Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng énjang, sugêng pêpanggihan malih, Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 14]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Somå Pon Wuku Matal 1932Ç; 19 Juli 2010M; 07 Ruwah 1943 – Dal; 07 Sya’ban 1431H

Atur pambukå, pambagyå raharja dumatêng pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

Petualangan Mahesa Bungalan yang diceritakan sejak PBM 1 sd PBM 13 sungguh semakin mengasyikan, berajak dari satu pedukuhan, ke kabuyutan lain, kemudian dari satu perguruan ke perguruan lain. Memang dalam hal ini Ki SHM memang jagonya ‘ndongèng

Memperhatikan setting waktu, nampaknya ‘petualangan’ Mahesa Bungalan sezaman dengan zaman Seminingrat atau lebih dikenal dengan sebutan Ranggawuni masih berkuasa di Singosari.

Singosari mencapai masa keemasannya kelak ketika dibawah pemerintahan Kertanagara putra Prabu Seminingrat, dengan konsep mandala nusantaranya. Dan pada era itu, seperti halnya suatu negara yang membangun pasti selalu saja ada ancaman dan gangguan. Bahkan gangguan dan ancaman terbesar justru muncul dari keluarga kerajaan Kadiri yakni Jayakatwang sebagai keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri, yang dikalahkan oleh Ken Arok pada tahun 1222.

Kertanagara sendiri akhirnya gugur saat penyerangan pasukan dari Daha Kadiri dibawah pimpinan Jayakatwang, dia adalah adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri yang dikalahkan oleh Ken Arok pada tahun 1222, tetapi Jayakatwang juga menantu Sang Seminingrat, dengan demikian Jayakatwang adalah ipar Kertanagara.

Pårå kadang. Dongeng belum sampai ke era Kertanagara.

Kali ini, mengawali dongeng arkeologi & antropologi Cantrik Bayuaji mengajak pårå kadang berkilas balik “melihat-lihat” kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia:

KERAJAAN-KERAJAAN TERTUA DI INDONESIA

Batasan kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia adalah kerajaan-kerajaan kuno yang dengan mudah sudah kita kenal secara umum selama ini berdasarkan temuan situs-situs purba berupa prasasti, Kerajaan-kerajaan tersebut terletak di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini. Keberadaannya berkisar antara abad 3 sampai dengan abad 10 (± tahun 300an M sd tahun 1000an M), antara lain:

1.Kutai Martadipura (± tahun 300M),
2.Kalingga (± tahun 600M),
3.Mataram Kuno (± tahun 600M),
4.Tarumanegara (± tahun 600M),
5.Kanyuruhan (± tahun 600M),
6.Kadiri (± tahun 1000M).
7.dan beberapa kerajaan kecil seperti Sukallasnagara, Kandis,

I. KUTAI

Hampir semua buku-buku pelajaran sejarah tanah air, dengan demikian juga buku-buku resmi yang dipakai sebagai buku baku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah menjelaskan bahwa Kutai Martadipura (350-400 M) hingga kini diyakini sebagai kerajaan tertua di Indonesia

Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Dalam catatan sejarah, bahwa kerajaan Hindu yang tertua di Indonesia ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.

Salah satu sumber data tentang hal itu dimuat dalam Buku Salasilah Kutai terbitan Bagian Humas Pemerintah Daerah Tingkat II Kutai (1979) yang naskahnya berasal dari buku De Kroniek van Koetei karangan C.A. Mees (1935). Sementara buku C.A. Mees sendiri bersumber dari naskah kuno dalam huruf Arab yang ditulis oleh Tuan Khatib Muhammad Tahir pada 21 Dzulhijjah 1285 H. Namun naskah “asli” Salasilah Kutai tidak hanya ditulis oleh satu orang saja tapi oleh banyak penulis, semua naskah ditulis dengan bahasa Arab dan Melayu Kutai.

Sumber lain berupa yupa/prasasti yang menyebutkan terdapat di Kerajaan Hindu bahwa sekitar tahun 400 masehi sudah ada sebuah kerajaan di Kalimantan Timur Raja pertama adalah Kudungga. Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.

Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sangsekerta.Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.

Setelah diselidiki dengan semasa, ternyata kira-kira tahun 400 Masehi telah ditemukan kerajaan Hindu di Kalimantan Timur, yaitu di Kutai. Disini ditemukan beberapa buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu. Tiang batu itu disebut yupa, sampai saat ini telah di temukan 7 buah yupa, dan masih ada kemungkinan beberapa buah yupa yang lain belum di temukan sampai saat ini. Prasasti itu berlukiskan huruf pallawa, yang menurut bentuk dan jenisnya berasal dari seketar tahun 400 Masehi. Bahasanya memakai bahasa sanskerta, dan tersusun dalam bentuk syair.

Prasasti yang menyebutkan silsilah Mulawarman, raja terbesar di daerah Kutai purba itu, berbunyi sebagai berikut:

çrímatah çrí-narendrasya,
kundungasya mahâtmanah
putro çvavarmmo vikhyâtah
vançakarttâ yathânçumân
tasya putrâ mahâtmânah
trayas traya ivâgnayah
teşân trayânâm pravarah
tapo-bala-damânvitah
çri mûlavarmmâ râjendro
yastvâ bahusuvarnnakam
tasya yajnâsya yûpo’yam
dvijendrais samprakalpitah

“[Sang maharaja Kundunga, amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarmman namanya, yang seperti sang Ansuman (dewa matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai tiga putra, seperti (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri emas-amat-banyak. Buat peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh brahmana]”

Mengingat catatan dari tulisan tersebut diatas, maka kita dapat mengetahui, bahwa ada dikatakan tiga keturunan, yakni raja Kundunga mempunyai anak sang Aswawarman; sang Aswawarman mempuyai anak tiga orang, yang terutama ialah sang raja Mulawarman.

Berdasarkan silsilahnya dapat dipastikan, bahwa Kundunga adalah seorang Indonesia asli, yang barangkali untuk pertama kalinya tersentuh oleh pengaruh budaya India. Tetapi sedemikian jauh, Kundunga sendiri masih tetap mempertahankan ciri-ciri keindonesiannya, dan itu pulalah yang menyebabkan ia tidak dianggap sebagai pendiri keluarga raja.

Dari data yang sedikit itu dapat disimpulkan, bahwa rupanya pengertian “keluarga raja” pada waktu itu, terbatas kepada keluarga kerajaan yang telah menyerap budaya India di dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut prasasti yang ada, penyerapan itu mulai terlihat pada waktu Aswawarman, anak Kundunga, menjadi raja, yaitu dipergunakanya nama yang berbau India sebagai nama pengenalnya. Oleh karena itulah, maka yang dianggap sebagai pendiri keluarga raja Aswawarman, dan bukannya Kundunga sendiri.

Prasasti lain yang dikeluarkan Mulawarman, berbunyi sebagai berikut:

//srimato nrpamukhyasya
//rajnah sri-mulavarmmanah//
//danam punyatame ksetre//
//yad dattam vaprakesvare//
//dvijatibhyo’ gnkalpebhyah//
//visatir ggosahasrikam//
//tansya punyasya yupo’yam//
//krto viprair ihagataih//

Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, bertempat di dalam tanah yang sangat suci bernama Waprakeswara. Buat peringatan akan kebaikan budi sang raja itu, tugu ini telah dibikin oleh para brahmana yang datang di tempat ini.”

Didalam prasasti diatas, ada nama yang sangat penting buat pengetahuan kita tentang agama yang dipeluk oleh sang Mulawarman, yakni Waprakeswara, nama yang suci dan didalam tempat itu pulalah kenduri sang Mulawarman itu dilakukan.

Dari semua bukti prasasti yang ada, hampir tidak ada kemungkinan untuk mengungkap bagaimana kira-kira kehidupan kemasyarakatan pada zaman kerajaan kutai purba ini. Hal ini di sebabkan, karena prasasti-prasasti itu boleh dikatakan tidak sedikit pun berbicara tentang masyarakatnya. Tetapi ini tidak berarti, bahwa kita sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan masyarakat masa tersebut. Ditulisnya prasasti-prasasti Mulawarman dengan menggunakan bahasa sanskerta dan aksara pallawa, merupakan petunjuk bagi kita untuk menduga bagaimana keadaan masyarakat ketika itu. Walaupun tidak jelas, tetapi dapat dipastikan bahwa ketika itu sudah ada sebagian penduduk Kutai purba yang hidup dalam suasana peradapan India. Mengingat bahwa bahasa sanskerta pada dasarnya bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, tetapi merupakan bahasa resmi untuk masalah-masalah keagamaan, dapatlah disimpulkan , bahwa ketika itu di kutai purba sudah ada golongan masyarakat yang menguasai bahasa sanskerta. Ini berarti bahwa kaum bramana pada masa itu sudah merupakan suatu golongan tersendiri di dalam masyarakat Kutai purba.

Golongan lainnya ialah kaum kesatria, yang terdiri dari kaum kerabat Mulawarman. Golongan ini sampai pada masa tersebut rupanya masih terbatas kepada orang-orang yang sangat dekat hubungannya dengan raja saja. Di luar kedua golongan tersebut, masih terdapat golongan lain yang boleh dikatakan berada di luar pengaruh India. Mereka adalah rakyat Kutai purba pada umumnya, yang terdiri dari penduduk setempat, dan masih memegang teguh agama asli leluhur mereka. Barangkali di samping mereka yang terdiri dari penduduk asli, juga terdapat kaum brahmana yang berasal dari India, yang bagaimana pun juga telah turut memegang peranan yang cukup penting di dalam penghinduan keluarga raja Mulawarman. Namun sayang sekali bukti-bukti yang ada tidak memungkinkan kita untuk lebih banyak menarik kesimpulan.

Berhubung sampai saat ini belum ditemukan bukti baru yang ada hubungannya dengan daerah Kalimantan Timur sekitar abad ke-4 dan ke-5 Masehi, maka tentu saja kita juga tidak dapat membicarakan daerah ini lebih banyak lagi.

Kerajaan yang bisa disebut Kerajaan Kutai sebenarnya ada dua, Kutai Martadipura dan Kutai Kertanegara.
Informasi yang ada diperoleh dari yupa/prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4.

Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai.

Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Raja pertamanya adalah Kundungga.

Kerajaan Kutai Kertanegara sendiri baru berdiri pada awal abad ke-13. Kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama ini raja pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).

Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentunya menimbulkan friksi diantara keduanya. Pada awal abad ke-16 terjadilah peperangan besar di antara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai Martadipura berakhir saat raja terakhirnya yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

Tidak banyak data atau sumber sejarah yang menjelaskan tentang kerajaan Kutai ini.

Dongèng candaké adalah Kerajaan Tarumanagara

Nuwun

cantrik Bayuaji.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: