PKPM-13

<< kembali | lanjut >>

PKPM-13

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 7 Juni 2015 at 23:09  Comments (332)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

332 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ternyata ibunda Ratu Gayatri tidak salah memilih Gajahmada sebagai patih di kerajaan kahuripan. Anak muda itu ternyata punya bakat seorang pemimpim yang cakap, dalam waktu yang amat singkat telah mampu merangkul seluruh pejabat istana Kahuripan. Nampaknya kerendahan hati dan kesederhanaannya telah mencuri hati seluruh warga istana Kahuripan, mulai dari para pejabat tinggi istana hingga para pekatik, semua menyukai dan menyenanginya.

    Patih Gajahmada, sebuah nama yang telah melekat di diri anak muda itu sejak berada di kerajaan kahuripan.

    Ibunda Ratu Gayatri merasa gembira melihat bagaimana cara Patih Gajahmada membangun sebuah pasukan yang kuat dan tangguh di kerajaan Kahuripan. Ternyata Patih Gajahmada tidak menambah jumlah pasukan yang sudah ada, melainkan meningkatkan tataran yang dimiliki oleh setiap prajuritnya. Dan Patih Gajahmada memulainya dari sepuluh orang prajurit perwira dari kesatuan masing-masing.

    “Lepaskan pedang kalian, aku akan menghadapi kalian seorang diri”, berkata Patih Gajahmada kepada sepuluh perwira tinggi disebuah sanggar tertutup di istana kahuripan.

    Mendengar tantangan Patih Gajahmada, kesepuluh orang prajurit perwira itu sudah langsung meloloskan pedangnya dan mengepung Patih Gajahmada yang telah berdiri tegak penuh percaya diri yang amat tinggi.

    Kesepuluh prajurit perwira itu adalah orang-orang terbaik di kesatuan masing-masing. Nampaknya tantangan Patih Gajahmada telah memberi kesempatan kepada mereka untuk mengukur sejauh mana tingkat kemampuan anak muda itu.

    Maka tanpa ragu-ragu lagi para prajurit perwira itu sudah langsung menyerang Patih Gajahmada.

    Bukan main terkesimanya wajah para prajurit perwira itu, karena tiada satupun serangan mereka yang dapat melukai tubuh Patih
    Gajahmada yang bertangan kosong itu menghadapi mereka. Mereka melihat Patih Gajahmada begitu gesit bergerak dan selalu dapat meloloskan dirinya dari setiap kepungan mereka.

    Ternyata dalam gerakan selanjutnya, Patih Gajahmada sudah tidak sekedar berkelit menghindari serangan mereka, Patih Gajahmada sudah mulai melakukan serangan balasan. Satu dua orang terlihat telah terkena tendangan dan tinju Patih Gajahmada yang langsung terlempar keluar dari arena pertempuran. Ternyata Patih Gajahmada hanya mengeluarkan sedikit tenaga saktinya, beberapa prajurit perwira yang terlempar itu sudah langsung bangkit dan kembali bergabung menyerang anak muda itu.

    Kembali Patih Gajahmada dapat keluar dari kepungan mereka, dan kembali dua tiga orang terlempar terkena tinju dan tendangan Patih Gajahmada.

    Nampaknya para prajurit perwira itu telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun tetap saja tidak dapat melumpuhkan anak muda yang hanya bertangan kosong itu.

    Peluh terlihat mengucur deras membasahi tubuh mereka, satu dua orang tenaganya sudah mulai surut.

    • lanjut……

      he he he ……

      matursuwun Pak Lik

  2. Namun tidak setitikpun peluh terlihat di wajah Patih Gajahmada. Anak muda itu terlihat masih segar bugar, masih gesit berkelit kesana kemari dengan sangat lincahnya bergerak menghindarkan diri dari serangan pedang-pedang tajam mereka.

    Hingga dalam sebuah sergapan bersama, sepuluh pedang tajam telanjang telah bergerak kesatu titik yang sama, tubuh Patih Gajahamda.

    Namun kesepuluh prajurit perwira itu menjadi begitu terkejut terkesima, entah dengan cara apa, gerakan Patih Gajahmada tak terbaca oleh penglihatan mata mereka, tiba-tiba saja dalam waktu bersamaan kesepuluh prajurit perwira itu merasakan pedangnya beradu dengan batu karang yang amat kuatnya menggetarkan pedang mereka, membuat rasa perih telapak tangan mereka hingga tanpa sadar terlepas begitu saja.

    Plak, plak, plok !!

    Belum reda rasa keterkejutan mereka, tiba-tiba saja sebuah tamparan tangan Gajahmada telah bersarang diwajah mereka.
    Kesepuluh prajurit perwira itu terlihat terlempar hingga lima langkah dari tempat berdirinya masing-masing, merasakan rasa perih di wajah masing-masing.

    “Kemampuan kalian sudah cukup tinggi, aku hanya sedikit menyempurnakannya, mengarahkan kalian bagaimana mengendalikan nafas kalian agar tenaga kalian tidak menjadi cepat surut dalam sebuah pertempuran”, berkata Patih Gajahmada sambil berdiri tegak dengan wajah terlihat masih tetap segar bugar seperti tidak pernah melakukan apapun.

    Demikianlah, sejak saat itu Patih Gajahmada dengan penuh kesungguhan hati telah mengembleng para prajurit perwira itu. Kesepuluh prajurit perwira seperti menemukan seorang guru yang sebenarnya.

    Para prajurit perwira itu terus berlatih dengan tekunnya, kadang Patih Gajahmada membawa mereka kealam terbuka, berlatih di tempat terbuka dalam udara pagi yang segar, berlatih di alam terbuka dalam teriknya sinar matahari yang menyengat tubuh.

    Dalam kesempatan tertentu, Patih Gajahmada juga telah menyempurnakan tataran kemampuan kanuragan mereka, melatih mereka mengenal berbagai macam jenis aneka senjata, kelemahan dan keunggulan dari berbagai jenis senjata hingga mereka sangat mahir menguasai dan menggunakan berbagai ragam jenis senjata di tangan mereka.

    Dalam kesempatan tertentu, Patih Gajahmada menempa para prajurit perwira mengenal bagaimana berperang dengan cara berkelompok, mengenal dan memahami berbagai ragam gelar peperangan.

    Tiga bulan Patih Gajahmada menempa para prajurit perwira itu, tidak terasa tataran kemampuan para prajurit perwira itu sudah melompat lima kali lipat dari kemampuan mereka semula.

  3. “kalian masih dapat terus berlatih meningkatkan kemampuan yang kalian miliki, hari ini kulepaskan kalian kembali ke kesatuan masing-masing agar dapat menularkan apa yang pernah kalian dapati di lingkunangan kalian”, berkata Patih Gajahmada disuatu hari mengakhiri masa penempaan itu.

    “terima kasih atas semua petunjuk yang tuan Patih berikan kepada kami, bila ada waktu kami masih ingin terus berada dalam bimbingan tuan Patih”, berkata salah satu prajurit perwira itu mewakili kawan-kawannya.

    “Aku akan mendatangi kesatuan kalian masing-masing, melihat dan menilai sejauh mana perkembangan kemampuan di kesatuan kalian”, berkata Patih Gajahmada kepada ke sepuluh prajurit perwira itu.

    Demikianlah, hari itu Patih Gajahmada telah melepas kesepuluh prajurit perwira itu kembali ke kesatuan masing-masing, berharap menularkan semua tempaan yang pernah mereka jalani kepada para prajurit mereka.

    Hingga sejak hari itu, Patih Gajahmada melihat kesungguhan di setiap kesatuan prajurit yang ada di kerajaan kahuripan itu meningkatkan kemampuan masing-masing.

    Dan sesuai dengan yang pernah dikatakan oleh para prajurit perwira itu, Patih Gajahmada di sela-sela tugasnya sebagai seorang patih di Kerajaan Kahuripan telah menyempatkan waktunya menyambangi kesatuan prajurit untuk melihat dan menilai perkembangan kemampuan mereka, bahkan kadang dalam sebuah kesempatan melakukan sebuah latihan gabungan yang melibatkan berbagai
    kesatuan, mengenal ragam jenis cara bertempur secara berkelompok, mengenal dan memahami berbagai jenis ragam gelar peperangan, memahami beragam siasat peperangan.

    “Ternyata aku tidak salah memilih dirimu, wahai putraku””, berkata Ibunda Ratu Gayatri kepada Gajahmada yang telah dianggap sebagai putranya sendiri manakala melihat langsung sebuah latihan gabungan para prajurit yang di lakukan ditempat terbuka, di alun-alun Kotaraja kahuripan.

    “Hamba masih perlu bimbingan Nyimas Kanjeng Ratu”, berkata Gajahmada kepada Ibunda Ratu Gayatri.

    “Ternyata suamiku Baginda raja Sanggrama Wijaya benar perkatannya tentang dirimu, kamu adalah anak muda yang sangat cakap. Pada suatu masa aku akan melepasmu, meninggalkan kerajaan kecil ini untuk melaksanakan tugas yang jauh lebih besar lagi, menjadi seorang Patih Amangkubumi di pusat kerajaan ini, di istana Kerajaan Majapahit”, berkata Ibunda Ratu Gayatri kepada Patih Gajahmada.

    “hamba masih perlu banyak bimbingan dari Nyimas Kanjeng Ratu”, berkata Patih Gajahmada dengan penuh rasa hormat kepada Ibunda Ratu Gayatri.

    “Sebagaimana suamiku, aku juga berharap yang sama. Kami berharap agar dirimu menjadi penjaga dan penuntun putra-putriku disaat mata dan langkahku sudah tidak bisa lagi mengawasi mereka”, berkata Ibunda Ratu Gayatri kepada Gajahmada.

    “harapan baginda Raja sanggrama Wijaya dan Nyimas Kanjeng Ratu adalah titah yang akan hamba jalani dengan segenap hati, jiwa dan raga hamba”, berkata Gajahmada kepada Ibunda Ratu Gayatri.

    • Terimakasih Pak Dhalang

      Rontal sudah Risang Jebret, sudah cukup untuk menutup gandok PKPM-13 dan buka gandok PKPM-14 (meskipun sebenarnya kurang “sak critan”, he he he … istilah untuk menunjukkan kurang sedikit sekali).

      PKPM-13 sudah Risang tutup dan jagongan silahkan di gandok PKPM-14.

      nuwun

      • oke mas risang, dilanjut, hehehe

        SELAMAT SAHURRRR

  4. selamat berpuasa ki dalang dan poro cantrik/mentrik…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: