Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Malam semakin larut, sudah mendekati dini hari. Dalu punika malem Jêmuwah Pahing – 19 Mulud 1943 – Dal; 19 Rabiul Awal 1431(H); Windu : Kuntårå, Lambang : Langkir; wuku: Sintå, cantrik bayu aji mohon izin akan mendongeng:
Terakhir cantrik bayuaji mendongeng di PdLS-53 [dongeng kaping-8].

Kini kita teruskan dongengnya:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-9] PdLS 60

lanjutan “DONGENG KEN ANGROK” atawa “Angrok si kere munggah bale

PdLS telah sampai pada akhir cerita kudeta berdarah Tumapel atas Kerajaan Kadiri Daha. Terbunuhnya Sri Kertajaya (1194-1222) yang oleh Pararaton disebut Prabu Dandhang Gendis, maka sejak itu Ken Angrok memproklamasikan dirinya sebagai Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi Bhatara Syiwa di Kutaraja Singasari.

Mulailah intrik-intrik, bara pertentangan, perpecahan dan permusuhan dihembus-tiupkan di istana Singosari melalui kedua remaja. Sang Putra Mahkota Anusapati (yang anak biologis Tunggul Ametung), dan Tohjaya (anak “wil”nya Angrok, Umang si wanita jalang, yang pasti anak biologis Angrok).

Tepatlah maka pada episode ini disebut Bara di atas Singgasana.

Tapi siapa sih yang nggak kepengin anaknya jadi pewaris singgasana seperti ambisi si Umang itu ???? Angrokpun juga begitu: ‘ngapain anak orang (Tunggul Ametung) yang gue jadiin ahli waris. Pan gue cuman butuh enyaknye (nDedes) bocah (Anusapati) entu doang.’ He he he….. Angrok koq bisa mbasa gaul mBetawi ya.

[Prakiraan cuaca mBetawi: berawan, hujan ringan, suhu berkisar 250 C ~ 340 C. Sumber: BMK&G (diolah) hari ini Selasa/Rabu, 04/05 Maret 2010 mulai pukul 19.00 sampai tengah malam].
Puannaaaas banget, bagai bara di atas kompor….
Lho koq nulis parakiraan cuaca segala. Ok kita flashback dongeng si kere munggah bale:

Didaerah Batu Kecamatan Junrejo ada sebuah desa bernama Rejasa atau nJasa atau lidah Jawa menyebutkan Rejoso(?). Konon daerah itu, di zaman Jawa Kuno sudah sangat ramai. Terbukti dengan banyaknya temuan-temuan purbakala di sana.

Di jaman seperti itu, acapkali gelar atau nama seseorang dikaitkan dengan tempat asalnya. Angrok diduga lahir di Junrejo, Batu, desa bernama Rejasa itu. Di tempat itu ditemukan kolam kuno yang cukup besar. Beberapa penemuan lain disimpan di Vihara dekat situ yakni di Vihara Kertarejasa

Di daerah Batu memang banyak sekali ditemukan partitan kuno petilasan candi. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah Batu dan sekitarnya sampai arah timur yakni Dinoyo merupakan daerah yang penting di masa itu. maka sangatlah masuk akal kalau Angrok memang dari daerah itu

Di barat desa itu, di daerah Pangkur, ada sumber air yang dialirkan ke seluruh desa. Sumber air itu, menurut cerita turun-temurun adalah sumber air yang biasa didatangi Ken Ndok (Endok), ibu si Angrok. Sumber Ndok, begitu biasa orang-orang Rejasa menamai sumber air itu. endog, sebutan untuk Ndok. Ndok dalam bahasa jawa artinya telur. Itulah mengapa ibunda Angrok disebut sebagai Ken Ndok. Untuk menegaskan bahwa Angrok adalah anak tanpa ayah bahkan kerap disebut sebagai anak Dewa, Dewa Brahma.

Pararaton memaparkan ibu Angrok adalah manusia, ibu tanpa asal usul yang jelas itu disebut Ken Ndok. Bagaimanapun, ibu adalah yang memiliki sel telur untuk dibenihi. Bisa jadi, Pangkur yang disebut di Pararaton itu ada di situ.
Tak ada yang tahu di mana daerah Pangkur itu, namun dari penelitian soal desa-desa kuno di Malang, dimungkinkan Pangkur terletak antara Kepanjen-Blitar.

Pararaton menyebutkan:

Ken Endhok umulih maring Pangkur, sabrang lor……
Sesudah itu Ken Endok pulang ke Pangkur di seberang utara.

Selanjutnya Pararaton mengisahkan:

”…….. harane yugga iku, Ken Angrok. Iku tembe kang amuter bhumi Jawa’. Muksa sira Bhatara Brahma.
“….. nama anakku itu, Ken Angrok, dialah yang kelak akan memerintah tanah Jawa”. Dewa Brahma lalu menghilang.

Oleh ibunya, bayi Angrok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong. Berdasarkan temuan bekas peninggalan Angrok yang ada di desa Jiwut (Jiput) kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

Di halaman awal Pararaton menulis:

Nihan katuturan Ken Angrok, mulan ira duk dinadekaken. Hana anak i randhani Jiput, lumaku tan rahayu, amegat ing hapus. ……………………
Demikian inilah kisah Ken Angrok. Asal mulanja, ia didjadikan manusia: Adalah seorang anak janda di Jiput, bertingkah laku tak baik, memutus-mutus tali kekang kesusilaan, …..

Terkait dengan itu semua, jelaslah Angrok yang lahir di Rejoso (Rejasa), ibunya berasal dari desa Pangkur, yang membuang Angrok di pemakaman di daerah Jiput, maka dari beberapa bukti itu, terkait dengan nama Angrok setelah menjadi raja yakni Sri Rangga (h) Rajasa Amurwabhumi. (kata Rajasa dekat sekali dengan kata Rejasa).

Kakawin Nagarakretagama

Sumber kedua dongeng si Angrok adalah Kakawin Nagarakretagama “[Negara dengan Tradisi (Agama) yang Suci].” atau disebut juga Desawarnana, yang berarti “Penulisan tentang Daerah-daerah”

Tercatat dalam sejarah, kerajaan Majapahit memiliki masa kejayaan sebagai pusat ekonomi dan budaya di seluruh Nusantara mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Salah satu sumber pengetahuan utama tentang kerajaan Majapahit pada abad ke-14 itu terdapat pada Kakawin Nagarakretagama (Desawarnana) yang ditulis oleh Mpu Prapanca yang ditulis huruf dan dengan bahasa Bali Kuno dengan topik utamanya adalah kunjungan kerja Raja Hayam Wuruk beserta keluarga dan pejabat tingginya berkeliling wilayah kekuasaanya di bagian timur Jawa pada sekitar September-Desember 1359M.

Mpu Prapanca yang ikut serta dalam rombongan tersebut menulis dengan cukup rinci dari setiap kegiatan Sri Baginda Raja Jiwana Hayam Wuruk, selama dalam perjalanan tersebut. Berperan seperti seorang wartawan, Sang Empu ‘Pewarta’ Prapanca memberikan laporan pandangan mata mengikuti perjalanan Sri Baginda langsung dari TKP.

Dalam setiap perjalanan beliau singgah di kerajaan fasa antara lain Mataun, Sadden, Wengker, Jenggala, Pajang, Mataram (Lama) dan lain-lain. Ataupun daerah pemukiman, tempat yang indah sebagai tempat istirahat seperti ketika singgah di desa Pandanwangi kecamatan Tempeh, disebuah pantai. Seluruhnya terdokumentasi dengan baik.

Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok.

Empu Prapanca dalam Nagarakretagama Pupuh XXXVII (37) : 2

Prasada munggw i tengah asmu kadbhuta halep nikahyang aruhur
Lwir meruparwwata siwapratista siwawimba munggu ri dalem
Sotan bhatara girinathaputra pinekesti dewa sakala
Anggeh nirantuhatuhanarendra kinabhaktyan ing sabhuwana.

Menara lampai menjulang tinggi di tengah-tengah, terlalu indah,
Seperti gunung Meru, dengan arca batara Siwa di dalamnya,
Karena Bhatara Girinataputera disembah bagai dewa batara,
Datu-leluhur Sri Naranata yang disembah di seluruh dunia.

Siapa Bhatara Girinataputera itu, dialah si kere munggah bale Angrok sang penyamun, si begal, yang disanjung-sanjung sebagai leluhur trah raja-raja penguasa Jawadwipa.

Ini juga menunjukkan bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa. Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah oleh masa yang berbeda sepanjang 7 abad.

Dari sudut sejarah semua ahli sejarah menyatakan, bahwa mutu kesejarahan Negarakertagama (Prapanca, 1365) lebih andal daripada kidung Pararaton. Tapi, tak dapat dipungkiri, untuk mengetahui kisah hidup Angrok, Pararatonlah sumber utamanya.

Selanjutnya kakawin Negarakertagama memberikan sedikit informasi soal Angrok. Angrok (terlebih ketika menjadi raja Singasari) adalah pemuja Dewa Çiwa. Dikatakan pada tahun 1104 Ç (sekitar awal abad 13 M), seorang pelindung besar lahir tidak dari rahim seorang wanita tetapi ia anak ciptaan Dewa Çiwa.

Nagarakertagama menyebutnya Rangga Rajasa Sang Girinathaputra dengan wilayah kekuasaannya di daerah timur gunung Kawi, dengan ibukotanya Kutaraja.

Negarakretagama pupuh XL (40) : 1-2

Nguni sakabdhidesendu hana sira mahanatha yuddhaikawira
Saksat dewatmakayonija tanaya tekap çri-girindra prakça
Kapwares bhakti sakweh parajana sumiwi jong niratwang tumungkul
Çri-ranggah rajasa kyati ngaran ira jayeng satru suratidaksa.
Desagong wetan ing parbwata kawi penuh ing sarrrabhogatiramya
Kuww anggehnyan kamantryan mangaran i kutarajenadeh wwang nikabap
Yeki nggwan çri girindratmaja n-umulahaken dharma manggong kasuran
Tusta ning sadhu nasta ning ahita ya ginong sthitya ning rat subhakti.

Pada tahun 1104 Saka ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu.
Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti.
Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur.
Di situlah tempat putra (atmaja) Sang Girinata menunaikan darmanya.
Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, ibukota negara bernama Kotaraja, penduduknya sangat terganggu.

Bango Samparan tak berbeda dengan Lembong. Bango punya peringai buruk, bukan pencuri tapi penjudi. Jadi lengkaplah sudah watak yang membentuk Angrok. Sepatah kata “Angrok” atau “angrok” itu sendiri yang akan menjelaskan sisik melik siapa Angrok.

Sama halnya nDedes, Angrok mendapat Ken di depannya, yang didapat setelah di kemudian hari, ia marak dengan gagahnya di panggung sejarah.

Beberapa rujukan:

“Arok” atau “A(ng)rok”. Kata dasar “rok”, yang berawal huruf setengah suara “r”, bila mendapat awalan “a” lalu timbul huruf antara “ng” atau huruf nasal; seperti juga terjadi pada kata “rebut” – “angrebut”, “rusak” – “angrusak”, dan lain-lain. Hukum yang sama juga berlaku pada kata-kata berawal huruf setengah suara “l”: “lawan” – “anglawan”; “lebur” – “anglebur” dan seterusnya.

Apa arti kata itu? Dari Kamus Jawa Kuno (Kawi), kata dasar “rok” bisa berarti
1). rog= ngrok atau angrok = nempuh, timpuh.
2). rok (kawi)= tempuh aruket;
3). angrok (mangrok) = nrajang, nempuh, ngamuk.
4). rok= tempuh, awor, gulung, ruket, trajang, srawungan;
5). angrok = awor, tempuh;
6). rok = tempur, gelut, serbu;
7). silih rok = saling menyerbu/menyerang;
8). angrok = bergelut/menjadi kacau/teraduk/campur; (ber)-campur aduk;
9). angrok = bertempur;
10). rinok = rusak;
11). rokinya = dikalutkannya.

Dari semua kata padanan yang diberikan pada kata “rok” dan “angrok” atau “mangrok”, semua bernada negatif, hanya satu kata saja yang jelas bernada positif; yaitu “srawungan“, kata Jawa untuk “pergaulan” atau “bergaul”. (bersama, serentak melakukan sesuatu). Tetapi tidak pasti “sesuatu” yang dimaksud, apakah bersifat menyerang ataukah berbaikan (bergaul).

Sesungguhnya kata “rok” belum aus. Di sisi lain, disebut rog yang artinya ““diguncang-guncang supaya luruh buahnya” (untuk mengambil buah dari pohon). Ingat pada waktu kecil dulu, di kampung kalau sedang merontokkan buah asem, pohon asem digoncang-goncang, supaya buah asam berjatuhan (rog-rog asem).

Sedangkan yang kita baca pada “rok” (Kawi): bertempur ramai, bertempur dekap-mendekap erat-erat; “a-” (Kw): menyerang, mengamuk; begitu juga “mangrok”, “amangrok”, “angrok”, “mangrok”, dan “angmangrok”.

Sumber:
a. Baoesastra Djawa, W.J.S.Poerwadarminta, G.B. Woltersi Uitgevers – Maatschappij n.v., Groningen Batavia, 1939. (copy)
b. Kamus Kawi – Jawa menurut Kawi R.Ng. Ranggawarsita, Gadjah Mada University Press 1987.
c. Kamus Jawa Kuno – Indonesia, L. Mardiwarsito, Penerbit Nusa Indah 1990 (cet. ke-4),
d. Bausastra Jawa – Indonesia, S. Prawiroatmojo (Gunung Agung Jakarta, cet. ke-3, 1985).

Tak salah lagi “arok” atau “angrok” berarti “mengguncang”, maka Ken Angrok adalah Sang Pengguncang.

Tapi, dari tafsir sejarah Angrok-Dedes, pada kata Pendeta Lohgawe, guru Angrok. berdasar sumber utama Pararaton, Ken Angrok adalah Pembangun. Terlepas dari itu, Angrok memang penguncang sejarah Jawa, tetapi dia juga Sang Pembangun dinasti Rajasa, yang menurunkan raja-raja di Jawa.

to be continued….

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: