PKPM-10

<< kembali | lanjut >>

PKPM-10

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 13 April 2015 at 00:01  Comments (110)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

110 KomentarTinggalkan komentar

  1. Srek esrek esrek……nyapu gandhok anyar……
    Tleseeeeeerrrrrrrr…..nggelar klasa nggo jagongan…..
    Sumangga para kadang Cantrik katuran pinarak, kula tak nggodog toya rumiyin.
    (yen wis umep nggo nggebyur Pak Satpam…….he…he…he….)

    • hadir

      • laper Ki..eh..lapor !

  2. hup…duduk sila sedakep sambil ngeliatin tukang gendang ngebetot tali ngencengen kulit yang sudah pada kendor

    hari ini yang tugas jemput sindene sopo yo ??

    • Ki mBleh

      • Kula absent, sing methuk Ki Sanepo……

  3. Terlihat Tumenggung Mahesa Semu menarik nafas dalam-dalam seperti mencoba mengurangi ketegangan hatinya.

    “Kami datang bertiga bukan atas perintah siapapun, tapi kami datang ke Tanah Lamajang ini demi kecintaan kami kepada Empu Nambi yang telah kami anggap sebagai orang tua kami sendiri”, berkata Tumengung Mahesa Semu memulai pembicaraannya.

    Mendengar perkataan Tumenggung Mahesa Semu, terlihat Adipati Menak Koncar langsung memalingkan wajahnya kearah Empu Nambi, merasa bahwa ada hal yang sangat penting berkaitan dengan ayahandanya itu.

    “Istana Majapahit tengah tertutup awan hitam, Raja Jayanagara nampaknya sudah terperosok dalam lubang jebakan yang sangat dalam, sudah terperangkap dalam genggaman tangan gurita penghasutnya, hingga lebih mempercayai orang lain ketimbang kami bertiga”, berkata kembali Tumenggung Mahesa Semu dan berhenti sebentar sambil memandang kearah Empu Nambi.

    “Apa yang terjadi di istana Majapahit sepeninggalanku ?”, bertanya Empu Nambi sudah mulai tidak dapat menahan keingintahuannya.

    “Berita mengenai Empu Nambi sendiri, tersebar berita bahwa Empu Nambi telah membunuh empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu dengan tatapan masih kearah Empu Nambi.”Inilah yang membawa kami bertiga ke Tanah Lamajang ini, ingin meminta penjelasan dari Empu Nambi sendiri apa sebenarnya telah terjadi atas diri keempat puluh prajurit Majapahit itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Empu Nambi.

    “Aku sudah menduga bahwa keempat puluh prajurit itu adalah umpan jebakan mereka”, berkata Empu Nambi sambil bercerita dari awal perjalanannya hingga akhirnya bertemu dengan keempat puluh prajurit Majapahit yang menghadangnya itu.

    “Kami bertiga tidak meragukan sedikitpun keterangan Empu Nambi, sebagaimana pernah kami sampaikan juga kepada Raja jayanagara bahwa Empu Nambi tidak mungkin melakukan hal buruk itu, membunuh empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.”namun Raja jayanagara tetap bersikeras untuk dapat membawa dan mengadili Empu Nambi di Kotaraja Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Patih Mahesa Amping, Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan sekarang akulah yang ingin mereka singkirkan dari istana. Sementara Raja Jayanagara masih begitu muda untuk mengenal mana kawan dan mana lawan, mana emas dan mana tembaga. Mungkin inilah saatnya aku akan mengingatkannya dengan senjataku sendiri agar terbuka mata hatinya”, berkata Empu Nambi.

    “kami bertiga juga tidak akan merelakan Empu Nambi menyerahkan diri,masuk dalam jeratan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Aku akan berdiri disamping ayahku, meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara”, berkata Adipati Menak Koncar.

  4. “Aku Gajahmada, akan berada bersama Empu Nambi”, berkata Gajahmada sambil membusungkan dadanya.

    “Aku Adityawarman, akan berada bersama Empu Nambi”, berkata pula Adityawarman.

    “Aku Mahesa Semu, berdiri bersama Empu Nambi”, berkata pula Tumenggung Mahesa Semu.

    “Tumenggung Mahesa Semu, angger Gajahmada dan Adityawarman, tempat kalian adalah di istana Majapahit. Siapa lagi yang dapat kupercaya menjaga kerajaan Majapahit ini selain kalian bertiga.Bila aku mengangkat senjata, bukanlah memerangi Kerajaan Majapahit, tapi aku memerangi kebusukan di dalam istana Majapahit saat ini. Aku mengangkat senjata untuk mempertahankan kepalaku sendiri, mempertahankan keadilan untuk diriku sendiri. Kembalilah kalian ke istana, dimana aku akan merasa tentram bahwa masih ada tiga orang ksatria yang dapat kupercaya menjaga bumi Majapahit ini.Firasatku mengatakan bahwa aku bukan tumbal terakhir yang mereka butuhkan. Bila kalian bertiga berdiri bersamaku akan menggembirakan hati mereka menyapu bersih duri-duri yang menghalangi hasrat dan keinginan mereka menguasai tahta singgasana Majapahit ini”, berkata Empu Nambi.

    Suasana diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang seketika menjadi begitu hening, semua orang di dalamnya seperti telah terperangkap di dalam kebisuan hatinya, terperangkap didalam alam pikirannya masing-masing.

    “Kembalilah ke istana Majapahit selagi tidak seorangpun mengetahui keberpihakan kalian kepadaku. Mereka pasti akan membuat rencana yang lebih besar lagi, buka mata kalian untuk dapat meyakinkan siapa orang yang telah menyebarkan badai disekitar bahtera Majapahit ini. Himpunlah kekuatan baru yang bersih agar kalian mampu mengusir sang badai menyelamatkan bahtera singagasa tahta Majapahit ini”, berkata kembali Empu Nambi kepada Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    “Kami akan menjaga amanat dan pesan Patih Amangkubumi. Kita memang harus berpikir jernih tidak mengandalkan kekeruhan perasaan hati. Kami akan selalu menjaga dan mencintai bumi Majaphit ini sebagaimana Empu Nambi pernah menjaga dan mencintainya. Ijinkan dan restui keberangkatan kami malam ini juga kembali ke kotaraja Majapahit”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mewakili kedua kawannya, Gajahmada dan Adityawarman.

    “Terima kasih untuk kesadaran hati kalian, kecintaan dan kesetiaan kalian kepadaku tidak kusangsikan lagi, tapi lebih utama kejernihan hati agar kita tidak masuk perangkap musuh. Itulah kejernihan hati dan pikiran seorang ksatria utama di dalam sebuah peperangan dan dipertempuran dimanapun. Kurestui kaliam berangkat malam ini juga. Semoga Gusti yang Maha Agung selalu memberikan keselamatan kepada kita semua”, berkata Empu Nambi kepada Gajahmada, Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

    Terlihat semua yang berada diatas pendapa istana kadipaten Lamajang itu berdiri, saling berpelukan sebagai ungkapan perpisahan yang sangat memilukan hati itu.

    Angin dingin malam berdesir, remang pelita malam yang tergantung diatas pendapa istana kadipaten mengiringi tiga ksatria yang terlihat menuruni anak tangga pendapa, menghilang di kegelapan malam.

  5. Hari ke tiga belas setelah upacara pengabuan Ki Banyak Wedi. Sehari setelah upacara Makelud di Kademangan Randu Agung Kadipaten Lamajang.

    Dan pagi itu terlihat Empu Nambi dan putranya, Adipati Menak Koncar tengah duduk bersama di pendapa agung istana kadipaten ditemani seorang prajurit perwira tinggi yang menjadi pimpinan rombongan Empu Nambi ketika berangkat dari Kotaraja Majapahit.

    “Ampun tuanku Adipati, ada seorang tamu dari Kotaraja Majapahit ingin bertemu dengan Ki Patih Amangkubumi”, berkata seorang prajurit pengawal Kadipaten yang baru saja naik ke pendapa menghadap Adipati Menak Koncar.

    “Apakah tamu itu menyebutkan jati dirinya ?”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurit pengawalnya.

    “Tamu itu menyebut namanya sebagai Rangga Umbaran”, berkata prajurit pengawal itu.

    “Antarkan tamu itu ke pendapa ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada prajurti pengawalnya.

    Tidak lama berselang prajurit itu telah kembali bersama seseorang prajurit perwira tinggi Majapahit, bernama Rangga Umbara.

    Ternyata perwira tinggi dari Majaphit yang baru datang itu sudah dikenal oleh Empu Nambi.

    “Nampaknya ada masalah yang sangat penting sekali dari istana Majapahit, sehingga harus mengutus seorang Rangga Umbaran”, berkata Empu Nambi kepada tamu yang sudah dikenalnya itu.

    “Dalam perjalanan dari Kotaraja Majaphit hingga di Tanah Lamajang ini, dikepalaku dipenuhi kebimbangan hati, begitu berat kurasakan tugas yang ku emban ini”, berkata Rangga Umbaran dengan suara penuh keraguan hati.

    “katakanlah wahai Rangga Umbaran, aku mengenalmu sangat lama sebagai prajurit yang paling tangkas dan paling berani di kesatuanku ketika kita sama-sama berendam setengah hari penuh di sungai Kalimas menunggu dan menyergap perahu-perahu perang prajurit Mongol”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran yang ternyata pernah menjadi bawahan langsung Empu Nambi dalam peperangan menghancurkan para prajurit Mongol.

    “Aku memang telah mengenal Ki Patih Amangkubumi begitu lama, aku mengenal betul bagaimana cinta kasih dan pembelaan Ki Patih Amankubumi kepada kami para prajurit Majapahit dalam suka dan duka, dimasa-masa sulit dan dimasa-masa kemenangan”, berkata Rangga Umbaran masih belum mampu mengutarakan maksud kedatangannya itu.

    “katakanlah wahai Rangga Umbaran, meski mungkin sangat pahit untuk diriku”, berkata Empu Nambi dengan senyum seorang ayah kepada putranya.

    Terlihat Rangga Umbaran menarik nafas panjang seperti ingin meredam kebimbangan hatinya.

  6. “Bilasaja ada tugas yang sangat berat seperti memenggal kepala seekor naga terbang, aku akan melakukannya. Namun hari ini aku ditugaskan jauh lebih berat dari itu, hari ini aku ditugaskan membawa Ki Patih Amangkubumi kembali ke Kotaraja Majapahit, dengan sukarela atau dengan cara paksa, hidup atau mati”, berkata Rangga Umbaran langsung menundukkan kepalanya seperti berat menegakkan kepalanya memandang wajah Empu Nambi.
    Melihat hal demikian, Empu Nambi menjadi kasihan kepada mantan prajurit bawahannya itu.

    “Rangga Umbaran, tegakkan kepalamu. Jangan kecewakan diriku telah mendidikmu sebagai seorang prajurit”, berkata Empu Nambi dengan sikap keras dan tegas seperti seorang atasan kepada prajurit bawahannya.

    Perlahan Rangga Umbaran menegakkan kembali kepalanya.

    “Laksanakan tugasmu sebagai seorang prajurti, pertanyaanku dengan cara apa kamu akan membawaku ke Kotaraja Majapahit

    “Aku membawa tiga ribu prajurit Majapahit, saat ini telah berada di perbatasan Kota Kadipaten Lamajang”, berkata Rangga Umbaran kepada Empu Nambi.

    “Pertanyaanku yang kedua, atas dasar apa kamu ditugaskan membawaku dengan sukarela atau dengan paksa, hidup atau mati ?”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

    “Ki Patih Amangkubumi harus bertanggung jawab atas kematian empat puluh orang prajurit Majapahit”, berkata Rangga Umbaran telah melupakan rasa sungkandan kebimbangan hatinya.

    “Rangga Pamandana, kamu ada bersamaku dari Kotaraja Majapahit hingga di Tanah Lamajang ini, ceritakanlah apa yang kamu ketahui dalam perjalanan itu bersamaku”, berkata Empu Nambi kepada seorang perwira tinggi yang selalu ada bersamanya yang bernama Rangga Pamandana itu.

    Terlihat Rangga Pamandana langsung bercerita didengar oleh Rangga Umbaran dengan penuh seksama mengenai peristiwa penghadangan empat puluh orang prajurit di sekitar Kademangan Japan.

    “Itulah cerita dariku tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi di sekitar Kademangan Japan”, berkata Rangga Pamandana mengakhiri ceritanya.

    “Rangga Umbaran, pendapa ini bukan Bale yaksa, bukan tempat persaksian benar dan salah, tapi setidaknya kamu telah mendengar peristiwa ini dari kami. Kembalilah kamu kepada pasukanmu, besok pagi aku akan datang sendiri keperbatasan kota Kadipaten”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

    “Terima kasih, ijinkan aku kembali ke pasukanku”, berkata Rangga Umbaran mohon pamit diri.

    “Rangga Umbaran, aku bangga dengamu”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa istana Kadipaten lamajang.

    Diujung anak tangga terakhir, terlihat Rangga Umbaran berbalik badan.

  7. “Mohon doa restu Ki Patih Amangkubumi”, berkata Rangga Umbaran dengan penuh rasa hormat merangkapkan kedua tangannya di depan dadanya.

    Empu Nambi masih memandang punggung mantan prajurit bawahannya itu dengan senyumnya yang selalu menghiasi wajahnya hingga Rangga Umbaran sudah semakin menjauh menuju gerbang istana kadipaten Lamajang.

    “Ayahanda akan menyerahkan diri di bawa ke kotaraja Majapahit ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.
    “Aku hanya mengatakan akan datang menemui pasukannya di perbatasan kota kadipaten”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Aku tidak akan membiarkan ayahanda menghadapi tiga ribu prajurit Majapahit seorang diri, aku akan membawa para prajurit pengawal Kadipaten lamajang berdiri disisi ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar seperti dapat membaca apa yang dilakukan oleh ayahandanya, tidak akan menyerahkan dirinya dibawa ke Kotaraja Majapahit untuk sebuah kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.

    “Ki Patih Amangkubumi, hari ini aku telah melihat sendiri sebuah kebusukan,ketidak adilan dan kesewang-wenangan, aku akan berada disisi Ki Patih Amangkubumi meski harus melepaskan segala lencanaku sebagai seorang prajurit Majapahit”, berkata Rangga Pamandana telah berikrar diri berada di belakang Patih Amangkubumi.

    “Wahai putraku, wahai Rangga Pamandana. Seorang ksatria utama adalah yang mau melepaskan segala lencananya, segala pangkat dan jabatannya, berani melawan arus, berani berseberangan demi menegakkan kebenaran demi menegakkan panji keadilan di tangannya. Sejarah adalah hakim keadilan yang paling jujur mencatat perjalanan setiap manusia, mencatat jiwa kepahlawanan, mencatat jiwa keculasan, mencatat sisi hitam dan putihnya setiap jiwa. Banggakanlah anak dan cucu kita bahwa leluhur mereka adalah para ksatria utama yang selalu membawa pedang di tangan kanannya, membawa panji kebenaran di tangan kirinya. Tali kekang kudanya adalah tali ikatan kendali suci yang bercahaya terang benderang di dalam mata hatinya yang akan membawanya berjalan lurus membelah pasukan angkara”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.

    “Tutur Ki Patih Amangkubumi adalah pusaka yang akan kusimpan dan kujaga, sebagai pusaka hati yang selalu menghadirkan keberanian di dalam jiwaku”, berkata Rangga Pamandana dengan penuh rasa hormat dan haru.

    “Tutur ayahanda, menjadi pusakaku”, berkata pula Adipati Menak Koncar penuh haru dan hormat dihadapan ayahandanya itu.

    “Mulai besok, aku bukan lagi seorang Mahapatih Kerajaan Majapahit, aku hanya seorang manusia biasa yang tidak akan menyerahkan kepalaku sendiri. Mulai besok aku akan mengikrarkan diriku berada berseberangan dengan penguasa angkara. Inilah amanat Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepadaku, menjaga bumi Majapahit ini meski dengan cara membasahi pedangku ini dengan darah putra mahkotanya, Raja Jayanagara”, berkata Empu Nambi mengikrarkan dirinya.

    • Manthep tenan Ki Dalang. Matur suwun

  8. mantap ki sandikala… saya yakin mPu Nambi aman, sebab namanya dipakai ki Dalang…

    • He…..he…..he…..betul Ki KT…….
      Kamsia……..Pak Dhalang……..

    • Iya lah, ha ha ha ……
      Tapi serba repot juga, kalau ikutan “nyepi” seperti Mahisa Amping, terus nanti Ki Sandikala tidak mau neruskan ceritanya.
      hadu…….

      semoga Pak Dhalangnya, menemuka cara yag terbaik.

      • seandainya boleh memilih, maunya hidup abadi, melihat cucu tercinta besar dan tumbuh, hahahaha

        Bicara mati, banyak orang tidak siap mati, sementara hanya sedikit orang menunggunya, meyakini mati adalah sebuah jembatan menuju keabadian, abadan thoyiban (tempat abadi yang indah)

        Semua kembali pada diri kita, sejauh mana kita merasa selalu bersamaNYA

        Banyak para ksatria mencari kematian diujung pedang lawan, sementara banyak petualang politik mati mendadak hanya mendengar jumlah pemilihnya “anjlok”, hehehe

  9. Hari itu masih di bulan kelima tahun saka, candranya pancuran emas menyirami dunia.

    Dan beberapa orang lelaki yang tengah memperbaiki saluran air untuk sawah mereka terlihat berhenti bekerja manakala sebuah iring-iringan pasukan besar melintas di jalan utama menuju perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

    Ternyata mereka adalah para prajurti pengawal Kadipaten Lamajang yang tengah mengiringi Empu Nambi menyongsong pasukan Majapahit di perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

    Dibarisan terdepan terlihat Empu Nambi diatas punggung kudanya diapit oleh Adipati Manak Koncar dan Rangga Pamandana.

    Akhirnya iring-iringan pasukan besar itu terlihat sudah mendekati gapura perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

    “Jumlah pasukan kita sepadan dengan jumlah mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahandanya ketika mereka telah keluar dari perbatasan kota Kadipaten dan melihat pasukan prajurit Majapahit berjajar memenuhi sebuah padang ilalang yang cukup luas.

    “Berhenti !!”, berteriak Adipati Menak Koncar memberi perintah kepada pasukannya ketika jarak dengan pasukan prajurit Majapahit sekitar empat tumbak.

    “Aku akan berbicara dengan mereka”, berkata Empu Nambi yang telah melihat Rangga Umbaran di kawal oleh lima orang prajuritnya bergerak maju kedepan dan berhenti ditengah-tengah dua pasukan itu.

    Terlihat Empu Nambi telah menghentakkan kakinya di perut kudanya memberi isyarat agar berjalan. Tidak sebagaimana Rangga Umbaran yang dikawal oleh lima orang prajuritnya, sementara Empu Nambi hanya di temani oleh Rangga Pamandana.

    “Selamat berjumpa kembali, wahai Empu Nambi”, berkata Rangga Umbaran kepada Empu Nambi yang telah datang menghampirinya.

    “Aku datang sesuai dengan janjiku, apakah kamu akan tetap melaksanakan tugasmu, membawaku dengan paksa atau sukarela, hidup atau mati ?”, bertanya Empu Nambi masih dengan senyum penuh persahabatan kepada Rangga Umbaran.

    “Dibelakang Empu Nambi ada sebuah pasukan besar yang sebanding dengan jumlah pasukan yang kubawa”, berkata Rangga Umbara kepada Empu Nambi.

    “Aku mengenalmu cukup lama, wahai Rangga Umbaran. Seandainya aku datang dengan jumlah dua kali lipat dari saat ini, pasti tidak akan mempengaruhi keberanianmu”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

    “Empu Nambi yang menghidupkan keberanian itu, menciptakan para prajurit pejuang di Kerajaan Majapahit ini. Dan setengah dari mereka itu saat ini ada bersamaku”, berkata Rangga Umbaran.

  10. Terlihat Empu Nambi tersenyum pahit mendengar bahwa setengah dari prajurit itu adalah prajurit asuhannya sendiri.

    “Tak dapat kubayangkan menghadapi pedang-pedang mereka, aku atau mereka yang terluka adalah sama-sama sangat menyakitkan hati”, berkata Empu Nambi kepada Rangga Umbaran.

    “Tidak akan seperti yang akan Empu Nambi bayangkan”, berkata Rangga Umbaran sambil tersenyum.

    Sementara itu para pasukan prajurit pengawal Kadipaten Lamajang terlihat begitu tegang, telapak tangan mereka terlihat telah mulai basah untuk kesekian kalinya meraba gagang pedang masing-masing sambil membayangkan sebuah pertempuran akan segera terjadi memenuhi padang ilalang yang sangat luas itu.

    Terlihat dada para pasukan prajurit pengawal Kadipaten Lamajang berdebar kencang manakala telah melihat Rangga Umbaran telah mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

    Para prajurit pengawal kadipaten Lamajang, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi, semuanya mengira bahwa tindakan Rangga Umbaran adalah pertanda kepada pasukannya untuk mempersiapkan dirinya menghadapi sebuah pertempuran.

    Namun ternyata persangkaan semuanya jauh dari yang dibayangkan, karena tidak ada gerakan apapun dari para prajurit Majapahit yang telah melihat pertanda yang diberikan oleh Senapati perang mereka, Rangga Umbaran.

    Para pasukan prajurit pengawal Kadi[aten, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi tidak melihat adanya sebuah persiapan apapun dari para prajurit Majapahit, hanya mereka mendengar suara yang sangat lantang sekali berasal dari tengah-tengah pasukan prajurit Majapahit.

    “Wahai para prajurit yang pernah menghadapi pertempuran di hutan Simpang menghadapi Raja Jayakatwang, pantaskah pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi ?, pantaskah kita masih berdiri berseberangan dengan Empu Nambi ?”, terdengar suara amat lantang dari tengah-tengah pasukan Majapahit.

    Para pasukan prajurit pengawal Kadipaten, Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi telah melihat sekitar lima ratus orang prajuri Majapahit telah bergerak maju kedepan.

    “Panji Anengah”, berkata Empu Nambi dalam hati mengenal prajurit terdepan diantara prajurit yang tengah bergerak maju itu.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas panjang manakala para prajurit Majapahit itu terus bergerak memutar tepat berada di belakang Empu Nambi.

    Kembali terdengar suara lantang di tengah-tengah para prajurit Majapahit.

    “Wahai para mantan prajurit perang senyap yang pernah bersembunyi di sekitar hutan Gelang-gelang, pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi ?”, terdengar suara lantang itu.

  11. “Panji Samara”, berkata Empu Nambi dalam hati mengenal prajurit terdepan yang bergerak maju.

    Sebagaimana rombongan pertama, rombongan kedua juga telah bergerak dan memutar arah berada tepat dibelakang Empu Nambi.
    Kembali terdengar suara yang lantang terdengar kembali dari tengah-tengah pasukan prajurit Majapahit.

    “Wahai para prajurit utama, pembuka hutan Maja. Pantaskah ujung pedang kalian ditujukan kepada Empu Nambi ?”, begitu suara lantang itu terdengar.

    “Panji Wiranagari”, berkata Empu Nambi mengenal prajurit Majapahit yang berada terdepan diantara para prajurit Majapahit yang telah bergerak maju.

    Sebagaimana rombongan pertama dan kedua, rombongan ketiga itu juga terus bergerak maju dan berputar arah tepat dibelakang Empu Nambi.

    Terlihat Rangga Umbaran tersenyum memandang wajah Empu Nambi yang masih belum dapat mengerti mengapa setengah dari pasukan prajurit Majapahit itu telah berpindah arah berpihak kepadanya.

    “Semalam aku telah bercerita kepada semua prajuritku apa yang sebenarnya terjadi atas di Empu Nambi saat ini. Aku tidak mempengaruhi apapun, pilihan kuserahkan kepada para prajuritku sendiri”, berkata Rangga Umbaran masih sambil mengumbar senyumnya.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam, berusaha menekan keharuannya melihat keberpihakan para prajurit Majapahit yang sebagian besar para pejuang utama yang bersama-sama bahu-membahu dalam suka dan duka mendirikan Kerajaan Majapahit ini.

    “Empu Nambi pernah mengatakan kepadaku, bahwa seorang ksatria utama adalah yang mampu melawan arus, yang berani berseberangan. Bahwa seorang ksatria utama harus melihat bukan dengan perasaan hatinya, tapi dengan kejernihan pikirannya.
    Nampaknya kejernihan pikiranku mengatakan bahwa hari ini pasukanku kalah banyak dengan pasukan yang berada di belakang Empu Nambi”, berkata Rangga Umbaran sambil masih mengumbar senyumnya dan perlahan bergerak membalikkan arah badan kudanya dan langsung melangkah perlahan meninggalkan Empu Nambi diikuti oleh kelima pengawalnya.

    “Rangga Umbaran”, berkata Empu Nambi.

    Mendengar namanya dipanggil, terlihat Rangga Umbaran menghentikan langkah kudanya dan memalingkan wajahnya kearah Empu Nambi.

    “Aku bangga denganmu, ternyata kamu memang prajurit paling berani yang pernah kukenal”, berkata Empu Nambi dengan suara agak keras karena jaraknya dengan Rangga Umbaran sudah cukup jauh.

    Terlihat Rangga Umbaran tidak berkata apapun selain mengumbar senyumnya sambil melambaikan tangannya kearah Empu Nambi dan langsung menghentakkan kudanya berjalan kearah pasukannya.

    • Lanjut Ki Dalang

      • Wah joss tenen Ki Dhalang, sampai merinding membacanya…….
        lanjut dong……Kamsiaaaaa……..!!!!

  12. Lanjut Ki Dalang

  13. mantaap ki dalang… tapi, gimana lanjutannya ya, siap2 terharu biru…

  14. Juntai ujung bunga ilalang merunduk terhembus angin, pasukan prajurit Majapahit yang tersisa terlihat telah semakin jauh meninggalkan batas kota Kadipaten Lamajang.
    “Mari kita kembali”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    Terlihat iring-iringan pasukan prajurit telah memasuki gapura batas kota Kadipaten Lamajang. Langkah kaki mereka seperti mendendangkan suara hati mereka, langkah kegembiraan hati untuk segera bertemu keluarga, istri dan kekasih tercinta.

    “Pakde Kliwon, apakah mataku tidak salah melihat ?, mereka kembali dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya”, berkata seorang lelaki muda yang tengah memperbaiki saluran air kepada lelaki tua didekatnya.

    “Kamu benar, jumlah mereka memang bertambah banyak”, berkata lelaki yang dipanggil Pakde Kliwon itu.

    Saat itu musim hujan memang sudah datang mengguyur bumi Lamajang, para petani tengah memperbaiki saluran air di sawah mereka yang telahditebarkan bibit benih padi gaga. Namun manakala melihat iring-iringan pasukan prajurit melewati jalan utama yang membelah persawahan, mereka langsung berhenti bekerja menundukkan kepala serta merangkapkan kedua telapak tangannya didepan dadanya sebagai penghormatan kepada Adipati Menak Koncar dan pasukannya.

    Sementara itu sang surya belum sempurna berdiri di puncak cakrawala langit. Gugusan pegunungan Semeru, Bromo dan Tengger seperti raksasa biru yang masih rebah tertidur menjaga bumi Lamajang yang damai, guyub dan sejahtera.

    “nampaknya kita harus segera membangun barak-barak sementara untuk para prajurit Majapahit yang telah bergabung bersama kita”, berkata Adipati Menak Koncar kepada ayahandanya, Empu Nambi.
    “Juga ransum selamat datang untuk mereka”, berkata Empu Nambi sambil tersenyum kepada Adipati Menak Koncar.

    Demikianlah, pada hari itu para pelayan dalem istana Kadipaten lamajang terlihat begitu sibuk menyiapkan masakan lebih banyak lagi untuk para prajurit Majapahit yang baru bergabung itu.

    Sementara itu di pendapa istana Kadipaten, terlihat Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Rangga Pamandana, Panji Samara, Panji Anengah dan Panji Wiranagari tengah duduk merundingkan berbagai rencana menghadapi sikap kemarahan istana Majapahit yang tidak berhasil membawa paksa Empu Nambi, serta pembangkangan para prajuritnya sendiri yang telah bergabung mendukung perjuangan Empu Nambi.

    “Aku memang tidak berhasil dibawa menghadapi pengadilan dagelan mereka, namun mereka telah menang satu langkah lebih maju, telah dapat menyingkirkanku dari lingkungan istana Majapahit. Entah siapa lagi yang akan mereka singkirkan setelah diriku ini”, berkata Empu Nambi diatas pendapa istana Kadipaten Lamajang.

  15. Semua orang yang hadir di atas pendapa itu seperti tengah berpikir dan merenungi perkataan Embu Nambi, mulai meraba siapa sebenarnya pelakon yang menyebarkan awan badai disekitar istana Majaphit itu. Suasana diatas pendapa itu sejenak menjadi hening, senyap membisu.

    “Ibarat mandi, kita sudah kadung basah kuyup. Selama ini ayahanda telah banyak berperan mengendalikan roda pemerintahan di Kerajaan Majapahit ini, ayahanda juga punya hubungan yang sangat luas dengan para saudagar besar dari berbagai pelosok nagari. Aku putramu akan menyerahkan Tanah Lamajang ini kepada ayahanda sebagai sebuah wilayah yang berdaulat terlepas dari Kerajaan Majapahit “, berkata Adipati memecahkan suasana hening diatas pendapa itu.

    Semua mata terlihat memandang kearah Empu Nambi yang masih terdiam dengan sorot mata lurus kearah dua pohon beringin kembar yang tumbuh tinggi menjulang di tengah lapangan alun-alun.

    “Aku setuju dengan usulan Adipati Menak Koncar, bukankah Empu Nambi saat ini masih diakui sebagai Mahaguru suci di persekutuan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa ?, Empu Nambi dapat menggalang kekuatan yang sangat besar yang datang dari setiap padepokan-padepokan mereka”, berkata Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

    Kembali semua mata terlihat beralih memandang kearah Empu Nambi yang masih terdiam dengan sorot mata lurus kearah dua pohon beringin kembar yang tumbuh tinggi menjulang di tengah lapangan alun-alun. Nampaknya semua orang di atas pendapa itu berharap Empu Nambi memberikan tanggapan kesediaannya, menerima usulan Adipati Menak Koncar dan Panji Wiranagari itu.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas dalam-dalam, semua orang seperti menahan nafasnya ingin mendengar tutur kata dan sikap dari Empu Nambi sendiri.

    “kalian tengok dua pohon beringin kembar itu, seperti itulah aku dan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Kami telah bertekad yang sama, berikrar yang sama untuk membesarkan kerajaan Majaphit ini menjadi sebuah bahtera sang dewa Siwa yang terang benderang mengarungi lautan samudera malam yang luas, memerdekakan setiap manusia dalam kesetaraan, kemandirian dan kemakmuran bersama di muka bumi ini. Sementara Bahtera itu sudah jauh bergerak meninggalkan dermaganya. Bila hari ini aku mendirikan sebuah kerajaan baru di Tanah Lamajang ini yang terlepas dari kedaulatan Majapahit Raya, itu adalah pengingkaran atas tekad dan ikrarku, mendustakan hati nurani sendiri. Memproklamirkan sebuah kerajaan baru di Tanah Lamajang ini akan menjadi sebuah contoh yang buruk, karena dapat dipastikan beberapa wilayah akan melakukan yang sama, memisahkan diri dari kedaulatan Majapahit Raya. Pemberontakan muncul dimana-mana, peperangan berkobar tak pernah dapat diselasaikan. Lautan pengungsian, kemelaratan dan penderitaan menjadi sebuah pemandangan kesehari-harian. Dan bahtera Kerajaan Majapahit akan menghilang hanyut tergulung badai”, berkata Empu Nambi dan mengakhirinya dengan menarik nafas dalam-dalam sambil masih memandang kearah dua pohon beringin kembar yang tumbuh rindang meneduhi tanah lapang alun-alun.

    Semua orang diatas pendapa itu seperti terbelenggu oleh pemikiran Empu Nambi, memahami makna sikap dan pendirian Empu Nambi yang begitu kuat, kokoh mengakar mencengkeram bumi.

    • Kamsia………………………… aaaa…………… aaaa………….. aaaaa… aa….. aa….. aaa……. a……. a………. a……… a……

    • Kamsia Pak Dhalang…….

      Dulu aku pernah punya cita2 hidup jadi petani kecil
      Tinggal di rumah desa dengan sawah ladang di sekelilingku
      Luas kebunku kan kutanami buah dan sayuran
      Dan di kandang belakang rumahku kupelihara bermacam piaraan

      Isterikupun harus cantik, lincah dan gesit
      Tapi dia juga harus rajin dan pintar
      Siapa tahu, ku kan terpilih jadi kepala desa
      Kan kubangkitkan semangat rakyatku
      Tuk membangun desaku

      (gara2 Pakde Kliwon dan keponakannya saya jadi ingat lagu Mas Ebiet ini)

      • ..pokoke joged….pokoke joged….

  16. Tumben Pak Dhalang hari ini mengabsentkan diri tidak menurunkan rontal yang sedang ditunggu tunggu……..

  17. Dan sang suryapun terus bergerak menggenapi titah suci keberadaannya., menyempurnakan hari.

    Seiring pergantian siang dan malam, benih padi yang ditebar disawah terlihat terus tumbuh, sumber air yang melimpah di awal musim penghujan itu telah menyuburkan tanah persawahan.

    Dan berita tentang Empu Nambi dan pembelotan para prajurit Majapahit telah tersebar hingga di bumi Blambangan, juga di hampir seluruh padepokan yang berada dalam persekutuan perguruan Teratai Putih disepanjang Jawadwipa dan Balidwipa.

    Banyak sekali para utusan dari padepokan-padepokan yang telah menyampaikan sikap dukungannya kepada Empu Nambi.
    “Katakan kepada para ketua kalian rasa terima kasihku yang tak terhingga atas sikap dukungannya. Katakan kepada ketua kalian bahwa yang aku lakukan saat ini hanya sekedar menjaga sepenggal kepalaku yang sudah tua ini”, berkata Empu Nambi kepada para utusan itu.

    Sementara itu yang paling keras sikapnya atas peristiwa yang menimpa Empu Nambi adalah Adipati Menak Jingga, dengan sangat beraninya telah mengusir para pejabat perwakilan dagang Kerajaan Majapahit yang berada di beberapa Bandar pelabuhan di wilayah Blambangan. Sikap penguasa Blambangan itu di dukung penuh oleh para saudagar kaya yang selama ini terhambat gerak mereka oleh berbagai aturan Kerajaan Majapahit. Letak Blambangan yang menjadi jembatan jalur perdagangan beberapa kepulauan sebelah timur Jawdwipa ini memang merupakan sebuah jalur emas perdagangan yang sangat menggiurkan.

    Sikap penguasa Blambangan inilah yang sengaja diputar balikkan oleh Empu Dyah Halayuda sebagai sebuah pembangkangan, sebuah penodaan wibawa Raja Jayanagara sebagai keturunan titisan para dewata.

    “Empu Nambi telah menghasut kedua putranya, menghasut beberapa kesatuan prajurit Majaphit untuk melakukan pengbangkangan, tidak lagi menghormati kesucian Baginda Raja jayanagara sebagai keturunan titisan para dewata. Titahkan hamba untuk memangku jabatan Patih Amangkubumi, agar hamba dapat membangun kekuatan baru di Kerajaan Majapahit ini, para prajurit yang setya, sadu dan tuhu. Dan hamba berjanji akan membawa kepala Empu Nambi di istana Majapahit ini, sebagai pengajaran besar kepada semua orang bahwa itulah ganjaran kepada seseorang yang telah menodai kesucian seorang raja titisan para dewata”, berkata Dyah Halayuda kepada Raja jayanagara.

    “Aku yakin dan percaya atas kemampuan Empu Halayuda, hari ini juga aku akan memanggil Ki Kanuruhan Jangga untuk menyiapkan penobatan Empu Dyah Halayuda memangku jabatan Patih Amangkubumi”, berkata Raja Jayanagara kepada Dyah Halayuda.

    Bukan main gembiranya Empu Dyah Halayuda mendengar perkataan Raja jayanagara, angannya seperti terbang membumbung keatas langit.

    “Tercapai sudah segala citaku, akhirnya aku mendapatkan impianku. Akulah penguasa kerajaan Majapahit ini, bukan anak muda lemah ini”, berkata Empu Dyah Halayuda dalam hati.

  18. Delapan puluh delapan hari setelah penobatan Empu Dyah Halayuda sebagai Mahapatih di Kerajaan Majapahit.

    Hampir semua orang menertawakan Mahapatih baru itu, karena telah memerintahkan seribu orang prajurti Majapahit untuk melakukan sebuah penyerangan ke Tanah Lamajang dalam waktu dekat itu.

    “Apakah Mahapatih baru itu tidak belajar dari pengalaman, tiga ribu prajurit dibawah pimpinan Rangga Umbara kembali dengan tangan hampa, sekarang Mahapatih baru itu telah memerintahkan hanya dengan seribu prajurit, dasar orang bodoh”, berkata seorang pejabat tinggi istana memperbincangkan masalah penyerangan ke Tanah Lamajang itu.

    Benarkah Mahaptih Empu Dyah Halayuda orang bodoh sebagaimana persangkaan kebanyakan orang disaat itu ?

    Mungkin semua orang mengatakan hal serupa sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang pejabat tinggi di istana Majapahit, tapi tidak bagi Tumenggung Mahesa Semu yang punya jaringan sandinya, seorang pejabat bendahara kerajaan.

    Dari pejabat bendahara kerajaan itu, Tumenggung Mahesa Semu telah mendapat berita bahwa Mahapatih Dyah Halayuda dua pekan yang lalu telah menyiapkan persediaan pangan untuk enam ribu pasukan selama sembilan puluh hari perjalanan yang ditempatkan disebuah bahtera perahu besar.

    “Seribu prajurit yang dikirim oleh Mahapatih adalah sebuah pengalihan perhatian agar persediaan pangan enam ribu prajurit yang diangkut dengan sebuah bahtera perahu besar dapat aman tiba disebuah pantai yang tersembunyi di sekitar pantai pasuruan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu mencoba menafsirkan berita dari pejabat bendahara kerajaan kepada Adityawarman.

    “Mahapatih Dyah Halayuda tidak sebodoh yang orang lain perkirakan”, berkata Adityawarman mengakui kecerdikan siasat Mahapatih Dyah Halayuda itu.

    “Hari ini aku akan mengirim seorang utusan ke Tanah Lamajang”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    Demikianlah, pada hari itu juga terlihat seorang penunggang kuda keluar dari gerbang gapura batas kotaraja Majapahit, menembus keremangan diujung batas senja.

    Penunggang kuda itu adalah seorang utusan Tumenggung Mahesa Semu yang akan menuju ke Tanah Lamajang untuk menyampaikan sebuah berita penting kepada Empu Nambi.

    Sementara itu, keesokan harinya terlihat seribu prajurit Majapahit tengah menaiki sebuah bahtera perahu besar yang bersandar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

    “Kasihan para prajurit itu, menjadi korban kebodohan Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata seorang saudagar besar di Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh kepada kawannya yang melihat seribu prajurit Majapahit tengah menaiki sebuah bahtera perahu besar.

    “Raja Jayanagara telah salah memilih Mahapatihnya”, berkata kawan saudagar besar itu.

    • Kam…

      eh… matur suwun

  19. Suwun Ki Dalang, menunggu dg cemas sandyakalaning Ki Sandikala, semoga tidak mengenaskan.

  20. Sementara itu diwaktu yang sama di istana Kadipaten Lamajang, terlihat seorang penunggang kuda telah turun dari kudanya tepat didepan pintu gerbang istana Kadipaten.

    “Aku ingin bertemu dengan Empu Nambi”, berkata lelaki penunggang kuda itu kepada seorang prajurit pengawal.

    “Apakah Empu Nambi mengenalmu ?”, berkata prajurit pengawal kepada lelaki itu.

    “Namaku Ki Bancak, katakan kepada Empu Nambi”, berkata lelaki itu menyampaikan jati dirinya.

    “Tunggulah disini, kawanku akan menghadap Empu Nambi”, berkata prajurit pengawal itu yang langsung berbicara kepada kawannya.

    Terlihat kawan prajurit pengawal itu telah berjalan kearah pendapa istana menemui Empu Nambi disana.

    Tidak lama berselang, terlihat kawan prajurit itu tengah berjalan kembali ke gardu jaga.

    “Empu Nambi menerima Ki Bancak di pendapa istana”, berkata kawan prajurit itu kepada Ki Bancak.

    Maka tidak lama berselang terlihat Ki Bancak telah diantar oleh seorang prajurit pengawal menuju arah pendapa istana Kadipaten.

    “Selamat datang di istanaku, wahai Ki Lurah Bancak”, berkata Empu Nambi kepada Ki Bancak yang ternyata sudah sangat dikenalnya itu.

    Terlihat Empu Nambi di pendapa istana ditemani oleh Adipati Menak Koncar, Panji Samara dan Panji Wiranagari. Ternyata semua orang diatas pendapa itu telah mengenal Ki Bancak sebagai mantan prajurit Majapahit yang sudah mengundurkan diri di lingkungan keprajuritannya.

    “Tumenggung Mahesa Semu telam memintaku untuk membawa sebuah berita yang sangat penting sekali”, berkata Ki Bancak langsung menyampaikan berita tentang rencana penyerangan prajurit Majapahit di Tanah Lamajang itu.

    “Perhitungan Mahapatih Majapahit itu sangat cerdas sekali, datang disaat buah padi sudah mulai menguning, disaat lumbung kita sudah hampir menipis”, berkata Empu Nambi setelah mendengar berita yang dibawa oleh Ki Bancak itu.”Beruntung kita masih punyak banyak sahabat di istana Majaphit, seperti Tumenggung Mahesa Semu dan Ki Bancak ini”, berkata kembali Empu Nambi.

    “Kuserahkan kepada ayahanda, apa dan bagaimana sepatutnya menerima tamu-tamu kita dari Majapahit itu”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Ayahandanya, Empu Nambi.

    “Kuserahkan dirimu menjadi tuan rumah yang baik malam ini di pantai Pasuruan”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Sementara itu Panji Samara dan Panji Wiranagari menyambut langsung bingkisan tamu-tamu kita ditengah lautan”, berkata Empu Nambi kepada Panji Samara dan Panji Wiranagari.

  21. “Bagaimana dengan segelar sepapan enam ribu pasukan Majapahit yang datang menyambanyi Bumi Lamajang ini ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi

    Empu Nambi tidak langsung menjawab pertanyaan Adipati Menak Koncar, terlihat menarik nafas dalam-dalam.

    “Inilah hal yang paling pahit yang tidak kuinginkan dalam peperangan apapun”, berkata Empu Nambi dan terdiam sesaat sambil kembali menarik nafas panjang

    Semua orang diatas pendapa itu seperti ikut menarik nafas panjang, menunggu penuturan Empu Nambi selanjutnya.

    “Kita harus mengungsikan para penduduk, membakar persawahan mereka yang sebentar lagi akan bunting tua siap di panen”, berkata Empu Nambi.

    “Membakar persawahan penduduk ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi masih belum dapat menangkap maksud perkataan Empu Nambi.

    “Kita akan berhadapan dengan enam ribu pasukan musuh yang kelaparan karena ransumnya sudah kita curi”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar yang langsung dapat menangkap jalan pikiran ayahnya itu.

    “Kita hanya bertahan di istana ini sambil membidik srigala-srigala yang kelaparan diluar dinding tembok tinggi”, berkata Adipati Menak Koncar mencoba menguraikan pikiran yang ada didalam benak ayahandanya.

    “Waktu kita sangat singkat untuk menjamu tamu-tamu kita malam ini dan besok”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    Demikianlah, pada hari itu juga terlihat Adipati Menak Koncar telah mengumpulkan para penggawanya untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan menghadapi serangan pasukan prajurit dari Majaphit itu.

    “Mengungsilah kalian ke lereng Gunung Semeru menunggu saat yang aman untuk kembali”, berkata Adipati Menak Koncar kepada para penggawanya.

    Maka tidak lama berselang, seribu lima ratus prajurit Lamajang terlihat telah bergerak keluar dari istana Kadipaten Lamajang. Mereka terbagi dalam dua kelompok pasukan.

    Pasukan pertama berjumlah sekitar lima ratus orang prajurit dipimpin oleh Panji Samara dan Panji Wiranagari. Mereka adalah pasukan yang akan bertugas merebut bahtera perahu besar yang bermuatan penuh persediaan pangan enam ribu prajurit Majapahit.

    Sementara pasukan kedua berjumlah seribu prajurit dipimpin langsung oleh Adipati Menak Koncar.

    “Keringat para petani harus dikorbankan”, berkata dalam hati Empu Nambi diatas kudanya sambil memandang hamparan hijau persawahan yang sangat luas, yang sebentar lagi tua dan dipanen itu.

  22. Bulan sabit pucat terhalang awan hitam di langit pantai Pasuruan.
    Dikeremangan malam itu, terlihat para prajurit Lamajang telah menyebar di berbagai tempat sepanjang pantai Pasuruan bersembunyi di gerumbul-gerumbul perdu dan tanaman suru yang banyak tumbuh di sekitar pantai itu.

    “Perhitunganku, mereka akan merapat di malam ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar, Panji Wiranagari dan Panji Samara di kerimbunan perdu.

    “Prajuritku sudah menyebar menyamar sebagai para nelayan di sekitar perairan ini, kita hanya menunggu kabar dari mereka, dimana kedua bahtera itu akan merapat”, berkata Panji Samara kepada Empu Nambi.

    “Tiga ratus prajuritku sudah berada diatas bahtera perahu kayu, mereka akan memerankan lakon bajak laut di pesisir Pasuruan ini”, berkata Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

    “Bagaimana dengan kesiapan para prajuritmu ?”, bertanya Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    “Mereka akan menyambut para tamunya dengan dua obor ditangan, dikegelapan malam di pantai pasuruan ini pasti akan menggetarkan hati musuh yang melihatnya, dua obor ditangan seakan-akan melipat gandakan jumlah prajuritku”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

    “Nampaknya gending selamat datang sudah harus dimainkan”, berkata Empu Nambi sambil menatap dikeremangan malam seorang lelaki yang tengah merapatkan jukungnya di pasir pantai pasuruan.
    Terlihat lelaki itu telah berlari kearah mereka yang bersembunyi di kerimbunan tanaman perdu dan suru.

    “Kami telah melihat du bahtera perahu besar datang dari arah utara, satu bahtera nampaknya akan merapat di Gadingrejo, sementara satunya lagi akan merapat di Bugulkidul”, berkata lelaki itu yang ternyata adalah salah seorang prajurit Panji Samara.

    “Kami akan segera bergabung dengan kawan-kawan kami yang sejak senja tadi melaut”, berkata panji Samara dan Panji Wiranagari kepada Empu Nambi.

    Terlihat Panji Samara dan Panji Wiranagari bersama beberapa prajuritnya telah langsung menarik beberapa jukung yang telah lama mereka persiapkan kearah pantai. Dan tidak lama berselang jukung-jukung mereka telah meluncur diatas air laut, di bawah keremangan langit malam.

    Sementara itu Adipati Menak Koncar telah menemui pasukannya, memerintahkan mereka untuk bergeser kearah pantai Bugulrejo.
    Terlihat Empu Nambi ikut bersama pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar itu.

    Sementara itu Panji Samara dan Panji Wiranagari diatas sebuah jukung yang sama telah mengayuh dayung mereka lebih cepat lagi.

  23. Ternyata Panji Samara dan Panji Wiranagari bersama-sama beberapa jukung lainnya telah meluncur kearah sebuah bahtera siluman mereka, sebuah perahu kayu yang cukup besar, perahu kayu para pedagang Madura yang biasa digunakan mengarungi lautan raya.
    Dengan sangat sigap dan cekatan terlihat Panji Wiranagari dan Panji Samara telah langsung melompat ke perahu kayu dimana para prajuritnya sudah lama menunggunya.

    “Angkat sauh dan matikan lentera”, berkata Panji Samara kepada para prajuritnya. “Kita mengikuti arah jukung Juwana”, berkata kembali Panji Samara sambil menunjuk kearas sebuah jukung didepan mereka yang akan memberi arah kemana mereka harus bergerak.

    Maka perahu kayu tanpa lentera itu telah bergerak dikayuh oleh tiga puluh orang prajurit yang nampaknya sudah sangat terlatih.

    Sementara di belakang perahu kayu itu mengiringi sekitar dua puluh jukung kecil dimuati lima orang prajurit di setiap jukungnya.

    Maka tidak lama berselang, Juwana diatas jukung kecilnya telah memberikan pertanda dengan lenteranya, sebuah pertanda bahwa sasaran mereka sudah terlihat dan terjangkau.

    “Bersiaplah, kita akan merapat di bahtera perahu besar itu”, berkata Panji Samara sambil menunjuk sebuah bahtera perahu besar yang baru saja menurunkan tiga layar utamanya, nampaknya akan merapat di sebuah pantai.

    Dikegelapan malam, perayu kayu tanpa lentera itu seperti perahu hantu bergerak meluncur kearah bahtera perahu besar milik Majapahit itu.

    Brakkk….!!!!

    Terdengar suara tabrakan dua buahtelah perahu di tengah lautan malam itu.

    Dan dengan sangat cekatan sekali Panji Samara dan Panji Wiranagari telah melompat masuk ke dalam bahtera perahu besar itu diikuti oleh pasukannya.

    Sementara itu dua puluh jukung lainnya telah merapat di lambung bahtera perahu besar sebelah lainnya, dan mereka sudah langsung naik keatas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit itu.

    Seratus prajurit Majapahit yang berada diatas bahtera besar itu benar-benar tidak menduga mendapatkan sebuah penyergapan yang begitu cepat itu.Mereka telah menyangka bahwa bajak laut datang untuk merampok mereka.

    “Bajak laut….bajak laut…!!!

    Begitu teriakan para prajurit Majapahit mendapatkan serangan dadakan itu.

    Maka pertempuran diatas bahtera perahu besar itupun telah berlangsung dengan sangat sengitnya. Denting senjata yang beradu dan suara gaduh langkah kaki diatas dermaga kayu bahtera perahu besar milik Majapahit itu terdengar begitu riuh, bercampur dengan suara teriakan semangat yang bergelora.

  24. Sementara itu pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar telah bergeser ke sebuah pantai Bulgulkidul, sebuah dermaga kecil biasa bersandar para nelayan yang pulang dari melaut.

    “Menyebarlah kalian”, berkata Adipati Menak Koncar kepada pasukannya.

    Maka tidak lama berselang semua pasukannya telah berada di tempat persembunyiannya masing-masing, menyatu dengan kegelapan malam di pantai itu.

    “Lihatlah, bahtera perahu besar itu sudah menurunkan layar mereka”, berkata Empu Nambi sambil menunjuk sebuah bahtera perahu besar tidak jauh dari bibir pantai yang masih bergerak untuk merapat.

    Terlihat Adipati Menak Koncar seperti menahan nafas menunggu bahtera perahu besar milik Majapahit itu semakin mendekat merapat di dermaga kayu pantai Bulgulkidul.

    Dan begitu bahtera perahu besar itu telah bersandar di dermaga kayu, terdengar suitan panjang dari Adipati Menak Koncar

    Ternyata suitan panjang ditangan di tengah malam itu adalah sebuah pertanda dari Adipati Menak Koncar kepada pasukannya untuk menyalakan obor-obor mereka.

    “Mereka telah menyambut kedatangan kita”, berkata seorang prajurit Majaphit di atas bahteranya manakala melihat ribuan obor berjajar di kegelapan malam di bibir pantai itu.

    Kecut dan gentar menyelimuti hati para prajurit Majapahit yang masih berada diatas bahteranya.

    Namun suara Senapati perang mereka yang mengguntur telah mengusir jauh-jauh rasa gentar mereka.

    “Prajurit Majapahit adalah petarung sejati, lepas pedang kalian dan turunlah ke daratan”, begitu terdengar suara penuh semangat yang mereka tahu berasal dari Senapati perang mereka.

    Terlihat para prajurit Majaphit sudah berlompatan turun ke dermaga dengan pedang terhunus di tangan masing-masing.

    “Saatnya menjamu para tamu-tamu”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    Maka terdengar suitan panjang dari Adipati Menak Koncar memberi pertanda kepada pasukannya.

    Kembali para prajurit Majapahit yang sudah turun diatas pantai itu menjadi gentar dan kecut hatinya manakala ribuan obor dikeremangan malam itu telah bergerak kearah mereka.

    Tampilan pertama dapat mempengaruhi sebuah awal pertempuran, itulah yang ingin ditampilkan oleh pasukan Adipati Lamajang itu, cahaya ribuan obor seperti mata ribuan hantu di kegelapan malam telah menggetarkan hati pasukan Majapahit itu.

    “Hunus pedang kalian !!”, terdengar suara Adipati Menak Koncar mengguntur di malam sepi itu.

    Serentak pasukannya telah melemparkan obor-obor ditangan mereka dan langsung menggantikannya dengan pedang tergenggam tinggi diatas kepala mereka sambil berlari kearah bibir pantai.

  25. Sementara itu pertempuran di atas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit masih berlangsung dengan amat serunya. Para prajurit Majapahit yang berjumlah seratus orang itu benar-benar bertanggung jawab menjaga bahteranya, mereka tidak gentar sedikitpun dengan jumlah lawan mereka yang berlipat-lipat ganda sekalipun, mereka bertempur dengan sekuat raga dan jiwa mereka.

    Namun pasukan Panji Samara dan Panji Wiranagari adalah pasukan yang punya banyak pengalaman bertempur di darat dan lautan. Maka lambat atau cepat para prajurit bahtera Majapahit itu terlihat semakin terdesak menghadapi terjangan lawan mereka yang lima kali lipat jumlahnya itu.

    Satu dua orang prajurit Majaphit terlihat terlempar keluar bahtera tidak mampu menghadapi desakan lawan-lawan mereka.
    Kembali terdengar suara jeritan tinggi dari seorang prajurit Majapahit yang tertebas perutnya terkena pedang tajam salah seorang prajurit di pihak Lamajang.

    Denting suara pedang yang beradu bersama suara hentakan penuh kemarahan berkecamuk mengisi pertempuran di atas dermaga bahtera perahu besar milik Majapahit itu, namun nampaknya sudah dapat dibaca siapa yang lebih dapat mengendalikan jalannya pertempuran itu.

    Pengalaman bertempur dan jumlah yang lebih banyak dari pasukan Panji Samara dan Panji Wiranagari itu nampaknya lambat tapi pasti akan menguasai jalannya pertempuran itu.

    Terlihat jumlah para prajurit Majapahit sudah semakin menyusut, sementara serangan pasukan di pihak lamajang terlihat semakin menekan kuat.

    Dan dalam waktu yang terasa sangat singkat itu, diatas dermaga bahtera itu darah telah banyak menodai lantai kayu dermaga, beberapa mayat terlihat bergelimpangan dari dua pihak yang masih terus bertempur itu.

    Kembali terdengar suara pedih yang teramat sangat dari seorang prajurit Majapahit yang tidak mampu menahan enam hingga tujuh orang prajurit di pihak Lamajang. Terlihat sebuah pedang telah menembus dadanya dari arah belakang.

    Demikianlah, satu persatu prajurit Majapahit saling menyusul tertikam senjata tajam lawan mereka. Lambat tapi pasti jumlah para prajurit Majapahit semakin menyusut tajam.

    Hingga akhirnya jumlah mereka hanya tertinggal sepuluh orang yang tersebar di berbagai tempat diatas dermaga bahtera perahu besar itu.
    “Aku menyerah”, berkata seorang prajurit Majapahit di bawah tatap mata sepuluh prajurit pihak Lamajang yang telah mengepungnya.

    “Lemparkan senjatamu”, berkata seorang prajurit pihak Lamajang dengan suara keras membentak.

    Tanpa menunggu perintah dua kali prajurit majaphit itu telah melemparkan senjatanya di lantai kayu dermaga.

  26. saking asyiknya, dipikiran mau nyebut geladak kayu, kok tangah ini mengetik dengan dermaga kayu ????, mohon dipersori deh, hehehe

  27. Kita tinggalkan dulu pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara yang nampaknya sudah hampir menguasai pertempuran diatas bahtera perahu besar milik Majaphit itu, kita menengok kembali pertempuran pasukan Adipati Menak Koncar di bibir pantai Bugulkidul itu.

    Ternyata pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi. Pasukan Adipati Menak Koncar sudah langsung menerjang pasukan Majapahit itu seperti ribuan anak panah memporak porandakan lawan-lawan mereka.

    Terlihat pasukan Majapahit langsung terdesak mundur semakin mendekati bibir pantai.

    Ternyata semangat pasukan Lamajang itu di pengaruhi oleh dua orang yang bersenjatakan sebuah cakra di tangan mereka yang berdesing selalu menyambar prajurit Majapahit didekatnya.

    Siapa dua orang pemilik senjata cakra di tangannya itu yang sangat menggiriskan hati siapapun yang melihatnya ?

    Ternyata dua orang itu adalah Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar, dua orang yang mempunyai kesatian yang sangat tinggi itu.
    Kecepatan bergerak dari Empu Nambi benar-benar sangat sukar sekali diikuti oleh pandangan mata biasa, orang tua mantan Patih Amangkubumi Majapahit itu benar-benar membuat bingung para prajurit Majapahit, karena telah bergerak dengan sangat cepat sekali dan berkali-kali telah melemparkan para prajurit Majapahit dengan sambaran-sambara senjata cakranya yang datang dari tempat yang tak terduga-duga itu.

    Sebagaimana Empu Nambi, terlihat tandang Adipati Menak Koncar memang tidak bertaut jauh dengan ayahandanya itu, cakra di tangan Adipati Menak Koncar itu telah menyapu bersih pasukan Majapahit, telah melemparkan tubuh para prajurit Majapahit dengan luka berat yang cukup parah dan langsung terjengkang di tanah pantai berpasir itu.

    Kehadiran Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar benar-benar telah banyak mempengaruhi jalannya pertempuran itu, karena dalam waktu yang begitu singkat telah mengurangi jumlah para prajurit Majapahit yang baru saja turun dari bahteranya itu.

    Terlihat dalam waktu yang begitu singkat itu, jumlah para prajurit Majapahit sudah menyusut dengan tajamnya.

    Sementara itu pertempuran telah semakin bergeser diatas air laut dangkal, para pasukan Majapahit semakin terdesak mundur.

    Namun ketika pertempuran diatas air laut dangkal itu masih tengah berlangsung, tiba-tiba saja terlihat sebuah bahtera perahu besar dengan pertanda khusus milik kerajaan Majapahit telah mendekati bibir pantai.

    Berdebar perasaan para prajurit Lamajang yang telah menduga bahwa ada bantuan dari pihak prajurit Majapahit itu.

  28. ki dalang menulis sebagaimana laporan pandangan mata, melihat kejadian sejarah masa lalu. salut ki…

  29. Kecemasa para prajurit Lamajang semakin memuncak manakala dari atas bahtera perahu besar itu berloncatan ratusan orang langsung terjun diatas laut dangkal itu.

    Namun kecemasan para prajurit Lamajang itu langsung hilang berubah dengan perasaan penuh kegembiraan hati manakala dari atas anjungan bahtera perahu besar itu terdengar suara teriakan yang cukup keras seperti ingin menandingi suara debur ombak pantai di malam hari itu.

    “Wahai para prajurit Lamajang, aku Panji Wiranagari ingin turut menjamu para tamu-tamu kalian”, berteriak Panji Wiranagari dari atas anjungan.

    Ternyata pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara telah berhasil menyelesaikan pertempuran mereka dengan sangat gilang gemilang, telah berhasil menguasai pertempuran mereka diatas behtera perahu besar milik kerajaan Majapahit itu.

    Kedatangan Pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara ini benar-benar sangat mengejutkan pasukan Majapahit, mereka sudah langsung terjepit dari dua sisi pertempuran.

    Satu persatu prajurit Majapahit berguguran hanyut dibawa ombak laut pantai. Dan dalam waktu yang begitu singkat jumlah pasukan Majapahit itu langsung menyusut tajam, sudah berkurang setengahnya.

    Tandang Empu Nambi dan putranya, serta tandang pasukan Panji Wiranagari dan Panji Samara yang sangat berpengalaman tempur di darat dan di lautan itu dan merupakan sebuah prajurit satuan khusus yang sangat disegani diantara kesatuan yang ada di kerajaan Majapahit sebelumnya telah mempengaruhi jalannya pertempuran.

    Perlahan tapi pasti, prajurit Majapahit yang terjepit itu sudah semakin menyusut, korban di pihak mereka saling susul menyusul berguguran satu persatu.

    Ternyata senapati perang mereka sudah dapat membaca akhir dari pertempuran itu, tidak ingin prajuritnya habis berguguran.

    “Wahai para prajurit Majapahit, angkat tinggi-tinggi senjata kalian. Aku Senapati Bantaran memerintahkan kalian menyerah”, berkata seorang Senapati pasukan Majapahit dengan suara yang cukup lantang terdengar hampir disetiap sisi pertempuran yang tengah berlangsung itu.

    Mendengar suara Senapatinya itu, serentak semua prajurit Majapahit telah mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi sebagai pertanda mereka menyerah tidak akan melakukan perlawanan.

    “Jaga jarak kalian, mereka telah menyerah !!”, berteriak Adipati Menak Koncar dengan suara yang sangat lantang.

    Terlihat para prajurit di pihak Lamajang telah mengatur jarak dengan prajurit Majapahit yang masih mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sebagai pertanda tidak akan melanjutkan perlawanan.

    “Lepaskan senjata kalian !!”, berkata Senapati bantaran memerintahkan prajuritnya melepaskan senjata mereka.

  30. Bulan sabit diatas langit seperti tersenyum memandang iring-iringan pasukan Lamajang yang telah bergerak meninggalkan pantai Pasuruan. Langkah kaki mereka terlihat begitu rancak menapaki jalan malam menuju arah pulang. Bersama mereka terlihat pasukan Majapahit yang terikat tangannya berjalan menunduk lesu telah digelandang sebagai tawanan perang.

    Sementara itu dibelakang iring-ir ingan pasukan Lamajang itu terlihat puluhan pedati dengan muatan menggunung dipenuhi persediaan pangan yang berhasil di jarah dari sebuah bahtera perahu besar milik kerajaan Majapahit itu.

    Hingga akhirnya manakala warna langit malam mulai bias dipenuhi garis-garis kemerahan, pasukan Lamajang itu telah mendekati batas kota Kadipaten lamajang.

    “Tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini, semua akan berujung dan berakhir”, berkata Empu Nambi dalam hati sambil memandang warna langit malam yang sudah mulai berakhir itu berganti dengan warna cahaya langit pagi.

    “Adilkah diriku ini, untuk mempertahankan kepala ini harus mengorbankan begitu banyak orang ?”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati mempertanyakan sikapnya untuk tidak tunduk memenuhi panggilan pengadilan Kerajaan Majapahit.

    Sementara itu iring-iringan pasukan Lamajang telah memasuki jalan utama menuju istana Kadipaten Lamajang. Empu Nambi melihat rumah-rumah yang telah kosong ditinggalkan para penghuninya. Empu Nambi juga melihat hamparan persawahan telah berwarna hitam terbakar.

    “Mereka telah meninggalkan kampung halamannya sendiri, membakar sawah mereka sendiri. Apakah ini semua hanya sebuah mimpi burukku belaka ?”, berkata kembali Empu Nambi sambil mengucek-ngucek matanya sendiri berharap bahwa semua yang dilihatnya itu adalah sebuah mimpi buruknya sendiri, namun Empu Nambi tidak terbangun dari tidurnya, tidak terbangun keluar dari mimpi buruknya itu. “Aku tidak tengah bermimpi, aku berada di alam nyata di dalam suasana paling buruk di dalam kehidupanku sendiri”, berkata Empu Nambi sambil menarik nafas dalam-dalam, mencoba membenturkan kenyataan pahit dan kegetiran perasaaan hatinya itu dengan kesadaran bathinnya, bahwa dirinya hanya sebutir debu tak punya kehendak apapun dibawa angin titah sang Penguasa alam semesta raya.

    “Aku hanya sebutir debu tak berdaya dibawa angin terbang, kemarin aku masih berada istana Majapahit, penuh sanjungan dan kemuliaan. Dan sekarang aku berjalan sebagai seorang pelarian yang terhina. Sempurna sungguh titah Gusti Yang Maha Agung memenuhi segala rasa untukku di bumi ini. Semoga aku tetap berada dalam kasihMU, tidak tertipu oleh warna-warni kehidupan nyataku. Ijinkan diri ini selalu dekat bersamaMU, janganlah KAMU palingkan diri ini, kalah dan menyerah berjalan diatas kebenaran hati, kebenaran nurani”, berbicara Empu Nambi dengan dirinya sendiri.

    Angin lembut pagi terasa lembut membelai wajah Empu Nambi diatas punggung kudanya.

    “Aku memang tidak sedang bermimpi”, berkata Empu Nambi dalam hati manakala seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang memegang tali kekang kudanya di depan gerbang istana kadipaten.

  31. hanya kesatria sejati yang mampu membaca nurani dan tanggungjawab.. suwun ki sandi

  32. Sementara itu di istana Majapahit, Tumenggung Mahesa Semu mencoba mendalami penyelidikannya berdasarkan temuan berita dari bendahara Kerajaan bahwa Mahapatih dan Ra Kuti telah bekerja sama menggalang sebuah kekuatan baru, membangun sebuah pasukan baru di sebuah tempat tersembunyi tidak jauh dari Kotaraja Majapahit.

    “Kita harus segera mengetahui dimana Mahapatih dan Ra Kuti menyembunyikan pasukan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman.

    “Mereka berdua sangat licin sekali, nampaknya sangat berhati-hati sekali seperti mengetahui selama ini kita membayanginya, sehingga petugas kita masih belum dapat melacak dimana pasukan mereka disembunyikan”, berkata Adityawarman.

    “Mulai hari ini kita akan menyisir siapa orang kepercayaan mereka, pastinya adalah yang biasa sering berhubungan dengan mereka”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Berdasarkan laporan petugas delik sandi yang kutugaskan membayangi Ra Kuti, di kediamannya ada seorang lelaki tua yang tinggal bersamanya. Tidak banyak yang mengenalnya, dan apa hubungannya dengan Ra Kuti . Yang diketahu bahwa orang itu nampaknya sering keluar rumah Ra Kuti untuk waktu yang cukup lama”, berkata Adityawarman.

    “Aku merasa condong bahwa orang itulah yang digunakan oleh Mahapatih dan Ra Kuti sebagai kepanjangan lidah mereka berdua mengendalikan pasukan yang mereka sembunyikan itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu.

    “Mulai hari ini aku akan membayangi orang itu”, berkata Adityawarman kepada Tumenggung Mahesa Semu.

    “Sebaiknya kamu meminta bantuan orang biasa yang kita percaya, aku khawatir dirimu dan semua petugas delik sandi di kerajaan Majapahit ini sudah mereka cirikan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Adityawarman.

    “Mungkin kita bisa meminta bantuan Supo Mandagri”, berkata Adityawarman mengusulkan sebuah nama kepada Tumenggung Mahesa Semu.

    “Aku percaya dengan anak muda itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu menyetujui usulan Adityawarman itu.

    Demikianlah, pada hari itu juga Adityawarman telah pamit diri kepada Tumenggung Mahesa Semu untuk menemui Supo Mandagri di Tanah Ujung Galuh.

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Supo Mandagri adalah seorang anak muda yang tinggal bersama Gajahmada dan ibundanya di sebuah puri Pasanggrahan milik Jayakatwang di Tanah Ujung Galuh.

    Atas ijin dari Gajahmada, anak muda itu telah membangun sebuah pondokan di belakang Puri Pasanggrahan itu yang digunakan sebagai dapur pembuatan keris pusaka.

  33. Sementara itu di waktu yang sama di pagi itu terlihat sebuah iring-iringan pasukan besar telah berada di pasuruan tidak jauh dari pantai Gadingrejo. Mereka langsung membangun barak-barak darurat di sebuah tanah lapang yang cukup luas disana.

    Itulah enam ribu pasukan Majapahit yang dicurigai oleh Tumenggung Mahesa Semu sebagai sebuah pasukan yang digalang oleh Mahapatih dan Ra Kuti sebagai sebuah kekuatan bayangan yang akan menandingi kekuatan pasukan Majapahit yang ada.

    “Gila, gila, gila, Bahtera perahu besar yang membawa persediaan pangan kita tidak diketahui rimbanya ?”, berkata seorang lelaki yang nampaknya pimpinan tertinggi pasukan besar yang telah membangun barak pasukan di pantai Gadingrejo.

    Nampaknya lelaki pimpinan pasukan besar itu tengah berbicara dengan dua orang kepercayaannya, bawahannya langsung.

    “Lembu Peteng, lekas kamu cari tahu apa yang terjadi dengan bahtera itu, juga bahtera yang membawa seribu orang prajurit Majapahit di pantai Pasuruan ini”, berkata pimpinan pasukan itu kepada bawahannya yang dipanggil sebagai Rangga Lembu Peteng itu.

    “Baik Ki Jabung Terewes, aku akan segera mencari tahu”, berkata Lembu Peteng sambil berpamit diri kepada pimpinannya itu yang dipanggilnya sebagai Ki Jabung Terewes itu, seorang yang berwajah keras ditandai dengan kedua rahang yang menonjol dan alis mata tebal hampir menyatu. Cambang, janggut dan kumis orang itu terlihat begitu lebat dan hitam tumbuh tak terpelihara.

    “Ikal-ikalan Bang, berapa sisa ransum untuk pasukan kita sampai dengan hari ini ?”, bertanya Ki Jabung Terewes kepada bawahannya yang lain yang dipanggilnya sebagai Ikal-ikalan Bang itu.
    “Hanya tersisa untuk tiga hari perjalanan”, berkata Ikal-ikalan Bang kepada Ki Jabung Terewes.

    “Hanya tinggal tiga hari perjalanan ?”, berkata Ki Jabung Terewes dengan wajah sangat gusar sekali.

    “Perhitunganku, dua atau tiga hari ini sawah di Tanah Lamajang sudah tua dan siap di panen. Bila kita dapat menguasai istana Kadipaten Lamajang, maka kita tidak akan kekurangan ransum untuk pasukan kita”, berkata Ikal-ilakaln Bang kepada Ki Jabung Terewes.

    “Otakmu sangat encer, namun kita masih harus menunggu Lembu Peteng yang tengah mencari tahu apa yang terjadi atas dua bahtera milik kerajaan Majapahit yang ditugaskan sebagai pendukung pasukan kita ini”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang.

    Sementara itu Lembu Peteng sudah berkuda meninggalkan barak-barak darurat mereka, mencoba mencari tahu apa yang terjadi atas dua Bahtera yang memang sengaja diberangkatkan ke pantai Pasuruan untuk mendukung enam ribu pasukan yang akan melakukan penyerangan di Tanah Lamajang itu.

    Terlihat Lembu Peteng telah memasuki sebuah perkampungan nelayan di sekitar pantai Gadingrejo.

    • Jabung Terewes
      He he he …. nemu saja namw orang.
      Sip Pak Dalang.
      Matur suwun

      • Bukankah nama itu sudah ada pada cerita yang terkait dengan pemberontakan terhadap Majapahit Ki Satpam?

        • O…begitu
          Saya memang tidak pernah/mau membaca bagian ini, sehingga tidak tahu detil nama2nya.

  34. jabung terewes atau jabung krewes ya? atau kemabaranya..

  35. “Aku tidak pernah melihat Bahtera besar merapat di pantai Gadingrejo, hanya selentingan kabar dari beberapa kawan yang semalam mencari ikan dekat pantai Bugulkidul, telah melihat dua bahtera besar telah karam hangus terbakar di pinggir pantainya”, berkata seorang lelaki tua yang ditanyakan oleh Lembu Peteng.

    “Terima kasih pak tua”, berkata Lembu Peteng kepada lelaki tua itu yang langsung melanjutkan pekerjaannya memperbaiki jaringnya.

    Sementara itu Lembu Peteng terlihat sudah berada kembali diatas punggung kudanya berjalan menuju arah pantai Bugulkidul.

    Bukan main terkejutnya Lembu Peteng manakala telah tiba di pantai Bugulkidul, ternyata perkataan orang tua yang ditemui di perkampungan nelayan itu memang benar bahwa ada dua bahtera besar terlihat karam di pantai dengan kondisi yang sudah hangus terbakar.

    “Aku akan melaporkan semua ini kepada Ki Jabung Terewes”, berkata Lembu Peteng dalam hati.

    Terlihat Lembu Peteng telah memacu kudanya berlari menuju arah tempat pasukannya membangun barak-barak darurat.

    “Gila,gila, gila !!”, berkata Ki Jabung Terewes manakala mendengar cerita Lembu Peteng yang telah melihat dua bahtera besar karam terbakar di pantai Bugulkidul itu.

    “Nampaknya mereka telah dapat membaca rencana besar penyerangan kita ini”, berkata Ikal-ikalan Bang memberikan tanggapannya atas berita yang di bawa oleh Lembu Peteng itu.

    “Senja ini juga kita harus memberangkatkan pasukan kita menggempur istana Lamajang”, berkata Ki Jabung Terewes kepada kedua bawahannya itu.

    “Aku akan menyiapkan pasukanku”, berkata Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang kepada Ki Jabung Terewes.

    Demikianlah, Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang telah menemui pasukannya masing-masing untuk memberitahukan bahwa menjelang senja ini mereka akan berangkat menuju Kadipaten Lamajang.

    Satu dua prajurit terlihat menampakkan wajah keberatannya, namun mereka nampaknya tidak ada kekuatan apapun untuk menolak perintah atasannya itu.

    “Perintah gila, baru beristirahat sudah diperintahkan berangkat segera”, berkata seorang prajurit dengan wajah kesal bersungut-sungut menyiapkan beberapa perlengkapan yang harus dibawanya.

    “Salah garis tanganmu, mengapa ditakdirkan menjadi bawahan”, berkata seorang prajurit kawannya itu.

    Mendengar perkataan kawannya itu, terlihat prajurit itu langsung membuka telapak tangannya sendiri.

    “Ki Juru nujum pernah mengatakan bahwa aku akan menjadi seorang yang kaya raya, hanya setelah usiaku menjelang enam puluh tahun”, berkata prajurit itu kepada kawannya.

  36. Mendengar perkataan prajurit itu, terlihat kawannya tertawa terbahak-bahak.

    “Mengapa kamu tertawa seperti itu ?”, bertanya prajurit itu kepada kawannya.

    “Ternyata mudah sekali orang sepertimu kena tertipu, mana ada juru nujum mengatakan tentang berita buruk, yang pasti adalah berita gembira agar orang memberi hadiah kegembiraannya”, berkata kawan prajurit itu masih tertawa terpingkal-pingkal karena selama itu melihat prajurit itu seorang yang sangat cerdas, namun dapat dikerjai sama seorang tukang nujum.

    Sementara itu beberapa prajurit terlihat sudah bersiap untuk berangkat ke Tanah Lamajang.

    Demikianlah, menjelang senja pasukan segelar sepapan berjumlah enam ribu prajurit Majapahit itu terlihat sudah bergerak menuju arah Tanah Lamajang.

    Disaat malam telah menjadi gelap dan dingin, pasukan besar itu tetap tidak berhenti berjalan. Terlihat langkah kaki para prajurit mulai semakin lambat digayuti rasa kantuk yang amat sangat, namun mereka terus memaksakan dirinya membuang jauh-jauh rasa kantuk itu karena tidak ada perintah dari atasan mereka untuk berhenti sebentar guna dapat mengejapkan sedikit rasa kantuk mereka.

    Ki Jabung Terewes nampaknya menyadari keadaan prajuritnya itu, namun mengingat persediaan pangan mereka yang hanya dapat bertahan untuk tiga hari perjalanan, maka dengan sangat terpaksa membuta tulikan perasaannya itu.

    Hingga akhirnya ketika warna langit terlhat mulai merekah memerah, diperintahkan prajuritnya untuk beristirahat. Bersamaan saat itu mereka telah berada disekitar perbatasan kota Kadipaten Lamajang.

    Keberadaan para pasukan dari Majaphit itu yang berada di tempat terbuka itu telah terlihat oleh para prajurit Lamajang yang memang telah disiagakan menunggu kehadiran mereka.

    “Kabarkan bahwa pasukan Majapahit telah datang, sementara aku tetap disini mengamati mereka”, berkata seorang prajurit Lamajang kepada kawannya.

    Terlihat kawan prajurit itu dengan berendap-endap keluar dari persembunyiannya dan langsung menyelinap diantara gerumbul dan ilalang berjalan kearah kota Kadipaten Lamajang.

    “Tidak perlu mendatanginya di luar perbatasan kota, kita tunggu dan sambut mereka dari balik dinding istana ini dengan hujan anak panah”, berkata Empu Nambi ketika mendengar berita tentang keberadaan pasukan Majapahit di perbatasan kota.

    Dan tidak lama kemudian, terlihat beberapa prajurit Lamajang telah bersiap di sepanjang dinding dengan busur dan anak panahnya, sementara beberapa orang prajurit lainnya telah berada dibelakang pasukan pemanah itu, siap dengan persenjataan mereka.

    Terlihat wajah para prajurit itu sangat segar dan bugar, karena pagi-pagi sekali sudah mengisi perutnya dengan ransum yang telah disiapkan untuk mereka.

    Jalan utama didepan istana Kadipaten lamajang itu masih sepi dan lengang.

  37. Sementara itu di perbatasan kota Kadipaten Lamajang, terlihat Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng tengah melaporkan kepada Senapati perang mereka, Ki Jabung Terewes, bahwa pasukan seluruhnya telah siap terjun menghadapi pertempuran.

    “mereka orang-orang di tanah Lamjang ini tidak datang menghadang kita, apakah mereka takut melihat jumlah kita ?”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Lembu Peteng dan Ikal-ikalan Bang.

    “Menurutku memang begitu, mereka sudah takut lebih dulu melihat pasukan kita seperti seekor anjing kurap yang menyembunyikan ekornya”, berkata Lembu Peteng.

    “menurutku mereka tidak takut menghadapi kita, yang mereka lakukan saat ini adalah membiarkan pasukan kita kehabisan ransum dan kedinginan di tempat terbuka. Bukankah mereka telah mencuri ransum kita ?, pastinya mereka sudah dapat menghitung berapa hari kita bisa bertahan dengan persediaan yang masih kita miliki itu”, berkata Ikal-ikalan Bang yang nampaknya sangat teliti dan punya banyak perhitungan itu.

    “Bila demikian, hari ini juga kita langsung hantam mereka di jantung kotanya”,berkata Ki jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng.

    Maka tidak lama berselang seluruh pasukan telah disiapkan untuk masuk menggempur kota Kadipaten Lamajang.
    Terlihat pasukan yang sangat besar itu, berjumlah sekitar enam ribu prajurit Majapahit telah bergerak memasuki gapura batas kota Lamajang.

    “Gila, gila, gila !!, mereka nampaknya memang ingin membuat kita mati kelaparan”, berkata Ki Jabung Terewes manakala melihat persawahan di kiri kanan jalan yang mereka lalui sudah hitam hangus terbakar.
    “Mereka sudah mengetahui rencana penyerangan ini, pasti ada yang membocorkannya”, berkata Ikal-Ikalan Bang kepada Ki jabung Terewes.

    “Kita hancurkan istana mereka, kita jarah apapun yang ada di dalam istana mereka”, berkata Lembu Peteng dengan perasaan begitu sangat geram tidak sabaran lagi untuk secepatnya menggempur pasukan musuh.

    “Mungkinkah mereka telah mengosongkan istana mereka sendiri ?”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Ikal-ikalan Bang dan Lembu Peteng manakala telah melihat gerbang istana Kadipaten Lamajang yang tertutup dan terkesan begitu sepi tak terlihat seorangpun prajuritnya dari luar.

    “Ternyata begitu mudahnya menguasai Tanah Lamajang”, berkata Lembu Peteng tersenyum bangga membayangkan penguasa bumi Lamajang sudah lari mengungsi takut menghadapi mereka.

    Mendengar perkataan Lembu Peteng telah membuat Ki Jabung Terewes ikut berpikir yang sama, telah memberi perintah pasukannya untuk terus bergerak mendekati istana kadipaten yang sangat lengang itu.

  38. Namun manakala pasukan Ki jabung Terewes itu sudah sangat dekat sekali dengan istana Kadipaten Lamajang, ribuan anak panah telah meluncur menghujani mereka berasal dari balik pagar dinding batu istana.

    “Gila, gila, gila !!”, berteriak Ki Jabung Terewes sambil mundur bersama pasukannya keluar dari jangkauan anak panah yang menghujani mereka.

    Puluhan prajurit Majaphit yang tak mampu cepat berlari dan berhindar telah terluka parah terkena hujan panah itu.

    “Aku akan merobek perut semua orang di dalam istana itu”, berkata Ki Jabung Terewes yang telah berhasil berlari menghindari hujan anak panah itu.

    “Kita harus menghancurkan pintu gerbang istana itu”, berkata Ikal-ikalan Bang yang melihat hanya pintu gerbang istana saja yang dapat digempur, sementara dinding pagar yang mengelilingi istana terbuat dari batu yang sangat tebal.

    “Perlu sebatang pohon besar dan sebuah pedati”, berkata Lembu Peteng mencoba memutar akalnya.

    Maka beberapa prajurit telah menebang sebuah pohon kayu yang cukup besar, juga telah menemukan sebuah pedati yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

    “Kita harus melindungi prajurit kita yang akan membawa kayu dan pedati itu”, berkata Lembu Peteng manakala melihat alat untuk mendobrak gerbang istana Kadipaten sudah siap di luncurkan.

    “Dengan hujan anak panah”, berkata Ikal-Ikal Bang

    “Begitu pintu gerbang dapat di hancurkan, kita segera menebos bersama”, berkata Ki Jabung Terewes seperti tidak sabar melihat pintu gerbang istana yang hancur berkeping-keping terhantam luncuran batang kayu besar diatas pedati itu.

    Akhirnya terlihat sebuah batang kayu besar diatas pedati telah didorong oleh sekitar dua puluh orang prajurit Majapahit.

    Untuk melindungi kawan-kawan mereka yang tengah menggerakkan pedati, ratusan prajurit Majapahit telah menghujani istana Kadipaten Lamajang dengan hujan anak panah yang meluncur memasuki dinding pagar istana. Sementara ribuan prajurit lainnya telah bersiap diri segera menerobos masuk manakala gerbang dapat dihancurkan.

    Namun tidak ada yang menduga sama sekali, Ki Jabong Terewes, Lembu Peteng bahkan Ikal-Ikal Bang yang paling cerdas otaknya. Karena dari dalam istana Kadipaten itu telah meluncur ribuan anak panah api langsung menghujani pedati dan batang kayu diatasnya.

    Akibatnya para prajurit Majapahit yang ditugaskan membawa pedati itu berlarian meninggalkan pedati yang panas terbakar, juga beberapa temannya yang tertembus panah berapi.

    “Gila, gila, gila !!!”, bergetar seluruh tubuh Ki jabung Terewes melihat kegagalan usahanya itu.

    • jadi ingat jaman muda dulu, memeriahkan malam tujuh belasan dengan sebuah pentas Drama, beruntung saya dapat lakon Ki Jabung Terewes ini, karena cukup menghapli tiga kata :GILA, GILA, GILA
      lumayan….dapat tepuk tangan dari sang mantan pacar, kekekekekk

  39. mantap ki…

  40. Lanjut Ki

  41. “Ikal-ikalan Bang, apa kamu punya rencana lain”, bertanya Ki Jabung Terewes kepada Ikal-Ikalan Bang merasa sudah mulai buntu pikirannya.

    “Kita sudah membuang waktu yang banyak, sebantar lagi hari akan gelap. Malam ini kita carikan akal bersama, tentunya dengan pikiran yang lebih jernih lagi”, berkata Ikal-ikalan Bang memberikan usulan.

    Nampaknya Ki Jabung tidak punya rencana yang lain selain mengikuti usulan bawahannya yang sangat dipercaya yang punya otak lebih encer itu dibandingkan Lembu Peteng.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikal-Ikalan Bang, hari memang sebentar lagi akan menjadi gelap. Maka Ki Jabung Terewes telah memerintahkan pasukannya untuk kembali mundur ke perbatasan kota.

    Sementara itu, para prajurit Lamajang yang masih berjaga-jaga disepanjang dinding istana tidak menyerang para prajurit Majapahit yang tengah mengumpulkan beberapa mayat-mayat kawan mereka yang bertebaran tergeletak di depan istana Kadipaten itu.

    “Menurut perhitunganku, mereka akan melakukan penyerangan habis-habisan esok hari”, berkata Empu Nambi kepada orang-orangnya di atas pendapa istana Kadipaten.”Menurut perhitunganku pula, para prajurit dari Blambangan dan orang-orang dari perguruan

    Teratai Putih dari Balidwipa telah tiba di Tanah Lamajang ini”, berkata kembali Empu Nambi kepada orang-orangnya di Pendapa istana Kadipaten.

    “Dengan kedatangan bantuan pasukan dari Balambangan dan Balidwipa itu, jumlah kita akan menjadi sangat lebih dari cukup untuk menghantam para prajurit Majapahit itu”, berkata Adipati Menak Koncar.

    “Bila terjadi perang brubuh, perlu keseragaman untuk menghindari kesalahan mengenal kawan dan lawan”, berkata Rangga Pamandana.

    “Itulah yang aku khawatirkan dapat terjadi atas para prajurit dari Balambangan dan kawan-kawan dari Balidwipa itu. Maka kutugaskan kepadamu, wahai Rangga Pamandana di malam ini juga dapat menemui para prajurit dari timur Jawadwipa ini, menyampaikan pertanda yang akan kita lencanakan”, berkata Empu Nambi.

    “Pertanda apa yang akan kita lencanakan kepada prajurit di pihak kita, wahai ayahandaku ?”, bertanya Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

    “Daun jarak dikepala”, berkata Empu Nambi menjawab pertanyaan Adipati Menak Koncar.

    Demikianlah, pada malam itu juga Rangga Pamandana telah ditugaskan untuk menemui para prajurit dari Balambangan dan para simpatisan dari perguruan Teratai Putih dari Balidwipa yang diperhitungkan masih di perjalanan menuju Tanah Lamajang.

    “kami akan biarkan mereka menerobos masuk ke istana ini, disaat seperti itulah pasukan yang kamu bawa datang menjepit mereka”, berkata Empu Nambi menyampaikan beberapa pesan kepada Rangga Pamandana yang telah ditugaskan menjadi penghubung pasukan dari Blambangan dan Balidwipa itu.

  42. lanjut ki, suwun…

    • Suwun Ki, lanjut…

  43. Dan sangkala terus menggenggam bumi, melenterakan bintang kejora diujung malam berganti.

    Terlihat sebuah kesibukan yang luar biasa di dapur umum, beberapa petugas tengah menyiapkan ransum pagi untuk para prajurit Lamajang.

    Sementara itu jalan di depan istana Kadipaten Lamajang masih nampak lengang, namun setiap prajurit Lamajang tidak pernah sepi berjaga di setiap waktu mengamati keadaan dan suasana.

    “Pasukan daun jarak, itulah sandi kita hari ini”, berkata seorang kepala prajurit Lamajang kepada beberapa orang prajurit sambil membagikan beberapa tangkai daun jarak untuk dikenakan di atas kepala setiap prajurit.

    Dan perlahan warna pagi mulai terang di sinari cahaya matahari yang telah muncul penuh di timur bumi.

    Menanti dan menunggu, itulah sikap para prajurit di balik pagar dinding istana Kadipaten Lamajang. Wajah-wajah tegang nampak menghiasi para prajurit Lamajang yang meresa yakin bahwa prajurit Majapahit akan muncul kembali.

    Hingga akhirnya yang mereka tunggu dan nantikan itu terlihat telah datang kembali diawali dengan derap langkah kaki mereka dan suara tombak yang beradu dengan tanah seperti sengaja membuat suara gaduh yang dapat menggetarkan semangat pihak lawan.

    Terlihat barisan prajurit Majapahit yang berhenti beberapa tombak di luar jangkauan serangan anak panah. Nampaknya hari itu mereka telah menyiapkan beberapa anak tangga dari batang-batang kayu.

    “Persiapkan pasukan pemanahmu”, berkata Ki Jabung Terewes kepada Lembu Peteng.

    Tanpa menunggu perintah kedua, terlihat Lembu Peteng mengangkat tangan kanannya tinggi tinggi yang diikuti oleh seorang prajurit penghubungnya yang langsung mengangkat tiang bendera tinggi-tnggi.

    “Serang !!!”, mengguntur suara lembu Peteng memberi perintah diikuti oleh prajurit penghubungnya yang telah menggerakkan bendera berayun-ayun kekiri dan kekanan.

    Ternyata isyarat bendera itu adalah sebagai perintah pasukan pemanah maju ke depan. Terlihat ratusan pasukan pemanah telah bergerak maju kedepan sambil melepaskan anak panah mereka jauh keatas pagar dinding istana kadipaten.

    Diantara deru suara hujan anak panah itulah terlihat ratusan prajurit Majapahit telah maju bergerak mendekati pagar dinding istana sambil membawa batang-batang kayu yang sudah dibentuk menjadi sebuah anak tangga. Dibelakang seorang pembawa anak tangga, terlihat puluhan prajurit mengekor dibelakangnya.

    Hujan anak panah ternyata telah melindungi pasukan pembawa anak tangga itu mendekati pagar dinding istana.

    Namun ditengah perjalanan, hujan anak panah balasan terlihat meluncur dari balik dinding istana Kadipaten sebagai serangan balasan.

  44. Serangan balasan hujan panah telah mencerai beraikan pasukan pembawa anak tangga, namun tidak menghentikan langkah maju pasukan itu yang terus bergerak mendekati dinding pagar istana.

    Terlihat seorang prajurit Majapahit mengambil sebuah batang kayu anak tangga yang terlepas jatuh di tanah dari pembawanya yang terkena anak panah. Ratusan pasukan pembawa anak tangga terus maju pergerak tak menghiraukan hujan panah diatas kepala mereka.

    Luar biasa semangat para pembawa anak tangga dari pasukan Majapahit itu yang akhirnya telah dapat menyandarkan batang-batang kayu itu di dinding batu istana kadipaten dan langsung dipanjati oleh ratusan prajurit yang datang bersamanya itu.

    Malang nasib beberapa orang prajurit yang datang bersama para pasukan pembawa anak tangga itu, sebuah sabetan pedang tajam telah menebas batang kepala mereka dan langsung jatuh terlempar ke tanah.

    Ternyata prajurit Lamajang telah menanti di balik didinding dalam pagar siap meruntuhkan prajurit lawan yang mencoba masuk menerobos.

    Namun beberapa prajurit Majapahit dapat lolos dari sergapan tersembunyi itu dan langsung melompat masuk kedalam.

    Kembali kemalangan menimpa prajurit Majapahit yang telah lolos dari sergapan pertama itu, karena puluhan pedang dan lembing lawan sudah langsung menyapanya.

    Ikal-Ikalan Bang berada dalam pasukan pembawa anak tangga itu, telah berhasil menerbos masuk kedalam dan mengamankan jalur celah itu dengan beberapa orang prajuritnya.

    Dari jalur celah dinding batu yang berhasil di kuasai Ikal-Ikalan Bang dan beberapa prajuritnya itu, mengalirlah pasukan Majapahit menerobos masuk kedalam istana Lamajang.

    Keberhasilan Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya diikuti oleh keberhasilan para pasukan pembawa anak tangga lainnya.

    Lambat tapi pasti, dinding pagar batu istana Lamajang sudah tidak mampu lagi menahan laju aliran masuknya pasukan Majapahit yang terus menerobos memenuhi istana Lamajang di bagian dalam itu.

    Melihat pasukan Majapahit sudah hampir sebagian masuk dan bertempur di dalam istana, terlihat Ikal-ikalan Bang dan kelompoknya telah bergerak bergeser kea rah pintu gerbang istana Lamajang.

    Luar biasa tandang Ikal-Ikalan yang bertubuh pendek dan gempal itu, tidak seorangpun prajurit Lamajang yang dapat menahannya, trisula ditangan kanan dan senjata cakra di tangan kirinya selalu saja berhasil singgah di tubuh prajurit Lamajang yang mendekatinya.

    Akibatnya, Ikal-Ikalan Bang dan kelompoknya tidak dapat di tahan telah berhasil mendekati pintu gerbang istana.

    “Buka gerbang lebar-lebar !!”, berteriak Ikal-Ikalan Bang memerintahkan dua orang prajuritnya.

  45. Dibawah pengawalan Ikala-Ikalan Bang dan kelompoknya, dua orang prajurit Majapahit telah dapat membuka pintu gerbang istana.
    Dan begitu pintu gerbang istana yang terbuat dari kayu jati sangat kuat itu terkuak, terlihat ribuan prajurit Majapahit telah bergerak masuk lewat pintu gerbang yang sudah terbuka penuh itu dan langsung memenuhi bagian dalam istana Lamajang.

    Perang tanding pun sudah tidak dapat di hindari lagi, denting suara senjata beradu dan teriakan maut memenuhi setiap sisi halaman istana.

    Halaman istana Lamajang sudah berubah menjadi sebuah panggung pertempuran yang sangat bergelora.

    “Gelar tempur cakar elang”, berkata dalam hati Adipati Menak Koncar yang telah pasukan lawannya telah membentuk beberapa kelompok tempur melakukan sebuah gerak langkah yang pernah dilihatnya dalam sebuah pertempuran di bumi Blambangan beberapa waktu yang lalu. Hanya bedanya pasukan lawannya menggunakan senjata trisula dan cakra.

    “Ki Secang nampaknya telah menyempurnakan jurus tempurnya”, berkata dalam hati Adipati menak Koncar.

    Ternyata Empu Nambi juga melihat gerak jurus tempur itu yang memang sangat luar biasa telah mampu menekan prajurit Lamajang.

    “Gajahmada pernah bercerita kepadaku tentang jurus tempur ini”, berkata Empu Nambi ditengah-tengah pertempurannya sambil menahan beberapa orang prajurit Majapahit.

    Namun tiba-tiba saja Empu Nambi telah mendengar suara mengguntur, suara yang dikenalnya yang berasal dari Adipati Menak Koncar.

    “Naga terbang turun ke bumi !!”, terdengar suara mengguntur dari Adipati Menak Koncar seperti mengalahkan suara denting dan kebisingan pertempuran.

    Terlihat Empu Nambi seperti sedikit tersenyum manakala melihat para prajurit Lamajang langsung bergerak membentuk beberapa kelompok, melakukan sebuah gerak tempur yang sangat dikenalnya, sebuah gerak tempur ciptaannya sendiri yang dinamakannya sebagai Naga Terbang Turun Ke Bumi.

    Bilasaja halaman istana Lamajang adalah sebuah panggung tontonan, pastilah sebuah panggung tontonan yang sangat mengasyikkan. Namun yang terjadi saat itu di halaman istana adalah sebuah panggung pertempuran sungguhan. Dua kelompok besar manusia dengan jurus tempur yang berbeda tengah menunjukkan kelebihan masing-masing. Dua jenis jurus tempur yang diciptakan oleh dua orang manusia yang mewakili dua watak yang berbeda seperti mewakili dua pihak yang tengah bertempur saat itu, seekor naga terbang meliuk-liuk terkadang menyemburkan lidah apinya melawan seekor elang jantan yang sangat kuat dan buas, sungguh sebuah panggung pertempuran yang sangat menggetarkan hati.

    • Matur suwun Ki, ditunggu malam, turunnya siang.

      • Terima kasih Ki…..siang dibuat malam…malam dibuat siang…

  46. Sudah cukup lama pertempuran di istana Lamajang itu berlangsung, tidak juga terlihat tanda-tanda akan berakhir, kedua belah pihak sama-sama kuat dan sama banyaknya, Korban di kedua belah pihak juga sama-sama banyaknya.

    Ki Jabung Terewes, Lembu Peteng dan Ikal-Ikalan Bang benar-benar menunjukkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang mempunyai kelebihan, terlihat begitu ahlinya menggunakan trisula dan cakra yang menjadi cirri khas pasukan Majapahit baru itu.

    Sementara itu Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Panji Samara, Panji Anengah dan Panji Wiranagari di pihak Lamajang adalah tonggak-tonggak hidup yang selalu dapat menjaga dan membentengi terjangan serangan pihak pasukan prajurit Majapahit, bahkan telah dapat merobohkan beberapa orang di pihak lawan mereka.

    “Akulah lawan tandingmu”, berkata Ki Jabung Terewes menghadang Adipati Menak Koncar yang dilihatnya telah banyak menggugurkan para prajuritnya.

    “Aku banyak mengenal perwira tinggi prajurit Majaphit, nampaknya kamu orang baru di lingkungan keprajuritan Majapahit”, berkata Adipati Menak Koncar menatap Ki Jabung Terewes yang datang menghadangnya.

    “Akulah senapati besar di pasukan ini, pemimpin prajurit Majapahit baru”, berkata Ki Jabung Terewes dengan wajah penuh ketinggihan hati.

    “Pemimpin prajurit Majapahit baru, dengan trisula dan cakra”, berkata Adipati Menak Koncar. “Pantas, aku tidak mengenalmu sebelumnya”, berkata kembali Adipati Menak Koncar.

    “Setelah melihat bumi Lamajang ini menjadi lautan api, kamu baru akan menyesal telah mengenalku”, berkata Ki Jabung Terewes sambil bersiap untuk melakukan sebuah serangan.

    “Para perwira tinggi Majapahit yang kukenal adalah orang-orang yang santun, tidak sombong seperti dirimu”, berkata Adipati Menak Koncar sambil bersiap menguatkan kuda-kudanya yang kokoh berdiri diatas tanah.

    Perkataan Adipati Menak Koncar itu telah membuat darah Ki Jabung mendidih.

    “Kurobek mulutmu itu”, berkata Ki Jabung Terewes yang langsung menerjang Adipati Menak Koncar dengan sebuah ujung trisula yang meluncur cepat seperti sebuah anak yang dilepaskan dari tali busurnya.

    Namun Adipati Menak Koncar bukan orang biasa yang mudah terkejut menerima serangan dan terjangan lawan yang sangat cepat dan terkesan sangat ganas itu, dengan penuh ketenangan dan kepercayaan diri yang amat tinggi terlihat Adipati Menak Koncar hanya bergeser sedikit ke kanan.

    Terkejut Ki Jabung Terewes melihat trisulanya hanya dapat menembus angin kosong, lawannya telah bergerak dengan sangat cepat sekali menghindari seranganya.

  47. Belum habis masa terkejutnya, tiba-tiba saja suara cakra di tangan Adipati Menak Koncar sudah berdesing keras berayun datang menghampiri pinggangnya yang tidak terjaga.

    “Gila !!!”, berkata Ki Jabung Terewes sambil melompat jauh menghindari serangan cakra milik Adipati Menak Koncar itu.

    “Aku ingin melihat, sejauh mana kemahiranmu memainkan cakra ditanganmu”, berkata Adipati Menak Koncar sambil berdiri ditempatnya membiarkan Ki Jabung Terewes menguasai dirinya sendiri tegap kembali di tempatnya berdiri.

    “Jarang sekali ada orang yang dapat menghindari seranganku”, berkata Ki Jabung Terewes mulai mencoba mengendalikan perasaan hatinya, mengakui bahwa lawannya itu bukanlah orang biasa yang mudah di taklukkan.

    “Aku jadi tidak sabaran untuk melihat kemahiran seorang pemimpin prajurit Majapahit baru”, berkata Adipati Menak Koncar sambil memperkuat kembali kuda-kudanya, siap menghadapi serangan Ki Jabung Terewes.

    “Aku akan menghancurkan batok kepalamu”, berkata Ki Jabung Terewes sambil bergerak menerjang Adipati Menak Koncar dengan cakra di tangannya yang berdesing membelah udara.

    Adipati Menak Koncar dapat merasakan bahwa serangan Ki jabung Terewes itu telah dilambari hentakan tenaga yang sangat amat kuat, lebih kuat dan lebih cepat dari serangan sebelumnya.

    Maka Adipati Menak Koncar telah meningkatkan tataran ilmunya telah bergerak merendahkan tubuhnya dan langsung menerobos mengayunkan cakranya kearah perut Ki Jabung Terewes yang tidak terjaga.

    Melihat lawannya yang dengan sangat cepatnya dapat mengelak bahkan telah melakukan serangan balasan yang sangat berbahaya benar-benar membuat Ki Jabung Terewes lebih waspada dan tidak memandang lawannya dengan sebelah mata. Dan dengan penuh kekuatan dirinya telah membenturkan cakra di tangan Adipati Menak Koncar dengan cakra di tangannya sendiri.

    “Tranggg !!!!

    Terdengar benturan dua senjata cakra, terlihat Adipati Menak Koncar dan Ki Jabung Terewes terpental mundur beberapa langkah.

    “Gila, gila, gila !!”, berkata Ki Jabung Terewes sambil menggenggam cakra ditangannya lebih erat lagi takut terlepas dari tangannya yang terasa panas dan kesemutan akibat benturan senjata itu.

    “Pegang erat-erat cakramu, wahai orang tua”, berkata Adipati Menak Koncar sambil tersenyum kepada Ki Jabung Terewes.

    “Sudah cukup lama aku malang melintang sebagai bajak laut, menghadapi banyak lawan tangguh, namun baru kali ini ada yang menggetarkan cakraku”, berkata Ki Jabung Terewes.

  48. Sambil berkata terlihat Ki Jabung Terewes telah membuat ancang-ancang untuk menyerang kembali Adipati Menak Koncar.

    Terlihat Ki Jabung Terewes telah melakukan penyerangan kembali kea rah Adipati Menak Koncar, tertunya dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian untuk menghindari benturan tenaga. Namun ke hati-hatian Ki Jabung Terewes menjadikan serangannya lebih tangguh dan tanggon lagi, begitu terarah dan penuh hawa serang yang sangat mendebarkan hati.

    Sementara itu melihat kehati-hatian sikap Ki Jabung Terewes itu untuk selalu menghindari benturan dengannya telah membuat Adipati Menak Koncar lebih leluasa lagi menyerang Ki Jabung Terewes dari berbagai arah.

    “Gila, gila, gila !!!”, berkata Ki Jabung Terewes dengan sangat tiba-tiba sekali.

    Ternyata umpatan Ki Jabung Terewes bukan sebuah umpatan serangan Adipati Menak Koncar kepadanya, melainkan umpatan atas datangnya sebuah pasukan baru yang telah dilihat oleh Ki Jabung Terewes dengan jumlah yang sangat besar sekali dan langsung menjepit pasukannya.

    Sebenarnyalah, Rangga Pamandana telah membawa pasukan dari Blambangan dan Balidwipa yang datang tepat pada waktunya.
    Lima ribu pasukan baru yang dipimpin oleh Rangga Pamandana itu sudah langsung terjun ke ranah pertempuran dan menyerang para prajurit Majapahit dari sisi belakang mereka.

    Maka dalam waktu yang begitu singkat pasukan dari Majapahit itu benar-benar telah terdesak dari dua arah yang berbeda.

    “Aku belum dapat kamu kalahkan”, berkata Ki Jabung Terewes langsung mencelat lari meninggalkan Adipati Menak Koncar.

    Terlihat Adipati Menak Koncar tidak memburu Ki Jabung Terewes yang telah menghilang terhalang diantara keriuhan dan kegaduhan suasana pertempuran itu.

    Ternyata Ki Jabung Terewes tengah memimpin pasukannya membuat sebuah gelar untuk mundur dari pertempuran yang diamatinya tidak akan menguntungkan pasukannya.

    Terlihat seluruh prajurit Majapahit sudah masuk dalam sebuah lingkaran besar yang perlahan-lahan bergerak mundur secara teratur dengan cara bersilang saling melindungi sesama kawan. Sebuah gelar mundur yang sangat teratur dan pasti membutuhkan sebuah latihan yang sangat berat dan cukup lama.

    “Jangan kejar mereka”, berkata Adipati Menak Koncar kepada beberapa prajuritnya yang hendak mengejar pasukan Ki Jabung Terewes yang terlihat telah keluar dari gerbang istana Kadipaten.

    “Kita memang dapat menghancur leburkan pasukan itu, tapi tidak akan mengakhiri peperangan yang baru saja di mulai ini”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar yang tengah melihat para prajurit Majapahit telah keluar dari gerbang istana Kadipaten.

  49. “Diujung manapun berakhirnya peperangan ini, kami akan tetap dibelakang Empu Nambi”, berkata Panji Samara mewakili kawan-kawan seperjuangannya, Panji Anengah, Panji Wiranagari dan Rangga Pamandana.

    “Kerajaan Majapahit ini adalah sebuah Kerajaan besar, mengapa kalian memilih berada dibelakangku ?, berada di belakang seorang pemberontak ?”, bertanya Empu Nambi.

    “Banyak penjilat berada disekitar Kerajaan Majapahit, kami berharap Raja Jayanagara menjadi sadar siapa lawan dan siapa lawan, dan kami ingin membuka mata hatinya dengan mengacungkan pedang di depan kepalanya”, berkata Panji Wiranagari.

    “Masa Kalagamet ini kuharap akan segera berlalu, meski harus mensucikannya dengan darahku sebagai bebantenan seorang ksatria menjembatani jalan terang kebenaran, mendorong bahtera Wilmatikta yang terdampar di pasir pantai dangkal, para penjilat, pejabat-pejabat kerajaan yang kotor”, berkata Empu Nambi.

    “Kemenangan kita hari ini adalah sebuah catatan hitam bagi istana Majapahit perhitungan, mereka akan kembali datang membuat perhitungan baru”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Empu Nambi.

    “Nampaknya kita memerlukan sebuah benteng pertahanan yang lebih besar lagi dari istanamu”, berkata Empu Nambi sambil memandang ribuan prajurit yang tengah beristirahat di istana Kadipaten itu.

    “Pasanggrahan milik Ki Banyak Wedi di Kademangan Randu Agung lebih besar dari istana ini, mudah-mudahan Kuda Anjampiani tidak berkeberatan menjadikan pasanggrahannya sebagai benteng pertahanan kita”, berkata Adipati Menak Koncar memberikan sebuah usulan.

    “Kamu benar, pasanggrahan itu terpisah dari perumahan warga”, berkata Empu Nambi menerima usulan dari putranya itu.

    Demikianlah, pada hari itu juga Empu Nambi sendiri yang langsung mendatangi Kuda Anjampiani sebagai seorang cucu pewaris tunggal Ki Banyak Wedi di Kademangan Randu Agung.

    “Sebuah kebahagiaan turut berjuang bersama Empu Nambi, kakekku Ki Banyak Wedi di alam arwahnya pasti akan merasa gembira melihat aku ikut berjuang membela panji-panji kebenaran”, berkata Kuda Anjampiani kepada Empu Nambi di Pasanggrahannya yang sangat luas itu dan tidak keberatan sama sekali pasanggrahan miliknya dijadikan sebuah benteng pertahanan.

    “Kakekmu Ki Banyak Wedi adalah seorang pejuang, dan hari ini aku melihat darah pejuang telah mewarnai semangatmu. Dan aku merasa bangga bahwa di tengah kegetiran masa-masa hidupku ini ditemani orang-orang yang tanpa pamrih berjuang dibelakangku”, berkata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani.

    “Kakekku akan gembira, melihat para pejuang berkumpul di pasanggrahan miliknya ini”, berkata Kuda Anjampiani yang gmengantar Empu Nambi hingga di pintu gerbang Pasanggrahannya.

    “Terima kasih, kami akan segera datang kembali”, berkata Empu Nambi diatas punggung kudanya.

  50. Sementara itu di Kotaraja Majapahit, sudah dua hari itu Supo Mandagri membayangiseorang lelaki tua yang tinggal bersama Ra Kuti di tempat kediamannya, tidak diketahui apa hubungan lelaki tua itu dengan keluarga Ra Kuti, itulah sebabnya Tumenggung Mahesa Semu menugaskan Supo Mandagri untuk terus membayangi lelaki tua itu, diharapkan dari lelaki tua itu akan dapat membawa Supo Mandagri menemukan sebuah tempat rahasia, sebuah tempat tersembunyi dimana Ra Kuti telah menyiapkan sebuah kekuatan baru yang akan menandingi dan menggusur kekuatan kerajaan Majapahit.

    “Seperti dua hari yang lalu,nampaknya lelaki tua itu hanya sekedar melepas kepenatan di rumahnya, melihat-lihat suasana pasar tanpa membeli barang apapun”, berkata dalam hati Supo Mandagri yang hari itu masih membayangi lelaki tua itu yang baru saja keluardari rumah Ra Kuti.

    Ternyata dugaan Supo Mandagri tidak banyak yang meleset, lelaki tua itu memang tidak membeli apapun di pasar kotaraja, hanya melihat-lihat suasana pasar Kotaraja. Seperti dua hari yang lalu. Namun di hari itu terlihat lelaki tua itu cukup lama di tempat seorang pandai besi yang ada di ujung pasar kotaraja.

    “Pandai besi itu tidak membuat pedang atau senjata apapun kecuali alat-alat pertanian”, berkata Supo Mandagri dalam hati dari sebuah tempatyang cukup jauh tak terlihat oleh lelaki tua itu.
    Hingga akhirnya Supo Mandagri melihat lelaki tua itu berjalan kembali menuju rumahnya.

    Lelaki tua itu nampaknya tidak mengambil jalan utama di Kotaraja Majapahit yang sehari-harinya selalu ramai itu, terlihat lelaki tua itu telah mengambil jalan kecil yang lebih sepi. Dan Supo Mandagri tetap membayanginya dari tempat yang cukup jauh.

    Namun disebuah tempat yang sangat sepi sekali, Supo Mandagri telah melihat lelaki tua itu di cegat oleh dua orang begundal yang sering dilihat olehSupo Mandagri berkeliaran disekitar pasar Kotaraja Majapahit, orang-orang yang malas bekerja dan hanya mengandalkan sedikit kanuragan untuk memeras para pedagang kecil.

    “Serahkan harta milikmu pak tua, atau golok ini merusakbatang lehermu”, berkata seorang begundal mengancam lelaki tua itu.

    “Aku tidak memiliki harta apapun”, berkata lelaki tua itu begitu tenang seperti tidak menghiraukan golok panjang yang tertuju di depan wajahnya.

    “Kulihat timangmu sangat bagus, pasti harganya cukup mahal”, berkata begundal lainnya sambil melirik kearah timang yang dipakai oleh lelaki tua itu.

    “Kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian”, berkata lelaki tua itu penuh rasa percaya diri yang amat tinggi.

    Mendengar perkataan orang tua yang tidak punya rasa takut itu telah membuat seorang begundal lainnya segera mencabut goloknya.

    “Pak tua, ternyata kamu memilih mati”, berkata begundal lainnya sambil mengancam orang tua itu dengan golok panjang yang sudah terlepas dari sarungnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: