Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun, dumatêng sêdulur kulå salah satunggaling prawirå sandi yudhå Sénåpati Sarwåjålå Adipati Unus, Laskar Sabrang Lor, [On 3 November 2010 at 05:42 Laskar Sabrang Lor said][HLHLP 043] såhå pårå kadang sutrésnå padepokan pelangisingosari, ingkang dahat kinurmatan

MATAH ATI
Radén Ayu Kusumå Matah Ati

Bagian Pertama
[Seri Sejarah Nusantara]

Kisah mengenai Rubiyah yang lebih dikenal si Matah Ati ini sangat menarik. Adalah sebuah kisah nyata perjalanan cinta antara Radèn Mas Said atau Pangéran Sambêr Nyåwå, kelak adalah Pangéran Adipati Mangkunêgårå atau KGPAA Mangkunêgårå I, dan seorang kembang desa dari Wonogiri yang bernama Rubiyah.

Raden Mas Said kemudian berhasil menjadi seorang raja dengan gelar Mangkunêgårå I. Rubiyah pun mendampinginya sebagai istri dengan gelar Raden Ayu Kusumå Patahan atau Raden Ayu Kusumå Matah Ati, karena terlahir di Desa Matah. Sangat disayangkan bahwa kisah ini jarang disebut dalam sejarah nasional kita. Kisah Rubiyah tenggelam di bawah kisah ‘kebesaran’ perjuangan suaminya sendiri Raden Mas Said.

Padahal dari rahim Rubiyahlah lahir raja-raja pelanjut dinasti Majapahit, sejak runtuhnya Pajang dan dimulainya kedinastian Mataram. Keturunan dari perempuan gagah berani itu nantinya menjadi raja-raja di Mangkunegaran.

Kisah Rubiyah ingin menunjukkan bukti bahwa perspektif kesetaraan gender telah berkembang dalam sejarah Jawa di abad ke-18. Radèn Mas Said bersama-sama istrinya yaitu Rubiyah si Matah Ati itu ikut berperang gerilya.

Tidak hanya menjadi pendamping, sang istri pun diangkat menjadi panglima bagi sekelompok pasukan tempur perempuan, yang dalam kitab Babad Tutur disebut Prajurit Èstri, Ladrang Mangungkung dan Prajurit Èstri, Jayèngastå). Prajurit Estri bukanlah istri prajurit, tetapi benar-benar prajurit pasukan tempur (mungkin dapat disamakan dengan KOWAD, KOWAL atau WARA).

Dalam Babad Tutur diceritakan bahwa kaum perempuan ini ikut angkat senjata dan berjuang melawan penjajah, ditulis pula perjalanan gerilya Raden Mas Said dalam melawan penjajah. Prajurit Èstri itu juga mendapat tugas yang sangat penting, yaitu mendokumentasikan semua perjalanan perang Radèn Mas Said.

Kelak setelah Raden Mas Said menjadi raja Mangkunêgårå, Prajurit Èstri memiliki tugas penting yaitu sebagai anggota pasukan pelindung utama raja, Prajurit Èstri juga terus mencatat sabda raja (Carik Èstri, semacam Menteri Sekretaris Negara).

Mangkunêgårå tercatat sebagai raja Jawa yang pertama melibatkan perempuan di dalam angkatan perang. Selama 16 tahun berperang, prajurit wanita itu bahkan sudah diikutkan dalam pertempuran, ketika ia memberontak melawan Sunan, Sultan dan Kompeni.

Berikut kutipan Babad Tutur yang menempatkan perempuan setara dengan laki-laki: Pangeran Dipati sering memberikan pelajaran pada para Prajurit Èstri dengan menunggang kuda melontarkan senjata. Para prajurit menerimanya di atas punggung kuda.” Pada fragmen lain: “Pangeran Dipati mengajar menari para Prajurit Èstri yang diriringi gamelan yang ditabuh oleh para perempuan.

Disayangkan sumber pustaka untuk sosok ini tak begitu banyak. Padahal, dalam setiap kisah Raden Mas Said, nama Rubiyah selalu muncul. Sedikit sekali literatur Jawa dari perpustakaan Mangkunegaran yang menceritakan tokoh yang satu ini, sampai beberapa studi sejarah Jawa yang dilakukan sejarawan Amerika, Nancy Florida. Demikian juga informasi melalui para sesepuh kadipaten Mangkunegaran, selain cerita jurukunci makam Rubiyah.

Sosok Rubiyah pun nyaris jauh dari cerita sejarah. Sosok Rubiyah hanya ditempatkan menjadi bayang-bayang Pangéran Sambêrnyåwå. Mangacu pada adat ketimuran kita, bahwa seorang perempuan selalu berada di belakang lelaki/suaminya.

Raden Mas Said dengan Rubiyah bertemu dalam sebuah pertunjukan wayang di tengah desa. Dalam kisah asmara itu, mereka berdua digambarkan mirip kisah pertemuan Ken Dedes dan Ken Arok. Raden Mas Said dikisahkan melihat sinar yang keluar dari kemaluan seorang gadis. Tanda ini diyakini bisa mengangkat derajat lelaki jika kelak memperistri gadis tersebut. Dalam kisah sebenarnya Raden Mas Said kemudian menyobek wiron kain jarik gadis tersebut sebagai penanda. Dalam kisah tutur lain disbutkan bahwa kain panjang si gadis disulut rokok oleh RM Said. Jika kisah ini benar, maka waktu mudanya Raden Mas Said tergolong “gemblung” juga, masak anak gadis orang ‘ditelanjangi’, dan kain panjang si gadis disundut pake rokok (?)

Penanda ini menjadi pegangan ketika punggawa kerajaan mencari si gadis di Desa Matah. Ternyata gadis Rubiyah ini adalah putri Kiai Kasan Iman, atau Ki Ageng Noer Iman yang tak lain adalah guru ngaji Raden Mas Said. Siapakah Ki Ageng Noer Iman? Bila dilihat dari silsilah keturunan, beliau masih generasi ke IV Sultan Pajang atau Sultan Hadiwijaya, yang dikenal dengan nama Mas Karebet si Joko Tingkir.

Dalam buku Prajurit Perempuan Jawa: Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad ke-18, tulisan Ann Kumar dan Mikael Johani, Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta 2008. Sebuah buku yang untuk pertama kalinya memamerkan panorama spektakuler kraton Jawa di abad ke-18 dan peran perempuan di dalamnya kepada masyarakat luas.

Buku ini mengulas catatan harian seorang prajurit perempuan Jawa abad ke-18, sebuah harta karun unik yang bisa menunjukkan kepada kita potret dunia Jawa yang sudah tak ada lagi. yang sangat fokus, penuh detil, dan berwarna-warni. bahkan bisa ikut melukis kembali gambaran ‘abu-abu dan kabur’ tentang sejarah Indonesia.

Sebagai manuskrip, catatan harian ini menunjukkan bahwa prajurit perempuan Jawa selain ahli memainkan senapan, mereka pun mengikuti perkembangan politik, ekonomi di sekitar kraton dengan rinci.

Catatan harian ini lebih dari manuskrip mana pun, kita dipaksa menimbang kembali berbagai anggapan, pendapat, dan klise tentang masyarakat Indonesia (terutama Jawa) tradisional, seperti konsep Clifford Geertz tentang ‘theatre state’, pengaruh Islam di kraton Jawa abad ke-18 yang kurang, dan tentang orang Cina. namun yang terpenting buku ini memaksa kita untuk menimbang kembali pandangan tentang perempuan Indonesia. bahkan tentang perempuan Asia pada umumnya.

Ada petikan yang membuat gemas atau geram dari Serat Panitisastra mengenai perempuan:
mungguh ing èstri ingkang pinilih déning wong priyå wanodyå ingkang agêmuh payudarane dadi sukaning kakung
(perempuan yang menjadi pilihan pria ialah perempuan dengan payudara montok yang merupakan kegemaran para lelaki).

Petikan itu mungkin bisa jadi alasan untuk perdebatan panjang dalam wacana gender dengan mengacu ke kepustakaan Jawa lama.
Perempuan dalam teks sastra memang memiliki sejarah pinggiran yang terkadang melahirkan kutukan.

Kehadiran perkara perempuan dalam kepustakaan Jawa kerap dalam dilema jika disangkutkan dengan wacana-wacana mutakhir. Nasib perempuan seperti ditundukkan atau menurut pada otoritas lelaki, kosmologi-maskulin, atau jejaring kekuasaan.

Perempuan dalam Serat Panitisastra dan masa sastra Jawa Madya menjadi objek fungsional yang dibayangi konvensi rasial dan religi yang paternalistik. Pemahaman itu menjadi efek atau mekanisme dari kekuasaan yang mengacu ke keraton. Sastra Jawa memang dominan lahir dari pujangga keraton yang susah melepaskan diri dari pamrih kekuasaan yang paternalistik: keraton dan kolonial.

Perubahan Literer Serat Panitisastra merupakan tanda proses perubahan literer di Solo pada pergantian abad XVIII ke abad XIX. Gubahan Serat Panitisastra mengacu ke sastra Jawa kuno berjudul Nitisastra (Poerbatjaraka, Kepustakaan Jawa, 1952: 160-161). Gubahan muncul dalam pelbagai versi dengan pelbagai resepsi dan efek untuk transformasi sosial dan kebudayaan Jawa.

Serat Panitisastra khas untuk kaum elite (bangsawan) dalam keraton. Ajaran-ajaran dalam Serat Panitisastra pun riuh dengan pamrih kekuasaan dan legitimasi kebudayaan atas nama keraton.

Definisi bahwa perempuan yang diinginkan kaum lelaki adalah berpayudara montok rentan dengan produksi wacana yang diskriminatif. Payudara sebagai representasi tubuh perempuan diajukan sebagai pemberi legitimasi untuk identitas dan “harga” di hadapan lelaki.

Perkara itu hendak menciptakan idealitas dan realitas dengan sumber nilai dari kaum elite untuk menuruti hasrat dan kegenitan kekuasaan. Nilai perempuan yang diletakkan dalam kemontokan payudara memang mengandung unsur pelecehan dan pembakuan seksualitas yang tak mengenakkan.

Petikan lain dalam Serat Panitisastra pun menguatkan cara pandang atas perempuan yang diskriminatif:

Racun bagi perempuan apabila sudah tertaburi uban, itu racun untuk diri sebab lelaki tak ada yang tertarik untuk memperistri atau sekadar memandang. Meski ia masih perawan, karena uban bisa membuat ia seperti lenyap kegadisannya.” Uban dalam petikan itu jadi alasan untuk mencederai perempuan dalam wacana kecantikan.

Nasib apes perempuan muncul kembali dalam petikan ini. “Jangan menurutkan pikiran perempuan sebab engkau akan dipermalukan oleh sesama. Dan jangan menuruti kehendak hati perempuan sebab engkau akan mendapat sengsara yang bisa sampai ajal. Meskipun patut dalam penalaran, sabarkanlah dahulu.

Petikan itu kentara mengonstruksi perempuan sebagai momok dan makhluk pembuat celaka dan sengsara bagi lelaki. Perempuan seperti tak mendapat hak menentukan perubahan dan arus peradaban yang patriarki.

Ditundukkan kisah perempuan dalam Serat Panitisastra berbeda dari kisah dalam Babad Tutur. Perempuan sejak lama dilekati atau ditundukkan dengan sifat nrimå, pasrah, lêmbah manah, sêtiå, lan alus.

Banyak anggapan bahwa tradisi Jawa, perempuan tidak memiliki perspektif kesetaraan gender karena menempatkan perempuan sebagai kanca wingking, hanya mengurusi keperluan di dalam rumah, sebagai kaum yang dikekang, dibatasi, gampang menyerah, dan ‘feminin’.

Mengapa begitu? Soalnya, wanita itu ibarat awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék (siang menjadi terompah/bakiak/babu, malamnya naik pangkat menjadi alas untuk ditindih).

Akan lebih jelas lagi betapa rendah status wanita di kalangan kelompok masyarakat tertentu di Jawa. Di kalangan itu, wanita cuma tempat menumpahkan benih. Selebihnya babu atau budak.

ånå candhaké

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: