Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Cantrik Bayuaji sowan malih ing dinten Ahad 28 Maret 2010 M, malem Somå Umanis; 13 Bakdo Mulud 1943 Ç – Dal; 13 Rabiulakhir 1431 H;

Atur pambågyå.

Monggo pårå kadang, pårå ingkang sidhik ing paningal sami sêdhakep mangekapådå amêsu budi amrih wêwah waskithaning manah. Nggayuh kamulyan, mugi sêdåyå titah pikantuk Sih Katrêsnanipun Gusti Kang Hamêngku Jagad.

Nuwun pårå kadang, pårå kaki, pårå putut manguyu, jêjanggan, pårå tåpå lan tapi, pårå èndhang, pårå ajar, pårå cantrik sêdåyå.

Sugêng pinanggih malih, cantrik Bayuaji sowan, nyangking bokor kêncånå isinê:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-15].

lanjutan dongeng
ANUSAPATI >< TOHJAYA
intrik berdarah yang tak henti

episode 1:
êmban cindhé êmban siladan

Tertulis di atas adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa, yang begitu populer, terutama bila menyangkut pada ranah politik kekuasaan. Lalu apa hubungannya dengan dongeng arkeologi & antropologi kali ini.

Cindhé adalah selendang sutra halus yang menjadi medium bagi mengartikulasikan sebuah metafora. Di Jawa, sangat dikenal adanya politik diskriminasi yang dimetaforakan dengan ungkapan yang sangat presisi: “êmban cindhé, êmban siladan.”

Jika cindhé adalah sutra halus, maka siladan adalah bilah bambu yang diraut tipis, dianyam menjadi selendang. Dalam dunia nyata, memang selendang siladan tak pernah ditemukan. Tetapi metafora yang diusungnya adalah bahwa andaikan ada selendang yang dianyam dari siladan, maka akan muncul penderitaan akibat kekasaran material itu jika digunakan untuk mengemban seorang bayi.

Politik “tebang pilih” ala Jawa itu kemudian diungkapkan dalam satu metafora, ada seorang bayi yang diemban dengan selendang sutra, namun ada juga seorang bayi yang diemban dengan selendang yang terbuat dari anyaman bambu. Sungguh sebuah metafora tentang diskriminasi yang sangat gamblang dan mudah dipahami maknanya.

Sikap Angrok yang tebang pilih, sebagai contoh yang sangat tepat menggambarkan perilaku seorang penguasa yang êmban cindhé, êmban siladan. Di satu sisi ia sangat memperhatikan secara berlebihan terhadap Tohjaya (êmban cindhé), maklum anak kandung sendiri, namun di sisi lain tidak memperdulikan Anusapati (êmban siladan) yang anak tirinya itu, sehingga membuat sang anak terheran-heran.

Anusapati yang telah tumbuh dewasa merasa kurang disayangi oleh Ken Arok dibanding saudara-saudaranya yang lain, anak Ken Dedes dari Ken Arok.

Apa yang menyebabkan si Angrok bersikap tebang pilih?

Angrok yang mendapatkan limpahan hak atas tahta Tumapel karena kekuasaan yang dimiliki sang permaisuri Ken Dedes yang memperoleh hak itu karena anugerah Akuwu Pertama Tumapel Tunggul Ametung suami Ken Dedes terdahulu.

Angrok tahu dengan pasti bahwa Anusapati yang lahir dari rahim Ken Dedes bukanlah anak kandungnya, dan Ken Dedes yang kemudian dijadikan istrinya hanyalah seorang janda. Berbeda dengan Ken Umang, si wanita idaman lain itu masih “perawan kinyis-kinyis”, gadis binal yang didapat Angrok dari hasil “berburu” di hutan.

Siapa Ken Umang?

Satu-satunya ‘catatan sejarah’ yang menyebutkan adanya tokoh Ken Umang hanya rontal Kidung Pararaton, itupun hanya dalam satu kalimat singkat dan sangat pendek:
Hana ta bini ajin irå Ken Angrok anom, haran sirå Ken Umang
(Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang).
Ia hanya dikenal sebagai selir Ken Arok yang melahirkan Tohjaya, itu saja.

Tidak ada sumber sejarah lainnya seperti prasasti yang menyebutkan adanya tokoh Ken Umang. Kakawin Nagarakretagama pun tidak menyebutkannya, sehingga tidak ada informasi lebih lanjut tentang Ken Umang, misalnya asal-usulnya, tahun kelahirannya, ataupun tahun kematiannya.

Tidak seorang ahli sejarahpun meneliti ‘keberadaan Ken Umang’ ini. Apakah si pujangga penulis Pararaton “sungkan menjlentrehkan” ketokohan Umang, karena sifat-sifat buruk anaknya Tohjaya.

(Bahasa Indonesia yang tepat untuk kosa kata Jawa “menjlentrehkan” itu apa ya?).

Empu Prapanca juga tidak menyinggung sedikitpun dalam Kakawin Nagarakretagama karangannya, apakah beliau juga dihinggapi rasa bersalah, jika menulis ”keburukan” Umang berarti beliau seolah-olah menjelek-jelekan Sri Baginda Hayam Wuruk; bahwa leluhur beliau, Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi alias Ken Angrok pernah berselingkuh dengan seorang perempuan bernama Umang.

Tidak satupun sejarahwan yang tahu. Tapi itulah sejarah. Waktulah yang akan menentukan kebenarannya.

Perselingkuhan Angrok Umang awal intrik berdarah yang tak henti

Ken Arok mengerutkan keningnya.
“Aku mengucapkan selamat,” berkata gadis itu, “bukankah kau akan menjadi pemimpin tertinggi pasukan pengawal? Ha, kau akan menjadi terlampau dekat dengan janda yang baru saja kematian suaminya itu.”

Terasa dada Ken Arok berdesir. Ditatapnya mata Ken Umang tajam-tajam.
Sementara itu Ken Umang pun bangkit sambil mengibaskan rambutnya yang terurai. Kemudian duduk sambil tersenyum. Dijulurkannya kakinya di atas amben sambil berdesah, “Kenapa kau masih berdiri di situ?”

Seperti orang yang kehilangan akal, Ken Arok melangkah maju. Ia pernah menjadi seorang yang paling liar di Tumapel. Sebagai seorang hantu ia pernah berbuat apa saja terhadap setiap orang, setiap perempuan dan gadis-gadis yang ditemuinya.
Dalam keadaannya kini. terasa darah Ken Arok itu telah mendidih. Selangkah demi selangkah ia maju, dan Ken Umang itu masih saja tersenyum.

Ketika Ken Arok berada beberapa langkah darinya, maka tiba-tiba gadis itu menangkap tangannya dan menariknya sambil berdesis, “Kau adalah seorang senapati yang menggemparkan. Kau masih muda dalam kedudukan yang begitu tinggi, sehingga kau pasti akan menjadi sorotan gadis-gadis.”

Ken Arok yang memiliki segala jenis pengalaman di dalam dirinya itu sama sekali tidak dapat melawan senyum Ken Umang yang serasa membakar jantung. Seperti seorang anak yang dungu ia duduk di amben itu sambil mengusap keringat yang mengalir dari keningnya.

Ken Arok tidak berbuat apapun ketika gadis itu membelai pundaknya sambil berkata, “Aku tidak mau pergi dari kota ini. Aku masih mempunyai beberapa orang keluarga. Karena itu, maka aku tetap tinggal di sini. Aku bermaksud untuk tinggal pada keluargaku yang lain. Sebelum aku berangkat kau tiba-tiba datang kemari. Dan kau telah memberikan harapan baru bagi hidupku di kota ini.”

Ken Arok yang telah berhasil membunuh Akuwu Tunggul Ametung, membunuh Empu Gandring dan membuat istana Tumapel gempar karena Kebo Idjo yang terbunuh pula itu, kini duduk diam, seolah-olah tidak mempunyai kekuasaan apapun atas dirinya sendiri.

“Hari ini kau akan diwisuda,” desis Ken Umang, “dan kau tidak bodoh.”
Ken Arok tidak menjawab.

Namun tiba-tiba tengkuknya meremang ketika ia mendengar Ken Umang tertawa sambil berdesis, “Kau tidak boleh lepas dari tanganku. Kau adalah seorang anak muda yang paling memenuhi unsur idamanku.”
Ken Arok masih terdiam.

“Setelah kau menjadi seorang pemimpin tertinggi pasukan pengawal, maka kau harus segera beristri. Kau dengar?”
Ken Arok mengangguk.

“Dengan demikian barulah kau menjadi lengkap.”
Ken Arok mengangguk pula. Tanpa dapat melawan lagi Ken Umang menariknya semakin dekat.

Namun tiba-tiba Ken Arok itu menyentakkan dirinya. Ia adalah seorang yang telah berhasil membuat lakon yang dahsyat. Dan ia telah berhasil mendalanginya. Karena itu, ia tidak boleh kehilangan dirinya sendiri. Betapa lunak dan mesra sentuhan tangan gadis itu, namun Ken Arok pun kemudian meloncat berdiri sambil menggeretakkan giginya. Sambil menunjuk gadis itu ia menggeram, “Apakah yang kau lakukan he anak gila?”

Ken Umang terkejut. Namun ia pun kemudian tertawa, “Jangan marah. Demikianlah hasrat hati nuranimu. Tetapi kau masih tetap dapat dikuasai oleh akalmu. Nah. mudah-mudahan kau berhasil menjadi seorang pemimpin yang baik. Tetapi setiap saat kau akan tetap teringat kepadaku. Dan aku pun akan menunggu kau datang kepadaku dan menjemputku.”
“Persetan!”

Ken Umang masih tetap tertawa ketika ia melihat Ken Arok berlari meninggalkan dapur itu. Katanya, “Jangan takut, aku tidak akan mengejarmu. Kaulah yang akan mencari aku kelak.”

Pada waktu dan tempat yang berbeda. Semuanya itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat sekali, sehingga ketika mereka menyadari keadaan diri masing-masing, penunggang kuda itu telah berpegangan pundak Ken Arok erat-erat. Sedang Ken Arok pun berusaha untuk menahannya agar ia tidak terjatuh.

“Apakah Tuanku sudah lupa kepada hamba yang hina ini?”
“Hem,” Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, “kau Umang.”

Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,”Bukankah hamba masih yang dahulu? Yang berbeda adalah justru Tuanku. Tuanku sekarang bukan sekedar salah satu dari pemimpin yang tujuh di Tumapel. Tetapi Tuanku adalah seorang Akuwu, meskipun kekuasaan itu Tuanku dapat dari Tuan Putri Ken Dedes yang cantik tiada tara.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Ia masih terpaku memandang Ken Umang dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya.

Ken Umang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tertawa sambil melangkah maju. “Tuanku lain sekali dengan Akuwu yang terdahulu. Persamaannya, keduanya adalah suami Ken Dedes. Tetapi masih juga ada perbedaannya. Tuanku tidak mendapatkan seorang gadis lagi, Tuanku hanya memperoleh seorang janda.”

“Diam!” Ken Arok hampir berteriak. Terdengar ia menggeram, ”Kalau saja kau bukan seorang gadis, maka aku tampar mulutmu.”
Tetapi Ken Umang masih saja tertawa. Bahkan ia berkata,”Memang Tuan. Aku masih seorang gadis, Kenapa Tuanku Ken Angrok tidak menginginkan seorang gadis? Tuanku dapat berbuat apa saja menurut kehendak Tuanku setelah Tuanku merampas kekuasaan itu dari tangan Ken Dedes.”
“Diam! Diam kau!”

Tetapi Ken Umang tidak terdiam karenanya. Ia masih tertawa. Perlahan-lahan ia mendekati Ken Arok. Ketika Ken Umang meraba ikat pinggang kulit yang membelit di perutnya, Ken Arok sama sekali tidak beringsut dari tempatnya. Bahkan ia berdiri saja seperti patung.

Dengan jari-jarinya yang lentik Ken Umang seakan-akan menghitung butiran-butiran berlian yang terpahat pada timang ikat pinggang Ken Arok. Kemudian disentuhnya pula ukiran keris yang terselip pada ikat pinggang di punggungnya.

Perlahan-lahan Ken Umang berdesis, “Tuanku memang gagah sekali.”
Ken Arok masih tetap diam mematung. Ken Umang tersenyum manis sekali. Dirabanya janggut dan jambang Ken Arok yang pendek dan teratur rapi.

Sentuhan tangan Ken Umang, benar-benar serasa seperti api yang menyentuh minyak yang tersimpan di dadanya. Adalah jauh berbeda sekali dengan Ken Dedes. Ken Dedes adalah titik-titik embun di teriknya matahari. Sejuk sekali. Apabila hatinya sedang membara, maka sentuhan tangan Ken Dedes adalah sentuhan ketenteraman yang damai.

Tetapi sentuhan tangan Umang telah mendidihkan darahnya, sehingga Angrok sama sekali tidak dapat mendinginkannya dengan usaha yang bagaimanapun juga, ketika kemudian seluruh isi dadanya terbakar.

ånå tutugé

Nuwun. Sugeng dalu.

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: