PKPM-11

<< kembali | lanjut >>

PKPM-11

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 29 April 2015 at 00:01  Comments (223)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

223 KomentarTinggalkan komentar

  1. Waduh…. banjir bandhang…
    Kamsiaaaa…… !!!!

    • Wadah…. banjir bandheng…
      Kamsiaaaa…… !!!!….Pak Dalang !!!

      • Pundi bandenge Ki Kartu, ups salah… Ki Sanepo

  2. wah2,, seru banget ki dalang.. suwun..

  3. Jebreet…………
    rontal sudah dibendel dan ditata di gandoknya
    kurang dua rontal lagi senthong tengah sudah bisa ditutup

    nuwun….

  4. Sepi.

    Met sore kadang sedoyo

    • besok libur, pada mudik, he he he ….

  5. Alhamdulillah mulai rame, semoga Ki Pak Satpam tidak berniat ngambek lagi. Suwun Ki Dalang.

    • Loh…..
      Gak kok…,
      Masih semangat ngat ngat ………
      Meski kadang rada jengkel, pada sliwar sliwer lewat pos satpam ora ana sing ngisi buku tamu.
      Memang satpam patung
      He he he …….

  6. alhamdulillah, dapet rejeki flu dan batuk di saat liburan, obat dari dokter keren abizzz…..mata gue teler berat, hehehe

    selamat sore ba’da ashar para kadank sedaya

  7. Keesokan harinya, berita tentang kemenangan pasukan Empu Nambi yang gilang gemilang itu telah membuat gembira semua warga di bumi Lamajang, mereka langsung turun gunung kembali ke kampung halaman masing-masing setelah beberapa hari hidup ditempat pengungsian.

    Namun kepada para penduduknya, Adipati Menak Koncar memberitahukan bahwa peperangan masih belum berakhir, pasukan Majapahit akan datang kembali dalam jumlah yang lebih besar lagi.

    “kapan pasukan Majapahit akan datang kembali belum dapat kita pastikan, untuk sementara kalian dapat pulang ke rumah masing-masing, bercocok tanam atau beternak, kami akan terus berjaga dan memantau keadaan. Hingga bila saatnya kembali terjadi peperangan tidak akan membawa banyak korban, terutama para orang tua, para wanita dan anak-anak kita”, berkata Adipati Menak Koncar kepada para bebahunya.

    Demikianlah, Adipati Menak Koncar dan pasukannya telah kembali ke Kadipaten Lamajang, sementara pasukan gabungan Empu Nambi yang berasal dari Kadipaten Blambangan dan berbagai daerah di Jawadwipa dan Balidwipa tetap berada di benteng Randu Agung.

    “Lumbung padi dibenteng Randu Agung ini masih berlimpah, sebagai cadangan kuserahkan lahan persawahan yang luas milik kakek buyutku untuk digarap bersama”, berkata Kuda Anjampiani kepada Empu Nambi.

    “Terima kasih, kamu sudah banyak berkorban untuk kami”, berkata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani.

    “Kakekku selalu berkata bahwa hidup didunia ini sangat singkat, kita harus pandai-pandai memilih dimana seharusnya kita berpijak, dan aku merasa telah berpijak ditempat yang benar, berjuang bersama Empu Nambi”, berkata Kuda Anjampiani.

    “kakekmu sangat benar, wahai Kuda Anjampiani. Hidup di dunia ini memang sangat singkat. Berbahagialah mereka yang banyak menabung kebajikan di kehidupannya yang amat singkat ini”, berkata Empu Nambi dengan wajah penuh berseri-seri kepada Kuda Anjampiani.

    Demikianlah, sejak saat itu Empu Nambi seperti telah kembali menjadi seorang guru suci sebagaimana dulu kala sebelum menjadi pejabat Patih Amangkubumi di istana Majapahit. Hampi setiap malam Empu Nambi memberikan pencerahan lahir dan bathin kepada pasukan gabungannya yang berkumpul di benteng Randu Agung itu.

    Para pasukan gabungan yang berasal dari berbagai tempat itu menjadi kerasan tinggal bersama di benteng Randu Agung seperti layaknya di sebuah padepokan, disiang hari mereka bekerja di sawah ladang untuk mencukupi kehidupan mereka sendiri, sementara dimalam harinya mereka menggarap lahan akal budi mereka, menyemai rasa, citra makna hakekat hidup yang selalu dirawat agar terus tumbuh berkembang lewat siraman rohani lahir dan bathin oleh sang guru suci, Empu Nambi.

    Sementara itu pasukan Mahapatih Dyah Halayuda saat itu masih berada di Kademangan Japan menunggu bala bantuan dari Kotaraja Majapahit untuk mengganyang kembali bumi Lamajang.

    • Suwun Ki Dalang, syafakalloh, semoga penyakit yg datang segera disembuhkan Alloh SWT. Aamiiiin

  8. Nampaknya kekalahan pasukan Majapahit oleh pasukan Empu Nambi telah membuat Raja Jayanagara merasa tercoreng citranya sebagai seorang raja agung yang sangat dihormati. Dan ingin membuktikan kebesaran pasukan Majapahit yang kuat dengan menurunkan laskar yang besar untuk menundukkan bumi Lamajang.

    Rencana penyerangan ke bumi Lamajang dilaksanakan lebih cermat lagi dengan membangun jalur lumbung-lumbung persediaan pangan pasukan Majapahit di beberapa tempat sepanjang perjalanan antara Kotaraja Majapahit menuju bumi Lamajang. Sementara kesatuan pasukan yang dikirim bergabung dengan pasukan Mahapatih yang masih berada di Kademangan Japan saat itu adalah sebuah pasukan dari kesatuan Jala Pati, sebuah kesatuan pasukan khusus yang sangat disegani di Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh seorang Tumenggung yang sangat mumpuni, cerdas dan punya pengalaman yang luas menghadapi berbagai macam jenis pertempuran, di tempat terbuka maupun di kelebatan hutan rimba.

    “Peta kekuatan di Kotaraja Majapahit akan menjadi berimbang bilamana kesatuan pasukan Jala Pati datang bergabung bersama pasukan Mahapatih di Kademangan japan”, berkata Ki Bancak kepada Empu Nambi menyampaikan suasana di Kotaraja Majapahit.

    “Seberapa besar kekuatan pasukan bayangan yang dimiliki oleh Ra Kuti ?”, bertanya Empu Nambi kepada Ki Bancak.

    “Setara dengan kekuatan kesatuan pasukan Jala Yudha di benteng Tanah Ujung Galuh”, berkata Ki Bancak.

    “Aku berharap Tumenggung Mahesa Semu dapat menggalang kekuatan lain selain kesatuan pasukanJala Yudha di benteng Tanah Ujung Galuh”, berkata Empu Nambi kepada Ki Bancak.

    “Pasukan khusus yang dipimpin oleh Nyi Nariratih dan pasukan Bhayangkara telah menyediakan dirinya berjuang bersama Tumenggung Mahesa Semu”, berkata Ki Bancak.

    “Kemampuan perorangan prajurit di Pasukan Srikandi dan pasukan Bhayangkara dapat diandalkan”, berkata Empu Nambi penuh kegembiraan hati membayangkan masih ada kekuatan lain yang dapat menjadi benteng terakhir menyelamatkan istana Majapahit.”Katakan kepada Tumenggung Mahesa Semu agar jangan lengah sedikitpun, selalu membayangi gerakan Ra Kuti. Banyak kemungkinan bisa terjadi bahwa Ra Kuti bergerak lebih cepat lagi mendahului Mahapatih merebut kekuasaan di istana Majapahit selagi Mahapatih dan pasukannya masih berada di luar Kotaraja Majapahit”, berkata kembali Empu Nambi kepada Ki Bancak.

    “Pesan Empu Nambi akan aku sampaikan”, berkata Ki Bancak kepada Empu Nambi.

    “Jaga kesehatanmu, wahai prajurit tua”, berkata Empu Nambi sambil melambaikan tangannya mengantar Ki Bancak yang tengah menuruni anak tangga pendapa di benteng Randu Agung itu.

    Terlihat Ki Bancak terus berjalan menapaki halaman benteng Randu Agung diujung senja itu dalam tatapan mata Empu Nambi hingga menghilang diujung regol pintu gerbang benteng Randu Agung.

    • Ups… ternyata semalam ada rontal jatuh to
      hadu…, kok gak tahu aku.
      semalam baru sampai di rumah jam 11 malam, diajak Kiaine nganglang dan melewati tlatah Lumajang.

  9. Angin dingin lembut menyapu wajah Ki Bancak yang telah menyusuri jalan Kademangan Randu Agung di keremangan malam itu.

    Sosok seperti seorang Ki Bancak memang tidak akan membawa perhatian, siapapun tidak akan menyangka bahwa orang tua itu adalah seorang penghubung dalam sebuah sejarah penting pergolakan Majapahit, seorang yang ikut andil menyelamatkan bahtera Majapahit dari badai dan prahara yang berkecamuk di saat itu.

    “Aku berharap tanaman jagung itu dapat dipanen sebelum datangnya prahara di bumi Lamajang ini”, berkata Ki bancak dalam hati ketika melewati sebuah ladang jagung yang tumbuh subur.

    Sebagai seorang yang pernah mengalami masa perang dan masa damai di bumi Majapahit, kecamuk yang tengah berlangsung antara istana Majapahit dan keluarga Empu Nambi benar-benar membuat dirinya menjadi sangat prihatin, berharap prahara itu selekasnya berakhir.

    “Selama ini kupercaya bahwa seorang raja adalah pilihan para dewa, mungkinkah para dewa bisa salah memilih ?”, berkata Ki Bancak dalam hati sambil berjalan menyayangkan sikap Raja Jayanagara yang lemah mudah terhasut oleh bisikan-bisikan orang lain sehingga memusuhi Empu Nambi, sahabat setia ayahandanya sendiri.

    Tidak terasa langkah kaki Ki Bancak telah membawanya hingga di kota kadipaten Lamajang, menyusuri jalan-jalan utamanya yang sepi di malam itu, melihat rumah-rumah penduduk yang telah dihuni kembali ditandai pelita minyak jarak yang tergantung di depan rumah setiap penduduk.

    “Kemapanan dan kenyamanan para warga kota Kadipaten Lamajang ini sebentar lagi akan berubah, mereka harus kembali lagi ke pengungsiannya, hidup dengan segala keterbatasannya”, berkata Ki Bancak dalam hati sambil memandang kerlap-kerlip pelita rumah penduduk disepanjang perjalanan malamnya memasuki kota Kadipaten Lamajang.

    Akhirnya langkah kaki Ki Bancak terlihat sudah semakin menjauhi kota Kadipaten Lamajang.

    “Gerbang gapura ini akan menjadi saksi bisu, pasang surut kehidupan warga Lamajang, masa perang dan masa damai di bumi Lamajang ini”, berkata kembali Ki Bancak dalam hati manakala melewati sebuah gerbang gapura perbatasan kota kadipaten Lamajang yang kokoh berdiri seperti raksasa bisu dikegelapan malam.

    “Aku akan mencari tempat beristirahat sejenak, agar tidak memasuki Kademangan Japan di saat hari masih gelap”, berkata Ki Bancak dalam hati yang merencanakan dirinya sendiri memasuki Kademangan Japan di saat pagi sudah terang tanah agar tidak menjadi bahan perhatian dan kecurigaan para prajurit Majapahit yang pastinya sudah memasang banyak petugasnya mengawasi daerah sekitarnya, terutama para pendatang yang berjalan dari arah bumi Lamajang.

    Terlihat Ki Bancak tengah bersandar di sebuah batu besar dibawah sebuah pohon besar, nafas orang tua itu terlihat kembang kempis dengan mata yang terpejam, nampaknya tengah menikmati lonjoran kaki tuanya setelah setengah malam berjalan tiada henti.

    • Ngapunten Pak Dhalang

      Memasuki Tlatah Lumajang dari Probolinggo ada nama tempat Randu Agung. Cuma sayangnya Satpam tidak menemukan tlatah yang namanya Japan.
      sehingga tidak bisa membayangkan perjalanan Ki Bancak dari Randuagung lewat Lamajang terus ke Japan untuk menuju ke Majapahit.

      Mungkin nama-nama tempat itu tidak sama dengan nama yang ada sekarang.

      Kalau nama tempat sama, sepertinya jadi aneh. Dari Majapahit tentunya lewat Pasuruan-probolinggi baru Lumajang.

      Mestinya, dari benteng Randuagung tidak lewat Lumajang lagi, langsung ke Probolinggo-Pasuruan-Mojokerto. Tetapi Ki Bancak kok dari benteng Randuagung-Lumajang-Japan-Majapahit.

      Embuh wis, lupakan nama tempat yang ada sekarang, ikuti saja cerita Pak Dhalang yang semakin asyik. Satpam tidak alergi lagi mengikuti sejarah di bagian ini, degan cerita yang seperti ini.

      Siip…..
      kamsiaaa………………… !!!!!

      • Mungkin yang dimangsudken Kademangan Kejapanan, tempatnya sinden Inul, itukan jalur dari Majapahit menuju Lamajang.
        Keraton Majapahit waktu itu kan masih di daerah Tarik, dari Tarik ke Japana terus nGGempol, Pasuruan………
        He….he….he…..mumpung bisa koment belajar minteri Pak Satpam, biasane masuk aja susah banget, habis baca mau koment pasti nongol “problem loading page”……..
        Piye jal yen ngene……????

  10. Suwun Ki, bgmn ya ending Empu Nambi? Akankah mengasingkan diri menjadi Guru Suci

    • Sepertinya begitu
      he he he …., terserah Ki Sandikala wis…
      Kalau bisa sih…, jangan mengasingkan diri seperti Mahesa Amping. nanti yang meneruskan cerita siapa? hadu…..

      • Kademangan japan berada di sekitar Pasuruan, pak Satpam

        • Sip…..

          • hadu….. nulis komen lewat hp, kliru pakai baju
            he he he ….

  11. Ketika langit bersulam tipis warna kemerahan, terlihat Ki Bancak sudah bersiap-siap diri untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

    Ternyata Ki Bancak sangat berpengalaman mengatur perjalannya sendiri, berusaha mengambil arah yang berbeda ketika berangkat. Nampaknya Ki Bancak sangat berhati-hati agar tidak dapat bertemu orang-orang yang sama di perjalanannya, apalagi orang yang kebetulan dari pihak lawan. Kadang Ki Bancak harus mengambil arah memutar agar membingungkan siapapun orang yang kebetulan mengikutinya. Naluri mantan petugas delik sandi ini memang telah mendarah daging di dalam diri orang tua itu.

    Dan kali ini untuk menuju arah Kademangan Japan, terlihat Ki Bancak tidak menempuh lewat jalur yang biasa di lewati para pedagang, tapi mengambil arah melengkung yang lebih sepi dan jarang dilewati orang pada umumnya.

    Ternyata naluri keprajuritannya telah membawanya ke sebuah ladang jagung yang cukup luas.

    “Nampaknya inilah lumbung hidup yang paling terdekat menuju arah Lamajang, pasti ada banyak lagi ditanam lumbung-lumbung hidup sepanjang jalan dari arah Kotaraja Majapahit menuju arah Lamajang”, berkata Ki Bancak dalam hati sambil berusaha menjauhi sebuah gubuk yang ada tidak jauh dari ladang jagung itu.

    Terlihat Ki Bancak sudah jauh meninggalkan ladang jagung yang cukup luas itu.

    “nampaknya Tumenggung Jala Pati seorang yang sangat cerdas, tidak ingin kalah berperang hanya karena prajuritnya kelaparan kehabisan ransum makanan”, berkata Ki bancak dalam hati sambil terus berjalan menjauhi ladang jagung yang dicurigainya sebagai salah satu lumbung hidup yang sengaja ditatam untuk sebuah persiapan peperangan menghadapi pasukan Empu Nambi di bumi Lamajang.

    Demikianlah, Ki Bancak terus berjalan menuju arah Kademangan Japan. Ditempat-tempat yang dianggapnya sangat sepi terlihat Ki Bancak telah menggunakan kemampuannya yang jarang dimiliki oleh orang biasa, berlari cepat. Ternyata orang tua itu punya kemampuan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, telah berlari melesat terbang tanpa merasakan kelelahan sedikitpun.

    Dan ketika dirasakan dirinya telah mendekati arah Kademangan Japan, terlihat Ki Bancak kembali berjalan seperti biasa, tertatih-tatih layaknya seorang pengembara tua.

    “Pak tua, carilah jalan lain. Terlarang siapapun memasuki perkemahan prajurit Majapahit”, berkata seorang prajurit Majapahit kepada Ki Bancak disebuah jalan menuju arah bulakan panjang.

    Ki Bancak yang sudah mengetahui bahwa bulakan panjang itu sebagai perkemahan pasukan Majapahit, terlihat berpura-pura heran.

    “Dua tahun lalu tidak ada larangan melewati jalan ini”, berkata Ki Bancak pura-pura merasa heran.

    “Itulah perbedaannya, dua tahun lalu mungkin pak tua masih dapat berlari cepat, sementara hari ini pak tua jalan biasa saja sudah tertatih-tatih”, berkata prajurit itu kepada Ki Bancak.

  12. Terlihat Ki Bancak berpura-pura layaknya orang yang tidak suka hati disebut sebagai orang tua yang sudah rapuh.
    “Kamu salah orang muda, aku masih dapat berlari cepat bahkan dapat terbang melesat mengendarai angin”, berkata Ki Bancak kepada prajurit itu.

    “nampaknya pak tua sering berhayal disepanjang perjalanan”, berkata prajurit itu sambil tertawa. “Terbanglah, tapi jangan lewat bulakan ini”, berkata kembali prajurit itu masih dengan tawanya.

    Masih dengan wajah bersungut-sungut terlihat Ki Bancak telah melangkah kearah lain menuju arah Kademangan Japan yang memang sudah tidak begitu jauh itu.

    Tidak banyak yang dilakukan oleh Ki Bancak di Kademangan Japan selain melihat suasana keadaan Kademangan Japan dan mencari sebuah kedai untuk mengganjal perut tuanya yang sudah minta diisi.

    “kasihan warga Kademangan ini, mereka harus menyerahkan setengah lumbung persediaan makanan mereka untuk panen depan kepada prajurit Majapahit di bulakan itu”, berkata Ki Bancak sambil mengunyah lontong balap bumbu kuning, sebuah makanan yang khas ditemukan hanya di kedai daerah sekitar pantai Pasuruan itu.

    Demikianlah, dalam perjalanan kembali ke Kotaraja Majapahit, naluri keprajuritan Ki Bancak telah dapat menemukan kantong-kantong persediaan pangan, ladang-ladang jagung di tempat-tempat yang sepi dan terjaga. Dari umur tanaman jagung itu, Ki Bancak dapat memperkirakan bahwa peperangan akan berlangsung menjelang purnama kedua dari hari itu.

    Semua yang dilihat oleh Ki Bancak dalam perjalanannya kembali ke Kotaraja Majapahit telah disampaikan oleh Tumenggung Mahesa Semu.

    “Yang belum dapat kucerna, mengapa mereka membangun lumbung hidup mereka di ujung Kota Kadipaten Lamajang, bukan di ujung benteng Randu Agung”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.

    “Otak tuaku sudah begitu lemah, hanya berpikir bahwa pasukan Majapahit akan menyerang Kadipaten Lamajang terlebih dahulu agar tidak ada gangguan yang menghalangi mereka disaat penyerangan ke benteng Randu Agung.

    “Siapa bilang otak Ki Bancak sudah tua, justru aku tidak terpikir hal itu sebagai kemungkinan yang paling mendekati kebenaran”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.

    “Aku hanya menduga-duga, tidak berpikir apapun”, berkata Ki Bancak merendahkan dirinya.

    “Aku akan mengutus seorang penghubung kepada Empu Nambi, menyampaikan apa yang Ki Bancak temukan dalam perjalanan pulang ke kotaraja Majapahit”. Berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak. “Mudah-mudahan Empu Nambi dapat berpikir lebih cermat lagi membuat beberapa persiapan menghadapi serangan pasukan Majapahit yang lebih besar ini”, berkata kembali Tumenggung Mahesa Semu kepada Ki Bancak.

    • matur suwun Pak Lik

      • Selamat pagi pak Dalang
        Selamat pagi mas Satpam

        Sugeng enjang cantrik padepokan
        Sugeng enjang mentrik padepokan

        • Selamat pagi juga Cik Gu………

      • Amboiii….pak Dalang semakin tampan
        terlihat lebih muda dari mas Satpam.

        lebih gagah dari yg punya padepokan

        • Amboil…cakap nian

    • Kamsiaaaa Pak Dhalang……..
      Ki Sanepo kemana ya………..
      padahal mau tak kenalin dengan Ki Menggung KartoJ dan Ki Menggung YP.

      • Gak disopo Ki Bleh sama sekali, padahal baru lewat di depan hidung. Suwun Ki Kompor.

        • He….he….he….Ki BuPras aya aya wae…..
          Harak inggih dhawah sami wilujeng to Ki….??

          • ki BP….idem yg di sampaikan ki Gembleh

          • Pangestunipun Aki berdua
            ………… hik, ben dikiro wis sepuh, padahal….?

    • O… ternyata lontong balap itu sudah ada sejak jaman Majapahit ya
      wih…..

      • Betul !….salam lemper !!😀

        • Yen kawula salam Lumpur………
          hArak inggih dhawah sami wilujeng to Ki SaN…??
          Punapa kersa menawi kula tepangaken kaliyan mandor kula Ki Menggung KartoJ saha Ki Menggung YuPram….??

          • 😛

          • 😜

  13. Sugeng malam mingguan pak Dalang
    Tetap semangat merapat lipat wedaran
    rontal lanjutan

  14. sugeng enjing ki sandikala.. mugi2 tansah ginanjar sehat wal afiat…

  15. Selamat pagi sanak kadang Pelangisingosari

    Wah… senangnya, kalau para sesepuh / cantrik lawas (apa pancen wis sepuh ya) pada mau hadir lagi di Padepokan. Para menggung wis siap glapi pedang, Ki Mengung YP (Ki GUnduL), Ki Menggung Gembleh dan Ki Sanepo (Ki Menggung Kartoyudo).

    Siplah….,
    Suwun…..

    • Ups…, lupa Ki Donoloyo juga

      • Sugeng sonten
        Ki DonoLoYo….Ki manggung Gembleh
        Ki manggung KartoyUDO….ki Budi P

        Mas Satpam….idaman wanito
        Pak Dalang….gagah perkoso
        Ki Sandikala….pujaan waranggono

        • Mas Satpam….ajari cantrik nulis miring sedoyo
          Mas Satpam….ajari cantrik nebeli tulisane konco2

          • Iya P satpam saya juga diajari …krn saya belajar dah nulisnya miring..lama2 ga bisa balik je..? ☺️

          • Saya juga minta diajari lagi cara menebelken dan memiringken semua tulisan di gandhok, kesuwen wis lali…..

          • Waduh….
            repot ini kalau para menggung ajar bold dan italic, bisa mbleber semuanya nanti.

            ampuuun……..

  16. Ragil dan ketiga sepupunya yang sebaya terlihat tengah bermain di ladang jagung ayahnya. Keempat anak itu terlihat berlari-lari masuk timbul tenggelam diantara batang tanaman jagung yang lebih tinggi dari tubuh mereka.

    Usia Ragil saat itu baru menginjak usia delapan tahun, belum dapat memahami apa yang dipikirkan kedua orang tuanya saat itu, yang dia tahu dua hari lagi tanaman jagung akan di panen, yang diketahui juga bahwa setelah itu mereka harus kembali berangkat mengungsi ke lereng gunung Semeru seperti beberapa waktu yang lalu. Ragil memang tidak bertanya sama sekali kepada kedua orang tuanya mengapa mereka harus mengungsi.

    Kedua orang tua Ragil dan juga para tetangganya telah mendapat perintah dari para bebahu Kota Kadipaten Lamajang bahwa mereka secepatnya harus pergi mengungsi ke tempat yang aman, karena pasukan Majapahit akan datang kembali dalam waktu yang dekat ini.

    Berita tentang datangnya sebuah pasukan besar dari Kotaraja Majapahit telah sampai di benteng Randu Agung. Dan siang itu terlihat Empu Nambi telah mengumpulkan seluruh pimpinan pasukannya untuk membuat berbagai persiapan untuk menghadapi serangan pasukan dari Majapahit itu.

    “Mereka nampaknya tidak langsung datang menggempur kita di benteng Randu Agung ini, tapi bergerak kearah Kademangan Pronojiwo”, berkata Empu Nambi kepada para pemimpin pasukannya.

    “Mengapa ayahanda berpikir seperti itu ?”, bertanya Adipati Menak Koncar belum dapat memahami jalan pikiran ayahandanya itu.

    “Panji Samara, jelaskan dengan naluri keprajuritanmu bilamana dirimu adalah seorang senapati pasukan Majapahit yang telah menempatkan kantong-kantong lumbung persediaanmu dekat kearah kaki Gunung Semeru, bukankah mereka mengetahui bahwa pasukan kita berada di benteng Randu Agung ?”, berkata Empu Nambi kepada Panji Samara.

    “Seandainya aku adalah seorang senapati Majapahit, aku akan membumi hanguskan bumi Lamajang hingga tidak ada semak belukar yang dapat hidup tumbuh di bumi, barulah aku akan mengepung benteng Randu Agung tanpa rasa khawatir mendapatkan serangan dari arah belakang. Itulah sebabnya ada ladang jagung tersembunyi dan terjaga di dekat arah kaki Gunung Semeru, bukan disekitar benteng Randu Agung”, berkata Panji Samara memaparkan pemikirannya sesuai permintaan Empu Nambi.

    “Gangguan kecil pasukan Rangga Pamandana pasti tidak akan luput dari ingatan mereka”, berkata Empu Nambi menambahkan.

    “Licik sekali jalan pikiran mereka itu, menyerang para pengungsi yang hanya dilindungi sebuah pasukan kecil Rangga Pamandana”, berkata Menak Koncar mulai mengerti jalan pikiran ayahandanya itu.

    “Bawalah pasukanmu ke Kademangan Pronojiwo, agar kamu dapat membantu pasukan Rangga Pamandana, melindungi para pengungsi disana”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar.

    Terlihat kebimbangan di hati Adipati Menak Koncar menanggapi perintah ayahandanya itu.

  17. Nampaknya Empu Nambi dapat membaca apa yang ada dalam pikiran dan perasaan hati putranya itu.

    “Selembar nyawaku ini tidaklah berarti dibandingkan keselamatan ribuan pengungsi di lereng gunung Semeru, disana banyak anak-anak kecil yang harus dapat menikmati kehidupannya yang sangat panjang, disana ada banyak wanita belia yang harus dijaga kehormatannya. Bila memang sebuah pedang merenggut nyawaku dalam peperangan ini, aku akan mati dengan tersenyum. Namun pastikan untukku bahwa kamu telah melindungi warga Lamajang di pengungsiannya”, berkata Empu Nambi kepada Adipati Menak Koncar dengan wajah penuh senyum mencoba meredam kebimbangan hati putranya itu.

    Suasana diatas pendapa tempat mereka berkumpul seketika menjadi begitu hening, perkataan Empu Nambi telah membuat semua orang yang berada diatas panggung pendapa itu seperti terenyuh mendengar keluhuran jiwa seorang Empu Nambi yang lebih banyak memikirkan orang lain selain dirinya sendiri.

    “Adipati Menak Koncar, bawalah pasukanmu ke kaki Gunung Semeru, aku akan menggantikanmu menjaga ayahandamu sebagaimana kamu dapat menjaganya di benteng Randu Agung ini”, berkata Panji Wiranagari kepada Adipati Menak Koncar yang masih diselimuti rasa kebimbangan hati tercermin diwajahnya.

    “Adipati Menak Koncar, aku Panji Anengah mencintai Ayahandamu sebagaimana dirimu, percayakanlah diri Ayahandamu kepada diriku”, berkata Panji Anengah kepada Adipati Menak Koncar.

    “Adipati Menak Koncar, aku Panji Samara telah rela berseberangan dengan kerajaan Majapahit karena aku terlahir sebagai seorang prajurit dari tangan dan didikan ayahandamu. Percayalah kepadaku, aku akan menjaganya sebagaimana seorang putranya menjaganya”, berkata Panji Samara dengan suara penuh ketulusan hati didengar oleh semua yang berkumpul di pendapa benteng Randa Agung itu.

    “Wahai ayahandaku, berbahagialah dirimu dikelilingi oleh kesetiaan. Ringan dan tunai kewajibanku sebagai seorang putramu. Kutinggalkan dirimu untuk memenuhi kewajibanku yang lain, melindungi wargaku sebagai seorang Adipati”, berkata Menak Koncar dihadapan ayahandanya.

    “Berangkatlah wahai putraku, penuhi kewajibanmu sebagai seorang Adipati. Lindungilah wargamu sebagaimana kamu melindungi diriku”, berkata Empu Nambi kepada putranya dengan sebuah senyum penuh kecintaan hati.

    “Aku pamit diri, mohon doa restu ayahanda”, berkata Adipati Menak Koncar berpamit diri untuk kembali ke istana Kadipaten Lamajang menyiapkan pasukannya yang akan berangkat ke kaki gunung Semeru melindungi para pengungsi disana.

    Terlihat Adipati Menak Koncar telah berdiri dan melangkah perlahan menuju arah tangga pendapa Benteng Randu Agung.

    Terlihat Empu Nambi menarik nafas panjang terus mengikuti arah putranya melangkah yang telah berada diujung anak tangga terakhir pendapa. “Aku bangga mempunyai seorang putra sepertimu, wahai Menak Koncar”, berkata Empu Nambi dalam hati melepas kepergian putranya itu.

  18. Matahari sore terlihat masih memancarkan cahayanya diatas pantai Pasuruan. Tiga orang lelaki terlihat tengah memperbaiki perahu mereka, sementara tiga orang bocah telanjang asyik bermain berlari diatas pasir pantai.

    “Ada sekumpulan prajurit Majapahit di Kademangan Japan, kabarnya mereka akan menyerang bumi Lamajang”, berkata seorang lelaki kepada kawannya masih sambil memperbaiki beberapa bagian perahu mereka.

    “Beruntunglah bahwa kita terlahir sebagai orang laut yang hanya menghadapi badai di lautan, bukan pedang dan lembing sebagaimana perang orang-orang darat itu”, berkata kawannya menanggapi perkataan lelaki pertama.

    “Kita bakal kena imbasnya, harga beras dan jagung orang darat pasti menjadi langka karena telah direbut setengahnya oleh pasukan Majapahit itu”, berkata lelaki ketiga ikut bicara.

    Demikianlah, meski Kademangan Japan jauh dari garis pantai Pasuruan, namun kehadiran pasukan Majapahit berdampak bagi kehidupan para nelayan disekitarnya yang merasa sukar mendapatkan beras dan jagung dari petani di Kademangan Japan. Dimana setengah dari lumbung-lumbung mereka telah diserahkan kepada pasukan Majapahit guna kebutuhan peperangan mereka.

    Baru sepekan pasukan Majapahit tiba di Kademangan Japan bergabung dengan pasukan sebelumnya dibawah pimpinan Mahapatih Dyah Halayuda. Namun bagi warga Kademangan Japan dan sekitarnya kehadiran mereka seperti sudah begitu lama, begitu berat menyengsarakan kehidupan para petani yang sangat sederhana itu. Bahkan beberapa prajurit Majapahit sudah mulai mengganggu anak-anak gadis mereka.

    Namun hari itu para warga Kademangan Japan mulai dapat bernafas lega, karena pagi hari tadi pasukan besar itu telah bergerak meninggalkan Kademangan Japan.

    Ternyata pasukan besar Majapahit itu bergerak menyimpang dari jalur yang semestinya, tidak bergerak menuju bumi Lamajang lewat Kademangan Randu Agung, tapi menyimpang ke arah kaki Gunung Semeru.

    “Kita harus secepatnya memberitahukan Empu Nambi di benteng Randu Agung”, berkata seorang petugas pengamat kepada kawannya disebuah tempat persembunyiannya.

    Maka keduanya terlihat berendap-endak mendekati kuda-kuda mereka yang terikat disebuah tempat tersembunyi.

    Tanpa terlihat oleh siapapun, keduanya telah melarikan kuda-kuda mereka menyimpang dari arah para prajurit Majapahit bergerak, kedua petugas pengamat itu melarikan kudanya ke arah Kademangan Randu Agung, sementara pasukan Majapahit terlihat terus bergerak menyimpang lebih kekanan mendekati arah kaki gunung Semeru.

    Hari sudah mulai gelap ketika para petugas pengamat itu tiba di benteng Randu Agung.

    • untuk para sahabat lama yang sudah lama tidak mencungul, hehehe

      • Bagus… Bagus… Bagus…
        He he he….
        Suwun….

        • Betul… Betul… Betul…
          He he he….
          Suwun….

          • Ya….ya….ya…he..he..he..

          • Ok…ok…okelah

  19. matur nuwun ki…

  20. Suwun Ki Dalang, monggo gabung di WA para sesepuh ADBM, termasuk Ki Rizal yang babat alas.

  21. Lapor Pak Satpam……..
    Setelah kedua Tumenggung hadir ngungak gandhok saya juga jadi ikutan agak lancar masuk gandhok.
    Apakah selama ini saya dijahili oleh mereka sehingga kesulitan masuk gandhok ya…???

    • Nah ini nulis komen juga bisa, kadang bisa mbaca, pas posting komen “problem loading page”…….
      Tolong diselikidi dengen seksama jangan2 SAYA KENA GERAKAN SUBVERSIP ATAWA PEMBREIDELAN.

      • oke oke oke …, akan dikirim telik sandi ke markas Wordpres.
        Telik sandi handal, prajurit tua Ki Bancak, kok sudah lama tidak hadir ya.

        • sementara ini ki Sepuh Bancak
          terima mandat dari pinisepuh
          kademangan sebelah ki…!!??

  22. Pak Dalang sang idola waranggono
    se padepokan….selamat malam.

    Cantrik hanya bisa mengucapkan matur
    nuwun atas lontaran rontal rontal dari
    pak Dalang

    • kita pernah bertanding, mana yang lebih kuat, penulis atau pembaca, hehehe

      • Ayo Ki, dijamin Ki Dalang kalah. Mumpung sedang tergelitik ending Ki Nambi Sandikala.

        • Ya…, ayo Pak Dhalang dikalahkan.
          Kita kan banyak, Pak Dhalang kan hanya satu.
          he he he ….. (curang)

        • Lha wong sini pekerjaannya cuma baca saja tiap hari.

          • he he he … Pak Lik Dhalang, lha kok malah sembunyi
            tajut dikeroyok sama pembacanya

          • Bukan takut mas Satpam

            Tapi pak Dalang sedang pasang strategi penglontoran rontal2

  23. Manakala mendengar berita tentang pasukan Majapahit yang datang ke bumi Lamajang, segera Empu Nambi memerintahkan orangnya untuk meneruskan berita itu ke Kademangan Pronojiwo.

    “Pasukan Lamajang lebih mengenal daerah disekitar kaki Gunung Semeru itu dibandingkan pasukan Majapahit yang baru datang itu”berkata Empu Nambi kepada para pemimpin pasukannya di benteng Randu Agung “Tugas kita dalam permainan ini adalah memancing keluarnya kesatuan pasukan Jala Pati dari Kotaraja Majapahit, sehingga peta kekuatan di Kotaraja Majapahit saat ini berimbang antara kekuatan yang tengah di galang oleh Tumenggung Mahesa Semu saat ini menghadapi kekuatan bayangan yang telah lama di bangun oleh Ra Kuti untuk menguasai istana Majapahit. Apa yang kita lakukan saat ini adalah menyumbangkan kemenangan dalam permainan besar ini. Bukankah kesatuan pasukan Jala Pati sudah berada di Bumi Lamajang saat ini ?”, berkata kembali Empu Nambi.

    “Pasukan Lamajang yang di pimpin oleh Adipati Menak Koncar memang lebih menguasai daerahnya, namun pasukan Majapahit yang datang kali ini lebih besar dari sebelumnya, jauh lebih besar dari pasukan Rangga Pamandana dan pasukan Adipati Menak Koncar. Mungkin ada baiknya pasukan kita bergabung di Kademangan Pronojiwo menghadapi pasukan Majapahit itu”, berkata Panji Anengah memberikan usulan kepada Empu Nambi.

    “Aku mengenal Tumenggung Pati Jala dengan baik, seorang yang sangat cerdas. Aku curiga mengapa dirinya telah menghadapkan pasukannya ke Kademangan Pronojiwo, menurutku adalah sebuah jebakan agar kita keluar dari benteng Randu Agung ini”, berkata Empu Nambi.

    Ternyata kecurigaan Empu Nambi sangat beralasan, karena malam itu pasukan Majapahit memang telah berada tidak jauh dari Kademangan Pronojiwo, disebuah padang luas terpisah sebuah hutan kecil di kaki Gunung Semeru itu.

    “Benteng Randu Agung terlalu kuat untuk kita gempur, kita harus memancing mereka keluar dari benteng itu”, berkata Temunggung Pati Jala kepada Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Kita bumi hanguskan tempat pengungsian para warga Lamajang di Kademangan Pronojiwo, pasti Empu Nambi luluh hatinya keluar dari bentengnya”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    Sementara itu Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana yang telah mendengar berita kedatangan pasukan Majapahit ke kaki Gunung Semeru itu telah membuat berbagai persiapan.

    “Kita kalah jumlah dengan mereka, yang terbaik adalah menghadapi mereka didalam hutan”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Rangga Pamandana.

    “Aku setuju, kita hadapi mereka di dalam hutan”, berkata Rangga Pamandana menyetujui usulan Adipati Menak Koncar itu.

    Demikianlah, malam itu langit di bumi Lamajang terlihat dipenuhi awan gelap, tiada satupun bintang disana sebagai pertanda hujan segera akan turun.

    Benar saja, dipertengahan malam itu hujan turun begitu lebat mengguyur bumi Lamajang.

  24. Suara guntur dan petir silih berganti bersama suara deru hujan yang tumpah benar-benar seperti laskar dari langit mengepung bumi Kademangan Pronojiwo di malam itu.

    Namun yang terlihat keluar dari Kademangan Pronojiwo dibawah guyuran hujan yang lebat di malam itu bukan laskar dari langit, tapi sebuah pasukan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana terlihat berlari-lari kecil menyelinap keluar dari Kademangan Pronojiwo menuju kearah hutan didepannya yang merupakan sebuah pemisah dengan beberapa Kademangan tetangganya.

    “Hujan nampaknya telah berpihak kepada kita untuk membuat berbagai persiapan gelar perang senyap di hutan ini”, berkata Adipati Menak Koncar kepada Rangga Pamandana yang merasa yakin bahwa para petugas pengamat dari pihak lawan pasti tidak ada yang akan menyangka pasukannya telah mendahului masuk ke hutan itu.

    Terlihat dibawah guyuran hujan di hutan Pronojiwo itu, beberapa prajurit telah langsung membuat berbagai macam persiapan, diantaranya telah membuat berbagai macam jebakan yang dapat mengejutkan pihak lawan, juga mencari tempat yang baik untuk tempat persembunyian mereka sendiri melakukan gelar perang senyap di dalam hutan Pronojiwo seperti hantu yang datang mengejutkan pihak lawan dan tidak lama kemudian menghilang seperti tertelan bumi.

    Namun seandainya Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana berdua mengenal Tumenggung Jala Pati sebagaimana Empu Nambi mengenalnya, mungkin keduanya akan membuat perhitungan lebih matang lagi, melihat berbagai kemungkinan-kemungkinan lain seperti jalan lain yang dapat ditempuh untuk mendekati Kademangan Pronojiwo, menyergap warga dan para pengungsi di Kademangan itu sekaligus akan menjepit pasukan mereka di dalam hutan gelar perang senyap ciptaan mereka sendiri.

    Seandainya mereka berdua mengenal Tumenggung Jala Pati sebagaimana Empu Nambi, pasti mereka membuat perhitungan lain, perhitungan dan kemungkinan lain.

    Sayangnya mereka tidak mengenal Tumenggung Jala Pati yang akan mereka hadapi itu adalah seorang yang amat cerdas bahkan sangat licik melakukan berbagai cara untuk mencapai sebuah kemenangan dalam setiap pertempurannya.

    “Janganlah Mahaptih mengatakan rencana yang sebenarnya kepada Tumenggung Rananggana, aku belum dapat sepenuhnya mempercayainya. Perintahkan setengah pasukannya untuk masuk ke hutan Pronojiwo, sementara aku akan membawa seluruh sisa pasukan kita menempuh jalan lain menyergap warga dan para pengungsi di kademangan Pronojiwo”, berkata Tumenggung Jala Pati kepada Mahapatih Dyah Halayuda.

    Ternyata Tumenggung Jala Pati sudah dapat memperhitungkan bahwa pasukan lawan pasti akan menyergap mereka di hutan Pronojiwo. Maka dengan liciknya telah meminta Mahapatih Dyah Halayuda memerintahkan Tumenggung Jala Rananggana membawa setengah pasukannya masuk ke hutan Pronojiwo sebagai pancingan yang dapat menahan pasukan lawan di hutan itu, sementara dengan diam-diam Tumenggung Jala Pati akan menempuh jalan lain memasuki Kademangan Pronojiwo.

    “Temunggung Jala Rananggana akan masuk kedalam jebakan menantunya sendiri”, berkata Mahapatih.

    • ciattttt…langsung melesat terbang menghilang di kegelapan malam hutan Pronojiwo, hehehe

    • Lha bener khan…kalo sudah gini apa mas Satpam siap menampung luberan rontal

      • Matur nuwun pak Dalang….yg ini
        cantrik kempit sendirian

        • Mau maju ajakan tanding
          pak Dalang….cantrik ragu2
          apa bisa menang…??

          • Gantian, siapa yang tidur duluan.

            Sampai ayam berkokok pertama, saya tidur duluan, Ki GUnduL yang jaga.
            setelah itu, bolehlah Ki GUndul Yang jaga dan saya yang tidur

            Oke ?

          • Apakah Ki Gundul kuat…bangun teyus 😄

          • Biasane disambi, sambil tidur tapi bangun teyus……

      • Tenang…..

        Masih semangat, menunggu serangan Pasukan Jala Pati ke pengungsian di Pranajiwa.

        • Ditunggu sampai jam 23.00 tidak ada rontal turun, eeee ditinggal tidur sebentar kok sudah ada yg tercecer. Masak cuma segitu Ki Dalang, katanya mau lomba ? Tapi suwun lhoooo

          • Lha saya nunggu sampai jam 11.00 siang juga tidak ada rontal gogrok je….!!

  25. suwun ki

  26. Kapan pertandingan dimulai, kalau WO kena denda 5 rontal lho.

    • Pak Dhalang tenang2 wae, sing wedi malah Pak Satpam…….
      wedi yen dikongkon dadi wasit…….

  27. sambang sore

    • Sambang malam

      • Tetap belum berani terima tantangan
        pak Dalang

  28. Menjelang tengah malam, kemarin jam segini ada rontal jatuh, apa harus tidur dulu?

    • Iya kale…..

      Satpam ampe ngantuk ni
      nanti pas kemulan, Pak Dhalangnya datang
      hadu……

      yoik opo iki…

  29. Demikianlah, diawali disebuah pagi yang cerah dimana sebuah iring-iringan pasukan Majapahit terlihat keluar dari perkemahannya. Mereka adalah lima ribu prajurit Majapahit yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Jala Rananggana.

    Sesuai dengan perintah Mahapatih Dyah Halayuda selaku senapati agung, telah menugaskanTumenggung Jala Rananggana dan pasukannya sebagai pasukan pelopor pembuka jalur pasukan induk memasuki hutan Pronojiwo.

    Tumenggung Jala Rananggana tidak mengetahui apa yang ada dalam akal pikiran Mahapatih Dyah Halayuda saat itu, dimana pasukannya diperalat hanya untuk sebagai pancingan menahan pasukan Lamajang di hutan Pronojiwo.

    Terlihat pasukan itu telah mulai menjauhi perkemahan mereka, terus bergerak diatas tanah basah, diatas genangan air sisa hujan yang turun cukup deras kemarin malamnya.

    Tibalah pasukan itu dimuka hutan, membelakangi matahari pagi yang menerangi punggung-punggung mereka.

    Pendengaran Tumenggung Jala Rananggana yang cukup terlatih itu telah mendengar suara binatang memekik ketakutan, dan bersamaan dengan itu pula dilihatnya banyak burung-burung hutan terbang seperti sebuah pertanda binatang itu telah terusik ketenangannya.

    Terlihat Tumenggung Jala Rananggana mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seketika itu seorang penghubungnya telah meneriakkan sebuah aba-aba perintah untuk berhenti berjalan.

    Maka seketika itu juga pasukan itu berhenti ditempat dalam barisan yang utuh.

    “Berhati-hatilah, hari ini kita tidak tengah berwisata memasuki sebuah hutan sepi. Tapi kali ini kita akan memasuki sebuah kawasan hutan yang telah dipenuhi banyak musuh, menunggu kelengahan kita dengan berbagai macam jebakan. Waspadalah kalian, atau nyawa kalian akan terkubur di hutan ini tanpa pertanda apapun”, berkata Tumenggung Jala Rananggana mengingatkan pasukannya.

    Terlihat Tumenggung Jala Rananggana menganggukkan kepalanya perlahan kepada seorang penghubungnya.
    Maka terdengarlah sebuah aba-aba yang sangat keras dari seorang penghubung itu, sebuah perintah untuk kembali berjalan kearah hutan Pronojiwo.

    Rumput-rumput basah, ujung ilalang yang basah langsung rebah memercikkan air tergilas langkah pasukan Tumenggung Jala Rananggana yang telah bergerak maju. Didepan mereka hutan Pronojiwo yang dipenuhi pohon-pohon tua yang menjulang tinggi serta tanaman merambat seperti pagar hidup mengelilingi hutan Pronojiwo.

    Diterangi cahaya matahari pagi, pasukan itu telah memasuki wilayah hutan Pronojiwo seperti seekor ular naga merayap masuk ke lubang hitam, bermula hanya tinggal setengah badannya yang terlihat, berlanjut dengan sedikit bagian ekornya yang tersisa dan akhirnya lenyap seluruh wujud pasukan itu.

  30. Ternyata cahaya matahari tidak mampu menembus kedalaman hutan yang cukup lebat itu, pasukan itu seperti berada di dalam sebuah goa yang remang-remang, semerbak aroma daun dan tanah humus terbawa angin tercium oleh para prajurit Majapahit itu yang telah seluruhnya memasuki hutan Pronojiwo.

    Tangan para prajurit itu terlihat sudah berada diujung pangkal pedang masing-masing, kewaspadaan benar-benar memenuhi hati dan pikiran para prajurit itu yang terus menerabas semak belukar diantara kerapatan pohon-pohon besar yang hitam berlumut sebagai pertanda cahaya matahari jarang sekali menjamahnya.
    Krakkk !!!!

    Terdengar suara batang pohon patah bergeser terdengar di beberapa tempat telah membuat semua prajurit yang terlatih itu langsung sigap diujung kewaspadaannya sambil menyapu dengan mata nanar mereka menanti musuh yang mungkin muncul dari bawah bumi.

    Ternyata suara batang pohon patah itu adalah benar-benar batang pohon yang memang sengaja di patangkan dari pangkalnya, begitu cepat dari tiga kedipan mata sudah terdengar puluhan batang pohon roboh di kanan kiri para prajurit Majapahit itu.

    Kepanikan yang sangat luar biasa dari para prajurit Majapahit itu yang berlari kesana kemari menghindari diri tertimpa batang-batang pohon yang roboh disekitar mereka.
    Bumm, Bumm, Bumm !!!

    Terdengar puluhan batang pohon yang tumbang menghantam bumi.
    Terdengar suara jerit para prajurit Majapahit yang tidak sempat berlindung dan berlari terkena hantaman batang dan cabang pohon yang tumbang.

    Kesatuan barisan pasukan itu sudah tidak utuh lagi.
    Dan ditengah kepanikan yang liar tak terkendalikan itu, seperti ribuan anak panah yang meluncur dari busurnya, atau sebuah air bah yang tumpah dari sebuah bendunga besar, ribuan manusia bersenjata lengkap dengan pedang terhunus telah datang dari berbagai arah menjepit pasukan Majapahit yang tengah panik berlari kesana kemari tanpa arah.

    Puluhan prajurit Majapahit dengan begitu mudahnya menjadi sasaran pedang lawan yang datang tiba-tiba itu yang datang seperti pasukan kumbang yang tengah marah mengejar siapapun yang bergerak.
    Itulah sambutan selamat datang dari pasukan gabungan, para prajurit Lamajang dan Blambangan yang dipimpin oleh dua orang tangguh yang sudah malang melintang menghadapi berbagai macam pertempuran, dua orang tangguh itu adalah Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana yang terlihat memimpin pasukan mereka dari dua tempat yang berbeda, menghancurkan pasukan Majapahit yang tengah panik tak terkendali itu.

  31. ciataaat….!!!!
    SERANGAN TENGAH MALAM

    terdengar suara tawa Ki Kompor memenuhi langit padepokan, gemanya bergulung-gulung berputar membentur dinding pagar batu padepokan di malam gelap gulita itu.

    HA HA HA HAAAAA…………………

    • Wa….. Pak Dhalangnya nakal……

      • mungkin harus di….strap😀

        • Lhoooo tenaaannnnnn

  32. hahaha.. suwun ki..

  33. Dalam waktu yang begitu amat singkat, diawal gebrakan telah langsung menyusutkan sepertiga jumlah prajurit Majapahit, yang paling banyak adalah mereka yang mati seketika terkena hantaman batang dan cabang pohon besar yang tumbang, selebihnya terkena sabetan pedang lawan ketika masih dalam keadaan kurang siap dan kepanikan.

    Beruntung Tumenggung Jala Rananggana dapat dengan cepat mengendalikan situasi para prajuritnya yang bercerai berai.

    “Merapatlah kalian dan jangan terpisah dari kelompok masing-masing”, berkata Tumenggung Jala Rananggana mengendalikan seluruh pasukannya.

    Terlihat Tumenggung Jala Rananggana menarik nafas panjang melihat para pemimpin kelompok prajuritnya sudah dapat membangun dan mengikat kembali kelompoknya yang tercerai berai itu. Maka perlawanan pasukan Majapahit mulai terlihat dapat bertahan menghadapi pasukan gabungan dari Lamajang dan Blambangan itu.

    Dengan cara bertempur berkelompok itu telah membuat para prajurit Majapahit dapat mengurangi korban di pihak mereka, meski dengan jumlah yang berkurang dari sebelumnya ketika mereka masuk ke dalam hutan itu. Nampaknya jumlah banyaknya prajurit tidak banyak berpengaruh dalam pertempuran di tengah hutan itu, tapi kekompakan setiap prajurit dalam kelompoknya yang banyak mempengaruhi jalannya pertempuran.

    Cukup lama berlangsungnya pertempuran di dalam hutan itu, gaya bertempur kedua pasukan yang berseberangan itu memang berasal dari satu sumber yang sama telah membuat pertempuran layaknya sebuah latihan pertempuran biasa, masing-masing sepertinya sudah dapat membaca gerak lawan masing-masing.

    Ditengah-tengah suasana pertempuran itu, Tumenggung Jala Rananggana masih mencoba menyapu dengan pandangannya, mencoba mencari anak menantunya. Tapi suasana pertempuran di kerepatan hutan rimba itu sangat sukar sekali menemukan Adipati Menak Koncar.

    Hingga akhirnya pendengaran Tumenggung Jala Rananggana yang cukup tajam telah mendengar suara suitan panjang. Belum sempat berpikir apapun, Tumenggung Jala Rananggana telah melihat pasukan lawan telah bergerak keluar dari pertempuran dan menghilang seperti tertelan bumi.

    Tinggallah pasukan Tumenggung Jala Rananggana termangu-mangu ditinggal lawan-lawan mereka.

    “Tetaplah kalian dalam kewaspadaan, nampaknya musuh kita akan kembali memberikan kejutan lain”, berkata Tumenggung Jala Rananggana kepada para pasukannya itu.

    Masih basah ludah Tumenggung Jala Rananggana berucap, tiba-tiba terdengar suara berdesir mengisi udara di dalam hutan itu.

    Terkejut Tumenggung Jala Rananggana manakala mengetahui bahwa suara berdesir itu berasal dari suara ratusan anak panah yang meluncur dari berbagai penjuru mata angin.

  34. Seketika itu juga ratusan bahkan ribuan prajurit Majapahit telah menjadi korban anak panah yang terbang meluncur dari berbagai arah.

    Hanya sedikit prajurit Majapahit yang selamat dari hujan panah itu, mereka dapat berlindung di pepohonan dan bebatuan. Atau beberapa orang prajurit Majapahit yang punya kemampuan cukup tinggi sebagaimana Tumenggung Jala Rananggana yang dapat melindungi dirinya sendiri.

    “hancurlah seluruh pasukanku bilasaja mereka datang dan muncul tiba-tiba seperti diawal pertempuran”, berkata Tumenggung Jala Rananggana dalam hati menakala hujan anak panah sudah mulai reda dan melihat pasukannya telah bercerai berai kembali.

    Namun yang dikhawatirkan oleh Tumenggung Jala Rananggana tidak terjadi, nampaknya pihak lawan bukan gerombolan pemakan manusia, bukan gerombolan manusia biadab yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Pasukan dari Lamajang dan Blambangan ini adalah sebuah pasukan yang masih punya norma-norma ageman yang kuat, tidak hilang pengendalian diri mereka melihat jumlah pasukan lawan yang telah jauh berkurang, jauh untuk bertahan menghadapi terjangan pasukan gabungan dari Lamajang dan Blambangan itu.

    Yang dilihat oleh Tumenggung Jala Rananggana adalah kemunculan para prajurti lawan layaknya seperti pagar betis mengelilingi pasukannya yang sudah terkoyak-koyak itu.

    Terlihat Tumenggung Jala Ranaggana berdiri mematung manakala seorang lelaki datang menghampirinya dengan pandangan mata tajam seperti menghujam jantungnya, sebuah mata dengan sorot mata penuh kebencian.

    Berdesir hati dan perasaan Tumenggung Jala Rananggana yeng masih diam termangu melihat lelaki yang datang kepadanya itu dengan sorot mata penuh kebencian.

    “Mengapa Menak Koncar memandangku dengan sorot mata penuh kebencian kepadaku ?”, bertanya-tanya Tumengung Jala Rananggana dalam hati tidak dapat mengerti bahwa lelaki yang dikenalnya sebagai anak menantunya itu yang biasa menatapnya penuh cinta kasih, penuh rasa hormat yang tinggi itu telah memandangnya dengan wajah dan sorot mata penuh kebencian yang amat dalam.

    “Tak kusangka ayah mertuaku yang sangat kuhormati, yang selalu memeberiku wejangan tentang nilai-nilai agung seorang ksatria sejati, ternyata telah datang dan bekerja sama dengan sekumpulan orang-orang biadab berhati culas. Tidak kusangka ayah mertuaku yang kuhargai selama ini telah bersekutu dengan orang licik berhati rendah”, berkata Adipati menak Koncar masih dengan wajah dan sorot mata penuh kebencian yang amat sangat memandang ayah mertuanya sendiri.

    “Wahai anak menantuku, keicikan dan kepicikan apa gerangan yang kamu tuduhkan kepada diriku ini, jelaskanlah kepadaku sehingga aku tidak bertanya-tanya mengapa dirimu memandangku dengan mata penuh kebencian seperti itu ?”, bertanya Tumenggung Jala Rananggana kepada Adipati Menak Koncar dengan perasaan hati yang pedih dan perih melihat kebencian anak menantunya itu kepada dirinya.

    “Perlukah aku menjelaskannya ?”, berkata Adipati Menak Koncar dengan suara yang datar.

    • Kalo rontal yg ini cantrik nemu dhisikan

      • disaat yg laen pada belum ngingguk
        padepokan…cantrik kempit ini rontal

        • diantara tawa terpingkal
          pingkal….cantrik masih
          sempat ucapkan :

          Terima kasih pak Dalang
          seperti biasa cantrik masih
          blum brani terima tantangan

  35. Tersentuh juga harga diri Tumenggung Jala Rananggana mendengar cara Adipati menak Koncar berkata kepadanya.

    “Wahai anak menantuku, kalah dan menang dalam pertempuran menurutku adalah sesuatu yang lumrah. Begitu juga hidup dan matiku dipertempuran ini juga sesuatu yang mungkin sudah digariskan oleh Gusti Yang Maha Agung. Bila hari ini aku berhadapan dengan pasukan dari ayah kedua cucuku, itupun kuanggap sebagai bagian dari garis hidupku pula. Karena aku berdiri disini adalah garis kehidupanku sebagai seorang prajurit Majapahit yang memegang janji dan amanat suci. Bila pedangku melukai seorang musuh, itu adalah garis dan tugasku sebagai seorang prajurit. Wejangan itu pernah kusampaikan kepadamu. Namun hari ini aku melihat kebencian didalam matamu telah membuat perih dan pedih hati orang tua sepertiku ini”, berkata Tumenggung Jala Rananggana dengan suara yang bergetar menahan gejolak perasaan hatinya yang berduka.

    Mendengar perkataan orang tua yang sangat di hormati itu telah menyurutkan perasaan hati Adipati Menak Koncar yang bergejolak penuh kesangsian dan kebencian kepada orang tua itu, berbalik membentur keraguan bergumul didalam amuk perasaan dan pikirannya.

    “Pasukan Majapahit telah berlaku licik, menahan pasukanku di hutan ini sementara dengan diam-diam masuk dan menguasai kekademangan Pronojiwo dari jalan yang lain. Saat ini para warga Kademangan Pronojiwo dan para pengungsi telah menjadi sandera hidup pasukan Majapahit itu. Katakan bagaimana ayah mertua dapat mencuci tangan sendiri, mengetahui dan bersekutu bersama kelicikan. Puaskah ayah mertua mendengar kemenangan dengan jalan kelicikan, bukan dengan pedang dan cara terhormat sebagaimana jiwa seorang ksatria seperti yang selalu ayah mertua petuahkan kepada anak menantumu ini”, berkata Adipati Menak Koncar dengan memicingkan mata seperti ingin membaca apa yang ada dalam pikiran ayah mertuanya itu.

    “Anak menantuku, ternyata kamu salah besar menilaiku seperti itu. Aku membawa pasukan ini sebagai pasukan pembuka. Bila benar apa yang kamu katakana, itu artinya aku dan pasukanku telah diperalat oleh mereka, telah dikorbankan oleh mereka untuk sebuah jalan kemenangan lewat jalan culas yang tidak ada sedikitpun terbesit dihatiku. Bilamana aku mengetahui apa yang ada dalam pikiran mereka, pasti akulah yang akan menjadi menentang pertamanya. Bila memang benar apa yang kamu katakan tentang penyanderaan warga biasa, maka mulai saat ini aku akan berada bersebarangan dengan mereka, aku akan memerangi mereka bersamamu, wahai anak menantuku”, berkata Tumenggung Jala Rananggana dengan suara yang tegas dan kuat.

    Nampaknya Adipati Menak Koncar seperti tidak memungkiri semua perkataan ayah mertuanya itu yang diketahuinya tidak pernah berdusta, sangat tegas dan kuat memegang jiwa ksatriannya.

    “Maafkan anak menantumu ini, telah salah dan berpikir dangkal menilai ayah mertua”, berkata Adipati Menak Koncar menunduk penuh rasa penyesalan.

    “Tidak ada yang perlu dimaafkan dan disesalkan, yang perlu kita selesaikan hari ini adalah bagaimana menyelamatkan para warga yang menjadi sandera dan Kademangan Pronojiwo yang telah dikuasai oleh pasukan Dyah halayuda itu”, berkata Tumenggung Jala Rananggana kepada Adipati Menak Koncar.

    • Suwun pak Dhalang.

      • Suwun pak Dalang

  36. luar biasa ki dalang… suwun

  37. Para prajurit yang tersisa dari pasukan Jala Rananggana itu telah ikut mendengar pembicaraan pemimpin mereka, telah mendengar sendiri bahwa mereka ternyata hanya dijadikan sebuah umpan, sebuah korban di hutan Pronojiwo itu telah membuat mereka dapat memilih dimana kebenaran seharusnya berpijak.

    Namun sebagai seorang pemimpin yang bijak, Tumenggung Jala Rananggana masih memberi kesempatan kepada prajuritnya untuk bicara dan memilih.

    “kalian masih dapat memilih dan menentukan, ikut bersamaku bergabung dengan pasukan Empu Nambi, atau tetap berada di bawah naungan panji pasukan Majapahit. Apapun pilihan kalian tidak akan merubah sikapku atas kalian, kita adalah saudara”, berkata Tumenggung Jala Rananggana kepada pasukannya yang tersisa itu.

    “Kami akan selalu berada di belakang tuan Tumenggung”, berteriak para prajurit pasukan Tumenggung Jala Rananggana menyampaikan pilihannya.

    Demikianlah, pasukan yang semula bertempur di hutan Pronojiwo itu kini terlihat telah bersatu padu, berjalan beriringan menuju arah timur, menuju arah benteng Randu Agung.

    Apa yang sebenarnya terjadi pada Kademangan Pronojiwo ?

    Sebagaimana diceritakan dimuka bahwa Tumenggung Jala Pati telah bermain mata dengan Mahapatih Dyah Halayuda untuk memperalat setengah dari pasukan Tumenggung Jala Rananggana agar masuk hutan Pronojiwo, sementara tanpa sepengetahuan Tumenggung Jala Rananggana, diam-diam mereka telah membawa seluruh pasukan Majapahit lewat jalan lain masuk ke Kademangan Pronojiwo yang telah ditinggalkan oleh pasukan Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana.

    Tanpa perlawanan apapun, pasukan Majapahit dengan mudahnya menguasai Kademangan Pronojiwo, menawan warga dan para pengungsi yang ada disana.

    Kedatangan pasukan Majapahit itu begitu cepat bergerak mengepung Kademangan Pronojiwo telah membuat para warga dan para pengungsi tidak berdaya untuk lari menyelamatkan diri.

    Para lelaki, orang tua, wanita dan anak-anak telah diperintahkan keluar dari rumah dan digelandang kesebuah tanah lapang dekat banjar desa.

    Beruntung seorang lelaki muda lepas dari pengawasan mereka dan berhasil lolos lari ke hutan Pronojiwo dan melaporkannya langsung kepada Adipati Menak Koncar apa yang terjadi atas para warga dan para pengungsi di Kademangan Pronojiwo itu.

    Itulah sebabnya Adipati Menak Koncar begitu marah kepada Ayah mertuanya sendiri, menduga Tumenggung Jala Rananggana dan pasukannya telah menjebaknya. Namun ternyata Tumenggung Jala Rananggana tidak mengetahui kelicikan Senapati Agungnya sendiri, merasa telah menjadi sebuah umpan tak berharga.

    Tiga pasukan dengan tunggul, rontek dan umbul-umbul berbeda terlihat berjalan bersama.

  38. “Apa yang telah terjadi ?”, berkata Empu Nambi dalam hati yang melihat tiga pasukan dari kesatuan yang berbeda itu tengah memasuki gerbang pintu Benteng Randu Agung. Apalagi melihat sebuah umbul-umbul besar yang sudah sangat dikenalnya ketika dirinya masih sebagai seorang Patih Amangkubumi di istana Majapahit. “Kesatuan pasukan Jala Rananggana”, berkata kembali Empu Nambi dalam hati sambil memandang sebuah umbul-umbul bergambar harimau putih didalam lingkaran matahari.

    “Sungguh sebuah kegembiraan hati melihat seorang mertua lelaki berjalan beriringan dengan anak menantunya”, berkata penuh kegembiraan hati Empu Nambi menyambut kehadiran Tumenggung Jala Rananggana di benteng Randu Agung itu.

    “Seorang tuan rumah yang baik biasanya mengadakan yang tidak ada untuk menjamu seorang besannya”, berkata Tumenggung Jala Rananggana kepada Empu Nambi penuh persahabatan.

    Terlihat Empu Nambi, Adipati Menak Koncar, Rangga Pamandana dan para pemimpin pasukan lainnya telah duduk bersama di pendapa benteng Randu Agung.

    “Bukankah pasukan kalian seharusnya berada di Kademangan Pronojiwo ?”, berkata Empu Nambi sambil memandang kearah Adipati Menak Koncar dan Rangga Pamandana, berharap salah seorang diantaranya dapat bercerita apa yang telah terjadi.

    Maka Adipati Menak Koncar langsung bercerita apa yang terjadi di Kademangan Pronojiwo saat itu, juga cikal bakal mengapa Tumenggung Jala Rananggana akhirnya bergabung bersama pasukannya itu.

    “Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari penguasaan Kademangan Pronojiwo itu ?”, berkata Panji Samara.

    “Yang pasti mereka masih menganggap benteng Randu Agung ini terlalu kuat untuk digempur langsung oleh mereka. Masih terlalu pagi untuk menilai apa yang sebenarnya mereka inginkan dari penguasaan Kademangan Pronojiwo, masih terlalu banyak kemungkinan mengapa mereka harus membayar dengan sebuah harga yang sangat mahal, mengorbankan setengah pasukan Jala Rananggana hanya untuk menguasai sebuah Kademangan yang tidak berarti itu”, berkata Empu Nambi menanggapi pertanyaan Panji Samara itu.

    Semua orang diatas pendapa benteng Randu Agung itu seperti terpancing untuk terus berpikir, menjadikan suasana di atas pendapa itu menjadi begitu sepi, hening tanpa suara apapun, semua orang nampaknya telah terperangkap didalam alam pikirannya masing-masing.

    “Kedemangan itu memang tidak berarti apapun, namun warga dan para pengungsi yang ada disana pasti sangat berarti bagi sebagian prajurit yang ada di benteng Randu Agung ini, setidaknya disana ada keluarga mereka, istri, anak atau orang tua mereka sendiri”, berkata Tumenggung Jala Rananggana memecahkan suasana keheningan diatas pendapa itu.

    Perkataan Tumenggung Jala Rananggana seperti sebuah pedang tajam yang bergerak menikam jantung hati dan pikiran semua orang. Lebih-lebih Adipati Menak Koncar yang langsung tersentak, pucat pasi.

  39. Sontak semua mata diatas pendapa benteng Randu Agung itu langsung tertuju kearah Empu Nambi, berharap orang tua yang sangat bijak itu dapat menyampaikan sebuah pendapatnya, memberikan sebuah jalan keluar.

    Empu Nambi memang melihat ketegangan memenuhi semua orang diatas pendapa itu, terbaca lewat cahaya mata mereka yang penuh pengharapan dan ketergantungannya kepada dirinya seorang.

    Namun Empu Nambi tidak berkata apapun, tidak juga menemukan jawaban apapun dikepalanya. Terlihat Empu Nambi hanya menarik nafas panjang berharap dapat menemukan sebuah jawaban, namun pikirannya seperti tidak bekerja, yang terbayang adalah ratusan para sandera yang dipenuhi suasana mencekam, dipenuhi suara-suara bentakan kasar. Dan diantara bayangan itu tergambar dua orang anak lelaki kecil yang tengah ketakutan dipelukan ibunya. Wajah kedua anak lelaki dan ibunya itu adalah wajah kedua cucu lelakinya sendiri bersama anak menantu wanitanya sendiri.

    “Mereka harus membayar mahal bila terjadi sesuatu atas kedua cucu dan anak menantuku, meski selembar rambut mereka”, berkata Empu Nambi seperti bergumam kepada dirinya sendiri.

    “Akhirnya pertanyaanku telah terjawab, bukan nilai Kademangan itu yang berarti bagi mereka, tapi sandera jiwa para warga dan pengungsi itulah sebagai barang berharga bagi mereka, setidaknya sebagai umpan pancingan agar kita keluar dari benteng ini, atau sebagai alat tukar mereka memeras diri kita memenuhi dan menuruti apa keinginan mereka”, berkata Panji Samara.

    “Banyak hal yang bisa terjadi, banyak hal kemungkinan yang akan kita temui. Mari kita pasrahkan diri kita kepada pemilik semua jiwa, pemilik hidup dan kehidupan ini. Semoga Gusti Yang Maha Agung memberikan jalan keselamatan kepada kita, memberikan jalan ketenangan kepada hati dan pikiran kita, dan selalu berada didalam genggaman tangan, mata dan perlindungannya”, berkata Empu Nambi berusaha melepas kecemasannya sendiri, melepaskan kepentingan dirinya sendiri. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan meleburkan segala pikiran akal budinya kedalam kekuasaan yang Maha Tunggal, pemilik alam semesta ini.

    Hening seketika suasana diatas pendapa benteng agung itu, perkataan Empu Nambi begitu menyejukkan hati, perkataan Empu Nambi seperti sebuah sihir yang amat kuat, memberikan sebuah pengharapan-pengharapan, memberikan keyakinan-keyakinan bahwa jalan terbaik pasti akan mereka dapatkan.

    “Hanya dialah yang Maha Tunggal yang mengetahui apa yang terjadi jauh diluar batas dinding pagar batu benteng ini, hanya dialah yang maha Tunggal yang mengetahui apa yang akan terjadi diwaktu dekat ini, nanti malam, besok atau lusa nanti. Sementara nafsu dan laskar pikiran kita selalu mengusung kita seakan dewa yang dapat berbuat sebagaimana Sang Hyang Widi berbuat dan berkuasa”, berkata kembali Empu Nambi.

    Perkataan sang guru suci itu kembali seperti sebuah sihir yang amat kuat, melenyapkan kecemasan dan kegusaran hati semua orang yang hadir diatas pendapa itu, perkataan guru suci itu seperti sebuah mata air yang jernih mengalir diatas sebuah sungai kecil yang bening, mengalir diatas sebuah danau yang sepi dan dalam, begitu teduh menyejukkan mata hati dan jiwa.

    • Serangan tengah malam
      He he he ,…….

      Suwun….

  40. ki dalang sandikala seperti yang bener2 ada di zaman Majapahit ya…

    • Kalau koment lewat hp kok sering tdk sampai ya? Beberapa kali koment, ternyata tdk nyantol. Btw ditunggi sampai jam segini belum ada rontal, tidur lagi ah.

      • Halo, sepi

  41. Ternyata orang-orang di benteng Randu Agung itu tidak harus menunggu lama tentang nasib para warga dan pengungsi di Kademangan Pronojiwo, karena di pagi harinya terlihat seorang lelaki berkuda mendekati benteng Randu Agung.

    “Katakan kepentinganmu datang ke benteng Randu Agung ini”, berkata seorang prajurit penjaga di panggungan kepada lelaki berkuda itu.

    “Aku utusan Mahaptih Dyah Halayuda, ingin bertemu dengan Empu Nambi”, berkata lelaki berkuda itu kepada prajurit penjaga.

    “Bukakan pintu gerbang untuknya, dan antarkan langsung kepada Empu Nambi”, berkata prajurit penjaga itu kepada kedua orang kawannya.

    Terlihat dua orang prajurit tengah menuruni tangga panggungan.

    “Kuantar kamu kehadapan Empu Nambi”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu kepada lelaki berkuda yang mengatakan dirinya sebagai utusan Mahapatih Dyah Halayuda.

    Ternyata di pendapa benteng Randu Agung telah berkumpul para pemimpin pasukan bersama Empu Nambi.

    “Orang ini mengatakan utusan Mahapatih Dyah Halayuda, ingin bertemu langsung dengan Empu Nambi”, berkata seorang prajurit penjaga kepada Empu Nambi.

    “Bawalah orang itu kepadaku”, berkata Empu Nambi kepada prajurit penjaga itu yang langsung turun dari panggung pendapa untuk membawa kembali seorang utusan Mahapatih Dyah Halayuda.

    Terlihat prajurit penjaga itu telah naik kembali ke panggung pendapa sambil membawa utusan Mahapatih Dyah Halayuda.

    “katakan apa yang ingin disampaikan oleh Mahapatih Dyah Halayuda kepada kami”, berkata Empu Nambi kepada utusan itu.

    “Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda hanya ingin menyampaikan bahwa para warga di Kademangan Pronojiwo saat ini masih dalam keadaan selamat tak kurang apapun”, berkata utusan itu kepada Empu Nambi.

    “hanya itukah Mahapatih Dyah Halayuda mengutusmu datang kepadaku ?”, berkata Empu Nambi kepada utusan itu.

    “Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda ingin membuat sebuah penawaran kepada Empu Nambi”, berkata utusan itu kepada Empu Nambi.

    “Panawaran apakah gerangan yang diinginkan tuanmu itu dariku ?”, bertanya Empu Nambi sambil memicingkan matanya seperti menembus jantung utusan itu, mengaduk-aduk pikiran dan perasaannya hingga membuat utusan itu merasakan dirinya seperti berdebar-debar tak menentu.

  42. Terlihat utusan itu berusaha menenangkan dirinya.

    “Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda ingin melakukan sebuah penawaran, menukar para warga dengan diri Empu Nambi”, berkata utusan itu masih dengan hati masih berdebar-debar yang tidak kunjung hilang setelah berusaha ditenangkannya.

    “Masih adakah penawaran lain, selain pertukaran itu ?”, bertanya Empu Nambi merasa kasihan melihat wajah utusan itu yang terlihat sudah penuh tetesan peluh keringat sebesar biji jagung.

    “Tuanku Mahapatih Dyah Halayuda berharap Empu Nambi datang besok pagi seorang diri, atau nasib warga di Kademangan Pronojiwo setiap paginya akan kami antarkan ke benteng Randu Agung ini sebanyak lima orang, tentunya dalam keadaan sudah tidak bernyawa”, berkata utusan itu dengan wajah menunduk tidak berani menatap langsung tatapan Empu Nambi.

    “Kembalilah kamu kepada tuanmu itu, katakan bahwa kami di Benteng Randu Agung ini biasa berperang dengan pedang dan lembing ditangan, bukan dengan cara-cara licik dan culas. Katakan pula bahwa selembar rambut warga tak berdosa itu terganggu, jangan harap kalian dapat kembali ke Kotaraja Majapahit dalam keadaan hidup”, berkata Empu Nambi dengan suara bergetar menahan amarahnya yang terasa sudah mendidih membakar hati dan perasaannya.

    “Ijinkan aku keluar dari benteng Randu Agung ini, pesan Empu Nambi akan kusampaikan kepada tuanku Mahapatih Dyah Halayuda”, berkata utusan itu berpamit diri.

    “Antarkan orang ini keluar dari benteng Randu Agung”, berkata Adipati Menak Koncar kepada dua orang prajurit penjaganya yang masih menunggu di bawah panggung pendapa untuk mengantar utusan itu keluar dari benteng Randu Agung.

    Terlihat semua mata diatas panggung pendapa Randu Agung itu tertuju kearah Empu Nambi, mereka semua menunggu apa perkataan Empu Nambi tentang tawaran Mahapatih Dyah Halayuda yang ingin menukar jiwa para warga dengan dirinya sendiri, seorang pemimpin sebuah pasukan besar di benteng Randu Agung yang punya kekuatan seimbang dengan pasukan Majapahit yang kini telah menguasai Kademangan Pronojiwo.

    Namun Empu Nambi yang tengah dinantikan suaranya itu hanya tersenyum sambil menyapu pandangannya ke semua orang diatas pendapa benteng Randu Agung itu.

    “Aku merasa tersanjung, diusiaku yang sudah rapuh ini, ternyata nilai kepalaku ini masih begitu berharga”, berkata Empu Nambi masih sambil tersenyum menatap satu persatu orang-orang yang berada diatas panggung pendapa yang diketahuinya punya rasa kesetiaan yang amat tinggi kepadanya.

    “Apakah ayahanda akan memenuhi penawaran Mahapatih Dyah Halayuda ?”, bertanya Adipati Menak Koncar merasa tak sabar menunggu jawaban yang sesungguhnya dari ayahandanya itu.

    “Kuterima tawaran itu, tapi dengan harga yang lebih mahal”,berkata Empu Nambi sambil menyapu pandangannya kesemua orang diatas pendapa Benteng Randu Agung itu.

    • Serangan sore hari
      He he he ….
      Kamsiiiaaaaaaa………….!!!!!

      • Hadir…..menjelang tengah wengi

        KAMSIA KAMSIA terucap berkali kali

        • Heheheeeeee…..apa cantrik
          bilang pak Dalang dilawan

        • pak Dalang,
          emang djempol kiri kanan

  43. YAHUD….di segala bidang pekerjaan

    cerpen….itu mah gampang
    cersil……itu mah sambil tiduran
    novel cinta….itu mah udah biasa

    goda sinden….itu mah wektu masih muda
    ki Sandikala….itu mah pak Dalang yg punya

    • Arief Sujana….itu mah satriya dewasa
      gagah perkasa

  44. Terlihat semua orang diatas pendapa itu seperti terpaku, merasa terbentur dengan dua pilihan yang sangat sukar untuk dipilih seperti buah simalakama, membiarkan Empu Nambi menjadi alat tukar, atau membiarkan lima orang mati disetiap pagi hari sesuai dengan ancaman Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Menurutku kita tidak tengah dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat sulit, tapi kita tengah berhadapan dengan sebuah permainan nyawa”, berkata Empu Nambi dengan suara yang sangat tenang sekali seperti tidak tengah menghadapi sesuatu yang sangat menegangkan.

    “Apa yang Empu Nambi maksudkan dengan sebuah permainan nyawa ?”, bertanya Panji Anengah meminta Empu Nambi menjelaskannya.

    “Aku akan datang sendiri ke Kademangan Pronojiwo sebagaimana permintaan mereka, pastikan para warga keluar dari Kademangan Pronojiwo dengan selamat. bakarlah hutan Pronojiwo sebagai pertanda bahwa para warga telah berada ditempat yang aman. Jangan khawatirkan tentang diriku, segeralah kalian menggempur pasukan Majapahit di Kademangan Pronojiwo, pastikan tidak ada seorangpun musuh yang keluar hidup-hidup dari Kademangan Pronojiwo itu”, berkata Empu Nambi dengan suara yang sangat tegas dan jelas.

    Kembali suasana diatas panggung pendapa itu menjadi penuh ketegangan, semua orang tidak dapat membantah dengan usulan yang lebih baik selain yang ditawarkan oleh Empu Nambi untuk menukar dirinya dengan nyawa para warga dan pengungsi di Kademangan Pronojiwo.

    “Kurasa inilah jalan yang terbaik yang harus kita pilih, persiapkanlah seluruh pasukan kita untuk menghadapi mereka besok. Tempatkanlah seluruh pasukan kita malam ini juga di hutan Pronojiwo tanpa sepengetahuan musuh agar kita dapat bergerak cepat memasuki Kademangan Pronojiwo”, berkata kembali Empu Nambi dihadapan para pemimpin pasukannya.

    “Benar-benar sebuah permainan nyawa”, berkata Panji Anengah sambil menarik nafas panjang, mencoba meredam ketegangan hatinya membayangkan Empu Nambi menyerahkan diri menjadi tawanan musuh.

    “Apakah kamu mempunyai usulan yang lebih baik dari yang kutawarkan ini, wahai saudaraku Panji Anengah ?”, bertanya Empu Nambi sambil tersenyum kepada Panji Anengah.

    “Hingga saat ini, aku belum mendapatkan yang lebih baik dari usulan yang Empu Nambi tawarkan”, berkata Panji Anengah sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

    “Setiap hari kita sebenarnya tengah bermain-main dengan nyawa kita, bukankah aku sering menyampaikan kepada kalian bahwa umur kita adalah sebuah rahasia ?, kapan dan dimana kita tidak mengetahuinya ujung batas umur kita sendiri. Namun seorang manusia yang sudah terlatih menghadapi mati sebelum kematian datang pasti tidak akan gentar menghadapi kematian yang sesungguhnya setiap saat dan setiap waktu. Bila Gusti yang Maha Agung pemilik hidup dan kehidupan ini mengambil nyawaku besok, itu adalah garis tanganku sendiri, garis hidupku yang memang sudah ditentukan hingga sampai disitu. Namun kita tidak tahu bila Gusti Yang Maha Agung menentukan lain. Itulah yang kumaksudkan bahwa kita tengah bermain-main dengan nyawa kita sendiri, besok”, berkata Empu Nambi.

    • Zuip……
      Kamsiiiaaaa………..!!!!

      • Sepertinya masih ada satu lagi.
        Tapi wis nguantuk
        Hadu…..

        • haduh, banyak nyamuk…..masih kuat gak yaaa???, sudah ada banyak catatan dikepala….tapi…nyamuk dipinggir rawa Cipondoh benar-benar lagi demo anti beras plastik kayaknya, ehehehe

          • Suwun Ki Dalang, ….masak Ki Sandikala kalah dg nyamuk?

  45. keenakan tuntasin episode Empu Nambi, sampe lupa kayaknya udah harus lompat ke gandok baru dech, hehehe (pak Satpam nya jangan2 ikutan lupa)

    • Ngapunten, PC padepokan sedang rawat inap. In sha Allah besok sudah jadi. Naskah lengkap ada di PC. Belum bisa bendel buku.
      Ngapunten njih.

      • Lengkap sudah penderitaan Satpam, PC belum beres, jaringan internet “buntu” sekalian.
        Buat gandok harus nebeng di tempat lain.

        Pakeliran PKPM-12 sudah dipasang
        monggo Pak Dhalang

  46. hari sudah terang pagi manakala Ki Kompor mengintip disebuah dinding pagar batu Padepokan. Mata Ki Kompor menyapu sekeliling halaman yang masih penuh dengan dedaunan kering berserakan.

    “Dimana Ki Gundul,yang sedianya akan memenuhi janjinya, menerima tantanganku?”, berkata Ki Kompor dalam hati.

    • Saya kira Ki Sandikala sdh menyepi, ternyata masih kangen Ki Gun.

  47. matur nuwuun ki dalang…

  48. bersiul sambil melonjorkan kaki lurus-lurus, menunggu penjentrehan dari Pak Satpam membuat gandok batu, qiqiqiqiqiqq

    • Hadir….masih tetap belom berani terima
      Tantangan pak Dalang

      • Cantrik belom siap dikalahkan pak Dalang

        • Kemano Ki Dalang?

  49. Ho ho ho ho …..
    ternyata betul perhitunagan Pak Dhalang
    PKPM-11 sudah bisa ditutup, dan sudah tersedia gandok baru

    monggo….
    jangongan pindah gadok, tikar mau digulung untuk dipindahkan ke PKPM-12.

    • Sik….sik….sik….aja kesusu digulung klasane…..
      Lha mumpung bisa mlebu gandhok je……
      Tak linggihan neng kene disik……
      Harak inggih kamsia to Pak Dhalang….???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: