PKPM-12

<< kembali | lanjut >>

pkpm-12

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 25 Mei 2015 at 14:48  Comments (266)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-12/trackback/

RSS feed for comments on this post.

266 KomentarTinggalkan komentar

  1. Assalamu’alaikum…selamat pagi semuanya

    • Waalaikum salam, Miss Nona

    • Waalaikum salam wr wb

  2. Sementara itu sang waktu diam-diam telah menyelinap diantara warna rembulan yang semakin pucat, diantara garis merah yang tersambung dari ufuk timur dan barat langit malam.

    “Aku berdoa untuk kalian semua, kita bertemu di Kabuyutan Bebander”, berkata Nyi Nariratih melepas pasukan gabungan itu dari baraknya.

    Kotaraja Majapahit masih begitu sepi dan dingin ketika pasukan gabungan itu bergerak di enam tempat berbeda.

    Seperti kebanyakan rumah-rumah yang ada disepanjang jalan utama Kotaraja Majapahit, rumah Ki Demung Samaya terlihat begitu lengan. Dua orang prajurit penjaga terlihat sudah terkantuk-kantuk di gardu jaganya.

    Namun keduanya langsung segar kembali matanya karena dikejutkan oleh suara ketukan keras pintu gerbang dari luar.

    “Katakan, siapa kalian”, berkata salah seorang prajurit penjaga dari dalam.

    “Lekas buka pintu, kami pasukan bhayangkara”, berkata suara dari luar.

    Mendengar suara dari luar yang mengatakan pasukan Bhayangkara telah membuat mereka terkejut, pasti ada hal yang sangat amat penting sehingga pasukan Bhayangkara harus datang di hari masih awal pagi seperti itu.

    Maka tanpa pikir dua tiga kali salah seorang prajurit penjaga itu langsung membuka pintu gerbang.

    Masih dengan hati penuh tanda tanya besar, dua orang prajurit penjaga itu telah melihat lima belas I orang prajurit Bhayangkara lengkap dengan pertandanya telah memasuki pintu gerbang yang terbuka, dibelakang mereka terlihat dua puluh orang prajurit dari pasukan khusus Srikandi ikut memenuhi halaman muka rumah Ki Demung samaya itu.

    “bangunkan Ki Demung Samaya segera, ada hal yang sangat penting untuk kami sampaikan”, berkata salah seorang prajurit Bhayangkara kepada kedua prajurit penjaga itu.

    “Segera aku akan membangunkannya”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu yang langsung berjalan cepat kearah pintu butulan.

    “Tetaplah kamu disini”, berkata salah seorang prajurit Bhayangkara kepada seorang prajurit penjaga yang telah ditinggal oleh kawannya itu.

    Prajurit penjaga itu telah melihat kelima belas prajurit Bhayangkara telah berjalan kearah pendapa rumah Ki demung samaya dan langsung menunggu didepan pintu pringgitan.

    Tanpa membantah apapun, prajurit penjaga itu diam ditempat, tidak berani berbuat apapaun karena dihadapannya ada sepasukan prajurit Srikandi dengan sikap seperti tengah menjaganya.

    • maaf, maaf, maaf
      gara-gara diteriakin sang permaisuri bikin tangan ini jadi grogi, ada yang terlewati, jadi terbalik, hehehe

      SELAMAT MENYESUAIKAN LAGI DEHC

  3. Apa yang telah terjadi dengan tiga kelompok pasukan penjemput lainnya ?

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Tumenggung Mahesa Semu, seribu satu kemungkinan akan bisa saja terjadi.

    Dan satu dari seribu kemungkinan itu dialami sendiri oleh pasukan gabungan yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Mahesa Semu.

    Ternyata pasukan gabungan itu telah didahului oleh pihak lawan.

    Ketika pasukan gabungan itu memasuki halaman rumah Tumenggung Jala Yudha, terlihat sebuah pertempuran tengah terjadi antara pasukan delik sandi yang bergabung dengan pasukan Srikandi menghadapi para prajurit pasukan Ikal-Ikalan Bang yang berjumlah sekitar seratus orang lebih.Meski jumlah petugas delik sandi dan pasukan Srikandi lebih sedikit dari jumlah lawan, namun terlihat mereka dapat mengimbanginya.

    “Selamatkan Tumenggung jalayu Yudha dan putrinya, biarlah kami akan menahan mereka”, berkata seorang pemimpin petugas Delik sandi kepada Tumenggung Mahesa Semu.

    Mata Tumenggung Mahesa Semu segera menyapu seluruh pertempuran di halaman rumah itu, dan dilihatnya seorang lelaki sebaya dengan dirinya tengah bertempur sambil merangkul seorang anak perempuan kecil yang menangis ketakutan.

    Tumenggung Jala Yudha baru sebulan itu ditinggal mati oleh istrinya, tidak menyangka bahwa didalam suasana yang masih berduka itu mendapatkan sebuah percobaan penculikan atas dirinya. Terlihat dengan sangat gagahnya Tumenggung bertempur sambil menggendong putri kecilnya. Pedang ditangan kanannya terlihat begitu cepat menangkis serangan lawannya bahkan kadangkala dapat balas menyerang lawan-lawannya.

    “Lindungi Tumenggung Jala Yudha dan putrinya itu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada pasukan gabungan yang dibawanya itu.

    Nampaknya para pasukan itu telah sangat paham apa yang diinginkan oleh Tumenggung Mahesa Semu, terlihat pasukan gabungan yang baru fdatang itu sudah langsung memasuki medan pertempuran dan dengan cepat telah berada melingkari Tumenggung Jala Yudha.

    “Tumenggung Jala Yudha, kami datang untuk melindungi dirimu”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha agar tidak terjadi salah pengertian.”Ikutilah gerak pasukan kami”, berkata kembali Tumenggung Mahesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha.

    Sebagai seorang Tumenggung yang punya banyak pengalaman tentang berbagai jenis gelar perang, Tumenggung Jala Yudha dapat memahami bahwa pasukan yang dibawa oleh Tumenggung Mahesa Semu itu telah bergerak dengan gelar cakra yudha, sebuah gelar perang yang bertujuan untuk mempertahankan dan melindungi seorang yang dianggap sangat penting.

    Perlahan pasukan dengan gelar cakra yudha itu telah bergerak mendekati gerbang halaman rumah.

    • Lg ki Sandhikala rontale, nggo sangu ngesuk liburan….

  4. Nampaknya pemimpin pasukan delik sandi dan pasukan srikandi yang sudah beberapa hari berjaga di sekitar rumah Tumenggung Jala Yudha itu tahu betul apa yang harus mereka lakukan meloloskan pasukan penjemput itu membawa keluar dan menyelamatkan Tumenggung Jala Yudha. Terlihat orang itu telah memimpin pasukannya membentuk serangan dengan gelar emprit neba.

    Serangan dengan gelar emprit neba itu benar-benar sangat menyulitkan pihak musuh dan telah memecahkan perhatian mereka.

    Dan Tumenggung Mahesa Semu telah memanfaatkan suasana pertempuran it uterus menggerakkan pasukan gabungan yang dipimpinnya keluar dari gerbang rumah Tumenggung Jala Yudha.

    Melihat pasukan gabungan Tumenggung Mahesa Semu sudah berhasil keluar dari gerbang halaman rumah, para petugas delik sandi dan pasukan Srikandi menjadi pasukan yang sangat kokoh menahan pasukan lawan tidak dapat keluar dari halaman rumah Tumenggung Jala Yudha.

    “Kita tahan lawan hingga tidak mungkin lagi mengejar pasukan Tumenggung Mahesa Semu”, berkata salah seorang petugas delik sandi yang ditunjuk menjadi pimpinan pasukan itu.

    Meski jumlah petugas delik sandi dan pasukan Srikandi itu hanya berjumlah setengah dari jumlah musuh, namun mereka punya kemampuan rata-rata yang cukup tinggi mampu menahan pasukan musuh tidak dapat bergerak menerobos gerbang halaman yang mereka pertahankan itu.

    Sebagaimana diketahui bahwa petugas delik sandi adalah prajurit pilihan yang terbaik, prajurit-prajurit yang telah lukus ujian pendadaran dengan catatan nilai tertinggi dari setiap angkatannya, hanya selisih sedikit dari kemampuan yang dimiliki oleh pasukan Bhayangkara.

    Sementara itu pasukan Srikandi adalah sebuah pasukan khusus yang langsung di gembleng oleh Nyi Nariratih, seorang wanita perkasa yang punya kemampuan ilmu sangat tinggi. Maka tidak heran para prajurit wanita itu punya ketrampilan dan kemampuan olah kanuragan yang sangat disegani. Seorang prajurit Srikandi konon dapat mengalahkan sepuluh orang prajurit biasa yang terlatih.

    Maka tidaklah heran, seratus pasukan Ikal-Ikalan Bang yang ditugaskan untuk menculik Tumenggung Jala Yudha di rumahnya itu tidak dapat menerobos pertahanan pasukan Delik sandi dan pasukan Srikandi yang hanya berjumlah setengah dari jumlah pihak lawan itu.

    Dan manakala pasukan Tumenggung Mahesa Semu sudah tidak terlihat lagi, mulailah pasukan gabungan itu mengendurkan pertahanan mereka, perlahan mundur memancing pihak lawan terus bergerak mengikuti langkah mereka yang bergerak melawan arah perginya pasukan Tumenggung Mahesa Semu.

    Pihak lawan tidak menyadari bahwa mereka sudah terpancing bergerak kearah yang salah.

    Sementara itu cahaya fajar terlihat sudah membentang dari utara ke selatan, pemimpin pasukan gabungan itu memperhitungkan bahwa jarak pasukan Tumenggung Mahesa Semu sudah tidak mungkin dapat dikejar lagi.

    “Saatnya kita menghilang sebelum fajar pagi menjadi terang”, berkata pemimpin pasukan gabungan itu.

    • buat sangu Ki HRG liburan besok, hehehe

      • Matur nuwun ki dhalang

  5. Mendengar teriakan pemimpin pasukan gabungan itu, dengan sangat terlatih pasukan gabungan itu telah membentuk langkah mundur dengan cara silang terus menjauhi pertempuran dan menghilang menyelinap diantara jalan-jalan kecil di pagi yang masih remang itu.

    “Sial, kita sudah terpancing jauh dari sasaran kita sendiri”, berkata seorang pemimpin pasukan Ikal-Ikalan Bang telah kehilangan lawan mereka.

    Sementara itu pasukan Tumenggung Mahesa Semu sudah berlari jauh meninggalkan Kotaraja Majapahit.

    “Arah kita adalah Kabuyutan Bebander, masih setengah hari perjalanan”, berkata Tumenggung Mahesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha yang masih menggendong putri kecilnya itu.

    “Apa yang mereka lakukan hari ini tidak akan kumaafkan, pada saatnya aku akan mengerahkan seluruh pasukanku menghancurkan pasukan Tumenggung Ikal-ikalan Bang itu”, berkata Tumenggung Jala Yudha dengan suara bergetar penuh luapan kemarahan.

    “Simpan dendam Tumenggung Jala Yudha untuk sementara waktu, kita akan melakukan pembalasan bersama”, berkata Tumenggung Mehesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha.

    Jalan menuju arah Kabuyutan Bebander dari Kotaraja Majapahit itu memang hanya sebuah jalan setapak yang berbatu-batu kadang sangat curam menurun atau terjal mendaki telah membuat langkah pasukan gabungan itu agak melambat.

    “Apakah pasukanku yang terakhir keluar dari Kotaraja Majapahit ?”, berkata Timenggung Mahesa Semu dalam hati merasa heran tidak bertemu dengan keenam pasukan lainnya diperjalanan itu.

    Saat itu Tumenggung Mahesa Semu memang tidak mengetahui bahwa masih ada dua kelompok pasukan di belakangnya, pasukan yang dipimpin oleh Gajahmada untuk menjemput Mahapatih dyah Halayuda dan pasukan yang dipimpin langsung oleh Adityawarman yang akan menjemput Raja Jayanagara di istana.

    Apa yang terjadi atas kedua kelompok pasukan itu ?

    Sebagaimana yang di ceritakan di muka, bahwa tepat disaat garis tipis merah cahaya fajar membentang dari arah ufuk timur dan barat, enam pasukan gabungan terlihat keluar dari barak pasukan khusu Srikandi. Mereka telah punya tugas masing-masing di tempat yang berbeda.
    Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Gajahmada terlihat telah bergerak kearah rumah Mahapatih Dyah Halayuda.

    Tidak ada ganjalan apapun ketika pasukan gabungan itu memasuki gerbang halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda yang hanya dijaga oleh empat orang prajurit penjaga. Pamor pasukan Bhayangkara membuat keempat prajurit penjaga itu sudah langsung membuka pintu gerbang dengan lebar-lebar.

    Namun permasalah mereka temui pada diri Mahapatih Dyah halayuda sendiri.

  6. ADA yang hilang….pak Dalang emang
    begitu orangnya🙂

    • Betul, ada yang hilang. Rontal lanjutannya tadi sudah menggantung kok sekarang tidak ada lagi, dimana ya jatuhnya.

      He he he ….
      Kamsia Pak Lik.
      Selamat berlibur dengan sang putri dan permaisuri.

  7. Suwun Ki Dalang

  8. Test….kenapa komenku mencelat
    terus mas Satpam

    • Hiks…..masa ya jaringan lemot
      terulang lgi

      • Malam pak Dalang padepokan
        Malam mas Satpam padepokan
        Malam para kadang padepokan

        • Sugeng ndalu. Melu ronda padhepokan

        • yang HILANG ada pada
          cantrik sekarang…monggo

          kalo para kdang menginginkan
          cantrik siap mengandolkan
          RONTAL yang hilang🙂

          • mana….mana….mana….

    • He he he …. Sabtu dan minggu satpam juga dikerjain sama telkomsel (atau WP ya), masuk padepokan saja sulit.
      hadu….
      untung sekarang sudah “waras” lagi

      Sugeng dalu Ki Menggung dan Ki HRG

      • genk dalu mas Satpam….ki HRG

        • Ndalu ugi ki Gundul

      • genk dalu mas Satpam…ki HRG

        • Pagi yg indah. Selamat pagi ki Sandhikala, P. Satpam, ki Mbleh, ki Gundul, ki Sanepo dan lain2 para cantrik kadang padhepokan

      • Sugeng ndalu

  9. Alhamdulillah….

    Padepokan ini sudah mulai “rejo”
    dengan munculnya para menggung dan cantrik lama dan cantrik baru

    matur suwun……..

    • PAGI yang INDAH

      Selamat pagi ki Sandhikala, P. Satpam, ki Mbleh, ki HRG, ki Sanepo dan lain2 para cantrik kadang padhepokan.

      • cantrik comot punya ki HRD…hehee
        ubah dikit langsung pasang.

        Sambang padepokan menemani
        mas SATPAM nyiapkan suguhan.

  10. Mahaptih Dyah Halayuda menyangsikan niat baik pasukan gabungan itu bahkan berbalik menuduh akan mencelakai dirinya.

    “Tidak mungkin ada yang berniat menculikku, jangan-jangan justru kalian sendiri yang berniat datang kerumahku ini untuk mencelakaiku”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Mahapatih Dyah Halayuda, apa yang kami lakukan ini adalah untuk keutuhan dan kelanjutan Kerajaan Majapahit ini. Untuk itu mungkin kami dengan sangat terpaksa akan berlaku kurang hormat terhadap seorang pejabat utama istana”, berkata Gajahmada dengan pandangan mata begitu tajam seakan berkata bahwa kehidupan yang dimiliki saat itu adalah karena kemurahannya dalam peristiwa peperangan di Blambangan.

    “Ki Secang dulu dan hari ini sangat berbeda, wahai anak muda. Hari ini aku adalah seorang Mahapatih besar Kerajaan Majapahit ini yang dapat menunjuk tangan menurunkan hukuman kepada siapapun yang aku inginkan”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda seperti dapat membaca makna pandangan mata Gajahmada itu.

    “Kawan-kawan, tangkap orang ini dengan cara apapun, meski harus mengkuntungi tangan dan kakinya dan kita akan membawanya dengan cara menyeretnya”, berkata Gajahmada dengan kata-kata yang sangat keras bermaksud melemahkan Mahapatih Dyah Halayuda.

    Mendengar perkataan Gajahmada, seluruh pasukannya sudah langsung bersiap diri mengurung Mahapatih Dyah Halayuda.
    Namun Mahapatih Dyah Halayuda seorang yang sangat licin bagai seekor belut dan dengan kemampuan ilmunya yang sangat tinggi telah langsung melesat tak terduga-duga melompati panggung pendapa rumahnya dan telah menjejakkan kakinya diatas halaman rumah.

    Melihat apa yang dilakukan oleh Mahapatih Dyah Halayuda, seluruh pasukan gabungan itu langsung mengejarnya.

    Saat itu Mahaptih Dyah Halayuda telah berada ditengah halaman, sementara pasukan gabungan yang dipimpin oleh Gajahmada itu hanya beberapa langkah kaki tengah mengejarnya.

    Disaat seperti itulah mucul dari arah luar gerbang sebuah pasukan besar sejumlah sekitar seratus orang.

    “kalian datang tepat waktunya, lekas kalian tangkap orang-orang yang tengah mengejarku itu”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda kepada pasukan yang baru datang itu yang dari pertandanya adalah pasukan Tumenggung Ikal-Ikalan Bang.

    Sambil berkata memerintah seperti itu, Mahapatih Dyah Halayuda langsung berbalik badan menghadap kearah pasukan Gajahmada yang berhenti mengejarnya.

    Dan tidak lama berselang pasukan Gajahmada sudah berada dalam kepungan pasukan Ikal-Ikalan Bang yang baru datang itu.

  11. Dan pertempuran akhirnya sudah tidak dapat dihindari lagi terjadi di halaman Mahapatih Dyah Halayuda.

    Gabungan pasukan Bhayangkara dan Srikandi itu seperti sepasang kekasih yang tanggap, tangguh dan tanggon menahan serbuah pihak lawan yang datang bagai air bah.

    Dan cambuk Gajahmada telah menyapu jalan menghempaskan siapapun yang berada didekatnya. Sementara matanya terus mencari dimana Mahapatih Dyah Halayuda dapat ditemui.

    Dua orang prajurit musuh penghalang terakhir terlihat terlempar terkena tendangan dan lecut cambuk Gajahmada yang terlihat bergerak sangat cepat. Dan akhirnya Mahapatih Dyah Halayuda dan dirinya terlihat sudah beradu pandang satu dengan yang lainnya.

    “Aku akan tetap membawamu, rela hati atau dengan cara paksa”, berkata Gajahmada sambil berdiri membiarkan ujung cambuknya terjurai menyentuh bumi.

    “pasukanmu sangat sedikit, sebentar lagi pasti akan tergulung”, berkata Mahapatih Dyah Halayuda.

    “Jangan berbesar hati, ada banyak kawan kami diluar yang akan bergabung bermain di halaman rumahmu ini”, berkata Gajahmada denganpandangan tetap kearah Mahapatih Dyah Halayuda seperti takut sasarannya itu melarikan dirinya.

    Belum habis Gajahmada berbicara, terlihat sebuah pasukan lain telah memasuki halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda dan langsung mengepung pihak musuh.

    Ternyata mereka adalah para petugas delik sandi dan pasukan Srikandi yang sudah beberapa hari itu berjaga-jaga di sekitar rumah kediaman Mahapatih Dyah Halayuda. Nampaknya mereka sengaja membiarkan pasukan Ikal-Ikalan Bang mesuk ke halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda agar dapat mudah menyerang dari arah belakang.

    Terkejut bukan kepalang pasukan Ikala-Ikalan Bang itu mendapatkan serangan dari arah belakang itu, dan dalam satu kali terjangan awal beberapa orang sudah menjadi korban amukan pasukan yang baru datang itu.

    Melihat hal demikian telah membuat ciut nyali Mahapatih Dyah Halayuda. Apalagi dihadapannya adalah anak muda yang punya kemampuan sangat tinggi dan pernah berhasil mengalahkannya dalam sebuah peperangan di Blambangan ketika dirinya menjadi seorang pemimpin sebuah gerombolan.

    “Jangan lari !!”, berkata Gajahmada sambil menghentakkan cambuknya diudara terbuka sebagai sebuah peringatan kepada Mahaptih Dyah Halayuda yang terlihat sudah berbalik badan bermaksud untuk melarikan dirinya.

    Suara cambuk di udara pagi itu Gajahmada terdengar begitu memekakkan telinga telah mengejutkan diri Mahapatih Dyah Halayuda dan terlihat berhenti sejenak.

    Namun Gajahmada terlihat seperti mematung, seperti tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya itu.

    • monggo, cemilan di hari libur, he he he

      • Suara cambuk Gajahmadadi udara pagi itu terdengar begitu memekakkan telinga telah mengejutkan diri Mahapatih Dyah Halayuda dan terlihat berhenti sejenak.(koreksi dikit, hehe)

        • Matur nuwun ki Sandhikala. Rontal lagi. Lagi_lagi rontal……

  12. Terlihat Gajahmada masih terkesima dengan apa yang terjadi atas diri Mahapatih Dyah Halayuda.

    Ternyata manakala Mahapatih Dyah Halayuda berbalik badan hendak melarikan diri, tidak menyadari bahwa dihadapannya berdiri tiga orang prajurit Ikal-Ikalan Bang.

    Mahapatih Dyah Halayuda benar-benar tidak akan menyangka bahwa tiga buah senjata trisula yang amat tajam meluncur dengan amat cepatnya langsung menembus tubuhnya di tiga tempat, didada, jantung dan perutnya. Seketika itu juga Mahapatih Dyah Halayuda roboh dengan mata masih terbuka. Mahapatih Dyah Halayuda tewas ditangan tiga orang prajurit Ikal –Ikalan Bang, para prajurit gemblengannya sendiri.

    “Tugas utama kami datang disini adalah untuk membunuhnya, dan seluruh dunia akan percaya bahwa tangan kalianlah yang telah membunuh orang ini”, berkata salah seorang prajurit Ikal-Ikalan Bang yang nampaknya adalah pimpinan dari para prajurit yang datang bersamanya itu.

    Tar, tar, tarr !!!

    Tiga buah lecutan sandal pancing cambuk Gajahmada berturut-turut bergerak menyentuh dada ketiga prajurit pembunuh Mahapatih Dyah Halayuda dan langsung roboh di tanah tidak mampu bergerak sedikitpun.

    “Aku harus membantu kawan-kawan mengurangi jumlah musuh”, berkata Gajahmada dalam hati.

    Dan terlihat berturut-turut berjatuhan korban di pihak lawan akibat terkena ujung cambuk Gajahmada yang selalu saja seperti bermata hinggap di tubuh lawan yang ada dekat disekitarnya.

    Cambuk Gajahmada benar-benar seperti angin prahara, menyabet melingkar, menyabet menyilang dan kadang melecut dengan cara sandal pancing. Dan tidak satupun gerakan cambuk Gajahmada yang luput, selalu saja menyentuh korban-korban yang langsung roboh.

    Tingkat kesaktian anak muda itu benar-benar sudah sangat begitu tinggi, getar ujung cambuk Gajahmada kadang menggelegar menciutkan hati dan perasaan setiap orang. Terkadang ujung cambuk itu belum sampai menyentuh ke tubuh lawannya, tapi sambaran anginnya telah mampu merobohkan lawan.

    Semua orang yang mengenal Gajahmada di halaman rumah Mahaptih Dyah Halayuda seperti terpana, mengagumi kesaktian anak muda putra Nyi Nariratih itu.

    “Dengan hanya seorang diri, nampaknya Gajahmada dapat menggulung pasukan segelar sepapan”, berkata seorang prajurit Srikandi yang melihat dengan mata dan kepala sendiri ketangguhan Gajahmada dengan ilmu cambuknya itu.

    Maka dalam waktu yang amat singkat, jumlah prajurit Ikal-Ikalan Bang terus menyusut hingga akhirnya hanya tersisa sepuluh orang saja.
    “Biarkan mereka lari”, berkata Gajahmada kepada orang-orangnya yang hendak mengejar musuh.

    • Siip…. suwun

      • Suwun….siip

        • siip versus suwun

  13. biarkan LARI…..aku akan tetap berdiri
    disini.

    menunggu pak Dalang mbeber RONTAL
    lagi (kata si cantrik dalam hati)

    • yang ini BUKAN tantangan lho pak
      Dalang.

      hanya sekedar harapan cantrik pda
      mas Satpam…..heheheee 100x

  14. Mendengar perkataan Gajahmada telah membuat beberapa orang mengundurkan niatnya mengejar para prajurit musuh yang tersisa itu.

    Terlihat mata Gajahmada menyapu keseluruh halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda, melihat mayat yang bergelimpangan dimana sebagian besar adalah dari pihak lawan.

    Pandangan mata Gajahmada tertahan kesebuah mayat yang terbaring kaku bergelimang darah ditanah yang masih basah.

    “Kudengar Empu Nambi tewas oleh tusukan trisula kembar Mahapatih itu dalam keadaan terikat tak berdaya”, berkata Gajahmada dalam hati masih terpaku memandang mayat Mahapatih Dyah Halayuda.

    Namun tiba-tiba saja pendengaran Gajahmada yang sangat tajam itu telah mendengar puluhan langkah kaki menuju gerbang halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda.

    Saat itu pagi masih sangat remang, namun pandangan Gajahmada telah melihat sangat jelas sekali sekumpulan celeng hutang telah memasuki halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda.

    Ternyata bukan hanya Gajahmada saja yang melihat sekumpulan celeng itu, hampir semua pasukannya juga ikut menyaksikan kedatangan sekumpulan celeng hutan itu.

    Dan semua mata yang tengah berada di halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda seperti terkesima diam manakala melihat sekumpulan celeng itu bergerumbul menutupi mayat Mahapatih Dyah Halayuda.

    Semua mata seperti terkesima diam menakala melihat dengan mata kepala sendiri sekumpulan celeng itu telah mencabik-cabik tubuh Mahapatih Dyah Halayuda.

    Semua mata masih diam terkesima melihat sekumpulan celeng itu pergi begitu saja meninggalkan daging tulang belulang yang tercabik-cabik dari mayat Mahapatih Dyah Halayuda.

    Anehnya para celeng itu hanya mencabik-cabik mayat Mahapatih Dyah Halayuda, tidak mayat lainnya yang masih berserakan memenuhi halaman rumah itu.

    “Kita tidak dapat menjemput Mahapatih Dyah Halayuda hidup-hidup”, berkata salah seorang kepada Gajahmada meminta pertimbangannya, apa yang harus mereka lakukan.

    Namun belum sempat Gajahmada berkata apapun, kembali pendengaran Gajahmada yang sangat peka itu telah mendengar bukan hanya ribuan langkah kaki, tapi gemeuruh suara ribuan prajurit di jalan.

    “Tutup pintu gerbang, kita akan menyelidiki apa yang tengah terjadi atas Kotaraja Majapahit ini”, berkata Gajahmada memerintahkan beberapa orang untuk segera menutup pintu gerbang rumah Mahapatih Dyah Halayuda.

    Dari celah-celah gerbang pintu kayu itu, Gajahmada dan beberapa orang lainnya terlihat tengah mengintip keadaan diluar rumah Mahapatih Dyah Halayuda.

  15. Suwun Ki Dalang. Mana ya Ki Menggung ? katanya berdiri paling akhir menunggu rontal?

  16. Berdebar kencang jantung Gajahmada manakala dari celah-celah gerbang pintu kayu telah melihat ribuah prajurit tengah bergerak di jalan utama menuju arah istana Majapahit.

    Terlihat Gajahmada telah mengunpulkan seluruh pasukannya, pasukan gabungan Bhayangkara, Srikandi dan para petugas delik sandi itu.

    “Nampaknya Kotaraja dan istana Majapahit akan segera dikuasai pasukan Temunggung Ikal-Ikalan Bang. Aku akan segera menyelidiki keadaan istana, sementara kalian segera keluar dari Kotaraja Majapahit bergabung dengan seluruh pasukan yang masih setia kepada Kerajaan di Kabuyutan Bebander”, berkata Gajahmada kepada para pasukan yang diberikan mandat dibawah kepemimpinannya itu.

    Demikianlah, Gajahmada seorang diri memisahkan dirinya untuk pergi ke istana Majapahit untuk melihat situasi terakhir disana. Sementara pasukannya akan segera berangkat ke Kabuyutan Bebander.

    Terlihat Gajahmada tidak berjalan lewat jalan utama, tapi melewati beberapa rumah yang berjajar dengan cara melompati pagar rumah-rumah itu bahkan terkadang harus melewati wuwungan rumah-rumah yang berjajar di sepanjang jalan utama menuju arah istana Majapahit.

    Dari sebuah wuwungan sebuah rumah, Gajahmada telah melihat ribuan prajurit pasukan Ikal-Ikalan nampaknya telah menguasai Kotaraja Majapahit, berjaga-jaga dibeberapa jalan dan perempatan jalan. Tidak seorangpun warga yang dilihatnya, mungkin mereka semua takut untuk keluar dari rumahnya.

    Melihat suasana di sepanjang jalan utama itu telah membuat hati dan perasaan Gajahmada kembali berdebar-debar mencemaskan keadaan istana, mencemaskan keadaan Raja Jayanagara.

    “Mudah-mudahan Adityawarman dan pasukannya telah dapat menyelamatkan Raja Jayanagara”, berkata Gajahmada dalam hati.

    Tidak sulit untuk seorang Gajahmada menyelinap masuk ke istana tanpa sepengetahuan siapapun. Ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi telah membuat dirinya dapat melesat cepat dan menyelinap diantara gerumbul tanaman bambu. Dan dengan sekali hentakan kaki sudah dapat meluncurkan tubuhnya tinggi ke atas wuwungan sebuah bangunan di istana.

    Ternyata Gajahmada telah melihat hampir seluruh istana telah dikuasai para prajurit pasukan Ikal-Ikalan Bang.

    “Mereka belum menguasai Puri Pasanggrahan Raja Jayanagara”, berkata Gajahmada dari sebuah tempat tersembunyi diatas sebuah wuwungan bangunan di istana tengah melihat halaman puri pasnggrahan Raja Jayanagara telah dipenuhi pasukan Bhayangkara yang tengah bersiap melindungi Raja jayanagara.”Nampaknya pasukan gabungan Adityawarman belum sempat membawa Raja Jayanagara keluar dari istana”, berkata kembali Gajahmada dalam hati ketika melihat sekumpulan pasukan di panggung pendapa puri Pasanggrahan Raja Jayanagara itu.

    Kembali terlihat Gajahmada dengan sangat cepatnya telah melesat menyelinap mendekati dinding pagar puri pasanggrahan Raja jayanagara.

  17. Terlihat beberapa prajurit Bhayangkara langsung mencabut pedangnya ketika melihat seseorang muncul dari dinding pagar puri pasanggrahan dengan cara seperti terbang diatas dinding pagar yang cukup tiinggi itu.

    Namun para prajurit Bhayangkara itu menarik nafas dalam-dalam manakala mengetahui bahwa seseorang yang baru saja menjejakkan kakinya di halaman puri pasnggrahan itu ternyata adalam pimpinannya sendiri.

    “Istana telah dikuasai sepenuhnya oleh prajurit pasukan pemberontak, dan kami telah memutuskan bertahan di puri pasanggrahan ini melindungi Raja Jayanagara”, berkata salah seorang prajurit Bhayangkara melaporkan keadaan dan situasi istana saat itu.

    “Aku akan menemui Raja”, berkata Gajahmada kepada prajuritnya itu sambil langsung berjalan kearah pendapa agung.

    “Kami terlambat untuk membawa keluar Raja Jayanagara”, berkata Adityawarman kepada Gajahmada yang baru datang itu.

    “Kotaraja Majapahit telah dikuasai para pemberontak”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja jayanagara menyampaikan apa yang telah dilihatnya tentang suasana Kotaraja Majapahit saat itu.

    “Kita hadapi mereka dengan dada terbuka, aku tidak takut mati sebagai seorang ksatria yang mempertahankan singgasanaku sendiri”, berkata Raja jayanagara penuh keberanian seperti tidak mengenal rasa takut sedikitpun.

    “Kita tidak perlu mati hari ini, yang kita lakukan adalah menyingkir untuk menyelamatkan diri”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman dan Jayanagara.

    “jalan keluar diistana ini sudah tertutup rapat”, berkata Adityawarman.

    “Kita akan memecahkan perhatian mereka, kerahkan seluruh pasukan kita di pintu gerbang istana. Disaat yang sama kita bertiga menyelinap keluar dari istana ini lewat dinding pagar belakang istana. Tentunya setelah pakaian kita berganti dengan pakaian para pelayan istana, karena diluar penjagaan pasukan pemberontak sangat ketat memenuhi hampir disetiap tempat”, berkata Gajahmada menyampaikan rencana pelariannya.

    “Tidak ada salahnya untuk mencoba”, berkata Adityawarman sambil memandang wajah Raja Jayanagara yang masih dipenuhi keraguan.
    Namun akhirnya Gajahmada dapat meyakinkan Raja Jayanagara.

    “Kita pernah bersama mengembara di Tanah Pasundan, banyak peperangan kita hadapi, banyak mara bahaya kita lalui. Seorang ksatria harus berpikir seribu kali menyerahkan lehernya dari pedang musuh selama masih ada kesempatan menghindar. Bila hari ini kita membabi buta melawan musuh dengan jumlah yang sangat besar, maka kita akan mati sebagai orang bodoh”, berkata Gajahmada berusaha meyakinkan Raja jayanagara.

  18. Perlahan wajah Raja Jayanagara memperlihatkan perubahannya, diam-diam mulai membenarkan perkataan Gajahmada.

    “Bilamana kepala hamba putung seribu kali, masih ada tangan dan kaki hamba untuk menjaga dan melindungi tuanku”, berkata Gajahmada sambil tersenyum melihat keyakinan di diri Jayanagara sudah mulai terlihat.

    Terlihat Gajahmada telah menemui beberapa prajurit Bhayangkara untuk memberikan beberapa pesan yang harus mereka lakukan. Setelah itu terlihat Gajahmada telah kembali menghampiri Adityawarma dan Raja jayanagara.

    “Mari kita segera berkemas, berganti pakaian para pelayan dalam istana”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja jayanagara.

    Maka tidak lama berselang, terlihat Gajahmada, Adityawarman dan Raja Jayanagara sudah memakai pakaian para pelayan dalam istana, pakaian yang biasa dikenakan oleh orang biasa pada umumnya. Sementara itu salah seorang dari prajurit Bhayangkara sudah bersalin mengenakan pakaian seorang Raja, pakaian yang biasa dikenakan oleh Raja jayanagara.

    “Keselamatan Raja ada ditangan kita, bersikaplah kalian seakan-akan tengah melindungi Rajamu membawanya keluar dari istana ini. Dengan cara itu seluruh perhatian para pemberontak akan tertuju kepada pasukan kalian. Semoga kita bertemu kembali berkumpul di Kabuyutan Bebander, atau kita akan berkumpul bersama kelak di nirwana, bersama-sama para ksatria yang berjiwa mulia. Kesetiaan dan pengorbanan kalian hari ini akan selalu kukenang, akan kuceritakan kepada seluruh keluarga dan keturunan kalian, bahwa kalian adalah sahabatku, bahwa kalian adala para pahlawan besar”, berkata Gajahmada ketika melepas para prajurit Bhayangkara dan prajurit Srikandi yang terkepung di dalam istana menghadapi gerakan pemberontakan tiga puluh sabda candra sempurna itu yang ternyata sebuah gerakan yang dikendalikan oleh seorang anggota Dharmaputra, Ra Kuti.

    Gajahmada, Adityawarman dan Raja jayanagara masih memandang punggung-punggung pasukan gabungan itu keluar dari gerbang gapura puri pasanggrahan Raja jayanagara.

    “mari kita bergerak”, berkata Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara ketika terdengar suara keributan di sebuah lorong jalan tidak jauh dari puri pasanggrahan Raja jayanagara. Nampaknya pasukan gabungan itu telah menemui pihak musuh, sudah menemui pertempurannya.

    Gajahmada, Adityawarman dan Raja Jayanagara pernah bersama-sama dimasa kecil mereka, bermain dan berlatih olah kanuragan bersama. Nampaknya suasana kenakalan masa-masa kecil mereka itu seperti muncul kembali disaat mereka bertiga tengah menyelinap dari satu bangunan ke bangunan lain, menyelinap diantara pohon-pohon besar yang rimbun di dalam istana menghindari penglihatan mata para pemberontak yang sudah tersebar di dalam istana.

    Selisih kemampuan tataran ilmu mereka memang tidak terpaut jauh, ketiganya telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang jauh melebihi orang kebanyakan. Terlihat ketiganya telah melesat dari satu tempat ke tempat lainnya menuju arah dinding pagar belakang istana.

    • Wih….. Pak Dhalangnya nglembur sampek malam
      Para cantriknya malah pada “nglepus”

      Suwun…….

    • Pagi-pagi sudah terdedia tripel rontal, suwun Ki.

    • Beginilah gaya Ki Kompor, ditunggui tidk muncul, ditinggal tidur baru rontok rontalnya. Tapi apapun tetap matur suwuuuun.

  19. Assalamu’alaikum…selamat siang semuanya….

    • GENK dalu….pak Dalang

      • selamat malam mas Satpam
        selamat malam kadang padepokan

        • selisih usia memang tidak
          terpaut jauh.

          tapi cantrik kalah segalanya
          dari pak Dalang.

          • hehehe….AYO pak Dalang
            malam ini kita gelontor
            rontal di padepokan mas
            Satpam.

  20. Nglilir tengah malam berharap ada rontal jatuh, ternyata Ki Dalang Malmis, malem Kamisan. Tilawah sajalah persiapan menyambut Ramadhan.

  21. Selamat Pagi semua sanak kadang padhepokan.

  22. Gajahmada, Adityawarman dan Raja Jayanagara seperti para bocah kecil berlomba mendekati dinding belakang istana.

    Dan hanya dengan sekali ayunan kaki saja, ketiganya sudah seperti terbang melompati dinding istana yang cukup tinggi itu melebihi kepala mereka masing-masing, dan dengan sangat indahnya mereka bertiga menjejakkan kaki di luar dinding istana.

    Namun baru saja dua tiga langkah kaki mereka untuk meninggalkan dinding belakang istana itu, terlihat sepuluh pasukan berkuda mendekati mereka.

    “Berhenti !!”, berkata salah seorang dari pasukan berkuda itu meminta ketiganya diam ditempat.

    “Seluruh kotaraja Majapahit dalam kekuasaan kami, beraninya kalian berkeliaran disaat seperti ini”, berkata salah seorang prajurit dengan kata-kata yang cukup kasar membentak-bentak.

    “Jangan mendekati sahabatku ini, dirinya tengah terkena penyakit menular yang sangat berbahaya”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu yang telah turun dari kudanya hendak menghampiri mereka.
    Mendengar perkataan Gajahmada, langsung seketika itu juga terlihat prajurit itu berhenti melangkah.

    Nampaknya Raja Jayanagara dan Adityawarman segera mengerti bahwa Gajahmada tengah bermain sandiwara, terlihat keduanya langsung menggaruk-garuk seluruh tubuhnya yang ternyata memang gatal betulan karena pakaian pelayan dalam istana yang mereka pinjam itu memang belum sempat dicuci sepekan itu.

    “Lihatlah, sahabatku yang satu ini sudah tertular olehnya”, berkata kembali Gajahmada.

    “Dari mana asal kalian dan hendak kemana ?”, bertanya prajurit itu dari jarak sekitar lima langkah tidak berani mendekat.

    “Kami dari padukuhan barak hendak menemui Tabib Restu Galih di Padukuhan Sawahan”, berkata Gajahmada.

    “Aku mengenal Tabib hebat itu, hanya orang kaya yang berani datang ke tabib itu, konon bayarannya sungguh sangat mahal”, berkata parajurit itu melihat pakaian ketiganya seperti orang kebanyakan, sangat lusuh.

    “Kebetulan sahabatku ini masih kemenakan Tabib Restu Galih, pasti akan memberikan keringanan kepada kami”, berkata Gajahmada.

    “Lekas kalian berobat ke Tabib itu, sebelum menularkannya ke banyak orang”, berkata prajurit itu yang mempercayai perkataan Gajahmada.
    Terlhat prajurit itu kembali ke kudanya dan langsung melompat diatas punggung kudanya sambil memberi perintah kepada pasukannya untuk melanjutkan perjalanan mereka.

    Adityawarman menahan tawanya melihat pasukan itu berjalan melingkar menjauhi mereka bertiga.

    • Jadi ge-er ki Sandhikala, tabib mahal

      • Wah…….. sudah dapat peran
        Siip…..

        • Hehehe melambung

  23. Ketka para prajurit itu telah cukup jauh, barulah Adityawarman melepas tawanya yang sudah sekian lama di tahan itu.

    “Otakmu sungguh encer sekali, Gajahmada”, berkata Adityawarman sambil tertawa terpikal-pikal.

    “Asal kalian tahu saja, pakaiku ini kuambil dari lemari kayu seorang pelayan, sementara pakaian yang kalian kenakan itu kuambil dari sebuah bakul, mungkin akan di cuci hari ini”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    Melihat canda tawa Adityawarman dan Gajahmada itu benar-benar menyentuh hati Raja Jayanagara, karena selama ini dirinya telah mengambil jarak dengan keduanya sejak dikukuhkannya dirinya menjadi seorang Raja.

    “Tahta dan singgasana ini telah membutakan mata hatiku, melupakan dua orang sahabat kecilku”, berkata Raja Jayanagara dalam hati masih mendengar celoteh dan canda dua orang sahabat kecilnya diperjalanan mereka.

    “Terpaksa kita berjalan melingkar mendekati Kabuyutan Bebander”, berkata Gajahmada memberi petunjuk arah perjalanan mereka.
    Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajahmada, mereka memang tengah menempuh jalan melingkar menuju Kabuyutan Bebander. Melewati beberapa padukuhan, melewati hutan gerumbul yang lebat, melewati sungai deras berbatu dan melewati beberapa tempat yang tidak berpenghuni saat itu.

    Perjalanan yang panjang itu telah membangkitkan ingatan-ingatan Raja Jayanagara jauh kebelakang ketika mereka pergi mengenbara bersama di Tanah Pasundan.

    “Aku telah melupakan kesetiaan Gajahmada kepada Kerajaan Majapahit ini, yang dengan penuh kerelaan hati melepas tahta singgasana milik keluarganya di Kerajaan Rakata, memilih jalan sebagai abdiku di kerajaan Majapahit ini”, berkata Raja Jayanagara dalam hati mengenang kebersamaannya dalam pengenbaraannya di Tanah Pasundan.

    “Hari sudah mulai senja, kita beristirahat di pinggir sungai ini. Ada banyak bebatuan besar untuk sekedar meluruskan kaki-kaki kita”, berkata Gajahmada ketika mereka berada di sebuah sungai yang mengalir deras dan berbatu.

    Terlihat ketiganya mencari tiga buah batu besar yang berdekatan, di situlah mereka beristirahat setelah seharian berjalan tidak pernah berhenti.

    Dan perlahan langit senjapun berganti warna, sang rembulan pucat di ujung senja itu begitu cantik menawan melepas senyumnya, menatap tiga pemuda yang tengah bersandar di bebatuan di pinggir sungai yang bening, mengelir sangat deras.

    “Sudah begitu lama kita tidak menikmati bersama suasana malam seperti ini”, berkata Gajahamada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara.

  24. Ada rontal lagi di malam jumat

    • di malam jumat ada rontal lagi

      • di jumat malam rontal ada lagi

        • Rontal di malam jumat ada lagi

          Rontal ada lagi di malam jumat

      • di jumat malam rontal ada lagi

        lagi ada rontal di jumat malam

  25. Geng ndalu, keliling padepokan nyari gandok yg sejuk buat tidur. Terimakasih ki dhalang

  26. Terlihat Raja Jayanagara menarik nafas dalam-dalam sepertinya membenarkan perkataan Gajahmada.

    “Ternyata aku harus banyak belajar dengan kalian berdua, seperti kamu Adityawarman, kita adalah sama-sama sebagai putra jawa campuran, tapi kulihat dirimu seperti melebur menjadi seorang jawa asli. Terlibih-lebih kapadamu Wahai Gajahmada, wajahmu, tulang tubuhmu nyata bukan orang jawa asli, tapi kamu dapat melebur diri bergaul dengan begitu banyak orang”, berkata Raja Jayanagara kepada Adityawarman dan Gajahmada.

    “Ketika kita tinggal bersama di Kotaraja Majapahit, tidak ada banyak masalah dengan darah campuranku ini. Tapi ketika harus tinggal di Kotaraja Kediri, awalnya kupingku terasa panas karena kadang aku mendengar sendiri perkataan banyak orang yang mengatakan aku bukan orang jawa. Namun ayahku selalu membisikkan kepadaku sebuah kepercayaan diri yang amat tinggi”, berkata Adityawarman.

    “Apa yang dikatakan oleh ayahmu itu”, bertanya Raja jayanagara tidak sabaran.

    “Katakan kepada semua orang bahwa kamu memang benar bukan orang jawa asli, tapi katakan pula kepada mereka bahwa bila ada musuh yang akan menyerang orang jawa, kamu akan berada di baris terdepan untuk berperang menghancurkan musuh itu, itulah yang dikatakan oleh Ayahku”, berkata Adityawarman.

    “Bagaimana denganmu, wahai Gajahmada ?”, bertanya Raja Jayanagara kepada Gajahmada.

    “Hamba sudah menjadi terbiasa dengan setiap orang yang baru mengenal hamba, pasti akan menatap hamba sebagai orang asing. Hamba tidak merasa risih dengan cara pandang mereka, yang hamba ingat perkataan pengasuh hamba, Pendeta Gumakara dari Tanah Tibet yang mengatakan bahwa derajat manusia tidak dilihat dari asal usulnya, tapi dari bhaktinya untuk hidup dan kehidupan ini”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Terima kasih, hari ini aku dapat pelajaran mahal dari kalian berdua.
    Dalam kesempatan itu, Gajahmada juga bercerita tentang kematian Mahapatih Dyah Halayuda kepada Raja Jayanagara dan Adityawarman.

    “Orang itu nampaknya telah menemui karmanya sendiri, seekor celeng juga punya hutang dendam kepadanya”, berkata Adityawarman setelah mendengar penuturan Gajahmada tentang kematian Mahapatih Dyah Halayuda itu.

    “Ternyata kalian sudah lama mengetahui kebusukan Mahapatih itu”, berkata Raja Jayanagara.

    “Sejak peristiwa peracunan ayahku di hutan kemiri, beruntung masih dapat disembuhkan oleh Ki Gede Bajra Seta”, berkata Adityawarman kepada Raja Jayanagara.

    “Penyingkiran Patih Mahesa Amping dan Empu Nambi ternyata mereka yang mendalanginya”, berkata Raja jayanagara.

    “Sudah begitu lama kami membayangi mereka”, berkata Gajahmada kepada Raja Jayanagara.

    • Rontal bada maghrib

      • Suwun Ki Dalang, semakin sulit menebak alur ki Dalang. Kelihatannya nanti malam akan banjir ronta. Tidur dulu ah.

    • tabik

  27. “Hari ini aku menjadi seorang Raja yang terbuang”, berkata Raja jayanagara.

    “Ada banyak orang yang masih setia disekeliling tuanku”, berkata Gajahmada memberikan harapan kepada Raja Jayanagara.

    “Aku sepupumu, akan selalu berada bersamamu, wahai saudaraku”, berkata Adityawarman ikut menghibur.

    “Apa yang dapat kukatakan kepada ayahanku sendiri, bila saja aku tidak dapat merebut singgasana yang dititipkannya kepadaku ini”, berkata Raja Jayanagara.

    “Raja Erlangga menjadi matang di pengasingannya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya juga berharap yang sama untuk diri tuanku”, berkata Gajahmada.

    “Dirimu sangat mengenal babad-babad sejarah leluhur kami, dirimu juga lebih mengenal ayahandaku sendiri ketimbang diriku”, berkata Raja Jayanagara yang merasa iri dengan kedekatan ayahandanya itu dengan Gajahmada.

    “ Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah menitipkan putra-putrinya kepada hamba, menitipkan keris Nagasasra untuk hamba jaga dan diberikan kepada pewarisnya”, berkata Gajahmada kepada Raja Jayanagara.

    “Keris Nagasasra adalah wahyu keraton, apakah itu berarti bahwa ayahandaku telah mempercayai dirimu mewarisi kerajaan ini ditanganmu ?”, berkata Raja Jayanagara dengan suara penuh keraguan.

    Mendengar perkataan Raja Jayanagara terlihat Gajahmada tersenyum lebar.

    “Wahai sahabatku Raja Jayanagara”, berkata Gajahmada membahasakan dirinya sebagai sahabat lama, tidak lagi sebagai hamba. “Ayahandamu telah mempercayaiku sebagaimana dirinya mempercayai Patih Mahesa Amping dan Empu Nambi. Dan aku tidak akan menciderai kepercayaan ayahandamu itu, akan menjaga kerajaan Majapahit sepanjang usiaku, mendampingi putra-putrinya”, berkata Gajahmada kepada Raja Jayanagara.

    “Bagus, aku percaya padamu, kamu adalah sahabatku yang pernah hilang. Mulai hari ini aku akan mengangkat saudara kepadamu”, berkata Raja Jayanagara penuh kesungguhan hati

    “Bagaimana dengan diriku ini, wahai sepupuku ?”, berkata Adityawarman menggoda.

    “Apakah aku harus mengangkat saudara kepadamu ?”, berkata Raja Jayanagara.

    “Betul, betul, betul, hari ini kita bertambah seorang saudara”, berkata Adityawarman.

    “Tiga orang saudara yang sama-sama berdarah campuran”, berkata Raja jayanagara tertawa lepas.

    Demikianlah, ketiga anak muda itu sejenak telah melupakan rasa dingin ditempat terbuka dipinggir sungai itu, melupakan batas derajat mereka, antara seorang Raja, sepupu dan seorang manusia biasa.

    • Tiga serangkai

    • Lanjut Ki Dalang, tidak lupa matur suwun.

    • Betul….
      Tak lupa…..

      Kaaammssiiiiiaaaaaaa………………….!!!!

  28. Dibawah cahaya rembulan, dalam hembusan angin malam yang dingin serta suara deru arus sungai telah mengantar istirahat malam ketiga anak muda itu.

    “Aku akan menjagamu, wahai putra Sanggrama Wijaya”, berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang Raja Jayanagara yang terlihat sudah tertidur sangat pulas sekali, begitu damai wajah tidurnya itu dengan nafas yang terdengar begitu halus.

    Dan akhirnya pagipun datang menjelang, ditandai dengan warna udara yang bening, cahaya matahari yang hangat dan kicau burung-burung kecil warna-warni yang riang beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya.

    Terlihat Gajahmada, Adityawarman dan Raja Jayanagara menyegarkan diri mereka berendam di sungai yang sangat jernih itu.

    “Mudah-mudahan kita dapat menemui jalur menuju arah Kabuyutan Bebander”, berkata Gajahmada kepada kedua sahabatnya itu ketika tengah bersiap untuk melanjutkan perjalanan mereka.

    Demikianlah, ketiga anak muda itu sudah melangkahkan kakinya menjauhi pinggir sungai tempat mereka bermalam. Hingga akhirnya disuatu tempat ketiganya telah menemukan sebuah jalan utama yang biasa digunakan oleh para pedagang untuk menuju Kabuyutan Bebander.

    “Mari kita menghangatkan diri di pagi ini”, berkata Adityawarman mengajak mereka untuk berlari.

    “Saudaraku itu nampaknya tengah menguji kemampuan kita”, berkata Raja Jayanagara kepada Gajahmada sambil langsung mengejar Adityawarman yang sudah mendahului mereka.

    Demikianlah, ketiganya terlihat seperti tiga ekor burung camar yang melesat di padang belantara luas, begitu riang dan saling mendahului.
    Diam-diam Adityawarman dan Raja Jayanagara mengakui keunggulan Gajahmada yang nampaknya telah begitu sempurna penguasaan ilmu meringankan tubuhnya. Mereka melihat Gajahmada melangkah seperti berjalan biasa, namun dengan mengerahkan kekuatan yang penuh tetap saja mereka berdua tidak mampu melewati Gajahmada didepan mereka.

    Hingga ketika mereka menemui beberapa ladang jagung yang baru tumbuh, terlihat ketiganya sudah berjalan biasa.

    “Masih ada tiga Padukuhan lagi yang harus kalian lewati”, berkata seorang petani yang ditanya oleh Gajahmada tentang arah menuju rumah Ki Buyut Bebander.

    Demikianlah, ketiganya terlihat berjalan menyusuri arah jalan yang ditunjuk oleh petani tadi, melewati sawah ladang, bulakan panjang, kerimbunan hutan bamboo dan melewati tiga Padukuhan yang masih begitu sepi, dipenuhi beberapa rumah yang sangat begitu sederhana dengan jarak berjauhan antara satu rumah dengan rumah lainnya.

    “Kitalah tamu agung yang mereka tunggu”, berkata Gajahmada sambil menunjuk kesebuah tempat.

    • Suwun Ki Dalang

  29. mantep ki… suwun

  30. Matur suwun ki . Monggo dilanjut wedaran rontalipun.

    • Kamsia pak Dalang

      • Semalam cantrik terjebak makcet
        saat akan sambang padepokan

  31. Gajahmada menunjuk kearah beberapa barak darurat yang ditengahnya berdiri sebuah rumah panggung yang cukup besar.

    Ternyata barak-barak darurat itu dibuat oleh para pasukan gabungan yang tiba sehari sebalum kehadiran mereka bertiga. Sementara rumah panggung yang cukup besar itu adalah rumah milik Ki BuyutBebander.
    Kedatangan Gajahmada, Adityawarman dan Raja Jayanagara di kabuyutan Bebander disambut dengan rasa suka cita. Terutama Tumenggung Mahesa Semu dan Nyi Nariratih.

    “Sungguh para dewa hari ini telah memberi kemuliaan kepada orang-orang Bebander, mengantar putra Raja Sanggrama Wijaya menginjak tanah kami”, berkata Ki Buyut Bebander penuh kebanggaan hati telah diperkenalkan kepada Raja Jayanagara.

    “Atas nama Raja Majapahit, aku menghaturkan banyak terima kasih. Penerimaan warga Kabuyutan Bebander adalah karya bhakti titian sejarah Kerajaan Majapahit ini yang akan menjadi cerita anugerah di masa-masa yang akan datang. Semoga keberkahan selalu tumbuh di atas tanah subur ini”, berkata Raja Jayanagara kepada Ki Buyut Bebander.

    “Sabda seorang Raja adalah sabda para dewa, anugerah seorang Raja adalah anugerah para dewa”, berkata Ki Buyut Bebander.

    Demikianlah, dipanggung pendapa rumah Ki Buyut telah berubah menjadi sebuah perjamuan besar, berduyun-duyun para warga membawa antaran hidangan untuk para pasukan gabungan, Raja Majapahit dan orang-orang yang selalu setia bersamanya.

    Dan panggung latar bumipun seiring waktu silih berganti.

    Terlihat layar langit senja yang teduh memayungi wajah bumi Kabuyutan Bebander.

    “Terima kasih tak terhingga kuucapkan kepada seluruh pasukan gabungan yang telah membawa aku dan para pejabat istana di Kabuyutan Bebander ini. Berkat kalian nafas kehidupan panji kepemimpinan kekuasaan yang syah masih tetap hidup. Atas restuku, aku mempercayakan sepenuhnya kepada Paman Tumenggung Mahesa Semu untuk menjadi senapati di tanah pengasingan ini, menyiapkan sebuah gerakan merebut kembali istana dan Kotaraja Majapahit dari pihak musuh”, berkata Raja Jayanagara di hadapan semua orang yang duduk diatas panggung pendapa rumah kediaman Ki Buyut Bebander.

    “Terima kasih atas restu dan kepercayaan tuanku Baginda”, berkata Tumenggung Mahesa semu penuh penghormatan di hadapan Raja Jayanagara.

    Para pejabat utama istana dan Tumenggung Jala Yudha terlihat sangat setuju dengan pilihan Raja Jayanagara, menjadikan Tumenggung Mahesa Semu sebagai senapati perang kerajaan di tanah pengasingan. Dan dalam hati mereka terbit rasa terima kasih dan penghargaan atas kecepatan Tumenggung Mahesa Semu yang menggerakkan pasukan gabungannya hingga dapat menyelamatkan jiwa mereka dari pihak musuh.

    • Suwun, lanjut Ki Dalang.

      • lanjut ki Dalang suwun.

        • suwun di lanjut Dalang

          • Ki Dhalang suwun dilanjut

  32. Dan pagi itu diujung barat gerbang gapura Kotaraja, terlihat lima orang pedagang anyaman tikar terlihat tengah memanggul barang mereka. Langkah kaki mereka nampaknya seperti kebanyakan orang pedusunan yang sudah terbiasa menempuh perjalanan yang cukup jauh.

    Nampaknya para pedagang anyaman tikar itu tidak mengetahui tentang suasana Kotaraja Majapahit saat itu, mereka seperti tidak memperdulikan hampir disetiap sudut jalan utama Kotaraja Majapahit ditempatkan beberapa prajurit yang siap siaga penuh, menghentikan siapapun orang yang dirasa perlu mendapat perhatian dan mencurigakan.

    Namun kelima pedagang anyaman tikar itu nampaknya telah luput dari kecurigaan para prajurit yang tengah berjaga-jaga di hampir setiap sudut kotaraja Majapahit itu, tidak seorangpun prajurit yang mencegat atau menghentikan mereka.

    Suasana Kotaraja setelah dikuasai oleh para pengikut Ra Kuti memang tidak seramai hari-hari sebelumnya, banyak para pedagang yang sudah terlanjur sandar di pelabuhan Tanah Ujung Galuh mengundurkan niatnya memasuki Kotaraja Majapahit. Sementara beberapa pedagang yang sudah terlanjur berada di Kotaraja
    Majapahit berangsur-angsur pergi menjauhinya, mencari tempat yang aman keluar dari Kotaraja Majapahit. Sementara para warga sebagian besar tidak berani keluar rumah, namun satu dua orang yang mungkin karena kepentingan yang amat sangat terpaksa keluar rumah.

    Jalan-jalan utama menuju arah pasar Kotaraja Majapahit terlihat menjadi begitu lengang dan sepi, hanya para prajurit saja yang kadang terlihat berjalan berkeliling dengan berjalan kaki, atau berkuda di sepanjang jalan utama Kotaraja Majapahit itu.

    Sementara langkah kaki kelima pedagang anyaman tikar itu telah mendekati pasar Kotaraja Majapahit.

    “Naluri kelima pedagang itu sungguh sangat peka, kotaraja ini memang masih perlu tikar yang cukup untuk membungkus mayat”, berkata seorang prajurit di sudut kota berceloteh tentang kelima pedagang anyaman tikar yang tengah lewat kepada kawan-kawannya.

    Entah mendengar atau pura-pura tidak mendengar, kelima pedagang anyaman tikar itu tetap saja melangkah menuju arah pasar Kotaraja Majapahit.

    Hingga ketika kelima orang pedagang anyaman tikar itu sampai di pasar Kotaraja Majapahit, suasana tidak terlihat seperti hari-hari pasaran sebelumnya yang selalu ramai dengan para pedagang dan pengunjung. Hanya beberapa kedai saja yang tetap buka, itupun karena mereka memang tinggal dan hidup sepanjang hari di dalam kedai itu.

    Terlihat kelima pedagang anyaman tikar itu tengah mendekati sebuah kedai yang ada di pasar Kotaraja Majapahit.

    Ketika tiba di muka kedai, mereka bersama menyusun tikar-tikar yang mereka bawa di pinggir pagar dinding kedai dan langsung memasuki kedai itu bersama.

    “Naga muda mencari jalan pulang”, berkata seorang lelaki pemilik kedai sambil tersenyum.

    • Naga tua berlari di atas awan.

  33. Siapakah sebenarnya kelima pedagang anyaman tikar itu ?
    Ternyata mereka dari Kabuyutan Bebander yang ditugaskan untuk mengamati keadaan disekitar Kotaraja Majapahit.

    Sementara orang paling muda diantara pedagang tikar itu adalah Gajahmada, sang pemimpin pasukan Bhayangkara.

    “Hari ini pelangganmu sepi sekali, wahai Ki Bancak”, berkata Gajahmada kepada pemilik kedai itu yang ternyata adalah Ki Bancak.

    “Hari ini aku hanya menunggu lima orang pedagang tikar”, berkata Ki Bancak masih dengan senyumnya.”Silahkan duduk, aku akan mengambil minuman untuk kalian”, berkata kembali Ki Bancak sambil masuk kedalam.

    Maka tidak lama berselang Ki bancak sudah terlihat kembali dengan membawa kendi berisi air putih dan lima buah cangkir untuk kelima pedagang tikar samaran itu.

    “Bagaimana kabar sang Naga di persembunyiannya ?”, berkata Ki Bancak sambil ikut duduk bergabung

    “Tengah mencari saat yang paling tepat, merebut kembali sarangnya”, berkata Gajahmada kepada Ki Bancak.

    “Mudah-mudahan mataku masih dapat diandalkan, ada sepuluh kepala di tujuh perempat jalan, seratus kepala menyebar mengawasi keadaan. Seratus kepala berkaki kuda tiap sepinangan sirih terus berputar”, berkata Ki Bancak dengan kata-kata sandi yang hanya dimengerti oleh mereka bersama.

    “Ternyata mata tuamu masih mampu berhitung dengan tepat, kami disepanjang jalan juga berhitung, hanya tidak menemui seratus kepala berkaki kuda”, berkata Gajahmada kepada Ki Bancak.

    “terima kasih, itu artinya mata tuaku masih dapat diandalkan”, berkata Ki Bancak sambil melepas senyumnya memperlihatkan gigi putihnya yang terlihat masih kuat dan utuh.

    “Kutinggalkan keempat kawanku ini di kedaimu, sementara aku harus segera ke Tanah Ujung Galuh”, berkata Gajahmada kepada Ki Bancak.

    “Kebetulan sekali, ikan gurame bakar di kedai ini memang hanya tinggal lima ekor”, berkata Ki Bancak sambil melepas senyumnya kembali.

    Demikianlah, tidak lama berselang Gajahmada memang terlihat keluar dari kedai itu. Tentunya dengan hanya memakai pakaian lusuh seorang pedagang anyaman tikar dari sebuah dusun yang sangat terpencil serta sebuah caping bambu yang telah kusam membuat dirinya tidak mudah lagi dikenali oleh siapapun.

    Tapi tidak bagi seorang tukang rakit di sungai Kalimas yang menyeberanginya.

    “Tuan…?”, berkata ragu-ragu seorang tukang rakit sambil menatap wajah Gajahmada dibalik capingnya.

    • Sambil nonton barca vs juve

    • Top markotop….

  34. siiiip

    • piiiis

  35. Tersenyum Gajahmada melihat wajah tukang Rakit itu yang nampaknya sudah dapat mengenalnya, henya heran dengan pakaian yang dikenakannya saat itu.

    “Kubayar dengan empat kali lipat ongkos penyeberangannya, namun dengan satu syarat untuk tidak bercerita kepada siapapun bahwa kamu melihatku ada disini hari ini”, berkata Gajahmada kepada tukang rakit itu.

    “kapan kamu akan mengenakan kembali pakaian seperti ini ?”, bertanya tukang rakit itu kepada Gajahmada ketika mereka telah tiba di seberang Tanah Ujung Galuh.

    “Apa maksudmu bertanya tentang pakaianku ini ?”, balik bertanya Gajahmada.

    “Agar aku dapat bercerita kepada istriku, kapan aku dapat upah empat kali lipat darimu”, berkata tukang rakit itu penuh senyum gembira.

    Gajahmada memang punya banyak kawan dari berbagai jenjang usia, kedudukan dan martabat apapun termasuk tukang rakit di sungai Kalimas itu.

    Terlihat keduanya saling melambaikan tangannya manakala Gajahmada telah berjalan menjauhi dermaga tepian sungai kalmias itu.

    Arah langkah kaki Gajahmada nampaknya tengah menuju arah Benteng prajurit di Tanah Ujung Galuh.

    Pada hari-hari biasa, gerbang benteng prajurit itu selalu terbuka, karena selain sebagai tempat kekuatan laskar Majapahit mengamankan seluruh perdagangan lautnya dibenteng itu juga berdiri Bale tamu, sebuah tempat untuk menerima para perwakilan utusan perdagangan dari kerajaan lain. Namun pada hari itu pintu gerbang benteng tertutup rapat.

    “Nampaknya mereka sangat berhati-hati, tidak ingin mendapat serangan dadakan dari arah Kotaraja Majapahit”, berkata Gajahmada dalam hati.

    Akhirnya Gajahmada telah berada di muka pintu gerbang benteng Tanah Ujung Galuh itu.

    “Ada apa gerangan kamu datang ke benteng ini ?”, bertanya seorang prajurit yang melihatnya dari arah atas panggungan.

    Gajahmada tersenyum dalam hati, pasti karena pakaian dan capingku ini yang membuat dirinya tidak mengenaliku”, berkata Gajahmada dalam hati menganggkat wajahnya sedikit agar dikenali oleh prajurit itu. Namun tetap saja prajurit itu masih juga belum berubah raut wajahnya, masih memandangnya dengan pandangan sebagai orang asing.

    “Aku, Ki Lurah Sinakeling”, berkata Gajahmada sambil melepas caping bambunya yang lebar menutupi bagian wajahnya.

    “Sebentar kubukakan sendiri pintu gerbangnya”, berkata prajurit itu yang nampaknya telah mengenal wajah Gajahmada, seorang yang sudah banyak dikenal oleh para prajurit di benteng Tanah Ujung Galuh itu.

  36. Gajahmada tersenyum memandang sebuah kepala yang keluar dari pintu gerbang yang telah terbuka sedikit.

    “Lekaslah masuk”, berkata prajurit itu.

    Maka terlihat Gajahmada segera masuk kedalam benteng itu.
    “pakaian dan caping tuan benar-benar seperti orang dusun sungguhan”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada setelah menutup kembali pintu gerbang rapat-rapat.

    “Aku harus berpakaian seperti ini untuk masuk ke Kotaraja Majapahit”, berkata Gajahmada menjelaskan tentang pakaian dan caping yang dikenakannya itu.

    “Nampaknya ada sesuatu hal yang amat penting sehingga tuan harus datang di benteng Tanah Ujung Galuh ini”, bertanya prajurit itu kepada Gajahmada.

    “Siapa yang berwenang penuh dari kelima Rangga di benteng Tanah Ujung Galuh ini”, balik bertanya Gajahmada kepada Ki Lurah Sanakeling.

    “Sejak hilangnya Tumenggung Jala Yudha dalam peristiwa di Kotaraja Majapahit, kami di Benteng Tanah Ujung Galuh belum memutuskan siapa pemegang kendali dan pucuk pimpinan. Namun tadi malam alur perintah sandi kami terima dari Ki Rangga Pitu Jegong”, berkata Ki Lurah Sanakeling.

    “Bila demikian, antarkan aku untuk menemuinya. Ada sesuatu hal yang amat sangat penting yang akan kusampaikan kepadanya”, berkata Gajahmada.

    “Aku sendiri yang akan mengantar tuan”, berkata Ki Lurah Sanakaling.

    Terlihat Ki Lurah Sanakeling memanggil dua orang prajurit yang berada di pos penjagaan. Nampaknya Ki Lurah Sanakeling memberi perintah kepada dua orang prajurit itu untuk menggantikan dirinya bertugas di panggungan memantau keadaan di luar benteng.

    “Mari ikut bersamaku”, berkata Ki Lurah Sanakeling kepada Gajahmada.

    Terlihat Gajahmada telah berjalan bersama Ki Lurah Sanakeling menuju arah tempat kerja Ki Rangga Pitu Jegong.

    “Ki Rangga Jegong Pitu, aku membawa seorang penyusup nakal yang mencoba masuk ke benteng kita”, berkata Ki Lurah Sanakeling kepada Ki rangga Pitu Jegong.

    “Bagaimana caranya aku dapat menghukum seorang tuan penguasa puri pasnggrahan Tanah Ujung Galuh yang indah itu, seorang pemimpin pasukan Bhayangkara yang berislmu sangat tinggi itu”, berkata Ki Rangga Pitu Jegong sambil tersenyum memandang Gajahmada.

    “Aku sengaja datang ke Benteng ini untuk menyampaikan sebuah pesan singkat dari pemilik keris ini”, berkata Gajahmada sambil memperlihatkan sebuah keris berkepala gurita laut.

  37. Bukan main terkejutnya Ki Rangga Pitu dan Ki Lurah Sanakeling dengan mata yang terus terbuka menatap keris ditangan Gajahmada itu.

    “Apakah tuan Tumenggung Jala Yudha masih hidup ?, dimana beliau saat ini ?, bagaimana pula dengan putrinya ?”, bertanya Ki Rangga Pitu Jegong beruntun.

    “Tumenggung Jala Yudha masih hidup, sehat, begitu pula dengan putrid kecilnya. Namun sampai saat ini aku belum dapat menyampaikan dimana keberadaannya”, berkata Gajahmada menjawab pertanyaan beruntun dari KiRangga Pitu Jegong itu.

    “Aku dapat mengerti mengapa kamu belum dapat menyampaikan keberadaannya, karena kamu belum dapat menilai dimana keberpihakan kami saat ini menghadapi suasana kekisruhan yang terjadi di istana dan Kotaraja Majapahit. Aku akan memanggil keempat pejabat Rangga di benteng ini, agar sama-sama mendengar apa pesan dan amanat dari Tumenggung Jala Yudha kepada kami”, berkata Ki Rangga Pitu Jegong kepada Gajahmada.

    “Terima kasih atas pengertian Ki Rangga Pitu Jegong untuk hal yang satu itu”, berkata Gajahamada.

    Terlihat Ki Rangga Pitu Jegong meminta batuan Ki Lurah Sanakeling untuk memanggil keempat pejabat Rangga lainnya.
    “Aku akan segera menemui mereka”, berkata Ki Lurah Sanakeling sambil langsung berbalik badan keluar dari ruang kerja Ki Rangga Pitu Jegong.

    Selama tidak ada lagi Ki Lurah Sanakeling, keduanya hanya berbicara ha-hal yang biasa dan ringan sebagai pengisi waktu sambil menunggu kedatangan keempat pejabat Rangga.

    Dan akhirnya Ki Lurah Sanakeling datang kembali, tentunya bersama keempat pejabat Rangga di benteng Tanah Ujung Galuh itu.
    Mereka adalah Ki Rangga Siji Kepeng, Ki Rangga Lara Manuk, Ki Rangga Lor Anabrang dan Ki Rangga Pangkalima, terlihat wajah mereka begitu tegang, mungkin karena Ki Lurah Sanakeling telah menyampaikan ada pesan dan amanat dari Tumenggung Jala Yudha untuk mereka.

    “Maaf Ki Rangga Pitu Jegong, apakah aku masih diperlukan hadiri diruangan ini ?’, bertanya Ki Lurah Sanakelaing kepada Ki Rangga Pitu Jegong merasa kurang enak hati melihat kepangkatan prajuritnya mungkin tidak berkenan ikut mendengar berita penting itu.

    “Tidak masalah Ki Lurah, tetaplah kamu disini”, berkata Ki Rangga Pitu Jegong dengan suara sangat lembut perlahankepada Ki Lurah Sanakeling mengerti perasaan yang membebani diri Ki Lurah itu.

    Ternyata suara Ki Rangga Pitu Jegong sebagai pembatas terakhir, setelah itu suasana terlihat begitu mencekam, begitu tegang, begitu sunyi dan senyap. Semua mata tertuju kearah Gajahmada yang masih diam mematung.

    Semua mata seperti tersirep, mengikuti arah gerak tangan Gajahmada.

  38. Semua mata masih tersirep, mengikuti gerak tangan Gajahmada yang terlihat meraba sesuatu dari balik pakaiannya yang lusuh itu.
    “Keris pusaka Ki Bajrongan !!”, serentak suara berdesis keluar dari mulut Ki Rangga Siji Kepeng, Ki Rangga Lara Manuk, Ki Rangga Lor Anabrang dan Ki Rangga Pangkalima.

    “kalian pasti sudah mengenal siapa pemilik keris pusaka ini”, berkata Gajahmada sambil memandang wajah kelima pejabat Rangga di benteng Tanah Ujung Galuh itu satu persatu.”Pemilik keris ini ingin menyampaikan sebuah pesan melalui diriku bahwa dirinya saat ini masih hidup, pemilik keris ini ingin menyampaikan sebuah pesan melalui diriku bahwa dirinya saat ini masih sebagai seorang pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Jala Yudha, pemilik keris ini ingin menyampaikan sebuah pesan melalui diriku bahwa dirinya tetap setia kepada penguasa yang syah, putra Raja Sanggrama Wijaya, Raja Jayanagara”, berdiam diri sejenak Gajahmada sambil mengamati satu persatu wajah kelima pejabat Rangga di benteng Tanah Ujung Galuh itu. “pemilik keris ini ingin menyampaikan sebuah pesan melalui diriku bahwa siapapun yang berpihak lain darinya adalah musuhnya”, berkata kembali Gajahmada masih tetap dengan pandangan yang mengikat semua orang yang ada di ruang kerja Ki Rangga Pitu Jegong itu, seperti ingin membaca isi hati mereka.

    Perkataan Gajahmada seperti batas awal kesenyapan di ruangan itu, tidak ada satupun suara. Semua mata masih tertuju kearah

    Gajahmada, seperti masih menunggu pesan dan amanat pemimpin mereka itu lewat anak muda itu.

    Akhirnya penantian mereka pecah juga, Gajahmada terdengar kembali membuka suara.

    “Pemilik keris ini telah berpesan pula kepadaku, bahwa sejak hari ini segala perintah dan kendali kesatuan pasukan Jala Yudha berada di dalam pimpinanku”, berkata Gajahmada sambil menilik sikap setiap orang satu persatu kelima pejabat Rangga itu, lewat raut warna wajah mereka.

    Suasana kembali sepi mencekam.

    “Bagaimana kami dapat meyakini bahwa Tumenggung Jala Yudha masih hidup, bagaimana kami dapat meyakini bahwa pesan Tumenggung Jala Yudha itu benar adanya”, berkata Ki Rangga Pangkalima memecahkan suasana sepi dan mencekam itu.

    Sebagaimana diketahui, Ki Rangga Pangkalima adalah seorang yang sangat teliti, biasa berbicara apa adanya tanpa perasaan sungkan, apa yang ada dalam pikirannya akan diucapkan langsung tanpa pandang bulu.

    Mendengar ucapan Ki Rangga Pangkalima tidak membuat seorang Gajahmada tersinggung, memaklumi dan menghargai sikap manusia yang memang tidak sama satu dengan yang lainnya.

    “Aku akan membawa Ki Lurah Sanakeling untuk bertemu langsung dengan pimpinanmu itu”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

    “Sebuah cara yang sangat cerdas”, berkata Ki rangga Pitu Jegong menyetujui usulan Gajahmada.

    • Kamsia pak Dalang

      • cerdas cerdik cermat….3c

  39. Ucapan Ki Rangga Pitu Jegong memang berhasil mengurangi ketegangan yang sempat muncul dalam pertemuan itu.

    “Aku setuju”, berkata Ki Rangga Siji Kepeng.

    “Aku sangat setuju sekali”, berkata Ki Rangga Lara Manuk

    “Aku sangat-sangat setuju”, berkata Ki Rangga Lor Anabrang

    “Sebuah usulan yang sangat cerdas, aku percaya kepada Ki Lurah Sanakeling menjadi kepanjangan mataku”, berkata Ki Rangga Pangkalima.

    “Baiklah, aku akan membawa Ki Lurah Sanakeling untuk wakil kepanjangan mata kalian”, berkata Gajahmada kepada kelima orang kepercayaan Tumenggung Jala Yudha di Benteng Tanah Ujung Galuh itu.

    Demikianlah, pada hari itu juga terlihat Gajahmada dan Ki Lurah Sanakeling telah keluar dari pintu gerbang benteng Tanah Ujung Galuh, tentunya setelah Ki Lurah Sanakeling berganti pakaian sebagaimana yang dikenakan oleh Gajahmada, selembar pakaian lusuh dan sebuah caping lebar.

    “Apakah hari ini aku akan mendapatkan tambahan delapan kali dari pembayaran biasa ?”, bertanya seorang tukang rakit yang tengah menyeberangkan Gajahmada dan Ki Lurah Sanakeling.
    “Mengapa kamu berkata seperti itu ?”, bertanya Gajahmada kepada tukang rakit itu.

    “Karena hari ini aku melihat ada penumpangku dengan dua caping yang sama”, berkata tukang rakit sambil tersenyum.

    Namun ketika tiba diseberang, tukang rakit itu menolak pembayaran dari Gajahmada.

    “Pembayaran sebelumnya sudah sangat besar sekali, jangan dianggap perkataanku tadi”, berkata tukang rakit itu kepada Gajahmada.

    Demikianlah, tukang rakit itu terlihat melambaikan tangannya kepada Gajahmada yang telah berjalan menjauhi tepian Sungai Kalimas itu bersama Ki Lurah Sanakeling.

    Ketika mereka tiba di pasar Kotaraja Majapahit, suasana tidak ada yang banyak berubah, suasana masih tidak lebih ramai dari tadi pagi.
    Terlihat keduanya telah mendekati kedai Ki Bancak.

    Ternyata di alam kedai Ki Bancak, empat orang kawannya yang menyemar sebagai para pedagang tikar itu masih menunggu, tentunya bersama Ki Bancak yang selalu setia menemani mereka.

    Kepada mereka semua, Gajahmada memperkenalkan Ki Lurah Sanakeling serta bercerita banyak tentang pertemuan dirinya dengan para wakil pimpinan di benteng Tanah Ujung Galuh.

    “Aku perlu salah satu dari kalian mengantar Ki Lurah”, berkata Gajahmada.

    • satu lagi….Cempurna pak Dalang

      • Sekali lagi cantrik ucapkan KAMSIA

        • satu lagi, kayaknya udah pas untuk kunci masuk ke gandok 13

          mari kita bertanya kepada pak satpam, atau kepada rumput yang bergoyang, hehehe

          • Sekali rontal lagi, asyik……

          • mas Satpam….hayoo
            kemanakah mlam ini.
            berburu di hutan msuk
            pedalaman atokah ada
            tugas dari ki Senopati.

            pak Dalang mohon penjelasan…1 rontal
            lagi apa bisa membuka
            ganduk anyar…!!??

          • Satpam mulai pagi ngawal Kiai dan Nyaine ke berbagai undangan. Begitu sampai rumah coba dibendel, terakhir menurut satpam masih kurang sekitar 8 rontal.

          • Hiks….yg datang penguasa padepokan pdls, mblayuuu

            sambil singidan cantrik msih sempat melontarkan ajian suara tanpa rupa

            “pak Dalang mas Satpam
            ketiduran…mohon sabar
            ajian gelontor rontal di
            tahan dlu…duluuuuu”

  40. pak satpam betul, yang belum dibendel ada 8 rontal, jadi tetep perlu 1 rontal untuk buka gandok anyer, bukan begitu Ki GUNDULL

  41. Jebret……jebret……jebret……
    rontal PKPM-12 sudah dijebret

    sedang belim uba rampe untuk buka gandok baru PKPM-13
    muhun bersabar….

    • Dag..dog…dag…dog…dag….dog….
      sret esret ….sret …esret….

      Jadilah gandok PKPM-13

      Monggo…, gandok baru sudah bisa ditempati untuk bercengkerama.

  42. Salah seorang dari keempat kawan Gajahmada menawarkan dirinya.

    “Biar aku saja yang mengantar Ki Lurah Sanakeling”, berkata orang itu.

    salah kamar, dihapus
    Pak Dhalangnya sudah pindah gandok 13

    • haduh…salah masuk gandhok, gimana ini mas satpam ??

      • ha ha ha ….

        Pak Dhalangnya salah kamar
        ya tinggal pindah kamarsaja to

  43. selamat pagi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: