Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun, ing dinten punika: Jêmuwah Wagé, 12 Maret 2010; 26 Mulud 1943 Dal; 26 Rabiul Awal 1431 (H); Windu: Kuntårå, Lambang: Langkir; Wuku: Landhêp; Padewan: Guru.
Cantrik bayuaji nderek langkung sinambi ngendit rontal:

DONGENG ANTROPOLOGI & ARKEOLOGI [dongeng kaping-11] PdLS-64

KEN ANGROK MENGKUDETA KADIRI

Situasi politik yang sedang tidak kondusif antara para brahmana dan Prabu Dhangdhang Gendhis (Sri Kertajaya) pun menjadi sasaran berikutnya bagi Ken Angrok yang terobsesi menjadi penguasa Jawadwipa. Ketika itu Prabu Dhangdhang Gendhis menghendaki agar para Brahmana menyembah dirinya, karena berpendapat bahwa tidak ada yang mampu menyamai kehebatannya kecuali Bhatara Guru (Bhatara Syiwa).

Siapa Kertajaya itu?

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama.
Pupuh 40 (3):

Ri sakabdhikrtasangkara sira tumeka sri narendreng kadinten
Sang wiranindita sri-krtajaya nipuneng sastra tatwopadesa
Sighralah gong bhayamrih malajeng anusup pajaran parswa sunya
Sakweh ning bhrtya mukyang parapajurit asing kari ring rajya sirnna
.

[Tahun sakabdhikrtasangkara (1144) beliau melawan raja Kediri,
Sang adiperwira Sri Kretajaya, putus sastra serta tatwopadesa,
Kalah, ketakutan, melarikan diri ke dalam biara terpencil,
Semua pengawal dan perwira tentara yang tinggal, mati terbunuh.]

Pupuh 44 (2):

Nguni lungha nira sri-krtajaya rikanang sakabdhimanusa

[Tahun saka bdhimanusa (1144) itulah sirnanya raja Sri Kertajaya],

Dalam Pararaton Kertajaya disebut dengan nama Dhandhang Gendhis

Bukti sejarah lain tentang keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan ditemukannya:

Prasasti Kamulan; 1116C atau 1194M
Prasasti Galunggung; 1116C atau 1194M
Prasasti Palah (1197); 1119C atau 1197M dan
Prasasti Wates Kulon; 1127C atau 1205M

Prasasti Kamulan .

Prasasti Kamulan terletak didesa Kamulan kecamatan Durenan. Prasasti ini dikeluarkan oleh Srngga tahun 1116 Caka atau 1194 Masehi.

Prasasti Galunggung.

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Panjalu Ciamis tidak ada sedikitpun yang menyebutkan secara gamblang hubungannya dengan Kerajaan Panjalu Kediri, akan tetapi kesamaan nama sedikit-banyak menunjukkan adanya benang merah antara dua kerajaan itu, apalagi nama Raja Panjalu Kediri Prabu Kertajaya (1194-1222) juga disebut-sebut dalam Prasasti Galunggung (1194).
Sisa-sisa keluarga dan pengikut Prabu Kertajaya (Raja terakhir Dinasti Sanjaya di Jawa Timur) melarikan diri ke daerah Panjalu (Sukapura/Ciamis) pada tahun 1222 untuk menghindari pembantaian Ken Angrok, pendiri Kerajaan Singhasari/Dinasti Rajasa. Prabu Kertajaya sendiri sebagai Raja Kediri terakhir tewas dalam pertempuran di Tumapel melawan pemberontakan Akuwu Tumapel, Ken Angrok.

Prasasti Palah.

Di selatan candi utama pada kompleks Candi Penataran, berdiri tegak sebuah batu prasasti. Menilik besarnya ukuran batu prasasti, para ahli menduga sejak semula batu tersebut memang terletak di tempat itu. Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno tersebut berangka tahun 1119 Saka (1197 M.), dibuat atas perintah Raja Srengga (dari Kerajaan Kediri. Isi prasasti yang, antara lain, menyebutkan tentang peresmian sebuah tanah perdikan untuk kepentingan Sira Paduka Batara Pala.

Prasasti Lawadan.
(Wates Kulon, desa Lawadan, sekarang Wates Campurdarat, Tulungagung);

Prasasti Lawadan dikeluarkan oleh Prabu Srengga raja terakahir kerajaan Daha, yang juga dikenal dengan nama Prabu Dhangdhang Gendhis. Prasasti tersebut berisi pemberian keringanan pajak dan hak istimewa semacam bumi perdikan atau sima.

Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srngga Lancana Digwijaya Uttunggadewa.

Perang Ganter; Kekalahan Kertajaya. Runtuhnya Kerajaan Daha

Alasan dibalik peperangan dikarenakan Dhangdhang Gendhis memerintahkan para brahmana untuk menyembahnya, yang menolak dibunuh. Para brahmana melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Ken Arok. Entah benar entah tidak, mitos mengatakan prabu Dhangdhang Gendhis yang terkenal sakti pernah mengatakan bahwa dia tidak akan bisa dibunuh kecuali Batara Syiwa turun sendiri ke bumi. Ternyata akhirnya Dhangdhang Gendhis menurut tutur lisan turun temurun, terbunuh oleh tombak Ken Arok yang menancap di dadanya, semenjak itu Daha menjadi jajahan Singosari. Tapi permusuhan dan dendam tidak berakhir begitu saja, kelak raja Singosari terakhir yaitu raja Kertanegara mengambil menantu pangeran Ardaraja, putra dari Jayakatwang raja Daha, dengan tujuan menghapus dendam lama,

Ikuti episode kisah Kertajaya:

Seorang janggan muda bertanya pada sang resi: “Sang Prabu Dhangdhang Gendhis akan menggelar pesta. Sinuwun mengundang seluruh pandeta, resi dan pujangga dari pelosok negeri jajahannya. nDoho. Ada apakah gerangan?”.

“Dengarlah suara gong beri dan bende dari paseban depan alun-alun kota, ditabuh bertalu-talu menandakan agar para kawula, terutama para resi dan pandita berkumpul di depan istana raja”.

Di atas lembaran rontal pun tertuliskan, sang Prabu mengharap kehadiran mereka pada upacara tersebut. Para kawula pun didatangkan. Dalam benak para resi, pandita, janggan, putut, manguyu, para tapa lan tapi membawa pertanyaan-pertanyaan. Ada apa gerangan sang Prabu tiba-tiba nimbali mereka.

Undangan telah disebar, tanggal sudah ditetapkan. Para pandeta, resi, pujangga datang menghadap Sri Baginda Raja. Para undangan sudah berkumpul di depan bangsal pasewakan ageng.

Sang Prabu bersabda: “Aku telah memerintah kerajaan ini cukup lama tak dan tergoyahkan. Adakah di antara kalian tidak tunduk menyembah kepadaku. Rajamu yang baik serta bijak mulia ini. Hai para pandita, resi, pujangga dan para kawulaku. Aku tiada bedanya dengan Syiwa Bathara Guru.”

Prabu Dhangdhang Gendhis menunjukkan di hadapan para pandita segala kuasa dan kedigdayaannya. Segala kelebihan ilmunya dipamerkan. Para hadirin semuanya gusar, mau menentang sri baginda mereka takut. Jika menyetujui berarti mereka ingkar pada kepercayaan yang mereka yakini selama ini.

Kemudian salah seorang pandita berkata: “Wahai Baginda Raja, Duli yang dipertuan di nDoho. Selama ini belum pernah ada seorang panditapun yang menyembah raja.”

“Ya, dahulu memang belum pernah ada, sekarang kalian harus menyembah kepadaku.” tegas ucapan sang Raja.
Para hadirin terdiam. Sang Prabu dengan angkuhnya berteriak lantang: “Kalau kalian ragu tentang apa yang saya maksud, majulah semua melawanku?”

Pararaton menceritakan:
Mangko ta siraji Dhangdhang Gendhis ngadekaken tumbak. Landheyan ipun tinancepaken ing lemah. Sira ta alinggih ri pucuk ing tumbak. Tur angandhika: ‘Lah para bhujangga, delengen kasaktin isun!’ Sira ta katona acaturbhuja, atri nayana, saksat bhatara Guru rupanira. Winidhi anembaha para bhujangga sakapasuk ing Deha…….
[Kemudian Raja Dhangdhang Gendhis mendirikan tombak, batang tombak itupun dipancangkan ke dalam tanah, ia duduk di ujung tombak, seraya berkata: “Nah, para bujangga, lihatlah kesaktianku.” Ia tampak berlengan empat, bermata tiga, laksana wujud diri Sang Batara Guru, para bujangga di seluruh daerah Daha diperintahkan menyembah……”],

Seakan serentak, ruang pesewakan agung itu hening, tiada seorangpun yang berani bersuara. Prabu Dhangdhang Gendhis adalah raja ditakuti kala itu, para kawula, sentana, hulubalang, pangreh praja selalu patuh menjunjung tinggi titah Sang Raja, tidak ada satupun yang berani menentang perintahnya.
Suara pendapa kedaton Daha hening suwung. Tiada bisik-bisik di antara pandita, resi dan janggan. Serentak sukma mereka disentakkan kuasa sang Prabu dengan sangat kuat. Semakin takutlah para resi, pandita, janggan dan lainnya.

Sang Prabu tertawa, tawanya menggema, meruntuhkan setiap hati di paseban ageng itu. Kembali Sri Baginda memerintahkan agar para pandita bersujud kepadanya.

Setelah dirasa cukup menunjukkan segala kelebihannya, Sang prabu memperkenankan mereka untuk pulang ke padepokannya masing-masing. Mengabarkan bahwa sang Raja sudah menjelma sebagai dewata. Namun tidaklah demikian; tidak semua pandita mau menerima perintah sinuwun Kertajaya. Mereka ingin memberontak.

Sejak lama para pandita, resi dan pujangga Daha telah mendengar kabar. Bahwa di daerah Tumapel yang berubah nama Singosari, ada seorang raja baru yang berwibawa dan disegani, bergelar Sri Rajasa.

Tak jauh dari perbatasan Daha, para pujangga mengurungkan langkah pulang ke padepokan masing-masing. Mereka sepakat menuju Singosari guna menghadap Sri Rajasa. Yang awal kelahirannya bernama Ken Angrok (Ken Arok) itu.

Saat para janggan, resi dan pandita sampai ke kota Singosari. bertuturlah mereka di hadapan sang akuwu Angrok tentang Sang Prabu Kertajaya.

Kabar larinya para pendita ke Tumapel itu dan kesiapan ngluruknya wadyabala Tumapel itu tercium juga oleh sang Prabu Kertajaya.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dhangdhang Gendhis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri.
Dhangdhang Gendhis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Syiwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Syiwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Pararaton menulis:
Andhikan iraji Dhangdhang Gendhis: ‘Sapa ta angalahakena ring nagaran isun iki? Manawa kalah, lamun Bhatara Guru tumurun saking akasa, Manawa kalah!’
[Dhangdhang Gendhis berujar: “Siapakah yang akan mengalahkan negara kami ini, barangkali baru kalah, kalau Batara Guru turun dari angkasa, mungkin baru kalah.”]

Mendengar sesumbar Sang Prabu, Ken Angrok pun meminta restu kepada para Brahmana untuk memakai nama Hyang Caturbuja alias Bhatara Guru untuk menyerang Daha.

Keberhasilan Ken Angrok dalam memanfaatkan situasi politik di Daha membuatnya mampu memperbesar kekuasaanya dan memperluas pengaruhnya di Jawadwipa. Obsesinya untuk menjadi raja di Jawadwipa menjadi kenyataan.

Pararaton mengisahkan:
Ingaturan sira Ken Angrok, yan siraja Dhangdhang Gendhis angandhika mangkana. Ling ira Sang Amurwwabhumi: ‘He para bhujangga Sewa Soghata kabeh, astwakena isun abhiseka Bhatara Guru’. Samangkana mulan ira abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi. Tur sira anuhu anglurrug maring Deha.
[Diberi tahulah Ken Angrok, bahwa raja Dandhang Gedis berkata demikian.
Kata Sang Amurwabumi: “Wahai, para bujangga syiwa soghata, restuilah kami mengambil nama abhiseka Batara Guru.” Demikianlah asal mulanya ia menggunakan nama abhiseka Batara Guru, dan telah direstui pula oleh para bujangga brahmana dan resi, Selanjutnya ia pun lalu pergi menyerang Daha].

Dhangdhang Gendhis mulai gemetar ketika mendengar para resi, pandita juga pujangganya telah merestui sang Rajasa dengan gelar Batara Guru.
Pertempuran pun terjadi di sebelah utara Ganter, suatu dusun yang diduga terletak antara Blitar dan Kediri sekarang, Pasukan Kadiri di bawah kendali Sri Kertajaya dengan kekuatan jauh lebih besar bisa dikalahkan, tentara Daha terdesak dan kemenangan pun berada di pihak Ken Angrok. Adik Raja Dandhang Gendis, Mahisa Walungan gugur sebagai pahlawan, ia bernama Mahisa Walungan, bersama sama dengan menterinya yang perwira, Gubar Baleman.

Prabu Dhangdhang Gendhis pun mengundurkan diri dari medan perang dan semua hal tentang Prabu Dhangdhang Gendhis hilang ditelan bumi. Persitiwa itu diberi candrasengkala warna-warna janma iku.

Pararaton menulis:
siraji Dhangdhang Gendhis alah aprang. Karengha honti Dewalaya gumantunging awang-awang.
[Maka Raja Dandhang Gendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa].

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Prabu Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (alam Dewa), disebutkan sebagai ‘melarikan diri ke dalam biara terpencil’ atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Prabu Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.

Seusai peperangan di dusun Ganter, Ken Angrok mengubah status Tumapel yang semula merupakan negara bagian dari Kerajaan Daha (Kadiri) menjadi negara merdeka dengan nama Singosari.

Bahwa Ken Arok benar-benar berkeinginan menjadi raja, Puncak kekuasaan kemudian berhasil ia peroleh, sekaligus menjadi awal kemelut berkepanjangan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Ken Arok menjadi raja pertama Singosari, beribu kota di Tumapel Kutaraja mulai 1222 hingga 1227; ia pun mengangkat dirinya sebagai raja pertama Singasari yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi, dalam waktu hanya lima tahun.

to be continued

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: