SBB_05

kembali | lanjut >>

Mohon maaf, seperti halnya (SBB-04), kali ini kami juga tidak bisa membuat SBB-05, sehingga kami modifikasi lagi menjadi SBB_05.

nuwun

satpampelangi

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 30 November 2011 at 00:01  Comments (18)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/sbb_05/trackback/

RSS feed for comments on this post.

18 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugêng énjang

  2. 2

  3. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI MATARAM

    DANANG SUTÅWIJÅYÅ
    — de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå —

    Waosan kaping-1:
    PERSETERUAN PAJANG DAN JIPANG (Wêdaran kaping-4)

    Sayembara Adipati Pajang.

    Tiga bulan kemudian, beberapa hari sebelum hari yang telah ditetapkan dalam surat undangan resmi, berdatanganlah para akuwu yang ada diseluruh wilayah Kadipaten Pajang. Mereka datang berkelompok, tidak bersamaan, gelombang pergelombang. Tidak ada yang mencolok. Karena memang begitulah pesan yang dituliskan dalam surat undangan dari Sang Adipati.

    Dan pada hari yang ditetapkan, seluruh akuwu telah berkumpul di Siti Hinggil Kadipaten. Lama waktu berselang, mereka semua menunggu kehadiran Sang Adipati di tempat itu.

    Beberapa saat kemudian, muncullah Adipati Hadiwijåyå diiringi Ki Mas Måncå dan kepala pengawal pasukan khusus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, berikut beberapa prajurit khusus yang mengawal.

    Didepan para akuwu, Adipati Hadiwijåyå meminta Ki Mas Måncå membacakan sayembara. Seusai sayembara dibaca, suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bersuara. Melihat keadaan menjadi sepi dan tegang,

    Adipati Hadiwijåyå angkat bicara, dia mempertegas isi sayembara dengan menantang, siapa yang berani tampil ke depan, yang akan memimpin pasukan Pajang, dengan menggunakan ciri-ciri dari pakuwonnya?

    Suasana sepi tidak juga mencair. Hingga kemudian, seorang akuwu, maju ke depan dan menyembah seraya berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng Adipati. Ijinkan saya mengutarakan kebimbangan saya, yang mungkin juga mewakili kebimbangan hati dari para akuwu yang hadir disini. Kanjêng, jika kami semua diperintahkan angkat senjata menggempur Jipang atas nama pasukan Pajang, sudah barang tentu, kami tidak akan banyak berfikir panjang, jiwa raga kami akan kami pasrahkan untuk itu. Namun, manakala kami harus menggempur Jipang atas nama pakuwon kami, mohon maaf, Kanjêng. Jika nanti benar-benar terjadi hal tersebut, kami tidak berani menanggung akibatnya dengan mengorbankan rakyat dan sanak kadang kerabat kami yang ada di pakuwon kami. Mohon Kanjêng memaklumi.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas. Kata-kata yang terucap dari seseorang itu memang ada benarnya. Karena tidak ada juga yang berani memasuki sayembara, maka Adipati Hadiwijåyåpun menutup pertemuan tersebut.

    Sebelum menutup pertemuan, Sang Adipati meminta pengiriman pasukan dari semua pakuwon untuk memperkuat barisan pasukan Pajang. Perintah yang terakhir ini, disambut dengan suka cita tanpa keraguan sedikitpun oleh semua akuwu yang hadir.

    Mendapati sayembara yang dipermaklumatkan tidak ada yang menanggapinya, maka hari itu juga, Adipati Hadiwijåyå mengutus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani untuk menjalankan siasat lain yang pernah mereka tawarkan. Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, segera menjalankan perintah.

    Jajaran tentara Kadipaten Pajang segera mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah perang besar. Mereka ditempatkan langsung di bawah pimpinan penuh Ki Agêng Pêmanahan. Sembari menunggu bantuan pasukan dari daerah-daerah, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mematangkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.

    Atas saran Ki Juru Martani, Ki Agêng Pêmanahan diminta untuk mengusahakan agar Tombak Pusaka Kyai Plèrèd, bisa mereka pinjam. Karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Aryå Pênangsang bisa dilukai.

    Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Hadiwijåyå dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati. Maka terpaksa, Ki Agêng Pêmanahan, atas saran Ki Juru Martani, meminta agar Danang Sutåwijåyå, putranya yang kini telah diambil anak angkat oleh Adipati Hadiwijåyå, diminta untuk ikut memperkuat barisan.

    [Sejarah mencatat bahwa Danang Sutåwijåyå diangkat anak oleh Hadiwijåyå sebagai pancingan, karena pernikahan Hadiwijåyå dan istrinya sampai saat itu belum dikaruniai anak. Sutåwijåyå kemudian diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar sehingga ia pun terkenal dengan sebutan Radèn Ngabéhi Loring Pasar.]

    Adipati Hadiwijåyå tidak mengerti atas permintaan ini, selain Danang Sutåwijåyå masih kecil, tidak ada kelebihan Danang Sutåwijåyå yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat barisan Pajang.

    Namun, dengan cerdiknya, Ki Agêng Pêmanahan meyakinkan Adipati Hadiwijåyå, bahwa mengajak Danang Sutåwijåyå untuk memperkuat barisan Pajang adalah salah satu dari rencana yang hendak dijalankan.

    Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyå menyetujui. Bahkan manakala Ki Agêng Pêmanahan memohon agar Danang Sutåwijåyå diperkenankan membawa tombak pusaka Kyai Plèrèd, Sang Adipatipun tidak bisa menolaknya.

    Setelah bantuan pasukan dari daerah telah sepenuhnya datang, maka pasukan segera berangkat. Tujuan awal adalah daerah Sélå. Daerah asal Ki Agêng Pêmanahan. Di sana, seluruh pasukan akan diatur sedemikian rupa. Sélå menjadi daerah pemusatan pasukan Pajang, tetapi seluruh ciri-ciri pasukan Pajang akan berganti menjadi pasukan Sélå.

    Akan dikabarkan, bahwa pengikut Santri Abangan, bergabung di Sélå untuk memerangi Jipang Panolan dibawah pimpinan Ki Agêng Pêmanahan, keturunan Ki Agêng Sélå. Nama Pajang, tidak sedikitpun dibawa-bawa.

    Pasukan segera berangkat berkelompok menuju Sélå. Dengan berpakaian rakyat biasa serta menyembunyikan seluruh persenjataan didalam bilah bambu, maka kelompok demi kelompok, secara terpisah-pisah waktu, agar supaya tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan, berangkatlah seluruh pasukan Pajang.

    Pergerakan pasukan ini benar-benar tersamarkan. Susul menyusul rapih dan teratur. Dan pada akhirnya, beribu-ribu pasukan pun kini telah berkumpul di Sélå.

    Rencana segera dimatangkan di Sélå. Seluruh pasukan mengenakan tanda khusus yang disematkan dibaju mereka. Dengan pakaian rakyat biasa, layaknya para pasukan têlik sandhi, pasukan Pajang yang kini mengaku diri mereka sebagai pasukan Sélå, telah siap untuk bertempur.

    Pada hari yang telah ditentukan, menjelang malam hari, pasukanpun bergerak. Pasukan dipecah dalam empat kelompok besar. Sengaja pasukan dipecah demi untuk kembali menyamarkan diri. Disuatu titik, yaitu diperbatasan wilayah Jipang yang berwujud sungai, disanalah, kelompok-kelompok pasukan harus kembali bertemu.

    Setiap kelompok pasukan menempuh jalur khusus. Jaklur-jalur ini sengaja dilakukan menghindari daerah-daerah padat penduduk. Beberapa hari kemudian, seluruh kelompok telah bersatu kembali ditempat yang telah disepakati bersama.

    Seluruh pasukan segera mempersiapkan diri, senjata-senjata dikeluarkan dari bilah bambu, anak panah dibagi-bagikan, Titik-titik penempatan prajurit ditetapkan dan segera ditempati oleh mereka-mereka yang ditunjuk untuk itu. Gerakan rahasia ini begitu rapi, sebentar saja, persiapan untuk sebuah perang besar, telah tertata. Pasukan Pajang siap melumat Jipang Panolan hari itu juga. Seluruh prajurit kini menunggu perintah selanjutnya.

    Di titik yang lebih tersembunyi, terlindung dibalik pepohonan lebat, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani tengah menunggu saat yang tepat. Nampak Danang Sutåwijåyå, putra Ki Agêng Pêmanahan, putra angkat Adipati Pajang Hadiwijåyå telah mempersiapkan diri menjalankan tugas.

    Dia berdiri disamping kuda putih yang nanti harus ditungganginya. Sebatang tombak panjang, dengan ujung tertutup kain putih dan rangkaian bunga melati tergantung di sana, tergenggam erat ditangan kecil Danang Sutåwijåyå. Itulah tombak pusaka Kyai Plèrèd yang terkenal ampuh.

    Ada yang tampak aneh dari kuda putih yang tali kekangnya tengah dipegang oleh Danang Sutåwijåyå. Kuda tersebut jelas bukanlah kuda jantan yang biasa dipakai untuk bertempur. Kuda ini jelas kuda betina. Dan tampak semakin aneh lagi, manakala diperhatikan lebih seksama, ekor kuda terlihat diikat keatas pelana sedemikian rupa, sehingga kemaluan kuda betina itu nampak terbuka jelas. Ki Juru Martanilah yang mempunyai rencana itu.

    Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan tengah bersiap-siap mengirimkan seorang utusan yang hendak diutus ke Jipang. Utusan yang membawa surat tantangan perang. Namun, belum juga sang utusan berangkat, nampak dari kejauhan, di seberang sungai, tujuh orang tukang rumput berpakaian bagus terlihat tengah berjalan di tepian sungai sembari membawa keranjang rumput.

    Ki Juru Martani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, ketujuh orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput, pêkatik Kadipaten Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Aryå Pênangsang, Kyai Gagak Rimang.

    Cepat Ki Juru Martani memerintahkan agar Ki Agêng Pêmanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Martani memberikan petunjuk singkat.

    Ki Agêng Pêmanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Martani memberikan petunjuk kepada Kepala Pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.

    Tak berapa lama, nampak Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal di bawah. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, tujuh orang tukang rumput terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil-manggil mereka. Seketika ketujuh perumput ini menghentikan langkah kakinya.

    Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing.

    Kisanak, buat siapakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Martani.

    Salah seorang perumput menjawab: “Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjêng Aryå Jipang.

    Ki Juru Martani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya. “Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?

    Ketujuh orang saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya: “Kalian orang mana?

    Ki Agêng Pêmanahan menjawab: “Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sélå.

    Ragu ketujuh orang tersebut. “Siapakah yang mau aku titipi?,” sergah Ki Juru Martani.

    Agak ragu, salah seorang perumput mendekat.“Baiklah, mana?

    Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya.

    Ki Juru Martani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.

    Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan di pinggang sang perumput, cepat Ki Agêng Pêmanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut.

    Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga. Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur. Melihat kejadian itu, keenam perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri.

    Babad Tanah Jawi dengan têmbang Pangkur, mengabarkan:

    pakathik sigrå tjinandhak | kupingirå sasisih wus dinawir

    Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya.

    Sembari memegang keris, Ki Agêng Pêmanahan berkata: “Katakan kepada Aryå Pênangsang. Aku, orang Sélå menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang.

    Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Agêng Pêmanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah.

    Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula.

    Aryå Pênangsang Pralåyå

    Pada saat Adipati Hadiwijåyå bertahta di Kerajaan Pajang, beliau merasa prihatin atas penderitaan Nyai Kalinyamat yang bertapa lantaran dendamnya terhadap Aryå Pênangsang. Oleh Adipati Hadiwijåyå, Nyai Kalinyamat lalu dibujuk agar mau pulang ke Pajang.

    Namun, Nyai Kalinyamat menolaknya. Ia baru bersedia kembali ke Pajang asalkan Aryå Pênangsang dibunuh. Adipati Hadiwijåyå menyanggupi permintaan tersebut.

    Ketika telah berada di Pajang, segeralah Kanjêng Adipati Hadiwijåyå memikirkan cara yang akan ditempuh untuk mengalahkan dan membunuh Aryå Pênangsang. Pekerjaan itu tidak mudah, sebab Aryå Pênangsang terkenal sangat sakti dan mempunyai keris pusaka yang sangat ampuh bernama Kyai Brongot Sêtan Kobèr.

    Tiap hari Kanjêng Adipati selalu memikirkannya, tetapi belum juga menemukan cara yang dianggap baik. Akhirnya, setelah sekian lama tidak juga menemukan caranya, lalu dipanggillah kedua patihnya, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi, untuk diajak berunding.

    Setelah keduanya menghadap, Kanjêng Adipati mulai menceritakan persoalannya. Singkat cerita, di hadapan Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi, Kanjêng Adipati menjanjikan ganjaran berupa tanah di Pati dan tanah yang terletak di hutan Mentaok apabila mereka berhasil membunuh Aryå Pênangsang.

    Setelah itu, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi berunding. Dalam perundingan itu, Ki Agêng Pêmanahan menyampaikan pendapatnya kepada Ki Pênjawi, bahwa tidak ada orang lain yang mampu membunuh Aryå Pênangsang selain Danang Sutåwijåyå. Ki Pênjawi pun sependapat dengan Ki Agêng Pêmanahan.

    Danang Sutåwijåyå sebenarnya adalah anak kandung Ki Agêng Pêmanahan, tetapi sejak kecil telah dijadikan sebagai anak angkat oleh Kanjêng Adipati Hadiwijåyå. Ia adalah seorang pemuda yang cakap, serta menguasai olah kanuragan.

    Kemudian, Ki Agêng Pêmanahan memanggil Danang Sutåwijåyå untuk memberinya tugas membunuh Aryå Pênangsang. Danang Sutåwijåyå pun menyetujuinya.

    Dalam percakapan tersebut Ki Agêng Pêmanahan memberikan nasihat dan petunjuk agar Danang Sutåwijåyå dapat memenangkan pertarungan melawan Aryå Pênangsang, yaitu janganlah sekali-kali mendahului lawan mencebur Sungai Bengawan, apalagi menyeberanginya.

    Apabila ia nekat mendahului mencebur Sungai Bengawan, maka ia pasti kalah. Konon, apabila terjadi peperangan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai akan kalah; jangan mudah terpancing oleh lawan.

    Bagaimanapun tingkah laku Aryå Pênangsang, Danang Sutåwijåyå harus tetap berada di pinggir Kali Bengawan. Disiasati Ki Agêng Pêmanahan, Danang Sutåwijåyå harus memakai kuda betina.
    Sebagai kelengkapan untuk bertempur melawan Aryå Pênangsang,

    Danang Sutåwijåyå dibekali senjata pusaka berupa sebuah tombak yang bernama Kyai Plèrèd.

    Ki Agêng Pêmanahan, Ki Pênjawi dan Danang Sutåwijåyå kemudian berunding untuk mencari cara agar Aryå Pênangsang dapat ditaklukkan.

    Dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi akan pergi ke Jipang untuk memancing Aryå Pênangsang agar bersedia bertarung di Sungai Bengawan.

    Sementara Danang Sutåwijåyå disuruh untuk bersiap-siap menghadapi Aryå Pênangsang di tepi Sungai Bengawan.

    Keesokan harinya, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Pênjawi berangkat ke Jipang untuk memancing kemarahan Aryå Pênangsang. Sampai di sana mereka bertemu dengan seorang pêkatik yang sedang mencari rumput.

    Melihat pêkatik itu Ki Agêng Pêmanahan memanggilnya dan langsung memotong telinga si pêkatik, dan mengikatkan sepucuk surat di telinga yang satunya.

    Sesudah itu si pêkatik disuruh pulang untuk menyerahkan surat tersebut kepada Aryå Pênangsang. Adapun isi surat itu adalah tantangan kepada Aryå Pênangsang untuk bertarung di Sungai Bengawan.

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • 3……matur nuwun,

    • matur suwun dulu,
      ngintip dulu
      belum sempat baca isinya
      harus segera berangkat nih

      sugêng énjing..

    • 4 matur nuwun Ki Bayu.

  4. Keri dhewe . ………….

    Sugeng siang ….

    Nuwun .

    • selamat MALAM……HADIR,

      • Kamangka gek bengi lawange tak gedhar gedhor lho..!!
        Tetep ora dibukak’ke……….!!!!!!

        Sugeng dalu Ki Menggung,
        Sugeng dalu pak Satpam,
        Sugeng dalu para kadhang.

  5. selamat siang…..HADIR,

  6. Sugêng dalu

    • Sugêng dalu ki

      • Sugeng dalu ugi Ki Bayu dalah pak Satpam.

  7. link aneh, dihapus……
    admin

    • link aneh, dihapus……
      admin

      • Wooo o.o…..indahnya

  8. Hadu…..
    PC di padepokan kena virus rupanya
    dua hari tidak bisa konek internet, satpam pikir karena jaringan yang tidak bagus.
    hmmmm…, ini harus gunakan laptop untuk mengawasi sanak kadang yang “blusak-blusuk” di padepokan.
    semua bahan ada di PC yang sekarang sedang dikarantina, sementara istirahat…, asiik…………
    he he he ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: