Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Keparéng cantrik Bayuaji, marak paséban, unjuk atur ndongèng:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Buda Umanis, Wuku Medangkungan 1932Ç; 07 Juli 2010M; 25 Rêjêb 1943 – Dal; 25 Rajab 1431H

Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

Kali ini:

DONGÈNG WAK ITÊM:
[atawa Tanggal 22 Juni hari ulang tahun Jakarta? ]

Sejarah adalah sejarah, dia tidak lebih adalah sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang yang sekarang, dengan tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan. Namun, manakala sejarah jatuh ke tangan para orang atau sekelompok orang yang berpihak pada kepentingan politik tertentu, maka sejarah akan berubah bentuknya dan akan rusak wajahnya. Dari sinilah kemudian timbulnya berbagai pandangan dan aliran pemahaman. Karena, jika sejarah itu seharusnya lurus-lurus saja dan tidak ada rekayasa, maka tentu akan tersingkap kepalsuan berbagai aliran yang ada dan akan diketahui kebatilannya, dan yang tampil kemudian adalah kebenaran.

Warga ibukota negara Republik Indonsesia baru saja merayakan hari ulang tahun ibukota ‘nJakarta’ tercinta yang ke 483 tahun.
Penggagas penetapan hari kelahiran Jakarta adalah Sudiro, Walikota Djakarta Raja (1958-1960). Pada saat berkuasa itu, Sudiro meminta kepada Mr. M.Yamin, Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan) dan Mr. DR. Sukanto (sejarahwan) untuk mengkaji sejarah kelahiran kota Jakarta yang akan ditetapkan sebagai HUT Jakarta dikemudian hari.

Diakui oleh Soediro bahwa penetapan tanggal 22 Juni sebagai tanda kelahiran kota Jakarta semata-mata adalah keputusan politik, tanpa mau mengujinya dari sisi pandang manapun beradasarkan fakta ilmiah.

Melalui Sidang Dewan Perwakilan Kota Djakarta Sementara 1956 diterbitkan Surat Keputusan Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja, nomor: 6/DK. DPK Sementara Djakarta Raja/1956; tanggal 23 Februari 1956, yang menetapkan bahwa tanggal 22 Juni sebagai tanggal ulang tahun kota Jakarta hingga sekarang.

Jika dihitung mundur maka tanggal lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527. Yang menjadi dasar penetapannya adalah penelitian Prof. Soekanto sebagaimana diuraikan dalam bukunya Dari Djakarta ke Djajakarta (1954).

Meskipun Soekanto sendiri mengatakan, “Sayang sekali harinya yang sungguh-sungguh, kita tidak dapat menemukannya, sedangkan tahunnya agak pasti diketahui berkat hasil penyelidikan ahli-ahli sejarah,” namun penetapannya sudah terlanjur diputuskan badan legislatif.

Sebagian besar warga Jakarta yang meyakini tanggal kelahiran kotanya ini. Tetapi sangat disayangkan, tidak ada yang mau meneliti lebih jauh benar salahnya tanggal 22 Juni sebagai ketetapan Ulang Tahun Kota Jakarta! Sungguh ironis. kota yang menjadi pusat kekuasaan, ibukota Negara, warga kotanya menerima begitu saja keputusan politik 1956 tanpa melakukan kaji ulang kebenarannya.

Soekanto mengawali penelitiannya dengan beranggapan bahwa pada 21 Agustus 1522 diadakan perjanjian persahabatan antara Portugis dengan Raja Sunda untuk mendirikan benteng di Kalapa (Sunda Kelapa).

Kemudian pada 1526 datang sepasukan armada Portugis untuk membangun benteng itu. Sesudah ekspedisi diselesaikan pada akhir 1526, armada Portugis berlayar ke Sunda.

Karena diterjang badai, sebagian pasukan terdampar dekat Kalapa. Pada saat bersamaan, Kalapa baru saja dikuasai pasukan Fatahillah. Rupanya Fatahillah menganggap armada Portugis adalah musuh besarnya sehingga semuanya dibunuh oleh tentara pimpinan Fatahillah itu. Kemudian Fatahillah merebut kota ini dari kekuasaan Raja Sunda.

Atas dasar beberapa data sejarah itulah Soekanto “mengutak-atik” bahwa penyerbuan oleh Fatahillah dilakukan pada awal Maret 1527. dan berkat kemenangannya itu Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta (=kemenangan yang sempurna), disebut juga “Fathan Mubinakemenangan besar dan nyata.

Kemenangan Fatahillah tanggal 22 Juni 1527 dijadikan sandaran menetapkan perubahan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kemudian berubah menjadi Jakarta, kemudian tanggal kemenangan Fatahillah ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.

Soekanto kemudian berupaya mencari tahu kapan peristiwa itu terjadi. Dalam analisisnya dia menggunakan penanggalan Islam, bukan penanggalan Hindu-Jawa seperti yang digunakan para pakar sebelumnya. Akhirnya berdasarkan pranåtåmångså, yakni penanggalan yang ada hubungannya dengan pertanian, Soekanto menyimpulkan bahwa nama Jayakarta diberikan pada “tanggal satu mångså kesatu”, yaitu pada 22 Juni 1527. Tanggal itu dianggap berhubungan erat dengan masa panen.

Namun pendapat Soekanto itu kemudian mendapat tentangan dari Prof. Hoesein Djajadiningrat. Dalam artikelnya “Hari Lahirnja Djajakarta” (Bahasa dan Budaya, V (1), 1956, hal. 3-11), Hoesein meragukan tanggal tersebut. “Apa ‘tanggal satu mångså kesatu’ tahun 1527 jatuh pada 22 Juni seperti tahun 1855?” begitu pendapatnya.

Menurut Hoesein, perhitungan tahun yang terdiri atas 12 mångså untuk keperluan petani adalah berdasarkan peredaran bintang Weluku dan bintang Wuluh. Jadi “tanggal satu mångså kesatu” seharusnya paling tidak jatuh pada 12 Juli. Tepatnya menurut bintang Wuluh jatuh pada 9 Juli, sementara menurut bintang Weluku pada 17 Juli.

Kekeliruan, menurut Hoesein, juga dilakukan Soekanto terhadap mångså panén. J.L.A. Brandes, seperti yang dia kutip, menghitung bahwa mångså panén berlangsung pada 12 April-11 Mei, sedangkan Tjondronegoro mengemukakan 25 Maret-17 April atau 18 April-10 Mei.

Hoesein bahkan mempertanyakan tarikh Islam yang sudah dikenal di Jawa pada 1526 atau 1527 M, seperti yang digunakan Soekanto dalam memberikan pendapat. “Bukankah tarikh Islam mulai dipakai di Jawa atas perintah Raja Mataram Sultan Agung pada 1633 M?” begitu Hoesein mengomentari Soekanto.

Hoesein kemudian menyimpulkan bahwa pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta terjadi pada hari raya Maulud 12 Rabiulawal tahun 933 H. atau pada hari Senin, 17 Desember 1526. “Perayaan Maulud pada 12 Rabiulawal dianggap baik sekali jika jatuh pada hari Senin. Sebab menurut tradisi Islam, Nabi Muhammad lahir dan wafat pada hari Senin,” demikian alasan Hoesein.

Pertanyaan kita sekarang tentunya benarkah hari lahir Jakarta 22 Juni 1527 sebagaimana pendapat Soekanto? Ataukah 17 Desember 1526 kalau mengikuti tafsiran Hoesein Djajadiningrat? Sebenarnya, pro-kontra hari lahir Jakarta bukan hanya dilakukan oleh Soekanto-Hoesein Djajadiningrat.

Ahli arkeologi Islam, Ayatrohaedi, pernah menghitung-hitung bahwa seharusnya hari jadi Jakarta adalah Maret 1527.

Budayawan Betawi yang baru saja ditetapkan Universiti Kebangsaan Malaysia sebagai Sejarahwan & Budayawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi, ternyata sudah sejak tahun 1988 mengajak semua pihak, khususnyé abang, mpok, êntong, ênyak, babé, êncang, êncing, êngkong, sêmué wargé Betawi menguji kebenaran penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta, tapi selalu diabaikan.
Bahkan oleh tokoh-tokoh Betawi sendiri.

Dalam tulisannya di Suara Pembaruan beberapa tahun lalu (1988?)_berujar, “Sungguh memilukan nasib penduduk Jakarta khususnya orang Betawi, hari di mana hak-hak mereka dirampas oleh kekuatan yang berbau asing (Gujarat) dijadikan sebagai hari jadi kota mereka.” Dari pernyataannya, tentu Ridwan Saidi berkeberatan kalau 22 Juni 1527 menjadi hari lahir Jakarta.
…..
Kita dapati prosesi sejarah Bandar Kalapa yang sejak abad XV sudah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Pada tahun 1520, Kerajaan Sunda Pajajaran mengutus Wak Itêm(1) orang dari Kerajaan Tanjung Jaya(2) yang juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda Pajajaran. Disebut Wak Itêm, karena berpakaian serba itêm (hitam) seperti suku Baduy. Wak Itêm disebut juga Batara Katong, karena memakai mahkota dari emas.

(1) Wak Itêm:

Dalam kajian sejarah, Wak Itêm merupakan proto manusia Betawi tetapi belum dapat dipastikan sebagai suku Betawi. Wak Itêm bukan seorang penyembah berhala. Dia adalah Muslim. Wak Itêm ditugaskan sebagai xabandar (syahbandar) Bandar Kalapa atau dikenal Pelabuhan Sunda Kelapa. Asal-usul beliau, hingga kini tidak diketahui.

Menurut F.De Haan (1932) dalam buku “Oud Batavia” tugas-tugas xabandar adalah: mencatat keluar masuk kapal, memenej bisnis dan mencatat jumlah penduduk. Dalam Prasasti Padrao dijelaskan adanya perjanjian antara Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Portugis, antara lain berisikan: Portugis diberi hak membangun loji atau benteng di sekitar Bandar Kalapa. Pada 1522, Wak Itêm teken perjanjian dengan Portugis yang merupakan perjanjian imbal beli: lada ditukar meriam. Wak Itêm meneken perjanjian padrao (baca padrong), dengan membubuhkan huruf WAU dengan khot indah.

(2) Tanjung Jaya:

Lokasi Tanjung Jaya diperkirakan di Kampung Muara, Kelurahan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, di pinggir “kali kawin”, amprogan Kali Ciliwung amé Kalimati (Kalisari)/Kali Cijantung. Ini berarti Wangsatunggal memindahkan pusat Kerajaan Tanjung Kalapa (taklukan Tarumanagara) dari Condet ke Tanjung (Barat). Wangsatunggal kemudian mengganti nama Tanjung “Kelapa” dengan Tanjung “Jaya”.

Tepatnya lokasi Istana Tanjung Jaya di atas sebuah areal tanah seluas 800 meter. Istana menghadap ke utara, terbukti dengan adanya sumur lobang buaya dengan kulêm di bagian utara lokasi. Menjadi ciri khas istana-istana di wilayah Jawa sebelah barat adanya sumur tua di depan istana.

Labuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan Orang Betawi sebagai pelaksana yang ngurusin Labuhan Kalapa. Pada saat Fatahillah menyerbu Labuhan Kalapa, ada 3.000 rumah orang Betawi yang dibumi hanguskan (menurut buku de Quoto 1531) oleh pasukan Fatahillah yang jumlahnya ratusan. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit.

Menurut Ridwan Saidi, Wak Itêm sebagai Xabandar Labuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua gugur melawan pasukan Fatahillah. Xabandar Wak Itêm tewas dan ditenggelamkan ke laut, sementara 20 orang pengikutnya semua juga tewas (Babad Cirebon).

Menurut Ridwan Saidi, tidak pernah ada pertempuran antara Fatahillah dengan Portugis, karena armada Fransisco de Xa tenggelam diperairan Ceylon. Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah adalah Xabandar Wak Itêm dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Bahkan menurutnya Fatahillah juga dibantu tentara asal Gujarat yang merupakan anak buahnya di Pasai.

Ketika Fatahillah menguasai Bandar Kalapa, maka orang-orang Betawi yang ada, tidak boleh mencari nafkah sekitar Labuhan Kalapa (Hikayat Tumenggung Al Wazir). Kalau kemudian hari orang Betawi membantu VOC menghancurkan kerajaan Jayakarta, adalah wajar karena dendam orang terusir. Pada tahun 1619, kerajaan Jayakarta akhirnya takluk pada VOC karena mendapat bantuan orang Betawi.

Ada pula menyebut, Fatahillah menyerbu Kalapa dengan maksud mengislamkan penduduk Labuhan Kalapa. Padahal orang-orang Betawi sendiri telah menjadi Islam oleh Syekh Hasanuddin Patani pada Abad XV, mulai dari pesisir Timur Pulo Kalapa sampai Tanjung Kait di barat. Asalnya memang orang Betawi monoteistik (sejak Abad V) seperti dalam temuan Batujaya, Lalampahan, Bujangga Manik, Syair Buyut Nyai Dawit.

Kerajaan Pajajaran tidak mengganggu, baik ketika masih monoteistik maupun setelah menjadi Islam. Bahkan Prabu Siliwangi memproteksi Pesantren Syekh Hasanuddin Patani (Babad Tanah Jawa, Carios Parahiyangan).

Menelusuri awal penyebaran Islam di Betawi dan sekitarnya (1418-1527), Islam telah menjadi agama orang-orang Betawi. Tepatnya pada tahun 1412, yang digerakkan oleh Syekh Kuro, seorang ulama dari Campa (Kamboja). Pada tahun tersebut, ia telah membangun sebuah pesantren di Tanjung Puro, Karawang. Salah satu santrinya adalah Nyai Subanglarang, salah seorang istri Prabu Siliwangi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi tidak hanya terjadi pada kalangan rakyat biasa, juga pada tingkat elite.

Adapun sejumlah tokoh penyebar Islam lainnya adalah Kian Santang, Pangeran Syarif Lubang Buaya, Pangeran Papak, Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Tonggara, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke.

Dalam pada itu pada abad ke-14 dan 15 kraton-kraton di Jawa sudah menerima Islam karena alasan politik. Menurut kitab Sanghyang Saksakhanda, sejak pesisir utara Pulau Jawa – mulai dari Cirebon-Krawang dan Bekasi – terkena pengaruh Islam yang disebarkan orang-orang Pasai, maka tidak sedikit orang-orang Melayu yang masuk Islam.

Pada awalnya penyebaran Islam di Jakarta mendapat tantangan keras, terutama dari bangsawan Pajajaran dan para resi. Menurut naskah kuno Carios Parahiyangan, penyebaran Islam di bumi Nusa Kalapa (sebutan Jakarta ketika itu) diwarnai dengan 15 peperangan. Peperangan di pihak Islam dipimpin oleh dato-dato, dan di pihak agama lokal, agama Buwun dan Sunda Wiwitan, dipimpin oleh Prabu Surawisesa, yang bertahta sejak 1521, yang dibantu para resi.

Bentuk perlawanan para resi terhadap Islam ketika itu adalah fisik melalui peperangan, atau mengadu ilmu. Karena itulah saat itu penyebar Islam umumnya memiliki ‘ilmu’ yang dinamakan élmu pênêmu jampé pêmaké.

Dato-dato umumnya menganut tarekat. Karena itulah banyak resi yang akhirnya takluk dan masuk Islam. Salah satu contohnya adalah resi Balung Tunggal, yang dimakamkan di Bale Kambang (Condet, Kramatjati, Jakarta Timur).

Prabu Surawisesa sendiri akhirnya masuk Islam dan menikah dengan Kiranawati. Kiranawati wafat tahun 1579, dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Sesudah masuk Islam, Surawisesa dikenal sebagai Sanghyang. Ia dimakamkan di Sodong, di luar komplek Jatinegara Kaum. Ajaran tarekat dato-dato kemudian menjadi ‘isi’ aliran maén pukulan xabandar yang dibangun oleh Wa Itêm.

Selain itu juga ada perlawanan intelektual yang berbasis di Desa Pager Resi Cibinong, dipimpin Buyut Nyai Dawit yang menulis syair perlawanan berjudul Sanghyang Sikshakanda Ng Kareyan (1518). Sementara, di Lemah Abang, Kabupaten Bekasi, terdapat seorang resi yang melakukan perlawanan terhadap Islam melalui ajaran-ajarannya yang menyimpang.

Sehingga bila disebutkan bahwa proses Islamisasi penduduk Betawi. di Jakarta dan sekitarnya baru terjadi sejak Fatahillah, maka pendapat ini salah. Proses Islamisasi di Jakarta dan sekitarnya sudah terjadi jauh lebih awal. Bahkan, lebih dari 100 tahun sebelum kedatangan balatentara Fatahillah yang mengusir orang Barat (Portugis) di Teluk Jakarta (sekitar Pasar Ikan).

Dalam proses Islamisasi di Jakarta, terdapat tujuh wali Betawi, antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur. Kemudian Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Wali lainnya, Ki Aling, tidak diketahui makamnya. Ketujuh ‘wali Betawi’ ini, hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa.

Beberapa generasi setelah tujuh wali itu, terdapat Habib Husein Alaydrus yang dimakamkam di Luar Batang, tempat ia membangun masjid pada awal abad ke-18. Kong Jamirun dimakamkan di Marunda, Jakarta Utara. Datuk Biru, makamnya di Rawabangke, Jatinegara. Serta Habib Alqudsi dari Kampung Bandan, Jakarta Utara. Di Mekkah, terdapat Sheikh Junaid Al-Betawi, yang berasal dari Kampung Pekojan, Jakarta Barat. Syekh Junaid, yang kumpi dari Habib Usman bin Yahya, adalah guru dari Syekh Nawawi Al-Bantani, yang mengarang ratusan kitab, tersebar di berbagai negara Islam. Habib Usman, sendiri adalah salah seorang guru dari Habib Ali Alhabsji, pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat.

Seperti daerah lainnya di Nusantara, Islamisasi di Betawi berlangsung penyebaran secara damai.
…..
Didalam kompilasi sumber-sumber sejarah Jakarta abad V (yang tertua) sampai tahun 1630 yang disusun oleh A.Heuken SJ, ditunjukkan bahwa penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang dilakukan Fatahillah yang dijadikan oleh Soekanto untuk menetapkan ulang tahun kota Jakarta “tidak terbukti oleh data sejarah manapun”.

Dengan begitu masihkah ada data bahwa sejarah memberikan informasi kebenaran tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta ?

Kembali pada kajian penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta, dimana ditetapkan perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kemudian menjadi Jakarta, ternyata masih misteri dan kita tak usah meyakin-yakinkan diri terhadap kebenaran ini.

Sebagai keputusan politik, tentu saja kita masih bisa mengubahnya demi kepentingan sejarah dan panutan generasi berikut. Kita jangan ikuti terus apa-apa yang salah, tapi siap untuk memperbaiki dan mengubahnya.

Atau kita tanyakan saja pada Monas yang tegak ditengah kota Jakarta, sebenarnya dengan data dan fakta sejarah mana tanggal 22 Juni Kota Jakarta ditetapkan tanggal ulang tahunnya?

Sebagai penerus generasi terdahulu yang kini tinggal di Betawi atau Jakarta sekarang ini, kita ditantang untuk mencari tahu, membenarkan pendapat diatas karena putusan politik, atau kita dapatkan fakta baru sejarah Jakarta ini.

Alasan Fatahillah menyerbu Bandar Kalapa dengan alasan agama juga sudah tertolak dengan fakta bahwa Wak Itêm adalah seorang muslim yang tidak setuju dengan otoritas keilmuan Islam Cirebon. Orientasi keagamaan Islam orang Betawi pada Syech Quro di Karawang, dimana syech Qurro dalam wasiatnya meminta agar Qur’annya dikuburkan bersama jasadnya bila dia wafat. Syech Qurro menikahi putri Batujaya dan Prabu Siliwangi yang Bhrahmanis (Hindu) melindungi Syech Qurro dan madrasahnya yang mana suatu saat Prabu Siliwangi menikahi santri Syech Qurro bernama Subang Larang.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan:

1. Kaum Betawi dibawah Wak Itêm sudah lebih maju dengan melakukan Pakta Perdagangan dengan Portugis, dimana Portugis hanya diberi akses sedikit saja;

2. Fatahillah menyerbu Wak Itêm dan para pengiktunya di Labuhan Kalapa, bukan karena alasan agama, yang mengangap Wak Itêm dan para pengikutnya adalah para penyembah berhala, tapi bermaksud menguasai pintu dan jalur perdagangan.

3. Penetapan 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir Kota Jakarta adalah kekeliruan, karena tidak ada sandaran data atau fakta sejarah dari manapun. Kecuali kompromi politik yang menghasilkan keputusan politik oleh Soediro sebagai Walikota Djakarta Raja (1958-1960). Tahun 1956;

Setelah kita menelisik catatan sejarah, ternyata (sebuah hipotesa) tak ada satupun fakta sejarah yang mendukung penentapan 22 Juni sebagai tanggal lahir Kota Jakarta.

Sudah selayaknya Kaum Betawi mau menguji ulang catatan tentang sejarah Kaum Betawi ini, baik mulai dari Situs Batujaya (abad II M) maupun pada saat penguasaaan Bandar Kalapa oleh Wak Itêm tahun 1522 dan penyerbuan Fatahillah yang dipuncaki 22 Juni 1527.

Bagi kaum Betawi di Jakarta dan sekitarnya harus memiliki sikap untuk meluruskan sejarah yang cukup lama dibuat keliru karena keputusan politik yang jadi sandarannya.

Sebagai penutup, dapat dikatakan juga bahwa pendapat yang menolak tangal 22 Juni sebagai hari lahir Jakarta, merupakan hipotesa sejarah juga, yang masih harus dikaji dan dikaji, dan seperti yang telah saya sebut di awal tulisan ini, Sejarah adalah sejarah, dia tidak lebih adalah sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang yang sekarang, dan kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis dan data-data akurat yang menunjang masih terjadi.
Dalam menelisik untuk mencari kebenaran sejarah, haruslah berbasis keilmuan semata dan tanpa beban, selalu dengan pikiran yang jernih, bersih, netral, dan sudah barang tentu tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan, apalagi ditunggangi kepentingan-kepentingan politik tertentu dengan cara-cara bujukan atau pemaksaan. Demikianlah.

JAYAKARTA-lah IBUKOTA-ku TERCINTA

Rujukan:

1. Mengapa 22 Juni 1527 Ditetapkan Sebagai Hari Lahir Jakarta? — Djulianto Susantio, Arkeolog, tinggal di Jakarta

2. Kaji Ulang, 22 Juni Bukan Hari Lahir Kota Jakarta ? Kado Buat Jakarta: Mengungkap Kebenaran Sejarah Tanggal Lahir Kota Jakarta — Ahmad Mathar Kamal 10 Mei 2010

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: