PKPM-20

<< kembali | lanjut >>

PKPM-20

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 12 April 2016 at 00:01  Comments (285)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pkpm-20/trackback/

RSS feed for comments on this post.

285 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ikutan absen…..Matur suwun …………….Ki Dalang

  2. Wah… sudah masuk halaman tiga
    kamsiaaaaaa……… !!!

  3. Injih.tesih sepen Ki.Sugeng siang menjelang sore.

    • Sugeng sonten Ki Cak Bon….

      • Geng ki djoko, ki Cak bon, mbleh nuwedaran, dyah pitaloka itu yang nantinya gugur pd saat perang bubat ya ki dhalang, saya pengin tahu versi ki sandikala itu bagaimana

        • ralat, geng ndalu ki djoko, ki cak bon, ki mbleh nunggu wedaran dst

        • Sejatinya Putri Dyah Pitaloka Bunuh diri..membela kehormatan

          • Itu yang konon mebuat Hayam Wuruk dirudung duka nestapa dan GM mulai tersisih dari percaturan politik kekuasaan di MP.
            Kita tunggu versi Ki Dhalang Kompor, pasti penuh kejutan…..

          • Inggih ki mbleh, maunya saya ki dhalang bisa menceritakan dengan lebih elegan dengan versinya, nuwun ngapunten ki dhalang

  4. selamat pagi semuanya…Salam sehat selalu , semoga hari ini hari yg penuh berkah buat kita semua…amiin

  5. Amin.nderek Ki Mbeh,Ki HRG.sugeng injang ugi semangat pagi.

  6. Sugeng siang n ttap semangat

  7. Dan saat itu Muara jati adalah sebuah Bandar pelabuhan yang cukup besar disinggahi banyak para pedagang dari berbagai suku bangsa. Muara Jati sendiri adalah sebuah muara dari beberapa sungai yang berhulu jauh hingga di pedalaman. Para pedagang banyak berdagang hingga jauh ke hulu.

    Muara Jati masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sunda Galuh, sebuah kerajaan yang berkedudukan di sebuah daratan jauh di pedalaman tempat banyak sungai berhulu, Kotaraja Kawali, disitulah Maharaja Sunda Galuh yang bergelar Raja Lingga Buwana membangun singgasananya.

    Sejak keturunan Prabu Darmasiksa tidak lagi bertahta di kerajaan Sunda Galuh, sejak saat itu tidak ada lagi yang menyebut Kerajaan Majapahit sebagai saudara muda. Mati obor, demikian istilah sebuah silsilah keluarga yang terputus, hilang tidak lagi saling mengenal satu dengan yang lainnya. Bahkan hubungan kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Majapahit dapat dikatakan sebagai dua buah kerajaan yang terus berlomba menunjukkan keadijayaannya.

    Saling intai dari kedua kerajaan besar di Jawadwipa itu telah dimulai dengan disebarnya para petugas telik sandi dari kedua belah pihak. Hingga manakala tersebar sebuah berita bahwa Kerajaan Majapahit telah memperluas daerah kekuasaannya ke timur, telah membuat telinga Maharaja Lingga Buana menjadi panas. Nampaknya itulah asal muasal penguasa Sunda Galuh itu membangun sebuah armada lautnya yang besar.

    Dan hari itu di alun-alun Kotaraja Kawali terlihat beberapa orang prajurit Kerajaan Sunda Galuh tengah membangun sebuah arena gelanggang pertarungan yang dibatasi dengan tali temali, di sebelah selatannya berdiri sebuah tajuk besar, nampaknya tempat para keluarga istana menyaksikan jalannya acara di gelanggang pertarungan.

    Sudah enam bulan Maharaja Lingga Buwana menyebarkan maklumat ke berbagai peloksok kerajaan, berharap ada seorang yang mumpuni dapat menggantikan sang senapati agungnya yang telah ujur. Orang itu harus teruji kesaktiannya di arena gelanggang sebuah palagan agung.

    Demikianlah, sehari sebelum hari pelaksanaannya, puluhan orang sakti dari berbagai peloksok kerajaan, dari berbagai padepokan besar dan kecil, para pertapa dan para pengembara yang hanya datang sebagai penonton sudah berada di Kotaraja Kawali.

    Nala, Rangga Seta dan Ki jatayu sebagai petugas telik sandi Majapahit sudah tentu telah mendengar berita itu. Mereka bertiga sudah beberapa hari berada di Kotaraja Kawali.

    Dan hari itu mereka bertiga tengah melihat-lihat suasana di alun-alun Kotaraja Kawali.

    “Apakah Kisanak ikut turun dalam pertarungan besok ?”, bertanya seseorang di pinggir alun-alun kepada Ki Jatayu.

    “Kami hanya pengembara biasa yang senang melihat keramaian”, berkata Ki Jatayu kepada orang itu.
    “Besok pasti di alun-alun ini disesaki banyak orang”, berkata orang itu kepada Ki Jatayu.

    “nampaknya besok kita harus datang diawal pagi agar bisa berada di tempat terdepan”, berkata Ki Jatayu kepada orang itu.

    “Sedari kecil aku hanya belajar bagaimana membuat tali dari batang pisang, jadi aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang senapati agung”, berkata orang itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

  8. Dan pagi itu langit begitu cerah diatas alun-alun Kotaraja Kawali.
    Terlihat sudah begitu banyak orang berdesak-desak berdiri di sekitar arena gelanggang pertempuran yang mengambil hampir sepertiga luasnya alun-alun Kotaraja Kawali.
    Hingga manakala terlihat rombongan Maharaja Lingga Buawana bersama keluarganya datang menuju arah tajuk disebelah selatan Alun-alun Kotaraja, semua orang terlihat bersimpuh dan bersujud sebagai tanda penghormatannya.
    Hening suasana manakala seorang pejabat istana masuk ketengah arena palagan agung.

    “Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat. Siwa-Budha Janma-Bhatara senantiasa tenang tenggelam dalam samadi. Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja di dunia. Dewa-Bhatara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah. Merata serta meresapi segala makhluq, nirguna bagi kaum Wisnawa. Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, Hartawan bagi Jambala. Wagindra dalam segala ilmu, Dewa Asmara di dalam cinta berahi. Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin damai dunia”, berkata seorang punggawa istana sambil berdiri di tengah-tengah arena gelanggang dengan suara yang terdengar melengking.”Palagan agung yang suci ini telah direstui oleh Baginda Raja di raja Maharaja Lingga Buwana, darah dan jiwa yang gugur di arena palagan agung ini tanpa dibelenggu rasa dendam. Semoga terlahir di palagan suci ini seorang ksatria pilhan para dewa, bintang yang cemerlang diatas kecemerlangan yang akan menjaga bumi Sunda Galuh dalam perang dalam damai, siang dan malam”, berkata kembali punggawa istana itu.

    Bersamaan dengan berhentinya suara sang punggawa istana, terdengar suara gong dipukul dua kali sebagai pertanda restu dari Baginda Raja, riuhlah suasana dimana semua orang bersorak sorai penuh kegembiraan.

    Sorak dan sorai riuh masih terdengar manakala masuk ke arena gelanggang dua orang perwira utama dari dua kesatuan yang berbeda. Nampaknya arena palagan agung itu terbuka untuk siapapun, para prajurit atau orang biasa dari lapisan manapun.

    Dua orang perwira utama itu terlihat berdiri diantara sebuah tombak yang menancap ditanah dimana diatasnya terikat sebuah bendera kuning berlambang harimau putih.

    Terlihat seorang punggawa istana berjalan ketengah arena dan mencabut tombak yang ada di tengah arena palagan.
    Itulah sebuah pertanda bahwa pertempuran telah dimulai.

    Seorang perwira utama terlihat telah melepas keris dari warangkanya, sementara lawannya mengangkat tinggi-tinggi tombak pendek di tangannya.

    Maka tidak lama berselang, sebuah pertempuranpun berlangsung dengan amat serunya, nampaknya keduanya telah langsung ingin segera menundukkan lawannya, serangan demi serangan mengalir dari kedua senjata mereka.

    Semua orang di alun-alun itu seperti tersihir, diam dan tercekam.

    • Muantaaapppp
      Xie xie pak dhalang

    • Matur nuwun Ki Sandikala,…..sugeng enjang..

    • Kamsia ki dhalang, menunggu hasil yang mendebarkan

    • Kamsia Pak Dhalang……

  9. Hadeeuuh…perang tanding ya , kenapa gak pakai tes tertulis saja (biar gak ada korban orang pinter)..hehehe , selamat pagi semua , salam sehat selalu

  10. Matur nuwun n sugeng siang,menjelang sonten.tetap semangat.

  11. Serangan perwira yang bersenjata keris nampaknya begitu keras terus memburu lawannya. Sekilas terlihat perwira yang bersenjata tombak seperti terdesak.

    Namun bagi Nala dan Rangga Seta yang punya kejelian pandangan sepertinya sudah dapat menduga apa yang akan terjadi bila perwira bersenjata keris itu terus menggebu-gebu dengan serangannya.

    Ternyata pandangan Nala dan Rangga Seta tidak meleset jauh, serangan perwira bersenjata keris itu memang terlalu bernafsu hingga tidak mampu mengendalikan dan mengukur tenaga dan nafasnya.

    Dan lambat laun mulai terlihat bahwa tenaga dan nafas perwira bersenjata keris itu semakin terkikis habis, hingga akhirnya sebuah tikaman tombak pendek lawannya terlalu cepat untuk dapat dihindarkan.

    Crat !!

    Sebuah tikaman tombak pendek berhasil menembus daging pangkal paha perwira bersenjata keris.

    Dengan cepat perwira bersenjata tombak pendek mencabut tikamannya, maka langsung terlihat darah merah mengucur deras keluar dari pangkal paha lawannya.

    “Apakah kamu masih mampu melanjutkan pertempuran ini ?”, bertanya pemilik senjata tombak pendek itu sambil berdiri dan menatap lawannya.

    “Aku menyerah kalah”, berkata perwira utama bersenjata keris dengan nafas memburu serta wajah tengah merasakan sakit yang amat sangat di pangkal pahanya.

    Terlihat seorang punggawa istana masuk ketengah gelanggang, mempersilahkan kedua perwira itu menepi, keluar dari gelanggang.

    “Apakah masih ada yang berani masuk ke gelanggang ini ?”, bertanya punggawa istana itu sambil menyapu pandangannya berkeliling.

    Nampaknya beberapa orang yang semula ada niat untuk mengadu peruntungan di gelanggang itu telah mengurungkan niatnya, telah dapat mengukur kemampuan dirinya yang masih jauh dari kemampuan perwira bersenjata tombak pendek itu.

    “Apakah ada yang masih punya niat untuk mengadu peruntungan di gelanggang ini ?”, bertanya kembali punggawa istana itu dari tengah-tengah arena gelanggang.

    Terlihat punggawa istana itu mulai menjadi tidak sabaran, tidak seorangpun yang datang masuk ke gelanggang.

    Suasanapun menjadi begitu sepi, semua orang yang hadir di alun-alun Kotaraja Kawali sepertinya ikut menunggu, menanti siapa gerangan yang masih punya keberanian masuk ke gelanggang pertarungan.

    Dan tiba-tiba saja terlihat seorang lelaki berbadan kekar masuk kedalam gelanggang, terdengar suara riuh segenap orang memberi semangat atas keberaniannya itu.

    • Siapa gerangan? Kita tunggu kelanjutannya

      • Moga2 mslam ini Pak Dhalan8g ngasih tripelan ya Ki HRG..
        Kamsssiiiiiaaaaa Pak Dhalang.

    • Matur nuwun Ki Sandikala,….sugeng enjang..

  12. Nampaknya hampir semua orang telah mengenal lelaki berbadan kekar itu yang tidak lain adalah Barawa, putra sulung dari Ki Ismaya pimpinan padepokan Gagak Seta yang sangat disegani di Bumi Sunda Galuh saat itu.

    Semua orang yang hadir di alun-alun Kotaraja Kawali seperti bertanya-tanya, adakah seseorang yang berani turun ke gelanggang menghadapi putra sulung Ki Ismaya yang punya kesaktian sangat tinggi itu ?

    Beberapa orang yang semula datang jauh-jauh untuk mengadu peruntungan di gelanggang itu nampaknya berpikir ulang manakala melihat putra sulung Ki ismaya maju di gelanggang, mereka pada umumnya telah mengetahui siapa Barawa itu yang telah mewarisi ilmu kesaktian ayahnya, Ki Ismaya.

    Suasana terlihat menjadi hening, kehadiran Barawa di gelanggang itu memang telah membuat ciut nyali semua orang.

    Ditengah suasana yang hening dan mencekam itu, muncullah seorang anak muda berjalan ke tengah gelanggang dengan langkah penuh rasa percaya diri.

    “Apakah kamu mengenal siapa anak muda itu ?”, bertanya seseorang yang berdiri paling depan kepada kawannya.

    “Aku tidak mengenal siapa anak muda itu”, berkata kawannya sambil mengangkat pundaknya.

    “Sebut siapa namamu”, berkata Barawa dengan suara yang mengguntur.

    “namaku Rangga Seta”, berkata anak muda itu dengan suara yang datar tanpa rasa takut sedikitpun.

    “Sebut nama ayahmu, agar bila terjadi atas dirimu kami tahu kemana harus membawa mayatmu”, berkata Barawa penuh kesombongan.

    “Tidak usah repot-repot dan tidak akan terjadi apapun atas diriku”, berkata anak muda itu yang ternyata adalah Rangga Seta.

    Bila saja Rangga Seta mau menyebut siapa jati dirinya yang sebenarnya, pasti akan membuat Barawa tidak sesombong saat itu karena siapa yang tidak mengenal Empu Nambi, kakek anak muda itu, atau pamannya Adipati Menak Koncar, guru agung persekutuan perguruan Taratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa itu.

    Namun Rangga Seta tidak menyebut satupun dari nama-nama itu, kehadirannya di bumi Sunda Galuh sebagai petugas telik sandi telah menutup rapat-rapat bibirnya, tidak sesumbar menyebut nama besar keluarganya.

    “Atau jangan-jangan kamu malu untuk menyebut siapa ayahmu, jangan-jangan ayahmu adalah dewa pemetik bunga”, berkata Barawa sambil tertawa bergelak-gelak.

    “Setahuku, dewa pemetik bunga adalah gelar nama ayahmu”, berkata Rangga Seta dengan suara datar.

    Semula Barawa bermaksud membuat marah Rangga Seta, namun keadaan menjadi terbalik, justru Barawa yang seperti ditampar wajahnya. Selama hidupnya tidak pernah ada orang yang berani menghina ayahnya, namun hari ini ada orang yang tidak dikenalnya sudah begitu lancang.

    • Wah… ki Ismaya “dituduh” Dewa Pemetik Bunga”
      Hi hi hi …..
      Kamsiaaa……

  13. Sebagai seorang murid Mahapatih Gajahmada, tentunya Rangga Seta tahu betul bahwa mengendalikan amarah adalah salah satu dasar utama yang harus di jaga.

    Tersenyum Rangga Seta melihat wajah orang itu seperti kepiting di rebus, penuh dengan amarah menggebu-gebu.

    “Nampaknya keris ini yang akan memberi pelajaran kepadamu untuk belajar bicara, lepaskan senjatamu”, berkata Barawa sambil mengangkat tinnggi-tinggi senjatanya berupa sebuah keris panjang yang terlihat berkilat-kilat terkena cahaya matahari.

    Sekilas pandang, Rangga Seta dapat membaca bahwa keris ditangan lawannya itu adalah sebuah keris bertuah. Maka Rangga Seta tidak memandang rendah lawannya, langsung melepas senjatanya yang membelit di pinggangnya, sebuah cambuk pendek biasa.

    “Aku hanya punya sebuah cambuk pendek yang biasa kupakai untuk mencambuk pantat seekor kerbau dungu”, berkata Rangga Seta dengan suara datar.

    “Kucincang mulutmu”, berkata Barawa yang merasa Rangga Seta telah menyamakan dirinya dengan seekor kerbau dungu.

    Ternyata Barawa bukan hanya sesumbar, terlihat keris ditangannya telah bergerak menerjang dengan amat derasnya meluncur kearah kepala Rangga Seta.

    Semua orang yang hadir di alun-alun seperti berdebar-debar melihat serangan Barawa yang sangat dahsyat itu, mereka seperti manahan nafas secara bersama-sama.

    Bersamaan pula semua orang melepas nafasnya, merasa lega hatinya melihat dengan begitu mudahnya Rangga Seta bergeser sedikit badannya sambil melontarkan cambuk pendeknya kearah tubuh Barawa.

    Sebuah gerakan menghindar dan balas menyerang yang sangat cepat dan tidak pernah terpikirkan oleh Barawa yang langsung mundur dua langkah dari tempatnya.

    Melihat Barawa mundur dua langkah dari tempatnya, Rangga Seta tidak memburunya, hanya berdiri dengan sikap membiarkan ujung cambuknya menjurai menyentuh tanah. Sebuah sikap yang sangat gagah siapapun yang melihatnya.

    “Jangan cepat berbangga hati telah dapat lepas dari serangan awalku”, berkata Barawa sambil bergerak kembali menerjang dengan keris ditangannya kearah Rangga Seta.

    Terlihat serangan Barawa lebih cepat dan lebih dahsyat dari serangan pertamanya. Terdengar angin yang berdesing mengikuti gerak keris ditangan Barawa yang melaju dengan amat cepatnya.

    Ternyata Barawa memang telah meningkatkan tataran kemampuannya lebih tinggi lagi agar dapat membuka mata semua orang bahwa dirinya bukan orang sembarangan.

    Namun Barawa memang tidak mengenal sama sekali dengan siapa dirinya berhadapan kali ini.

    • Dikasih tau nggak ya? Ya sudah barawa nanti juga tahu sendiri siapa Rangga seta itu tapi nama belakang perguruan barawa sama dengan rangga seta, jangan2 masih ada pertalian hubungannya

    • Matur nuwun Ki Sandikala,..sugeng siaang..

  14. Berdesing-desing suara keris Barawa menyambar-nyambar kemanapun tubuh Rangga Seta bergerak. Sementara itu suara cambuk pendek ditangan Rangga Seta juga terkadang menggetarkan hati, merobek-robek udara manakala Barawa harus berkelit cepat menghindari serangan balasan dari Rangga Seta.

    Semua orang yang hadir di alun-alun Kotaraja seperti tercekam menyaksikan serang dan balas menyerang dari keduanya, pertempuran lebih sengit dan lebih seru bila dibandingkan dengan pertempuran pertama antara para perwira utama.

    Debu mengepul di udara diantara dua bayangan yang bergerak dan berkelit amat cepatnya.

    Tidak terasa keduanya terus meningkatkan kemampuan dirinya, keris di tangan Barawa tidak hanya berdesing, namun sudah menyala-nyala membara. Dan udara disekitarnya terasa begitu panas menyengat.

    Terlihat beberapa orang yang berada paling depan telah bergeser menjauh karena merasakan udara yang terasa semakin menyengat itu.

    Semua orang yang menyaksikan ilmu permainan keris Barawa menjadi begitu terkagum-kagum melihatnya, namun mereka juga lebih terkagum-kagum lagi kepada Rangga Seta yang masih saja dapat mengimbangi lawannya.

    Ternyata Rangga Seta telah melambari dirinya dengan tenaga sejatinya, hingga tidak merasakan hawa panas yang dikeluarkan lewat serangan keris Barawa.

    Hal ini telah membuat hati Barawa menjadi begitu penasaran, bahwa ada seorang yang tidak punya nama telah mampu melayani ilmunya.

    Dan tanpa terasa Barawa langsung meningkatkan tataran ilmunya ingin menguji sejauh mana lawannya masih dapat melayaninya.

    Asap putih terlihat dari keris Barawa yang panas membara mengejar kemanapun tubuh Rangga Seta bergerak.

    Terpesona semua orang yang menyaksikan ilmu Barawa yang sangat menggetarkan hati itu, ternyata benar adanya bahwa putra sulung Ki Ismaya telah mewarisi hampir seluruh ilmu kesaktian ayahnya. Namun semua orang tidak kalah rasa kagumnya kepada anak muda lawan Barawa yang tidak dikenalnya berasal dari mana, namun selalu saja dapat menepis serangan Barawa, bahkan terkadang balas menyerang dengan serangan yang tidak kalah berbahayanya.

    Hingga akhirnya tandang Rangga Seta telah benar-benar mampu mendebarkan hati Barawa manakala suara cambuk Rangga Seta merobek udara menyebarkan hawa dingin yang amat menyengat.

    Ternyata Rangga Seta telah meningkatkan tataran ilmunya jauh melampaui puncak ilmu yang dimiliki Barawa.

    Terlihat seranganpun seperti terbalik, Barawa lebih banyak berkelit menghindar, meski kadang sekali dua kali masih dapat melakukan serangan balasan.

  15. Hati semua orang mulai condong kepada Rangga Seta, terutama melihat serangan cambuknya yang gencar merobek-robek udara telah membuat Barawa berkelit kian kemari menghindarinya.

    “Siapa gerangan anak muda itu, wahai Mahapatih Madhu Sagara ?”, bertanya Maharaja Lingga Buwana kepada Mahapatihnya.

    “Mohon ampun tuanku, hamba akan mencari tahu siapa gerangan anak muda itu”, berkata Mahapatih Madhu Sagara kepada Baginda Maharaja.

    Sebagai seorang yang punya kemampuan cukup tinggi, nampaknya Maharaja Lingga Buwana telah dapat membaca apa yang terjadi dalam pertempuran itu, Maharaja Lingga Buwana diam-diam memuji kemampuan ilmu cambuk anak muda itu.

    “Barawa lambat laun pasti akan dapat dikalahkan oleh anak muda itu”, berkata Maharaja Lingga Buwana dalam hati.

    Ternyata perhitungan Baginda Raja Sunda Galuh itu tidak meleset jauh, karena tiba-tiba saja cambuk pendek Rangga Seta melecut tiga kali.

    Des, des, des !!!

    Lecut cambuk pendek Rangga Seta bagai merobek angkasa, udara disekitarnya langsung seperti dingin membeku.

    Hawa dingin yang menyentak dengan sangat amat tiba-tiba itu telah membuat tubuh Barawa menggigil tidak mampu menggerakkan dirinya.

    Dan Rangga Seta seperti tidak ingin melepas kesempatan itu.

    Brettt !!!

    Keris ditangan Barawa tercabut dari genggamannya, dilibat ujung cambuk Rangga Seta yang seperti gerakan seekor ular membelit dengan amat kuatnya.

    “Beruntung hanya kerismu yang aku cabut, bukan nyawamu”, berkata Rangga Seta sambil memegang keris Barawa yang sudah berpindah tempat itu.

    Barawa yang masih merasakan tubuhnya menggigil akibat lontaran tenaga sakti cambuk Rangga Seta seperti termangu-mangu antara terkejut, gentar dan malu bercampur menjadi satu.

    “Aku akan terus mengingat namamu, aku akan datang merebut kembali keris di tanganmu, dengan tangan dan kemampuanku sendiri”, berkata Barawa dengan pandangan tajam kearah Rangga Seta.

    “Selama itu aku akan merawat kerismu”, berkata Rangga Seta sambil menggenggam keris Barawa di tangan kirinya.

    “Sampai berjumpa kembali”, berkata Barawa sambil berbalik badan meninggalkan arena gelanggang.

    • apakah Rangga Seta kakek buyut dari Kyai Grinsing ?, hehehe

      • Wah bisa juga ki, cikal bakal orang bercambuk

  16. Matur nuwun Ki Sandikala. Makin mantabz…..

    • Ki Dalang, sekali lagi menunjukkan kepiawaian dalam mengolah sejarah yang sumber2nya terbatas… Namun, karya Ki Sandikala mampu mengisi kekosongannya. Serasa kita disuguhi kehidupan nyata dari para pelakunya…

      Menunggu kejutan Ki Dalang dalam mengungkap cerita Dyah Pitaloka yang batal menikah dengan Hayamwuruk…👍

      Kapan2 pengin ketemu di Situ Cipondoh. Suwun Ki Sandikala ….🙏🙏🙏

  17. Terlihat Rangga Seta berjalan menepi arena gelanggang. Besamaan sang punggawa istana memberi kesempatan kepada khalayak mengadu keberuntungannya.

    Namun manakala menunggu cukup lama, tidak seorangpun yang maju tampil.

    Hingga akhirnya senjapun datang menutupi langit Kotaraja Kawali, gong berbunyi tiga kali sebagai pertanda ditutupnya acara palagan agung itu, yang akan berlanjut keesokan harinya.

    Terlihat semua orang berhamburan meninggalkan alun-alun Kotaraja Kawali, semua orang disepanjang perjalanan yang dibicarakan adalah Rangga Seta yang mereka sebut sebagai orang bercambuk.

    “nampaknya orang bercambuk itu yang akan memenangkan pertandingan besok”, berkata salah seorang sambil berjalan kepada kawannya.

    “Dan kita akan mempunyai seorang senapati agung yang sakti mumpuni seperti orang bercambuk itu”, berkata kawannya menyetujui perkataan kawannya.

    Demikianlah, hari itu pembicaraan mengenai orang bercambuk seperti tak berkesudahan, di perempatan jalan, di gardu-gardu pos jaga dan di serambi rumah mereka sekitar Kotaraja Kawali.

    Dan malam itu beberapa orang warga padukuhan berbondong-bondong datang ke banjar desa dimana sudah beberapa hari itu Rangga Seta, Nala dan Ki Jatayu menumpang bermalam disitu.

    Sebuah kebanggan bagi warga padukuhan itu dimana calon senapati agung mereka pernah bermalam di banjar desa mereka.

    Berkah bagi Nala, Rangga Seta dan Ki Jatayu, karena para warga padukuhan itu datang k banjar desa tidak bertangan kosong.

    Ada-ada saja yang ditanyakan oleh para warga padukuhan, mulai dari tempat asal hingga jati diri Rangga Seta apakah sudah berkeluarga.

    “Kami hanya pengembara biasa, asal kami dari daerah pesisir Tuban”, berkata Rangga Seta memberi keterangan tentang dirinya dengan tutur kata yang santun.

    Ternyata diantara beberapa orang yang sengaja datang untuk mengenal Rangga Seta, terdapat salah seorang utusan Mahapatih Madhu Sagara yang ditugaskan untuk mengetahui siapa gerangan Rangga Seta.

    Namun utusan itu tidak mendapat apapun kecuali yang diketahui oleh para warga Padukuhan bahwa Rangga Seta hanya seorang pengembara biasa yang berasal dari sekitar pesisir Tuban.

    Sementara malam mulai datang menggayuti bumi, satu persatu warga padukuhan berpamit diri kembali ke rumah mereka.

    Terlihat banjar desa kembali sepi, hanya tinggal Nala, Rangga Seta dan Ki Jatayu.

    • Matur nuwun Ki Sandikala,…sugeng ndalu..

    • Kamsia pembanjiran rontalnya…..

      • Ikutan ki mbleh, kamsia ki dhalang

  18. Hup,,,.
    Baru bisa ikut piket.
    Kuping mbrenginging, ternyata ada banjur rontal.
    Kamsia……

  19. Malam semakin larut, petak-petak sawah yang mengelilingi banjar desa sudah hilang ditelan kegelapan malam menyisakan suara jangkrik serta suara air parit yang mengalir deras di belakan banjar desa membuat ketenteraman jiwa ikut mengalir jauh melayang terbang.

    “Beristirahatlah, biarlah malam ini aku aku yang akan berjaga”, berkata Nala kepada Rangga Seta dan Ki Jatayu.

    “bangunkan aku bila saat giliranku tiba”, berkata Rangga Seta kepada Nala

    “Apakah aku sudah terlalu tua hingga tidak dapat giliran berjaga ?”, berkata Ki Jatayu sambil rebah meluruskan badannya diatas bale-bale bambu.

    “Ki Jatayu bagi kami adalah orang tua, sudah seharusnya orang muda menghargai orang tua”, berkata Nala kepada Ki Jatayu sambil mencari sandaran.

    Sebagaimana Ki Jatayu, terlihat Rangga Seta ikut rebah disebelah Ki Jatayu.

    Sementara suara air parit yang mengalir deras menjadi salah satu irama malam, diantara suara lengking jangkrik, riuh suara sekelompok kodok dan burung celepuk yang datang dan menghilang terbang menjauh.

    Terlihat Nala merapatkan matanya, nampaknya pendengarannya yang terlatih telah mendengar suara langkah kaki menuju kearah mereka.

    Ternyata Rangga Seta belum tertidur, pendengarannya yang juga amat tajam telah mendengar suara langkah kaki seseorang tengah menuju ke arah Banjar Desa. Perlahan Rangga Seta bangkit dan duduk diatas tepian bale-bale.

    “nampaknya kita telah kedatangan tamu”, berkata Rangga Seta kepada Nala sambil berdiri.

    “Apakah kisanak para pengembara seperti kami mencari tempat bermalam ?”, berkata Rangga Seta kepada seseorang yang tengah berdiri di muka banjar desa.

    “Aku bukan pengembara, aku datang hanya untuk menanyakan siapa diantara kalian yang telah mengalahkan putraku di palagan agung”, berkata orang itu dengan mata yang tajam kearah Rangga Seta dan Nala.

    “Apakah hubungan paman hingga bertanya tentang palagan agung ?”, berkata Rangga Seta kepada orang itu yang dilihatnya sudah cukup berumur, terlihat dari warna rambutnya yang sudah putih seluruhnya.

    “Dengar baik-baik, namaku Ki Ismaya, malam ini sengaja aku datang menyampaikan tantangan kepada siapapun yang telah mengalahkan putraku Barawa. Kutunggu besok malam di hutan bambu diujung timur padukuhan ini”, berkata orang itu yang langsung membalikkan badan melangkah pergi dan menghilang di kegelapan malam.

    Terlihat Nala dn Rangga Seta saling berpandangan.

    • Mungkin kata Rangga Seta begini kalo jadi orang Jakarte,” Lu jual gue beli”

  20. “bagaimana penilaian kakang terhadap orang itu ?”, bertanya Nala kepada Rangga Seta.

    “Nampaknya seorang yang selama hidupnya hanya dikelilingi banyak pujian, merasa bahwa kekalahan putranya adalah sebuah penghinaan baginya”, berkata Rangga Seta

    “Apakah Kakang akan memenuhi tantangannya ?”, bertanya kembali Nala

    “Seperti air parit yang deras mengalir di belakang banjar desa ini, kita hanya bisa ikut terus mengalir”, berkata Rangga Seta kepada Nala.

    “Apakah boleh aku yang akan mewakili tantangan orang tua itu?”, berkata Nala menawarkan dirinya.

    “Mengapa kamu berkata seperti itu ?”, berkata Rangga Seta.

    “Aku hanya kasihan kepada Kakang Rangga Seta yang harus menghadapi dua tantangan besok”, berkata Nala.

    “Bukankah waktunya tidak bersamaan ?”, berkata Rangga Seta sambil tersenyum.

    “Aku akan selalu berada di belakang Kakang”, berkata Nala.

    “Terima kasih untuk kesetiaanmu itu”, berkata Rangga Seta kepada Nala.

    “Suka dan duka telah kita lalui bersama, disaat seperti ini kadang aku merindukan Pangeran Hayam Wuruk”, berkata Nala mencoba mengalihkan pembicaraan.

    “Sayang, disaat kepergian kita ke bumi Pasundan tidak sempat bertemu dengannya”, berkata Rangga Seta.

    Perkataan Rangga Seta telah membuat pikiran mereka melayang jauh, merindukan kehidupan di bumi Majapahit, kebersamaan mereka bersama Pangeran Hayam Wuruk.

    Sejenak suasana di banjar desa itu menjadi hening, masing-masing tengah berada di alam pikiran mereka sendiri-sendiri.

    “Beristirahatlah, aku akan membangunkan kakang bila saat gilran jagaku berakhir”, berkata Nala kepada Rangga Seta mencoba memecahkan kesunyian hati mereka.

    Terlihat Rangga Seta perlahan merebahkan dirinya di sebelah Ki Jatayu, nampaknya orang tua itu begitu nyenyak tidurnya hingga tidak terbangun oleh kedatangan Ki Ismaya, juga pembicaraan Nala dan Rangga Seta.

    Sementara Nala kembali bersandar di sebuah tiang bambu, memejamkan matanya agar pendengarannya semakin terjaga dan peka.

    Semilir angin dingin berhembus masuk diantara sela-sela anyaman dinding bambu, terlihat Nala layaknya sebuah patung hidup yang diam tak bergerak, namun kesiagaannya selalu sedia terjaga. Nampaknya kehidupan sebagai satria pengembara telah mendarah daging di dalam diri anak muda itu.

    • Matur nuwun Ki Sandikala,…sugeng sonten..

      • Matur nuwun ju sandikala, kita tunggu pengalaman apalagi yang akan ditemukan oleh RS dan Nala oh ya ki dhalang kalo jaman sekarang ini kira2 mereka berdua dimana

        • di daerah sekitar ciamis, jawa barat

          • Oh berarti dulu daerah ciamis pernah menjadi pusat pemerintahan/peradaban yang besar dan berpengaruh juga yah ki dhalang selain kota bogor yang juga pernah menjadi pusat kerajaan di sunda, semacam ada pergeseran dari daerah ciamis sampai ke bogor menurut saya, kamsia ki

          • Kawali adalah desa di Ciamis, masih ada hutan larangan disitu dan tanda bekas kerajaan Sunda Galuh.. Sepertinya di zaman Lingga Buwana, komunikasi dengan Majapahit terputus?

          • Kamsiaaaa Pak Dhalang….
            Kemarin saya nganglang Ke sasTrowulan, ketemu patung berbadan kekar yang tangan kanannya memegang cambuk.
            Mungkin itj patung GM ya……?

  21. Palagan agung di hari kedua.

    Maharaja Lingga Buwana dan keluarga istana telah berada di tajuk agung.

    “Apakah kamu sudah mendapatkan berita tentang anak muda itu”, berkata Maharaja kepada Mahapatihnya sambil matanya terus mengamati Rangga Seta yang tengah memasuki arena gelanggang.

    “Ampun tuanku, kami hanya mendapat sedikit berita mengenai anak muda itu, katanya hanya seorang pengembara biasa yang berasal dari pesisir Tuban”, berkata Mahapatih Madhu Sagara kepada junjungannya.

    “nampaknya Rangga Manjura tidak akan dapat menandingi anak muda itu”, berkata Maharaja Linga Buwana kepada Mahapatihnya sambil terus menatap ke arena gelanggang dimana pertarungan kedua petarung terlihat sudah saling menyerang dan balas menyerang.

    “Kakanda, Dinda melihat anak muda itu berkepala dua”, berkata sang permaisuri Dewi Lara Linsing dengan suara berbisik kepada suaminya.

    Mendengar bisikan dari sang permaisurinya , terlihat Maharaja Lingga Buwana hanya tersenyum.

    “Anak muda itu bergerak terlalu cepat, jadi dinda melihatnya seperti berkepala dua. Atau mata dinda yang sudah terlalu lelah”, berkata Maharaja Lingga Buwana kepada sang permaisuri.

    Mendengar perkataan Maharaja Lingga Buwana, sang permaisuri tidak berusaha berkeras dan berbantahan, hanya berharap itu bukan sebuah pertanda buruk. Apalagi setelah lama menyaksikan pertarungan di tengah gelanggang, penglihatan sang permaisuri sepertinya telah kembali seperti sedia kala sebagaiman orang awam melihat.

    “Semoga saja bukan pertanda buruk, atau mungkin saja kesehatanku yang sedikit terganggu”, berkata permaisuri Dewi Lara Linsing dalam hati.

    Sungguh sangat disayangkan, sebenarnya Dewi Lara Linsing punya sebuah kemampuan yang tidak dimiliki banyak orang. Permaisuri yang sangat cantik jelita itu ternyata dapat melihat berbagai pertanda atau sebuah pengabaran. Seandainya saja pertanda yang dilihat oleh Sang permaisuri ditanggapi, pasti sejarah kehidupan di Jawadwipa akan mengalir lain.

    “Luar biasa gerak jurus ilmu yang dimiliki oleh anak muda itu, sangat tidak mudah dibaca”, berkata Maharaja Lingga Buwana yang telah mulai condong menyukai Rangga Seta.

    Sebagaimana yang tengah dilihat oleh Maharaja Lingga Buwana, ternyata Rangga Seta telah menerapkan jurus ilmu andalannya yaitu jurus ilmu Adtyagundala. Terlihat lawan tandingnya seperti seekor tikus kecil yang tengah dipermainkan.

    Nampaknya Rangga Seta sangat bijaksana, tidak ingin membuat malu perwira itu dengan langsung menjatuhkannya.

    Tapi tidak dalam pandangan Maharaja Lingga Buwana yang punya kemampuan ilmu cukup tinggi.

    • Wah….
      Kamsiaaaaaaaa……

    • Matur nuwun Ki Sandikala,…sugeng siaang…

    • Wah kamsia ki dhalang

  22. Ternyata perkiraan Maharaja Lingga Buwana menjadi kenyataan, sebuah tendangan yang cukup keras telah membuat perwira utama itu tersungkur di tanah keras. Cukup lama perwira utama yang bernama Rangga Majura itu tergeletak di tanah tak sadarkan diri.

    Sorak dan sorai bergemuruh di alun-alun Kotaraja Kawali, sejak kemenangan di pertempuran kemarin ternyata banyak orang sudah bersimpatik kepada Rangga Seta. Maka tidak heran bahwa kemenangan hari itu adalah kemenangan orang-orang yang mendukungnya.

    “Bawalah anak muda itu besok ke Bale rumah panjang, aku ingin mengenal lebih dekat lagi dengan anak muda itu”, berkata Maharaja Lingga Buwana kepada Mahapatihnya.

    “Perintah tuanku akan hamba junjung”, berkata Mahapatih Madhu Sagara penuh kehormatan kepada Maharaja Lingga Buwana.

    Terdengar gong dipukul tiga kali sebagai pertanda palagan agung telah ditutup. Gemuruh suara kegembiraan mewarnai suka cita semua orang yang hadir di alun-alun Kotaraja Kawali.

    Terlihat dua orang prajurit pengawal datang menghampiri Rangga Seta.

    “Atas perintah tuan Mahapatih Madhu Sagara,, kami diminta untuk mengantar tuan ke pura pasanggrahan istana”, berkata seorang prajurit kepada Rangga Seta.

    “Apakah aku boleh membawa dua orang anggota keluargaku ?”, bertanya Rangga Seta kepada prajurit itu.

    “Sejak hari ini segala hak dan kewajibanmu adalah hak dan kewajiban seorang Senapati agung, juga hak dirimu untuk tinggal di pura pasanggrahan istana bersama keluargamu”, berkata seorang lelaki tua yang tidak lain adalah Mahapatih Madhu Sagara kepada Rangga Seta.

    “Terima kasih”, berkata Rangga Sagara kepada lelaki tua itu.

    Demikianlah, terlihat Rangga Seta, Nala dan Ki Jatayu tengah mengikuti langkah kedua prajurit yang tengah mengantar mereka bertiga menuju arah Pura pasangrahan istana.

    Pura pasanggrahan istana adalah tempat tinggal para pejabat tinggi istana, sementara Maharaja Sunda Galuh bersama keluarganya tinggal di bale rumah panjang, sebuah rumah panggung yang berjajar panjang disamping sebuah tempat tinggal raja dan keluarganya, juga sebagai tempat pertemuan Raja dengan para tamunya.

    “Begitu terhormatnya diriku, karena hari ini aku punya keponakan seorang Senapati Agung kerajaan Sunda Galuh”, berkata Ki Jatayu kepada Rangga Seta penuh kegembiraan hati.

    “Sandiwara ini telah dimulai, seorang Senapati Agung bersama adik dan pamannya”, berkata Nala

    “Semoga saja segala kesenangan dan kemewahan ini tidak mencondongkan perasaan hatiku melupakan pengabdiaku kepada Kerajaan Majapahit”, berkata Rangga Seta kepada Nala dan Ki Jatayu.

    • Kamsiiiaaaa Pak Dhalang…..
      Apakah Pak Dhalang tidak ingin berkunjung ke SasTrowulan ..?
      Siapa tau bisa menemukan rumah Ki Sahdatun….?

      • belum lama cuma sampe Malang -sidoarjo, hehe

        • Kamsia ki dhalang, saya jadi makin penasaran pasti nanti bakal terjadi konflik kepentingan pada diri RS diantara pengabdian sebagai rakyat majapahit dan sebagai senopati agung di kerajaan sunda galuh

  23. saking pwenake beber cerita, numpang nanya dulu ach sama Pak satpam, sudah bisa masuk ke gandhok anyer KAH ?, hehe

    • Pak Satpam said : Kalau malam ini digelontor empat rontal lagi mungkin sudah bisa.

      • Pelangisingasari said : masih di jalan, lagi cari tumpangan ke arah Padepokan, qiqiqi

        • Pak satpam said : haduh, kok salah baju, hehe

    • Sepertinya sudah.
      hanya saja Risang masing belum sempat tata rontal dan buat gandok.
      Isya Allah, sebelum ganti hari gandok baru sudah bisa disiapkan.

      • Tak enteni lho ya

        • Melu ki mbleh ngarep empat rontal lagi

  24. Gandok PKPM-21 sudah dibuat
    Silahkan bergojeg di sana.
    Sementara gandok ini akan dibersihkan dari rontal yang tercecer untuk ditata di tempatnya.
    Untuk sementara Risang belum bisa selesaikan bundelnya.
    Tidak tahu kenapa, bundelnya mrucut terus.
    Office Risang rupanya bermasalah, beberapa kali “hang” dan tidak menyimpan “recovery”nya.

    • Secepatnya, rontal akan segera ditata.

  25. Uaaaahhh….pas bgt.met malming n ttap semangat kagem sedoyo kemawon.jueeelas kwi ha saiki ki ag piket malming j.wah jiiiaannnn…. .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: