Seri Kerajaan Nusantara-PBM

Nuwun

Sugêng siyang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari ,ingkang dahat kinurmatan:

Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI © 2010. [Rontal PBM 20]

Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sukrå Wagé, Wuku Uyé Ingkêl Manuk; Srawånåmåså, mångså Kaså 1932Ç; 30 Juli 2010M; 18 Ruwah 1943 – Dal; 18 Sya’ban 1431H

Kerajaan Sunda (581-1501 Ç atau 669-1579 M).

Kerajaan Sunda diyakini oleh para ahli sejarah adalah kelanjutan Kerajaan Tarumanagara.

1. Prasasti Pasir Muara.

Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Pasir Muara. Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Pasir Muara ditemukan di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya.

Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih disebut dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang, Bogor.

Dahulu merupakan sebuah “kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi.
Prasasti pasir Muara bertuliskan:

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji sunda

[Ini tanda peringatan ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun kawihaji panca pasagi, kekuasaan pemerintahan negara dikembalikan kepada raja Sunda].

Tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), Angka tahun bercorak “sangkala” dan jika mengikuti ketentuan “angkanam vamato gatih” angka dibaca dari kanan, maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Ç atau 536 M. Namun bila mengikuti rumusan angka dibaca dari kanan, sangat janggal. Adalah tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 M sejaman dengan Kerajaan Tarumanagara (358 – 669 M). Tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Ç (932 M).

Rakryan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang Pejabat Tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut.

Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya. Sumber prasati memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya.

2. Prasasti Jayabupati atau Prasasti Cibadak

Rujukan lainnya kerajaan Sunda adalah Prasasti Jayabupati atau disebut Prasasti Cibadak yang ditulis pada 4 buah batu terdiri dari 40 baris.

Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran sungai Cicatih di daerah Cibadak. Tiga ditemukan di dekat kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat kampung Pangcalikan, Sukabumi.

Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98.

Isi prasasti:

[D 73]:
//O// ”swasti shakawarsatita 952
karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-
ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri-
ka diwasha nira prahajyan sunda ma-
haraja shri jayabhupati jayamana-
hen wisnumurtti samarawijaya shaka-
labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-
mottunggadewa, ma-

[Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jaya-manahen Wisnumurti Samarawijaya Sakala-buwana-mandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, mem-]

[D 96]:
gaway tepek i purwa sanghyang tapak
ginaway denira shri jayabhupati prahajyan
sunda. mwang tan hanani baryya baryya cila. i
rikang lwah tan pangalapa ikan sesini iwah.
makahingan sanghyang tapak wates kapujan
i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak
wates kapujan i wungkalagong kalih
matangyan pinagawayaken pra-
sasti pagepageh. mangmang sapatha.’

[buat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan sumpah].

[D 97]:
sumpah denira prahajyan sunda iwirnya nihan

[Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda lengkapnya demikian].

[D 98]:
indah ta kita kamung hyang hara agasti phurbba
daksina paccima uttara agniya neri-
ti bayabya aicanya urddhadah rawi caci patala jala
pawana
hutanasanapah bhayu akaca teja sanghyang mahoratra
saddhya yaksa raksa-
sapicara preta sura garuda graha kinara mahoraga
catwara lokapala
yama baruna kuwera bacawa mwang putra dewata pan-
ca kucika nandiwara mahakala du-
rggadewi ananta surindra anakta hyang kalamrtyu
gana bhuta sang prasidha milu manarira
umasuki sarwwajanma ata regnyaken iking sapatha
samaya sumpah pamangmang na lebu ni pa-
duka haji i sunda irikita kamung hyang kabeh …….
paka-
dya umalapa ikan …….
i sanghyang tapak ya
patyananta ya kamung hyang denta
t patiya siwak kapalanya cucup uteknya belah dada
mya imun rahnya
rantan ususnya wekasaken pranantika ……
…… i sanghyang kabeh
tawathana wwang baribari cila irikang Iwah i
sanghyang tapak apan
iwak pakan parnnahnya kapangguh i sanghyang …
….. maneh kaliliran
paknanya kateke dlaha ning dlaha ….
…. paduka haji sunda umade-
makna kadarman …. ing samangkana wekawet
paduka haji sunda sanggum
nti ring kulit kata karmanah ing kanang …
… i sanghyang tapak makatepa
iwah watesnya i hulu i sanghyang tapak i ….
…… i hilir mahingan i-
rikang ….. umpi ing wungkal gde kalih.

[Sungguh indah kamu sekalian Hiyang Syiwa, Agatsya, timur, selatan, barat, utara, tenggara, barat daya, barat laut, timur laut, angkasa, bumi patala, matahari, bulan, debu, air, angin, sadhya, yaksa, raksasa, pisaca para peri, sura, garuda, buaya, Yama, Baruna, Kuwera, Besawa dan putera dewata Pancakusika, lembu tunggangan Syiwa, Mahakala, Dewi Durga, Ananta sang dewa ular, Surindra, putra Hyang Kalamercu, gana mahluk setengah dewa, buta raksasa, para arwah semoga ikut, menjelma merasuki semua orang, kalian gerakanlah supata, janji, sumpah dan seruan raja Sunda ini].

Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan,

[D 98]: “i wruhhanta kamung hyang kabeh

[Ketahuilah olehmu para hyang semuanya].

Batu prasasti keempat (D 98) berisi sumpah atau kutukan Sri Jayabupati sebanyak 20 baris yang intinya menyeru semua kekuatan gaib di selruh penjuru jagad dan di surga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya.

Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan-dugaan. Pertama, bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaannya tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian sungai (Cicatih) yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak Ibukota Tarumanagara.

Kedua, Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa.

[Sangat disayangkan, hingga saat ini sepanjang yang diketahui belum ditemukan adanya kaitan yang lebih rinci antara Kerajaan Sunda dan kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, andaikatapun ada, maka sumber sejarah dimaksud, sangat diragukan keabsahan data kebenarannya. Cantrik Bayuaji bersama beberapa pecinta sejarah tengah menelisik data sejarah dimaksud].

Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prebu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.

Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Cina yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada raja Cina dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka (kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M).

Sebagaimana sering cantrik Bayuaji paparkan, bahwa kebenaran sejarah adalah kebenaran yang bersifat hipotesa, boleh jadi apa yang dianggap benar di masa kini, akan berubah nantinya bila ditemukan data sejarah yang lebih lengkap.

Dongeng arkeologi dan antropologi tentang Kerajaan Sunda, dicukupkan hingga di sini. Selanjutnya kita kembali ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mendongengkan kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, di antaranya dongeng tentang Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Kanjuruhan, suatu kerajaan yang sudah ada sebelum Kerajaan Singosari, Kerajaan Kadiri (Daha, Janggala), bahkan sebelum Kerajaan Mataram Lama.

ånå tutugé atawa to be continued

Nuwun

cantrik Bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 4 September 2010 at 21:54  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/seri-kerajaan-nusantara-pbm/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. dengan dikumpulkannya dongeng-dongeng arkeologi menurut kelompoknya, akan mempermudah siapapun yang mencari informasi tentang itu. semoga saja apa yang dimuat di wordpress ini terdeteksi oleh google dalam pencarian. soalnya, terus terang saja google merupakan situs pencari yang paling populer saat ini.

    • Ini juga huebat Ki..hmmm.. bukan main !

      • halah…..

        • Saestu koq Ki P Satpam….sangat membanggakan !

          • ngece iki…
            hadu……

          • Njenengan mudik kemana Ki Karto?

          • Ngilen Ki…sekitar menoreh..nderek nopo Ki..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: