SBB-08

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 9 Desember 2011 at 00:01  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-08/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1

  2. Nuwun
    Sugêng énjang andungkap siyang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    —de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå—

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-6)

    ANALISIS SEJARAH
    PERSETERUAN IDEOLOGI POLITIK PARA WALI (01)

    Perebutan pengaruh dan kekuasaan hampir dapat dipastikan selalu mewarnai sejarah perjalanan negara kita ini, tercatat sejak zaman Nusantara Purba, Kerajaan Kadiri semasa Prabu Airlangga; zaman Kerajaan Singasari, sejak bernama Pakuwon Tumapel, hingga Kutaraja Singasari, zaman Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi; Majapahit dengan Perang Parêgrêgnya; kemudian Dêmak Bintårå; berlanjut ke zaman Kesultanan Mataram yang berakhir dengan runtuhnya Kesultanan Mataram, dan dengan hasutan VOC / Kompeni Belanda, sejak palihan nagari yang disebut dalam naskah Perjanjian Giyanti, Negara besar itu terbagi-bagi menjadi beberapa negara kecil, Kasultanan Ngayogyåkartå Hadiningrat, Kasunanan Kartåsurå kemudian Kasunanan Suråkartå Hadiningrat, Pråjå Mangkunegaran, dan Kadipatèn Pakualaman Ngayogyåkartå. Hingga Zaman Nusantara Baru dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia, sarat dengan pertikaian-pertikaian berebut kuasa.

    Lebih “ramai” lagi, bila di dalam pertikaian itu, tokoh-tokoh agama ikut campur tangan, bukan sebagai juru penengah, tetapi para tokoh agama yang seharusnya ngêmong jiwa-jiwa para ksatria (bangsawan kraton dan para penguasa pengambil keputusan) untuk diajak mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Wasesa, ternyata ikut terjun menjadi “pemain”, bahkan sebagai provokator.

    Tidak sedikit para penguasa, bahkan sebelum menjadi penguasa, akan sowan ke para tokoh agama, mohon restu, dan tentunya juga minta dukungan politik. Di era Negara Kesatuan Republik Indonesia kinipun tidak luput dengan warna-warni demikian.

    Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya di Daha Kadiri, berawal dari Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama, untuk membedakan dengan Kesultanan Mataram Panêmbahan Sénåpati) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

    Dibekali dengan sakit dan lapar. Lårå låpå dengan mêsu rågå di sepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa, Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha. Tetapi yang terjadi kemudian, kekuasaan Sang Prabu Airlangga diganggu oleh hadirnya Calon Arang seorang janda penyihir.

    Diceritakan bahwa Sang Penyihir adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang puteri bernama Rêtnå Mangali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya.

    Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah bukit untuk dijadikan tumbal dan persembahan kepada Bêtari Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

    Prabu Airkangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan guru spiritualnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah adalah seorang pemuka agama, penasehat kerohanian raja dan keluarga istana Kerajaan Daha Kadiri, lalu mengirimkan seorang muridnya bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah dengan acara pesta besar-besaran yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

    Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Empu Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Sejak buku mantra penyihir dicuri, hilanglah sebagian kekuatan sihir Sang Janda, dan tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.

    Suatu penggambaran citra buruk Calon Arang di tengah keadaan masyarakat Daha yang hidup makmur dan sejahtera. Benarkah demikian?

    Seringkali di dalam dunia legenda, yang disoroti hanya tentang kekejaman dan kejahatan Sang Janda Calon Arang. Dia digambarkan sebagai nenek sihir yang mempunyai wajah yang seram. Namun analisis-analisis yang lebih faktual, yang lebih berpihak kepada Calon Arang.

    Dia adalah korban masyarakat patriarkal pada zamannya. Cerita Calon Arang merupakan sebuah gambaran sekaligus kritik terhadap diskriminasi kaum wanita.

    Calon Arang sebagai seorang wanita kaya dan terhormat, yang keberadaannya tidak disukai oleh kerabat kraton Kadiri, dengan demikian masyarakatpun berpihak pada kalangan istana Kerajaan Kadiri, karena sepak terjangnya dianggap terlalu maju bagi seorang wanita pada zamannya.

    Kisah legendanya dibuatlah sedemikian rupa, bahwa Calon Arang adalah penganut ilmu hitam, sehingga seluruh masyarakat dan kerabat kraton Kadiri membencinya.

    Empu Baradah, Sang Guru Spiritual Raja dan Keluarga Istana Kadiri, seorang tokoh agama dan “imam” negara, dengan alasan demi menjaga stabilitas politik kerajaan, maka Calon Arang pun disingkirkan.

    Demikian juga halnya dengan Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi, ketika melakukan penyerbuan ke Kadiri, juga memanfaatkan pengaruh para agamawan, sekelompok Brahmana yang diberitakan melarikan diri dari Kadiri karena raja Kadiri Sri Baginda Prabu Kertajaya diberitakan telah mengurangi hak-hak para Brahmana, sehingga kaum agamawan ini melarikan diri ke Singasari, mereka melakukan hasutan-hasutan dan pertentangan, serta meminta kepada Ken Arok untuk menyerang Kadiri, maka Kadiri pun jatuh. Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Sang Prabu Kertajaya pun terbunuh pada peristiwa Perang Ganter.

    (Peristiwa ini didongengkan dengan apik oleh Ki Dhalang SH Mintardja dalam ‘rontal’ Pelangi di Langit Singasari dalam episode Perang Ganter).

    Kerajaan Majapahit yang hadir kemudian di panggung sejarah, dengan berbekal pengalaman pada raja-raja sebelumnya, bertekad hendak mempersatukan Nusantara.

    Sang Rani Prabu Tribuwana Tungga Dewi yang kemudian dilanjutkan oleh putranya Sri Jiwana Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada berhasil membawa kerajaan Majapahit ke puncak kemasyhurannya berdiri kokoh di atas segala macam golongan, agama dan suku, dan dapat meredam pertikaian antar suku, agama ras, dan golongan.

    Seorang empu ternama pada zaman itu, memberitakan, betapa berbagai aliran agama dan suku yang berbeda-beda, tetapi dapat hidup dengan rukun dan damai dalam satu naungan persatuan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit.

    Sri Rani Prabu Tribhuwana Tunggadewi adalah penganut Hindu, terbukti adanya Arca Dewi Parwati sebagai perwujudan Sri Rani Prabu Tribhuwana Tunggadewi.

    Dewi Parwati adalah salah satu dewi dalam agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Parwati merupakan puteri dari raja gunung bernama Himawan, dan seorang apsari bernama Mena. Parwati dianggap sebagai pasangan kedua dari Syiwa, Dewa pelebur dan penghancur dalam agama Hindu.

    Parwati juga merupakan ibu dari Ganesha dan Kartikeya (Skanda). Beberapa aliran meyakininya sebagai adik dari Wisnu dan banyak pengikut aliran filsafat Shakta meyakininya sebagai dewi yang utama. Dalam susastra Hindu, Parwati juga dihormati sebagai perwujudan dari Sakti atau Durga.

    Sang Prabu Hayam Wuruk, yang beragama Syiwa Budha, seperti yang diberitakan dalam Pujasastra Negarakretagama sangat melindungi semua aliran agama dan kepercayaan yang ada di Majapahit, beliau tidak pernah membeda-bedakan agama dari aliran apapun juga.

    Keberagaman aliran agama dan keyakinan, demikian juga tata-cara menjalankan peribadatan dan aturan-aturan agama yang berbeda, bukanlah suatu yang esensial untuk dipertentangkan.

    Beliau sadar pula bahwa agama tidak boleh digunakan untuk membentuk dinding penyekat antar manusia, agama juga tidak boleh menjadi alat kekuasaan.

    Kalau menggunakan bahasa masa kini, beliau hendak mengatakan bahwa agama bukan alat politik. agama selalu positif, yang tidak positif adalah manusia-manusia yang selalu memanipulasi agama untuk politik, kekuasaan dan kepentingan tertentu.

    Inilah kondisi sosial yang ada dan dibangun pada era itu, yang memungkinkan semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak azasi masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

    Empu Prapanca penulis Kakawin Sutasoma semasa Prabu Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit, mengajarkan dan menggambarkan toleransi antara umat umat Hindu-Syiwa dan umat Buddha, dalam Kakawin Sutasoma pada pupuh 139 bait 5, secara lengkap sebagai berikut:

    Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
    Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
    Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
    Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa
    .

    [Konon Buddha Siwa merupakan dua zat yang berbeda,
    Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali,
    Sebab kebenaran Jina Buddha dan Siwa adalah tunggal,
    Berbeda-beda itu, tetapi satu jualah itu, tiada kebenaran yang mendua.]

    Bhinnêka tunggal ika
    Bhinnê = Berbeda.
    ika = itu.
    tunggal = satu.
    ika = itu.

    (Catatan, para penterjemah sering salah mengartikan kata “ika” yang dianggapnya berarti “satu”. Tetapi yang benar “ika” bukan “satu”, melainkan “itu”. Dalam Bahasa Jawa sekarang “ika” berarti “iku”.)

    Kalimat ini selanjutnya kita jadikan lambang negara yang digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

    Dalam kaitannya dengan faham universalisme, kalimat Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ini berbicara pada tataran Ultimate Truth, manusia mempunyai pengertian yang sama (non dualisme) tentang Truth. Dualisme hanya akan terjadi pada tataran apparent truth atau coventional truth.

    Perbedaan yang seringkali diributkan bahkan diperselisihkan sesungguhnya disebabkan antara lain karena adanya perbedaan aspek ritual, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. \

    Ritual itu sesungguhnya terkait dengan masalah budaya atau tata cara dan pandangan setempat dan pada saat itu (space and time) sehingga bersifat profane atau ornamen belaka, dan bukan hakiki (sacred).

    Bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Kita tidak boleh membeda-bedakan identitas karena suku, agama, etnik dan daerah.

    Kita tidak boleh merasa yang paling berhak hidup, dan merasa yang paling berhak mengatur tata kehidupan, dengan memaksakan kehendak kita.

    Apalagi sampai menimbulkan pertengkaran, hingga pembunuhan atas nama keyakinan. Semua harus kita hormati dengan kasih sayang dan persaudaraan di antara kita semua. Itulah nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

    Bangsa Indonesia lahir, tumbuh dan berkembang hingga hari ini dengan kekhasan yang dimilikinya. Misalnya, sejarah yang mengantarkan Indonesia menjadi bangsa seperti sekarang ini, warisan, jalan hidup, sistem kepercayaan, seni budaya, realitas kemajemukan dan karakter keindonesiaan yang lain mutlak harus dipahami dan kita hormati.

    ***

    Dengan landasan ini, dibinalah kesatuan dan persatuan dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Tan Ayun Amukti Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

    Sira Gajah Mada pepatih amangkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

    [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

    Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang tersebar dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

    Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

    Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

    Sebab setelah itu kerajaan besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati, para bupati, dan para akuwu kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

    Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kesultanan Dêmak Bintårå. Kebesaran Dêmakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trênggånå dan garis keturunan Sêkar Séda Lèpèn.

    Sepenggal dongeng berikut di bawah ini, dapat ditelusuri bahwa pertikaian antara garis keturunan Sultan Trênggånå dan garis keturunan Sêkar Séda Lèpèn, tidak luput adanya peran serta tokoh-tokoh agama.

    Pertentangan yang terjadi, sejak wafatnya Kanjêng Sultan Trênggånå, yang disebutkan dalam Babad Tanah Jawi dan Sêrat Kåndhå, “meninggal dengan tenang di atas tempat tidur”.

    Tetapi berita yang dibawa oleh pengelana berkebangsaan Portugis Fernão Mendes Pinto dalam bukunya Peregrinacao (Peregrinação) (Dalam Bahasa Inggris “The Pilgrimage” yang berarti Ziarah); Mendes Pinto memberitakan bahwa setelah Kanjêng Sultan Trênggånå tewas terbunuh dalam peristiwa perang dengan Blambangan di Panarukan (di bagian lain dia menyebut Pasuruan?), dia merasa dirinya sudah tidak aman lagi, penuh dengan ketakutan.

    Timbullah kekacauan yang sangat besar di kerajaan Jawa, lalu Mendes Pinto memutuskan untuk meninggalkan pulau Jawa yang sangat indah. Ia khawatir keadaan demikian akan berlangsung lama.

    Satu-satunya sumber Jawa yang sedikit menyebutkan terjadinya perang di ujung timur Pulau Jawa, tempat Sultan Trênggånå tewas, ialah Babad Sêngkålå yang menceritakan peristiwa Perang Blambangan pada tahun 1468 Tahun Jawa, bertepatan dengan berita sejarahnya Mendes Pinto Tahun 1546 Masehi.

    Mengenai kekacauan yang selanjutnya ditimbulkan, kita dapatkan berita sejarah lain dalam Sêrat Kåndhå, disebutkan Djåkå Tingkir mendapatkan tanah di Pajang dan dibangunlah wilayah itu semakin luas dan sejahera.

    Ada yang aneh terjadi di sini. Atas dasar hak dari siapa tiba-tiba Djåkå Tingkir (meskipun ia menantu Sultan Trênggånå), bisa mendapatkan Tanah Pajang, dan pengangkatan sebagai Adpati Pajang pun terkesan mendadak.

    Sêrat Kåndhå memberitakan bahwa Djåkå Tingkir memerintahkan agar semua benda pusaka Kesultanan Dêmak dipindahkan ke Pajang, dan tidak seorangpun yang berani menghalang-halangninya.

    Sêrat Babad Tanah Jawi memberitakan:

    Katjarijos Sultan Dêmak sampun sédå, ing sasédanipun Sultan Dêmak, Dipati Padjang djumênêng sultan. Nagårå kang sami kabawah sadåjå kairup dhatêng ing Padjang, ingkang mogok kagêbag ing prang, tanah pasisir tuwin môncånagari kang wétan, lan pasisir kilèn, sadåjå sampun sami sujud, botên wontên kang purun anglawan ing prang, sami adjrih ing kadigdajanipun Adipati Padjang, amung adipati ing Djipang kang botên purun têluk, kang anåmå Pangéran Arja Panangsang, punikå putranipun Pangéran Sédå ing Lèpèn

    Semua negara bawahan menyerah, Yang melawan dikalahkan dengan peperangan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, takut akan kesaktian adipati dari Pajang. hanya adipati dari Jipang Pangeran Aria Penangsang yang tidak mau menyerah.

    Djåkå Tingkir di Pajang mengangkat kawan-kawannya pada jabatan-jabatan tinggi. Selanjutnya Sêrat Kåndhå mengabarkan bahwa tindakannya itu dibarengi dengan keberhasilannya naik ke atas singasana, maka Aryå Måncånagårå menjadi kepala pemerintahan. Martånagårå dan Wilåartå menjadi tumenggung atau panglima angkatan perang.

    Semua perubahan ketatanegaraan yang penting, beralihnya Dêmak ke Pajang memang sesuai dengan berita yang digambarkan oleh Pinto, yakni mengenai kekacauan besar yang timbul setelah gugurnya Sultan Trênggånå, dan ketika semua bangsawan kraton mengejar kekuasaan tertinggi.

    Tak lama kemudian demikian Sêrat Kåndhå mencatat, Djåkå Tingkir dilantik oleh seorang pendeta. Pinto menyebutnya santo(orang suci) dari Giri, dan yang dimaksud dengan pendeta atau santo ini adalah ulama dari Giri yang tiada lain adalah Kanjêng Sunan Giri, dan dinyatakan pengangkatnya dipilih dan mendapat dukungan oleh kawula Dêmak, dan sudah barang tentu Pajang. Penguasa tidak akan diakui kekuasaannya jika tidak mendapatkan restu ulama.

    Setelah wafatnya Sultan Trênggånå, dan pengangkatan Djåkå Tingkir menjadi Adipati Pajang, Ontran-ontran perebutan tahta semakin memperjelas adanya peran serta para ulama.

    Pewaris sah Kedaton Dêmak, Pangéran Asri Putra Sultan Trênggånå dikatakan tidak mau naik tahta, dan dengan sukarela menjadi priyayi mukmin yang bergelar susuhunan yang keramat di Prawåtå. Gelar ini bermakna gelar spiritual.

    Tersebut dalam Babad Tanah Jawi, Prawåtå adaklah sebuah gunung yang di lerengnya terdapat pesanggrahan.

    Babad Tanah Djawi, Dalam Jilid: 3 Njarijosakên risakipun Nagari Mådjåpait lan adêgipun Karadjan Islam ing Dêmak tuwin lairipun Djåkå Tingkir dumugi suwitanipun dhatêng Sultan Dêmak. dalam tembang Mêgatruh. mengabarkan:

    Pasanggrahan ing Prawåtå, ……………..
    jå tå wau lampahirå sang abagus | angalèr ngilèn lastari | ing Madjênang marginipun | ing Garobogan dèn djogi | tjêlak parwåtå lor kulon ||
    tjêlak saking pasanggrahan sang aprabu | tunggangan Parwåtå wukir | pasanggrahan lir kadhatun | pan sabên rêndhêng sang adji | nèng Parwåtå angadhaton ||
    jèn katigå ing Dêmak gènnjå ngadhatun | dadyå kadhaton kêkalih | mangkånå wau sang prabu | wus têrang mangkjå sang adji | arså kondur angadhaton ||

    Bait-bait Serat Babad Jawi dalam tembang Mêgatruh. di atas hendak menggambarkan bahwa Sultan Prawåtå memiliki dua kedaton yang asri, yang satu adalah Kraton Demak, yang digunakan pada musim katigå (kemarau). Sedangkan bila musim (rêndhêng) hujan, Sultan Prawåtå berkedaton (disebut dalam tembang pasanggrahan, yakni tempat untuk menyepi) di Prawåtå, dari nama inilah kemudian beliu dikenal dengan nama Sultan Prawåtå.

    Inti dari ‘pernyataan’ dalam tembang itu, adalah, bahwa Sultan Prawåtå telah lèngsèr kêprabon madêg panditå, dan tidak mau bertahta lagi, dan hak atas tahta Dêmak Bintårå diserahkan kepada adik iparnya Djåkå Tingkir.

    Namun, kemudian ternyatalah bawa salah satu di antara sekian banyak kejengkelan Aryå Pênangsang disebabkan karena Sunan Prawåtå (yang dianggap lebih berhak atas tahta Dêmak) dengan begitu saja telah menyerahkan hak atas tahtanya kepada Djåkå Tingkir. Oleh sebab itulah dia bermaksud pergi ke Kudus hendak mencurahkan ketidak puasannya dan nasibnya kepada Kanjêng Sunan Kudus.

    Sebagaimana diketahui Kanjêng Sunan Kudus atas nama Negara Kêsultanan Dêmak Bintårå, membunuh Ki Agêng Pêngging ayah Karebet. Tetapi Kanjêng Sunan Kudus juga sebagai salah satu guru Karebet. Jadi Djåkå Tingkir bagaimanapun juga tetap menghormati Kanjêng Sunan Kudus, sekalipun dia adalah pembunuh ayahnya. Di sisi lain Kanjêng Sunan Kudus ternyata guru spiritual Aryå Pênangsang juga.

    Adipati Jipang Panolan itu datang ke Kudus, menghadap Kanjêng Sunan Kudus. Dia datang mempertanyakan, mengapa jika semua orang yang sudah mengetahui sejarah Demak, tentu akan setuju bila Aryå Pênangsang lah yang sebenarnya raja yang sah, tetapi dalam kenyataannya Djåkå Tingkir-lah yang menjadi penerus tahta Demak.

    Ilustrasi dari Sêrat Babad Tanah Jawi berikut ini, menunjukkan benih perpecahan antar wali makin mengemuka:

    Babad Tanah Djawi, Jilid: 4 — Njarijosakên risakipun nagari Dêmak, madêgipun karaton ing Padjang, tuwin rêdjanipun bumi ing Mataram dalam tembang Dhandhanggulå mengabarkan:

    wontên ganti kang winuwus malih | Susunan Kudus ingkang winarnå | kang ginuron ing wong akèh | bupati pårå ratu | puruitå datan gumingsir | Susunan ing Prawåtå | angguru ing Kudus | lan malih Ki Arjå Djipang | anèng Kudus guru Kanjêng Sunan Kudus nênggih | sumungkêm patakonan ||

    nanging Susunan Prawåtå nênggih | amalih kapti ing patakonan | kêkalih ing paguroné | dhingin Susunan Kudus | kaping kalih Susunan Kali | jå tå aris ngandikå | Susunan ing Kudus | dhumatêng Ki Arjå Djipang | lah tå kaki åpå ukumipun ugi | wong ngalapdhå upåmå ||

    Ki Arjå Djipang matur ngabêkti | inggih ukumipun pinêdjahan | tijang ngalapdhå kawruhé | wangsul åmbå ajun wruh |
    såpå sintên tuwan raosi | ri saksånå ngandikå | Susunan ing Kudus | kakangirå ing Prawåtå | åpå rané iku ora malih kapti | matur Ki Arjå Dipang ||

    inggih punåpå ingantos malih | apan ukumipun pinêdjahan | Susunan Kudus dêlingé | såpå ingkang sumanggup | Arjå Djipang matur ngabêkti | jèn wontên pangandikå | kawulå kang sanggup | angukumakên ing pêdjah | ing pun kakang Susunan Kudus ngadjani | lah pajo lêkasånå ||

    Demikian juga halnya dengan Babad Tanah Djawi in proza — Meinsma 1874, yang dicetak ulang oleh Javaansche Geschiedenis Loopende tot het Jaar 1647 der Javaansche Jaartelling met Aanteekeningen van J. J. Meinsma eerste stuk Tekst Uitgegeven door het Koninklijk Instituut voor de Taal Land en Volkenkunde van Ned. Indie. ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff 1874, sebagai berikut:

    Ing waktu punikå têtijang Djawi kathah kang sami rêmên anggêguru lampahing agami Rasul, tuwin anggêguru kadigdajan sartå katêguhan. Guru wau ingkang sampun misuwur kêkalih, satunggil Kangdjêng Sunan Kalidjågå, kalih sunan ing Kudus. Sunan Kudus wau muridipun têtigå, satunggil Pangéran Arjå Panangsang ing Djipang, kalih Sunan Prawåtå, tiga Sultan Padjang, ingkang dipun sihi pijambak Pangéran Arjå Panangsang, kålå samantên Sunan [Suna…]

    […n] Kudus pinudju lênggah ing dalêmipun kalihan Pangéran Panangsang, Sunan Kudus ngandikå dhatêng Arjå Panangsang, wong ngalapdhå guru iku ukumé åpå. Arjå Djipang matur alon. Ukumipun pinêdjahan. Sarèhning kulå dèrèng sumêrêp, sintên ingkang gadhah lampah mêkatên punikå. Sunan Kudus ngandikå, kakangmu ing Prawåtå. Arjå Panangsang sarêng mirêng dhawahipun Sunan Kudus ladjêng sagah badhé amêdjahi ing Sunan Prawåtå,

    Terjemahan bebasnya adalah:

    Tersebutlah bahwa kepada Kanjêng Sunan Kudus, banyak orang yang berguru, para bupati dan juga para bangsawan, termasuk Sultan Prawåtå dan Aryå Pênangsang dari Jipang Panolan.

    Namun, Sultan Prawåtå ternyata berguru juga kepada Kanjêng Sunan Kalijågå. Hal ini membuat Kanjêng Sunan Kudus marah, maka bertanyalah beliau kepada Aryå Pênangsang:

    Apa pendapatmu, bila seseorang sebagai muridku berkhianat kepada perguruannya dan pergi berguru kepada orang lain? ” kata Kanjêng Sunan Kudus.
    Siapakah yang guru maksud? ,”

    Dia adalah Pangéran Prawåtå, dia lari dan berguru kepada Sunan Kalijågå,” kata Kanjêng Sunan Kudus.
    Jadi apa yang akan kita lakukan guru?

    Engkau adalah muridku, apakah engkau mau membersihkan perguruanmu dari penghianat seperti Pangéran Prawåtå? ” kata Kanjêng Sunan Kudus.

    Akan kita bunuhkah dia Guru? ,”
    Kanjeng Sunan Kudus bertanya “Apakah engkau sanggup?
    Apakah Eyang merestui? ,” kata Aryå Pênangsang.

    Tidak, saya tidak akan mengeluarkan perintah. Kamu datang ke Kudus dengan kemarahanmu untuk membunuh Sultan Prawåtå dan Djåkå Tingkir, itu semua adalah masalahmu, dan bukan masalah saya, ” kata Kanjêng Sunan Kudus.

    Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya tidak pernah memberi kamu perintah untuk membunuh Sultan Prawåtå dan Djåkå Tingkir, tetapi saya juga tidak akan mencegahmu. Perlu engkau diingat bahwa Sultan Prawåtå bukan saja seorang Raja tetapi juga seorang pemimpin Agama. Jadi apa bila terjadi sesuatu yang tidak baik dengannya, negeri ini akan geger,” kata Kanjêng Sunan Kudus.

    Saya tidak perduli. Saya siap apapun yang akan terjadi bahkan saya siap untuk menyatakan perang dengan Dêmak, ” kata Aryå Pênangsang.

    Sejarah akhirnya mencatat bahwa dalam persoalan politik, Wali Sångå yang oleh masyarakat dikenal sebagai kelompok ulama penyebar agama Islam di Nusantara yang cukup solid dalam berda’wah itu, ternyata terpolarisasi ke dalam tiga kutub politik; di Giri Kêdaton, Grêsik yaitu Syèh Maulana A’inul Yakin atau Radèn Paku, yang disebut Sunan Giri; kemudian di Kadilangu, Dêmak yaitu Radèn Mas Said yang disebut Sunan Kalijågå; dan terakhir di Pêsantrèn Kudus, Kudus yakni Syêh Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus.

    Kutub-kutub politik itu memiliki pertimbangan dan alasan sendiri-sendiri yang berbeda, dan sangat sulit untuk dicarikan titik temunya; dalam sidang para wali sekalipun.

    Terutama perseteruan dari dua nama yang terakhir, itu sangat menarik. Karena pertikaian kedua wali tersebut dengan begitu gamblangnya sempat tercatat dalam literatur sejarah klasik Jawa, seperti: “Babad Dêmak“, “Babad Tanah Djawi“, “Sêrat Kåndhå“, dan “Babad Meinsma“, seperti yang saya cuplikkan dongengnya di atas.

    Lagi-lagi, konflik itu diakibatkan karena persoalan politik. Ringkasnya adalah, bahwa perseteruan yang terjadi antara para wali itu bisa terjadi, bermula setelah Sultan Trênggånå wafat.

    Giri Kêdaton dengan Kanjêng Sunan Giri yang beraliran “Islam mutihan” atau Santri Putihan (yang lebih mengutamakan tauhid) mendukung Sunan Prawåtå dengan pertimbangan ke-‘alimannya.

    Sementara Kanjêng Sunan Kudus mendukung Aryå Pênangsang, Kanjêng Sunan Kudus berpendapat bahwa Aryå Pênangsang adalah pewaris sah (putra tertua) dari Pangeran Sêkar Séda Lèpèn (kakak Trênggånå) yang telah dibunuh oleh Prawåtå (anak Trênggånå).

    Sedangkan Kanjêng Sunan Kalijågå (yang aliran tasawuf, yang dijuluki oleh kelompok Islam Putihan, sebagai Santri Abangan) berusaha sebagai penengah, tetapi pada akhirnya terseret juga mendukung Djåkå Tingkir (Adipati Hadiwijåyå), dengan pertimbangan, bahwa Mas Karèbèt Djåkå Tingkir akan mampu memunculkan sebuah kerajaan kebangsaan Nusantara yang akomodatif terhadap budaya, seni, kepercayaan, adat-istiadat Nusantara, Jawa khususnya.

    Sejarah juga mencatat, konflik para wali itu “tidak kalah seru” bila dibandingkan dengan konflik ulama sekarang, karena pertikaian mereka sangat syarat dengan intrik politik yang kotor, seperti menjurus pada pembunuhan terhadap lawan politik.

    Penyebabnya tidak semata karena persoalan politik saja, tapi di sana juga ada hal-hal lain seperti: pergesekan pengaruh ideologi, hegemoni aliran oleh para wali, pengkhianatan murid terhadap guru, dendam guru terhadap murid, dan sebagainya.

    Konflik di antara para wali itu bukan hanya masalah hubungan antara guru dan murid belaka. Bukan pula harus selalu dilihat semata-mata dari segi spiritualnya saja, tapi pesantren dari para wali itu ternyata juga dipergunakan sebagai sebuah tempat pemusatan kekuatan politik. (Pinto menyebutkan pesantren sebagai ‘sekolah’).

    Para wali yang terlibat konflik itu sesungguhnya tidak semata-mata menyampaikan ajaran spiritual belaka, tetapi mereka juga memposisikan dirinya sebagai ahli politik sejati, yang (terlalu) banyak ikut campur tangan terhadap persoalan negara.

    Seperti misalnya, yang seseorang yang menjadi raja, baru berhak menyandang gelar “Sultan” bila telah mendapatkan “restu” dari Kanjêng Sunan Giri dari Giri Kêdaton. Model pola hubungan ulama-umara seperti ini yang kemudian menjadi benih-benih pertikaian di antara wali sendiri.

    Begitupun ketika pusat pemerintahan pindah dari Pajang ke Mataram. Kanjêng Sunan Kudus “berbelok arah” mendukung kubu Dêmak (Aryå Pangiri, putra Sunan Prawåtå [kubu yang sebelumnya dilenyapkan Aryå Pênangsang, murid Kanjêng Sunan Kudus]) untuk menguasai Pajang, mengusir Pangéran Bênåwå (putra Sultan Hadiwijåyå). Sementara Kanjêng Sunan Kalijågå mendukung keturunan Pêmanahan (Ki Gêdé Mataram) untuk mendirikan kerajaan baru yang bernama Mataram.

    Tidak hanya berhenti di situ. Konflik politik para wali itu terus berlanjut hingga akhir hayat mereka. Hingga anak cucu generasi mereka selanjutnya. Dan lebih memprihatinkan lagi, ketika Sunan Amangkurat I (Raja Mataram ke-5, putra Sultan Agung Hanyåkråkusumå) membantai secara keji kurang lebih 6.000 ulama ahlus sunnah wal jama’ah di alun-alun Mataram, dengan alasan “mengganggu keamanan negara”.

    Ini adalah sebagai bukti adanya imbas yang berkepanjangan dari perseteruan ideologi para wali di era sebelumnya –di samping juga karena faktor politik yang lain. Dan, gesekan-gesekan aliran keagamaan (ideologi) seperti itu, di kemudian hari terus berlanjut, seolah-olah telah menjadi sebuah “warisan” masa kini.

    Santri Abangan dan Santri Putihan

    Kita sering dengar istilah Islam Abangan, yakni suatu ‘ejekan’ terhadap seorang yang beragama Islam, namun tidak menjalankan syariat Islam dengan semestinya. Istilah populer sekarang adalah Islam KTP.

    Namun sudah lama berada dalam perbendaharaan susastra Nusantara, yang tertulis dalam Kitab-kitab Babad dan Kidung, Jawa khususnya semasa zaman awal-awal timbulnya kerajaan Islam di pulau Jawa, tentang sebutan Santri Abangan dan Santri Putihan. Berikut dongengnya:

    Berawal dari sikap Kanjêng Sunan Giri yang dikenal oleh penulis berkebangsaan Portugis yang pernah mengembara ke Nusantara pada akhir abad ke-14. Kolonialis Portugis itu menyamakan sistem pemerintahan Sunan Giri di Giri Kêdathon sama dengan sistem pemerintahan Kepausan atau Tahta Keuskupan Vatikan, sehingga Sunan Giri oleh mereka disebut sebagai “Paus dari Timur”, karena Kanjêng Sunan Giri-ah yang berhak menetukan aturan-aturan, norma-norma peribadatan, dan juga anggêr-anggêr undang-undang tata pemerintahan dan tata negara yang dianut oleh penguasa (Islam) pada waktu itu, dan Kanjêng Sunan Giri-lah satu-satunya anggota Dewan Wali (Wali Sångå) yang berhak melantik seorang sultan.

    Dikenal semasa para ulama yang tergabung ke dalam Déwan Wali Sångå, beliau para sunan berdaulat dan sepakat membuat undang-undang hukum yang disebut Kitab “Salokantårå ” dan “Jughul Mudå” ialah kitab Undang-undang Hukum Dasar Kesultanan Dêmak dan kesultanan-kesultanan setelah itu, yang punya landasan syari’ah agama Islam, yang mengakui bahwa sultan sebagai khalifah Allah di dunia, secara sadar dan ikhlas dikontrol kekuasaannya oleh para wali. Nampak jelas sekali bahwa para wali telah ikut terjun dalam “politik praktis”.

    Kitab Undang-undang Hukum Dasar Kesultanan Dêmak Salokantårå dan Jughul Mudå ini disusun oleh Syeh Maulana A’inul Yakin alias Kanjêng Sunan Giri, Sayid Ja’far Shadiq atau Kanjêng Sunan Kudus yang dibantu oleh Ahmad Ali Rahmatullah alias Kanjêng Sunan Ampél.

    Dari referensi diketahui bahwa Kitab Undang-undang Hukum Dasar tersebut meliputi perkara-perkara antara lain: mu’amalah, jinayat, siyasah, imamah, qisash, ta’zir, jihad, hudud, perburuhan, perbudakan, makanan, bid’ah, yang meliputi seluruh aspek kehidupan yang menjadi sistem baru kesultanan di Jawa. Sangat disayangkan kedua kitab ini kini sudah raib tak jelas rimbanya.

    Juga dalam masalah ibadah, Kanjêng Sunan Giri tidak kenal kompromi dengan adat istiadat dan kepercayaan lama. Ibadah menurut beliau harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen. Tidak boleh dicampur aduk dengan kepercayaan lain. Pelaksanaan ibadah mesti sesuai dengan aturan yang tersebut dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

    Kubu ini paling militan dan merasa telah mengikuti anjuran ajaran Islam secara murni, seperti yang pernah diucapkan Kanjêng Sunan Giri, bahwa siapa saja yang menolak pergerakan umat Islam yang tengah gencar-gencarnya itu, sama saja menjalankan ajaran bid’ah, dan umat Islam yang tidak sepaham dengan golongannya, yang disebut bi’ah itu, termasuk golongan abangan, yang harus disingkirkan. Sikap dan keyakinan Kanjêng Sunan Giri ini didukung oleh Kanjêng Sunan Ampel dan Kanjêng Sunan Drajad.
    Pengikut Kanjêng Sunan Giri kemudian disebut Islam mutihan atau Santri Putihan,

    Sementara pihak lain yang agak lunak kepada adat istiadat atau kepercayaan lama oleh kelompok Santri Putihan, disebut Islam Abangan atau Santri Abangan. Pemimpin golongan Santri Abangan ini adalah Kanjêng Sunan Kalijågå yang didukung oleh Kanjêng Sunan Bonang, Kanjêng Sunan Muria, semula Kanjêng Sunan Kudus dan Kanjêng Sunan Gunung Jati.

    Kanjêng Sunan Kalijaga mencoba membendung gerakan-gerakan umat Islam yang berubah radikal ini.
    Kaum Abangan berpendapat, bahwa menyampaikan da’wah harus dengan lemah-lembut, tidak dengan kekerasan; harus bersikap lunak kepada rakyat Jawa yang masih awam, tidak tergesa-gesa mengubah adat istiadat rakyat yang memang sukar diubah atau dihilangkan; tata-cara adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam namun mudah diubah maka bisa dihilangkan; Tut wuri handyani, namun diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit, yaitu memasukkan unsur Islam pada adat istiadat rakyat, contoh dalam hal ini adalah memanfaatkan kesenian rakyat berupa gending, tembang dan wayang kulit sebagai media da’wah; rakyat yang masih awam dan berpegang teguh pada adat istiadat hendaknya diusahakan tertarik dan mendekat kepada para Wali.

    Caranya tidak lain adalah dengan mengambil hati mereka agar merasa simpati, senang dan akrab dengan ajaran para wali. Apabila mereka sudah mendekat dan mau berkumpul maka mudahlah bagi para Wali untuk memberikan pengertian kepada mereka. Bila mereka sudah mengerti ajaran Islam maka secara otomatis pasti mereka akan meninggalkan sendiri adat dan kepercayaan yang tidak sesuai dengan syariat dan aqidah Islam.

    Itulah pokok-pokok pikiran yang menjadi perbedaan antara Santri Abangan dan Santri Putihan. Santri Abangan ingin mengIslamkan orang Jawa secepat mungkin dengan jalan agak kompromi atau mengikuti arus namun tidak hanyut.

    Sedangkan para Santri Putihan takut atau khawatir bila terjadi penyelewengan terhadap agama Islam. Meski demikian kedua aliran ini tetap menjaga ukhuwah Islamiyah. Mereka tetap menjaga persatuan umat. Misalnya dalam soal mendirikan Masjid Demak, kedua pihak tersebut tetap bersatu padu dan bergotong royong.

    ***

    Berikut cuplikan dialog para sunan tentang perbedaan cara berda’wah di antara mereka:

    Semasa hidupnya Kanjêng Sunan Ampél ikut pula pula mendirikan Masjid Agung Dêmak, yang salah satu di antara empat tiang utama masjid Dêmak hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Kanjêng Sunan Ampél. Masjid Dêmak dibangun kira-kira pada tahun 1401Ç (Lukisan kura-kura di depan pengimaman menunjukkan angka tahun ini), atau kira-kira bertepatan dengan tahun 1479M). Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa berdirinya masjid Dêmak adalah berdasarkan candrasengkala yang berbunyi: “Kori Trus Gunaning Janmi” yang artinya adalah tahun 1399Ç atau bertepatan dengan tahun 1477M.

    Sikap Kanjêng Sunan Ampél terhadap adat istiadat yang berlaku saat itu sangat hati-hati, hal ini didukung oleh Kanjêng Sunan Giri dan Kanjêng Sunan Drajad. Seperti yang pernah disebut dalam permusyawaratan para Wali di masjid Agung Dêmak.

    Pada waktu itu Kanjêng Sunan Kalijågå mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Kanjêng Sunan Kalijågå tersebut bertanyalah Kanjêng Sunan Ampél:

    Apakah tidak mengkuatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara yang ada sekarang ini, nantinya dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?.”

    Dalam musyawarah itu Kanjêng Sunan Kudus menjawab pertanyaan Kanjêng Sunan Ampél, “Saya setuju dengan pendapat Kanjêng Sunan Kalijågå, bahwa adat istiadat yang berlaku yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggalkan sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjêng Sunan Ampél, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.”

    Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat Kanjêng Sunan Kalijågå dan Kanjêng Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat diterima Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam.

    Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

    Sebaliknya, adanya pendapat Kanjêng Sunan Ampél yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah.

    Dalam pada itu, maka semakin jelas, bahwa konflik yang terjadi di kalangan para Wali Sångå –lebih banyak diakibatkan karena persoalan rebutan pengaruh politik–.

    Wali Sångå — kelompok ulama yang “diklaim” oleh para ulama “tradisional” masa kini, sebagai nenek-moyangnya dalam perihal berda’wah dan ajarannya, sejarah telah mencatat pula terjadinya konflik yang “fenomenal” antara Wali Sångå (yang mengutamakan syari’at) dan kelompok Syèh Siti Jênar (yang mengutamakan hakekat).

    Bagaimana dongengnya, sumånggå, masih wonten toétoég-ipun

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  3. Katur Ki P. Sat Pam,

    Maaf. Tulisan Dongeng Arkeologi & Antropologi PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-6) di atas mengganggu dengan cetak miringnya .

    Kesalahan terjadi setelah kata rêndhêng), Letak “/” seharusnya sebelum “i” tetapi tercetak “i” baru kemudian “/”.
    Sekali lagi mohon maaf.

    cantrik bayuaji

    • Kasinggihan Ki Bayu
      menuju ke TKP.., eng ing eng…….

      • wes-weeeeeessss…..balapan ning TKP

    • Matur nuwun Ki Bayu,
      betul sekali pendapat Ki Bayu bahwa buansa itu masih terasa sampai sekarang, bahkan tentu akan selalu ada sepanjang masa.
      Kata kuncinya adalah pamrih sedangkan alasan lainnya hanya sebagai tempelan saja.

      Nuwun.

      • nyuwun pangapunten,
        buansa = yang dimaksudken NUANSA.

  4. //Sugêng énjang//

  5. /Sugêng énjang/

    • /SOEGENG SIJANG/

  6. Selamat malam poro kadang Padepokan ………..

  7. Lho SBB_08 ical P Satpam namung wonten seratan file not found , kulo mboten mudheng artosipun

    Nuwun ….

  8. Wadhuh kleru ngetike .
    Ngapunten .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: