Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng siyang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari.

Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 24]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sukrå Umanis, Wuku Mênail, Ingkêl Taru, Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç; 06 Agustus 2010M; 25 Ruwah 1943 – Dal; 25 Sya’ban 1431H (lanjutan On 4 Agustus 2010 at 22:21 bayuaji said):

EMANSIPASI PEREMPUAN

Pårå kadang, ingkang dahat kinurmatan:

Pada rontal “Yang Terasing” [tokoh Puranti dan Wiyatsih]. Diceritakan oleh Ki Dalang SHM tentang pergolakan yang terjadi di pesisir Utara sebelah Timur Demak melalui kata-kata Puranti:

“Wiyatsih“ suara Puranti merendah “Demak yang sedang sibuk menenteramkan daerah bergolak dipesisir Utara sebelah Timur,……

Bila yang dimaksud adalah pergolakan di pesisir Utara sebelah Timur, maka peristiwa itu terjadi pada tahun 1546, tatkala Pasukan Tentara Demak yang dipimpin langsung oleh rajanya sendiri, yakni Sultan Trenggono melakukan penyerbuan ke wilayah Pasuruan dan Blambangan.

Pada tahun-tahun di bawah kepemimpinan Sultan Trenggono, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran, menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di Sunda Kelapa (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya (1527) Pasuruan (1546), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527 sd 1546).

Panglima perang Demak pada waktu itu adalah Fatahillah (sebelum disebut sebagai Sunan Gunung Jati), yang juga menjadi menantu Sultan Trenggono.

Babad Tanah Jawi mengabarkan:

Ing tahun 1546 Fatahillah kalawan Sultan Trênggånå arêp mbêdhah Pasuruwan. Kuthå Pasuruwan banjur kinêpung ing wadyå bålå, nanging durung nganti bêdhah, pangêpungé diwurungaké, jalaran Sultan Trênggånå sédå cinidrå.

Pada tahun 1546 Sultan Trenggono gugur di Pasuruan. Dengan gugurnya Sultan Trenggono, kedudukan raja Demak digantikan oleh Sunan Prawoto sebagai sultan ke-IV Kerajaan Demak, tetapi suksesi ke tangan Sunan Prawoto tidak berlangsung mulus, terjadilah perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen (saudara Sultan Trenggono) dengan Sunan Prawoto (putra Sultan Trenggono) dan Arya Penangsang (putra Sekar Sedolepen). Pada tahun 1549 Sunan Prawoto gugur dibunuh utusan Arya Penangsang.

Pada saat yang demikian itu muncul tokoh perempuan dari Jepara (yakni suatu daerah yang menjadi bagian dari Kesultanan Demak) sebagai pejuang yang berusaha menyelamatkan tahta dari perang saudara. Pemersatu para keluarga Kerajaan Demak.

Dari sinilah Ki Dalang SHM terilhami adanya tokoh senopati perempuan dari Kesultanan Demak. Tetapi siapa tokoh perempuan dari Jepara itu?, yang pasti bukan Puranti atau Wiyatsih.

Dia adalah:

Kalinyamat Rainha de Japara, senhora paderosa e rica

Dia adalah:

Kalinyamat de kranige dame

Ratu Kalinyamat adalah seorang rani yang berkedudukan dan berkuasa di Kalinyamat, suatu daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada.

Kalinyamat kira-kira 20 kilometer dari Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke Jepara-Kudus. Pada abad ke-16 Kalinyamat menjadi tempat kedudukan raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga dipakai sebagai nama penguasanya.

Ketika Sunan Prawoto tewas dibunuh utusan Arya Penangsang, adiknya yang menjadi ‘adipati’ Jepara. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus tertancap di jenazah kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan kepadan Sunan Kudus.

Ratu Kalinyamat tidak puas atas penjelasan Sunan Kudus. Ia dan suaminya (Pangeran Kalinyamat yaitu Pangeran Hadiri) memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dihadang anak buah Arya Penangsang, Sang Pangeran Kalinyamat tewas. Tetapi Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Ia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja.

Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak mudah menyerah pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam Babad Tanah Jawi.

nJêng ratu mertåpå awêwudå wonten ing rêdi Dånåråjå, kang minångkå tapih rémanipun kaoré

Sang Ratu melepaskan seluruh busananya hingga telanjang bulat. Rambut panjangnya diurai sedemikian rupa hingga menutupi bagian payudaranya. Ratu Kalinyamat duduk bersila. Sang Ratu bertekad, tidak akan mengenakan busananya lagi sebelum Arya Penangsang mati!

[Lokasi yang ditengarai sebagai tempat Tapa Telanjang Ratu Kalinyamat hingga sekarang menjadi tempat ziarah. Terletak di Desa Danaraja, Jepara bagian utara, tepi sungai Gajahan].

Tindakan ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan cara menyepi di Gunung Danaraja. Ia bersumpah, baru akan mengakhiri pertapaanya apabila Arya Penangsang telah terbunuh.

Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Hadiwijaya alias Mas Karebet Jaka Tingkir, bupati Pajang, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.

Pernyataan Babad Tanah Jawi merupakan suatu sanépå (kiasan) yang memerlukan interpretasi secara kritis. Historiografi tradisional memuat hal-hal yang digambarkan dengan simbol-simbol dan kiasan-kiasan. Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak berarti harus tanpa busana sama sekali, tetapi juga memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus.

Ratu Kalinyamat mertåpå awêwudå asinjang réma, cêgah dhahar kalawan néndrå bermakna tidak menghiraukan lagi untuk mengenakan perhiasan dan pakaian indah seperti layaknya seorang ratu.

Pikirannya ketika itu hanya dicurahkan untuk membinasakan Arya Penangsang. Di Gunung Danaraja itulah Ratu Kalinyamat menyusun strategi untuk melakukan balas dendam kepada Arya Penangsang.

Sepak terjang Ratu Kalinyamat.

Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retnå Kencånå, putri Sultan Trenggono, Sultan Demak 1521 sd 1546. Cucu Raden Patah Pendiri Kesultanan Demak. Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat adalah tokoh perempuan Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak. Ia menjadi tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trenggono.

Ratu Kalinyamat digambarkan sebagai tokoh perempuan yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak. Walau pun Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keturunan Sultan Trenggono.

Menurut sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa, ternyata ia menjadi pusat pemersatu para keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai berai sesudah meninggalnya Sultan Trenggono dan Sultan Prawoto.

Setelah kematian Arya Penangsang, Retna Kencana dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat. Penobatan ini ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi yang diperhitungkan sama dengan 10 April 1549.

Peranan politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana Demak yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan sepeninggal Sultan Trenggono. Perebutan tahta menimbulkan peperangan berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan. Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangeran Sekar dan Pangeran Trenggono.

Ratu Kalinyamat tampil memainkan peranan penting dalam menghadapi Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada Hadiwijaya untuk membunuh Arya Penangsang. Didorong oleh naluri keperempuanannya yang sakit hati karena kehilangan suami dan saudara, ia telah menggunakan wewenang politiknya selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan Trenggono.

Setelah berakhirnya peperangan melawan Arya Penangsang, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Ketika Sultan Pajang sibuk dalam rangka konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan ekonomi yang terbengkelai selama intrik politik berlangsung.

Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada masa itu.

Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris hancur. Kegiatan ekonomi menjadi semakin terbengkalai pada saat wilayah Kesultanan Demak menjadi ajang pertempuran antara Arya Penangsang dan keturunan Sultan Trenggono.

Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung, walau kurang berkembang.
Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil memulihkan kembali perdagangan Jepara.

Konsolidasi ekonomi memang diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah pemerintahannya, perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai.

Pedagang-pedagang dari kota-kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku, Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya masing-masing.

Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa diekspor beras ke daerah Maluku dan sebaliknya dari Maluku diekspor rempah-rempah untuk kemudian diperdagangkan lagi.
Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara merupakan pengekspor beras.

Perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis. Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguatan sektor perdagangan dan angkatan laut.

Kedua bidang ini dapat berkembang baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.

Dalam Hubungan Internasional, kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten.

Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya juga karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan.

Sebagai raja yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa.

Hanya tiga tahun di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, kekuatan armada Jepara telah pulih kembali. Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara.

Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang Portugis maupun suku Hative di Maluku.

Bukti termashurnya Ratu Kalinyamat antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu Kalinyamat dan mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis yang saat itu kebetulan sedang lengah dan menderita berbagai macam kekurangan.

Ratu Kalinyamat menyetujui anjuran itu. Pada tahun 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara.

Armada itu membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang bergelar Sang Adipati. Prajurit dari Jawa ini menyerang dari arah utara. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil merebut kawasan orang pribumi di Malaka.

Serangan Portugis ternyata begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri. Sementara itu, pasukan Jawa tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah seorang panglimanya gugur. Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan di laut, 2000 prajurit Jawa gugur. Hampir seluruh perbekalan dan persenjataan berupa artileri dan mesiu jatuh ke tangan musuh. Walau pun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksa kembali ke Jawa.

Walau pun pernah mengalami kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh perempuan ini. Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menyerang Malaka.

Ketika armada Aceh telah mulai menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis. Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan.

Armada Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574. Dibanding dengan ekspedisi pertama, armada Jepara kali ini jauh lebih besar. Armada ini terdiri dari 300 buah kapal layar dan 80 buah di antaranya berukuran besar. Awak kapalnya terdiri dari 15.000 prajurit pilihan, yang dilengkapi dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah Kyai Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama Quilidamao, pangkat kemiliteran pada waktu itu, setingkat Laksamana.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penguasa bahari Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut dari pada kekuatan angkatan darat. Ini tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit darat, akan tetapi kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensif yaitu dengan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhannya yang menghadap ke darat.

Dalam bukunya, Diego de Couto menyebutnya sebagai:

Kalinyamat Rainha da Japara, senhora paderosa e rica,
[Kalinyamat, Perempuan Kaya lagi Berkuasa, dialah Ratu Jepara] .

Dia juga disebut oleh sumber Portugis sebagai:

Kalinyamat de kranige dame
[Kalinyamat, Sang Pemberani]

Sifat berani Ratu Kalinyamat ini tampak dalam perjuangannya yang gigih dalam menentang kekuasaan bangsa Portugis. Kegagalan serangan Jepara itu terutama disebabkan oleh kekalahan dalam bidang teknologi militer dan pelayaran. Kapal-kapal

Portugis jauh lebih unggul dalam teknik pembuatannya dan lebih besar dari pada kapal-kapal Jepara. Meskipun perlawanan terhadap Portugis mengalami kegagalan, tetapi pengiriman armada itu cukup menunjukkan bahwa perekonomian di Jepara pada saat itu sangat kuat.

Sumber Portugis menyebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut atau pedagang Ambon di Hitu minta bantuan Ratu Jepara untuk melawan orang-orang Portugis. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.

Hal apa yang dapat kita simpulkan dari tokoh Ratu Kalinyamat ini:

1. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh historis yang legendaris;

2. Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin berkembang sebagai bandar perdagangan dan pelayaran. Ratu Kalinyamat tidak saja memegang peranan penting dalam politik dan pemerintahan, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi terutama hasil perdagangan dan pelayaran seberang laut.

3. Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara yang sangat kaya. Lagi pula ia memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk mendukung aktivitas pelayaran dan perdagangan seberang laut.

4. Kekayaan Ratu Kalinyamat merupakan faktor pendukung utama bagi kekuatan politiknya. Berkat kekayaannya, ia memiliki armada angkatan laut yang kuat untuk melakukan serangan terhadap Malaka pada tahun 1551 dan 1574.

Menjadi pertanyaan> [Adakah pemimpin di masa kini yang rela memberikan kekayaannya semata-mata untuk kepentingan bangsa dan negaranya? Seperti yang dicontohkan oleh Ratu Kalinyamat.]

5. Popularitasnya sebagai kepala pemerintahan tidak hanya dikenal di kawasan Nusantara bagian barat saja, tetapi juga di Nusantara bagian timur.

6. Keberaniannya melawan kekuatan asing telah dikenal di sepanjang Nusantara dari Aceh, Johor, hingga Maluku.

7. Ratu Kalinyamat dapat menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan pedalaman sehingga dapat memelihara stabilitas politik. Dalam masa pemerintahannya, ia tidak mempunyai musuh.

8.Sebagai pewaris kekuasaan Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat memegang peranan yang terpenting dibanding dengan penguasa-penguasa yang lain di pantai utara Jawa.

Sebagai pemersatu keluarga Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat mempunyai pengaruh yang cukup kuat di wilayah Banten dan Cirebon. Ia juga mampu mempertahankan konsolidasi keluarga Kasultanan Demak.

Hanya Jeparalah yang mampu mempertahankan eksistensi dan peranan Demak sebagai kerajaan yang bercorak maritim di pantai utara Jawa pada abad ke-16, yang memiliki kebesaran seperti pendahulunya.

9. Ratu Kalinyamat adalah sosok perempuan yang tidak dibatasi oleh tradisi. Aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti bahwa tidaklah benar jika perempuan Jawa dari kalangan bangsawan tinggi sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme.

Kasus Ratu Kalinyamat jelas membuktikan bahwa perempuan kalangan bangsawan justru mempunyai peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting yang sangat dibutuhkan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.

Peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan. Ratu Kalinyamat telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya.

Pårå kadang, ingkang dahat kinurmatan:

Menyimak penggambaran tokoh Kalinyamat ini. satu pertanyaan lagi tidakkah pårå kadang merindukan hadirnya tokoh seperti beliau?.

Cantrik Bayuaji sangat merindukan seorang pemimpin di Nusantara Indonesia ini, yang mempunyai sifat sebagai pengayom, laksana beliau itu. Ratu Kalinyamat: Perempuan Kaya lagi Berkuasa. Ratu Jepara , Ratu Kalinyamat Sang Perempuan Pemberani.

Kapan ????

Ibu Pertiwi Nusantara telah banyak melahirkan putri-putrinya nan perkasa, Ratu Shima, Tribuana Tungga Dewi, Nyi Ageng Serang, Tjoet Njak Dien, Tjoet Njak Meutia, Malahayati, Raden Ajeng Kartini, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Maria Walanda Maramis, Nyi Ahmad Dahlan, Hj. Rasuna Said, dan Kalinyamat sendiri, serta sederet nama-nama lain yang mungkin kita tidak tahu, tapi yang pasti mereka telah memberikan sumbangsihnya, bahkan jiwanya bagi kemanusiaan pada zamannya, yang tidak hanya indah harum mewangi menghiasi Tamansari Nusantara, tetapi telah berani dan sanggup menjadi pagar pengawal pantai, gunung, sungai, ngarai, sawah, ladang, dataran, lembah yang molek laksana untaian Jamrud Kahtulistiwa yang bernama Nusantara.

(Silakan pårå kadang yang akan menambah tohoh-tokoh perempuan Nusantara yang termashur kepahlawanannya bagi Bumi Pertiwi Nusantara ini).

Rujukan:

1. Djajadiningrat, Hoesein. 1983. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Terjemahan KITLV dan LIPI. Jakarta: Penerbit Djambatan.

2. Gina dan Babariyanto. Babad Demak II. 1981. Transliterasi Terjemahan Bebas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

3. Graaf, H.J. 1986. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Terjemahan Grafitipers dan KITLV. Jakarta: Grafitipers.

4. Kartodirdjo, Sartono (ed.). 1977. Sejarah Nasional Indonesia Jilid III. Jakarta: Balai Pustaka.

5. Kartodirdjo, Sartono, 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium. Jilid I. Jakarta: Gramedia.

6. Panitia Penyusunan Hari Jadi Jepara Pemda Kabupaten Tingkat II Jepara. 1988. Sejarah dan Hari Jadi Jepara.

7. Slamet Mulyono, 1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhatara.

8. Sudibya, Z.H. 1980. Babad Tanah Jawi. Jakarta: Proyek Peneribitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

9. Sulendraningrat, P.S. 1972. Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli. Tjirebon: Pusaka.

10. Suroyo, A.M. Djuliati, dkk. 1995. Penelitian Lokasi Bekas Kraton Demak. Kerjasama Bappeda Tingkat I Jawa Tengah dengan Fakultas Sastra UNDIP Semarang.
…..
[Cacatan: Hukum Perkawinan (“perkawinan atau kawarangan”) dan Hukum Warisan (“warisan atau drewe kaliliran”) On 4 Agustus 2010 at 12:40 Tatik said, mohon maaf belum sempat diwedar, Insya Allah akan didongengkan kemudian. ]

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: