sbb-28

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 7 Februari 2012 at 00:01  Comments (15)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-28/trackback/

RSS feed for comments on this post.

15 KomentarTinggalkan komentar

  1. HADIR,

    • siji rek…….asiiiikkk,

      • asiiiikkk rek……..loyo..eh…loro,

        • Siiik…asik2an

          • hadir

          • Asiiiik2an rek……..
            hadir……

          • keASIK-an rek…..sampe kelalin absen,

  2. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

    Waosan kaping-8. Wedaran kaping-03
    KANJÊNG RATU KIDUL

    Siapa “tokoh” Kanjêng Ratu Kidul?
    Bagaimana dongengnya?

    Kanjêng Ratu Kidul adalah Dèwi Srêngéngé

    Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dèwi Srêngéngé yang berarti matahari yang indah. Dèwi Srêngéngé adalah anak dari Raja Munding Wangi.

    Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

    Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana.

    Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku“, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu,

    Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

    Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya.

    Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.

    Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

    Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya.

    Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara.

    Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

    Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia.

    Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan.

    Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang.

    Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya.

    Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Kanjêng Ratu Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.

    Kanjêng Ratu Kidul adalah Rêtnå Suwindå

    Babad Tanah Jawi (XXIV) Cariyos Prabu Bråwijåyå lan têdhak turunipun

    Gantos ingkang cinariyos Sang Prabu Bråwijåyå wontên ing Måjåpahit, saking karsanipun ingkang nganggit sêrat punikå aran ngaturakên ingkang nurunakên kawi-witan saking Karaton Jênggålå, ingkang jumênêng nåtå Radèn Rawisrênggå, pêputrå Radèn Laléyan jumênêng nåtå wontên ing Pajajaran, dangunipun 100 taun.

    Pêputrå Radèn Bondhansari, ugi lêstantun jumênêng nåtå wontên ing Pajajaran, pê-putrå Radèn Bondhanwangi pêputrå sêkawan.

    Ingkang pêmbarêp putri, ananging pikantuk supatanipun ingkang råmå dados wadat botên kénging pålå kråmå, tinundhung ingkang råmå lajêng mratåpå wontên rêdi, têmahan mêrnyanyang dados bangsanipun lêlêmbut, inggih punikå jumênêng ratu wontên ing sêgårå kidul, ingkang pinaraban Kanjêng Ratu Kidul.

    Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan bahwa putera kerajaan Pajajaran bernama Rêtnå Suwindå amat cantik. Dia senang bertapa sehingga banyak jejaka yang ditolaknya. Karena itu, sang raja menjadi marah karena puterinya tak segera menikah. Diusirlah sang Dewi dari kerajaan.

    Sang Dewi pun pergi ke Gunung Kombang dan bertapa di situ. Sampai-sampai dia mengubah penampilannya seperti laki-laki. Karena di atas gunung itu terdapat pohon Cêmårå, dia lalu bergelar Ajar Cêmårå Tunggal. Konon, pertapa ini adalah penguasa lelembut di seluruh tanah Jawa.

    Pada waktu itu ada jejaka bernama Radèn Sesuruh yang datang, meminta tolong pada Sang Pertapa. Di cerita itu, Sang Pertapa meminta Radèn Sesuruh untuk berkelana ke Timur ke arah Singasari, mencari buah maja yang berasa pahit. Jika menemukan buah itu, sang Radèn diminta memakannya dan mendirikan tempat tinggal di sekitarnya. Dimulai dari buah maja itulah, berdiri kerajaan Majapahit yang termasyhur itu.

    Suatu saat Ki Ajar Cêmårå Tunggal mengubah penampilannya menjadi sosok wanita cantik sehingga Radèn Sesuruh jatuh cinta. akan tetapi Sang Dewi menolaknya, karena Sang Pertapa ternyata bibi Djåkå Sesuruh.

    Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa di sana. Akhirnya, Sang Pertapa menjelma menjadi Kanjeng Ratu Kidul. Ratu gaib yang menguasai Jawa dan dipercayai menjadi istri mitis bagi Raja-raja di Jawa.

    Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian, dan meskipun dia tak mau dipersunting oleh Radèn Sesuruh, namun dia tetap berniat membantunya. Jika Radèn Sesuruh membutuhkan, dia akan membantu apa yang diinginkan.

    Dari kisah tersebut tampak bahwa Ratu Kidul memiliki kehebatan tertentu. Dia adalah sosok yang dipuja sejak kerajaan Majapahit belum berdiri, hingga kerajaan Mataram, sampai Kraton Ngayogyåkartå Hadiningrat sekarang.

    Generasi selanjutnya, Panêmbahan Sénåpati, pendiri Kerajaan Mataram, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan pasukan tentaranya untuk melawan Pajang. Meditasinya menarik perhatian Kanjêng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya.

    Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Pantai Parangkusumå.

    Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Sénåpati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan Kraton Suråkartå Hadiningrat dan Kraton Ngayogyåkartå Hadiningrat.

    Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjêng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Ngayogyåkartå Hadiningrat dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi kita tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah folklore.

    Kanjêng Ratu Kidul dan Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat

    Percayakah Ki Sanak dongeng Kanjêng Ratu Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian mungkin akan berkata tidak.

    Tapi kalau kita bertanya kepada mereka yang hidup dalam lingkungan Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat, khususnya dan sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini.

    Kebenaran akan cerita Kanjêng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Kanjêng Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Kraton Ngayogyåkartå Hadiningrat.

    Hubungan antara Kanjêng Ratu Kidul dan Kraton Ngayogyåkartå Hadiningrat paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi. Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?

    Masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.

    Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka budaya Jawa mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan Dlêpih, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjêng Ratu Kidul.

    Keraton Ngayogyåkartå Hadiningrat membagi struktur kehidupan menjadi mancapat. Keraton terletak di tengah, sedangkan di sebelah selatan adalah Ratu Kidul, utara adalah Gunung Merapi, sebelah timur Gunung Lawu diperlawankan dengan Kahyangan Dlepih.

    Keraton sebagai pancer (pusat kendali) selalu melakukan labuhan berupa pisungsung di empat wilayah tersebut. Keempat wilayah itu dipercaya sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam struktur keraton.

    Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Ngayogyakartå Hadiningrat. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.

    Bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Kanjên Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat måtå, Kanjêng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.

    Kepercayaan terhadap Kanjêng Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan Labuhan Alit Parangkusumå misalnya, sebuah upacara tradisional kraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Ngayogyåkartå Hadiningrat,

    Labuhan Alit Parangkusumå ini merupakan ritual yang digelar secara rutin di Pantai Parangkusumå setiap tanggal 30 bulan Rajab dalam kalender Jawa. Ritual ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Jumênêngan Dalêm (penobatan) Sri Sultan Hamengku Buwånå X.

    Adapun Labuhan Agêng Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat dilaksanakan setiap 8 tahun sekali atau setiap satu windu ini dan berlangsung setiap tahun Dal, dan seperti Labuhan Alit Parangkusumå, maka Labuhan Agêng Keraton Ngayogyakartå Hadiningrat ini tidak saja hanya dilakukan di Pantai Parangkusumå, namun juga dilakukan di Gunung Merapi, Gunung Lawu dan Dlêpih Kahyangan.

    Empat lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa tempat-tempat tersebut dahulu dipakai oleh raja-raja Mataram (terutama Panêmbahan) untuk bertapa dan berhubungan dengan roh halus.

    Pada mulanya, tradisi Labuhan dilakukan oleh Panêmbahan Sénåpati, Raja Mataram yang pertama, sebagai tanda syukur serta penghormatan Sénåpati terhadap Ratu Kidul dan Penguasa Merapi atas bantuan mereka dalam proses pendirian Kerajaan Mataram.

    Selain itu, ritual ini juga dilaksanakan untuk memperingati jasa rakyat kecil yang telah membantu Sénåpati membuka Alas Mêntaok, cikal bakal Kerajaan Mataram. Kemudian generasi penerus beliau tetap melestarikan tradisi Labuhan ini.

    Pada dasarnya inti dari prosesi Labuhan Alit Parangkusumå adalah melarung barang-barang tinggalan dalêm (milik Sultan) dan sesaji ke laut sebagai persembahan bagi penguasa Laut Selatan.

    Barang-barang milik Sultan yang dilarung antara lain baju, kain, potongan rambut, serta potongan kuku, uang, dan minyak yang semuanya dimuat dalam jodhang (usungan).

    Setelah barang-barang tersebut disemayamkan di Cêpuri Parangkusumå, kemudian akan dihanyutkan di laut oleh Abdi Dalêm. Dalam proses ini biasanya pengunjung akan ngalap bêrkah dengan berebutan menceburkan diri ke laut dan berusaha mendapatkan barang-barang tersebut.

    Upacara Labuhan Alit di Parangkusumå ini biasanya menjadi rangkaian pembuka upacara labuhan lainnya. Selain di Parangkusumå, pihak keraton juga melangsungkan prosesi Labuhan di Gunung Merapi (Labuhan Merapi), Gunung Lawu, dan juga di Dlêpih. Keempat tempat yang digunakan untuk melangsungkan labuhan tersebut melambangkan empat penjuru mata angin. Mancapat

    Prosesi Labuhan Alit Parangkusumå biasanya diawali dengan penyerahan ubå rampé labuhan dari pihak kraton Yagyakarta kepada mereka yang ditugaskan untuk melarung sehari sebelum pelaksanan Labuhan Alit.

    Selanjutnya ubå rampé yang berupa barang-barang Sultan dan sesaji tersebut dibawa ke pendopo Parangkusumå sebelum akhirnya dibawa ke Cêpuri Parangkusumå.

    Tempat yang dikeramatkan berukuran sekitar 15 x 15 m dengan 2 buah batu karang hitam di balik pagar temboknya ini dipercaya sebagai tempat pertemuan Sultan dengan Ratu Kidul.

    Selanjutnya di Cêpuri ini akan diadakan ritual doa dengan menghadap dua batu karang yang dipimpin oleh seorang juru kunci.

    Kepercayaan terhadap Kanjêng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bêdåyå Lambangsari dan Bêdåyå Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu.

    Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di kompleks Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar satu kilometer sebelah barat Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan Kanjêng Sultan dengan Kanjêng Ratu Kidul.

    Penghayatan mitos Kanjêng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak kraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu (Lihat selanjutnya Kanjêng Ratu Kidul vs Nyi Rårå Kidul).

    Kanjêng Ratu Kidul dan Kraton Suråkartå Hadiningrat

    Selain Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat, mitos Kanjêng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Kraton Suråkartå Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjêng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panêmbahan Sénåpati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka.

    Dan karena kedua kraton (Ngayogyåkartå Hadiningrat dan Suråkartå Hadiningrat) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat, Kraton Suråkartå Hadiningrat juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjêng Ratu Kidul.

    Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di kraton, Bêdåyå Kêtawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan jumênêngan (hari penobatan) para raja.

    Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya Sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.

    Panggung Sånggå Buwånå

    Salah satu sudut kraton Suråkartå Hadiningrat terdapat bangunan menara bertingkat yang diberi nama ‘Panggung Sånggå Buwånå’. Menara yang terletak di bagian timur keraton dipercaya sebagai tempat pertemuan antara Kanjêng Ratu Kidul dan para raja-raja. Tak jarang para raja meminta pertolongan dan ajian sakti dari sang ratu untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi di wilayah kerajaan.

    Waktu terus berlalu seiring perkembangan jaman, namun Kraton Suråkartå Hadiningrat masih berdiri megah dan tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat kota Solo dan sekitarnya sebagai bentuk kerajaan kecil yang masih tersisa di tanah Jawa.

    Hingga kini pun Panggung Sånggå Buwånå masih diyakini oleh penduduk Kota Solo sebagai balai pertemuan Raja Suråkartå Hadiningrat dengan Kanjêng Ratu Kidul. Begitu pula sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa Kanjêng Ratu Kidul masih berkuasa di lautan selatan. Hal ini terbukti dengan adanya ritual sedekah laut di pantai selatan setiap satu Muharam.

    Alkisah Paku Buwånå X yang merupakan suami Kanjêng Ratu Kidul sedang bermain asmara di Panggung Sånggå Buwånå. Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba Paku Buwånå X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan oleh Kanjêng Ratu Kidul.
    Dalam kekagetannya itu Kanjêng Ratu Kidul berseru: “Anakku ngGer……….

    Apa yang diucapkan oleh Kanjêng Ratu Kidul itu sebagai sabdå panditå ratu tan kênå wola-wali artinya sabda pendeta/raja, pantang boleh diulang, maka sejak saat itu hubungan mereka berdua bukanlah sebagai suami istri lagi tetapi hubungannya sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan Paku Buwånå X selanjutnya.

    Kanjêng Ratu Kidul di Pelabuhan Ratu

    Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Kunjungi saja sebuah hotel di tepi Pantai Selatan kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Sang Ratu Kidul.

    Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh Bung Karno.

    Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjêng Ratu Kidul, atau Nyi Rårå Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler.

    Bahkan banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

    Kanjêng Ratu Kidul vs Nyi Rårå Kidul

    Siapakah Penguasa Laut Selatan. Selama ini masyarakat ‘dikacaukan’ dengan anggapan bahwa Peguasa Laut Selatan adalah Nyi Rårå Kidul dan karena perbuatannya maka Penguasa Laut Selatan menjadi sangat menakutkan bagi masyarakat tertentu.

    Dalam ‘struktur’ pemerintahan Kraton Sêgårå Sèwu, Ratu Laut Selatan bukanlah Nyi Rårå Kidul yang selama ini di kenal oleh masyarakat, tapi melainkan Kanjêng Ratu Kidul. Dialah yang sebenarnya Penguasa Laut Selatan. Kanjêng Ratu Kidul adalah Raja atau Penguasa Laut selatan, sedangkan Nyi Rårå Kidul adalah Patihnya.

    Dan jika selama ini terjadi bencana atau mara bahaya, itu akibat ulah dan kenakalan Nyi Rårå Kidul, yang selama ini dianggap Penguasa Laut Selatan, dan bukan Kanjêng Ratu Kidul. Maka Kanjêng Ratu Kidul dan Nyi Rårå Kidul adalah dua pribadi yang berbeda.

    ånå toétoégé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun….selamat siang kadang padepokan

      • Matur nuwun …..sugeng dalu para kadhang.

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, sugeng dalu.

  3. matur sanget sembahnuwun Ki

  4. selamat siang sanak kadang sedaya

  5. Selamat malam sanak kadang sedaya.

    • Selamat malam-malam sanak kadang sedaya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: