SBB-33

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 22 Februari 2012 at 00:01  Comments (17)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb-33/trackback/

RSS feed for comments on this post.

17 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun
    ||Sugêng siyang||

    DONGENG ARKEOLOGI ANTROPOLOGI SERI PITUTUR ETIKA JAWA

    Katur pårå sanak kadang padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat sinu darsono ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh kautaman,

    Masih tentang wêwalêr : trah Kadilangu mempunyai pantangan untuk makan sayur yang berasal dari buah yang tergantung, seperti labu siyam.

    Seperti yang telah saya wedar sebelumnya:[On 19 Februari 2012 at 23:56 cantrik bayuaji said: SBB 32], bahwa wêwalêr tersebut di atas dan juga berbagai wêwalêr lainnya yang semacam itu dapat kita temui dalam bentuk-bentuk tradisi lesan, tutur-tinular, têmbang måcåpat, tingkah-laku, juga ditulis dalam kitab-kitab babad, dan kidung,

    Wêwalêr dapat berupa peringatan, perintah, larangan (pamali), atau sekedar pemberitahuan saja.

    Tetapi yang pasti bahwa wêwalêr sebagai suatu kearifan lokal yang disebut sebagai Etika Jawa , termuat dalam Ajaran Budhi, yang mempunyai nilai-nilai historis, sosiologis dan filosofis yang telah mengakar sangat kuat dan lama dalam masyarakat Jawa khususnya.

    Wêwalêr hampir dapat dipastikan dapat kita temui di seluruh Nusantara. Demikian halnya hampir di setiap komunitas etnis Jawa pada umumnya dan masyarakat pårå among tani di Tanah Jawa khususnya.

    Larangan, perintah atau peringatan pada umumnya tidak disampaikan secara terbuka atau secara lugas, tetapi disembunyikan dengan menggunakan kiasan-kiasan (pasêmon), dan karena pitutur itu berada di lingkungan masyarakat petani, adalah suatu hal wajar pula, bila pitutur itu disampaikan dengan mempergunakan terminologi yang ada kaitannya dengan dunia pertanian, yaitu tanah, air, tanam-tanaman dan peternakan, dan juga cuaca (mångså), wit = pohon, godong = daun, tandur = tanam, dangir = menyiangi, panen, petik = panen, hasil-hasilnya; woh = buah, buah-buahan; kembang, pari = padi, susu, madu, êndog = telur, udan = hujan. dsbnya, seperti yang dicontohkan di atas. woh labu siyêm (buah labu siyan).

    Contoh-contoh lainnya antara lain:

    1. Didodog lawangé, dikinang jambé suruhé.
    jambé = pinang (Areca catechu) pineung (Aceh), pining (Batak Toba), pénang (Madura), jambé (Jawa, Sunda), yang dicampur dengan ‘asesoris ‘ (sirih, gambir, ênjêt kapur, susur) jadilah untuk nginang.

    2. Batok bolu isi madu.
    Batok = tempurung kelapa.

    3. Ésuk dêlé soré témpé.
    dêlé = kedelai.

    4. Kêbo nusu gudèl.
    Kêbo = (Induk) Kerbau. Gudèl = anak kerbau.

    5. Lahang karoban manis.
    Lahang = air nira (sadapan air bunga aren, kelapa), rasanya sangat manis.

    6. Abangé kåyå godong katirah.
    katirah = kerabat dekat Girang Merah (Leea indica (Burm.F.) Merr), daunnya berwarnah merah.

    7. Kêpinginé kåyå nyidam cêmpaluk.
    cêmpaluk = buah asam muda (asam, tamarindus indica).

    Boleh jadi kita akan mengernyitkan dahi kita ketika membaca kalimat-kalimat yang dicontohkan di atas. Apa maksudnya?

    Di sinilah, seperti yang saya sampaikan pada wedaran sebelumnya, bahwa ketika kita membaca wêwalêr dan ketika kita menterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, dan di dalam kita mensikapinya. Kita perlu kearifan yang tinggi.

    Hendaknya kita dengan arif dalam artian tidak serta-merta memberi stigma dan terjebak dalam konotasi yang dianggap oleh orang-orang tertentu bahwa pitutur itu adalah tahayul (superstitious). mistis, dan klenik, dalam arti yang telah diselewengkan.

    Seperti contoh di atas:

    trah Kadilangu mempunyai pantangan untuk makan sayur yang berasal dari buah yang tergantung, seperti labu siyam

    [Labu siam, labu siyam (Sechium edule); Inggris: chayote; Orang Sunda menamakannya lèjèt dan orang Jawa mengenalnya sebagai jipang,. Tergolong tumbuhan suku labu-labuan atau Cucurbitaceae.],

    Benarkah labu siyam menjadi pantangan trah Kadilangu?

    Bukankah labu siyam, hukum asalnya adalah benda yang mubah, bahkan dihalalkan untuk dimakan (kecuali bila diperoleh dengan cara yang haram).

    Ditinjau dari segi kesehatan, labu siyam adalah makanan yang sangat diperlukan bagi tubuh. Kandungan serat dalam labu siyam bila dikonsumsi dalam jumlah yang cukup sangat baik untuk mengatasi sembelit dan aman untuk lambung yang sensitif atau radang usus, dapat mengurangi risiko penyakit kanker yang disebabkan sistem pencernaan yang tidak sempurna.

    Lalu apa maksud pamali/pantangan atau larangan ini?

    Kemudian:

    Batok bulu isi madu:
    Batok (tempurung kelapa) berisikan madu? Mana ada tempurung kelapa beisikan madu. Apa maksudnya?

    Lalu:
    Kêbo nusu gudèl.
    Mana ada kêbo (induk kerbau), menyusu pada gudèl (anak kerbau). Apa maksudnya?

    Yang lainnya?

    Tunggu jawabannya pada wedaran berikutnya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun…
      akhirnya…., ada yang masuk gandok setelah 14 dibuka
      he he he …..
      sugeng siang Ki Bayu

    • Dongengipun sampun kulo simpen, matur nuwun.

    • Matur nuwun Ki Bayu,

      Di jaman sekarang nampaknya pasemon KEBO NYUSU GUDEL masih berlaku lho Ki Bayu.
      Hal ini menyangkut para artis cilik yang katanya/konon/gosipnya/desas desusnya “diperas” orang tuanya, tentu saja dengan alasan menyalurkan bakat
      Selain di layar kaca, Gudel2 ini juga sering kita saksikan di pinggiran jalan, Gudel2 beraksi menadahkan tangan, si Kebo (biasanya betina) nungguin ditrotoar.

      mangan kupat neng Kedungdara
      menawi lepat nyuwun agunging apura.

      • Gudèl. dan kêbonya lucu-lucu Ki.

        Sugêng dalu

  2. Sugeng dalu para sedulur sedaya.

  3. We lha Ki Menggung kok absent to….?????

    Saya hadiiiirrrrrr…………..!!!!!!!!!!!!!!!
    sugeng dalu.

    • HIKSSsss,

      • sugeng dalu ki GEMBLEH, kisanak nisanak SADAYA

        • BELOM PADA HADIR……SUGENG DALU

          pake bold lebih kereeee,

          • hadu, ngapunten kurang hurun (N)
            yang betol begiNI :

            BELOM PADA HADIR……SUGENG DALU

            pake bold lebih kereeeennnn,

          • pak SATPAM sing kleru disetip ae…..hikss,

            konangan ki GEMBLEH bisa dijiTAK nanti
            okey….pak SATPAM, silahkan…..disetip.

          • okeh…..okeh………
            don worih, setip siji setip kabeh.

          • walah….
            kalau istip nanti tambah kacau
            komen gak urut
            biar aja….
            he he he …..

  4. Sugeng dalu para kadang sedaya,
    sugeng wiken katur ingkang ngayahi.

  5. Agama ageming budi
    rasa wirang mbuh wus mlayu ana ngendi
    yen ditakoni pak Hakim wangsulane ora ngerti
    apel Malang apel Washington dadi gegayuhan kang utami

  6. Hadir …………………..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: