Seri II : Sepasang Ular Naga di Satu Sarang

KARYA : SH. MINTARDJA

SEPERCIK DARAH telah membasahi tahta Singasari, seperti juga saat tahta Tumapel jatuh ketangan Ken Arok, yang kemudian berhasil mempersatukan Singasari dan menjadi seorang raja yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi

Kini Sri Rajasa telah disingkirkan dengan cara yang sama seperti ia menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung, meskipun dengan alasan yang agak berbeda, oleh Anusapati.

Maka mulai terbuktilah ucapan Empu Gandring sebelum saat meninggalnya oleh tangan Ken Arok dengan keris buatannya sendiri yang minta kepada Ken Arok itu, bahwa sebaiknya keris yang telah dilumuri dengan darah Empu Gandring itu sendiri, dihancurkan saja, karena disaat mendatang keris itu akan menjilat darah orang lain lagi. Dan orang itu adalah Ken Arok sendiri.

“Apakah keris itu sudah akan berhenti menitikkan darah?”

Tidak seorang pun yang mengetahuinya bahwa keris seakan beruntun menghisap darah, karena Ken Arok yang langsung mendengarnya dari Empu Gandring tidak mengatakannya kepada Anusapati pada saat terakhir.

Namun agaknya Anusapati sendiri selalu dibayangi olehi kecemasan dan keragu-raguan, apakah tidak ada dendam yang menyala di dalam istana Singasari itu. Karena itu, maka keris itu pun disimpannya baik-baik.

Sebenarnyalah bahwa Tohjaya putera Ken Arok dari isterinya Ken Umang, yang kehilangan ayahandanya benar-benar telah di cengkam oleh dendam yang membara di dalam dadanya. Ia memutuskan di dalam hatinya, bahwa pengalasan Batil itu adalah utusan Anusapati yang kemudian dibinasakan sendiri untuk melenyapkan jejak pembunuhan itu.

Namun untuk sementara Tohjaya tidak dapat berbuat apa apa. Ia harus tunduk kepada keadaan. Ternyata bahwa pengaruh Anusapati cukup kuat untuk menguasai seluruh Singasari, meskipun hidupnya sendiri selalu dibayangi oleh kecemasan.

Dalam pada itu, Ken Umang yang menjadi sangat bersedih bukan saja karena kematian Sri Rajasa, tetapi karena dengan demikian hilangnya semua harapannya untuk mengangkat Toh jaya menjadi putera Mahkota, masih saja dibakar oleh nafsunya. Ia tidak menjadi putus asa, bahwa Tohjaya tidak dapat menduduki jabatan Putera Mahkota. Ken Umang sadar bahwa pada saatnya Anusapati tentu akan mengangkat anak laki-lakinya untuk jabatan itu, sehingga apabila ia lenyap dari merintahan, anak laki-lakinyalah yang akan menduduki tahta Singasari. Ia adalah keturunan Ken Dedes. Bukan keturunan Ken Umang.

Sedangkan anak laki-anak Anusapati yang bernama Ranggawuni itu setiap hari tumbuh dengan suburnya. Ia menjadi se orang anak laki-laki yang tampan dan kuat. Meskipun usianya masih sangat muda, namun ia mewarisi kelebihan ayahnya. Dengan pesat ia maju di dalam olah kanuragan dan ilmu kejiwaan. Ia cepat menguasai segala macam tata gerak yang diajarkan, tetapi ia juga dengan cepat menguasai ilmu kesusasteraan, ilmu cacah dan ilmu perbintangan.

Demikian juga adik sepupunya, yang meskipun agak lebih muda, tetapi nakalnya bukan main. Anak laki-laki Mahisa Wonga Teleng itu pun tumbuh cepat seperti Ranggawuni.

Sejak masih kanak-kanak keduanya bagaikan tidak terpisahkan. Ranggawuni dengan Mahisa Cempaka. Bahkan keduanya seperti kakak beradik yang lahir berurutan. Bentuk tubuhnya, wajahnya dan kesenangannya hampir tidak berbeda.

Demikianlah keduanya merupakan isi dari halaman istana Singasari yang mengasikkan. Setiap prajurit yang bertugas di halaman istana, tentu akan tersenyum melihat keduanya berlari-lari berkejar-kejaran. Para pengasuh dan pengawalnya memandangnya saja dari kejauhan, jika keduanya menjadi semakin jauh barulah mereka mengikutinya. Dan rasa-rasanya halaman Singasari itu adalah suatu daerah yang paling aman dan damai di permukaan bumi, sehingga keduanya tidak usah kuatir bahwa pada suatu saat mereka akan mengalami bencana.

Tetapi sebenarnyalah tidak demikian. Di sebelah dinding yang memisahkan dua bagian istana Singasari, terdapat timbunan dendam yang menyala. Tetapi Ken Umang dan anak-anaknya ternyata mampu mengendalikan diri. Di dalam kehidupannya sehari-hari seakan-akan mereka dengan ikhlas menerima kenyataan itu. Seakan-akan mereka sama sekali tidak mempunyai niat apapun juga sepeninggal Ken Arok. Namun sebenarnyalah bahwa Ken Umang telah menyusun rencana yang paling berbahaya bagi keseluruhan Anusapati.

“Aku harus menempuh jalan lain” berkata Ken Umang di dalam hati. “Jika aku tidak dapat lagi mengharap bahwa Tohjaya akan menduduki jabatan Putera Mahkota, maka jalan yang paling baik adalah menyingkirkan Anusapati. Tahta Singasari harus jatuh ketangan Tohjaya dengan cara yang sama pula. Seperti jatuhnya tahta Tumapel dan Tahta Sri Rajasa.”

Tetapi Ken Umang tidak kehilangan akal dan berbuat tergesa-gesa. Ia cukup sabar menunggu saat-saat yang menguntungkan baginya dan bagi anaknya.

Karena itulah, maka yang tampak di dalam kehidupannya sehari-hari adalah sifat yang se-akan-akan telah berubah sama sekali. Hampir seluruh penghuni istana dan para juru taman dan hamba yang lain menganggap bahwa Ken Umang telah berubah sama sekali.

“Kini ia menjadi seorang yang baik” desis seorang juru panebah,

“Ya. Ia sekarang menumpang kamukten pada anak tirinya yang sebelumnya sangat dibencinya. Namun agaknya kebaikan hati Anusapati telah menyentuh perasaannya, dan ia tidak dapat berbuat lain daripada mengucapkan terima kasih kepadanya. “ sahut seorang emban.

“Mudah-mudahan sifat itu tidak segera berubah lagi” desis yang lain.

Demikianlah untuk beberapa lamanya, seakan-akan istana Singasari telah menjadi aman dan damai. Seakan-akan tidak ada persoalan lagi yang dapat membahayakan kesatuan dan kedamaian di seluruh negeri.

Dengan sepenuh hati Rakyat Singasari dapat melakukan kerjanya se-hari-hari. Yang bekerja di sawah dengan tekun mengerjakan sawah dan ladangnya. Beberapa orang yang merasa bahwa tanah garapan mereka menjadi kian sempit karena turun temurun yang lahir beruntun, segera memperluas tanah mereka dengan menebang hutan, sehingga dengan demikian maka se-akan-akan Singasari menjadi semakin lama semakin luas.

Hutan belantara yang bertebaran hampir di seluruh negeri merupakan daerah perluasan yang tanpa merugikan pihak mana pun juga. Usaha perluasan yang demikian bukannya usaha perluasan daerah dan jajahan. Tetapi perluasan yang benar-benar bersih dari perselisihan dan apalagi bentrokan berdarah kareca hutan masih sangat luas dan tidak bertuan.

Namun kadang-kadang dapat juga timbul persoalan. Apabila daerah itu merupakan sarang dari sekelompok penjahat yang tidak diketahui lebih dahulu. Namun perselisihan yang demikian biasanya akan segera dapat diselesaikan, karena apabila laporan tentang hal itu sampai di Istana Singasari, maka Anusapati pun segera mengirimkan sepasukan prajurit untuk mengusir para penjahat itu.

Dihalaman istana, kecerahan itu nampak pada kedua anak-anak yang sedang tumbuh dengan suburnya. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Seperti Anusapati, maka keduanya dekat dengan Mahisa Agni. Dan seperti Anusapati, keduanya pun mendapat tuntunan olah kanuragan dari Mahisa Agni pula.

Sesuai dengan usia mereka berdua, maka Mahisa Agni pun mulai dengan tata gerak yang nampaknya seperti permainan yang mengasikkan. Permainan yang merupakan pendahuluan dari tata gerak yang sangat sederhana sebelum memulai dengan mempelajari ilmu olah kanuragan yang sebenarnya.

Dan ternyata tuntunan yang dilakukan oleh Mahisa Agni itu sangat digemari oleh kedua anak-anak yang masih sangat muda itu, sehingga hubungan mereka dengan Mahisa Agni seperti hubungan mereka dengan orang tua sendiri.

Tetapi Mahisa Agni tidak selalu berada di Singasari. Ia masih memangku jabatannya yang lama. Setiap kali ia masih harus pergi ke Kediri. Namun tidak seperti pada jaman pemerintahan Sri Rajasa, maka ia kini dapat datang ke Singasari setiap saat, dan untuk waktu yang dikehendakinya. Meskipun demikian ia tidak mengabaikan tugasnya. Ia tetap melakukannya dengan sebaik-baiknya seperti yang dilakukan pada masa pemerintahan Ken Arok. Dan bagi rakyat Kediri pun sama sekali tidak menimbulkan persoalan, apalagi prasangka karena sikap Mahisa Agni itu.

Meskipun demikian, meskipun tidak setiap hari Mahisa Agni ada di Singasari, namun Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak pernah melupakan latihan2 yang telah diterimanya. Meskipun kebetulan Mahisa Agni tidak ada di Singasari, mereka berlatih terus di bawah pengawasan ayahanda mereka Kadang-kadang Anusapati sendiri di dalam waktu-waktunya yang senggang kadang-kadang Mahisa Wonga Teleng.

Perkembangan kedua anakanak itu di bidang kanuragan sangat memberi kebanggaan kepada orang tua masing-masing.

Namun dalam pada itu, dalam ketenangan dan kedamaian yang nampak, Anusapati selalu diliputi oleh kecemasan dan was-was. Bayangan kematian Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak dapat lenyap dari hatinya. Meskipun ia sama sekali tidak dengan pasti berusaha membunuh Sri Rajasa, namun ia merasa bahwa sebenarnyalah hasrat itu memang ada di dalam dirinya meskipun hanya sepercik kecil. Dan yang sepercik kecil itulah yang se-akan-akan selalu mengejarnya sampai saat itu..

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 28 Desember 2009 at 23:48  Komentar Dinonaktifkan pada Seri II : Sepasang Ular Naga di Satu Sarang  
%d blogger menyukai ini: