujung Galuh dan suara angin malam terus hadir menemani suasana diatas panggung pendapa puri Pasanggrahan Gajahmada.

    • Matur suwun Pak Dhalang

      Jika ada satu rontal lagi, kita sudah bisa buka gandok PKPM-11

      Nuwun

      • Menunggu….
        gandok PKPM-11 sudah siap, tinggal menunggu pengguntingan pita.

        • Cuma satu rontal, …..,……,…………… bagi Ki Dalang Kompor Sandilala, ….keciiiiiil. Suwun Ki Dalang

          • Suwun Ki Dalang……Ki Gembleh kemana yaa… 😀

          • Hadiiiir Ki Sanepo….!
            Setelah mateg aji Rog Rog Asem baru bisa tembus masuk gandhok tercinta ini.
            Sudah sepuluh hari terhambat ajian Tameng Waja, tak bisa menchungul di gandhok ini.

          • He..?….tameng wajanya Ki Gembleh ga bisa mencungul ?

          • iya Ki SaN, tameng wajane ngambek, yang menchungul malah tombak wesi……..

  20. selalu sehat ki dalang… wass

  21. Lapor Ki Dhalang…..gembleh hadir……..
    Sepuluh hari dihalangi Kiageng WordPress…….

  22. Setelah mendengar penuturan Supo Mandagri, terlihat Tumenggung Mahesa Semu menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya seperti menahan amarah yang terpendam.

    “Kecurigaan pejabat bendahara Kerajaan ternyata terbukti, Ra Kuti telah menelikung pundi-pundi milik para brahmana, milik pura suci untuk kepentingan pribadinya membangun sebuah kekuatan baru di lembah perbukitan berbatu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kabarnya Raja jayanagara telah menyetujui permintaan Mahapatih Dyah Halayuda menurunkan kesatuan pasukan Jala Rananggana ke Tanah Lamajang”, berkata Gajahmada.

    “Kesetiaan kesatuan pasukan Jala Rananggana kepada kerajaan ini tidak dapat diragukan lagi, keputusan Raja Jayanagara hari ini ibarat melepaskan pedangnya sendiri, menyerahkan lehernya diujung pedang musuh”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kasihan Tumenggung Jala Rananggana harus di hadapkan oleh pilihan yang amat sangat sulit, harus berhadapan dengan besan dan anak menantunya sendiri, EmpuNambi dan Adipati Menak Koncar”, berkata Gajahmada.

    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat semua orang terdiam, membayangkan sebuah peperangan yang sangat memilukan hati antara besan, mertua dan anak menantu sendiri berada di dua kubu yang berbeda.

    “Itulah suasana yang diinginkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata Gajahmada mencoba memecahkan suasana kebisuan saat itu.

    “Nampaknya Empu Nambi sudah dapat memperhitungkan dari kesatuan mana yang akan diturunkan menghadapinya, mungkin itulah sebabnya telah melakukan penjarakan kepada setiap orang yang datang mendukungnya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Penjarakan ?”, berkata Supo Mandagri tidak mengerti maksud perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Maksudku, setiap prajuritnya mengenakan daun jarak sebagai pertanda kesetiannya,menjadikan daun jarak sebagai lambang perjuangan mereka sebagaimana para prajurit Majapahit yang memakai lambang gula kelapa di atas kepalanya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menjelaskan makna penjarakan kepada Supo Mandagri.

    “Menurutku lambang penjarakan adalah sebuah isyarat yang sengaja disampaikan kepada kita oleh EmpuNambi”, berkata Gajahmada.

    “Isyarat apa yang ingin disampaikan oleh Empu Nambi kepada kita ?”, bertanya Adityawatman.

    “Isyarat bahwa Ra Kuti memanfaatkan suasana kekosangan kekuatan di istana Majapahit. Gabungan kesatuan pasukan Jala Pati yang sudah dalam kendali Ra Kuti dan pasukannya sendiri dilembah perbukitan berbatu itu akan mudah menguasai istana Majapahit, mungkin inilah sebabnya Empu Nambi melarang kita bergabung bersamanya, berharap kita dapat menjadi benteng pertahanan terakhir di istana Majapahit ini”, berkata Gajahmada mencoba membaca isyarat dari Empu Nambi kepada mereka.

    • Suwun Ki Dalang, tumben cuma satu lontar ? Belum bisa untuk mengawali gandok baru dengan rontal baru.

    • Suwun Pak Dhalang

      ngaputen baru baca.
      gandok PKPM-10 ditutup nanti malam nggih.

      Meskipun demikian, gandok PKPM-11 sudah siap menampung luberan rontal dari Situ Cipondoh kok.

      Monggo…..

    • Kamsiiiaaaaa Pak Dhalang……

  23. mantaaap ki. suwun

  24. di sentong kiri, saya menemukan kata “memproklamirkan”… biar lebih afdol, ada baiknya diganti dengan “menyatakan diri”.

    nuwun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: