Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [dongèng kaping-I. Rontal PBM 07]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Soma Wage, Wuku Tambir 1932Ç; 05 Juli 2010M; 23. Rêjêb 1943 – Dal; 23 Rajab 1431H

Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

Mengawali dongeng arkeologi & antropologi kali ini Cantrik Bayuaji mengajak para kadang berkilas balik “melihat” lokasi-lokasi terjadinya lakon pelangisingosari yang disebut oleh Pararaton, Nagarakertagama, Babad Tanah Jawi, Prasasti Mula Malurung, kidung, kitab babad, dan prasasti-prasasti lainnya yang berhubungan, dan mencoba mencari tahu nama dan letak tempat-tempat itu pada nama dan tempat dengan sebutan sekarang.

1. Panawijen atau “wanua i panawijyan”.

Panawijyan, Panawijyan atau sekarang Pålåwijen. Tepatnya kelurahan Pålåwijen, di ujung utara kota Malang sekarang, ditengarai sebagai kampung kelahiran Ken Dedes.

Kampung yang dulu dikenal dengan nama Panawijen ini masih menyimpan situs-situs abad ke-XI berupa sumur (tempat pemandian) dan instrumen pukul (kenong) yang masih berserakan. Sumur tua yang sekarang jelas bukan lagi berbentuk sumur ini berada di tengah kampung yang dikelilingi dengan pemakaman Islam.

Di Jalan Cakalang, Lingkungan Watu Kenong RT 03/RW 02 desa Pålåwijen itu ada sebuah situs yang disebut situs Sumur Windu dikenal juga sebagai sumur upas atau Sumur Empu Purwå, situs yang banyak menjelaskan soal keberadaan Mpu Purwå dan putrinya nDèdès itu.

Peninggalan arkeologis yang masih dapat ditemukan di tempat ini antara lain bekas pemukiman yang kaya dengan pecahan keramik asing dan gerabah, sisa umpak-umpak batu dan arung (saluran air bawah tanah).

2. Kali Méwèk

Dalam lakon PdLS disebutkan adanya padang gersang dan kering yang disulap menjadi daerah yang subur dengan membangun sebuah bendungan.

Di masa lalu Pålåwijen adalah ladang. Di Prasasti Wurandungan I disebutkan bahwa masyarakat Panawijen atau Pålåwijen minta dibuatkan sudetan air untuk persawahan mereka yang menjadi lêmah cêngkar, karena sepata Empu Purwa.

Prasasti Wurandungan I, yang dibuat tahun 870Ç/948 M sudah sangat jelas menyebutkan adanya sungai buatan (suwèkan) yang diambil dengan menyobek Kali Méwèk di arah utara Panawijen untuk menjadikan tanah Panawijen subur kembali.

Dari lempeng ke-7 prasasti ini, menyebutkan keberadaan Panawijen yang sangat kering seperti kingkaboringayanya (laksana kerbau kurus kering).

Pada lempeng ke-4 bagian B (lempeng sisi belakang) disebutkan bahwa Panawijen adalah daerah kering. Artinya bukan tanah sawah dengan pengairan yang berasal dari sumber artesis atau aliran sungai. Meskipun di daerah Panawijen mengalir sungai besar di sebelah utara, Kali Méwèk yang permukaannya di bawah Panawijen. Hal inilah yang kemudian menjelaskan sistem pengairan di masa lalu di sekitar Panawijen.

Dalam kenyataannya, memang daerah Panawijen sangat tidak mungkin mengandalkan air dari Kali Méwèk, yang alirannya ada di sebelah utara situs Sumur Windu yang disebutkan di atas. Permukaan Kali Méwèk secara geografis letaknya 25 meter di bawah wilayah dataran Panawijen.

Dalam prasasti Wurandungan itu jelas tercatat bahwa air untuk sawah diambil dari sungai yang disalurkan (disuwak=disobek dalam Jawa Kuno). Yang disobek adalah sungai induk yakni Kali (sungai) Méwèk itu.

Jadi, cikal bakal nama Méwèk itu bukan berarti méwèk dalam artian menangis. Demikian masyarakat Malang mengartikan Kali Méwèk. Tapi, Méwèk dalam arti sobek. Sebab, Suwak mendapat awalan Ma menjadi Masuwak yang dalam tatanan Jawa Kuno menyatakan perbuatan, sifat, dan keadaan. Kata Masuwak sedikit demi sedikit mengalami perubahan bunyi menjadi Masuwèk —- Mawèk — akhirnya Méwèk. Aliran air itu yang disebut dalam prasati itu hingga kini ada di sebelah selatan situs Mpu Purwa berjarak sekitar 50 meter.

Sementara sobekan dari Kali Méwèk dapat kita jumpai di sebelah barat Pålåwijen. Di sana terdapat sebuah dam kecil dari Kali Méwèk. Warga setempat mengaku dam tersebut dibangun pada Jaman Belanda ketika hampir disisihkan oleh Jepang. Namun, riwayatnya, sebelumnya dam tersebut sudah ada dan oleh penduduk pada masa lalu hanya dibendung dengan batang-batang pohon kelapa.

Padang Karautan ? — “tempat” ini hanya ada pada “prasasti” Ki Dalang SHM saja.

3. Tumapel, Singosari.

Kawasan utara kota Malang adalah kawasan kota yang paling dekat dengan pusat Kerajaan Singosari yang berada di kecamatan Singosari. Memasuki kota melalui gerbang utara ini kita disambut patung Ken Dedes setinggi ± 7 meter berada di tengah-tengah taman Kali Méwèk.

4. Taman Boboji

Pemandian Watu Gede. Letaknya lebih kurang 10 km dari pusat kota Malang (dekat dengan Stasiun Kereta Api Singosari ± 100 m).

Situs Pemandian Watu Gede ini dipercaya oleh penduudk setempat sebagai tempat Ken Dedes sering ‘ciblon’.

Apakah situs Pemandian Watu Gede ini dahulunya adalah Taman Boboji yang juga tempat Ken Dedes sering ‘kumkum’, seperti yang disebut dalam Pararaton. Hingga kini belum ada penjelasan lebih rinci tentang keberadan Taman Boboji ini.

5. Tempat kelahiran, daerah asal-usul Ken Arok.

Beberapa tempat berikut di bawah ini disebut-sebut dalam Pararaton, temuan-temuan dan peninggalan situs purbakala yang diduga sebagai tempat kelahiran Ken Arok, atau paling tidak ditengarai bahwa Ken Anrok pernah bermukim di tempat itu.

a. Pangkur;

Pararaton:
hana si yugga mami manusa wijil ing wong Pangkur. Ika angukuh i bhumi Jawa
adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang memperkokoh tanah Jawa”.

Pangkur diduga terletak di antara Kepanjen, Kabupaten Malang dan Blitar. Tetapi ada pula yang menyebutnya di daerah Ngawi.

b. Batu, Malang Raya.

Ada yang berpendapat bahwa Angrok berasal dari Batu, Malang Raya lantaran disebutkan di Pararaton bahwa Ken Ndok sempat pula bertemu dengan Lembong dan Bango Samparan dari Karuman untuk mengakui bahwa anak yang diasuh dua laki-laki itu adalah anaknya.

Pararaton:
wonten ta bobotoh sasiji saking Karuman haran sira Bango Samparan.”
ada seorang penjudi permainan saji berasal dari Karuman, bernama Bango Samparan.”

Pararaton:
Sumahur Ken Angrok: ‘Ingsun dating ing Karuman, wonten bobotoh angangken weak ring ingsun haran sira Bango Samparan.
Ken Angrok menjawab: ‘Hamba pergi ke Karuman, ada seorang penjudi yang mengaku anak kepada hamba bernama Bango Samparan’,…

Karuman disebut sebagai tempat tinggal orangtua angkat Angrok, si penjudi Bango Samparan.
Sampai sekarang desa Karuman masih ada, dan merupakan bagian dari Kelurahan Tlogomas. Kecamatan Lowokwaru (situs kuno menyebutnya wanua i waharu), Malang

c. Rêjasa.

Sri Rajasa Amurwabumi. (kata Rajasa dekat sekali dengan kata Rêjasa).

Konon daerah itu, di zaman Jawa Kuno sudah sangat ramai. Terbukti dengan banyaknya temuan-temuan purbakala di sana.

Di Kecamatan Junrejo, Batu Malang ada sebuah desa bernama Rejasa atau nJasa atau lidah Jawa menyebutkan Rejoso (?).

d. Jiwut

Pararaton: “Nihan katuturan Ken Angrok, Hana anak i randhani Jiput
Demikian inilah kisah Ken Angrok. Adalah seorang anak janda di Jiput.”

Jiwut atau Jiput terletak di kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

e. Pujasastra Nagarakertagama memberitakan bahwa leluhur Prabu Hayam Wuruk adalah Putra Sang Girinata berasal dari sisi timur Gunung Kawi.

Nguni sakabdhidesendu hana sira mahanatha yuddhaikawira
Saksat dewatmakayonija tanaya tekap çri-girindra prakça
…….Çri-ranggah rajasa kyati ngaran ira jayeng satru suratidaksa.
Desagong wetan ing parbwata kawi penuh ing sarrrabhogatiramya
Kuww anggehnyan kamantryan mangaran i kutarajenadeh wwang nikabap
Yeki nggwan çri girindratmaja n-umulahaken dharma manggong kasuran
.
“Pada abdhidesendu (1104Ç) ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu.
Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur.
Di situlah tempat putra (atmaja) Sang Girinata menunaikan darmanya.”

Siapa “Putra Girinata”, “Sri Ranggah Rajasa”, “putra (atmaja) Sang Girinata”. Dia adalah Angrok.

6. Lulumbhang, Lulumbang [Katanglumbang (?); Lumbang Pasuruan (?)]

Pararaton: “apande ring Lulumbhang, haran Mpu Gandring
seorang pandai keris di Lulumbang, bernama Mpu Gandring”.
Tidak ada penjelasan tentang Lulumbang ini. Lihat juga Lumbang Boro Timur, Prigen.

7. Ganter.

Belum diperoleh penjelasan, karena belum pernah ditemukan sisa-sisa bekas terjadinya peperangan (keris, tombak dsb).

[Pesan pendek melalui ponsel dari nomor 0816.993***, cantrik Bayuaji terima beberapa bulan yang lalu, menyebutkan : “Ganter kuwi dalan ngulon sak lor e kantor kecamatan nDlopo, Ganter ana ning kelurahan nDoho, ana sendhang kramat lan biyen sering ditemokne perabot (gerabah) kuno terkadang malah perhiasan emas.

Matur nuwun infonya, akan kami lacak, segera” demikian pesan singkat balasan kami].

Kami segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk “berburu”. Laporannya: “nDlopo adalah salah satu kecamatan di daerah Madiun.” Oleh “guider”, kami diajak ke suatu tempat dan ditunjukkan sebuah batu besar yang dikatakan sebagai batu tua di desa Doho, Dolopo (nDlopo), Madiun, di tempat ini (sambil menunjuk ke arah batu), dahulu adalah lokasi keraton yang merupakan salah satu kepanjangan tangan dari Majapahit di saat-saat akhirnya.

Tidak jauh dari batu besar yang disebutnya sebagai batu kuno tadi, kami ditunjukkan ke sebuah area tanah kering semacam tanah patêgalan yang ditumbuhi semak belukar, contour permukaan tanahnya cekung ke dalam, yang oleh “guider” kami, dijelaskan sebagai bekas sendang dengan nama Sendang Ganter, yang menjadi bagian penting dari kompleks keraton, “sêndang” yang terbagi menjadi dua ini merupakan tempat mandi para puteri dan sendang yang satunya lagi menjadi tempat untuk mengambil air keperluan rumah tangga.

Tidak nampak adanya tanda-tanda bahwa di tempat itu dahulunya adalah sendang, kecuali contour permukaan tanahnya yang akan cekung.

Demikian juga tidak diperoleh tanda-tanda atau penjelasan lain, apakah di tempat itu dahulunya adalah keraton atau kota, atau seperti yang disebut dalam Pararaton, sebagai lokasi terjadinya peperangan antara Tumapel (Angrok) dan Kadiri (Kertajaya), yang disebut sebagai Perang Ganter, sehingga Prabu Kertajaya Dandang Gendhis gugur.

8. Daha, Kadiri, adalah Kediri sekarang.

9. Nama-nama kraton vasal menurut Prasasti Mula Malurung Lempengan VIIA dan B.

a. Nararyya Kirana putera sang prabu Semi Ning Rat sendiri dirajakan di Lamajang (Lumajang);

Pada lempengan VIIA baris 1 – 3 prasasti Mula Manurung menyebutkan:
Sira Nararyya Sminingrat, pinralista juru Lamajang pinasangaken jagat palaku, ngkaneng nagara Lamajang
“Beliau Nararyya Sminingrat (Wisnuwardhana) ditetapkan menjadi juru di Lamajang diangkat menjadi pelindung dunia di Negara Lamajang”

Tahun dibuatnya Prasasti Mula Malurung yakni tahun 1177Ç/1255M, dijadikan sebagai tahun dari hari jadi Lumajang.

b. Nararyya Murddhaja dirajakan di Daha; Kadiri.
Adalah Kota Kediri sekarang

c. Nararyya Turukbali, puteri sang prabu, permaisuri Jayakatwang, dirajakan di Glang Glang dengan ibu kota Wurawan. Sri Jayakatwang adalah keponakan sang prabu Semi Ning Rat;

Glang Glang disebutkan terletak di sebelah barat Gunung Wilis, tetapi tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut lokasi tepatnya.

d.Sri Ratnaraja, adik sepupu sang prabu dirajakan di Morono; disebutkan terletak di Jawa Timur bagian Timur. Juga tidak diperoleh penjelasan lebih lanjut sisa tapak keberadaannya.

e. Sri Narajaya adik sepupu sang prabu dirajakan di Hring; disebutkan terletak di Jawa Timur bagian Timur. Tepatnya tidak diketahui.

f. Sri Sabhajaya, sepupu sang prabu dirajakan di Lwa. Disebutkan terletak di tepian sungai Brantas, tetapi tidak diketahui lokasi tepatnya.

g. Seorang lagi yang namanya tidak disebut menjadi raja di Madhura (Sumenep).

10. Kagnangan/Kagenengan dan Usana

Pararaton: “Linan irå Sang Amurwwabhumi, i såkå 1169. Sirå Dharmméng Kagênêngan.”
Sang Amurwabumi wafat pada tahun saka 1169Ç/1247M, dicandikan di Kagenengan.

Babad Tanah Jawi: Bênginé Sang Prabu sêdå kaprajåyå ing duratmåkå. Layone Sang Prabu dicandhi ånå ing Kagênêngan (cêdhak Malang).

Nagarakertagama: “ ri sakasyabdhi rudra krama kalahan iran mantuk ing swarggaloka, kyating rat sang dhinarmma dwata ri kagenengan saiwa-bodheng usana.

Pada tahun 1149Ç beliau (Sang Amurwabumi) kembali ke swargaloka, (Dia) dicandikan di dua (tempat), di Kagenengan (sebagai) Syiwa (dan) di Usana (sebagai) Buddha.

Kagnangan/Kagenengan sebagai tempat pendharmaan Ken Angrok sebagai Syiwa atau pun pendharmaan di Usana sebagai Buddha hingga sekarang ini belum dapat diketahui keberadaannya secara pasti.

Tersisa suatu desa di wilayah selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakisaji. Desa Kagenengan. Tetapi belum dapat dipastikan apakah Desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Pararaton, Babad Tanah Jawi dan Nagarakertagama.

11. Katang Lumbang

Rawuh sireng Katang Lumbang mukta ta sira. Linan sira (Apanji Tohjaya). Anuli dhinarmme Katang Lumbang. Linan ira isaka 1172”.
Sesampainya di Katang Lumbang, Panji Tohjaya pun tewas karena luka-lukanya. Apanji Tohjaya dicandikan di Katanglumbang, ia mangkat pada tahun 1172Ç/1250M

Ada nama sebuah dusun di wilayah Pasuruan, tepatnya di Dusun Lumbang Boro Timur Desa Lumbang Rejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan (Tretes).
Tetapi belum dapat dipastikan juga apakah Desa Lumbang (Dusun Lumbang Boro atau Desa Lumbang Rejo) ini dahulunya adalah Katanglumbang, tempat yang disebut dalam kitab Pararaton,

12. Churabhaya atau Hujung Galuh

Nama Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, ejaan nama Surabaya awalnya adalah Çhurabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I berangka tahun 1358M atau 1280Ç. Dalam prasasti itu tertulis Çhurabhaya termasuk kelompok desa di tepian sungai Brantas sebagai tempat penambangan atau penyeberangan penting yang sudah ada sejak dahulu (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji praçasti).

Kata SURA dan BAYA konon diambil dari suatu legenda dari suatu mitos perkelahian hidup-mati Ikan Sura dan Buaya di sekitar Jembatan Merah. Namun ternyata tidak ada korelasi sama sekali antara nama Surabaya dengan dua makhluk itu. Berdasarkan literatur tidak diketemukan padanan ikan Hiu dengan kata Sura. Dimungkinkan mitos itu lahir setelah lambang kota Surabaya itu ada.

Sebelumnya daerah ini disebut Hujung Galuh atau Ujung Galuh disebut juga Jung Galuh, berdasarkan prasasti Kelagen, berangka Tahun 959Ç/1037M yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Airlangga. Prabu Airlangga adalah raja yang memimpin masa kejayaan Kerajaan Jenggala Kahuripan yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah yang runtuh karena bencana.

Nama Janggala diperkirakan berasal kata Hujung Galuh, atau disebut Jung Yalu atau Chung Kia Lu berdasarkan dialek Cina.

Diyakini oleh para ahli sejarah Çhurabhaya telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Sebuah hipotesis, Surabaya didirikan Sinuwun Prabu Kertanagara tahun 1275M atau 1197Ç, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1192Ç atau 1270M.

Versi lain dikisahkan pada zaman Majapahit terjadi pertempuran antara Adipati Jayenggrono yang menguasai ilmu Buaya dan Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Pertempuran itu berawal dari ”ketakutan” Majapahit terhadap perkembangan Ujung Galuh dibawah pimpinan Adipati Jayenggrono. Pertempuran 7 hari 7 malam itu terjadi di tepian Sungai Kali Mas. Keduanya tewas dalam pertempuran itu.

Empu Prapanca juga menuliskan nama Surabaya dalam Pujasastra Negara Kertagama. Di dalam dijelaskan bahwa pada tahun 1365 Raja Majapahit, Hayam Wuruk beristirahat di muara kali brantas yang bernama Surabhaya, saat melakukan perjalanan:

yan ring janggala lot sabha nrpati ring çhurabhaya manulus mare buwun

Ketika sampai di Jenggala, sang raja singgah di Surabaya, terus menuju Buwun

Dari sekian sumber sejarah, yang paling lemah adalah mitos perkelahian antara ikan Sura (Hiu) dan Buaya.
Pada lambang lama kota Surabaya, tepatnya lambang Gemenete van Soerabaia atau Pemerintah Kota Soerabaia yang lahir pada 1 April 1906 terdapat tulisan Soera Ing Baia pada pita.

Tetapi tidak ada istilah Jawa atau penjelasan yang akurat yang menyebutkan bahwa Suro/Sura adalah ikan hiu. Nama Sura sering digunakan sebagai nama pada beberapa tempat seperti Surakarta, Kartasura dan Suralaya, dan itu tidak ada hubungannya dengan ikan Hiu. Kata Sura juga terdapat pada nama pahlawan legenda Jawa.

Dengan begitu dapatlah disimpulkan, bahwa ‘SURA’ dalam semua penyebutan itu berarti BERANI, tidak ada kata lain selain kalimat itu. Dengan kata lain kalimat di pita lambang itu mempunyai arti ” BERANI MENGHADAPI BAHAYA ” dan sama sekali tidak berhubungan dengan ikan hiu dan buaya. Lalu apa makna dari Ikan Hiu dan Buaya itu ? (Mungkin di antara para kadang ada yang mengetahuinya atau mempunyai literatur tentang hal ini.)

13. Canggu

Dalam Pararaton dsiebutkan Canggu terletak di utara Kotaraja, ibukota Kerajaan Singosari, dibangun sebagai pengganti pelabuhan lama kerajaan Yortan yang rusak terkena bencana.

Dalam Kidung Sundayana, Canggu disebut sebagai “kota bandar”, disebutkan terletak di sisi selatan sungai besar (Sungai Brantas) yang letaknya tidak jauh dari Tarik, sebelum dua percabangan, terletak yang palungnya membelok dari arah selatan ke utara, dan terus ke arah timur.

Dalam perjalanan waktu Canggu akhirnya memang menjadi “kota”. Sekarang, Desa Canggu termasuk wilayah kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

14. Mahibit

Disebutkan dalam Pararaton, bahwa Mahibit berada tidak jauh dari benteng Canggu.

Diduga terletak di daerah Terung, tidak jauh dari kota keraton Majapahit. Tetapi karena kurangnya data-data sejarah, sulit dibuktikan dengan tepat

15. Gunung Paulauan atau Gunung Penanggungan.

Gunung Penanggungan dijadikan tempat untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Airlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Airlangga di Jalatunda. Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat.

16. Kelagyan

Prasasti Kelagyan (Kamalagyan) yang dibuat semasa Prabu Airlangga bercandra sengkala 959Ç atau 1037M.
Prasasti Kelagyan menceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk. Prabu Arlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana “banyu pindah” dalam buku Pararaton. Bencana seperti ini terjadi berulang-ulang, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256Ç atau 1334M pada zaman Majapahit.

Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong dari Gawir Watukosek, sebuah gawir sesar hasil deformasi sesar Watukosek yang juga membelokkan Sungai Porong, melalui titik-titik semburan lumpur panas termasuk lêndhut bêntèr, ‘têrasi muncrat’ itu, juga melalui “mud volcano” (deretan gunung-gunung lumpur) di sekitar Surabaya dan Bangkalan Madura.

17. Tapan

Transliterasi Cina dari kata Sampang yang terletak di sebelah timur Jung Galuh, yakni Pulau Madura.

18. Sukitan

Transliterasi Cina dari Supitan (Dalam bahasa Jawa, selat disebut supit atau supitan, atau laut yang sempit), dimaksud di sini adalah Supitan Madura, suatu tempat yang membentang di perairan selat Madura dari Bangil sampai Surabaya atau pantai Barat Daya Madura.

Demikianlah pårå kadang beberapa nama tempat yang disebut dalam Pararaton, Nagarakertagama, Babad Tanah Jawi, Prasasti Mula Malurung, kitab kidung, kitab babad, dan prasasti-prasasti lainnya, sebagai nama-nama tempat yang dikenal semasa kerajaan Singosari dan Majapahit. Masih banyak tempat-tempat lain yang pada masa sekarang sudah tidak dikenal lagi, mungkin terlupakan, sehingga tidak diulas di sini.

Sepanjang tidak didukung oleh bukti-bukti yang akurat (seperti prasasti), agak sulit untuk menentukan dengan tepat lokasi nama-nama yang disebut di masa sekarang, boleh jadi nama yang dikenal semasa jaman Singosari telah berubah (misal: Panawijen menjadi Pålåwijen), atau telah ditinggalkan penduduknya (misal: pindahnya kota/pelabuhan Yortan ke Canggu), karena sesuatu hal seperti bencana alam, atau perang, atau sengaja dirusak oleh orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ini dapat didongengkan tersendiri.

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: