SBB-03

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 24 November 2011 at 00:01  Comments (38)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-03/trackback/

RSS feed for comments on this post.

38 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng enjing poro kadang sedoyo.

  2. 1

    • ternyata 2

  3. Lha ki Arga karo ki Bambang Prasojo jebul mruput tenan , sugeng enjang ki Arga tuwin ki Bambang Prasojo lan sanak kadang sedoyo

    Melu antri ………………………………….

    Nuwun

    • SBB-03……matur nuwun,

  4. 7

  5. Ra melu-melu ………………

  6. 11……MELU-MELU RA,

  7. Winginane lawange NJEGLEG, bareng saiki malah wis dibukak’e senthong nomer-3.

    MELU-MELU matur nuwun.

    • njegleg…..nyenggol tanpa sengojo
      njawil……sengojo nyenggol tanpa pamit

      • nDulit……sengojo nyenggol tanpa rego.

        • nDemek……sengojo nyenggol tanpa kanca.

  8. HADIR (pake bold)….HADIR (pake italic)

    • Layang Kumitir, Layang Seta
      Ki Menggung hadir, gadhok dadi reja.

  9. Nuwun
    Sugêng dalu

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    —de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå—

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-2)

    Pada hari yang akan ditentukan, Sunan Kudus secara pribadi akan mengirimkan undangan khusus kepada Adipati Pajang. Sunan Kudus sengaja mengundang Sang Adipati guna untuk memperingati tahun baru Islam, satu Muharram, yang hendak dirayakan oleh Pesantren Kudus.

    Waktu itu, kalender Jawa belum lahir. Kalender yang dipakai adalah kalender Hijriyyah dan kalender Çaka. Kedua kalender yang berasal dari tradisi Islam dan tradisi Hindu ini dipakai secara bersamaan. Jadi waktu itu belum dikenal istilah Suroan.

    Kalender Jawa baru lahir kelak oleh cicit Ki Agêng Pêmanahan, cucu Panembahan Senopati, yaitu Kangjêng Sultan Agung Hanyåkråkusumå pada tahun 1555Ç atau 1633M. Kalender Jawa adalah sistim penanggalan dimana kalender Hijriyah dari Islam dan kalender Çaka dari Hindu digabung menjadi satu kesatuan.

    Dapat dipastikan, Adipati Hadiwijåyå sebagai seorang pemimpin yang disegani di Jawa, akan menghargai undangan tersebut. Undangan dari seorang anggota Dewan Wali Sångå yang tergolong sepuh. Yang punya pengaruh dan suaranya didengar di dalam Dewan Wali. Maka mau tak mau, Adipati Hadiwijåyå akan hadir memenuhi undangan tersebut.

    Manakala Adipati Hadiwijåyå telah datang ke Kudus, maka Aryå Pênangsang yang harus menyambut kedatangannya. Sunan Kudus telah menyediakan sebuah kursi khusus yang sengaja telah diberi mantra untuk melenyapkan segala macam ilmu kesaktian yang dimiliki siapapun yang duduk diatasnya. Dan adalah tugas Aryå Pênangsang untuk mengusahakan agar Adipati Hadiwijåyå bisa duduk dikursi tersebut. Disamping itu, diam-diam Aryå Pênangsang juga harus mempersiapkan seluruh angkatan bersenjata Jipang untuk bersiap-siap menyerang Pajang.

    Jika Adipati Hadiwijåyå telah menduduki kursi khusus tersebut, maka saatnya bagi Aryå Pênangsang untuk membunuh Sang Adipati saat itu juga. Dapat dipastikan, seluruh kekuatan Adipati Hadiwijåyå luruh. Begitu Sang Adipati telah tewas, maka Aryå Pênangsang harus segera memerintahkan penyerangan besar-besaran ke Pajang.

    Dengan tidak adanya Adipati Hadiwijåyå, Pajang, sekuat apapun, hanya akan menjadi harimau tak bertaring. Pajang akan kucar-kacir. Dan Jipang pasti bisa menjebol Pajang.

    Rencana yang sangat matang tersebut disetujui Aryå Pênangsang. Dan menginjak bulan ke sebelas menurut kalender Islam, yaitu bulan Dzulqo’idah, Sunan Kudus mengirimkan surat undangannya ke Pajang.

    Surat dari Sunan Kudus tersebut diterima oleh Adipati Hadiwijåyå. Isi surat segera menjadi bahasan serius Sang Adipati. Disana tertera bahwasanya Sunan Kudus mengharap dengan hormat kepada Kangjeng Adipati Pajang, Hadiwijåyå, untuk bersedia hadir di Kudus pada bulan Muharram guna ikut memperingati perayaan tahun baru Islam.

    Seluruh orang terdekat Adipati Hadiwijåyå menyarankan agar Adipati Hadiwijåyå berhati-hati. Bisa jadi ini adalah jebakan baginya. Namun, tidaklah layak mengabaikan undangan seorang berpengaruh di Jawa seperti Sunan Kudus dimana wibawanya memiliki kekuatan dalam Dewan Wali Sångå.

    Maka diputuskan, Adipati Hadiwijåyå akan berangkat ke Kudus dengan didampingi oleh Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Sedangkan Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil, akan tetap di Pajang. Menyiagakan seluruh kekuatan angkatan bersenjata Pajang jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adipati Hadiwijåyå mempercayakan Pajang kepada Ki Mas Måncå manakala dia pergi ke Kudus.

    Dua bulan kemudian, menjelang beberapa hari sebelum hari perayaan yang tertera dalam surat undangan dari Kudus, berangkatlah rombongan Adipati Pajang ke Kudus. Segala macam kebesaran Pajang nampak dari rombongan tersebut. Disetiap jalan yang dilalui, rombongan Pajang senantiasa mendapatkan berbagai bentuk penghormatan dari rakyat.

    Bahkan, ditempat-tempat mana rombongan Pajang bermalam, rakyat sangat bersuka cita menerima kehadiran mereka. Banyak yang mempersembahkan makanan dengan suka rela walaupun sebenarnya, seluruh rombongan tidak begitu memerlukannya. Perbekalan yang dibawa dari Pajang sudah lebih dari cukup.

    Namun, Adipati Hadiwijåyå memerintahkan kepada seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan agar menerima segala persembahan dari rakyat tersebut. Walaupun nampak remeh-temeh, namun itu adalah wujud kecintaan rakyat kepada mereka semua. Jangan sekali-kali mengtak-acuhkan persembahan makanan yang diunjukkan dengan rasa penuh kecintaan tersebut.

    Beberapa hari kemudian, sampailah rombongan Adipati Pajang ke kota Kudus. Kedatangan rombongan dari Pajang ini mengagetkan masyarakat Kudus. Mereka terperangah melihat segala macam kebesaran yang terlihat. Mereka baru menyadari, bahwa Pajang ternyata sudah pantas jika menjadi sebuah kerajaan besar.

    Panji-panji Pajang berkibar-kibar. Berkelebat dengan gagah diterpa angin. Nampak di depan, Adipati Hadiwijåyå menaiki seekor gajah diiringi beberapa prajurit berkuda diarah depan, kiri, kanan dan baru rombongan berkuda juga dibelakangnya. Seluruh orang Kudus kagum melihat kebesaran Pajang.

    Rombongan itu langsung menuju ke Pesantren Kudus. Disana, para santri menyambut kedatangan rombongan Adipati Pajang dengan menabuh rebana dan menyanyikan salawat Nabi seperti kebiasaan mereka.

    Di antara rombongan, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, tetap mempertajam kewaspadaan mereka. Nampak, selain para santri, ada terlihat beberapa pasukan Jipang yang juga telah hadir disana. Bahkan ada beberapa pasukan dari daerah lain yang nampak ikut hadir.

    Namun kedatangan rombongan dari Pajang, lebih menyita perhatian. Kebesaran Adipati Hadiwijåyå sangat memukau semua mata. Begitu Sang Adipati turun dari atas punggung gajah, nampak dipendåpå, beberapa santri langsung menyambutnya dan mempersilakan masuk ke pendåpå.

    Seluruh rombongan turun dari kuda. Masing-masing tali kekang kuda ditambatkan ditempat yang telah disediakan. Perayaan tahun baru Islam di Kudus memang terlihat meriah.
    Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani segera mengiringi Adipati Hadiwijåyå. Mereka masuk ke pendåpå diikuti para prajurit khusus Pajang yang lain.

    Begitu seorang santri kembali mempersilakan agar Adipati Hadiwijåyå masuk ke ruang dalam untuk bertemu secara khusus dengan Sunan Kudus, Ki Agêng Pêmanahan segera memilih beberapa prajurit yang terlatih untuk ikut mengiringi Sang Adipati bersamanya. Sedangkan Ki Juru Martani, tetap bertugas diluar, menyiagakan seluruh prajurit yang tidak ikut masuk bila ada hal yang tidak dikehendaki nanti.

    Manakala Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit pilihan masuk keruang dalam, betapa terkejut mereka ketika disana Aryå Pênangsang dan beberapa prajurit khusus Jipang Panolan telah berdiri menyambut. Baik Adipati Hadiwijåyå maupun Ki Agêng Pêmanahan segera waspada.

    Aryå Pênangsang langsung bergerak memeluk Adipati Hadiwijåyå. Setelah itu dia berkata: “Dimas Hadiwijåyå, sangat senang hatiku melihat adimas bersedia hadir di Kudus ini. Sugêng rawuh Dimas

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Kasinggihan kangmas, hati sayapun gembira bisa melihat kangmas Aryå Pênangsang juga hadir di Kudus ini.

    Diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan memberikan isyarat waspada kepada seluruh prajurit yang ikut masuk.

    Terdengar Aryå Pênangsang kembali berkata: “Mari adimas, silakan duduk disini…

    Aryå Pênangsang mempersilakan Adipati Hadiwijåyå untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia. Namun, mendadak terbersit perasaan ganjil di hati Adipati Hadiwijåyå manakala matanya melihat keberadaan kursi yang dimaksud oleh Aryå Pênangsang. Tanpa sadar, Adipati Hadiwijåyå berkata: “Ah, kangmas. Bukankah itu kursi paling bagus di antara semua kursi yang ada di sini. Tak layak bagiku duduk di sana. Hanya Båpå Sunan Kudus sajalah, sebagai tuan rumah yang pantas mendudukinya.

    Aryå Pênangsang tersenyum simpul. “Tidak mengapa dimas, månggå…

    Aryå Pênangsang terlihat agak memaksa. Sikap Aryå Pênangsang menambah ketidak- nyamanan dihati Adipati Hadiwijåyå semakin bertambah-tambah. Terasa aneh. Adipati Hadiwijåyå, secara halus tetap menolak untuk duduk disana.

    Sudahlah, kangmas Penangsang. Saya akan duduk dikursi sebelahnya saja. Kurang patut rasanya jika saya yang duduk di kursi itu.

    Aryå Pênangsang kaget. Namun segera dia menutupi kekagetannya. “Ada apa dengan kursi itu? Apa yang dimas takutkan?

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi jika memang tidak ada apa-apa di sana, apakah kangmas berani mendudukinya?

    Aryå Pênangsang sedikit bingung. Hal ini tak luput dari perhatian Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan.

    Mengapa kangmas? Kangmas takut duduk di sana?,” sindir Adipati Hadiwijåyå.

    Memerah wajah Aryå Pênangsang, dia menjawab: “Tidak ada apa-apa di sana, mengapa aku mesti takut?

    Dan dengan pongahnya Aryå Pênangsang langsung berjalan kearah kursi tersebut dan langsung duduk di atasnya. Padahal Sunan Kudus telah wanti-wanti, kursi tersebut telah diisi dengan jåpå måntrå, siapa saja yang menduduki kursi tersebut, dapat dipastikan, seluruh ilmu kanuragan yang dimiliki akan luruh seketika itu juga.

    Diam-diam, Sunan Kudus yang tengah mengintip dari dalam, menggeram marah melihat kebodohan dan kesombongan Aryå Pênangsang. Namun dia belum memutuskan untuk keluar menemui Adipati Hadiwijåyå.

    Melihat kursi yang semula ditawarkan kepadanya kini telah diduduki oleh Aryå Pênangsang, Adipati Hadiwijåyå tersenyum simpul, lalu mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Aryå Pênangsang. Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit, segera duduk bersila di bawah.

    Setelah berbasa-basi sejenak, Adipati Hadiwijåyå menyengaja berkata demikian: “Oh ya kangmas, saya jadi ingat. Beberapa bulan yang lalu, Pajang kedatangan beberapa orang yang mengincar nyawa saya. Tapi syukurlah, Hyang Widdhi masih memberikan keselamatan kepada saya…,

    Sengaja Adipati Hadiwijåyå menggantung kalimatnya untuk melihat tanggapan Aryå Pênangsang. Aryå Pênangsang agak gugup, tetapi berpura-pura kaget. “Benarkah? Ah berani sekali. Syukurlah jika dimas bisa lolos dari maut dan selamat sampai hari ini.

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum mengangguk, katanya kemudian: “Dan keris yang akan dipakai untuk membunuh saya, berhasil saya ambil…

    Adipati Hadiwijåyå memberi isyarat kepada Ki Agêng Pêmanahan. Ki Agêng Pêmanahan nampak tegang. Kemudian dia mendekat dan mengulurkan sebuah peti kayu jati ke arah Adipati Hadiwijåyå.

    Adipati Hadiwijåyå menerimanya, dan membuka peti tersebut. Dikeluarkannya sebilah keris dari sana. Dipegangnya sedemikian rupa sehingga semua mata bisa melihat keris ditanganya. “Inilah keris itu.”

    Muka Aryå Pênangsang memerah padam. Apalagi ketika mendengar ucapan Adipati Hadiwijåyå selanjutnya. “Dan kehadiran saya di sini, selain memenuhi undangan Kanjêng Sunan Kudus, saya bermaksud mengembalikan keris ini kangmas Aryå Pênangsang, sebagai pemiliknya.

    Dengan wajah tenang dan bibir tersenyum, Adipati Hadiwijåyå menyerahkan keris tersebut kepada Aryå Pênangsang. Ragu Aryå Pênangsang menerimanya. Namun akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara malu dan marah, diterima juga keris itu.

    Terdengar kembali Adipati Hadiwijåyå berkata datar: “Konon keris tersebut sangat ampuh. Tapi bagi saya keris ini tidak lebih hanya sebilah pisau dapur yang tumpul.

    Amarah Aryå Pênangsang bangkit. Setengah menggeram dia berkata: “Jika saya yang menggunakannya, jangankan manusia, gunung jugrug sêgårå asat seketika.

    Adipati Hadiwijåyå tergelitik juga, lalu Sang Adipati mencabut keris sakti andalannya Kyai Carubuk yang sedari tadi terselip di pinggang belakangnya. Keris pemberian Kanjeng Sunan Kalijågå. seraya berkata: “Lebih ampuh mana dengan Kyai Carubuk milik saya ini.”

    Aryå Pênangsang seketika bangkit berdiri. Dengan mata merah memandang kearah Adipati Hadiwijåyå tajam. Adipati Hadiwijåyå lalu ikut bangkit pula. Suasana berubah tegang.

    Dua orang ksatria ini kini telah berdiri berhadap-hadapan dengan keris di tangan masing-masing. Aryå Pênangsang dengan Kyai Brongot Sétan Kobèr di tangannya, sedangkan Adipati Hadiwijåyå dengan Kyai Carubuk.

    Di bawah, baik prajurit Pajang maupun prajurit Jipang telah memutar keris mereka yang semula terselip dipinggang belakang, kini sudah diputar kedepan dengan gagang sudah mereka genggam. Tinggal mencabut kerisnya. Kedua pasukan khusus ini sudah siap tempur juga. Dua kekuatan tangguh, Jipang dan Pajang, kini sudah berhadap-hadapan.

    Suasana tegang. Tak ada seorang-pun yang berani mengeluarkan suara. Hanya bunyi detak jantung yang berdegub kencang saja yang terdengar. Dan hanya terdengar oleh masing-masing pemilik jantung sendiri.

    Nampak, Adipati Hadiwijåyå dan Aryå Pênangsang telah berhadapan dengan keris terhunus di tangan. Mata keduanya saling bertatapan. Kemarahan nampak di wajah mereka.

    Di bawah, kedua kelompok prajurit khusus dari Jipang dan Pajang juga tegang. Begitu junjungannya diserang atau memulai menyerang dulu, maka merekapun telah siap menyerang lawannya.

    Sesaat, mereka melirik kearah junjungannya yang masih berdiri berhadap-hadapan, sesaat kemudian mereka melirik lawan mereka yang bersila bersebelahan. Suasana benar-benar genting.

    Disaat kritis seperti itu, disaat keadaan yang tinggal meledak sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara salam yang keras. “Assalammu’alaikum.”

    Serta merta, semua mata segera melayangkan pandangannya kearah mana suara salam itu berasal. Nampak Sunan Kudus keluar dari ruang belakang diiringi beberapa santri.

    Sembari menghela nafas, seluruh prajurit Jipang maupun beberapa prajurit Pajang yang muslim menjawab salam Sunan Kudus, walau tidak serempak. Di sana, baik Adipati Hadiwijåyå maupun Aryå Pênangsang segera menghela nafas melepaskan ketegangan yang semenjak tadi menyergap seluruh persendian dan dada mereka.

    Sunan Kudus berjalan menghampiri mereka sembari berucap lantang: “Lho…lho..lho. Kalian ini priyayi apa, atau sengaja hendak pamer keris?

    Sunan Kudus bergerak ke tengah-tengah antara Aryå Pênangsang dan Adipati Hadiwijåyå. Tempati Adipati Hadiwijåyå berada disebelah kiri Sunan Kudus sedangkan Aryå Pênangsang berada di sebelah kanannya. Terlihat, Sunan Kudus sigap memegang pergelangan tangan kedua bangsawan yang tengah hendak saling serang itu.

    Tangan kiri Sunan Kudus tengah memegang erat pergelangan tangan kanan Adipati Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan Sunan Kudus memegang erat pergelangan tangan kiri Aryå Pênangsang yang jelas-jelas tidak menggenggam apapun.
    Tangan kanan Aryå Pênangsang yang menggenggam Kyai Brongot Sétan Kobèr bebas bergerak leluasa.

    Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang, terdengar dia membentak. “Sarungkan kerismu, Pênangsang.”

    Aryå Pênangsang termangu. Masih belum bergerak sedikitpun. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya: “Sarungkan, Pênangsang.”

    Aryå Pênangsang ragu. Belum juga menurunkan kerisnya. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya lebih keras: “Sarungkan kataku!

    Kali ini Aryå Pênangsang menurunkan Kyai Brongot Sétan Kobèr yang terangkat, kemudian menyarungkannya ke dalam warångkånya. Melihat Aryå Pênangsang menyarungkan keris, Adipati Hadiwijåyåpun ikut menyarungkan Kyai Carubuk ke dalam warangkanya.

    Hampir saja aku membuat makanan segar bagi burung bangkai.” Aryå Pênangsang bergumam setengah menggeram. Adipati Hadiwijåyå tersenyum kecil.

    Sunan Kudus menghela nafas, sembari tetap di tempatnya berdiri, Sunan Kudus berkata kepada Adipati Hadiwijåyå: “Maafkan nGger Adipati, adanya sesuatu yang tidak semestinya terjadi di sini. Anakmas Hadiwijåyå, sebagai tuan rumah, dan sesepuh pesantren saya menyesal. Dan untuk kebaikan kita bersama, saya menyarankan, tidak ada salahnya jika anakmas beserta rombongan segera pulang saja ke Pajang lebih awal. Disini, saya pribadi dan seluruh masyarakat Kudus, sudah merasa sangat terhormat atas kedatangan anakmas Hadiwijåyå berikut rombongan jauh-jauh dari Pajang. Sekali lagi saya mohon maaf atas kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan

    Adipati Hadiwijåyå menghaturkan sembah didepan dada sembari berkata: “Båpå Kanjêng Sunan, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Båpå Sunan Kudus, karena hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda baru di ruangan dalam pesantren ini.

    Mata Sunan Kudus berkilat mendengar kata-kata Adipati Hadiwijåyå. Sedangkan Aryå Pênangsang menggeram.

    Sunan Kudus segera menyela: “Sudahlah…sudahlah. Saya memaklumi kemarahan anakmas Hadiwijåyå. Daripada berlarut-larut, sebaiknya anakmas mengalah..

    Baiklah Båpå Sunan, memang lebih baik bagi saya dan rombongan untuk segera meninggalkan tempat ini

    Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan beserta beberapa prajurit khusus Pajang segera berpamitan kepada Sunan Kudus.

    Rombongan dari Pajang memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum acara puncak peringatan Tahun Baru Islam dimulai. Iring-iringan rombongan ini tengah keluar dari pondok pesantren Kudus.

    Di ruang dalam, setelah melepas kepergian rombongan Pajang, Sunan Kudus memanggil secara pribadi Aryå Pênangsang diruangan khusus. Disana, hanya ada Sunan Kudus dan beberapa prajurit khusus yang terpercaya, termasuk Patih Matahun.

    Sunan Kudus memarahi Aryå Pênangsang atas segala tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Aryå Pênangsang menyela, meminta penjelasan dimanakah letak kebodohannya. Bukankah malah Sunan Kudus yang melerai disaat dia sudah berhadapan dengan Adipati Hadiwijåyå?

    Dengan suara tinggi, Sunan Kudus berkata: “Siapa yang menyuruhmu duduk di kursi yang telah aku isi mantra khusus?” Seketika Aryå Pênangsang terdiam.

    Apakah kamu tidak menyadari tadi, saat aku melerai kalian, tangan kanan Hadiwijåyå aku pegang erat, sedangkan tangan kananmu aku biarkan bergerak bebas?

    Ingatlah sekali lagi. Bukankah aku memegang tangan kanan Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kananmu yang tengah menggenggam Kyai Brongot aku biarkan bebas.

    Aryå Pênangsang tetap terdiam.
    Apa katamu tentang itu?” Aryå Pênangsang mengerutan dahinya, mencoba mengingat…

    Aku katakan ‘sarungkan kerismu’ sampai tiga kali. Kamu tahu maksudku yang sebenarnya?

    Aryå Pênangsang menatap Sunan Kudus, perlahan dia mengangguk-anggukkan kepalanya, sedikit demi sedikit mulai memahami maksud Sunan Kudus.

    Maksudku ‘sarungkan kerismu ke dada Djåkå Tingkir, bukan ke warangkanya’. Pikirmu cuphêt, landhêp dêngkul. Bodoh, sehingga tidak memahami kata-kata isyarat yang aku ucapkan. Kamu telah menyia-nyiakan kesempatanmu untuk memusnahkan Djåkå Tingkir.

    –. landhêp dêngkul, sebuah paribasan Jawa, maksudnya bodoh, mana ada dengkul tajam. Dalam bahasa Indonesia, dapat disebut ‘orang yang berotak (di) dengkul’, maksudnya sama, yaitu orang bodoh. —

    Aryå Pênangsang menggeram menyadari kebodohannya sendiri. Serta merta dia menyembah dan berkata: “Sebelum rombongan Hadiwijåyå jauh, tidak ada salahnya saya mengejar dan menghabisinya sekarang.

    Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang: “Ini bukan saat yang tepat menyerang rombongan Pajang dimana banyak berkumpul para tamu undangan di Kudus. Asal kamu tahu, kecuali aku dan kamu, tidak akan ada yang mampu menghadapi kesaktian Hadiwijåyå. Dia memiliki pegangan ilmu kanuragan warisan Majapahit. Sangat riskan jika aku terjun sendiri. Tidak pantas bagiku berhadapan dengan anak kemarin sore seperti dia. Sedangkan kamu, saat ini hanya akan menjadi boneka mainan jika berhadapan dengan dia, karena seluruh ilmu kanuragan yang kamu miliki telah lumpuh.

    Dada Aryå Pênangsang terasa panas dan sesak mendengar penuturan Sunan Kudus, “Lalu bagaimana Båpå Sunan?
    Selama tiga bulan berselang, mulai bulan Muharram ini, kamu harus berpuasa terus-menerus. Genap tiga bulan, seluruh hizib dan asma’ yang kamu miliki akan kembali pulih dan berfungsi. Setelah itu, aku akan mencari jalan lain untuk menghadapi Hadiwijåyå.

    Aryå Pênangsang lemas mendengarnya. Dan Sunan Kudus berlalu kedalam sembari hanya mengucapkan salam.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki bayu

      Ngapunten, taksih dereng sempat yasa gandok enggal.
      Insyaallah liburan akhir pekan saged dipun damelaken gandok piyambak

      nuwun

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayu, sugeng enjing.

    • Nuwun sewu Ki Bayu, menurut Ki Bayu sendiri……sependapatkah Ki Bayu dengan dongeng arkeologi yang “mendiskriditkan” Sunan Qudus tersebut ? atau adakah versi lain dari dongeng tersebut, karena umumnya dongeng sejarah akan selalu menguatkan siapa yang berkuasa. Nyuwun duko Ki.
      Nuwun

    • Matur nuwun Ki Bayu

  10. Katur ki Bayuaji.

    Cerita ini mirip lakon kethoprak yang pernah saya dengar diradio sekitar era 1970 an , kalau tidak salah ingat judulnya ” Haryo Penangsang mbalelo ” pada episode terakhir , cuma saya lupa namanya Paguyuban apa , sepertinya berasal dari Surakarta atau Semarang .
    Matur nuwun ki Bayu karena dongeng ki Bayu telah mengingatkan saya dengan kesenian kita yang dahulu pernah eksis pada jamannya namun sekarang telah terpinggirkan .

    Nuwun ……

    • Kasinggihan Ki

      Nampaknya masa sekarang ini, kita sudah sangat sulit menonton pagelaran ketoprak. wayang wong, wayang kulit, ludruk dan sejenisnya seperti dulu.

      Pernah di salah satu stasiun televisi swasta menyelenggarakan pagelaran wayang kulit, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Kalah dan terpinggirkan oleh acara yang lebih “berbudaya instant”.

      Juga pada salah satu stasiun televisi swasta yang lain, menggelar acara semacam ketoprak humor, yang sering menceritakan suatu kisah sejarah, namun telah diplesetkan,.
      Saya tidak tahu, dengan maksud apa penyelenggara siaran “memelestkan” kisah sejarah ini. Apa sekedar supaya lucu?

      Demikian KI. Matur nuwun Ki, kawigatosanipun.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  11. Nuwun

    Sugêng dalu

    Katur Ki Budi Prasojo
    [On 25 November 2011 at 05:34 Budi Prasojo said: — SBB-03–]

    Matur nuwun komentarnya Ki.

    Sebelum saya menjlèntréhkên dongeng yang oleh Panjênênganipun Ki Budi Prasojo sebutkan [On 25 November 2011 at 05:34 Budi Prasojo said: — SBB-03–] bahwa, Ki Budi Prasojo mempertanyakan apakah saya (cantrik Bayuaji) sependapat dengan dongeng arkeologi yang “mendiskriditkan” Sunan Qudus tersebut? atau adakah versi lain dari dongeng tersebut, karena umumnya dongeng sejarah akan selalu menguatkan siapa yang berkuasa.

    [Dongeng Arkeologi & Antropologi yang dimaksud adalah Dongeng yang saya wedar On 24 November 2011 at 22:39 cantrik bayuaji said: SBB 03 Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Danang Sutawijaya. Waosan Kaping-1 Perseteruan Pajang dan Jipang Wedaran kaping-2]

    Katur pårå sanak kadang padépokan pélangisingosari ingkang dahat sinu darsånå ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh ,

    Terlebih dahulu saya sampaikan, bahwa sebagai “tukang dongeng” sejarah, saya mendongeng semata-mata bersandarkan dan mengikuti kaidah-kaidah tradisi keilmuan sejarah, obyektif, bebas nilai, jujur, terbuka, dan tidak ada rekayasa.

    Kita pun telah mengetahui, betapa banyak jejak sejarah bangsa ini yang diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu, dengan segala cara untuk tujuan-tujuan tertentu, mengikuti kemauan dan kepentingan kelompok tertentu pula. Sekelompok orang dengan maksud tertentu telah “menciptakan” sejarah untuk kepentingan kelompoknya. Kelompok di sini bisa suku, etnis, agama, ras dan golongan.

    Dongeng sejarah yang saya wedar, berlandaskan dan bersandarkan “berita-sejarah” berupa bukti-bukti arkeologis; rontal; prasasti; kitab-kitab babad; kitab kidung; catatan-cacatan harian dari para pengelana asing yang sempat berkunjung ke Nusantara; juga dari legenda, tutur lisan masyarakat yang mengakar di tempat yang diduga peristiwa sejarah tersebut pernah terjadi; juga tidak boleh dilupakan adalah temuan-temuan benda-benda arkeologis, benda-benda budaya antropologis, seperti artefak (budaya bendawi, seperti kapak batu dan bangunan candi) dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya, situs arkeologi), keris, menhir, nama suatu tempat (toponimi), patung, pundèn, sêndang, situs pemakaman, situs pertapaan, tembikar atau keramik, tempayan, tombak, tugu, uang logam, dan banyak lagi macamnya, yang sedikit banyak dapat menjadi petunjuk tentang kehidupan politik, ekonomi, sosial, agama, seni dan budaya, mungkin juga “suasana-batin” masyarakat pada masa itu.

    Bagi seorang sejarahwan di dalam membêdhah “berita sejarah” itu, dengan menggunakan pisau analisis yang lazim digunakan dalam ranah kesejarahan, tajam, bersikap kritis, tetapi tetap dibarengi dengan nalar yang wêning, berfikir secara jernih, tidak mudah terprovokasi, dan lebih penting tidak memihak.

    Sering saya temui, bahwa tidak sedikit sejarahwan merasa dirinya “terpanggil”, atau mendapat pesan tertentu untuk meluruskan sejarah “leluhur”nya agar nampak baik, tidak memalukan kelompoknya atau golongannya, tidak membuat “sikap kurang nyaman” bagi kelompoknya, khususnya pada generasi penerusnya, bahkan tidak sedikit generasi yang hadir belakangan merasa “gerah” atau paling tidak “rikuh” bila tokoh sejarah yang berasal dari kelompoknya divonis oleh sejarah telah berbuat nista.

    Pårå sanak kadang,

    Bukti-bukti sejarah akan diolah sedemikian rupa, dirangkai, diuji, ditimbang-timbang, dipertentangkan, diperdebatkan, dan didiskusikan di antara para “pendongeng sejarah” lainnya, juga dengan para ahli di bidangnya masing-masing, seperti arkeolog, antropolog dan filolog.

    [Sekedar pengetahuan, bahwa dalam ilmu sejarah dapat dikelompokkan berbagai disiplin ilmu.

    Ilmu sejarah, adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia. Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.

    Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manusskrip, seperti Kitab Babad, rontal. kidung, mempelajari juga gaya bahasa, gaya dan bentuk tulisan.

    Sedangkan Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan. Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak dan ekofak maupun fitur. Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (eksskavasi) arkeologis.

    Adapun Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.]

    Jika timbul perbedaan pendapat dalam menyikapi sumber sejarah, hal itu adalah wajar, selama dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

    Ingat bagaimana para ahli sejarah masih berbeda pendapat tentang “Perang Bubat”, “Naskah Wangsakerta”, “Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan”, bahkan Sejarah Baru Indonesia, sebut saja misalnya “Surat Perintah Sebelas Maret”, dan masih banyak lagi.

    Belum lagi bila berhadapan dengan sumber sejarah yang dalam perbendaharaan sejarah dikenal dengan istilah historiografi tradisi, yaitu historiografi ketika fakta sejarah bercampur dengan mitos-mitos, tetapi hal ini tidak serta merta membuat historiografi tradisi diragukan kebenarannya, dan kewajiban seorang sejarahwan hanya menyajikannya.

    Para sejarahwan pun tahu bahwa kebenaran sejarah ternyata bersifat hipotetik. Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis yang menunjang masih terus terjadi, namun tetap berada pada koridor kaidah-kaidah keilmuan sejarah yang dilandasi dengan tanggung-jawab..

    Benar tidaknya sudut pandang mengenai peristiwa ‘pendiskriditan Kanjêng Sunan Kudus (Qudus), juga Kanjêng Syèh Siti Jênar yang dihukum mati, peran Kanjêng Sunan Kalijågå, pengalihan tahta kesultanan dari Dêmak Bintårå ke Pajang oleh Djåkå Tingkir, Aryå Pênangsang yang brangasan dan mbalélå, Ratu Kalinyamat yang tåpå wudå, dan seterusnya, sebaiknya kita kembalikan bagaimana sejarah itu dilihat, walaupun sejarah berdasarkan Kitab-kitab Babad adalah suatu pertanyaan juga, benarkah penulisan Kitab-kitab Babad?, atau sesuaikah Kitab Babad sebagai salah satu sumber sejarah jika dibanding dengan sumber sejarah lain, prasasti misalnya.

    Justru sejauh ini, belum pernah ada ditemukan sebuah prasasti pun yang mencatat tentang sejarah masa Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, hingga Kesultanan Mataram.

    Kita faham bahwa dongeng “ontran-ontran” Kanjêng Sunan Kudus (Qudus), Kanjêng Syèh Siti Jênar, Kanjêng Sunan Kalijågå, Kesultanan Dêmak Bintårå, Kesultanan Pajang, Djåkå Tingkir, Aryå Pênangsang, dan Ratu Kalinyamat, juga sarat dengan mitos-mitos.

    Penulisan dongeng arkeologi & antropologi pada gandhok-gandhok di padepokan pelangisingosari inpun pun tidak bermaksud memutarbalikkan “fakta”. tetapi demikianlah sejarah membaca peran tokoh-tokohnya di masa lalu, dengan nalar yang wêning, oleh karenanya, maka saya tidak dalam posisi sependapat atau tidak sependapat dengan isi dongeng, karena saya hanya menyampaikan dongeng sejarah apa adanya.

    Ki Sanak, sutrésnaning padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan.

    Bagaimana kelanjutannya?

    Biarkan saya tuntaskan terlebih dahulu dongeng Perseteruan Pajang Jipang. Mohon bersabar menunggu.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • keparenga nyuwun pirsa Ki Bayu,,
      posisi Patih Mantahun dalam geger Pajang dan Jipang ini bagaimana….????

      Matur nuwun.

      • Insya Allah ada pada dongeng selanjutnya Ki. Mohon bersabar menunggu.

        Nuwun

        Sugêng dalu

        cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki Bayu dan mohon ma’af yang sebesar-besarnya jika pertanyaan tersebut sedikit banyak mengganggu konsentrasi Ki Bayu. Sebenarnya pertanyaan tersebut sudah lama sekali timbul dalam hati, bahkan sejak masih kecil ketika menyaksikan ketoprak baik langsung maupun tidak (lewat tivi), membaca majalah PS dan Joyoboyo. Benarkah… tokoh sekaliber Beliau akan bertindak demikian. Kemudian ketka Ki Bayu mulai menulis kisah tersebut (saya lupa) apakah pada “PDLS, PDM atau HLHP atau yang lainnya”, pertanyaam tersebut mengusik kembali, namun masih bisa saya tahan. Entah kenapa kemarin jari-jari ini tidak tertahankan mengungkapkan pertanyaan tersebut ? Sepindhah malih nyuwun lubering pengalih Ki Bayu. Monggo dilanjutkan cerita arkeologinya yang banyak dinikmati dan memberi pencerahan ilmiah. Nuwun

  12. Wah tansoyo regeng isine gandhok iki sami kaliyan pikajengan Ki Dalang SHM ( cerita yang dicari dibumi sendiri ……………………..)

    Dengan terpinggirkannya seni dan budaya sendiri tergantikan seni dan budaya yang serba instan maka untuk selanjutnya akan terlahir manusia dengan cara berpikir yang instan pula , terus jati diri bangsa ini akan menuju kemana ??????????????
    Bukankah jati diri suatu bangsa tercermin dari seni dan budayanya ??

    Contoh yang paling dekat adalah anak saya sendiri , ketika suatu saat saya bertanya kepadanya tentang sejarah bangsa ini , jawabnya
    sudah bisa ditebak . tetapi ketika saya tanya tentang seni dan budaya manca jawabnya sangat mendirikan bulu roma , dalam hati kecil saya sempat juga merasa bersalah bahwa saya jarang sekali mendongeng seperti ki Bayuaji karena kehabisan waktu untuk keluarga sendiri . Yang lebih memprihatinkan lagi adalah keengganan untuk membaca cerita sejarah bangsa sendiri .

    Cantrik ngudo roso .

    Sugeng siang

    Nuwun …

  13. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    Menjelang pergantian Tahun Hijriyah, wangsa Bayuaji mengucapkan:

    Sugêng Warså Énggal 1 Muharram 1433H

    Mohon maaf atas segala kesalahan dan khilaf yang telah lalu.
    Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, yaitu orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Aamiin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Sugeng pambagyo basuki .

      Katur dumateng ki Bayu ,ki Gembleh P Satpam , lan sedoyo poro kadang sentono cantrik lan mentrik ing padhepokan .

      Kulopun Cantrik HaryoMangkubumi keparengo ngaturaken sugeng warso enggal Hijriyah soho malem setunggal ing sasi Suro ingkang kanggenipun piyantun jawi meniko kalebet malem ingkang sakral .

      Wass .

      Nuwun

      pun Haryo Mangkubumi .

  14. 33

    • GANDOK-04 KOK BELOM BUKA PAK SATPAM…???

      (CUMA NANYA TOK TANPA MAKSUD NGOGROG-OGROG)

  15. Sabar-sabar tiyang sabar meniko subur , kulo njih nembe niling-niling gandhok 04 ning taksih gembokan rapet njur mlayu sipat kuping .

    sugeng enjang poro sutrisno gandhok SSB .

    Nuwun .

    • Sugeng enjing Ki Haryo….
      Sugeng enjing kadang sedoyo.

  16. sulitnya mau baca SBB-03 dan seterusnya, akhirnya sepi pengunjung ki

    • gampang kok
      kalau baca naskah teks SBB dan SST sebaiknya jangan disini ki, akan ribet, harus pencet sana-sini, langsung sj di padepokan kalamerta (http://kalamerta.wordpress.com/)
      yg disini khusus upload format djvu.
      dulu, waktu masih kejar tayang cara ini yang paling cocok, untuk seterusnya memang jadi ribet.
      naskah tidak dipostingkan disini, karena sudah ada blognya sendiri.
      seharusnya memang diupload di ruang baca shm (http://serialshmintardja.wordpress.com), tetapi pada saat itu (hampir setahun) blog tsb sedang ada masalah (tidak bisa upload naskah baru) dan sampai sekarang belum sempat pindahkan kesana.
      sehingga dibuatkan padepokan terpisah, seperti halnya ADBM. Bedanya, ADBM sudah dicopykan naskahnya ke ruang baca shm, yang ini belum.

      monggo, adminnya sama kok, risang/satpam yang setia menemani sanak kadang yang suka baca komik, he he he …

      nuwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: