Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Atur pambagyå dumatêng pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

Sugêng pêpanggihan malih pårå kadang, radi sawêtawis wêkdal mboten nuwéni padêpokan.
Penuh dengan “kesibukan” yang tidak dapat ditinggalkan demi masa depan, (walah åpå toh iki).
Wah gandhok tambah rejå.

Begini pårå kadang.

Sekarang ini saya lagi sênêng-sênêngnya gojégan sama putu, (putuku ini usianya baru 2,5 tahun), båpå biyungé sedang umroh, direncanakan ±15 hari. Lha karena sudah jumênêng dadi éyang kakung (cucuku ini manggilnya “akung”) dan kepada éyang putrinya, yakni Sang Ardhanareswariku, (dipanggilnya “uti”), sehingga membuat sênthong pasêmadénku menjadi “tempat penitipan cucu”.
Jadi yang namanya “wangi-wangian semerbak ompol (meskipun pake pam**), bedak baby, adalah “parfum” harianku.

Lalu, daripada di kuthå gêdhé hanya bertiga (saya, sang ardhanareswariku, dan putu), juga karena sudah menjadi “pengacara” (maksudnya pengangguran tanpa acara), serta punya gelar “Drs.” dan titêl “S3” (maksudnya “Di rumah saja”, dan “Sampun Sangêt Sêpuh”); juga kangên sama kampung halaman, trus “bali mulih ndéså”. Nah di ndéså itulah banyak hal yang “dipelajari” oleh sang cucu ini.

nDésåku nggak jauh dari Kota Tape Bondowoso atau Kota Gerbong Maut, yang lagi dituweni Ki Senopati Mahesa Arema.

Ternyata Ki Senopati Mahesa Arema sudah tindak melanglang hingga ke Kota Tape Bondowoso, Mungkin Ki Arema sedang belajar mateg aji bandung bondowoso”, itu lho waktu gendhuk Jonggrang minta dibuatkan seribu candi dalam semalam, yang ngak dapet dipenuhi oleh si bandung-bondowoso.

Tapi bagi Ki Arema kalau hal begitu sih kecil. Semalam 5 atau 10 rontal PBM pun nggak masalah…..lho……… Hiks hiks.

Kota Bondowoso dijuluki juga Kota “Gerbong Maut”, karena Belanda pada tahun 1947 melakukan penangkapan besar-besaran terhadap Tentara Rakyat Indonesia (cikal bakal TNI), lasykar pejuang, gerakan bawah tanah dan orang-orang “republiken toelen”. Sehingga dalam waktu singkat penjara Bondowoso tidak mampu lagi menampung tahanan yang pada waktu itu mencapai hampir 700 orang. Belanda bermaksud memindahkan tahanan para “extrimis-extrimis” dari penjara Bondowoso ke penjara Surabaya. Untuk mengangkut para tahanan tersebut digunakan sarana kereta api.

Sabtu, 23 November 1947, dimulai pada pukul 04.00 pagi, seluruh tahanan pejuang kemerdekaan dibawa dari penjara Bondowoso, dan pada pukul 05.30 pagi tahanan tiba di Stasiun Kereta Api Bondowoso.
Seluruh tahanan dijejalkan oleh Belanda ke dalam gerbong-gerbong barang.

Pada pukul 07.00 kereta api dari Situbondo datang. maka saat itu juga gerbong-gerbong dengan register GR 5769; GR 4416; GR 10152 digandeng, maka dimulailah perjalanan maut menuju kematian.

Para tahanan terkungkung dalam gerbong yang bagaikan didalam neraka karena atap dan dindingnya terbuat dari plat baja. Banyak terjadi peristiwa diluar batas kemanusiaan, seperti guna mempertahankan hidup dari kehausan sebagian para tahanan terpaksa meminum air kencingnya dan dari tahanan lainnya.

Lama perjalanan selama ±16 jam, Gerbong Maut pun sampai di Stasiun Wonokromo. Jam menunjukkan pukul 20.00 waktu Jawa. Dari dua gerbong yakni GR 5769 dan GR 4416 sebanyak 8 orang meninggal, sedangkan GR. 10152 seluruh pejuang sebanyak 38 orang meninggal semua. Menyedihkan dan membuat geram. Salah satu korban gerbong maut adalah paman, adik ibuku tercinta. Semoga Allah menempatkan para syuhada ini dalam surgaNya. Aamin.

Ki Arema dan pårå kadang .

Di Bondowoso juga terdapat satu peninggalan purba, namanya Situs MegalithDolmenMaesan-Bondowoso, lokasinya di desa Gunung Sari Pakuniran-Maesan Bondowoso. sekitar 5 atau 6 km ke arah barat dari pasar Maesan, ± 15 km dari pusat kota Bondowoso. Penduduk setempat menyebutnya “Batu Kenong” dari bentuknya yang menyerupai alat musik Jawa kenong. Tempat ini masih terjaga dan terawat dengan baik. Monggo menawi sempat dapat tindak ke sana.
….
Sekarang cantrik Bayuaji mau ndongèng têtirah cantrik Bayuaji sama putu Jelang Akhir Juni 2010 dindésåku, sambil momong putu, ndongèng tentang ndésåku.

Dongèngnya begini:

Saat itu menjelang Akhir Juni 2010. Saput siti, ésuk umun-umun sebelum Shubuh dan sebelum plêtheking srengéngé diawali dengan kluruking jago, cucuku ini sudah bangun, langsung ambil sajadah, “calat min .. um…min .. um ..” (maksudnya “ash-shalatu khairun min an-naum”; bagian dari panggilan adzan Shubuh yang menyeru dan mengajak umat bahwa “sholat lebih baik daripada tidur”).

Gema adzan bersahut-sahutan dari satu langgar ke langgar yang lain di seputar padukuhan menyingkirkan tabir malam. Sholat Shubuhpun didirikan.

Terdengar cicit burung-burung pipit yang beterbangan di antara deretan pohon sawo kecik dan lengkeng di halaman. Codot dan kalong yang kesiangan pulang sarang ke lereng bukit pinggir padésan.

Udara sangat atis, maklum mångså kaså, musim kemarau, suhu udara siang hari sangat panas dan malam hari hingga pagi hari sangat dingin, daun beberapa tumbuhan berguguran.

Setelah terang tanah, beranjak dari “istanaku” menuju ke arah timur, ke sawah yang padinya sudah mulai menguning siap panen. nggusahi manuk, nguping mbrêngêngênging tawon di kuncup-kuncup beraneka ragam bunga, lalu ke pawon, (pawon di “kerajaanku” masih pawon kuno), yang nggak pake kompor minyak tanah apalagi kompor gas yang tabungnya dikabarkan sering mblêdos itu, bahan bakarnya pun cukup banyak tersedia, sabut kelapa atau bathok kelapa, dan tidak merusak lingkungan. Bukankah sisa pembakaran atau limbah sabut dan bathok kelapa dapat dijadikan bahan campuran pupuk kompos.

Mencium aroma gåndå sêsangiting pêgå gêni bêdiyang, suara sénggot timbå, (di samping “kedatonku” masih ada sumur dengan sénggot timbånya lho, dan ini oleh “dinasti atau wangsa Bayuaji” sepakat untuk tetap dipertahankan), dan orang nyapu latar, ditingkah suara garèngpung, dan têmbang bocah angon, (nduk ndésåku masih ada bocah angon bébék, pake caping bawa gitik menuju sawah yang habis dipanen).

Gåndå sangit pêganing gêni bêdiyang, suara sénggot timbå , mbrêngêngênging tawon ditingkah suara garèngpung dan lamat-lamat suwårå têmbang bocah angon, dibawa hembusan bayu pelahan dari lereng bukit. Komposisi suasana alam ndéså yang sangat indah di pagi hari nan sejuk.

Tembang puja semesta alam mengagungkan Sang Maha Pencipta.

Suasana ini kuasa menggugah lam-lamming ati alam batin padésan. Di situ alam ndésa nampak rêgêng, wingit tetapi nêngsêmaké, nampak éndah lan ngangêni.

Maha Suci lagi Maha Indah Engkau wahai Tuhanku, Maha Pemilik Segala Kebesaran, Maha Pemilik Segala Kebesaran dan Kemuliaan .

Demikianlah pårå kadang dongèng cêkak aos saking ndusun

Pårå kadang.

Sekarang dongeng yang utama yaitu: Dongeng Arkeologi dan Antropologi

Dongeng Arkeologi dan Antropologi yang selama ini diwêdar mendampingi rontal-rontal ‘pelangisingosari’ berusaha mengikuti alur lakon Ki Dalang SHM seperti telah berlangsung sejak PdLS hingga SUNdSS, tetapi dalam perjalanannya tidak dapat terlaksana sepenuhnya.

Membaca sepintas rontal pbm yang kemudian dilanjutkan dengan rontal hl2p (koq kayak rumus kimia), ternyata Ki Dalang SHM “menyimpang jauh dari pakêm rontal Pararaton dan prasasti sejarah”. Ibarat lakon wayang kulit, Ki Dalang SHM menggelar lakon carangan, yang “babon cêrita”nya bersumber dari “rontal” dan “prasasti” Ki Dalang SHM sendiri.
Meskipun waktu dan tempat kejadiannya adalah waktu dan tempat Någhå Roro Salèng masih jumênêng nåthå, tetapi sedikit sekali “peranan” sang Prabu Ranggawuni Wisnuwardhana dan Ratu Anggabhaya Mahesa Campaka Narasinghamurti disinggung oleh Ki Dalang SHM dalam rontal-rontal selanjutnya. Tetapi tak apalah, itu adalah hak beliau sebagai “sutradara” dan yang empunya lakon ‘pelangisingosari’ ini.

Dalam pada itu, rontal ‘pelangisingosari’ versi Dongeng Arkeologi dan Antropologi tetap berdasarkan pada kitab kidung Pararaton, pujasastra Nagarakretagama, Babad Tanah Jawi, dan beberapa kitab kidung lainnya, serta beberapa prasasti yang berkenaan dengan “jagadsingosari”, seperti yang telah disebutkan pada dongeng arkeologi & antropologi, dongeng kaping-27, Rontal SUNdSS-37.

Maka miturut pakêm kitab kidung Pararaton, akhir dongeng arkeologi & antropologi ini adalah pada masa pemerintahan Dyah Suraprabhawa yang bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta, atau lebih dikenal dengan nama Bhre Pandan Salas, di tahta Wilwatikta Majapahit.

Tetapi untuk ndongèng ke masa itu memerlukan waktu yang lama, melangkah setapak demi setapak Jejak Sang Kala. Ada beberapa “episode”, sejak mangkatnya sang Prabu Wisnuwardhana, kemudian Mahisa Campaka (dongeng arkeologi & antropologi ke-27), disusul kemudian dengan naiknya Kertanagara ke tahta Singosari. Kertanagara yang memiliki pemikirian wawasan nusantara dengan cakrawala mandala nusantaranya, “reshuffle kabinet ” Kertanegara, ekspedisi Pamalayu, peristiwa Meng Chi, penyerangan Glang-Glang oleh Jayakatwang, keruntuhan Singosari, kembalinya wahyu keraton ke Kadiri, Ardharaja, Raden Wijaya, pengusiran tentara Mongol Cina, Churabaya, awal Majapahit, Jayanagara, Tribuana Tunggadewi, Jiwana Hayam Wuruk, Desawarnana, Sumpah Palapa, Bre Wirabhumi, Perang Paregreg, demikian seterusnya hingga terakhir Bhre Pandan Salas, dan terakhir sekali Majapahit runtuh “sirnå ilang kêrtaning bhumi”.

Dengan demikian dongeng arkeologi & antropologi selanjutnya akan sangat berbeda dengan penuturan “pakêm” Ki Dalang SHM pada rontal PBMnya, karena seperti yang telah disebutkan, lakon PBMnya Ki Dalang SHM hanya ada dan dicatat dalam “kidung”, “pakêm” dan “prasasti”nya Ki Dalang SHM sendiri.

Pårå kadang sutrésnå padépokan,

Untuk mengawali dongeng arkeologi & antropologi, cantrik Bayuaji tawarkan opsi (wêlèh-wêlèh, lagak-lagunya kayak pansus bank C**tury saja), yaitu:

1. tetap mengikuti alur lakon Ki Dalang SHM tuntas hingga akhir rontal Pararaton, artinya dongengnya sejaman dengan “kidung”nya Ki Dalang SHM, dengan ‘sudut pandang’ (wé istilahnya “ilmiah” banget); yang berbeda, tetapi nggak nyambung sama lakon Ki SHM dalam PBM;

2. atau mulai dongeng baru, jaman purba masa keraton lama nusantara, Tarumanagara, Kutai, Kalingga, Mataram Kuno, dan seterusnya, tetapi tetap kagak nyambung juga sama wedaran rontal PBM.

3. atau ada opsi lain dari pårå kadang.

4.atau nggak usah ndongeng saja.

Sakbênêré, cantrik Bayuaji yang sok kemintêr ini ndongeng untuk membagi kawruh buat pårå kadang tentang sejarah masa lalu nusantara, dengan menggunakan bahasa yang sederhana, bukan “bahasa ilmu sejarah”, bukan pula bahasa yang ndakik-ndakik, dengan begitu cantrik berharap pårå kadang tertarik untuk mempelajarinya, memahaminya, dan yang lebih penting adalah mencintai sejarah bangsa sendiri, lebih khusus lagi budaya bangsa yang adi luhung ini.

(Tinimbang ngrasani tanggané, tinimbang sok arêp mèlu-mèlu mikir ruwêt rêntêngné nêgâri, nanging durung karuwan biså mrantasi gawé, ora ngrusuhi waé wis syukur lan matur nuwun sangêt. Pancèné ‘ra éntos. Nèk ånå padêpokan kiyé, iså gojêgan, iså ndongèng ngêcuprus, lha sing ndongèng aé ‘ra dibayar, ugå ‘ra njaluk bayaran jé. gratis tis tis tis. Malah mbayar. Ning koq gêlêm, yå. Sing didongèngi yå mung manthuk-manthuk aé, ngantuk, tur têklak-têkluk, hé hé hé hé ),

Namun yang lebih penting dari-pada itu, dengan mendongeng, cantrik Bayuaji bersyukur atas nikmat karunia ini. Alhamdulillah. Puji Tuhan, karena cantrik Bayuaji bisa mendapatken ilmu baru dan pengetahuan baru, juga sohib baru, ahwan dan ahwat baru, kåncå énggal, sêdulur-sêdulur, mungkin juga kåncå lawas yang suwé ora jamu, tetapi bukan musuh baru.

Menggiatkan silaturahmi, itu bahasanya al Mukarom al Ustadz Kyai di surau, langgar tempat saya mengaji di ndusun. Itupun jika pårå kadang, bila sudi berkenan kiranya….(iki båså aluuuuus bangêt, båsåné priyayi-priyayi pårå andahan pangrèh pråjå kuthå gêdhé yén lagi ngêndika kalawan priyagung pêtingginé, mundhuk-mundhuk, driji papat epek-epek tangan têngêné digêgêm, ning jêmpolé diacung-acungké ) dan he he he he.

Nah, para kadang, monggo pada kesempatan berikutnya, Insya Allah cantrik Bayuaji akan mulai mendongeng lagi. Mudah-mudahan para kadang tidak bosan mendengarkan (maksudnya membaca) ‘ngêcuprus’nya cantrik.

Untuk mengingatkan kepada kita semua:
Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? ‘Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,’ sabda Rasulullah SAW, ‘adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan (Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah).

Sumonggo.

Nuwun,

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: