Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng enjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari.
Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal
:

DONGENG CANDI PENAMPIHAN © 2010. [Rontal PBM 19]

Laporan Pandangan Mata Ki P Satpam dan Ki Senopati Mahesa Arema yang sedang melanglang jagad Jawa Timur telah “menyambangi” lereng Gunung Wilis, tepatnya di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, menjumpai situs candi yaitu Candi Penampihan.

Nampaknya beliau berdua tengah napak tilas perjalanan Sang Prabu Jiwana Hayam Wuruk yang mengelilingi Jawa Timur di abad ke-14.

Seperti dikabarkan oleh Prapanca dalam Negarakertagama, tentang perjalanan Sang Prabu Hayam Wuruk:

Nag 54:1 Warnnan sri naranatha sampun umanek rin syandananindita. Sobhatyanta ruhurnya pathya tikanang sapy
[Tersebut Baginda telah mengendarai kereta kencana, tinggi lagi indah ditarik lembu]

Nag 18:4 Ndan sang sri tiktawilwa prabhu sakata nirasangkya cihnanya wilwa Gringsing lebhong lewih laka pada tinulis ing mas kajangnyan rinengga
[Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, Beratap kain gringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah,…..]

Nag 18: 5. Munggwing wuntat ratha sri nrpati rinacana swarnna ratna pradipta…..
[Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam ….]

Jika Sang Prabu Jiwana Hayam Wuruk di abad ke-14 silam itu mengendarai pedati mas atau kereta kencana yang ditarik lembu dengan “accessories” yang serba mewah, maka “pedati mas” atau “kereta-kencana”nya Ki Senopati Mahesa Arema, pasti mirip-mirip, ditarik juga oleh “hewan”, barangkali “hewan”nya sejenis: “Kijang”, “Panther”, atau “Tiger”. Hiks……….

Selamat melanglang Ki, hati-hati di jalan, selamat sampai tujuan. Kembali pun dengan selamat.

Adapun tentang Candi Penampihan yang juga dikenal sebagai Candi Asmoro Bangun, dongengnya begini:

Candi ini terletak di Desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Terakhir saya beranjangsana ke wilayah Tulungagung, lereng Gunung Wilis itu tahun 2007 yang lalu, tepatnya bulan April atau Mei 2007. Jadi sudah lebih dari tiga tahun.

Catatan saat kunjungan ke candi Penampihan adalah sebagai berikut: Candi dalam keadaan rusak berat; belum ada upaya perbaikan. Arca dan beberapa patung hilang dari tempatnya, sebagian berhasil diselamatkan dan disimpan di Museum Tulunagung. Ditemukan banyak sekali coretan-coretan “prasasti masa kini”.

Dibagian atas altar candi yang berbentuk lojong terdapat sebuah prasasti berbahan dari batuan andesit berbentuk persegi. Prasasti ini dikenal dengan Prasasti Tinulat Raja Balitung yang dipahat dengan menggunakan huruf Pallawa dengan stempel berbentuk lingkaran dibagian atas prasasti, berangka tahun 820Ç atau 898M.

Raja Balitung adalah raja Mataram Hindu yang ke-9, dengan nama Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung yang memerintah Mataram Hindu tahun 820Ç sampai 837Ç atau 898M sampai 915M.

Prasasti itu berkisah tentang nama-nama raja Balitung, serta seorang yang bernama Mahesa Lalatan. Sangat disayangkan sejarah lisan dan artefak belum bisa menguak siapa tokoh ini.

Disebutkan pula pada prasasti itu seorang putri yang konon bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri.

Dewi Kili Suci adalah adalah putri Prabu Airlangga yang menjadi pewaris tahta Kahuripan. Pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, sejak kerajaan masih berpusat di Watan Mas sampai pindah ke Kahuripan, Dewi Kili Suci sebagai Putri Mahkota menjabat Rakryan Mahamantri dengan nama Sanggramawijaya. Gelar lengkapnya ialah Rakryan Mahamantri i Hino Sanggramawijaya Dharmaprasada Uttunggadewi. Nama ini terdapat dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang I (1035). Tidak diperoleh keterangan lebih lanjut hubungan antara Dewi Kili Suci ini dan Prasasti Tinulat Raja Balitung.

Selain menyebutkan nama, Prasasti Tinulat juga memberikan informasi tentang Catur Asrama.

Catur Asrama adalah empat tingkatan kehidupan atas dasar keharmonisan hidup dalam ajaran Hindu. Setiap tingkatan kehidupan manusia di bedakan berdasarkan atas tugas dan kewajiban manusia dalam menjalani kehidupannya, namun terikat dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Brahmacari Asrama, adalah tingkatan saat menuntut ilmu. Grhasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumahtangga. Sedangkan Wanaprastha Asrama sebagai tingkat kehidupan ketiga adalah tingkatan yang mewajibkan seseorang itu harus menjauhkan dirinya dari nafsu keduniawian. Adapun Sanyasin Asrama (bhiksuka), merupakan tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali harus lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan Dharma Yatra, Tirtha Yatra ke tempat-tempat suci, di mana seluruh sisa hidup seseorang hanya diserahkan kepada Sang Maha Pencipta untuk mencapai Moksa.

Jadi Catur Asrama bukanlah sistem sosial masyarakat yang diklasifikasi berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra, sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh salah seorang “guide wisata purbakala” pada saat kunjungan ke candi Penampihan ini di tahun 2007 itu.

Tentang sebutan lain sebagai Candi Asmoro Bangun, tidak ada penjelasan atau informasi yang dapat dijadikan acuan kebenarannya. Yang dikenal dalam sejarah bahwa tokoh Panji Asmara Bangun identik dengan Prabu Sri Kamesywara, raja yang memerintah Kadiri sekitar tahun 1180 hingga 1190-an.

Dari dongeng masyarakat sekitar yang dituturkan oleh penjaga candi, dikisahkan bahwa candi Penampihan dibuat oleh seorang pembesar dari Ponorogo yang jatuh hati pada putri dari Kadiri, (siapa nama pembesar dan siapa nama putri itu juga tidak diperoleh penjelasan yang akurat), karena lamarannya ditolak kalaupun diterima sang putri menuntut begitu banyak permintaan. Dari Kadiri sang pembesar pulang dan singgah di daerah ini, lalau mendirikan candi Penampihan (tepatnya penampikan, dari kata tampik) artinya penolakan. Bisa juga tampi berarti menerima namun dengan syarat,

Sebenarnya di candi ini banyak sekali arca, namun banyak yang hilang. Seperti arca Siwa, Ganesha, Dwarapala, Dwarajala, arca kepala naga, arca kepala garuda, arca Bima, dan arca kecil-kecil. Namun demi keamanan, beberapa arca-arca yang sempat dapat diselamatkan disimpan di Museum Tulungagung.

Demikian informasi singkat, yang cantrik Bayuaji ketahui. Tentunya informasi ini adalah sesuai dengan keadaan di tahun 2007 pada saat kunjungan ke candi Penampihan itu.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: