Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun,

Menjelang siang, ing dinten Budå Pon, 31 Maret 2010 M; 15 Bakdo Mulud 1943 Ç – Dal; 15 Rabiulakhir 1431 H; Cantrik Bayuaji sowan malih nggembol:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-16]

Sebelum melanjutkan episode “êmban cindhé êmban siladan” ada baiknya kita menyimak dongeng masa pemerintahan Angrok di Pakuwon Tumapel yang berlanjut menjadi kerajaan Singosari.

PEMERINTAHAN SRI RANGGA RAJASA BHATARA SANG AMURWABHUMI

Pararaton menyebutkan Ken Arok yang setelah diangkat menjadi raja Singosari menyandang nama nobatan Bhatara Guru, dengan gelar abhiseka Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi. Pemerintahannya berlangsung selama duapuluhlima tahun (1222-1247). Nagarakrtagama menyebutkan bahwa Angrok yang bergelar Sri Rangga Rajasa Bhatara Girinathaputra memerintah hanya selama lima tahun (1222-1227) saja.

Selama ini nilai kesejarahan Nagarakretagama dianggap lebih valid daripada Pararaton. Boleh jadi perbedaan masa pemerintahan ini karena pada tahun keenam pemerintahan Sri Rajasa telah melibatkan Putra Mahkota Anusapati.

Kita ketahui dari Kakawin Nagarakretagama, bahwa Anusapati adalah putra dari Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra, pendiri Kerajaan Tumapel. Dengan kata lain, ia adalah putra Ken Arok sendiri, karena
Nagarakretagama tidak pernah menyebut adanya tokoh Tunggul Ametung.

Bhatara sang anusanatha wekå de bhatara sumilih wisesa siniwi

“Batara Sang Anusapati, putera Baginda, berganti dalam kekuasaan” [Nagarakretagama pupuh XLI:1]

“Putra Baginda” tentunya yang dimaksud dengan baginda di sini adalah Sang Girinathaputra (Putra Sang Girinatha Bhatara Guru yaitu Ken Angrok sendiri).

Lagi pula Nagarakretagama memberitakan bahwa suksesi raja-raja Singosari berjalan dengan mulus, tanpa ada pertumpahan darah seperti disebut oleh Kidung Pararaton, sehinga adalah wajar bahwa selama pemerintahan Sri Rajasa juga melibatkan Putra Mahkota.

Fakta semasa pemerintahan Ken Angrok tak banyak diceritakan dalam Pararaton sampai ia meninggal tahun 1227. Pararaton hanya menyebutkan bahwa:

Telas purwwa wetan ing Kawi. Kaputer sawetan ing Kawi. Sama awedhi ri sirå Ken Angrok, mahu ariwa riwa, ahyun angadhegå ratu.

“Telah dikuasailah sebelah timur Kawi, bahkan seluruh daerah sebelah timur Kawi itu, semua tunduk kepada Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan ambisinya menjadi raja, semua orang Tumapel menjadi senang, kalau Ken Angrok menjadi raja disitu.”

Tersirat dari anak kalimat di atas bahwa secara politis Ken Angrok mendapat dukungan penuh seluruh rakyat Tumapel. Tetapi selain dukungan masyarakat umum itu, ada segolongan masyarakat lain yang ikut mendukung Ken Angrok, yaitu golongan brahmana (pendeta) yang dipimpin oleh Dang Hyang Lohgawe. Dia adalah salah seorang yang paling berjasa dalam usaha ”mengangkat” Ken Arok sebagai raja di Tumapel.

Samangkana mulan irå abhiseka Bhatara Guru. Ingastwan ing bhujangga Brahmana Rsi.

“Demikianlah asal mulanya ia bernama nobatan Batara Guru, direstui oleh bujangga brahmana dan resi“.

Irika ta sirå Ken Angrok huwus ing jaya satru, mulih maring Tumapel. Kaputer bhumi Jawa den irå, saka kala panjeneng irå huwus kalah ing Deha 1144.

“Sesudah Ken Angrok menang terhadap musuh, lalu pulang ke Tumapel, dikuasailah tanah Jawa olehnya, ia sebagai raja telah berhasil mengalahkan Daha pada tahun saka: 1144.”

Pengaruh lingkungan terhadap Ken Arok

Perkembangan individu dalam banyak hal ditentukan oleh keadaan masyarakat dan lingkungan dimana dia hidup. Dalam hal inipun Ken Arok tidak terkecuali. Ada beberapa hal yang dapat dikemukakan mengenai hal ini, di antaranya:

Aspek sosial. Dari sejak kecil Ken Arok hidup dikalangan rakyat jelata. Rakyat jelata umumnya hidup dalam ikatan kemasyarakatan yang lebih erat daripada masyarakat dikota-kota. Dapat dikatakan bahwa perjuangan Ken Arok merupakan perjuangan kelas rakyat jelata melawan kekuasaan kelas bangsawan. Bahwasanya Ken Arok dalam usahanya ini tidak berdiri sendiri, tetapi mendapatkan bantuan dari golongan pendeta dan rakyat, khususnya dalam pertempuran Ganter, ketika mengkudeta kerajaan Kadiri.

Aspek ekonomis. Setiap perjuangan kelas sebagaimana terjadi dalam peristiwa sejarah didunia ini dalam banyak hal disebabkan oleh atau menyangkut segi-segi kehidupan ekonomis. Dalam hubungannya dengan perjuangan Ken Arok aspek ekonomis ini ternyata dari bantuan-bantuan yang diberikan oleh rakyat dan oleh golongan pendeta. Disamping itu faktor kemakmuran kerajaan Kadiri bukan mustahil menimbulkan keadaan yang decadent pada akhirnya. Ada pula kemungkinan bahwa kemenangan Tumapel terhadap Kediri berarti kemenangan golongan agraris terhadap golongan maritim dari Kadiri.

Aspek Politis. Ken Arok adalah anak rakyat yang berhasil mengadakan revolusi dengan mendirikan dinasti baru. Pembentukan suatu dinasti baru dan kerajaan baru pada hakikanya adalah merupakan tindakan politis. Ken Arok telah melakukan tindakan-tindakan politis penting antara lain:
a. mengalahkan kerajaan Kadiri;
b. mengusahakan hegemoni politis di Jawa Timur waktu itu;
c. mendirikan kerajaan baru Singosari;
d. menegakkan dinasti baru yaitu dinasti Girindra;
e. berusaha menstabilikan keadaan politis pada abad ke XIII di Jawa Timur khususnya dan di Nusantara umumnya (catatan: Kerajaan Singosari kemudian di bawah raja Kertanagara menjalankan politik persatuan Nusantara).

Aspek budaya. Dinasti Girinda dapat disebut sebagai dinasti rakyat. Sebab raja-raja Singosari (baik yang keturunan Ken Arok maupun yang keturunan Tunggal Ametung) pada hahikatnya bukan keturunan raja-raja dalam arti kata sesungguhnya.
Berdasarkan kenyatan ini sesungguhnya tidaklah aneh jika dalam bidang kebudayaan dan kesenian dalam zaman Singhasari tampak unsur-unsur kerakyatan.

Beberapa contoh misalnya :
a. Arsitektur: Gaya Candi Jago, Kidal dan Singosari
b. Agama: Sinkretisme ajaran Syiwa-Budha. Munculnya mahzab Kalacakra.
c. Relief: Penggambaran tokoh-tokoh panakawan pada candi-candi Jago, Jawi dan Songosari.
d. Ornamentiek: Munculnya bentuk-bentuk ornamentiek khas seperti motif tumpal-banji-api. Tumpal yang menggambarkan pucuk rebung, buah nanas, banji (swastika), meander. Banji sering dikombinasikan dengan unsur tumbuh-tumbuhan. Yang paling banyak dipilih adalah bunga lima atau bunga tapak dara (batik, arsitektur rumah).
e. Seni pahat: Arca-arca Singosari terkenal karena keindahan pahatannya.

Disini unsur-unsur Hindu dicampur dengan unsur asli Indonesia. Beberapa contoh diatas memberikan cukup gambaran tentang sifat-sifat khas dari zaman Singosari yang diletakkan dasar-dasarnya oleh Ken Arok.

Aspek sejarah. Timur gunung Kawi. Memang daerah sebelah Timur gunung Kawi merupakan daerah yang beriwayat. Sejak abad ke VIII daerah ini sudah mengenal adanya kerajaan Kanjuruhan.

Masa hidup Ken Arok mulai kecil sampat wafatnya dihabiskan didaerah dataran tinggi Malang sekarang yakni disebelah itu dataran tinggi Kawi ini tidak pernah sunyi. Keadaan tanah yang subur, iklim dingin tetapi kering dan adanya cukup sungai-sungai (antara lain Brantas dan Lesti) menyebabkan daerah ini sepanjang sejarah selalu memegang peranan penting.

Mengingat betapa kuatnya tradisi pada zaman dahulu maka bukan mustahil kalau latar belakang historis dari suatu daerah yang historis pula ini telah memberikan rangsangan-rangsangan tertentu yang menentukan bagi pembentukan pribadi Ken Arok sendiri.

Tak salah lagi “arok” atau “angrok” yang berarti “mengguncang”, maka Ken Angrok adalah Sang Pengguncang. Tapi, dari tafsir sejarah Angrok-nDedes, pada kata Pendeta Lohgawe, guru Angrok. berdasar sumber utama Pararaton, Ken Angrok adalah Pembangun. Terlepas dari itu, Angrok memang penguncang sejarah Jawa, tetapi dia juga Sang Pembangun dinasti Rajasa, yang menurunkan raja-raja di Jawa.

Dalam Nagarakretagama dikisahkan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok.

Nguni sakabdhidesendu hana sira mahanatha yuddhaikawira
Saksat dewatmakayonija tanaya tekap çri-girindra prakça
Kapwares bhakti sakweh parajana sumiwi jong niratwang tumungkul
Çri-ranggah rajasa kyati ngaran ira jayeng satru suratidaksa.
Desagong wetan ing parbwata kawi penuh ing sarrrabhogatiramya
Kuww anggehnyan kamantryan mangaran i kutarajenadeh wwang nikabap
Yeki nggwan çri girindratmaja n-umulahaken dharma manggong kasuran
Tusta ning sadhu nasta ning ahita ya ginong sthitya ning rat subhakti.

“Pada tahun 1104 Saka ada raja perwira yuda Putra Girinata, konon kabarnya lahir di dunia tanpa ibu.
Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki bagai tanda bakti.
Sri Ranggah Rajasa nama beliau, penggempur musuh pahlawan bijak.
Daerah luas sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur.
Di situlah tempat putra (atmaja) Sang Girinata menunaikan darmanya.
Menggirangkan budiman, menyirnakan penjahat, meneguhkan negara, ibukota negara bernama Kotaraja, …..”
[Nagarakretagama pupuh XL (40):1-2].

Perhatian anak kalimat “sebelah timur gunung Kawi terkenal subur makmur”.

to be continued

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: