Seri III :Panasnya Bunga Mekar

CERAHNYA matahari pagi telah mewarnai Singasari. Seolah­olah tidak ada lagi kesulitan yang bakal mengabut di seluruh daerah Singasari sepeninggal Linggapati den Empu Baladatu.

Niat sepasang anak muda yang memerintah Singasari untuk mengangkat Mahisa Bungalan menjadi seorang Senapati, telah diterima dengan senang hati. Bukan saja oleh Mahisa Bungalan dan ayahnya Mahendra, tetapi juga oleh para prajurit dan Senapati yang lain  yang telah melihat apa yang pernah dilakukan oleh anak muda itu.

Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan masih mohon kesempatan untuk memuaskan masa-masa mudanya dengan bertualang. Jika ia sudah menerima pengangkatannya, maka ia akan terikat. Ia akan berada di suatu tempat bersama sepasukan prajurit untuk melakukan tugas-tugas tertentu. Sulit baginva untuk meninggalkan pasukannva, menjelajahi padesan, bagaikan menghitung setiap pintu rumah.

Kau memerlukan waktu berapa hari?” bertanya Ranggawuni.

Mungkin sebulan, tetapi mungkin setahun tuanku.” ­jawab Mahisa Bungalan.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyadari bahwa ia tidak akan dapat mengekang jiwa Mahisa Bungalan yang bagaikan burung di udara itu. Ia masih ingin mengarungi luasnya angkasa dan panjangnya lurah di pegenungan.

Baiklah Mahisa Bungalan” berkata Ranggawuni, “seandainya aku memaksa mengikatmu dalam satu tugas tertentu, maka kau akan merasa tersiksa. Kau akan merasa seperti seekor burung yang bagaimanapun perkasa sayapnya, namun hidup di dalam sangkar tertutup.”

Mahisa Bungalan hanya menundukkan kepalanya saja.

Bagaimana pendapat ayahmu, pamanmu Witantra dan pamanmu Mahisa Agni?” bertanya Mahisa Cempaka.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Ampun tuanku. Paman-paman hamba menyerahkan semuanya kepada hamba sendiri.”

Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, benarlah kata Kakanda Ranggawuni. Puaskanlah dengan petualangan yang panjang untuk menambah pengalaman dan mematangkan ilmu yang pernah kau miliki. Bahkan mungkin kau akan dapat menambah kemampuanmu dengan pengalamanmu yang mungkin tidak terduga sebelumnya. Namun demikian, jangan meninggalkan kewaspadaan. Kau harus selalu berhati-hati di perjalanan, karena bahaya akan dapat saja menyergapmu dari segala arah.”

Niat hamba bukannya mencari musuh tuanku” ber­kata Mahisa Bungalan, “mungkin ada satu dua orang tua yang memiliki kelebihan pengetahuan lahir dan batin yang dapat hamba sadap ilmunya bila dikehendakinya.”

Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Aku percaya akan niatmu itu. Tetapi kau yang tentu lebih banyak mempunyai pengalamanmu petualangan akan dapat mengerti, betapa kemungkinan yang tidak kita kehendaki dapat tergadi setiap saat, dan di segala tempat.”

­

Mahisa Bungalan menundukkan kepalanya semakin dalam. Katanya, “Hamba tuanku. Dan hamba memang melihat kemungkinan-kemungkinan itu.”

Justru karena itu, maka petualangan memang sangat menarik bagi anak muda” sahut Mahisa Cempaka, “jika aku tidak terikat pada kedudukanku, alangkah senangnya mengikutimu.”

Ah, tentu tidak bagi tuanku” jawab Mahisa Bungalan. “Tuanku sudah dilahirkan untuk berada di dalam istana. Ilmu yang bagaimanapun juga akan tuanku dapatkan. Tuanku dapat memanggil siapa saja yang tuanku kehendaki.”

Itulah sulitnya Mahisa Bungalan” berkata Ranggawuni, “aku dapat memanggil siapa saja. Tetapi siapa saja itulah yang tidak aku ketahui. Mungkin beberapa orang petugas sandi akan dapat menyebut. Tetapi apakah ada hubungan batin yang timbal balik antara aku dan orang-orang yang hanya disebut namanya itu, agaknya menjadi persoalan pula di dalam pewarisan ilmu. Seseorang yang karena terpaksa, bukan atas sentuhan batinnya, tentu tidak akan dapat mewariskan ilmunya sampai tuntas. Tentu masih ada yang tersisa di dalam dirinya yang sengaja atau tidak sengaja, tetap dirahasiakannya.­”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia sadar sepenuhnya bahwa yang dikatakan oleh Ranggawuni itu memang benar. Karena itu, maka ia tidak membantahnya.

Mahisa Bungalan” berkata Ranggawuni selanjutnya, “aku hanya dapat memberimu bekal doa keselamatan. Tetapi kau tentu tidak akan meninggalkan Kota Raja sampai satu atau dua tahun tanpa menengoknya barang dua tiga kali.”

Tentu tuanku. Seperti yang pernah aku lakukan, aku akan berada di rumah antara tiga atau empat bulan sekali. Beristirahat sebentar, kemudian berangkat kembali. Mungkin aku akan pergi bersama ayah dalam hubungan jual beli batu-batu dan permata serta besi-besi aji. Namun biasanya ayah selalu mamisahkan diri.”

Siapakah sebenarnya yang memisahkan diri?” bertanya Ranggawuni.

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun tersenyum, jawabnya, “Mungkin ayah, tetapi mungkin pula hamba.

Baiklah Mahisa Bungalan” berkata Ranggawuni kemudian, “sebaiknya kau juga minta diri kepada Lembu Ampal yang menjadi semakin tua pula. Sebentar lagi ia akan menjadi pikun dan tidak lagi dapat mengendalikan prajurit-prajurit yang berada di bawah perintahnya.”

Hamba tuanku. Hamba akan menemuinya dan minta diri kepadanya. Paman Lembu Ampal tentu masih akan bertahan pada keadaannya sampai beberapa tahun lagi.”

Dengan demikian, maka Mahisa Bungalan tenyata masih mohon waktu beberapa saat, sebelum ia mengikat diri dalam lingkungan keprajuritan. Ia masih ingin mengikuti keinginannya untuk menjelajahi gunung dan ngarai. Bertemu dengan orang-orang yang jauh terpencil, tetapi juga berusaha menghadap para pertapa yang dapat memberikan banyak petunjuk kepadanya, lahir dan batin, untuk melengkapi bekal di hari-hari yang panjang

Ketika Mahisa Bungalan bertemu dengan Lembu Ampal, maka orang tua itu berkata, “Ada-ada saja kau Mahisa Bungalan, Apakah masih kurang ilmu yang kau miliki, atau kau masih selalu dikuasai oleh keinginan untuk bertualang?”

Aku akan menuruti keinginanku sampai tuntas agar aku tidak menyesal di kemudian hari. Baru kemudian aku akan mengikatkan diri pada kewajiban yang berat dan tidak dapat didakukan sambil lalu saja. Seorang prajurit harus bertanggung jawab pada kewajibannya. Sementara aku masih ingin berbuat sesuatu atas keinginan pribadi semata-mata.”

Agaknya itu adalah keinginan wajar dari anak-anak muda. Tetapi kau wajib dapat mengendalikan dirimu. jangan kau turuti saja kehendak hati, karena tidak terasa, umurmu akan semakin meningkat. Pada saatnya kau akan sampai pada batas kebebasan seorang anak muda. Kau akan berkeluarga, dan kau akan bertanggung jawab atas keluargamu, karena itu, maka kau harus mempertimbangkan hanyak masalah. juga masalah hidup berkeluarga. Kau tidak akan dapat menjalaninya dengan petualangan, meskipun ada juga yang melakukannya.­”

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Aku akan selalu mengingatnya paman. Aku akan mempersiapkan diri menghadapi masa-masa yang lain dari masa-masa muda ini. Tetapi tidak sekarang.”

Lembu Ampal menepuk bahu anak muda itu. Sekilas teringat olehnya seorang anak muda yang dengan petulangnya, justru telah membawanya ke jalan lurus ke singgasana Tumapel dan seterusnya menguasai seluruh Singasari. Meskipun kemudian masih harus timbul pertumpahan darah karena kutuk seorang Empu yang terbunuh oleh keri yang dibuatnya sendiri.

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Semuanya itu tinggal merupakan ceritera yang sangat menarik.

Aku akan selalu berdoa untukmu” berkata Lembu Ampal ketika ia melepas Mahisa Bungalan pergi.

Di rumah Mahisa Bungalan masih harus mendengarkan nasehat ayahnya, pamannya Witantra dan Mahisa Agni. Bahkan semuanya menasehatkan agar ia tidak terlalu menuruti kata hatinya saja.

Aku akan mengendalikan diri, ayah. Pada suatu saat aku akan terikat oleh beberapa kewajiban. Mungkin aku akan menjadi seorang prajurit seperti yang pernah aku sanggupkan kepada tuanku berdua di istana Singasari. Tetapi di samping itu aku pun akan terikat dalam suatu ikatan keluarga. Pada saat itu, aku tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk bertualang, melihat luasnya bumi dan menyelusuri panjangnya sungai.”

Tidak ada yang dapat mencegah Mahisa Bungalan, Karena itu, maka orang-orang tua yang melepasnya pergi, hanya da­pat memberikan beberapa pesan dan petunjuk.

Tidak lama lagi, ayah juga akan pergi” berkata Mahendra.

Ayah beruntung dengan pekerjaan ayah” berkata Mahisa Bungalan. “Ada dua pekerjaan yang dapat ayah lakukan dalam satu perjalanan. Mencari nafkah, dan sekaligus bertualang ketempat-tempat yang jauh.”

Ah” berkata Mahendra, “yang penting bagiku, bagaimana aku mendapat nafkah dengan perjalananku. Aku tidak pernah menganggap perjalanku sebagai suatu petulangan. Aku melakukan perjalanan dengan sungguh-sungguh dan perhitungan yang matang. Aku tidak sekedar mengikuti hasrat hati. Bahkan kadang-kadang aku harus pergi ke tempat yang tidak aku sukai, karena aku mendapat pesanan jenis batu-batu berharga atau semacam pusaka dari jenis senjata atau sekedar berupa wesi aji yang tidak berbentuk.”

…………………………>>

Hikss…., cerita selengkapnya silahkan ikuti rekaman berikut di PANASNYA BUNGA MEKAR  yang akan diwedar beberapa saat lagi. (Setelah selesai Sepasang Ular Naga di Satu Sarang)

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 14 Juni 2010 at 19:45  Comments (64)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-iii-panasnya-bunga-mekar/trackback/

RSS feed for comments on this post.

64 KomentarTinggalkan komentar

  1. nomor “wahid” ,satu, siji

    • Uno … One …… Anu …

  2. ooooiiiiii ada gandhok anyar…!!!!!!!

    • ada gandhok anyar ooooiiiiiii….!!!!

  3. ikut antri nomor 3…..

    • nomer papat…

  4. mantap2……..

  5. Sugeng enjang Ki Ismoyo.
    Injih Ki kito tansah nenggo wedaran kitab sambunganipun.

  6. Lho gandok wis sedino koq sing sambang isih sitik timen.
    Sugeng sonten Ki Ismoyo.
    Sugeng sonten kadang sedoyo

  7. sambil nonton bola tunggu wedar kitab rontal…..sing nomor siji.

  8. OPO CANTRIK’NE ORA PODO WERUH THO KI……???

  9. Sugeng enjang kadang Gagakseto, sedoyo.
    Monggo sami wungu, gandoke dereng disapu lho.

  10. Lapor Ki Ismoyo,
    Ketiwasan woro-woro nipun kalah kaliyan Piala Dunia.

  11. Selamat pagi,
    Ikut antri nggelar lapak dahulu, biar kaplingnya ndak diambil yg lain.

  12. gandhok anyar wis buka pendaftaran…!!!
    tapi cantrik yang daftar koq belum banyak yach..
    opo kaya pendaftaran ketua kpk,
    waktu wis mepet rame-rame daftar…….

    heheheh………
    suwun ki.!!!

  13. sambang
    durung ana gandhok anyar

  14. SEMOGA KITAB RONTALNYA SEGERA DIWEDAR OLEH KI AREMA…..SAKAW..SAKAW.

  15. biar lambat, yang penting ikut antri

  16. nenggo pbm … karo nunggoni piala dunia

  17. Rontal anyar wedar bareng terima rapot

  18. Sugeng enjang Ki ISMOYO
    Sugeng enjang kadang Gagakseto.

  19. wah…wah…wah….
    perjuangan Ki Ismoyo dan Ki Arema memang patut diacungi empat jempol bukan hanya dua.
    Pelangi selesai menyusul Sepasang ular naga. Belum cunthel sudah siap Panasnya Bunga Mekar.
    Hanya doa semoga selalu mendapatkan karunia kesehatan dan kondisi yang selalu fit

    • Amiinn….

      • wuih….ono harapan spirit mempercepat tamatnya SUNdiSS

        Walah….

        • Ki PA ini bukan ngogrok-ogrok lho…

          • Kang Pls ini lho engga dima mana keahliannya soal ogrok mengogrok memang patut diacungi galak eh jempol.
            Mboten pareng duko.

          • kulo mboten ngogrok ki..

            namung nyengkuyung pandonganipun ki Drana, menerjemahkan Amien nya ki Arema dan meneruskan aspirasi ki Djojosm…

      • idem dito……..Amiiiiiin

  20. kulo sowan malih, mugi mboten ndadosaken njelehi

  21. Lho kok judule Panasnya Bunga Mekar…???
    kok ora Semaraknya Bunga Mekar……..???
    apa luwih becik Wanginya Bunga Mekar..???

    Panas = Hot….????
    wah berarti bakal gampang gogrok…!!!
    alias gampang diogrok-ogrok.

  22. Sugeng enjang Ki Ismoyo.
    Sugeng enjang Kisanak sedoyo.
    Nderek langkung.

  23. Bunga’e masih kuncup….
    belum mekar,…….

    iki bunga opo ki…?????
    wangi ndak….

  24. Bunga mekar tapi kok panas, ya layu lagi to yo.
    Sugeng dalu ki Sanak.
    Mboten sah disesali kekalahan Jerman.

  25. Sugeng enjang poro kadang Gagakseto,
    Sugeng enjang Ki Ismoyo.

  26. Matur nuwun Ki Is.
    Jalaran Ki Is rawuh ing gandok sebelah dados SUNDSS 35 sampun diwedar.

  27. SELAMAT PAGI
    Kadang Gagakseta.

  28. Sugeng enjang Ki Ismoyo.
    Minggu puniko terbit nggih Ki.

  29. mumpung sambang padepokan … ikut ngisi daftar hadir di edisi baru …
    sing penting terdaftar … he3 … registrasi jalan terus meski kalau ujian ngumpet cari joki …

    monggo ki Arema dan ki Ismoyo … lan poro kadhang padepokan semuanya …

    salam

  30. Assalamu’alaikum, ikutan hadir, Selamat siang Ki Ismoyo, salam kenal

    • Panembahan Ismoyo rodho pekewuh ayake…
      wis ngene wae…kenalan ro aku yo nduk

  31. Melu Daftar ulang di gandok anyar

  32. Sugeng sonten Ki Ismoyo..
    Kados pundi kabare Tanjung Pening Kepulauan Risau..?
    Saya pernah tinggal di batu 12 selama 3,5 tahun.
    Panjenengan wonten tlatah pundi..?

  33. Bravo Portugal (7-0) Korut

  34. Melu hadir Ki,

  35. Assalamualaikum Ki Ismoyo,
    Nembe punopo Ki?
    Mugi-mugi tansah pinaringan berkah saking Allah SWT. Amin
    Sugeng istirahat Ki.

  36. Sugeng enjang Ki Ismoyo, Ki Arema, lan sadoyo sanak kadang. Sugeng pepenggihan wonten gandhok enggal.
    Matur nuwun Ki Ismoyo lan Ki Arema sampun maringi gandhok malih.
    Mugi sadoyo tansah pinaringan berkah katentreman saking Gusti.

  37. hadir lagi ki ismoyo nunggu wedaran rontal ingkang nomor setunggal….

  38. Sugeng enjang kadang Gagakseto sedoyo.
    Masih tiga hari lagi terbitnya PBM.

  39. pak ismoyo mintak emailnya dongggggg

    • Pak Ismoyo ..??? hikss

      • Mungkin Pak Pandanalas punya Bu…..

      • wekkk ku mo kirim djvu panasnya bng mkr

        • pandanalas76@yahoo.com

          (sssttt…cantrik lain ojo ribut lho…sing dak paringake Bu DewiKZ iki account mailku…..ihiksss)

          • ku sdh foward ke email tu

            Dewi

          • xixixi….

            ga ada pun forwading soko Bu DewiKZ

        • Lha mbok kula ugi dipun paringi tho Bu Dewi….

          sampun sakaw berat… he he he

  40. ojo berisik…!!
    ki is sedang tapa “grahita”..

    itu tuch tapa untuk tidak “mendengar dan Bicara”
    tapi mesem terus melihat koment di GG’s

    suwun ki….!!!!

  41. Untuk mengisi saat wedar PBM, ini ada gojegan:

    Suatu hari seorang istri mengeluh pada suaminya tentang penyakitnya.

    Istri : “Pa, kepalaku sering pusing, dan dadaku sering berdebar-debar, dan sering mual.”

    Suami : “Kalo gitu kita kedokter aja ya?”

    Kemudian mereka berdua pergi ke dokter spesialis penyakit dalam. Suaminya menunggu diluar ketika istrinya diperiksa dokter di dalam. Tak lama kemudian si istri keluar dari ruang periksa, dengan cemas si suami bertanya pada istrinya.

    Suami : “Sakit apa ma, kata dokter?”

    Istri : “Dokter bilang aku ngak ada penyakit apa-apa, cuma sedikit stres aja, dia menyarankan supaya kita liburan dulu supaya bisa rileks, seperti ke Hongkong, Cina, Eropa, atau Amrik gitu lho pa.”

    Istri : “Pergi kemana kita ya pa?” tanya si istri dengan bersemangat.

    Si suami terdiam sejenak, kemudian tiba-tiba si istri teriak-teriak: “Pa, kenapa pa”

    Si suami agak pucat, sambil memegang dadanya: “Ma, ma jantungku kumat, kita ke dokter yuk ma………”

    Jadi siapa yang sakit ?

    • sing sakit niku sing medar crito….xixixi

      • Ancene bener yen Ki Pandanalas kuwi memang pandai alasan

        Lha ceta wela-wela yang sakit kuwi bojone yakuwi sing lanang amarga sing bojo wadon njaluk plesir nang amrik barang, lha po Ki PA ikutan sakit ????.

        He he he he he he he he he he he

        Terusaken ki

  42. isi daftar hadir,ngebonceng terus kereta padepokan, selamat untuk munculnya garapan anyer…BBM

  43. nganglang padhepokan kok sepi nyenyet.
    weladalah… pada ana ngendi cantrik2 iki..?
    wis tak mulih bae, ora ana kancane, tiwas kademen.

  44. Sugeng enjang Ki Ismoyo.

  45. Assalamualaikum wr. wb.
    Selamat pagi Saudaraku semua Cantrik/Mentrik Gagakseto &PDLS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: