PKPM-14

<< kembali | lanjut >>

PKPM-14

Iklan

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 30 Juni 2015 at 01:39  Comments (254)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-14/trackback/

RSS feed for comments on this post.

254 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tengkiu_2 Ki Dalang,ugi kagem kadang sedoyo Mhn maaf lahir dan batin.

  2. “hanya empat persyaratan itu saja, tapi kamu harus berjanji sebagaimana seorang lelaki berjanji”, berkata Kuda Jenar dengan suara penuh kesungguhan.

    Saat itu Ra Tanca memang dalam keputusasaan setelah berbagai cara pengobatan, berbagai Tabib tidak jua menyembuhkan penyakit istrinya. Sementara persyaratan yang diajukan Kuda Jenar kepadanya begitu mudah. Maka Ra Tanca tanpa bertanya lagi langsung menyetujui semua persyaratan yang diajukan oleh Kuda Jenar.

    “Besok aku akan datang membawa obat untuk penyembuhan istrimu itu”, berkata Kuda Jenar kepada Ra Tanca.

    Manakala Kuda jenar telah meninggalkan rumahnya, tinggalah Ra Tanca duduk termangu-mangu merasa ada yang aneh dalam sikap Kuda Jenar, tidak sebagaimana biasanya, sangat ramah dan santun sebagaimana sikap seorang bawahan kepada atasannya. Sementara yang ditemui hari ini adalah Kuda Jenar dengan sikap yang aneh, sangat angkuh, penuh percaya diri yang tinggi dan tidak menunjukkan sikap seorang bawahan kepada atasannya.

    “Apapun sikap anak muda itu, selama obatnya dapat menyembuhkan penyakit istriku aku tidak memperdulikannya.

    Demikianlah, keesokan harinya Kuda Jenar sesuai janjinya telah datang kembali kerumah Ra Tanca.

    “air obat ini untuk diminum oleh istrimu, sementara racikan ini untuk dibaluri keseluruh tubuhnya”, berkata Kuda Jenar sambil memberikan dua buah mangkuk kepada Ra Tanca.

    Sebagai seorang yang ahli mengenal berbagai tanaman obat, Ra Tanca dapat mengetahui bahwa dua buah mangkuk itu berasal dari satu tanaman yang sama, namun sesuai perjanjiannya Ra Tanca tidak berusaha bertanya asal dari tanaman apa gerangan dua mangkuk yang di bawa oleh Ku Jenar itu.

    Terlihat Ra Tanca telah masuk ke bilik tempat istrinya berbaring, memberi minum obat yang dibawa oleh Kuda Jenar kepada istrinya serta membaluri seluruh tubuh istrinya dengan mangkuk yang satunya lagi.

    Gembira hati Ra Tanca yang melihat istrinya langsung tidak merasakan gatal-gatal lagi hanya dalam waktu yang singkat setelah meminum ramuan obat yang diberikan oleh Kuda Jenar. Sementara bisul-bisul yang bernanah langsung mengering sehari setelah di baluri obat racikan rahasia Kuda jenar.

    Jelang tiga hari kemudian, Ra Tanca melihat keampuhan ramuan obat Kuda Jenar, melihat seluruh bisul-bisul di tubuh istrinya telah mengiring merata, hanya meninggalkan bekasan hitam.

    Sepekan kemudian, Nyi Ra Tanca sudah berani keluar rumah karena seluruh bekasan bisulnya sudah mengelupas. Nyi Ra Tanca telah sembuh seperti sedia kala.

    Gemparlah seluruh warga Kotaraja Majapahit, mereka mengagumi Ra Tanca sebagai seorang tabib sakti yang dapat mengobati penyakit aneh yang diderita oleh istrinya sendiri.

    Mendapatkan pujian itu, Ra Tanca merasa gembira dan bangga bukan kepalang.

    • dua
      Takut didahului oleh Pak Satpam, hehehe

  3. Demikianlah, sejak saat itu nama Ra Tanca lebih dikenal sebagai seorang tabib sakti, dan Ra Tanca sangat ringan tangan menolong siapapun yang membutuhkan keahliannya meracik berbagai tanaman obat untuk berbagai penyakit.

    Ra Tanca merasa mendapatkan keuntungan berganda, dapat memenuhi persyaratan dari Kuda Jenar, sekaligus namanya terangkat mendapat pujian dari orang sekitarnya sebagai seorang tabib yang mumpuni.

    Sementara itu sikap Kuda Jenar kepada Ra Tanca seperti sebelumnya, sangat santun dan hormat layaknya seorang bawahan kepada atasannya.

    Diam-diam Ra Tanca menjadi menaruh rasa terima kasih yang amat sangat kepada Kuda Jenar, menyangka bahwa Kuda Jenar hanya ingin menyembunyikan keahliannya dan tidak ingin dikenal sebagai seorang yang ahli di bidang pengobatan, hanya itu pikiran Ra Tanca kepada Kuda Jenar.

    Ternyata arah pikiran Kuda Jenar yang sebenarnya memang tidak terjangkau oleh perkiraan siapapun, oleh Ra Tanca, oleh orang-orang istana dan para warga Kotaraja Majapahit. Apa yang pernah dilakukannya memeberikan obat penawar untuk Nyi Ra Tanca sebenarnya bagian dan runtutan kecil dari rencana panjangnya.

    Sebagaimana seekor srigala malam tengah mendekati mangsanya, Kuda Jenar nampaknya tengah menunggu saat yang sangat tepat untuk menerkam mangsanya.

    Dan hari yang amat ditunggu oleh Kuda Jenar nampaknya sudah begitu dekat.

    Dan hari itu adalah hari upacara Melasti, dimana seluruh warga Kotaraja Majapahit berbondong-bondong melakukan upacara pensucian di pantai Tanah Ujung Galuh. Terlihat berduyun-duyun warga keluar dari rumahnya, keluar dari setiap padukuhan-padukuhan menjadi sebuah barisan yang amat panjang memenuhi jalan utama Kotaraja Majapahit menuju arah pantai Tanah Ujung Galuh, barisan orang-orang yang penuh keceriaan mengenakan pakaian serba putih sebegai pertanda kesucian hati mereka sambil membawa berbagai sesaji, membawa berbagai peralatan pura untuk disucikan dengan air laut sebagi simbol tirta amerta, air kehidupan sesuai kepercayaan mereka.

    Seperti biasa di pantai Tanah Ujung Galuh, para anggota Dharmaputra dibantu para Tanda memimpin jalannya upacara Melasti, tua muda, bangsawan atau orang jelata semua mendapatkan perlakuan yang sama duduk bersimpuh di pantai Tanah Ujung Galuh menanti sang pendeta membacakan mantra, menanti para Tanda yang ditunjuk untuk menghampiri mereka memercikkan air suci.

    Dan disaat itu, Kuda Jenar sebagai seorang Tanda yang ditunjuk untuk membantu memercikan air suci kepada seluruh orang yang hadiri di pantai itu telah mengambil tempat dibarisan keluarga istana, dibarisan para pejabat istana.

    Tidak seorangpun yang memperhatikannya, juga diri Raja jayanagara sendiri manakala Kuda Jenar memercikkan air suci ke tubuhnya.

    • tiga !!!!

      • Hehehe … baru datang dari nganglang.
        Matur suwun, setelah istirahat Risang buatkan gandok baru.

        • Suwun Ki Dalang, mau masuk gandhog mulai tapi malam kesulitan, baru bisa setelah dibacakan 1 juz.

  4. suwun ki dalang

  5. Selamat lebaran ki sandhikala , p Satpam, ki Mbeh, ki Gun,ki BP dll sanak kadang. Baru bisa sowan padhepokan kembali. Tetap semangat nunggu rontal.

  6. Selamat siang ki Sandhikala

  7. wayah tengah malem ki dhalang biasanya wedaran triple


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: