SBB-02

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 21 November 2011 at 00:01  Comments (14)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

14 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng enjing. Sehari kemarin pintu njeglek, gandok tidak bisa dimasuki.

  2. Nuwun
    Sugêng énjang

    Mugi pinaringå karahayon ing dintên punikå. Tinêbihnå ing sambékålå. Aamin.

    Nuwun, kulånuwun. Panjênênganipun pårå pêpundhèn, pårå sêpuh, pårå pinisêpuh ingkang hanggung mastuti dhumatêng pêpoyaning kautaman, ingkang pantês pinundhi-pundhi såhå kinabêktèn. Punåpå déné pårå sanak kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, gs, adbm.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wedaran kaping-01)

    Sutåwijåyå, Danang Sutåwijåyå (lahir: ? – wafat: Jenar, 1601) dipercaya sebagai pendiri dinasti Mataram yang memerintah sebagai raja pertama pada tahun 1587-1601, yang bergelar Panêmbahan Sénåpati ing Alågå Sayidin Panåtågåmå Khalifatullah Tanah Jåwå.

    Tokoh ini dianggap sebagai peletak dasar-dasar Kerajaan Mataram. Riwayat hidupnya banyak digali dari kisah-kisah tradisional, misalnya naskah-naskah babad karangan para pujangga zaman berikutnya.

    Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris. Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja maupun pada golongan rakyat jelata.

    Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan perselisihan antar anggota keluarga yang sering dicampuri oleh VOC Belanda. Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh pengganti-penggantinya.

    Walaupun demikian, kerajaan Mataram merupakan pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram. Kebudayaan tersebut merupakan perpaduan antara kebudayaan Nusantara, Hindu-Budha, dan Islam.

    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang.

    Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kadipaten.

    Kadipaten ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Aryå Pênangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryå Pênangsang,

    Hadiwijåyå (1550-1582), adipati Pajang memberikan hadiah kepada dua orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi. Ki Agêng Pêmanahan memperoleh tanah di Hutan Mêntaok dan Ki Pênjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pêmanahan berhasil membangun hutan Mêntaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya.

    Setelah Ki Agêng Pêmanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutåwijåyå, yang juga sering disebut Pangéran Ngabéhi Loring Pasar. Sutåwijåyå kemudian berhasil memberontak pada Pajang.

    Setelah Sultan Hadiwijåyå wafat (1582) Sutåwijåyå mengangkat diri sebagai penguasa Mataram, tetapi tidak menggunakan sebutan raja, melainkan Panêmbahan Sénåpati ing Alågå Sayidin Panåtågåmå Khalifatullah Tanah Jåwå.

    Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede. Sénåpati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Gelar panembahan, dikandung maksud mempunyai kekuasaan lebih luas daripada raja. Raja mempunyai kekuasaan terbatas pada kekuasaan politis saja, meskipun dalam kenyataannya dapat lebih daripada itu, tetapi dengan gelar panembahan, kekuasaan sebagai raja, sebagai panglima tertinggi angkatan perang (sénåpati ing alågå), dan sebagai penentu kebijakan hukum agama (panåtå gåmå) dibakukan berada pada satu tangan.

    Siapakah beliau. Berikut ini dongengnya, yang kita awali dari peristiwa perseteruan antara Pajang dan Jipang.

    ***

    Perkembangan yang memanas antara Aryå Pênangsang dengan Adipati Hadiwijåyå, sangat menggelisahan hati Sunan Kalijågå. Disatu sisi Sunan Kalijågå adalah salah satu guru Djåkå Tingkir, disisi lain Sunan Kudus yang berpihak pada Aryå Pênangsang adalah merupakan kerabatnya sebagai ulama utama di tanah Jawa.

    Sunan Kalijågå tidak ingin terjadi keributan perebutan kuasa. Dan berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah dari terjadi diantara keturunan dinasti Dêmak Bintårå. Untuk itu Sunan Kalijågå datang mengunjungi Sunan Kudus.

    Dalam silaturahim antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijågå dibincangkan soal ketegangan antara Pajang dan Jipang. Pandangan Sunan Kalijågå tentang keberpihakan Sunan Kudus terhadap Aryå Pênangsang diakui kebenaranya oleh Sunan Kudus.
    Akan tetapi, menurut Sunan Kalijågå, Dêmak Bintårå sudah runtuh. Para ulama sebagai wali memiliki andil yang menyebabkan Dêmak Bintårå runtuh.

    Pada awalnya para Wali bersepakat untuk membangun Dêmak Bintårå sedikitnya bisa menyamai kejayaan Majaphait atau berumur lebih panjang daripada Majapahit. Dengan cara ikut berkiprah dalam urusan tata negara.

    Kadipaten Pajang berdiri karena hibah dari ratu Kalinyamat kepada Hadiwijåyå. Dan saat ini Kadipaten Pajang berada dibawah Adipati Hadiwijåyå yang bukan darah sêntånå Dêmak Bintårå.
    Jadi jika Aryå Pênangsang menuntut tahta Pajang, hal itu sudah diluar adat dan ketentuan Hukum, yaitu mengambil “harta” yang sudah dihibahkan kepada orang lain.

    Sunan Kalijågå memohon kepada Sunan Kudus agar para ulama sepuh sebagi Wali dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Tidak ikut campur dalam urusan “rumah tangga” anak-anak.

    Biarkanlah Aryå Pênangsang dan Hadiwijåyå menyelesaikan persoalanya sendiri. Dan yang sepuh tinggal nonton saja. Sunattulah akan berlaku bagi mereka berdua. Sing bêcik kêtitik sing ålå kêtårå.
    Sebagai ulama lebih baik mensyi’arkan Islam tanpa menggunakan kekuasaan. Biarkanlah urusan tata negara dilakukan oleh ahlinya masing-masing.

    Para ulama adalah ahli da’wah bukan ahli tata negara. Jangan sampai ulama terpecah belah karena berpihak kepada salah satu diantara mereka.
    Pawongan rakyat jelata, tentu akan mencemooh para ulama wali, yang seharusnya sebagai panutan, jika melihat para ulama kok ikut-ikutan berebut kamuktèn kekuasaan duniawi sendiri.

    Sunan Kudus berniat kembali kepada khitahnya sebagai ulama. Tidak lagi ingin mencampuri urusan dunia kekuasaan. Dan berniat untuk bersikap netral. Oleh karena itu Sunan Kudus memanggil Aryå Pênangsang untuk menjelaskan maksudnya.

    Sunan Kudus menjelaskan wacananya kepada Aryå Pênangsang, bahwa memang Aryå Pênangsang punya hak sebagai pewaris Kesultanan Dêmak Bintårå, akan tetapi Dêmak Bintårå sudah runtuh.

    Jadi hak waris Aryå Pênangsang atas Dêmak Bintårå sudah tidak ada lagi, karena semua yang ada di Dêmak Bintårå sudah dihibahkan kepada Pajang. Dan Adipati Pajang bukan keturunan Dêmak Bintårå, meskipun memiliki tètès gêtih trah Majapahit, sehingga menurut adat maupun hukum tuntutan untuk mengambil tahta Pajang sudah berada di luar adat hukum.

    Mendengar penjelasan Sunan Kudus, Aryå Pênangsang merasa ditinggal oleh gurunya yang juga pêpundènnya itu. Dia katakan bahwa tanpa Sunan Kudus berpihak pada Aryå Pênangsang, Jipang Panolan sanggup menghancurkan Pajang asal Kanjêng Kyai Bêtok, keris pusaka Sunan Kudus menjadi sipat kandêl Aryå Pênangsang berdampingan dengan keris pusaka Kyai Brongot Sétan Kobèr miliknya.

    Sunan Kudus sudah tidak bisa lagi menghalangi nafsu Aryå Pênangsang untuk merebut tahta Pajang dari tangan Hadiwijåyå. Sebagai pernyataan bahwa sama sekali Sunan Kudus tidak meninggalkan Aryå Pênangsang maka keris Kyai Bêtok diserahkan kepada Aryå Pênangsang.
    Sunan Kudus cuma ingin menyampaikan bahwa Sunan Kudus tidak lagi ikut campur tangan dalam urusan tata negara.

    Rencana menggulingkan Pajang.

    Aryå Pênangsang kecewa merasa ditinggalkan oleh sunan Kudus. Namun sedikit terhibur, karena keris saksti Kyai Bêtok milik Sunan Kudus sudah berada di tanganya sebagai sipat kandêl Adipati Jipang. Dengan memiliki dua pusaka yaitu keris Kyai Brongot Sétan Kobèr dan Kyai Bêtok, meski tanpa dukungan langsung dari Sunan Kudus Aryå Pênangsang merasa kuat untuk menghadapi Pajang. Karena Aryå Pênangsang juga yakin bahwa tidak satupun para wali yang ikut campur dalam perseteruan antara Jipang dan Pajang.

    Satu hal yang tidak diperhitungkan oleh Aryå Pênangsang bahwa disamping Adipati Hadiwijåyå ada tiga tokoh utama murid-murid sunan Kalijågå. Yakni Pêmanahan, Juru Mârtani dan Panjawi. Sedangkan disisi Aryå Pênangsang cuma ada satu yakni Sumangkar. Ibaratnya Adipati Hadiwijåyå punya tiga jenderal, tetapi Aryå Pênangsang cuma punya satu jenderal.

    Usaha melakukan pembunuhan terhadap Adipati Hadiwijåyå oleh Aryå Pênangsang dilakukan dengan aneka cara diantaranya setelah perundingan diplomatis, secara diam-diam oleh Aryå Pênangsang. Ketika perundingan tersebut mengalami jalan buntu akibat tidak terimanya usul Adipati Hadiwijåyå memberikan Dêmak Bintårå kepada Aryå Pênangsang dan status Dêmak Bintårå sebagai kadipaten dibawah Kadipaten Pajang.

    Sangat beruntung bagi Adipati Hadiwijåyå, karena seusai perundingan menyimpang dulu ke wilayah gunung Dånåråjå Jêpårå untuk bertemu dengan Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa tåpå wudå.

    Tujuan Adipati Hadiwijåyå berkunjung ke Dånåråjå adalah memenuhi permintaan Sunan Kalijågå untuk menghentikan tåpå wudå Ratu Kalinyamat. Adipati Hadiwijåyå berhasil menghentikan tåpå wudå Ratu Kalinyamat. Dan membawa sang Ratu kembali ke Jêpårå untuk memimpin kabupaten Jêpårå yang lama kosong ditinggal bertapa.

    Himbauan Adipati Hadiwijåyå kepada Ratu Kalinyamat, menyatakan bahwa jika Jêpårå dibiarkan kosong, maka dengan mudah Aryå Pênangsang dapat merebut Jêpårå, serta membiarkan Jipang menjadi lebih kuat.

    Usaha Pembunuhan Adipati Hadiwijåyå.

    Aryå Pênangsang sudah bersiap untuk menyerang Pajang. Namun Sunan Kudus masih menghalanginya. Pajang terlalu kuat untuk diperangi saat ini. Seluruh kekuatan Islam Abangan, bahkan sedikit banyak kekuatan sisa-sisa prajurit Majapahit, kini telah merapat dalam satu barisan dibawah panji Kadipaten Pajang.

    Jika Dewan Wali Sångå sudah jelas-jelas memberikan dukungan kepada Jipang, maka penyerangan ke Pajang tidaklah menjadi masalah. Karena sudah dapat dipastikan, Cirebon dan Banten, mau tidak mau akan ikut memperkuat barisan Jipang manakala Dewan Wali telah mengeluarkan fatwanya.

    Kekuatan Pajang sebenarnya terletak pada sosok Djåkå Tingkir sebagai pewaris tahta Majapahit. Sosok Adipati Pajang ini mampu memberikan semangat yang luar biasa akan kejayaan Majapahit.

    Sunan Kudus, meskipun menyatakan tidak ingin campur tangan uruasan kenegaraan, teapi dalam kenyataannya Sunan Kudus masih ikut cawé-cawé, paling tidak memberikan pendapat, atau saran, bahwa jika Djåkå Tingkir berhasil dibunuh, maka dapat dipastikan, kekuatan Pajang akan terpecah-pecah. pembunuhan seperti yang pernah dilakukan kepada Sunan Prawåtå yang berhasil dengan gemilang, tidak ada salahnya dicoba untuk dilakukan sekali lagi kepada Adipati Pajang tersebut.

    Aryå Pênangsang menanggapi hal yang dianjurkan oleh Sunan Kudus. Dipilihnyalah empat orang Prajurit Surèng, prajurit khusus Jipang Panolan, untuk menjalankan tugas rahasia tersebut.

    Empat orang prajurit pilihan yang diambil dari anggota pasukan khusus segera ditugaskan menuju Pajang. Konon, Djåkå Tingkir adalah sosok manusia digdåyå. Maka, sekali lagi, Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr yang berhasil direbut dari dalam kereta kencana Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat di kala penyerangan kepada kedua bangsawan tersebut waktu itu, kini dibekalkan kepada empat orang prajurit tersebut.

    Dengan menyamar sebagai pedagang keliling, empat orang prajurit khusus Jipang Panolan tersebut segera berangkat menuju Pajang. Beberapa hari mereka menempuh perjalanan dan akhirnya sampai juga di ibukota Kadipaten Pajang.

    Sembari berpura-pura menjajakan dagangan berupa pakaian-pakaian jadi, mereka mencoba mencari tahu seputar keadaan dan suasana Kadipaten. Sebagai seorang prajurit khusus yang telah terlatih, mereka dengan sangat cepat mampu menandai dimana titik-titik lemah penjagaan Kadipaten Pajang.

    Setelah yakin akan hasil penyelidikannya, maka pada hari keempat, tepat tengah malam, mereka segera memulai kegiatannya. Malam itu, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani belum tertidur. Keduanya masih terjaga sembari berbincang-bincang.

    Namun mendadak, baik Ki Agêng Pêmanahan maupun Ki Juru Martani, merasakan perubahan suasana yang aneh. Keadaan Kadipaten tiba-tiba terasa senyap. Bahkan suara burung malam yang sesekali terdengar, kini mendadak tak terdengar sama sekali. Seolah seluruh makhluk penghuni malam, telah hilang begitu saja, entah kemana. Bahkan, jengkerikpun tiba-tiba tidak memperdengarkan suara khasnya.

    Suasana yang terasa aneh seperti itu membuat kedua orang ini waspada. Ki Juru Martani berbisik kepada Ki Agêng Pêmanahan bahwa sepertinya ada orang yang tengah menebarkan kekuatan gaib ilmu sirêp, yaitu sejenis ilmu yang dipergunakan untuk membuat orang lain tertidur pulas bagaikan mati. Ki Agêng Pêmanahan segera memutuskan untuk keluar dari bilik pribadi. Dengan diikuti oleh Ki Juru Martani, keduanya segera berkeliling areal Kadipaten.

    Didalam bilik peraduan, Adipati Hadiwijåyå juga merasakan perubahan suasana yang aneh tersebut. Malam itu, Sang Adipati tidur dengan ditemani empat orang istri selir beliau. Keempat istri selir nampak pulas tertidur disisi kanan dan kiri Sang Adipati, mereka tertidur bagaikan mati.

    Hanya tinggal Adipati Hadiwijåyå saja yang terjaga dengan benak dipenuhi tanda tanya. Ada sesuatu yang tengah terjadi. Sang Adipati kini mulai meningkatkan kewaspadaannya. Dengan tetap berbaring telentang, Adipati Hadiwijåyå sengaja menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain kêmbên. Suasana sangatlah senyap.

    Mendadak dari arah pintu kamar, lamat-lamat terdengar bunyi berisik. Mata Sang Adipati nyalang melirik ke arah pintu kamar. Jelas dari arah luar, ada orang yang sengaja berusaha masuk secara paksa kedalam. Sang Adipati waspada. Dengan tetap dalam posisi telentang berselimutkan kain kêmbên, Sang Adipati siaga sepenuhnya.

    Tidak berapa lama berselang, dua orang bercadar berhasil membuka pintu dan langsung masuk kedalam. Yang seorang segera bergerak kearah pembaringan dan yang seorang tetap menjaga pintu. Terlihat keris dihunus dari warangka, berkilat sesaat tertimpa cahaya pelita kamar. Dengan memegang keris terhunus dan berjalan mengendap-endap, salah seorang bercadar mendekati pembaringan Adipati Hadiwijåyå.

    Begitu jarak sudah sedemikian dekat dengan tubuh Sang Adipati, orang bercadar tersebut secepat kilat menikamkan keris kedada Sang Adipati. Keris terayun mengarah dada. Namun terjadi keanehan. Tusukan yang telah sedemikian tepat dan mematikan tersebut seakan-akan telah membentur selapis dinding.

    Dada Sang Adipati sama sekali tidak terluka sedikitpun. Hanya kain kêmbên yang dijadikan selimut tersingkap. Orang bercadar yang menusukkan keris terkejut. Sekali lagi dihunjamkannya keris kearah yang sama. Dan sekali lagi pula, bahkan orang yang menusukkan keris itu terpelanting ke belakang.

    Disaat itu, Adipati Hadiwijåyå mendadak membuka matanya. Dengan menggeram marah, Adipati Hadiwijåyå segera menjejakkan kakinya ke dada orang bercadar yang berusaha hendak menusukkan keris sekali lagi ke arah tubuhnya. Jejakan kaki Sang Adipati tepat mengenai dada. Tubuh orang bercadar terdorong kebelakang, dan jatuh menimpa perabotan kamar diiringi bunyi gaduh yang nyaring.

    Bunyi gaduh akibat jatuhnya tubuh orang bercadar menimpa perabotan kamar membuat keempat istri selir terbangun. Begitu menyadari ada dua orang lain yang tengah hadir didalam kamar, mereka menjerit ketakutan.

    Dengan bertelanjang dada, Adipati Hadiwijåyå bangkit dari pembaringan dan langsung menyambar sebuah keris yang menyandar disudut dinding. Adipati Hadiwijåyå menghunus keris tersebut seketika. Salah seorang bercadar yang sedari tadi menjaga pintu, tanpa menunggu waktu langsung menyerang Sang Adipati. Perkelahian segera terjadi. Kegaduhan pun tercipta diiringi jerit ketakutan keempat istri selir yang kini nampak berkumpul berdiri di pojok kamar.

    Tusukan keris bisa dihindari oleh Adipati Hadiwijåyå. Bahkan dengan tak terduga, keris ditangan Sang Adipati cepat menukik ke arah perut. Orang bercadar kaget. Begitu cepat serangan tersebut. Dia berusaha menghindar selekasnya, namun karena terlalu cepatnya serangan, kulit perutnyapun tergores juga. Dibalik cadarnya, dia meringis kesakitan.

    Salah seorang yang sedari tadi terjatuh, kini bangkit berdiri dan langsung menyerang. Kegaduhan kembali terjadi lebih dari semula. Namun, bagaimanapun juga, kedua pasukan khusus Surèng Jipang Panolan ini diam-diam harus mengakui, sosok Adipati Hadiwijåyå memang tangkas dan trengginas.

    Belum lama pertempuran terjadi, karena terpancing suara gaduh dan jeritan para selir yang berselang-seling dengan teriakan-teriakan dari mereka yang tengah berkelahi, beberapa pasukan pengawal Adipati merangsak masuk ke dalam kamar. Nampak Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani langsung ikut meleburkan diri dalam kegaduhan.

    Sang Adipati berteriak lantang: “Jangan bunuh. Tangkap hidup-hidup.”
    Apa daya dua orang menghadapi beberapa prajurit pengawal Adipati Pajang. Begitu tombak-tombak panjang yang runcing terarah ketubuh mereka, mau tak mau, mereka menghentikan serangannya dan langsung duduk bersimpuh.

    Kangjeng Adipati, saya juga telah membekuk dua orang lain yang berada diluar.”. Ujar Ki Agêng Pêmanahan sembari menyembah.
    Adipati Hadiwijåyå menyarungkan kerisnya. “Kurung mereka untuk sementara waktu. Obati luka-luka mereka. Besok pagi, hadapkan semuanya kepadaku.”

    Ki Agêng Pêmanahan menyembah kemudian memerintahkan dua orang prajurit pengawal untuk mengikat tangan kedua orang bercadar yang kini tengah duduk bersimpuh. Keduanya digiring keluar kamar dan dibawa ke pakunjaran.

    Malam itu, Adipati Hadiwijåyå terpaksa harus tidur dikamar permaisurinya, Nimas Sêkaring Kêdhaton yang jadi ikut terbangun akibat kejadian tersebut. Beberapa pelayan wanita terpaksa pula membereskan seluruh perabotan pecah belah yang hancur berserakan akibat perkelahian barusan. Malam itu, seisi Kadipaten Pajang geger.

    Keesokan harinya, keempat orang yang semalam tertangkap, dihadapkan secara khusus kepada Adipati Hadiwijåyå. Cadar mereka telah dibuang. Kini wajah keempat-empatnya nampak jelas sudah. Mereka menundukkan muka, menunggu jatuhnya hukuman mati yang pasti akan diberikan oleh Adipati Hadiwijåyå.

    Sang Adipati terdiam agak lama memperhatikan keempat orang yang nampak sudah sangat pasrah tersebut. Di sana, Ki Mas Måncå, Ki Wilå, Ki Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani ikut hadir. Berikut beberapa prajurit pengawal.

    Suasana tegang, menantikan apa yang hendak dilakukan oleh Sang Adipati. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun.

    Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyåpun angkat suara. “Dimas Pêmanahan. Bagaimana hasilnya?
    Ki Agêng Pêmanahan menyembah sejenak dan menjawab: “Kasinggihan Dalêm Kangjêng, keempat orang ini adalah prajurit Surèng dari Jipang Panolan.

    Seluruh yang hadir terkejut seketika mendengar jawaban Ki Agêng Pêmanahan. Adipati Hadiwijåyå lekat memperhatikan keempat orang dihadapannya sembari memincingkan mata. Yang diperhatikan semakin menundukkan kepala.

    Nampak kemudian, Ki Agêng Pêmanahan mengeluarkan benda dibungkus kain putih dari balik bajunya, kemudian menyembah sejenak dan berjalan duduk menghampiri tempat Adipati. “Mohon Kangjeng Adipati berkenan memeriksa benda ini.”

    Adipati Hadiwijåyå menerima benda berbungkus kain putih yang dihaturkan Ki Agêng Pêmanahan. Dengan menahan nafas, dibukanya kain putih penutup, begitu benda telah lepas dari penutupnya, memerahlah wajah Sang Adipati. Bibirnya tanpa sadar bergumam: “Kyai Brongot Sétan Kobèr .

    Suara Sang Adipati menambah keterkejutan semua yang hadir. Ditangannya kini tergenggam sebilah keris yang tak lain adalah Kyai Brongot Sétan Kobèr, keris pusaka milik Sunan Kudus yang telah diberikan kepada Aryå Pênangsang.

    Dada Adipati Hadiwijåyå bergemuruh. Ditunjukkannya keris ditangan kepada Ki Mas Måncå. Ki Mas Måncå memincingkan mata memperhatikan keris tersebut lekat-lekat. Sembari menarik nafas, wajah Ki Mas Måncå bersemu merah. “Bagaimana, kangmas?”, tanya Adipati Hadiwijåyå.
    Ki Mas Måncå diam sesaat. Kemudian dia menjawab: “Terserah dimas Adipati. Ini sudah keterlaluan.

    Keris lalu diserahkan kembali kepada Ki Agêng Pêmanahan. Kini kembali Adipati Hadiwijåyå memperhatikan empat orang prajurit Surèng Jipang Panolan. Sang Adipati dengan suara tertahan, menanyakan langsung kepada keempat prajurit di hadapannya, benarkah Aryå Pênangsang yang telah memerintahkan mereka.

    Salah seorang prajurit yang ditunjuk untuk menjawab, dengan terbata-bata membenarkan akan hal itu. Suasana menjadi bertambah tegang.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas, kemudian berkata: “Kalian orang Jipang, terimakasih kalian mau mengunjugi Kadipaten Pajang, sungguh kedatangan kalian sangat tidak kuduga. Aku mengucapkan selamat datang.”

    Mendengar titah Sang Adipati, semua yang mendengar tidak menduga sama sekali. “Pulanglah kalian kembali ke Jipang Panolan. Sampaikan salamku kepada junjungan kalian Adipati Jipang, Kangmas Aryå Pênangsang. Katakan padanya biarlah keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, sementara ada di Pajang, kelak akan kukembalikan.
    Kalian tidak usah takut kekurangan bekal, kalian akan aku beri segenggam intan dan emas permata, serta uang kèpèng yang banyak. Katakan juga kepada junjungan kalian, bahwa Djåkå Tingkir masih segar bugar
    ” Demikian Sang Adipati berkata.

    Keeesokan harinya, keempat prajurit Surèng dari Jipang dihantarkan oleh prajurit khusus pengawal Adipati keluar dari ibu kota Pajang untuk pulang kembali ke Jipang Panolan. Betapa malu keempat orang prajurit Surèng tersebut mendapat perlakuan semacam itu.

    Kepulangan empat prajurit Surèng ke Jipang Panolan, bukannya membawa kabar keberhasilan yang membuat Aryå Pênangsang senang, namun malahan membawa malu yang mencoreng muka Aryå Pênangsang. Tidak hanya gagal menjalankan tugas, tapi juga meninggalkan Keris Kyai Setan Kober di Pajang. Sudah bisa ditebak, diam-diam keempat orang prajurit ini dijatuhi hukuman penggal kepala oleh Aryå Pênangsang karena tidak berhasil menjalankan tugas.

    Sunan Kudus tak habis pikir, betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Hadiwijåyå. Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun. Aryå Pênangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang. Karena semua sudah kepalang basah.

    Namun lagi-lagi, Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi. Satu cara untuk memancing Adipati Hadiwijåyå keluar dari sarang. Jika berhasil dipancing keluar dari sarangnya, maka untuk memusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya dan membunuhnya akan semakin mudah dilakukan.

    ånå toêtoêgé atawa to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • MATUR NUWUN KI BAYU,

      DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
      DANANG SUTÅWIJÅYÅ…..CANTRIK BACA,

    • Matur sembah nuwun Ki Bayu, kulo tenggo dongeng toetoege.

  3. selamat PAGI…..cantrik HADIR,

  4. Ingak-inguk gandhok sebelah regol durung dibukak meh wae wae tak lumpati ning wedi karo P Satpam . njur bablas bali mrene ,

    sugeng siang sanak kadang sedoyo mugi pinanggih wilujeng .

    Nuwun .

  5. MAtur nuwun ki Bayu dongengipun KUlo tenggo candhakipun .

    Nuwun

  6. selamat MALAM…..cantrik HADIR,

  7. Sugêng énjang

    Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram episode de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå Danang Sutåwijåyå. masih akan berlanjut………………………

    Sebuah kisah sejarah, namun telah tercampur dengan legenda tutur rakyat, antara lain:

    a. Ratu Kalinyamat tåpå wudå ???
    b. Ki Agêng Séla Sang Penangkap Petir?
    c.Siapakah ayah kandung Danang Sutåwijåyå, yang kelak adalah Panêmbahan Sénåpati, penguasa Mataram?
    d. Masih trah Majapahitkah beiau?
    e. Benarkah beliau pernah bercengkrama dengan Kanjêng Ratu Kidul?

    Ada yang punya referensinya? Månggå silakan berbagi penegtahuan.
    atau
    Tunggu saja dongengnya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • sugeng enjang ki BAYU,

  8. HADIR

  9. 12

  10. kok wali sanga bisa bersatu dalam satu kurun waktu ya…padahal mereka hidup dalam tahun berbeda beda…..ini seperti film wali songo, siapa yang memutar balikkan sejarah ya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: