SBB-11

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 18 Desember 2011 at 00:01  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1

    • Monggo dipun waos………………..

      • monggo
        selamat berlibur

        • ainggih, sendiko

  2. Nuwun
    ||Sugêng siyang andungkap sontên||

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    —de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå—

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-7)

    ANALISIS SEJARAH
    PERSETERUAN IDEOLOGI POLITIK PARA WALI (02)
    — Wali Sångå dan Kelompok Syèh Siti Jênar —

    Membaca sejarah Wali Sångå, belumlah lengkap, apabila tidak menyebut pula diri Syèh Siti Jênar, meskipun cerita mengenai dirinya masih penuh diliputi rahasia dan tanda tanya, dari suatu pertanyaan yang menimbulkan kontraversi, apakah beliau tokoh historis, atau hanya tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik, hingga status kewaliannya masih juga menjadi perselisihan pendapat di antara para ahli sejarah.

    Berbagai kalangan masih memperdebatkan apakah Syèh Siti Jênar benar-benar merupakan sosok manusia yang pernah hidup, atau hanya sekedar mitos yang ada dan berkembang di tengah kehidupan religius masyarakat Jawa.

    Tentang ajarannya sendiri, sangat sulit untuk dibuat kesimpulan apa pun, karena belum pernah ditemukan ajaran tertulis yang membuktikan bahwa itu tulisan Syèh Siti Jênar, kecuali menurut para penulis yang identik sebagai penyalin yang berakibat adanya berbagai versi.

    Tetapi “kehadiran” Syèh Siti Jênar telah memberi warna terhadap tumbuh dan berkembangnya agama Islam di Nusantara, khususnya di Tanah Jawa, demikian juga terhadap kehidupan mistik Kêjawèn. Mistik Kêjawèn ini memang unik dan banyak menimbulkan kontroversi.

    Terlebih lagi, ketika Syèh Siti Jênar berbicara tentang Tuhan dan kematian, mungkin dapat mengundang kebencian dan kemarahan. Namun, sebagai sebuah wacana kultur mistik Kêjawèn hal ini pun patut diketahui. Agar bisa menangkap ajaran tentang Tuhan dan kematian yang dipahaminya.

    Suka atau tidak suka, kenyataan yang ada menyimpulkan bahwa Syèh Siti Jênar dengan falsafah atau faham dan ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan berbeda-beda.

    • Catatan: Tulisan saya tentang Wali Sångå, dapat disimak di gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi Penyebaran Islam di Nusantara. https://pelangisingosari.wordpress.com/penyebaran-islam/

    Kondisi kehidupan seperti ini mengingatkan kita pada filsuf Yunani kuno, Socrates, yang hingga saat ini kalangan yang berkecimpung di dunia filsafat mengenalnya hanya lewat berbagai tulisan sang murid, Plato, yang kerap menjadikannya tokoh utama dalam setiap karyanya.

    Demikian halnya dengan Syèh Siti Jênar, sebagian kalangan menganggapnya sebagai tokoh yang pernah ada, hidup semasa dengan para wali di tanah Jawa, tergolong salah satu dari mereka, namun dituduh murtad dan menyebarkan berbagai ilmu sesat, dan disebabkan oleh itu dia harus menerima hukuman mati.

    Hukuman mati yang diterimanya juga didasarkan atas tuduhan bahwa Syèh Siti Jênar telah menyesatkan keyakinan masyarakat. Disamping itu ada yang berpendapat andaikatapun benar, bahwa beliau dipecat dahulu juga menjadi wali, akan tetapi bukan termasuk Wali Sångå.

    Sebagian lagi menganggapnya sebagai sosok yang tidak pernah ada. Syèh Siti Jênar dipandang hanya sebagai manifestasi dari pola hidup religius sebagian masyarakat Jawa, yang merupakan hasil sinkretis antara ajaran Islam, Hindu, Budha dan kebudayaan Jawa.

    Syèh Siti Jênar melambangkan pemikiran Islam Kêjawèn yang sering dipertentangkan dengan pemikiran Islam dalam dominasi syariat yang dilambangkan oleh para wali.

    Ada juga yang menilai bahwa cerita tentang Syèh Siti Jênar merupakan cara yang digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di kalangan orang-orang Jawa pada masa itu.

    Tokoh ini kemudian disebut sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap agama resmi yang formalistik dan syariahistik, setidaknya pada masa sekitar abad keempatbelas sampai kelimabelas, yaitu masa pemerintahan Radèn Patah sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa.

    Syèh Siti Jênar disebutkan memiliki pemikiran yang sangat berbeda dengan para Wali Sångå lainnya. Ia bahkan menjadi tokoh yang berani menantang kekuasaan para wali yang saat itu menjadi kolaborator setia Kesultanan Dêmak Bintårå. Ulama dan penguasa menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menjalankan kebijakan Negara.

    Ada yang berpendapat bahwa ajarannya termasuk golongan keras, bukan lembut dan sejuk. Dia lebih banyak menyampaikan mistik secara tajam dan lugas.

    ***

    Syèh Siti Jênar, yang tahun kelahirannya tidak diketahui, namun kematiannya diduga pada tahun 923 H / 1439 C / 1517 M, itupun masih diperdebatkan letak makamnya. Ada yang menyebutnya di Cirebon, yakni di pemakaman Anggaraksa Graksan Cirebon, setelah beliau dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 M. Ada pula yang menyebutkan di Jepara.

    Beliau memiliki banyak nama, antara lain:
    San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang);
    Syèh ‘Abdul Jalil (nama yang diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana);
    Syèh Jåbåråntå (nama yang dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka);
    Prabu Satmåtå (Gusti yang nampak oleh mata; nama yang muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yang diperkenalkan kepada para murid dan pengikutnya).

    Beliau disebut juga Pangéran Jênar , Syèh Lêmah Abang , Syèh Siti Bang, atau Syèh Siti Brit, gelar yang diberikan masyarakat Lêmah Abang, yaitu suatu komunitas dan kampung model yang dipelopori Syèh Siti Jênar ; melawan hegemoni kekuasaan Kesultanan Dêmak.

    Menurut legenda yang hidup di kalangan masyarakat sampai sekarang, Siti Jênar itu berarti Tanah Merah. Siti — (dalam Bahasa Jawa artinya lêmah, tanah), sedangkan Jênar — (dalam Bahasa Jawa artinya abang atau abrit, merah).

    Dalam Sêrat Babad Cirêbon, terkenal dengan sebutan Syèh Lêmah Bang atau Syèh Lêmah Brit,Syèh Nurjati atau Pangéran Panjunan atau Sunan Sasmitå. Nama tersebut juga dilekatkan oleh Kanjêng Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Demak Bintårå

    Masyarakat Jawa Tengahan menyebutnya Syèh Siti Brit, Syèh Siti Luhung; dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru disebut Sunan Kajênar; disebut juga Syèh Wali Lanang Sêjati; Syèh Jati Mulyå; dan Syèh Sunyåtå Jatimurti Susuhunan ing Lêmah Abang.

    Nama Siti Jênar sudahlah jelas, boleh jadi bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama samaran atau dalam Bahasa Jawa julukan atau paraban, sebagaimana Kanjêng Sunan Kalijågå juga diberi julukan Syèh Malaya.

    Ada juga yang berpendapat, bahwa Siti Jênar itu mungkin adalah ucapan salah dari perkataan: Sidi Jinnar dari bahasa Persia, Sidi berarti tuan, Jinnar adalah orang yang kekuatannya seperti api.

    Hal ini dihubungkan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dan Persia. sebab didalam bahasa Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran: Nar, seperti misalnya “Annar, Nar, Naynar” dan sebagainya.

    Kemudian dari mana asalnya mulanya Syèh Siti Jênar itu? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa? Hal yang belum diketahui dengan pasti.

    Dari penyelusuran jejak perkembangan Islam di Nusantara khususnya Tanah Jawa, menyatakan bahwa belum pernah ditemukan tempat tinggal berupa kampung, desa dan lain-lain yang disebut Siti Jênar. Tetapi tempat yang bernama Jenar atau Kajênar diduga pernah ada.

    Demikian pula halnya dengan Lêmah Abang. Di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat, terdapat tempat yang disebut Lêmah Abang, namun tidak ada fakta yang mendukung bahwa Syèh Siti Jênar berasal dari daerah tersebut. Nama yang demikian ini diduga juga terdapat di Cirebon dan bahkan ada yang menduga pernah terdapat di Jawa Tengah.

    Berbeda halnya dengan di daerah antara Karawang dan Bekasi, keberadaan Syèh Siti Jenar atau Syèh Lêmah Abang di sekitar Cirebon didukung oleh fakta, yakni adanya sebuah makam di Mlatèn, pinggiran kota Cirebon, yang diyakini sebagai makam Syèh Lêmah Abang, namun di daerah ini tidak dikenal nama Syèh Siti Jênar.

    Legenda Syèh Siti Jênar

    Di lingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban Larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

    Selama ini, silsilah Syèh Siti Jênar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dengan kegelapan tahun kehidupan Syèh Siti Jênar sebagai manusia sejarah.

    Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran beliau dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala sesuatu yang berbau Syèh Siti Jênar akibat popularitasnya di masyarakat yang mengalahkan Dewan Wali serta ajaran resmi yang diakui pemerintahan Islam pada waktu itu.

    Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondéné katjarijos jèn Lêmahbang punikå asal saking tjatjing, punikå dédé, sadjatosipun inggih pantjèn manungsa limrah darah alit kemawon, grijå ing dhusun Lêmahbang……..

    [Adapun diceritakan kalau Lêmahbang (Syèh Siti Jênar) itu berasal dari cacing, hal itu sangatlah tidak mungkin. Sebenarnyalah beliau memang (hanya) manusia lumrah keturunan rakyat jelata, (yang) bertempat tinggal di desa Lêmah Abang]….

    Menurut legenda tersebut, dikatakan Syèh Siti Jênar adalah manusia lumrah, seperti manusia lainnya, penggambaran berasal dari cacing karena beliau menempuh hidup sebagai petani, yang saat itu, dipandang dan di”kasta”kan sebagai rakyat jelata oleh struktur budaya Jawa.

    Konon, Seorang ulama Islam, bernama Syèh Abdul Jalil, datang ke Jawa dan bermukim di Bukit Amparan Jati (di daerah Cirebon sekarang). Di sana, beliau bertemu dengan Syèh Dzatul Kahfi, seorang ulama sepuh yang sudah lama menetap di Bukit Amparan Jati. Ulama sepuh inilah guru dari Pangéran Walang Sungsang dan Dèwi Rårå Santang, putra-putri dari Prabu Silih Wangi, Raja Pajajaran.

    Setelah menetap berdekatan dengan Syèh Dzatul Kahfi, Syèh Abdul Jalil kemudian berpindah ke Carbon Girang. Disana beliau mendirikan sebuah Pesantren dengan nama Krendhasawa. Banyak yang tertarik dengan ajaran beliau yang bernuansa spiritual murni. Sama sekali berbeda dengan para ulama-ulama lain yang lebih banyak berkecimpungan di dunia politik dan ikut sibuk mendirikan negara.

    Di Pesantren Krendhasawa, para santri tidak menemui nuansa politik seperti itu. Ajaran tassawufnya begitu kental. Nuansa kedamaiannya sangat terasa.

    Kehidupan di pesantren Kanjêng Sunan Gunung Jati, dikatakan sangat disibukkan dengan “manuver-manuver politik” untuk membuat poros Demak-Cirebon, dan kelak Demak-Cirebon-Banten.

    Pada masa-masa tersebut Pasukan Tentara Angkatan Laut Koalisi Kesultanan Demak dan Cirebon (yang masih di bawah kekuasaan Kerajaan Pakuan), melakukan “unjuk kekuatan” di pelabuhan Cirebon, di bawah pimpinan panglimanya yaitu Senapati Sarwayala Yunus Abdul Kadir, Sang Pangéran Sabrang Lor, yang dikenal juga sebagai Dipati Unus.

    Tujuan utama pemusatan pasukan ini sebenarnya adalah sebagai upaya untuk melindungi perairan Jawa Sumatera, yang mulai dikuasai oleh Tentara Laut Portugis.

    Keadaan makin tegang ketika poros Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu :
    1. Pangéran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirånå (Purnåmåsidi).
    2. Ratu Ayu dengan Pangéran Sabrang Lor.
    3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pêmbayun.
    4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyåwå).

    Perkawinan Pangéran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir, yang dikenal sebagai Adipati Unus, dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Pangéran Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.

    Persekutuan Demak Cirebon inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Portugis Alfonso d’Albuquerque di Malaka (ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai atau Samudra Pasai). Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

    Pangeran Cakrabuana dan Kanjêng Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon.

    Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya — Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara — diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

    Kehadiran Syèh Abdul Jalil, menyita perhatian Dewan Wali Sångå yang berpusat di Ampèldênta, Ampèl, Surabaya sekarang. Sudah menjadi kesepakatan bersama, seyogyanya, para ulama yang menetap di Jawa, masuk menjadi anggota Dewan Wali. Syèh Abdul Jalil tidak menolak ajakan itu. Beliau bersedia masuk menjadi anggota Dewan Wali Sångå.

    Begitu menjadi anggota Dewan Wali, beliau mendapat julukan Syèh Lêmah Abang atau Syèh Ksiti Jênar. Beliau mendapat gelar seperti itu karena beliau tinggal didaerah Jawa bagian barat yang terkenal tanahnya berwarna merah kekuning-kuningan, beda dengan tanah Jawa bagian tengah dan bagian timur.

    Kata Ksiti yang artinya tanah, lama-lama berubah menjadi Siti. Maka terkenallah beliau dengan sebutan Syèh Siti Jênar atau Syèh Lêmah Abang atau Sunan Kajênar.

    Beliau bukan keturunan bangsawan. Kebanyakan, para ulama yang waktu itu dikenal dengan sebutan Wali, berasal dari kalangan bangsawan. Sebut saja Sunan Ampel, dia berdarah bangsawan Campa. Sunan Bénang (Sunan Bonang), Sunan Darajat (Sunan Drajat), Sunan Lamongan, ketiganya putra Sunan Ampel, berdarah bangsawan Campa dan Tuban, karena istri Sunan Ampel masih keturunan Kadipaten Tuban, begitu juga Sunan Kalijågå, yang berdarah Tuban, Sunan Giri yang berdarah Blambangan.

    Syèh Siti Jênar, tidak berdarah biru. Namun beliau memiliki ‘kecemerlangan’ melebihi para bangsawan kraton. Mungkin ini juga yang menjadi salah satu faktor sehingga beliau sama sekali tidak tertarik dengan urusan perpolitikan, selain memang ‘kesadaran’ beliau yang benar-benar tinggi.

    Legenda lain mengisahkan, konon, Syèh Siti Jênar adalah putra Syèh Datuk Sholeh yang bermukim di Malaka. Syèh Datuk Sholeh putra dari Syèh Datuk Isa. Syèh Datuk Isa putra Syèh Khadir Khaelani. Syèh Khadir Khaelani adalah putra Abdullah Khannuddin. Dan Abdullah Khannuddin putra Ashamat Khan atau Syèh Abdul Malik, yang konon tinggal di India sebelah barat yang sekarang wilayah Pakistan.

    Diceritakan dalam naskah yang tersimpan di Musium Radyapustaka Solo, bahwa Syèh Siti Jenar mencuri dengar wejangan agama Sunan Bonang kepada Sunan Kalijågå di atas perahu di tengah rawa. Syèh Siti Jenar konon berubah menjadi seekor cacing tanah.

    Ketika hendak berlayar, perahu Sang Sunan bocor, maka Sunan Bénang menambal bagian perahu yang sedikit berlobang itu dengan segenggam tanah. Padahal, di dalam tanah yang sudah tergenggam itu, ada Syèh Siti Jenar yang berwujud cacing. Sunan Bénang tahu, tapi dia diam saja. Begitu selesai mewejang barulah Sunan Bénang menyuruh cacing itu berubah menjadi manusia.

    Simbolisasi ini sangat jelas sekali, bahwasanya masuknya Syèh Siti Jênar ke Dewan Wali Sångå adalah atas prakarsa Sunan Bénang, disimbolkan dengan mengambil tanah berisi cacing. Dan Syèh Siti Jênar hanyalah seekor cacing, suatu penggambaran bahwa beliau berasal dari kalangan rakyat jelata.

    Perahu melambangkan Dewan Wali. Di bagian Jawa sebelah barat, ada kekosongan pimpinan ummat Islam. Syèh Dzatul Kahfi sudah sepuh. Pangeran Cakrabhuwana bukanlah seorang ulama, dia seorang politikus.

    Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, belum datang ke Cirebon. Dia masih di Mesir. Dengan datangnya Syèh Siti Jênar, kekosongan pemimpin agama bisa ditutupi, meskipun “hanya seekor cacing”.

    Cacing, si rakyat jelata ini, berubah menjadi manusia atas anugerah Sunan Bénang. Seorang rakyat jelata yang kini disegani dan berkedudukan sederajat dengan para bangsawan, itu karena andil Sunan Bénang.

    Simbolisasai cacing si rakyat jelata ini jelas-jelas muncul dikemudian hari setelah Syèh Siti Jênar difatwakan sesat oleh Dewan Wali. Ada ungkapan diskriminatif di Jawa:

    Wong ya pancèné godhong krokot, diunggahnå nganti dhuwur ya têtêp waé cukulé mlorot” (Namanya juga daun krokot, walaupun diangkat setinggi mungkin, tumbuhnya tetap saja kebawah.)

    Ungkapan ini biasanya mencerminkan kekesalan seseorang yang telah berjasa mengangkat orang lain dari kesengsaraan namun kemudian lupa daratan. Dan manakala Syèh Siti Jênar, yang dulu bukan apa-apa, dan dimasukkan ke Dewan Wali oleh Sunan Bénang, sehingga kedudukannya terangkat, namun dikemudian hari berani menentang Para Wali yang lain, maka keluarlah ungkapan kekesalan secara simbolik ini.

    Namanya saja rakyat jelata, bagaimanapun juga, tetap saja kelakuannya seperti rakyat jelata, seperti cacing. Kurang lebih seperti itu.

    Padahal, tingkat ‘spiritualitas’ seseorang tidak bisa diukur oleh pangkat dan derajatnya di masyarakat. Mereka yang terlena dengan hiruk-pikuk politis kekuasaan lupa. Karena mereka memang tengah terfokus pada duniawi, dunia kekhalifahan semata. Namun, tidak demikian dengan Sunan Kalijågå. Sunan Kalijågå, sangat menghormati Syèh Siti Jênar karena tingkat spiritualitasnya benar-benar tinggi.

    Kubu Sunan Giri dan kubu Sunan Kalijågå, tidak pernah sepaham di mana-mana. Dan manakala Sunan Giri menyerbu ke Wilwatikta Janggala Kadiri, dan ingin mendirikan Kekhalifahan Islam di Jawa. Syèh Siti Jênar menyampaikan protes keras. Bahkan beliau kemudian menyatakan, keluar dari Dewan Wali Sångå.

    Pada tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibunya Syarifah Muda’im, datang dari Mesir ke Cirebon. Syarifah Muda’im adalah nama muslim Dewi Rara Santang. Dia adalah adik kandung Pangéran Cakrabhuwana, penguasa Carbon Girang.

    Mendengar kedatangan Syarif Hidayatullah, Sunan Giri segera mengirim utusan untuk memintanya bergabung bersama Dewan Wali Sångå yang berpusat di Ampèldhênta. Syarif Hidayatullah menyetujuinya. Kemudian beliau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

    Dengan adanya Sunan Gunung Jati, kekosongan kepemimpinan Islam di Jawa bagian Barat yang semula dijabat Syèh Siti Jênar, tertutupi sudah. Maka kini, ada dua kekuatan besar di Cirebon. Satu Syèh Siti Jênar dan yang kedua Sunan Gunung Jati.

    Pada awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Pimpinan Dewan Wali Sångå berpindah ke tangan Sunan Giri. Hubungan Syèh Siti Jênar dan Sunan Giri yang selama ini terkenal tidak bagus, begitu kepemimpinan Dewan Wali berganti, maka hubungan ini semakin meruncing.

    Legenda lain seperti tertulis dalam Buku Sitijênar (1922), dikatakan bahwa Sunan Giri mempunyai murid dari negeri Siti Jênar yang kaya kesaktian bernama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan sebutan Siti Jênar (Syèh Siti Luhung / Syèh Lêmah Bang / Syèh Lêmah Kuning), karena permohonannya belajar tentang makna ilmu rasa dan asal mula kehidupan tidak disetujui Kanjêng Sunan Bonang, maka ia menyamar dengan berbagai cara secara diam-diam untuk mendengarkan ajaran Kanjêng Sunan Giri.

    Dalam buku Sejarah Cirebon dijelaskan bahwa Syèh Lêmahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pêngging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Agêng Pêngging Kêbo Kênångå dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 M dengan Keris Kaki Kantanaga milik Kanjêng Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa Graksan Cirebon.

    ***

    Pandangan Syèh Siti Jênar yang menganggap alam kehidupan manusia di dunia sebagai kematian, sedangkan setelah menemui ajal disebut sebagai kehidupan sejati, dianggap sangat menyimpang dari ajaran Wali Sångå, sekaligus berlawanan dengan hukum negara Kesultanan Dêmak yang didukung oleh para Wali.

    Syèh Siti Jênar dianggap telah merusak ketenteraman dan melanggar peraturan negara, yang menuntun dan membimbing orang secara salah, menimbulkan huru-hara, merusak kelestarian dan keselamatan sesama manusia. Oleh karena itu, atas legitimasi dari Sultan Dêmak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jênar di suatu daerah di desa Krêndhåsåwå, untuk membawa Siti Jênar ke Dêmak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jênar wafat, tetapi ada yang mengatakan dia dibunuh, dan ada pula yang mengatakan bunuh diri.

    Mengapa Syèh Siti Jênar menjadi berbeda pemikirannya mengenai Islam dengan para Wali Sångå lainnya? Fenomena Syèh Siti Jênar memang bak mitos, literatur sejarah sangat sedikit yang membahas mengenai sosoknya, ia tentu kalah pamor jika dibandingkan kesembilan sunan lainnya.

    Ia dianggap atheis, atau paling tidak kafir, karena menyebarkan ajaran yang disebut: Manunggaling Kawulå Gusti. Selain itu, ia mengkritik habis semua praktek agama Islam yang dijalankan Kesultanan Dêmak saat itu, ia mengkritik sikap para ulama yang lebih mementingkan ego saat menyebarkan agama Islam di Jawa, ia menganggap ajaran yang disampaikan para ulama hanya sebatas dogma, dogma yang kaku dan sangat dipaksakan untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

    Kedekatan para Wali dengan kalangan istana Dêmak, bahkan adanya pola pemberian “restu” wali kepada Sultan dinilai oleh Syèh Siti Jênar sebagai terlalu berpihak pada kepentingan pengusasa.

    Sultan pertama Dêmak Bintårå, Radèn Patah telah mampu mengembangkan kehidupan politik dan agama — dalam hal ini Islam — secara kuat dan mapan dan mendapat dukungan para wali yang tergabung dalam Dewan Wali.

    Sultan Patah dan para wali berhasil membangun aliansi strategis untuk kepentingan masing-masing. Sultan berkepentingan mengembangkan kemapanan politis, sedangkan para wali menghendaki perluasan wilayah pengembangan Islam.

    Hegemoni keagamaan para wali yang menempatkan diri di pusat kekuasaan dengan cara mendekati dan merangkul para elit politik Kesultanan Dêmak, terguncang oleh munculnya ajaran Syèh Siti Jênar. Hal ini sudah dipahami karena sisa-sisa pengikut dan trah Majapahit khususnya yang beragama Hindu-Budha Majapahit, yang tidak mengungsi ke luar Jawa, ke Bali terutama, masih banyak tersebar di wilayah Jawa bagian Tengah dan Timur, bahkan mungkin berada di sekitar lingkungan di luar dinding-dinding istana Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Bukan hal yang aneh bila mereka masih berusaha menghimpun kekuatan yang terserak itu, untuk membentuk sekurang-kurangnya “jamaah pengajian”.

    Boleh jadi, Syèh Siti Jênar memiliki suatu rencana besar dan kepentingan tertentu selain kepentingan keagamaan. Saat bertemu dengan Ki Agêng Pêngging yang disebut Ki Kêbo Kênångå, salah satu bangsawan Majapahit yang secara politis tersingkir oleh ontran-ontran sejak runtuhnya Kerajaan Majapahit dan pengaruh perkembangan Kesultanan Dêmak Bintårå, mereka lalu bergabung.

    Dari kelompok seperti ini, dapat saja mereka menyusun kekuatan, merancang apa saja yang bisa dilakukan untuk mengembalikan tegaknya kekuasan trah Majapahit. Seperti diduga oleh Sultan Demak, sebagaimana dilegendakan dalam Babad Tanah Jawi, versi proza van J. J. Meinsma berikut ini:

    Katjarijos sultan ing Dêmak mirêng wartos, jèn têdhakipun Ki Dipati Andåjåningrat, kang nåmå Ki Kêbo Kênångå, ing mangké anåmå Ki Agêng Pêngging, punikå sampun agami Islam, nanging dèrèng wontên sowan dhatêng ing Dêmak. Sinuhun Bintårå asêmu dukå, awit ing Pêngging wau tilas kabupatèn, sartå kaprênah santånå déning Sultan Dêmak, bokmênawi amikir sumêjå djumênêng ratu. Ki Wånåpålå mangsuli bêlåkå jèn kautus ing kangdjêng sultan.

    Tijang kêkalih wau ladjêng sami bêbantahan. Ramé gêntos kawon. Ki Wånåpålå sarêng sampun sumêrêp ingkang dados kanijatanipun Ki Agêng Pêngging, ladjêng pamit mantuk dhatêng Dêmak, matur ing kangdjêng sultan, jèn Ki Agêng Pêngging wau gadhah tjiptå kêkalih, ing lair anêtêpi anggènipun ngibadah, nanging ing batos sumêjå djumênêng ratu, sangêt sagêdipun anjamur lampah.

    Katjarijos Sultan Bintårå, lami ênggènipun angantos-antos ing sowanipun Ki Agêng Pêngging, awit sampun dumugi ubangginipun kalih taun. Ing mangké Sinuhun Bintårå anggalih sampun têtélå, jèn Ki Agêng Pêngging balélå, botên purun sowan.

    Ki Kêbo Kênångå atau Ki Ageng Pengging sebagai seorang trah bangsawan Majapahit, keturunan terakhir Prabu Brawijaya yang memiliki pengikut yang tidak sedikit, ternyata memilih untuk mengasingkan diri, tidak mau tunduk dan menyatakan dirinya sebagai kawulå Dêmak Bintårå, dan tidak mustahil secara diam-diam berkehendak mengembalikan kekuasaan politis sekaligus keagamaan Hindu-Budha Majapahit, bersama-sama dengan Syèh Siti Jenar, sedangkan di sisi lain Syèh Siti Jênar berkehendak menyimpang dari Dewan Wali untuk membangun “kerajaannya” sendiri tanpa campur tangan dan pengawasan dari istana Kesultanan Dêmak Bintårå dan terutama dari Dewan Wali.

    Tragedi Syèh Siti Jênar mencerminkan perlawanan kaum pinggiran, rakyat jelata yang didukung oleh para mantan pejabat tinggi Kerajaan Majapahit yang tadinya berada di pusat kekuasaan Kraton Wilwatikta, yang kemudian tersingkir. Perlawanan ini dilakukan terhadap hegemoni penguasa yang memperoleh dukungan dan legitimasi spiritual dari Dewan Wali, mengingat pula, bahwa ajaran para Wali sudah merupakan “fatwa-tunggal” keislaman pada waktu itu.

    Nampak jelas bahwa kepentingan politis dan agama bercampur aduk menjadi satu dan sukar dipilah dengan jelas. Bukan hal yang mustahil Syèh Siti Jênar merasa cemburu, atau berkecil hari, karena setiap usahanya tidak meperoleh legitimasi formal dari Sultan Dêmak.

    Sang sufi Jawa ini dan seluruh pengikutnya, mungkin merupakan barisan sakit hati yang tersingkir dari percaturan politis dan agama, serta termarginalisasi oleh prose politik baru yang berkembang dengan pesat yang ternyata memang tidak dapat mereka lawan.

    Kekuatan yang datang dari luar lingkungan kesultanan, pada waktu itu bisa disebut sangat terlambat karena kekuatan pusat sudah terlanjur menjadi sangat besar dan mapan, maka para penghayat ajaran tasawuf yang umumnya terdiri dari rakyat jelata kelas bawah, atau mereka yang berada di luar sistem kekuasaan yang ada, sukar memperoleh ruang gerak yang leluasa.

    Posisi mereka pun berada di wilayah pinggir, dan selanjutnya wajar saja bila petinggi negeri Dêmak Bintårå menuduh mereka sebagai pengganggu stabilitas kekuasaan kesultanan Dêmak Bintårå yang berada di bawah perlindungan Dewan Wali.

    ***

    Sejarah mencatat, Syèh Siti Jênar merupakan tokoh yang menjunjung tinggi pluralisme, ia melihat perbedaan bukan menjadi masalah, jelas pemikiran ini sangat berbeda dengan pemikiran “mainstream” para wali lainnya.

    Syèh Siti Jênar menganggap ekspresi dan aktualisasi keagamaan jika tidak menimbulkan tindakan asosial dan asusila, tidak perlu adanya tindakan penindasan terhadap kelompok agama yang berbeda ini. Ia mengambil posisi berlawanan terhadap mereka yang sering menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai pembenaran terhadap praktek-praktek penyeragaman, pemaksaan, penindasan, ritual semu, dan kepentingan penguasa.

    Syèh Siti Jênar melihat bahwa umat Islam yang semula benar-benar murni memperbaiki akhlaq, lama-lama terpengaruh gerakan militansi Islam yang mulai digalang oleh Sunan Giri, santri Sunan Ampèl. Ditambah lagi, hal serupa juga tengah dilakukan oleh Pangéran Cakrabhuwana, penguasa Carbon Girang. Demikian halnya juga dengan adanya pusat-pusat kekuatan politik pada masing-masing pesantren para wali.

    Kegiatan-kegiatan ruhani Islami, berubah diwarnai dengan latihan-latihan militansi. Fokus utama memperbaiki diri, kini berubah menjadi kegiatan phisik dan politik, serta menyalahkan fihak lain. Sesuatu yang tidak sama dengan keyakinan yang dianutnya dianggap sebagai lawan yang harus disingkirkan, bahkan dengan pembunuhan. Suasana damai antara penganut Islam, dan pemeluk agama lain, lama-lama mulai goncang.

    Catatan:

    [Dalam sejarah pembentukan Giri Kedaton, tercatat, bahwa sebelum Sunan Giri menjadi penguasa Giri Kedaton dengan nama Prabu Satmåtå, ia merupakan sosok yang berbasiskan massa, yaitu para santrinya yang militan, terdidik dan terlatih. Basis santri ini ada yang berasal dari berbagai pulau di Nusantara antara lain, Kalimantan, Sulawesi, Madura, dan Maluku. Sehingga kelak ketika Sunan Giri ketika Sunan Giri mendirikan Kerajaan Giri, maka basis pendukungnya adalah para santrinya yang militan itu, ditambah penduduk Giri dan Gresik yang juga menaruh kepercayaan kepada Sunan Giri.

    Setelah Sunan Giri telah memiliki legitimasi publik (rakyat) yang kuat, dukungan dan dorongan dari para penguasa, maka pada hari Senin tanggal 9 Maret 1487 Masehi, Sunan Giri mulai mendeklarasikan berdirinya kerajaan Giri dengan nama Giri Kedaton.]

    Syèh Siti Jênar tidak menyukai hal ini. Dimana-mana, aksi umat Islam membuat suasana menjadi panas. Penganut agama di luar Islam yang selama ini merasa damai bersanding dengan penganut agama baru ini, mulai terusik. Syèh Siti Jênar akhirnya ‘mbalélå’.

    Syèh Siti Jênar memulai mengajarkan Islam berdasarkan realitas, ia menentang penyamarataan ajaran yang dibawa para ulama Islam Timur Tengah yang tidak sesuai dengan kondisi sosial serta karakter masyarakat Jawa saat itu. Baginya praktek tersebut hanya sebatas menanggalkan secara paksa agama Hindu Budha yang telah dipeluk masyarakat sebelum datangnya Islam, akibatnya tentu saja pemaknaan Islam sangat rendah dan berujung kepada militansi agama.

    Kegesitan dalam dunia da’wah melalui kedalaman teologi (tauhid) menarik simpati pelbagai keluarga keraton Majapahit, termasuk Ki Agêng Pêngging atau Kêbo Kênångå untuk memeluk agama Islam, Ki Agêng Pêngging dan Ki Agêng Tingkir adalah dua sosok guru yang mendidik Mas Karèbèt alias Djåkå Tingkir untuk menjadi manusia yang saleh ritual, sosial dan intelektual.

    Sehingga keberadaan Djåkå Tingkir sebagai seorang politisi, mampu menyelesaikan konflik politik antara Aryå Pênangsang, yang didukung oleh Sunan Kudus. Setelah Aryå Pênangsang dapat ditaklukkan, Djåkå Tingkir memindahkan pusat kerajaan Dêmak ke Pajang, Kesuksesan Ki Agêng Pêngging mendidik Djåkå Tingkir tak lepas dari peran Syèh Siti Jênar yang juga lihai dalam berpolitik.

    Bila dikaji literatur tentang beliau, disebutkan bahwa kematian beliau bisa jadi karena masalah politik. berupa perebutan kekuasaan antara sisa-sisa Kerajaan Majapahit yang tidak menyingkir ke timur dan Kesultanan Dêmak Bintårå, yaitu antara salah satu cucu Brawijaya V yang bernama Ki Kêbo Kênångå atau Ki Agêng Pêngging dengan salah satu anak Brawijaya V yang bernama Radèn Patah yang memerintah Kesultanan Dêmak Bintårå. Ki Agêng Kêbo Kênångå yang beragama Hindu-Budha beraliansi dengan Syèh Siti Jênar yang beragama Islam.

    ***

    Kepopuleran Syèh Siti Jênar yang menyebabkan pengikutnya semakin bertambah. Tak heran bila banyak kalangan elite Majapahit yang masuk Islam,
    Pupuh Tembang Jawa Sêrat Syèh Siti Jênar ditembangkan berikut ini membuktikan hal itu:

    //Sinom//
    /Paguroné Syèh Lêmah Bang/,
    /Wêjangané tanpa rêricik/,
    /Lan wus atinggal tåtå lair sêmbahyang/,
    /Rosé kéwålå liniling/,
    /Mêlêng tanpå aling-aling/,
    /Wus dadyå Paguron Agung/,
    /Misuwur kadibyannyå/,
    /Dénirå talabul’ilmi/,
    /Wus tan bédå lan sagunging aulia//.
    ………………….
    Perguruan Syèh Lêmah Bang,
    Wejangannya tanpa menggunakan perlambang
    Dan meninggalkan tata-lahir sembahyang,
    Inti sarinya saja yang dihayati,
    Sangat gamblang, jelas dan tidak ditutup-tutupi lagi,
    Sudah menjadi Perguruan Besar,
    Terkenal kehebatannya,
    Kedalaman Ilmu beliau,
    Sudah tak ada beda dengan para Aulia.
    ………………….

    //Sangsåyå kasusrèng janmå/,
    /Akèh kang amanjing murid/,
    /Ing pråjå pråjå myang déså/,
    /Malah sakéhing ulami/,
    /Kayungyun ngayun sami/,
    /Kasoran kang Wali Wolu/,
    /Gunging Paguronirå/,
    /Pan anyuwungakên masjid/,
    /Karyå sudå kang amrih agåmå mulyå//.
    ………………….
    Semakin terkenal ditengah masyarakat,
    Banyak yang datang menjadi murid,
    Berasal dari kota sampai ke pelosok pedesaan,
    Bahkan banyak para ulama,
    terpikat dan masuk menjadi pengikut,
    Kalahlah Delapan Wali yang lain,
    Karena kebesaran perguruannya,
    Masjid para wali ditinggalkan,
    Membuat surut pengikut para Wali pembawa agama mulia.
    ………………….

    //Santri kathah kèh kabawah/,
    /Mring Lêmah Bang manjing murid/,
    /Yå tå Sang Syèh Siti Jênar/,
    /Sangsåyå gung kang andasih/,
    /Dadyå imam pribadi/,
    /Mangku sa-réh bawahipun/,
    /Paguroning Ilmu Khaq/,
    /Kawêntar praptèng nagari/,
    /Lajêng karan Sang Pangéran Siti Jênar//.
    ………………….
    Banyak para santri yang menjadi pengikut,
    Menjadi murid Syèh Lêmah Bang,
    Adapun Sang Syèh Siti Jênar ,
    Semakin banyak yang mencintai,
    Beliau menjadi Imam tunggal,
    Jadi panutan para murid,
    Perguruannya mengajarkan Ilmu Haq,
    Terkenal diseluruh wilayah negara,
    Beliau mendapat sebutan,
    Sang Pangéran Siti Jênar.
    ………………….

    //Satêdhaking Måjålêngkå/,
    /Kalawan dharahing Pêngging/,
    /Kèh praptå apuruhitå/,
    /Mangalap kawruh sêjati/,
    /Nênggih Ki Agêng Tingkir/,
    /Kalawan Pangéran Panggung/,
    /Buyut Ngêrang Ing Bêtah/,
    /Lawan Ki Agêng Pêngging/,
    /Samyå tunggil paguron mring Siti Jênar//.
    ………………….
    Seluruh keturunan Majalengka (Majapahit),
    Termasuk keturunan dari Pengging,
    Banyak yang terpikat oleh beliau,
    Datang menimba ilmu pengetahuan sejati,
    Seperti Ki Ageng Tingkir,
    Juga Pangéran Panggung,
    Buyut Ngerang dari daerah Butuh,
    serta Ki Ageng Pengging,
    Menjadi satu paham dengan Siti Jênar.
    ………………….

    ånå toétoégé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

  3. Nuwun
    ||Sugêng siyang andungkap sontên||

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM
    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    —de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå—

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-8)

    ANALISIS SEJARAH
    PERSETERUAN IDEOLOGI POLITIK PARA WALI (03)
    — Wali Sångå dan Kelompok Syèh Siti Jênar —

    Pengaruh dengan berkembangnya pesantren Syèh Siti Jênar sangatlah kuat, pengajian-pengajiannya selalu dipenuhi oleh pengikutnya, mengakibatkan pesantren-pesantren yang diasuh oleh para wali lainnya, yang biasanya penuh, tiba-tiba menyusut. Masjid para wali menjadi suwung.

    Isi dan cara berda’wah beliau memikat para pendengarnya, dan yang disampaikan sangat berbeda dengan “aliran keagamaan” para wali pada pemerintahan Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Ini antara lain, yang membuat para wali lain yang mendukung Kesultanan Dêmak Bintårå, merasa terganggu, mereka bereaksi keras. Hegemoni mereka terancam, karena “wilayah kebatinan” yang sudah dibina dengan syi’ar agama, dijadikan alasan dan dianggap dapat kembali menjadi sesat, suara Syèh Siti Jênar ditakutkan merusak segala kemapanan yang sudah berhasil diraih oleh para wali. Mereka tak ingin hal itu terjadi.

    Para wali kemudian mencari legitimasi, atas nama pemerintah Kesultanan Dêmak Bintårå, Syèh Siti Jênar dianggap mengganggu stabilitas politik negara dan pemerintahan Sultan Dêmak Bintårå, dan tindakan pun harus diambil. Syèh Siti Jênar, dibunuh atau paling tidak disingkirkan.

    Dengan begitu, apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu, adalah sebuah kecemburuan profesional dan pertarungan memperebutkan hegemoni antara Dewan Wali pada satu pihak dan Syèh Siti Jênar dengan pengikut-pengikutnya, pada pihak lain. Dewan Wali tentu saja berpihak kepada istana Dêmak Bintårå, khawatir hegemoni mereka bakal bergesar ke tangan Syèh Siti Jênar.

    Konsep dan ajaran Syèh Siti Jênar

    Ajaran Syèh Siti Jênar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syèh Siti Jênar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian.

    Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya.

    Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariah. Menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syèh Siti Jênar , manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji.

    Baginya, syariah baru akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian. Syèh Siti Jênar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia.

    Selain itu, menurut Syèh Siti Jênar, pemahaman ketauhidan harus melewati empat tahap, yaitu:

    Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain,
    Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu,
    Hakekat, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan
    Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.

    Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut, maka tahapan di bawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syèh Siti Jênar. Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syèh Siti Jênar.

    Dalam pupuhnya, Syèh Siti Jênar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing-masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar.

    Syèh Siti Jênar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Semata-mata karena hanya untuk Yang Maha Esa.

    Manunggaling kawula gusti

    Dalam ajarannya ini, Syèh Siti Jênar pernah menyebutkan, bahwa arti dari kalimat Manunggaling kawula gusti itu, bukan bercampurnya Tuhan dengan makhlukNya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembalinya semua makhluk, dan dengan kembalinya semua makhluk kepada Tuhannya itulah manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam konsep lain disebut Sangkan Paraning Dumadi.

    Dalam ajarannya pula, Manunggaling kawula gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan.

    Demikian Syeh Siti Jenar menyebutkan, bahwa hal itu diyakini sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia. Ketika Tuhan berfirman kepada malaikat:
    (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:

    “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
    Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

    [QS Shaad (38): 71-72]

    Dengan demikian, roh manusia akan menyatu dengan roh Tuhan ketika terjadi penyembahan terhadap Tuhan. Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syèh Siti Jênar inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam roh Tuhan.

    Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syèh Siti Jênar. Dalam riwayat dikatakan bahwa murid Syèh Siti Jênar adalah Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangéran Panggung, Ki Lontang.

    Jikalau kita baca Syèh Siti Jênar dengan falsafah atau faham dan ajarannya, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang mistikus yang masyhur, yaitu Al Hallaj. (858-992).

    Berbeda dengan Syèh Siti Jenar yang beberapa ahli masih meragukan keberadaan sejarahnya, Hallaj adalah sosok historis, benar-benar pernah hidup dalam panggung sejarah, yang dihukum mati pada tahun 922H, setelah mengalami pengadilan politik, sama dengan Syèh Siti Jenar, yang beberapa fragmen cacatan tentang pergerakannya yang dinilai sebuah kejahatan masih dapat disalamatkan yang dari adanya catatatan tersebut, menjadi bukti otentik historisitas Halaj.

    Dia dikenal sebagai pahlawan legenda. Di beberapa negara yang mayoritas penduudknya memeluk agama Islam, mengingat dan memunculkan sosok Hallaj sebagai orang yang mmiliki karomah dan keajabiban, kadang kala sebagai orang yang mabuk cinta kepada Tuhan, tetapi kadang dituduh sebagai dukun gadungan.

    Salah satu puisi dari karya-karya besar Persia, terdapat bentuk puisi yang dinisbatkan kepada orang yang dianggap suci ini. Mansyur Hallaj, Dialah yang di atas tiang gantungan, mengucapkan teriakan apokaliptik tentang Pengadilan di Hari Pembalasan: Ana’l Haqq, Akulah Sang Kebenaran.

    Sayalah kebenaran yang sejati itu” kemudian katanya pula, “wa’ma fi jubbati illa-lah” –dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah–

    Mansyur Hallaj juga pernah mengatakan: “Telah bercampur rohmu dalam rohku, laksana bercampurnya hamar dengan air jernih bila menyentuh akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku

    Ana al Haqq

    Kalimat ini dikutip dari bukunya William C. Chittick, Fihi ma Fihi, in ‘The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi’, dan buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul, ‘Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi’’, Penerbit Qalam, Mei 2002; dari buku Chittick edisi bahasa Inggris di atas.

    Berkenaan dengan kalimat Ana al Haq, dalam bukunya William C. Chittick tersebut kata Ana al Haqq dalam Bahasa Inggrisnya:
    Pharaoh said, “I am God,” and became despicable.
    Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.

    Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi
    Fir’aun pun berkata “ana al haq”,
    Hallaj berkata “ana al haq”,

    (“Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
    Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”)

    satu kata dua makna. Betulkah?

    Puisi itu terkenal sekali, dikutip di mana-mana dalam berbagai bahasa. Sayangnya, yang dikutip hanyalah sepotong saja, hanya semata-mata sebagai argumen untuk menunjukan kesesatan kaum sufi.

    Padahal seharusnya puisi itu dibaca secara utuh.
    Puisi Rumi yang dimaksud adalah yang ada dalam bukunya ‘Fihi ma Fihi” ini:

    When Hallaj’s love for God reached its utmost limit, he became his own enemy and naughted himself.

    He said, “I am Haqq,” that is, “I have been annihilated; God remains, nothing else.”

    This is extreme humility and the utmost limit of servanthood. It means, “He alone is.”

    To make a false claim and to be proud is to say, “Thou art God and I am the servant.” For in this way you are affirming your own existence, and duality is the necessary result. Hence God said, “I am God.” Other than He, nothing else existed.

    Hallaj had been annihilated, so those were the words of God.
    Pharaoh said, “I am God,” and became despicable.
    Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.

    That “I” brought with it God’s curse, but this “I” brought His Mercy, oh friend! To say “I” at the wrong time is a curse, but to say it at the right time is a mercy.

    Without doubt Hallaj’s “I” was a mercy, but that of Pharaoh became a curse. Note this!

    (William C. Chittick, Fihi ma Fihi, in ‘The Sufi Path of Love: The Spiritual Teachings of Rumi’, pp. 191-193)

    Adalah tidak mungkin Allah Yang Maha Tak Terbatas secara total akan bisa bersatu dengan makhluk ciptaanNya. Ini sudah tentu sesuatu yang mustahil. Namun banyak hal yang perlu ditelaah lebih dalam mengenai persoalan ini.

    Tentang puisi tersebut dan terjemahannya

    Umumnya orang membaca kutipan puisi tersebut, yang (sayangnya) hanya mencantumkan kalimat ke dua saja. Kutipan yang sangat umum mengenai puisi tersebut pada buku-buku di Indonesia hanyalah sepotong ini saja, ditambah dengan kualitas terjemahan yang tidak akurat:

    “Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
    Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

    Padahal dalam Fihi Ma Fihi, potongan ini justru diterangkan oleh alinea sebelumnya.

    Chittick, di buku aslinya, mencantumkan terjemahan puisi Rumi dari bahasa Persia dengan cukup akurat. Tapi ketika buku Chittick tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalimat berikut ini:

    Pharaoh said, “I am God,” and became despicable.
    Hallaj said “I am Haqq,” and was saved.

    Entah kenapa diterjemahkan menjadi:

    “Fir’aun berkata “Akulah Tuhan,” dan celakalah ia.
    Hallaj berkata “Akulah Tuhan,” dan selamatlah ia.”

    Terjemahan ini saya kutip dari buku William C. Chittick, ‘Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi’, Edisi Baru Cetakan Keempat, Penerbit Qalam, Mei 2002; yang menerjemahkan buku ini dari buku Chittick edisi bahasa Inggris di atas.

    Sayang sekali kata terjemahannya adalah “Akulah Tuhan,” padahal kata-kata aslinya adalah “Ana’l Haqq”, dan Chittick menerjemahkan ke bahasa Inggris dengan lebih akurat, ‘I am Haqq’.

    Beberapa penerjemah bahasa Inggris lain kadang menerjemahkan dengan ‘I am The Truth’. Oleh penerjemah ke bahasa Indonesia, sayang kata-katanya berubah melenceng jauh menjadi ‘Akulah Tuhan.’

    Mungkin karena umumnya orang tidak membacanya secara lengkap, maka ini menimbulkan kebingungan pada mereka yang hanya membaca sepotong ini saja. Padahal Rumi telah menerangkan apa maksud kata-kata Mansur Al-Hallaj tersebut pada alinea sebelumnya (dan pada banyak puisi Rumi lainnya).

    Sendainya kita membaca dengan teliti alinea sebelumnya, maka sedikit banyak akan kita dapatkan perbedaan maupun ‘kisi-kisi’ makna ‘Ana’l Haqq’ yang dikatakannya, yaitu (dalam alinea sebelumnya) “aku sesungguhnya tidak ada, hanya Allah yang Maha Ada, tiada yang lain.

    Ini menegaskan bahwa kesejatian hanyalah Allah saja, dan tidak ada yang sejati, yang benar-benar tidak ada hubungan sebab-akibat dengan apapun, selain Allah.

    Sebuah kenyataan yang agak disayangkan, bahwa di Indonesia hampir semuanya menerjemahkan “Ana Al-Haqq” dari Hallaj serta-merta menjadi “Akulah Tuhan.” Padahal dia tidak mengatakan “Ana Rabb,” atau “Ana ‘Llah.” Jarang yang menerjemahkannya menjadi “Aku Al-Haqq”, sebagaimana adanya.

    Sedangkan Fir’aun, ia memang mengatakan “Ilah”, ia adalah ilah yang patut disembah kaumnya, sebagaimana diabadikan Al Qur’an surat 28:38,

    Yaa ayyuhal malaa’u maa ‘alimtulakum min ilaahi ghairii.”

    Ada perbedaan yang sangat besar di antara perkataan mereka yang mengatakan diri sebagai Al Haqq dan sebagai Ilah.
    Fir’aun melontarkan pernyataan itu berdasar pada keangkuhan. Dia maharaja dengan kekuasaan yang tak terbats. Keadaan itu kemudian yang membuatnya merasa, dan menyatakan diri telah menjadi Tuhan.

    Sebaliknya, Al Hallaj, ketika menyatakan dirinya Al Haq, Sang Kebenaran, salah satu dari 99 nama Tuhan (asmaul husna) dalam ajaran Islam, justru didasari oleh kerendahhatian. Betapa di hadapan Yang Mahabesar Mahaperkasa, dirinya (seolah-olah) tiada, dan yang sungguh ada hanya Dia semata.

    Jangankan di hadapan Tuhan, di hadapan tata surya pun kita memang sudah menjadi tiada saking kecilnya. Padahal tata surya kita pun seperti tiada di hadapan Galaksi Bima Sakti, dan galaksi itu pun cuma sebutir debu di keluasan jagat raya yang belum dan tak akan pernah kita tahu batasnya.

    Jadi bagaimana pula diri ini bila dibandingkan dengan Dia yang menciptakan dan memelihara itu semua?

    Al Hallaj pun merasa dirinya hilang di hadapan kebesaran Pencipta itu, dan saat itulah dari kemurnian dan kerendahan hatinya, terlontar kata-kata itu.

    Keduanya Firaun dan al Hallaj memang dihukum mati untuk pengakuan itu. Firaun, bersama para pengikutnya yang sesuai narasi di kitab-kitab suci agama langit, ditenggelamkan Tuhan di Laut Merah. Mereka menjerit pedih dalam penyesalan.

    Seorang sufi pernah berkomentar, satu-satunya kesalahan Al Hallaj adalah mengungkapkan pengalaman dan rahasia rasa itu. Padahal tak semua pengalaman dan perasaan mesti diungkapkan.

    Cerita dan ungkapan sufi yang lain:

    Akhirnya demi, demi solidaritas terhadap teman-temannya, para sufi yang ‘lurus’ wawasan tauhidnya, Junaid pun ikut melempar batu ke tubuh Al Hallaj yang hari itu dihukum karena dianggap bersalah telah mengaku sebagai Tuhan.

    Tokoh ini dipandang sesat karena ajaran ketuhanannya menggoncangkan banyak pihak yang semula telah merasakan nyaman di bawah suatu kemapanan teologis.

    Al Hallaj, maafkanlah aku,” kata Junaid, “Aku iku melemparmu semata karena apa yang engkau ucapkan. Aku hanya ikut mengadili sikap lahirmu.

    Adapun mengenai apa yang tersembunyi dalam hatimu, yang tak seorangpun tahu selain kamu dan Allah, semua merupakan urusanmu. Aku tak mau campur tangan dalam urusan yang aku ketahui.
    Sekali lagi sobat maafkanlah aku
    , kata sufi itu, dan kemudian dia melemparkan batu tadi ke dada Al Hallaj.

    Al Hallaj, sang sufi revolusioner Irak menjadi tumbal politik pengkafiran. Al Hallaj dieksekusi mati setelah terlebih dulu dicambuk seribu kali. Karena belum meninggal dengan cambukkan kemudian dia dimutilasi hidup-hidup.

    Algojo memotong kaki dan tangan Al Hallaj satu persatu. Setelah itu Al Hallaj digantung di atas sebatang pohon dan keesokkan harinya kepalanya dipenggal. Betapa mengerikan, tapi begitulah fakta sejarah mengatakan.

    Eksekusi yang diterima Al Hallaj bukan disebabkan karena perbedaan medote sufisme yang ditempuhnya dalam menyapa Tuhan, melainkan kerena keterlibatannya dengan aktivitas-aktivitas politik yang dinilai oleh rezim penguasa pada waktu itu sebagai ancaman. Dengan kata lain, Al Hallaj mati karena ‘dosa’ politik.

    Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad.

    Kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syèh Siti Jênar fahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

    ***

    Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak.

    Hal inilah yang berbahaya karena apabila tidak didampingi guru mursyid yang berpedoman pada Al Quran dan Al Hadits, maka ia akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia karena ia akan mudah dipengaruhi oleh setan. Semakin tinggi tingkat keimanannya, semakin jauh pula setan menjerumuskannya.

    Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syèh Siti Jênar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syèh Siti Jênar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syèh Siti Jênar hanya dapat dibendung dengan label sesat.

    Bahkan, manakala terdengar bahwa Syèh Siti Jênar, mengajarkan Ilmu Tasawuf tingkat tinggi kepada murid-muridnya, yang sesungguhnya semua wali juga paham akan Ilmu tersebut, oleh Sunan Giri, hal itu dijadikan alasan untuk mencari-cari kesalahan Syèh Siti Jênar.

    Percakapan Syeh Siti Jenar dan Sunan Giri juga diceritakan dalam buku Siti Jenar

    //pêdah punåpå mbibingung/,
    /ngangelakên ulah ngelmi/,
    /njêng Sunan Giri ngandikå/,
    /bênêr kang kåyå sirèki/,
    /nanging luwih kaluputan/,
    /wong wadhèh ambukå wadi//.

    //têlêngé baé pinulung/,
    /pulungé tanpa ling aling/,
    /kurang waskithå ing ciptå/,
    /lunturing ngèlmu sajati/,
    /sayêkti kanthi nugråhå/,
    /tan sabên wong anampani//.

    Terjemahan bebasnya:

    Syeh Siti Jenar berkata, “untuk apa kita semua menjadi bingung, untuk apa kita mempersulit diri dengan ilmu?

    Sunan Giri berkata, Apa yang Syeh ucapkan adalah benar, tetapi Syeh telah berbuat kesalahan besar, karena telah berani membuka ilmu tidak dengan semestinya. Syeh telah mengajarkan ilmu Hakikat Tuhan secara langsung ke intinya. Itu sangatlah tidak bijaksana. Semestinya ilmu itu hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar telah matang. Tidak boleh diberikan begitu saja kepada setiap orang.

    Sunan Giri menyatakan bahwa ajaran Syeh Siti Jenar itu adalah benar, tetapi beliau meminta agar tidak diajarkan segera, karena hal ini bisa membuat masjid kosong dan orang-orang akan mengabaikan syariah.

    Siti Jenar menjawab bahwa ketundukan buta dan ibadah ritual tanpa isi hanyalah perilaku keagamaan orang bodoh dan kafir.

    Dari percakapan Siti Jenar dan Sunan Giri itu nampak bahwa yang menjadi masalah substansi bukanlah ajaran Syeh Siti Jenar, tetapi penyampaian kepada masyarakat luaslah yang menurut Kanjeng Sunan Giri belum masanya untuk disampaikan kepada masyarakat luas sebab mereka dapat saja menjadi bingung, apalagi saat itu masih banyak orang yang baru masuk dan memahami Islam, karena seperti disampaikan di muka bahwa Syeh Siti Jenar hidup dalam masa peralihan dari kerajaan Hindu kepada kerajaan Islam di Jawa pada akhir abad ke 15 M.

    Dalam Sêrat Cênthini Jilid I, Pupuh 38, Pådå 14 dumugi 44. Yasan dalêm KGPAA Amangkunagårå III / Ingkang Sinuhun Paku Buwånå V ing Suråkartå. disebutkan dalam tembang Asmarandånå bahwa para wali menjadi gelisah dan kuatir:

    Prabu Satmåtå mangkyå ngling, Syèh Lêmah Bang kamanungsan, sanak pakênirå kabèh, tan bédå lan pakênirå, nanging sampun anglélå, manawi dadi klurung, akèh wong kang anggêgampang.

    Maka Prabu Satmata (Kanjeng Sunan Giri) berkata, (Akan tetapi pendapat) Syèh Lêmah Bang terlalu maju, dibandingkan dengan kalian semuanya yang ada disini, dan itu tidak ada maksud yang berbeda (dengan kita), tetapi (Dia Syeh Siti Jenar) terlalu jelas terbuka apa yang diucapkannya. Hal ini bisa membuat salah paham, sehingga membuat orang-orang menggampangkan ajaran agama (Islam).

    Kathah wong kang tanpå yêkti, tanpå yun angguguruwå, akêh kang (ng)gêgampang kang wong, déné wartå atimbalan, sajatinipun wikan, dadi tan arså (ng)guguru, awirang yen tå takonå.

    Akan banyak manusia yang menjadi bingung jika tidak mendapatan pemahaman (yang benar) dari seorang guru, akan banyak manusia yang menggampangkan (ajaran agama Islam), merasa telah mendapatkan kabar rahasia, merasa telah mendapatkan hal yang sejati, tiada berkehendak lagi untuk mencari guru, dan enggan untuk bertanya kepada (seorang guru) yang lain.

    Syèh Molana samyå prapti, sakathahé Aji Cêmpå, pinarêg ing masjid gêdhé, mapan kantun wali saptå, samyå (m)babar sosotyå, tan prabédå kang rumuhun, Siti Jênar ingandikan.

    Syèh Maulana (Maghribi)-pun hadir, seluruh orang besar keturunan dari Champa (juga datang), datang ke masjid agung, ditambah dengan tujuh wali lainnya, semua kembali mewedarkan mutiara ilmu, tiada beda dengan pertemuan yang terdahulu, Siti Jênar kembali diperingatkan.

    Syèh Molana mangkyå angling, Siti Jênar nåmå tuwan, Siti Jênar mangkyå turé, Inggih Allah jênêngambå, norå nå Allah ikå, anging Siti Jênar iku, sirnå Jênar Allah ånå.

    Syèh Maulana (Maghribi) lantas berkata, Benarkah nama tuan Siti Jênar? Siti Jênar lantas menjawab, Allah namaku, tiada lagi Allah lain, yang mewujud dalam Siti Jênar, sirna Siti Jênar hanya Allah yang nyata.

    Molana Maghribi angling, Kapir dadi Siti Jênar, Aji Cêmpå angling alon, Kapir danas Siti Jênar, Islamipun indalah, kapir danas wong puniku, punikå kapir sampurnå.

    Maulana Maghribi berkata, Siti Jênar telah kafir, seluruh keturunan orang besar Champa berkata pelan, Siti Jênar telah kafir dalam pandangan manusia, tetapi entah didepan Allah, nyata telah kafir dalam pandangan manusia, dan orang seperti inilah patut disebut kafir.

    Sebagaimana telah disebutkan di atas, para wali menjadi ketakutan bila para santrinya meninggalkan perguruannya dan bergabung dengan Syèh Siti Jenar yang mengakibatkan masjid para wali menjadi suwung.

    Molana Mahribi angling, Suhunan (n)dawêg winêjang, masjid dalêm suwung kabeh, ånå bêkti ånå ora, têmah ngrusak agåmå, aggêgampang têmahipun, kang salah (n)dawêg pinêdhang.
    Maulana Maghribi berkata, Wahai para Wali percuma kalian mengajar jika demikian, seluruh masjid kalian akan kosong, sedikit yang akan sembahyang disana, agama akan rusak, semua orang akan menggampangkan, sepatutnya yang salah harus dihukum dengan pedang.

    Syèh Siti Jênar mangkyå ngling, (n)Dawêg sampun kalayatan, lawan swargå mêngå kabèh, Siti Jênar sinêrampat, déning kaum sakawan, Syèh Lêmah Bang sampun kukum, pinêdhang tatas kang jånggå.

    Syèh Siti Jênar lantas menjawab, Sudah menjadi niatan saya, pintu surga telah terbuka lebar, Siti Jênar lantas diikat, oleh empat orang santri, Syèh Siti Jênar telah diputuskan untuk mendapat hukuman, dengan cara dipotong kepalanya.

    Syèh Siti Jênar dianggap melawan pemerintahan yang sah, demikian diputuskan oleh Dewan Wali Sångå, maka demi tegaknya negara Syari’at Kesultanan Dêmak Bintårå, Sunan Abdul Jalil Syèh Siti Jênar direndahkan reputasinya dan dituduh sebagai seorang ulama yang menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan, dan konflik antar para wali dan Syèh Siti Jênar berakhir dengan fatwa atas nama negara, hukuman mati bagi Syèh Siti Jênar dan pengikut-pengikutnya.

    Kematiannya yang misterius, tanpa diketahui tahun dan tempat eksekusi tersebut. Sehingga seolah-olah beliau hilang begitu saja, tetapi muridnya Ki Agêng Pêngging alias Kêbo Kênångå berhasil mendidik Djåkå Tingkir. Konflik antara proyek besar negara Islam yang berpusat di Dêmak Bintårå Glagah Wangi inilah, yang menjadikan nama Syèh Siti Jênar harum sebagai Sunan Jêpara alias Syèh Abdul Jalil. Makamnya, yang terletak di dekat makam Ratu Kalinyamat. Tetapi benarkah Syèh Siti Jênar dihukum mati, yang kemudian didongengkan bahwa darah yang mengalir dari luka di tubuhnya mengelurkan bau semerbak harum?

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • bold lagi… lagi-lagi bold
      Ki Panji……………… tooolllooong………………………… Hiks…..

      • Lho…..
        sing pundi….
        he he he …..

        Sugeng enjang Ki

        • dik satpam kok nakal bgtz ta? ….. mosok eyang bayu dijak dolanan😦 ….. yen kualat piye hara ?😦😦😦

    • waduuuuh, akhirna njedul juga siti jenarna🙂
      matur nuwun sangeeeeet njih eyang bayu🙂🙂🙂

  4. Syèh Siti Jênar telah diputuskan untuk mendapat hukuman, dengan cara dipotong kepalanya.

    waduuuuh jd inget mesuji deh😦😦😦

  5. eh kabare paksi piye yo? …… dah lama ga sempet baca ni😦

  6. klo di sbb ini, tokohna sapa ya ? …. ada cowo mudana kah ?🙂
    lom sempet baca jg niy😦😦

  7. selamat siang, wah sajak-e mulai mau ramai, monggo

  8. HADIR,

    • sugeng dalu ki BP, ki BAYUAJI, ki BANCAK…..MITA, pak SP,
      kadang padepokan sedaya.

      • Inggih….inggih….inggih…….
        Soegeng nDaloe oegi Ki Menggoeng.

        • salam peCUT ki Gembleh…..he-hee-heee,

  9. ||Sugêng énjang||


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: