Seri Kerajaan Singosari-PdLS

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

DONGENG KEN DEDES

Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

Sejalan dengan ingin menunjukkan bahwa nantinya sang gadis desa Panawijen akan melahirkan raja-raja Jawa, maka Penggubah Pararaton ingin menciptakan sosok leluhur Singasari dan Majapahit itu menjadi sangat istimewa.

Masyarakat Jawa mendambakan bahwa dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya harus mempunyai “aura” istimewa yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ingat: bibit, bobot dan bebet. Ada suatu kepercayaan dalam alam kosmologi Jawa bahwa seseorang pidak pedaraan, paria, sudra para kere, kaum ‘proletar’, rakyat jelata atau turunannya tidak mungkin mendapatkan wahyu kraton.

Ken Dedes yang merupakan leluhur raja-raja Singasari dan Majapahit versi Pararaton, harus punya “aura” istimewa, tidak sekedar hanya seorang perawan desa. Apa keistimewaannya itu?

Sang (Ken) Dedes, karena keharuman sifatnya. “Dedes” ialah “kesturi” atau “jebat”. Bandingkan tokoh (Ken) Dedes dalam Pararaton ini dengan tokoh (Hang) Jebat atau (Hang) Kesturi dalam “Hikayat Hang Tuah” .

Dalam peristiwa penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung (PdLS, Ken Dedes dilarikan oleh Kuda Sempana setelah Kuda Sempana menipu Sang Akuwu). Mpu Purwa yang kecewa karena putrinya Ken Dedes diculik dan dirudhopeksa (dipaksa) kawin oleh Tunggul Ametung, menumpahkan sumpahnya.

Pararaton mengisahkan:

……Samangka ta ken dedes sinahasa pinalayoken denira tunggul ametung …. ring tumapel; … yata sira mpu purwwa anibaken samya tan rahayu. Ling ira: “Lah kang amalayoken anakingsun moggha tan panutuga pamuktine matya binahud angeris …. Mangkana wong Panawijen, hasata pangangsone. Moggha tan metuwa banyune beji iki

Tatkala Ken Dedes dengan tiba-tiba dilarikan oleh Tunggul Ametung…… ke Tumapel; ….maka Mpu Purwa menjatuhkan kutukan: “Nah, yang melarikan anakku tidak akan selamanya mengenyam kenikmatan, ia mati ditusuk keris dan diambil isterinya, demikian juga orang orang di Panawijen ini, tempat mereka mengambil air akan menjadi kering, dan tak akan ada lagi air yang keluar dari blumbang ini…

Tunggul Ametung dan semua orang yang terlibat dengan penculikan memang mendapat sumpah serapah dari Mpu Purwa, sementara Ken Dedes didoakan agar mendapat keselamatan dan kebahagian:

Mangkana ling ira Mpu Purwwa. Kalawan ta anak ingsun majaraken karma amamadhangi, anghing sot mami ring anak mami: ‘moggha anemwa rahayu, den agung bhagyane.’ Mangkana sot ira Mahayana ring Panawijen.

Demikian Mpu Purwa bersabda: “Adapun anakku ‘majaraken karma amamadhangi’, doaku untuknya: semoga ia mendapat keselamatan dan kebahagiaan besar.” Demikian sumpah Pendeta Mahayana di Panawijen itu.

Menurut Pararaton, Ken Dedes yang teramat cantik itu juga wanita yang istimewa, wanita ardanariswari. Siapa saja yang memperistrinya akan menjadi maharaja. Ken Dedes telah dicatat bertingkah laku sempurna, tanpa cela dan salah langkah. Selama hidupnya nglakoni karma amamadangi.

Selain berkah rohani dan jasmani, perilakunya juga luput dari lelakon buruk. Sebagai wanita, Ken Dedes bernasib tidak begitu indah. Dimasa mekarnya kuncup kegadisannya, dia direnggut lelaki setengah tua. Baru merasakan nyamannya perubahan tubuh berbadan dua, suami resminya yang dikatakan amat menyayangi, dibunuh lelaki yang ia saksikan di depan matanya, tapi tak bisa apa-apa. Di masa hamil tua menjelang persalinan, Ken Dedes harus rela dinikahi Ken Angrok sebagai pendamping baru di purinya.

Pararaton mengkisahkan antara Ken Angrok dengan Ken Dedes adalah memang jodoh yang disetujui dewa-dewa, dan memang nampaknya di antara mereka sudah lama saling jatuh cinta (berselingkuh??).

Bahwa Ken Dedes perempuan terhormat yang harum namanya, bukan saja kita ketahui dengan menilik namanya, tetapi juga akan kita ketahui dalam sejarah kemudian hari. Dia seorang perempuan yang luar biasa, sehingga Ken Arok bertekad untuk memperistrikannya dengan jalan membunuh suaminya, Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, karena terlihat api menyala dari “rahasya” . Bandingkan pula dengan cerita wayang purwa “Aswatama (Menjadi) Maling”, episode perang gerilya sisa-sisa lasykar Astina usai perang Baratayuda. Yaitu ketika Aswatama diam-diam hendak memasuki kubu Pandawa melalui ruang bawah tanah yang digalinya sendiri, di bawah penerangan sinar yang menyala dari lubang “rahasya” ibundanya: Bidadari Dewi Wilutama.

PdLS rontal 41 di awal-awal halamannya diceritakan:

“ ………… Dalam pada itu, Ken Arok pun berdiri dengan tegangnya. Ia tidak dapat mengerti apakah yang bergetar di dalam dada permaisuri itu. Namun terasa tiba-tiba tubuhnya menjadi bergetar. Ia melihat sesuatu yang dirasanya ajaib. Sebuah sinar yang silau memancar dari tubuh permaisuri itu. Sekejap. Hanya sekejap………. Ken Arok memejamkan matanya. Digeleng-gelengkannya kepalanya. Ia merasa seakan-akan sedang bermimpi melihat seorang bidadari yang turun dari langit dalam pakaiannya yang bercahaya seperti matahari……..”

Pararaton menceritakan perjumpaan antara Ken Arok-nDedes:

dadi sira Tunggul Ametung akasukan acangkrama asomahan, maring taman Bhabhojji. ……….. Satekan ira ring taman, sira Ken Dedes tumurun saking padhati. Katuhon pagawen ing widhi, kengis wetis ira, kengkab tekeng rahasiyan ira. Teher katon murub den ira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal. Pitwi den ing hayun ira andhulu, tan hana madhani kalituhayon. …………..

…… Dia, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji……. Sesampainya di taman, Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu,………

Ken Angrok memang tidak sengaja! (atau pura-pura nggak sengaja); mungkin semua terjadi karena kehendak dewata. Saat Ken Dedes yang sedang hamil muda duduk bercengkerama dengan suaminya, di taman Boboji, secara kebetulan Ken Angrok yang sudah bekerja di Tumapel mendapat angin baik (’nakal ’???); angin menyingkap kain istri sang Akuwu, hingga menyingkap terlihat betis dan paha, bahkan sampai jauh ke ujung yang disebut dalam kitab Pararaton sebagai “rahasyanira ” Ken Dedes.

Penulis kitab Pararaton ketika itu tentu amat menghargai Ken Dedes, sehingga dengan gaya eufemistis mengguratkan kata “rahasianya” untuk menjelaskan sesuatu yang amat sangat bersifat pribadi.

Nyala “rahasianya” Ken Dedes itu yang membuat Ken Angrok pusing “ngleng ngleng”. Pemuda ini tahu apa arti “rahasianya” wanita, namun nyala “rahasianya” Ken Dedes membuatnya gundah gulana. Ken Dedes kembangnya kraton Tumapel asal desa Panawijen. Kecantikannya sempurna, tak ada wanita yang menyamai keindahan paras muka dan tubuh Sang Permaisuri yang semok dan menggairahkan yang menurut Pararaton digambarkan:

Kasmaran sira Ken Angrok. tan wruh ring tingkah ira ….

Jatuh cintalah Ken Angrok, tak tahu apa yang akan diperbuatnya

Angrok yang kasmaran dan penasaran, langsung menanyakannya pada pendeta Loh Gawe, asal India yang juga Bapak angkatnya. “Bapak Dang Hyang, ada seorang perempuan bernyala rahasianya,tanda perempuan yang bagaimanakah? Tanda buruk atau baik?” Dang Hyang menjawab:

…. ..; yen hana istri mangkana kaki iku stri nariswari arane …. Yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku dadi ratu anakrawati …..

“Jika ada perempuan yang demikian, ngger, perempuan itu namanya nariswari. Ia adalah perempuan yang paling utama. Meskipun orang berdosa, jika memperistri perempuan itu, ia akan menjadi maharaja”.

Ken Angrok tertegun dan kemudian berkata: “Bapa Dang Hyang, perempuan yang bernyala rahasianya itu adalah istri sang Akuwu di Tumapel. Jika demikian Akuwu akan saya bunuh dan saya ambil istrinya. Tentu ia akan mati, itu kalau Bapak Dang Hyang mengijinkan. Loh Gawe menjawab, “Ya, tentu matilah, Tunggul Ametung olehmu. Hanya saja saya tak pantas memberi ijin itu kepadamu, itu bukan tindakan seorang pendeta. Batasnya adalah kehendakmu sendiri”.

Angrok pergi menemui bapak angkatnya yang lain, Bango Samparan dan disarankan untuk memesan keris ke Mpu Gandring yang sakti dan bisa menusuk tembus Tunggul Ametung. Angrok menanti, dan mengambil keris pesanannya setelah membunuh Mpu Gandring si pembuat keris.

PdLS rontal 48, telah sampai pada “amuk” si Angrok yang hendak merebut tahta atas nama kawula Tumapel. Sang Akuwu yang di mata si Angrok adalah penguasa lalim yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Pembuatan bendungan dan sendang yang oleh Akuwu Tunggul Ametung disebut sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kawula Panawijen, ternyata di mata Angrok hanya untuk menyenangkan hati Sang Permaisurinya saja, dan demi memuaskan egonya belaka.

Atas nama itu semua Angrok ingin melenyapkan sang akuwu, ingin mengku sang wanodya nDedes siardanariswari. Dia berharap agar “skenario” para dewa terejahwantahkan.

Empu Gandring, sang empu pembuat keris bersedia membuatkan keris yang diinginkan si Arok, tak ada syak wasangka atau curiga sang empu kepada pengawal istana itu. Adalah wajar bila seorang prajurit apalagi seorang pengawal istana memiliki senjata andalan yang sakti.

Tapi yang terjadi kemudian berbekal pengalaman sebagai perampok, membunuh yang bukan hal luar biasa baginya. Pembunuhan pertama yang ia lakukan dengan keris itu adalah kepada pembuat keris itu sendiri Sang Empu Gandring, yang membuatnya jengkel karena telah sekian lama keris pesanannya belum rampung juga. Keris yang dipesan masih belum sempurna, gagangnya masih gagang sementara yang terbuat dari dahan cangkring.

Dengan bengis Ken Arok membenamkan pusaka itu ke dada pembuatnya, Empu Gandring, yang kemudian menjatuhkan kutukan bahwa kelak keris itu akan meminta banyak nyawa. Angrok juga menjadi korban keris yang dilaknat oleh pembuatnya itu.

Pararaton mengisahkan:

Apanas twas ira Ken Angrok. Dadi sinudukaken ing sira Gandring kris antuk ira Gandring agawe ika. ……Sasangka sira Gandring angucap: ‘Kang amateni ring sira tembe kris iku, anak putun ita mati dene kris iku, oleh ratu pipitu tembe kris iku amateni.’ Wus ira gandring angucap, mangkana mati sira Gandring.

Menjadi panas hati Ken Angrok, akhirnya ditusukkan kepada Gandring keris buatan Gandring itu…… Mengutuklah Gandring: “kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak cucumu akan mati karena keris itu juga, tujuh orang raja akan mati karena keris itu.” Sesudah berkata demikian lalu Gandring pun meninggal.

Ditengah malam pulas, Angrok membunuh Tunggul Ametung. Pararaton menceritakan:

Teher Ken Angrok, ring ratri annuli maring dalem pakuwon, duweg sirep ing wong. Katuwon den ira nulu ring widhi, annuli pareng paturon ira Tunggul Ametung, tan pakawara lakun ira. Sinudhuk sira Tunggul Ametung, den ira Ken Angrok, trus pranan ira Tunggul Ametung. Mati kapisanan, I kris antuk ira Gandring, agawe kinatutaken minaha.

Selanjutnya Ken Angrok pada waktu malam hari pergi kedalam rumah sang akuwu, saat itu baik, sedang sunyi dan orang orang tidur, kebetulan juga disertai nasib baik , ia menuju ke peraduan Tunggul Ametung, tidak terhalang perjalanannya, ditusuklah Tunggul Ametung oleh Ken Angrok, tembus jantung Tunggul Ametung, mati seketika itu juga. Keris buatan Gandring ditinggalkan dengan sengaja.

Dalam kisah kematian Sang Akuwu Tumapel, Ken Dedes adalah saksi mata pembunuhan Tunggul Ametung. Anehnya, ia justru rela dinikahi oleh pembunuh suaminya itu. Hal ini membuktikan kalau antara Ken Dedes dan Ken Arok sesungguhnya saling mencintai, sehingga ia pun mendukung rencana pembunuhan Tunggul Ametung. Kebo Ijopun menjadi kambing hitam, tumbal ambisi Ken Angrok.

Catatan:

1. Karma amamadangi

Dalam mitologi India, istri Wisnu adalah Laksmi. Penjelmaan Wisnu bersamaan dengan penjelmaan Laksmi akan menitis dan berkumpul kembali ke dunia sebagi suami istri setelah mengalami pelabagi rintangan, seperti dalam kisah Ramayana tentang pertemuan antara Sinta dan Rama.

Jelmaan Wisnu dan Laksmi biasanya menjadi latar belakang cerita yang mengutamakan peperangan antara Wisnu dan tokoh kejahatan yang harus dimusnahkan.

Dalam kisah Angrok, jelmaan Laksmi itu adalah Ken Dedes, dan menurut rangka cerita Ken dedes adalah nareswari sebagai wanita bertuah yang ditakdirkan sebagai istri Ken Angrok yang disebut sebagai titisan Wisnu. Itulah sebabnya maka Ken Angrok berusaha menikahinya. Untuk tujuan itu Angrok memberikan segala pengorbanannya, termasuk orang lain yang dijadikan tumbal.

Tunggul Ametung dibunuhnya dengan keris buatan Gandring; dan Gandring pun telah dibunuh terlebih dahulu. Kemudian Kebo Ijo pun mati sebagai tetuduh, dijadikan kambing hitam.

Tafsir Sejarah Negaraketagama menyebutkan bahwa Ken Dedes adalah wanita utama, dan dia telah memperoleh ilmu karma amamadang yaitu ajaran tentang perbuatan yang membawanya menuju kesempurnaan. Mungkin sekali yang dimaksud dengan karma amamadang ialah ajaran Budha tentang delapan jalan yang harus ditempuh untuk mencapai damai atau nirvana.

2. Taman Bhabhojji (Boboji):

Dalam PdLS disebutkan sebagai suatu sendang di lingkungan bendungan Padang Karautan. Pararaton tidak menjelaskan di mana letak Taman Boboji, serat itu hanya menyebutkan bahwa tempat itu berada di “kota” Tumapel.

Pemandian Watu Gede diduga adalah pemandian bagi raja-raja Singasari, termasuk Ken Dedes. Letaknya lebih kurang 10 km dari pusat kota Malang (dekat dengan Stasiun Kereta Api Singosari ± 100 m). Apakah situs Pemandian Watu Gede ini dahulunya Taman Boboji (?)

3. <Cangkring(Erythrina fusca Lour.):

Cangkring merupakan tanaman pepohonan yang berdaun rontok, tinggi 10-20 m, berbatang kayu, berwarna keabu-abuan, permukaan kulit kasar dengan cabang yang jarang, dilengkapi dengan duri tempel. E. fusca Lour. mempunyai lebih banyak duri daripada Erythrina lithosperma. Di Indonesia tumbuhan E. fusca mempunyai beberapa nama daerah, yaitu Galada ayer (Melayu), Cangkring (Jawa), Rope (Sasak), Kane (Makasar), Rase (Bugis), Ngareer (Samarinda), Cangkering, Dadap cangkring, Dadap rangrang, Dadap cucuk, Dadap duri.

ana tutuge………….

Nuwun.

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: