sbb-27

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 4 Februari 2012 at 00:01  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-27/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. IISugêng énjang||

  2. Nuwun
    ||Sugêng énjang||

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

    Waosan kaping-8. Wedaran kaping-02
    KANJÊNG RATU KIDUL

    Beberapa cerita rakyat tentang Pertemuan Panêmbahan Sénåpati dengan Kanjêng Ratu Kidul

    Hutan Kahyangan Dlêpih

    Menurut ramalan Kanjêng Sunan Giri, bahwa bumi Mêntaok tersebut kemudian hari akan menjadi kerajaan besar. Ramalan tersebut menimbulkan kekhawatiran Sultan Hadiwijåyå, sehingga beliau menunda pemberian bumi Mêntaok kepada Ki Agêng Pêmanahan.

    Berkat upaya Kanjêng Sunan Kalijågå untuk menagih kepada Sultan Hadiwijåyå perihal janjinya untuk memberikan bumi Mêntaok kepada Ki Agêng Pêmanahan. Barulah kemudian bumi Mêntaok diberikan kepada Ki Agêng Pêmanahan.

    Bumi Mêntaok yang merupakan tanah perdikan, akhirnya menjadi daerah yang ramai dan makmur, sehingga layak menjadi suatu kerajaan tersendiri.

    Danang Sutåwijåyå sebagai calon raja masih merasa ragu-ragu akan keselamatannya karena beliau merasa bukan keturunan raja atau bangsawan.

    Disamping itu beliau belum mempunyai calon permaisuri sebagai pendamping. Maka kemudian Danang Sutåwijåyå minta waktu untuk bertapa terlebih dahulu sekaligus mencari calon permaisuri.

    Perjalanan bertapa Danang Sutåwijåyå mengarah ke timur. Sampai Madiun, beliau berjumpa Rêtnå Dumilah, putri Radèn Rånggå Prawirådirjå, Bupati Madiun.

    Atas Permintaan Danang Sutåwijåyå, bahwa Rêtnå Dumilah akan dijadikan permaisuri setelah nanti dinobatkan menjadi Sultan Mataram. Sebelum beliau mendapat firasat bahwa Rêtnå Dumilah kelak akan menjadi ibu raja di Jawa.

    Oleh sebab itu setelah dipinang, Rêtnå Dumilah segera dibawa ke Mataram. Dalam perjalanan ke Mataram Kanjêng Sunan Kalijågå, maka beliau bersama Rêtnå Dumilah tidak segera pulang ke Mataram tetapi singgah sementara waktu di Dlêpih dan menginap di rumah Ki Puju.

    Ki Puju adalah seorang petani yang sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan Dlêpih. Istrinya Ny Puju, sebagai penjual pecel yang sangat terkenal dengan masakan dari pucuk daun puju.

    Suatu hari Danang Sutåwijåyå minta ijin kepada Rêtnå Dumilah bahwa akan masuk kehutan Dlêpih untuk bertapa mengikuti jejak Kanjêng Sunan Kalijågå.

    Rêtnå Dumilah sengaja ditinggal di rumah, karena tempat yang dituju sangat sukar ditempuh dan wingit.

    Dalam perjalanan menuju hutan Dlêpih, Danang Sutåwijåyå sampai pada dua batu besar yang bentuknya pipih lebar, sedang ujung atasnya saling bersinggungan sehingga rongganya dapat digunakan untuk lewat.

    Batu tersebut sampai sekarang masih ada, dan dikenal denagn Sélå Gapit atau Sélå Panangkêp.

    Kemudian beliau meneruskan perjalanan menuju selatan melalui Sélå Gapit, setelah sampai pada batu besar yang berongga semacam goa, datar dan atasnya melebar seperti payung.

    Beliau berhenti dan melakukan samadi di situ. Batu tempat bersamadi tersebut dinamakan Sélå Payung atau Watu Pamêlêngan.

    Tidak jauh dari Watu Pamêlêngan, ke arah selatan tempat Danang Sutåwijåyå menjalani tåpå, terdapat batu besar yang berwarna hitam mendatar bagaikan sebuah meja. Batu ini dinamakan Sélå Gilang.

    Begitu pula pada pagi dan sore hari, Danang Sutåwijåyå melakukan mandi di sebuah air terjun dekat Sélå Gilang yang airnya jernih. Kêdung tersebut dinamakan Kêdung Pasiraman.

    Demikian kegiatan sehari-hari Danang Sutåwijåyå di hutan Dlêpih. Sedang setiap harinya untuk keperluan makan dan minum dikirim oleh Ny Puju, karena Rêtnå Dumilah tidak berani melanggar perintah calon suaminya masuk hutan Dlêpih.

    Setelah beberapa hari berjalan, sebagai manusia biasa Rêtnå Dumilah memiliki rasa cemburu terhadap Danang Sutåwijåyå yang betah di dalam hutan Dlêpih.

    Kemudian Rêtnå Dumilah mengutus Ki Puju untuk menyelidiki kegiatan calon suaminya. Maka berangkatlah Ki Puju ke dalam hutan mengintip kegiatan Danang Sutåwijåyå.

    Bertepatan waktu pada hari itu Raten Danang Sutåwijåyå sedang semedi di Watu Pamêlêngan, didatangi oleh Kanjéng Ratu Kidul, yang telah menjadi kekasihnya semenjak beliau di muara kali Opak (Pantai Laut Selatan).

    Oleh karena pertemuan dua insan itu dirasa kurang enak, Danang Sutåwijåyå mengajak pindah dari Watu Pamêlêngan, ke Sélå Gilang yang lebih sepi dan terlindung hutan lebat.

    Konon dikisahkan, pada pertemuan tersebut mereka saling memadu cinta dan Kanjêng Ratu Kidul seperti ikrarnya semula sangggup membantu berdirinya kerajaan Mataram hingga rakyatnya mengalami kesejahteraan.

    Alhasil belum puas mereka melaksanakan pertemuan, Kanjêng Ratu Kidul terperanjat karena merasa ada seseorang manusia yang mengintip dari semak-semak belukar. Kanjêng Ratu Kidul merasa dirinya ‘kamanungsan‘ maka beliau segera melesat menghindar dan gerakannya menyangkut “tasbih” Danang Sutåwijåyå sampai putus berserakan jatuh di Kêdung Pasiraman.

    Peristiwa putus dan berantakannya “tasbih” Danang Sutåwijåyå ini sampai sekarang berkembang menjadi beberapa versi.

    ….

    Keunikan dari legenda ini adalah keberadaan “tasbih” di tangan Danang Sutåwijåyå yang sedang pacaran dengan Kanjêng Ratu Kidul, yang secara tiba-tiba putus berserakan karena gerakan Kanjêng Ratu Kidul yang melesat menghindar.

    Seorang Muslimkah Danang Sutawijaya yang saat sedang berdzikir?
    atau Penghayat Kejawen?

    [Mohon dibaca kembali Sisipan Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Historiografi Tradisi [https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-mataram/23/]

    ***

    Agar tidak menjadi “kisruh”. Saya dongengkan terlebih dahulu tentang “tasbih”:

    Kamus Tasbih:

    Tasbih (Bahasa Arab) secara harfiah berarti pujian dan secara makna yaitu dengan mengucapkan kata Subhanallah yang berarti Maha Suci Allah.

    Untuk mengucapkan bacaan Tasbih (seharusnya juga Tahmid, Tahlil, dan Takbir, dan bacaan Dzikir lainnya, dengan maksud untuk mengingat Allah SWT) secara berulang-ulang ini diciptakanlah alat yang di Indonesia dengan salah kaprah disebut Tasbih.

    Kita tidak tahu sejak kapan istilah tasbih diberikan pada alat yang digunakan untuk mengucapkan bacaan kalimat dzikir, yang secara berulang-ulang itu.

    Alat yang selanjutnya kita kenal dengan sebutan tasbih tersebut biasanya dibuat dari kayu, namun ada pula yang dibuah dari bji-biji zaitun, biji-biji kurma atau batu kerikil.

    Orang berbeda pendapat mengenai asal-usul penggunaan “tasbih”. Ada yang mengatakan bahwa “tasbih” berasal dari orang Arab, ada pula yang berpendapat bahwa alat yang akhirnya kita kenal dengan nama tasbih ini sudah ada sejak berkembangnya Agama Budha dan sebagian besar (kalau tidak malahan semuanya) para bhiksu dan bhiksuni menggunakan alat ini dengan dikalungkan pada leher mereka. dan menjadi ciri khas agama mereka. Alat ini lazim disebut Japamala.

    Dalam tradisi gereja Katolik dikenal adanya doa rosario. Doa Rosario ini melahirkan sebuah alat untuk menghitung jumlah doa yang dibacakan, yang dikenal sebagai Rosario atau Kalung Rosario. Bentuknya mirip dengan “tasbih”.

    Dari beberapa riwayat kenabian disebutkan bahwa Rasulullah SAW mencontohkan cara berdzikir dengan menggunakan ruas-ruas jari atau ujung-ujung jari dan menyarankan para sahabat-sahabat beliau mengikutinya.

    Inilah petunjuk Nabi Muhammad SAW di dalam berdzikir dengan cara yang benar, paling mudah dan yang paling sempurna, maka demikianlah yang harus diamalkan oleh umat Islam.

    Dalam riwayat lain juga disebutkan tentang perintah Nabi SAW kepada para wanita, “Bertasbihlah dan hitunglah dengan jari karena sesungguhnya jari jemari itu akan ditanyai dan diminta untuk berbicara.

    Dalam perkembangannya, beberapa ulama berpendapat bahwa berdzikir dengan menggunakan manik-manik yang dirangkai menjadi satu (sebagaimana yang kita kenal sebagai ”tasbih”) hukumnya boleh, namun ada yang menyebutnya makruh, ada pula yang tidak setuju dengan hukum makruh untuk perbuatan tersebut, bahkan ada yang mengolongkan sebagai perbuatan bid’ah.

    Tetapi bukan pada tempatnya di wedaran ini untuk membahas hal itu.

    ***

    Kita kembali ke cerita rakyat tentang Pertemuan Panêmbahan Sénåpati dengan Kanjêng Ratu Kidul

    Dongeng Rakyat yang lain:

    Pertemuan Kanjêng Ratu Kidul dengan Danang Sutåwijåyå diketahui oleh Kanjêng Sunan Kalijågå dan beliau menyusul ke Kahyangan untuk menyuruh Danang Sutåwijåyå agar segera pulang ke Mataram.

    Namun Kanjêng Ratu Kidul melarang, sehingga niat Danang Sutåwijåyå akan kembali ke Mataram dicegah dengan menarik “tasbih” hingga putus berantakan dan bijinya jatuh di Kêdung Pasiraman.

    Dongeng Rakyat Versi Mataram:

    Pertemuan Kanjêng Ratu Kidul dengan Danang Sutåwijåyå disusul oleh Rêtnå Dumilah sehingga terjadi keributan. Rêtnå Dumilah mengajak kembali ke Mataram, namun Kanjêng Ratu Kidul melarang, kemudian Kanjêng Ratu Kidul menarik “tasbih” hingga putus berantakan.

    Atas kebijaksanaan Danang Sutåwijåyå, keduanya dapat didamaikan dan dijanjikan bahwa keduanya akan dijadikan permaisuri Mataram.

    Kanjêng Ratu Kidul dianggap permaisuri pertama sedang Rêtnå Dumilah sebagai permaisuri kedua. Kanjêng Ratu Kidul berkenan hatinya menerima Rêtnå Dumilah sebagai saudara mudanya.

    Pada saat itu Rêtnå Dumilah mengenakan baju hijau dan kain parangklitik yang nampak menambah kecantikannya.

    Kemudian menurut legenda masyarakat, apabila ke Dlêpih atau ke laut selatan dilarang mengenakan baju hijau dan kain parangklitik.

    Larangan tersebut apabila dilanggar, yang bersangkutan bakal kalap (tewas), dianggap dipersaudarakan dengan abdi dalem Kanjeng Ratu Kidul.

    Versi cerita rakyat yang lain pula:

    Yang terperanjat adalah Danang Sutåwijåyå dan sangat marah terhadap Ki Puju yang bertindak kurang berkenan di hati beliau. Tatkala akan mengejar Ki Puju, “tasbih” Danang Sutåwijåyå ditarik oleh Kanjêng Ratu Kidul dengan maksud mencegah, sehingga putus berantakan jatuh di Kêdung Pasiraman.

    Niat Danang Sutåwijåyå tersebut ditahan Kanjêng Ratu Kidul dengan maksud kelak ruh Ki Puju dan Nyi Puju akan dipersaudarakan dengan Nyi Roro Kidul sebagai abdinya dan bertugas menunggu hutan Dlêpih.

    Cerita-ceita tersebut kini jadi mitos dan banyak ditiru masyarakat. Masyarakat datang ke Dlêpih ada yang nepi (semedi) namun ada pula yang mencari biji “tasbih” milik Danang Sutåwijåyå yang dikabarkan jatuh di Kêdung Pasiraman.

    Kegigihan warga dalam berburu biji “tasbih”, sampai ada yang rela menyusuri kali Wiroko dari Kecamatan Nguntoronadi terus menuju hulu sungai sampai di Kêdung Pasiraman.

    Menurut kepercayaan yang berkembang, batu akik yang dijadikan biji “tasbih” milik Danang Sutåwijåyå dan Kanjéng Sunan Kalijågå mempunyai kekuatan membawa keselamatan dalam menempuh kehidupan.

    Bahkan ada yang menganggap bahwa biji tersebut mampu digunakan untuk menolong seseorang yang ditimpa kesengsaraan. Misalnya, menyembuhkan dari penyakit.

    Dalam berburu biji “tasbih”, sampai ada warga Desa Galeng, Kecamatan Baturetno melakukan pembendungan sungai Wiroko.

    Konon sesudah “tasbih” Danang Sutåwijåyå jatuh berantakan, di Kêdung Pasiraman Kanjêng Ratu Kidul menambahkan batu bertuah dari laut kidul.

    Kemudian setelah Danang Sutåwijåyå mendapat petunjuk tentang penobatannya menjadi Sultan Mataram, segera mengajak Rêtnå Dumilah ke Mataram.

    Sebelum berangkat, Danang Sutåwijåyå memanggil Ki Puju dan Nyi Puju agar menunggu dan menjaga kawasan hutan Kahyangan Desa Dlêpih.

    Dipercaya kedua abdi tersebut melaksanakan perintah hingga rohnya pun menunggu hutan Dlêpih sampai sekarang. Mereka Roh Ki Puju (Ki Widonanggo) dan Nyi Puju (Nyi Widonanggo) menjadi kawulå (abdi) Kanjêng Ratu Kidul dan menguasai hutan Dlêpih.

    Sejarah selanjutnya mencatat, setelah dinobatkan menjadi sultan Mataram, Danang Sutåwijåyå diberi gelar Panêmbahan Sênåpati Ing Alågå Sayidin Panåtågåmå Kalifatullah Tanah Jåwå.

    Siapa Rêtnå Dumilah?

    Berawal dari penyerbuan ke daerah-daerah “mancanegara” di wilayah Jawa Bagian Timur, dan Wilayah Jawa Bagian Barat. Di bawah pemerintahan Panêmbahan Sênåpati, Mataram mengadakan ekspansi secara besar-besaran hampir ke seluruh Pulau Jawa.

    Pada tahun 1586 Pasukan Mataram dipimpin langsung oleh Sang Panêmbahan menaklukan Puråbåyå, yang kemudian dijadikan wilayah bawahan Mataram dengan nama Madiun, yang dilanjutkan ke Ponorogo.

    Pada tahun yang sama penyerangan Mataram ke Surabaya dikalahkan oleh Adipati Surabaya.

    Pada tahun 1587 Panêmbahan Sênåpati berhasil menaklukkan Pasuruan, Probolinggo dan Panarukan, namun mengalami kegagalan ketika menyerbu Blambangan.

    Setelah cukup kuat ekspansi ke wilayah timur maka pada tahun 1595 Panêmbahan Sênåpati dapat menundukkan Cirebon, Priangan hingga daerah aliran Sungai Citarum.

    Pada akhir pemerintahan Panêmbahan Sênåpati, Blambangan tunduk epada Mataram.

    Sebelum penyerangan Mataram ke Puråbåyå (sekarang Madiun). Pangéran Timur dipercaya untuk menjadi Bupati atas Kabupaten Puråbåyå. Beliau diberi gelar Panêmbahan Puråbåyå dengan pusat pemerintahan di Desa Sogaten. Beliau adalah adik dari Sultan Pajang, Sultan Hadiwijåyå.

    Secara yuridis Kabupaten Puråbåyå menjadi suatu wilayah pemerintahan di bawah pimpinan seorang Bupati dan berakhirlah pemerintahan pengawasan di Puråbåyå yang dipegang oleh Kyai Rêkso Gati atas nama Demak sejak tahun 1518 sd 1568.

    Sebelumnya Puråbåyå masuk dalam pengawasan Demak dikarenakan Radèn Ayu Rêtnå Lêmbah, puteri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan Dolopo; dinikahi Putra Mahkota Kasultanan Demak yaitu Pangéran Suryå Pati Unus.

    Ketika itu pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desa Sogaten dengan nama baru Puråbåyå dipimpin oleh Kyai Rêkso Gati sebagai kepanjangan tangan dari pemerintahan Demak di wilayah itu.

    Tahun 1575, pusat pemerintahan dipindahkan dari Sogaten ke Desa Wonorejo (sekarang Kuncen). Dan pada tahun 1586, pemerintahan Kabupaten Puråbåyå diserahkan oleh Pangeran Timur kepada putrinya, Raden Ayu Rêtnå Dumilah.

    Beliau inilah yang menjadi legenda, wanita yang memimpin perang prajurit-prajurit Måncånêgårå Timur.

    Melihat Kabupaten Puråbåyå dipimpin seorang wanita, maka Mataram berusaha untuk menaklukkan Puråbåyå. Namun Mataram menderita kekalahan besar, dikalahkan oleh Rêtnå Dumilah. Perang ini terjadi 1586 sd 1587.

    Tahun 1590, dengan Mataram kembali memasuki Puråbåyå dengan pura-pura menyatakan takluk. Pasukan Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya tidak pernah berhasil mengalahkan Rêtnå Dumilah melalui perang tanding.

    Namun Puråbåyå berhasil takluk karena Rêtnå Dumilah dipersunting oleh Sutawijaya dan diboyong ke Kraton Mataram di Plèrèd Jogja. Ini akibat rayuan cêsplêng Sang Panêmbahan atas Rêtnå Dumilah.

    Dan sebagai peringatan atas penguasaan Mataram atas Puråbåyå tersebut, maka pada hari Jumat Legi tanggal 16 November 1590 nama Puråbåyå diganti menjadi Madiun.

    Hal ini yang menyebabkan kebudayaan Madiun lebih memiliki nuansa Mataraman daripada nuansa Surabaya, namun keduanya menjadi satu.

    Lha mana dongeng Panêmbahan Sênåpati dan Kanjêng Ratu Kidul yang lagi pacaran?

    Siapa sebenarnya Kanjêng Ratu Kidul?

    Mohon bersabar.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun Ki BAYU…..sugeng enjang,

    • Matur nuwun Ki Bayu.

    • Matur nuwun Ki Bayu, kulo tenggo dongeng toetoege.

  3. cantrik HADIR pak SATPAM…..selamat pagi sedayanya,

  4. matur nuwun Ki

  5. hadu….
    mulai pagi jaringan internet di padepokan putus-tus…..
    sehingga gak bisa monitor padepokan
    jam gini baru bisa nyambung

  6. Hadu……..

    dari tadi siang hujan terus rus…….

    sugeng dalu.

  7. Nuwun
    ||Sugêng énjang||

    Pada wedaran sebelumnya di sbb-27 [On 4 Februari 2012 at 07:11 cantrik bayuaji said:], didongengkan “Pertemuan” Panêmbahan Sénåpati dengan Kanjêng Ratu Kidul.

    Bagaimana Sang Panêmbahan begitu gêrêgêtan mesra kepada Sang Ratu Laut Selatan itu.

    Berikut cuplikan dari Babad Tanah Jawi ‘episode’ Panêmbahan Sénåpati:

    ||Têmbang Kinanthi||

    // Såyå tan déranéng kayun, astèng dyah cinandhak ririh, sang rêtnå sêndhu turirå, “Dhuh Pangéran mangké sakit, kadar tå arså punåpå, srita-sritu nyêpêng driji.” //

    Semakin lama hati Sang Sénåpati tidak tahan lagi, tangan Sang Dèwi dipegang perlahan-lahan, sang Rêtnå Dèwi berkata lembut manja, “Dhuh Pangeran nanti sakit, sebetulnya pangeran mau apa, tiba-tiba meremas-remas jari tanganku.”

    ……

    //Narpaning dyah lon sinambut, pinangku ngras kang pênapi, sang dyah tan lêngganèng karså, labêt wus katujwênggalih, jalmå-jalmå dérå ngantyå, pangajapan mangké panggih,//

    Sang Dèwi disambut perlahan, didudukkan di atas pangkuan Sang Panêmbahan, Sang Dyah Rêtnå Dèwi tidak kuasa menolak keinginan itu, hatinya berbunga-bunga tertuju kepada kekasih hati, terpenuhilah hasratnya selama ini.

    ||Têmbang Mijil||

    Atur gantyan manglungkên sing lathi, tinampèn wåjå lon, gêrêgêtan ginigit lathiné, sang dyah kagyat råkå sru pinulir, purnå kang karon sih, séwangan lêstantun.

    Bergantian keduanya memberi ciuman bibir, diterima gigi secara lembut perlahan, mencium menggigit mesra, Sang Dèwi begitu terpana pada Sang Kekasih Sénåpati. Puas bercumbu, berpisahlah keduanya.

    ….

    Ingin tahu dongengnya yang lebih “hangat”, dan bagaimana keberadaan sosok yang misterius ini, yang kerap dinafikan sekaligus dicari-cari orang?

    Tunggu dongeng berikutnya.
    Mohon bersabar.

    Hari ini Raditya Wage (Ahad), sejenak bercengkrama, bertugas menjadi ajudan dan pengawal pribadi cucu tersayang. Hiks.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • he he he ….. asiik…..
      selamat bertugas Ki Bayu ( menjadi MC = momong Cucu) sampun main kuda-kudaan njih, mangke encokipun kimat.

  8. asyiiik, maksyuuuk, monggo Ki, selamat momong

  9. Sugeng dalu.

  10. sugeng dalu.

    sugeng sare


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: