Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun,

Cantrik Bayuaji sowan malih ing dinten Saniscårå Umanis 03 April 2010 M; 18 Bakdo Mulud 1943 Ç – Dal; 18 Rabiulakhir 1431 H.

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-18]

lanjutan dongeng
ANUSAPATI >< TOHJAYA
intrik berdarah yang tak henti
episode 2: “êmban cindhé êmban siladan

Ken Arok sedang dibakar oleh api yang telah menyentuh perasaannya. Di masa-masa lalu, ketika ia masih berkeliaran di hutan-hutan, apapun pernah dilakukannya. Merampas, merampok dan juga memerkosa.

Tetapi kini sebagai seorang Akuwu ia tidak berdaya melawan lembutnya tangan-tangan Umang yang menyeretnya ke dalam lembah yang berbahaya.

Meskipun wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Namun Ken Arok seakan-akan telah benar-benar membeku, sehingga ia tidak mampu berbuat apapun juga di depan Umang.

Umang mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya melonjak kegirangan. Kalau ia berhasil, maka ia akan dapat duduk di samping akuwu baru itu. Setidak-tidaknya ia akan mendapat sebagian dari kekuasaan atas Tumapel, yang akan melimpah kepada anak-anaknya kelak.

Itulah awal bencana itu.

Umang si “gadis binal” telah berhasil menjebak sang Akuwu baru, di padang perburuan. Sebuah panji-panji kemenangan telah berkibar di hatinya. Ia telah berhasil menundukkan seekor burung rajawali yang menguasai seluruh langit Tumapel.

Ken Arok pun kesrimpet pinjung Ken Umang, dan bagaimanapun juga Angrokpun akhirnya mengakuinya, ia memang memerlukannya. Ia memang memerlukan perempuan lain selain Ken Dedes.

Tingkah laku Ken Arok setelah peristiwa itu benar-benar membuat Ken Dedes menjadi heran. Meskipun Ken Arok adalah seorang suami yang baik sejak mereka nikah, namun tiba-tiba saja Ken Arok menjadi seperti seorang pengantin yang baru saja dipertemukan di pelaminan.

Tetapi Ken Dedes tidak menaruh prasangka apapun. Ia menyangka bahwa sesuatu sedang bergetar di dalam dada Ken Arok. Mungkin ia sedang tidak berminat untuk berburu di hutan, atau kelelahan yang mencengkamnya. Mungkin badannya tetapi juga mungkin pikirannya.

Sebagai seorang istri yang baik, Ken Dedes berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun kegelisahan yang kadang-kadang mencengkam Ken Arok sehingga mempercepat detak jantungnya, teraba oleh perasaan halus seorang istri. Meskipun Ken Arok berusaha bersikap sebaik-baiknya, tetapi tangan Ken Dedes merasakan getar yang tidak wajar pada arus darah suaminya.

Demikianlah, maka setelah musim berburu itu telah menimbulkan persoalan baru di dalam istana Tumapel. Persoalan yang akan berekor panjang sekali.

Ken Dedes menyadari bahwa dirinya dimadu. Dan perselingkuhan pun dilegalisasi. Segera Dedes meminta Angrok menikahinya, dengan alasan Pakuwon Tumapel perlu diatur oleh lelaki yang kuat. Tapi satu hal yang dilupakan Ken Dedes, disini tak jelas siapa memanfaatkan siapa. Walau Ken Dedes menjadi permaisuri dan meminta agar keturunanya memperoleh hak atas tahta sebagai syarat yang diajukannya, tetapi Angrok memiliki istri lain, yang jelas lebih dicintainya. Cinta yang tumbuh yaitu Umang. Ini bukanlah siapa yang tercantik, tetapi ini tentang hati. Tentang cinta yang tak bisa dibohongi.

Ken Dedes yang merana di malam-malamnya, merasa kesepian. Kandungan yang ada hasil pernikahannya dengan Ametung, dirawat dan dipeliharanya dengan baik. Dan kemudian, setelah anaknya, Anusapati lahir, ia didik untuk menjadi pewaris singgasana ini.

Di sisi lain Ken Arok dan Ken Umang memiliki anak juga, Tohjaya. Maka menjadi pentinglah siapa yang akan mewarisi kerajaan ini, apalagi setelah Ken Arok berhasil mengalahkan raja Kediri, Kertarajasa dan mendirikan kerajaan Singosari. Selain itu Ken Arok dan Ken Dedes juga memiliki anak yang sebenarnya diramalkan akan menurunkan raja terbesar dipulau Jawa.

Demikianlah,
Gonjang-ganjing êmbhok tuwå êmbhok ênom yang berakibat Sang Amurwabhumi bertindak “tebang pilih”.

Pararaton menulis:

Alama sirå patutan manih lawan sirå Ken Angrok, mijil lanang haran Mahiså Wongateleng. Mwah hari den irå Mahiså Wongateleng lanang haran Sang Apanji Saprang. Harin irå Panji Saprang lanang haran sirå Aghnibhåyå. Harin ira Ghnibhåyå wadon, haran sirå Dewi Rimbhu. Patpat suthanira Ken Angrok lawan Ken Dedes.”

[Setelah lama perkawinan Ken Angrok dan Ken Dedes itu, maka Ken Dedes dari Ken Angrok melahirkan anak laki laki, bernama Mahisa Wonga Teleng, dan adik Mahisa Wonga Teleng bernama Sang Apanji Saprang, adik Panji Saprang juga laki laki bernama Agnibaya, adik Agnibaya perempuan bernama Dewi Rimbu, Ken Angrok dan Ken Dedes mempunyai empat orang anak.]

Hånå tå bini ajin irå Ken Angrok anom, haran sirå Ken Umang. Sirå ta apatutan lanang haran sirå Panji Tohjaya. Harin irå lanang haran sira Panji Sudhatu. Harin irå Panji Sudhatu lanang, haran sirå Tuwan Wregola. Harin irå Tuwan Wregola stri haran sirå Dewi Ramti. Kweh ing putra 9; lanang 7; wadon 2.”

[Ken Angrok mempunyai isteri muda bernama Ken Umang, ia melahirkan anak laki laki bernama panji Tohjaya, adik panji Tohjaya, bernama Panji Sudhatu, adik Panji Sudhatu bernama Twan Wregola, adik Twan Wregola perempuan bernama Dewi Rambi. Banyaknya anak semua ada 9 orang, laki laki 7 orang, perempuan 2 orang.]

Anusapati yang di”êmban siladan”kan, Anusapati yang telah tumbuh dewasa merasa kurang disayangi oleh Ken Arok dibanding saudara-saudaranya yang lain, anak Ken Dedes dari Ken Arok. dengan segala rasa penasaran dia bertanya kepada sang ibu perihal ketidakadilan sikap ayahnya dalam memperlakukan dirinya. Setelah mendesak ibunya, Sang Permaisuri Ken Dedes, dan dengan penuh penyesalan Ken Dedes menceritakan siapa sebenarnya ayahandanya.

Pararaton menulis:

Tan suddhan irå Nusapati atakon i sirebhun irå. ‘Ibu isun ataken ing sirå. Punapi kalingane sirå båpå yen tuminghali ingsun, patehe tinghal i rå kalawan sanak isun kabeh. Tan ucapen n lawan putran irå ibhu anom? Mangkin pahe tinghal irå båpå,”

[Karena tidak mendapat keterangan yang memuaskan, Sang Anusapati bertanya kepada ibunda Sang Permaisuri: “Ibu. Tolong jelaskan pada ananda, bagaimana hal ini terjadi? Kalau ayahanda prabu melihat hamba, berbeda pandangannya kalau Sri Rajasa melihat anak-anak ibu muda, pandangan ayah itu sangatlah berbeda.]

tuhu yan såmå saman irå Sang Amurwwabhumi.’ Sahur irå Ken Dedes: ‘Kaya dudu kang angandheli, yen sirå kaki ahyun wruhå, sirå Tunggul Ametung harane raman irå.”

[Inilah takdir bahwa sungguh sudah datang saatnya bagi Sang Amurwabhumi. Jawab Ken Dedes: “Ketahuilah ngger bahwa ayahandamu itu adalah Tunggul Ametung,]

Ling irå Sang Anusapati: ‘Kalingane ibhu, dudu båpå isun Sang Amurwwabhumi? Punåpå tå ibhu padhem irå båpå?’

[Anusapati bertanya kembali: “Jadi ibu. Sang Amurwabumi itu bukan ayah hamba, lalu bagaimana ayahanda meninggal?”]

Dan tentu saja setelah Anusapati beranjak dewasa, cerita tentang kematian ayahandanya mengalir indah dari sang ibu, dengan warna dendam dan kemarahan seorang istri sekaligus seorang Permaisuri yang disia-siakan.

Akhirnya Anusapati mengetahui bahwa sesungguhnya ia merupakan anak kandung Tunggul Ametung yang mati dibunuh Angrok. Mengetahui kisah tersebut membuat Anusapati naik darah dan membunuh Sang Amurwabumi saat itu juga dengan keris Empu Gandring pemberian ibunya.

Dari sini dapat diketahui bahwa Ken Dedes juga turut berperan dalam konflik internal Kerajaan Singosari.
Ken Dedes Sang Ardhanareswari yang mendapatkan limpahan Singgasana Tumapel dari Akuwu Tunggul Ametung pada waktu itu.

Terngiang di telinga Ken Dedes seolah-olah Sang Akuwu Tumapel waktu itu baru saja berujar: “Akan aku tebus semua kesalahan ini. Akan aku ganti yang hilang dari gadis itu dengan semua yang aku miliki, termasuk singgasana Tumapel.” Dan kata-kata janji itu seakan-akan disambut oleh suara guruh yang menggelegar dan guntur yang bersahut-sahutan di antara kilat yang bersambung. Suaranya bergelora seolah-olah menggugurkan Gunung Kawi, Gunung Arjuna dan Gunung Semeru. Akuwu itu pun kemudian menjadi gemetar. Hampir-hampir ia tidak dapat lagi berdiri tegak pada kedua kakinya. Dengan tangan yang menggigil dicobanya untuk berpegangan pada tiang-tiang pintu sentong tengen sambil memejamkan matanya.

Tunggul Ametung telah mengangkatnya dari seorang putri Brahmana di desa di kaki Gunung Kawi menjadi permaisuri di istana Tumapel.

Dan kini, hadirlah Angrok di hati Ken Dedes, Angrok, orang yang membunuh suami Ken Dedes yang pertama, adalah orang yang Ken Dedes cintai, ia yang kemudian rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Tetapi dengan hadirnya perempuan lain di istana Singosari ini, bukanlah hal yang tidak mungkin, hak atas tahta yang ia peroleh dari suaminya terdahulu akan direnggut paksa oleh Ken Arok, yang kemudian pasti ia lintirkan ke Tohjaya anaknya Umang.

Tertanam dendam di hati Ken Dedes, dendam karena suaminya lebih mencintai perempuan lain.

Itulah kemudian yang terjadi. Ken Dedes telah berpihak. Didorong dendam seorang istri yang dimadu, kekuasaan tahta Singosari, yang dapat terlepas karena ulah marunya itu.

Jadi, tak ada jalan lain kecuali merestui keinginan sang anak untuk membunuh Angrok.

‘Sang Amurwwabhumi kaki amaten i!’ meneng sirå Ken Dedes arupå kaluputan den ing awwretå majati ring sirå nak irå.”

[“Sang Amurwabhumilah yang membunuhnya. Anakku,” Ken Dedes menyahut dengan berat hati. Diamlah ia, tampak Sang Permaisuri sangat merasa menyesal karena telah memberitahu hal yang sebenarnya kepada putranya.]

Ling nirå Nusapati: ‘Ibhu, wanten duwung irå båpå? Antuk ipun Gandring akaryyå. Ingsun tadhan ipun ibhu’ .”

[Kata Anusapati: “Ibu, ayah mempunyai keris buatan Gandring. Hamba pinta, ibu.”]

Sinungaken den irå Ken Dedes ring sang Anusapati …...”

[Maka diberikanlah oleh Ken Dedes keris itu kepada Sang Anusapati….] Keris yang menentukan arah sejarah Singosari selanjutnya.

Hari-hari selanjutnya Singosari dicekam oleh oleh kegelisahan, dendam, amarah yang tertahan, bagaikan Gunung Arjuno yang kawahnya tertutup kubah lava yang terus mengembang dan bertambah besar. Bukan tidak mungkin letusan dahsyat akan segera terjadi.
…………………………..
wantén duwung anyar bergagang cangkring
wilahan berbintik kuning
berpamor biru di atas baja pilih tanding,
buatan Sang Gusali Gandring.
Saatnya akan tiba meminta darah penguasa petinggi negeri
Anggrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi
tak kuasa melawan takdir
Terngiang sumpah sepata sang empu sakti:
Kang amatén i ring sirå têmbé kris iku, anak putun irå mati déné kris iku, oléh ratu pipitu têmbé kris iku amatén i.”

Kutuk keris itu meminta kematian demi kematian, anak cucu keturunan dan darah tujuh para penguasa negeri.

ånå candhaké

Tunggu episode akhir PdLS!, kala candik ålå tiba:

“Candik ålå. Langit memerah darah kala wayah surup tiba, Anggrok Sri Ranggah Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi menemui ajalnya “.

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: