Seri Kerajaan Singosari-PdLS

Nuwun,

Sugeng pinanggih malih para kadang, cantrik bayuaji sowan.

Untuk menambah wawasan sinambi maos rontal 50 tentang “kasamarannya (?) Sang Akuwu Baru atau Baru Akuwu Ken Angrok bak binatang liar yang terpancing godaan si gadis ‘kenes’ Ken Umang. He he he.

Tapi di sini cantrik bayuaji tidak akan mendongeng tentang si umang, pun cantrik terpesona akan arca perwujudan nDedes yang ayu. Prajñaparamita.

Berikut dongengnya:

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-7]

DONGENG KEN DEDES, DONGENG ARCA PRAJÑAPARAMITA

Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Arca Prajñaparamita ini ditemukan di antara reruntuhan selatan komplek percandian Singosari (dengan candi Singosari berjarak ± 500 m arah selatan). Arca tersebut ditemukan di salah satu candi, yaitu candi E, disebut juga candi Wayang, atau candi Putri. Sisa-sisa situs tersebut berada di Jalan Bungkuk Gg. II Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari. Tempat itu sekarang (tahun 2007) hanya tinggal tanah tegalan dengan ukuran ± 12 x 25 m yang kanan-kirinya sudah dipadati oleh bangunan rumah penduduk. Arca Prajñaparamita ini disebutkan sebagai patung Masa Klasik paling cantik dan utuh terbuat dari batu, tinggi 1,26 m, berasal dari masa Singosari, Jawa Timur.

Arca dari batu andesit yang masih utuh itu ditemukan pada tahun 1819 dan dikategorikan sangat indah buatannya itu, kemudian dibawa ke tempat Residen Malang, yang pada waktu itu dijabat oleh Monnerau. Kemudian diserahkan ke Prof Reinwardt dan pada tahun 1023 patung itu disumbangkan untuk Museum Etnologi di Leiden.

Arca dari candi Wayang atau Putri tersebut mendapatkan namanya yaitu Putri Dedes atau Ken Dedes. Dan sejak saat itulah hingga sekarang arca dari pantheon agama Budha Mahayana tersebut lebih terkenal dengan sebutan arca putri Ken Dedes daripada nama aslinya yaitu Prajñaparamita.

Pada 1978, Prof Pott, direktur Museum Etnologi tersebut, melalui Duta Besar Indonesia Sutopo Yuwono, mengembalikan patung itu ke Indonesia.

Arca Prajñaparamita kedua, berada di halaman candi Singasari dengan ukuran yang cukup besar. Sayang arca ini sudah tidak berkepala lagi, dan hiasannya tidak semewah arca Prajñaparamita (Ken Dedes). Kekhususan yang menandai arca Prajñaparamita di halaman candi Singasari dengan arca Prajñaparamita (Ken Dedes) adalah adanya hiasan Vjalaka (hiasan gajah dan singa pada kanan kiri sandarannya).

Arca Prajñaparamita ketiga, terdapat pada sisa-sisa candi Gayatri atau candi Gilang di Desa Bayalangu, Kecamatan Bayalangu, Tulungagung. Di lokasi ini ditemukan beberapa arca yang salah satunya adalah arca Prajñaparamita yang sudah rusak.

Memperhatikan bukti-bukti di atas, sebenarnya tidak sesederhana itu untuk memberikan suatu pernyataan bahwa arca Prajñaparamita yang dimaksudkan adalah potret diri Ken Dedes. Sementara data-data di lapangan yang mendukung ke arah sana sangat terbatas. Di sisi lain dokumen tertulis berupa prasasti maupun naskah yang menunjuk bahwa Ken Dedes diarcakan sebagai arca Prajñaparamita tidak ada.

Tentang arca Prajñaparamita sendiri disinggung dalam Negarakretagama Pupuh 69:1.

Prajñaparamitapuri ywa panelah ning rat ri sang hyang suddharmma; Prajñaparamita kriyenulahaken sri-jnanawidhy apratistha; Sotan pandita wrddha tantragata labdawesa sarwwagamajna; Saksat hyang mpu bharada mawaki sirangde trtpti ni twas narendra.”

Disana disebutkan adanya sebuah tempat bernama Prajñaparamitapuri, yaitu sebuah candi makam yang dibangun dan diperuntukkan bagi Sri Rajapatni. Sedangkan arcanya sekaligus diberkahi oleh sang pendeta Jnanawidhi. Sri Rajapatni adalah sebutan bagi putri Gayatri yang merupakan istri keempat dari R. Wijaya atau Kertarajasa.

Negarakretagama pada Pupuh 74:1

Mukyantahpura sagalathawa ri simping; Mwang sri-ranggapura muwah ri Buddha kuncir; Prajñaparamitapuri hanar panambeh; Mwang tekang ri bhayalango duweg kinaryya.”

Menegaskan bahwa Prajñaparamitapuri itu dibangun di Bayalangu (Bayalangu adalah sebuah daerah di Tulungagung. Di tempat tersebut memang terdapat sisa-sisa bangunan agama Budha Mahayana).

Berkenaan dengan arca Prajñaparamita yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, terdapat dua pendapat.

Pertama, patung ini dianggap potret diri Ken Dedes, yang kawin dengan Ken Angrok Rajasa Sang Amurwabhumi, pendiri Kerajaan Singosari (1222-1227).

Pendapat kedua menyebutkan, arca tersebut merupakan potret Rajapatni Gayatri, si bungsu tercantik anak keempat Raja Kertanegara yang kawin dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dan merupakan nenek dari Raja Hayam Wuruk. Dia hidup di akhir periode Singosari (1292) dan awal era Majapahit.

Adanya perbedaaan ini kita serahkan saja kepada ahlinya, tapi yang jelas arca Prajñaparamita ini sangat indah.

Arca Prajñaparamita (dapat dilihat di Museum Nasional atau Musem Gajah Jakarta); yang lebih diyakini sebagai perwujudan Ken Dedes dalam wujud dewi ini dalam agama Budha Tantrayana merupakan Dewi Kebijaksanaan, yang dalam agama Budha Mahayana, Prajñaparamita adalah salah satu dewi tertinggi. Kedua ajaran Budha ini hanya berbeda dalam hal praktek, bukan dalam hal filosofi.

Prajñaparamita dianggap sebagai sakti (istri) Buddha, dan merupakan simbol kebijaksanaan sempurna, atau dewi kearifan dan kebajikan. Prajña berarti kebijaksanaan dan paramita berarti kebajikan, sebagai simbol tercapainya Sunyata (kebenaran tertinggi) yang berupa Sakti (unsur wanita).

Arca Prajñaparamita duduk dalam sikap padmasana atau vajrasana (kedua kaki disilangkan dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas, telapak kaki kanan berada di atas paha kiri, telapak kaki kiri berada di atas paha kanan), di atas bantalan bunga teratai merah yang memiliki dua kelopak bunga yang menghadap ke atas dan ke bawah (padmasana ganda), dengan sikap kedua tangan membentuk sikap ‘Dharmacakramudrå ’ (memutar roda dharma), yang jari-jarinya dipola dalam gaya tari. Dharmacakramudra melambangkan kesempurnaan jalannya Hukum (dharma).

Dari balik lengan tangan kiri mengapit tangkai bunga teratai merah (padma) yang menjalar dari umbi yang terdapat di samping pinggangnya. Tangkai itu ke atas tepat di sisi bahu kiri dengan kelopak bunga yang mekar, di atas kelopak bunga terdapat pustaka.

Bantalan padma berada di atas asana segi empat dengan hiasan geometris. Bagian belakang arca terdapat sandaran yang atasnya membentuk kurawal runcing dengan hiasan lidah api tumpul yang mengelilingi pinggirnya. Sandaran yang sekaligus bermakna sebagai prabhavali ini menopang keseluruhan badan arca dan menyatu dengan tempat duduk. Di dalam prabhavali masih terdapat bulatan lonjong tepat di belakang kepala, yaitu çirascakra atau prabhamandala yang merupakan lambang kedewaan dari tokoh yang digambarkan, atau pula dapat dikatakan sebagai lambang cahaya kesucian.

Mahkota yang dikenakannya berbentuk kiritamakuta yang motifnya tidak didapat pada arca-arca lain. Mahkota ini pada sisi-sisinya dikelilingi oleh empat simbar besar dalam posisi pada pusat penjuru mata angin, sedang empat simbar yang lebih kecil lagi berada pada posisi penjuru mata angin lainnya. Posisi simbar-simbar pada sisi mahkota mengingatkan kita kepada konsep Meru yang terdiri dari puncak tertinggi yang dikelilingi oleh empat puncak yang lebih rendah.

Roman mukanya tenang dengan pandangan mata terpusat pada ujung hidung. Model wajah semacam itu jika dibandingkan dengan arca Siwa dari candi Kidal yang merupakan arca perwujudan Anusanatha/Anusapati, yang kini tersimpan di Amsterdam.

Antara kedua arca ditinjau dari segi ikonografis, bentuk dan gaya pahatannya menunjukkan gaya kesenian Singasari yang berasal dari abad ke-13. Sehingga muncul dugaan bahwa kedua arca tersebut bersumber pada panduan çilpa yang sama.

Pada keningnya terdapat bulatan berbentuk bunga teratai merah kecil sebagai Urna. Atribut perhiasan yang dipakai sangat raya (samboghakaya), sehingga kesan telanjang pada badan bagian atas yang memang tidak berkain tampak tertutupi oleh perhiasan yang dikenakannya.

Memakai kundala (anting) dari bunga padma. Dibahunya terdapat hiasan lempeng emas yang tipis yang dihias dengan manik-manik. Hiasan tersebut terjuntai dari sisi mahkota di belakang telinga. Pada bagian ini juga terikat semacam untaian kalung yang panjang yang terjuntai ke bawah hingga lutut. Di lehernya tampak tiga guratan sebagai tanda kemakmuran dan kelebihan.

Leher tersebut juga dihias dengan kalung (hara) yang ganda pula. Satu kalung berbentuk untaian manik-manik, sedang kalung di bawahnya berbentuk lempengan emas yang dihias dengan permata yang bermotif. Sementara tali kasta yang sangat istimewa bentuknya melilit badannya dari pundak kiri melintang ke bagian bawah lambung kanan.

Keistimewaan tali kasta (upavita) ini adalah, tepat di depan lambung kanan merupakan lempengan emas yang diberi hiasan padma.

Pada kedua lengannya terdapat kelat bahu (keyura) ganda. Memakai perhiasan gelang tangan (kankana) yang masing-masingnya sebanyak tiga buah. Sedang pada jari-jari tangannya, yaitu ibu jari, telunjuk, dan jari tengah mengenakan cincin (angulika).

Bagian bawah mengenakan kain yang bermotif ‘Jlamprang’, suatu motif lingkaran yang saling bersinggungan satu dengan lainnya. Bagian dalam lingkarannya bermotif senjata cakra yang diisi oleh motif steliran yang rumit, sedang bagian sisi luar bulatan diisi dengan motif roset yang mengarah ke motif cakra pula.

Mengenakan ikat pinggang (katibandha) yang dihias dengan ikatan untaian-untaian manik-manik yang terjuntai ke bawah. Sedangkan di bagian pinggul sisi belakang terdapat simpul kain yang berhias motif teratai yang rumit pula. Kedua kaki memakai gelang/binggel (nupura). Seperti halnya ibu jari tangan, ibu jari kaki juga memakai cincin (angulika).

Indah bukan.

Sumber:

1. Majalah Berkala Arkeologi Tahun XXVII Edisi No. 1 / Mei 2007. Malang

2. Museum Nasional (Gajah) Jakarta.

4. Nagara Kertagama, Tafsir Sejarah. Prof Dr. Slamet Mulyana. LKiS 2006 Jakarta

5. Pengaruh Tantrayana pada Kebudayaan Kuno di Indonesia. R. Pitono, tanpa tahun IKIP Malang

6. The Antiquites of Singasari. Blom, Yessy. 1939 Terjemahan Mudjadi dan Agus Salim 1976.

Nuwun,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Telah Terbit on 30 Januari 2010 at 12:01  Comments (6)  

6 Komentar

  1. ki bayuaji memang top, …

    bagaimana dengan negara kertagama, sastra gendhing, dll.

    apakah “serat centhini” sudah ada versi e-book nya ki ?

  2. Ki Bayuaji, Yth.
    Sangat menarik analisis anda mengenai sikap bangsa Indonesia pada jaman dahulu yang dilukiskan dalam kitab Pararaton sbb :

    “Dalam Pararaton digambarkan dengan gamblang tentang perebutan kekuasaan, saling iri-dengki antarsaudara, obsesi yang begitu tinggi, megalomania, dendam pribadi, dan lain-lain.”

    Kalau kita cermati perjalanan politik kenegaraan selanjutnya, kita lihat jaman Kesultanan Demak Bintara, juga penuh intrik dan pembunuhan.
    Haryo Penangsang, Adipati Tuban, yang merasa lebih berhak memangku jabatan Sultan Demak, telah membunuh Sultan Prawoto dan kemudian adik iparnya Pangeran Kalinyamat. Aryo Penangsang sendiri kemudian terbunuh dalam perang tanding yang kontroversial oleh Danang Sutowidjoyo, anak Sultan Hadiwijoyo dari Pajang.
    Kesultanan Pajang hanya berumur satu kesultanan saja, yang kemudian melalui kamuflase perang, diturunkan kepada anak angkatnya Hadiwijaya, yaitu Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, yang mendirikan Kesultanan Mataram.
    Setelah Sultan ke tiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo, Kesultanan Mataram yang berhasil mengalami kejayaannya, oleh pengaruh Kompeni Belanda, kembali timbul perebutan kekuasaan, yang pada akhirnya justru Belanda yang menancapkan kakinya semakin mantap di Bumi Pertiwi. Para Keluarga Sultan mendapat kedudukan sebagai Sultan yang terpecah-pecah sehingga di Mataram ada 4 kesultanan yaitu :
    Sultan Hamengkubuwono, Jogya.
    Sultan Pakubuwono, Solo.
    Sultan Paku Alam, Solo.
    dan
    Sultan Mangkunegaran, Jogya.
    Perang kemerdekaan telah mengembalikan wilayah negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke.
    Tetapi kembali intrik perebutan kekuasaan muncul kembali.
    Presiden Pertama RI, Soekarno, tidak berhenti secara mulus, tetapi melalui skenario kudeta oleh PKI. Kemudian tampillah pahlawan supersemar yang kontroversi, Suharto menjadi Presiden Kedua.
    Suharto, presiden yang kemudian menjadi raja ini memimpin kerajaan Indonesia hingga 32 tahun, namun juga dijatuhkan lewat pengunduran diri setelah diminta oleh MPR untuk mundur gara2 perekonomian menjadi collaps akibat resesi ekonomi.
    Kemudian Habibie tampil menjadi Presiden meneruskan sisa pemerintahan Suharto hingga Pemilu.
    Hasil Pemilu 1999 terpilihlah Gus Dur sebagai Presiden. Tidak berumur satu kali masa pemerintahan, tokoh ini ditumbangkan ditengah jalan karena intrik politik. Sehingga naiklah Megawati sang Wakil Presidan menjadi Presiden menggantikan Gus Dur.
    Hasil Pemilu 2004, untuk pertama kalinya Presiden dipilih oleh rakyat. Sebelumnya Presiden dipilih oleh MPR. Terpilihlah SBY menjadi Presiden setelah mengalahkan pesaing2nya.
    Pemilu 2009 kembali memenangkan SBY untuk menjadi Presiden periode kedua.
    Tetapi ya itu tadi, intrik politik selama pemerintahan Gus Dur, Megawati, dan SBY sangat kental dan terasa mewarnai sejarah Indonesia.
    Siapapun presidennya akan menjadi tidak tenang menjalankan kekuasaan, karena gangguan yang terkadang melampaui batas.
    Gangguan2 politis ini menyerang siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan tertinggi, jabatan tinggi, jabatan yang dipandang basah, dan posisi2 strategis.
    Kenapa kita bisa katakan bahwa tuduhan2 penyimpangan itu sekedar intrik?
    Coba simak :
    Habibie, sewaktu menjabat Presiden RI, dituduh macam2 antara lain sebagai penyebab lepasnya Timor Leste dari pangkuan RI. Tapi setelah tidak menjabat, tidak ada lagi berita tentang hal tersebut.
    Gus Dur, dituduh ada slkandal macam2 sampai skandal memangku wanita cantik. Tetapi setelah lengser, semua tuduhan itu menguap begitu saja.
    Akbar Tanjung, yang waktu itu sebagai Ketua DPR dan Ketua Golkar. Namanya sedang melambung tinggi, dan diharap-harap bisa menjadi Presiden RI. Ditiupkanlah Skandal Penggelapan uang sewaktu masih menjabat sebagai Mensegneg. Tetapi begitu tergerser dari jabatan Ketua Golkar, ……. semua isyue tersebut menguap entah kemana.
    Megawati, diterpa isyue seputar bisnis putrinya. Tapi beruntung tidak sampai menjatuhkan pemerintahannya yang hanya melanjutkan pemerintahan Gus Dur.
    Yang terakhir adalah SBY. Sejak masa pemerintahan yang pertama dan sekaran sudah memasuki 100 hari pemerintahan yang kedua, selalu dihantam badai intrik politik yang tak kunjung padam.
    Kita ingat ada Badai Langit Biru di saat pemerintahan SBY yang pertama. Dan saat ini sedang diterpa Badai Scandal Century.
    Entah sampai kapan bangsa ini terpuaskan untuk menghina dan merobek-robek nurani pejabatnya yang dia pilih sendiri.
    Dalam setiap Demonstrasi betapa miris kita melihat foto Wapres Budiono dan Men-keu dicoret spidol merah, kemudian diinjak2 dan kemudian dibakar.
    Apakah ini tanda bangsa yang berdemokrasi?
    Kalo menurut saya ini adalah pertanda bangsa yang belum beradab, sejak jaman Singosari, sampai sekarang.
    Bagaimana cara mengubah sikab tidak beradab ini?
    Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor.
    Mungkin para pemimpin kita harus melakukan pemikiran yang mendalam untuk menemukan jurus memperbaiki sikap dan sifat negatif destruktif ini, sehingga ditemukan paradigma baru bangsa Indonesia yang tidak gemar merusak dan menyakiti diri sendiri ini.
    Negara lain sedang memikirkan masalah Bumi yang makin panas akibat pemanasan global, ……… tetapi bangsa kita selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, karena dengan kekuasaan bisa terpuaskan nafsu untuk memupuk harta kekayaan.
    Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.
    Yah sudahlah marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.
    Bekasi, 31 Januari 2010
    Truno Podang

    • Nuwun.

      Katur kadang kula Ki Truno Podang;

      Leres ngendika panjenengan Ki, saprana saprene, negari yang terbentang di khatulistiwa ini, kalau kita simak dari ceritera tentang masa-masa lalu, yang pernah kita dengar dari para penutur sejarah, atau yang pernah kita baca dari rontal-rontal. Keretakan demi keretakan, perselisihan demi perselisihan, pertengkaran, permusuhan dan pertempuran demi pertempuran telah berulang kali terjadi dan mengoyak jantung kita sendiri. Usaha yang telah dikerjakan dengan bekerja keras dan dengan penuh keprihatinan, berakhir dihancurkan oleh ketamakan dan pemanjaan nafsu.

      Kisah tentang kebesaran Prabu Airlangga adalah satu di antaranya. Dengan susah payah Sang Prabu berusaha membina persatuan dari seluruh kerajaannya, Kraton Medhang Mataram (Mataram Lama) yang didirikan oleh leluhur beliau sejak Sri Baginda Sanjaya hingga Baginda Dharmawangsa.

      Dibekali dengan sakit dan lapar. Lara lapa. Dengan mesu raga disepanjang bukit dan hutan. Sehingga oleh Empu Kanwa Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha.

      Tetapi yang kemudian terjadi adalah Baginda Prabu dengan terpaksa membagi daerah yang dengan susah payah disatukan itu menjadi dua. Itu sebenarnya bukanlah peristiwa yang paling menyedihkan di dalam hidupnya. Tetapi lebih daripada itu pewaris-pewarisnya ternyata telah menyobek-nyobek dada mereka sendiri. Janggala, yang semakin lama menjadi semakin surut. Dan akhirnya lenyap dari percaturan sejarah. Sedang Kadiri agaknya masih dapat bertahan lebih lama lagi. Namun negara inipun mengalami peristiwa yang sama. Baginda Jayabaya terpaksa harus berperang melawan sanak kadang sendiri, yaitu Jayasaba.

      Tetapi apa yang mereka dapatkan dari perselisihan itu? Kadiri pun semakin lama semakin surut. Dan hanyutlah Kadiri pada jaman Sinuwun Kertajaya, dilanda oleh kekuatan yang tumbuh dari lingkungan yang tak jelas.

      Ken Arok, yang kemudian bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. membunuh Sang Akuwu Tunggul Ametung, tetapi kekuatan inipun kemudian terpecah-belah. Pertengkaran-pertengkaran, dendam kesumat di antara para kadang sendiri. Golongan yang satu melawan golongan yang lain. Keturunan Tunggul Ametung-Ken Dedes, Anusapati dan pengikut-pengikutnya melawan golongan Tohjaya anak Ken Umang istri kedua Sang Amurwabhumi. Mereka tidak mendapatkan sesuatu dari pertengkaran ini selain kelemahan, perpecahan yang mendorong diri sendiri ke tepi jurang kehancuran.

      Ketika golongan-golongan itu telah tidak lagi saling bertengkar, datanglah Kertanegara. Tetapi di dalam tubuh kekuasaan Kertanegara terdapat Ardaraja, yang membantu kekuatan dari luar untuk menghancurkan Singasari, sehingga runtuhlah Singasari.

      Setelah itu lahirlah Majapahit dengan megahnya. Kesatuan dan persatuan yang dibina dengan cucuran keringat Sang Maha Patih Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapanya, sebagaimana dikisahkan dalam Pararaton pupuh IX.

      Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

      [Gajah Mada menjadi patih Mangkubumi, tidak mau beristirahat, Gajah Mada berkata: “Jika pulau pulau diluar Nusantara [Majapahit] sudah kalah, saya akan beristirahat, nanti kalau sudah kalah Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, barulah saya menikmati masa istirahatku”.]

      Karena itulah Majapahit menjadi mercusuar bagi negara-negara yang terserak-serak dari Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik dan banyak daerah-daerah lagi. Juga dengan negara-negara tetangga Syangka, Darmanegari, Campa, Kamboja dan lain-lain.

      Tetapi Majapahit pun kemudian menjadi surut. Sepeninggal Sang Mahapatih Gajah Mada dan Baginda Jiwana Hayam Wuruk, Majapahit kehilangan alas. Perang yang timbul di antara keluarga sendiri semakin mempercepat kehancurannya. Perang Saudara yang menyedihkan terjadi, ketika Blambangan tidak mau tunduk lagi.

      Sebab Adipati Blambangan Bhre Wirabumi merasa berhak pula atas tahta Majapahit. Akibat perang saudara yang disebut Perang Paregreg inilah maka Majapahit benar-benar telah menghancurkan dirinya sendiri.

      Sebab setelah itu Kerajaan Besar yang telah mengalami perang saudara selama lima tahun itu benar-benar telah lumpuh dan tidak mampu berkembang kembali. Raja-raja yang ada kemudian sama sekali tidak berarti. Para adipati dan para bupati kemudian lebih senang memisahkan diri dan mendirikan negara-negara kecil yang memisahkan diri dari Majapahit.

      Dalam pada itu, bangkitlah kemudian kerajaan Demak. Kebesaran Demakpun agaknya terganggu. Dua garis keturunan saling berebut kekuasaan. Garis keturunan Sultan Trenggana dan garis keturunan Sekar Seda Lepen.

      Kisah selanjutnya telah diteruskan oleh Ki Truno sendiri, seperti tersebut di atas.

      Jadi, Ki Truno lan para kadang sadaya.

      Mengapa peristiwa suksesi kekuasaan yang terjadi di bumi Nusantara ini diwarnai oleh generasi penguasa yang haus darah, pendendam, penuh dengan intrik, kolusi, nepotisme, rakus, hasrat akan harta dan perebutan kekuasaan, saling iri dan dengki ? …… selalu saja udreg2an rebutan kekuasaan, (kalimat ini saya kutip dari Ki Truno).

      Ada pepatah, “Keledai yang bodoh pun tak akan terjerumus pada lubang yang sama

      Kita tahu dari dongeng sebelum bobo anak-anak, bahwa keledai dianggap hewan yang dungu, nah pada pepatah di atas ada seekor keledai (yang dungu) tapi juga bodoh, namun sang keledai yang dungu tapi juga bodoh itu tidak akan terjerumus pada lubang yang sama.

      Apa maknanya ini,

      Mohon maaf, beribu maaf cantrik Bayuaji tidak bermaksud menggurui.

      (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

      Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Jadi apanya yang salah………. “keledai dungu?” “kambing hitam?” bukan.

      Jawabnya adalah:

      Ternyata kita tidak pernah bercermin. Ya kita tidak pernah bercermin pada kejadian masa-masa yang lampau. Tegasnya kita selalu melupakan sejarah, kita tidak pernah belajar dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh generasi terdahulu.

      Kenapa? Kalau kita mau bercermin pada kejadian masa-masa lalu, kita tidak akan terjerumus pada lobang yang sama. Keledai yang dungu dan bodoh saja tak akan terjerumus pada lobang sama sama. Dan jelas kita bukan keledai, apalagi keledai bodoh.

      Namun yang lebih penting dari semua itu adalah kurangnya rasa syukur kepada Tuhan.

      Terbaca jelas pada kalimat Ki Truno di atas:

      …… Padahal, sebagai manusia kita hanya punya satu mulut yang cukup disuapi 3 piring nasi sehari, kenapa kita mengejar harta untuk menjadikan uang kita bertumpuk-tumpuk untuk dimakan 7 turunanpun tidak habis.

      Bukankah Tuhan sendiri bersabda, yang terjemahannya kurang lebih:

      Lan maneh, sira padha elinga nalika Allah Pangeranira ngundhangake dhawuh mangkene: “Manawa sira padha syukur ing Allah. mesthi peparing Ingsun rupa kanikmatan marang sira kang uwis iku Ingsun tambahi maneh, nanging manawa sira padha maido marang peparing Ingsun rupa kanikmatan, sira bakal Ingsun patrapi siksa. Sumurupa, siksa Ingsun iku luwih dening abot. [QS. Ibrahim (14):7].

      Terjemah dalam bahasa Indonesia:

      Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Kutambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika engkau mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangatlah pedih.”

      Tapi harapan masih ada, sebagaimana harapan dan doa Ki Truno Podang:

      marilah kita berdoa saja, sebagai upaya terakhir, mudah2an bangsa kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya bangsa2 yang diberi petunjuk, dan bukannya jalannya bangsa2 yang sesat.

      Saya mengaminkan doa Ki Truno. Aamin.

      Dan saya masih merindukan suatu negari yang disebut-sebut oleh Ki Dalang sebagai:

      Nagari ingkang kaeka adi dasa purwa, Eko sawiji dasa sepuluh, purwa wiwitan. Satus datan wonten sadasa, sadasa datan wonten tiga. Nagari ingkang panjang punjung gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, panjang pocapane, punjung luhur kawibawane. Ngrembaka subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku. Kalis saking bebaya, mboten wonten tindak durjana lan mboten wonten ingkang pek-pinek barange liyan. Nagari kang ngungkurake pagunungan, ngeringake benawi, ngananake pasabinan, mangku bandaran ageng. Enjang rajakaya, ingon-ingon bidal dateng pategalan pados tetedhan, manawi sonten wangsul dateng kandangipun piyambak-piyambak. Para kawulane kacekapan sandang pangan dalah papan………………

      dan negari itu bernama Indonesia. Aamin.

      Nuwun

      cantrik bayuaji

  3. hebat ki, teruskan, …

  4. (Ki Truno sendiri menyebutkan, bahwa banyak orang-orang yang pandai di sekitar kita. “Kalo dikatakan kurang pendidikan, nyatanya mereka memiliki titel Profesor Doktor”).

    ki truno memang, banyak orang pinter di bumi ini. tetapi mereka tidak mampu melepaskan diri dari hukum alam. semakin pinter seseorang, maka ia mempunyai kemampuan semakin tinggi untuk melakukan mencari, menggunakan, mengembangkan dan menciptakan cara baru mengalahkan orang/pihak lain, kemudian meng-eksploitasinya bagi kepentingan sendiri/pihaknya.

  5. DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI [dongeng kaping-6]

    DONGENG KEN DEDES

    Tokoh Ken Dedes hanya terdapat dalam Serat Kidung Pararaton yang ditulis ratusan tahun sesudah zaman Tumapel dan Majapahit, sehingga banyak sejarawan meragukan kebenaran keberadaannya. Kakawin Nagarakretagama dan prasasti-prasasti yang ada tidak sekali pun menceritakannya.

    … dipindah ke halaman 7 …

    ana tutuge………….

    Nuwun.

    cantrik bayuaji


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: