PKPM-10

Senthong Tengah

Maka perahu kayu tanpa lentera itu telah bergerak dikayuh oleh tiga puluh orang prajurit yang nampaknya sudah sangat terlatih.

Sementara di belakang perahu kayu itu mengiringi sekitar dua puluh jukung kecil dimuati lima orang prajurit di setiap jukungnya.

Maka tidak lama berselang, Juwana diatas jukung kecilnya telah memberikan pertanda dengan lenteranya, sebuah pertanda bahwa sasaran mereka sudah terlihat dan terjangkau.

“Bersiaplah, kita akan merapat di bahtera perahu besar itu”, berkata Panji Samara sambil menunjuk sebuah bahtera perahu besar yang baru saja menurunkan tiga layar utamanya, nampaknya akan merapat di sebuah pantai.

Di kegelapan malam, perahu kayu tanpa lentera itu seperti perahu hantu bergerak meluncur kearah bahtera perahu besar milik Majapahit itu.

Brakkk….!!!!

Terdengar suara tabrakan dua buah perahu di tengah lautan malam itu.

Dan dengan sangat cekatan sekali Panji Samara dan Panji Wiranagari telah melompat masuk ke dalam bahtera perahu besar itu diikuti oleh pasukannya.

Sementara itu dua puluh jukung lainnya telah merapat di lambung bahtera perahu besar sebelah lainnya, dan mereka sudah langsung naik keatas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit itu.

Seratus prajurit Majapahit yang berada diatas bahtera besar itu benar-benar tidak menduga mendapatkan sebuah penyergapan yang begitu cepat itu. Mereka telah menyangka bahwa bajak laut datang untuk merampok mereka.

“Bajak laut….bajak laut…!!!

Begitu teriakan para prajurit Majapahit mendapatkan serangan dadakan itu.

Maka pertempuran diatas bahtera perahu besar itupun telah berlangsung dengan sangat sengitnya. Denting senjata yang beradu dan suara gaduh langkah kaki diatas dermaga kayu bahtera perahu besar milik Majapahit itu terdengar begitu riuh, bercampur dengan suara teriakan semangat yang bergelora.

Sementara itu pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar telah bergeser ke sebuah pantai Bugulkidul, sebuah dermaga kecil biasa bersandar para nelayan yang pulang dari melaut.

“Menyebarlah kalian”, berkata Adipati Menak Koncar kepada pasukannya.

Maka tidak lama berselang semua pasukannya telah berada di tempat persembunyiannya masing-masing, menyatu dengan kegelapan malam di pantai itu.

“Lihatlah, bahtera perahu besar itu sudah menurunkan layar mereka”, berkata Empu Nambi sambil menunjuk sebuah bahtera perahu besar tidak jauh dari bibir pantai yang masih bergerak untuk merapat.

Terlihat Adipati Menak Koncar seperti menahan nafas menunggu bahtera perahu besar milik Majapahit itu semakin mendekat merapat di dermaga kayu pantai Bugulkidul.

Dan begitu bahtera perahu besar itu telah bersandar di dermaga kayu, terdengar suitan panjang dari Adipati Menak Koncar

Ternyata suitan panjang ditangan di tengah malam itu adalah sebuah pertanda dari Adipati Menak Koncar kepada pasukannya untuk menyalakan obor-obor mereka.

“Mereka telah menyambut kedatangan kita”, berkata seorang prajurit Majapahit di atas bahteranya manakala melihat ribuan obor berjajar di kegelapan malam di bibir pantai itu.

Kecut dan gentar menyelimuti hati para prajurit Majapahit yang masih berada diatas bahteranya.

Namun suara Senapati perang mereka yang mengguntur telah mengusir jauh-jauh rasa gentar mereka.

“Prajurit Majapahit adalah petarung sejati, lepas pedang kalian dan turunlah ke daratan”, begitu terdengar suara penuh semangat yang mereka tahu berasal dari Senapati perang mereka.

Terlihat para prajurit Majapahit sudah berlompatan turun ke dermaga dengan pedang terhunus di tangan masing-masing.

“Saatnya menjamu para tamu-tamu”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

Maka terdengar suitan panjang dari Adipati Menak Koncar memberi pertanda kepada pasukannya.

Kembali para prajurit Majapahit yang sudah turun diatas pantai itu menjadi gentar dan kecut hatinya manakala ribuan obor di keremangan malam itu telah bergerak kearah mereka.

Tampilan pertama dapat mempengaruhi sebuah awal pertempuran, itulah yang ingin ditampilkan oleh pasukan Adipati Lamajang itu, cahaya ribuan obor seperti mata ribuan hantu di kegelapan malam telah menggetarkan hati pasukan Majapahit itu.

“Hunus pedang kalian !!”, terdengar suara Adipati Menak Koncar mengguntur di malam sepi itu.

Serentak pasukannya telah melemparkan obor-obor ditangan mereka dan langsung menggantikannya dengan pedang tergenggam tinggi diatas kepala mereka sambil berlari kearah bibir pantai.

Sementara itu pertempuran di atas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit masih berlangsung dengan amat serunya. Para prajurit Majapahit yang berjumlah seratus orang itu benar-benar bertanggung jawab menjaga bahteranya, mereka tidak gentar sedikitpun dengan jumlah lawan mereka yang berlipat-lipat ganda sekalipun, mereka bertempur dengan sekuat raga dan jiwa mereka.

Namun pasukan Panji Samara dan Panji Wiranagari adalah pasukan yang punya banyak pengalaman bertempur di darat dan lautan. Maka lambat atau cepat para prajurit bahtera Majapahit itu terlihat semakin terdesak menghadapi terjangan lawan mereka yang lima kali lipat jumlahnya itu.

Satu dua orang prajurit Majapahit terlihat terlempar keluar bahtera tidak mampu menghadapi desakan lawan-lawan mereka.
Kembali terdengar suara jeritan tinggi dari seorang prajurit Majapahit yang tertebas perutnya terkena pedang tajam salah seorang prajurit di pihak Lamajang.

Denting suara pedang yang beradu bersama suara hentakan penuh kemarahan berkecamuk mengisi pertempuran di atas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit itu, namun nampaknya sudah dapat dibaca siapa yang lebih dapat mengendalikan jalannya pertempuran itu.

Pengalaman bertempur dan jumlah yang lebih banyak dari pasukan Panji Samara dan Panji Wiranagari itu nampaknya lambat tapi pasti akan menguasai jalannya pertempuran itu.

Terlihat jumlah para prajurit Majapahit sudah semakin menyusut, sementara serangan pasukan di pihak Lamajang terlihat semakin menekan kuat.

Dan dalam waktu yang terasa sangat singkat itu, diatas dermaga bahtera itu darah telah banyak menodai lantai kayu dermaga, beberapa mayat terlihat bergelimpangan dari dua pihak yang masih terus bertempur itu.

Kembali terdengar suara pedih yang teramat sangat dari seorang prajurit Majapahit yang tidak mampu menahan enam hingga tujuh orang prajurit di pihak Lamajang. Terlihat sebuah pedang telah menembus dadanya dari arah belakang.

Demikianlah, satu persatu prajurit Majapahit saling menyusul tertikam senjata tajam lawan mereka. Lambat tapi pasti jumlah para prajurit Majapahit semakin menyusut tajam.

Hingga akhirnya jumlah mereka hanya tertinggal sepuluh orang yang tersebar di berbagai tempat diatas dermaga bahtera perahu besar itu.
“Aku menyerah”, berkata seorang prajurit Majapahit di bawah tatap mata sepuluh prajurit pihak Lamajang yang telah mengepungnya.

“Lemparkan senjatamu”, berkata seorang prajurit pihak Lamajang dengan suara keras membentak.

Tanpa menunggu perintah dua kali prajurit Majapahit itu telah melemparkan senjatanya di lantai kayu dermaga.

Kita tinggalkan dulu pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara yang nampaknya sudah hampir menguasai pertempuran diatas bahtera perahu besar milik Majapahit itu, kita menengok kembali pertempuran pasukan Adipati Menak Koncar di bibir pantai Bugulkidul itu.

Ternyata pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi. Pasukan Adipati Menak Koncar sudah langsung menerjang pasukan Majapahit itu seperti ribuan anak panah memporak-porandakan lawan-lawan mereka.

Terlihat pasukan Majapahit langsung terdesak mundur semakin mendekati bibir pantai.

Ternyata semangat pasukan Lamajang itu di pengaruhi oleh dua orang yang bersenjatakan sebuah cakra di tangan mereka yang berdesing selalu menyambar prajurit Majapahit didekatnya.

Siapa dua orang pemilik senjata cakra di tangannya itu yang sangat nggegirisi hati siapapun yang melihatnya?

Ternyata dua orang itu adalah Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar, dua orang yang mempunyai kesaktian yang sangat tinggi itu.
Kecepatan bergerak dari Empu Nambi benar-benar sangat sukar sekali diikuti oleh pandangan mata biasa, orang tua mantan Patih Amangkubumi Majapahit itu benar-benar membuat bingung para prajurit Majapahit, karena telah bergerak dengan sangat cepat sekali dan berkali-kali telah melemparkan para prajurit Majapahit dengan sambaran-sambaran senjata cakranya yang datang dari tempat yang tak terduga-duga itu.

Sebagaimana Empu Nambi, terlihat tandang Adipati Menak Koncar memang tidak bertaut jauh dengan ayahandanya itu, cakra di tangan Adipati Menak Koncar itu telah menyapu bersih pasukan Majapahit, telah melemparkan tubuh para prajurit Majapahit dengan luka berat yang cukup parah dan langsung terjengkang di tanah pantai berpasir itu.

Kehadiran Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar benar-benar telah banyak mempengaruhi jalannya pertempuran itu, karena dalam waktu yang begitu singkat telah mengurangi jumlah para prajurit Majapahit yang baru saja turun dari bahteranya itu.

Terlihat dalam waktu yang begitu singkat itu, jumlah para prajurit Majapahit sudah menyusut dengan tajamnya.

Sementara itu pertempuran telah semakin bergeser diatas air laut dangkal, para pasukan Majapahit semakin terdesak mundur.

Namun ketika pertempuran diatas air laut dangkal itu masih tengah berlangsung, tiba-tiba saja terlihat sebuah bahtera perahu besar dengan pertanda khusus milik kerajaan Majapahit telah mendekati bibir pantai.

Berdebar perasaan para prajurit Lamajang yang telah menduga bahwa ada bantuan dari pihak prajurit Majapahit itu.

Kecemasan para prajurit Lamajang semakin memuncak manakala dari atas bahtera perahu besar itu berloncatan ratusan orang langsung terjun diatas laut dangkal itu.

Namun kecemasan para prajurit Lamajang itu langsung hilang berubah dengan perasaan penuh kegembiraan hati manakala dari atas anjungan bahtera perahu besar itu terdengar suara teriakan yang cukup keras seperti ingin menandingi suara debur ombak pantai di malam hari itu.

“Wahai para prajurit Lamajang, aku Panji Wiranagari ingin turut menjamu para tamu-tamu kalian”, berteriak Panji Wiranagari dari atas anjungan.

Ternyata pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara telah berhasil menyelesaikan pertempuran mereka dengan sangat gilang gemilang, telah berhasil menguasai pertempuran mereka diatas bahtera perahu besar milik kerajaan Majapahit itu.

Kedatangan Pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara ini benar-benar sangat mengejutkan pasukan Majapahit, mereka sudah langsung terjepit dari dua sisi pertempuran.

Satu persatu prajurit Majapahit berguguran hanyut dibawa ombak laut pantai. Dan dalam waktu yang begitu singkat jumlah pasukan Majapahit itu langsung menyusut tajam, sudah berkurang setengahnya.

Tandang Empu Nambi dan putranya, serta tandang pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara yang sangat berpengalaman tempur di darat dan di lautan itu dan merupakan sebuah prajurit satuan khusus yang sangat disegani diantara kesatuan yang ada di kerajaan Majapahit sebelumnya telah mempengaruhi jalannya pertempuran.

Perlahan tapi pasti, prajurit Majapahit yang terjepit itu sudah semakin menyusut, korban di pihak mereka saling susul menyusul berguguran satu persatu.

Ternyata senapati perang mereka sudah dapat membaca akhir dari pertempuran itu, tidak ingin prajuritnya habis berguguran.

“Wahai para prajurit Majapahit, angkat tinggi-tinggi senjata kalian. Aku Senapati Bantaran memerintahkan kalian menyerah”, berkata seorang Senapati pasukan Majapahit dengan suara yang cukup lantang terdengar hampir di setiap sisi pertempuran yang tengah berlangsung itu.

Mendengar suara Senapatinya itu, serentak semua prajurit Majapahit telah mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi sebagai pertanda mereka menyerah tidak akan melakukan perlawanan.

“Jaga jarak kalian, mereka telah menyerah !!”, berteriak Adipati Menak Koncar dengan suara yang sangat lantang.

Terlihat para prajurit di pihak Lamajang telah mengatur jarak dengan prajurit Majapahit yang masih mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sebagai pertanda tidak akan melanjutkan perlawanan.

“Lepaskan senjata kalian !!”, berkata Senapati bantaran memerintahkan prajuritnya melepaskan senjata mereka.

Bulan sabit diatas langit seperti tersenyum memandang iring-iringan pasukan Lamajang yang telah bergerak meninggalkan pantai Pasuruan. Langkah kaki mereka terlihat begitu rancak menapaki jalan malam menuju arah pulang. Bersama mereka terlihat pasukan Majapahit yang terikat tangannya berjalan menunduk lesu telah digelandang sebagai tawanan perang.

Sementara itu dibelakang iring-iringan pasukan Lamajang itu terlihat puluhan pedati dengan muatan menggunung dipenuhi persediaan pangan yang berhasil di jarah dari sebuah bahtera perahu besar milik kerajaan Majapahit itu.

Hingga akhirnya manakala warna langit malam mulai bias dipenuhi garis-garis kemerahan, pasukan Lamajang itu telah mendekati batas kota Kadipaten Lamajang.

“Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini, semua akan berujung dan berakhir”, berkata Empu Nambi dalam hati sambil memandang warna langit malam yang sudah mulai berakhir itu berganti dengan warna cahaya langit pagi.

“Adilkah diriku ini, untuk mempertahankan kepala ini harus mengorbankan begitu banyak orang?”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati mempertanyakan sikapnya untuk tidak tunduk memenuhi panggilan pengadilan Kerajaan Majapahit.

Sementara itu iring-iringan pasukan Lamajang telah memasuki jalan utama menuju istana Kadipaten Lamajang. Empu Nambi melihat rumah-rumah yang telah kosong ditinggalkan para penghuninya. Empu Nambi juga melihat hamparan persawahan telah berwarna hitam terbakar.

“Mereka telah meninggalkan kampung halamannya sendiri, membakar sawah mereka sendiri. Apakah ini semua hanya sebuah mimpi burukku belaka?”, berkata kembali Empu Nambi sambil mengucek-ngucek matanya sendiri berharap bahwa semua yang dilihatnya itu adalah sebuah mimpi buruknya sendiri, namun Empu Nambi tidak terbangun dari tidurnya, tidak terbangun keluar dari mimpi buruknya itu. “Aku tidak tengah bermimpi, aku berada di alam nyata di dalam suasana paling buruk di dalam kehidupanku sendiri”, berkata Empu Nambi sambil menarik nafas dalam-dalam, mencoba membenturkan kenyataan pahit dan kegetiran perasaan hatinya itu dengan kesadaran bathinnya, bahwa dirinya hanya sebutir debu tak punya kehendak apapun dibawa angin titah sang Penguasa alam semesta raya.

“Aku hanya sebutir debu tak berdaya dibawa angin terbang, kemarin aku masih berada istana Majapahit, penuh sanjungan dan kemuliaan. Dan sekarang aku berjalan sebagai seorang pelarian yang terhina. Sempurna sungguh titah Gusti Yang Maha Agung memenuhi segala rasa untukku di bumi ini. Semoga aku tetap berada dalam kasihMU, tidak tertipu oleh warna-warni kehidupan nyataku. Ijinkan diri ini selalu dekat bersamaMU, janganlah KAMU palingkan diri ini, kalah dan menyerah berjalan diatas kebenaran hati, kebenaran nurani”, berbicara Empu Nambi dengan dirinya sendiri.

Angin lembut pagi terasa lembut membelai wajah Empu Nambi diatas punggung kudanya.

“Aku memang tidak sedang bermimpi”, berkata Empu Nambi dalam hati manakala seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang memegang tali kekang kudanya di depan gerbang istana kadipaten.

Sementara itu di istana Majapahit, Tumenggung Mahesa Semu mencoba mendalami penyelidikannya berdasarkan temuan berita dari bendahara Kerajaan bahwa Mahapatih dan Ra Kuti telah bekerja sama menggalang sebuah kekuatan baru, membangun sebuah pasukan baru di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari Kotaraja Majapahit.

“Kita harus segera mengetahui dimana Mahapatih dan Ra Kuti menyembunyikan pasukan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman.

“Mereka berdua sangat licin sekali, nampaknya sangat berhati-hati sekali seperti mengetahui selama ini kita membayanginya, sehingga petugas kita masih belum dapat melacak dimana pasukan mereka disembunyikan”, berkata Adityawarman.

“Mulai hari ini kita akan menyisir siapa orang kepercayaan mereka, pastinya adalah yang biasa sering berhubungan dengan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

“Berdasarkan laporan petugas telik sandi yang kutugaskan membayangi Ra Kuti, di kediamannya ada seorang lelaki tua yang tinggal bersamanya. Tidak banyak yang mengenalnya, dan apa hubungannya dengan Ra Kuti . Yang diketahui bahwa orang itu nampaknya sering keluar rumah Ra Kuti untuk waktu yang cukup lama”, berkata Adityawarman.

“Aku merasa condong bahwa orang itulah yang digunakan oleh Mahapatih dan Ra Kuti sebagai kepanjangan lidah mereka berdua mengendalikan pasukan yang mereka sembunyikan itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

“Mulai hari ini aku akan membayangi orang itu”, berkata Adityawarman kepada Tumenggung Mahesa Semu.

“Sebaiknya kamu meminta bantuan orang biasa yang kita percaya, aku khawatir dirimu dan semua petugas telik sandi di kerajaan Majapahit ini sudah mereka kenali”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman.

“Mungkin kita bisa meminta bantuan Supo Mandagri”, berkata Adityawarman mengusulkan sebuah nama kepada Tumenggung Mahesa Semu.

“Aku percaya dengan anak muda itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menyetujui usulan Adityawarman itu.

Demikianlah, pada hari itu juga Adityawarman telah pamit diri kepada Tumenggung Mahesa Semu untuk menemui Supo Mandagri di Tanah Ujung Galuh.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Supo Mandagri adalah seorang anak muda yang tinggal bersama Gajahmada dan ibundanya di sebuah puri Pasanggrahan milik Jayakatwang di Tanah Ujung Galuh.

Atas ijin dari Gajahmada, anak muda itu telah membangun sebuah pondokan di belakang Puri Pasanggrahan itu yang digunakan sebagai dapur pembuatan keris pusaka.

Sementara itu di waktu yang sama di pagi itu terlihat sebuah iring-iringan pasukan besar telah berada di Pasuruan tidak jauh dari pantai Gadingrejo. Mereka langsung membangun barak-barak darurat di sebuah tanah lapang yang cukup luas disana.

Itulah enam ribu pasukan Majapahit yang dicurigai oleh Tumenggung Mahesa Semu sebagai sebuah pasukan yang digalang oleh Mahapatih dan Ra Kuti sebagai sebuah kekuatan bayangan yang akan menandingi kekuatan pasukan Majapahit yang ada.

“Gila, gila, gila, Bahtera perahu besar yang membawa persediaan pangan kita tidak diketahui rimbanya?”, berkata seorang lelaki yang nampaknya pimpinan tertinggi pasukan besar yang telah membangun barak pasukan di pantai Gadingrejo.

Nampaknya lelaki pimpinan pasukan besar itu tengah berbicara dengan dua orang kepercayaannya, bawahannya langsung.

“Lembu Peteng, lekas kamu cari tahu apa yang terjadi dengan bahtera itu, juga bahtera yang membawa seribu orang prajurit Majapahit di pantai Pasuruan ini”, berkata pimpinan pasukan itu kepada bawahannya yang dipanggil sebagai Rangga Lembu Peteng itu.

“Baik Ki Jabung Terewes, aku akan segera mencari tahu”, berkata Lembu Peteng sambil berpamit diri kepada pimpinannya itu yang dipanggilnya sebagai Ki Jabung Terewes itu, seorang yang berwajah keras ditandai dengan kedua rahang yang menonjol dan alis mata tebal hampir menyatu. Cambang, janggut dan kumis orang itu terlihat begitu lebat dan hitam tumbuh tak terpelihara.

“Ikal-ikalan Bang, berapa sisa ransum untuk pasukan kita sampai dengan hari ini?”, bertanya Ki Jabung Terewes kepada bawahannya yang lain yang dipanggilnya sebagai Ikal-ikalan Bang itu.
“Hanya tersisa untuk tiga hari perjalanan”, berkata Ikal-ikalan Bang kepada Ki Jabung Terewes.

“Hanya tinggal tiga hari perjalanan?”, berkata Ki Jabung Terewes dengan wajah sangat gusar sekali.

“Perhitunganku, dua atau tiga hari ini sawah di Tanah Lamajang sudah tua dan siap di panen. Bila kita dapat menguasai istana Kadipaten Lamajang, maka kita tidak akan kekurangan ransum untuk pasukan kita”, berkata Ikal-ikalan Bang kepada Ki Jabung Terewes.

“Otakmu sangat encer, namun kita masih harus menunggu Lembu Peteng yang tengah mencari tahu apa yang terjadi atas dua bahtera milik kerajaan Majapahit yang ditugaskan sebagai pendukung pasukan kita ini”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang.

Sementara itu Lembu Peteng sudah berkuda meninggalkan barak-barak darurat mereka, mencoba mencari tahu apa yang terjadi atas dua Bahtera yang memang sengaja diberangkatkan ke pantai Pasuruan untuk mendukung enam ribu pasukan yang akan melakukan penyerangan di Tanah Lamajang itu.

Terlihat Lembu Peteng telah memasuki sebuah perkampungan nelayan di sekitar pantai Gadingrejo.

“Aku tidak pernah melihat Bahtera besar merapat di pantai Gadingrejo, hanya selentingan kabar dari beberapa kawan yang semalam mencari ikan dekat pantai Bugulkidul, telah melihat dua bahtera besar telah karam hangus terbakar di pinggir pantainya”, berkata seorang lelaki tua yang ditanyakan oleh Lembu Peteng.

“Terima kasih pak tua”, berkata Lembu Peteng kepada lelaki tua itu yang langsung melanjutkan pekerjaannya memperbaiki jaringnya.

Sementara itu Lembu Peteng terlihat sudah berada kembali diatas punggung kudanya berjalan menuju arah pantai Bugulkidul.

Bukan main terkejutnya Lembu Peteng manakala telah tiba di pantai Bugulkidul, ternyata perkataan orang tua yang ditemui di perkampungan nelayan itu memang benar bahwa ada dua bahtera besar terlihat karam di pantai dengan kondisi yang sudah hangus terbakar.

“Aku akan melaporkan semua ini kepada Ki Jabung Terewes”, berkata Lembu Peteng dalam hati.

Terlihat Lembu Peteng telah memacu kudanya berlari menuju arah tempat pasukannya membangun barak-barak darurat.

“Gila, gila, gila !!”, berkata Ki Jabung Terewes manakala mendengar cerita Lembu Peteng yang telah melihat dua bahtera besar karam terbakar di pantai Bugulkidul itu.

“Nampaknya mereka telah dapat membaca rencana besar penyerangan kita ini”, berkata Ikal-ikalan Bang memberikan tanggapannya atas berita yang di bawa oleh Lembu Peteng itu.

“Senja ini juga kita harus memberangkatkan pasukan kita menggempur istana Lamajang”, berkata Ki Jabung Terewes kepada kedua bawahannya itu.

“Aku akan menyiapkan pasukanku”, berkata Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang kepada Ki Jabung Terewes.

Demikianlah, Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang telah menemui pasukannya masing-masing untuk memberitahukan bahwa menjelang senja ini mereka akan berangkat menuju Kadipaten Lamajang.

Satu dua prajurit terlihat menampakkan wajah keberatannya, namun mereka nampaknya tidak ada kekuatan apapun untuk menolak perintah atasannya itu.

“Perintah gila, baru beristirahat sudah diperintahkan berangkat segera”, berkata seorang prajurit dengan wajah kesal bersungut-sungut menyiapkan beberapa perlengkapan yang harus dibawanya.

“Salah garis tanganmu, mengapa ditakdirkan menjadi bawahan”, berkata seorang prajurit kawannya itu.

Mendengar perkataan kawannya itu, terlihat prajurit itu langsung membuka telapak tangannya sendiri.

“Ki Juru nujum pernah mengatakan bahwa aku akan menjadi seorang yang kaya raya, hanya setelah usiaku menjelang enam puluh tahun”, berkata prajurit itu kepada kawannya.

Mendengar perkataan prajurit itu, terlihat kawannya tertawa terbahak-bahak.

“Mengapa kamu tertawa seperti itu?”, bertanya prajurit itu kepada kawannya.

“Ternyata mudah sekali orang sepertimu kena tertipu, mana ada juru nujum mengatakan tentang berita buruk, yang pasti adalah berita gembira agar orang memberi hadiah kegembiraannya”, berkata kawan prajurit itu masih tertawa terpingkal-pingkal karena selama itu melihat prajurit itu seorang yang sangat cerdas, namun dapat dikerjai sama seorang tukang nujum.

Sementara itu beberapa prajurit terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke Tanah Lamajang.

Demikianlah, menjelang senja pasukan segelar sepapan berjumlah enam ribu prajurit Majapahit itu terlihat sudah bergerak menuju arah Tanah Lamajang.

Disaat malam telah menjadi gelap dan dingin, pasukan besar itu tetap tidak berhenti berjalan. Terlihat langkah kaki para prajurit mulai semakin lambat digayuti rasa kantuk yang amat sangat, namun mereka terus memaksakan dirinya membuang jauh-jauh rasa kantuk itu karena tidak ada perintah dari atasan mereka untuk berhenti sebentar guna dapat mengejapkan sedikit rasa kantuk mereka.

Ki Jabung Terewes nampaknya menyadari keadaan prajuritnya itu, namun mengingat persediaan pangan mereka yang hanya dapat bertahan untuk tiga hari perjalanan, maka dengan sangat terpaksa membuta-tulikan perasaannya itu.

Hingga akhirnya ketika warna langit terlihat mulai merekah memerah, diperintahkan prajuritnya untuk beristirahat. Bersamaan saat itu mereka telah berada disekitar perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

Keberadaan para pasukan dari Majapahit itu yang berada di tempat terbuka itu telah terlihat oleh para prajurit Lamajang yang memang telah disiagakan menunggu kehadiran mereka.

“Kabarkan bahwa pasukan Majapahit telah datang, sementara aku tetap disini mengamati mereka”, berkata seorang prajurit Lamajang kepada kawannya.

Terlihat kawan prajurit itu dengan berendap-endap keluar dari persembunyiannya dan langsung menyelinap diantara gerumbul dan ilalang berjalan kearah kota Kadipaten Lamajang.

“Tidak perlu mendatanginya di luar perbatasan kota, kita tunggu dan sambut mereka dari balik dinding istana ini dengan hujan anak panah”, berkata Empu Nambi ketika mendengar berita tentang keberadaan pasukan Majapahit di perbatasan kota.

Dan tidak lama kemudian, terlihat beberapa prajurit Lamajang telah bersiap di sepanjang dinding dengan busur dan anak panahnya, sementara beberapa orang prajurit lainnya telah berada dibelakang pasukan pemanah itu, siap dengan persenjataan mereka.

Terlihat wajah para prajurit itu sangat segar dan bugar, karena pagi-pagi sekali sudah mengisi perutnya dengan ransum yang telah disiapkan untuk mereka.

Jalan utama didepan istana Kadipaten Lamajang itu masih sepi dan lengang.

Sementara itu di perbatasan kota Kadipaten Lamajang, terlihat Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng tengah melaporkan kepada Senapati perang mereka, Ki Jabung Terewes, bahwa pasukan seluruhnya telah siap terjun menghadapi pertempuran.

“Mereka orang-orang di tanah Lamajang ini tidak datang menghadang kita, apakah mereka takut melihat jumlah kita?”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang.

“Menurutku memang begitu, mereka sudah takut lebih dulu melihat pasukan kita seperti seekor anjing kurap yang menyembunyikan ekornya”, berkata Lembu Peteng.

“Menurutku mereka tidak takut menghadapi kita, yang mereka lakukan saat ini adalah membiarkan pasukan kita kehabisan ransum dan kedinginan di tempat terbuka. Bukankah mereka telah mencuri ransum kita?, pastinya mereka sudah dapat menghitung berapa hari kita bisa bertahan dengan persediaan yang masih kita miliki itu”, berkata Ikal-ikalan Bang yang nampaknya sangat teliti dan punya banyak perhitungan itu.

“Bila demikian, hari ini juga kita langsung hantam mereka di jantung kotanya”, berkata Ki jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng.

Maka tidak lama berselang seluruh pasukan telah disiapkan untuk masuk menggempur kota Kadipaten Lamajang.
Terlihat pasukan yang sangat besar itu, berjumlah sekitar enam ribu prajurit Majapahit telah bergerak memasuki gapura batas kota Lamajang.

“Gila, gila, gila !!, mereka nampaknya memang ingin membuat kita mati kelaparan”, berkata Ki Jabung Terewes manakala melihat persawahan di kiri kanan jalan yang mereka lalui sudah hitam hangus terbakar.

“Mereka sudah mengetahui rencana penyerangan ini, pasti ada yang membocorkannya”, berkata Ikal-Ikalan Bang kepada Ki jabung Terewes.

“Kita hancurkan istana mereka, kita jarah apapun yang ada di dalam istana mereka”, berkata Lembu Peteng dengan perasaan begitu sangat geram tidak sabaran lagi untuk secepatnya menggempur pasukan musuh.

“Mungkinkah mereka telah mengosongkan istana mereka sendiri?”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng manakala telah melihat gerbang istana Kadipaten Lamajang yang tertutup dan terkesan begitu sepi tak terlihat seorang pun prajuritnya dari luar.

“Ternyata begitu mudahnya menguasai Tanah Lamajang”, berkata Lembu Peteng tersenyum bangga membayangkan penguasa bumi Lamajang sudah lari mengungsi takut menghadapi mereka.

Mendengar perkataan Lembu Peteng telah membuat Ki Jabung Terewes ikut berpikir yang sama, telah memberi perintah pasukannya untuk terus bergerak mendekati istana kadipaten yang sangat lengang itu.

Namun manakala pasukan Ki jabung Terewes itu sudah sangat dekat sekali dengan istana Kadipaten Lamajang, ribuan anak panah telah meluncur menghujani mereka berasal dari balik pagar dinding batu istana.

“Gila, gila, gila !!”, berteriak Ki Jabung Terewes sambil mundur bersama pasukannya keluar dari jangkauan anak panah yang menghujani mereka.

Puluhan prajurit Majapahit yang tak mampu cepat berlari dan menghindar telah terluka parah terkena hujan panah itu.

“Aku akan merobek perut semua orang di dalam istana itu”, berkata Ki Jabung Terewes yang telah berhasil berlari menghindari hujan anak panah itu.

“Kita harus menghancurkan pintu gerbang istana itu”, berkata Ikal-ikalan Bang yang melihat hanya pintu gerbang istana saja yang dapat digempur, sementara dinding pagar yang mengelilingi istana terbuat dari batu yang sangat tebal.

“Perlu sebatang pohon besar dan sebuah pedati”, berkata Lembu Peteng mencoba memutar akalnya.

Maka beberapa prajurit telah menebang sebuah pohon kayu yang cukup besar, juga telah menemukan sebuah pedati yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

“Kita harus melindungi prajurit kita yang akan membawa kayu dan pedati itu”, berkata Lembu Peteng manakala melihat alat untuk mendobrak gerbang istana Kadipaten sudah siap di luncurkan.

“Dengan hujan anak panah”, berkata Ikal-Ikal Bang

“Begitu pintu gerbang dapat di hancurkan, kita segera menerobos bersama”, berkata Ki Jabung Terewes seperti tidak sabar melihat pintu gerbang istana yang hancur berkeping-keping terhantam luncuran batang kayu besar diatas pedati itu.

Akhirnya terlihat sebuah batang kayu besar diatas pedati telah didorong oleh sekitar dua puluh orang prajurit Majapahit.

Untuk melindungi kawan-kawan mereka yang tengah menggerakkan pedati, ratusan prajurit Majapahit telah menghujani istana Kadipaten Lamajang dengan hujan anak panah yang meluncur memasuki dinding pagar istana. Sementara ribuan prajurit lainnya telah bersiap diri segera menerobos masuk manakala gerbang dapat dihancurkan.

Namun tidak ada yang menduga sama sekali, Ki Jabung Terewes, Lembu Peteng bahkan Ikal-Ikal Bang yang paling cerdas otaknya. Karena dari dalam istana Kadipaten itu telah meluncur ribuan anak panah api langsung menghujani pedati dan batang kayu diatasnya.

Akibatnya para prajurit Majapahit yang ditugaskan membawa pedati itu berlarian meninggalkan pedati yang panas terbakar, juga beberapa temannya yang tertembus panah berapi.

“Gila, gila, gila !!!”, bergetar seluruh tubuh Ki jabung Terewes melihat kegagalan usahanya itu.

“Ikal-ikalan Bang, apa kamu punya rencana lain”, bertanya Ki Jabung Terewes kepada Ikal-Ikalan Bang merasa sudah mulai buntu pikirannya.

“Kita sudah membuang waktu yang banyak, sebentar lagi hari akan gelap. Malam ini kita carikan akal bersama, tentunya dengan pikiran yang lebih jernih lagi”, berkata Ikal-ikalan Bang memberikan usulan.

Nampaknya Ki Jabung tidak punya rencana yang lain selain mengikuti usulan bawahannya yang sangat dipercaya yang punya otak lebih encer itu dibandingkan Lembu Peteng.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikal-Ikalan Bang, hari memang sebentar lagi akan menjadi gelap. Maka Ki Jabung Terewes telah memerintahkan pasukannya untuk kembali mundur ke perbatasan kota.

Sementara itu, para prajurit Lamajang yang masih berjaga-jaga di sepanjang dinding istana tidak menyerang para prajurit Majapahit yang tengah mengumpulkan beberapa mayat-mayat kawan mereka yang bertebaran tergeletak di depan istana Kadipaten itu.

“Menurut perhitunganku, mereka akan melakukan penyerangan habis-habisan esok hari”, berkata Empu Nambi kepada orang-orangnya di atas pendapa istana Kadipaten.”Menurut perhitunganku pula, para prajurit dari Blambangan dan orang-orang dari perguruan

Teratai Putih dari Balidwipa telah tiba di Tanah Lamajang ini”, berkata kembali Empu Nambi kepada orang-orangnya di Pendapa istana Kadipaten.

“Dengan kedatangan bantuan pasukan dari Balambangan dan Balidwipa itu, jumlah kita akan menjadi sangat lebih dari cukup untuk menghantam para prajurit Majapahit itu”, berkata Adipati Menak Koncar.

“Bila terjadi perang brubuh, perlu keseragaman untuk menghindari kesalahan mengenal kawan dan lawan”, berkata Rangga Pamandana.

“Itulah yang aku khawatirkan dapat terjadi atas para prajurit dari Balambangan dan kawan-kawan dari Balidwipa itu. Maka kutugaskan kepadamu, wahai Rangga Pamandana di malam ini juga dapat menemui para prajurit dari timur Jawadwipa ini, menyampaikan pertanda yang akan kita kenakan”, berkata Empu Nambi.

“Pertanda apa yang akan kita kenakan kepada prajurit di pihak kita, wahai ayahandaku?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

“Daun jarak di kepala”, berkata Empu Nambi menjawab pertanyaan Adipati Menak Koncar.

Demikianlah, pada malam itu juga Rangga Pamandana telah ditugaskan untuk menemui para prajurit dari Balambangan dan para simpatisan dari perguruan Teratai Putih dari Balidwipa yang diperhitungkan masih di perjalanan menuju Tanah Lamajang.

“Kami akan biarkan mereka menerobos masuk ke istana ini, disaat seperti itulah pasukan yang kamu bawa datang menjepit mereka”, berkata Empu Nambi menyampaikan beberapa pesan kepada Rangga Pamandana yang telah ditugaskan menjadi penghubung pasukan dari Blambangan dan Balidwipa itu.

Dan sangkala terus menggenggam bumi, melenterakan bintang kejora di ujung malam berganti.

Terlihat sebuah kesibukan yang luar biasa di dapur umum, beberapa petugas tengah menyiapkan ransum pagi untuk para prajurit Lamajang.

Sementara itu jalan di depan istana Kadipaten Lamajang masih nampak lengang, namun setiap prajurit Lamajang tidak pernah sepi berjaga di setiap waktu mengamati keadaan dan suasana.

“Pasukan daun jarak, itulah sandi kita hari ini”, berkata seorang kepala prajurit Lamajang kepada beberapa orang prajurit sambil membagikan beberapa tangkai daun jarak untuk dikenakan di atas kepala setiap prajurit.

Dan perlahan warna pagi mulai terang disinari cahaya matahari yang telah muncul penuh di timur bumi.

Menanti dan menunggu, itulah sikap para prajurit di balik pagar dinding istana Kadipaten Lamajang. Wajah-wajah tegang nampak menghiasi para prajurit Lamajang yang meresa yakin bahwa prajurit Majapahit akan muncul kembali.

Hingga akhirnya yang mereka tunggu dan nantikan itu terlihat telah datang kembali diawali dengan derap langkah kaki mereka dan suara tombak yang beradu dengan tanah seperti sengaja membuat suara gaduh yang dapat menggetarkan semangat pihak lawan.

Terlihat barisan prajurit Majapahit yang berhenti beberapa tombak di luar jangkauan serangan anak panah. Nampaknya hari itu mereka telah menyiapkan beberapa anak tangga dari batang-batang kayu.

“Persiapkan pasukan pemanahmu”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Lembu Peteng.

Tanpa menunggu perintah kedua, terlihat Lembu Peteng mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi yang diikuti oleh seorang prajurit penghubungnya yang langsung mengangkat tiang bendera tinggi-tinggi.

“Serang !!!”, mengguntur suara lembu Peteng memberi perintah diikuti oleh prajurit penghubungnya yang telah menggerakkan bendera berayun-ayun kekiri dan kekanan.

Ternyata isyarat bendera itu adalah sebagai perintah pasukan pemanah maju ke depan. Terlihat ratusan pasukan pemanah telah bergerak maju kedepan sambil melepaskan anak panah mereka jauh keatas pagar dinding istana kadipaten.

Diantara deru suara hujan anak panah itulah terlihat ratusan prajurit Majapahit telah maju bergerak mendekati pagar dinding istana sambil membawa batang-batang kayu yang sudah dibentuk menjadi sebuah anak tangga. Dibelakang seorang pembawa anak tangga, terlihat puluhan prajurit mengekor dibelakangnya.

Hujan anak panah ternyata telah melindungi pasukan pembawa anak tangga itu mendekati pagar dinding istana.

Namun di tengah perjalanan, hujan anak panah balasan terlihat meluncur dari balik dinding istana Kadipaten sebagai serangan balasan.

Serangan balasan hujan panah telah mencerai beraikan pasukan pembawa anak tangga, namun tidak menghentikan langkah maju pasukan itu yang terus bergerak mendekati dinding pagar istana.

Terlihat seorang prajurit Majapahit mengambil sebuah batang kayu anak tangga yang terlepas jatuh di tanah dari pembawanya yang terkena anak panah. Ratusan pasukan pembawa anak tangga terus maju bergerak tak menghiraukan hujan panah diatas kepala mereka.

Luar biasa semangat para pembawa anak tangga dari pasukan Majapahit itu yang akhirnya telah dapat menyandarkan batang-batang kayu itu di dinding batu istana kadipaten dan langsung dipanjati oleh ratusan prajurit yang datang bersamanya itu.

Malang nasib beberapa orang prajurit yang datang bersama para pasukan pembawa anak tangga itu, sebuah sabetan pedang tajam telah menebas batang kepala mereka dan langsung jatuh terlempar ke tanah.

Ternyata prajurit Lamajang telah menanti di balik di dinding dalam pagar siap meruntuhkan prajurit lawan yang mencoba masuk menerobos.

Namun beberapa prajurit Majapahit dapat lolos dari sergapan tersembunyi itu dan langsung melompat masuk kedalam.

Kembali kemalangan menimpa prajurit Majapahit yang telah lolos dari sergapan pertama itu, karena puluhan pedang dan lembing lawan sudah langsung menyapanya.

Ikal-Ikalan Bang berada dalam pasukan pembawa anak tangga itu, telah berhasil menerobos masuk kedalam dan mengamankan jalur celah itu dengan beberapa orang prajuritnya.

Dari jalur celah dinding batu yang berhasil di kuasai Ikal-Ikalan Bang dan beberapa prajuritnya itu, mengalirlah pasukan Majapahit menerobos masuk kedalam istana Lamajang.

Keberhasilan Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya diikuti oleh keberhasilan para pasukan pembawa anak tangga lainnya.

Lambat tapi pasti, dinding pagar batu istana Lamajang sudah tidak mampu lagi menahan laju aliran masuknya pasukan Majapahit yang terus menerobos memenuhi istana Lamajang di bagian dalam itu.

Melihat pasukan Majapahit sudah hampir sebagian masuk dan bertempur di dalam istana, terlihat Ikal-ikalan Bang dan kelompoknya telah bergerak bergeser kea rah pintu gerbang istana Lamajang.

Luar biasa tandang Ikal-Ikalan yang bertubuh pendek dan gempal itu, tidak seorang pun prajurit Lamajang yang dapat menahannya, trisula ditangan kanan dan senjata cakra di tangan kirinya selalu saja berhasil singgah di tubuh prajurit Lamajang yang mendekatinya.

Akibatnya, Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya tidak dapat di tahan telah berhasil mendekati pintu gerbang istana.

“Buka gerbang lebar-lebar !!”, berteriak Ikal-Ikalan Bang memerintahkan dua orang prajuritnya.

Dibawah pengawalan Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya, dua orang prajurit Majapahit telah dapat membuka pintu gerbang istana. Dan begitu pintu gerbang istana yang terbuat dari kayu jati sangat kuat itu terkuak, terlihat ribuan prajurit Majapahit telah bergerak masuk lewat pintu gerbang yang sudah terbuka penuh itu dan langsung memenuhi bagian dalam istana Lamajang.

Perang tanding pun sudah tidak dapat di hindari lagi, denting suara senjata beradu dan teriakan maut memenuhi setiap sisi halaman istana.

Halaman istana Lamajang sudah berubah menjadi sebuah panggung pertempuran yang sangat bergelora.

“Gelar tempur cakar elang”, berkata dalam hati Adipati Menak Koncar yang telah pasukan lawannya telah membentuk beberapa kelompok tempur melakukan sebuah gerak langkah yang pernah dilihatnya dalam sebuah pertempuran di bumi Blambangan beberapa waktu yang lalu. Hanya bedanya pasukan lawannya menggunakan senjata trisula dan cakra.

“Ki Secang nampaknya telah menyempurnakan jurus tempurnya”, berkata dalam hati Adipati Menak Koncar.

Ternyata Empu Nambi juga melihat gerak jurus tempur itu yang memang sangat luar biasa telah mampu menekan prajurit Lamajang.

“Gajahmada pernah bercerita kepadaku tentang jurus tempur ini”, berkata Empu Nambi ditengah-tengah pertempurannya sambil menahan beberapa orang prajurit Majapahit.

Namun tiba-tiba saja Empu Nambi telah mendengar suara mengguntur, suara yang dikenalnya yang berasal dari Adipati Menak Koncar.

“Naga terbang turun ke bumi !!”, terdengar suara mengguntur dari Adipati Menak Koncar seperti mengalahkan suara denting dan kebisingan pertempuran.

Terlihat Empu Nambi seperti sedikit tersenyum manakala melihat para prajurit Lamajang langsung bergerak membentuk beberapa kelompok, melakukan sebuah gerak tempur yang sangat dikenalnya, sebuah gerak tempur ciptaannya sendiri yang dinamakannya sebagai Naga Terbang Turun Ke Bumi.

Bilasaja halaman istana Lamajang adalah sebuah panggung tontonan, pastilah sebuah panggung tontonan yang sangat mengasyikkan. Namun yang terjadi saat itu di halaman istana adalah sebuah panggung pertempuran sungguhan. Dua kelompok besar manusia dengan jurus tempur yang berbeda tengah menunjukkan kelebihan masing-masing. Dua jenis jurus tempur yang diciptakan oleh dua orang manusia yang mewakili dua watak yang berbeda seperti mewakili dua pihak yang tengah bertempur saat itu, seekor naga terbang meliuk-liuk terkadang menyemburkan lidah apinya melawan seekor elang jantan yang sangat kuat dan buas, sungguh sebuah panggung pertempuran yang sangat menggetarkan hati.

Sudah cukup lama pertempuran di istana Lamajang itu berlangsung, tidak juga terlihat tanda-tanda akan berakhir, kedua belah pihak sama-sama kuat dan sama banyaknya, Korban di kedua belah pihak juga sama-sama banyaknya.

Ki Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal-Ikalan Bang benar-benar menunjukkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang mempunyai kelebihan, terlihat begitu ahlinya menggunakan trisula dan cakra yang menjadi cirri khas pasukan Majapahit baru itu.

Sementara itu Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Panji Samara, Panji Anengah dan Panji Wiranagari di pihak Lamajang adalah tonggak-tonggak hidup yang selalu dapat menjaga dan membentengi terjangan serangan pihak pasukan prajurit Majapahit, bahkan telah dapat merobohkan beberapa orang di pihak lawan mereka.

“Akulah lawan tandingmu”, berkata Ki Jabung Terewes menghadang Adipati Menak Koncar yang dilihatnya telah banyak menggugurkan para prajuritnya.

“Aku banyak mengenal perwira tinggi prajurit Majapahit, nampaknya kamu orang baru di lingkungan keprajuritan Majapahit”, berkata Adipati Menak Koncar menatap Ki Jabung Terewes yang datang menghadangnya.

“Akulah senapati besar di pasukan ini, pemimpin prajurit Majapahit baru”, berkata Ki Jabung Terewes dengan wajah penuh ketinggian hati.

“Pemimpin prajurit Majapahit baru, dengan trisula dan cakra”, berkata Adipati Menak Koncar. “Pantas, aku tidak mengenalmu sebelumnya”, berkata kembali Adipati Menak Koncar.

“Setelah melihat bumi Lamajang ini menjadi lautan api, kamu baru akan menyesal telah mengenalku”, berkata Ki Jabung Terewes sambil bersiap untuk melakukan sebuah serangan.

“Para perwira tinggi Majapahit yang kukenal adalah orang-orang yang santun, tidak sombong seperti dirimu”, berkata Adipati Menak Koncar sambil bersiap menguatkan kuda-kudanya yang kokoh berdiri diatas tanah.

Perkataan Adipati Menak Koncar itu telah membuat darah Ki Jabung mendidih.

“Kurobek mulutmu itu”, berkata Ki Jabung Terewes yang langsung menerjang Adipati Menak Koncar dengan sebuah ujung trisula yang meluncur cepat seperti sebuah anak yang dilepaskan dari tali busurnya.

Namun Adipati Menak Koncar bukan orang biasa yang mudah terkejut menerima serangan dan terjangan lawan yang sangat cepat dan terkesan sangat ganas itu, dengan penuh ketenangan dan kepercayaan diri yang amat tinggi terlihat Adipati Menak Koncar hanya bergeser sedikit ke kanan.

Terkejut Ki Jabung Terewes melihat trisulanya hanya dapat menembus angin kosong, lawannya telah bergerak dengan sangat cepat sekali menghindari serangannya.

bersambung ke senthong kanan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 13 April 2015 at 00:01  Comments (110)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

110 KomentarTinggalkan komentar

  1. Mendapatkan ancaman dari kedua begundal itu tidak membuat takut sedikitpun diwajah orang tua itu. Bahkan terlihat sikapnya yang sangat dingin seakan meremehkan kedua begundal itu.

    “huhh”, terdengar dengus orang tua itu sebagai sikap tantangan.

    Kedua begundal itu sudah seperti hilang kendali melihat sikap orang tua itu, terlihat sudah mulai menggerakkan golok panjang di tangan mereka.

    Namun tiba-tiba saja kedua begundal itu mengurungkan niatnya, menahan golok panjangnya karena mendengar sebuah teriakan.

    “jangan kalian sakiti orang tua itu !!”, terdengar sebuah teriakan dari arah belakang kedua begundal itu.

    Ternyata yang berteriak dan datang ditempat itu adalah Supo Mandagri.

    “Biarkan orang tua itu pergi, bawalah kerisku ini sebagai penggantinya”, berkata Supo Mandagri kepada kedua begundal itu sambil menunjukkan sebuah keris di tangannya.

    “Keris yang sangat bagus”, berkata salah seorang begundal penuh kagum melihat keris ditangan Supo Mandagri.

    “Kuberikan untukmu, jangan sakiti orang tua itu”, berkata Supo Mandagri sambil menyerahkan keris miliknya.

    Mendapat sebuah keris yang sangat bagus dan sangat berharga itu telah membuat kedua begundal itu sama sekali melupakan orang tua yang semula ingin di perasnya itu,terlihat kedua begundal itu sudah pergi berlalu menghilang di sebuah persimpangan jalan.

    “Kamu tidak sama sekali mengenalku, mengapa berbaik hati menolongku ?”, bertanya orang tua itu kepadaSupo Mandagri.

    “Kenal atau tidak kenal, sudah menjadi kewajibanku menolong siapapun”, berkata Supo Mandagri.

    “Tapi kamu telah mengorbankan sebuah keris yang sangat berharga”, berkata orang tua itu.

    “Aku seorang pembuat keris, pada suatu saat aku dapat membuat yang lebih bagus lagi dari yang ku punya itu”, berkata Supo Mandagri.
    “kamu seorang pembuat keris ?”, bertanya orang tua itu.

    “Benar, aku seorang pembuat keris”, berkata Supo Mandagri sambil sedikit bercerita tentang asal usulnya yang berasal dari Tanah Tuban dan saat ini tengah mencari tambahan biaya melanjutkan usaha orang tuanya sebagai pembuat keris.

    “Seorang pembuat keris punya kemampuan melebihi seorang pandai besi”, berkata orang tua itu.

    “Benar, aku mampu membuat berbagai senjata, namun seorang pandai besi biasa tidak mampu membuat sebuah keris”, berkata Supo Mandagri membanggakan dirinya sendiri.

    “Sangat kebetulan sekali, kami tengah mencari seorang pandai besi yang ahli”, berkata orang tua itu.

  2. Suwun Ki Dalang. Maltu, malam Sabtu.

    • ladhalah … tak kiro peltu jeee …

  3. suwun ki

  4. Alhamdulillah

    Hampir seminggu Satpam menjadi “tahanan rumah”. Polisi di rumah galak setengah mati. Baru hari ini diijinkan buka PC (kemarin sih sebenarnya sudah buka juga, tapi nyuri-nyuri jika polisinya tidak ada di rumah).

    hadu… harus nyapu dua padepokan, capek juga.
    rontal sudah tertata rapi di tempatnya.
    Hmm… sudah masuk ke senthong kanan rupanya.
    suwun Pak Dhalang.

  5. “Percayalah padaku, aku tidak akan mengecewakan”, berkata Supo Mandagri penuh kegembiraan hati telah dapat mendekati sasarannya itu.

    “Panggil aku Ki Samban, aku akan mengajakmu kesebuah tempat”, berkata orang tua itu yang menyebut dirinya bernama Ki Samban.

    “Aku seorang pengembara, tiada sanak dan saudara. Aku akan ikut bersamamu”, berkata Supo Mandagri mencoba meyakinkan Ki Samban bahwa dirinya tidak tinggal di Kotaraja Majapahit, hanya seorang pengembara.

    Terlihat Ki Samban telah berjalan bersama Supo Mandagri ke arah barat Kotaraja Majapahit, sementara matahari sudah bergeser jauh dari puncaknya.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah bukit berbatu.

    Manakala mereka telah mencapai puncak bukit berbatu itu, Ki Samban telah mengambil arah selatan lereng bukit berbatu itu hingga akhirnya menemukan sebuah jalan buntu, sebuah jurang yang sangat amat tinggi tak terlihat dasarnya.

    “Apakah kamu punya keberanian menuruni jurang ini ?”,bertanya Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Perlu sebuah sayap untuk terjun ke jurang ini”, berkata Supo Mandagri yang tidak melihat alat apapun untuk dapat menuruni jurang terjal itu.

    Terlihat Ki Samban tersenyum mendengar jawaban Supo Mandagri yang nampaknya tidak punya rasa takut sedikitpun berdiri diatas jurang terjal itu.

    Tapi tiba-tiba saja Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit panjang hingga tiga kali.

    “Ternyata ada sebuah goa yang terhalang rerimbunan”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang telah melihat seseorang keluar dari sebuah goa yang terhalang sebuah rerimbunan semak belukar.

    “Selamat datang Ki Samban”, berkata orang itu kepada Ki Samban sambil membawa sebuah anak tangga yang terbuat dari tali temali dan batang rotan sebagai anak tangganya.

    Terlihat orang itu langsung mengikat ujung tali temali anak tangga itu kesebuah batu cadas.

    “Tidak perlu sebuah sayap untuk menuruni jurang ini”, berkata Ki Samban mengajak Supo Mandagri menuruni jurang itu dengan tali anak tangga yang sudah disiapkan.

    Ketika melihat Ki Samban menuruni jurang dengan tali temali anak tangga, maka Supo Mandagri tanpa rasa takut apapun telah langsung mengikutinya, menuruni jurang yang amat dalam itu.

    “Pantas Tumenggung Mahesa Semu tidak dapat menemukan tempat persembunyian mereka”, berkata Supo Mandagri dalam hati ketika kakinya telah menginjak tanah di dasar jurang yang amat terjal dan dalam itu.

    Kembali Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit tiga kali, maka anak tangga itu terlihat ditarik kembali dari atas.

    “Seperti itulah memanggil penjaga tali anak tangga itu”, berkata dalam hati Supo Mandagri.

  6. Ternyata tidak jauh dari tempat pendaratan mereka di dasar jurang itu terlihat sebuah tanah lapang yang cukup luas.

    “Disinilah pusat kekuatan baru Ra Kuti itu”, berkata Supo Mandagri dalam hati manakala telah melihat tiga buah barak panjang yang berjajar menghadap kearah tanah lapang yang cukup luas itu. Didalam barak-barak panjang itu terlihat banyak sekali prajurit yang tengah beristirahat.

    Akhirnya Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke sebuah gubukan yang terpisah dari barak-barak prajurit.

    Ternyata Ki Samban telah membawa Supo Mandagri ke tempat pertukangan pandai besi yang dilengkapi dengan dapur perapiannya.

    “Sepekan yang lalu seorang pandai besi kami sakit keras dan mati, kami akan membayar penuh setelah kamu dapat menyiapkan semua pesanan kami”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri.

    “Barang jenis apa yang akan kubuat ?”, bertanya Supo Mandagri.

    “Tiga ribu mata anak panah”, berkata Ki Samban.

    “Apakah aku boleh meminta seorang pembantu ?”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Aku akan memberimu dua orang pembantu”, berkataKi Samban kepada Supo Mandagri.

    “Terima kasih telah memberiku sebuah kerja”, berkata Supo Mandagri kepada Ki Samban.

    “Sekarang beristirahatlah, besok pagi kamu sudah mulai bekerja”, berkata Ki Samban kepada Supo Mandagri dan langsung meninggalkannya seorang diri di gubuk itu.

    Terlihat Supo Mandagri telah berbaring di sebuah bale bambu yang ada di dalam gubuk itu, sambil terus berpikir bagaimana caranya untuk dapat keluar dari tempat itu. Sementara itu malam sudah mulai merambati seisi tanah lapang di dasar jurang yang sangat dalam itu, sebuah pusat kekuatan baru yang sudah lama di bangun oleh Ra Kuti untuk sebuah cita-cita dan harapannya menjadi seorang raja di Kerajaan Majapahit.

    “Ternyata kecurigaan Tumenggung Mahesa Semu terhadap Ra Kuti selama ini telah terbukti,begitu busuknya hati orang itu, tidak menghargai Baginda Raja Sanggrama Wikaya yang telah menobatkannya sebagai salah satu pejabat Dharmaputra”, berkata dalam hati Supo Mandagri masih belum dapat memejamkan matanya.

    Namun akhirnya anak muda itu dapat tertidur juga, terlelap sendiri diatas bale di dalam gubuknya.

    Hingga akhirnya ketika pagi datang menjelang, Supo Mandagri sudah terbangun termangu-mangu seperti tengah bermimpi berada seorang diri di dalam sebuah gubukan.

    “Aku membawakan untukmu ransum pagi”, berkata seorang prajurit yang datang ke gubuknya sambil membawa baki berisi makanan dan minuman.

    “Terima kasih”,berkata Supo Mandagri kepada prajurit itu.
    “Makan yang banyak, agar kamu tidak sakit seperti orang sebelummu”, berkata prajurit itu.

  7. Sementara itu di waktu yang sama di istana Majapahit, berita tentang kekalahan pasukan Majapahit di bumi Lamajang sudah sampai di telinga Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    Diluar dugaan dan perhitungan siapapun ternyata kekalahan pasukan Majapahit sudah diperhitungkan dan menjadi bagian rencana Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti.

    “Dengan berita kekalahan pasukan Majapahit ini, tentunya akan membuat kemarahan besar pada diri Raja Jayanagara”, berkata Ra Kuti penuh senyum kegembiraan.

    “Raja Jayanagara akan menurunkan pasukan lebih besar lagi”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Kita akan meminta Raja Jayanagara untuk menurunkan kesatuan pasukan yang masih setia kepada kerajaan ini, sehingga di istana Majapahit ini hanya ada orang-orang dungu yang setia kepada kita”, berkata Ra Kuti.

    “Dan kita dapat menguasai kerajaan Majapahit ini, membunuh Raja lemah itu dengan begitu mudahnya”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Sekali dayung, tiga pulau terlampaui”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda penuh kebanggaan hati membayangkan semua rencananya akan menjadi sebuah kenyataan.

    “Dua sasaran dapat kita hancurkan sekaligus, para pemberontak Empu Nambi dan kesatuan pasukan Jala Rananggana yang sangat setia pada kerajaan ini”, berkata Ra Kuti.

    “Aku akan meminta kepada Raja Jayanagara agar diriku sendiri yang akan menjadi senapati pasukan besar itu”, berkata Mahaptih Dyah Halayuda.

    “Aku begitu yakin sekali, Mahapatih akan pulang dengan sebuah kemenangan besar’, berkata Ra Kuti penuh kegembiraan.

    “Aku juga begitu yakin, bahwa pasukanmu akan dengan mudah menguasai istana Majapahit ini”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda sambil tertawa panjang.

    “Ada berita gembira lainnya yang perlu diketahui, bahwa Tumenggung Jala Pati dan seluruh pasukan yang berada di kesatuannya telah berada di belakangku, mendukung penuh rencana kita menguasai istana Majapahit ini”, berkata Ra Kuti.

    “Sungguh sebuah berita gembira, yang akan kita hadapi nanti adalah hanya satu kesatuan khusus pimpinan Tumenggung Jala Yudha yang berada di benteng Tanah Ujung Galuh”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda penuh kegembiraan.

    Demikianlah, Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti denganpenuh kegembiraan hati mempercakapkan rencana-rencana busuk mereka. Kegembiraan hati yang berlebihan itulah yang mereka berdua tidak menyadari menjadi sebuah bumerang kegagalan dan kehancuran rencana, harapan dan cita-cita mereka berdua, karena kegembiraan hati mereka membuat lupa diri bahwa di balik pintu ada seorang prajurit pengawal istana yang mendengarkan semua pembicaraannya itu.

    Terlihat prajurit pengawal istana yang ditugaskandi Bale Kepatihan itu berdebar-debar mendengar semua percakapan Mahapatih Dyah halayuda dan Ra Kuti, sebuah rencana busuk dari dua orang pejabat yang sangat dihormati di istana Majapahit itu, juga sebagai dua orang pendeta suci.

    • Ki Gembleh sulit manuk…eh…masuk !..padahal enggak tuh?..ma kasih Pak Dalang..mantaff..!

  8. laptop saya rusak, minjem punya sang putra pangeran, jadi…..enggak tahu udah sampe dimana ya ??

    Pak SATPAM, tinggal berapa rontal lagi pindah gandhok anyer ??

    • Menurut penerawangan Satpam, kira-kira masih kurang tujuh atau delapan rontal lagi Pak Dhalang.

      Monggo, kalau malam ini atau besok PKPM-10 akan diselesaikan, he he he …..

  9. Kabut pekat perlahan seperti sebuah jerat telah menyelimuti langit diatas istana Majapahit, suara deru angin berputar-putarseperti suara putra sangkala mengintai mangsanya berkeliling sekitar kotaraja Majapahit.

    Perlahan warna senja tua terlihat semakin murung menghilang ditelan kegelapan malam.

    “Angin bertiup terlalu kencang menerbangkan awan hujan”, berkata Gajahmada kepada ibundanya di pasanggrahannyadi Tanah Ujung Galuh.

    “Belum kamu dapatkan kabar tentang Supo Mandagri ?”, bertanya Nyi Nariratih kepada putranya itu.

    “Seorang pedagang di Tanah Ujung Galuh mengabarkan kepadaku telah membeli sebuah keris yang diketahuinya milik Supo Mandagri dari dua orang begundal pasar”, berkata Gajahmada.

    “Keris Supo Mandagri direbut dua orang begundal pasar ?”, bertanya Nyi Nariratih.

    “Aku sudah berhasil menemui dua orang begundal pasar itu, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi”, berkata Gajahmada.

    “Apa sebenarnya terjadi atas diri anak itu ?”, bertanya Nyi Nariratih penuh kekhawatiran.

    Secara singkat, Gajahmada telah bercerita apa yang diketahuinya dari dua orang begundal pasar yang berhasil ditanyai.

    “Nampaknya itulah hari terakhir Supo Mandagri berada di sekitar Kotaraja Majapahit”, berkata Gajahmada.

    Namun pembicaraan Gajahmada dan ibundanya terhenti manakala terdengar suara ketukan pintu.

    Ternyata yang datang di malam hari itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman. Sudah beberapa hari itu mereka selalu datang di malam hari di pasanggrahan Gajahmada membahas berbagai hal perkembangan kemelut dan kabut yang tengah memenuhi langit disekitar istana Majaphit itu.

    “Kabut di atas istana Majapahit sudah begitu pekat”, berkata Gajahmada bertutur tentang sebuah rencana busuk Dyah Halayuda dan Ra Kuti yang didapatkan dari salah seorang prajurit pengawal istana tadi siang.

    “Yang menjadi masalah besar kita adalah memberikan kesadaran Raja Jayanagara bahwa dirinya saat ini telah berada di dalam cengkraman dua srigala jahat”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Biarlah Raja Jayanagara akan terbuka mata hatinya di akhir permainan ini”, berkata Gajahmada.

    “Jelaskan kepada kami permainan apa yang ada dalam kepalamu, wahai Gajahmada”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajahmada.

    “Duri penghalang terbesar bagi Dyah Halayuda dan Ra Kuti saat ini adalah Empu Nambi, menurut mereka Empu Nambi dan para pendukungnya yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa adalah saingan terbesar mereka yang dapat merebut tahta kerajaan Majapahit ini”, berkata Gajahmada.

  10. “Akumengenal Empu Nambi seutuhnya, mungkinkah Empu Nambi punya sedikit pikiran untuk merebut tahta kerajaan ini ?”, bertanya Tumenggung Mahesa Semu.

    “Selama tahta kerajaan ini berada di tangan yang berhak, Empu Nambi sedikitpun tidak akan mengganggunya, bahkan akan berada di baris terdepan menghadapi musuh-musuh kerajaan Majapahit ini.
    Namun manakala tahta ini berpindah tangan dalam genggaman orang-orang yang tidak berhak memilikinya, maka Empu Nambi dan para pendukungnya akan tampil kedepan, menyelamatkan kerajaan ini, dan bila mungkin menjadi seorang Raja. Itulah sebabnya Dyah Halayuda dan Ra Kuti menganggap Empu Nambi adalah orang yang harus mereka singkirkan sebelum menguasai singgasana kerajaan ini”, berkata Gajahmada menyampaikan pandangannya.

    “Sudah tergambar permainan apa yang akan kita mainkan menyelamatkan bahtera dari badai awan hitam yang ditebarkan oleh dyah Halayuda dan Ra Kuti. Saat ini kita masih harus menunggu gerak akhir mereka, bukankah begitu wahai Gajahmada ?”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mencoba membaca jalan pikiran Gajahmada.

    “Benar,kita turun di ujung permainan mereka, menyelamatkan Raja jayanagara dan tahtanya”, berkata Gajahmada membenarkan perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “hanya kita belum mengetahui seberapa besar kekuatan baru yang saat ini tengah di galang oleh Ra Kuti di sebuah tempat yang masih sangat rahasia itu”, berkata Adityawarman ikut berbicara setelah lama hanya menjadi pendengar.

    “Mudah-mudahan Supo Mandagri dapat melaksanakan tugasnya, nampaknya anak muda itu tengah berada di sarang mereka saat ini”, berkata Gajahmada.

    “Kesatuan pasukan Jala Ranaggana, Jala Pati dan Jala Yudha sebagai kekuatan benteng pertahanan kerajaan ini telah dapat mereka pecah-pecahkan. Maka sebagai pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Srikandi aku akan berjuang bersama kalian, tetap menjaga bahtera bumi Majapahit apapun dan hingga sampai kapanpun”, berkata Nyi Nariratih

    “Terima kasih Nyi Nariratih, kita akan berjuang bersama menghadapi badai besar ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Berita yang kudapat hingga hari ini bahwa sisa prajurit Majapahit yang dapat di pukul mundur oleh pasukan Empu Nambi saat ini masih berada di Kademangan Japan. Adakah yang dapat kita lakukan untuk membantu perjuangan Empu Nambi ?”, berkata Adityawarman.

    Mendengar perkataan Adityawarman telah membuat semuanya terdiam membisu, didalam hati dan pikiran mereka merasa bersedih tidak dapat berbuat apapun.

    “Empu Nambi meminta kita untuk tetap berada di istana Majapahit ini, Empu Nambi berharap hanya kitalah benteng terakhir yang dapat menyelamatkan bahtera kerajaan Majapahit ini”, berkata Tumenggung Mahesa Semu memecahkan suasana sepi.

    Namun kembali suasana menjadi begitu hening dan sepi, semua hati dan pikiran nampaknya tengah mengenang masa-masa Empu Nambi di istana, masa-masa kehidupannya yang sangat bersahaya itu.

    Dan suara debur ombak di Tanah Ujung Galuh seperti mendendangkan suara nyanyian rindu.

  11. Malam memang telah menjadi begitu dingin ketika hujan turun begitu lebat mengguyur sebuah lembah yang sunyi di kaki perbukitan berbatu yang tidak begitu jauh jaraknya dengan kotaraja Majapahit, sebuah tempat yang tak terjamah karena sangat tandus dan terjal.
    Itulah lembah dimana Supo Mandagri berada bersama ribuan prajurit yang tengah disiapkan oleh Ra Kuti untuk melakukan sebuah makar, merebut tahta kerajaan Majapahit.

    “Aku mencium bau anyir darah di sekitar gubuk ini”,berkata Supo Mandagri dalam hati yang belum juga dapat memejamkan matanya membayangkan bahwa pandai besi yang pernah bekerja di gubuk itu tidak sakit dan meninggal, melainkan mereka bunuh.

    “Aku sudah dapat menemukan sarang mereka, menilai kekuatan mereka. Yang harus kulakukan malam ini adalah keluar pergi dari tempat ini”, berkata Supo Mandagri dalam hati.

    Demikianlah, setelah membulatkan tekadnya terlihat Supo Mandagri di bawah hujan yang sangat lebat itu telah keluar dari gubuknya.

    “Diujung lembah sempit itu pasti ada jalan keluar”, berkata Supo Mandagri dalam hati memilih arah jalan untuk keluar dari tempat itu.
    Malam itu hujan turun begitu lebat, terlihat Supo Mandagri berjalan cepat menyusuri lembah sempit berusaha menjauhi sarang kekuatan para prajurit Ra Kuti.

    “Suara air terjun ?”, berkata Supo Mandagri dalam hati mendengar suaraderu air terjun didekatnya.

    Ternyata lembah sempit yang disusuri oleh Suo Mandagri berujung sebuah sendang mata air sumber sebuah air terjun yang tidak begitu tinggi karena terdengar suara hempasannya di bawah sana oleh Supo Mandagri di malam yang sangat gelap itu.

    “nampaknya tebing ini dapat kuturuni”, berkata Supo Mandagri meski di keremangan malam masih dapat melihat banyak tonjolan batu di tebing kiri sebelah air terjun yang tidak begitu tinggi itu.

    Perlu sebuah perjuangan untuk menuruni sebuah tebing, di saatmalam gelap, disaat hujan turun masih begitu lebatnya.

    Namun Supo Mandagri adalah seorang pemuda yang sangat kuat dan terlatih, dengan penuh kesabaran dan ketabahan telah merayap menuruni tebing yang sangat licin. basah dancukup terjal.

    Akhirnya dengan kesabaran dan ketabahan hatinya, Supo Mandagri selangkah demi selangkah dapat menuruni tebing terjal itu hingga sampai kedasarnya.

    “Hujan sudah mulai reda”, berkata dalam hati Supo Mandagri sambil menarik nafas panjang telah berhasil menuruni tebing disisi kiri sebuah air terjun.

    “Sungai kecil ini pasti bermuara di sebuah tempat terbuka, disana aku dapat mencari arah jalan pulang”, berkata Supo Mandagri dalam hati berniat untuk menyusuri sungai kecil itu yang bersumber dari air terjun itu.

    Di malam yang masih sangat gelap itu memang tidak ada pilihan lain selain berjalan menyururi jalan diatas sungai kecil berbatu itu dimana disepanjang kiri dan kanannya adalah sebuah hutan belantara.

  12. aseeek.. suwun ki..

  13. Demikianlah, Supo Mandagri terlihat tengah menyusuri sungai kecil berbatu di malam gelap, tekadnya saat itu adalah berjalan sejauh mungkin agar pelariannya tidak akan mungkin dapat ditemukan kembali.

    Akhirnya Supo Mandagri telah menemukan sebuah tempat terbuka, namun hari masih gelab.

    “Nampaknya aku sudah berjalan cukup lama dan sudah cukup jauh”, berkata Supo Mandagri dalam hati sambil bersandar di sebuah batu besar mencoba mengendurkan urat-urat kakinya yang terasa lelah setelah cukup lama berjalan.

    Dan perlahan Supo Mandagri melihat warna langit mulai bias kemerahanpertanda pagi akan segera datang.

    “Langit sudah mulai terang”, berkata Supo Mandagri dalam hati yang sudah melihat samar suasana di depannya.

    Ternyata di hadapan Supo Mandagri adalah sebuah tanah berawa yang cukup luas, terlihat sekumpulan pohon galam di beberapa tempat tumbuh dengan amat suburnya.

    Tanpa menunggu banyak waktu, terlihat Supo Mandagri sudah turun di tanah berawa itu berharap akan menemukan sebuah daratan diseberang sana.

    Berjalan diatas tanah berawa yang cukup dalam setinggi paha itu memang telah membuat Supo Mandagri tidak dapat bergerak lebih cepat lagi, namun Supo Mandagri telah dapat melihat arah jalan pulang, karena telah melihat perbukitan berbatu di sebelah kanan langkah kakinya.

    “Setelah menemukan daratan aku harus memutar perbukitan berbatu itu”,berkata dalam hati Supo Mandagri yang telah menemukan arah menuju Kotaraja Majapahit.

    Akhirnya setelah cukup lama berjalan di atas tanah berawa, Supo Mandagri telah menemukan tepian rawa.

    Terlihat Supo Mandagri menarik nafas panjang penuh kegembiraan telah berada diatas sebuah tanah kering, semilir angin sejuk berhembus di wajahnya.

    Di bawah cahaya sinar matahari yang sudah cukup tinggi Supo Mandagri berjalan diatas tanah kering dan keteduhan kerimbunan pepohonan, memang terasa ringan setelah cukup lama merambat diatas tanah berawa yang cukup dalam.

    Namun keringanan langkah Supo Mandagri tiba-tiba saja tertahan manakala tidak jauh darinya terlihat dua orang lelaki duduk terlindung sebuah semak belukar.

    “Apa yang kalian lakukan di tempat ini ?”, bertanya Supo mandagri kepada kedua lelaki itu.

    Mendengar pertanyaan Supo Mandagri, terlihat kedua lelaki itu berdiri dan tersenyum memandang kearah Supo Mandagri.

    “Kami diminta oleh Ki Samban untuk menunggumu disini”, berkata salah seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan berotot sebagai pertanda sangat kuat dan terlatih olah beban.

  14. Mendengar perkataan salah seorang dari lelaki itu, terlihat Supo Mandagri seperti tertegun sejenak tidak menyangka bahwa orangnya Ki Samban telah menemukan dirinya kembali. Namun Supo Mandagri berusaha menenangkan dirinya.

    “Ternyata kalian hanya ingin menungguku, sampaikan salam kepada Ki Samban bahwa aku tidak ingin kembali ketempatnya”, berkata Supo Mandagri sambil berjalan ke arah lain menghindari kedua lelaki itu.

    “Kami tidak sekedar menunggumu, kami juga diminta untuk membawamu kembali”, berkata seorang lelaki yang lain berperawakan sedang namun seperti kawannya juga berotot hampir diseluruh lekuk tubuhnya.

    “Apakah kalian akan memaksa ?”, bertanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki itu yang telah bergeser menghalangi langkahnya.

    “Ikutlah bersama kami, dan kami tidak akan melukaimu”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar mengancam Supo Mandagri.

    “Kulihat kalian tidak bersenjata, bagaimana kalian akan melukaiku ?”, berkata Supo Mandagri dengan sikap menantang.

    “Aku akan melukai mulutmu dengan tanganku ini”, berkata seorang yang berperawakan sedang langsung melayangkan sebuah tamparan kewajah Supo Mandagri.

    Nampaknya orang itu menganggap Supo Mandagri adalah anak muda biasa yang tidak pernah belajar kanuragan, atau bila mengenal olah kanuragan pastinya hanya baru satu dua jurus pukulan dari seorang guru kampung.

    Ternyata dugaan orang itu meleset jauh, sebelum bertemu dengan Gajahmada, tataran ilmu kanuragan Supo Mandagri sudah cukup tinggi, dan Gajahmada telah meningkatkan kemampuan anak muda itu lebih dalam lagi sejak tinggal bersamanya.

    Bukan main terkejutnya orang itu melihat Supo Mandagri dengan sangat cepat sekali merendahkan tubuhnya dan sebuah pukulan yang sangat kuat dan telak sekali dirasakan menghantam pangkal bawah tangannya.
    Plakk !!!

    Seketika itu juga orang berperawakan sedang dan berotot kuat itu langsung terpelanting mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.

    “Ternyata kamu bisa satu dua jurus”, berkata orang yang bertubuh tinggi besar langsung menerjang Supo Mandagri dengan tendangan kakinya.

    Bukan main terkejutnya orang bertubuh tinggi besar itu melihat Supu Mandagri dengan begitu cepatnya bergeser ke kiri dan telah melayangkan sebuah tendangan keras menghantam tepat bagian tubuh dibawah pusarnya.

    Seketika itu juga orang bertubuh tinggi besar itu terbelalak dengan mata terbuka merasakan nafasnya hilang seketika. Terlihat orang itu terjatuh duduk merasakan nyeri di bawah pusarnya.

    • semangkin mantaff….tarengkiu

    • ehm…….

  15. Suwun Ki Dalang

  16. Apakah Pak Dhalang, Ki BP dan Ki Karto…, eh Ki Sanepo kesulitan masuk padepokan?
    Satpam tidak tahu, kenapa Ki Gembleh kok tidak bisa masuk. Perasaan satpam bisa masuk dengan mudah.

    Mungkin karena badaya yang besar sehingga tidak muat pintu yang satpam buat, he he he …… mblayu…. takut dibalang ledut benter……

  17. maknyus.. suwun ki dalang..

  18. Terlihat Supo Mandagri masih berdiri sedikit tersenyum memandang kedua orang lelaki yang tengah bangkit berdiri sambil meringis menahan rasa sakit.

    “Apakah kalian tetap ingin membawaku ke tempat Ki Samban ?”, berkata Supo Mandagri kepada kedua orang lelaki itu.

    “jangan sombong, kamu hanya kebetulan saja dapat menjatuhkan kami”, berkata lelaki yang berperawakan sedang kepada Supo Mandagri.

    “Bagus, majulah kalian berdua. Mudah-mudahan masih kebetulan lagi aku dapat merobohkan kalian berdua”, berkata Supo Mandagri dengan sikap siap menghadapi serangan kedua lawannya itu.

    Nampaknya kedua lelaki itu sudah sepakat untuk menghajar anak muda yang telah menjatuhkan mereka, terlihat keduanya sudah bergerak maju.

    Lelaki yang berbadan tinggi besar sudah langsung mengayunkan pukulannya kearah dada Supo Mandagri. Bersamaan pula lelaki yang berperawakan sedang seperti terbang meluncurkan kakinya dari arah samping Supo Mandagri.

    Menghadapi dua serangan yang datang bersamaan itu tidak membuat Supo Mandagri gugup, terlihat dengan sangat tenang sekali Supo Mandagri memiringkan badannya dan maju selangkah menghindari pukulan lelaki bertubuh tinggi besar dan tendangan lelaki yang berperawakan sedang.

    Plakk !!

    Tangan Supo Mandagri telah bersarang di wajah lelaki yang bertubuh tinggi besar itu.

    Bukk !!

    Sikut Supo Mandagri telah bersarang di pangkal paha lelaki berperawakan sedang .

    Kembali kedua lawan Supo Mandagri terlempar jatuh ke tanah kotor. Nampaknya pukulan Supo Mandagri lebih keras dari sebelumnya telah membuat keduanya sangat sukar sekali untuk bangkit berdiri.

    Ternyata lelaki yang berperawakan sedang merasakan tulang pangkal pahanya seperti remuk patah, sementara lelaki bertubuh tinggi besar itu merasakan bumi tempatnya berpijak terasa bergoyang dan melihat sekelingnya dengan pandangan agak kabur.

    Tanpa berkata apapun, terlihat Supo Mandagri segera meninggalkan mereka berdua yang belum juga dapat berdiri di tempatnya.

    Setelah berjalan cukup lama memutar perbukitan berbatu, terlihat Supo Mandagri mengambil arah timur matahari. Nampaknya anak muda itu menghindari masuk kekotaraja Majapahit mengambil jalan langsung menuju Tanah Ujung Galuh.

    “Ki Samban mungkin telah menyebarkan orang-orangnya di Kotaraja Majapahit”, berkata Supo Mandagri dalam hati memutuskan untuk tidak memasuki Kotaraja Majapahit dan mengambil jalan lain untuk menuju ke arah Tanah Ujung Galuh.

  19. Suara debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh tak pernah sepi mengawani bulan terpotong yang belum tua di awal malam itu.

    Seperti biasa,disaat seperti itulah Gajahmada dan Nyi Nariratih datang kembali dari tugas-tugas mereka di istana Majapahit untuk pulang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.

    “Ada orang diatas panggung pendapa”, berkata Gajahmada kepada ibundanya ketika memasuki gapura puri pasanggrahannya.
    Gembira hati Gajahmada dan Nyi Nariratih manakala mengetahui bahwa orang diatas panggung pendapa itu adalah Supo Mandagri.

    “Syukurlah, kamu telah datang kembali”, berkata Gajahmada menyapa Supo Mandagri.

    “Banyak yang akan kuceritakan kepada kalian”, berkata Supo Mandagri kepada Gajahmada dan Nyi Nariratih.

    Maka setelah bersih-bersih di pakiwan, terlihat Gajahmada dan Nyi Nariratih sudah bergabung kembali di pendapa untuk mendengar cerita dari Supo Mandagri.

    “Berapa kekuatan mereka yang kamu lihat saat itu”, berkata Nyi Nariratih kepada Supo Mandagri.

    “Sebanyak satu kesatuan pasukan yang ada di Kerajaan Majapahit”, berkata Supo Mandagri.

    “Berapa jarak tempuh dari tempat mereka menuju Kotaraja Majapahit ?”, bertanya Gajahmada kepada Supo Mandagri.

    “Sekitar setengah hari perjalanan”, berkata Supo Mandagri.
    Namun perbincangan mereka terhenti manakala seorang pelayan wanita datang membawa hidangan malam untuk mereka.

    “terima kasih Bi Kusun, tolong minumannya ditambah untuk dua orang tamu”, berkata Nyi Nariratih kepada pelayan wanita itu.

    Ternyata dua orang tamu yang dimaksudkan itu adalah Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman yang sudah beberapa malam itu selalu datang ke puri pasanggrahannya di Tanah Ujung Galuh.
    Benar saja, tidak lama kemudian kedua orang itu terlihat datang dan bergabung bersama di pendapa.

    Bukan main gembiranya Tumenggung MahesaSemu dan Adityawarman melihat Supo Mandagri telah hadir bersama mereka.

    “Aku berhasil keluardari sarang mereka”, bercerita kembali Supo Mandagri kepada Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman mulai dari awal hingga sampai akhir dapat berkumpul kembali di Tanah Ujung Galuh.

    Sementara itu suara debur ombak pantai tanah Ujung Galuh dan suara angin malam terus hadir menemani suasana diatas panggung pendapa puri Pasanggrahan Gajahmada.

    • Matur suwun Pak Dhalang

      Jika ada satu rontal lagi, kita sudah bisa buka gandok PKPM-11

      Nuwun

      • Menunggu….
        gandok PKPM-11 sudah siap, tinggal menunggu pengguntingan pita.

        • Cuma satu rontal, …..,……,…………… bagi Ki Dalang Kompor Sandilala, ….keciiiiiil. Suwun Ki Dalang

          • Suwun Ki Dalang……Ki Gembleh kemana yaa… 😀

          • Hadiiiir Ki Sanepo….!
            Setelah mateg aji Rog Rog Asem baru bisa tembus masuk gandhok tercinta ini.
            Sudah sepuluh hari terhambat ajian Tameng Waja, tak bisa menchungul di gandhok ini.

          • He..?….tameng wajanya Ki Gembleh ga bisa mencungul ?

          • iya Ki SaN, tameng wajane ngambek, yang menchungul malah tombak wesi……..

  20. selalu sehat ki dalang… wass

  21. Lapor Ki Dhalang…..gembleh hadir……..
    Sepuluh hari dihalangi Kiageng WordPress…….

  22. Setelah mendengar penuturan Supo Mandagri, terlihat Tumenggung Mahesa Semu menarik nafas sambil menggelengkan kepalanya seperti menahan amarah yang terpendam.

    “Kecurigaan pejabat bendahara Kerajaan ternyata terbukti, Ra Kuti telah menelikung pundi-pundi milik para brahmana, milik pura suci untuk kepentingan pribadinya membangun sebuah kekuatan baru di lembah perbukitan berbatu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kabarnya Raja jayanagara telah menyetujui permintaan Mahapatih Dyah Halayuda menurunkan kesatuan pasukan Jala Rananggana ke Tanah Lamajang”, berkata Gajahmada.

    “Kesetiaan kesatuan pasukan Jala Rananggana kepada kerajaan ini tidak dapat diragukan lagi, keputusan Raja Jayanagara hari ini ibarat melepaskan pedangnya sendiri, menyerahkan lehernya diujung pedang musuh”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kasihan Tumenggung Jala Rananggana harus di hadapkan oleh pilihan yang amat sangat sulit, harus berhadapan dengan besan dan anak menantunya sendiri, EmpuNambi dan Adipati Menak Koncar”, berkata Gajahmada.

    Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat semua orang terdiam, membayangkan sebuah peperangan yang sangat memilukan hati antara besan, mertua dan anak menantu sendiri berada di dua kubu yang berbeda.

    “Itulah suasana yang diinginkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata Gajahmada mencoba memecahkan suasana kebisuan saat itu.

    “Nampaknya Empu Nambi sudah dapat memperhitungkan dari kesatuan mana yang akan diturunkan menghadapinya, mungkin itulah sebabnya telah melakukan penjarakan kepada setiap orang yang datang mendukungnya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Penjarakan ?”, berkata Supo Mandagri tidak mengerti maksud perkataan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Maksudku, setiap prajuritnya mengenakan daun jarak sebagai pertanda kesetiannya,menjadikan daun jarak sebagai lambang perjuangan mereka sebagaimana para prajurit Majapahit yang memakai lambang gula kelapa di atas kepalanya”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menjelaskan makna penjarakan kepada Supo Mandagri.

    “Menurutku lambang penjarakan adalah sebuah isyarat yang sengaja disampaikan kepada kita oleh EmpuNambi”, berkata Gajahmada.

    “Isyarat apa yang ingin disampaikan oleh Empu Nambi kepada kita ?”, bertanya Adityawatman.

    “Isyarat bahwa Ra Kuti memanfaatkan suasana kekosangan kekuatan di istana Majapahit. Gabungan kesatuan pasukan Jala Pati yang sudah dalam kendali Ra Kuti dan pasukannya sendiri dilembah perbukitan berbatu itu akan mudah menguasai istana Majapahit, mungkin inilah sebabnya Empu Nambi melarang kita bergabung bersamanya, berharap kita dapat menjadi benteng pertahanan terakhir di istana Majapahit ini”, berkata Gajahmada mencoba membaca isyarat dari Empu Nambi kepada mereka.

    • Suwun Ki Dalang, tumben cuma satu lontar ? Belum bisa untuk mengawali gandok baru dengan rontal baru.

    • Suwun Pak Dhalang

      ngaputen baru baca.
      gandok PKPM-10 ditutup nanti malam nggih.

      Meskipun demikian, gandok PKPM-11 sudah siap menampung luberan rontal dari Situ Cipondoh kok.

      Monggo…..

    • Kamsiiiaaaaa Pak Dhalang……

  23. mantaaap ki. suwun

  24. di sentong kiri, saya menemukan kata “memproklamirkan”… biar lebih afdol, ada baiknya diganti dengan “menyatakan diri”.

    nuwun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: