PKPM-16

<< kembali | lanjut >>

PKPM-16

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 2 September 2015 at 21:30  Comments (276)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-16/trackback/

RSS feed for comments on this post.

276 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng ndalu.
    Semoga ki dhalang sdh bertemu dgn laptopnya.
    Ditunggu rontalnya.

  2. Sugeng enjang semuanya.

  3. Alhamdulilah, sudah kembali di jakarta

    Alhamdulillah, masih sempat melihat candi Singosari yang ada tidak jauh dari baso malang paling enak di kota malang, hehehe

    Oh ya, di kota Malang saya menginap di apartemen Sukarno-hatta, sayang enggak sempat mampir ke rumah Pak Satpam, hehehe

    • Ki Arema sempat nanyakan no hp Ki Dalang saat ke Malang, tapi tidak ada yg tahuuuuu.

    • Hadu…..
      Risang sudah standby, arep tak puter puterke kok gak ada kontak.
      Okey lah kalau begitu.

      • He…diputer puter ? 😀
        sekalian dijak minum es puter….terus naik komudi puter…pulangnya dianter naik komuter…wah pasti klenger 😀

  4. Menunggu ki dalang

  5. Ditunggu rontalnya ki Sandikala.

  6. Terlihat Tumenggung Adityawarman tersenyum menatap anak muda yang baru tiba itu.

    “Ternyata tidak susah memancing seorang Duta Mangkara keluar dari sarangnya”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada anak muda itu yang tidak lain adalah Patih Gajahmada.

    “Perkenalkan sahabatku di hutan ini, namanya Kakang Kepakisan, seorang guru suci sebuah padepokan perguruan Teratai Putih di lereng Gunung Wilis”, berkata Patih Gajahmada memperkenalkan sahabatnya yang bernama Kakang Kepakisan.

    “Pantas, aku seperti menghadapi terjangan Empu Nambi”, berkata Tumenggung Adityawarman penuh senyum.

    “Mari ikut ke sarang kami”, berkata Patih Gajahmada kepada Tumenggung Adityawarman.

    Setelah meminta ketujuh prajuritnya untuk kembali bergabung di perkemahan mereka, maka terlihat Tumenggung Adityawarman telah berjalan masuk kepedalaman hutan lebih jauh lagi.

    Hingga ketika mereka tiba di sebuah tempat yang sangat sunyi, Patih Gajahmada meminta Tumenggung Adityawarman untuk tetap berjalan lurus kedepan.

    “Tetaplah kamu berjalan kedepan, sementara kami akan berpencar”, berkata Patih Gajahmada kepada Tumenggung Adityawarman.

    Selesai bicara, tiba-tiba saja Patih Gajahmada bersuit panjang. Ternyata itu adalah sebuah isyarat kepada semua pengikutnya untuk berpencar menghilang.

    Sebagaimana yang di minta oleh Patih Gajahmada, terlihat Tumenggung Adityawarman tetap berjalan lurus kedepan seorang diri.
    Cukup lama Tumenggung Adityawaraman berjalan seorang diri, hingga akhirnya Patih Gajahmada bersama para pengikutnya muncul kembali.

    “Kami berpencar untuk meyakinkan bahwa tidak ada seorangpun yang mengikuti perjalanan kita. Dengan cara seperti ini hingga saat ini tidak seorangpun dapat menemulan sarang kami”, berkata Patih Gajahmada kepada Tumenggung Adityawarman.

    Demikianlah, akhirnya mereka telah sampai juga di sarang kawanan Duta Mangkara. Sebuah tempat yang begitu sangat tersembunyi.

    Terlihat Tumenggung Adityawarman di ajak Patih Gajahmada ke gubuknya dan diperkenalkan dengan Ki Sahdatun dan Rangga Seta.

    “Rangga Seta putra Kakang Putu Risang ?”, berkata Tumenggung Adityawarman.

    “Setelah rampung tugas di hutan ini, aku akan mencari keluarganya di Balidwipa”, berkata Patih Gajahmada.

    • Kamsiaaaaa….!!!!

      • Lanjut, biadanya menjelang pagi ada ceceran rontal.

  7. Kamsia ki dalang.
    Sugeng ndalu.

  8. Ingak inguk gandok,minongko presensi malming.ngancani Ki Satpam.

    • Matur suwun…
      mulane kok manuke padha cemuwet, rupane ana kancane rondha. he he he ….,
      monggo. Wedang sere, meskipun sudah dingin bisa dinikmati bersama pohung godog yang ada di cething itu. he he he ……

      bbr….. padhepokan malam ini duingin sekali….

      • Lho….kan dah biasa kathokan…eh…khatukan ?

  9. Selamat pgi

  10. Semoga Pak Dhalang sekeluarga sehat-sehat saja. Mungkin Caping (Cafe Camping) nya laris, sehingga tidak sempat tengok padepokan.

  11. Caping (Cafe camping) atau Canda (Cafe tenda) ya

    • ….Cupang?…..cuma numpang 😀

      • Culun..?……cuma luntang lantung

        • Haloo P Dalang

  12. Akhirnya pembicaraan mereka berlanjut tentang kedatangan Tumenggung Adityawarman bersama pasukannya itu di wilayah tak bertuan itu, yaitu untuk menahan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Kuda Jenar sesuai dengan tugas yang diamanatkan oleh Mahapatih Arya Tadah.

    “Aku belum dapat membaca apa yang diinginkan dari Raden Kudamerta mengirim Kuda Jenar ke wilayah tak bertuan ini, setahuku Ki Sadeng adalah paman dari Kuda Jenar”, berkata Patih Gajahmada.

    “Mahapatih Arya Tadah juga belum dapat menebak apa peran Kudamerta di wilayah tak bertuan ini”, berkata Tumenggung Adityawarman.

    “Raden Kudamerta, Kuda Jenar dan Ki Sadeng sama-sama dari Kerajaan Wengker. Aku hanya menebak dan menduga-duga dibalik semua ini ada sebuah keinginan untuk membesarkan kembali Kerajaan wengker sebagai sebuah kekuatan baru”, berkata patih Gajahmada.

    “Apapun keinginan dari Raden Kudamerta, tugas kita adalah mematahkan kekuatan Ki Sadeng sebelum tumbuh taringnya menjadi kekuatan yang akan berbahaya bagi tatanan kehidupan di bumi Majapahit ini”, berkata Tumenggung Adityawarman.

    “benar, kita laksanakan tugas kita masing-masing sesuai yang diamanatkan oleh Mahapatih Arya Tadah”, berkata Patih Gajahmada.

    “Bila memang demikian, hari ini juga aku akan kembali kepasukanku agar secepatnya dapat menyongsong pasukan Kuda Jenar”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada Patih Gajahmada.

    Demikianlah, pada hari itu juga Tumenggung Adityawarman kembali ke pasukannya.

    Dan berselisih waktu dengan kepergian Tumenggung Adityawarman, terlihat Rangga Mahesa Dharma bersama kawanannya.

    “Tumenggung Adityawarman baru saja pergi kembali ke pasukannya”, berkata Patih Gajahmada kepada Rangga Adityawarman.

    “Nampaknya wilayah tak bertuan ini akan mulai menjadi panas”, berkata Rangga Mahesa Dharma setelah mendengar dari Patih Gajahmada tentang rencana mereka untuk membentur kekuatan Ki Sadeng.

    “Mulai besok, kawanan Duta Mangkara berganti peran, tidak lagi sebagai kawanan perusuh”, berkata Patih Gajahmada sambil tersenyum.

    Sementara itu terlihat bulan bulat mengintip diantara ranting pohon jati, langit malam begitu pekat menyelimuti gubuk-gubuk sederhana di hutan persembunyian para kawanan Duta Mangkara. Beberapa orang terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat tanpa membuat sebuah perapian guna mengusir rasa dingin. Nampaknya mereka memang benar-benar menjaga sarang mereka menjadi sebuah tempat yang sangat tersembunyi, setitik api memang akan membawa mata musuh menemukan sarang mereka.

    Sayup terdengar suara lolong srigala jantan di kesunyian hutan malam.

    • maaf baru bisa muncul malam ini, beberapa hari ini diberi nikmat dengan rasa sakit di kepala, gula darah sama kolesterol saya melejit tinggi.

      Alhamdulillah, hari ini kepala saya masih tetap ditempatnya, hehehe

      Alhamdulillah, kita masih di beri kesempatan memasuki tahun baru islam 1437 H.

      Ya Allah, golongkanlah kami sebagai orang yang takut melanggar laranganmu
      Ya Allah, golongkanlah kami sebagai orang yang gemar melaksanakan perintahmu.
      Ya Allah, golongkanlah kami sebagai orang yang dapat mensyukuri nikmatmu, dalam sakit, dalam sehat, dalam susah, dalam senang.

      AMIN.

      • Aamiin… aamiin… aamiin … YRA.

        • aamiin….

      • Aamiiiin

  13. Sugeng sonten ki dhalang.
    Semoga selalu diberikan kesehatan.
    Dan juga para cantrik.

  14. Aamiin….YRA….

  15. Dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali Patih Gajahmada terlihat bersama Rangga Mahesa Dharma telah membawa empat puluh orang kawanannya keluar dari sarang mereka.

    “Kutitipkan Rangga Seta bersamamu, wahai Ki Sahdatun”, berkata Patih Gajahmada berpamit diri kepada Ki Sahdatun.

    “Semoga keselamatan selalu mengiringi langkahmu, wahai anak muda”, berkata Ki Sahdatun melepas kepergian Patih Gajahmada dan kawanannya itu.

    Dan tidak lama berselang, dalam tatapan mata Ki Sahdatun dan Rangga Seta, rombongan Patih Gajahmada terlihat keluar dari hutan sarang mereka dan menghilang di kelebatan hutan rimba.

    “Mengapa kita tidak ikut pergi bersama mereka, wahai tuan guru ?”, bertanya Rangga Seta kepada Ki Sahdatun.

    Terlihat Ki Sahdatun tersenyum mendengar pertanyaan Rangga Seta.

    “Kelak bila kamu sudah dewasa seperti mereka, setelah kamu dapat melompat terjun dari sebuah ketinggian dengan mata terbuka, setelah kamu dapat berlari cepat melebihi kecepatan seekor rusa”, berkata Ki Sahdatun kepada Rangga Seta masih dengan senyum penuh kasihnya.

    “Aku akan terus berlatih”, berkata Rangga Seta penuh semangat.

    “bagus, mari kita berlatih”, berkata Ki Sahdatun kepada Rangga Seta sambil menuntun anak itu membawanya ke sebuah tempat yang biasa mereka datangi untuk berlatih ketahanan diri.

    Nampaknya Rangga Seta seperti sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Terlihat Ki Sahdatun dengan penuh senyum kebanggaan menyaksikan anak seusia Rangga Seta sudah begitu lincahnya memanjat sebuah pohon besar dan berjalan diatas dahan pohon dengan tubuh berdiri tegak, sebuah laku yang sangat berbahaya, namun Rangga Seta terlihat seperti begitu menikmatinya layaknya seorang bocak kecil yang tengah menikmati sebuah permaianan yang mengasyikkan.

    “beristirahatlah, hari ini kita akan melanglang di sekitar daerah ini”, berkata Ki Sahdatun kepada Rangga Seta yang terlihat sudah merah wajahnya bercampur peluh di tubuhnya.

    Mendengar perkataan Ki Sahdatun, terlihat Rangga Seta sangat gembira. Nampaknya terpikir di benaknya sebuah perjalanan yang sangat mengasyikkan.

    Demikianlah, setelah kembali ke gubuk mereka untuk menyiapkan beberapa keperluan dan bekal selama di perjalanan, terlihat Ki Sahdatun dan Rangga Seta telah meninggalkan gubuk tempat persembunyian para kawanan Duta Mangkara itu.

    Setelah beberapa pekan tinggal di hutan itu, nampaknya Ki Sahdatun sepertinya sudah sangat mengenal jalan.

    Terlihat mereka sudah berada di sebuah jalan tanah yang membelah hutan.

  16. Namun setelah beberapa langkah, tiba-tiba saja Rangga Seta merasakan telapak tangan Ki Sahdatun memegang lengannya.

    “Ada kebakaran hutan”, berkata Ki Sahdatun kepada Rangga Seta.
    Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Sahdatun, terlihat asap putih tebal terbawa angin memenuhi sekitar hutan.

    “rangkul dan berpeganglah kamu di leherku”, berkata Ki Sahdatun sambil menggendong Rangga Seta.

    Seketika itu juga Rangga Seta merasakan di bawa lari dengan amat kencangnya oleh Ki Sahdatun. Begitu cepatnya Ki Sahdatun berlari membuat Rangga Seta memejamkan matanya karena wajahnya terasa tertampar angin yang amat kerasnya.

    Manakala Rangga Seta tidak lagi merasakan terpaan angin di wajahnya, perlahan anak kecil itu membuka matanya.

    Terkejut bukan kepalang Rangga Seta karena telah melihat dirinya berada di sebuah dahan pohon yang cukup tinggi.

    “Dari ketinggian ini kita dapat melihat sekeliling kita”, berkata Ki Sahdatun sambil menatap ke sebuah tempat.

    Ternyata arah tatapan mata Ki Sahdatun tertuju kesebuah tempat dimana disitulah sumber kebakaran hutan itu.

    Penglihatan Ki Sahdatun yang sudah sangat terlatih itu telah mampu melihat dari kejauhan bahwa di sumber titik kebakaran hutan itu telah terjadi sebuah pertempuran yang amat serunya. Ketajaman penglihatan Ki Sahdatun telah mampu menangkap sekitar dua puluh orang bersenjata cakra dan dua puluh orang bersenjata pedang terlihat seperti sebuah bola panas menghalau ratusan orang yang terlempar berhamburan.

    Sebagaimana yang di saksikan oleh Ki Sahdatun dari ketinggian pohon, ternyata kawanan Patih Gajahmada telah membenturkan dirinya menghancurkan kawanan Ki Sadeng. Penyerangan itu di mulai dengan melemparkan hujan panah berapi ke gubuk-gubuk tempat tinggal para kawanan Ki Sadeng.

    “Jember….”, berkata Ki Sahdatun dengan suara perlahan sambil menggelengkan kepalanya.

    Hujan panah itu telah benar-benar mengejutkan orang-orang Ki Sadeng yang langsung keluar dari gubuk-gubuk mereka untuk menyelamatkan diri masing-masing.

    Banyak diantara mereka yang lupa membawa senjata, maka dengan mudahnya kawanan yang dipimpin oleh Patih Gajahmada dan Rangga Mahesa Dharma itu menghalau musuh mereka tanpa perlawanan yang berarti.

    “Jember…”, berkata kembali Ki Sahdatun melihat ratusan tubuh berhamburan terkena sambaran senjata cakra dan pedang dengan darah merah tercecer membasahi tanah dan semak daun belukar.

  17. Api terlihat telah memakan gubuk-gubuk tempat tinggal kawanan Ki Sadeng, beberapa titik api telah merambat membakar semak belukar serta pepohonan di dekatnya.

    Sementara itu empat puluh orang pilihan dan terbaik dari padepokan Bajra Seta dan perguruan Teratai Putih benar-benar telah menunjukkan kemampuan mereka yang sungguh mengagumkan. Senjata andalan mereka yang berbentuk cakra dan pedang panjang itu benar-benar seperti sebuah senjata pembunuh yang amat sangat dahsyat bergerak di tangan mereka. Maka dalam waktu yang tidak begitu lama ratusan orang telah berhasil mereka buat tidak berdaya. Pertempuran saat itu benar-benar dikuasai oleh kawanan Patih Gajahmada yang dikenal di tempat itu sebagai sang Duta Mangkara. Terlihat tingga puluhan orang di pihak Ki Sadeng yang masih tetap bertahan, orang-orang yang memang punya kemampuan cukup tinggi yang mampu melayani orang-orang terlatih dari padepokan Bajra Seta dan Perguruan teratai Putih itu.

    “Kita bertemu kembali, wahai Ki Sadeng”, berkata seorang pemuda yang tidak lain adalah Patih Gajahmada.

    Terbelalak wajah Ki Sadeng melihat anak muda yang begitu tenang menghadangnya.

    “Apakah kamu yang selama ini menamakan diri sebagai Duta Mangkara ?”, berkata Ki Sadeng masih dengan wajah terkejutnya.

    “Benar, sengaja aku datang di wilayah tak bertuan ini, hanya untuk menghancurkan dirimu dan kawanan bajak lautmu”, berkata Patih Gajahmada masih dengan sikap tegak berdiri penuh ketenangan diri.

    “kamu terlalu percaya diri, wahai anak muda”, berkata Ki Sadeng sambil langsung menyerang kearah tubuh Gajahmada dengan senjata keris besarnya.

    Sebuah serangan pembukaan yang amat dahsyat, begitu cepat dan begitu kuat bertenaga.

    Namun Patih Gajahmada telah siap sedia menghadapi orang tua yang memang sudah di duganya punya kemampuan sangat tinggi itu. Terlihat Patih Gajahmada bergeser kesamping sambil membalas serangan Ki Sadeng dengan melecutkan senjata cambuk andalannya.

    “Luar biasa !!”, berkata Ki Sadeng sambil mundur merasakan angin hawa getaran cambuk yang nyaris menyentuh tubuhnya.

    Terlihat Patih Gajahmada tidak berusaha mengejar orang tua itu, hanya berdiri tegak dengan ujung cambuk pendeknya yang terjurai menyentuh tanah.

    “Jangan berbangga hati dulu, aku belum menumpahkan seluruh kemampuanku”, berkata Ki Sadeng dengan mata bernyala-nyala.

    Melihat pancaran sinar mata di wajah Ki Sadeng itu, tahulah Patih Gajahmada bahwa orang tua itu telah melambari tenaga sakti inti sejatinya di tingkat tertingginya. Maka diam-diam Patih Gajahmada telah mempersiapkan dirinya.

  18. Benar saja sesuai dengan dugaan Patih Gajahmada, serangan Ki Sadeng kali ini memang berlipat-lipat kekuatannya. Nampaknya Ki Sadeng telah menumpahkan seluruh kemampuannya, menumpahkan puncak ilmu kesaktiannya. Terlihat keris besarnya merah membara, bergulung-gulung serangannya mengepung tubuh Patih Gajahmada seperti angin panas gunung berapi mengejar kemanapun anak muda itu berkelit bergerak.

    Namun Patih Gajahmada buhan anak muda biasa, pewaris tunggal sang pertapa dari Gunung Wilis itu diam-diam telah melambari dirinya dengan ajian sakti pemunah bala, hawa murni ditubuhnya dengan seketika telah bekerja dengan sendiri melindungi dirinya. Hawa panas serangan keris Ki Sadeng seperti redam tak berarti apa-apa di hadapan Patih Gajahmada. Terlihat anak muda itu masih saja membalas serangan Ki Sadeng.

    Pertempuran keduanya telah menimbulkan semak belukar rata terbakar, batu dan pepohonan kadang terbongkar terkena angin sasaran serangan mereka yang lepas. Benar-benar sebuah pertempuran yang sungguh amat mengerikan.

    “Anak muda ini mampu meredam amuk serangan kerisku, ajian gunung berapi milikku tidak berarti apapun”, berkata Ki Sadeng yang menyadari bahwa lawannya ternyata mampu mengimbangi serangan puncaknya.

    Ternyata Patih Gajahmada benar-benar anak muda yang telah mampu mengendapkan perasaannya sendiri, telah mampu mengendalikan perasaan dirinya sendiri tidak terbawa oleh amuk amarahnya.

    “Aku harus mencari cara untuk tidak membunuh orang tua ini”, berkata Patih Gajahmada dalam hati sambil terus berpikir untuk menundukkan lawannya yang sangat sakti itu.

    Sementara itu Rangga Mahesa Dharma bersama empat puluh orang-orang pilihan itu terlihat telah menguasai arena pertempuran, hanya tersisa beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari yang masih bertahan belum menyerah.

    Ditengah amuk serangan Ki Sadeng yang sangat amat dahsyat itu, patih Gajahmada masih sempat melihat suasana kemenangan yang hanya tinggal sebentar lagi dipetik oleh para kawanannya. Maka seketika itu juga Patih Gajahmada langsung menerapkan ajian andalannya, sebuah ilmu ajian langka yang jarang sekali dimiliki oleh orang sejamannya saat itu, yaitu sebuah ajian Pangeran Muncang yang didapatkan langsung dari Prabuguru Dharmasiksa, seorang raja sakti dari Tanah Pasundan yang telah mengasingkan dirinya di lereng Gunung Galunggung. Namun Ajian sakti Pangeran Muncang itu diterapkan dengan cara terbalik oleh patih Gajahmada, sehingga bukan sebuah ajian sakti yang memancarkan sebuah serangan cahaya api yang maha dahsyat, namun sebuah ajian sakti yang dapat menyerap kekuatan lawan.

    Tenaga sakti inti sejati yang dimiliki Patih Gajahmada sudah berada diatas kesempurnaan, sehingga tidak membutuhkan sebuah sentuhan apapun, hanya lewat angin lecutan cambuknya, kekuatan Ki Sadeng sudah dapat terserak dengan sendirinya.

    Terlihat Ki sadeng masih saja melakukan perlawanan, tidak menyadari tenaga saktinya mulai terkuras.

  19. Hingga dalam sebuah gebrakan, gerakan Ki Sadeng menjadi sedikit terlambat karena tenaga saktinya telah semakin berkurang yang berakibat ujung cambuk Patih Gajahmada berhasil menyentuhnya kakinya.

    Rasa sakit yang amat sangat telah memaksa Ki Sadeng melemparkan dirinya jatuh berguling di tanah. Wajah penuh penasaran memenuhi seluruh pikirannya, merasa aneh pada dirinya sendiri yang tidak lagi dapat bergerak dengan cepat.

    Terlihat Patih Gajahmada berdiri tegak dengan senyum di bibirnya.

    “Orang ini masih juga belum menyadari bahwa kekuatannya telah terserap”, berkata Patih Gajahmada dalam hati sambil menatap wajah Ki Sadeng yang tengah berusaha bangkit berdiri.

    “kamu belum memenangkan pertempuran ini, wahai anak muda”, berkata Ki Sadeng sambil kembali melakukan serangannya.
    Ki Sadeng masih juga belum menyadari bahwa kekuatannya telah menyusut, akibatnya daya serangannya dirasakan oleh Patih Gajahmada tidak sedahsyat sebelumnya.

    Sementara itu angin serangan cambuk Patih Gajahmada masih saja terus bergerak, masih saja terus menyerap tenaga sakti Ki Sadeng meski tanpa menyentuhnya.

    “Ajian sihir apa yang kamu gunakan, wahai anak muda”, berkata Ki Sadeng sambil mundur meloncat kebelakang merasakan dirinya sudah tidak dapat lagi menghentakkan tenaga saktinya, melihat dengan mata terbelalak kearah keris besarnya yang tidak lagi merah membara.
    “Menyerahlah, wahai Ki Sadeng. Sebelum ujung cambukku tidak dapat dikendalikan lagi”, berkata Patih Gajahmada kepada Ki Sadeng.

    “Katakan kepadaku apa yang telah kamu lakukan kepada diriku”, berkata kembali Ki Sadeng dengan wajah penuh rasa penasaran.

    “Aku tidak akan membuat dirimu mati penasaran, kekuatanmu telah terserap oleh ajian ilmuku”, berkata Patih Gajahmada sambil menatap tajam kearah Ki Sadeng.

    “Ajian ilmu penyerap sukma ?”, berkata Ki Sadeng dengan wajah penuh rasa takut yang amat sangat.

    “Lihatlah sekelilingmu, semua anak buahmu telah kami tundukkan”, berkata Patih Gajahmada kepada Ki Sadeng.

    Terlihat Ki Sadeng memandang berkeliling, melihat semua anak buahnya memang telah benar-benar tidak berdaya di bawah kekuasaan pihak lawan, sementara sebagian besarnya terlihat telah bergeletak tak bernyawa lagi.

    “Terima kasih telah bermurah hati memberi kesempatan selembar nyawaku ini. Ternyata mataku buta tidak menyadari berhadapan dengan sebuah gunung yang maha tinggi”, berkata Ki Sadeng dengan perasaan merinding membayangkan seluruh kekuatannya terserap habis oleh anak muda perkasa itu.

    • Hup…..
      Baru datang sudah disambut oleh banjir rontal.
      Hmmm…..
      Kamsiaaaaaaaa…..

    • kamsiaaa pak dhalang….

  20. baru pak satpam yang datang meronda, yang lain kemana ya malming ini ?

  21. Baru nongol.sekalian presensi malming,rak injih to poro kadang.ugi sugeng dalu.sugeng makaryo,ingkang tesih lembur. he…he…he….

  22. Sementara itu di waktu yang sama, sebuah pasukan besar yang dipimpin oleh Tumenggung Adityawarman telah memasuki lembah Dayang Muksa.

    “Kita buat perkemahan di lembah ini”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada seorang prajurit penghubungnya.

    Terdengar sebuah aba-aba perintah melengking tinggi dari prajurit penghubung itu sebagai pertanda pasukan untuk berhenti.

    “pasukan Kuda Jenar pastinya akan menghindari Kadipaten lamajang, memasuki wilayah tanah tak bertuan dari jalur lembah ini”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada beberapa perwiranya.

    Demikianlah, tidak lama kemudian terlihat beberapa prajurit tengah membangun perkemahan di lembah Dayang Muksa itu, sementara beberapa prajurit lainnya tengah menyiapkan makanan di dapur umum.
    Seekor burung rajawali terlihat melayang di langit senja dan terbang menghilang kearah gunung Argapuro.

    Perlahan sang malam datang menghapus seluruh pandangan di lembah dayang muksa itu, gelap dan angin dingin semilir telah membuat para prajurit merasakan kantuk yang amat sangat setelah seharian mereka berjalan.

    “belum ada kabar dari prajurit pemantau ?”, bertanya Tumenggung Adityawarman kepada salah seorang perwiranya.

    “Hingga saat ini belum ada kabar mereka datang kembali”, berkata perwira itu.

    “Itu artinya mereka belum melihat pasukan Kuda jenar mendekati daerah ini, sebuah berita bagus untuk kalian beristirahat dengan cukup di malam ini”, berkata Tumenggung Adityawarman sambil mempersilahkan perwiranya itu beristirahat.

    Dan malam terlihat menjadi begitu sunyi, hanya suara angin yang turun ke lembah itu terdengar berderu-deru membuat pikiran siapapun akan membayangkan suasana yang menyeramkan, suasana kisah yang aneh di lembah dayang Muksa itu, kisah tentang enam orang dayang bersama seorang putri yang menghilang lenyap tanpa jejak. Konon menurut dugaan orang, para penunggu lembah itu jatuh cinta kepada kecantikan sang putri dan membawanya kea lam mereka bersama keenam dayangnya, Itulah sebabnya lembah itu dinamakan Lembah dayang Muksa.

    Namun nampaknya cerita tentang para penunggu lembah itu serta hilangnya seorang putri bersama keenam dayangnya itu tidak membuat para prajurit tidak dapat tertidur pulas, nampaknya rasa lelah setelah berjalan seharian penuh telah mengusir perasaan takut apapun. Ternyata rasa kantuk yang amat sangat menjadi sebuah kemewahan dari sebagian para prajurit dimanapun.

    Dan perlahan langit malam sunyi di lembah dayang muksa perlahan diciderai cahaya kemerahan yang berasal dari sumber cahaya pagi dari sang surya yang menggeliat di ujung ufuk timur bumi.

    • Matur suwun Ki Dalang

    • He he he …
      ternyata masih ada lagi
      matur suwun………………….

  23. Lumayan,keno nggo sangu bubuk..matur nwn Ki Dalang.lek…lek… lek…lek…leeekk…terotok tok tok tok tok.lek_4 leeekkk…Ki Cak Bon Sing ronda.Kang Lir,Kang Bangunnn…Kang Kriyep.Kang Ketip. semangat yoooo….semangat.Mbah Sar…re,Mbah Bu…buk,Mbah TI…lem.nglinteg.tenan ki?kok mung suoro graji yo…? yo semangat yo…

  24. Pagi itu masih sangat gelap ketika seorang perwira datang menghadap Tumenggung Adityawarman.

    “Ada kabar dari para pemantau, pasukan Kuda Jenar telah datang dipertengahan malam dan bermukim di sebuah hutan tidak jauh dari perkemahan kita”, berkata perwira itu menyampaikan laporannya.

    “Melihat kedatangan mereka, nampaknya pasukan itu akan bergerak kembali keesokan harinya. Perintahkan para pemantau untuk terus mengamati gerakan mereka”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada perwiranya.

    Demikianlah, hari itu tidak ada kejadian apapun di lembah dayang Muksa. Para prajurit yang tergabung dalam pasukan besar Tumenggung Adityawarman seharian itu hanya berusaha memulihkan kembali tenaga mereka tanpa melakukan banyak kegiatan. Namun kesiagaan tetap mereka lakukan untuk menjaga berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi diluar dugaan dan perhitungan siapapun.
    Sebagaimana perhitungan Tumenggung Adityawarman, hari itu memang tidak terjadi apapun.

    Sementara itu, ternyata bukan hanya pasukan Tumenggung Adityawarman saja yang melepas para prajurit pemantaunya, pasukan Kuda jenar diam-diam telah menugaskan beberapa prajuritnya untuk memantau daerah disekitar mereka.

    “Apa tugas pasukan Majapahit itu berada di Lembah dayang Muksa itu ?”, berkata Kuda Jenar kepada seorang prajurit pemantaunya yang melaporkan ada sepasukan besar berada di lembah Dayang Muksa.

    “hamba tidak berani terlalu dekat dengan mereka”, berkata petugas pemantau itu kepada Kuda jenar.

    “Kembalilah ketempat tugasmu, awasi terus kegiatan mereka”, berkata Kuda Jenar kepada prajurit pemantau itu.

    Hingga akhirnya di pagi hari keesokan harinya, seorang prajurit pemantau datang kembali menghadap Kuda jenar.

    “Tadi malam kami berhasil mendekati mereka, ternyata mereka adalah pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Adityawarman. Dan pagi ini kami melihat mereka telah menyusun barisannya di sebuah padang. Nampaknya mereka memang sengaja menunggu kedatangan kita”, berkata prajurit pemantau itu kepada Kuda Jenar.

    “Perintahkan seluruh prajurit bersiap diri untuk bergerak, kita ingin tahu apa yang mereka inginkan menghadang pasukan kita”, berkata Kuda jenar kepada seorang perwiranya.

    Demikianlah, tidak lama berselang terlihat seribu pasukan yang berada di bawah kekuasaan Kuda Jenar terlihat telah bergerak keluar dari hutan menuju arah lembah Dayang Muksa. Seribu prajurit itu bergerak berbaris seperti seekor naga besar meliuk-liuk diantara pepohonan.

    Terlihat barisan panjang pasukan Kuda Jenar telah keluar dari sebuah hutan dan terus bergerak mendekati sebuah padang luas yang ada di lembah Dayang Muksa itu.

    Terkesiap darah Kuda Jenar memandang sebuah pasukan telah siap menghadang pasukannya.

    • Top markotop…
      Lanjut Pak Dhalang, mumpung libur, he he he….

    • sssttt………….., Pak Dhalang….
      Satpam ingin memberitahu sebuah rahasia untuk Pak Dhalang
      jangan bilang para cantrik nggih, nanti mereka pada ribut.

      “tiga rontal lagi, sepertinya sudah cukup untuk menutup gandok PKPM-16”

      suwun……

      • ssssettt……..,,saya mendengarnya, hehehe

  25. Terlihat Kuda Jenar mencoba menghitung kekuatan pasukan di hadapannya itu, ternyata sebanding dengan pasukan yang dibawanya dari Majapahit itu.

    “Antarkan diriku untuk berbicara dengan mereka”, berkata Kuda Jenar kepada seorang prajurit penghubungnya.

    Maka tidak lama berselang terlihat Kuda jenar diatas kudanya ditemani seorang prajurit yang membawa bendera putih berjalan ketengah arena dua pasukan itu.

    Melihat seorang penunggang kuda di kawal dengan pembawa bendera putih, segera Tumenggung Adityawarman menghentakkan kudanya mendekati dua orang berkuda di tengah arena.

    “Selamat datang wahai senapati pasukan Majapahit di lembah Dayang Muksa”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada Kuda Jenar.

    “Apa maksud tuan Tumenggung menempatkan pasukan di hadapan pasukan kami ?”, berkata Kuda Jenar yang terkejut mengetahui bahwa pimpinan pasukan yang menghadangnya dipimpin langsung oleh Tumenggung Adityawarman.

    “Aku ditugaskan oleh Mahapatih Arya Tadah untuk menghadang pasukanmu agar tidak turun lebih jauh lagi memasuki wilayah tak bertuan ini”, berkata Tumenggung Adityawarman penuh ketegasan.

    “Aku ditugaskan oleh Raden Kudamerta menjadi senapati pasukan Majapahit untuk menghancurka para perusuh di wilayah tanah tak bertuan ini”, berkata Kuda Jenar dengan suara tidak kalah tegasnya.

    “Bila memang demikian tugasmu seperti itu, maka dengan sangat terpaksa pasukanku akan menghadangmu”, berkata Tumenggung Adityawarman.

    “jangan berpikir dirimu sebagai seorang Tumenggung dapat menakut-nakuti diriku, aku akan menunjukkan kepadamu siapa yang terbaik memimpin pasukannya”, berkata Kuda jenar sambil menarik kudanya bermaksud untuk kembali ke pasukannya.

    Namun belum sempat Kuda jenar bersama pengawalnya bergerak meninggalkan tempatnya, terdengar suara yang bergema terdengar oleh semua orang yang berada di padang lembah Dayang Muksa.

    “Kuda Jenar, kedokmu sudak terungkap. Kedatanganmu ke wilayah tak bertuan ini bukan untuk menghancurkan para perusuh, melainkan untuk memperkuat para perusuh dengan menempatkan para prajurit Majapahit menjadi sebuah kekuatan baru di wilayah tak bertuan ini”, terdengar suara bergema berputar-putar memenuhi seluruh lembah Dayang Muksa.

    Bukan hanya Kuda Jenar yang terkejut mendengar suara itu, tapi seluruh prajuritnya juga menjadi sangat terkejut, tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi sebuah kekuatan baru menentang kekautan panji Majapahit yang mereka junjung dengan jiwa dan raga mereka.

    “Kuda Jenar telah menjerumuskan diri kita !!”, berkata beberapa orang prajurit dengan pikiran dan perasaan yang sama mengecam senapati mereka sendiri.

    • ssset…!!!, baru satu

  26. Merah padam wajah Kuda jenar, tidak menyangka ada orang yang menelanjang dirinya didepan orang banyak.

    “Bohong, jangan menyebar fitnah. Tunjukkan siapa dirimu”, berkata Kuda Jenar dengan suara keras.

    Sepi suasana di padang lembah Dayang Muksa itu, sepertinya semua orang berharap ada jawaban dari orang yang tidak diketahui keberadaannya itu.

    Namun ternyata bukan jawaban yang mereka dengarkan, melainkan dari sebuah tebing jalan yang menurun muncul sekitar enam ratus prajurit pengawal kadipaten Lamajang lengkap dengan panji dan umbul-umbul kebesaran mereka.

    Didepan enam ratus pasukan Kadipaten lamajang itu berjalan dua orang lelaki yang terus berjalan mendekati Kuda Jenar.

    Setelah kedua orang itu menjadi semakin mendekat, terkejut hati Kuda Jenar mengenal kedua orang lelaki yang tengah berjalan ke arahnya.

    “Kuda Jenar, orang ini telah bercerita banyak tentang semua rencanamu”, berkata salah seorang dari lelaki itu yang tidak lain adalah Patih Gajahmada yang datang bersama seorang lelaki tua bernama Ki Sadeng yang berjalan tertunduk lesu.

    “Wahai pasukanku, akankah kalian percaya dengan perkataan orang ini ?”, berkata Kuda Jenar dihadapan pasukannya.

    Namun tidak satu jawaban keluar dari para prajurit Majapahit itu.

    “Kuda Jenar, seluruh pasukanmu telah mengenal diriku, jauh sebelum kamu berada diantara mereka. Jangan jerumuskan diri mereka kedalam nafsu angkara pribadimu”, berkata Patih Gajahmada dengan suara yang kuat dan jelas terdengar oleh semua orang di padang lembah Dayang Muksa itu. “Lihatlah aku datang bersama enam ratus prajurit Lamajang yang akan bergabung dengan pasukan Tumenggung Adityawarman, semoga pasukanmu dan dirimu sendiri dapat berpikir jernih”, berkata kembali Patih Gajahmada dengan suara yang kuat dan lantang bergema karena dilambari dengan ajian gelap ngamparnya yang amat kuat.

    Tergetar setiap dada mendengar hentakan suara yang dilontarkan oleh Patih Gajahmada, hampir semua orang di padang lembah Dayang Muksa itu telah mengenal dan mengetahui ketinggian ilmu yang di miliki anak muda itu.

    Semua orang sepertinya menanti sikap dan keputusan Kuda jenar, terlihat semua mata memandang kearah anak muda yang selama ini sangat dekat dengan Raden Kudamerta itu.

    “Aku akan menantang siapapun yang menghalangi langkahku”, berkata Kuda Jenar sambil mengangkat tinggi-tinggi tombak trisulanya.

    Terkejut semua orang mendengar ucapan Kuda jenar itu, menyayangkan sikapnya.

    • ssset…!!, baru dua, qiqiqiqiqi

    • He he he….
      Masih kurang satu.

    • Okelah kalau begitu
      Satpam tidur lagi……..

      • Kurang satuuuuuuuuuuuu

        • Ternyata hujan rontal.
          Matur suwun ki dhalang.
          Baru bisa absen.

  27. Terlihat Adipati Menak Koncar datang menghampiri Patih Gajahmada.

    “Ijinkan diriku untuk menyumbat kesombongannya”, berkata Adipati menak Koncar kepada Patih Gajahmada.

    Namun belum sempat Patih Gajahmada menjawab perkataan Adipati Menak Koncar, terlihat Tumenggung ikut datang menghampiri Patih Gajahmada.

    “Orang itu semula telah menantangku mengadu pasukannya, namun saat ini nampaknya pasukannya sudah terpecah. Ijinkan diriku menerima tantangannya, wahai saudaraku”, berkata Tumenggung Adityawarman kepada Patih Gajahmada.

    “Maaf kakang Adipati Menak Koncar, nampaknya usia Tumenggung Adityawarman setanding dengan senapati muda yang sombong itu”, berkata Patih Gajahmada kepada Adipati Menak Koncar.

    Mendengar perkataan Patih Gajahmada, terlihat Adipati Menak Koncar hanya menyunggingkan senyumnya, dalam hati berpikir bahwa Patih Gajahmada nampaknya telah lebih mengenal Senapati yang sombong itu, juga kemampuan Tumenggung Adityawarman. Sementara itu, Tumenggung Adityawarman mendengar ucapan Patih Gajahmada sebagai perkenan untuk menghadapi Kuda Jenar secara perorangan dan sudah langsung berjalan mendekati Kuda Jenar yang masih berdiri di tengah-tengah arena padang lembah Dayang Muksa itu.

    Semua orang menatap dua orang yang tengah saling berhadapan di tengah arena itu, namun dihati setiap orang hanya berharap bahwa Kuda Jenar dapat menerima pelajaran mahal atas kesombongannya itu.

    “Tumenggung Adityawarman, akan kuyakinkan kepada semua orang bahwa namamu terangkat karena kebesaran nama Ayahmu, Patih Mahesa Amping”, berkata Kuda Jenar meremehkan kemampuan Tumenggung Adityawarman.

    “Aku tidak akan terpengaruh apapun dengan perkataanmu yang membawa nama ayahku. Tunjukkan seluruh kemampuanmu, aku akan siap melayanimu tantanganmu”, berkata Tumenggung Adityawarman.

    “Bagus, loloskan senjatamu”, berkata Kuda Jenar sambil melompat dan menjulurkan tombak trisulanya menyerang dengan amat cepatnya kearah Tumenggung Adityawarman.

    Melihat serangan yang amat cepat itu tidak membuat Tumenggung Adityawarman panik, terlihat dengan sangat amat ringannya putra tunggal Patih Mahesa Amping itu telah berkelit k esamping sambil meloloskan kerisnya dan langsung membalas serangan Kuda jenar tepat kearah pinggangnya yang terbuka.

    Bukan main terkejutnya Kuda Jenar melihat kecepatan lawannya berkelit dengan sangat cepat dan langsung membalas serangannya.

    Terlihat Kuda Jenar berputar bersama tombak trisulanya, sebuah cara balas menyerang yang sangat mengagumkan.

    • ssset….!!!!, jangan bilang sapa-sapa, saya mau meluncur ke ghandok anyer, hehehe

    • Kamsiaaa pak dhalang….

      • Mana gandhok barunya? Masih dikunci ternyata.

    • Ngapunten,
      semalam tepar…
      pagi ini harus berangkat pagi dan belum sempat menyiapkan uba-rampe pembuatan gandok baru.
      Insya Allah, nanti siapng dikerjakan saat rehat siang.

      nuwun..
      satpampelangi

  28. ngapunten,
    Panggung sudah siap, tukang gendang clingak-clinguk mencari Nyi Sinden belum juga mecungul,

    jangan-jangan di bawa Cak Bonek nonton bola di GBK dan tertahan kendaraannya oleh ulah Jak mania, hehehe

  29. Ngapunten,

    gandok 16 belum bisa ditutup, karena naskah ada di komputer padepokan yang sekarang masih harus rawat inap lagi.
    Tetapi, gandok 17 sudah bisa dipakai sebagai panggung Pak Dhalang untuk “medar sabdo”

    Monggo Pak Dhalang…..

  30. Pangapuntenipun, kulo dereng sanged moco rontal.

    • Gampang kok mbacanya.
      I n i = ini
      i b u = ibu
      b u d i = budi
      ini ibu budi. Begitu….

  31. Tul btul_3.tp kend cak Bonek kwi saiki Andong j.kpn leh kthok. he..he..he..semangat trus semangaaattt…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: