SBB-24

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 26 Januari 2012 at 00:01  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-24/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun

    lingsir wêngi,
    langité sumilak rêsik,
    abyoring lintang-lintang
    ngantu-ngantu pårå kadang énggal gumrégah tangi
    nusung wartå sâkâ langit
    yèn Gusti Kang Ora Naté Saré tansah maspadaké marang kawulaNé
    kang tansah manêmbah lan nyênyuwun tanpâ kêndat marang PanjênêngaNé.
    sêmiliring bayu, anggåndå arum
    lamat-lamat kaprungu swaraning gênding têtêmbangan lan dongå pujå-puji pangaståwå dumatêng Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Ingkang Måhå Asih.

    ||Sugêng énjang||

    cantrik bayuaji

  2. Mohon maaf
    angin kencang membuat jaringan internet terganggu, sehingga rontal SBB-24 belum bisa di”canthol”kan.
    Berangkat ke kebun buru-buru, lupa tidak masukkan ke kantong.
    Insya Allah, sore nanti (jika jaringan sudah normal) SBB-24 di”canthol”kan.

    • ANGIN KENCANG TANDA SAYANG….MATUR NUWUN
      SBB-24 BELOM DICANTOLKAN.

  3. KULO HADIR,

    SELAMAT PAGI KADANG PADEPOKAN SEDAYA

  4. rintik2 hujan sore hari….terima kasih rontal disuguhke sore ini

  5. //Sugêng dalu\\

  6. sugeng dalu

  7. sugeng dalu.

  8. Nuwun
    ||Sugêng dalu||

    HISTORIOGRAFI TRADISI
    Sisipan Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram</b

    Ketika sanak kadang padepokan pelangisingasari membaca Dongeng Arkeologi & Antropologi yang saya wedar, saya harap sanak kadang “tidak tersesat” ke dalam rimba perdebatan antara fakta sejarah dan bukan fakta sejarah serta pandai-pandailah untuk memilahnya,

    Sejarah Nusantara, lebih khusus lagi yang tertulis dalam kitab-kitab babad, termasuk babad para wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa, sering berhadapan dengan sumber sejarah yang dalam perbendaharaan sejarah dikenal dengan istilah historiografi tradisi, yaitu historiografi ketika fakta sejarah bercampur dengan mitos-mitos, meskipun hal ini tidak serta merta membuat seluruh historiografi tradisi diragukan kebenarannya.

    Untuk itu maka berikut ini (sebagai sisipan dongeng), saya wedarkan satu bacaan tentang historiografi tradisi tersebut.

    Sumånggå,

    Sejarah: adalah ilmu pengetahuan tentang kisah-kisah perkembangan manusia yang unik pada waktu dan tempat tertentu. Kisah-kisah yang terjadi dalam sejarah dapat dibedakan menjadi dua arti antara sejarah dalam arti objektif dan sejarah dalam arti subjektif.

    Sejarah dalam arti objektif, adalah kejadian atau peristiwa yang sebenarnya (history of actually). Sejarah dalam arti subjektif (history of record) adalah pengkisahannya, yang dalam pengkisahannya harus menggunakan secara benar sumber-sumber sejarahnya, yakni berupa bukti peninggalan peristiwa sejarah itu terjadi yang bersifat akurat dan kredibel, diantaranya adalah benda-benda (artifact),

    Artefak atau artifact: merupakan benda arkeologi atau peninggalan benda-benda bersejarah, budaya bendawi, yaitu semua benda yang dibuat atau dimodifikasi oleh manusia yang dapat dipindahkan.

    Contoh artefak adalah alat-alat yang terbuat dari batu (seperti kapak batu dan bangunan candi atau arca), logam atau tulang, sarkofagus (tempat menyimpan mayat, terbuat dari batu atau logam), gerabah, keramik, prasasti, lempeng, kain dan kertas, senjata-senjata logam (anak panah, mata panah, dll), terracotta dan kulit dan tanduk binatang.

    Artefak dalam arkeologi mengandung pengertian benda (atau bahan alam) yang jelas dibuat oleh (tangan) manusia atau jelas menampakkan (observable) adanya jejak-jejak buatan manusia padanya (bukan benda alamiah semata) melalui teknologi pengurangan maupun teknologi penambahan pada benda alam tersebut (misalnya diukir).

    Ciri penting dalam konsep artefak adalah bahwa benda ini dapat bergerak atau dapat dipindahkan (movable) oleh tangan manusia dengan mudah (relatif) tanpa merusak atau menghancurkan bentuknya.

    Artefak meliputi dokumen-dokumen tertulis, gambar atau lukisan, photo, silsilah, kalender, arca, kronik, naskah, karya-karya sejarah (babad, hikayat, tambo, termasuk juga sejarah tradisional lainnya, lazimnya berupa dongeng tutur lisan), biografi, otobiografi, memoar, buku harian, surat-surat pribadi, surat kabar, dan sejenisnya.

    Arkeologi, atau sering juga disebut ilmu sejarah kebudayaan materail. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

    Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak dan ekofak (benda lingkungan, seperti batuan, rupa muka bumi, dan fosil) maupun fitur (artefaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).

    Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologis, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.

    Tujuan arkeologi beragam dan menjadi perdebatan yang panjang. Di antaranya adalah yang disebut dengan paradigma arkeologi, yaitu menyusun sejarah kebudayaan, memahami perilaku manusia, serta mengerti proses perubahan budaya. Karena bertujuan untuk memahami budaya manusia, maka ilmu ini termasuk ke dalam kelompok ilmu humaniora.

    Meskipun demikian, terdapat berbagai ilmu bantu yang digunakan, antara lain:

    a. sejarah, ilmu pengetahuan tentang kisah-kisah perkembangan manusia yang unik pada waktu dan tempat tertentu.

    b. antropologi, ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.

    c. geologi, ilmu yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, tentang lapisan pembentuk bumi yang menjadi acuan relatif umur suatu temuan arkeologis dan proses pembentukannya.

    d. geografis, khususnya geografi sejarah, Cabang ilmu ini mencari penjelasan bagaimana budaya dari berbagai tempat di bumi berkembang dan menjadi seperti sekarang. Studi tentang muka bumi merupakan satu dari banyak kunci atas bidang ini, banyak disimpulkan tentang pengaruh masyarakat dahulu pada lingkungan dan sekitarnya.

    e. arsitektur.

    f. paleoantropologi, ilmu yang mempelajari asal usul dan perkembangan manusia dengan fosil manusia purba sebagai objek penelitiannya dan merupakan salah satu dari cabang ilmu biologi.

    g. bioantropologi, mempelajari fosil dan manusia hidup di berbagai letak geografis meliputi keanekaragaman, perubahan fisik dan penyakit pada populasi seiring perubahan peradaban manusia.

    h. fisika (antara lain dengan karbon c-14 untuk mendapatkan pertanggalan mutlak).

    i. metalurgi (untuk mendapatkan unsur-unsur suatu benda logam).

    j. filologi, ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno, antara lain: jenis huruf, bahasa dan gaya bahasa, jenis alat tulis (rontal, kulit binatang, kertas, dll), usia alat tulis yang dipakai.

    k. paleografi, atau ilmu tentang tulisan pada masa lampau.

    Arkeologi pada masa sekarang merangkumi berbagai bidang yang berkait. Sebagai contoh, penemuan mayat yang dikubur akan menarik minat pakar dari berbagai bidang untuk mengkaji tentang pakaian dan jenis bahan digunakan, bentuk keramik dan cara penyebaran, kepercayaan melalui apa yang dikebumikan bersama mayat tersebut, pakar kimia yang mampu menentukan usia galian melalui cara seperti metoda pengukuran karbon 14. Sedangkan pakar genetik yang ingin mengetahui pergerakan perpindahan manusia purba.

    Secara khusus, arkeologi mempelajari budaya masa silam, yang sudah berusia tua, baik pada masa prasejarah (sebelum dikenal tulisan), maupun pada masa sejarah (ketika terdapat bukti-bukti tertulis).

    Pada perkembangannya, arkeologi juga dapat mempelajari budaya masa kini, sebagaimana dipopulerkan dalam kajian budaya bendawi modern (modern material culture).

    Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu.

    Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

    Dalam pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

    Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan anthropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.

    Secara garis besar antropologi antropologi memiliki cabang-cabang ilmu yang terdiri dari:

    A. Antropologi fisik

    1. Paleoantropologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.

    2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-ciri fisik.

    B. Antropologi sosial dan budaya

    1. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan semua kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal tulisan.

    2. Etnolinguistik antropologi adalah ilmu yang mempelajari pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dan beratus-ratus bahasa suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.

    3. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.

    4. Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.

    Sumber sejarah primer dan sumber sejarah sekunder. Selanjutnya klasifikasi sumber sejarah berdasarkan asal-usulnya, yaitu sumber sejarah primer dan sumber sejarah sekunder.

    Menurut pembagian yang lebih mutakhir, ada yang disebut sumber tersier dan kuarter. Bahan-bahan ini menjadi sumber sejarah.

    Sumber primer terbagi lagi atas dua golongan yaitu sumber primer kuat (strictly primary source) dan sumber primer kurang kuat (unstrictly primary source).

    Sumber primer kuat adalah sumber yang memuat informasi yang berasal dari pelaku sejarah (actor), saksi peristiwa sejarah (eyewitness); sedangkan sumber primer kurang kuat biasa disebut juga sebagai sumber sezaman, yaitu sumber yang berasal dari masa suatu peristiwa sejarah berlangsung tetapi sumber informasi bukan pelaku atau saksi mata.

    Sumber sekunder adalah sumber yang berisi informasi dari sumber yang tidak langsung atau bukan dari pelaku ataupun saksi mata. Kalau dilihat sepintas istilah sumber primer kurang kuat dengan sumber sekunder seolah sama.

    Untuk memahami perbedaannya dapat dilihat pada contoh kasus ini:

    Empu Prapanca penulis Kakawin Pujasastra Nāgarakṛtāgama hidup pada abad ke-14 (tahun 1360an) semasa Prabu Hayam Wuruk memerintah Kerajaan Majapahit, bahkan mengikuti setiap perjalanan Sang Prabu ketika beranjangsana mengelilingi wilayah kerajaannya di Jawa Bagian Timur, maka Empu Pranpanca dapat disebut sebagai pengisah sejarah atau saksi peristiwa sejarah (eyewitness) Majapahit semasa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, meskipun “laporan pandangan mata” Sang Empu boleh jadi sangat subyektif, karena beliau adalah penulis sejarah (history of recorder), yang juga pujangga istana Majapahit.

    Seorang pengelana berkebangsaan Portugis, bernama Fernão Mendes Pinto dalam bukunya Peregrinacao (Peregrinação) (Dalam Bahasa Inggris “The Pilgrimage” yang berarti Ziarah); Mendes Pinto pernah berkunjung ke Jawa (Kesultanan Demak) pada masa pemerintahan Sultan Trênggånå, bahkan informasi tentang terbunuhnya Sang Sultan diperoleh dari catatan harian Pinto, yang memberitakan bahwa setelah Kanjêng Sultan Trênggånå tewas terbunuh dalam peristiwa perang dengan Blambangan di Panarukan, dia merasa dirinya sudah tidak aman lagi, penuh dengan ketakutan, kemudian memutuskan untuk meningalkan Pulau Jawa yang indah.

    Demikian juga Pinto menggambarkan istana Giri Kedaton, yang rajanya adalah Santo (Orang Suci) dari Giri, yaitu Kanjêng Sunan Giri yang disebutnya sebagai Paus dari Timur.
    Jelas dari kalimat ungkapan tulisan dia dalam bukunya itu, dia benar-benar saksi sejarah Kesultanan Dêmak Bintårå masa Sultan Trênggånå.

    Berita dari Tome Pires, orang Portugis tentang Fatahillah. Tome Pires pernah datang ke Banten dan singgah di Cirebon antara tahun 1512-1513. Sunan Gunung Jati, yang menjadi pendiri Kesultanan Cirebon, hidup pada kurun waktu itu.

    Tome Pires menceritakan dalam bukunya yang berjudul “Suma Oriental”, tentang penguasa Cirebon yang tak pernah dijumpainya secara langsung, artinya ia hanya mendengar dari orang lain tentang pendiri Cirebon tersebut. Maka buku “Suma Oriental” tergolong sumber sezaman atau sumber primer kurang kuat untuk informasi tentang Sunan Gunung Jati.

    Hanya dengan mencari sumber-sumber informasi inilah, kegiatan mencari sumber sejarah dalam ilmu sejarah disebut heuristik, sejarawan dapat membuat rekontruksi peristiwa masa lampau dan menulis uraian sejarah sering disebut juga History as written atau Historiografi.

    Historiografi adalah pengetahuan yang mempelajari aktivitas ilmu sejarah. Hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk mempelajari metodologi sejarah dan perkembangan sejarah sebagai suatu disiplin akademik. Istilah ini dapat pula merujuk pada bagian tertentu dari tulisan sejarah.

    Sebagai suatu analisis yakni merupakan suatu pendekatan statistik ke arah studi agregasi pada penelitian independen, dari deskripsi sejarah, arti ketiga ini dapat berhubungan dengan kedua arti sebelumnya dalam pengertian bahwa analisis tersebut biasanya terfokus pada narasi, inpretasi, pandangan umum, penggunaan bukti-bukti, dan metode presentasi dari sejarahwan lainnya.

    Historigrafi yang selalu berkembang dan menurut jiwa zaman seorang sejarawan, menjadikan historiografi diklarifikasikan. Dalam sebuah historiografi Indonesia terutama dibagi atas dua historiografi besar yaitu, historiografi tradisional dan historiografi modern.

    Historiogarafi (Indonesia) tradisional dipengaruhi oleh jiwa zaman yang banyak mengandung unsur-unsur mitos atau mitologi. Sedangkan dalam historiografi Indonesia modern unsur tersebut tidak diketahui, namun bila dalam penulisan masih terdapat mitos, hal itu dapat dikategorikan dalam historiografi Indonesia tradisional.

    Pada aspek mitologi dan sangkut paut para penulis sejarah Indonesia yang dapat dikategorikan sebagai historiografi Indonesia tradisonal.

    Istilah Mitologi telah dipakai sejak abad 15, Mitologi berarti “ilmu yang menjelaskan tentang mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan.

    Mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legend, folklor (cerita rakyat), dongeng, anekdot, atau kisah fiksi. Mitos dan agama pasti juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek.

    Mitologi terkait dekat dengan legenda maupun cerita rakyat. Tidak seperti mitologi, pada cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dinggap sebagai suatu yang suci yang dipercaya kebenarannya.

    Sedangkan legenda, meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelakunya pada legenda adalah manusia bukan dewa atau makhluk-makhluk ‘monster’ (naga, kuda terbang) seperti pada mitologi.

    Legendaadalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali dianggap sebagai “sejarah” kolektif (folk history).

    Walaupun demikian, karena (pada umumnya) tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya.

    Oleh karena itu, jika legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung sifat-sifat folklore.

    Legenda adalah cerita cerita kuno yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah, sebagian berdasarkan kenyataan sejarah dan yang sebagian yang lain berdasarkan angan-angan yang mengandung sesuatu hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.

    Legenda dipercaya benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral dan juga membedakannya dengan mite (mitos).

    Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang merupakan pencampuradukan unsur-unsur di luar daya jangkau akal manusia tokohnya para dewa-dewa, manusia setengah dewa, lelembut, peri, yang terjadi di dunia lain pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.

    Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta dan dunia (, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya.

    Sehingga untuk menjadikan karya penulisan sejarah itu mejadi sebuah sumber sejarah perlu dilakukan sebauh kritik sejarah yang relevan.

    Mitos diperlukan karena keinginan pujangga sebagai tokoh yang mengadakan penulisan sejarah denagn dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa.

    Mitos di Indonesia biasanya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, terjadinya susunan para dewa, terjadinya manusia pertama, dunia dewata, dan terjadinya makanan pokok.

    Orang Jawa bukan saja telah mengambil mitos-mitos dari India, melainkan juga telah mengadopsi dewa-dewa Hindu sebagai dewa Jawa. Bahkan orang Jawa pun percaya bahwa mitos-mitos tersebut terjadi di Jawa.

    Di Jawa Timur misalnya, Gunung Semeru dianggap oleh orang Hindu Jawa dan Bali sebagai gunung suci Mahameru atau sedikitnya sebagai Puncak Mahameru yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa.

    (Dapat dibaca pada: Asal Mula Terjadinya Gunung Semeru, dalam Kitab Kuna Abad ke-15 yaitu Kitab Tantu Pagelaran).

    Demikian juga mengenai mitos terjadinya padi, dikenal adanya Dewi Sri yang dianggap sebagai dewi padi bagi orang Jawa. Menurut versi Jawa Timur, Dewi Sri adalah putri raja Purwacarita. Ia mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sadana.

    Pada suatu hari selagi tidur, Sri dan Sadana disihir oleh ibu tirinya dan Sadana diubah menjadi seekor burung layang-layang sedangkan Sri diubah menjadi ular sawah.

    Mitos akan melukiskan sejarah dari perlaku-perilaku supranatural. Perilaku supranatural menurut akal sehat sangat sulit untuk diterima, melainkan dalam melihat konteks supranatural tersebut perlu menggunakan kaca mata yang berbeda.

    Perilaku supranatural tersebut ada karena pada zaman penulisan hal itu merupakan sebuah sifat linuwih, sehingga orang itu memiliki sebuah kedudukan dan kehormatan.

    Selain itu didukung oleh keadaan masyarakat yang masih percaya akan hal itu, menjadikan hal-hal yang bersifat supranatural dapat berkembang secara pesat.

    Mitos mengangap sejarah sebagai hal yang mutlak kebenarannya dan keramat. Sejarah merupakan sebuah peristiwa masa lalu, namun peristiwa itu tidak dapat menyampaikan kebenaran peristiwa tersebut secara mutlak. Sejarah dalam arti objektif adalah peristiwa masa lampau yang telah terjadi.

    Mitos akan selalu menghubungkan antara seseorang dengan ”penciptaan” tentang keberadaan, institusi, dan perilaku. Menghubungkan seorang tokoh dengan proses penciptaan merupakan sebuah supremai kekuasaan, dan dapat diartikan sebagai sebuah pandangan sempit tentang tokoh tersebut.

    Tokoh tersebut diagambarkan seakan-akan sebagai perfect man atau orang yang sempurna. Padahal dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Masyarakat akan selalu berpikir untuk melawan atau berperilaku, dan berhubungan dengan orang tersebut.

    Dari situ memunculkan konsep tentang sabdå pandhitå ratu yang berrati bahwa ucapan seorang raja sama dengan sabda Tuhan. Menjadikan perintah raja tidak boleh ditolak atau tidak boleh tidak dijalankan.

    Mitos dapat sebagai alat untuk mencari asal-usul. Asal-usul hal dalam ini dapat diartikan sebagi asal-usul sebuah tempat atau asal-usul seseorang. Sebagai contohnya bila diketahui tentang asal-usul seseorang, orang akan dapat melakukan sebuah kontrol dan memanipulasi sesuatu sesuai kehendaknya. Kontrol tersebut akan memberikan sebuah kekuasaan atau legitimasi.

    Serat Kidung Pararaton ternyata menyimpan kisah yang penuh mitos, fantasi, dan khayalan, sehingga fakta dan fantasi terbaur menjadi satu, bahwa seseorang yang nantinya berada di dalam lingkaran kekuasaan bahkan pada puncak kekuasaan, yang masa lalunya “gelap ”, oleh penggubah Pararaton dilegitimasi sebagai bukan “orang kebanyakan”.

    Bahkan saking mistisnya, Pararaton dan dalam banyak catatan sejarah atau legenda raja Jawa lainnya, selalu menampilkan tokoh “lembu peteng

    Tradisi suksesi kekuasaan di Jawa hampir selalu melahirkan sosok lembu peteng ini. Kemunculan lembu peteng, seperti banyak disebut dalam babad, merupakan strategi yang lazim untuk memberikan justifikasi seseorang atau tokoh-tokoh dari luar lingkaran kekuasaan untuk memegang tampuk kekuasaan.

    Itu dikaitkan dengan ketidakjelasan asal-usul sang penguasa. Dia bisa anak yang dilahirkan selir raja, gundik raja, gendhak raja; anak lamkoar (anak haram), anak hasil hubungan gelap sang raja dengan gadis desa yang pasrah ditiduri ketika sang raja sri baginda yang dipertuan agung sedang melakukan kunjungan kerja, meresmikan proyek pembangunan desa, inspeksi mendadak; bisa pula anak rakyat jelata yang karena kecerdasan dan keberaniannya tampil sebagai pemimpin,

    Bagi masyarakat Jawa, seorang pemimpin itu perlu diteliti bibit, bobot dan bebet. Bibit adalah wajah/rupa, asal-usul, keturunan, nasab, asal muasal. Bobot adalah kepribadian, nilai pribadi diri yang bersangkutan, pendidikan, pekerjaan, gaya hidup, jabatan dan kekayaan, sedangkan bebet adalah keluarga, lingkungan, teman-teman si tokoh.

    Selain itu, yang tak kalah pentingnya bagi si tokoh adalah nilai spiritualitasnya. Sebab, pemimpin yang sempurna itu harus humanis sekaligus mistis. ‘Manusia setengah dewa‘.

    Dalam legenda yang masih banyak dipercaya, para raja-raja Nusantara termasuk cikal bakal Singosari, Majapahit, Pajang, maupun Mataram adalah manusia setengah dewa.

    Ken Dedes yang dipercaya punya “rahasya” yang bersinar sebagai gua garba raja-raja penguasa Jawa,

    Dewi Nawangwulan, bidadari yang pasti bukan manusia, tetapi makhluk penghuni langit, yang selendangnya dicuri dan akhirnya si bidadari dinikahi Djaka Tarub, adalah cikal-bakal raja Majapahit.

    Djaka Tingkir si anak gembala yang ber”sigrå milir sang gèthèk sinånggå bajul” pun perlu pengakuan bahwa si penakluk buaya itu bukan orang kebanyakan sebab nantinya ia akan menjadi Sultan Pajang.

    Sosok Kanjeng Ratu Kidul (agar dibedakan dengan Nyi Roro Kidul – keduanya adalah “tokoh” yang berbeda. Kanjeng Ratu Kidul adalah Penguasa Pantai dan Laut Selatan, sedangkan Nyi Roro Kidul adalah patihnya);

    Kanjeng Ratu Kidul adalah istri mistis Panembahan Senopati dalam mewujudjkan Mataram, dan istri sinuwun-sinuwun Mataram selanjutnya, hingga Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekarang;

    Kanjeng Ratu Kidul adalah rangkaian mitos yang tak bisa dilepaskan dari raja dan kerajaan besar yang pernah ada di tanah Jawa, khusunya Mataram.

    Dalam hal tersebut dapat dilihat mengenai asal-usul Sultan Agung yang dapat diartikan sebagai sebuah mitos. Sultan Agung dalam historiografi tanah Jawa merupakan keturunan dari Nabi Adam dan tokoh-tokoh pewayangan.

    Hal itu memang sulit untuk diterima apalagi Sultan Agung merupakan keturunan dari seorang tokoh pewayangan.

    Bahkan dalam banyak kisah, para raja yang tidak berkasta ksatria atau pendeta pun harus di’ksatria’kan melalui para pujangga istana.

    Para pujangga pembuat sastra puja (Pararaton salah satunya) itu berkewajiban menciptakan silsilah baru, agar sang raja yang paria atau sudra, yang tidak jelas asal usulnya, berubah menjadi keluarga ningrat. Malah tak jarang para raja itu dibuatkan rasi keturunan para dewa.

    Kisah Ken Arok adalah contoh yang tepat untuk itu. Ketika Ken Arok yang di dalam cerita adalah anak orang biasa, bahkan seorang penjahat anak seorang perampok yang bernama Bango Samparan, akhirnya menjadi raja, ia pun dicari-cari nasabnya sampai ke sosok yang paling berpengaruh.

    Ken Arok disebut-sebut memiliki trah raja karena ayahnya adalah raja atau seorang penguasa. Tapi entah siapa penguasa itu. Anak penguasa? Naskah-naskah kuno (Pararaton, Negarakertagama dan Prassati Mula Malurung menuliskan semua itu secara tersirat).

    Raja dalam kosmologi Jawa adalah titisan Dewa. Untuk itu, anak raja, terlebih seorang Arok yang ayahnya tak mau menunjuk hidungnya sendiri, akan ditulis sebagai anak Dewa, dalam hal ini Dewa Brahma, seorang Dewa Pencipta; di tempat lain disebut sebagai titisan Batara Guru, Dewa Syiwa, bahkan Dewa Wisnu.

    Mitos dan legitimisme yang bercampur-aduk di dalam penulisan sejarah tradisional ternyata masih terus saja diadopsi oleh para sejarawan.

    Dalam Sêrat Babad Tanah Jawi pun, buku yang berkisah tentang sejarah Pulau Jawa yang ditulis oleh Carik Bråjå atas perintah Sunan Paku Buwånå III. Berisi banyak tembang Jawa dan merupakan sebuah karya sastra sejarah.

    Buku ini juga memuat silsilah raja-raja Mataram dengan memberi legitimasi berupa garis keturunan lagsung dari Nabi Adam.

    Dalam masyarakat Jawa ada konsep pangiwå panêngên untuk mencari legitimasi keturunan seseorang. Konsep panêngên, adalah keturunan yang berasal dari Nabi Adam ditarik ke bawah lewat para tokoh kenabian, Idris, Sits, Nuh, Sholeh, sampai Nabi Muhammad SAW turun temurun sampai para ulama.

    Sedangkan pangiwå, legitimasi garis keturunan yang tidak hanya menyangkut kepada para nabi, tapi juga tokoh-tokoh pewayangan dari Nabi Adam, turun ke Sang Hyang Nur Råså, Sang Hyang Nur Cahyå, Batara Guru terus lewat para tokoh wayang, tokoh mitos Kanjêng Ratu Kidul sampai ke raja-raja Jawa,

    Raja-raja di Samudera Pasai mencari legitimasi dirinya dinasabkan pada tokoh yang luar biasa. Di dalam Sejarah Melayu, misalnya, diceritakan nasab raja-raja di Melayu yang merupakan keturunan dari Putri Tunjung Buih, Putri Betung, berasal dari gajah sehingga bernama Merah Gajah, dan lain sebagainya.

    Dan dalam tataran negeri ini setelah menjadi Republik Indonesia, mitos lembu peteng serta silsilah yang berasal dari berbagai legenda itu tidak sertamerta terputus. Lembu peteng acap dikaitkan dengan penguasa sejak awal.

    Babad, walaupun merupakan karya sastra, tapi babad memiliki kedudukan yang penting dalam penulisan sejarah, karena memuat tentang peristiwa-peristiwa. Meskipun demikian, unsur-unsur yang tidak terkandung dalam fakta sejarah haruslah diteliti terlebih dahulu.

    Karena dalam babad memiliki sifat penulisan, yaitu dibuat oleh karya-karya pada zaman kerajaan, biasanya terlalu istana sentris, atau paling tidak penguasa dan keluarga istana sentris, masih terdapat mitos, tercampurnya unsur fiktif dan faktual.

    Sekalipun babad sering tidak konsisten dibandingkan sumber-sumber sejarah lain. Tetapi babad tidak dapat diabaikan begitu saja. Babad sering digunakan untuk mendapatkan susdut pandang yang berbeda dari sumber sejarah lain tersebut.

    Babad tidak hanya penting sebagai gudang fakta dan sudut pandang yang tidak terdapat pada sumber-sumber sejarah lain, tetapi babad dapat sebagai sumber tersendiri. Babad tidaklah dapat berdiri sendiri.

    Sebagai teks, babad harus dikaitkan dengan teks-teks lainnya. Contohnya sumber-sumber sejarah lain dapat menunjukkan konteks “dunia nyata” dimana babad ditulis dan konteks “dunia nyata” dari apa yang dibicarakan oleh babad. Maka secara tidak langsung ini dapat menyingkap struktur literaturnya juga

    Maka dengan demikian pemilihan babad bisa dilakukan dengan mudah. Babad dipilih, haruslah sebuah teks yang diketahui, baik sejarahnya dan memaparkan periode yang dibahas dalam isi babad tersebut.

    Dalam pada itu Kitab-kitab Babad adalah suatu pertanyaan juga, benarkah penulisan Kitab-kitab Babad?, atau sesuaikah Kitab Babad sebagai salah satu sumber sejarah jika dibanding dengan sumber sejarah lain, prasasti misalnya.

    Matur suksmâ

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu.

  9. selamat pagi sedayanya,

    • selamat pagi semuanya

  10. cantrik HADIR,

  11. ||Sugêng dalu||

    Gandhok SBB-25, månggå…lho?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: