Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng dalu. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari , ingkang dahat kinurmatan:

Sampun wancinipun sirêp laré, Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 23]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Anggårå Pon malêm Budhå Wagé, Wuku Mênail, Ingkêl Taro; Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç; 03 Agustus 2010M; 23 Ruwah 1943 – Dal; 23 Sya’ban 1431H

Sinambi membaca sekaligus menikmati untaian kata-kata karya Ki Dalang (mendiang) Singgih Hadi Mintardja, dan membayangkan dalam imajinasi masing-masing bagaimana Mahisa Bungalan yang sedang bertempur menghadapi lawannya, dan bagaimana pula Ken Padmi yang garang “mau tapi malu”.

Cantrik Bayuaji mengajak pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari , menelisik, menelaah, melakukan pendalaman (halaah åpå toh iki); apakah hal-hal yang ditulis oleh Ki Dalang SHM, dan yang dilukis oleh Ki Juru Sungging Mas Wibowo dan Ki Juru Gambar Mas Wid NS, dalam cerita pelangisingosarinya Ki Dalang SHM, tepat dengan keadaan yang senyatanya pada waktu kisah itu terjadi.

“Senyatanya” di sini adalah menurut dan mengacu pada temuan-temuan arkeologis yang dapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Misalnya jenis-jenis makanan atau minuman apa yang telah dikenal pada masa itu; model pakaian (khususnya wanita) yang bagaimanakah yang dikenakan oleh para tokoh pada masa itu.

Kalaupun apa yang ditulis oleh Ki Dalang SHM, dan dilukis oleh Ki Juru Sungging Mas Wibowo dan Mas Wid NS, bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya, hal ini tak perlulah diperdebatkan, dan tulisan ini juga tidak bermaksud “menggugat” Ki Dalang SHM dalam karya-karyanya.

Sing pênting lan pada pokoké, lakoné Ki Dalang Singgih Hadi Mintardja, asyik, enak diklik (pake mouse), enak dibaca, dibaca, dibaca lagi, dan perlu.

I.Makanan dan minuman: “jagung rebus/bakar, semelak, twak siwalan, arak hano, kilang brem , mesamahisa, mina, madhupa”.

Pada PBM-01 diceritakan Mahesa Bungalan (Era Singosari tahun 1200an) makan jagung di Padukuhan Watan.

PBM 01 halaman 17: “Apa yang mereka lakukan?” bertanya Mahisa Bungalan kepada seorang perempuan penjual jagung ketika ia duduk bersila sambil mengunyah jagung di bawah sebatang pohon preh di depan sebuah warung yang cukup besar.

Makanan pokok Ki Ageng Pandan Alas di NSSI (Kerajaan Demak tahun 1400an) juga jagung.

Nagasasra Sabukinten 03: Yang disambung oleh Ki Ageng Pandan Alas, He, Mahesa Jenar, adakah kau dahulu memenuhi permintaanku? Menunggu sampai jagungku tua? Kalau begitu aku akan singgah dahulu ke sana untuk menikmati dua tiga buah jagung bakar.

Jagung hampir tidak pernah ketinggalan di setiap buku karya Ki Dalang SHM. Tetapi sebenarnya sejak kapankah jagung masuk Indonesia?

Dari beberapa buku dan artikel diketahui bahwa jagung mulai berkembang di Asia Tenggara pada pertengahan tahun 1500an dan pada awal tahun 1600an, yang berkembang menjadi tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Dengan demikian maka jagung dikenal oleh penduduk Indonesia sekitar abad 15, kurang lebih ketika VOC mulai datang ke Indonesia mencari rempah-rempah, yang berlanjut dengan masa penjajahan Kumpêni Walåndå.

Jadi biarlah Ki Pandanalas dari Gunung Kidul (NSSI, jaman Kerajaan Demak tahun 1400an ) nggak usah panen jagung, dan Ki Mahesa Bungalan (jaman kerajaan Singosari tahun 1200an) nggak jadi mengunyah jagung rebus, karena ketika itu jagung belum dikenal, tetapi diganti makan burger……… Lho.

Pada PBM 06: “Namun ternyata semelak pace itu terasa segar sekali di kerongkongan Mahisa Bungalan yang haus. Kemudian beberapa potong ubi telah dimakannya pula.”

Minuman semelak yang berbahan dasar mengkudu (Jawa: pace, kemudu, kudu); (Sunda: cengkudu); (Madura: kodhuk); (Bali: wengkudu). Mengkudu atau pace berasal dari Asia Tenggara adalah tananam asli Nusantara, tergolong dalam famili Rubiaceae. Nama lain untuk tanaman ini adalah noni (Hawaii), nono (Tahiti), nonu (Tonga), ungcoikan (Myanmar) dan ach (Hindi).

Pace berkhasiat menurunkan darah tinggi dan kolesterol. Rasa minuman ini tajam dan pengar. Untuk menetralisir rasa alami pace, maka dalam semelak ditambahkan gula jawa, gula nira, cengkeh dan ketumbar.

Pada tahun 100 SM, penduduk Asia Tenggara (Nusantara) bermigrasi dan mendarat di kepulauan Polinesia, mereka membawa tanaman dan hewan yang dianggap penting untuk hidup di tempat baru. Tanaman-tanaman tersebut memiliki banyak kegunaan, antara lain untuk bahan pakaian, bangunan, makanan dan obat-obatan, lima jenis tanaman pangan bangsa Polinesia yaitu talas, sukun, pisang, ubi rambat, dan tebu.

Mengkudu yang dalam bahasa setempat disebut “noni” adalah salah satu jenis tanaman obat penting yang turut dibawa.

Bangsa Polinesia memanfaatkan “noni” untuk mengobati berbagai jenis penyakit, di antaranya: tumor, luka, penyakit kulit, gangguan pernapasan (termasuk asma), demam dan penyakit usia lanjut. Pengetahuan tentang pengobatan menggunakan mengkudu diwariskan dari generasi ke generasi melalui nyanyian dan cerita rakyat.

Tabib Polinesia, yang disebut Kahuna adalah orang memegang peranan panting dalam dunia pengobatan tradisional bangsa Polinesia dan selalu menggunakan mengkudu dalam resep pengobatannya.

Laporan-laporan tentang khasiat tanaman mengkudu juga terdapat pada tulisan-tulisan kuno yang dibuat kira-kira 2000 tahun yang lalu, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Han di Cina. Bahkan juga dimuat dalam cerita-cerita pewayangan yang ditulis pada masa pemerintahan raja-raja di pulau Jawa.

Kidung Pararaton tidak secara jelas menyebutkan jenis makanan dan minuman yang disajikan jika ada pesta-pesta kenegaraan di Singosari ataupun di Majapahit. atau yang dikonsumsi oleh masyarakat pada waktu itu.

Dalam salah satu pupuh pada Bagian V Kidung Pararaton dikisahkan ketika Sri Baginda Kertanagara tengah mengadakan pesta bersama para menteri dan patih kerajaan.

Sedang ira Bhatara Siwa Buddha anadhah sajeng lawan apatih

[Ketika Batara Siwa Budha (Sri Baginda Kertanagara) sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih].

Berbeda dengan Pararaton, maka Kakawin Nagarakertagama menerangkan agak rinci jenis-jenis minuman dan makanan yang dihidangkan pada pesta-pesta kenegaraan, khususnya pada saat Prabu Jiwana Hayam Wuruk melakukan “kunjungan kerja”, seperti yang dikabarkan oleh Empu Parapanca.

Nagarakertagama pupuh 90:3

Lwir ning para surasa tan pegat mawantu
Twak nyu twak siwalan arak hano kilang brem
Mwang tampo sing adhika tang hane harep sok
Sarwwamas wawan ika dudw anekawarnna
.

[Mengalir pelbagai minuman keras segar, tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya, itulah hidangan minuman yang utama, Wadahnya emas berbentuk aneka ragam].

Nagarakertagama pupuh 89:5

lwir ni tadah nira mesamahisa wihaga mrega wok madhupa
mina lawan tikang anda haja ring aji lokapurana tinut
swana kara krimi musika hilahila len wiyung alpa dahat
satrw awamana hurip-ksaya cala nika rakwa yadi purugen

[Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu, ikan, telur, domba, menurut adat agama dari zaman purba. Makanan pantangan daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak, Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda].

Nagarakertagama pupuh 90:1

Praptang bhojana makadon rikang wwang akweh
Sangkep sarwwarajasa bhojanya sobha
Matsyasangkya sahana ring darat mwang ing wwai
Raprep drak rumawuh anut kramanuwartta
.

[Dihidangkan santapan untuk orang banyak, Makanan serba banyak serta serba sedap, Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak, Berderap cepat datang menurut acara].

Namun bagi kawula rakyat jelata yang berasal dari desa, dengan alasan sebagai kegemarannya, maka dihidangkan daging katak, cacing, keledai, tikus dan anjing.

Nagarakertagama pupuh 90:2

Manduka krimi kara musika srgala
Kweh sakterika winahan tamahnya tusta
Deni wwang nika dudu ring sadesadesa
Sambeknyeki tinuwukan dumah ya tusta
.

[Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing/srigala, Hanya dihidangkan kepada para penggemar, Karena asalnya dari pelbagai desa, Mereka diberi kegemaran, biar puas.

Dalam pada itu makanan lain yang dihidangkan adalah talam, kembang waru, bongko, kipo, pelas, gembrot, wela dan model.

Dinasti Sung Awal (420-470 M) menyebut Jawa dengan sebutan She p’o atau Cho’po, akan tetapi kemudian berita-berita Cina dari Dinasti T’ang (618-906 M) menyebut Jawa dengan sebutan Ho Ling sampai tahun 818 M. Namun penyebutan Jawa dengan She p’o kembali muncul pada tahun setelah tahun 820an M.

Kronik Dinasti Tang memberitakan bahwa masyrakat She p’o sudah pandai membuat minuman dari air bunga kelapa (legen, tuak). Bila makan mereka tidak menggunakan sendok atau sumpit, melainkan menggunakan tangan.

II. Busana wanita masa Singosari.

Menyusuri jejak sejarah busana wanita masa Tumapel Singosari, Ki Dalang Singgih Hadi Mintardja atau tepatnya Ki Juru Sungging Mas Wibowo atau Ki Juru Sungging Mas Wid NS, melukiskan wanita dalam buku karangan SHM serial pelangisingosari adalah sebagai berikut: berkain batik panjang, atau bercelana panjang hitam sebatas di bawah lutut, selalu menggunakan kemben, rambut hitam terurai panjang, tanpa alas kaki.

Mengamati gambaran tersebut, cantrik Bayuaji membuka kembali lembaran-lembaran lukisan atau tepatnya foto-foto arca, atau melihat langsung patung atau arca dan pahatan relief-relief pada beberapa candi era Singosari Majapahit, antara lain Candi Rimbi, Candi Singosari, Candi Jago, dan Arca Prajñaparamita.

1. Arca Parwati dari Candi Rimbi(angka tahun 14 M) di kaki Gunung Anjasamoro, tepatnya di tepi jalan raya di sebelah tenggara Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur.

Parwati sebagai istri (sakti) Dewa Syiwa. Arca Parwati ini melukiskan perwujudan Tribuana Tunggadewi ratu Majapahit pada tahun 1328 sampai dengan tahun 1350.

Berdasarkan seni arsitektur bangunan, Candi Rimbi berlatar belakang Hindu. Hal ini, ditandai penemuan arca Dewi Parwati (isteri Dewa Siwa) yang sekarang disimpan di Museum Gajah Jakarta.

Arca Parwati ditemukan di ruang utama candi. Tetapi, ruangan ini sudah tidak ada lagi, karena separoh dari badan candi sudah runtuh.

Dewi Parwati dikenal sebagai simbol wanita yang benar-benar mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, ibu dan istri. Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan, bersama-sama dengan Siwa, mereka berdua sering digambarkan sebagai yoni (simbol wanita) dan lingga (simbol laki- laki).

2. Arca Dewi Durga Mahesasuramardhini dari Candi Singosari (angka tahun 1222 M) desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Dewi Durga adalah nama sakti atau istri Dewa Siwa. Mahisa adalah kerbau, Asura berarti raksasa, sedang Mardhini berarti menghancurkan atau membunuh. Jadi, Durgamahasisuramardhini berarti Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di dalam tubuh seekor kerbau.

3. Arca Prajñaparamita .

Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Arca Prajñaparamita ini ditemukan di antara reruntuhan selatan kompleks percandian Singosari (dengan candi Singosari berjarak ± 500 m arah selatan). Arca tersebut ditemukan di salah satu candi, yaitu candi E, disebut juga candi Wayang, atau candi Putri. Sisa-sisa situs tersebut berada di Jalan Bungkuk Gg. II Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari.

Tempat itu sekarang (tahun 2007) hanya tinggal tanah tegalan dengan ukuran ± 12 x 25 m yang kanan-kirinya sudah dipadati oleh bangunan rumah penduduk. Arca Prajñaparamita ini disebutkan sebagai patung Masa Klasik paling cantik dan utuh terbuat dari batu, tinggi 1,26 m, berasal dari masa Singosari, Jawa Timur.

Arca dari batu andesit yang masih utuh itu ditemukan pada tahun 1819 dan dikategorikan sangat indah buatannya itu, kemudian dibawa ke tempat Residen Malang, yang pada waktu itu dijabat oleh Monnerau. Kemudian diserahkan ke Prof Reinwardt dan pada tahun 1023 patung itu disumbangkan untuk Museum Etnologi di Leiden.

Arca dari candi Wayang atau Putri tersebut mendapatkan namanya yaitu Putri Dedes atau Ken Dedes. Dan sejak saat itulah hingga sekarang arca dari pantheon agama Budha Mahayana tersebut lebih terkenal dengan sebutan arca putri Ken Dedes daripada nama aslinya yaitu Prajñaparamita.

Pada 1978, Prof Pott, direktur Museum Etnologi tersebut, melalui Duta Besar Indonesia Sutopo Yuwono, mengembalikan patung itu ke Indonesia.

Arca Prajñaparamita kedua, berada di halaman candi Singosari dengan ukuran yang cukup besar. Sayang arca ini sudah tidak berkepala lagi, dan hiasannya tidak semewah arca Prajñaparamita (Ken Dedes). Kekhususan yang menandai arca Prajñaparamita di halaman candi Singasari dengan arca Prajñaparamita (Ken Dedes) adalah adanya hiasan Vjalaka (hiasan gajah dan singa pada kanan kiri sandarannya).

Arca Prajñaparamita ketiga, terdapat pada sisa-sisa candi Gayatri atau candi Gilang di Desa Bayalangu, Kecamatan Bayalangu, Tulungagung. Di lokasi ini ditemukan beberapa arca yang salah satunya adalah arca Prajñaparamita yang sudah rusak.

Memperhatikan bukti-bukti di atas, sebenarnya tidak sesederhana itu untuk memberikan suatu pernyataan bahwa arca Prajñaparamita yang dimaksudkan adalah potret diri Ken Dedes. Sementara data-data di lapangan yang mendukung ke arah sana sangat terbatas. Di sisi lain dokumen tertulis berupa prasasti maupun naskah yang menunjuk bahwa Ken Dedes diarcakan sebagai arca Prajñaparamita tidak ada.

Tentang arca Prajñaparamita sendiri disinggung dalam Negarakretagama Pupuh 69:1.

Prajñaparamitapuri ywa panelah ning rat ri sang hyang suddharmma; Prajñaparamita kriyenulahaken sri-jnanawidhy apratistha; Sotan pandita wrddha tantragata labdawesa sarwwagamajna; Saksat hyang mpu bharada mawaki sirangde trtpti ni twas narendra.”

Disana disebutkan adanya sebuah tempat bernama Prajñaparamitapuri, yaitu sebuah candi makam yang dibangun dan diperuntukkan bagi Sri Rajapatni. Sedangkan arcanya sekaligus diberkahi oleh sang pendeta Jnanawidhi. Sri Rajapatni adalah sebutan bagi putri Gayatri yang merupakan istri keempat dari Raden Wijaya atau Kertarajasa.

Negarakretagama pada Pupuh 74:1

Mukyantahpura sagalathawa ri simping; Mwang sri-ranggapura muwah ri Buddha kuncir; Prajñaparamitapuri hanar panambeh; Mwang tekang ri bhayalango duweg kinaryya.”

Menegaskan bahwa Prajñaparamitapuri itu dibangun di Bayalangu (Bayalangu adalah sebuah daerah di Tulungagung. Di tempat tersebut memang terdapat sisa-sisa bangunan agama Budha Mahayana).

Berkenaan dengan arca Prajñaparamita yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, terdapat dua pendapat.

Pertama, patung ini dianggap potret diri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang akhirnya kawin dengan Ken Angrok Rajasa Sang Amurwabhumi, pendiri Kerajaan Singosari (1222-1227).

Pendapat kedua menyebutkan, arca tersebut merupakan potret Rajapatni Gayatri, si bungsu tercantik anak keempat Raja Kertanegara yang kawin dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dan merupakan nenek dari Raja Hayam Wuruk. Dia hidup di akhir periode Singosari (1292) dan awal era Majapahit.

Dari ketiga arca yang saya amati, dan dari beberapa relief candi yang sempat saya rekam dalam bentuk foto, semua arca wanita digambarkan sebagai wanita yang tidak menggunakan penutup dada atau bertelanjang dada.

Pårå kadang,

Jangan terburu-buru menuduh cantrik Bayuaji berfikiran “ngeres” atau menuduh cantrik Bayuaji hendak menyebar-luaskan gambar-gambar yang “mengumbar nafsu mempertontokan aurat wanita dan hal-hal yang berkonotasi porno.”

Terlebih lagi jangan pula menuduh bahwa sang seniman pemahat batu pada masa itu punya fikiran “mesum”.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa para seniman masa kebudayaan Hindu-Buddha biasa disebut seniman keagamaan, karena mereka membuat patung (tepatnya pemahat batu, sang seniman pembuat patung) dewa berdasarkan pada aturan-aturan tertentu yang sudah tertulis dalam kitab-kitab keagamaan mereka.

Kitab-kitab tersebut pada awalnya hanya berupa sebentuk puji-pujian kepada dewa, kemudian dewa- dewa yang tertulis didalam kitab tersebut diwujudkan dalam bentuk patung yang disebut antropomorphik (mewujudkan dalam bentuk manusia).

Pada beberapa peninggalan kuno di Jawa Tengah aturan-aturan yang ada didalam kitab keagamaan masih relatif ditaati, lain halnya dengan periode Jawa Timur.

Banyak sekali para seniman yang telah menambah ataupun sedikit mengganti atribut dewa dengan tujuan untuk lebih mendukung fungsi dan peranan dewa tersebut, hal ini tentu saja bisa dihubungkan dengan menjamurnya kebiasaan para raja di Jawa Timur yang menganggap dirinya adalah titisan dewa tertentu sebagai sarana untuk melegitimasi diri.

Seniman bagaimanapun juga tetap seniman, yang mengagungkan karya seni. Dalam berkarya mereka tidak akan bisa berhasil maksimal apabila diharuskan memenuhi berbagai macam syarat, bagaimanapun kreatifitas mereka sebagai jati diri tetap akan muncul dalam hasil karya mereka.

Begitu pula dalam melukiskan atau membuat patung dewi, secara tidak sadar mereka akan membayangkan watak dan peranan dewi tersebut. Dengan merangkai bayangan itu, maka mereka dapat dengan lancar membentuk wujud dewi tersebut dalam pahatan mereka, tanpa melenceng jauh dari aturan yang berlaku.

Bukankah hari ini kita sedang belajar sejarah.

Budaya menutup aurat (dada wanita) di Nusantara baru dikenal kurang lebih abad 16 atau 17 M. bahkan di pedalaman-pedalaman Bali, Papua, Dayak dan di beberapa pedalaman Nusantara lainnya hingga awal tahun-tahun 1940an masih ditemui beberapa sukubangsa yang wanitanya bertelanjang dada, atau sekedar “ditutupi” dengan bahan rajutan dari serat kayu.

Pårå kadang,

Sebagai penutup uraian ini maka biarlah Ken Padmi ketika berperang tanding dengan Mahisa Bungalan memakai kemben (PBM 22 halaman 45), karena jika tidak maka Ki Mas Juru Sungging Wid NS dapat dituduh menyebarluaskan gambar aurat wanita dan hal yang berbau porno. Setuju ?

Rujukan:

1. Abas, H.M.S, Drs, M.Si. dkk. 2001. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

2. Agus Sunyoto. 2000. Petunjuk Wisata Sejarah Kabupaten Malang. Malang: Lingkaran Studi Kebudayaan Malang.

3. Bangun, A. P.,DR, MHA dan Saworno, B. Khasiat dan Manfaat Mengkudu. Jakarta: Agromedia Pustaka, 2002.

4. Foto-foto arca, relief candi antara lain: Arca Dewi Parwati, Prajñaparamita, Dewi Durga Mahesasuramardhini, Candi Rimbi, Candi Singosari, Candi Borobudur. dll.

5. Leona Anderson. Review of Kinney, Ann R. 2005. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Department of Religious Studies, University of Regina, Canada: H-Buddhism, H-Net Reviews.

6. Marwati, dkk. 1993 . Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

7. Moehadi. 1986. Modul Sejarah Indonesia. Karunia: Jakarta.

8. Muljana, Slamet. 2006. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: LkiS.

9. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

10. SH Mintardja, Nagasasra Sabukinten Kedaultan Rakyat Yogyakarta.

11. SH Mintardja, Pelangi di Langit Singosari (serial) Yayasan panuluh Yogyakarta

12. Soekmono, 1974, “Candi, Fungsi dan Pengertiannya”, Disertasi, Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia

13. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

14. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

15. Zoetmulder, P. J., 1965, The Significance of The Study of The Culture and Religion for Indonesian Historiography, New York: Cornel University Press.

to be continued atawa ånå candhaké

Sugêng dalu. Nuwun

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: