SBB-09

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 12 Desember 2011 at 00:01  Comments (16)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-09/trackback/

RSS feed for comments on this post.

16 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1

  2. Kulånuwun
    Sugêng énjang

    sugeng enjing Ki Bayu
    nyeratipun klentu Ki Bayu, bayuaji dipun serat bayauji, he he he

    • Hiks….. måtå sampun lamur, tangan buyutên.. Ki.

      Alhamdulillah, semalam agak capek, menunggu kelahiran cucu yang ke-5, dari anak ke-2. Lahir dengan selamat, sempurna ganteng seperti eyang-kakungnya.. he he he he.

      • wah..wah..wah….
        selamat… selamat …selamat….
        mudah-mudahan menjadi anak yang saleh dan pinter seperti eyang kakungnya, he he he …..

        wah…., senengnya…..

        • Aamin. Alhamdulillah. Matur nuwun.

          • hadu tadi kok kelewatan leh moco yooo….!!!

            kagem ki BAYUAJI, selamat atas kelahiran cucu yang ke-5,
            tambah cucu tambah semangat tambah awet muda….hehehee

  3. Kulånuwun
    //Sugêng énjang//

  4. Kulånuwun
    /Sugêng énjang/

    • Sugêng énjang ki Bayu,

      • // Sugêng siyang//

        Keselamatan, kesehatan, rahmat dan berkah Tuhan semoga senantiasa menyertai Ki Gundul sekeluarga.

        Demikian juga bagi seluruh sanak kadang beserta keluarga semuanya, khusunya di Padepokan pelangisingosari.

        Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram, Insya Allah akan segera diwedar.

        • Aamiin, SOEGENG nDALU.

  5. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    —de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå—

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-7)

    ANALISIS SEJARAH
    PERSETERUAN IDEOLOGI POLITIK PARA WALI (02)
    — Wali Sångå dan Kelompok Syèh Siti Jênar —

    Membaca sejarah Wali Sångå, belumlah lengkap, apabila tidak menyebut pula diri Syèh Siti Jênar, meskipun cerita mengenai dirinya masih penuh diliputi rahasia dan tanda tanya, dari suatu pertanyaan yang menimbulkan kontraversi, apakah beliau tokoh historis, atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik, hingga status kewaliannya masih juga menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli sejarah.

    Berbagai kalangan masih memperdebatkan apakah Syèh Siti Jênar benar-benar merupakan sosok manusia yang pernah hidup, atau hanya sekedar mitos yang ada dan berkembang di tengah kehidupan religius masyarakat Jawa.

    Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah ditemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syèh Siti Jênar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi.

    Tetapi “kehadiran” Syèh Siti Jênar telah memberi warna terhadap tumbuh dan berkembangnya agama Islam di Nusantara, khususnya di Tanah Jawa, demikian juga terhadap kehidupan mistik Kêjawèn. Mistik Kêjawèn ini memang unik dan banyak menimbulkan kontroversi.

    Terlebih lagi, ketika Syèh Siti Jênar berbicara tentang Tuhan dan kematian, mungkin dapat mengundang kebencian dan kemarahan. Namun, sebagai sebuah wacana kultur mistik Kêjawèn hal ini pun patut diketahui. Agar bisa menangkap ajaran tentang Tuhan dan kematian yang dipahaminya.

    Suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syèh Siti Jênar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.

    • Catatan: Tulisan saya tentang Wali Sångå, dapat disimak di gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi Penyebaran Islam di Nusantara. https://pelangisingosari.wordpress.com/penyebaran-islam/

    Kondisi kehidupan seperti ini mengingatkan kita pada filsuf Yunani kuno, Socrates, yang hingga saat ini kalangan yang berkecimpung di dunia filsafat mengenalnya hanya lewat berbagai tulisan sang murid, Plato, yang kerap menjadikannya tokoh utama dalam setiap karyanya.

    Demikian halnya dengan Syèh Siti Jênar, sebagian kalangan menganggapnya sebagai tokoh yang pernah ada, hidup semasa dengan para wali di tanah Jawa, tergolong salah satu dari mereka, namun dituduh murtad dan menyebarkan berbagai ilmu sesat, dan disebabkan oleh itu dia harus menerima hukuman mati.

    Hukuman mati yang diterimanya juga didasarkan atas tuduhan bahwa Syèh Siti Jênar telah menyesatkan keyakinan masyarakat. Disamping itu ada yang berpendapat andaikatapun benar, bahwa beliau dipecat dahulu juga menjadi wali, akan tetapi bukan termasuk Wali Sångå.

    Sebagian lagi menganggapnya sebagai sosok yang tidak pernah ada. Syèh Siti Jênar dipandang hanya sebagai manifestasi dari pola hidup religius sebagian masyarakat Jawa, yang merupakan hasil sinkretis antara ajaran Islam, Hindu, Budha dan kebudayaan Jawa. Syèh Siti Jênar melambangkan pemikiran Islam Kêjawèn yang sering dipertentangkan dengan pemikiran Islam dalam dominasi syariat yang dilambangkan oleh para wali.

    Ada juga yang menilai bahwa cerita tentang Syèh Siti Jênar merupakan cara yang digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di kalangan orang-orang Jawa pada masa itu.

    Tokoh ini kemudian disebut sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap agama resmi yang formalistik dan syariahistik, setidaknya pada masa sekitar abad keempatbelas sampai kelimabelas, yaitu masa pemerintahan Radèn Patah sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa.

    Syèh Siti Jênar disebutkan memiliki pemikiran yang sangat berbeda dengan para Wali Sångå lainnya. Ia bahkan menjadi tokoh yang berani menantang kekuasaan para wali yang saat itu menjadi kolaborator setia Kesultanan Dêmak Bintårå. Ulama dan penguasa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menjalankan kebijakan Negara.

    Ada yang berpendapat bahwa ajarannya termasuk golongan keras, bukan lembut dan sejuk. Dia lebih banyak menyampaikan mistik secara tajam dan lugas.

    ***

    Syèh Siti Jênar, yang tahun kelahirannya tidak diketahui, namun kematiannya diduga pada tahun 923 H / 1439 C / 1517 M, itupun masih diperdebatkan letak makamnya. Ada yang menyebutnya di Cirebon, yakni di pemakaman Anggaraksa Graksan Cirebon, setelah beliau dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 M. Ada pula yang menyebutkan di Jepara.

    Beliau memiliki banyak nama, antara lain:
    San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang);
    Syèh ‘Abdul Jalil (nama yang diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana);
    Syèh Jåbåråntå (nama yang dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka);
    Prabu Satmåtå (Gusti yang nampak oleh mata; nama yang muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yang diperkenalkan kepada para murid dan pengikutnya).

    Beliau disebut juga Pangéran Jênar , Syèh Lêmah Abang , Syèh Siti Bang, atau Syèh Siti Brit, gelar yang diberikan masyarakat Lêmah Abang, yaitu suatu komunitas dan kampung model yang dipelopori Syèh Siti Jênar ; melawan hegemoni kekuasaan Kesultanan Dêmak.

    Menurut legenda yang hidup di kalangan masyarakat sampai sekarang, Siti Jênar itu berarti Tanah Merah. Siti — (dalam Bahasa Jawa artinya lêmah, tanah), sedangkan Jênar — (dalam Bahasa Jawa artinya abang atau abrit, merah).

    Dalam Sêrat Babad Cirêbon, terkenal dengan sebutan Syèh Lêmah Bang atau Syèh Lêmah Brit,Syèh Nurjati atau Pangéran Panjunan atau Sunan Sasmitå. Nama tersebut juga dilekatkan oleh Kanjêng Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Demak Bintårå.

    Masyarakat Jawa Tengahan menyebutnya Syèh Siti Brit, Syèh Siti Luhung; dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru disebut Sunan Kajênar; disebut juga Syèh Wali Lanang Sêjati; Syèh Jati Mulyå; dan Syèh Sunyåtå Jatimurti Susuhunan ing Lêmah Abang.

    Nama Siti Jênar sudahlah jelas, boleh jadi bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama samaran atau dalam Bahasa Jawa julukan atau paraban, sebagaimana Kanjêng Sunan Kalijågå juga diberi julukan Syèh Malaya.

    Ada juga yang berpendapat, bahwa Siti Jênar itu mungkin adalah ucapan salah dari perkataan: Sidi Jinnar dari bahasa Persia, Sidi berarti tuan, Jinnar adalah orang yang kekuatannya seperti api. Hal ini dihubungkan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dan Persia. sebab didalam bahasa Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran: Nar, seperti misalnya “Annar, Nar, Naynar” dan sebagainya.

    Kemudian dari mana asalnya mulanya Syèh Siti Jênar itu? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa? Hal yang belum diketahui dengan pasti.

    Dari penyelusuran jejak perkembangan Islam di Nusantara khususnya Tanah Jawa, menyatakan bahwa belum pernah ditemukan tempat tinggal berupa kampung, desa dan lain-lain yang disebut Siti Jênar. Tetapi tempat yang bernama Jenar atau Kajênar diduga pernah ada.

    Demikian pula halnya dengan Lêmah Abang. Di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat, terdapat tempat yang disebut Lêmah Abang, namun tidak ada fakta yang mendukung bahwa Syèh Siti Jênar berasal dari daerah tersebut. Nama yang demikian ini diduga juga terdapat di Cirebon dan bahkan ada yang menduga pernah terdapat di Jawa Tengah.

    Berbeda halnya dengan di daerah antara Karawang dan Bekasi, keberadaan Syèh Siti Jenar atau Syèh Lêmah Abang di sekitar Cirebon didukung oleh fakta, yakni adanya sebuah makam di Mlatèn, pinggiran kota Cirebon, yang diyakini sebagai makam Syèh Lêmah Abang, namun di daerah ini tidak dikenal nama Syèh Siti Jênar.

    Legenda Syèh Siti Jênar

    Di lingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban Larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

    Selama ini, silsilah Syèh Siti Jênar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dengan kegelapan tahun kehidupan Syèh Siti Jênar sebagai manusia sejarah.

    Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran beliau dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala sesuatu yang berbau Syèh Siti Jênar akibat popularitasnya di masyarakat yang mengalahkan Dewan Wali serta ajaran resmi yang diakui pemerintahan Islam pada waktu itu.

    Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas:

    Wondéné katjarijos jèn Lêmahbang punikå asal saking tjatjing, punikå dédé, sadjatosipun inggih pantjèn manungsa limrah darah alit kemawon, grijå ing dhusun Lêmahbang……..

    [Adapun diceritakan kalau Lêmahbang (Syèh Siti Jênar) itu berasal dari cacing, hal itu sangatlah tidak mungkin. Sebenarnyalah beliau memang (hanya) manusia lumrah keturunan rakyat jelata, (yang) bertempat tinggal di desa Lêmah Abang]….

    Menurut legenda tersebut, dikatakan Syèh Siti Jênar adalah manusia lumrah, seperti manusia lainnya, penggambaran berasal dari cacing karena beliau menempuh hidup sebagai petani, yang saat itu, dipandang dan di”kasta”kan sebagai rakyat jelata oleh struktur budaya Jawa.

    Konon, Seorang ulama Islam, bernama Syèh Abdul Jalil, datang ke Jawa dan bermukim di Bukit Amparan Jati (di daerah Cirebon sekarang). Di sana, beliau bertemu dengan Syèh Dzatul Kahfi, seorang ulama sepuh yang sudah lama menetap di Bukit Amparan Jati.

    Ulama sepuh inilah guru dari Pangéran Walang Sungsang dan Dèwi Rårå Santang, putra-putri dari Prabu Silih Wangi, Raja Pajajaran.

    Setelah menetap berdekatan dengan Syèh Dzatul Kahfi, Syèh Abdul Jalil kemudian berpindah ke Carbon Girang. Disana beliau mendirikan sebuah Pesantren dengan nama Krendhasawa. Banyak yang tertarik dengan ajaran beliau yang bernuansa spiritual murni.

    Sama sekali berbeda dengan para ulama-ulama lain yang lebih banyak berkecimpungan di dunia politik dan ikut sibuk mendirikan negara.

    Di Pesantren Krendhasawa, para santri tidak menemui nuansa politik seperti itu. Ajaran tassawufnya begitu kental. Nuansa kedamaiannya sangat terasa.

    Kehidupan di pesantren Kanjêng Sunan Gunung Jati, dikatakan sangat disibukkan dengan “manuver-manuver politik” untuk membuat poros Demak-Cirebon, dan kelak Demak-Cirebon-Banten.

    Pada masa-masa tersebut Pasukan Tentara Angkatan Laut Koalisi Kesultanan Demak dan Cirebon (yang masih di bawah kekuasaan Kerajaan Pakuan), melakukan “unjuk kekuatan” di pelabuhan Cirebon, di bawah pimpinan panglimanya yaitu Senapati Sarwayala Yunus Abdul Kadir, Sang Pangeran Sabrang Lor, yang dikenal juga sebagai Dipati Unus.

    Tujuan utama pemusatan pasukan ini sebenarnya adalah sebagai upaya untuk melindungi perairan Jawa Sumatera, yang mulai dikuasai oleh Tentara Laut Portugis.

    Keadaan makin tegang ketika poros Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :
    1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
    2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
    3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
    4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).

    Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir, yang dikenal sebagai Adipati Unus, dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Pangeran Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

    Persekutuan Demak Cirebon inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d’Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

    Pangeran Cakrabuana dan Kanjêng Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek.

    Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan.

    Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon.

    Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya — Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara — diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

    Kehadiran Syèh Abdul Jalil, menyita perhatian Dewan Wali Sångå yang berpusat di Ampèldênta, Ampèl, Surabaya sekarang. Sudah menjadi kesepakatan bersama, seyogyanya, para ulama yang menetap di Jawa, masuk menjadi anggota Dewan Wali.

    Syèh Abdul Jalil tidak menolak ajakan itu. Beliau bersedia masuk menjadi anggota Dewan Wali Sångå.

    Begitu menjadi anggota Dewan Wali, beliau mendapat julukan Syèh Lêmah Abang atau Syèh Ksiti Jênar. Beliau mendapat gelar seperti itu karena beliau tinggal didaerah Jawa bagian barat yang terkenal tanahnya berwarna merah kekuning-kuningan, beda dengan tanah Jawa bagian tengah dan bagian timur.

    Kata Ksiti yang artinya tanah, lama-lama berubah menjadi Siti. Maka terkenallah beliau dengan sebutan Syèh Siti Jênar atau Syèh Lêmah Abang atau Sunan Kajênar.

    Beliau bukan keturunan bangsawan. Kebanyakan, para ulama yang waktu itu dikenal dengan sebutan Wali, berasal dari kalangan bangsawan. Sebut saja Sunan Ampel, dia berdarah bangsawan Campa. Sunan Bénang (Sunan Bonang), Sunan Darajat (Sunan Drajat), Sunan Lamongan, ketiganya putra Sunan Ampel, berdarah bangsawan Campa dan Tuban, karena istri Sunan Ampel masih keturunan Kadipaten Tuban, begitu juga Sunan Kalijågå, yang berdarah Tuban, Sunan Giri yang berdarah Blambangan.

    Syèh Siti Jênar, tidak berdarah biru. Namun beliau memiliki ‘kecemerlangan’ melebihi para bangsawan kraton. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu faktor sehingga beliau sama sekali tidak tertarik dengan urusan perpolitikan, selain memang ‘kesadaran’ beliau yang benar-benar tinggi.

    Legenda lain mengisahkan, konon, Syèh Siti Jênar adalah putra Syèh Datuk Sholeh yang bermukim di Malaka. Syèh Datuk Sholeh putra dari Syèh Datuk Isa. Syèh Datuk Isa putra Syèh Khadir Khaelani. Syèh Khadir Khaelani adalah putra Abdullah Khannuddin. Dan Abdullah Khannuddin putra Ashamat Khan atau Syèh Abdul Malik, yang konon tinggal di India sebelah barat yang sekarang wilayah Pakistan.

    Diceritakan dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, bahwa Syèh Siti Jenar mencuri dengar wejangan agama Sunan Bonang kepada Sunan Kalijågå di atas perahu di tengah rawa. Syèh Siti Jenar konon berubah menjadi seekor cacing tanah.

    Ketika hendak berlayar, perahu Sang Sunan bocor, maka Sunan Bénang menambal bagian perahu yang sedikit berlobang itu dengan segenggam tanah. Padahal, di dalam tanah yang sudah tergenggam itu, ada Syèh Siti Jenar yang berwujud cacing.

    Sunan Bénang tahu, tapi dia diam saja. Begitu selesai mewejang barulah Sunan Bénang menyuruh cacing itu berubah menjadi manusia.

    Simbolisasi ini sangat jelas sekali, bahwasanya masuknya Syèh Siti Jênar ke Dewan Wali Sångå adalah atas prakarsa Sunan Bénang, disimbolkan dengan mengambil tanah berisi cacing.

    Dan Syèh Siti Jênar hanyalah seekor cacing, suatu penggambaran bahwa beliau berasal dari kalangan rakyat jelata.

    Perahu melambangkan Dewan Wali. Di bagian Jawa sebelah barat, ada kekosongan pimpinan ummat Islam. Syèh Dzatul Kahfi sudah sepuh. Pangeran Cakrabhuwana bukanlah seorang ulama, dia seorang politikus.

    Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, belum datang ke Cirebon. Dia masih di Mesir. Dengan datangnya Syèh Siti Jênar, kekosongan pemimpin agama bisa ditutupi, meskipun “hanya seekor cacing”.

    Cacing, si rakyat jelata ini, berubah menjadi manusia atas anugerah Sunan Bénang. Seorang rakyat jelata yang kini disegani dan berkedudukan sederajat dengan para bangsawan, itu karena andil Sunan Bénang.

    Simbolisasai cacing si rakyat jelata ini jelas-jelas muncul dikemudian hari setelah Syèh Siti Jênar difatwakan sesat oleh Dewan Wali. Ada ungkapan diskriminatif di Jawa:

    Wong ya pancèné godhong krokot, diunggahnå nganti dhuwur ya têtêp waé cukulé mlorot

    (Namanya juga daun krokot, walaupun diangkat setinggi mungkin, tumbuhnya tetap saja kebawah.)

    Ungkapan ini biasanya mencerminkan kekesalan seseorang yang telah berjasa mengangkat orang lain dari kesengsaraan namun kemudian lupa daratan.

    Dan manakala Syèh Siti Jênar, yang dulu bukan apa-apa, dan dimasukkan ke Dewan Wali oleh Sunan Bénang, sehingga kedudukannya terangkat, namun dikemudian hari berani menentang Para Wali yang lain, maka keluarlah ungkapan kekesalan secara simbolik ini.

    Namanya saja rakyat jelata, bagaimanapun juga, tetap saja kelakuannya seperti rakyat jelata, seperti cacing. Kurang lebih seperti itu.

    Padahal, tingkat ‘spiritualitas’ seseorang tidak bisa diukur oleh pangkat dan derajatnya di masyarakat. Mereka yang terlena dengan hiruk-pikuk politis kekuasaan lupa.

    Karena mereka memang tengah terfokus pada duniawi, dunia kekhalifahan semata. Namun, tidak demikian dengan Sunan Kalijågå. Sunan Kalijågå, sangat menghormati Syèh Siti Jênar karena tingkat spiritualitasnya benar-benar tinggi.

    Kubu Sunan Giri dan kubu Sunan Kalijågå, tidak pernah sepaham di mana-mana. Dan manakala Sunan Giri menyerbu ke Wilwatikta Janggala Kadiri, dan ingin mendirikan

    Kekhalifahan Islam di Jawa. Syèh Siti Jênar menyampaikan protes keras. Bahkan beliau kemudian menyatakan, keluar dari Dewan Wali Sångå.

    Pada tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibunya Syarifah Muda’im, datang dari Mesir ke Cirebon. Syarifah Muda’im adalah nama muslim Dewi Rara Santang. Dia adalah adik kandung Pangéran Cakrabhuwana, penguasa Carbon Girang.

    Mendengar kedatangan Syarif Hidayatullah, Sunan Giri segera mengirim utusan untuk memintanya bergabung bersama Dewan Wali Sångå yang berpusat di Ampèldhênta.

    Syarif Hidayatullah menyetujuinya. Kemudian beliau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Dengan adanya Sunan Gunung Jati, kekosongan kepemimpinan Islam di Jawa bagian Barat yang semula dijabat Syèh Siti Jênar, tertutupi sudah.

    Maka kini, ada dua kekuatan besar di Cirebon. Satu Syèh Siti Jênar dan yang kedua Sunan Gunung Jati.

    Pada awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Pimpinan Dewan Wali Sångå berpindah ke tangan Sunan Giri. Hubungan Syèh Siti Jênar dan Sunan Giri yang selama ini terkenal tidak bagus, begitu kepemimpinan Dewan Wali berganti, maka hubungan ini semakin meruncing.

    Legenda lain seperti tertulis dalam Buku Sitijênar (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jênar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jênar (Syèh Siti Luhung / Syèh Lêmah Bang / Syèh Lêmah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Kanjêng Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Kanjêng Sunan Giri.

    Dalam buku Sejarah Cirebon dijelaskan bahwa Syèh Lêmahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pêngging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Agêng Pêngging Kêbo Kênångå dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 M dengan Keris Kaki Kantanaga milik Kanjêng Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa Graksan Cirebon.

    ***

    Pandangan Syèh Siti Jênar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, dianggap sangat menyimpang dari ajaran Wali Sångå, sekaligus berlawanan dengan hukum negara Kesultanan Dêmak yang didukung oleh para Wali.

    Syèh Siti Jênar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan negara, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia.

    Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Dêmak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jênar di suatu daerah di desa Krêndhåsåwå, untuk membawa Siti Jênar ke Dêmak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jênar wafat, tetapi ada yang mengatakan dia dibunuh, dan ada pula yang mengatakan bunuh diri.

    Mengapa Syèh Siti Jênar menjadi berbeda pemikirannya mengenai Islam dengan para Wali Sångå lainnya?

    Fenomena Syèh Siti Jênar memang bak mitos, literatur sejarah sangat sedikit yang membahas mengenai sosoknya, ia tentu kalah pamor jika dibandingkan kesembilan sunan lainnya.

    Ia dianggap atheis, atau paling tidak kafir, karena menyebarkan ajaran yang disebut: Manunggaling Kawulå Gusti. Selain itu, ia mengkritik habis semua praktek agama Islam yang dijalankan Kesultanan Dêmak saat itu, ia mengkritik sikap para ulama yang lebih mementingkan ego saat menyebarkan agama Islam di Jawa, ia menganggap ajaran yang disampaikan para ulama hanya sebatas dogma, dogma yang kaku dan sangat dipaksakan untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

    Kedekatan para Wali dengan kalangan istana Dêmak, bahkan adanya pola pemberian “restu” wali kepada Sultan dinilai oleh Syèh Siti Jênar sebagai terlalu berpihak pada kepentingan pengusasa.

    Sultan pertama Dêmak Bintårå, Radèn Patah telah mampu mengembangkan kehidupan politik dan agama — dalam hal ini Islam — secara kuat dan mapan dan mendapat dukungan para wali yang tergabung dalam Dewan Wali.

    Sultan Patah dan para wali berhasil membangun aliansi strategis untuk kepentingan masing-masing. Sultan berkepentingan mengembangkan kemapanan politis, sedangkan para wali menghendaki perluasan wilayah pengembangan Islam.

    Hegemoni keagamaan para wali yang menempatkan diri di pusat kekuasaan dengan cara mendekati dan merangkul para elit politik Kesultanan Dêmak, terguncang oleh munculnya ajaran Syèh Siti Jênar. Hal ini sudah dipahami karena sisa-sisa pengikut dan trah Majapahit khususnya yang beragama Hindu-Budha Majapahit, yang tidak mengungsi ke luar Jawa, ke Bali terutama, masih banyak tersebar di wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur, bahkan mungkin berada di sekitar lingkungan di luar dinding-dinding istana Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Bukan hal yang aneh bila mereka masih berusaha menghimpun kekuatan yang terserak itu, untuk membentuk sekurang-kurangnya “jamaah pengajian”.

    Boleh jadi, Syèh Siti Jênar memiliki suatu rencana besar dan kepentingan tertentu selain kepentingan keagamaan. Saat bertemu dengan Ki Agêng Pêngging yang disebut Ki Kêbo Kênångå, salah satu bangsawan Majapahit yang secara politis tersingkir oleh ontran-ontran sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit dan pengaruh perkembangan Kesultanan Dêmak Bintårå, mereka lalu bergabung.

    Dari kelompok seperti ini, dapat saja mereka menyusun kekuatan, merancang apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembalikan tegaknya kekuasan trah Majapahit. Seperti diduga oleh Sultan Demak, sebagaimana dilegendakan dalam Babad Tanah Jawi, versi proza van J. J. Meinsma berikut ini:

    Katjarijos sultan ing Dêmak mirêng wartos, jèn têdhakipun Ki Dipati Andåjåningrat, kang nåmå Ki Kêbo Kênångå, ing mangké anåmå Ki Agêng Pêngging, punikå sampun agami Islam, nanging dèrèng wontên sowan dhatêng ing Dêmak. Sinuhun Bintårå asêmu dukå, awit ing Pêngging wau tilas kabupatèn, sartå kaprênah santånå déning Sultan Dêmak, bokmênawi amikir sumêjå djumênêng ratu. Ki Wånåpålå mangsuli bêlåkå jèn kautus ing kangdjêng sultan.

    Tijang kêkalih wau ladjêng sami bêbantahan. Ramé gêntos kawon. Ki Wånåpålå sarêng sampun sumêrêp ingkang dados kanijatanipun Ki Agêng Pêngging, ladjêng pamit mantuk dhatêng Dêmak, matur ing kangdjêng sultan, jèn Ki Agêng Pêngging wau gadhah tjiptå kêkalih, ing lair anêtêpi anggènipun ngibadah, nanging ing batos sumêjå djumênêng ratu, sangêt sagêdipun anjamur lampah.

    Katjarijos Sultan Bintårå, lami ênggènipun angantos-antos ing sowanipun Ki Agêng Pêngging, awit sampun dumugi ubangginipun kalih taun. Ing mangké Sinuhun Bintårå anggalih sampun têtélå, jèn Ki Agêng Pêngging balélå, botên purun sowan.

    Ki Kêbo Kênångå atau Ki Ageng Pengging sebagai seorang trah bangsawan Majapahit, keturunan terakhir Prabu Brawijaya yang memiliki pengikut yang tidak sedikit, ternyata memilih untuk mengasingkan diri, tidak mau tunduk dan menyatakan dirinya sebagai kawulå Dêmak Bintårå, dan tidak mustahil secara diam-diam berkehendak mengembalikan kekuasaan politis sekaligus keagamaan Hindu-Budha Majapahit, bersama-sama dengan Syèh Siti Jenar, sedangkan di sisi lain Syèh Siti Jênar berkehendak menyimpang dari Dewan Wali untuk membangun “kerajaannya” sendiri tanpa campur tangan dan pengawasan dari istana Kesultanan Dêmak Bintårå dan terutama dari Dewan Wali.

    Tragedi Syèh Siti Jênar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran, rakyat jelata yang didukung oleh para mantan pejabat tinggi Kerajaan Majapahit yang tadinya berada di pusat kekuasaan Kraton Wilwatikta, yang kemudian tersingkir.

    Perlawanan ini dilakukan terhadap hegemoni penguasa yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual dari Dewan Wali, mengingat pula, bahwa ajaran para Wali sudah merupakan “fatwa-tunggal” keislaman pada waktu itu.

    Nampak jelas bahwa kepentingan politis dan agama bercampur aduk menjadi satu dan sukar dipilah dengan jelas. Bukan hal yang mustahil Syèh Siti Jênar merasa cemburu, atau berkecil hari, karena setiap usahanya tidak meperoleh legitimasi formal dari Sultan Dêmak.

    Sang sufi Jawa ini dan seluruh pengikutnya, mungkin merupakan barisan sakit hati yang tersingkir dari percaturan politis dan agama, serta termarginalisasi oleh prose politik baru yang berkembang dengan pesat yang ternyata memang tidak dapat mereka lawan.

    Kekuatan yang datang dari luar lingkungan kesultanan, pada waktu itu bisa disebut sangat terlambat karena kekuatan pusat sudah terlanjur menjadi sangat besar dan mapan, maka para penghayat ajaran tasawuf yang umumnya terdiri dari rakyat jelata kelas bawah, atau mereka yang berada di luar sistem kekuasaan yang ada, sukar memperoleh ruang gerak yang leluasa.

    Posisi mereka pun berada di wilayah pinggir, dan selanjutnya wajar saja bila petinggi negeri Dêmak Bintårå menuduh mereka sebagai pengganggu stabilitas kekuasaan kesultanan Dêmak Bintårå yang berada di bawah perlindungan Dewan Wali.

    ***

    Sejarah mencatat, Syèh Siti Jênar merupakan tokoh yang menjunjung tinggi pluralisme, ia melihat perbedaan bukan menjadi masalah, jelas pemikiran ini sangat berbeda dengan pemikiran “mainstream” para wali lainnya.

    Syèh Siti Jênar menganggap ekspresi dan aktualisasi keagamaan jika tidak menimbulkan tindakan asosial dan asusila, tidak perlu adanya tindakan penindasan terhadap kelompok agama yang berbeda ini. Ia mengambil posisi berlawanan terhadap mereka yang sering menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai pembenaran terhadap praktek-praktek penyeragaman, pemaksaan, penindasan, ritual semu, dan kepentingan penguasa.

    Syèh Siti Jênar melihat bahwa umat Islam yang semula benar-benar murni memperbaiki akhlaq, lama-lama terpengaruh gerakan militansi Islam yang mulai digalang oleh Sunan Giri, santri Sunan Ampèl.

    Ditambah lagi, hal serupa juga tengah dilakukan oleh Pangéran Cakrabhuwana, penguasa Carbon Girang. Demikian halnya juga dengan adanya pusat-pusat kekuatan politik pada masing-masing pesantren para wali.

    Kegiatan-kegiatan ruhani Islami, berubah diwarnai dengan latihan-latihan militansi. Fokus utama memperbaiki diri, kini berubah menjadi kegiatan phisik dan politik, serta menyalahkan fihak lain. Sesuatu yang tidak sama dengan keyakinan yang dianutnya dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan, bahkan dengan pembunuhan. Suasana damai antara penganut Islam, dan pemeluk agama lain, lama-lama mulai goncang.

    Catatan:

    [Dalam sejarah pembentukan Giri Kedaton, tercatat, bahwa sebelum Sunan Giri menjadi penguasa Giri Kedaton dengan nama Prabu Satmåtå, ia merupakan sosok yang berbasiskan massa, yaitu para santrinya yang militan, terdidik dan terlatih. Basis santri ini ada yang berasal dari berbagai pulau di Nusantara antara lain, Kalimantan, Sulawesi, Madura, dan Maluku. Sehingga kelak ketika Sunan Giri ketika Sunan Giri mendirikan Kerajaan Giri, maka basis pendukungnya adalah para santrinya yang militan itu, ditambah penduduk Giri dan Gresik yang juga menaruh kepercayaan kepada Sunan Giri.

    Setelah Sunan Giri telah memiliki legitimasi publik (rakyat) yang kuat, dukungan dan dorongan dari para penguasa, maka pada hari Senin tanggal 9 Maret 1487 Masehi, Sunan Giri mulai mendeklarasikan berdirinya kerajaan Giri dengan nama Giri Kedaton.]

    Syèh Siti Jênar tidak menyukai hal ini. Dimana-mana, aksi umat Islam membuat suasana menjadi panas. Penganut agama di luar Islam yang selama ini merasa damai bersanding dengan penganut agama baru ini, mulai terusik. Syèh Siti Jênar akhirnya ‘mbalélå’.

    Syèh Siti Jênar memulai mengajarkan Islam berdasarkan realitas, ia menentang penyamarataan ajaran yang dibawa para ulama Islam Timur Tengah yang tidak sesuai dengan kondisi sosial serta karakter masyarakat Jawa saat itu.

    Baginya praktek tersebut hanya sebatas menanggalkan secara paksa agama Hindu Budha yang telah dipeluk masyarakat sebelum datangnya Islam, akibatnya tentu saja pemaknaan Islam sangat rendah dan berujung kepada militansi agama.

    Kegesitan dalam dunia da’wah melalui kedalaman teologi (tauhid) menarik simpati pelbagai keluarga keraton Majapahit, termasuk Ki Agêng Pêngging atau Kêbo Kênångå untuk memeluk agama Islam, Ki Agêng Pêngging dan Ki Agêng Tingkir adalah dua sosok guru yang mendidik Mas Karèbèt alias Djåkå Tingkir untuk menjadi manusia yang saleh ritual, sosial dan intelektual.

    Sehingga keberadaan Djåkå Tingkir sebagai seorang politisi, mampu menyelesaikan konflik politik antara Aryå Pênangsang, yang didukung oleh Sunan Kudus. Setelah Aryå Pênangsang dapat ditaklukkan, Djåkå Tingkir memindahkan pusat kerajaan Dêmak ke Pajang, Kesuksesan Ki Agêng Pêngging mendidik Djåkå Tingkir tak lepas dari peran Syèh Siti Jênar yang juga lihai dalam berpolitik.

    Bila dikaji literatur tentang beliau, disebutkan bahwa kematian beliau bisa jadi karena masalah politik. berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Kerajaan Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan Kesultanan Dêmak Bintårå, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kêbo Kênångå atau Ki Agêng Pêngging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Radèn Patah yang memerintah Kesultanan Dêmak Bintårå. Ki Agêng Kêbo Kênångå yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Syèh Siti Jênar yang beragama Islam.

    ***

    Kepopuleran Syèh Siti Jênar yang menyebabkan pengikutnya semakin bertambah. Tak heran bila banyak kalangan elite Majapahit yang masuk Islam,

    Pupuh Tembang Jawa Sêrat Syèh Siti Jênar ditembangkan berikut ini membuktikan hal itu:

    //Sinom//
    /Paguroné Syèh Lêmah Bang/,
    /Wêjangané tanpa rêricik/,
    /Lan wus atinggal tåtå lair sêmbahyang/,
    /Rosé kéwålå liniling/,
    /Mêlêng tanpå aling-aling/,
    /Wus dadyå Paguron Agung/,
    /Misuwur kadibyannyå/,
    /Dénirå talabul’ilmi/,
    /Wus tan bédå lan sagunging aulia//.
    ………………….
    Perguruan Syèh Lêmah Bang,
    Wejangannya tanpa menggunakan perlambang
    Dan meninggalkan tata-lahir sembahyang,
    Inti sarinya saja yang dihayati,
    Sangat gamblang, jelas dan tidak ditutup-tutupi lagi,
    Sudah menjadi Perguruan Besar,
    Terkenal kehebatannya,
    Kedalaman Ilmu beliau,
    Sudah tak ada beda dengan para Aulia.
    ………………….

    //Sangsåyå kasusrèng janmå/,
    /Akèh kang amanjing murid/,
    /Ing pråjå pråjå myang déså/,
    /Malah sakéhing ulami/,
    /Kayungyun ngayun sami/,
    /Kasoran kang Wali Wolu/,
    /Gunging Paguronirå/,
    /Pan anyuwungakên masjid/,
    /Karyå sudå kang amrih agåmå mulyå//.
    ………………….
    Semakin terkenal ditengah masyarakat,
    Banyak yang datang menjadi murid,
    Berasal dari kota sampai ke pelosok pedesaan,
    Bahkan banyak para ulama,
    terpikat dan masuk menjadi pengikut,
    Kalahlah Delapan Wali yang lain,
    Karena kebesaran perguruannya,
    Masjid para wali ditinggalkan,
    Membuat surut pengikut para Wali pembawa agama mulia.
    ………………….

    //Santri kathah kèh kabawah/,
    /Mring Lêmah Bang manjing murid/,
    /Yå tå Sang Syèh Siti Jênar/,
    /Sangsåyå gung kang andasih/,
    /Dadyå imam pribadi/,
    /Mangku sa-réh bawahipun/,
    /Paguroning Ilmu Khaq/,
    /Kawêntar praptèng nagari/,
    /Lajêng karan Sang Pangéran Siti Jênar//.
    ………………….
    Banyak para santri yang menjadi pengikut,
    Menjadi murid Syèh Lêmah Bang,
    Adapun Sang Syèh Siti Jênar ,
    Semakin banyak yang mencintai,
    Beliau menjadi Imam tunggal,
    Jadi panutan para murid,
    Perguruannya mengajarkan Ilmu Haq,
    Terkenal diseluruh wilayah negara,
    Beliau mendapat sebutan,
    Sang Pangéran Siti Jênar .
    ………………….

    //Satêdhaking Måjålêngkå/,
    /Kalawan dharahing Pêngging/,
    /Kèh praptå apuruhitå/,
    /Mangalap kawruh sêjati/,
    /Nênggih Ki Agêng Tingkir/,
    /Kalawan Pangéran Panggung/,
    /Buyut Ngêrang Ing Bêtah/,
    /Lawan Ki Agêng Pêngging/,
    /Samyå tunggil paguron mring Siti Jênar//.
    ………………….
    Seluruh keturunan Majalengka (Majapahit),
    Termasuk keturunan dari Pengging,
    Banyak yang terpikat oleh beliau,
    Datang menimba ilmu pengetahuan sejati,
    Seperti Ki Ageng Tingkir,
    Juga Pangéran Panggung,
    Buyut Ngerang dari daerah Butuh,
    serta Ki Ageng Pengging,
    Menjadi satu paham dengan Siti Jênar.
    ………………….

    ånå toétoégé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur suwun Ki Bayu
      ngapunten nggih kawula dereng sempat maos
      Pas kathah PR niki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: