Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng énjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari

Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 26]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Soma Wage, Wuku Prangbakat, Ingkêl Buku, Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç; 09 Agustus 2010M; 28 Ruwah 1943 – Dal; 28 Sya’ban 1431H .

Pårå kadang, ingkang dahat kinurmatan.

Tulisan cantrik Bayuaji berikut di bawah ini berkenaan dengan masalah “kasta” dan “warisan” yang ditanyakan oleh salah seorang kadang padepokan kita. [On 4 Agustus 2010 at 12:40 Tatik said].

Tulisan ini semata-mata tinjauan pandangan dan penglihatan dari “mata dan telinga” sejarah, dengan merujuk pada data sejarah berupa peninggalan, atau tulisan-tulisan para ahli di bidangnya.
Adapun hal yang berkenaan dengan keyakinan dharma (dalam hal ini Hindu Bali), yang jelas bukan bidang keahlian cantrik Bayuaji, sehingga tidak ada kewenangan bagi cantrik Bayuaji untuk membahasnya.

Dumatêng Nyi/Ni Tatik [On 4 Agustus 2010 at 12:40 Tatik said (PBM-23)]:

Perkawinan Beda Kasta dan Pembagian Warisan

1. ‘Fakta’ di balik kisah tentang pernikahan Pangeran Kuda Padmadata (PBM) dengan puteri Ki Wastu, yang terkesan ‘tak sederajat’ karena si isteri adalah wong cilik, perempuan padepokan. Tetapi bukankah menurut hierarki sosial Hindu yag dianut Singasari ketika itu, Ki Wastu, sebagai pemimpin padepokan -meskipun Ki SHM tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa ia adalah pendeta- berkasta barhmana, yang lebih tinggi daripada Pangeran Kuda Padmadata yang berkasta ksatria? Atau apakah ada informasi bahwa para ajar atau guru padepokan tidak selalu berkasta brahmana?

2. Mekanisme pembagian harta waris pada masa itu? Siapa sajakah yang berhak mewarisi harta seseorang yang meninggal? Apakah isteri dan anak dari pernikahan ‘tak resmi’ berhak atas warisan?

Pada masa Kerajaan Kadiri yang kemudian dilanjutkan di zaman kerajaan Singoasari, kemudian kembali ke masa Kerajaan Kadiri lagi, dan berlanjut ke masa kerajaan Majapahit, kehidupan tata pemerintahan dan masyarakat pada masa itu diatur dalam Kitab Kutaramanawa, berdasarkan Kitab Hukum Kutarasastra (lebih tua) dan Kitab Hukum Hindu Manawasastra.

Semua tata pemerintahan dan kehidupan masyarakat dijalankan atas dasar peraturan yang termuat dalam undang-undang tersebut.

Pada Kitab Kutaramanawa terdapat 275 pasal yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan, pasal tersebut meliputi:

1.Bab I: Ketentuan umum mengenai denda;
2.Bab II: Delapan macam pembunuhan, disebut astadusta;
3.Bab III: Perlakuan terhadap hamba, disebut kawula;
4.Bab IV: Delapan macam pencurian, disebut astacorah;
5.Bab V: Paksaan atau sahasa;
6.Bab VI: Jual-beli atau adol-tuku;
7.Bab VII: Gadai atau sanda;
8.Bab VIII: Utang-piutang atau ahutang-apihutang;
9.Bab IX: Titipan;
10.Bab X: Mahar atau tukon;
11.Bab XI: Perkawinan atau kawarangan;
12.Bab XII: Mesum atau paradara;
13.Bab XIII: Warisan atau drewe kaliliran;
14.Bab XIV: Caci-maki atau wakparusya;
15.Bab XV: Menyakiti atau dandaparusya;
16.Bab XVI: Kelalaian atau kagelehan;
17.Bab XVII: Perkelahian atau atukaran;
18.Bab XVIII: Tanah atau bhumi;
19.Bab XIX: Fitnah atau dwilatek.

Bab XI; Kawarangan atau Perkawinan

a.Pada bab ini tidak ditemukan ketentuan yang mengatur pernikahan antar kasta.

b.Beberapa pasal:

Jika seorang isteri enggan kepada suaminya, karena ia tidak suka kepadanya, uang tukon harus dikembalikan dua kali lipat. Disebut juga amadal sanggama (enggan bersanggama) (Pasal 180).

Jika seorang perempuan tidak suka kepada suaminya, maka suami harus menunggu setahun. Jika setelah setahun tetap tidak suka maka perempuan itu mengembalikan tukon dua kali lipat. Peristiwa tersebut dinamakan amancal turon (enggan tidur bersama) (Pasal 181).

Jika suami-isteri ingin mencampur harta mereka berdua, maka mereka harus menunggu sampai lima tahun, jika telah lima tahun baru diperbolehkan mencampur hartanya (Pasal 182).

Pasal 207: “Barangsiapa memegang seorang gadis, kemudian gadis itu berteriak menangis, sedangkan banyak orang yang mengetahuinya, buatlah orang-orang itu saksi sebagai tanda bukti. Orang yang memegang itu dikenakanlah pidana mati oleh raja yang berkuasa”

Bab XIII: Drewe Kaliliran atau Warisan.

Mengenai hukum waris diatur sebagai berikut:

6 (enam) macam anak yang mempunyai hak waris:

1.Anak yang lahir dari penikahan pertama, ketika ibu-bapaknya masih sama sama muda dan sejak kecil telah dipertunangkan.

2.Anak yang lahir dari istri dari penikahan yang kedua kali, dan mendapat persetujuan orang tuanya

3.Anak pemberian saudaranya

4.Anak yang diminta dari orang lain

5.Anak yang diperoleh dari istri akibat percampuran dengan iparnya laki laki atas persetujuan suaminya.

6.Anak buangan yang dipungut dan diakui sebagai anak.

Sedangkan anak yang tidak mempunyai hak waris antara lain:

1.Anak yang tidak diketahui siapa bapaknya, karena diperoleh ibunya sebelum kawin

2.Anak campuran laki laki banyak

3.Anak seorang istri yang diceraikan dan rujuk kembali setelah bercampur dengan laki laki lain

4.Anak orang lain yang minta diakui anak

5.Anak yang diperoleh karena pembelian

6.Anak hamba yang diakui anak

Penduduk pada masa itu hidup dengan tertib dan sejahtera tentunya berkat adanya norma dan penegakkan aturan secara baik dan ditaati oleh seluruh rakyat. Hal mi disebabkan telah dikenal adanya kitab hukum dan perundang-undangan yang sangat dihormati dalam masa kejayaan Majapahit sebagai kelanjutan masa-masa sebelumnya.

Prasasti Bendasari yang dikeluarkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara dan juga Prasasti Trowu1an yang berangka tahun 1358 M, artinya dalam masa Rajasanagara juga, disebutkan adanya kitab hukum yang dinamakan Kutaramanawa atau lengkapnya Kutaramanawadharmasastra, sebagai kelanjutan dan penyempurnaa hukum masa Kadiri dan Singosari. Isi kitab tersebut ada yang berkenaan dengan hukum pidana dan perdata.

Demikianlah keadaan kitab hukum yang relatif memadai untuk masyarakat Majapahit dalam zaman keemasannya di era Rajasanagara. Nampaknya kitab Kutaramanawa tersebut tidak lagi diikuti secara baik dalam masa pemerintahan raja-raja sesudah Hayam Wuruk karena terdapat intrik keluarga raja-raja hingga keruntuhan Majapahit.

Kitab perundang-undangan tersebut tentunya bertujuan untuk mengatur dengan baik tata masyarakat sehingga dalam masa kejayaan Majapahit tercipta keadaan yang aman dan tentram bagi seluruh rakyatnya.

Pasal-pasal dalam kitab Kutaramanawa tersebut tidak bernapaskan kebudayaan luar (India), melainkan khas Jawa Kuno. Uraian yang terdapat dalam kitab itu ada yang berkenaan dengan hewan-hewan yang biasa dijumpai di Pulau Jawa, misalnya disebutkan adanya utang piutang kerbau, sapi dan kuda; pencurian ayam, kambing, domba, kerbau, sapi, anjing dan babi; ganti rugi terhadap hewan yang terbunuh karena tidak sengaja dan juga yang banyak mendapat sorotan adalah perihal hutang piutang padi.

Walaupun di beberapa bagiannya terdapat konsep-konsep dasar dan kebudayaan India (Hindu-Budha), namun penerapannya lebih ditujukan untuk masyarakat Jawa kuno. Jadi, konsep-konsep tersebut hanya memperkuat uraian saja.

Kitab hukum tersebut sudah pasti disusun dan dihasilkan dalam kondisi masyarakàt yang stabil dan aman. Oleh karena itu, para ahli hukum dapat deñgan tenang berembuk menyusun kitab yang isinya begitu rinci dan hampir menjangkau aspek hukurn yang dikenal dalam masanya.

Kiranya dapat diasumsikan bahwa kitab hukum Kutaramanawa itu diciptakan dan diundangkan dalam masa pemerintahan Rajasanagara, yaitu suatu kurun waktu dalam sejarah Majapahit yang aman dan sejahtera.

Demikianlah banyak hal yang membuat Majapahit menjadi jaya dalam masa pemerintahan Hayam Wuruk. Beberapa hal penting yang dapat diamati melalui kajian sumber-sumber sejarah dan bukti arkeologis dan masa itu adalah sebagai berikut:

1.Adanya sistem pemerintahan yang efektif.
2.Adanya keajegaii (kestabilan) pemerintahan.
3.Berlangsungnya kehidupan keagamaan yang baik.
4.Terselenggaranya upacara kemegahan di istana.
5.Tumbuh kembangnya berbagai bentuk kesenian.
6.Hidupnya perniagaan Nusantara dengan Jawa (Majapahit).
7.Pelaksanaan politik Majapahit terhadap Nusantara.
8.Adanya pengakuan internasional dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Rujukan:

1.Slamet Muljana Prof. Dr, Nagara Kertagama, Tafsir Sejarah; 2006. LkiS Yogyakarta.

2. Agus Aris Munandar. Majapahit Dalam Sejarah, makalah, Warta Hindu Dharma.

Catatan:

1. Mohon maaf baru ada kesempatan menjawab pertanyaan Nyi/Ni Tatik.

2. Dalam hal ingin mengetahui lebih banyak tentang “pernikahan antar kasta”, dapat membacanya pada “rontal-rontal” antara lain berikut ini:

a.I Gusti Ngurah Bagus. Prof. Pertentangan kasta dalam bentuk baru pada masjarakat baru {i.e. Bali}. Makalah lepas. Fakultas Sastra Universitas Udayana. Bali, 1969

b. Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda Kasta di Bali: Kesalah-pahaman yang sudah sirna, Makalah lepas. 2010

c. Nyoman Sri Susilowati, Akibat hukum terhadap perkawinan nyeburin antar kasta menurut Hukum Adat Bali. Tesis pada Program Pasca Sarjana UGM Yogyakarta, 2003

d. Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi, Catur Ashrama, Canang Sari Dharmawacana. tahun ?

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: