Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun,

Cantrik Bayuaji sowan,

Ing dintên Radite Pon – 21 Maret 2010 M; 05 Bakdo Mulud 1943 Ç – Dal; 05 Rabiulakhir 1431 H; Windu: Kuntårå, Lambang : Langkir; Wuku: Kurantil;
—————————————————–

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
[dongeng kaping-12] PdLS 70

Berikut ini Cantrik Bayuaji mengajak pårå kadang, menyimak silsilah raja-raja Tumapel, Singosari dan Majapahit.
Eh, siapa tahu di antara pårå kadang mempunyai “garis keturunan” (eh… salah ya, kalau ke bawah namanya garis keturunan. Jadi kalau ke atas namanya garis kenaikan…he he he) hingga ke Ken Dedes ??

Silsilah ini dicuplik dari beberapa sumber sejarah: Kidung Pararaton (sudah pasti), Nagarakretagama, Babad Tanah Jawi, Babad Sengkålå, dan Serat Kåndå, juga prasasti Mula Malurung.

Silsilah raja-raja Tumapel, Singosari hingga Majapahit [versi Pararaton

Tunggul Ametung-|-Ken Dedes-|-Ken Angrok-|-Ken Umang
| | [1222-1247]|
| | |
| | |
Anusapati Mahisa Tohjaya
[1247-1249] Wonga Teleng [1249-1250]
| |
| |
| |
Ranggawuni Mahisa
[1250-1272] Campaka
[Nobatan Raja, Abhiseka: [Ratu Angabhaya, Abhiseka:
Bhatara Wisnuwardhana] Bhatara Narasinghamurti]
Kedua cucu Ken Dedes ini oleh Rontal
Kidung Pararaton (Pupuh 04.IV.) disebut bagaikan:
NÅGHÅ RORO SALÉNG
[Sepasang Ular Naga di Satu Sarang]
| |
| |
| |
Kertanegara Dyah Lembu Tal
[1272-1292] |
| |
| |
| |
Gayatri-|-Raden Wijaya-|-Dara Petak
| (Pendiri |
| imperium |
| Majapahit) |
| [Raja I |
| Majapahit] |
| |
Tribhuwana Jaya Negara
Wijaya Tungga Dewi [Raja II Majapahit]
[Ratu/Raja III
Majapahit]
|
|
[Jiwana]
Hayam Wuruk
[Raja IV Majapahit]

Nagarakretagama juga menyebut tahun yang sama untuk pendirian Kerajaan Tumapel, namun tidak menyebutkan adanya nama Ken Arok. Dalam naskah itu, pendiri kerajaan Tumapel bernama Sri Rangga(h) Rajasa Sang Bhatara Girinathaputra yang berhasil mengalahkan Kertajaya raja Kadiri. Bhatara Girinathaputra adalah nama lain dari Bhatara Guru atau Bhatara Syiwa.

Prasasti Mula Malurung dibuat oleh Kertanagara pada 1256 M (Rebo Legi). sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana raja Singosari, menyebutkan kalau pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Syiwa. Mungkin nama ini adalah gelar abhiseka dari Sri Rangga Rajasa, karena dalam Nagarakretagama arwah pendiri kerajaan Tumapel tersebut dipuja sebagai Syiwa. Selain itu, Pararaton juga menyebutkan bahwa, sebelum maju perang melawan Kadiri, Ken Arok lebih dulu menggunakan julukan Bhatara Syiwa.

Terdapat perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama dalam menyebutkan urutan dan masa pemerintahan raja-raja Tumapel yang kemudian bernama Singosari.

Raja-raja Tumapel (Singosari) versi Pararaton adalah:
1. Ken Angrok [Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi] (1222 – 1247) = 25 tahun;
2. Anusapati (1247 – 1249) = 2 tahun;
3. Tohjaya (1249 – 1250) = kurang dari satu tahun;
4. Ranggawuni [Wisnuwardhana] (1250 – 1272) =22 tahun;
5. Kertanagara (1272 – 1292) = 20 tahun.

Raja-raja Tumapel (Singosari) versi Nagarakretagama adalah:
1. Rangga Rajasa Sang Bhatara Girinathaputra (1222 – 1227) = hanya 5 tahun;
2. Anusapati (1227 – 1248) = 21 tahun;
3. Wisnuwardhana (1248 – 1254) = 6 tahun;
4. Kertanagara (1254 – 1292) = 38 tahun.

Kisah suksesi raja-raja Tumapel versi Pararaton selalu diwarnai pertumpahan darah yang dilatari balas dendam. Ken Arok mati dibunuh Anusapati (anak tirinya). Anusapati mati dibunuh Tohjaya (anak Ken Arok dari selir). Tohjaya mati akibat pemberontakan Ranggawuni (anak Anusapati). Hanya Ranggawuni yang digantikan Kertanagara (putranya) secara damai.

Sementara itu versi Nagarakretagama tidak menyebutkan adanya pembunuhan antara raja pengganti terhadap raja sebelumnya. Hal ini dapat dimaklumi karena Nagarakretagama adalah kitab pujian untuk Hayam Wuruk raja Majapahit. Peristiwa berdarah yang menimpa leluhur Hayam Wuruk dapat dianggap sebagai aib.

Di antara para raja di atas hanya Wisnuwardhana dan Kertanagara saja yang didapati menerbitkan prasasti sebagai bukti kesejarahan mereka. Dalam Prasasti Mula Malurung (yang dikeluarkan Kertanagara atas perintah Wisnuwardhana) menyebutkan bahwa Tohjaya sebagai raja Kadiri, bukan raja Tumapel. Hal ini memperkuat kebenaran berita dalam Nagarakretagama.

Berdasarkan Prasasti Mula Malurung (1256); Kertanagara adalah raja bawahan di Kadiri. Jadi, dengan demikian pemberitaan kalau Kertanagara naik takhta tahun 1254 perlu dibetulkan. Yang benar adalah Kertanagara menjadi raja muda di Kadiri dahulu. Baru pada tahun 1268, ia bertahta di Singosari.

Bahwa Angrok adalah sang aktor intelektualis. Tapi Ken Dedes sendiri pun – permaisurinya – Pada tahun 1207 barulah ia mengetahui dengan tepat, siapa sebenarnya dalang di balik drama pembunuhan itu.
Angrok berhasil menggapai obsesinya.

Menurut Pararaton, Tumapel yang semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri, dan yang menjabat sebagai akuwu Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung, yang mati dibunuh secara licik oleh Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Kekuasaan Tumapel jatuh ke tangannya, dan Ken Dedes janda Tunggul Ametung jatuh dalam pelukannya. Ketika itu sang permaisuri Tumapel ini sudah hamil sembilan bulan. Bayi buah harapan Tunggul Ametung, sebagai penerus pemegang tahta Tumapel.

Tidak hanya itu, Ken Arok bahkan berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kadiri. Angrok segera bekerja cepat. Daerah kerajaan Janggala, di timur Gunung Kawi, diserbu dan direbutnya. Janggala ialah separoh bagian dari wilayah kerajaan Airlangga dahulu, di samping Panjalu, yang meliputi kawasan sepanjang pesisir utara dari Surabaya ke Pasuruan. Juga daerah-daerah di sebelah timur kawasan Janggala menjadi sasaran ekspansi Angrok ke timur.

Pada tahun 1222 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kadiri melawan kaum brahmana. Ketika itu ketidakpuasan terhadap Kediri memang sedang merajalela di Janggala. Para brahmana sedang bertentangan tajam dengan Kertajaya. Angrok yang tahu keadaan ini, dengan cerdik memanfaatkannya. Maka banyak para brahmana yang melarikan diri dari Kadiri, mencari suaka ke Tumapel. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok.

Pertentangan Angrok dengan Kertajaya semakin meruncing, sehingga perang Tumapel dan Kadiri tak terhindarkan. Pada pertempuran di Ganter itu Kadiri dikalahkan oleh pihak Tumapel. Kertajaya pralaya. Angrok lalu menggantikan Kertajaya, raja terakhir dari keturunan Airlangga, dan menobatkan dirinya menjadi raja pertama Tumapel bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Ia lalu membangun kratonnya di Kutaraja, yang kemudian terkenal sebagai Singosari. Ini sudah didongengkan sebelumnya.

Kejadian sejarah yang selanjutnya dituturkan babad, ialah rangkaian peristiwa-peristiwa pembunuhan seperti yang telah diramal Empu Gandring. Dalam hubungan ini yang kiranya perlu dikemukakan ialah, bagaimana sepak terjang Angrok sebagai Ranggah Rajasa dalam memimpin negeri, sesudah peperangan penaklukan wilayah-wilayah ke arah timur.

Selanjutnya fakta semasa pemerintahannya tak banyak diceritakan dalam Pararaton sampai ia meninggal tahun 1227. Dan di dalam kisah tentangnya itu terdapat sangat banyak legenda.

Angrok mewarisi kita dengan Pararaton, yang lebih sarat dengan dongeng daripada data kejadian, sehingga tidak bisa dibedakan lagi antara fakta dan fiksi. Dua unsur perkembangan menarik yang tidak bisa terselenggara selama lima tahun (menurut Kakawin Nagarakretagama) pemerintahan Angrok. Kabut dendam dan khianat, pembunuhan dan perebutan tahta, sehingga bukan indah mempesona bagaikan Pelangi di Langit Singosari ketika itu, melainkan lebih tepat kalau disebut sebagai Mendung Kelabu Hitam menggelantung di Langit Singosari.

Dari sepenggal kisah lanjutan dari Serat Pararaton ini dapat diketahui bahwa tujuan pengarang adalah untuk melegitimasi raja-raja Majapahit yang konon merupakan keturunan dari Angrok dan Ken Dedes. Terbukti dari pasangan Tunggul Ametung dan Ken Dedes yang menurunkan Anusapati dan Ranggawuni. Begitu juga dengan keturunan Angrok dan Ken Dedes yang mampu menurunkan Kertanegara, Raden Wijaya, Jayanagara, Tribhuwana Wijayatunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Girindrawardhana.

Sejarah mencatat bahwa Raja Majapahit terakhir yang tercantum dalam Pararaton adalah Dyah Suraprabhawa yang bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Giripati Pasutabhupati Ketubhuta, yang memerintah tahun 1466-1474, Tokoh ini identik dengan Bhre Pandansalas dalam Pararaton yang naik tahta tahun 1466.

Sedangkan Prabhu Natha Girindrawardhana Dyah Ranawijaya putra Dyah Suraprabhawa adalah raja Kerajaan Wilwatikta Jenggala Kadiri (nama ini identik dengan Majapahit, tetapi diduga bukan kerajaan Majapahit yang besar, melainkan hanya sebagian kecil dari wilayah Majapahit), beliau sering diidentikkan dengan Brawijaya V, yang memerintah sekitar tahun 1486. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia naik tahta dan kapan pemerintahannya berakhir. Pendapat umum menyebutkan, ia sering dianggap sebagai raja terakhir Majapahit yang mempunyai putra bernama Raden Patah yang kemudian bertahta sebagai Sultan Demak.

Berkenaan dengan penyebutan sebagai Brawijaya V sebagai nama raja terakhir Kerajaan Majapahit, Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa, namun tidak memiliki bukti sejarah yang kuat, seperti prasasti. Penyebutan Brawijaya hanya didasarkan pada naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi, Babad Sengkålå dan Serat Kåndå.

Sebagaimana halnya Kidung Pararaton. Babad Tanah Jawi dan Serat Kåndå, keduanya dibuat pada zaman kerajaan Mataram abad ke-17; beberapa sejarahwan mempertanyakan keabsahan tulisan yang ada dalam keduanya.

Dalam kedua cerita itu, sejarah dijalin dengan dongeng sebagaimana Kidung Pararaton, sehingga sulit dibedakan yang benar-benar fakta dan yang hanya fiksi. Lebih-lebih, kedua cerita itu tidak merujuk pada sumber sejarah yang dapat dipercaya, seperti prasasti dan karya sejarah tentang Majapahit, Nagarakretagama. Demikian juga halnya dengan Babad Sengkålå [Riwayat Sang Kala (?)]

Oleh karena itu perlu diselidiki penyebutan nama Brawijaya diperoleh dari sumber sejarah apa oleh para pengarang babad dan serat. Tetapi nama Brawijaya diyakini berasal dari kata Bhra Wijaya, yang merupakan singkatan dari Bhatara Wijaya.

Pada tahun 1513 ada seorang raja bernama Bhatara Wijaya, yang bertahta di Daha. Dari prasasti Jiyu diketahui bahwa Daha diperintah oleh Dyah Ranawijaya pada tahun 1486. Dengan kata lain, Brawijaya alias Bhatara Wijaya adalah nama lain dari Dyah Ranawijaya.

Identifikasi Brawijaya raja terakhir Majapahit dengan Ranawijaya cukup masuk akal, karena Ranawijaya juga diduga sebagai raja Majapahit. Kerajaan Daha, yang saat itu menjadi ibu kota Majapahit.

Menurut Babad Sengkålå, Ranawijaya yang juga Brawijaya mempunyai putra yang berkedudukan sebagai Sultan Demak yakni Raden Patah.

Bila demikian halnya, maka sejak dinasti penguasa Tumapel, Singosari kemudian Majapahit, berlanjut ke Kesultanan Demak, Pajang, Mataram hingga Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat kini, merupakan keturunan dari nDedes Sang Ardhanariswari si Kuntum Bunga dari Kaki Gunung Kawi.

Wallahu’alam Bishawab.

Sekedar untuk lebih menambah wawasan berikut ini disajikan perbedaan antara Kidung Pararaton dan Kakawin Nagarakretagama, selain yang sudah disebutkan di atas. Kalaulah ditelisik lebih rinci maka masih banyak ditemukan perbedaan-perbedaan antara keduanya.
Pararaton Nagarakretagama

Penulis Tidak diketahui Mpu Prapanca
Tahun penulisan 1535Ç 1365Ç
Zaman Sultan Zaman
Sultan Agung Hayam Wuruk
Bentuk penulisan Kidung Kakawin
Sifat Egaliter Istana centris
Alur cerita Mitos, fiksi mutu sejarah lebih
dan dongeng dapat diandalkan
Para tokoh: Tunggul Ametung tidak disebut
Gelar Ken Angrok Sang Amurwabhumi Sang Girinathaputra
Ken Dedes tidak disebut
Prajñaparamita (dianggap arca sebutan putri
Ken Dedes) Gayatri (istri
Raden Wijaya)
Tohjaya Raja Singosari Raja Kadiri
Suksesi pertumpahan damai-damai saja
darah

[Informasi tentang perbedaan antara Pararaton dan Nagarakretagama ini masih ada, namun di atas hanya sebagian kecil saja]

ånå candaké

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: