Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun,

Cantrik Bayuaji sowan malih ing dintên Wrêspasti Wagé, 01 April 2010 M; 16 Bakdo Mulud 1943 Ç – Dal; 16 Rabiulakhir 1431 H;

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-17]

lanjutan dongeng:
PEMERINTAHAN SRI RANGGA RAJASA BHATARA SANG AMURWABHUMI

Siapapun yang penah belajar sejarah pasti mengetahui latar belakang sosok kontroversial Ken Arok. Namun dapat dipastikan sebagian besar orang menempatkan Angrok sebagai seorang pelaku sejarah yang licik, kejam, ambisius, perusuh dan tepatnya adalah sosok representasi penjahat atau sosok antagonis.

Dalam sejarah Tumapel, terlepas dari sisi-sisi gelapnya Angrok adalah seorang figur besar yang memiliki semangat dan cita-cita diri yang melampaui zamannya. Dalam usia realtif masih muda dia sudah biasa mengorganisir para pemuda untuk “merampok” upeti Akuwu Tumapel yang hendak dipersembahkan Daha (Kerajaan Kediri). Hasil rampokan kemudian dikembalikan pada rakyat.

Saat itu Tumapel berada dalam wilayah kekuasaan Daha. Naiknya Tunggul Ametung menjadi Akuwu merupakan intervensi politik dari Sri Baginda Kertajaya yang berkuasa Daha. Akuwu pun diwajibkan untuk menyetor upeti pada Kadiri. Sudah barang tentu Tunggul Ametung harus menindas dan memaksa rakyat untuk memenuhi tuntutan upeti dan menghidupi para prajuritnya.

Angrok besar dalam suasana penindasan Sang Akuwu Tunggul Ametung. Sebagai seorang pemuda yang sadar maka ia menolak segala bentuk penindasan. Ia juga seorang yang memiliki minat belajar. Pararaton menggambarkan bahwa ia pernah dididik di bawah bimbingan seorang Brahmana yang bernama Dang Hyang Lohgawe.

Kepribadian Angrok yang nyaris paripurna membuat para brahmana yang ikut ditindas Akuwu “mensponsori” pemuda nakal, brandal, liar, progresif dan berani itu untuk melakukan gerakan pembebasan.

Pararaton menulis bahwa Tunggul Ametung ‘lengser’ hanya karena sebilah keris di tangan Angrok. Tetapi hakekat dari pembunuhan itu adalah sebuah kudeta.

Kudeta Angrok yang merupakan konspirasi pembebasan yang melibatkan para agamawan (Brahmana) yang sangat kecewa dengan kepemimpinan Sang Akuwu Tunggul Ametung. Tunggul Ametung memang memimpin dengan gaya yang tidak simpatik. Dedes yang banyak dipuja kecantikannya adalah anak seorang Pendeta Mahayana Empu Purwa. Namun Dedes direnggut oleh Tunggul Ametung untuk diperistri dengan cara yang sangat berlawanan dengan tradisi. Dan tindakan ini sangat menyakitkan hati rakyat.

Angrok berhasil menumbangkan Tunggul Ametung setelah melewati tahapan skenario yang cukup panjang. Sebelumnya ia menghabisi dahulu sang pandai besi Empu Gandring. dan pada saat proses kudeta hendak berlangsung, secara mengejutkan seorang perwira pasukan pengawal istana Tumapel, bernama Kebo Ijo dibunuh.

Ini menjadi pertanyaan sejarah.

Mengapa sedemikian kejam Angrok membunuh Empu Gandring yang telah berjasa membuatkan keris untuknya? Demikian juga terhadap temannya di jajaran pasukan pengawal istana Tumapel, Kebo Ijo itu.

Gandring adalah seorang pandai besi yang dipercaya sakti mandraguna. Di saat Tumapel sedang tidak stabil suasana politiknya karena gerakan pemberontakkan Angrok. Boleh jadi Gandring memiliki ambisi politik tertentu. Bukan mustahil ia juga berambisi menjadi Akuwu apabila Tunggul Ametung mati. Gandring mempunyai kekuatan senjata dan sebagai seorang Empu pasti memiliki padepokan tempat berguru para cantrik, yang bukan tidak mungkin pula para cantriknya itu ahli dalam menggunakan senjata. Akhirnya pada titik yang telah diperhitungkan, Angrok mendahuluinya menikam sang pandai besi Tumapel itu dengan kerisnya sendiri.

Demikian juga halnya dengan Kebo Ijo. Ini terkait dengan kudetanya Angrok. Kebo Ijo juga berpotensi menggagalkan rencana Angrok dalam menjatuhkan Tunggul Ametung. Bukankah Kebo Ijo adalah perwira pasukan pengawal istana, pemegang kendali langsung terhadap para prajurit di dalam istana Tumapel? Maka untuk memuluskan ambisi Angrok, Kebo Ijo harus di”aman”kan.

Lalu kenapa kitab Pararaton tidak menjelaskan serinci ini?

Jawabnya, Pararaton ditulis pada tahun 1613 M, jauh setelah era Angrok berakhir sehingga “sejarah” harus disesuaikan dengan kepentingan tertentu, yang belum tentu berpihak pada Angrok.

Setelah berhasil menumbangkan Sang Akuwu, dan mengalahkan Kertajaya. Angrok mencanangkan menghapus segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh pendahulunya kepada rakyat Tumapel. Ia menghormati hak rakyat dan kedudukan Brahmana, sehingga tidak heran jika ia mendapatkan simpati dan dukungan rakyat Tumapel yang menjadi kekuatan utama ketika ia menggulingkan penguasa Kadiri.

Kemudian, Angrok menyatakan bahwa Tumapel adalah negeri merdeka. Ia tidak lagi mengakui kekuasaan Daha yang sedang berjaya menguasai Tanah Jawa. Tentu saja Sri Krertajaya murka dan langsung membariskan para prajuritnya untuk menumpas arogansi Tumapel.
Sebagai seorang pemberani, ia sambut tantangan itu. Dengan memobilisasi rakyat dan melibatkan kekuatan para pendeta. Perang Ganter pun pecah dan berlangsung sengit. Kadiri dikalahkan.

Dalam perhitungan sejarah rentang waktu mulai Ken Arok menjatuhkan Tunggul Ametung hingga keberhasilannya menaklukkan Daha hanya memerlukan waktu dua tahun (1220-1222 M), waktu yang sangat singkat dalam mencapai sebuah perubahan.

Ketika Kretajaya berkuasa, Tanah Jawa dikuasai. Namun setelah Angrok mengalahkannya, maka praktis kekuasaan Daha pun beralih ke Tumapel. Persatuan (integrasi) tanah Jawa sebetulnya telah dimulai dan disesuaikan dengan konteks pada zaman itu.

Angrok adalah pemula sebelum lahirnya tokoh-tokoh integrasi yang yang lain. Gerakan pembebasan rakyat yang banyak dibahas orang sekarang telah dimulai oleh Angrok sekitar 800 tahun silam.

Ini adalah model perlawanan yang tergolong berani untuk meringankan beban rakyat. Membentuk diri menjadi pribadi yang tangguh, tanggon, trengginas, dan ksatria yang bercita-cita besar padahal ia lahir dari rakyat kebanyakan, seorang pidak pédarakan. Dan ini telah dilakukan oleh seorang anak muda bernama Angrok.

Dalam perjalanan sejarah Pakuwon Tumapel selanjutnya Anggrok berkarya mewujudkan negara baru Singosari yang gêdhé oboré, padhang jagadé, dhuwur kukusé, adoh kuncarané, luhur kawibawané. Masyarakat merasakan negara yanggêmah ripah loh jinawi, tåtå tentrem kartå rahårjå.

Kebesaran dan kejayaan kerajaan Singosari, di samping faktor kepemimpinan Angrok yang selalu mengutamakan kepentingan umum, juga didukung oleh kecerdasannya dalam menyatukan rakyatnya dan para brahmana. Menyusun aturan-aturan (undang-undang dasar) yang mengikat seluruh kawulå Tumapel.

Kepatuhan pada konstitusi telah membuat ketertiban di seluruh kawasan kerajaan Singosari. Para pangreh praja (aparat kerajaan) bekerja sesuai dengan amanat konstitusi, sehingga segala kebijakan kerajaan membuahkan kemakmur¬an dan ketentraman rakyat.

Pararaton menulis:

Sama awedhi ri sirå Ken Angrok, mahu ariwa riwa, ahyun angadhegå ratu.

“semua tunduk kepada Ken Angrok, mulailah Ken Angrok menampakkan ambisinya menjadi raja, semua orang Tumapel menjadi senang, kalau Ken Angrok menjadi raja disitu.”

Tumuli sirå Ken Angrok kinastwakên prabhu ring Tumapel. Haran ing nagårå Singhasari, abhisékan irå Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwwa Bhumi.

“Tak lama sesudah itu Ken Angrok direstui menjadi raja di Tumapel, negaranya bernama Singasari, nama nobatannya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi,”

Ingastriyan dén ing Bhujanggå Sewå Soghatå kang saking Déhå. Makadhi sirå Dhanghyang Lohgawé

“Disaksikan oleh para bujangga pemeluk agama Syiwa dan Budha yang berasal dari Daha, terutama Dang Hyang Lohgawe.”

Atas keberhasilannya Angrok tidak melupakan orang-orang yang berjasa, yang ikut “menghantarkan” dirinya ke singgasana istana Tumapel. Pararaton menceritakan “kebaikan hati” dan “balas budi” Angrok terhadap orang-orang yang berkorban (baca: dikorbankan) demi ambisinya itu.

Makadhi sirå Dhanghyang Lohgawe, sirå Asangkapani. Kunang kang asih awelas ring sirå Ken Angrok ing kinå, dhuk sirå sêdhang kasiasih, pådhå ingundhang kabéh, tinulung denirå winalês pawilasané. Makadhi sirå Bango Samparan, tan ucapen sirå Mandhala ring Turyyantapådå. Lawan ta nak ing apandhé wêsi ring Lulumbhang haran Mpu Gandring, satus é apandhyå ring Lulumbhang, luput éng saharik purih, satampak ing walukuné, wadhung, paculé, hånå anake Ki Kêbo Ijo, dén pådhå kawawênangané lawan anaké Empu Gandring. Anak irå båpå Dhanghyang haran Wangbhang Saddhå, patutan irå lawanå wong Wisnu, tamokéna kalawan anak irå båpå Bango haran Cucupu Ranti. Mangkånå rasaning andhikå Sang Amurwwabhumi, atyantå krettan ing nagårå ring Singhåsari, pari purna, nir wighnå.

Dang Hyang Lohgawe, ia diangkat menjadi pendeta istana, adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada Ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, semua dipanggil, diberi perlindungan dan diberi belas balasan atas budi jasanya, misalnya Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala lingkungan Turyantapådå, dan anak-anak pandai besi Lulumbang yang bernama Empu Gandring, seratus pandai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa di dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya.
Adapun anak Kebo Ijo disamakan haknya dengan anak Empu Gandring.
Anak laki laki Dang Hyang Lohgawe, bernama Wangbang Saddhå, lahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dikawinkan dengan anak Bapa Bango yang bernama Cucu Puranti, demikianlah inti keutamaan Sang Amurwabumi. Sangat berhasillah negara Singosari, sempurna tak ada halangan.”

Singosari semakin lama semakin besar, di bawah pemerintahan Sri Rangga Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi, Sang Pengguncang sekaligus Sang Pembangun. Kawulå Singosari menyambut baik dan menyukai junjungannya yang baru itu.

Dalam pada itu, bagi Singosari, Ken Angrok adalah Sang Pembangun. Namun di balik kebesaran Singosari, Pararaton mencatat bahwa bibit perpecahan mulai tumbuh subur. Ada jalinan asmara, tapi juga perselingkuhan, cemburu, pengkhianatan, culas, haus darah dan dendam; penuh intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antar saudara, pembunuhan, dan kematian. Justru timbul di lingkungan kecil keluarga Angrok Sang Pembangun itu sendiri. Ataukah Angrok melakukan perannya sebagai Sang Pengguncang kembali?

ånå tutugé

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: