Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Lir sumilir lumakuning urip rinå lan wêngi, wanci lingsir wêngi, tintrim, wingit, mugå-mugå tansah antuk pêpayunganing Gusti Kang Måhå Wikan, manêdyå wantah ora kêndat tansah éling lan manêmbah mring Gusti Kang Ora Sarê. Ing madyå ratri pating trênyêp sumrêsêp hêning, énang-énung awang-awung, lamat-lamat dumêling ing akåså, sumusup himå himantåkå, satémah mawéh prabåwå hambabar wahyu kunugrahan suci, mugå-mugå têtêp winêngku sukå basuki.

Wêngi………….
Sansåyå nglangut
sêmiliring bêbaratan tumiyup lon-lonan saking perengin ardi, nggåndå wanginé arumdalu, kênångå lan cêmpåkå
ugå kêmbang saptå ronå

Kêmênyan putih
kêluk sêtanggi dupå ing ngawiyat
tangis kêdasih lan kidung råråwogå
mèlu ngobahaké ati

Mirêngnå pujå puji pangaståwå sajroning sepi
swaraning gênding Kidung Agung têtêmbangan pårå jiwå suci kang tansah lumampah wontên ing margi kabêcikan,

Têmbang Agung para jiwa suci sanityåså pinrihatin
puguh panggah cêgah dhahar lawan néndrå, njumenengi rartri amrih caket mring Gusti. Tansah luyut sumujud ing ngarså Dalêm Gusti.
.

Katur dongå pujå-puji pangaståwå dumatêng Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Ingkang Måhå Asih.

Kidung Agung kang ngémutake pårå titah manungså marang Gusti Kang Ora Naté Saré ingkang tansah maspadaké marang kawulaNé ingkang tansah manêmbah lan nyênyuwun tanpâ kêndat marang PanjênêngaNé.

Sugêng énjang pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, wanci lingsir wengi:

Merapi 851Ç. Letusan dahsyat itu terjadi, Mdang Bhumi Mataram sebuah kerajaan besar hancur dan pralaya pada akhir masa Kaliyuga, dan hari ini Merapi mengulang sejarah yang sama. Merapi sedang “merapi”kan dirinya. Lalu apa yang terjadi kemudian?.

Atas izin Ki Cantrik Bayuaji, Punakawan mau mendongeng, berikut ini dongengnya:

DONGENG ARKEOLOGI DAN ANTROPOLOGI
Seri Sejarah Nusantara

JIKA MERAPI SEDANG BERSOLEK
“Hijrahnya” Kerajaan Mataram Kuna dari Mdang ke Tamwlang

Merapi memang sedang bersolek.
Ketika hujan mengguyur memandikan tubuhnya. Merapi gemetaran menggigil kedinginan.

Sesudah itu dengan genitnya Merapi memakai bedak pupur, maka putihlah wajahnya
Sekitar dirinyapun berbedak putih.
Jogja pun dibuatnya menjadi cantik. Putih berbedak.
Tidak hanya Jogya, tetapi Jawadwipa dan juga Nusantara ikut pupuran.

Lalu dia pakai gincu pemerah bibir, warna merah pun meleleh ‘dlewer’ dari mulutnya, dan pupurnya semakin melabur kemana-mana.

Cantiknya dikau Merapi
Merapi memang sedang “merapi”kan dirinya.

Zaman Kaliyuga

Pada masa Kaliyuga, ada banyak aturan yang saling bersaing satu sama lain. Mereka tidak punya tabiat. Kekerasan, kepalsuan, penipuan, kelicikan,dan tindak kejahatan lainnya akan menjadi santapan sehari-hari.

Kesucian dan tabiat baik perlahan-lahan akan merosot. Gairah dan nafsu menjadi pemuas hati di antara pria dan wanita. Wanita akan menjadi objek yang memikat nafsu birahi. Kebohongan akan digunakan untuk mencari nafkah. Orang-orang terpelajar dan para penggede kelihatan lucu dan aneh. Hanya orang-orang kaya yang dapat berkuasa.

Pada zaman Kaliyuga, banyak perubahan tak diinginkan yang akan terjadi. Tangan kiri akan menjadi tangan kanan, dan tangan kanan menjadi tangan kiri. Orang yang kurang terpelajar akan mengajari kebenaran.
Yang tua kurang sensitif terhadap yang muda, dan yang muda akan berani melawan yang tua.

Pada zaman Kaliyuga, orang-orang yang berbuat dosa akan bertambah berlipat-lipat, kebajikan akan meredup dan berhenti berkembang. Pada zaman Kaliyuga, kehamilan di usia remaja bukanlah hal yang asing lagi. Penyebab utamanya kebanyakan karena dampak sosial dari pergaulan yang dijadikan salah satu kebutuhan utama dalam hidup.

Pada zaman tersebut, umur manusia menjadi semakin pendek, raganya melemah secara mental dan rohaniah. Pada zaman Kaliyuga, para guru akan dilawan oleh para muridnya. Mereka perlahan-lahan kehilangan rasa hormat. Pelajarannya akan dicela dan Kama (nafsu) akan mengontrol semua keinginan manusia. Semakin bertambahnya orang-orang berdosa, keadilan menjadi ternoda, dan kemarahan Tuhan akan mendera.

Orang-orang berdosa akan dihukum melalui kejadian yang disebabkan oleh kuasa Tuhan, tetapi orang-orang yang masih hidup dan sempat menyaksikannya masih punya kesempatan untuk bertobat, atau tidak bertobat dan ikut dihukum bersama orang-orang berdosa yang lain.

Ketika pohon-pohon berhenti berbunga, dan pohon-pohon buah berhenti berbuah, maka pada saat itulah masa-masa menjelang akhirnya zaman Kaliyuga. Hujan akan turun bukan pada musimnya, sering terjadi gempa bumi dan bencana, gunung meletus, ketika akhir zaman Kaliyuga sudah mendekat.

Kerajaan Mataram Hindu-Budha.

Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan seperti pegunungan Serayu, gunung Prau, gunung Sindoro, gunung Sumbing, gunung Ungaran, gunung Merbabu, gunung Merapi, pegunungan Kendang, gunung Lawu, gunung Sewu serta gunung Kidul. Daerah ini juga banyak mengalir sungai besar di antaranya sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo.

Kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kunå (dalam dongeng ini selajutnya disebut Mataram) sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram merupakan daerah yang subur yang memudahkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan merupakan kekuatan utama bagi negara darat.

Kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.

Kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan wangsa Sailendra. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.

Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra.

Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan.
Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke Swarnadwipa (diduga Sumatra, daerah Palembang sekarang) dan menjadi raja Sriwijaya.

Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba.

Mataram Hindu — Wangsa Sanjaya (732 M).

Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh menyerang Purbasora yang saat itu menguasai Kerajaan Galuh dengan bantuan dari Tarusbawa dan berhasil melengserkannya. Prabu Harisdarma pun menjadi raja Kerajaan Sunda Galuh.

Prabu Harisdarma yang juga ahli waris dari Kalingga, kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dan dikenal dengan nama Sanjaya pada tahun 732 M. Sanjaya atau Prabu Harisdarma, raja kedua Kerajaan Sunda (723-732 M), menjadi raja
Kerajaan Mataram (Hindu) (732-760 M). ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.

Prasasti Metyasih atau Prasasti Mantyasihatau Prasasti Balitung

Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M. Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram, dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu:

[Tulisan kali ini lebih difokuskan pada perpindahan Kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pada saatnya nanti, Insya Allah Punakawan akan uraikan satu per satu beliau-beliau para raja Mataram ini, prestasinya, juga ajaran ajaran pitutur dan wewalernya]:

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M)
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M)
3. Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780-800 M)
4. Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)
5. Sri Maharaja Rakai Garung (820-840 M)
6. Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M)
7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M)
8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M)
9. Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M)
10. Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)
11. Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M)
12. Sri Maharaja Dyah Wawa (921 – 928 M)
13. Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M)

Keruntuhan Wangsa Sanjaya

Pada abad ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan stategi suksesi Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran.

Banyak perbuatan maksiat dan dosa dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu, seperti suap dan korupsi, perzinahan, minum-minuman keras dan candu, yang mengundang peringatan dan azab melalui bencana alam yang datang bertubi-tubi di negeri tercinta itu.

Ini adalah salah satu contohnya (Lihat juga “Pemerasan oleh Pejabat Pajak digagalkan Penegak Hukum) di: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/3/

Diceritakan pada masa itu bahwa kawula Mataram di bawah pemerintahan Dyah Wawa, meskipun diberitakan kerajaan mengalami kejayaan. Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat.
Tanah-tanah pertanian subur. Tetapi prasasti lain membuktikan sebaliknya:

Kawula kerajaan digambarkan sering mengalami kesulitan hidup, sedih karena beratnya menyangga beban hidup, yang seakan tak pernah berakhir. Harta dan nyawa yang hilang kêtrajang banjir yang terlalu sering, tertimbun tanah longsor yang terlalu kêrêp), puso (kerep banget), sawah pategalan kering, gempa bumi (juga sering), Juga kasus-kasus penegakan hukum, kasus-kasus suap, pemerasan, penyuapan, penggelapan pajak, adalah sedikit dari kasus penegakan hukum yang tercatat, termasuk juga penghilangan nyawa orang.

Dari sekian berita di atas, anehnya berita-berita itu seolah hendak memberikan isyarat bahwa betapa bobroknya lahir (banjir, gempa bumi,) dan batin (perzinahan, nyolong, suap, pemerasan, pembunuhan, dan seterusnya, dan seterusnya) negeri Mataram pada waktu itu.

Pårå kadang,

Ternyata satu salah satu berita di atas pernah diberitakan “koran kuno” yang kini berada di Museum Nasional Jakarta. Ada satu artefak yang patut mendapat perhatian. Benda kuno itu berupa sepotong lempengan logam berukuran 27 cm x 23 cm, dengan kode inventaris E 63. Kondisi artefak memang sudah berkarat di sana-sini sehingga terkesan “acakadhut”. Dilihat dari bentuknya tak ada yang bernilai seni, kecuali berupa tatahan aksara.

Tidak sembarang orang mampu membaca benda ini.
Namun bagi Ki Bayuaji dan para “sinuwun” arkeolog yang menggeluti bidang epigrafi (aksara dan tulisan kuno), benda itu sangat berarti karena informasi di dalamnya sangat bermanfaat untuk kajian masa kini.
“Surat kabar kuno” tersebut adalah adalah Prasasti Wurudu Kidul diterbitkan pada 844Ç/922M, ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Pertama kali isi prasasti Wurudu Kidul diulas oleh W.F. Stutterheim pada 1935.

Pada intinya prasasti Wurudu Kidul menguraikan bagaimana susahnya seseorang menjadi warga keturunan dalam menghadapi pejabat pajak. Kemungkinan, sebelum ini pemerasan pajak hampir selalu dilakukan terhadap orang asing. Hukum Jawa Kuno memang mengatur bahwa pajak orang asing lebih tinggi daripada pajak orang pribumi. Namun kalau sudah keterlaluan, jelas-jelas akan menimbulkan citra buruk bagi pejabat pajak kerajaan.

Konon, menurut bagian awal prasasti ini (disebut Prasasti Wurudu Kidul A), ada seorang pria bernama Sang Dhanadi. Dia bertempat tingal di desa Wurudu Kidul. Suatu hari Dhanadi kedatangan tamu bernama Wukajana. Orang ini menjabat sebagai Samgat Manghuri (yakni “Pejabat Direktorat Perpajakan Departemen Keuangan Kerajaan Mataram Kunå”), yang bertugas memungut pajak dari rumah ke rumah.

Begitu melihat Dhanadi, Wukajana langsung menuduh Dhanadi bahwa dia adalah anak orang asing. “Kamu termasuk golongan warga atau wka kilalang (orang asing),” demikian kira-kira tuduhannya. Sebagai orang asing tentu saja Dhanadi harus membayar pajak lebih besar daripada warga pribumi.

Dhanadi tidak terima dengan sangkaan tersebut. Dia lalu mengadu ke KPK (eh maksudnya ke Sang Pamget Padang (yakni hakim dari pengadilan kerajaan Mataram Kunå, bernama Empu Bhadra). Untungnya hakim tidak mengulur-ulur waktu perkara seperti zaman sekarang. Tak berapa lama, sang hakim segera mengusut tuduhan terhadap Dhanadi itu.

Sebagai tambahan informasi Sang Pamget Padang Empu Bhadra ini adalah hakim yang sangat jujur, disegani oleh semua pihak bahkan oleh Baginda Prabu Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga atau Dyah Wawa, sendiri.

Pertama kali, keluarga Dhanadi dipanggil satu per satu ke persidangan. Mulai dari kakek nenek hingga ayah ibu diperiksa dengan saksama dan ketat di pengadilan. Dari garis kakek dirunut-runut apakah ada unsur asing yang mengalir dalam darah Dhanadi.
Begitu pula dari garis nenek. Bukan cuma itu. Warga di desa Grih, Kahuripan, dan Paninglaran yang berada di sekitar desa tempat Dhanadi tinggal, ikut dimintai keterangan sebagai saksi.

Setelah melakukan pemeriksaan yang ketat dan seksama, dengan tegas dan berwibawa hakim segera memutuskan bahwa Dhanadi dan keluarganya benar-benar orang pribumi asli. Menurut prasasti disebut wwang yukti. Dengan demikian besarnya pajak yang harus dibayarkan Dhanadi tidak setinggi seperti yang diminta pejabat “direktotat pajak” itu.

Sebagai pegangan, hakim itu Sang Pamget Padang Empu Bhadra, memberikan “Surat Sakti” (tidak dijelaskan bahan “surat” tapi yang pasti bukan kertas) tertanggal 6 Kresnapaksa bulan Baisakha tahun 844Ç atau identik dengan 20 April 922M. Waktu itu pula (922M) yang dijadikan tarikh prasasti Wurudu Kidul.

Namun sudah plong-kah hati Dhanadi? Mungkin karena sudah “mental pejabat korup”, rupa-rupanya pejabat pajak tadi tidak puas atas keputusan hakim. Akibatnya kali ini ketenangan Dhanadi terusik kembali oleh pejabat pajak lain, Pamariwa. Ternyata Pamariwa adalah orang suruhan Wukajana dari Samgat Manghuri, pejabat pajak yang coba memeras Dhanadi tadi.

Begitu bertemu muka dengan Dhanadi, demikian menurut Prasasti Wurudu Kidul B, Pamariwa langsung menuduhnya anak keturunan Khmer atau Kamboja, disebut wka kmir, tentu saja Dhanadi sangat tersinggung. Dia mengadu lagi ke Sang Pamget Padang.

Sesuai prosedur hukum, hakim mengirim “surat panggilan” pertama ke rumah Pamariwa agar menghadiri sidang gugatan. Namun pada panggilan pertama, Pamariwa tidak datang.
Hakim mengirim lagi surat panggilan kedua. Kali ini Pamariwa juga tetap tidak datang. Akhirnya Samget Juru i Madandar memenangkan Dhanadi. Rupa-rupanya pada waktu itu belum dikenal istilah “pemanggilan paksa” seperti pada zaman sekarang. Jadi cukup pemanggilan dua kali berturut-turut. Jika tidak datang, berarti kalah perkara.

Sekali lagi, Dhanadi menerima “Surat Sakti” tertanggal 7 Suklapaksa bulan Jyaistha tahun 844Ç atau 6 Mei 922M.
Jelas sekali dari kedua kasus itu, ada upaya pemerasan yang coba dilakukan pejabat pajak. Di pihak lain, upaya negatif itu digagalkan hakim yang jujur.

Sayang, proses pengadilan itu terjadi di masa lampau, tepatnya di Kerajaan Mataram. Kalau saja terjadi di masa kini, mungkin penjara kita sudah dipenuhi koruptor-koruptor.

Terhadap ulah Pamariwa yang dua kali mangkir, tentu saja dikenakan sanksi berdasarkan hukum Jawa Kuno. Dikatakan di dalam berbagai kitab hukum, perbuatan menuduh yang tidak berdasar (duhilatan) adalah tindak pidana yang patut dikenai hukuman. Namun belum jelas hukuman apa yang dijatuhkan kepada Pamariwa itu. Juga kepada atasan Pamariwa, Wukajana dari Samgat Manghuri.

Boleh jadi, berita pada “koran purba” di atas hanya satu dari sekian banyak berita-berita kebobrokan aparat kerajaan, dan Sri Baginda Prabu Dyah Wawa masih harus menghadapi serangan pasukan “asing” dari utara. Kerajaan Sriwijaya.

Benar-benar negara Kerajaan Mataram sudah berada diambang keruntuhannya. Lengkap sudah carut marut negeri tercinta Mataram Kuno itu. Demikian Sang Pujangga mendongeng.

Pårå kadang,

Empu Sendok yang memegang pemerintahan setelah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur itu bertepatan akibat hancurnya kota Medhang atau Medang atau Mdang yang disebabkan oleh meletusnya gunung Merapi secara tiba-tiba, yang dalam sejarahnya merupakan karena yang yang terhebat.

Letusan itu sedemikian dahsyatnya, berdasarkan catatan geologis sebagian besar puncaknya lenyap dan terjadi pergeseran lapisan tanah ke aah barat daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk gunung Gendol, karena pergerakan tanah itu terbentur pada lempengan-lempengan pegunungan bukit Menoreh.

Sudah barang tentu letusan itu disertai gempa bumi, awan panas, banjir lahar, hujan abu dan bebatuan panas,yang sangat megerikan

Bencana alam ini merusak kota Mdhang Ibu Kota Kerjaan mataram, dan juga daerah pemukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh para kawula dirasakan sebagai pralaya atau kehancuran dunia. (RW van Bemmelem dalam bukunya The Geology of Indonesia 1949. Boechari: “Some considerations on the problem of the shift of Mataram’s Centre” Bulletin of the Research Centre of Archaeologi of Indonesia).

Di mana letak ibu kota tersebut ketika pusat pemerintahan ketika masih di Jawa Tengah?

Berikut cuplikan kata-kata yang ada pada beberapa prasasti yang bunyi aslinya:

1. Siwagrha 856 M: “i mamratipurastha medang kadatwan

2. Mantyasih I 907M “ri mdang ri poh pitu, rakai mataram…

3. Sugih Manek 915 M, Sangguran 928 M “kadatwan…i mdang i bhumi mataram

4. Turyyan 929 M “kadatwan…sri maharaja i bhumi mataram

5.Paradah II 943M: “i mdang i bhumi mataram i watu galuh

Sebagaimana ditafsirkan kata-kata dalam prasasti itu menunjukkan nama-nama tempat beserta hirarkinya. Nama istana dalam berbagai prasasti ada sekitar tiga buah yaitu Mamrati, Poh Pitu, dan Watu Galuh.
Sementara nama ibu kotanya disebut sebagai Medang atau Mdang. Nama Medang selalu dipakai meskipun istananya berpindah. Demikian juga ketika pusat pemerintahan pindah ke Jawa Timur nama Medang tetap dipakai.

Ihwal ibukota Mataram, diduga kuat terletak dekat dengan pusat-pusat bangunan keagamaan terpenting pada saat itu. Ada dua kemungkinan lokasi, yakni di daerah Kedu dan di daerah Prambanan, atau di kedua wilayah tersebut dalam waktu yang tidak bersamaan.

Kemungkinan tersebut ditunjang oleh kenyataan bahwa bangunan-bangunan keagamaan utama memang terpusat di kedua wilayah tersebut. Selain itu, konsentrasi penemuan prasasti-prasasti dari periode Mataram menunjukkan adanya lima wilayah yang tergolong kepadatannya tinggi, yakni Klaten, Bantul, Temanggung, Sleman, dan Magelang. Dari kelima wilayah ini, dua yang paling padat adalah Sleman di daerah Prambanan dan Magelang di daerah Kedu.

Demikian pula temuan benda-benda logam, baik yang terbuat dari perunggu, perak, maupun emas, juga terkonsentrasi di kedua wilayah tersebut.
Salah satu temuan benda emas yang paling fenomenal adalah yang ditemukan di sebuah tempat yang disebut Wonoboyo di dekat Prambanan. Penemuan itu merupakan yang terbesar yang pernah ditemukan di Jawa, terdiri dari berbagai perhiasan, 6.396 keping uang emas, 600 keping uang perak dengan berat keseluruhannya adalah 35 kilogram

Peristiwa berpindahnya ibukota Mataram Kuna dari I Poh Pitu (Jawa Tengah) ke Tamwlang (Jawa Timur). Letak Tamwlang oleh para ahli diduga daerah Tembelang, kabupaten Jombang. Hal ini berdasarkan berita prasasti Turyyan 851 Saka yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rake Hino Dyah Sindok Sri Isawikrama Dharmmotunggawijaya berbunyi:

…maka tewek çri maharaja makadatwan i tamwlang.

[maka Sri Maharaja berkedaton di Tamwlang (Tambelang (?), Jombang, Jawa Timur)]

Peristiwa ini dikonversikan menjadi tanggal 24 Juli 929M.
Kedua berpindahnya ibukota Mataram Kuna dari Tamwlang (ke Watugaluh (kecamatan Diwek). Hal ini diperkuat dalam prasasti Anjukladang 859 Saka (937 Masehi) yang berbunyi:

…kita prasidha manraksang ranghyangta mdang i bhumi mataram i watugaluh.

Peristiwa ini diduga terjadi pada 10 April 937 M.

Orang-orang bijak berkata bahwa: Sesungguhnya letusan Gunung Merapi dan semua kegiatan gunung vulkanik ada dalam “genggaman” Gusti Ingkang Murba Ing Dumadi. Jangankan aktivitas gunung berapi yang luar biasa, bahkan gugurnya sehelai daun atau bergeraknya seekor semut hanya bisa terjadi atas kehendak dan izin Maha Nu Wasesa. Boleh jadi letusan Merapi yang terjadi di abad 10 itu karena kemaksiatan yang merajalela.

Sebagian dari bangsa ini sudah terlalu jauh dari kehidupan beragama. Banyak perbuatan maksiat dan dosa dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu, seperti korupsi, perzinahan, minum-minuman keras, narkoba, dan lain lain, yang mengundang peringatan dan azab dari Tuhan melalui bencana alam yang datang bertubi-tubi di negeri tercinta ini.

Belum selesai akibat banjir bandang Wasior, lalu datang gempa dan badai Tsunami di Mentawai, lalu letusan Gunung Merapi, dan akan menghadapi ancaman badai Siklun Anggrek yang tidak kalah dahsyatnya. Allahu Akbar.

Dhuh Gusti, kawulå nyuwun pangapurå sâdåyå doså kawulå

Nuwun, keparêng

punåkawan

Sumber Sejarah
1. Prasasti Canggal
2. Prasasti Metyasih/Balitung
3. Prasasti Wurudu Kidul

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: