Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng sontên, sugêng pêpanggihan malih, Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 15]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Budå Kêliwon, ing ndalu Rêspati Umanis, Wuku Matal, Ingkêl Minå; Srawånåmasa, mångså Kaså 1932Ç; 21 Juli 2010M; 10 Ruwah 1943 – Dal; 10 Sya’ban 1431H

Atur pambukå, pambagyå raharja dumatêng pårå kadang ingkang dahat kinurmatan:

II. TÁRUMANÁGARA

Zaman Kerajaan Tárumanágara disebut periode klasik tua Jawa Barat sekitar abad ke-4 sampai abad ke-7 M. Kerajaan Tárumanágara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah berupa beberapa prasasti dan peninggalan artefak di sekitar area yang diperkirakan lokasi kerajaan; juga diperkuat dengan beberapa berita asing yang menyebutkan tentang keberadaannya.

Dalam catatan sejarah, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Meskipun demikian data yang ada belum dapat dipakai untuk mengungkap sejarah kerajaan tersebut secara menyeluruh.

Tidak ada penjelasan yang pasti siapa yang pendiri kerajaan Taruma. Diduga bahwa pendiri Kerajaan Tarumanagara adalah Jayasingawarman yang memerintah antara 358 – 382. Ia adalah seorang maharesi dari Salankayana India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Ia adalah menantu Raja Dewawarman VIII.

Wilayah Kerajaan Tarumanagara ketika di bawah kekuasaan Purnawarman membentang dari Salakanagara atau Rajatapura di daerah Teluk Lada Pandeglang, Banten sampai ke Purwalingga (sekarang: Purbalingga), di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali atau Kali Brebes memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa bagian Barat pada masa silam.

Sebagai bukti keberadaan Tarumanagara diketahui dari peninggalan berupa prasasti yang saat ini berjumlah tujuh buah. Lima di Bogor, satu di Bekasi dan satu di Lebak Banten, yaitu:

1. Prasasti Kebon Kopi, ditemukan di
perkebunan kopi milik Jonathan Rig, di kampung Muara Hilir, Ciampea, Kabupaten Bogor

2. Prasasti Ciaruteun, Ciaruteun (Ci Aruteun), Ciampea, Kabupaten Bogor.

3. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor.

4. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

5. Prasasti Muara Cianten, juga di kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor.

6. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta.

7. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten,

8. Beberapa arca, batu menhir, perhiasan, batu dakon, kuburan tua, tempayan, dan logam perunggu.

Adapun berita yang bersumber dari luar (dalam hal ini adalah Cina):

1. Berita Fa-Hsien, tahun 414 M dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi, disebutkan suatu daerah bernama Ye-po-ti di selatan;

2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 M dan 535 M telah datang utusan dari To-lo-mo yang terletak di sebelah selatan;

3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 M dan 669 M telah datang utusaan dari To-lo-mo di selatan;

Dari tiga berita dari Cina di atas para ahli menyiratkan bahwa Ye-po-ti dapat diasumsikan sebagai transliterasi dari Jawa Dwipa dan To-lo-mo adalah Tarumanagara.

Dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi, Fa-Hsien memberitakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.

Ye-po-ti sering diterjemahkan Jawa Dwipa, tetapi kemungkinan terbesar Ye-po-ti dapat diasumsikan sebagai transliterasi Way Seputih di Lampung. Di daerah aliran Way Seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan berupa punden berundak, batu kandang atau batu mayat, batu berlubang, benteng, dolmen, altar batu, arcadan prasasti dari Dinasti Han, Sung dan Ming dan artefak kuno lainnya, yang sekarang terletak di situs arkeologiTaman Purbakala Pugung Rahardjodi Desa Pugung Rahardjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

Pada lokasi keberadaan taman purbakala ini dikelilingi oleh tanggul bekas peninggalan perang zaman dahulu, dan tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa Hsien meskipun saat ini terletak puluhan kilo meter menorok ke pedalaman.

4. Dalam sejarah lama dinasti Sung disebutkan juga bahwa Ho-lo-tan di She-po pernah mengirim utusan ke Negeri Cina pada tahun 430, 433, 434, 436, 437, dan terakhir 452.

She-po adalah transliterasi dari Jawa, mohon dibaca kembali DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [dongeng kaping-26. Rontal SUNdSS 31]

Sedangkan Ho-lo-tan adalah Ciaruteun, sebuah kerajaan kecil yang ditaklukan oleh To-lo-mo.

Sedang sumber rujukan sejarah laian adalah kisah yang sering dijadikan bahan diskusi yang berasal dari Naskah Wangsakerta yang keabsahannya sering diragukan oleh para ahli sejarah. Mungkin sulit juga diakui keberadaanya jika tidak dikuatkan berita dari luar.

Sumber sejarah Prasasti

Dari ketujuh prasasti tersebut di atas diketahui bahwa kerajaan Tarumanagara memang benar ada. Kerajaajn Tarumanagara dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman (Jayasingavarmman) pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman berada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi).

Dari raja-raja yang memerintah di Tarumangera, raja yang lebih dikenal adalah Purnawarman (Purnavarmman), yang mengidentifikasikan dirinya dengan Wisnu.

1. Prasasti Kebon Kopi.

Prasasti Kebon Kopi dibuat sekitar 400 M, dan ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor pada abad ke-19 ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi milik Jonathan Rig, tidak jauh letaknya dari keberadaan Prasasti Ciaruteun,

Pertama kali keberadaan prasasti Kebon Kopi ini dilaporkan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864 yang kemudian disusul pendeta J.F.G. Brumun (1868), A.B. Cohen Stuart (l875),PJ. Veth (l878, 1896), H. Kern (1884, 1885, 1910), RDM. Verbeek (1891) dan J.Ph. Vogel (1925). Sejak itu prasasti ini disebut Prasasti Kebonkopi hingga saat ini masih berada di tempatnya (insitu).

Prasasti Kebon Kopi dipahatkan pada sebongkah batu dengan bentuk tidak beraturan. Yang menarik dari prasasti ini adalah pada salah satu bidang permukaan batu yang menghadap ke timur terdapat pahatan yang membentuk dua telapak kaki gajah. Pahatan telapak kaki gajah ini disamakan dengan telapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Indra dalam mitologi Hindu.

Di antara kedua pahatan tersebut terdapat satu baris pahatan tulisan setinggi 10 cm dengan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta yang disusun ke dalam bentuk seloka metrum Anustubh, yakni sebuah seloka dengan satuan irama yang ditentukan oleh jumlah dan tekanan suku kata dalam setiap baris puisi, semacam mantra. Lazim dalam bahasa Sansekerta.

Kalimat yang terpahat pada prasasti Kebon Kopi:
~ ~ jayavisalasya Tarumendrasya hastinah ~ ~
Airwavatabhasya vibhatidam ……. padadvayam

[Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki…
yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam…….dan (?) kejayaan
]

Kalau diterjemahkan secara bebas kira-kira:

“(inilah) dua jejak telapak kaki Airawata yang perkasa dan cemerlang, gajah kepunyaan penguasa Taruma yang menghantarkan (kepada) kejayaan”.

Dari Prasasti Kebon Kopi, hanya bisa di duga, bahwa Raja Purnawarman memiliki seekor gajah yang bernama Airawata, yang membawa kejayaan dalam berperang.

Sedangkan tempat ditemukannya prassati adalah termasuk wilayah kekuasan Kerajaaan Tarumanagara.

2. Prasasti Ciaruteun,

Prasasti Ciaruteun, di kecamatan Ciampea. Kabupaten Bogor. Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan pada aliran sungai Ciarunteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; mendekati muara sungai Cisadane Bogor.

Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada tahun 1863. Akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini hanyut terseret air beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertulisan menjadi terbalik posisinya ke bawah. Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan ke tempat semula. Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti batu ini agar tidak terulang terseret banjir, kemudian diletakkan di dalam cungkup.

Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: sungai Cisadane, sungai Cianten dan sungai Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang).

Prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang terdiri dari puisi empat baris disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum Anustubh. Pada bagian bawah tulisan terdapat pahatan gambar umbi dan sulur-suluran (pilin), lukisan semacam laba-laba serta sepasang telapak kaki Raja Purnawarman.

Gambar telapak kaki pada prasasti Ciarunteun mempunyai dua arti yaitu:

• Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya prasasti.

• Cap telapak kaki melambangkan kekuasaan dan eksistensi seseorang, biasanya penguasa, sekaligus penghormatan sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.

Isinya adalah puisi empat baris, tertulis:

vikkrantasyavanipat eh
shrimatah purnavarmmanah
tarumanagararendrasya
vishnoriva padadvayam

[Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Terdapat gambar sepasang “pandatala” (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan dan berfungsi seperti “tanda tangan” pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya.

Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama “Rajamandala” (raja daerah) Pasir Muhara.

Catatan tambahan:

Ho-lo-tan adalah Ciaruteun

Dalam sejarah lama dinasti Sung disebutkan bahwa Ho-lo-tan di She-po pernah mengirim utusan ke Negeri Cina pada tahun 430, 433, 434, 436, 437, dan terakhir 452.

She-po adalah Jawa sedangkan Ho-lo-tan berada di Jawa Barat. Sebutan Ho-lo-tan sangat bersesuaian bunyi dengan Aruteun.

Berdasarkan kesesuaian bunyi tersebut dapat disimpulkan bahwa Ho-lo-tan adalah kerajaan Aruteun yang berpusat di muara Ci Aruteun. Dengan melihat catatan Cina kerajaan ini mulai mundur pada tahun 452 dan selanjutnya ditaklukkan To-lo-mo (Táruma).

Ho adalah Wa maka Ho-lo-tan mungkin berasal dari Waratan. Ci sama dengan Cai, dan Ca di Jawa Barat kadang-kadang menjadi Wa misalnya caringin menjadi waringin.

Cai adalah Wai kata untuk air atau sungai maka Ho-lo-tan mungkin Wairatan sekarang menjadi Ciaruteun. Berdasarkan prasasti dan berita Cina dapat disimpulkan bahwa pada jaman klasik tua di Jawa Barat terdapat kerajaan Táruma yang pernah menaklukkan kerajaan Aruteun (Ho-lo-tan).

ånå tutugé atawa to be continued [tü bi: kǝn’tinyu|ed]

Sebentar lagi matahari akan terbenam di wilayah Jakarta, menjelang petang, sebelum dongeng di sore ini aku tutup, mari kita simak:

sandhé jabung sampun ing surup amasang sandhé.

[sandyakala saat rembang petang, matahari menjelang terbenam, ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.]

Candik Ayu dan Candik Ålå yang kadang datang bergantian di senja hari hidupmu. Candik Ayu adalah suasana hati yang riang, kecantikan yang indah, senja yang tenteram. cerah, dedaunan nampak menjadi lebih hijau cemerlang, bunga-bunga terlihat begitu indah mempesona.

Langit bersih, tapi tidak selalu tanpa awan, burung-burung bernyanyi riang mengiringi Sang Bagaskårå turun menuju ke peraduannya, keindahannya dapat dirasakan.

Tetapi yang muncul sesaat kemudian langit berangsur berubah warna.
Sinar jingga-kuningnya menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut silih berganti, kuning, jingga, merah.
Semburat merahnya menyiram seluruh muka bumi. Merah dan semakin merah.
Merah darah, kelabu hitam kelabu dan muram.

Candik Ålå.

Kelelawar beterbangan keluar sarang
mencari mangsa di awal petang.
Pohon-pohon menunjukkan kekuasaan bayangan keangkuhan.
Sepertinya akan ada keburukan,
petaka yang akan merenggut semua kebahagiaan.

Candik Ålå.

Kala wayah surup. Sandyakala saat rembang petang,
matahari menjelang terbenam,
ketika pelita-pelita telah dinyalakan pada tempatnya.

Waktu siang hampir hilang.
Waktu malam menjelang datang.
Berlangsung pergantian antara terang dan kegelapan.

Akan ada padanya kebingungan atau jiwa yang tertekan.
Ruh menjadi rentan,
dekat dengan kegilaan.
Bahkan lebih dekat lagi dengan kematian.

Putaran zaman yang sedang kita alami sedang berada pada wayah surup. Menjelang senja. Asar hampir habis, Maghrib akan tiba. Sedang berlangsung pergantian terang ke kegelapan.

Kanjêng Nabi dawuh, jangan tidur pada saat-saat demikian. Kalau seseorang tidur menjelang sampai melewati waktu Magrib, ia akan mengalami beberapa kebingungan kejiwaan. Rohani manusia sedang dalam kondisi yang sangat rentan. Bahkan dekat dengan kegilaan.

Itulah sebabnya, para tukang santet dan tenung konon sangat menggemari saat-saat demikian dan menggunakannya untuk mengirimkan serangannya.

Sugêng sontên pårå kadang, sumånggå samyå énggal sêsuci, magitå-gitå tåtå- tåtå sowan wontên ngarsanipun PanjênênganiPun Gusti Allah. Sholat Maghrib.

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: